0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan9 halaman

Contoh Soal Deret Fourier dan Integral

Dokumen ini membahas tentang Deret Fourier dan Persamaan Diferensial Parsial (PDP). Deret Fourier digunakan untuk merepresentasikan fungsi periodik dengan koefisien yang dihitung melalui integral, sedangkan PDP dibahas dengan metode integrasi langsung dan penurunan rumus untuk persamaan gelombang. Contoh soal dan langkah penyelesaian diberikan untuk memperjelas konsep yang dijelaskan.

Diunggah oleh

Gaming Balita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan9 halaman

Contoh Soal Deret Fourier dan Integral

Dokumen ini membahas tentang Deret Fourier dan Persamaan Diferensial Parsial (PDP). Deret Fourier digunakan untuk merepresentasikan fungsi periodik dengan koefisien yang dihitung melalui integral, sedangkan PDP dibahas dengan metode integrasi langsung dan penurunan rumus untuk persamaan gelombang. Contoh soal dan langkah penyelesaian diberikan untuk memperjelas konsep yang dijelaskan.

Diunggah oleh

Gaming Balita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

Deret Fourier
Deret Fourier adalah deret tak hingga yang merepresentasikan fungsi periodik dalam
bentuk sinus dan cosinus. Berikut adalah contoh soal UAS terkait Deret Fourier :
Diketahui fungsi sebagai berikut

𝑓 (𝑥 ) = {0,−2≤𝑥≤0
𝑥,0≤𝑥≤2
Dengan f(x+4) = f(x), tentukan deret fourier dari fungsi tersebut.
Jawaban :
Fungsi dapat digambarkan sebagai berikut

Dari grafik dan persamaan, diperoleh bawa periode fungsi adalah T = 4. Selanjutnya,
dapat dicari koefisien fourier
𝑇
1 2
𝑎0 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥
𝑇 −𝑇
2
1 0 2
𝑎0 = (∫ (0)𝑑𝑥 + ∫ 𝑥𝑑𝑥)
4 −2 0
1
𝑎0 =
2
Setelah didapat ao, cari nilai an dan bn.
𝑇
2 2 𝑛𝜋𝑥
𝑎𝑛 = ∫ 𝑓(𝑥) cos ( ) 𝑑𝑥
𝑇 −𝑇 2
2
1 0 𝑛𝜋𝑥 2
𝑛𝜋𝑥
𝑎𝑛 = (∫ (0) cos ( ) 𝑑𝑥 + ∫ 𝑥 cos ( ) 𝑑𝑥)
2 −2 2 0 2
1 2 𝑛𝜋𝑥
𝑎𝑛 = ∫ 𝑥 cos ( ) 𝑑𝑥
2 0 2
Integral di atas dapat diselesaikan dengan integral parsial, dengan u = ½ x dan du = ½ .
Lalu dv = cos (nπx/2) dx dan v =2/(nπ) sin (nπx/2). Lanjutkan operasi,

∫ 𝑢𝑣 = 𝑢𝑣 − ∫ 𝑣𝑑𝑢
2
𝑥 𝑛𝜋𝑥 2 1 𝑛𝜋𝑥
𝑎𝑛 = [sin ( )]0 − ∫ sin ( ) 𝑑𝑥
𝑛𝜋 2 0 𝑛𝜋 2
𝑥 𝑛𝜋𝑥 2 2 𝑛𝜋𝑥 2
𝑎𝑛 = [ sin ( )]0 + [ 2 2 cos ( )]
𝑛𝜋 2 𝑛 𝜋 2 0
Dengan n adalah bilangan bulat diperoleh,
2 2
𝑎𝑛 = 0 + cos(𝑛𝜋) − cos(0)
𝑛2 𝜋 2 𝑛2 𝜋 2
2 2
𝑎𝑛 = cos(𝑛𝜋) −
𝑛2 𝜋 2 𝑛2 𝜋 2
Setelah diperoleh an, cari bn.
𝑇
2 2 𝑛𝜋𝑥
𝑏𝑛 = ∫ 𝑓(𝑥) sin ( ) 𝑑𝑥
𝑇 −𝑇 2
2
0 2
1 𝑛𝜋𝑥 𝑛𝜋𝑥
𝑏𝑛 = (∫ (0) sin ( ) 𝑑𝑥 + ∫ 𝑥 sin ( ) 𝑑𝑥)
2 −2 2 0 2
1 2 𝑛𝜋𝑥
𝑏𝑛 = ∫ 𝑥 sin ( ) 𝑑𝑥
2 0 2
Integral di atas dapat diselesaikan dengan integral parsial, dengan u = ½ x dan du = ½ .
Lalu dv = sin (nπx/2) dx dan v =-2/(nπ) cos (nπx/2). Lanjutkan operasi,

∫ 𝑢𝑣 = 𝑢𝑣 − ∫ 𝑣𝑑𝑢
2
𝑥 𝑛𝜋𝑥 2 1 𝑛𝜋𝑥
𝑎𝑛 = [− cos ( )]0 + ∫ cos ( ) 𝑑𝑥
𝑛𝜋 2 0 𝑛𝜋 2
𝑥 𝑛𝜋𝑥 2 2 𝑛𝜋𝑥 2
𝑎𝑛 = [− cos ( )]0 + [ 2 2 sin ( )]
𝑛𝜋 2 𝑛 𝜋 2 0
Dengan n adalah bilangan bulat diperoleh,
2
𝑏𝑛 = (− cos(𝑛𝜋) − 0) + 0
𝑛𝜋
2
𝑏𝑛 = − cos(𝑛𝜋)
𝑛𝜋
Setelah an dan bn didapat, untuk menyatakan persamaannya dalam bentuk deret harus
mengingat bahwa untuk bilangan ganjil cos (nπ) adalah -1 dan untuk bilangan genap =
1.
Sehingga, didapat deret fourier sebagai berikut.
∞ ∞
2𝜋𝑛𝑥 2𝜋𝑛𝑥
𝑓(𝑥) = 𝑎0 + ∑ 𝑎𝑛 𝑐𝑜𝑠 ( ) + ∑ 𝑏𝑛 𝑠𝑖𝑛 ( )
𝑇 𝑇
𝑛=1 𝑛=1
∞ ∞
1 2 2 𝜋𝑛𝑥 2 𝜋𝑛𝑥
𝑓(𝑥) = + ∑ ( 2 2 𝑐𝑜𝑠(𝑛𝜋) − 2 2 ) 𝑐𝑜𝑠 ( ) + ∑ (− cos(𝑛𝜋)) 𝑠𝑖𝑛 ( )
2 𝜋 𝑛 𝜋 𝑛 2 𝜋𝑛 2
𝑛=1 𝑛=1
1 4 𝜋𝑥 2 𝜋𝑥 1 4 3𝜋𝑥 2 3𝜋𝑥
𝑓(𝑥) = − 2 cos ( ) + sin ( ) − 𝑠𝑖𝑛(𝜋𝑥) − 2 cos ( )+ sin ( )+⋯
2 𝜋 2 𝜋 2 𝜋 9𝜋 2 3𝜋 2
BAB II
Persamaan Diferensial Parsial (PDP)
II.1 Direct Integration
Integral Langsung adalah penyelesaian umum dengan metoda yang sama yg
digunakan dalam PD biasa (dengan mengintegralkan masing - masing ruas ke setiap
variabel bebasnya).
Contoh Soal :
𝜕 2𝑧
𝑆𝑒𝑙𝑒𝑠𝑎𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑃𝐷 ∶ = 𝑥 2 𝑦; 𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑧(𝑥, 0) = 𝑥 2 𝑑𝑎𝑛 𝑧(1, 𝑦) = 𝑐𝑜𝑠𝑦
𝜕𝑥𝜕𝑦
Jawab :
Step 1 :Diintegralkan sehingga mendapatkan persamaan variabel z
𝑑𝑧 1 3
= 𝑥 𝑦 + 𝐹(𝑦) → 𝐷𝑖𝑖𝑛𝑡𝑒𝑔𝑟𝑎𝑙𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑥
𝑑𝑦 3
1 3 2
𝑧= 𝑥 𝑦 + ∫ 𝐹(𝑦)𝑑𝑦 + 𝐺(𝑥) → 𝐷𝑖𝑖𝑛𝑡𝑒𝑔𝑟𝑎𝑙𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑦
6
1
𝑧 = 𝑥 3 𝑦 2 + 𝐻(𝑦) + 𝐺(𝑥) → 𝐺(𝑥)𝑑𝑎𝑛 𝐻(𝑦) 𝑓𝑢𝑛𝑔𝑠𝑖 𝑠𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔
6
Step 2 : Masukkan nilai batas
1 3 2
𝑧(𝑥, 0) = 𝑥 2 = 𝑥 0 + 𝐻(0) + 𝐺(𝑥)
6
𝐺(𝑥) = 𝐻(0) − 𝑥 2
Masukkan nilai 𝐺(𝑥) ke dalam persaman 𝑧(𝑥, 𝑦)
1 3 2
𝑧(𝑥, 𝑦) = 𝑥 𝑦 + 𝐻(𝑦) + 𝐻(0) − 𝑥 2
6
1
𝑧(1, 𝑦) = 𝑐𝑜𝑠𝑦 = 13 𝑦 2 + 𝐻(𝑦) + 𝐻(0) − 12
6
1
𝐻(𝑦) = 𝑐𝑜𝑠𝑦 − 𝑦 2 − 1 + 𝐻(0)
6
Masukkan nilai 𝐻(𝑦) ke dalam persaman 𝑧(𝑥, 𝑦)
1 1
𝑧 = 𝑥 3 𝑦 2 + 𝑐𝑜𝑠𝑦 − 𝑦 2 − 1 + 𝐻(0) + 𝐻(0) − 𝑥 2
6 6
Step 3 : Sederhanakan Persamaan Khusus
1 1
𝑧 = 𝑥 3 𝑦 2 + 𝑐𝑜𝑠𝑦 − 𝑦 2 − 1 − 𝑥 2
6 6
II.2 Wave Equation
II.2.1 Penurunan Rumus
Pertimbangkan sebuah senar elastik yang meregang antara dua titik tetap
𝑥 = 0 dan 𝑥 = 𝑙, dengan tegangan T(konstan) dan massa per satuan panjang 𝜌.
Gaya pada elemen kecil senar (panjang ∆𝑥) adalah perbedaan gaya
tegangan pada kedua ujungnya:
𝜕 2𝑢
𝐹 = 𝑇( ) ∆𝑥
𝜕𝑥 2
Dari hukum Newton (𝐹 = 𝑚𝑎) didapat
𝜕 2𝑢 𝜕 2𝑢
𝜌∆𝑥 ( ) = 𝑇 ( ) ∆𝑥
𝜕𝑡 2 𝜕𝑥 2
Sederhanakan
𝜕 2𝑢 𝜌 𝜕 2𝑢 𝜕 2𝑢 𝜕 2𝑢
( 2 ) = ( 2 ) → ( 2 ) = 𝑐2 ( 2 )
𝜕𝑥 𝑇 𝜕𝑡 𝜕𝑥 𝜕𝑡
II.2.2 Wave Equation dengan Separating Variables
Langkah-langkah pengerjaan
1. Asumsikan terdapar solusi 𝑢 = 𝑋𝑇
𝜕𝑢
= 𝑋′𝑇
𝜕x
𝜕𝑢
= 𝑋𝑇′
𝜕t
𝜕 2𝑢
= 𝑋′′𝑇
𝜕𝑥 2
𝜕 2𝑢
= 𝑋𝑇′′
𝜕𝑡 2
2. Atur ulang persamaan
3. Pilih solusi dengan 𝑘 = −𝑝2
4. Kemudian terdapat dua solusi dalam bentuk berikut
𝑋 = 𝐴 𝑐𝑜𝑠 𝑝𝑥 + 𝐵 𝑠𝑖𝑛 𝑝𝑥
𝑇 = 𝐶 𝑐𝑜𝑠 𝑝𝑥 + 𝐷 𝑠𝑖𝑛 𝑐𝑝𝑡
Sehingga
𝑢(𝑥, 𝑡) = (𝐴 𝑐𝑜𝑠 𝑝𝑥 + 𝐵 𝑠𝑖𝑛 𝑝𝑥)(𝐶 𝑐𝑜𝑠 𝑝𝑥 + 𝐷 𝑠𝑖𝑛 𝑐𝑝𝑡)
𝜆
5. Ubah 𝑝 = 𝑐

6. Terapkan kondisi batas


7. Buat list nilai dan fungsi eigen untuk solusi umum
8. Aplikasikan kondisi awal/kondisi batas
9. Tentukan nilai dari 𝐶𝑟 dan 𝐷𝑟 dengan mengaplikasikan deret fourier

II.3 Heat Equation


Contoh dari Textbook Edward Kreyszig

Jawaban :
Diketahui bahwa initial temperaturenya adalah f(x) = sin (0,4πx) yang mana memenuhi


𝑛𝜋𝑥
𝑢(𝑥, 0) = ∑ 𝐵𝑛 sin ( ) = 𝑓(𝑥) = sin (0,4𝜋𝑥) , 𝑛 = 4
10
𝑛=1

Kita dapatkan bahwa B4 atau nilai B untuk nilai n = 4 di depan suku (nπx/L) adalah 1 dan
𝑛2 𝑐 2 𝜋 2
B1 = B2 = B3 = B…. = 0. Lalu dari ⋋2𝑛 = dengan n=4, c2 = (K/σρ) = (1,04
𝐿2

/(0,056.10,6))= 1,752021563 cm2/sec, diperoleh,


42 1,752021563𝜋 2
⋋24 = = 2,77 (sec −1)
102
Sehingga didapat,
𝑢(𝑥, 𝑡) = sin(0,4𝜋𝑥) 𝑒 −2,77𝑡
Contoh Lain
Tentukan persamaan suhu u(x,t) pada sebuah batang tembaga yang diisolasi lateral
dengan panjang 80 cm yang ujung-ujungnya dijaga pada suhu 0, massa jenis tembaga
8,92 g/cm2, koefisien kalor 0,092 cal/g oC, dan konduktivitas termal 0,95 cal/cm sec oC
dengan persamaan temperatur awal sebagai berikut.
3𝜋𝑥
𝑓(𝑥) = 100 sin ( )
80
Jawaban :
Diketahui bahwa initial temperaturenya adalah f(x) = 100 sin (3πx/80) yang mana
memenuhi

𝑛𝜋𝑥 3𝜋𝑥
𝑢(𝑥, 0) = ∑ 𝐵𝑛 sin ( ) = 𝑓(𝑥) = 100 sin ( ),𝑛 = 3
80 80
𝑛=1

Kita dapatkan bahwa B3 atau nilai B untuk nilai n = 3 di depan suku (πx/80) adalah 100
𝑛2 𝑐 2 𝜋 2
dan B1 = B2 = B4 = B …. = 0. Lalu dari ⋋2𝑛 = dengan n=3, c2 = (K/σρ) = (0,95
𝐿2

/(0,092.8,92))= 1,158 cm2/sec, diperoleh,


32 1,1581 𝜋 2
⋋23 = = 0,01607 (sec −1 )
802
Sehingga didapat,
3𝜋𝑥 −0,01607𝑡
𝑢(𝑥, 𝑡) = 100 sin ( )𝑒
80

Contoh dari PPT Pak Rangga


Tentukan persamaan suhu pada sebuah batang yang diisolasi lateral dengan panjang L
yang ujung-ujungnya dijaga pada suhu 0, dengan persamaan temperatur awal sebagai
berikut.
𝐿
𝑥,0<𝑥<
2
𝑓(𝑥 ) = { 𝐿
𝐿−𝑥, <𝑥<𝐿
2

Jawaban :
Dari persamaan yang diberikan, ilustrasi grafik adalah sebagai berikut

Dari grafik, diperoleh bahwa L adalah π. Selanjutnya, gunakan persamaan berikut


Didapat,
2 𝐿/2 𝑛𝜋𝑥 𝐿
𝑛𝜋𝑥
𝐵𝑛 = (∫ 𝑥 sin ( ) 𝑑𝑥 + ∫ (𝐿 − 𝑥) sin ( ) 𝑑𝑥)
𝐿 0 𝐿 𝐿/2 𝐿

2 𝐿/2 𝑛𝜋𝑥 𝐿
𝑛𝜋𝑥 𝐿
𝑛𝜋𝑥
𝐵𝑛 = (∫ 𝑥 sin ( ) 𝑑𝑥 + ∫ 𝐿 sin ( ) 𝑑𝑥 − ∫ 𝑥 sin ( ) 𝑑𝑥)
𝐿 0 𝐿 𝐿 𝐿 𝐿 𝐿
2 2
𝑛𝜋𝑥
Dengan menggunakan integral parsial ∫ 𝑥 sin ( ) 𝑑𝑥 = 𝑢𝑣 − ∫ 𝑣𝑑𝑢 dengan u = x, du
𝐿
𝑛𝜋𝑥 𝐿 𝑛𝜋𝑥
= dx, dv = sin ( ) 𝑑𝑥, v = − 𝑛𝜋 cos ( ). Didapat,
𝐿 𝐿

𝑛𝜋𝑥 𝐿𝑥 nπx 𝐿 𝑛𝜋𝑥


∫ 𝑥 sin ( ) 𝑑𝑥 = − cos ( )+∫ cos ( ) 𝑑𝑥
𝐿 𝑛𝜋 L 𝑛𝜋 𝐿
𝑛𝜋𝑥 𝐿𝑥 nπx 𝐿2 𝑛𝜋𝑥
∫ 𝑥 sin ( ) 𝑑𝑥 = − cos ( ) + 2 2 sin ( )+𝐶
𝐿 𝑛𝜋 L 𝑛 𝜋 𝐿
Substitusikan ke persamaan di atas didapat
2 𝐿𝑥 nπx 𝐿2 𝑛𝜋𝑥 𝐿2 𝐿2 𝑛𝜋𝑥 𝐿 𝐿𝑥 nπx 𝐿2 𝑛𝜋𝑥 𝐿
𝐵𝑛 = ([− cos ( ) + 2 2 sin ( )]0 + [− cos ( )]𝐿 − [− cos ( ) + 2 2 sin ( )]𝐿 )
𝐿 𝑛𝜋 L 𝑛 𝜋 𝐿 𝑛𝜋 𝐿 2 𝑛𝜋 L 𝑛 𝜋 𝐿 2
2 2𝐿2 𝑛𝜋 𝐿2
𝐵𝑛 = ( 2 2 sin ( ) − 2 2 sin(𝑛𝜋))
𝐿 𝑛 𝜋 2 𝑛 𝜋
Bn bernilai 0 saat n adalah angka genap, dengan substitusi angka ganjil pada persamaan
Bn diperoleh,
4𝐿 4𝐿
𝐵𝑛 = , 𝑛 = 1,5,9,13, … 𝐵𝑛 = − , 𝑛 = 3,7,11,15, …
𝑛2 𝜋 2 𝑛2 𝜋 2
Sekarang, perlu dicari ⋋ untuk setiap n
𝑛2 𝑐 2 𝜋 2
⋋2𝑛 = , 𝑛 = 1,3,5,7,9, ….
𝐿2
Setelah didapat ⋋, substitusikan dalam bentuk persamaan di bawah,

Hingga akhirnya didapat,


4𝐿 1𝜋𝑥 −𝑐 22𝜋2𝑡 4𝐿 3𝜋𝑥 −9𝑐22𝜋2𝑡 4𝐿 5𝜋𝑥 −25𝑐22𝜋2𝑡
𝑢(𝑥, 𝑡) = 2 sin ( )𝑒 𝐿 − 2 sin ( )𝑒 𝐿 + 2 2 sin ( )𝑒 𝐿 −. . . +. ..
𝜋 𝐿 9𝜋 𝐿 5 𝜋 𝐿

II.4 Traffic Equation


II.4.1 Pendahuluan
PDP quasi linier adalah persamaan diferensial parsial yang linier terhadap
𝜕𝑢 𝜕𝑢
turunan parsial dan 𝜕𝑥 tetapi mungkin tidak linier terhadap variabel u.
𝜕𝑡

Persamaan umum
𝜕𝑢 𝜕𝑢
+ g(u) =0
𝜕𝑡 𝜕𝑥
Berdasarkan metode karakterisitik diadapat solusi sebagai
𝑢(𝑥, 𝑡) = 𝑓(𝑥 − 𝑔(𝑢)𝑡)
II.4.2 PDP Model Arus Lalu Lintas
Konsep Dasar
𝑝(𝑥, 𝑡); densitas kendaraan (kendaraan per satuan panjang)
𝑞(𝑥, 𝑡): arus kendaraan (kendaraan per satuan waktu)
𝜕𝑝 𝜕𝑞
+ =0
𝜕𝑡 𝜕𝑥
Hubungan antara densitas dan fluks diberikan sebagai fungsi 𝑞 = 𝑘(𝜌), di
mana 𝑘(𝜌) adalah slope pada kurva densitas-arus.
𝜕𝑝 𝜕𝑞
+ 𝑘(𝑝) =0
𝜕𝑡 𝜕𝑥
Hubungan Densitas-Arus
𝜌
𝑞(𝜌) = 𝑣𝑚𝑎𝑥 𝜌 (1 − )
𝜌𝑚𝑎𝑥
Gradien 𝑘(𝜌), dapat dihitung sebagai
2𝜌
𝑘(𝜌) = 𝑣𝑚𝑎𝑥 𝜌 (1 − )
𝜌𝑚𝑎𝑥

Anda mungkin juga menyukai