0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan47 halaman

Hubungan Pengetahuan Gizi dan Pola Makan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi dan pola konsumsi dengan status gizi siswa di SMA Negeri 1 Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Masalah gizi di kalangan remaja, terutama perempuan, menjadi perhatian karena pola makan yang tidak sehat dapat mempengaruhi kesehatan mereka. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan edukasi tentang pentingnya gizi dan pola makan sehat bagi siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan47 halaman

Hubungan Pengetahuan Gizi dan Pola Makan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi dan pola konsumsi dengan status gizi siswa di SMA Negeri 1 Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Masalah gizi di kalangan remaja, terutama perempuan, menjadi perhatian karena pola makan yang tidak sehat dapat mempengaruhi kesehatan mereka. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan edukasi tentang pentingnya gizi dan pola makan sehat bagi siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI DAN POLA KONSUMSI

DENGAN STATUS GIZI PADA SISWA/SISWI SMAN I


KABILA KABUPATEN BONE BOLANGO
PROVINSI GORONTALO

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan


Menyelesaikan Pendidikan Sarjana Terapan Gizi dan Dietetik

Disusun Oleh:
YUSTIKA YUSUF
NIM : 751331121025

PRODI SARJANA TERAPAN GIZI & DIETETIKA


JURUSAN GIZI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN GORONTALO
2025

i
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Cewek-cewek remaja di Indonesia lagi ada di masa perubahan besar, baik

tubuh, pikiran, maupun pergaulan. Mereka bukan cuma ngalamin perubahan

fisik, tapi juga gampang banget terpengaruh temen-temen soal bentuk tubuh

dan cara makan. Kalau mereka merasa bentuk tubuhnya jelek, kadang jadi

milih buat ngurangin makan berlebihan atau nyoba-nyoba produk pelangsing.

Ini bisa ganggu kesehatan dan gizi mereka. Karena itu, penting banget buat

remaja cewek ngerti soal gizi dan tahu gimana tubuh yang sehat biar tumbuh

dan berkembang dengan baik (Nomate, E. S., Nur, M. L., & Toy, 2017).

Masalah gizi ini jadi perhatian banyak peneliti. Kebiasaan makan yang

nggak sehat, kayak doyan cemilan tinggi kalori, sering makan fast food, dan

jarang makan buah sama sayur, bikin banyak remaja jadi kelebihan berat

badan. Selain itu, banyak juga yang belum ngerti soal gizi, jadi pola makannya

nggak teratur. Kalau ini dibiarin, bisa bikin gizi mereka kurang atau malah

berlebihan. Makanya penting banget ngasih edukasi tentang gizi dan ngajarin

pola makan sehat, apalagi buat anak kuliahan yang lagi aktif-aktifnya (Kanah,

2020).

Ada banyak hal yang bisa pengaruhin kesehatan remaja cewek. Bukan

cuma dari makanan, tapi juga dari gerak badan, kondisi keuangan keluarga, ada

atau nggaknya makanan sehat di rumah, lingkungan sekitar, temen, sampai

keluarga sendiri. Banyak remaja yang punya kebiasaan makan yang nggak

1
2

bagus, kayak sering skip makan, lebih sering jajan di luar, dan malas makan

buah sama sayur. Tapi ada juga yang tetap bisa jaga kesehatannya karena rutin

olahraga atau hidupnya lebih sehat (Wijaya et al., 2024).

Data dari Riset Kesehatan Dasar tahun dua ribu delapan belas nunjukin

kalau remaja umur tiga belas sampai lima belas tahun di Indonesia, ada sekitar

delapan koma tujuh persen yang kurus. Dari jumlah itu, satu koma sembilan

persen termasuk sangat kurus, dan enam koma delapan persen kurus biasa.

Sedangkan yang kegemukan juga tinggi, sekitar enam belas persen.

Rinciannya, sebelas koma delapan persen gemuk dan empat koma dua persen

obesitas. Di Sumatra Barat, anak umur dua belas sampai lima belas tahun yang

sangat kurus ada dua koma satu persen, kurus enam persen, gemuk sepuluh

koma tiga persen, dan obesitas empat koma tiga persen (Harleni, 2023).

Survei Kesehatan Indonesia tahun dua ribu dua puluh tiga nunjukin juga

kalau delapan koma tujuh persen cowok remaja umur lima belas sampai dua

puluh empat tahun dan dua puluh empat persen cewek remaja di umur yang

sama mengalami obesitas. Di Gorontalo, angkanya lebih tinggi lagi: delapan

belas koma delapan persen buat cowok dan enam puluh koma delapan persen

buat cewek (Indonesia, 2023).

Penelitian ini pengen tahu hubungan antara seberapa ngerti soal gizi,

aktivitas fisik, seringnya olahraga, dan status gizi remaja. Soalnya,

pengetahuan gizi bisa bikin seseorang lebih bijak dalam milih makanan dan

gerak badannya. Dari hasil penelitian, orang yang ngerti gizi biasanya lebih

bisa jaga pola makan dan nurut sama saran gizi.


3

Ngerti soal gizi juga bisa bikin orang lebih cepat sadar kalau ada yang

salah sama kebiasaan makannya atau kurang gerak. Di SMA Negeri satu

Kabila, Kabupaten Bonebolango, ada sekitar seribu tiga ratus sebelas remaja

umur lima belas sampai tujuh belas tahun. Usia segini rentan kena masalah

gizi, apalagi kalau mereka makannya sembarangan dan belum ngerti

pentingnya gizi. Jadi, penting banget kasih pemahaman soal gizi supaya

mereka tetap sehat dan gizi seimbang (Roring, 2020).

Dari pengamatan awal, sebagian remaja di sana ternyata masih punya

pola makan yang kurang bagus. Terutama kalau mereka belum ngerti soal gizi

dan belum terbiasa milih makanan yang sehat. Dari survei kecil ke lima siswa

SMA Negeri satu Kabila, kelihatan kalau pola makan mereka masih kurang

sehat. Hal ini disebabkan sama kebiasaan makan yang sembarangan, terlalu

banyak cemilan, dan jarang makan sayur.

B. Rumusan Masalah

Apakah siswa di SMA Negeri 1 Kabila, Kabupaten Bone Bolango punya

pengetahuan tentang gizi dan bagaimana pola konsumsi makan mereka?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan

antara pengetahuan tentang gizi dan kebiasaan makan dengan status gizi siswa

dan siswi di SMA Negeri satu Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Penelitian

ini juga bertujuan untuk melihat seberapa paham mereka soal gizi, bagaimana

pola makan sehari-hari mereka, serta bagaimana kondisi gizi mereka. Selain

itu, penelitian ini ingin mengetahui apakah ada kaitan antara kebiasaan makan
4

dan status gizi, serta antara pengetahuan gizi dan status gizi siswa dan siswi di

sekolah tersebut.
5

D. Ruang Lingkup

Penelitian ini punya tujuan buat lihat apakah ada hubungan antara seberapa

paham siswa dan siswi soal gizi dan kebiasaan makan mereka dengan kondisi

gizi yang mereka punya di SMA Negeri satu Kabila, Kabupaten Bone

Bolango. Penelitian ini juga pengen tahu seberapa jauh pengetahuan mereka

tentang gizi, gimana pola makan mereka sehari-hari, dan gimana kondisi

gizinya. Selain itu, penelitian ini juga mau cari tahu apakah pola makan

berpengaruh ke status gizi mereka, dan apakah pengetahuan soal gizi juga ada

hubungannya sama kondisi gizi mereka

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini secara teori bisa nambah informasi dan pengetahuan tentang

kaitan antara pemahaman soal gizi dan kebiasaan makan dengan kondisi gizi

siswa di SMA Negeri satu Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Secara praktik,

hasil penelitian ini diharapkan bisa jadi bahan edukasi buat sekolah, supaya

siswa lebih paham pentingnya gizi dan pola makan yang baik. Buat

masyarakat, penelitian ini juga bisa bantu ningkatin kesadaran kalau

pengetahuan gizi dan pola makan sehat itu penting, biar bisa mencegah

masalah gizi yang kurang atau berlebih. Sementara buat peneliti sendiri,

penelitian ini bisa jadi pengalaman dan nambah wawasan soal topik ini, dan

mungkin juga bisa jadi dasar atau referensi buat penelitian selanjutnya.
6

F. Keaslian Penelitian

Penelitian dari Permadina Kanah dan Ariska Novera Hardiani yang dilakukan

tahun dua ribu dua puluh membahas soal kaitan antara pengetahuan tentang gizi

dan pola makan dengan kondisi gizi pada mahasiswa di bidang kesehatan. Mereka

pakai metode deskriptif dan fokus pada dua hal utama, yaitu seberapa paham

mahasiswa soal gizi dan gimana pola makan mereka, lalu dikaitkan dengan status

gizinya. Hasilnya nemuin bahwa ada hubungan yang kuat antara pengetahuan dan

pola makan dengan kondisi gizi. Penelitian ini mirip sama yang saya buat karena

sama-sama ngebahas hubungan antara pengetahuan gizi dan kebiasaan makan

dengan kondisi gizi remaja, tapi beda dari segi tempat, siapa yang diteliti, dan

juga metode penelitiannya. Lalu, penelitian dari Mariska Selviana Charina di

tahun dua ribu dua puluh dua juga hampir sama. Dia ngambil sampel dari

mahasiswa kedokteran di Universitas Nusa Cendana dan ngelihat apakah

pengetahuan dan kebiasaan makan berpengaruh ke status gizi mereka. Hasilnya

juga nunjukin ada hubungan antara dua variabel itu dengan gizi mahasiswa.

Walaupun isinya serupa, tetap ada perbedaan dari lokasi dan jenis responden yang

diteliti. Sementara itu, Annisa Wulandari juga pernah neliti hal yang mirip di

tahun dua ribu dua puluh, tapi fokusnya cuma ke hubungan antara seberapa paham

mahasiswa soal gizi dengan kondisi gizi mereka, tanpa ngelibatin pola makan

sebagai variabel. Dia pakai pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional,

dan hasilnya nunjukin kalau pengetahuan gizi aja belum tentu bikin status gizi jadi

bagus. Jadi meskipun mahasiswa tahu soal gizi, belum tentu mereka punya

kondisi gizi yang baik. Persamaannya dengan penelitian ini adalah sama-sama
7

pakai metode kuantitatif dan desain pengamatan sekali waktu, tapi beda karena

yang dia teliti cuma satu variabel aja, yaitu pengetahuan gizi, tanpa ngaitin sama

pola makan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

Penelitian dari Permadina Kanah dan Ariska Novera Hardiani pada tahun dua

ribu dua puluh membahas tentang hubungan antara pengetahuan gizi dan

kebiasaan makan dengan kondisi gizi mahasiswa jurusan kesehatan. Hasil

penelitian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang tahu lebih banyak

tentang gizi dan punya kebiasaan makan yang lebih baik cenderung memiliki

status gizi yang juga baik. Penelitian ini mirip dengan penelitian yang sekarang

karena sama-sama membahas hal yang berhubungan dengan gizi, tetapi berbeda

dari segi tempat, jumlah dan jenis responden, serta metode yang digunakan. Selain

itu, penelitian dari Mariska Selviana Charina tahun dua ribu dua puluh dua juga

melihat hubungan antara wawasan gizi dan pola makan dengan kondisi gizi

mahasiswa kedokteran. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua hal tersebut memang

berkaitan dengan status gizi mahasiswa. Meski topiknya hampir sama, ada

perbedaan dari lokasi penelitian dan siapa yang diteliti. Penelitian lainnya dari

Annisa Wulandari tahun dua ribu dua puluh dilakukan di Universitas IBN

Khaldun Bogor. Peneliti ini hanya fokus pada hubungan pengetahuan tentang gizi

dengan status gizi. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa punya

pemahaman yang cukup baik tentang gizi, hal itu belum tentu membuat kondisi

gizinya ikut baik. Penelitian ini berbeda karena tidak membahas pola makan

sebagai salah satu faktor.

8
9

B. Landasan Teori

1. Pengetahuan gizi

Pengetahuan tentang gizi adalah pemahaman seseorang mengenai

apa saja kandungan dalam makanan dan bagaimana hal itu bisa berdampak

pada tubuh dan kesehatan. Pengetahuan ini mencakup berbagai zat yang

diperlukan tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral,

serta manfaatnya bagi kesehatan. Bila seseorang memahami hal ini dengan

baik, mereka akan lebih bijak dalam memilih makanan dan bisa terhindar

dari berbagai gangguan kesehatan seperti berat badan berlebih, gula darah

tinggi, maupun gangguan jantung. Pengetahuan gizi juga memengaruhi

cara seseorang bersikap terhadap makanan, termasuk kebiasaan makannya.

Hal ini sangat penting terutama bagi remaja, karena mereka sedang berada

di masa tumbuh yang cepat. Di usia ini, mereka sering terpapar makanan

cepat saji atau jajanan yang kurang sehat. Kalau tidak punya pemahaman

yang cukup soal gizi, mereka cenderung memilih makanan yang hanya

tinggi kalori tapi minim manfaat bagi tubuh, yang akhirnya bisa

mengganggu kondisi gizinya. Karena itu, dibutuhkan edukasi gizi yang

baik di sekolah supaya remaja punya bekal untuk memilih makanan yang

tepat dan menjaga kesehatannya di masa depan (Aulia, 2021).

Gizi juga punya banyak fungsi penting buat tubuh. Salah satunya

sebagai sumber tenaga yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari.

Karbohidrat akan diubah tubuh jadi glukosa, yaitu bahan bakar utama

untuk berpikir dan bergerak. Makanan seperti nasi, roti, dan buah-buahan
10

mengandung karbohidrat yang bisa jadi sumber energi. Karbohidrat

kompleks dari biji-bijian juga membantu memberi tenaga yang lebih tahan

lama. Selain itu, lemak dan protein juga punya peran yang sama. Lemak,

meskipun tinggi kalori, tetap dibutuhkan untuk membantu penyerapan

vitamin dan menjaga fungsi tubuh. Lemak sehat bisa didapat dari minyak

nabati, ikan, dan alpukat. Protein juga berguna sebagai bahan pembangun,

dan kalau asupan karbohidrat kurang, protein bisa diubah jadi energi.

Karena itu, penting untuk makan seimbang sejak pagi hari agar tubuh tetap

bertenaga (Sma & Muaro, 2016).

Gizi juga sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan

perkembangan remaja. Masa ini adalah waktu di mana tubuh banyak

mengalami perubahan, mulai dari tinggi badan yang bertambah cepat,

massa otot meningkat pada laki-laki, dan lemak tubuh lebih banyak pada

perempuan. Organ-organ reproduksi juga mulai berkembang, menandai

peralihan menuju usia dewasa. Selain fisik, remaja juga mengalami

perkembangan dari sisi emosi dan sosial. Mereka mulai mencari jati diri,

lebih dekat dengan teman sebaya, dan mulai mandiri dari orang tua. Ini

semua bisa memengaruhi kesehatan mental dan cara mereka melihat diri

sendiri. Kecerdasan juga ikut berkembang di masa ini. Karena itu, remaja

butuh dukungan dari keluarga, lingkungan sekolah, dan masyarakat agar

bisa tumbuh sehat secara fisik maupun mental (Mirania, 2024).

Fungsi lain dari gizi adalah membantu tubuh memperbaiki jaringan

yang rusak. Kalau tubuh terluka atau kena infeksi, ada proses alami di
11

dalam tubuh yang bekerja untuk memperbaiki bagian yang rusak. Sel-sel

tertentu akan membersihkan luka dan memperbaiki jaringan tersebut.

Proses ini melibatkan banyak hal, seperti zat yang bisa mempercepat

penyembuhan dan membentuk jaringan baru agar bisa berfungsi lagi

seperti semula. Proses ini penting agar tubuh tetap sehat dan bisa pulih

dengan baik bila mengalami gangguan (Masyarakat, 2016).

Selain itu, gizi juga membantu kerja tubuh secara menyeluruh,

termasuk dalam proses metabolisme dan fungsi organ. Di masa remaja,

tubuh butuh banyak energi karena sedang aktif tumbuh. Proses

metabolisme membantu mengubah makanan jadi tenaga dan menunjang

semua aktivitas tubuh, termasuk kerja otak dan otot. Karena itulah, remaja

perlu makan cukup dan seimbang supaya tetap bugar, semangat belajar,

dan bisa beraktivitas dengan baik setiap hari (Bawana, 2021).

2. Remaja

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang ditandai

dengan banyak perubahan, seperti tubuh yang semakin tinggi hingga bisa

bertambah sekitar dua puluh lima sentimeter, bentuk badan mulai berubah, serta

datangnya menstruasi bagi perempuan. Di usia ini juga mulai muncul ketertarikan

secara seksual yang punya pengaruh besar dalam kehidupan remaja putri.

Berdasarkan pembagian dari WHO, remaja dibedakan menjadi dua kelompok,

yaitu remaja awal usia dua belas sampai enam belas tahun dan remaja akhir usia

tujuh belas sampai dua puluh lima tahun. Dari hasil analisis diketahui bahwa lima

puluh delapan orang atau sekitar tiga puluh delapan koma tujuh persen berada di
12

kategori remaja awal, sementara sembilan puluh dua orang atau enam puluh satu

koma tiga persen masuk dalam kelompok remaja akhir. Perkembangan remaja

adalah masa penting dalam hidup seseorang yang membawa banyak perubahan

besar, baik dari segi fisik, perasaan, hubungan sosial, maupun cara berpikir.

Tubuh mereka bertumbuh cepat, alat reproduksi mulai berkembang, dan pubertas

terjadi. Dari sisi emosional, remaja mulai mencari jati diri, belajar memahami

perasaannya, dan mengenali siapa dirinya. Di sisi sosial, mereka mulai menjalin

hubungan lebih luas dengan teman sebaya dan mulai menghadapi perubahan

dalam cara bergaul. Pikiran mereka juga makin berkembang, bisa berpikir lebih

dalam, menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan sendiri. Mereka juga

mulai memahami nilai-nilai moral dan belajar memikirkan akibat dari

tindakannya. Supaya remaja bisa menghadapi masa ini dengan baik, peran orang

tua, guru, dan lingkungan sekitar sangat penting untuk memberikan bimbingan

yang tepat. Di sisi lain, masalah gizi pada remaja juga perlu diperhatikan karena

tubuh mereka sedang tumbuh cepat dan butuh asupan yang cukup. Kekurangan

protein bisa menghambat pertumbuhan, menurunkan daya tahan tubuh, dan bikin

mudah lelah. Ketidakseimbangan gizi juga bisa terjadi karena makanan yang

dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh, apalagi kalau remaja terlalu

aktif atau punya masalah kesehatan. Ada juga yang mengalami gizi ganda, seperti

terlalu kurus atau sebaliknya kelebihan berat badan, dan ini bisa memicu berbagai

gangguan kesehatan serta mengganggu kualitas hidup mereka. Kebiasaan makan

yang tidak sehat juga sering terjadi, misalnya terlalu sering makan makanan cepat

saji, makanan tinggi gula dan lemak, serta minuman bersoda yang rendah gizi.
13

Padahal di masa ini, tubuh remaja sangat butuh gizi yang cukup, terutama energi

dan protein, supaya pertumbuhannya berjalan lancar dan tidak mudah sakit.

3. Status Gizi

Status gizi seseorang menggambarkan apakah kebutuhan tubuhnya sudah

terpenuhi dengan baik atau belum. Keseimbangan antara zat gizi yang dimakan

dan apa yang dibutuhkan tubuh sangat penting agar tubuh bisa bekerja dengan

baik setiap hari. Jika tubuh mendapat cukup gizi, maka status gizinya bisa

dikatakan baik. Untuk menilai status gizi, biasanya dilakukan pengukuran fisik

seperti berat badan, tinggi badan, dan perhitungan indeks massa tubuh atau IMT.

IMT ini sering dipakai pada anak, remaja, maupun orang dewasa, dan hasilnya

tergantung juga pada usia karena bentuk dan komposisi tubuh ikut berubah seiring

bertambahnya umur. Salah satu cara mengetahui kondisi gizi seseorang adalah

dengan menghitung IMT, yaitu membagi berat badan dalam kilogram dengan

tinggi badan dalam meter kuadrat. Selain itu, ukuran lingkar lengan atas juga

sering digunakan, terutama untuk melihat apakah seseorang mengalami

kekurangan energi kronis. Penimbangan rutin, pengukuran tinggi badan, dan

ukuran lingkar pinggang juga bisa membantu melihat kondisi gizi secara

keseluruhan, apalagi kalau dikaitkan dengan risiko penyakit seperti diabetes atau

kolesterol. Mengetahui status gizi secara rutin bisa membantu seseorang menjaga

kesehatannya dan mencegah masalah gizi sejak dini. Sementara itu, status gizi

pada remaja bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Misalnya, pola makan yang tidak

sehat seperti terlalu sering makan junk food bisa bikin kelebihan berat badan atau

sebaliknya malah kurang gizi. Aktivitas fisik juga punya pengaruh besar, karena
14

kalau remaja jarang bergerak atau olahraga, lemak bisa menumpuk di tubuh.

Pengeluaran energi yang tidak sesuai dengan kebutuhan juga bisa membuat gizi

jadi terganggu. Gaya hidup yang kurang baik, seperti sering begadang, merokok,

atau sering jajan makanan sembarangan juga bisa bikin status gizi jadi tidak ideal.

Selain itu, lingkungan sekitar seperti keluarga, teman, dan sekolah juga ikut

berpengaruh, karena bisa membentuk kebiasaan makan dan aktivitas remaja

sehari-hari. Oleh karena itu, remaja sebaiknya mulai menjaga asupan

makanannya, lebih aktif bergerak, dan menjalani gaya hidup sehat supaya

tubuhnya tetap bugar dan kebutuhan gizinya terpenuhi dengan baik.

4. Pola Konsumsi dengan Status Gizi pada Remaja

Pola makan mencakup jenis makanan yang dikonsumsi, seberapa banyak

porsinya, seberapa sering dikonsumsi, serta waktu saat makan dilakukan. Banyak

hal bisa memengaruhi kebiasaan ini, seperti latar belakang budaya, keadaan sosial,

gaya hidup, dan kebiasaan yang ada di sekitar, termasuk di keluarga, sekolah,

teman sebaya, dan seberapa paham seseorang tentang gizi. Semua itu bisa

berdampak pada risiko munculnya penyakit tertentu, terutama penyakit yang

berkembang perlahan seperti diabetes atau jantung. Di sisi lain, status gizi

menggambarkan kondisi tubuh seseorang dilihat dari seimbang atau tidaknya

antara makanan yang masuk ke tubuh dan kebutuhan tubuhnya untuk berfungsi

normal. Kebutuhan gizi setiap orang berbeda-beda, tergantung pada umur, jenis

kelamin, aktivitas harian, berat badan, dan kondisi tubuh masing-masing. Asupan

makanan yang sesuai sangat penting untuk menunjang tumbuh kembang,

khususnya perkembangan otak. Keseimbangan ini penting di semua tahap


15

kehidupan, mulai dari janin dalam kandungan sampai usia lanjut. Status gizi bisa

dilihat dari apa yang dimakan dan seberapa baik tubuh menggunakan zat gizi

tersebut. Secara umum, status gizi dibagi jadi tiga, yaitu kurang, normal, dan

berlebihan. Ada beberapa hal yang membuat remaja punya kebiasaan makan

tertentu. Salah satunya adalah pengaruh dari keluarga, terutama dari penghasilan

dan kebiasaan yang sudah ditanamkan sejak kecil. Kalau keluarga punya cukup

dana dan pengetahuan yang baik, biasanya mereka punya pilihan makanan yang

lebih sehat. Selain itu, teman sebaya juga punya peran besar. Banyak remaja

makan apa yang biasa dimakan teman-temannya. Selain itu, waktu yang tersedia

untuk menyiapkan makanan sehat dan aktivitas fisik juga berpengaruh. Kalau

dilihat dari dampaknya, cara makan remaja bisa berdampak besar pada tubuh dan

pikiran mereka. Makanan yang tidak seimbang, misalnya terlalu sering makan

cepat saji tapi jarang makan buah dan sayur, bisa bikin tubuh kekurangan zat

penting, dan ini bisa menyebabkan masalah seperti tubuh terlalu kurus, terlalu

gemuk, bahkan gangguan pertumbuhan. Tidak cuma itu, kekurangan gizi juga

bisa bikin sulit fokus belajar, gampang lupa, bahkan berdampak ke kondisi mental

seperti stres dan rasa cemas. Oleh karena itu, penting untuk membentuk kebiasaan

makan yang baik sejak remaja supaya tumbuh kembangnya optimal. Pengetahuan

tentang gizi juga punya hubungan yang kuat dengan status gizi. Semakin tinggi

pemahaman seseorang tentang gizi, biasanya semakin bagus juga pilihan

makanannya. Tapi, tahu soal gizi saja tidak cukup, karena kadang masih ada

pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan teman, yang bisa

mengganggu kebiasaan makan sehat. Meskipun begitu, semakin baik pengetahuan


16

seseorang tentang makanan bergizi, biasanya makin baik pula kondisi gizinya. Hal

ini menunjukkan pentingnya edukasi gizi sejak dini untuk mendukung kesehatan

remaja secara menyeluruh.

C. Kerangka Teori

Pengetahuan Gizi Remaja

- Makanan Sehat
- Pengolahan Bahan Makanan
- Gaya Hidup

Status Gizi

Pola Konsumsi

- Asupan Makanan Remaja


- Frekuensi Makanan
- Jenis Makanan

Gambar 1. Kerangka Teori


Sumber : Peka Yani Lestari 2022

D. Kerangka Konsep

Pengetahuan Gizi Remaja


- Makanan Sehat
- Pengolahan Bahan Pola Konsumsi
Makanan - Asupan Makanan
- Gaya Hidup Remaja
- Frekuensi Status
Makanan Gizi
Sosial Ekonomi - Jenis Makanan
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Pendapatan Keluarga
- Pengeluaran Keluarga
17

Gambar 2. Kerangka Konsep


Keterangan:

: Variabel Independen
: Variabel Dependen
: Variabel yang tidak diteliti

E. Hipotesis Penelitian

Dalam penelitian ini, dugaan awal atau hipotesis alternatif (Ha)

menyatakan bahwa ada kaitan antara seberapa paham siswa dan siswi soal gizi

serta kebiasaan makan mereka dengan kondisi gizinya. Sementara itu, dugaan

nol atau hipotesis nol (Ho) bilang kalau nggak ada hubungan antara

pengetahuan tentang gizi dan pola makan dengan status gizi pada siswa dan

siswi di SMA Negeri 1 Kabila, Kabupaten Bone Bolango.

BAB III

METODE PENELITAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini masuk dalam jenis kuantitatif dan pakai pendekatan potong

lintang atau cross sectional. Artinya, semua data dikumpulkan dalam satu

waktu tanpa perlu pengamatan berulang. Peneliti cuma mau lihat apakah ada

hubungan antara pengetahuan soal gizi dan kebiasaan makan siswa dengan

kondisi gizinya, tanpa ngasih perlakuan apa pun ke responden. Jadi, tujuan dari

penelitian ini adalah buat tahu apakah siswa-siswi di SMA Negeri 1 Kabila
18

Kabupaten Bone Bolango yang paham soal gizi dan punya pola makan tertentu,

punya status gizi yang lebih baik atau nggak.

B. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kabila yang beralamat di

Jalan Oluhuta, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Kegiatan

pengumpulan data dilakukan pada hari Selasa, tanggal dua puluh empat Juni

tahun dua ribu dua puluh lima.

C. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel bebas atau variabel yang

memengaruhi adalah pengetahuan tentang gizi dan kebiasaan makan siswa.

Sementara itu, variabel terikat atau variabel yang dipengaruhi adalah status

gizi yang dimiliki oleh siswa dan siswi. Artinya, penelitian ini ingin melihat

apakah tingkat pemahaman siswa soal gizi dan pola makan mereka bisa

berpengaruh terhadap kondisi gizi tubuh mereka.


19

D. Defenisi Opersional
20

Penelitian ini menggunakan tiga variabel utama, yaitu tingkat pengetahuan

gizi, pola konsumsi makanan, dan status gizi. Tingkat pengetahuan diartikan

sebagai seberapa paham responden terhadap informasi tentang gizi. Penilaian

ini dilihat dari hasil jawaban mereka pada kuesioner yang berisi pertanyaan

tentang status gizi, zat iodium, dan fungsi zat gizi makro seperti karbohidrat,

protein, serta lemak. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner dengan

pilihan jawaban. Skor dinyatakan baik jika responden menjawab benar

sebanyak tujuh puluh enam persen hingga seratus persen, dan dianggap cukup

jika nilainya di bawah tujuh puluh lima persen, berdasarkan klasifikasi dari

Sumartini tahun dua ribu sembilan belas. Jenis skala yang dipakai adalah

ordinal.

Sementara itu, pola konsumsi menggambarkan kebiasaan makan remaja,

yang mencakup jenis makanan yang sering dikonsumsi, seberapa sering

makan dalam sehari, serta jumlah porsi makan selama satu minggu. Data ini

dikumpulkan dengan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ).

Hasil penilaiannya dinyatakan baik jika skor FFQ lebih dari atau sama dengan

delapan ratus tiga puluh lima poin, dan dianggap kurang baik jika skornya di

bawah angka tersebut, mengacu pada pedoman dari Dian Sofia tahun dua ribu

dua puluh empat. Skala yang digunakan juga termasuk skala ordinal.
21

Adapun status gizi menunjukkan keadaan tubuh yang dipengaruhi oleh

asupan makanan dan bisa diketahui dengan mengukur berat badan, tinggi

badan, dan umur responden menggunakan alat timbang dan microtoise. Data

hasil pengukuran kemudian dinilai berdasarkan indeks massa tubuh (IMT).

Status gizi dikategorikan baik jika berada pada kisaran minus dua SD sampai

plus satu SD, dan dikatakan lebih jika nilainya antara plus satu SD sampai

plus dua SD, sesuai dengan standar dari Kementerian Kesehatan tahun dua

ribu dua puluh. Skala pengukuran pada variabel ini juga bersifat ordinal.
E. Populasi dan Tempat

Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa yang terdaftar di SMA

Negeri 1 Kabila, Kabupaten Gorontalo, dengan jumlah total sebanyak seribu tiga

ratus sebelas orang. Dari populasi tersebut, peneliti mengambil sebagian siswa

sebagai responden penelitian dengan menggunakan metode simple random

sampling, yaitu teknik pengambilan sampel secara acak di mana setiap siswa

punya kesempatan yang sama untuk dipilih. Berdasarkan perhitungan dan

pertimbangan tertentu, jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini

ditetapkan sebanyak sembilan puluh tiga orang siswa aktif. Penentuan siapa saja

yang masuk dalam sampel dilakukan berdasarkan beberapa syarat atau kriteria

yang telah ditetapkan. Untuk kriteria inklusi, yaitu yang boleh ikut penelitian,

adalah siswa yang berusia antara lima belas sampai tujuh belas tahun, masih aktif

bersekolah di SMA 1 Kabila, bersedia menjadi responden, serta dalam keadaan

sehat baik secara fisik maupun mental. Sementara itu, untuk kriteria eksklusi,

yaitu siswa yang tidak dimasukkan sebagai sampel, adalah mereka yang sedang

sakit, tidak bisa berdiri atau tidak bisa diukur tinggi badannya, serta siswa yang

menolak ikut dalam penelitian. Teknik simple random sampling dipilih karena

memberi kesempatan yang adil bagi seluruh anggota populasi untuk terpilih

menjadi bagian dari sampel selama memenuhi syarat yang ditentukan


F. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, jenis data yang digunakan terbagi menjadi dua, yaitu

data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari

responden melalui wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran

antropometri. Informasi yang dikumpulkan meliputi identitas responden,

seberapa sering mereka mengonsumsi makanan tertentu, serta tingkat

pengetahuan mereka tentang gizi. Sementara itu, data sekunder diperoleh

secara tidak langsung, biasanya dari dokumen atau catatan yang sudah ada

sebelumnya. Data sekunder yang dimaksud dalam penelitian ini berupa jumlah

keseluruhan siswa serta informasi umum mengenai lokasi tempat penelitian

dilakukan.

Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data terdiri dari beberapa cara.
Data utama diperoleh langsung dari responden menggunakan alat ukur yang sudah
disiapkan sebelumnya. Instrumen yang digunakan antara lain kuesioner
pengetahuan gizi dan formulir Food Frequency Questionnaire (FFQ). Selain itu,
pengukuran antropometri seperti berat badan dan tinggi badan juga dilakukan
untuk menghitung indeks massa tubuh (IMT), yang kemudian digunakan untuk
menentukan status gizi berdasarkan standar WHO. Teknik FFQ juga dipakai
untuk mengetahui lebih detail kebiasaan makan remaja dengan mencatat jenis
makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam waktu dua puluh empat jam
terakhir. Gabungan dari teknik-teknik ini memberikan data yang lengkap dan
saling melengkapi, sehingga bisa memberikan gambaran yang menyeluruh tentang
hubungan antara pengetahuan gizi, pola makan, dan status gizi pada remaja.
G. Alat Ukur/Instrumen dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini berfungsi untuk mengumpulkan

data dari responden. Instrumen yang dipakai terdiri dari dua jenis, yaitu

kuesioner pengetahuan gizi dan kuesioner pola konsumsi makanan. Untuk

mengukur pemahaman siswa tentang gizi, digunakan kuesioner yang berisi

pertanyaan-pertanyaan terkait pengetahuan dasar gizi. Jawaban yang benar

akan diberi nilai lima, sedangkan jawaban salah nilainya nol. Jumlah soal ada

dua puluh, jadi nilai tertinggi yang bisa diperoleh adalah seratus. Penilaian

dikategorikan sebagai pengetahuan baik jika siswa mendapatkan skor antara

enam puluh hingga seratus persen, sedangkan jika skornya di bawah enam

puluh persen, maka termasuk dalam kategori pengetahuan cukup.


H. Prosedur Penelitian

Tahap pertama dalam penelitian ini adalah tahap persiapan. Langkah awal

yang dilakukan peneliti yaitu memilih lokasi penelitian, yang dalam hal ini

adalah SMA Negeri 1 Kabila di Kabupaten Bone Bolango. Setelah lokasi

ditentukan, peneliti menghubungi pihak sekolah serta pihak berwenang setempat

untuk mengurus perizinan. Selanjutnya, peneliti menyerahkan surat izin dari

kampus kepada pihak sekolah sambil menjelaskan maksud dan tujuan dari

penelitian ini. Peneliti juga meminta izin langsung kepada kepala sekolah untuk

melaksanakan penelitian, sekaligus meminta kontak salah satu wali kelas agar

dapat membantu peneliti menjembatani komunikasi dengan siswa yang akan

menjadi responden.

Tahap kedua yaitu pelaksanaan penelitian. Pada tahap ini, kegiatan diawali

dengan pengenalan, di mana peneliti mengumpulkan nomor handphone para

siswa untuk dimasukkan ke dalam grup WhatsApp khusus penelitian. Setelah

itu, peneliti mulai menjelaskan maksud, tujuan, dan prosedur penelitian kepada

para siswa. Siswa yang bersedia ikut serta akan diminta menandatangani lembar

persetujuan sebagai responden (informed consent). Setelah itu, peneliti

memandu responden untuk melakukan pengukuran berat dan tinggi badan

sebagai dasar untuk melihat status gizi. Kemudian peneliti membagikan

kuesioner dan memberi arahan cara mengisinya kepada para responden yang

telah sesuai dengan kriteria inklusi. Selama proses pengisian, peneliti akan tetap

mendampingi agar jika ada kesulitan, responden bisa langsung bertanya. Setelah

semua kuesioner selesai diisi, peneliti akan mengecek kelengkapannya, lalu data

akan dikumpulkan dan disiapkan untuk dianalisis.


Tahap terakhir adalah terminasi. Pada bagian ini, peneliti mengumpulkan

kembali kuesioner yang sudah diisi dan menyampaikan terima kasih kepada

semua responden yang telah ikut serta. Sebagai bentuk penghargaan, peneliti

memberikan souvenir kepada responden. Peneliti juga melakukan dokumentasi

kegiatan sebagai bukti bahwa penelitian telah dilakukan di sekolah tersebut.

I. Manajemen DataAnalisis Data

Pengumpulan data adalah langkah penting dalam penelitian yang

dilakukan dengan cara mendekati dan mengumpulkan informasi dari

responden sesuai dengan kebutuhan penelitian. Proses ini dilakukan setelah

peneliti mendapatkan izin resmi dari pihak SMA Negeri 1 Kabila Kabupaten

Bone Bolango dan juga dari Politeknik Kesehatan Gorontalo. Setelah itu,

peneliti melakukan perkenalan singkat dengan menyampaikan identitas diri,

tujuan, dan manfaat dari penelitian yang akan dilakukan. Semua responden

yang dipilih telah memberikan persetujuan untuk ikut serta. Teknik

pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling, yaitu

dengan mengambil nama-nama secara acak dari daftar hadir siswa yang sesuai

dengan syarat yang sudah ditentukan dalam kriteria inklusi dan eksklusi.

Responden yang terpilih dan bersedia akan dilibatkan dalam pengambilan

data.

Setelah data terkumpul, tahap berikutnya adalah mengolah data tersebut agar bisa
dianalisis. Pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama adalah
editing, yaitu memeriksa kembali data yang telah dikumpulkan dari lapangan
untuk memastikan tidak ada bagian yang kosong atau belum diisi. Selanjutnya
adalah coding, yaitu memberi tanda berupa angka pada jawaban responden yang
telah dikelompokkan. Untuk variabel pengetahuan gizi, jawaban benar diberi kode
satu dan jawaban salah diberi nol. Untuk pola konsumsi makanan, kode yang
digunakan adalah nol untuk tidak pernah, satu untuk dua kali dalam sebulan, tiga
untuk tiga sampai enam kali seminggu, empat untuk satu kali sehari, dan lima
untuk tiga kali atau lebih dalam sehari. Sementara itu, untuk status gizi, kategori
gizi kurang diberi kode sesuai nilai Z-score antara minus tiga SD hingga kurang
dari minus dua SD, gizi baik antara minus dua SD sampai plus satu SD, gizi lebih
dari plus satu SD sampai plus dua

a. Analisis Data Univariat

Analisis univariate pada penelitian ini dilakukan untuk

mendeskripsikan karakterstik masing-masing variable secara terpisah.

Data yang mengenai pengetahuan gizi, pola konsumsi, dan status gizi

dianalisis untuk mengetahui distribusi frekuensi, persentase, rata-rata, atau

nilai tengah (median) setiap variabel. Variabel pengetahuan gizi biasanya

di ukur berdasarkan indikator indeks masa tubuh (IMT) atau pengukuran

antrometri (gizi baik, kurang, lebih). Hasil analisis univariat ini bertujuan

untuk memberikan gambaran umum mengenai profil responden sebelum

di lakukan analisis bivariat untuk melihat hubungan antar veriabel.

b. Analisis Data Bivariat

Analisis bivariate dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua

veriabel, dalam hal ini antara pengetahuan gizi dan pola konsumsi

(variabel indenpenden) dengan status gizi (variabel dependen) pada siswa.

Hasil analisis bivariat ini akan menunjukan apakah terdapat hubungan

yang signifikan secara statistic, dengan melihat nilai p-value. Data hasil uji

disajikan dalam bentuk table mencatumkan distribusi frekuensi, nilai chi-

square, dan tingkat signifikan untuk mendukung interpretasi hasil

penelitian. Analisis bivariat dalam penelitian ini menggunakan uji chi

square dengan saraf signifikan yaitu α (0,05).


1) Apabila nilai p > α (0,05) maka H 0 di terima, Ha di tolak berarti tidak

ada hubungan antara pengetahuan gizi dan pola konsumsi.

2) Apa bila nilai p < α (0,05, maka H 0 diterima yang berarti ada

hubuangan antara kepatuhan hubungan pengetahuan dengan pola

konsumsi

J. Etika Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian, ada beberapa hal penting yang harus

diperhatikan terkait dengan etika. Pertama, peserta penelitian harus

mendapatkan penjelasan yang lengkap dan mudah dipahami mengenai tujuan

penelitian, langkah-langkah yang akan dilakukan, kemungkinan risiko yang

bisa terjadi, manfaat dari penelitian, serta hak-hak mereka sebagai responden.

Kedua, kerahasiaan data harus dijaga. Informasi yang diberikan oleh peserta

tidak boleh dibagikan ke pihak lain tanpa izin mereka, termasuk identitas

pribadi yang harus dirahasiakan. Ketiga, peneliti harus bersikap netral dan

tidak memihak. Seluruh data yang didapat harus diolah dan dijelaskan secara

jujur, tanpa mengubah hasil untuk kepentingan tertentu. Kesimpulan pun

harus sesuai dengan fakta yang ditemukan di lapangan. Keempat, semua

peserta harus diperlakukan secara adil tanpa membeda-bedakan, baik itu

berdasarkan suku, agama, ras, jenis kelamin, maupun latar belakang lainnya.

Peneliti harus menghargai setiap responden sebagai bagian penting dari

proses penelitian.

K. Kelemahan Peneliti

Penelitian ini masih punya kekurangan karena beberapa hal dari peneliti

sendiri. Waktu ngumpulin data, ada beberapa siswa yang ngisi kuesioner
dengan jawaban yang sama. Kemungkinan karena mereka lagi sibuk, jadi

akhirnya niru jawaban temannya. Hal ini bisa bikin hasil data jadi kurang

tepat.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

SMA Negeri 1 Kabila adalah salah satu sekolah menengah atas yang

berada di Kelurahan Oluhuta, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango,

Provinsi Gorontalo. Sekolah ini resmi berdiri pada tanggal satu Agustus tahun

seribu sembilan ratus enam puluh lima berdasarkan Surat Keputusan Menteri

P.D dan K. No. 99/S.K/B/III/65-66. Pendirian sekolah ini merupakan jawaban

atas kebutuhan masyarakat saat itu yang ingin melanjutkan pendidikan ke

jenjang lebih tinggi setelah lulus SMP. Pada waktu itu, banyak siswa dari

Kabila, Suwawa, dan daerah sekitarnya tidak bisa lanjut ke sekolah atas di Kota

Gorontalo karena berbagai kendala, seperti jarak yang jauh, transportasi yang

sulit, dan terbatasnya daya tampung sekolah di kota. Awalnya, SMA ini hanya

punya delapan ruang kelas dengan ukuran delapan kali tujuh meter persegi, dan

dua ruangan untuk kepala sekolah serta bagian tata usaha berukuran sembilan

kali lima meter persegi. Meskipun kondisi fasilitas terkini tidak dijelaskan secara

rinci dalam dokumen, melihat usia sekolah ini yang sudah lebih dari lima puluh

tahun dan perannya yang cukup besar, kemungkinan besar sekolah ini sekarang

sudah memiliki sarana belajar yang lebih lengkap seperti laboratorium,

perpustakaan, dan fasilitas berbasis teknologi.

B. Hasil Penelitian
1. Identifikasi Umur Responden

Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Umur


No Umur Frekuensi Persentase

1 14 1 1.1%
2 15 25 26.9%
3 16 42 45.4%
4 17 19 20.4%
5 18 6 6.5%

Total 93 100%

Sumber : Data Primer, Tahun 2025

Dari tabel enam bisa dilihat bahwa sebagian besar peserta berumur

enam belas tahun, yaitu sebanyak empat puluh dua orang atau sekitar

empat puluh lima persen. Selanjutnya, yang berusia lima belas tahun ada

dua puluh lima orang atau dua puluh enam koma sembilan persen. Diikuti

oleh responden berumur tujuh belas tahun sebanyak sembilan belas orang

atau dua puluh koma empat persen, dan yang berusia delapan belas tahun

ada enam orang atau enam koma lima persen. Sementara itu, yang paling

sedikit adalah peserta dengan usia empat belas tahun, hanya satu orang

atau satu koma satu persen


2. Identifikasi jenis kelamin responden

Tabel 7. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

1 Laki-Laki 34 36.6%
2 Perempuan 59 63.4%

Total 93 100%

Sumber : Data Primer, Tahun 2025

Berdasarkan tabel tujuh, terlihat bahwa jumlah responden laki-laki ada

tiga puluh empat orang atau sekitar tiga puluh enam koma enam persen.

Sementara itu, jumlah responden perempuan lebih banyak, yaitu lima puluh

sembilan orang atau enam puluh tiga koma empat persen.

3. Identifikasi pengetahuan gizi responden

No Kategori Frekuensi Persentase

1 Baik 65 69.9%
2 Cukup 28 30.1%

Total 93 100%

Sumber : Data Primer, Tahun 2025

Berdasarkan tabel delapan, bisa dilihat bahwa sebagian besar siswa dan

siswi di SMA Negeri 1 Kabila, Kabupaten Bone Bolango, memiliki

pengetahuan gizi yang baik, yaitu sebanyak enam puluh lima orang atau

sekitar enam puluh sembilan koma sembilan persen. Sementara itu, sisanya,

yaitu dua puluh delapan orang atau tiga puluh koma satu persen, memiliki

tingkat pengetahuan yang cukup.


4. Identifikasi pola makan responden

Tabel 9. Distribusi Responden Berdasarkan Pola Konsumsi


No Preferensi Makanan Frekuensi Persentase

1 Baik (≥835) 62 66.7%

2 Kurang baik (<835) 31 33.3%

Total 93 100%

Sumber : Data Primer, Tahun 2025

Berdasarkan tabel sembilan, diketahui bahwa sebagian besar siswa

dan siswi di SMA Negeri 1 Kabila, Kabupaten Bone Bolango memiliki

pola konsumsi yang baik, yaitu sebanyak enam puluh dua orang atau

sekitar enam puluh enam koma tujuh persen. Sementara itu, pola konsumsi

yang kurang baik ditemukan pada tiga puluh satu orang atau sebesar tiga

puluh tiga koma tiga persen.

5. Identifikasi status gizi

Tabel 10. Distribusi Responden Berdasarkan Status Gizi Remaja Siswa


Di SMA Negeri 1 Kabila
No Status Gizi Frekuensi Persentase

1 Gizi Baik 62 66.7%

2 Gizi Lebih 31 33.3%

Total 93 100%

Sumber : Data Primer, Tahun 2025

Berdasarkan tabel sepuluh, diketahui bahwa jumlah responden dalam

penelitian ini sebanyak sembilan puluh tiga siswa. Dari jumlah tersebut,

sebanyak enam puluh dua orang atau sekitar enam puluh enam koma tujuh

persen memiliki status gizi yang baik. Sedangkan sisanya, yaitu tiga puluh
satu orang atau tiga puluh tiga koma tiga persen termasuk dalam kategori

status gizi lebih.

6. Uji Statistik Hubungan Antara Pengetahuan Gizi Dengan Status Gizi Pada

Siswa SMA Negeri 1 Kabila Kabupaten Bone Bolango

Tabel 11. Distribusi Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Status Gizi


Status Gizi
Jumlah
Pengetahuan Gizi Gizi Baik Gizi Lebih P-Value

n % n % n %

Baik 39 41.9 26 28. 65 10


0 0
0,038
Cukup 23 24.7 5 5.4 28 10
0

Total 62 66.7 31 33. 93 10


3 0

Sumber : Data Primer, Tahun 2025

Berdasarkan tabel sebelas, hasil uji statistik menunjukkan nilai

signifikan sebesar nol koma nol tiga delapan. Ini berarti ada hubungan yang

bermakna antara variabel yang diteliti. Pada kategori kebiasaan makan yang

jarang, terdapat enam puluh lima siswa, di mana tiga puluh sembilan orang

memiliki status gizi baik, atau sekitar empat puluh satu koma sembilan

persen, dan dua puluh enam orang memiliki status gizi lebih, yaitu sekitar dua

puluh delapan persen. Sebaliknya, pada kelompok siswa yang memiliki

pengetahuan gizi, jumlahnya sebanyak dua puluh delapan orang. Dari jumlah

itu, dua puluh tiga orang atau sekitar dua puluh empat koma tujuh persen

memiliki status gizi baik, sementara lima orang atau lima koma empat persen

memiliki status gizi lebih.


7. Uji Statistik Hubungan Antara Pola Makan Dengan Status Gizi Pada

Siswa SMA Negeri 1 Kabila

Tabel 12. Distribusi Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi


Status Gizi
Jumlah
Pola Makan Gizi Baik Gizi Lebih P-Value

n % n % n %

Baik 37 39.8 25 26. 62 10


9 0
0,043
Kurang Baik 25 26.9 6 6.5 31 10
0

Total 62 66.7 31 33. 93 10


3 0

Sumber : Data Primer, Tahun 2025

Berdasarkan tabel dua belas, hasil uji statistik menunjukkan nilai

signifikansi p sebesar nol koma nol nol satu. Hal ini berarti ada hubungan

yang bermakna antara pola konsumsi dan status gizi siswa. Pada kelompok

dengan pola makan yang kurang baik, terdapat tiga puluh satu siswa, di

mana dua puluh lima orang atau sekitar tujuh puluh empat persen memiliki

status gizi yang baik, sedangkan enam orang lainnya atau sekitar enam

koma lima persen memiliki status gizi berlebih. Sebaliknya, pada kelompok

siswa yang punya pola konsumsi baik, jumlahnya sebanyak enam puluh dua

orang, dan sebagian besar yaitu tiga puluh tujuh siswa atau sembilan puluh
tujuh koma enam persen memiliki status gizi baik, sedangkan dua puluh

lima siswa lainnya atau dua puluh enam koma sembilan persen termasuk

dalam kategori gizi lebih.

C. Pembahasan

1. Karakteristik Pengetahuan Gizi Di SMA Negeri 1 Kabila

Dari hasil data yang diambil dari sembilan puluh tiga siswa SMA Negeri

1 Kabila di Kabupaten Bone Bolango, kebanyakan siswa sudah punya

pengetahuan yang cukup baik soal gizi. Ada enam puluh lima orang atau

sekitar enam puluh sembilan koma sembilan persen yang masuk kategori

"baik", artinya mereka udah cukup ngerti tentang pentingnya makan sehat dan

tahu dasar-dasar gizi. Ini mungkin karena mereka udah dapat info dari

sekolah, keluarga, atau dari media seperti internet dan TV. Pengetahuan ini

bisa ngaruh ke pola makan mereka sehari-hari jadi lebih sehat.

Tapi, masih ada dua puluh delapan siswa atau tiga puluh koma satu

persen yang pengetahuannya masih di tingkat "cukup". Walaupun nggak

sebanyak yang punya pengetahuan baik, tetap perlu diperhatikan, karena

mereka masih butuh tambahan pemahaman soal gizi. Bisa jadi ini karena

kurangnya akses info, nggak fokus saat pelajaran, atau belum pernah ikut

penyuluhan gizi. Jadi, sekolah disarankan buat bikin kegiatan edukasi yang

lebih seru dan langsung melibatkan siswa biar semua bisa paham dengan

lebih gampang.
Menariknya, banyaknya siswa yang udah paham soal gizi ini bisa jadi

modal buat mereka jadi penyebar info sehat di lingkungan sekolah maupun

rumah. Mereka bisa ngajak teman dan keluarga buat lebih peduli sama pola

makan. Sekolah juga bisa bikin program kader gizi dari siswa yang udah

ngerti, supaya bisa bantu ngajarin teman-temannya yang lain. Cara ini bukan

cuma nambah pengetahuan, tapi juga bisa bantu ubah kebiasaan makan jadi

lebih sehat secara perlahan dan terus-menerus.

Data ini dikumpulkan pakai kuesioner berisi dua puluh pertanyaan

seputar gizi. Pengetahuan yang baik bisa bantu seseorang buat ambil

keputusan yang tepat soal makanan dan gaya hidup, yang penting buat

kesehatan tubuh, bahkan juga buat yang sedang hamil. Banyak hal yang bisa

pengaruhi tingkat pengetahuan seseorang, kayak tingkat pendidikan,

kemudahan akses info kesehatan, pengalaman pribadi, dan lingkungan

sekitar. Pendidikan yang cukup bisa bikin seseorang lebih gampang paham

info soal gizi, ditambah lagi kalau sering baca media, ikut penyuluhan, atau

dapat dukungan dari keluarga dan teman, maka makin besar juga peluang

mereka buat ngerti dan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-

hari.

2. Karakteristik Pola Konsumsi Di SMA Negeri 1 Kabila

Berdasarkan informasi dari tabel sembilan, diketahui bahwa dari

sembilan puluh tiga siswa di SMA Negeri 1 Kabila Kabupaten Bone Bolango,

sebanyak enam puluh dua orang atau sekitar enam puluh enam koma tujuh

persen punya kebiasaan makan yang tergolong baik. Sementara itu, sisanya
yaitu tiga puluh satu orang atau tiga puluh tiga koma tiga persen masih

memiliki pola makan yang kurang sehat. Kategori “baik” ini dilihat dari skor

pilihan makanan yang nilainya di bawah delapan ratus tiga puluh lima, yang

menandakan bahwa siswa tersebut cenderung memilih makanan dengan gizi

yang lebih seimbang. Tingginya jumlah siswa dengan pola makan baik

menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka sudah cukup sadar dalam

memilih makanan yang mereka konsumsi. Hal ini bisa dipengaruhi oleh

pengetahuan gizi yang cukup, dukungan dari keluarga, pengaruh lingkungan

sekolah, serta kemudahan mendapatkan makanan sehat.

Namun begitu, masih ada sekitar sepertiga dari siswa yang belum punya

pola makan yang ideal. Kemungkinan, mereka lebih sering mengonsumsi

makanan cepat saji, makanan manis, makanan tinggi garam, atau makanan

yang mengandung banyak lemak jenuh. Kondisi ini butuh perhatian lebih,

karena kalau dibiarkan dalam waktu lama bisa memicu gangguan kesehatan

seperti kelebihan berat badan, kencing manis, atau masalah gizi lainnya.

Maka dari itu, penting untuk terus memberikan penyuluhan dan edukasi

tentang pentingnya makan sehat supaya semua siswa bisa punya pola makan

yang baik.

Pola makan seseorang biasanya terbentuk dari berbagai hal, seperti

budaya, tradisi di keluarga, kondisi ekonomi, seberapa mudah bahan makanan

didapatkan, serta pengaruh dari lingkungan sekitar. Kebiasaan ini sangat

berpengaruh pada kondisi gizi dan kesehatan secara umum, dan bisa

mencerminkan kebiasaan atau gaya hidup masyarakat di suatu daerah. Selain

itu, faktor-faktor seperti rasa suka terhadap makanan tertentu, kebiasaan yang
diwariskan dari keluarga, ketersediaan bahan pangan, serta kondisi psikologis

dan kesehatan juga punya peran penting. Misalnya, di beberapa daerah,

orang-orang terbiasa makan jenis makanan tertentu karena sudah jadi

kebiasaan turun-temurun atau karena alasan kesehatan tertentu. Sementara

itu, kemampuan ekonomi tentu berpengaruh pada jenis makanan yang bisa

dibeli dan dikonsumsi setiap hari. Dengan memahami pola makan ini, peneliti

dan pemerintah bisa membuat strategi yang lebih tepat untuk memperbaiki

kualitas gizi masyarakat, serta mendorong masyarakat untuk makan lebih

beragam dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.

2. Karekteristik Status Gizi Di SMA 1 Kabila

Dari tabel sepuluh, diketahui bahwa dari total sembilan puluh tiga siswa

di SMA Negeri Satu Kabila, sebanyak enam puluh dua orang atau sekitar

enam puluh enam koma tujuh persen punya status gizi yang baik. Sementara

itu, sisanya yaitu tiga puluh satu orang atau tiga puluh tiga koma tiga persen

masuk dalam kategori gizi berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian

besar siswa sudah bisa menjaga keseimbangan antara makanan yang

dikonsumsi dengan kebutuhan tubuhnya. Ini bisa jadi karena mereka punya

pengetahuan yang cukup soal gizi dan didukung oleh lingkungan yang sehat.

Tapi meskipun begitu, masih ada cukup banyak siswa yang status gizinya

berlebih. Ini bisa jadi tanda bahwa mereka mengonsumsi terlalu banyak

kalori, sementara aktivitas fisiknya kurang. Kalau nggak ditangani sejak dini,

kondisi ini bisa berujung pada kelebihan berat badan bahkan obesitas.

Biasanya, penyebab utamanya adalah kebiasaan makan makanan tinggi kalori


seperti makanan cepat saji, camilan manis, dan kurang bergerak. Karena itu,

penting banget buat ningkatin kesadaran siswa tentang pentingnya

menyeimbangkan antara makanan yang masuk dan energi yang dikeluarkan

lewat aktivitas harian.

Peran sekolah dan orang tua juga penting dalam hal ini. Mereka bisa

bantu ngasih pemahaman soal pentingnya makan makanan bergizi,

mengurangi makanan instan, dan rutin berolahraga. Selain itu, sekolah juga

bisa adain pemeriksaan status gizi secara berkala buat memantau

perkembangan siswa dan langsung ambil langkah kalau ada yang mulai

kelebihan berat badan. Usaha-usaha ini penting supaya siswa tumbuh jadi

remaja yang sehat, aktif, dan siap menghadapi masa depan.

3. Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Status Gizi di SMA Negeri 1 Kabila

Berdasarkan hasil uji chi-square, diketahui bahwa ada hubungan yang

berarti antara pengetahuan gizi dan status gizi, dengan nilai p sebesar nol

koma nol tiga delapan. Artinya, seberapa paham seseorang soal gizi bisa

berpengaruh pada kondisi gizinya. Orang yang punya pengetahuan gizi yang

baik biasanya lebih sadar dalam memilih makanan, cenderung makan yang

lebih sehat dan seimbang, serta tahu mana makanan yang baik untuk tubuh.

Mereka juga lebih paham pentingnya variasi makanan dan bisa menyesuaikan

asupan sesuai kebutuhan tubuh. Penelitian yang dilakukan oleh Desmarita

dan tim tahun dua ribu dua puluh dua di SMA Negeri Dua Tanjungpinang

juga nunjukin hal yang sama. Di sana, siswa yang punya pengetahuan gizi

lebih tinggi cenderung punya status gizi yang normal karena mereka lebih

hati-hati dalam memilih makanan yang dikonsumsi setiap hari.


Pengetahuan yang cukup soal gizi juga bantu remaja lebih ngerti apa

dampak kalau kekurangan atau kelebihan zat gizi, misalnya risiko

kegemukan, anemia, atau kekurangan energi kronis. Dalam studi lain oleh

Fauziyah dan rekan-rekannya tahun dua ribu dua puluh satu, disebutkan

bahwa pengetahuan soal gizi punya peran besar dalam mencegah remaja

mengalami gizi lebih. Ini karena mereka yang paham soal gizi biasanya lebih

tahu tentang porsi makan yang pas, cara baca label makanan, dan isi nutrisi di

dalamnya. Mereka juga cenderung menghindari makanan olahan berlebihan

yang tinggi lemak, gula, dan garam. Maka dari itu, bisa disimpulkan kalau

pengetahuan gizi adalah dasar penting dalam membentuk kebiasaan makan

yang sehat sejak usia remaja.

4. Hubungan Pola Konsumsi dan Status Gizi di SMA Negeri 1 Kabila

Berdasarkan hasil uji chi-square, ditemukan bahwa ada hubungan yang

bermakna antara kebiasaan makan dan kondisi gizi siswa, dengan nilai p

sebesar nol koma nol empat tiga. Artinya, apa yang biasa dikonsumsi

seseorang setiap hari dapat memengaruhi bagaimana kondisi gizinya. Pola

makan di sini mencakup hal-hal seperti seberapa sering makan, jenis makanan

yang dipilih, dan kapan waktu makan dilakukan. Penelitian yang dilakukan

oleh Desmarita dan tim pada siswa di SMA Negeri Dua Tanjungpinang juga

menunjukkan bahwa remaja yang punya pola makan yang baik cenderung

memiliki status gizi normal, sedangkan mereka yang pola makannya kurang

sehat lebih berisiko mengalami kelebihan berat badan.

Pola makan yang baik bukan hanya soal jumlah makanan, tapi juga

pentingnya keberagaman dalam konsumsi makanan. Remaja yang sering


mengonsumsi makanan tinggi kalori, seperti makanan cepat saji dan

minuman manis, cenderung mengalami gizi berlebih. Hal ini juga terlihat

dalam penelitian Khairani dan rekan-rekannya yang menemukan bahwa

konsumsi makanan olahan, minuman berpemanis, serta makanan tinggi lemak

dan kurang serat merupakan penyebab utama kenaikan berat badan di

kalangan pelajar SMA di Padang. Selain itu, pola makan yang tidak teratur

seperti sering melewatkan sarapan atau hanya makan dua kali sehari juga bisa

menyebabkan gangguan gizi. Wahyuni dan Alwi menjelaskan bahwa

kebiasaan seperti tidak sarapan, kurang konsumsi buah dan sayur, serta

makan malam berlebihan, bisa menyebabkan ketidakseimbangan energi yang

masuk dan keluar dari tubuh. Akibatnya, kalori menumpuk dan menyebabkan

berat badan naik tanpa kontrol.

Selain dari kebiasaan pribadi, lingkungan sosial dan keluarga juga

berpengaruh besar terhadap pola makan. Studi dari Syahputri dan kolega

menunjukkan bahwa remaja yang tumbuh di keluarga dengan pola makan

tidak sehat—misalnya sering makan mi instan atau makanan berlemak tinggi

—cenderung mengikuti kebiasaan tersebut, walaupun mereka tahu tentang

makanan sehat. Sebaliknya, keluarga yang terbiasa mengonsumsi makanan

sehat dan membiasakan makan bersama justru membantu membentuk

kebiasaan makan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Lubis juga

menambahkan bahwa peran keluarga dalam menyediakan makanan bergizi di

rumah sangat penting untuk menjaga status gizi anak remaja. Selain keluarga,

kondisi kantin di sekolah juga bisa memengaruhi pola makan siswa.

Noviandewi dan Djaya menunjukkan bahwa kantin sekolah yang menjual


makanan cepat saji tanpa pengawasan kandungan gizinya menjadi salah satu

penyebab pola konsumsi yang tidak sehat. Sementara itu, sekolah yang

menyediakan makanan sehat atau menjalankan program sarapan bersama

cenderung memiliki siswa dengan status gizi yang lebih stabil.

Namun begitu, tidak semua siswa dengan pola makan yang kurang sehat

langsung mengalami gizi berlebih. Aktivitas fisik juga punya peran penting.

Penelitian oleh Sari dan tim menjelaskan bahwa remaja yang tetap aktif

bergerak bisa menyeimbangkan asupan kalori mereka, sehingga status gizinya

tetap dalam batas normal. Oleh karena itu, saat menilai kebiasaan makan,

perlu juga melihat bagaimana gaya hidup remaja secara menyeluruh.

Dalam penelitian ini sendiri, hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak dua

pertiga siswa memiliki status gizi baik, dan sepertiga sisanya mengalami gizi

berlebih. Dari total siswa, enam puluh dua orang memiliki pola makan yang

baik, dan tiga puluh satu lainnya masih belum ideal. Temuan ini sejalan

dengan berbagai penelitian sebelumnya, dan memperkuat bahwa

memperbaiki pola konsumsi adalah salah satu cara paling efektif untuk

mencegah gangguan gizi pada remaja, baik yang kekurangan maupun

kelebihan.

Sebagai penutup, kebiasaan makan sangat menentukan kondisi gizi

seseorang. Edukasi soal gizi perlu disertai dengan lingkungan yang

mendukung kebiasaan sehat. Peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar

sangat penting dalam menyediakan makanan bergizi, memberi pemahaman

yang berkelanjutan, serta membatasi makanan yang kurang sehat. Kalau


semua pihak bekerja sama, angka remaja yang mengalami gangguan gizi bisa

ditekan dengan lebih baik.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan,

berikut beberapa poin kesimpulan yang dapat diambil. Pertama, mayoritas

siswa di SMA Negeri Satu Kabila Kabupaten Bone Bolango berada pada

rentang usia remaja. Sebagian besar berumur enam belas tahun sebanyak

empat puluh dua orang, disusul usia lima belas tahun sebanyak dua puluh

lima orang, tujuh belas tahun sebanyak sembilan belas orang, delapan belas

tahun sebanyak enam orang, dan yang paling sedikit berusia empat belas

tahun yaitu satu orang.


Kedua, tingkat pengetahuan gizi para siswa sebagian besar berada dalam

kategori baik, yaitu sebanyak enam puluh lima orang, sedangkan sisanya

sebanyak dua puluh delapan orang memiliki pengetahuan yang cukup. Ketiga,

pola makan siswa menunjukkan bahwa enam puluh dua orang termasuk

dalam kategori pola konsumsi yang baik, sementara tiga puluh satu lainnya

masih memiliki pola makan yang kurang sehat.

Keempat, status gizi para siswa menunjukkan bahwa sebagian besar, yaitu

sekitar dua pertiga atau enam puluh enam koma tujuh persen, memiliki status

gizi yang baik. Sedangkan sepertiga sisanya atau tiga puluh tiga koma tiga

persen termasuk dalam kategori gizi berlebih. Kelima, dari hasil uji statistik,

ditemukan bahwa ada hubungan yang nyata antara pengetahuan gizi dengan

status gizi para siswa. Dan terakhir, terdapat pula hubungan antara pola

konsumsi makanan dengan status gizi siswa di SMA Negeri Satu Kabila

Kabupaten Bone Bolango.

B. Saran

Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat untuk berbagai pihak.

Bagi pihak sekolah atau institusi pendidikan, temuan ini dapat digunakan

sebagai bahan pendukung untuk menyusun program edukasi yang berfokus

pada pentingnya gizi seimbang dan kebiasaan makan yang sehat bagi para

siswa. Pengetahuan ini bisa dimasukkan ke dalam kegiatan belajar maupun

program sekolah lainnya agar siswa lebih paham pentingnya menjaga asupan

makanan. Untuk masyarakat secara umum, penelitian ini juga bisa menjadi

sumber informasi agar lebih peduli dalam menjaga pola makan sehari-hari.
Dengan pola makan yang tepat dan bergizi, pertumbuhan dan perkembangan

remaja bisa berjalan dengan lebih maksimal. Selain itu, bagi peneliti

selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan untuk

mengembangkan penelitian sejenis, terutama dengan memperhatikan faktor-

faktor lain seperti pola makan, gaya hidup, serta kebiasaan harian yang

berhubungan dengan status gizi remaja.

Anda mungkin juga menyukai