0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan9 halaman

Risiko Kecelakaan Kerja di Pelabuhan Bajoe

Penelitian ini menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) untuk mengidentifikasi faktor risiko kecelakaan kerja pada kegiatan pemuatan di Pelabuhan Laut Bajoe, Kab. Bone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor manusia, lingkungan, dan ergonomi berkontribusi terhadap risiko kecelakaan, dengan 87,5% pekerja mengalami kecelakaan kerja, meskipun tidak ada yang fatal. Penelitian ini menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) untuk mengurangi risiko kecelakaan di tempat kerja.

Diunggah oleh

Khairun Nisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan9 halaman

Risiko Kecelakaan Kerja di Pelabuhan Bajoe

Penelitian ini menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) untuk mengidentifikasi faktor risiko kecelakaan kerja pada kegiatan pemuatan di Pelabuhan Laut Bajoe, Kab. Bone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor manusia, lingkungan, dan ergonomi berkontribusi terhadap risiko kecelakaan, dengan 87,5% pekerja mengalami kecelakaan kerja, meskipun tidak ada yang fatal. Penelitian ini menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) untuk mengurangi risiko kecelakaan di tempat kerja.

Diunggah oleh

Khairun Nisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat

Vol.22 No.1 2022


e-issn : 2622-6960, p-issn : 0854-624X

FAKTOR RISIKO KECELAKAAN KERJA DENGAN METODE JOB SAFETY ANALYSIS


(JSA) TERHADAP KEGIATAN PEMUATAN DI PELABUHAN LAUT BAJOE
The Risk Factors Of Work Accident With A Job Safety Analysis (JSA) Method To The Loading
Activity In Bajoe Seaport
Hamsir Ahmad, Mutmainnah Rahman
Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar
*)ahmadhamsir@[Link]

ABSTRACT
Bajoe seaport is located in Kabaupaten Bone with the frequent activity loading goods which is able to induce various
potencial in danger and risk of work accident. Job Safety Analysis method (JSA) is one of suitable method to find out the
type of danger dan risk. This research aims to identify a risk factor of work accident using JSA method on the
monitoring activity in Bajoe seaport, Kab. Bone. This research is a qwantitative research with descriptive method. The
total of sample was 56 people using a total sampling method as a sampling method of this research. The total of
sample was analyzed by validity, reliability and univariate analysis test. The result generated some identifications using
JSA method namely human fator contain age of worker, the use of work safety, and work behavior, environmental
factors contain physical work and ergonomic factors contain work attitude. The conlusion I that human, environmental
and ergonomic factors are the risk factors to cause the work accident in Bajoe seaport, Kab. Bone.
Keywords : Job Safety Analysis Methods (JSA), Work Accident, Risk Factor

ABSTRAK
Pelabuhan Laut Bajoe merupakan pelabuhan yang terletak di Kab. Bone dengan aktivitas yang sering dilakukan
berupa pemuatan barang yang mempunyai berbagai macam potensi bahaya dan risiko penyebab kecelakaan kerja.
Metode Job Safety Analysis (JSA) berupa metode dalam mengidentifikasi jenis bahaya dan risiko. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kecelakaan kerja dengan metode Job Safety Analysis (JSA) terhadap
kegiatan pemuatan di Pelabuhan Laut Bajoe Kab. Bone. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan metode
penelitian deskriptif. Jumlah sampel sebanyak 56 orang dengan metode penarikan sampel menggunakan Total
Sampling yang kemudian dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas dan analisis univariat. Hasil penelitian
diperoleh identifikasi dengan metode Job Safety Analysis (JSA) yaitu terdapat 3 tahapan dari berbagai sub kegiatan
yang memiliki jenis potensi bahaya dan risiko pada saat melakukan kegiatan pemuatan di Pelabuhan Laut Bajoe Kab.
Bone yang dapat menyebabkan risiko kecelakaan kerja. Faktor manusia berupa masa kerja, penggunaan APD dan
perilaku kerja berisiko menjadi faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja, faktor lain yaitu faktor lingkungan kerja fisik
dengan titian yang dilalui berupa papan kayu berisiko menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja serta faktor
ergonomi dari segi sikap kerja berisiko menjadi faktor penyebab kecelakaan kerja pada saat kegiatan pemuatan di
Pelabuhan. Kesimpulan penelitian ini yaitu faktor manusia, faktor lingkungan dan faktor ergonomi berisiko menjadi
faktor penyebab kecelakaan kerja di Pelabuhan Laut Bajoe Kab. Bone.
Kata Kunci : Faktor Risiko, Kecelakaan Kerja, Metode Job Safety Analysis (JSA)

PENDAHULUAN 2018 mencapai 173.108 kasus (BPJS


Banyak dijumpai manusia yang Ketenagakerjaan, 2019).
mengorbankan kesehatan dan Di Indonesia kecelakaan kerja
keselamatan mereka terutama pada negara terjadi terus mengalami peningkatan
berkembang untuk bertahan hidup dengan sehingga membutuhkan suatu kebijakan
bekerja di tempat yang memiliki bahaya, dan tindakan untuk dapat mengurangi atau
risiko langsung maupun baru diketahui meminimalisir kasus kecelakaan kerja
risikonya setelah waktu cukup lama, (Arnold dkk, 2020). Untuk hal tersebut,
walaupun upah yang diberikan tidak sesuai maka diperlukan suatu upaya pencegahan
dengan risiko didapatkan (Arafat dkk, kecelakaan kerja dengan cara
2019). mengidentifikasi risiko dan bahaya
Berdasarkan data Internasional terhadap kesehatan dan keselamatan kerja
Labour Organization (ILO) (2018) kematian yang dibagi dalam setiap tahapan kerjanya
akibat kerja sebanyak 1,8 juta di kawasan dengan menggunakan metode Job Safet
Asia dan Pasifik. Di Asia lebih dari 2,78 Analysis (JSA). Berdasarkan observasi
juta orang meninggal akibat kecelakaan awal yang dilakukan peneliti pada kegiatan
dan 374 juta cedera dan penyakit akibat pemuatan di Pelabuhan Laut Bajoe
kerja yang tidak fatal setiap tahunnya (ILO, dilakukan secara manual oleh sejumlah
2018). pekerja dengan membawa satu persatu
Sedangkan angka kecelakaan kerja muatan dari truk pengangkut ke berbagai
menurut data dari Badan Penyelenggara jenis kapal kayu dengan muatan yang
Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, berbeda berupa hasil sandang dan
menunjukkan angka kecelakaan kerja yang pangan menggunakan jembatan kayu.
meningkat. Pada tahun 2017 ini angka Kegiatan ini melibatkan berbagai aktivitas
kecelakaan kerja 123.041 kasus, tahun dan manusia sehingga peluang

111
Jurnal Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Vol.22 No.1 2022
e-issn : 2622-6960, p-issn : 0854-624X

kecelakaan kerja cukup tinggi. Kegiatan buruh pelabuhan.


yang dianggap biasa dan dilakukan setiap
hari cenderung diabaikan konsekuensi 2. Data Sekunder
bahaya yang akan terjadi. Dari hasil Data sekunder adalah
wawancara pada pekerja dan pihak sumber data penelitian dari Pelabuhan
pelabuhan bahwa dalam kegiatan Laut Bajoe yang diperoleh secara
pemuatan sering terjadi insiden kecelakaan tidak langsung seperti: buku, catatan,
kerja pada buruh pelabuhan seperti dan hasil peneltian lainnya.
tergelincir di palka kapal, tertimpa beban
saat memikul di pelabuhan, terhimpitnya PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
tangan atau jari kaki sampai terluka oleh 1. Pengolahan Data
barang yang mereka angkut dan terjatuh Data yang terkumpul diolah dengan
pada saat melangkah dan melompati menggunakan computer dengan cara
kapal ketika melakukan pekerjaan, namun Editing, Coding, Entry data, dan
dalam pelaporan belum didokumentasikan. Cleaning.
2. Analisis Data
METODE Analisis data yang digunakan yaitu
1. Lokasi Penelitian identifikasi bahaya, dianalisa secara
Penelitian ini dilakukan pada area unit statik yaitu uji validitas dan reliabilitas
kerja pemuatan barang di dermaga dan analisis univariate
dan kapal kayu pada Pelabuhan Laut
Bajoe Kab. Bone. HASIL
2. Desain Penelitian Mengidentifikasi potensi bahaya adalah
Jenis penelitian adalah penelitian pekerjaan untuk menemukan, mengukur,
kuantitatif dengan metode penelitian dan merasakan adanya bahaya pada
deskriptif yang membuat gambaran setiap fase pekerjaan saat melakukan
secara sitematis, faktual dan akurat pekerjaan di pelabuhan laut Bajoe Kab.
mengenai risiko kecelakaan kerja Bone dengan metode Job Safety Analysis
terhadap kegiatan pemuatan. Desain (JSA) pada kegiatan pemuatan. Dari
penelitian bersifat observasional, persepsi yang dibuat menunjukkan bahwa
yaitu pengamatan dilakukan tidak ada kemungkinan bahaya dan risiko yang
disertai dengan tindakan yang berbeda dapat terjadi dari setiap tahap
memengaruhi atau mengubah tindakan pemuatan.
suatu variabel (Timotius, 2017).
3. Variabel Penelitian PEMBAHASAN
Variabel bebas dalam penelitian ini Metode Job Safety Analysis (JSA)
yaitu identfikasi bahaya, faktor adalah teknik manajemen keselamatan
manusia, faktor lingkungan, dan faktor yang berfokus pada identifikasi bahaya
ergonomi sedangkan variabel yang berhubungan dengan serangkaian
terikatnya yaitu risiko kecelakaan tugas yang harus dilakukan. Berdasarkan
kerja. peggunaan metode Job Safety Analysis
4. Sampel (JSA) untuk mengidentifikasi potensi
Sampel dalam penelitian ini sebanyak bahaya dan risiko, aktivitas pemuatan
56 sampel yang bekerja di Pelabuhan terdiri dari 3 kegiatan dan beberapa sub
Laut Bajoe Kabupaten Bone yang tahapan kerja, yang memiliki berbagai jenis
diambil dengan menggunakan metode bahaya dan risiko.
Total Sampling dimana jumlah sampel Dari hasil wawancara yang
sama dengan populasi (Natoatmodjo, dilakukan oleh pekerja pada pelabuhan
2018). diperoleh beberapa tanggapan yang
berbeda mengenai kecelakaan kerja pada
TEKNIK PENGUMPULAN DATA pekerja, diantaranya terpeleset dan
1. Data Primer terjatuh.
Data primer adalah sumber Berdasarkan pengolahan data, 49
data penelitian dari Pelabuhan Laut buruh pelabuhan (87,5%) mengalami
Bajoe yang diperoleh secara kecelakaan kerja, dan 7 buruh pelabuhan
langsung dari sumber aslinya berupa (12,5%) tidak mengalami kecelakaan. Dari
observasi dan wawancara kepada semua kecelakaan kerja yang terjadi, tidak

112
Jurnal Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Vol.22 No.1 2022
e-issn : 2622-6960, p-issn : 0854-624X

ada satupun yang mengakibatkan korban menyebabkan cedera pada pekerja


jiwa seperti kematian. atau berpotensi kematian.
Jenis kecelakaan yang terjadi Dari hasil observasi
hanya berkisar pada kecelakaan kecil, peneliti menggunakan metode Job
seperti terpeleset, cederah otot, terjatuh, Safety Analysis (JSA), potensi
tertimpa benda jatuh, dan terjepit benda. bahaya selama bekerja dalam
Bagian tubuh yang mengalami kecelakaan jangka panjang dapat berupa
adalah bagian punggung, tangan, dan pengangkatan barang secara
kaki. Jika dijumlahkan, kecelakaan kecil manual, pengangkatan barang
juga bisa menimbulkan kerugian besar. melebihi kapasitas orang normal dan
Kecelakaan kerja yang terjadi di beban yang berlebihan, dalam
Pelabuhan Laut Bajoe Kab. Bone dapat posisi membungkuk dan tempat
dilihat dari variabel yang diteliti yaitu: kerja. Dengan mengatur barang
1. Faktor Manusia saja tanpa bantauan orang lain.
a. Masa Kerja Risiko yang mungkin terjadi adalah
Masa kerja adalah suatu cedera otot punggung, otot lengan,
kurung waktu atau lamanya buruh terpeleset, nyeri leher, dan
Pelabuhan bekerja di Pelabuhan tertimpa benda.
Laut Bajoe Kab. Bone. Dalam Upaya mengatasi masalah
Undang-Undang Nomor 13 tahun masa kerja yang berlebihan adalah
2003 tentang ketenagakerjaan, dengan melakukan pergantian atau
pada masa kerja dibagi menjadi rotasi pekerja secara mendadak
dua bagian, yaitu masa kerja baru setahun sekali, dengan tujuan untuk
(<5 tahun) dan masa kerja lama (≥ 5 mengurangi risiko kecelakaan kerja
tahun). dan kebosanan.
Hasil penelitian di b. Penggunaan APD
Pelabuhan Laut Bajoe Kab. Bone, Alat pelindung diri (APD)
diketahui bahwa dari 56 buruh adalah salah satu perlengkapan
pelabuhan yang masa kerja baru (<5 yang harus digunakan saat bekerja
tahun) sebanyak 20 pekerja (35,7%), dengan bahaya dan risiko kerja
dan 36 pekerja (64,3%) masa kerja untuk menjaga keselamatan pekerja
[Link] hasil menunjukkan itu sendiri dan orang disekitarnya
bahwa buruh pelabuhan dengan saat memakai peralatan tersebut
masa kerja yang lama memiliki risiko (Muhammad, 2018).
lebih tinggi mengalami kecelakaan Berdasarkan hasil penelitian
kerja dibandingkan buruh pelabuhan terhadap 56 buruh pelabuhan,
dengan masa kerja baru. terlihat semakin banyak pekerja
Penelitian ini sejalan yang tidak menggunakan APD di
dengan penelitian Tiara dan tempat kerjanya. Buruh pelabuhan
Supriyono (2010) yang menunjukkan tidak menggunakan APD saat
bahwa 56,6% responden yang bekerja yaitu 51 orang (91,1%),
termasuk dalam kelompok sedangkan buruh pelabuhan
pengalaman kerja banyak lebih menggunakan APD saat bekerja
cenderung mengalami kecelakaan yaitu 5 orang (8,9%). Pada saat
kerja terkait pekerjaan, dibandingkan penelitian, masih banyak buruh
responden 43,4% pada kelompok pelabuhan yang tidak menggunakan
pengalaman kerja yang kurang (Tiara APD, APD tidak lengkap, dan
dan Supriyono, 2010). sebagian pekerja bahkan tidak
Hasil penelitian menggunakan APD sama sekali
menunjukkan bahwa pada masa karena menganggap penggunaaan
kerja lama lebih banyak mengalami APD akan menganggu
kecelakaan dibandingkan masa kerja pekerjaannya serta faktor kebiasaan
baru, karena semakin lama juga menjadi alasan mereka tidak
seseorang bekerja semakin merasa menggunakan APD. Hanya
bosan, terbiasa dengan keadaan ini, sebagian kecil pekerja yang
meremehkan pekerjaan, reaksi dan menggunakan APD di tempat kerja.
perhatian mereka melambat, Pengamatan yang dilakukan

113
Jurnal Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Vol.22 No.1 2022
e-issn : 2622-6960, p-issn : 0854-624X

peneliti menggunakan metode Job Hal ini dikuatkan oleh


Safety Analysis (JSA) dari 3 tahapan penelitian dari Astono (2012) yang
pekerjaan dalam pemuatan, yaitu menegaskan bahwa untuk
pekerja memindahkan barang dari keselamatan kerja, pekerja harus
tepi kendaraan, memuat ke palka, menggunakan APD di tempat kerja
dan menyusun barang dari atas untuk menghindari risiko kecelakaan
palka ke bagian bawahpalka. kerja (Astono, 2012).
Potensi bahaya, yaitu pekerja tidak Kesehatan kerja merupakan
menggunakan sepatu anti slip, upaya kesehatan untuk mengatasi
pakaian safety, baud an debu dari kesehatan masyarakat secara
barang yang diangkut. Risiko yang umum melalui pncegahan
mungkin timbul adalah terpeleset, kecelakaan kerja seperti
jatuh, cedera kaki akibat tidak (penggunaan alat pelindung diri
memiliki pelindung kaki berupa (APD), penyuluhan dan
sepatu anti selip serta menghirup pemeriksaan kesehatan) (Haderiah
debu dan bau yang dapat dan Safira, 2020).
menganggu pernapasan akibat Pekerja sadar akan
kurangnya penggunaan alat tidak pengguanaan APD sesuai dengan
pelindung wajah. potensi bahaya di tempat kerja
Penggunaan alat pelindung mereka untuk mencegah penyakit
yang digunakan oleh pekerja untuk akibat kerja, kecelakaan kerja dan
tujuan melindungi seluruh atau menjamin keselamatan pekerja itu
Sebagian tubuhnya dari sendiri.
kemungkinan risiko atau kecelakaan
di tempat kerja. APD tidak dapat c. Perilaku
melindungi tubuh secara sempurna, Pengetahuan adalah hasil
namun dapat mengurangi dari mengetahui, itu terjadi seteleh
keparahan yang dapat terjadi. Jenis seseorang dirangsang dan
cedera di tempat kerja termasuk memprerseprikan suatu objek.
kontak tangan atau kaki dengan alat Pengetahuan adalah apa yang
kerja (Wijamoko 2014) semua orang ketahui, lihat, atau
Alat pelindung diri harus alami tentang berbagai hal
nyaman dipakai, tidak menghambat (Notoatmodjo,2003). Berdasarkan
kinerja dan secara efektif hasil penelitian, dimana dari 56
melindungi dari segala macam pekerja yang diwawancarai, 19
risiko. Pihak kantor kesehatan orang (33,93%) memiliki
pelabuhan (KKP) Makassar wilayah pengetahuan baik dan 37 orang
kerja Bajoe Kab. Bone (66,07) memiliki pengetahuan buruk
menyediakan alat pelindung diri dalam bekerja. Pengetahuan
berupa masker namun pekerja tidak pekerja dalam penelitian ini meliputi
menggunakannya, karena apa saja yang dapat menyebabkan
menimbulkan ketidaknyaman dalam terjadinya kecelakaan kerja dan
bekerja. Apalagi saat bekerja di faktor-faktor yang menyebabkan
bawah terik matahari, mereka terjadinya kecelakaan kerja.
merasa sesak, dan ini juga karena Beberapa aspek penilaian
mereka memiliki kebiasaan tidak pengetahuan buruh pelabuhan
menggunakan APD saat bekerja. mungkin menunjukkan pemahaman
Pekerja merasa tidak bekerja pekerja yang lebih dalam tentang
dengan jam kerja yang panjang, risiko kecelakaan.
sehingga tidak perlu menggunakan Sikap adalah
alat pelindung diri. Hal ini, kecenderungan individu untuk
disebabkan berbagai faktor, seperti memahami, merasakan, bereaksi,
kurangnya kesadaran akan dan berperilaku terhadap suatu
pentingnya Keselamatan dan objek akibat interaksi komponen
Kesehatan Kerja , pengawasan yang kognitif. Mengukur sikap
kurang optimal, dan kurangnya menggunakan metode skala Likert
infrastruktur yang disediakan. (Adnani,2011). Berdasarkan hasil

114
Jurnal Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Vol.22 No.1 2022
e-issn : 2622-6960, p-issn : 0854-624X

penelitian, dari 56 pekerja dapat mempengaruhi kinerja dari tugas


pelabuhan, 24 orang (42,86%) mereka. Lingkungan kerja fisik adalah
memiliki sikap kerja yang baik, kondisi fisik di sekitar tempat kerja yang
sedangkan 32 orang (57,14%) mempengaruhi pekerja, baik secara
memiliki sikap buruk. Penelitian ini langsung maupun tidak langsung. Dari
sejalan dengan penelitian dilakukan hasil penelitian yang dilakukan dari 56
Kurniawati (2013), pekerja dengan responden yang bekerja di Pelabuhan
sikap kurang lebih sering mengalami saat memuat di atas kapal, lingkungan
kecelakaan kerja (Kurniawati, 2013). kerja fisik dengan titian yang dilalui
Hasil pengukuran berupa papan kayu berisiko ada 42
menunjukkan bahwa dari 56 dengan persentase 75% dan
responden yang bekerja di selebihnya 14 yang tidak berisiko
Pelabuhan Bajoe, Kab. Bone 9 dengan persentase 25%. Buruh pekerja
responden (16%) memiliki perbuatan pelabuhan ketika melakukan proses
baik, sedangkan 47 orang (84%) pemuatan mereka membawa barang
memiliki perbuatan buruk di tempat dari truk ke palka melalui titian yang
kerja. terbuat dari bahan kayu yang
Hasil penelitian menghubungkan antara dermaga
menunjukkan pekerja dengan dengan kapal yang akan mereka lalui.
perilaku kurang baik rentan terhadap Sesuai dengan pengamatan peneliti,
kecelakaan kerja dengan jenis bahwa papan kayu yang mereka
kecelakaan akibat beban dan tangan gunakan tidak memenuhi standar yang
atau kakinya terbentur alat kerja. ada yaitu luas papan kayu yang tidak
Memang di tempat kerja, pekerja lebar. Saat melewati papan kayu buruh
sering melakukan praktik tidak aman pelabuhan memikul barang yang
yang menyebabkan mereka melebihi beban yang seharusnya buruh
mengabaikan keselamatan mereka pelabuhan angkut. Hal ini, menunjukkan
sendiri, seperti dalam penggunaan bahwa terjadi ketidakseimbangan
APD, hanya sebagian kecil dari antara beban barang dengan titian yang
mereka yang menggunakan APD di mereka lalui sehingga sangat berisiko
tempat kerja. Pengamatan dilakukan terjadinya kecelakaan kerja seperti
oleh peneliti menggunakan metode terjatuh ke laut, tersandung, terpeleset
Job Safety Analysis (JSA) untuk dan sebagainya.
mengidentifikasi bahaya dan risiko Dari hasil tersebut sudah sesuai
selama fase pengangkatan truk, pengamatan peneliti dengan metode
pekerja memindahkan barang dari Job Safety Analysis (JSA) bahwa pada
atas truk di dalam palka dan tahap kerja yaitu pekerja memindahkan
mengatur muatan dari atas palka ke barang dari tepi truk ke palka dengan
akhir penahanan. Potensi bahaya potensi bahaya papan kayu yang
termasuk mengangkat dan digunakan dari truk ke palka, ini
menurunkan secara manual tanpa berisiko terjadinya kecelakaan kerja
alat yang tepat, ruang kargo di dekat berupa jatuh ke laut dan terpeleset.
sisi truk, ruang penyimpanan barang Dilihat pada hasil penggunaan
kayu, barang jatuh dari belakang ke APD buruh pelabuhan masih banyak
bawah palka panel dan posisi kerja yang tidak menggunakan APD saat
saat mengatur kargo sendiri tanpa melewati titian papan kayu tersebut,
bantuan orang lain. Risiko yang mereka hanya menggunakan sandal
mungkin terjadi adalah beban barang sebagai alas kaki. APD yang harus
selama pengangkutan, cedera otot mereka gunakan adalah sepatu anti slip,
punggung, terjepit benda.
sepatu safety. Penggunaan APD ini
dapat meminimalisir terjadinya risiko
2. Faktor Lingkungan
kecelakaan kerja saat melakukan
Lingkungan kerja mengacu pada
pemuatan barang.
kondisi di sekitar tempat kerja, baik dari
3. Faktor Ergonomi
segi material maupun non fisik, yang
Ergonomi adalah ilmu yang
dapat menciptakan rasa nyaman,
mempelajari masalah manusia yang
aman dan tentram bagi pekerja, yang
berhubungan dengan pekerjaan. Dilihat

115
Jurnal Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Vol.22 No.1 2022
e-issn : 2622-6960, p-issn : 0854-624X

dari hasil penelitian pada saat menyebabkan kelelahan dan cedera


pemuatan barang di kapal, 18 otot. Sikap kerja yang tidak wajar adalah
responden (32,1%) memiliki sikap kerja sikap kerja yang menyebabkan posisi
ergonomi, dan sisanya 38 responden bagian tubuh menyimpang dari posisi
(67,9%) sikap kerja tidak ergonomi. alaminya. Misalnya, ketika Anda
Pengamatan peneliti di lokasi kerja mengangkat lengan, semakin jauh tubuh
selama pengangkutan barang dari dalam Anda dari pusat gravitasi Anda, semakin
truk sampai meletakkan barang besar risiko gangguan muskuloskeletal.
dibagian bawah palka yang dilakukan Pekerja mengatakan bahwa
oleh pekerja pelabuhan selama proses mereka bekerja dengan sikap yang
pemuatan berupa beras, tabung gas mereka sukai dan tidak menimbulkan
dan kargo campuran sebagian besar bahaya bagi diri mereka sendiri.
memiliki sikap tidak ergomoni Pelabuhan dapat melakukan upaya
dibandingkan dengan buruh pelabuhan dengan meminta pekerja untuk rileks
yang sikap kerja ergonomi saat dan menjalankan sikap ergonomis,
melakukan pemuatan barang. Para dengan melihat jarak dari tempat kerja,
pekerja bekerja dengan sikap tidak sekaligus meminimalkan titik muat.
ergonomi, sehingga mudah melukai
otot- otot punggung, leher, lengan dan KESIMPULAN
kaki. Beban berat barang yang diangkat 1. Identifikasi dengan metode Job Safety
ke punggung pekerja yaitu mulai dari 30 Analysis (JSA) terdapat 3 tahapan dari
kg sampai 80 kg, yang diangkut berbagai sub kegiatan yang memiliki
kepunggung buruh pelabuhan. Ini jenis potensi bahaya dan risiko pada
menyebabkan terjadinya risiko saat melakukan kegiatan pemuatan di
kecelakaan kerja karena kegiatan ini Pelabuhan Laut Bajoe Kab. Bone yang
dilakukan setiap hari dan berulang- dapat menyebabkan risiko kecelakaan
ulang. kerja.
Hasil identifikasi bahaya dan risiko 2. Faktor manusia berupa masa kerja,
menggunakan metode Job Safety penggunaan APD dan perilaku kerja
Analysis (JSA) pada tahapan pekerjaan berisiko menjadi faktor penyebab
pemuatan barang dari truk, terjadinya kecelakaan kerja
pengangkatan barang ke punggung 3. Faktor lingkungan yaitu lingkungan
pekerja, mengambil barangdari pinggir kerja fisik berupa titian yang dilalui
truk, mengangkat barang ke punggung saat melakukan pemuatan berisiko
pekerja, membawa barang ke palka, terjadinya kecelakaan kerja.
mengambil barang dari atas palka ke 4. Faktor ergonomi dari segi sikap kerja
bawah palka, memikul barang ke berisiko menjadi faktor penyebab
bawah palka. Potensi bahaya yang kecelakaan kerja pada saat kegiatan
mungkin terjadi antara lain postur kerja pemuatan di Pelabuhan.
salah, beban terlalu berat, postur tubuh 5. Papan Kayu yang menghubungkan
salah saat mengambil dan mengangkut antara dermaga dengan kapal dapat
barang, mengangkat barang dengan menyebabkan risiko kecelakaan.
beban melebihi kapasitas normal
manusia, tubuh saat mengangkat alat SARAN
angkut tidak pada posisi benar. Risiko Diharapkan kepada KKP Kelas 1
yang mungkin timbul adalah cedera otot Makassar Wilayah Kerja Bajoe Kab. Bone,
punggung, Semakin berat beban kerja, memberikan pelatihan Keselamatan dan
semakin pendek waktu kerja manusia. Kesehatan Kerja serta pembuatan Job
Penelitian ini sejalan dengan Safety Analysis (JSA), karena pengamatan
penelitian Tamaka dkk (2017) bahwa yang peneliti lakukan masih banyak belum
beban kerja berlebihan rawan terjadinya menggunakan APD dan sikap kerja yang
kecelakaan kerja. Beban kerja yang tidak ergonomi.
tinggi diakibatkan waktu istirahat tidak Diharapkan kepada Unit
mencukupi dan tugas tambahan lainnya Penyelenggara Pelabuhan Kelas II Bajoe
(Tamaka, 2017). Kab. Bone agar memfasilitasi pekerja yaitu
Postur kerja yang tidak sesuai alat angkut barang dan pembagunan lantai
untuk pekerjaan tersebut dapat

116
Jurnal Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Vol.22 No.1 2022
e-issn : 2622-6960, p-issn : 0854-624X

kerja yang permanen dan aman metode yang berbeda seperti metode
Bagi peneliti selanjutnya agar Hazard Identification and Risk Assessment
meneliti suatu analisis kecelakaan kerja (HIRA).
dengan penggunaan metode yang sama
yaitu Job Safety Analysis (JSA) maupun
DAFTAR PUSTAKA
Arafat, Ilham et al. 2019. Analisis Pencegahan Terjadinya Kecelakaan Kerja Tenaga
Kerja Bongkar Muat (TKBM) pada Kegiatan Bongkar Cold Rolled Steel Sheet In
Coil di PT. Merak Jaya Asri Cilegon Banten."
Arnold, Jhierren K T, Diana V D Doda, Rahayu H Akili, and Sam Ratulangi Manado.
2020. Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Pada Pemeliharaan Alat Container Crane
Dan Rubber Tyred Gantries. eBiomedik 8(2): 163–72.
Astono, Sudi. 2012. Hubungan Kesesuaian Tinggi Meja dengan Kelelahan Pada Sikap
Kerja Berdiri. Thesis. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
BPJS. 2019. Angka Kecelakaan Kerja Cenderung Meningkat, BPJS Ketenagkerjaan
Bayar Rp. 1,2 Trilliun. (online)
[Link] Kecelakaan-Kerja-
Cender. Diakses pada tanggal 12 Januari 2021.
Haderiah, and Bella Safira. 2019. Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian
Kecelakaan Kerja Di Pt. Semen Bosowa Maros. Jurnal Sulolipu : Media
Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat 20(2): 183–91.
ILO. 2018. Bulan K3 Nasional Menuju Budaya Pencegahan Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja Yang Lebih Kuat Di Indonesia. Ilo: 1. (online)
[Link]
Diakses pada tanggal 11 Januari 2021.
Kurniawati, Eni, dkk. 2013. Analisis Potensi Kecelakaan Kerja Pada Departemen
Produksi Sprigbed Dengan Metode Hazard Identification And Risk Assessment
(HIRA) (Studi Kasus : PT. Malindo Intitama Raya, Malang. Jawa Timur). Jawa
Timur.
Muhammad, Hanafi Hilal. 2018. Penilaian Bahaya Pada Area Kerja Pabrik Pembuatan
Kompos Rem PT MK Prima Indonesia. Universitas Muhammadiyah Gresik.
(online) [Link] Diakses pada tanggal 8 Desember
2020.
Natoatmodjo, Soekidjo. 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan. Cetakan Ke. Jakarta:
PT Rineka Cipta.
Nyoto. 2019. Buku Ajar Manajemen Sumber Daya Manusia. Ponorogo: Uwaiis Inspirasi
Indonesia.
Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan.
Tamaka, dkk. 2017 .Hubungan Antara Beban Kerja dan Perilaku Aman Dengan
Cedera Tertusuk Jarum Suntik pada Perawat di Rumah Sakit Bhayangkara tk. III
Manado, Media Kesehatan, Vol 9(3).
Tiara, Vani, Supriyono A. 2010. Faktor Risiko Kecelakaan Akibat Kerja pada Operator
Mesin Single Line Departemen Pengemasan PT. Ulam Tiba Halim. Jurnal
Visikes, Vol 9 (2)
Timotius, Kris H. 2017. Pengantar Metodologi Penelitian: Pendekatan Manajemen
Pengetahuan Untuk Perkembangan Pengetahuan. Yogyakarta: ANDI.

117
Jurnal Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Vol.22 No.1 2022
e-issn : 2622-6960, p-issn : 0854-624X

Tabel 1
Distribusi Responden Bardasarkan Kecelakaan Kerja

Kecelakaan Kerja N %
Tidak Pernah 7 12,5%
Pernah 49 87,5%
Total 56 100%
Sumber : Data Primer Tahun 2021

Tabel 2
Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja

Masa Kerja n %
Baru 20 35,7%
Lama 36 64,3%
Total 56 100%
Sumber : Data Primer Tahun 2021

Tabel 3
Distribusi Responden Berdasarkan Penggunaan APD

Penggunaan APD N %
Tidak Lengkap 51 91,1%
Lengkap 5 8,9%
Total 56 100%
Sumber : Data Primer Tahun 2021

Tabel 4
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat
Pengetahuan

Pengetahuan n %
Baik 19 33,93%
Kurang Baik 37 66,07%
Total 56 100%
Sumber : Data Primer Tahun 2021

Tabel 5
Distribusi Responden Berdasarkan Sikap
Sikap n %
Baik 24 42,86%
Kurang Baik 32 57,14%
Total 56 100%
Sumber : Data Primer Tahun 2021

118
Jurnal Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Vol.22 No.1 2022
e-issn : 2622-6960, p-issn : 0854-624X

Tabel 6 Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan


Tindakan n %
Baik 9 16%
Kurang Baik 47 84%
Total 56 100%
Sumber : Data Primer Tahun 2021

Tabel 7
Distribusi Responden Berdasarkan Lingkungan Fisik
Mengangkat Barang Ke Palka
Lingkungan Kerja Fisik n %
Berisiko 42 75%
Tidak Berisiko 14 25%
Total 56 100%
Sumber : Data Primer Tahun 2021

Tabel 8
Distribusi Responden Berdasarkan Faktor Ergonomi atau Sikap Kerja
Sikap Kerja n %
Ergonomi 18 32,1%
Tidak Ergonomi 38 67,9%
Total 56 100%
Sumber : Data Primer Tahun 2021

119

Anda mungkin juga menyukai