Fiqh Muamalah Maaliyah
Capaian
Pembelajaran
Mahasiswa diharapkan mampu untuk:
- Menjelaskan Pengertian, Ruang Lingkup dan Sistem Fiqih Muamalah
dalam Ekonomi Islam
- Menjelaskan definisi, fungsi dan peran akad dalam transaksi
- Menjelaskan, mengklasifikasikan dan memberikan contoh dari jenis-jenis
akad dalam fiqih muamalah
Outline Materi
1. Pengertian, Ruang Lingkup dan Sistem Fiqih
Muamalah dalam Ekonomi Islam
2. Definisi, Peran dan Fungsi Akad dalam Transaksi
3. Jenis-jenis akad dalam fiqih muamalah
Pengertian Fiqh Muamalah
• Mua’malat jama’ dari muamalah yang berarti perbuatan, pergaulan dan
interaksi. Secara istilah, muamalat dapat diartikan: “Hukum-hukum
kompilasi syariah yang tersusun untuk pergaulan manusia di dunia
mencakup pada mu’awadhot maliyah, munakahat, mukhashamat,
amanat dan tirkat. Atau Pengetahuan tentang kegiatan atau transaksi
yang berdasarkan hukum-hukum syariat, mengenai perilaku manusia
dalam kehidupannya yang diperoleh dari dalil-dalil islam secara rinci.
• Ulama’ Fiqh membagi fiqh kedalam 3 hal besar yaitu ibadat, mu’amalat
dan ‘uqubat. Sedangkan muamalat terfokus kepada harta benda.
• Fiqh Muamalah adalah ilmu yang mengatur pertukaran harta dan
kemanfaatan diantara manusia dengan perantara akad-akad dan
konsekuensi. (Prof. Ali Fikri)
Ruang Lingkup Fiqh Muamalah
3. Konsep hak
2. Konsep hak (al- milik/kepemilikan
[Link] harta
huquq), meliputi (al-malikiyah),
(al- mal), meliputi
hak, sumber hak, meliputi hak
tentang harta,
perlindungan dan milik, sumber-
unsur- unsurnya
pembatasan hak sumber pemilikan
dan pembagian
dan pembagian dan pembagian
jenis- jenis harta.
jenis- jenis hak. macam- macam
hak milik.
Fiqh Muamalah dalam Sistem Ekonomi Islam
• Kepemilikan
Kepemilikan individu , Umum
dan negara
Fiqh Muamalah yang mengatur
semua aspek dalam kegiatan
Pengelolaan dan • Pengembangan ekonomi Islam
harta dan
Pemanfaatan pemanfaatan
harta harta
• Pendekatan
pendistribusian
Distribusi berasaskan
keadilan
Hal-hal yang Dilarang dalam Transaksi Ekonomi Islam
Jahalah/
Riba Najash
Tadlis
Gharar Ikhtikar Ghabn
Combination
Maysir Ikhrah of contracts
Pengertian Akad
• Kata ‘aqad dalam dalam istilah bahasa berarti ikatan dan tali pengikat, penyambung
atau penghubung (ar-rabt). Akad dalam termonologi ahli bahasa mencakup makna
ikatan, pengokohan dan penegasaan dari satu pihak atau kedua belah pihak.
Adapun makna akad secara syar’i yaitu: “Hubungan antara ijab dan qabul dengan
cara yang dibolehkan oleh syariat yang mempunyai pengaruh secara langsung.”
ُْ ن جاَنُبُ ا َ ُْو م
ُن َجانبَيْن ُْ س َواءُ ا َ َكانََُُ َربْطاُ حسياُ ا َ ُْم َم ْعنَوياُ م ْ َ الربْطُ بَيْنَُ ا
َّ ط َرافُ ال
َ شيء َّ
• Artinya: “ikatan antara dua perkara, baik ikatan secara nyata maupun ikatan secara
maknawi, dari satu segi maupun dari dua segi”.
• Akad ditinjau dari tujuannya :
1. Akad Tijari (Komersial) Ditujukan untuk mendapatkan keuntungan dimana
syarat dan rukunnya terpenuhi.
2. Akad Tabarru’ (Donasi) Dimaksudkan untuk menolong dan murni semata-mata
untuk kegiatan sosial, Contohnya akad qardh (Hutang Piutang)
Rukun dan Syarat Akad
Al-’Aqidain (subyek : penjual dan pembeli)
Dalam pengelompokannya dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Manusia (Syahksiyyah Thobi’iyyah)
b. Lembaga atau Badan Hukum (Syahksiyyah ‘Itibariyyah)
Maudhu’ul-’Aqd (tujuan) Tujuan dari akad haruslah meliputi :
Tujuan akad harus dibenarkan oleh Syaria, Tujuannya benar-benar ada
pada saat dilaksanakan Akad, Tujuan berlangsung mulai hingga
berakhirnya akad
Mahallul-’Aqd (obyek: barang/komoditas) : Keberadaannya (wujudnya ada), Dapat
disampaikan (dikirimkan), Ditentukan dan jelas tanpa sengketa, Dimiliki oleh pemilik,
Harus berharga (berguna), Harus halal dan legal, Harus murni dan substansi, Bebas dari
klaim oleh pihak ketiga, Harga yang jelas.
Sighat al-’Aqd (ijab dan kabul) Dilakukan oleh orang yang memenuhi syarat ,
Tertuju pada suatu obyek, Harus berhubungan langsung dalam suatu majelis, Terang dan jelas
pengertiannya, Bersesuaian antara Ijab dan Kabul, Menggambarkan kesungguhan dan kemauan
para pihak yang bersangkutan.
Khiyar dan Taqabudh
1. Khiyar (Pilihan)
Khiyar diambil dari “khayara” secara bahasa berarti “pilihan”
وخيره بين ألشيئين أي فوض إليه ألخيار- هو أيضاً أالسم من أالختيار
Secara istilah para ulama fiqh mendifinisikan khiyar sebagai hak yang
dimiliki oleh salah satu pihak atau kedua belah pihak untuk memilih
antara dua hal-baik untuk melanjutkan dan menyelesaikan akad, atau
membatalkannya.
2. Taqabudh (Penerimaan Barang)
- Akad jual beli yang sah akan berdampak kepada peralihan kepemilikan
barang dari penjual kepada pembeli, kepemilikan beralih dikarenakan
akad, sekalipun belum terjadi qabdh.
- Contoh: penjual berkata, "Aku jual mobilku kepadamu dengan harga 50
juta rupiah", pembeli berkata, "Saya terima” dan memberikan uang 50 juta.
Dengan kata-kata tersebut kepemilikan barang telah berpindah dari
penjual kepada pembeli walaupun surat balik nama belum keluar. Apabila
surat balik nama telah keluar saat itu dikatakan kepemilikan mobil telah
berpindah dan telah terjadi qabdh.
Akad Jual-Beli (Akad Bai’)
Pengertian
Jual beli dalam bahasa arab “al-bay’u” berarti saling menukar (pertukaran) atau pertukaran
dari satu barangdengan yang lain. Aktifitas kata bai’ dalam al-Qur’an merujuk pada aktifitas
jual dan beli (Q.S.12:20 dan 2:102)
Menurut Hanafi: pertukaran harta (komuditas) dengan komuditas lain dengan tujuan tertentu
atau pertukaran item dengan item lain yang diinginkan dengan tujuan tertentu dengan
memberikan manfaat baik dengan ijab kabul atau dengan mu’athoh (perilaku).
Landasan Hukum
(Al-Baqarah : 275) “..Allah menghalalkan Jual beli dan mengharamkan riba..”
(Al-Baqarah : 282) “...Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli..”
(An-Nisa: 29) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan
yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu..”
Hadits :
Rasulullah ditanya: Pekerjaan apa yang paling baik? Rasulullah bersabda: Pekerjaan laki-
laki dengan tanganya sendiri dan setiap jual-beli yang baik. (HR. Ahmad) yang dimaksud
jual-beli baik adalah tidak ada kecurangan dan khianat.
Barang Ribawi
“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum
dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan
sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam,
maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan
(tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau
membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan
(tunai).” (HR. Muslim no. 1587)
Jenis-Jenis Akad dalam Fiqh Muamalah
Murabahah Salam Istishna Sharf
Ijarah Wadiah Rahn Wakalah
Kafalah Syirkah Mudharabah
Akad Murabahah
• Murabahah secara bahasa berarti keuntungan.
• Menurut Imam Mazhab :
o Maliki: Penjual memberitahukan harga asal suatu barang
(dengan biaya-biaya) dan ditambah dengan margin
keuntungan baik dinyatakan dalam jumlah (contoh: saya beli
ini 10 dirham dan anda membayar saya 1 atau 2 dirham
sebagai keuntungan) atau presentase /rasio. (contoh: dan
anda membayar barang ini dengan 10%/20% keuntungan).
o Hanafi: Jual beli dengan mentransfer barang yang didapat
sebelumnya dari kontrak sebelumnya dengan harga asal
ditambah margin keuntungan.
o Syafi’i dan Hanbali: Bentuk jual beli pada harga dasar
ditambah keuntungan, dengan dipersyaratkan kedua belah
pihak mengetahui harga dasarnya.
Skema Akad Murabahah
(1)
(2) (3)
(4) (5)
1) Penjual pertama menjual motor ke penjual 2 dengan harga 15 juta.
2) Penjual memberli motor dengan harga pokok 15 juta dan dijual dengan tambahan 2 juta sebagai keuntungan
3) Pembeli membeli motor dengan harga 17 juta.
4) Kedua belah pihak telah bersepakat terhadap harga dan barang. (mutual consent)
5) Pembeli menyerahkan uang kepada penjual dan penjual menyerahkan motor ke pembeli.
Skema Akad Murabahah (Kontemporer)
Nasabah
(3)
(4)
Perusahaan Mobil
(2) (1)
1) Nasabah mengidentifikasi barang (mobil) yang akan dibeli (brand, warna dll)
2) Bank membeli barang (mobil) yang telah diminta oleh nasabah sesuai ketentuan
3) Bank menjual mobil ke nasabah dari harga pokok dengan tambahan margin keuntungan
4) Nasabah membayar bank dengan ketentuan syarat pembiayaan yang telah ditentukan
(pembayaran angsur, tanpa denda, dll)
Akad Mudharabah
Pengertian Akad Mudharabah
Akad mudharabah adalah akad kerjasama dimana pemilik harta (modal)
memberikan hartanya kepada pekerja (pengelola) untuk diperniagakan (dikelola
dalam bisnis), keduanya berhak atas keuntungan yang sesuai dengan kepakatan
(nisbah) oleh keduanya . Sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik modal,
dan pekerja tidak menanggung sama sekali akan harta (modal) pekerjaan,
melaikan telah berkorban dalam bentuk usaha dan kesungguhan.
Rukun akad Mudharabah
Hanafiyah hanya mensyarakatkan ijab dan qabul saja sebagai rukun
mudharabah, dengan pernyataan kalimat yang mengacu (tertuju) jelas pada akad
mudharabah.
Sedangkan Jumhur Ulama’ menyatakan ada 3 rukun dalam mudharabah, 1)
kedua transaktor (pemilik modal dan pekerja), 2) Objek mudharabah (modal
kerja, usaha/pekerjaan tertentu dan keuntungan), 3) shighah (ijab dan qabul)
Skema Akad Mudharabah
Santos yang memiliki usaha namun terkendala untuk
mendapatkan modal bertemu dengan Adi yang memiliki
modal untuk usaha Santos. Merekapun melakukan
akad mudharabah.
1. Adi menyetorkan uangnya sebanyak 10 juta kepada
Santos (Mudharib) sebagai modal. Mereka menyepakati
nisbah bagi hasil yaitu 60% untuk Santos dan 40% untuk
Adi. Porsi besar untuk Santos dikarenakan pada idealnya
skema mudharabah memberikan porsi yang besar pada
pengusaha (mudharib).
2. Santos Menjalankan Usahanya
3. Seiring berjalannya waktu, dalam rentang waktu
setahun usaha Santos sudah balik modal mendapatkan
keuntungan sebesar 1 juta rupiah.
4. Sehingga pada saat itu Santos harus mengembalikan
modal yang ia gunakan kepada Adi ditambah pembagian
dari hasil usahanya yaitu 400 ribu untuk Adi (40% x 1
juta) dan 600 ribu untuk Santos (60% x 1 juta).
Akad Wadiah
• Al-wadi’ah adalah suatu barang tertentu yang ditinggalkan oleh pemilik kepada
selain pemiliknya. Hanafiah mendifinisikan bahwa akad ‘ida adalah
melimpahkan kepada orang lain untuk menjaga harta seseorang dengan cara
jelas/terang (explisit) atau tersirat (implisit).
• Disisi lain, penitipan tidak boleh berupa barang yang tidak menjadi kepemilikan
penuh, contoh anjing yang dilarang penggunaannya dan properti yang hilang.
o Yang menitipkan barang/Penitip disebut Muwadi’
o Yang dititipi barang/penerima titipan disebut Muwada’
o Dan barang titipin disebut Wadi’ atau wadi’ah
• Aplikasi Akad Wadiah :
o Tabungan (Fatwa DSN No.2 Th.2000 tentang Tabungan)
o Giro (Fatwa DSN No.1 Th.2000 tentang Giro )
Status Barang Titipan: Apakah dia tanggungan (terjamin)
atau amanah?
• Semua Ulama Madzhab setuju bahwa sebuah ibadah sunnah bagi yang dititipi,
dan mendapatkan pahala atasnya, sesunggguhnya barang titipan adalah
amanah bukanlah tanggungan atau jaminan.
• Sesugguhnya jaminan tidak diwajibkan atas orang yang dititipi kecuali ada
unsur kesengajaan dan kecerobohan. Berlandaskan hadith Nabi: “Orang yang
dititipi yang tidak melampaui batas maka tidaklah baginya jaminan”Hadith lain:
“Tidaklah ada jaminan kepada orang yang diberi amanah”. Hal ini dalam
pandangan Hanafi: menyertakan penjaminan dalam akad amanah (kepercayaan)
adalah batil.
• Ketika si pemilik meminta barang titipannya dan ternyata hilang: maka hal
tersebut menjadi kewajiban pihak yang dititipi untuk menjaminnya.
Akad Rahn
• Secara bahasa, rahn atau gadai berasal dari kata ats-
tsubutu yang berarti tetap dan ad-dawamu yang berarti
terus menerus. Pengertian secara bahasa tentang rahn ini
juga terdapat dalam firman Allah SWT :
كلًنفسًبماًكسبتًرهينة
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah
diperbuatnya.(QS. Al-Muddatstsr : 38)
• Adapun pengertian gadai atau ar-Rahn dalam ilmu fiqih
adalah :
Menyimpan sementara harta milik si peminjam sebagai
jaminan atas pinjaman yang diberikan oleh berpiutang (yang
meminjamkan).
• Berarti, barang yang dititipkan pada si piutang dapat
diambil kembali dalam jangka waktu tertentu dengan
menyelesaikan hutangnya.
• Akad gadai ini merupakan akad tabarru’ yang sifatnya
menolong.
Akad Rahn
Dalam praktek rahn, ada terdapat beberapa unsur :
[Link]-Aqidain : a) Ar-Rahin, Yaitu orang yang menggadaikan barang
atau meminjam uang dengan jaminan barang b) Al-Murtahin,
Yaitu orang yang menerima barang yang digadaikan atau yang
meminjamkan uangnya.
[Link]-Marhun / Ar-Rahn, Yaitu barang yang digadaikan atau
dipinjamkan
[Link]-Marhun bihi, yaitu uang dipinjamkan lantaran ada barang
yang digadaikan
[Link]
Akad Wakalah
• Wakalah secara bahasa الحفظatau penjagaan. Sebagaimana dalam
al-Qur’an “ ”حسبنا هللا ونعم الوكيلHanafiyah mendefinisikan:
pendelegasian seseorang kepada orang lain untuk bertindak
sebagaimana dirinya dalam tindakan yang diperbolehkan dan
diketahui, yaitu melimpahkan tindakan dan penjagaan kepada
wakil.
• Tindakan dan perilaku mencakup transaksi keuangan, jual beli,
dan lainnya yang menerima akan penggantian (niyabah) secara
syara seperti mempersilahkan untuk masuk dll.
• Menurut Jumhur: ada 4 rukun wakalah yaitu, (1) Muwakkil
(principal), (2) wakil (agen), (3) Muwakkal Fih (objek yang
diwakilkan) dan (4) shigah.
Praktik Akad Wakalah Kontemporer
Pembiayaan Rekening Letter of Credit Impor
1. Reksa Dana Syariah
Koran Syariah Syariah
Letter of Credit Impor
Asuransi Syariah
Syariah
Skema Wakalah Bil Ujrah
Wakalah diperbolehkan dan sah
untuk meminta ujrah/upah
atau tanpa upah. Seperti skema
pada gambar disamping dengan
ketentuan sebagai berikut :
1. Importir harus memiliki dana pada
bank sebesar harga pembayaran
barang yang diimpor
2. Importir dan Bank melakukan akad
Wakalah bil-Ujrah untuk
pengurusan dokumen-dokumen
transaksi impor.
3. Besar ujrah harus disepakati diawal
dan dinyatakan dalam bentuk
nominal, bukan dalam bentuk
prosentase
Akad Ijarah
Secara bahasa, ijaroh berasal dari kata: Rukun ijaroh:
• al-ajru, yaitu al-’iwadhu yang berarti kompensasi •Pihak yang berakad: pemilik barang dan penyewa; atau
• al-ujroh, yang berarti upah pekerja dan pemberi kerja.
•Objek akad: manfaat barang yang disewakan atau suatu
Secara istilah, ijaroh adalah transaksi atas:
pekerjaan yang diminta; dan biaya sewa atau upah
• Suatu manfaat dari barang tertentu selama jangka •Shighoh, yaitu ijab dan kabul atau sikap yang menunjukkan hal
waktu tertentu dengan biaya sewa tertentu; atau tersebut
• Suatu pekerjaan tertentu dengan upah tertentu.
Syarat-Syarat ijaroh:
1. Syarat pelaku akad
•Memiliki kelayakan dan kewenangan untuk bertransaksi
2. Syarat objek akad
•Diketahui dengan jelas sifatnya (barang, manfaat, pekerjaan, dan jangka waktu)
•Dapat diserahterimakan, baik secara nyata maupun secara hukum
•Upah hendaknya berupa harta yang bernilai dan diketahui
Skema Ijaroh Muntahiyah bit Tamlik
1. Negosiasi akad IMBT antara bank dan nasabah (misal: objek akad berupa alat berat). Dibuat wa’d
(janji) mengenai adanya opsi pemindahan kepemilikan barang apabila masa ijaroh selesai
Uang
Bank 2. Pelaksanaan Akad Ijaroh Nasabah
Barang
3. Penawaran opsi pemindahan
kepemilikan saat masa ijaroh selesai
Opsi
Kepemilik Tidak
an
3-b: tidak nasabah
3-a: ya dilaksanakan
wajib mengembalikan
akad pemindahan hak
Iya barang kepada bank
milik objek akad
Uang
Bank 4. Pelaksanaan Akad Jual Beli Nasabah
Barang
Akad Salam
Pengertian
Jual beli salam/salaf adalah jual beli yang penerimaan barangnya ditangguhkan
dengan pembayaran harga tunai. Penjualan yang karakteristik tanggungannya
(barang) telah terdiskripsikan diawal dengan harga atau modal kerja dibayarkan
didepan. Dengan kata lain, untuk membayarkan harga didepan dan pengiriman
barang terspesifikasi untuk masa yang akan datang yang telah ditentukan.
Terminologi yang dipakai untuk akad jual-beli salam diantarnya adalah :
Pembeli (forward buyer) : Rabb As-Salam atau Al-Muslim
Penjual (forward seller) : Al-Muslam ‘Alaih
Barang/komoditas: Al-Muslam Fiih
Harga/modal kerja: Ra’sul Maal
Selain Hanafiaah, syarat jual-beli salam ada 3 yaitu seperti jual-beli biasa; 1) Kedua
pihak transaksi, 2) Barang dan, 3) Sighah (ijab dan qabul)
Skema Akad Salam
• Pembeli memesan komoditas dengan menyerakan uang atau harga
pada sesi kontrak dengan kesepakatan
• Petani mengerjakan pemesanan dengan menanam komoditas
tertertu sesuai kreteria
• Menyerahkan komoditas pada waktu tertentu yang telah disepakati
dan juga tempat pengiriman.
Akad Syirkah
Secara bahasa Jenis-Jenis Syirkah :
• syirkah adalah percampuran A. Syirkah Amlak (Kepemilikan)
(bercampurnya suatu harta dengan –Sukarela, contoh: patungan membeli sapi
harta lain), atau kemitraan, atau
perseroan. –Terpaksa, contoh: dua orang atau lebih yang mendapatkan
Secara istilah warisan
[Link] ‘Uqud (Transaksi)
• syirkah adalah perserikatan dalam
kepemilikan hak untuk mengatur atau –Syirkah amwal (harta)
mendayagunakan harta. •Syirkah ‘inan kontribusi modal dan usaha tidak harus sama
•Syirkah mufawadhoh modal, kerja & keuntungan harus sama
• Sebagai suatu transaksi, syirkah
berarti perserikatan antara dua orang –Syirkah a’mal atau abdan (pekerjaan)
atau lebih dalam modal dan –Syirkah wujuh (kepercayaan)
keuntungan. –Syirkah mudhorobah atau qirodh
Skema Dasar Syirkah
Musyarakah Mutanaqisoh
• Musyarokah Mutanaqishoh adalah Musyarokah atau Syirkah yang
mana kepemilikan asset (barang) atau modal salah satu pihak (syarik)
berkurang disebabkan pembelian secara bertahap oleh pihak lainnya;
• Akad Musyarokah Mutanaqishoh terdiri dari akad Musyarakah/
Syirkah dan Bai’ (jual-beli).
• Dalam akad Musyarokah Mutanaqishoh, pihak pertama (salah satu
syarik, LKS) wajib berjanji untuk menjual seluruh hish-shoh-nya secara
bertahap dan pihak kedua (syarik yang lain, nasabah) wajib
membelinya.
Skema Musyarakah Mutanaqisoh
Referensi
• Herdiyanto, D. (2019). Akad Mudharabah : Pengertian, Dalil, Contoh, Praktik Kontemporer.
[Link]. [Link]
• Jazil, T. (2015). Fiqh Muamalah. Depok. Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI
• Mardani. (2012). Fiqh Ekonomi Syariah : Fiqh Muamalah (Pertama). Kencana.
[Link]
malah+ekonomi+islam&ots=m6AWAEzh_5&sig=1LqCAHqOBcfpGYaD5OF7VmS9NKw&redir_esc=y
#v=onepage&q=fiqh muamalah ekonomi islam&f=false
• Mukhlish, B. M. (2015). Fiqh Muamalah. Depok. Pusak Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI
• Yoghaswara, R. (2010). Skema Pembiayaan Perumahan Syariah. [Link].
[Link]
Terima Kasih