0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Pentingnya Hidrogen dalam Kimia

Hidrogen adalah unsur paling sederhana dan paling melimpah di alam semesta, terdiri dari satu proton dan satu elektron, serta memiliki peran penting dalam kimia dengan kemampuannya membentuk berbagai senyawa. Hidrogen memiliki tiga isotop, yaitu protium, deuterium, dan tritium, yang memiliki sifat fisika dan kimia yang berbeda. Hidrogen dapat diperoleh melalui berbagai metode, termasuk reaksi logam dengan asam, elektrolisis air, dan reaksi hidrokarbon.

Diunggah oleh

fauzanaryaputra24
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Pentingnya Hidrogen dalam Kimia

Hidrogen adalah unsur paling sederhana dan paling melimpah di alam semesta, terdiri dari satu proton dan satu elektron, serta memiliki peran penting dalam kimia dengan kemampuannya membentuk berbagai senyawa. Hidrogen memiliki tiga isotop, yaitu protium, deuterium, dan tritium, yang memiliki sifat fisika dan kimia yang berbeda. Hidrogen dapat diperoleh melalui berbagai metode, termasuk reaksi logam dengan asam, elektrolisis air, dan reaksi hidrokarbon.

Diunggah oleh

fauzanaryaputra24
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS KELOMPOK MATERI HIDROGEN

Muhammad Fauzan Arya Putra 210105502015

PENGERTIAN

Hidrogen diperkenalkan sebagai unsur pertama kali oleh ahli kimia Inggris bernama Henry
Cavendish pada tahun 1766. Hidrogen merupakan unsur dengan kelimpahan terbesar di alam
semesta dan merupakan unsur ketiga (setelah oksigen dan silikon) dengan kelimpahan terbesar
di permukaan bumi.

Hidrogen merupakan unsur paling sederhana yang terdiri dari satu proton dan satu elektron.
Hidrogen telah menjadi pusat pengembangan teori tentang struktur bahan. Dalton merancang
massa atom relatif berbagai unsur berdasarkan massa atom relatif hidrogen, yaitu; Proust
(1815) menyatakan bahwa hidrogen adalah atom yang paling dasar dan atom-atom lainnya
dapat dibentuk dari hidrogen; Davy (1810) menyatakan bahwa hidrogen adalah unsur yang
menjadi kunci untuk senyawa asam yang umum; Bohr (1913) memilih atom H untuk penerapan
mekanika kuantum pertama pada struktur atom; Shcrodinger (1927) menjadikan atom H
sebagai dasar pengembangan teori mekanika gelombang; dan molekul H2 digunakan sebagai
acuan dalam pengembangan teori-teori tentang struktur molekul. Secara umum hidrogen
sangat efektif dan efisien.

Atom hidrogen memiliki konfigurasi elektron yang khas yaitu 1s1. Hidrogen dapat menerima
satu elektron dan berubah menjadi ion H- dengan konfigurasi elektron 1s2 atau dapat
melepaskan satu elektron dan berubah menjadi ion H+. Hidrogen memiliki kepolaran yang
dapat mengubah atomnya dengan mudah menjadi hidrida (H-) dan proton (H+), sehingga
hidrogen dapat membentuk berbagai macam senyawa dengan unsur lain. Hidrogen sangat
penting dalam kimia karena dapat membentuk lebih banyak senyawa dibanding unsur lainnya.

(BUKU AJAR STRUKTUR DAN KEREAKTIFAN)

Hidrogen adalah unsur tersederhana terdiri atas satu proton dan satu elektron, dan paling
melimpah di alam semesta. Di bumi kelimpahannya ketiga setelah oksigen dan silikon, sekitar 1
% massa semua unsur di bumi. Tak perlu dikatakan sebagian besar hidrogen di bumi ada sebagai
air. Karena kepolarannya dapat berubah dengan mudah antara hidrida (H-), atom (H), dan
proton (H+), hidrogen juga membentuk berbagai senyawa dengan banyak unsur termasuk
oksigen dan karbon. Oleh karena itu, hidrogen sangat penting dalam kimia.
B. LETAK HIDROGEN PADA TABEL BERKALA

Hidrogen adalah unsur pertama dalam tabel periodik dan sangat unik. Periode pertama dalam
tabel periodik hanya ada dua unsur yaitu hidrogen dan helium. Hidrogen agak reaktif sedangkan
helium tidak reaktif (inert). Helium terletak pada golongan VIII A yaitu golongan gas mulia,
helium memiliki kemiripan sifat dengan unsur-unsur lainnya yang terdapat pada golongan gas
mulia. Hidrogen yang terletak pada golongan I A yaitu golongan logam alkali. Hidrogen memiliki
sifat yang khas dan berbeda sehingga unsur ini tidak memiliki kemiripan sifat dengan unsur-
unsur lain yang terdapat dalam golongan utama pada tabel periodik.

Struktur atom hidrogen memiliki beberapa kemiripan dengan atom-atom golongan logam alkali.
Logam alkali mempunyai satu elektron di kulit terluar. Unsur-unsur logam alkali cenderung
kehilangan satu elektron dalam reaksi dan membentuk ion positif. Meskipun atom hidrogen
dapat berubah menjadi ion H+, tetapi hidrogen lebih cenderung membentuk pasangan elektron
dan membentuk ikatan kovalen daripada membentuk ikatan ion.

BUKU AJAR

C. ISOTOP HIDROGEN

Isotop hidrogen sangat penting dalam kimia. Perbedaan massa atom relatif pada setiap isotop
hidrogen begitu besar sehingga menyebabkan perbedaan sifaat fisika dan sifat kimia yang
signifikan antara isotop-isotopnya. Secara alami, hidrogen terdiri dari tiga isotop, yaitu: protium
atau hidrogen “biasa” yang tidak mengandung neutron (kelimpahan 99,985%); deuterium (D)
yang mengandung satu neutron (kelimpahan 0,015%); dan tritium (T) bersifat radioaktif
(kelimpahan 10-15%) yang mengandung dua neutron. Peningkatan massa molar dari masing-
masing isotop menyebabkan terjadimya kenaikan titik didih dan energi ikatan yang cukup
signifikan.

Ikatan yang terjadi antara deutrium dan tritium dengan unsur lain lebih kuat dibandingkan
ikatan antara isotop hidrogen biasa dengan unsur lain. Sebagai contoh, bila air dielektrolisis
akan menghasilkan gas hidrogen dan gas oksigen. Ikatan kovalen O-H lebih mudah putus
dibandingkan dengan ikatan kovalen O-D, sehingga cairan yang tersisa mengandung lebih
banyak oksida deuterium yang disebut sebagai “air berat”. Bila 30 L air dielektrolisis sampai air
mencapai 1 mL, cairan yang tertinggal mengandung 99% oksida deutrium murni. Air normal dan
“air berat” D2O memiliki sifat fisik yang berbeda, misalnya oksida deutrium meleleh pada suhu
3,8°C dan mendidih pada suhu 101,4°C. Massa jenis D2O berkisar 10 kali lebih besar dari massa
jenis H2O pada setiap suhu. Proses terjadinya reaksi yang melibatkan hidrogen dapat dipelajari
dengan menggunakan senyawa yang tersubstitusi dengan deutrium. Tritium adalah isotop
radioaktif dengan waktu paruh 12,33 tahun. Seiring berjalannya waktu, diduga tritium akan
habis dan tidak akan ditemukan lagi secara alami. Namun fakta menyebutkan bahwa tumbukan
radiasi kosmik pada bagian atas atmosfir menyebabkan tritium terus terbentuk secara alami.
Salah satu proses produksi tritium adalah adanya tumbukan neutron dalam atom hidrogen.

Tritium digunakan dalam bidang kesehatan terutama sebagai perunut (tracer). Pada peluruhan
radioaktifnya, isotop tritium memancarkan elektron dengan energi rendah (sinar β) tetapi tidak
ada sinar γ yang berbahaya.

BUKU AJAR

Dar tiga jenis isotop hidrogen, deuterium, D, ditemukan oleh H. C. Urey dkk tahun 1932, dan
kemudian tritium, T, dipreparasi dari deuterium di tahun 1934. Sekitar 0.015% hidrogen ada
sebagai deuterium, dan dapat diperkaya dengan elektrolisis air. Tritium bersifat radioaktif dan
mengemisikan partikel β dengan waktu paruh 12.33 tahun. Karena massa deuterium dan tritium
sekitar dua kali dan tiga kali massa hidrogen, sifat fisik isotop, dan senyawa yang mengandung
isotop ini, cukup berbeda. Beberapa sifat isotop hidrogen dan air diberikan dalam Tabel 4.1.
Ketika ikatan E-H dalam senyawa hidrogen diubah menjadi E-D dengan substitusi deuterium,
frekuensi E-H dalam spektrum inframerahnya direduksi menjadi sekitar 1/√2-nya, yang sangat
bermanfaat untuk menentukan posisi atom hidrogen. Dalam beberapa kasus mungkin untuk
menyimpulkan bahwa pemutusan ikatan hidrogen adalah tahap penentu laju bila substitusi
deuterium menunjukkan efek yang drastis pada laju reaksi senyawa yang mengandung
hidrogen.

Karena spin inti hidrogen adalah 1/2 dan karena kelimpahannya, hidrogen adalah nuklida yang
paling penting untuk spektroskopi NMR. NMR digunakan luas tidak hanya untuk identifikasi
senyawa organik, tetapi juga untuk kepentingan diagnostik seperti pengunaan MRI (magnetic
resonance imaging) air dalam tubuh. Organ manusia dapat diobservasi tanpa dilukai dengan
metoda ini.
Tabel 4.1 Sifat isotop hidrogen dan air. Sifat H2 D 2 T 2 2 O H D2 O T2 O Titik leleh* Titik didih ρ
([Link]-3, 25°C) Temp. ρ maks (°C) 13.957 18.73 20.39 23.67 20.62 25.04 0.00 3.81 100.00 101.42
0.9970 1.1044 3.98 11.23 4.48 101.51 1.2138 13.4 * hidrogen (K), air (°C).

Ada isomer spin inti molekul diatomik yang spinnya tidak nol. Khususnya dalam kasus molekul
hidrogen, perbedaan sifatnya sangat signifikan. Spin para-hidrogen bersifat anti-paralel dan
jumlahnya adalah 0 serta menghasilkan keadaan singlet. Spin orto-hidrogen adalah paralel dan
jumlahnya 1 menghasilkan keadaan triplet. Karena para-hidrogen energinya lebih rendah, para
hidrogen lebih stabil di suhu rendah. Rasio teoritik para-hidrogen adalah 100 % pada 0 K, tetapi
menurun ke sekitar 25 % pada suhu kamar, karena rasio orto-hidrogen meningkat pada suhu
lebih tinggi. Kromatografi gas and garis rotasi dalam spektrum elektronik H2 dapat
membedakan kedua isomer hidrogen.

D. SIFAT-SIFAT FISIK DAN KIMIA

Hidrogen terdapat sebagai molekul diatomik H2 (dihidrogen) dalam bentuk unsur. Hidrogen
mempunyai titik didih -253°C dan titik beku -259°C. Pada suhu ruang, H2 berupa gas memiliki
ciri-ciri, yaitu: tak berwarna, tak berbau, tak berasa, hampir tidak larut dalam air dan dikenal
sebagai gas yang paling ringan. Pada suhu ruang, gas hidrogen tidak terlalu reaktif. Hal ini
disebabkan oleh tingginya energi ikatan kovalen antara H-H (435,9 kJ mol-1). Ikatan ini lebih
kuat dari pada ikatan hidrogen dengan unsur nonlogam umumnya, contohnya energi ikatan H-S
yaitu 347 kJ mol-1. Di atas suhu ruang, H2 sangat reaktif bahkan dapat menghasilkan ledakan.
Sedangkan saat berinteraksi dengan unsur logam dan nonlogam akan menghasilkan hidrida

E. PEMBUATAN HIDROGEN

Hidrogen dapat diperoleh dari hasil reaksi antara beberapa unsur logam dengan asam encer dan
yang paling sering digunakan yaitu asam klorida encer. Hidrogen juga dapat diperoleh dari
elektrolisis air dengan adanya penambahan sedikit asam, basa, atau garam; bisa juga dengan
mengalirkan uap air pada karbon panas atau hidrolisis dari senyawa-senyawa hidrida seperti
CaH2.

1. Reaksi Logam dengan air


Hanya logam-logam aktif yang langsung bereaksi dengan air. Reaksi ini merupakan
reduksi dari ion hidrogen:
2H+ + 2e H2 2Na + 2H2O 2NaOH + H2 Mg + 2H2O (uap) MgO + H2

2. Reaksi Logam dengan Asam Encer


Reaksi antara logam dengan asam encer merupakan reduksi dari ion hidrogen. Semua
logam yang mempunyai potensial elektroda lebih besar daripada hidrogen dapat
bereaksi dengan asam klorida atau asam sulfat encer menghasilkan hidrogen. Semakin
negatif nilai potensial elektrodanya maka logam semakin reaktif. Timbal tidak bereaksi
dengan asam sebab pada timbal terbentuknya lapisan yang melindungi logam tersebut.
Di laboratorium, umumnya hidrogen diperoleh dari hasil reaksi antara logam Zn dengan
asam klorida. Tetapi hasil tersebut dapat dikotori oleh hidrogen sulfida atau arsen dari
pengotoran seng yang terdapat dalam logam seng tersebut. Zn + 2H+ Zn2+ + H2 Seng
murni dan asam bereaksi dengan lambat, hal ini disebabkan oleh tingginya energi
aktivasi dari salah satu atau kedua reaksi berikut. 2H+ + 2e 2H 2H H2 Reaksi tersebut
dapat dikatalisis dengan tembaga atau platina (masing-masing dengan asam yang tidak
menghasilkan hidrogen), gas hidrogen dapat diamati dari permukaan non-seng. Platina
merupakan katalis yang paling efektif untuk pembentukan gas hidrogen.

3. Reaksi Basa Kuat dengan Logam Seng dan Aluminium


Seng dan logam aluminium bereaksi dengan basa kuat seperti NaOH dan KOH
membentuk gas hidrogen.
Zn + 2OH- + 2H2O Zn(OH)4 2- + H2
Al + 2OH- + 2H2O Al(OH)4 2- + H2

4. Hidrolisis dari Senyawa-senyawa Hidrida


Berikut ini merupakan reaksi oksidasi dari ion hidrida dengan hilangnya elektron atau
dapat juga dianggap sebagai reaksi asam basa menurut Bronsted Lowry: CaH2 + 2H2O
Ca(OH)2 + H2
atau
H+ + 2H2O OH- + H2
5. Reaksi Uap Air dengan Karbon atau Hidrokarbon
Reaksi pertama terjadi antara karbon dengan uap air pada suhu sekitar 1200°C. Reaksi
ini bersifat endotermik, dan suhu menurun sampai 800°C. Udara panas perlu dialirkan
untuk menaikkan suhu kembali. Kedua reaksi tersebut dituliskan sebagai berikut:
C + H2O 2C + (O2 + 4N2) CO + H2 endotermik 2CO + 4N2 eksotermik Kemudian air
dialirkan pada suhu sekitar 450°C dengan penambahan besi oksida, gas CO teroksidasi
menjadi CO2 dan molekul hidrogen juga terbentuk.
CO + H2 + H2O CO2 + 2H2
Saat ini metode tersebut diganti dengan proses yang hampir sama namun menggunakan
pembakaran hidrokarbon. Perbedaannya terletak pada tahap pertama, yaitu
pembentukan campuran CO dan H2 yang dilakukan pada suhu 900°C dengan katalis
nikel, sedangkan tahap kedua prosesnya sama. Kelebihan CO akan dihilangkan dengan
penyerapan pada larutan tembaga (I) format amonia.
CnH2n+2 + nH2O nCO + (2n+1) H2
nCO + nH2O nCO2 + H2
6. Elektrolisis Air
Hidrogen murni (99,9%) dengan harga yang cukup tinggi, diperoleh dengan cara
elektrolisis air.
2H2O (l) 2H2 (g) + O2 (g) ΔH = +565 kJ
Hasil samping industri klor-alkali adalah hidrogen yang jumlahnya cukup banyak, dimana
diperoleh juga Cl2 dan NaOH dari elektrolisis larutan NaCl.

E. HIBDRIDA

Hidrida biner diklasifikasikan sesuai dengan posisi unsurnya dalam tabel periodik, dan oleh
karakter ikatannya. Hidrida alkali dan alkali tanah di blok s adalah senyawa ionik yang analog
dengan halida dan disebut dengan hidrida salin. Unsur blok p golongan 13-17 membentuk
hidrida kovalen molekular. Belum ada senyawa hidrida gas mulia yang pernah dilaporkan.

Senyawa-senyawa biner dari unsur hidrogen disebut hidrida. Hidrogen yang membentuk
senyawa biner dengan unsur lain, memiliki keelektronegatifan diatas rata-rata
keelektronegatifan unsur lain dalam tabel periodik. Oleh sebab itu, hidrogen memiliki sifat
seperti unsur nonlogam dengan keelektronegatifan rendah dan membentuk hidrida ionik
dengan logam yang lebih elektropositif serta membentuk hidrida kovalen dengan semua unsur
nonlogam. Selain itu hidrogen juga membentuk hidrida logam dengan beberapa unsur logam
golongan transisi.

Beberapa unsur transisi blok d dan f membentuk hidrida logam yang menunjukkan sifat logam.
Logam-logam transisi yang tidak membentuk hidrida biner membentuk hidrida molekular
kompleks yang dikoordinasikan oleh ligan penstabil, seperti karbonil (CO), fosfin tersier (PR3 ),
atau siklopentadienil (C5 H5 ) (rujuk bagian 6.1). Contoh-contoh khas hidrida diberikan di bawah
ini.
1. Hidrida Ionik
Unsur-unsur golongan alkali dan alkali tanah dengan tingkat keelektropositifan yang
tinggi mampu membuat atom hidrogen menerima elektron. Pada senyawa tersebut
hydrogen berwujud sebagai ion hidrida (H+). Secara umum, hidrida ionik berupa kristal
putih. Kristal tersebut terbentuk dari pemanasan logam dengan hidrogen pada suhu di
atas 700°C. Hasil elektrolisis hidrida dalam alkali halida menghasilkan hidrogen di anoda.
Hal ini membuktikan adanya anion:
2H-(LiCl) H2 (g) + 2e-
Semua hidrida berikut ini sangat reaktif, sebagai contoh dihidrogen dihasilkan bila ada
uap air:
LiH (s) + H2O (l) LiOH (aq) + H2 (g)
Hidrida golongan IA lebih reaktif dibanding hidrida golongan IIA dan kereaktifan
bertambah dari atas ke bawah dalam satu golongan, kecuali unsur litium hidrida. Semua
senyawa hidrida ionik terurai sebelum mencapai titik leleh. Hidrida berikut dapat
digunakan sebagai pereduksi. Ketika dipanaskan, natrium hidrida bereaksi dengan silikon
tetraklorida menghasilkan silan, gas tak berwarna dan mudah terbakar:
SiCl4 (g) + 4NaH (s) SiH4 (g) + 4NaCl (s)

2. Hidrida Kovalen
Hidrogen membentuk senyawa yang mengandung ikatan kovalen dengan semua unsur
nonlogam (kecuali gas mulia) dan dengan logam yang tingkat keelektropositifannya
lemah seperti galium dan timah. Pada umumnya, hidrida kovalen sederhana berupa gas
pada suhu ruang. Ada tiga subkategori dari hidrida kovalen: - Hidrida kovalen yang atom
hidrogennya netral. - Hidrida kovalen yang atom hidrogennya positif. - Hidrida kovalen
yang atom hidrogennya sedikit negatif, khususnya senyawa boron yang kekurangan
elektron (electron-deficient). Sebagian besar hidrida kovalen merupakan senyawa yang
atom hidrogennya hampir netral. Kelompok terbesar dari hidrida kovalen mengandung
karbon (hidrokarbon) yang terdiri alkana, alkena, alkuna, dan hidrokarbon aromatik.
Hidrokarbon merupakan molekul besar dimana gaya intermolekulernya cukup kuat
sehingga berupa cairan atau padatan pada suhu ruang. Subkategori kedua dari hidrida
kovalen adalah amonia, air, dan hidrogen fluorida dimana senyawa hidrogen tersebut
mengandung muatan positif pada atom hidrogennya. Senyawa-senyawa ini memiliki
perbedaan titik didih yaitu lebih tinggi dari pada hidrida kovalen lainnya. Dalam
senyawa, muatan positif pada hidrogen ditarik oleh pasangan elektron pada atom lain
untuk membentuk ikatan yang lemah dikenal dengan ikatan kovalen hidrogen.

3. Hidrida Logam Transisi


Hidrida dari beberapa logam transisi sulit diartikan sebagai hidrogen terperangkap di
dalam kisi kristal dari unsur transisi. Senyawa-senyawa ini sering nonstoikiometri. Suhu
dan tekanan dapat mengubah komposisinya, misalnya seperti yang terdapat pada
senyawa TiH1,73 dan ZrH1,92. Sebagian besar hidrida logam dapat dibuat melalui
pemanasan logam dengan hidrogen pada tekanan tinggi.

Litium hidrida, LiH, senyawa kristalin tak bewarna (titik leleh (melting point, mp) 680
oC). Li+ dan H- membentuk kristal berstruktur garam dapur. Pelepasan kuantitatif gas
hidrogen di anoda saat dilakukan elektrolisis garam leburnya menyarankan keberadaan
H-. Air bereaksi dengan hebat dengan litium hidrida membebaskan gas hidrogen. Karena
senyawa ini agak melarut dalam eter, hidrida ini digunakan sebagai pereduksi di kimia
organik.

Kalsium hidrida, CaH2 , adalah padatan kristalin tak bewarna (mp 816 oC), dan bereaksi
dengan hebat dengan air membebaskan gas hidrogen. Hidrida ini digunakan sebagai
pembentuk gas hidrogen, atau bahan dehidrator untuk pelarut organik. Hidrida ini juga
digunakan sebagai reduktor.

Litium tetrahidridoaluminat, LiAlH4 , adalah padatan kristalin tak bewarna


(terdekomposisi di atas 125oC) biasanya disebut litium aluminum hidrida. Hidrida
melarut dalam eter, dan bereaksi hebat dengan air. Hidrida ini digunakan sebagai
reduktor dan bahan untuk hidrogenasi dan untuk pengering pelarut organik.

Natrium tetrahidroborat, NaBH4 , adalah senyawa padatan kristalin bewarna putih


(terdekomposisi pada 400 oC) biasanya disebut natrium borohidrida. Padatan ini larut
dalam air dan terdekomposisi pada suhu tingggi dengan melepaskan gas hidrogen.
Padatan ini digunakan sebagai bahan pereduksi untuk senyawa anorganik dan organik,
dan untuk mempreparasi kompleks hidrida, dsb.

Hidrida molecular
Semua hidrida kecuali hidrida karbon (metana) dan oksigen (air) adalah gas beracun
dengan kereaktifan sangat tinggi dan harus ditangani dengan sangat hati-hati. Walaupun
terdapat berbagai metoda untuk menghasilkan gas-gas ini di laboratorium, kini banyak
gas ini mudah didapat di silinder.
Diboran, B2 H6 , adalah gas beracun dan tak bewarna (mp -164.9 oC dan bp -92.6 oC)
dengan bau iritatif yang khas. Hidrida ini merupakan bahan reduktor kuat senyawa
anorganik dan organik. Bahan ini juga bermanfaat sebagai bahan hidroborasi untuk
memasukkan gugus fungsi pada olefin, setelah adisi olefin dengan reaksinya dengan
reagen yang cocok.

Silan, SiH4 , gas yang sangat mematikan dan tak bewarna (mp -185 oC dan bp -111.9 oC)
dengan bau yang menyengat dan juga disebut dengan monosilan.

Amonia, NH3 , adalah gas beracun dan tak bewarna (mp -77.7 oC dan bp -33.4 oC)
dengan bau mengiritasi yang khas. Walaupun gas ini digunakan dalam banyak kasus
sebagai larutan amonia dalam air, yakni dengan dilarutkan dalam air, amonia cair juga
digunakan sebagai pelarut non-air untuk reaksi khusus. Sejak dikembangkannya proses
Harber-Bosch untuk sintesis amonia di tahun 1913, amonia telah menjadi senyawa yang
paling penting dalam industri kimia dan digunakan sebagai bahan baku banyak senyawa
yang mengandung nitrogen. Amonia juga digunakan sebagai refrigeran (di lemari
pendingin).

Fosfin, PH3 , gas sangat beracun dan tak bewarna (mp -133 oC dan bp -87.7 oC) dengan
bau yang busuk, juga disebut dengan fosfor hidrida. Fosfin terbakar spontan di udara.
Fosfin digunakan dalam pertumbuhan epitaksi, dalam kimia koordinasi logam transisi,
dsb.

Hidrogen sulfida, H2 S, gas beracun dan tak bewarna (mp -85.5 oC and bp -60.7 oC)
dengan bau telur busuk. Gas ini sering ditangani dengan tidak cukup hati-hati, gas ini
sangat berbahaya dan harus ditangani dalam lingkungan yang ventilasinya baik. Gas ini
digunakan untuk analisis kimia dengan cara pengendapan ion logam, pembuatan
senyawa yang mengandung belerang, dsb.

Hidrogen fluorida, HF, adalah gas tak bewarna, berasap, bertitik didih rendah (mp -83 oC
dan bp 19.5 oC), dengan bau yang mengiritasi. Gas ini biasa digunakan untuk
mempreparasi senyawa anorganik dan organik yang mengandung fluor. Karena
permitivitasnya yang tinggi, senyawa ini dapat digunakan sebagai pelarut non-air yang
khusus. Larutan dalam air gas ini disebut asam fluorat dan disimpan dalam wadah
polietilen karena asam ini menyerang gelas.

F. OKSIDA HIDROGEN
Oksigen sangat reaktif dan bereaksi langsung dengan beberapa unsur untuk membentuk
oksida. Air adalah oksida hydrogen yang memiliki peran penting bagi lingkungan global
dan kehidupan sehari-hari.

1. Air (H2O)
Air dengan rumus kimia H2O, terdapat sebanyak 97% di laut, 2% sebagai es di kutub
dan sisanya merupakan air tawar. Sifat kimia dan sifat fisika dasar air sangat penting
dalam kimia. Air memiliki titik leleh 0°C dan titik didih 100°C. Sebagian besar bersifat
anomali air disebabkan oleh ikatan hidrogen yang kuat. Sifat fisika air memiliki
perbedaan yang cukup besar dengan keberadaan isotop hidrogen. Ada 9 polimorf es
yang diketahui dan struktur kristalnya bergantung pada kondisi es saat membeku. Air
dalam molekul bebasnya memiliki sudut ikatan 104,5° dan panjang ikatan 95,7 pm.
Autoionisasi air menghasilkan ion oksonium (H3O+) ketika air ditambahkan lebih
lanjut akan menghasilkan [H(OH2)n]+ (H5O2 +, H7O3 +, H9O4 +, dan H13O6 +) dan
struktur berbagai spesies ini telah ditentukan
2. Hidrogen peroksida (H2O2)
Hidrogen peroksida adalah cairan yang hampir tak berwarna (titik leleh -89°C dan
titik didih diektrapolasikan 151,4°C), pada konsentrasi tinggi bersifat sangat mudah
meledak dan berbahaya. Umumnya hidrogen peroksida berupa larutan encer.
Hidrogen peroksida digunakan dalam jumlah besar sebagai bahan pengelantang
kertas dan proses sintetik industri berskala besar. Proses ini menggunakan reaksi
katalitik untuk menghasilkan larutan encer hidrogen peroksida dari udara dan
hidrogen dengan menggunakan antrakuinon tersubstitusi, kemudian larutan encer
ini dipekatkan. Reaksi berikut dapat terjadi ketika deuterium peroksida sudah
dipersiapkan dalam laboratorium: K2S2O8 + 2D2O D2O2 + 2KDSO4 Hidrogen
peroksida terdekomposisi menjadi air dan oksigen dengan keberadaan mangan
dioksida (MnO2). Hidrogen peroksida dapat bertindak sebagai oksidator maupun
reduktor bergantung kereaktanannya. Potensial reduksinya dalam asam dinyatakan
dalam diagram Latimer. O2 +0,70 H2O2 +1,76 H2O

G. PENGGUNAAN HIDROGEN
Sebagian besar gas H2 digunakan dalam sintesis senyawa anorganik seperti
pembuatan asam klorida, asam nitrat, bahan pembuatan amonia melalui proses
Haber. Hidrogen juga digunakan pada pembuatan senyawa-senyawa organik seperti
methanol. Metanol merupakan hasil dari reaksi CO dengan hidrogen pada suhu
400°C dengan tekanan 300 atm dan penambahan katalis seng oksida dan kromium
(III) oksida. Pada pembuatan mentega, minyak direaksikan dengan hidrogen katalis
nikel sehingga terbentuk lemak padat. Manfaat hidrogen adalah sebagai obor
pemotong dan penggelas, pengisi balon yang lebih ringan dari udara, dan dalam
bentuk cair sebagai bahan bakar roket. Hidrogen merupakan pereduksi yang baik
untuk menghasilkan logam dari oksidanya. Dimasa yang akan datang, hydrogen
diprediksi akan menjadi bahan bakar pengganti bensin untuk pengangkutan.

H. IKATAN HIDROGEN
Hidrogen yang terikat pada atom-atom lain (X) terutama F, O, N, atau Cl sehingga
membentuk ikatan X-H pada tingkat kepolaran rendah dengan H bermuatan positif
sebagian. Hidrogen dapat bereaksi dengan atom lain yang bermuatan negatif atau
yang memiliki elektron berlebih (Y) membentuk ikatan yang disebut hidrogen (ikatan
–H), ditulis sebagai: X – H ---- Y Walaupun rinciannya merupakan subjek dari
keragaman dan pertentangan, Pada umumnya faktor utama ikatan hidrogen
terbentuk disebabkan oleh gaya tarik elektrostatik dari H dan y. Jarak X – H menjadi
sedikit panjang, namun ikatan ini pada hakikatnya adalah tetapan ikatan 2-elektron
yang normal. Jarak H – Y umumnya lebih panjang daripada ikatan kovalen H –Y yang
normal. Pada ikatan hidrogen yang kuat, jarak X terhadap Y menjadi cukup pendek,
dan jarak X – Y serta Y – H hampir sama besarnya. Dalam hal ini diduga adanya
komponen komponen kovalen dan elektrostatik pada kedua ikatan tersebut yakni X –
H dan Y- H. Keberhasilan eksperimen ikatan hidrogen berawal dari perbandingan
sifat-sifat fisika senyawa hidrogen. Contoh-contoh terdahulu tampak pada titik didih
abnormal dari NH3, H2O, dan HF yang mengandung sifat asosiasi molekul-molekul
tersebut dalam fase cairan. Sifat-sifat lain seperti panas penguapan menyediakan
bukti lebih lanjut mengenai asosiasi. Meskipun sifat-sifat fisika yang mencerminkan
asosiasi masih tetap merupakan sarana yang berguna pada pendektesian ikatan
hidrogen, bukti yang paling memuaskan bagi padatan berasal dari studi mengenai
kristal dngan sinar-X, atau difraksi neutron dari padatan, dan dari teknil lain seperti
seperti dari spektra infra merah, resoannsi amgnetik inti, spektroskopi Raman, dan
kalorimetri.
Bukti mengenai struktur ikatan hidrogen ditunjukkan oleh jarak X .... Y yang lebih
pendek daripada kontak Van Der Waals yang diharapkan bila ada ikatan hidrogen.
Misalnya pada kristal NaHCO3 terdapat empat jenis jarak O...O antara ion HCO3-
dengan harga 3,12; 3,15; 3,19 dan 2,55 Ǻ. Tiga harga yang pertama kira-kira sama
dengan dua kali jari-jari van der waals dari oksigen, tetapi yang terakhir menyatakan
adanya ikatan hidrogen O – H ... O. Bila grup X – H memasuki ikatan hidrogen, pita
ulur X – H pada spektrum infra merah frekuensinya menjadi lebih rendah, lebih lebar,
intensitas terintegrasinya makin tinggi. Perubahan-perubahan ini dapat merupakan
sarana yang sangat berguna untuk mempelajari ikatan hidrogen dalam larutan.
Gambar. Titik Didih Beberapa Hibrida Molekular

Entalpi ikatan hidrogen dalam beberapa kondisi relatif kecil yaitu 20-30 [Link]-1 jika
dibandingkan dengan ikatan kovalen sebesar 200 [Link]-1. Walaupun demikian,
ikatan-ikatan ini mempunyai pengaruh besar pada sifat dan kereaktifan kimia zat
yang terbentuk. Hal ini terlihat pada gambar diatas dimana air misalnya akan
mendidih pada suhu berkisar -100°C dan bukan +100°C apabila ikatan hidrogen tidak
sesuai dengan perannya. Maka dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kehidupan
bergantung pada keberadaan ikatan hidrogen.

Anda mungkin juga menyukai