Maybe, In Another Universe
Kita semua punya cita-cita dan kita semua punya cara masing-masing untuk mencapai
cita-cita yang kita inginkan, ada yang berjalan mulus dan ada juga yang harus mengorbankan
hal yang paling berharga. Di kehidupan kita sekarang, kita bisa menikmati seluruh
perjuangan para pendahulu kita, sedikit yang kita tahu tentang masa lalu karena kita tidak
pernah mengalaminya.
Adira Narayya dan kekasihnya Handika Alfattan memasuki perpustakaan milik
negara, ini memang salah satu keinginan mereka, yaitu mengunjungi perpustakaan nasional
dan belajar bersama, “Kak boleh tolong ambilin novel di atas?” Handika menengok ke arah
atas dan tertawa, “Dasar pendek,” saat Handika ingin mengambilkan novel yang ditunjuk
Adira, tiba-tiba Adira menghentikannya, “Kak, kok buku sejarah ada di bagian novel sih?
Siapa coba yang taro di sini?” Adira mengambilnya dan membersihkan debu di atas bukunya,
Handika juga ikut melihat buku itu, “Ini bukan buku sejarah, dan gak ada cap perpustakaan
juga,” mereka membawa buku itu ke meja pembaca, mereka melupakan novel yang ingin
mereka baca. Halaman pertama hanya kertas kosong yang sudah menguning, halaman kedua
berisi beberapa foto. Handika langsung menatap Adira, “Ini kita? Kapan foto ini diambil?”
Adira menggeleng, seakan menolak apa yang dikatakan Handika, “Ini bukan kita kak, nama
disini Carletta Vanessa Espinosa dan Handiyono Aflah,” Handika juga menggeleng, dia mulai
paham semuanya, “Handiyono Aflah itu kakek moyang aku, dia meninggal 5 tahun sebelum
aku lahir,”
Bertahun-tahun yang lalu, seperti yang kita tahu bahwa Indonesia yang sebelumnya bernama
Nusantara dijajah oleh bangsa Belanda. Seluruh masyarakat Nusantara pada saat itu
mengetahui kejamnya para penjajah di masa lalu. Kita juga tahu banyak pejuang yang ikut
serta mempertahankan dan memperjuangkan Nusantara merdeka seperti sekarang, dan dari
banyaknya masyarakat Nusantara pada saat itu, ada banyak cerita yang tidak tersorot.
Suatu hari, Handiyono mengambil roko