Hubungan Pengetahuan Gizi dan Pola Makan
Hubungan Pengetahuan Gizi dan Pola Makan
SKRIPSI
Disusun Oleh:
YUSTIKA YUSUF
NIM : 751331121025
i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
fisik, tapi juga gampang banget terpengaruh temen-temen soal bentuk tubuh
dan cara makan. Kalau mereka merasa bentuk tubuhnya jelek, kadang jadi
Ini bisa ganggu kesehatan dan gizi mereka. Karena itu, penting banget buat
remaja cewek ngerti soal gizi dan tahu gimana tubuh yang sehat biar tumbuh
dan berkembang dengan baik (Nomate, E. S., Nur, M. L., & Toy, 2017).
Masalah gizi ini jadi perhatian banyak peneliti. Kebiasaan makan yang
nggak sehat, kayak doyan cemilan tinggi kalori, sering makan fast food, dan
jarang makan buah sama sayur, bikin banyak remaja jadi kelebihan berat
badan. Selain itu, banyak juga yang belum ngerti soal gizi, jadi pola makannya
nggak teratur. Kalau ini dibiarin, bisa bikin gizi mereka kurang atau malah
berlebihan. Makanya penting banget ngasih edukasi tentang gizi dan ngajarin
pola makan sehat, apalagi buat anak kuliahan yang lagi aktif-aktifnya (Kanah,
2020).
Ada banyak hal yang bisa pengaruhin kesehatan remaja cewek. Bukan
cuma dari makanan, tapi juga dari gerak badan, kondisi keuangan keluarga, ada
keluarga sendiri. Banyak remaja yang punya kebiasaan makan yang nggak
1
2
bagus, kayak sering skip makan, lebih sering jajan di luar, dan malas makan
buah sama sayur. Tapi ada juga yang tetap bisa jaga kesehatannya karena rutin
Data dari Riset Kesehatan Dasar tahun dua ribu delapan belas nunjukin
kalau remaja umur tiga belas sampai lima belas tahun di Indonesia, ada sekitar
delapan koma tujuh persen yang kurus. Dari jumlah itu, satu koma sembilan
persen termasuk sangat kurus, dan enam koma delapan persen kurus biasa.
Rinciannya, sebelas koma delapan persen gemuk dan empat koma dua persen
obesitas. Di Sumatra Barat, anak umur dua belas sampai lima belas tahun yang
sangat kurus ada dua koma satu persen, kurus enam persen, gemuk sepuluh
koma tiga persen, dan obesitas empat koma tiga persen (Harleni, 2023).
Survei Kesehatan Indonesia tahun dua ribu dua puluh tiga nunjukin juga
kalau delapan koma tujuh persen cowok remaja umur lima belas sampai dua
puluh empat tahun dan dua puluh empat persen cewek remaja di umur yang
belas koma delapan persen buat cowok dan enam puluh koma delapan persen
Penelitian ini pengen tahu hubungan antara seberapa ngerti soal gizi,
pengetahuan gizi bisa bikin seseorang lebih bijak dalam milih makanan dan
gerak badannya. Dari hasil penelitian, orang yang ngerti gizi biasanya lebih
Ngerti soal gizi juga bisa bikin orang lebih cepat sadar kalau ada yang
salah sama kebiasaan makannya atau kurang gerak. Di SMA Negeri satu
Kabila, Kabupaten Bonebolango, ada sekitar seribu tiga ratus sebelas remaja
umur lima belas sampai tujuh belas tahun. Usia segini rentan kena masalah
pentingnya gizi. Jadi, penting banget kasih pemahaman soal gizi supaya
pola makan yang kurang bagus. Terutama kalau mereka belum ngerti soal gizi
dan belum terbiasa milih makanan yang sehat. Dari survei kecil ke lima siswa
SMA Negeri satu Kabila, kelihatan kalau pola makan mereka masih kurang
sehat. Hal ini disebabkan sama kebiasaan makan yang sembarangan, terlalu
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan
antara pengetahuan tentang gizi dan kebiasaan makan dengan status gizi siswa
dan siswi di SMA Negeri satu Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Penelitian
ini juga bertujuan untuk melihat seberapa paham mereka soal gizi, bagaimana
pola makan sehari-hari mereka, serta bagaimana kondisi gizi mereka. Selain
itu, penelitian ini ingin mengetahui apakah ada kaitan antara kebiasaan makan
4
dan status gizi, serta antara pengetahuan gizi dan status gizi siswa dan siswi di
sekolah tersebut.
5
D. Ruang Lingkup
Penelitian ini punya tujuan buat lihat apakah ada hubungan antara seberapa
paham siswa dan siswi soal gizi dan kebiasaan makan mereka dengan kondisi
gizi yang mereka punya di SMA Negeri satu Kabila, Kabupaten Bone
Bolango. Penelitian ini juga pengen tahu seberapa jauh pengetahuan mereka
tentang gizi, gimana pola makan mereka sehari-hari, dan gimana kondisi
gizinya. Selain itu, penelitian ini juga mau cari tahu apakah pola makan
berpengaruh ke status gizi mereka, dan apakah pengetahuan soal gizi juga ada
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini secara teori bisa nambah informasi dan pengetahuan tentang
kaitan antara pemahaman soal gizi dan kebiasaan makan dengan kondisi gizi
siswa di SMA Negeri satu Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Secara praktik,
hasil penelitian ini diharapkan bisa jadi bahan edukasi buat sekolah, supaya
siswa lebih paham pentingnya gizi dan pola makan yang baik. Buat
pengetahuan gizi dan pola makan sehat itu penting, biar bisa mencegah
masalah gizi yang kurang atau berlebih. Sementara buat peneliti sendiri,
penelitian ini bisa jadi pengalaman dan nambah wawasan soal topik ini, dan
mungkin juga bisa jadi dasar atau referensi buat penelitian selanjutnya.
6
F. Keaslian Penelitian
Penelitian dari Permadina Kanah dan Ariska Novera Hardiani yang dilakukan
tahun dua ribu dua puluh membahas soal kaitan antara pengetahuan tentang gizi
dan pola makan dengan kondisi gizi pada mahasiswa di bidang kesehatan. Mereka
pakai metode deskriptif dan fokus pada dua hal utama, yaitu seberapa paham
mahasiswa soal gizi dan gimana pola makan mereka, lalu dikaitkan dengan status
gizinya. Hasilnya nemuin bahwa ada hubungan yang kuat antara pengetahuan dan
pola makan dengan kondisi gizi. Penelitian ini mirip sama yang saya buat karena
dengan kondisi gizi remaja, tapi beda dari segi tempat, siapa yang diteliti, dan
tahun dua ribu dua puluh dua juga hampir sama. Dia ngambil sampel dari
juga nunjukin ada hubungan antara dua variabel itu dengan gizi mahasiswa.
Walaupun isinya serupa, tetap ada perbedaan dari lokasi dan jenis responden yang
diteliti. Sementara itu, Annisa Wulandari juga pernah neliti hal yang mirip di
tahun dua ribu dua puluh, tapi fokusnya cuma ke hubungan antara seberapa paham
mahasiswa soal gizi dengan kondisi gizi mereka, tanpa ngelibatin pola makan
dan hasilnya nunjukin kalau pengetahuan gizi aja belum tentu bikin status gizi jadi
bagus. Jadi meskipun mahasiswa tahu soal gizi, belum tentu mereka punya
kondisi gizi yang baik. Persamaannya dengan penelitian ini adalah sama-sama
7
pakai metode kuantitatif dan desain pengamatan sekali waktu, tapi beda karena
yang dia teliti cuma satu variabel aja, yaitu pengetahuan gizi, tanpa ngaitin sama
pola makan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
Penelitian dari Permadina Kanah dan Ariska Novera Hardiani pada tahun dua
ribu dua puluh membahas tentang hubungan antara pengetahuan gizi dan
tentang gizi dan punya kebiasaan makan yang lebih baik cenderung memiliki
status gizi yang juga baik. Penelitian ini mirip dengan penelitian yang sekarang
karena sama-sama membahas hal yang berhubungan dengan gizi, tetapi berbeda
dari segi tempat, jumlah dan jenis responden, serta metode yang digunakan. Selain
itu, penelitian dari Mariska Selviana Charina tahun dua ribu dua puluh dua juga
melihat hubungan antara wawasan gizi dan pola makan dengan kondisi gizi
berkaitan dengan status gizi mahasiswa. Meski topiknya hampir sama, ada
perbedaan dari lokasi penelitian dan siapa yang diteliti. Penelitian lainnya dari
Annisa Wulandari tahun dua ribu dua puluh dilakukan di Universitas IBN
Khaldun Bogor. Peneliti ini hanya fokus pada hubungan pengetahuan tentang gizi
pemahaman yang cukup baik tentang gizi, hal itu belum tentu membuat kondisi
gizinya ikut baik. Penelitian ini berbeda karena tidak membahas pola makan
8
9
B. Landasan Teori
1. Pengetahuan gizi
apa saja kandungan dalam makanan dan bagaimana hal itu bisa berdampak
pada tubuh dan kesehatan. Pengetahuan ini mencakup berbagai zat yang
serta manfaatnya bagi kesehatan. Bila seseorang memahami hal ini dengan
baik, mereka akan lebih bijak dalam memilih makanan dan bisa terhindar
dari berbagai gangguan kesehatan seperti berat badan berlebih, gula darah
Hal ini sangat penting terutama bagi remaja, karena mereka sedang berada
di masa tumbuh yang cepat. Di usia ini, mereka sering terpapar makanan
cepat saji atau jajanan yang kurang sehat. Kalau tidak punya pemahaman
yang cukup soal gizi, mereka cenderung memilih makanan yang hanya
tinggi kalori tapi minim manfaat bagi tubuh, yang akhirnya bisa
baik di sekolah supaya remaja punya bekal untuk memilih makanan yang
Gizi juga punya banyak fungsi penting buat tubuh. Salah satunya
Karbohidrat akan diubah tubuh jadi glukosa, yaitu bahan bakar utama
untuk berpikir dan bergerak. Makanan seperti nasi, roti, dan buah-buahan
10
kompleks dari biji-bijian juga membantu memberi tenaga yang lebih tahan
lama. Selain itu, lemak dan protein juga punya peran yang sama. Lemak,
vitamin dan menjaga fungsi tubuh. Lemak sehat bisa didapat dari minyak
nabati, ikan, dan alpukat. Protein juga berguna sebagai bahan pembangun,
dan kalau asupan karbohidrat kurang, protein bisa diubah jadi energi.
Karena itu, penting untuk makan seimbang sejak pagi hari agar tubuh tetap
massa otot meningkat pada laki-laki, dan lemak tubuh lebih banyak pada
perkembangan dari sisi emosi dan sosial. Mereka mulai mencari jati diri,
lebih dekat dengan teman sebaya, dan mulai mandiri dari orang tua. Ini
semua bisa memengaruhi kesehatan mental dan cara mereka melihat diri
sendiri. Kecerdasan juga ikut berkembang di masa ini. Karena itu, remaja
yang rusak. Kalau tubuh terluka atau kena infeksi, ada proses alami di
11
dalam tubuh yang bekerja untuk memperbaiki bagian yang rusak. Sel-sel
Proses ini melibatkan banyak hal, seperti zat yang bisa mempercepat
seperti semula. Proses ini penting agar tubuh tetap sehat dan bisa pulih
semua aktivitas tubuh, termasuk kerja otak dan otot. Karena itulah, remaja
perlu makan cukup dan seimbang supaya tetap bugar, semangat belajar,
2. Remaja
Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang ditandai
dengan banyak perubahan, seperti tubuh yang semakin tinggi hingga bisa
bertambah sekitar dua puluh lima sentimeter, bentuk badan mulai berubah, serta
datangnya menstruasi bagi perempuan. Di usia ini juga mulai muncul ketertarikan
secara seksual yang punya pengaruh besar dalam kehidupan remaja putri.
yaitu remaja awal usia dua belas sampai enam belas tahun dan remaja akhir usia
tujuh belas sampai dua puluh lima tahun. Dari hasil analisis diketahui bahwa lima
puluh delapan orang atau sekitar tiga puluh delapan koma tujuh persen berada di
12
kategori remaja awal, sementara sembilan puluh dua orang atau enam puluh satu
koma tiga persen masuk dalam kelompok remaja akhir. Perkembangan remaja
adalah masa penting dalam hidup seseorang yang membawa banyak perubahan
besar, baik dari segi fisik, perasaan, hubungan sosial, maupun cara berpikir.
Tubuh mereka bertumbuh cepat, alat reproduksi mulai berkembang, dan pubertas
terjadi. Dari sisi emosional, remaja mulai mencari jati diri, belajar memahami
perasaannya, dan mengenali siapa dirinya. Di sisi sosial, mereka mulai menjalin
hubungan lebih luas dengan teman sebaya dan mulai menghadapi perubahan
dalam cara bergaul. Pikiran mereka juga makin berkembang, bisa berpikir lebih
tindakannya. Supaya remaja bisa menghadapi masa ini dengan baik, peran orang
tua, guru, dan lingkungan sekitar sangat penting untuk memberikan bimbingan
yang tepat. Di sisi lain, masalah gizi pada remaja juga perlu diperhatikan karena
tubuh mereka sedang tumbuh cepat dan butuh asupan yang cukup. Kekurangan
protein bisa menghambat pertumbuhan, menurunkan daya tahan tubuh, dan bikin
mudah lelah. Ketidakseimbangan gizi juga bisa terjadi karena makanan yang
dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh, apalagi kalau remaja terlalu
aktif atau punya masalah kesehatan. Ada juga yang mengalami gizi ganda, seperti
terlalu kurus atau sebaliknya kelebihan berat badan, dan ini bisa memicu berbagai
yang tidak sehat juga sering terjadi, misalnya terlalu sering makan makanan cepat
saji, makanan tinggi gula dan lemak, serta minuman bersoda yang rendah gizi.
13
Padahal di masa ini, tubuh remaja sangat butuh gizi yang cukup, terutama energi
dan protein, supaya pertumbuhannya berjalan lancar dan tidak mudah sakit.
3. Status Gizi
terpenuhi dengan baik atau belum. Keseimbangan antara zat gizi yang dimakan
dan apa yang dibutuhkan tubuh sangat penting agar tubuh bisa bekerja dengan
baik setiap hari. Jika tubuh mendapat cukup gizi, maka status gizinya bisa
dikatakan baik. Untuk menilai status gizi, biasanya dilakukan pengukuran fisik
seperti berat badan, tinggi badan, dan perhitungan indeks massa tubuh atau IMT.
IMT ini sering dipakai pada anak, remaja, maupun orang dewasa, dan hasilnya
tergantung juga pada usia karena bentuk dan komposisi tubuh ikut berubah seiring
bertambahnya umur. Salah satu cara mengetahui kondisi gizi seseorang adalah
dengan menghitung IMT, yaitu membagi berat badan dalam kilogram dengan
tinggi badan dalam meter kuadrat. Selain itu, ukuran lingkar lengan atas juga
ukuran lingkar pinggang juga bisa membantu melihat kondisi gizi secara
keseluruhan, apalagi kalau dikaitkan dengan risiko penyakit seperti diabetes atau
kolesterol. Mengetahui status gizi secara rutin bisa membantu seseorang menjaga
kesehatannya dan mencegah masalah gizi sejak dini. Sementara itu, status gizi
pada remaja bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Misalnya, pola makan yang tidak
sehat seperti terlalu sering makan junk food bisa bikin kelebihan berat badan atau
sebaliknya malah kurang gizi. Aktivitas fisik juga punya pengaruh besar, karena
14
kalau remaja jarang bergerak atau olahraga, lemak bisa menumpuk di tubuh.
Pengeluaran energi yang tidak sesuai dengan kebutuhan juga bisa membuat gizi
jadi terganggu. Gaya hidup yang kurang baik, seperti sering begadang, merokok,
atau sering jajan makanan sembarangan juga bisa bikin status gizi jadi tidak ideal.
Selain itu, lingkungan sekitar seperti keluarga, teman, dan sekolah juga ikut
makanannya, lebih aktif bergerak, dan menjalani gaya hidup sehat supaya
porsinya, seberapa sering dikonsumsi, serta waktu saat makan dilakukan. Banyak
hal bisa memengaruhi kebiasaan ini, seperti latar belakang budaya, keadaan sosial,
gaya hidup, dan kebiasaan yang ada di sekitar, termasuk di keluarga, sekolah,
teman sebaya, dan seberapa paham seseorang tentang gizi. Semua itu bisa
berkembang perlahan seperti diabetes atau jantung. Di sisi lain, status gizi
antara makanan yang masuk ke tubuh dan kebutuhan tubuhnya untuk berfungsi
normal. Kebutuhan gizi setiap orang berbeda-beda, tergantung pada umur, jenis
kelamin, aktivitas harian, berat badan, dan kondisi tubuh masing-masing. Asupan
kehidupan, mulai dari janin dalam kandungan sampai usia lanjut. Status gizi bisa
dilihat dari apa yang dimakan dan seberapa baik tubuh menggunakan zat gizi
tersebut. Secara umum, status gizi dibagi jadi tiga, yaitu kurang, normal, dan
berlebihan. Ada beberapa hal yang membuat remaja punya kebiasaan makan
tertentu. Salah satunya adalah pengaruh dari keluarga, terutama dari penghasilan
dan kebiasaan yang sudah ditanamkan sejak kecil. Kalau keluarga punya cukup
dana dan pengetahuan yang baik, biasanya mereka punya pilihan makanan yang
lebih sehat. Selain itu, teman sebaya juga punya peran besar. Banyak remaja
makan apa yang biasa dimakan teman-temannya. Selain itu, waktu yang tersedia
untuk menyiapkan makanan sehat dan aktivitas fisik juga berpengaruh. Kalau
dilihat dari dampaknya, cara makan remaja bisa berdampak besar pada tubuh dan
pikiran mereka. Makanan yang tidak seimbang, misalnya terlalu sering makan
cepat saji tapi jarang makan buah dan sayur, bisa bikin tubuh kekurangan zat
penting, dan ini bisa menyebabkan masalah seperti tubuh terlalu kurus, terlalu
gemuk, bahkan gangguan pertumbuhan. Tidak cuma itu, kekurangan gizi juga
bisa bikin sulit fokus belajar, gampang lupa, bahkan berdampak ke kondisi mental
seperti stres dan rasa cemas. Oleh karena itu, penting untuk membentuk kebiasaan
makan yang baik sejak remaja supaya tumbuh kembangnya optimal. Pengetahuan
tentang gizi juga punya hubungan yang kuat dengan status gizi. Semakin tinggi
makanannya. Tapi, tahu soal gizi saja tidak cukup, karena kadang masih ada
pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan teman, yang bisa
seseorang tentang makanan bergizi, biasanya makin baik pula kondisi gizinya. Hal
ini menunjukkan pentingnya edukasi gizi sejak dini untuk mendukung kesehatan
C. Kerangka Teori
- Makanan Sehat
- Pengolahan Bahan Makanan
- Gaya Hidup
Status Gizi
Pola Konsumsi
D. Kerangka Konsep
: Variabel Independen
: Variabel Dependen
: Variabel yang tidak diteliti
E. Hipotesis Penelitian
menyatakan bahwa ada kaitan antara seberapa paham siswa dan siswi soal gizi
serta kebiasaan makan mereka dengan kondisi gizinya. Sementara itu, dugaan
nol atau hipotesis nol (Ho) bilang kalau nggak ada hubungan antara
pengetahuan tentang gizi dan pola makan dengan status gizi pada siswa dan
BAB III
METODE PENELITAN
Penelitian ini masuk dalam jenis kuantitatif dan pakai pendekatan potong
lintang atau cross sectional. Artinya, semua data dikumpulkan dalam satu
waktu tanpa perlu pengamatan berulang. Peneliti cuma mau lihat apakah ada
hubungan antara pengetahuan soal gizi dan kebiasaan makan siswa dengan
kondisi gizinya, tanpa ngasih perlakuan apa pun ke responden. Jadi, tujuan dari
penelitian ini adalah buat tahu apakah siswa-siswi di SMA Negeri 1 Kabila
18
Kabupaten Bone Bolango yang paham soal gizi dan punya pola makan tertentu,
pengumpulan data dilakukan pada hari Selasa, tanggal dua puluh empat Juni
C. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel bebas atau variabel yang
Sementara itu, variabel terikat atau variabel yang dipengaruhi adalah status
gizi yang dimiliki oleh siswa dan siswi. Artinya, penelitian ini ingin melihat
apakah tingkat pemahaman siswa soal gizi dan pola makan mereka bisa
D. Defenisi Opersional
20
gizi, pola konsumsi makanan, dan status gizi. Tingkat pengetahuan diartikan
ini dilihat dari hasil jawaban mereka pada kuesioner yang berisi pertanyaan
tentang status gizi, zat iodium, dan fungsi zat gizi makro seperti karbohidrat,
protein, serta lemak. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner dengan
sebanyak tujuh puluh enam persen hingga seratus persen, dan dianggap cukup
jika nilainya di bawah tujuh puluh lima persen, berdasarkan klasifikasi dari
Sumartini tahun dua ribu sembilan belas. Jenis skala yang dipakai adalah
ordinal.
makan dalam sehari, serta jumlah porsi makan selama satu minggu. Data ini
Hasil penilaiannya dinyatakan baik jika skor FFQ lebih dari atau sama dengan
delapan ratus tiga puluh lima poin, dan dianggap kurang baik jika skornya di
bawah angka tersebut, mengacu pada pedoman dari Dian Sofia tahun dua ribu
dua puluh empat. Skala yang digunakan juga termasuk skala ordinal.
21
asupan makanan dan bisa diketahui dengan mengukur berat badan, tinggi
badan, dan umur responden menggunakan alat timbang dan microtoise. Data
Status gizi dikategorikan baik jika berada pada kisaran minus dua SD sampai
plus satu SD, dan dikatakan lebih jika nilainya antara plus satu SD sampai
plus dua SD, sesuai dengan standar dari Kementerian Kesehatan tahun dua
ribu dua puluh. Skala pengukuran pada variabel ini juga bersifat ordinal.
E. Populasi dan Tempat
Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa yang terdaftar di SMA
Negeri 1 Kabila, Kabupaten Gorontalo, dengan jumlah total sebanyak seribu tiga
ratus sebelas orang. Dari populasi tersebut, peneliti mengambil sebagian siswa
sampling, yaitu teknik pengambilan sampel secara acak di mana setiap siswa
ditetapkan sebanyak sembilan puluh tiga orang siswa aktif. Penentuan siapa saja
yang masuk dalam sampel dilakukan berdasarkan beberapa syarat atau kriteria
yang telah ditetapkan. Untuk kriteria inklusi, yaitu yang boleh ikut penelitian,
adalah siswa yang berusia antara lima belas sampai tujuh belas tahun, masih aktif
sehat baik secara fisik maupun mental. Sementara itu, untuk kriteria eksklusi,
yaitu siswa yang tidak dimasukkan sebagai sampel, adalah mereka yang sedang
sakit, tidak bisa berdiri atau tidak bisa diukur tinggi badannya, serta siswa yang
menolak ikut dalam penelitian. Teknik simple random sampling dipilih karena
memberi kesempatan yang adil bagi seluruh anggota populasi untuk terpilih
Dalam penelitian ini, jenis data yang digunakan terbagi menjadi dua, yaitu
data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari
secara tidak langsung, biasanya dari dokumen atau catatan yang sudah ada
sebelumnya. Data sekunder yang dimaksud dalam penelitian ini berupa jumlah
dilakukan.
Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data terdiri dari beberapa cara.
Data utama diperoleh langsung dari responden menggunakan alat ukur yang sudah
disiapkan sebelumnya. Instrumen yang digunakan antara lain kuesioner
pengetahuan gizi dan formulir Food Frequency Questionnaire (FFQ). Selain itu,
pengukuran antropometri seperti berat badan dan tinggi badan juga dilakukan
untuk menghitung indeks massa tubuh (IMT), yang kemudian digunakan untuk
menentukan status gizi berdasarkan standar WHO. Teknik FFQ juga dipakai
untuk mengetahui lebih detail kebiasaan makan remaja dengan mencatat jenis
makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam waktu dua puluh empat jam
terakhir. Gabungan dari teknik-teknik ini memberikan data yang lengkap dan
saling melengkapi, sehingga bisa memberikan gambaran yang menyeluruh tentang
hubungan antara pengetahuan gizi, pola makan, dan status gizi pada remaja.
G. Alat Ukur/Instrumen dan Bahan Penelitian
data dari responden. Instrumen yang dipakai terdiri dari dua jenis, yaitu
akan diberi nilai lima, sedangkan jawaban salah nilainya nol. Jumlah soal ada
dua puluh, jadi nilai tertinggi yang bisa diperoleh adalah seratus. Penilaian
enam puluh hingga seratus persen, sedangkan jika skornya di bawah enam
Tahap pertama dalam penelitian ini adalah tahap persiapan. Langkah awal
yang dilakukan peneliti yaitu memilih lokasi penelitian, yang dalam hal ini
kampus kepada pihak sekolah sambil menjelaskan maksud dan tujuan dari
penelitian ini. Peneliti juga meminta izin langsung kepada kepala sekolah untuk
melaksanakan penelitian, sekaligus meminta kontak salah satu wali kelas agar
menjadi responden.
Tahap kedua yaitu pelaksanaan penelitian. Pada tahap ini, kegiatan diawali
itu, peneliti mulai menjelaskan maksud, tujuan, dan prosedur penelitian kepada
para siswa. Siswa yang bersedia ikut serta akan diminta menandatangani lembar
kuesioner dan memberi arahan cara mengisinya kepada para responden yang
telah sesuai dengan kriteria inklusi. Selama proses pengisian, peneliti akan tetap
mendampingi agar jika ada kesulitan, responden bisa langsung bertanya. Setelah
semua kuesioner selesai diisi, peneliti akan mengecek kelengkapannya, lalu data
kembali kuesioner yang sudah diisi dan menyampaikan terima kasih kepada
semua responden yang telah ikut serta. Sebagai bentuk penghargaan, peneliti
peneliti mendapatkan izin resmi dari pihak SMA Negeri 1 Kabila Kabupaten
Bone Bolango dan juga dari Politeknik Kesehatan Gorontalo. Setelah itu,
tujuan, dan manfaat dari penelitian yang akan dilakukan. Semua responden
dengan mengambil nama-nama secara acak dari daftar hadir siswa yang sesuai
dengan syarat yang sudah ditentukan dalam kriteria inklusi dan eksklusi.
data.
Setelah data terkumpul, tahap berikutnya adalah mengolah data tersebut agar bisa
dianalisis. Pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama adalah
editing, yaitu memeriksa kembali data yang telah dikumpulkan dari lapangan
untuk memastikan tidak ada bagian yang kosong atau belum diisi. Selanjutnya
adalah coding, yaitu memberi tanda berupa angka pada jawaban responden yang
telah dikelompokkan. Untuk variabel pengetahuan gizi, jawaban benar diberi kode
satu dan jawaban salah diberi nol. Untuk pola konsumsi makanan, kode yang
digunakan adalah nol untuk tidak pernah, satu untuk dua kali dalam sebulan, tiga
untuk tiga sampai enam kali seminggu, empat untuk satu kali sehari, dan lima
untuk tiga kali atau lebih dalam sehari. Sementara itu, untuk status gizi, kategori
gizi kurang diberi kode sesuai nilai Z-score antara minus tiga SD hingga kurang
dari minus dua SD, gizi baik antara minus dua SD sampai plus satu SD, gizi lebih
dari plus satu SD sampai plus dua
Data yang mengenai pengetahuan gizi, pola konsumsi, dan status gizi
antrometri (gizi baik, kurang, lebih). Hasil analisis univariat ini bertujuan
veriabel, dalam hal ini antara pengetahuan gizi dan pola konsumsi
yang signifikan secara statistic, dengan melihat nilai p-value. Data hasil uji
2) Apa bila nilai p < α (0,05, maka H 0 diterima yang berarti ada
konsumsi
J. Etika Penelitian
bisa terjadi, manfaat dari penelitian, serta hak-hak mereka sebagai responden.
Kedua, kerahasiaan data harus dijaga. Informasi yang diberikan oleh peserta
tidak boleh dibagikan ke pihak lain tanpa izin mereka, termasuk identitas
pribadi yang harus dirahasiakan. Ketiga, peneliti harus bersikap netral dan
tidak memihak. Seluruh data yang didapat harus diolah dan dijelaskan secara
berdasarkan suku, agama, ras, jenis kelamin, maupun latar belakang lainnya.
proses penelitian.
K. Kelemahan Peneliti
Penelitian ini masih punya kekurangan karena beberapa hal dari peneliti
sendiri. Waktu ngumpulin data, ada beberapa siswa yang ngisi kuesioner
dengan jawaban yang sama. Kemungkinan karena mereka lagi sibuk, jadi
akhirnya niru jawaban temannya. Hal ini bisa bikin hasil data jadi kurang
tepat.
BAB IV
SMA Negeri 1 Kabila adalah salah satu sekolah menengah atas yang
Provinsi Gorontalo. Sekolah ini resmi berdiri pada tanggal satu Agustus tahun
seribu sembilan ratus enam puluh lima berdasarkan Surat Keputusan Menteri
jenjang lebih tinggi setelah lulus SMP. Pada waktu itu, banyak siswa dari
Kabila, Suwawa, dan daerah sekitarnya tidak bisa lanjut ke sekolah atas di Kota
Gorontalo karena berbagai kendala, seperti jarak yang jauh, transportasi yang
sulit, dan terbatasnya daya tampung sekolah di kota. Awalnya, SMA ini hanya
punya delapan ruang kelas dengan ukuran delapan kali tujuh meter persegi, dan
dua ruangan untuk kepala sekolah serta bagian tata usaha berukuran sembilan
kali lima meter persegi. Meskipun kondisi fasilitas terkini tidak dijelaskan secara
rinci dalam dokumen, melihat usia sekolah ini yang sudah lebih dari lima puluh
tahun dan perannya yang cukup besar, kemungkinan besar sekolah ini sekarang
B. Hasil Penelitian
1. Identifikasi Umur Responden
1 14 1 1.1%
2 15 25 26.9%
3 16 42 45.4%
4 17 19 20.4%
5 18 6 6.5%
Total 93 100%
Dari tabel enam bisa dilihat bahwa sebagian besar peserta berumur
enam belas tahun, yaitu sebanyak empat puluh dua orang atau sekitar
empat puluh lima persen. Selanjutnya, yang berusia lima belas tahun ada
dua puluh lima orang atau dua puluh enam koma sembilan persen. Diikuti
oleh responden berumur tujuh belas tahun sebanyak sembilan belas orang
atau dua puluh koma empat persen, dan yang berusia delapan belas tahun
ada enam orang atau enam koma lima persen. Sementara itu, yang paling
sedikit adalah peserta dengan usia empat belas tahun, hanya satu orang
1 Laki-Laki 34 36.6%
2 Perempuan 59 63.4%
Total 93 100%
tiga puluh empat orang atau sekitar tiga puluh enam koma enam persen.
Sementara itu, jumlah responden perempuan lebih banyak, yaitu lima puluh
1 Baik 65 69.9%
2 Cukup 28 30.1%
Total 93 100%
Berdasarkan tabel delapan, bisa dilihat bahwa sebagian besar siswa dan
pengetahuan gizi yang baik, yaitu sebanyak enam puluh lima orang atau
sekitar enam puluh sembilan koma sembilan persen. Sementara itu, sisanya,
yaitu dua puluh delapan orang atau tiga puluh koma satu persen, memiliki
Total 93 100%
pola konsumsi yang baik, yaitu sebanyak enam puluh dua orang atau
sekitar enam puluh enam koma tujuh persen. Sementara itu, pola konsumsi
yang kurang baik ditemukan pada tiga puluh satu orang atau sebesar tiga
Total 93 100%
penelitian ini sebanyak sembilan puluh tiga siswa. Dari jumlah tersebut,
sebanyak enam puluh dua orang atau sekitar enam puluh enam koma tujuh
persen memiliki status gizi yang baik. Sedangkan sisanya, yaitu tiga puluh
satu orang atau tiga puluh tiga koma tiga persen termasuk dalam kategori
6. Uji Statistik Hubungan Antara Pengetahuan Gizi Dengan Status Gizi Pada
n % n % n %
signifikan sebesar nol koma nol tiga delapan. Ini berarti ada hubungan yang
bermakna antara variabel yang diteliti. Pada kategori kebiasaan makan yang
jarang, terdapat enam puluh lima siswa, di mana tiga puluh sembilan orang
memiliki status gizi baik, atau sekitar empat puluh satu koma sembilan
persen, dan dua puluh enam orang memiliki status gizi lebih, yaitu sekitar dua
pengetahuan gizi, jumlahnya sebanyak dua puluh delapan orang. Dari jumlah
itu, dua puluh tiga orang atau sekitar dua puluh empat koma tujuh persen
memiliki status gizi baik, sementara lima orang atau lima koma empat persen
n % n % n %
signifikansi p sebesar nol koma nol nol satu. Hal ini berarti ada hubungan
yang bermakna antara pola konsumsi dan status gizi siswa. Pada kelompok
dengan pola makan yang kurang baik, terdapat tiga puluh satu siswa, di
mana dua puluh lima orang atau sekitar tujuh puluh empat persen memiliki
status gizi yang baik, sedangkan enam orang lainnya atau sekitar enam
koma lima persen memiliki status gizi berlebih. Sebaliknya, pada kelompok
siswa yang punya pola konsumsi baik, jumlahnya sebanyak enam puluh dua
orang, dan sebagian besar yaitu tiga puluh tujuh siswa atau sembilan puluh
tujuh koma enam persen memiliki status gizi baik, sedangkan dua puluh
lima siswa lainnya atau dua puluh enam koma sembilan persen termasuk
C. Pembahasan
Dari hasil data yang diambil dari sembilan puluh tiga siswa SMA Negeri
pengetahuan yang cukup baik soal gizi. Ada enam puluh lima orang atau
sekitar enam puluh sembilan koma sembilan persen yang masuk kategori
"baik", artinya mereka udah cukup ngerti tentang pentingnya makan sehat dan
tahu dasar-dasar gizi. Ini mungkin karena mereka udah dapat info dari
sekolah, keluarga, atau dari media seperti internet dan TV. Pengetahuan ini
Tapi, masih ada dua puluh delapan siswa atau tiga puluh koma satu
mereka masih butuh tambahan pemahaman soal gizi. Bisa jadi ini karena
kurangnya akses info, nggak fokus saat pelajaran, atau belum pernah ikut
penyuluhan gizi. Jadi, sekolah disarankan buat bikin kegiatan edukasi yang
lebih seru dan langsung melibatkan siswa biar semua bisa paham dengan
lebih gampang.
Menariknya, banyaknya siswa yang udah paham soal gizi ini bisa jadi
modal buat mereka jadi penyebar info sehat di lingkungan sekolah maupun
rumah. Mereka bisa ngajak teman dan keluarga buat lebih peduli sama pola
makan. Sekolah juga bisa bikin program kader gizi dari siswa yang udah
ngerti, supaya bisa bantu ngajarin teman-temannya yang lain. Cara ini bukan
cuma nambah pengetahuan, tapi juga bisa bantu ubah kebiasaan makan jadi
seputar gizi. Pengetahuan yang baik bisa bantu seseorang buat ambil
keputusan yang tepat soal makanan dan gaya hidup, yang penting buat
kesehatan tubuh, bahkan juga buat yang sedang hamil. Banyak hal yang bisa
sekitar. Pendidikan yang cukup bisa bikin seseorang lebih gampang paham
info soal gizi, ditambah lagi kalau sering baca media, ikut penyuluhan, atau
dapat dukungan dari keluarga dan teman, maka makin besar juga peluang
mereka buat ngerti dan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-
hari.
sembilan puluh tiga siswa di SMA Negeri 1 Kabila Kabupaten Bone Bolango,
sebanyak enam puluh dua orang atau sekitar enam puluh enam koma tujuh
persen punya kebiasaan makan yang tergolong baik. Sementara itu, sisanya
yaitu tiga puluh satu orang atau tiga puluh tiga koma tiga persen masih
memiliki pola makan yang kurang sehat. Kategori “baik” ini dilihat dari skor
pilihan makanan yang nilainya di bawah delapan ratus tiga puluh lima, yang
yang lebih seimbang. Tingginya jumlah siswa dengan pola makan baik
menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka sudah cukup sadar dalam
memilih makanan yang mereka konsumsi. Hal ini bisa dipengaruhi oleh
Namun begitu, masih ada sekitar sepertiga dari siswa yang belum punya
makanan cepat saji, makanan manis, makanan tinggi garam, atau makanan
yang mengandung banyak lemak jenuh. Kondisi ini butuh perhatian lebih,
karena kalau dibiarkan dalam waktu lama bisa memicu gangguan kesehatan
seperti kelebihan berat badan, kencing manis, atau masalah gizi lainnya.
Maka dari itu, penting untuk terus memberikan penyuluhan dan edukasi
tentang pentingnya makan sehat supaya semua siswa bisa punya pola makan
yang baik.
berpengaruh pada kondisi gizi dan kesehatan secara umum, dan bisa
itu, faktor-faktor seperti rasa suka terhadap makanan tertentu, kebiasaan yang
diwariskan dari keluarga, ketersediaan bahan pangan, serta kondisi psikologis
itu, kemampuan ekonomi tentu berpengaruh pada jenis makanan yang bisa
dibeli dan dikonsumsi setiap hari. Dengan memahami pola makan ini, peneliti
dan pemerintah bisa membuat strategi yang lebih tepat untuk memperbaiki
Dari tabel sepuluh, diketahui bahwa dari total sembilan puluh tiga siswa
di SMA Negeri Satu Kabila, sebanyak enam puluh dua orang atau sekitar
enam puluh enam koma tujuh persen punya status gizi yang baik. Sementara
itu, sisanya yaitu tiga puluh satu orang atau tiga puluh tiga koma tiga persen
masuk dalam kategori gizi berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian
dikonsumsi dengan kebutuhan tubuhnya. Ini bisa jadi karena mereka punya
pengetahuan yang cukup soal gizi dan didukung oleh lingkungan yang sehat.
Tapi meskipun begitu, masih ada cukup banyak siswa yang status gizinya
berlebih. Ini bisa jadi tanda bahwa mereka mengonsumsi terlalu banyak
kalori, sementara aktivitas fisiknya kurang. Kalau nggak ditangani sejak dini,
kondisi ini bisa berujung pada kelebihan berat badan bahkan obesitas.
Peran sekolah dan orang tua juga penting dalam hal ini. Mereka bisa
mengurangi makanan instan, dan rutin berolahraga. Selain itu, sekolah juga
perkembangan siswa dan langsung ambil langkah kalau ada yang mulai
kelebihan berat badan. Usaha-usaha ini penting supaya siswa tumbuh jadi
berarti antara pengetahuan gizi dan status gizi, dengan nilai p sebesar nol
koma nol tiga delapan. Artinya, seberapa paham seseorang soal gizi bisa
berpengaruh pada kondisi gizinya. Orang yang punya pengetahuan gizi yang
baik biasanya lebih sadar dalam memilih makanan, cenderung makan yang
lebih sehat dan seimbang, serta tahu mana makanan yang baik untuk tubuh.
Mereka juga lebih paham pentingnya variasi makanan dan bisa menyesuaikan
dan tim tahun dua ribu dua puluh dua di SMA Negeri Dua Tanjungpinang
juga nunjukin hal yang sama. Di sana, siswa yang punya pengetahuan gizi
lebih tinggi cenderung punya status gizi yang normal karena mereka lebih
kegemukan, anemia, atau kekurangan energi kronis. Dalam studi lain oleh
Fauziyah dan rekan-rekannya tahun dua ribu dua puluh satu, disebutkan
bahwa pengetahuan soal gizi punya peran besar dalam mencegah remaja
mengalami gizi lebih. Ini karena mereka yang paham soal gizi biasanya lebih
tahu tentang porsi makan yang pas, cara baca label makanan, dan isi nutrisi di
yang tinggi lemak, gula, dan garam. Maka dari itu, bisa disimpulkan kalau
bermakna antara kebiasaan makan dan kondisi gizi siswa, dengan nilai p
sebesar nol koma nol empat tiga. Artinya, apa yang biasa dikonsumsi
makan di sini mencakup hal-hal seperti seberapa sering makan, jenis makanan
yang dipilih, dan kapan waktu makan dilakukan. Penelitian yang dilakukan
oleh Desmarita dan tim pada siswa di SMA Negeri Dua Tanjungpinang juga
menunjukkan bahwa remaja yang punya pola makan yang baik cenderung
memiliki status gizi normal, sedangkan mereka yang pola makannya kurang
Pola makan yang baik bukan hanya soal jumlah makanan, tapi juga
minuman manis, cenderung mengalami gizi berlebih. Hal ini juga terlihat
kalangan pelajar SMA di Padang. Selain itu, pola makan yang tidak teratur
seperti sering melewatkan sarapan atau hanya makan dua kali sehari juga bisa
kebiasaan seperti tidak sarapan, kurang konsumsi buah dan sayur, serta
masuk dan keluar dari tubuh. Akibatnya, kalori menumpuk dan menyebabkan
berpengaruh besar terhadap pola makan. Studi dari Syahputri dan kolega
rumah sangat penting untuk menjaga status gizi anak remaja. Selain keluarga,
penyebab pola konsumsi yang tidak sehat. Sementara itu, sekolah yang
Namun begitu, tidak semua siswa dengan pola makan yang kurang sehat
langsung mengalami gizi berlebih. Aktivitas fisik juga punya peran penting.
Penelitian oleh Sari dan tim menjelaskan bahwa remaja yang tetap aktif
tetap dalam batas normal. Oleh karena itu, saat menilai kebiasaan makan,
pertiga siswa memiliki status gizi baik, dan sepertiga sisanya mengalami gizi
berlebih. Dari total siswa, enam puluh dua orang memiliki pola makan yang
baik, dan tiga puluh satu lainnya masih belum ideal. Temuan ini sejalan
memperbaiki pola konsumsi adalah salah satu cara paling efektif untuk
kelebihan.
BAB V
A. Kesimpulan
siswa di SMA Negeri Satu Kabila Kabupaten Bone Bolango berada pada
rentang usia remaja. Sebagian besar berumur enam belas tahun sebanyak
empat puluh dua orang, disusul usia lima belas tahun sebanyak dua puluh
lima orang, tujuh belas tahun sebanyak sembilan belas orang, delapan belas
tahun sebanyak enam orang, dan yang paling sedikit berusia empat belas
kategori baik, yaitu sebanyak enam puluh lima orang, sedangkan sisanya
sebanyak dua puluh delapan orang memiliki pengetahuan yang cukup. Ketiga,
pola makan siswa menunjukkan bahwa enam puluh dua orang termasuk
dalam kategori pola konsumsi yang baik, sementara tiga puluh satu lainnya
Keempat, status gizi para siswa menunjukkan bahwa sebagian besar, yaitu
sekitar dua pertiga atau enam puluh enam koma tujuh persen, memiliki status
gizi yang baik. Sedangkan sepertiga sisanya atau tiga puluh tiga koma tiga
persen termasuk dalam kategori gizi berlebih. Kelima, dari hasil uji statistik,
ditemukan bahwa ada hubungan yang nyata antara pengetahuan gizi dengan
status gizi para siswa. Dan terakhir, terdapat pula hubungan antara pola
konsumsi makanan dengan status gizi siswa di SMA Negeri Satu Kabila
B. Saran
Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat untuk berbagai pihak.
Bagi pihak sekolah atau institusi pendidikan, temuan ini dapat digunakan
pada pentingnya gizi seimbang dan kebiasaan makan yang sehat bagi para
program sekolah lainnya agar siswa lebih paham pentingnya menjaga asupan
makanan. Untuk masyarakat secara umum, penelitian ini juga bisa menjadi
sumber informasi agar lebih peduli dalam menjaga pola makan sehari-hari.
Dengan pola makan yang tepat dan bergizi, pertumbuhan dan perkembangan
remaja bisa berjalan dengan lebih maksimal. Selain itu, bagi peneliti
selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan untuk
faktor lain seperti pola makan, gaya hidup, serta kebiasaan harian yang