0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

Memahami Project Based Learning

Project Based Learning (PjBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek sebagai sarana untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa. Metode ini menekankan partisipasi aktif siswa dalam menyelesaikan masalah nyata melalui kerja kelompok, serta mengembangkan keterampilan kolaborasi dan berpikir kritis. Meskipun memiliki banyak keunggulan, PjBL juga menghadapi tantangan seperti waktu yang lebih lama dan kesulitan dalam penilaian.

Diunggah oleh

agustina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

Memahami Project Based Learning

Project Based Learning (PjBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek sebagai sarana untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa. Metode ini menekankan partisipasi aktif siswa dalam menyelesaikan masalah nyata melalui kerja kelompok, serta mengembangkan keterampilan kolaborasi dan berpikir kritis. Meskipun memiliki banyak keunggulan, PjBL juga menghadapi tantangan seperti waktu yang lebih lama dan kesulitan dalam penilaian.

Diunggah oleh

agustina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Apa itu Project Based Learning?

Menurut Fathurrohman (2016), project based learning adalah model pembelajaran yang
menggunakan proyek atau kegiatan sebagai sarana pembelajaran untuk mencapai
kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dicapai peserta didik.
Project based learning menurut Saefudin (2014) merupakan metode pembelajaran yang
menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan
pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dengan beraktivitas secara nyata dalam
kehidupan. Hal ini dilakukan untuk membantu, mendorong dan membimbing peserta didik
fokus pada kerja sama dengan melibatkan kerja kelompok dan membantu siswa untuk fokus
pada perkembangan mereka.
Sementara itu, dari sudut pandang Goodman dan Stivers (2010), project based learning dapat
diartikan sebagai pendekatan pengajaran yang dibangun di atas kegiatan pembelajaran dan
tugas nyata yang diberikan tantangan kepada peserta didik yang terkait dengan kebutuhan
sehari-hari untuk dipecahkan secara berkelompok.
Project based learning menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik ketika
melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Secara konstruktif, peserta
didik melakukan eksplorasi atau pendalaman pembelajaran dengan melakukan pendekatan
berbasis riset terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata, dan relevan.
Penjaraban tersebut adalah pengertian project based learning menurut Grant (2002).
Model pembelajaran yang satu ini dapat diterapkan ketika fasilitator ingin menciptakan
lingkungan pembelajaran yang aktif dan meminta peserta didiknya untuk fokus dalam pada
perkembangannya.
Selain itu, project based learning dapat dijalankan secara kontinu apabila memenuhi
beberapa syarat berikut:
1. Pendidik memiliki keterampilan untuk mengidentifikasi kompetensi dasar yang lebih
menekankan pada keterampilan atau pengetahuan pada tingkat penerapan, analisis, sintesis,
dan evaluasi.
2. Pendidik bertanggungjawab untuk melakukan penguasaan materi sehingga dapat memilih
materi atau topik-topik yang akan dijadikan tema proyek sehingga menjadi menarik.
3. Pendidik setidaknya harus terampil memotivasi peserta didik dalam mengerjakan proyek.
Dengan begitu, peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut atau
proyek yang sudah dijalankan.
4. Tersedianya fasilitas dan sumber belajar yang cukup sehingga siswa atau kelompok siswa
bisa terpenuhi kebutuhannya.
5. Pendidik harus memastikan peserta memiliki kesesuaian waktu proyek dengan jadwal atau
kalender akademik agar kegiatan proyek tidak bentrok atau mengalami hambatan tertentu.
Baca Juga: Problem Based Learning, Ubah Masalah Jadi Kesempatan Upgrade Skill

Karakteristik Project Based Learning


Model pembelajaran project based learning memiliki karakteristik di mana guru menjadi
fasilitator. Peran fasilitator adalah memberikan permasalahan berupa studi kasus yang
nantinya akan diselesaikan pada peserta didik dalam bentuk proyek. Maka tak heran
apabila project based learning ini menekankan pada keaktifan dan keterlibatan peserta didik.
Adapun karakteristik project based learning di antaranya:

1. Berfokus pada peserta pembelajaran atau siswa (student oriented)


2. Berbasis proyek dalam pembelajarannya
3. Mengembangkan partisipasi aktif dari peserta didik
4. Menumbuhkan inisiatif dan kemandirian dari peserta didik
5. Melatih kolaborasi dan tanggung jawab untuk mengakses dan mengelola informasi
untuk mencari solusi
6. Melatih berpikir kritis (critical thinking) dan kreativitas peserta didik
7. Evaluasi dilakukan secara berkala karena peserta melakukan refleksi
8. Proyek pembelajaran menghasilkan sebuah produk atau output yang jelas
9. Fasilitator mendampingi selama proses pembelajaran

Keunggulan Pelaksanaan Project Based Learning


Kurniasih dalam Nurfitriyani menjabarkan model pembelajaran project based
learning memiliki keunggulan dalam pelaksanaannya. Adapun keunggulan dari penerapan
model project based learning meliputi:
1. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar mendorong kemampuan mereka
untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu dihargai
2. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah
3. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem
yang kompleks
4. Meningkatkan kolaborasi
5. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan
komunikasi
6. Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber
7. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam
mengorganisasi proyek dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti
perlengkapan untuk menyelesaikan tugas
8. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan
dirancang berkembang sesuai dunia nyata
9. Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan
pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata
10. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun
pendidik menikmati proses pembelajaran.
Untuk lebih memahami pelaksanaan project based learning, Anda dan tim dapat
menggunakan pelatihan berbasis LMS ruangkerja yang akan dibimbing langsung oleh
para expert. Klik gambar di bawah dan segera temukan cari terbaik untuk mengevolusi
kualitas karyawan Anda, sekarang!

Kelemahan Project Based Learning


Di samping memiliki banyak keunggulan, tentunya project based learning ini juga memiliki
beberapa kelemahan, di antaranya adalah :
1. Memerlukan Waktu yang Lebih Lama
PjBL sering memakan waktu lebih banyak dibanding metode pembelajaran tradisional,
karena siswa harus merencanakan, meneliti, membuat, dan mempresentasikan proyek
mereka.
2. Tidak Cocok untuk Semua Materi
Tidak semua topik atau mata pelajaran cocok disampaikan dengan metode proyek. Beberapa
materi yang bersifat teoretis atau teknis bisa lebih efektif diajarkan dengan pendekatan
langsung.
3. Kesulitan dalam Penilaian
Menilai hasil proyek bisa subjektif dan menantang. Guru perlu kriteria penilaian yang jelas
dan adil untuk menilai hasil kerja tim, kontribusi individu, dan proses pembelajaran.
4. Tingkat Kemandirian Siswa yang Berbeda
Siswa dengan kemampuan belajar mandiri yang rendah bisa kesulitan mengikuti PjBL.
Mereka mungkin membutuhkan lebih banyak bimbingan dibanding siswa yang lebih aktif
dan kreatif.
5. Ketersediaan Sumber Daya dan Dukungan
PjBL sering membutuhkan akses ke berbagai sumber daya (internet, bahan praktek, perangkat
lunak, dll). Sekolah yang terbatas fasilitasnya bisa mengalami kendala dalam menjalankannya
dengan efektif.

Langkah-Langkah Pembelajaran Project Based Learning


Keberhasilan dari pembelajaran berbasis proyek ini tak terlepas dari adanya perencanaan
yang matang. Selain itu orang-orang yang terlihat juga memiliki keterampilan dan keahlian
sehingga mereka mampu menjawab dan mendampingi sepanjang pembelajaran. Demi
keberhasilan dari pembelajaran, berikut ini langkah-langkah project based learning.
Merujuk dari Educational Technology Division-Ministry of Education Malaysia (2006)
terdapat enam langkah pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek, di antaranya
1. Mempersiapkan pertanyaan penting terkait suatu topik materi yang akan dipelajari
2. Menyusun rencana proyek
3. Membuat jadwal
4. Memonitor pelaksanaan pembelajaran berbasi proyek (project based learning)
5. Menguji dan memberikan penilaian atas proyek yang dibuat
6. Evaluasi pembelajaran berbasis proyek.
Langkah-langkah pembelajaran project based learning pada akhirnya dituangkan dalam tabel
sebagai berikut:
Langkah Kerja Aktivitas Pelatih/Guru/Pembimbing/Tutor Aktivitas Peserta Didik
Peserta mengajukan
Pelatih Menyusun dan menyampaikan temapertanyaan mendasar tentang
atau topik pertanyaan terkait sebuahapa yang harus dilakukan
Pertanyaan permasalahan dan mengajak peserta untukuntuk memecahkan masalah
mendasar berdiskusi mencari solusi. tersebut.
Peserta berdiskusi dan mulai
Menyusun rencana
pembuatan proyek. Ada
pembagian peran dalam
Pelatih memastikan setiap peserta terbagi kelompok dan mencatat hal-
Menyusun rencanadalam kelompok dan mengetahui prosedurhal yang perlu disiapkan
proyek pembuatan proyek. untuk proyek.
Peserta menyepakati jadwal
Pelatih menyusun jadwal pembuatan proyekdan mulai memperhatikan
dan membaginya dalam tahapan-tahapantenggat waktu pembuatan
Membuat jadwal untuk memudahkan pelaksanaan. proyek.
Memonitor Pelatih memantau partisipasi danPeserta membuat proyek dan
pelaksanaan keterlibatan peserta. Pelatih juga mengamatimemastikan pelaksanaannya
telah sesuai dengan jadwal.
pembelajaran Peserta menulis tahapan dan
berbasis proyekperkembangan proyek yang dirancang. Jikamencatat perkembangan yang
(project based memiliki kendala, pelatih turun langsungnantinya akan dituangkan
learning) membimbing. dalam laporan.
Menguji dan
memberikan Pelatih mendiskusikan tentang proyek yangMembahas kelayakan proyek
penilaian atasdijalankan peserta kemudian [Link] dijalankan dan
proyek yangPenilaian dibuat secara terukur berdasarkanmengajukan laporan akhir
dibuat standar yang telah ditentukan. kepada penguji/pelatih
Peserta didik memaparkan
hasil proyek dan menerima
tanggapan serta arahan dari
Pelatih melakukan evaluasi danpelatih. Peserta juga mencatat
Evaluasi memberikan masukan atau arahan tindak hal-hal yang sebaiknya
pembelajaran lanjut terkait proyek yang dijalankan olehdilakukan untuk perbaikan
berbasis proyek peserta. proyeknya.
Sintak Project Based Learning
Sintak project based learning adalah pedoman dalam menentukan langkah-langkah
penerapan project based learning. Sintaks merupakan keseluruhan alur atau urutan
kegiatan pembelajaran. Sintaks berisi petunjuk umum dalam menentukan jenis-jenis tindakan
guru, urutannya, dan tugas-tugas untuk siswa.
Setiap sintaks yang dimiliki model pembelajaran merupakan serangkaian fase untuk
mencapai ide pokok atau gagasan serta tujuan yang ingin dicapai dalam model pembelajaran
tersebut. Untuk lebih jelasnya, beberapa sintaks yang diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek, tahap ini sebagai langkah awal agar
peserta didik mengamati lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul dari fenomena yang
ada
2. Mendesain perencanaan proyek, sebagai langkah nyata menjawab pertanyaan yang ada
disusunlah suatu perencanaan proyek bisa melalui percobaan.
3. Menyusun jadwal sebagai langkah nyatadari sebuah proyek, penjadwalan sangat penting
agar proyek yang dikerjakan sesuai dengan waktu yang tersedia dan sesuai dengan target.
4. Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek, peserta didik mengevaluasi proyek yang
sedang dikerjakan.
Adapun sintak project based learning dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Menentukan pertanyaan mendasar
2. Mendesain perencanaan proyek
3. Menyusun jadwal
4. Monitoring dan evaluasi peserta didik dan perkembangan proyek yang dijalankan
5. Pengujian hasil
6. Evaluasi pengalaman

Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan Project Based Learning di Sebuah Perusahaan


Ada beberapa faktor pendorong untuk meningkatkan potensi keberhasilan project based
learning di perusahaan, antara lain:
1. Tujuan proyek yang jelas
Sealama masa pembelajaran, peserta didik ahrus memahami apa tujuan dan objektif proyek
yang akan dijalani. Pendidik juga memiliki tugas untuk peserta terkait objective pembelajaran
selama proyek berlangsung agar tetap fokus terhadap goals yang ingin dicapai.
2. Kepemimpinan yang efektif
Kepemimpinan yang efektif dapat membantu karyawan untuk mencapai tujuan proyek dan
mengatasi masalah yang mungkin muncul selama proses pembelajaran berlangsung. Jadi,
pastikan Anda bisa menjadi pendidik yang dapat mendampingi peserta di setiap situasi dan
kondisi.
3. Komunikasi yang baik
Demi menghindari kesalahpahaman, komunikasi antara anggota tim dengan pihak luar harus
dilaksanakan dengan baik agar proyek berjalan dengan lancar.
4. Tim yang terdiri dari anggota yang kompeten
Dalam hal ini, kompeten artinya mampu dan menguasai skill yang memang sesuai dengan
tujuan proyek. Oleh karena itu, jika Anda adalah seorang pendidik, pastikan para peserta siap
dan setidaknya memiliki kapasitas untuk menjalankan proyek.
5. Pemantauan dan evaluasi
Hal terakhir yang memengaruhi keberhasilan project based learning adalah pemantauan dan
evaluasi yang teratur. Langkah ini akan membantu perusahaan untuk mengevaluasi
keberhasilan dan mengambil tindakan yang dapat meningkatkan hasil dari sebuah proyek.
Contoh Aplikasi Project Based Learning di Perusahaan
Berikut ini beberapa contoh penerapan pembelajaran berbasis proyek di perusahaan:
1. Pengembangan produk baru mulai dari brainstorming ide sampai peluncuran di pasar.
2. Implementasi sistem baru untuk mengevaluasi sistem saat ini dan melihat apakah ada
peluang sistem yang lebih efektif dan efisien.
3. Riset dan memahami kebutuhan pasar untuk menyesuaikan strategi marketing yang bisa
meningkatkan revenue.
4. Proyek marketing dengan tujuan mengembangkan dan mengeksekusi market
campaign agar penjualan produk semakin melesat.

Project based learning adalah pembelajaran yang menekankan partisipasi aktif dari
seseorang. Mereka bisa melihat keahlian dan keterampilan seseorang sebagai individu
ataupun kolaborasi terhadap anggota timnya.
Setelah mengetahui ada banyak manfaat dari penerapan project based learning, kapan Anda
akan mulai memberi pelatihan kepada tim terhebat di perusahaan? Kabar baiknya, kini
ruangkerja telah memiliki pelatihan yang mendukung suksesnya penerapan project based
learning spesial untuk perusahaan Anda. Plus, ruangkerja telah dilengkapi dengan fitur-fitur
berikut:
1. Rewards point, peserta dapat memperoleh poin yang dapat ditukarkan dengan hadiah
sesuai keinginan perusahaan.
2. Leaderboards, memicu peserta untuk menyelesaikan pelatihan dengan skor tinggi.
3. Collaboration, setiap peserta dapat berkolaborasi dengan peserta lainnya melalui
forum diskusi
Metode pembelajaran yang bersifat pasif saat ini tidak cukup untuk mempersiapkan murid
untuk bertahan hidup di dunia yang selalu berkembang. Karena saat ini banyak permasalahan
kompleks yang tak hanya memerlukan kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan
berhitung. Namun juga kemampuan-kemampuan yang wajib dimiliki di abad 21.
Kemampuan di abad 21 yang wajib dikuasai saat ini antara lain:
1. Tanggung jawab (pribadi dan sosial)
2. Merencanakan, berpikir kritis, dan kreatif
3. Kemampuan berkomunikasi yang kuat
4. Pemahaman lintas budaya
5. Mengetahui cara dan kapan menggunakan teknologi untuk menyelesaikan
permasalahan
Oleh karena itu, tenaga pengajar harus berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang
kondusif bagi peserta didiknya. Di tengah perkembangan yang pesat ini, tercipta suatu
metode pembelajaran yang menjadikan peserta didik sebagai pusat kegiatan agar dapat
menghasilkan suatu produk di akhir pembelajaran. Metode ini sering disebut project based
learning (PjBL) atau lebih dikenal dengan sebutan Pembelajaran Berbasis Proyek.
Apa itu Pembelajaran Berbasis Proyek?
Pembelajaran Berbasis Proyek atau Project based learning (PjBL) adalah pendekatan belajar
yang menjadikan murid sebagai pusat pembelajaran. Metode ini juga menitikberatkan proses
untuk memiliki hasil akhir berupa produk atau layanan (tergantung permasalahan apa yang
diberikan). Sehingga murid diberikan kebebasan untuk menentukan aktivitas belajarnya
sendiri hingga menciptakan hasil berupa sebuah produk.
Metode ini sangat dipengaruhi oleh keaktifan murid di kelas. Sehingga murid akan terlibat
dalam merancang, mengembangkan, dan menciptakan solusi untuk menjawab permasalahan
yang diberikan.
Baca juga: Menguatkan Fondasi Pendidikan di Abad 21 Melalui Empat Pilar Belajar
Pembelajaran Berbasis Proyek Selaras dengan Kemajuan Teknologi
Memasukkan permasalahan di dunia nyata dan teknologi ke proses belajar dengan
menggunakan pendekatan PjBL, murid didorong untuk menjadi pekerja yang mandiri,
pemikir kritis, dan pembelajar seumur hidup. PjBL bukan hanya sebuah cara untuk belajar,
namun juga cara untuk mengajarkan cara bekerja sama. Anda sebagai guru pun dapat
berkomunikasi hingga bertukar pikiran dengan rekan guru lainnya serta berkomunikasi
dengan orang tua atau wali murid.
Hal ini juga dapat meruntuhkan berbagai hambatan-hambatan yang tidak terlihat seperti
ketakutan untuk memulai sesuatu yang baru, hingga sekat batas yang tak terlihat di kelas.
Manfaat Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek di Kelas
Metode pembelajaran ini dapat memberikan beberapa manfaat, yakni:
1. Memberikan kesempatan pada murid untuk menunjukkan kemampuan mereka bekerja
secara mandiri;
2. Dapat menunjukkan kemampuan murid untuk menerapka keterampilan yang
diinginkan seperti melakukan percobaan
3. Mengembangkan kemampuan kerja sama murid dengan teman-temannya;
4. Memungkinkan guru untuk mengenal lebih tentang muridnya sebagai manusia;
5. Membantu guru untuk berkomunikasi secara progresif dan bermakna dengan murid
atau sekelompok murid mengenai berbagai masalah.
Secara ringkas, manfaat dari penerapan PjBL adalah memberikan hasil asesmen yang otentik,
hasil evaluasi perkembangan tiap murid di kelas, hingga melatih sikap proaktif murid dalam
memecahkan suatu masalah.

Ilustrasi Pembelajaran Berbasis Proyek (Sumber gambar: Pexels)


4 Langkah untuk Menerapkan Pembelajaran Berbasis Proyek
Sebagai wujud pendekatan pedagogis, PjBL memerlukan beberapa langkah utama sebagai
berikut:
1. Mengidentifikasi bentuk permasalahan
Metode PjBL, sebaiknya dimulai dengan menanyakan permasalahan kepada murid di kelas,
seperti:
 Masalah apa yang murid coba selesaikan?
 Apa pendapat mereka mengenai penyebab masalah tersebut?
Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, akan membantu murid untuk
menggambarkan masalah dalam konteks yang tepat. Karena jika murid memecahkan
permasalahan di dunia nyata juga harus mempertimbangkan apa manfaat akhir dari sebuah
solusi yang sudah mereka temukan.
2. Membuat ide-ide solusi
Murid diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengenai ide yang dapat memecahkan
masalah tersebut. Yang perlu ditekankan adalah bukan menghasilkan ide yang bagus, namun
menghasilkan banyak ide. Murid dapat memikirkan ide solusi yang liar, tapi masih fokus
pada masalah yang diberikan.
Anda dapat membuat panduan untuk sesi brainstorming ide seperti, memberikan semua
murid kesempatan untuk mengungkapkan idenya hingga menunda penilaian atas ide/gagasan
murid yang lainnya. Hal ini akan menciptakan sesi diskusi brainstorming ide yang produktif.
3. Membuat prototipe sebuah solusi
Merancang dan membuat prototipe solusi merupakan fase lanjutan dari metode PjBL.
Maksud dari prototipe disini dapat berupa maket, rangkaian cerita, bermain peran, hingga
membuat objek dari bahan-bahan yang tersedia seperti pipa, stik es krim, dan karet gelang.
Tujuan dari pembuatan prototipe adalah untuk memperluas ide atau gagasan yang dihasilkan
selama sesi diskusi dan menyampaikan bentuk gambaran solusi terhadap suatu permasalahan.
Prototipe dapat mengemukakan asumsi murid serta tantangan yang mungkin tidak diketahui
sebelumnya. Dengan membuat prototipe yang sederhana, murid juga dapat mengulangi
pembuatan rancangan desain mereka dengan cepat dan mudah serta memasukkan kritik dan
saran ke dalam rancangan mereka untuk menyempurnakan solusi mereka.
4. Pengujian hasil solusi
Pengujian memungkinkan murid untuk mengetahui seberapa baik produk atau layanan
mereka di kehidupan nyata. Pengujian ini juga dapat memberikan murid feedback penting
mengenai solusi mereka serta menghasilkan pertanyaan baru untuk dipertimbangkan seperti:
 Apakah solusi ini berjalan sesuai dengan rencana?
 Jika tidak, apa yang perlu diubah dari solusi ini?
Dengan begitu, pengujian ini akan merangsang proses berpikir kritis serta kemampuan
refleksi murid.
Contoh-contoh Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek
Setelah mengetahui pengertian dari metode PjBL, kita akan menyimak beberapa contoh
model PjBL yang dapat Anda lakukan di kelas, antara lain:
1. Proyek video
Mula-mula murid dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok mempunyai tanggung
jawab untuk menyelesaikan sebuah tugas atau memecahkan masalah atas topik yang sudah
ditentukan.
Proyek ini akan mendorong murid untuk berkomunikasi dengan teman-temannya dalam
menentukan siapa yang meriset topik tersebut, siapa yang menulis alur cerita, dan siapa yang
merekam video.
2. Proyek penelitian
Penelitian merupakan salah satu cara yang baik untuk mendorong murid mempelajari sebuah
topik pelajaran. Murid diberikan topik untuk di telaah dan di pelajari.
Sebagai contoh, murid diberikan pilihan untuk memilih topik apa yang saat ini sedang banyak
diperbincangkan dan masih berkaitan dengan mata pelajaran. Setelah memilih topik, minta
mereka untuk menuliskan hal-hal apa saja yang mereka temukan atau mempresentasikannya
di depan kelas.
3. Proyek kesenian
Pada proyek ini, kreativitas murid akan didorong untuk menciptakan sebuah hasil kesenian.
Sebagai contoh, menugaskan murid untuk menghias dinding sekolah.
Murid-murid akan bekerja sama untuk membuat konsep lukisan, merencanakan apa saja yang
diperlukan, dan melukis sesuai dengan rancangan yang sudah dibuat. Hal ini akan
meningkatkan sisi kreativitas dan kerja sama sebagai sebuah tim.
4. Proyek teknologi
Proyek ini akan membuat murid untuk mempelajari cara menggunakan teknologi untuk
menyelesaikan sebuah masalah. Sebagai contoh, memberikan tugas untuk membuat siniar
atau podcast topik tertentu. Murid dapat meriset topik podcast, mengembangkan
naskah podcast, merekamnya, dan mempublikasikan podcast tersebut.
5. Proyek field trip
Proyek ini akan melibatkan murid untuk berkunjung ke sebuah tempat yang berkaitan dengan
mata pelajaran yang sudah diajarkan. Hal ini akan mengenalkan murid untuk melihat secara
langsung bagaimana penerapan mata pelajaran yang dipelajari di dunia nyata.
Sebagai contoh, mengajak murid untuk berkunjung ke pameran museum. Kegiatan ini
memungkinkan mereka untuk melihat bagaimana pameran tersebut berhubungan dengan
studi mereka.
6. Proyek STEM
Proyek ini akan melibatkan kegiatan yang berkaitan dengan mata pelajaran science,
technology, engineering, dan math (STEM). Murid akan memecahkan masalah berdasarkan
pengetahuan yang sudah mereka kuasai.
Sebagai contoh, memberikan tugas untuk merancang dan membuat model jembatan. Murid
dituntut untuk meriset berbagai jenis jembatan, mempertimbangkan bahan yang akan
digunakan untuk membuat jembatan, dan menguji kekuatan jembatan dengan meletakkan
benda yang beratnya sudah ditentukan.
Baca juga: Mengasah Keterampilan dan Kreativitas dengan Metode Pembelajaran
STEAM
Kesimpulan
Saat ini kita berada ditengah-tengah perkembangan zaman yang menuntut semua orang untuk
menguasai berbagai kemampuan yang diperlukan di abad 21. Kita bisa meningkatkan
kemampuan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dari dunia pendidikan. Salah satu cara
yang bisa diterapkan adalah menerapkan metode Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) di
dalam kelas.
Metode PjBL dapat melatih sikap proaktif murid dalam memecahkan suatu masalah,
meningkatkan kemampuan berpikir kritis, hingga melatih sikap kolaboratif murid dengan
teman-temannya untuk menciptakan produk atau layanan dari suatu masalah.

Anda mungkin juga menyukai