0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan8 halaman

Kegawatdaruratan Kehamilan: PPI dan APB

Laporan ini membahas tentang Partus Prematurus Imminens (PPI), yang merupakan ancaman persalinan pada usia kehamilan 20 hingga 37 minggu dan dapat menyebabkan kelahiran prematur. Penyebab PPI meliputi faktor-faktor seperti frekuensi antenatal care dan penyulit kehamilan, serta dampak negatif bagi ibu dan janin. Penatalaksanaan PPI mencakup tirah baring, pemberian tokolitik, steroid, dan antibiotik untuk mencegah komplikasi.

Diunggah oleh

p17310223090sahnaz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan8 halaman

Kegawatdaruratan Kehamilan: PPI dan APB

Laporan ini membahas tentang Partus Prematurus Imminens (PPI), yang merupakan ancaman persalinan pada usia kehamilan 20 hingga 37 minggu dan dapat menyebabkan kelahiran prematur. Penyebab PPI meliputi faktor-faktor seperti frekuensi antenatal care dan penyulit kehamilan, serta dampak negatif bagi ibu dan janin. Penatalaksanaan PPI mencakup tirah baring, pemberian tokolitik, steroid, dan antibiotik untuk mencegah komplikasi.

Diunggah oleh

p17310223090sahnaz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA KEGAWATDARURATAN KEHAMILAN DENGAN PPI DAN APB

Disusun Oleh:

Sahnaz Putri Natasya

(P17310223090)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN KEBIDANAN

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN MALANG

TAHUN 2024
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan Kebutuhan Dasar Manusia ini telah disusun oleh :

Mahasiswa,

Sahnaz Putri Natasya


NIM. P17310223090

Telah disetujui dan disahkan oleh :

Preseptor Akademik,

Verlina Maya Gita, S,Keb.,Bd.M,Kes


NIP.
1.1 Pengertian
Partus Prematurus Imminens (PPI) adalah terjadinya ancaman persalinan
berupa kontraksi uterus dan/atau tanda-tanda persalinan lainnya pada usia kehamilan
antara >20 hingga <37 minggu. Apabila tidak mendapatkan penanganan yang adekuat,
sering diikuti oleh kelahiran prematur. Prematuritas meningkatkan angka persalinan
sesar dan meningkatkan angka kematian anak. Partus Prematurus Iminens (PPI)
merupakan suatu ancaman pada kehamilan dimana timbulnya tanda-tanda persalinan
pada usia kehamilan yang belum aterm (20 minggu-37 minggu) dan berat badan lahir
bayi kurang dari 2500 gram (Irwinda, et al. 2019).
1.2 Etiologi
Faktor yang mengakibatkan terjadinya PPI di antaranya adalah frekuensi
Antenatal Care (ANC). Hal ini karena kunjungan antenatal merupakan suatu indikator
penting untuk memantau kesehatan bagi janin di dalam kandungan ibu hamil. Saat
ANC, ibu hamil akan diberikan suatu pelayanan seperti penjelasan tanda komplikasi,
pemeriksaan tekanan darah, dan pendeteksian dini penyulit kehamilan yang akan
berpengaruh pada kehamilannya. Sehingga ibu hamil yang tidak melakukan ANC
akan berisiko untuk mengalami kelahiran prematur (Fatimah, Utama and Sastri,
2018). Selain itu, penyulit kehamilan juga dapat menjadi penyebab terjadinya PPI.
Penyulit kehamilan di antaranya polihidramnion, gemelli, preeklamsia, ketuban pecah
dini, dan lain-lain.
1.3 Patofisiologi
Persalinan prematur menunjukkan adanya kegagalan mekanisme yang bertanggu
ng jawab untuk mempertahankan kondisi tenang uterus selama kehamilan atau adan
ya gangguan yang menyebabkan singkatnya kehamilan atau membebani jalur persali
nanan normal sehingga memicu dimulainya proses persalinan secara dini. Empat jal
ur terpisah, yaitu stres, infeksi, regangan dan perdarahan. Enzim sitokinin dan prosta
glandin, ruptur membran, ketuban pecah, aliran darah ke plasenta yang berkurang m
engakibatkan nyeri dan intoleransi aktivitas yang menimbulkan kontraksi uterus, seh
ingga menyebabkan persalinan prematur(Irwinda, et al. 2019).
Akibat dari persalinan prematur berdampak pada janin dan pada ibu. Pada janin,
menyebabkan kelahiran yang belum pada waktunya sehingga terjadilah imaturitas ja
ringan pada janin. Salah satu dampaknya terjdilah maturitas paru yang menyebabkan
risiko cedera pada janin. Sedangkan pada ibu, risiko tinggi pada kesehatan yang men
yebabkan ansietas dan kurangnya informasi tentang kehamilanmengakibatkan kuran
gnya pengetahuan untuk merawat dan menjaga kesehatan saat kehamilan (Irwinda, e
t al. 2019).
Upaya harus diarahkan untuk menjaga kesehatan pasien secara keseluruhan. Adapun
tujuan pemberian diet pada pasien partus prematurus imminens adalah memenuhi ke
butuhan gizi terutama energi dan protein untuk mencegah defisiensi gizi serta memp
ertahankan dan memperbaiki status gizi agar pasien dapat melakukan aktivitas norm
al (Kemenkes, 2021).
1.4 Faktor yang memperngaruhi ketuban pecah prematur
Faktor resiko PPI menurut POGI (2019) yaitu :
a. Janin dan plasenta : perdarahan trimester awal, perdarahan antepartum, KPD, pert
umbuhan janin terhambat, cacat bawaan janin, gemeli, polihidramnion
b. Ibu : DM, pre eklampsia, HT, ISK, infeksi dengan demam, kelainan bentuk uterus,
riwayat partus preterm atau abortus berulang, inkompetensi serviks, pemakaian o
bat narkotik, trauma, perokok berat, kelainan imun/resus.
Menurut Rachmantiawan dan Rodiani (2022), faktor yang mempengaruhi premat
uritas adalah umur ibu, suku, bangsa, sosial dan ekonomi, bakterinuria, BB ibu sebel
um hamil dan sewaktu hamil, kawin dan tidak kawin (tidak sah 15% prematur, kawi
n sah 13% prematur), prenatal (antenatal) care, anemia, penyakit jantung, jarak persa
linan yang terlalu rapat, pekerjaan yang terlalu berat sewaktu hamil.
Namun menurut Usman, et al (2021) ada beberapa resiko yang dapat menyebabk
an partus prematurus yaitu :
a. Faktor resiko mayor : Kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks te
rbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar/memendek k
urang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebi
h dari 1 kali, riwayat persalinan pretem sebelumnya, operasi abdominal pada keh
amilan preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas uterus.
b. Faktor resiko minor : Penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam sete
lah kehamilan 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang per
hari, riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih dari
2 kali.
1.5 Komplikasi
Menurut Irwinda, et al. (2019), komplikasi partus prematurus iminens yang t
erjadi pada ibu adalah terjadinya persalinan prematur yang dapat menyebabkan infek
si endometrium sehingga mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan luka e
pisiotomi. Sedangkan pada bayi prematur memiliki resiko infeksi neonatal lebih ting
gi seperti resiko distress pernafasan, sepsis neonatal, necrotizing enterocolitis dan pe
rdarahan intraventikuler. Menurut Kemenkes (2021), terdapat paling sedikit enam ba
haya utama yang mengancam neonatus prematur, yaitu gangguan respirasi, gagal jan
tung kongestif, perdarahan intraventrikel dan kelainan neurologik, hiperilirubinemia,
sepsis dan kesulitan makan.
Sedangkan menurut POGI (2019), prognosis yang dapat terjadi pada persalinan pre
maturitas adalah :
1. Anoksia 12 kali lebih sering terjadi pada bayi premature
2. Gangguan respirasi
3. Rentan terhadap kompresi kepala karena lunaknya tulang tengkorak dan imma
turitas jaringan otak
4. Perdarahan intracranial 5 kali lebih sering pada bayi prematur dibanding bayi
aterm
5. Cerebral palsy
6. Terdapat insidensi kerusakan organik otak yang lebih tinggi pada bayi prematu
r (meskipun banyak orang–orang jenius yang dilahirkan sebelum aterm).
1.6 Diagnosis
Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman PPI (POGI, 2019), yaitu:
1. Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu atau antara 140 dan 259 hari,
2. Kontraksi uterus (his) teratur, yaitu kontraksi yang berulang sedikitnya setiap
7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit,
3. Merasakan gejala seperti rasa kaku di perut menyerupai kaku menstruasi, rasa
tekanan intrapelvik dan nyeri pada punggung bawah (low back pain),
4. Mengeluarkan lendir pervaginam, mungkin bercampur darah
5. Pemeriksaan dalam menunjukkan bahwa serviks telah mendatar 50-80%, atau
telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm,
6. Selaput amnion seringkali telah pecah,
7. Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina isiadika.
8. Menurut Manuaba (2020), jika proses persalinan berkelanjutan akan terjadi tan
da klinik sebagai berikut :
9. Kontraksi berlangsung sekitar 4 kali per 20 menit atau 8 kali dalam satu jam.
10. Terjadi perubahan progresif serviks seperti pembukaan lebih dari 1 cm, perlun
akan sekitar 75-80 % bahkan terjadi penipisan serviks..
1.7 Penatalaksanaan
Dalam persalinan preterm, terdapat beberapa hal yang membuat penangan dari
persalinan ini berbeda dengan persalinan normal. Manajemen persalinan preterm me
liputi tirah baring, pemberian tokolitik, pemberian steroid, pemberian antibiotik, dan
perencanaan persalinan.
1. Tirah baring Tirah baring bertujuan agar ibu dapat beristirahat dengan tenang, w
alaupun secara statistik tidak terbukti mengurangi angka kejadian persalinan pre
term.
2. Pemberian tokolitik Tokolitik berfungsi untuk menghambat persalinan. Tokoliti
k yang digunakan adalah nifedipin, indomethacin, magnesium sulfat, atosiban, d
an progesteron.
3. Pemberian steroid Pemberian steroid bertujuan untuk pematangan paru janin. Pe
mberiannya dianjurkan pada minggu ke 24 sampai 34, namun dipertimbangkan
sampai 36 minggu. Steroid yang digunakan adalah betametason yang diberikan
secara IM dengan dosis 12 mg dan diulangi 24 jam kemudian. Efek optimalnya
dicapai dalam 1-7 hari pemberian. Apabila tidak terdapat betametason dapat dib
erikan deksametason dengan dosis 2x5 mg IM perhari selama 2 hari (Prawirohar
djo,2019).
4. Pemberian antibiotik Apabila terjadi infeksi maka dianjurkan untuk memberikan
antibiotik. Antibiotik tidak dianjurkan dalam persalinan yang tidak mengalami i
nfeksi (Irwinda, et al. 2019). Pada ibu yang terdeteksi vaginosis bacterial, dapat
diberikan klindamisin 2x300 mg selama 7 hari atau metrodinazol 2x500 mg sela
ma 7 hari akan bermanfaat bila diberikan pada usia kehamilan kurang dari 32 mi
nggu (Prawirohardjo, 2019 : 674).
5. Perencanaan persalinan Untuk umur kehamilan
6. Kelahiran
 Kelahiran harus dilaksanakan secara hati-hati dan perlahan-lahan untuk me
nghindari kompresi dan dekompresi kepala secara cepat.
 Oksigen diberikan lewat masker kepada ibu selama kelahiran.
 Ketuban tidak boleh dipecahkan secara artificial. Kantong ketuban berguna
sebagai bantal bagi tengkorak prematur yang lunak dengan sutura-suturanya
yang masih terpisah lebar.
 Episiotomi mengurangi tekanan pada cranium bayi.
 Forceps rendah dapat membantu dilatasi bagian lunan jalan lahir dan menga
rahkan kepala bayi lewat perineum.
 Ekstraksi bokong tidak boleh dilakukan. Bahaya tambahan pada kelahiran p
rematur adalah bahwa bokong tidak dapat menghasilkan pelebaran jalan lah
ir yang cukup untuk menyediakan ruang bagi kepala bayi yang relatif besar.
 Kelahiran presipitatus dan yang tidak ditolong berbahaya bagi bayi- bayi pr
ematur.
 Seorang ahli neonatus harus hadir pada saat kelahiran (Irwinda, et al. 2019).
DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Sri dkk. 2017. Asuhan Ibu dalam Masa Kehamilan Buku Ajar KebidananAntenal care
(ANC). Yogyakarta: Erlangga
Prawirohardjo Sarwono. 2019. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawihar
djo
Pratami, Evi. 2019. Evidence Based Dalam Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC
POGI. (2019). Panduan Persalinan Prematur. POGI
Kemenkes. (2021). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2021
Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, P
ersalinan, Dan Masa Sesudah Melahirkan, Pelayanan Kontrasepsi, Dan Pelayanan Kes
ehatan Seksual. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.
Irwinda, R., Sungkar, A., & Wibowo, N (2019). Panduan Persalinan Preterm. POGI
Usman, A., Rosdiana, & Misnawati, A. (2021). Faktor Resiko Kejadian Persalinan Prematur
di Rumah Sakit Umum Polewali Tahun 2021. Jurnal Kesehatan Lentera Acitya, 8 (2),
63-68
Rachmantiawan, A. & Rodiani. (2022). Persalinan Pretem Pada Kehamilan Remaja. Jurnal Pe
nelitian Perawat Profesional, 4 (4), 1135-1142

Anda mungkin juga menyukai