0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan3 halaman

Pemuda Nusantara Melawan Penjajah

Cerita ini menggambarkan kehidupan sekelompok pemuda di tanah Nusantara yang terjajah, masing-masing dengan latar belakang yang menyedihkan akibat penjajahan Belanda. Mereka berkumpul untuk saling mendukung di tengah kesulitan, menghadapi kenyataan pahit dari kehilangan orang tua dan kerja paksa. Kehadiran Putri Carletta Vanessa Espinosa menandai awal perubahan dalam kehidupan mereka, yang akan mempengaruhi prinsip salah satu dari pemuda tersebut.

Diunggah oleh

jasminesyifaazzahra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan3 halaman

Pemuda Nusantara Melawan Penjajah

Cerita ini menggambarkan kehidupan sekelompok pemuda di tanah Nusantara yang terjajah, masing-masing dengan latar belakang yang menyedihkan akibat penjajahan Belanda. Mereka berkumpul untuk saling mendukung di tengah kesulitan, menghadapi kenyataan pahit dari kehilangan orang tua dan kerja paksa. Kehadiran Putri Carletta Vanessa Espinosa menandai awal perubahan dalam kehidupan mereka, yang akan mempengaruhi prinsip salah satu dari pemuda tersebut.

Diunggah oleh

jasminesyifaazzahra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Memory <1595

Karya : Carla

Jauh sebelum tragedi terjadi... Sebelum pihak lawan kehilangan, jauh sebelum
pertumpahan terjadi. Darah yang bercucuran akibat mempertahankan tanah Nusantara. Di
sinilah kita berada, tanah Nusantara yang terinjak-injak oleh para penjajah, tak seorangpun
yang bisa melawan... Tak terkecuali beberapa pemuda ini, mereka dipaksa melakukan kerja
paksa dan hanya bisa beristirahat di sore hari.

Dimulai dari Janardana Danadyaksa, dia dipanggil Jaka oleh teman-temannya,


ayahnya meninggal jauh sebelum Belanda datang di tanah Nusantara, surganya adalah ibunya
dan juga teman-temannya. Lalu Harsa Gajendra, dia laki-laki tertua diantara teman-
temannya, mereka terpaut dua tahun dari Harsa, Harsa hidup bersama ibunya, ayahnya
merantau dan menghilang bersamaan dengan perginya angin. Jagadhita Haridra, orang tua
Dhita masih lengkap, dia juga memiliki ekonomi paling stabil diantara teman-temannya, tapi
hanya ada satu masalah, yaitu ayahnya yang terjebak di luar negeri dan tidak bisa kembali
akibat para penjajah. Kehidupan Rajendra Surendra atau kerap dipanggil Reja juga tidak
kalah menyedihkan, ayahnya tumbang dalam mempertahankan negeri ini. Ada anak kembar
juga di dalam pertemanan ini, Janu Jatinra dan Nararya Pradaya, kehidupan mereka tidak
lebih baik dari teman-temannya, tapi setidaknya mereka punya orang tua yang lengkap
walaupun harus dipaksa melakukan kerja rodi. Terakhir ada Satya Waranggana, baginya
hidup hanya tentang berjalan lurus, dia tidak peduli dengan kehadiran para penjajah... Atau
bisa dibilang kebenciannya sudah memuncak sampai dia tidak bisa mengekspresikannya lagi.
Ayahnya kabur bersama seorang Noni Belanda, bahkan saat pergi ayahnya tidak mendengar
suara permohonan Satya. Mereka berteman sejak kecil sampai sekarang berumur belasan
tahun.

Hari-hari berjalan seperti biasa, pemandangan yang baru-baru ini sering terjadi adalah
warga pribumi yang sedang melakukan kerja paksa, sepertinya mereka harus terbiasa. Tapi
setiap kejadian pasti akan ada kejutan, seperti hal nya hari ini. Jaka sedang bersiap-siap untuk
menemui temannya di tempat berkumpul mereka.

“Nduk... Jangan pulang malem, bahaya” sudah jelas sumber suaranya adalah ibunya,
“Ibu jangan khawatir, Jaka bisa jaga diri kok, kan Jaka anak kuat” Jaka hanya tersenyum
sambil menjawab ibunya, “Ibu tau, tapi pasukan sering berjaga malam hari nak, apalagi Reja
juga masih dalam pengawasan mereka” bibir Jaka yang tadinya tersenyum menjadi diam,
sejak kedatangan Belanda, dia dan teman-temannya menjadi tidak leluasa, apalagi sekarang
Reja masih dalam pengawasan akibat ayahnya yang memberontak, “Jaka gak akan pulang
malem kok bu” setelah pamit, Jaka langsung menuju tempat berkumpul mereka.

“Tumben telat Jak” Harsa yang tadinya menidurkan badannya di kursi panjang
langsung mempersilahkan temannya ini duduk, “Ibu nasehatin Jaka dulu, katanya pasukan
bakal jaga malem ini” Jaka langsung duduk sebelum Janu mengambil tempat duduknya ini
lagi seperti waktu itu.

“Kira-kira kapan Belanda pergi? Dhita kangen ayah” Dhita meneteskan air matanya
karena merindukan ayahnya, sudah enam bulan ayahnya terjebak di luar negeri. Entah sampai
kapan ini akan berlangsung. Teman-temannya langsung menghibur Dhita, walaupun mereka
laki-laki tapi air mata adalah hal manusiawi, jadi wajar Dhita menangis seperti ini. Setelah
Dhita tenang Jaka membuka suaranya.

“Kira-kira besok ngapain? Bosen tau ngobrol doang kayak gini”

Janu menyenggol bahu Jaka sambil meledeknya, “Ngomong bosen terus tapi Jaka
tetep ikut ngumpul kan? Gimana si?” sedangkan lawan bicara hanya terkekeh, “Kalau gak
ngobrol bareng kalian nanti Jaka makin pusing”

“Tapi katanya besok ada tamu, jadi kita harus kumpul di Malio” semua menengok ke
arah temannya yang paling muda ini yaitu Arya, “Belanda?” kali ini Satya yang membuka
suaranya, Arya mengangguk dan terlihat Satya langsung menghembuskan nafas panjang,
“Satya benci Belanda!”

“Kita semua benci Belanda, kehidupan kita diambil paksa” kali ini suaranya datang
dari pemuda tertua, tapi walaupun begitu mereka semua harus tetap hadir demi kelangsungan
hidup mereka.

Malam berjalan seperti biasa, bintang yang selalu menemani bulan dalam gelapnya
malam. Pagi ini mereka berkumpul di Malioboro seperti perintah, dan tentu saja Satya datang
terlambat jika berhubungan dengan Belanda.

Tidak lama setelah itu, ada prajurit yang datang sambil membacakan suatu surat
perintah.

“Wahai masyarakat Jogja, tepat di hari ini putri dari tuan Alberto Espen tiba di
Jogja, Putri Carletta Vanessa Espinosa akan tinggal di sini sampai waktu yang tidak
ditentukan, setelah bunyi terompet silahkan berikan hormat dengan menundukan kepala
kalian”

Setelahnya, bunyi terompet muncul, semua orang menundukkan kepala mereka


kecuali para pemuda ini. Pandangan mereka fokus pada putri yang baru turun dari mobil
Kerajaan, di sampingnya ditemani oleh panglima.

Tapi ada yang aneh dari sini, putri hanya menundukkan pandangannya sampai
panglima tersebut menegurnya. Putri baru menghadap rakyatnya termasuk menatap ke tujuh
pemuda ini. Pandangan mereka seakan terkunci begitu saja tanpa ditemukan kuncinya. Ini
awal dari segalanya. Awal dari kehidupan baru Carletta dan juga awal dari berubahnya
prinsip salah satu dari pemuda ini.

END
Cerita diatas adalah sebagian kecil dari ceritaku yang bakal aku publish di
wattpad, dilarang melakukan plagiat dalam bentuk apapun.

…SPOILER…
“SUDAH CARLETTA BILAG CARLETTA TIDAK TEGA!”

“Hey nona! Berhentilah menangis sambil mencabuti rumput!”

“Dia putri itu?!”

Tentang garis keturunan yang tidak bisa dirubah hingga tumpahnya darah

“Jangan merokok lagi”

“Kembalilah di masa depan”

Garis reinkarnasi yang sia-sia?

Jangan lupa baca selengkapnya di @hslettaxs di wattpad yaaaa

Anda mungkin juga menyukai