E.
RENCANA MUTU PEKERJAAN KONSTRUKSI
E.1. UMUM
Pembahasan RMPK mencakup kecukupan terkait persyaratan penyusunan
RMPK serta kesesuaian dengan lingkup dan persyaratan dalam kontrak.
1. Tanggung Jawab Dan Wewenang Para Pihak
Tanggung jawab dan wewenang para pihak terkait penyusunan RMPK,
yaitu:
a. Pengguna Jasa
1) Melakukan evaluasi dan menyetujui RMPK;
2) Mengawasi pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan RMPK; dan
3) Memastikan agar RMPK selalu up to date sesuai dengan
perubahan lingkup pekerjaan.
b. Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi
1) Menyampaikan RMPK sesuai ketentuan penyusunan serta lingkup
dan persyaratan dalam kontrak;
2) Menjelaskan RMPK dalam rapat persiapan pelaksanaan pekerjaan
(PCM);
3) Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan RMPK; dan
4) Melakukan perubahan/kaji ulang dokumen RMPK sesuai dengan
perubahan lingkup pekerjaan yang ada.
2. Implementasi RMPK
a. Pada Rapat Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan (PCM)
RMPK yang dibuat oleh Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi dibahas
pada saat Rapat Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan secara detail sesuai
dengan komponen yang sudah ditetapkan dan sesuai dengan
spesifikasi teknis maupun syarat-syarat yang telah disepakati
bersama saat penandatanganan kontrak.
b. Pada saat Pelaksanaan Konstruksi
1) RMPK yang sudah disetujui oleh pengguna jasa secara resmi dapat
dipakai oleh seluruh stakeholder yang ada di Proyek konstruksi.
2) RMPK menjadi acuan kerja bagi konsultan pengawas proyek
konstruksi dalam melaksanakan kewajibannya di proyek
konstruksi
3) Method Statement dan Rencana Pemeriksaan dan Pengujian
(Inspection and Test Plan/ITP) yang merupakan komponen pada
RMPK digunakan sebagai salah satu persyaratan dalam
permohonan izin memulai pekerjaan.
CV. TELU SARA ITA
KONTRAKTOR. SUPLYER DAN PERDAGANGAN UMUM
S
[Link]. MENTAWAI
Kantor : Jln. Beringin Sipora Jaya Kec. Sipora Utara
Kabupaten Kepulauan Mentawai
RENCANA MUTU PEKERJAAN KONSTRUKSI
(RMPK)
PEMBANGUNAN JEMBATAN GANTUNG
LEBESEU DESA SIMATALU
Pemberi Tugas : CV. TELU SARA ITA
Lokasi Pekerjaan : Lebeseu Desa Simatalu Kec. Siberut Barat
Nomor Kontrak : 600.1.9/05/PPK-BM.42/VIII-2023
Waktu Pelaksanaan : 130 hari Kalender
DISUSUN OLEH:
CV. TELU SARA ITA
Lembar Pengesahan
RENCANA MUTU PEKERJAAN KONSTRUKSI
(RMPK)
PEMBANGUNAN JEMBATAN GANTUNG LEBESEU
DESA SIMATALU
Pihak Penyedia Jasa Pihak Pengawas Pihak Pengguna Jasa
Pekerjaan
Dibuat Oleh: Diperiksa Oleh: Disetujui Oleh:
CV. TELU SARA ITA Pengguna Jasa
PT. SANDI ARIFA CONSULTANT
(Penanggung Jawab Kegiatan)
HERDI PRAIN SAMALINGGAI ADHI KARYADI,S.T RIFKI ERIAWAN, S.T.,M.M
Direktur Supervisor Engineer NIP: 19770509200801 1 003
DAFTAR ISI
I. SAMPUL DEPAN
II. LEMBAR PENGESAHAN
III. DAFTAR ISI
IV. BAB I INFORMASI PEKERJAAN
I.1 Data Umum Pekerjaan
V. BAB II STRUKTUR ORGANISASI
II.1 Struktur Organisasi
II.2 Tugas dan Tanggung Jawab
VI. PROGRAM MUTU
BAB I INFORMASI
PEKERJAAN DATA UMUM PEKERJAAN
Nama Pekerjaan : Pembangunan Jembatan Gantung Lebeseu Desa
Simatalu;
Lokasi Pekerjaan : Desa Simatalu Kecamatan Siberut Barat Kab.
Kep,
Mentawai;
Kontrak (No & Tanggal): 600.1.9/05/PPK-BM.42/VIII-2023 (02 Agustus
2023)
SPMK (No & Tanggal) : 600.1.9/07/PPK-BM.42/VIII-2023 (07 Agustus
2023)
Nilai Kontrak : Rp. 780.384.000,00
Sistem Kontrak : Sistem Kontrak Gabungan LumSum
Sumber Dana : APBD Tahun Anggaran 2023
Waktu Pelaksanan
Masa Kontrak : 130 Hari Kalender
Tanggal Mulai Kerja : 07 Agustus 2023
Tanggal PHO : 15 Desember 2023
Tanggal FHO : 15 Mei 2024
Pengguna Jasa
Satuan Kerja : DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
PPK : RIFKI ERIAWAN, S.T.,M.M
Alamat : Jl. Raya Tuapeijat, Km. 04 Desa Tuapeijat, Kec. Sipora Utara
Penyedia Jasa
Nama : CV. TELU SARA ITA
Alamat : Dusun Karya Bakti Desa Sipora Jaya Kec. Sipora Utara
BAB II STRUKTUR ORGANISASI
2.1. Struktur Organisasi
Struktur Penyedia jasa Pekerjaan Konstruksi harus memberikan uraian
mengenai struktur organisasi tim internal serta subpenyedia jasa-nya
(jika ada), beserta penjelasan terkait tugas dan tanggung jawab yang
dimiliki oleh masing-masing personil/divisi/bagian yang dimaksud.
HERDY PRAIN
SAMALINGGAI
DIREKTUR
Ir. SUPRA ANTONIUS
WOTO W.K
PELAKSANA LAPANGAN PETUGAS K3 KONSTRUKSI
Gambar 2.1 Struktur Organisasi CV. TELU SARA ITA
Tugas dan Tanggung Jawab
a) Tugas dan Tanggung Jawab Pimpinan ( Direktur ) Pekerjaan Konstruksi :
Menentukan kebijaksanaan pelaksanaan jasa manajemen proyek
konstruksi
Memimpin, mengkoordinir dan melaporkan kepada konsultan pengawas
terkait dengan kegiatan pelaksanaan proyek.
Membuat dan mengontrol time schedule poyek yang akan dilaksanakan.
Menandatangani berita acara serah terima pekerjaan.
Membuat dan mengatur perencanaan kegiatan operasional pelaksanaan
proyek
Melaksanakan, mengkoordinir, dan mengontrol kegiatan operasional
pelaksanaan proyek
Menyetujui dan menandatangani semua dokumen yang bersifat usulan,
permintaan, pembelian, pemakaian dan pembayaran untuk kebutuhan
proyek konstruksi.
Menyelenggarakan rapat-rapat koordinasi dengan pihak luar, yang
berkaitan dengan kebutuhan proyek.
Menandatangani laporan bulanan terkait dengan pelaksanaan proyek
konstruksi.
Mengajukan dan menandatangani pekerjaan tambah atau
kurang/contract change order (CCO) kepada owner jika diperlukan.
b). Tugas dan TAnggung Jawab Ahli K3 Konstruksi :
Membuat program kerja K3 dan perencanaan pengimplementasian agar
tercipta lingkungan kerja yang sehat.
Memastikan berjalannya program dan membuat dokumentasinya.
Membuat laporan dan menganalisis data statistik SHE.
Melakukan peninjauan risiko assessment, SOP/SWP dan JSA.
Memeriksa pada peralatan kerja apakah terdapat aus atau tidak, dan juga
memerika kondisi kesehatan tenaga kerja dan lingkungan kerja.
Meninjau keselamatan kerja dan pelatihan keselamatan.
Mencegah dan melakukan penanggulangan kecelakaan kerja dan
melakukan penyelidikan penyebabnya.
Memastikan tenaga kerja telah bekerja sesuai dengan SOP.
Meninjau dan mengarahkan karya wan bekerja sesuai kewajiban dan
sesuai dengan sistem operasi perusahaan.
c). Tugas dan tanggug jawab Pelaksana Lapangan :
Menganalisa Gambar perencanaan pekerjaan Jembatan gantung Lebeseu
Desa Simatalu
Membuat Program Kerja Mingguan, Berdasarkan Rencana Kerja induk
Melaksanakan persiapan lapangan sesuai lingkup pekerjaan
Menyelenggarakan bimbingan teknis kepada mitra kerja
Melaksanakan pekerjaan proyek sesuai dengan Shop Drawing, Spesifikasi
Teknis, Metode Kerja dan Persyaratan dalam K3
Melakukan pemeriksaan dan memproses berita acara kemajuan fisik
pekerjaan
Melakukan koordinasi kegiatan pelaksana dengan mitra usaha di lapangan
Memeriksa gambar hasil akhir pelaksanaan dilapangan setiap pekerjaan
berakhir (100%) yang dibuat berdasarkan instruksi perubahan tertulis
dari Direksi lapangan selama masa pelaksanaan pekerjaan fisik.
BAB III JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN
Jadwal yang mencakup seluruh tahapan yang ada dalam proyek tersebut
sehingga dapat memberikan gambaran terkait rencana kegiatan mulai tahap
persiapan sampai tahap penyelesaian.
Rencana alokasi waktu untuk menyelesaikan masing-masing item pekerjaan
proyek yang secara keseluruhan adalah rentang waktu yang ditetapkan
untuk melaksanakan sebuah proyek konstruksi.
Jadwal pelaksanaan pekerjaan merupakan tabel work breakdown structure
yang dilengkapi dengan durasi pekerjaan dan dapat menggambarkan
timeline pekerjaan. Jadwal pelaksanaan pekerjaan dalam RMPK terintegrasi
dengan uraian pekerjaan dalam identifikasi bahaya dan pengendalian
risiko.
Tabel. 3.1 Jadwal pelaksanaan pekerjaan
Tabel 3.1a Contoh Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan
BAB IV GAMBAR DAN SPESIFIKASI TEKNIS
Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi harus melampirkan gambar desain
(DED) yang sudah disepakati saat penandatanganan kontrak dan
memberikan uraian singkat dan jelas mengenai persyaratan spesifikasi
teknis sesuai kontrak. Contohnya: Persyaratan proses produk/hasil
produk, Persyaratan mutu material, Standard/aturan yang dipakai, Mutu
produk akhir.
Gambar 4.1 Gambar Kerja
SPESIFIKASI TEKNIS
I. UMUM
I.1. Lingkup Pekerjaan
I.2. Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah Pekerjaan Pembangunan Jembatan
Gantung.
I.3. Merupakan bagian dari Kegiatan yang dilaksanakan oleh Konsorsium Institut
Indonesia untuk Ekonomi Energi (IIEE) - Rimbawan Muda Indonesia (RMI) –
ProWater - LKM Wonorejo, kegiatan proyek “Peningkatan Ekonomi dengan
Pemberdayaan Masyarakat Yang Inklusif melalui Pengembangan Pusat
Pengetahuan (Center of Knowledge/CoK) berbasis Energi Terbarukan”.
Selain pekerjaan utama yang disebut diatas, maka Kontraktor wajib
melaksanakan pekerjaan lain yang merupakan pekerjaan yang harus dilaksanakan
untuk mendukung terlaksananya pekerjaan tersebut, seperti :
- Papan nama
- Foto Dokumentasi
- Pembersihan/kerapian site
- Quality Control
- As Build Drawing/Shop Drawing
- Pengurusan ijin yang ditetapkan
- Pekerjaan-pekerjaan yang tidak disebutkan satu persatu, tetapi merupakan
suatu kesatuan sistem yang tak bisa dipisahkan.
I.4. Lokasi Pekerjaan
Pekerjaan yang dilaksanakan berada di Korong Wonorejo, Jorong Sungai Lambai,
Nagari Lubuk Gadang Selatan, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan,
Provinsi Sumatera Barat.
I.5. Tanggung Jawab Penyedia Jasa
1). Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa wajib memeriksa kekuatan
konstruksi, stabilitas dan keamanan pelaksanaan pekerjaan yang akan
dilaksanakan dan harus mengkonsultasikan dengan Konsultan Perencana dan
Pengawas Lapangan / Direksi.
2). Segala sesuatu kerusakan yang timbul akibat kelalaian Penyedia Jasa tidak
melaksanakan pemeriksaan kekuatan konstruksi, stabilitas dan keamanan
pelaksanaan pekerjaan menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.
3). Pada keadaan apapun, dimana pekerjaan-pekerjan yang dilaksanakan telah
mendapat persetujuan Direksi Lapangan tidak berarti membebaskan Penyedia
Jasa atas tanggung jawab pada pekerjaannya sesuai dengan isi kontrak.
I.6. Sarana Bekerja dan Tata Cara Pelaksanaan
1). Kontraktor harus menyediakan semua peralatan yang nyata-nyata diperlukan
dalam pelaksanaan pekerjaan. Direksi berhak meminta kepada Kontraktor untuk
mengadakan peralatan pembantu pekerjaan yang dianggap perlu untuk menjamin
kecepatan, mutu dan ketepatan pekerjaan.
2). Semua biaya mobilisasi dan sewa pakai peralatan dianggap telah diperhitungkan
dalam penawaran Kontraktor. Sebagai gambaran, peralatan minimal yang harus
digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah :
- Beton Molen
- Mesin Listrik (Genset)
- Mesin Las
- Mesin Pemadat (Stamper Compaction Equipment)
- Pompa Air
- Alat-alat pertukangan sederhana wajib dimiliki oleh setiap tukang
- Dan alat-alat lainnya yang diperlukan
Jenis, jumlah, kondisi dan pemilikan alat-alat harus tercermin dalam lampiran
penawaran kontraktor.
3). Kontraktor wajib meneliti situasi Tapak dan hal lain yang dapat mempengaruhi
penawaran. Untuk itu sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor wajib
melakukan survey ulang guna memperoleh akurasi data yang baru. Kelalaian atau
kekurang telitian Kontraktor dalam hal ini tidak dapat diajukan sebagai alasan
untuk mengajukan klaim.
4.) Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian sesuai dengan
ketentuan-ketentuan dalam Spesifikasi Teknis, Gambar Rencana, Berita Acara
Penjelasan (Aanwijzing), Berita Acara Rapat Lapangan, serta petunjuk dari Direksi
Teknis / Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan Tim Teknis Pengelola
Proyek. Bila ternyata ada perbedaan antara gambar rencana, RKS dan RAB maka
Pelaksana / Penyedia Jasa harus memberitahukan kepada Direksi / Pengawas
dilapangan.
5). Dalam melaksanakan pekerjaan Kontraktor wajib melakukan pendekatan
dengan masyarakat sekitar untuk memperoleh dukungan dalam pelaksanaan
pekerjaan ini.
II. PERSYARATAN KHUSUS
II.1. Standar-standar yang berlaku.
1). Kecuali ditentukan lain dalam Spesifikasi teknis ini, berlaku dan mengikat
ketentuan-ketentuan persyaratan teknis yang tertera dalam persyaratan
Standard Normalisasi Indonesia (SNI) dan peraturan-peraturan setempat :
a. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI 1991), SK SNI T-15.1919.03.
b. Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton, SNI 03-3976-1995
c. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung, SNI 03-2847-
2006.
d. Peraturan Muatan Indonesia,NI. 8 dan Indonesian Loading Code 1987 (SKBI-
1.2.53.1987).
e. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia NI-5-2002
f. Tata Cara Pengecatan Dinding Tembok Dengan Cat Emulsi, SNI 03-2410-2002
g. Tata Cara Pengecatan Kayu Untuk Rumah dan Gedung, SNI 03-2407-2002
h. Peraturan Semen Potland Indonesia NI 8 tahun 1972.
i. Standar Industri Indonesia (SII)
j. AV 1941/SU 41 Algemene Voorwarden Voor De Uitvoering Bij Aanneming Van
Openbare Werken. ( khusus bagian pasal-pasal yang masih berlaku)
k. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum No. 02/SE/M/2010 tentang
Pemberlakukan Pedoman Perencanaan dan Pelaksanaan Konstruksi Jembatan
Gantung Untuk Pejalan Kaki
l. American Society For Testing & Materials (ASTM)
m. American Institute of Steel Construction (AISC)
n. American Welding Society (AWS)
o. Peraturan dan ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah
a. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang belum termasuk dalam standar-standar yang
tersebut diatas, maupun standar-standar Nasional lainnya maka diberlakukan
standar Internasional yang berlaku atas pekerjaan- pekerjaan tersebut atau
setidak-tidaknya berlaku standar-standar persyaratan teknis dari negara-negara
asal bahan pekerjaan yang bersangkutan.
II.2. Pemeriksaan Dan Penyediaan Bahan/Material
1).Bila dalam Spesifikasi dan Syarat- syarat teknis ini disebutkan nama dan pabrik
pembuatan dari suatu material/bahan, maka hal ini dimaksudkan bahwa
spesifikasi teknis dari material tersebut yang digunakan dalam perencanaan dan
untuk menunjukkan material/bahan yang digunakan dan untuk mempermudah
Kontraktor Pelaksana mencari material/barang tersebut.
2).Setiap penggantian spesifikasi teknis dari material, nama dan pabrik pembuat dari
suatu bahan/barang harus disetujui oleh Konsultan Pengawas yang telah
dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Konsultan Perencana dan bila tidak
ditentukan dalam RKS serta Gambar Kerja, maka bahan dan barang tersebut
diusahakan dan disediakan oleh Kontraktor Pelaksana yang harus mendapatkan
persetujuan dahulu dari Konsultan Perencana melalui Konsultan
Pengawas/Direksi.
3). Contoh material yang akan digunakan dalam pekerjaan harus segera disediakan
atas biaya Kontraktor Pelaksana , setelah disetujui Konsultan Pengawas/Direksi,
harus dinilai bahwa material tersebut yang akan dipakai dalam pelaksanaan
pekerjaan nanti dan telah memenuhi syarat spesifikasi teknis perencanaan.
4). Contoh material tersebut, disimpan oleh Konsultan Pengawas, Pengelola Teknis
Pekerjaan atau Pemberi Tugas untuk dijadikan dasar penolakan bila ternyata
bahan dan barang yang dipakai tidak sesuai kualitasnya, sifat maupun spesifikasi
teknisnya.
5). Dalam pengajuan harga penawaran, Kontraktor Pelaksana harus sudah
memasukkan sejauh keperluan biaya untuk pengujian berbagai material. Tanpa
mengingat jumlah tersebut, Kontraktor Pelaksana tetap bertanggung jawab pula
atas biaya pengujian material yang tidak memenuhi syarat atas Perintah Pemberi
Tugas/Konsultan Pengawas.
6). Bahan-bahan yang tidak sesuai/tidak memenuhi syarat-syarat atau kualitas jelek
yang dinyatakan afkir/ditolak oleh Konsultan Pengawas, harus segera
dikeluarkan dari lapangan pekerjaan selambatlambatnya dalam tempo 2 x 24 jam
dan tidak boleh dipergunakan.
7). Apabila sesudah bahan-bahan tersebut dinyatakan ditolak oleh Konsultan
Pengawas dan ternyata masih dipergunakan oleh Kontraktor Pelaksana, maka
Konsultan Pengawas wajib memerintahkan pembongkaran kembali kepada
Kontraktor Pelaksana dimana segala kerugian yang disebabkan oleh
pembongkaran tersebut, menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana
sepenuhnya
8). Jika terdapat perselisihan dalam pelaksanaan tentang pemeriksaan kualitas dari
bahan-bahan tersebut, Konsultan Pengawas berhak meminta kepada Kontraktor
Pelaksana untuk mengambil contoh-contoh dari bahan-bahan tersebut dan
memeriksakannya ke Laboratorium Balai Penelitian Bahan-Bahan milik
pemerintah, yang mana segala biaya pemeriksaan tersebut menjadi tanggungan
Kontraktor Pelaksana.
9). Sebelum ada kepastian dari laboratorium tentang baik atau tidaknya kualitas
bahan-bahan tersebut, Kontraktor Pelaksana tidak diperkenankan melanjutkan
pekerjaan-pekerjaan yang menggunakan bahan-bahan tersebut.
10).Semua material yang masuk kedalam area proyek (digudang dan dilapangan
terbuka) tidak bisa dikeluarkan dari area proyek tanpa izin dari Direksi
Proyek/Konsultan Pengawas.
11).Semua pekerjaan hanya bisa dilaksanakan atas izin dari Direksi / Konsultan
Pengawas yang diaplikasikan dalam bentuk “Surat Ijin Kerja”. Pekerjaan yang
dilaksanakan tanpa izin Direksi/Konsultan Pengawas adalah tanggung jawab
Kontraktor dan tidak akan diprogress.
II.3. Perbedaan Dalam Dokumen Lampiran Kontrak
1). Jika terdapat perbedaan-perbedaan antara Gambar Kerja dan Spesifikasi dan
Syarat- syarat teknis ini, maka Kontraktor Pelaksana harus menanyakannya
secara tertulis kepada Konsultan Pengawas dan Kontraktor Pelaksana harus
mentaati keputusan tersebut.
2). Ukuran-ukuran yang terdapat dalam gambar yang terbesar dan terakhirlah yang
berlaku dan ukuran dengan angka adalah yang harus diikuti dari pada ukuran
skala dari gambar-gambar, tapi jika mungkin ukuran ini harus diambil dari
pekerjaan yang sudah selesai.
3). Apabila ada hal-hal yang disebutkan pada Gambar Kerja, RKS atau dokumen yang
berlainan dan atau bertentangan, maka ini harus diartikan bukan untuk
menghilangkan satu terhadap yang lain tetapi untuk menegaskan masalahnya.
Kalau terjadi hal ini, maka yang diambil sebagai patokan adalah yang mempunyai
bobot teknis dan atau yang mempunyai biaya yang tinggi.
II.4. Ukuran dan Patok.
1). Ukuran-ukuran dalam pekerjaan ini menggunakan sistem metrik, sebagai peil +
0,00 (datum line) dari pekerjaan ini mengikuti peil yang telah ditentukan.
2). Kontraktor Pelaksana harus sudah memperhitungkan biaya untuk pengukuran
atau penelitian ukuran tata letak atau ketinggian bangunan (bouwplank),
termasuk penyediaan "Bench Mark" atau "Line Offset Mark" pada masing-masing
lantai bangunan dan permukaan pengecoran areal parkir.
3). Hasil pengukuran harus dilaporkan kepada Konsultan Pengawas agar dapat
ditentukan sebagai pedoman atau referensi dalam melaksanakan pekerjaan sesuai
dengan gambar rencana dan persyaratan teknis.
4). Patok-patok bisa dibuat dari bahan kayu atau besi yang dipasang ditanam hingga
kokoh sehingga tidak terganggu waktu pelaksanaan pekerjaan
II.5. Keamanan Kegiatan.
1). Penyedia Jasa diharuskan menjaga keamanan terhadap barang- barang milik
Proyek, Pengawas dan Pihak ketiga yang ada dilapangan, baik terhadap pencurian
maupun pengrusakan.
2). Bila terjadi kehilangan atau pengrusakan barang-barang, alat- alat dan
[Link], maka akan menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa dan tidak
dapat diperhitungkan dalam pekerjaan tambah/kurang atau pengunduran waktu
pelaksanaan.
3). Apabila terjadi kebakaran, maka Penyedia Jasa bertanggung jawab atas akibatnya.
Untuk mencegah bahaya kebakaran tersebut, Penyedia Jasa harus menyediakan
alat pemadam kebakaran yang siap dipakai dan ditempatkan pada tempat- tempat
yang strategis dan mudah dicapai.
II.6. Keselamatan Kerja dan Kesehatan
1). Kontraktor Pelaksana harus menjamin keselamatan para pekerja sesuai dengan
persyaratan yang ditentukan dalam Peraturan Perburuhan atau persyaratan yang
diwajibkan untuk semua bidang pekerjaan (ASTEK). Oleh karena itu Penyedia Jasa
harus mengikutkan pekerja sebagai peserta Asuransi Sosial Tenaga Kerja (ASTEK)
sesuai dengan peraturan Pemerintah yang berlaku.
2). Pada pekerjaan - pekerjaan yang mengandung resiko bahaya jatuh, kecelakaan
lalu lintas dll, maka Penyedia Jasa harus menyediakan sabuk pengaman kepada
pekerja tersebut.
3). Untuk melaksanakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), maka
Penyedia Jasa harus menyediakan sejumlah obat obatan dan perlengkapan medis
lainnya yang siap dipakai apabila diperlukan dan dilokasi pekerjaan harus
tersedia kotak obat lengkap untuk Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK).
4). Bila terjadi musibah atau kecelakaan dilapangan yang memerlukan perawatan
yang serius, maka Penyedia Jasa/Pelaksana harus segara membawa korban ke
Rumah Sakit yang terdekat dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada
Pemberi Tugas.
5). Penyedia Jasa harus menyediakan air minum yang bersih, cukup dan memenuhi
syarat- syarat kesehatan bagi semua pekerja / petugas, baik yang berada dibawah
tanggung jawabnya maupun yang berada dibawah pihak ketiga.
II.7. Papan Nama Proyek
Papan Nama Proyek dipasang sesuai dengan petunjuk Direksi dan menjadi beban
Kontraktor dan telah diperhitungkan dalam penawaran Kontraktor
II.8. Izin – Izin
Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan kontraktor pelaksana harus mengurus
semua izin – izin yang diperlukan dan berhubungan dengan pelaksanaan
pekerjaan, termasuk IMB yang diperlukan sesuai dengan ketentuan/peraturan
yang berlaku, harus cepat diselesaikan dan tembusannya disampaikan kepada
direksi.
II.9. Dokumentasi
1).Kontraktor Pelaksana harus sudah memperhitungkan biaya pembuatan
dokumentasi serta pengirimannya ke Kantor Pejabat Pembuat Komitmen serta
pihak-pihak lain yang diperlukan.
2).Yang dimaksud dalam pekerjaan dokumentasi ialah :
- Laporan-laporan perkembangan pekerjaan.
- Foto-foto pekerjaan dari 0% sampai dengan 100%, berwarna minimal ukuran
kartu pos dilengkapi dengan album/ dijilid Rangkap 3 ( tiga )
- Surat-surat dan dokumen lainnya.
3).Foto-foto yang menggambarkan kemajuan pekerjaan hendaknya dilakukan sesuai
dengan petunjuk Konsultan Pengawas dan dibuat minimal sebanyak 5 ( lima )
peristiwa, yaitu :
- Sebelum pekerjaan dimulai
- Pelaksanaan pekerjaan pondasi
- Pelaksanaan pekerjaan Struktur
- Pelaksanaan pekerjaan Pengamanan
- Pekerjaan pengecatan
III. METODE PELAKSANAAN
III.1. Metode Pelaksanaan.
Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus memberikan rencana
tertulis mengenai Metode Pelaksanaan dan disetujui bersama oleh Direksi,
Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas, yang mengikat didalam pelaksanaan
pekerjaan ini.
III.2. Gambar Kerja.( Shop Drawing )
1).Direksi dan Konsultan Pengawas, berhak untuk memerintahkan Kontraktor untuk
membuat gambar kerja (shop drawing) atas bagian-bagian pekerjaan yang
memerlukan penjelasan lebih detail, dan / atau terdapat kekurang jelasan dalam
gambar kerja dan / atau untuk memungkinkan Kontraktor Pelaksana
melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan ketentuan, gambar
kerja tersebut atas biaya Kontraktor Pelaksana.
2).Pelaksanaan pekerjaan yang dimaksud baru bisa dilaksanakan jika shop drawing
telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan/Konsultan Pengawas, yang ditandai dengan
“tanda tangan” diatasnya.
3).Gambar kerja hanya dapat berubah apabila diperintahkan secara tertulis oleh
Pemberi Tugas, dengan mengikuti penjelasan dan pertimbangan dari Konsultan
Perencana dan Konsultan Pengawas.
4).Perubahan rencana ini harus dibuat gambarnya yang sesuai dengan apa yang
diperintahkan oleh Pemberi Tugas atau Konsultan, yang jelas ; memperhatikan
perbedaan antara gambar kerja dan gambar perubahan rencana. Gambar tersebut
harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas untuk disetujui sebelum
dilaksanakan.
III.3. Gambar Sesuai Pelaksanaan (Asbuilt Drawing)
1).Termasuk semua yang belum terdapat dalam gambar kerja baik karena
penyimpangan, perubahan atas perintah Pemberi Tugas atau Konsultan, maka
Kontraktor Pelaksana harus membuat gambar-gambar yang sesuai dengan apa
yang telah dilaksanakan, yang jelas memperlihatkan perbedaan antara gambar
kerja dan pekerjaan yang dilaksanakan.
2).Gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 5 (lima) yang biaya
pembuatannya ditanggung oleh Kontraktor Pelaksana.
IV. JADWAL PELAKSANAAN
1). Sebelum pekerjaan ini dimulai, maka Pelaksana / Penyedia Jasa wajib membuat
jadwal pelaksanaan (Time schedule) yang memuat uraian pekerjaan, bobot
pekerjaan, dan grafik hasil pekerjaan, jadwal pengadaan dan penggunaan bahan
serta tenaga kerja secara terperinci.
2). Dalam pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana/Penyedia Jasa harus membuat Rencana
Kerja Harian, Mingguan, dan Bulanan yang diketahui / disetujui oleh Direksi /
Pengawas Lapangan dan daftar yang memuat pemasukan bahan dan peralatan
yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan.
3). Rencana Kerja ( Time Schedule ) di atas harus mendapat persetujuan dari
Pembuat Komitmen dan Pelaksana Teknis Kegiatan serta Direksi / Pengawas.
4). Rencana Kerja (Time Schedule) harus sudah selesai dibuat oleh
Pelaksana/Penyedia Jasa paling lambat 7 (tujuh) hari kalender setelah Surat
Perintah Penunjukan Penyedia Jasa (SPPJ) diterima.
5). Pelaksana/Penyedia Jasa harus memberikan Rencana Kerja (Time Schedule)
sebanyak 4 (empat) lembar kepada Direksi / Pengawas dan 1 (satu) lembar harus
dipasang pada dinding bangsal kerja.
6). Direksi /Pengawas akan menilai prestasi pekerjaan Pelaksana/Penyedia Jasa
berdasarkan Rencana Kerja (Time Schedule) yang ada.
V. PEKERJAAN PERSIAPAN
V.1. Pembersihan Lapangan
1.) Sebelum Pekerjaan Dimulai.
Kontraktor harus melaksanakan pembersihan lapangan sebelum memulai
pekerjaan sehingga semua kotoran, puing-puing, rumput, semak, akar-akar pohon,
dan lain-lain tidak ada lagi di Tapak. Dengan demikian seluruh Tapak terlihat
dengan jelas.
2.) Setelah Pekerjaan Selesai.
Setelah pekerjaan selesai sebelum diadakan penyerahan pekerjaan kepada PPK,
Kontraktor harus membersihkan seluruh site dari segala macam kotoran, puing-
puing dan semua peralatan yang digunakan selama masa konstruksi. Kotoran-
kotoran tersebut harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan sehingga bila hal ini
belum diselesaikan secara tuntas, maka pekerjaan tidak akan dianggap selesai 100
(seratus) %.
3.) Selama Pekerjaan Berlangsung.
- Kontraktor bertanggung jawab atas kebersihan lapangan selama pekerjaan
berlangsung.
- Kontraktor bertanggung jawab atas kebersihan jalan raya yang dilalui oleh
kendaraan yang mengangkut material dari dan ke lokasi pekerjaan.
- Kontraktor bertanggung jawab atas kerusakan jalan raya di sekitar loaksi yang
jelas-jelas diakibatkan oleh kegiatan Kontraktor.
4.) Kebersihan yang dimaksud dalam pasal ini meliputi :
- Kebersihan terhadap kotoran-kotoran yang ditimbulkan oleh sisa-sisa
pembuangan berbagai jenis sampah.
- Kebersihan terhadap jenis kotoran-kotoran yang disebabkan oleh sampah sisa-
sisa bahan bangunan, pecahan- pecahan batu dan serpihan kayu, dll.
- Kebersihan dalam arti kata kerapihan pengaturan material dan peralatan
sehingga menunjang mobilisasi pelaksanaan di job site.
V.2. Pengukuran awal
1) Pelaksana Pekerjaan harus mengerjakan pematokan dan pengukuran untuk
menentukan batas-batas pekerjaan
2) Satuan pengukuran yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sistim metrik.
3) Pengawas pekerjaan dapat melakukan revisi atas pemasangan patok tersebut bila
dipandang perlu, dan Pelaksana Pekerjaan harus mengerjakan revisi tersebut
sesuai petunjuk Pengawas Pekerjaan.
4) Sebelum memulai pekerjaan pemasangan patok, Pelaksana Pekerjaan harus
memberitahukan kepada kepada Pengawas Pekerjaan dalam waktu tidak kurang
dari 48 jam sebelumnya sehingga Pengawas Pekerjaan dapat mempersiapkan
segala peralatan yang perlu untuk melakukan Pengawasan Pekerjaan.
5) Pekerjaan pematokan yang telah diukur oleh Pelaksana Pekerjaan harus
mendapat persetujuan tertulis dari Pengawas Pekerjaan. Hanya hasil pengukuran
yang telah disetujui oleh Pengawas Pekerjaan digunakan sebagai dasar pekerjaan
selanjutnya.
6) Dari Pengukuran ini dibuat gambar kerja yang memuat tentang pembagian
lokasi/areal kerja untuk disetujui Pengawas Pekerjaan sehingga jadwal
pelaksanaan pekerjaan berikutnya dapat dilaksanakan. Bilamana ada perbaikan
dari Pengawas Pekerjaan, maka Pelaksana Pekerjaan harus melaksanakan
pengukuran ulang. Dalam pengukuran ini harus ada patok referensi tetap yang
tidak boleh diganggu.
7) Pelaksana Pekerjaan wajib menyediakan peralatan pengukuran, antara lain
Meteran dan peralatan lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.
V.3. Mobilisasi dan Demobilisasi
1) Mobilisasi sebagaimana ditentukan dalam kontrak ini akan meliputi pekerjaan
persiapan yang diperlukan untuk pengorganisasian dan pengelolaan pelaksanaan
pekerjaan. Ini juga akan mencakup demobilisasi setelah penyelesaian pelaksanaan
pekerjaan yang memuaskan. Alat yang perlu dimobilisasi adalah sesuai dengan
kebutuhan pelaksanaan pekerjaan dilapangan.
2) Sejauh mungkin berdasarkan nasihat Direksi teknis, Kontraktor harus
menggunakan rute (jalur) tertentu dan menggunakan kendaraan-kendaraan yang
ukurannya sesuai dengan kelas jalan tersebut serta membatasi muatannya untuk
menghindari kerusakan jalan dan jembatan yang digunakan untuk tujuan
pengangkutan ke tempat pelaksanaan pekerjaan.
3) Kontraktor harus bertanggung jawab atas setiap kerusakan pada jalan dan
jembatan, dikarenakan muatan angkutan yang berlebihan serta harus
memperbaiki kerusakan tersebut sampai mendapat persetujuan Direksi Teknis.
4) Mobilisasi dan demobilisasi tenaga kerja, alat berat, bahan dan alat-alat lain yang
digunakan untuk pelaksanaan menjadi tugas kontraktor. Semua biaya bongkar
muat, retribusi, asuransi dan biaya-biaya lain yang berkaitan dengan ini menjadi
beban kontraktor
V.4. Papan Duga / Bouwplank
1). Untuk pekerjaan konstruksi bouwplank ini, perlu diperhatikan rencana gambar
dan bestek.
2). Untuk membantu ketepatan berdirinya bangunan / titik sumbu pondasi / kolom
konstruksi, maka harus dibuat konstruksi bouwplank yang kuat / tidak dapat
bergeser karena pekerjaan disekitarnya.
3). Konstruksi bouwplank dibuat dari bahan kayu KLS II / papan meranti berkwalitet
baik dengan ukuran 2/20 cm dan pancang kayu balok 5/7 panjang 1,5 meter
dengan jarak satu sama lain adalah 100 cm dan ditanam sedemikian rupa,
sehingga tidak mudah bergerak, diserut rata dan terpasang waterpass dengan peil
± 0.00 m.
4). Papan bouwplank bagian atas harus dibuat setinggi peil lantai ± 0,00
5). Pada papan bouwplank ini harus dicat sumbu - sumbu dinding dengan cat yang
tidak luntur oleh pengaruh iklim.
6). Jarak papan bouwplank minimal 1,5 m’ dari garis bangunan terluar untuk
mencegah kelongsoran terhadap galian tanah pondasi.
7). Setelah pekerjaan papan bouwplank selesai, Kontraktor Pelaksana wajib
memintakan pemeriksaan dan persetujuan tertulis dari pengawas / Direksi.
VI. PEKERJAAN GALIAN
Pekerjaan ini meliputi :
1) Galian Tanah Pondasi
2) Urugan Kembali Tanah Pondasi
VI.1. Pekerjaan Galian Tanah Pondasi
1). Lingkup Pekerjaan
- Galian Tanah Pondasi
2). Syarat Pelaksanaan :
a. Kedalaman dan lebar galian harus dikerjakan sesuai dengan ukuran dan elevasi
yang ditunjukkan pada gambar kerja.
b. Penggalian pada pasangan pondasi Beton Bertulang, dasar pondasi harus terletak
pada tanah keras asli bukan pada permukaan tanah timbunan,apabila diperlukan
untuk mendapatkan daya dukung yang baik, dasar galian harus diurug dengan
pasir dipadatkan
c. Jika galian melampaui batas kedalaman, kontraktor harus menimbun kembali dan
dipadatkan sampai kepadatan maksimum.
d. Hasil galian yang dapat dipakai untuk penimbunan harus diangkut langsung
ketempat yang direncanakan yang telah disetujui olah Pengawas Lapangan /
Direksi.
e. Pemeriksaan tiap galian pondasi dilaksanakan terhadap ketepatan penempatan,
kedalaman, lebar, letak dan kondisi dasar galian sebelum pemasangan pondasi
dimulai, ijin dari Direksi mengenai hal tersebut harus didapat secara tertulis
VI.2. Pekerjaan Urugan Kembali Tanah Pondasi.
1) Tanah bekas galian harus ditimbun sedemikian rupa, sehingga tidak mengganggu
bouwplank dan lobang pondasi.
2) Tanah yang diurug harus dipadatkan dengan kepadatan yang maksimal.
VII. PEKERJAAN BETON BERTULANG
VII.1. Ketentuan Umum
1).Persyaratan-persyaratan konstruksi beton, istilah teknis dan syarat-syarat
pelaksanaan beton secara umum menjadi kesatuan dalam bagian buku
persyaratan teknis ini. Kecuali ditentukan lain dalam buku persyaratan teknis ini,
maka semua pekerjaan beton harus sesuai dengan referensi dibawah ini :
a). Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI 1991)
b). Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983
c). American Society of Testing and Materials (ASTM)
d). Standar Industri Indonesia (SII)
e). Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung, SNI 03-2847-
2006.
2).Bilamana ada ketidaksesuaian antara peraturan-peraturan tersebut diatas, maka
peraturan peraturan di Indonesia yang menentukan.
3).Kontraktor Pelaksana harus melaksanakan pekerjaan ini dengan tepatan serta
kesesuaian yang tinggi menurut persyaratan teknis, gambar rencana dan
instruksi-instruksi yang dikeluarkan oleh Konsultan Pengawas untuk pekerjaan
yang tidak memenuhi persyaratan harus dibongkar dan diganti atas biaya
Kontraktor Pelaksana sendiri.
4).Semua material harus baru dengan kualitas yang terbaik sesuai persyaratan dan
disetujui oleh Konsultan Pengawas.
5).Konsultan Pengawas berhak untuk meminta diadakan pengujian bahan-bahan
tersebut dan Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab atas segala biayanya.
Semua material yang tidak disetujui oleh Konsultan Pengawas harus segera
dikeluarkan dari proyek/lapangan pekerjaan dalam waktu 3 x 24 jam.
VII.2. Lingkup Pekerjaan
1).Meliputi segala pekerjaan yang diperlukan untuk pelaksanakan pekerjaan beton
sesuai dengan gambar rencana termasuk pengadaan bahan, upah, pemasangan
semua penulangan, pengujian, dan peralatan pembantu,
2).Pekerjaan Beton bertulang terdiri dari Beton Bertulang Struktur
VII.3. Bahan-Bahan
1). S e m e n :
a). Semua semen yang digunakan adalah jenis Portland Cement Type I sesuai dengan
persyaratan NI-2 Bab 3 Standar Indonesia NI-8/1964, SII 0013-81 atau ASTM C-
150 dan produksi dari satu merk/pabrik.
b). Kontraktor Pelaksana harus menempatkan semen dalam gudang untuk mencegah
terjadinya kerusakan dan tidak boleh ditaruh langsung diatas tanah tanpa alas
kayu.
c). Semen yang menggumpal, sweeping, tercampur kotoran atau kena air/lembab
tidak diijinkan digunakan dan harus segera dikeluarkan dari proyek dalam batas 3
x 24 jam.
d). Pada pemakaian semen yang dibungkus, penimbunan semen yang baru datang,
tidak boleh dilakukan diatas tumpukan yang telah ada, dan pemakaian semen
harus dilakukan menurut urutan pengirimannya. Bila diperlukan dapat dilakukan
penomoran semen dalam gudang yang harus didahulukan untuk dibuat campuran
pasangan sesuai nomor urut datangnya oleh logistik gudang.
2).Agregat Pasir dan Kerikil
a). Bahan agregat pasir dan kerikil harus didatangkan dari tempat-tempat yang telah
disetujui mutunya oleh Konsultan Pengawas Lapangan dan harus memenuhi
syarat-syarat PBI.1991, SKSNI T-15-1991-03 dan SNI 03- 2847-2002.
b). Bahan agregat pasir dan kerikil harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga
tidak tercampur dengan bahan-bahan yang merusak mutu beton dan ditempatkan
terpisah sehingga terhindar dari bercampurnya antara kedua jenis agregat
tersebut, sebelum pemakaian.
c). Besar butiran agregat kerikil yang dipakai untuk bahan beton, harus berada
diantara ayakan 4 mm - 31,5 mm.
d). Agregat kerikil tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 persen. Apabila
kadar lumpur tersebut lebih dari 1 persen, maka agregat kerikil harus dicuci.
e). Besar butiran agregat pasir yang dipakai untuk bahan beton, harus berada
diantara ayakan 0,063 – 4 mm.
f). Agregat pasir tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 persen. Apabila kadar
lumpur tersebut lebih dari 5 persen, maka agregat pasir harus dicuci.
g). Untuk membuktikan banyaknya kadar lumpur dilapangan, dapat dilaksanakan
dengan menggunakan gelas ukur. Gelas ukur tersebut diisi dengan pasir atau
kerikil sampai garis angka 100. Kemudian isikan air sampai garis angka 200.
Kocok gelas sampai airnya keruh dan selanjutnya didiamkan sampai airnya bersih
kembali. maka diantara pasir atau kerikil akan terdapat lumpur yang akan
dibuktikan banyaknya.
3).A i r :
a). Air yang digunakan harus bersih dan jernih, tidak mengandung minyak atau
garam serta zat-zat yang dapat merusak beton dan baja tulangan. Dalam hal ini
sebaiknya digunakan air bersih yang dapat diminum, atau seperti NI-2 Bab 3
b). Bila terdapat keragu-raguan terhadap air yang dipakai menurut penilaian Direksi
pekerjaan, maka contoh air tersebut harus diperiksakan di laboratorium dibawah
tanggung jawab Kontraktor
c). Bila pemeriksaan air tersebut tidak memenuhi syarat untuk bahan campuran
beton, maka air tersebut tidak boleh dipakai.
4). Baja Tulangan :
a). Baja tulangan yang digunakan terdiri dari baja polos dengan mutu U-24 untuk
diameter < 12 mm dan U-39 untuk diameter > 12 mm dengan tegangan leleh
masing-masing 2.400 kg/cm2 dan 3.900 kg/cm2 untuk beton konvensional,
sesuai dengan standard PBI.1971/ atau SKSNI T-15-1991-03. Bila dianggap perlu
Pemberi Tugas atau Konsultan Pengawas dapat menginstruksikan untuk
melakukan pengujian test tegangan tarik-putus dan "bending" untuk setiap 10 ton
baja tulangan, atas biaya Kontraktor Pelaksana.
b). Sebelum baja tulangan di datangkan ke lokasi proyek, maka kontraktor harus
menyerahkan dahulu contoh-contoh baja tulangan yang dipakai kepada Konsultan
Pengawas. Contoh baja tulangan pada masing-masing diameter sebanyak 5 batang
dengan panjang 1 meter
c). Batang-batang baja tulangan harus disimpan tidak menyentuh tanah secara
langsung dan dihindari dari penimbunan baja tulangan diudara terbuka dan harus
dilindungi dari genangan air / air hujan.
d). Baja tulangan yang dibengkokkan sama dengan atau lebih dari 90 derajat, hanya
diperkenankan sekali pembengkokan
e). Baja tulangan harus bersih dari karat yang mengganggu kekuatan beton
bertulang. Hal ini disesuaikan dengan PBI.1991/SKSNI T-15-1991-03.
f). Kawat beton berukuran minimal 1 mm dengan mutu tinggi standar SII.
g). Batang-batang baja tulangan yang berlainan ukurannya harus disimpan pada
tempat terpisah dan diberi tanda yang jelas.
5). Bahan Pencampur :
a). Penggunaan bahan pencampur (admixture) tidak diijinkan tanpa persetujuan
tertulis dari Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana.
b). Apabila akan digunakan bahan pencampur, Kontraktor Pelaksana harus
mengadakan percobaan-percobaan perbandingan berat dan W/C ratio dari
penambahan bahan pencampur (admixture) tersebut
6).Cetakan Beton :
a). Dapat menggunakan kayu bekisting kelas II , multiplek dengan tebal minimal 12
mm atau plat baja, dengan syarat memenuhi ketentuan-ketentuan yang tersebut
dalam PBI NI-2 pasal 1 Bab 5, dan apabila oleh Konsultan Pengawas dinyatakan
rusak, maka tidak boleh dipakai lagi untuk pekerjaan berikutnya’
b). Tiang-tiang bekisting dapat dibuat dari kayu kelas II dengan ukuran 5/7 cm atau
kayu dolken Ø 8 - 10 cm dengan jarak maksimum 0,5 meter.
VII.4. Mutu Beton
1). Untuk beton bertulang yang bersifat mutu beton yang digunakan K-225 dimana
beton harus mempunyai kekuatan tekan karakteristik sebesar 225 kg/cm2
(minimal).
VII.5. Pengadukan dan Perataannya
a). Kontraktor Pelaksana harus menyediakan peralatan dan perlengkapan yang
mempunyai ketelitian cukup untuk menetapkan dan mengawasi jumlah takaran
dari masing-masing bahan pembentukan beton dengan persetujuan dari
Konsultan Pengawas.
b). Pengaturan untuk pengangkutan, penimbangan dan pencampuran dari material-
material harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas dan seluruh operasi
harus dikontrol dan diawasi terus menerus oleh seorang inspektor yang
berpengalaman dan bertanggung-jawab.
c). Pengadukan harus dilakukan dengan mesin pengaduk beton
d). Mesin pengaduk harus betul-betul kosong sebelum menerima bahan-bahan dari
adukan selanjutnya, dan harus dicuci bila tidak digunakan lebih dari 30 menit.
e). Bahan-bahan pembentuk beton harus dicampur dan diaduk selama 1.5 menit
sesudah semua bahan ada dalam mixer.
f). Konsultan Pengawas berwenang untuk menambah waktu pengadukan jika
ternyata pemasukan bahan dan cara pengadukan gagal untuk mendapatkan hasil
adukan dengan kekentalan dan warna yang merata/seragam. Beton yang
dihasilkan harus seragam dalam komposisi dan konsistensi dalam setiap adukan.
g). Mesin pengaduk tidak boleh dibebani melebihi kapasitas yang telah ditentukan.
Air harus dituang terlebih dahulu untuk selanjutnya ditambahkan selama
pengadukan. Tidak diperkenankan melakukan pengadukan yang berlebihan yang
membutuhkan penambahan air untuk mendapatkan kosistensi beton yang
dikehendaki.
VII.6. Persiapan Pengecoran
a). Sebelum pengecoran dimulai, semua bagian-bagian yang akan dicor harus bersih
dan bebas dari kotoran-kotoran dan bagian beton yang lepas. Bagian-bagian yang
akan ditanam dalam beton sudah harus terpasang (pipa-pipa untuk instalasi
listrik, plumbing dan perlengkapan-perlengkapan lain).
b). Cetakan atau pasangan dinding yang akan berhubungan dengan beton harus
dibasahi dengan air sampai jenuh dan tulangan harus sudah terpasang dengan
baik.
c). Sesaat sebelum beton dicor, maka bidang-bidang tersebut harus disapu dengan
spesi mortar.
d). Kontraktor Pelaksana harus tetap menjaga kondisi bagian-bagian tersebut sampai
ijin pengecoran diberikan oleh Konsultan Pengawas.
e). Apabila pengecoran tidak memakai bekisting kayu maka dasar permukaan yang
akan dicor harus diberi beton dengan adukan 1pc : 3ps : 5krl setebal 5 cm.( lantai
Kerja )
VII.7. Acuan/Cetakan Beton/Bekisting
a). Rencana cetakan beton menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana sepenuhnya.
cetakan harus sesuai dengan bentuk, ukuran, batas-batas dan bidang dari hasil
beton yang direncanakan, serta tidak boleh bocor dan harus cukup kaku untuk
mencegah terjadinya perpindahan tempat atau kelonggaran dari penyangga harus
menggunakan multiplex.
b). Permukaan cetakan harus cukup rata dan halus serta tidak boleh ada lekukan,
lubang-lubang atau terjadi lendutan. Sambungan pada cetakan diusahakan lurus
dan rata dalam arah horisontal dan vertikal, terutama untuk permukaan beton
yang tidak di "finish" (expose concrete).
c). Pada bekisting kolom yang tinggi, maka setiap tinggi 2 meter harus diberi pintu
untuk memasukkan spesi beton, sehingga terhindar terjadinya sarang - sarang
semut kerikil
d). Tiang-tiang penyangga harus direncanakan sedemikian rupa agar dapat
memberikan penunjang seperti yang dibutuhkan tanpa adanya "overstress" atau
perpindahan tempat pada beberapa bagian konstruksi yang dibebani.
e). Struktur dari tiang penyangga harus kuat dan kaku untuk menunjang berat sendiri
dan beban yang ada diatasnya selama pelaksanaan. Cetakan harus diteliti untuk
memastikan kebenaran letaknya, cukup kuat dan tidak akan terjadi penurunan
dan pengembangan pada saat beton dituangkan.
f). Permukaan cetakan harus bersih dari segala macam kotoran, dan diberi "form oil"
untuk mencegah lekatnya beton pada cetakan. Pelaksanaannya harus berhati-hati
agar tidak terjadi kontak dengan baja tulangan yang dapat mengurangi daya lekat
beton dan dengan tulangan. Cetakan beton dapat dibongkar dengan persetujuan
tertulis dari Konsultan Pengawas, atau jika beton telah melampaui waktu sebagai
berikut :
a. Bagian sisi balok 48 jam.
b. Balok tanpa beban konstruksi 7 hari.
c. Balok dengan beban Konstruksi 21 hari.
g). Dengan persetujuan Konsultan Pengawas cetakan dapat dibongkar lebih awal
apabila hasil pengujian dari benda uji yang mempunyai kondisi sama dengan
beton sebenarnya, telah mencapai 75% dari kekuatan beton pada umur 28 hari.
Segala ijin yang diberikan oleh Konsultan Pengawas, tidak mengurangi atau
membebaskan tanggung jawab Kontraktor Pelaksana terhadap kerusakan yang
timbul akibat pembongkaran cetakan.
h). Pembongkaran cetakan harus dilaksanakan dengan hati-hati sehingga tidak
menyebabkan cacat pada permukaan beton dan dapat menjamin keselamatan
penuh atas struktur-struktur yang dicetak.
i). Dalam hal terjadi bentuk beton yang tidak sesuai dengan gambar rencana,
Kontraktor Pelaksana wajib mengadakan perbaikan atau pembentukan kembali.
j). Permukaan beton harus bersih dari sisa-sisa kayu cetakan dan pada bagian-bagian
konstruksi yang terpendam dalam tanah, cetakan harus dicabut dan dibersihkan
sebelum pengurugan dilakukan.
k). Untuk permukaan beton yang diharuskan exposed, maka Kontraktor Pelaksana
wajib mem-finish-nya tanpa pekerjaan tambah.
VII.8. Pengangkutan dan Pengecoran
a). Waktu pengangkutan harus diperhitungkan dengan cermat, sehingga waktu
antara pengadukan dan pengecoran tidak lebih dari 1 (satu) jam dan tidak terjadi
perbedaan pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang
akan dicor.
b). Apabila waktu yang dibutuhkan untuk pengangkutan melebihi waktu yang
ditentukan, maka harus dipakai bahan-bahan penghambat pengikatan (retarder)
dengan persetujuan Konsultan Pengawas.
c). Kontraktor Pelaksana harus memberitahukan Konsultan Pengawas selambat-
lambatnya 2 (dua) hari sebelum pengecoran beton dilaksanakan. Persetujuan
untuk melaksanakan pengecoran beton berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan
cetakan dan pemasangan baja tulangan serta bukti bahwa Kontraktor Pelaksana
akan dapat melaksanakan pengecoran tanpa gangguan.
d). Adukan beton tidak boleh dituang bila waktu sejak dicampurnya air pada semen
dan agregat telah melampaui 1.5 jam, dan waktu ini dapat berkurang, bila
Konsultan Pengawas menganggap perlu berdasarkan kondisi tertentu.
e). Pengecoran harus dilakukan sedemikian rupa untuk menghindarkan terjadinya
pemisahan material (segregation) dan perubahan letak tulangan. Cara penuangan
dengan alat-alat pembantu seperti talang, pipa, chute dan sebagainya harus
mendapat persetujuan Konsultan Pengawas dan alat-alat tersebut harus selalu
bersih dan bebas dari sisa-sisa beton yang mengeras.
f). Adukan tidak boleh dijatuhkan secara bebas dari ketinggian lebih dari 1,5 m. Bila
memungkinkan sebaiknya digunakan pipa yang terisi penuh adukan dengan
pangkalnya terbenam dalam adukan yang baru dituang.
g). Penggetaran tidak boleh dilaksanakan pada beton yang telah mengalami "initial
set" atau yang telah mengeras dalam batas dimana beton akan menjadi plastis
karena getaran, penggetaran harus bersamaan dengan penuangan beton.
h). Semua pengecoran bagian dasar konstruksi beton yang menyentuh tanah harus
diberi lantai kerja setebal 5 cm agar menjamin duduknya tulangan dengan baik
dan mencegah penyerapan air semen oleh tanah/pasir secara langsung.
i). Bila pengecoran beton harus berhenti sementara sedang beton sudah menjadi
keras dan tidak berubah bentuk, maka bagian tersebut harus dibersihkan dari
lapisan air semen (laitance) dan partikel-partikel yang terlepas sampai suatu
kedalaman yang cukup, sehingga didapat beton yang padat. Segera setelah
pemberhentian pengecoran, adukan yang lekat pada tulangan dan cetakan harus
dibersihkan.
j). Semua pengecoran harus dilaksanakan siang hari dan apabila diperkirakan
pengecoran dari suatu bagian tidak dapat diselesaikan pada siang hari, maka
sebaiknya tidak dilaksanakan, kecuali atas persetujuan Konsultan Pengawas dapat
dilaksanakan pada malam hari dengan ketentuan bahwa sistem penerangan
sudah disiapkan dan memenuhi syarat, serta penyiapan tenda-tenda untuk
menjaga terjadinya hujan.
VII.9. Pemadatan Beton
a). Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab untuk menyediakan peralatan guna
pengangkutan dan penuangan beton dengan kekentalan secukupnya agar didapat
beton yang padat tanpa perlupenggetaran secara berlebihan.
b). Pemadatan beton seluruhnya harus dilaksanakan dengan "Mechanical Vibrator"
dan dioperasikan oleh orang yang berpengalaman. Penggetaran dilakukan
secukupnya agar tidak mengakibatkan "over vibration" dan tidak diperkenankan
melakukan penggetaran dengan maksud untuk mengalirkan beton. Hasil beton
harus merupakan massa yang utuh, bebas dari lubang-lubang, segregasi atau
keropos.
c). Pada daerah penulangan yang rapat, penggetaran dilakukan dengan alat penggetar
yang mempunyai frekwensi tinggi (rpm tinggi) untuk menjamin pengisian beton
dan pemadatan yang baik.
d). Dalam hal penggunaan vibrator, maka slump dari beton tidak boleh melebihi 12.5
cm.
e). Jarum penggetar harus dimasukkan kedalam adukan vertikal, tetapi dalam keadaan
khusus boleh miring 45 derajad dan jarum vibrator tidak boleh digerakkan secara
horisontal.
f). Alat penggetar tidak boleh disentuhkan pada tulangan-tulangan, terutama pada
tulangan yang telah masuk pada beton yang telah mulai mengeras, serta berjarak
minimal 5 cm dari bekisting.
g). Setelah sekitar jarum tampak mengkilap, maka secara perlahan-lahan harus ditarik,
hal ini tercapai setelah bergetar 30 detik (maksimal).
VII.10. Penyambungan Konstruksi
a). Rencana atau schedule pengecoran harus disiapkan untuk penyelesaian satu
konstruksi secara menyeluruh, termasuk persetujuan letak sambungan konstruksi
(construction joints). Dalam keadaan tertentu dan mendesak, Konsultan
Pengawas dapat merubah letak "construction joints" tersebut.
b). Permukaan "construction joints" harus bersih dan dibuat kasar dengan mengupas
seluruh permukaan sampai didapat permukaan beton yang padat.
c). "Contruction joints" harus diusahakan berbentuk garis miring. Sedapat mungkin
dihindarkan adanya "Contruction joints" tegak, kalaupun diperlukan maka harus
dimintakan persetujuan dari Konsultan Pengawas.
d). Bila "Contruction joints" tegak diperlukan, maka tulangan harus menonjol
sedemikian rupa sehingga didapatkan suatu struktur yang monolit.
e). Sebelum pengecoran dilanjutkan, permukaan beton harus dibasahi dan diberi
lapisan "grout" segera sebelum beton dituang.
f). Penghentian pengecoran balok, sloof dan rink balk, harus dimuka titik tumpuan
(kolom) yang sudah dicor dan maksimal 0,15 bentang balok
g). Untuk penyambungan beton lama dan baru, harus menggunakan bahan additive
"Bonding Agent" (lem beton) yang disetujui Konsultan Pengawas.
VII.11. Penyelesaian Beton
a). Semua permukaan, pekerjaan beton harus rata, lurus tanpa ada bagian-bagian
yang membekas. Ujung-ujung atau sudut-sudut harus berbentuk penuh dan tajam.
b). Bagian-bagian yang rapuh, kasar, berlubang dan tidak memenuhi persyaratan
harus segera diperbaiki dengan cara memahatnya dan mengisinya kembali
dengan adukan beton yang sesuai baik kekuatan maupun warnanya untuk
kemudian diratakan. Bila diperlukan, seluruh permukaan beton dihaluskan
dengan ampelas, carborondum atau gurinda.
c). Permukaan pekerjaan beton harus mempunyai bentuk jadi yang rata. Toleransi
kerataan pada permukaan lantai tidak boleh melampaui 1 cm dalam jarak 10 m.
Tidak dibenarkan untuk menaburkan semen kering pada permukaan beton
dengan maksud menyerap kelebihan air.
VII.12. Perawatan dan Perlindungan Beton
a). Semua pekerjaan beton harus dirawat secara baik dengan cara yang disetujui oleh
Konsultan Pengawas. Setelah pengecoran dan penyelesaian, permukaan beton
yang tidak tertutup oleh cetakan harus tetap dijaga kelembabannya dengan jalan
membasahi secara terus menerus selama 7 (tujuh) hari.
b). Permukaan-permukaan beton yang dibongkar cetakannya sedang masa
perawatan beton belum dilampaui, harus dirawat dan dilindungi seperti tersebut
pada ayat (1) dan tidak boleh tertindih barang atau terinjak langsung pada
permukaan beton.
c). Cetakan beton yang tidak dilindungi terhadap penguapan dan belum dibongkar,
selama masa perawatan beton harus selalu dibasahi untuk mengurangi keretakan
dan terjadinya celah-celah pada sambungan.
d). Lantai beton atau permukaan beton lainnya yang tidak disebut diatas, harus
dirawat dengan jalan membasahi atau menutupi dengan membran yang basah.
VIII. PEKERJAAN KAYU
VIII.1 Lingkup Pekerjaan Kayu
Pekerjaan kayu meliputi penyediaan tenaga kerja yang terampil sesuai denga jenis
pekerjaan, penyediaan bahan yang cukup, peralatan tukang baik masinal maupun
manual guna kelancaran pekerjaan ini. Macam pekerjaan kayu yang akan
dilaksanakan dalam pembangunan jembatan ini terdiri atas :
- Pekerjaan Jembatan Gantung dan Pekerjaan Jembatan Penghubung
- Pekerjaan pelengkap dan penunjang
[Link] bahan
Jenis bahan kayu yang akan digunakan sebagai struktur utama jembatan kayu
harus mempunyai mutu minimum sama dengan kayu kelas II yang sudah
diawetkan dengan kuat lentur minimum 85 kgf/cm2.
Kayu yang dipakai harus sesuai dengan PPKI 1961 (NI-5) lampiran, kayu
berkualitas baik, tua, kering dan tidak bercacat, pecah-pecah dan tidak terdapat
kayu mudanya (spint) sesuai pasal III PKKI 1961 mutu A
Selama pelaksanaan, mutu dan kekeringan kayu harus dijaga dengan
menyimpannya ditempat kering, terlindung dari hujan dan panas terutama kusen-
kusen dan rangka pintu yang telah selesai.
Semua pekerjaan kayu yang akan difinish harus diketam rata dan halus dengan
menggunakan ketam mesin, tidak ada lubang atapun mata kayu, kecuali bila
ditentukan lain.
Semua ukuran yang tertera dalam gambar maupun yang tersebut dalam pasal ini
adalah ukuran jadi, yaitu ukuran setelah kayu selesai dikerjakan/dipasang dengan
toleransi rata-rata maksimum 3 mm untuk setiap permukaan kayu yang sudah
dikerjakan.
VIII.3. Syarat Pelaksanaan Untuk :
Pekerjaan Balok Jembatan Dan Lantai Jembatan
Untuk Balok Jembatan menggunakan Kayu Klas II
Untuk Lantai Jembatan menggunakan Kayu Kayu Klas II sesuai dengan RAB.
IX. PEKERJAAN PENGGANTUNG DAN PENGUNCI
IX.1. Lingkup Pekerjaan
Termasuk dalam lingkup pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-
bahan, peralatan termasuk alat bantu dan alat angkut yang diperlukan. Termasuk
dalam pekerjaan ini adalah :
Kabel Utama, Kabel Penggantung, Kabel Pengaku dan Kabel Lateral
Warfel Kabel Utama, Warfel Kabel Penggantung, Warfel Kabel Pengaku dan Warfel
Kabel Lateral.
Klem Kabel Utama, Klem Kabel Penggantung Dan Besi Plat Penggantung
IX.2. Persyaratan Bahan.
1. Baja
Persyaratan bahan:
a) Penyimpanan bahan;
Baja, baik ketika pabrikasi di bengkel maupun di lapangan, harus ditumpuk di atas
balok pengganjal atau landasan sedemikian rupa sehingga tidak bersentuhan
dengan tanah. Jika baja ditumpuk dalam beberapa lapis, pengganjal untuk semua
lapis harus berada dalam satu garis.
b) Pengecatan permukaan sebagai lapis pelindung;
1) Permukaan yang akan dicat harus bersih dan bebas dari lemak, debu, produk
korosi, residu, garam dan sebagainya;
2) Perbaikan lapis pelindung struktur baja;
Bahan pelindung untuk struktur baja yang akan dilapis ulang dengan lapis
pelindung harus disesuaikan dengan jenis bahan dasar struktur baja yang telah
diberi lapisan pelindung. Sebelum dilakukan pelapisan ulang, struktur baja harus
dibersihkan terlebih dahulu sampai kondisi
c) Baja struktur.
Baja yang digunakan sebagai bagian struktur baja harus mempunyai sifat mekanis
baja struktural seperti dalam Tabel 1.
Mutu baja dan data yang berkaitan lainnya harus ditandai dengan jelas pada unit-
unit yang menunjukkan identifikasi selama pabrikasi dan pemasangan.
Tabel 1 - Sifat mekanis baja struktural
2. Kabel
a) Semua alat dan perlengkapan yang akan dipakai harus memenuhi [Link]
bahan dan perlengkapan pengantung dan pengunci harus mendapat persetujuan
dari pemberi tugas
b) Kabel Utama yang digunakan berupa untaian (strand), Jenis-jenis kabel
ditunjukkan dalam Gambar 1;
- Wire Rope 6x36 (WS) IWRC Diameter 36.
- Minimum Breaking Load Kelas B & CG (180 Kg/mm2 ) = 90,2 Ton
- Approx Weight = 6.710 Kg/m
c) Kabel dengan inti lunak tidak diizinkan digunakan pada jembatan gantung inid.
d) Kabel harus memiliki tegangan leleh minimal sebesar 1500 Mpa
e) Batang penggantung menggunakan baja bundar sesuai spesifikasi baja seperti
tampak pada Tabel 1;
f) Kabel ikatan angin menngunakan baja bundar sesuai spesifikasi baja seperti
tampak pada Tabel 1.
Gambar 1 - Penampang melintang kabel
[Link] Pekerjaan.
a) Pemasangan kabel utama dan pelana
Kabel utama harus dilindungi terhadap korosi
Buat dan pasang pelana sehingga dudukan arah kabel ke blok angkur dapat
membentuk sudut yang tepat sesuai rencana
Pemasangan kabel utama didahului oleh kabel semu yang digunakan untuk
menarik kabel utama melintas sungai
Beri tanda pada kabel utama penempatan pada sumbu pelana (sumbu perletakan
atas menara) dan posisi batang penggantung dan angkur pada kondisi kabel
diletakkan lurus di atas tanah dan belum ditegangkan
Kurangi panjang kabel dengan perpanjangan yang diperhitungkan sesuai dengan
tegangan kabel akibat beban mati jembatan dan ditambah denga lengkungan pada
kabel di pelana
Pasang klem dibelakang tanda-tanda
Pasang kabel utama pada satu sisi dan selanjutnya pasang pada sisi lainnya
Laksanakan pemasangan kabel dengan bantuan kabel semu untuk menarik kabel
perlahan-lahan kek kiri atau ke kanan agar berada pada titik pusat menara.
b) Pemasangan batang penggantung
Pasang batang penggantung dengan klem-klem agak longgar sehingga batang
tersebut mudah ditempatkan pada lokasi yang tepat
c) Penyetelan kabel-kabel utama pada blok angkur
Pada pemasangan, kedudukan jembatan mungkin dalam kondisi miring ke satu
sisi, kondisi lurus, melendut, atau dengan lawan lendutCara penyetelannya adalah
sebagai berikut :
Kencangkan kabel pada blok angkur, jembatan memperoleh lawan lendut
Kendurkan kabel pada blok angkur, jembatan memperoleh lendutan
Laksanakan penyetelan kabel dengan mur pengencang pada blok angkur dengan
½ sampai maksimum 2 putaran per tahap, pada setiap kabel secara berurutan
d) Penyetelan tegangan kabel-kabel utama pada blok angkur
Ratakan tegangan kabel-kabel pada blok angkur dengan pengukuran frekuensi
getaran
Pegang kabel dengan tangan sambil dinaikluruskan sampai kabel bergetar dalam
1 gelombang dengan simpangan 20 [Link] kabel dilepas dan tangan
ditahan dalam posisi sedemikian rupa sehingga terjadi pukulan setiap kabel
bergetar.
Ukur frekuensi dengan arloji ukur dalam jangka waktu ½ menit pertama sampai
frekuensi kabel berkisar antara 100 sampai dengan 150 pukulan per menit.
Lakukan pengecekan lendutan jembatan dan frekuensi kabel setelah tegangan
kabel-kabel diratakan dengan penyetelan mur pengencang (1/2 sampai
maksimum 2 putaran)
e) Pasang ikatan angin untuk memperkuat gelegar-gelegar
f) Perkuat bangunan atas jembatan dengan kabel-kabel penahan yang diikatkan ke
dalam tebing untuk mengurangi goyangan jembatan dalam arah horizontal
g) Lengkapi kabel penahan dengan mur pengencang untuk penyetelan, sambung
profil dan baut harus memenuhi persyaratan kekuatan dan keawetan.
X. PEKERJAAN PENGECATAN
X.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup semua pekerjaan yang berhubungan dan seharusnya
dilaksanakan dalam pengecatan dengan pendempulan, baik yang dilaksanakan
sebagai pekerjaan permulaan, ditengah-tengah dan akhir. Yang dicat adalah
semua permukaan plesteran tembok dan beton, dan permukaan-permukaan lain
yang disebut dalam gambar dan Spesifikasi ini.
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, tenaga dan semua peralatan yang
diperlukan untuk pekerjaan ini
X.2. Standar / Rujukan.
- PUBB 1973 NI-3.
- Steel Structures Painting Council (SSPC)
- Swedish Standard Institution (SIS).
- British Standard (BS).
- Petunjuk pelaksanaan dari pabrik pembuat
X.3. Bahan Yang Digunakan.
1) Umum.
a). Cat harus dalam kaleng/kemasan yang masih tertutup patri/segel, dan masih jelas
menunjukkan nama/merek dagang, nomor formula atau Spesifikasi cat, nomor
takaran pabrik, warna, tanggal pembuatan pabrikpetunjuk dari pabrik dan nama
pabrik pembuat, yang semuanya harus masih absah pada saat pemakaiannya.
b). Semua bahan harus sesuai dengan Spesifikasi yang disyaratkan pada daftar cat.
c). Pemakaian bahan-bahan pengering atau bahan-bahan lainnya tanpa persetujuan
Pengawas tidak diperbolehkan.
d). Selambat-lambatnya sebulan sebelum pekerjaan pengecatan dimulai, Kontraktor
harus mengajukan daftar tertulis dari semua bahan yang akan dipakai untuk
disetujui oleh Pengawas Lapangan
e). Direksi / Pengawas Lapangan berhak menguji contoh-contoh sebelum
memberikan persetujuan.
f). Untuk menetapkan suatu standar kualitas, disyaratkan bahwa semua cat yang
dipakai harus berdasarkan/mengambil acuan pada cat-cat hasil produksi
Mowilex, Dulux atau Levis – Akzo Nobel
2) Cat Dasar
Cat dasar yang digunakan harus sesuai dengan daftar berikut atau setara :
- Water-based sealer untuk permukaan pelesteran, beton...
3) Cat Akhir
Cat akhir yang digunakan harus sesuai dengan daftar berikut, atau yang setara :
- Emulsion untuk permukaan interior pelesteran,beton / Setara Matex.
- Kapuran Untuk permukaan dinding kerawang beton
X.4. Persyaratan Pelaksanaan :
1). Dinding / Bidang Beton yang akan dicat harus dibersihkan dari kotoran,
kemudian diplamur dengan rata, selanjutnya dicat dengan cat tembok minimal 2
x jalan.
2). Pekerjaan cat harus dikerjakan dengan baik dan pelaksanaannya tidak boleh
mengotori bagian lain yang berlainan jenis cat
XI. Pemeliharaan
XI.1. Pemeliharaan jembatan secara rutin
Pemeliharaan jembatan dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Dengan
pemeliharaan yang dilakukan secara rutin, maka jembatan dapat berfungsi
dengan baik sekurang-kurangnya sampai dengan 20 tahun. Bagian-bagian
jembatan yang perlu dipelihara adalah:
a) Blok angkur;
1) Buat drainase agar air permukaan dan air hujan tidak mengalir ke bagian angkur
yang tertanam;
2) Amati gerakan blok angkur ke arah dalam bentang; bila terjadi gerakan
menerus, perlu diadakan pengecekan ketinggian lantai jembatan tengah bentang
dan penyetelan mur pengencang kabel utama.
b) Menara;
Lakukan pengamatan perbedaan penurunan antara fondasi tiang-tiang pada satu
menara; bila terjadi beda penurunan lebih dari 25 mm, harus diadakan penyetelan
elevasi perletakan dengan pelat pengisi/mortar;
c) Kabel utama dan batang penggantung;
1) Oleskan minyak kabel;
2) Beri pelumas dan ikat dengan kanvas/ditutup pada mur pengencang dan bagian
penyetelan kabel agar terlindung terhadap pengaruh luar;
3) Setel ulang tegangan kabel
4) Amati keutuhan benang-benang kabel. Kabel harus diganti jika lebih dari 5 benang
putus dalam setiap 3 m interval dari panjang kabel.
d) Bentang utama jembatan;
1) Bersihkan perletakan gelagar memanjang/pengaku;
2) Bersihkan gelagar terhadap rumput dan tanaman liar.
XI.2. Pemeliharaan jembatan secara berkala
Pemeliharaan jembatan dilaksanakan secara berkala. Hal-hal yang dilakukan
dalam pemeliharaan adalah:
a) Gerakkan mur pengencang ½ putaran dan kemudian diputar kembali ke
kedudukan semula, agar mur tetap bersih dan bebas karat;
b) Lakukan pemeriksaan dan pengencangan kembali klem-klem batang penggantung
yang kendur akibat pengaruh lendutan kabel;
c) Lakukan pengecatan baja minimal 1 kali dalam waktu 3 tahun.
XII. PERATURAN PENUTUP
1) Meskipun dalam Spesifikasi dan Syarat – Syarat Teknis ini pada uraian pekerjaan
dan uraian bahan-bahan tidak dinyatakan kata-kata yang harus disediakan oleh
Penyedia Jasa dan tidak disebutkan dalam penjelasan pekerjaan pemborongan ini,
perkataan tersebut di atas tetap dianggap ada dan dimuat dalam Spesifikasi dan
Syarat – syarat ini.
2) Pekerjaan yang nyata-nyata menjadi bagian dari Pekerjaan Pembangunan
Jembatan Gantung, tetapi tidak diuraikan atau dimuat dalam Rencana Teknis
Pekerjaan ini, tetapi diselenggarakan dan diselesaikan oleh Penyedia Jasa, harus
dianggap seakan-akan pekerjaan itu diuraikan dan dimuat dalam Spesifikasi
Teknis ini, untuk menuju ke penyerahan yang lengkap dan sempurna menurut
pertimbangan Direksi.
Rencana pelaksanaan pekerjaan memuat:
1. Metode Kerja
PENGUKURAN LOKASI JEMBATAN
PERSIAPAN LAPANGAN :
Penyelidikan Tanah Setempat
Pengukuran Pelaksanaan Jembatan
Pembuatan Lintasan Kabel untuk Mengangkut Bahan
PEMBUATAN BLOCK ANGKER DAN
BLOCK MENARA :
End Block Angker Kabel Utama
End Block Angker Kabel Angin
Block Perletakan Menara / Gelagar Pengaku
PEMBUATAN MENARA
PEMASANGAN KABEL UTAMA
PENYETELAN BATANG PENGGANTUNG
PEMASANGAN GELAGAR LANTAI
PEMASANGAN LANTAI DAN SANDARAN
PENYETELAN KABEL UTAMA PADA ANGKER BLOCK
Tidak CHECK LENDUTAN JEMBATAN
Ya
PENYETELAN KABEL UTAMA PADA ANGKER BLOCK
PEMASANGAN DAN PENYETELAN KABEL ANGIN
PEMELIHARAAN
PENGENCANGAN KABEL PERIODIK
PERAWATAN JEMBATAN RUTIN
Gambar 6.1 Bagan Alir Metode Kerja
2. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dimaksud adalah uraian personil dan tanggung
jawab dari setiap tahap pekerjaan. Uraian personil yang dimaksud
adalah jabatan apa saja yang berhubungan dengan metode pekerjaan
tersebut dan jumlah personil tiap jabatannya;
3. Material
Material yang dimaksud adalah uraian material yang akan dipakai pada
pekerjaan tersebut dan sudah disetujui oleh pengguna jasa. Uraian
material yang dimaksud ialah penjabaran dari merek materail yang
telah disetujui oleh pengguna jasa dan spesifikasi material sesuai
dengan yang tertulis dalam kontrak
4. Alat
Alat yang dimaksud adalah uraian seluruh alat yang akan dipakai dalam
pekerjaan tersebut. Mulai dari alat berat hingga alat yang paling kecil.
Uraian alat yang dimaksud ialah mulai dari nama alat yang dipakai,
detil spesifikasi alat (produktifitas dan sumber daya), serta jumlah unit
setiap alat tersebut; dan
5. Aspek Keselamatan Konstruksi
Hal-hal yang harus diperhatikan dari segi keselamatan konstruksi yang
berhubungan dengan metode kerja. Aspek keselamatan konstruksi
dapat berupa pengendalian risiko yang diuraikan berdasar pada
identifikasi bahaya pada uraian/tahapan pekerjaan.
Tabel 6.1 Tenaga Kerja dalam Work Method Statement
Jumlah
No Personil SKA/SKT
(Orng)
1 Pelaksana Lapangan 1 SKA
2 Petugas K3 1 SKA
Tabel 6.2 Tabel Material dalam Work Method Statement
2019 2020 2021
No Material / Bahan Satuan Ket JAN FEB MAR APR MEI JUNI JULI AGS SEP OKT NOV DES JAN FEB MAR APR MEI JUNI JULI AGS SEP OKT NOV DES JAN FEB MAR
Vol
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28
1 Semen Sak SNI
2 Pasir m3 SNI
3 Kerikil m3 SNI
4 Batu Kali m3 SNI
5 Baja Tulangan Btg SNI
6 Kawat Beton kg SNI
7
xx
Tabel 6.3 Tabel Peralatan dalam Work Method Statement
2019 2020 2021
No Material / Bahan Satuan Ket JAN FEB MAR APR MEI JUNI JULI AGS SEP OKT NOV DES JAN FEB MAR APR MEI JUNI JULI AGS SEP OKT NOV DES JAN FEB MAR
Vol
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28
1 1 Unit
2 2 Unit
3 1 Unit
4 2 Unit
5 2 Unit
6 3 Unit
7 1 Unit
8 2 Unit
9 Generator set 1 Unit
10
xx
Tabel 6.4 Aspek Keselamatan Konstruksi (sesuai dengan Form pada RKK bab Elemen Operasi)
BAB VII RENCANA PEMERIKSAAN DAN
PENGUJIAN
Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi harus memberikan penjelasan
mengenai prosedur dan rencana inspeksi dan pengujian di lapangan untuk
memastikan agar mutu produk yang dihasilkan tetap terjaga, mencakup
poin-poin sebagai berkut:
1. Kriteria keberterimaan (termasuk toleransi penerimaan);
2. Cara pengujian/pemeriksaan; dan
3. Jadwal pengujian (frekuensi pengujian), dan
Penanggung jawab/pelaksana pengujian.
Contoh Tabel Rencana Pemeriksaan dan
Pengujian
BAB VIII PENGENDALIAN SUB-PENYEDIA JASA PEKERJAAN KONSTRUKSI
PEMASOK
Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi harus dapat menunjukkan bentuk
pengendalian pekerjaan yang dikerjakan pihak ke-3 (Sub Penyedia Jasa
Konstruksi dan pemasok) yang menjadi acuan dalam proses pelaksanaan
pekerjaan dan hasil produk pekerjaan yang harus dicapai.
Dibutuhkan penjelasan rencana penyedia jasa konstruksi dalam
mengendalikan sub-penyedia jasa dan pemasok supaya dapat mengikuti
rencana mutu pekerjaan konstruksi yang telah disepakati. Pengendalian Sub
Kontraktor/Vendor mencakup antara lain: Jumlah & jenis subkon /Vendor,
kriteria pemilihan, prosedur pemilihan, list dan record subkon/ vendor