A.
Pengertian
Respiratory distress syndrome (RDS) adalah penyakit paru akut dan berat
yang menyerang bayi terutama pada bayi preterm, dimana sistem
pernapasan bayi tidak mampu melakukan pertukaran gas secara normal
tanpa bantuan. respiratory distress syndrome disebut juga dengan hyaline
membrane dsease (HMD) atau penyakit paru akibat defisiìnsi surfaktan
pada bayi. Respiratory distress syndrome pada neonatus biasanya ditandai
dengan takipnea, retraksi dada, sianosis, rintihan saat ekspirasi dan otot
pernapasan yang lemah yang terjadi segera setelah lahir. Gejala ini biasanya
memburuk dalam 12 hingga 24 jam pertama setelahdilahirkan. Hal inilah yang
menjadi salah satu alasan paling umum seorang bayi dirawat di unit perawatan
intensif neonatal (NICU). (Risma Agustina 2024)
Respiratìry Distress Syndrome disebabkan olehventilasi yang tidak
mencukupi (insufficient ventilation). Volume paru berkurang, terdapat butiran
polar difus pada parenkim paru, dan bronkogram meluas ke perifer. Sindrom
gangguan pernapasan sedang bersifat granular polar, lebih terlihat jelas, dan
lebih merata, dan ventilasi paru-paru tidak mencukupi. Bronkografi
menunjukkan peningkatan udara. (Risma Agustina dkk, 2024)
B. Etiologi
Penyebab kegagalan pernafasan pada neonatus yang terdiri dari faktor
ibu, faktor plasenta, faktor janin dan faktor [Link] ibu meliputi
hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun,
gravida empat atau lebih, sosial ekonomi rendah, maupun penyakit pembuluh
darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin seperti hipertensi, penyakit
jantung, diabetes melitus, dan lain-lain. Faktor plasenta meliputi solusio
plasenta, perdarahan plasenta, plasenta kecil, plasenta tipis, plasenta tidak
menempel pada tempatnya. Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat
menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan
lahir,gemeli, prematur, kelainan kongenital pada neonatus dan lain-lain. Faktor
persalinan meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan lain-lain.
Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat
melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir,gemeli, prematur,
kelainan kongenital pada neonatus dan lain-lain. Faktor persalinan meliputi
partus lama, partus dengan tindakan dan lain-lain. 7 Sindroma gagal nafas
adalah perkembangan imatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya
jumlah surfaktan pada paru-paru-paru. Sementara afiksia neonatorum
merupakan gangguan pernafasan akibat ketidakmampuan bayi beradaptasi
terhadap asfiksia. Biasanya masalah ini disebabkan karena adanya masalah-
masalah kehamilan dan pada saat persalinan (Risma Agustina Dkk 2024).
C. Patofisiologi
Kegawatan pernafasan dapat terjadi pada bayi dengan gangguan
pernafasan yang dapat menimbulkan dampak yang cukup berat bagi bayi
berupa kerusakan otak atau bahkan kematian. Akibat dari gangguan pada
sistem pernafasan adalah terjadinya kekurangan oksigen (hipoksia) pada tubuh
bayi akan beradaptasi terhadap kekurangan oksigen dengan mengaktifkan
metabolisme anaerob. Apabila keadaan hipoksia semakin berat dan
lama,metabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat. Dengan
memburukya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah keotak maka akan
terjadi kerusakan otak dan organ lain karena hipoksia dan iskemia. Pada stadium
awal terjadi hiperventilasi diikuti stadium apneu primer. Pada keadaan ini bayi
tampak sianosis,tetapi sirkulasi darah relative masih baik. Curah jantung yang
meningkat dan adanya vasokontriksi perifer ringan menimbulkan peninggkatan
tekanan darah dan reflek bradikardi ringan. Depresi pernafasan pada saat ini
dapat diatasi dengaan meningkatkan implus aferen seperti perangsangan pada
[Link] normal berlangsung sekitar 1-2 [Link] primer dapat
memanjang dan diikuti dengan memburuknya sistem sirkulasi. Hipoksia
miokardium dan asidosis akan memperberat bradikardi,vasokontraksi dan
hipotensi. Keadaan ini dapat terjadi sampai 5menit dan kemudian terjadi apneu
sekunder. Selama apneu sekunder denyut jantung,tekanan darah dan kadar
oksigen dalam darah terus menurun. Bayi tidakbereaksi terhadap rangsangan
dan tidak menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan
terjadikecuali pernafasan buatan dan pemberian oksigen segera dimulai (Risma
Agustina Dkk 2024).
D. Manifestasi klinis
Berat atau ringannya gejala klinis pada penyakit RDS (Respiratory
Distress Syndrom) ini sangat dipengaruhi oleh tingkat maturitas paru. Semakin
rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin berat gejala klinis yang
ditunjukan. Gejala dapat tampak beberapa jam setelah kelahiran. Bayi RDS
(Respiratory Distress Syndrom)yang mampu bertahan hidup sampai 96 jam
pertama mempunyai prognosis yang lebih baik. Gejala umum RDS yaitu:
takipnea (>60x/menit), pernapasan dangkal, mendengkur, sianosis, pucat,
kelelahan, apnea dan pernapasan tidak teratur, penurunan suhu tubuh, retraksi
suprasternal dan substernal, pernapasan cuping hidung ( Risma Agustina Dkk
2024).
E. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis Menurut Cecily & Sowden (2009) penatalaksanaan
medis pada bayi RDS (Respiratory Distress Syndrom) yaitu:
1) Perbaiki oksigenasi dan pertahankan volume paru optimal
a. Penggantian surfaktan melalui selang endotrakeal
b. Tekanan jalan napas positif secara kontinu melalui kanul nasal
untuk mencegah kehilangan volume selama ekspirasi
c. Pemantauan transkutan dan oksimetri nadi
d. Fisioterapi dadaTindakan kardiorespirasi tambahan
2) Pertahankan kestabilan suhu
3) Berikan asupan cairan, elektrolit, dan nutrisi yang tepat
4) Pantau nilai gas darah arteri, Hb dan Ht serta bilirubin
5) Lakukankan transfusi darah seperlunya
6) Hematokrit guna mengoptimalkan oksigenasi
7) Pertahankan jalur arteri untuk memantau PaO₂ dan pengambilan
sampel darah
8) Berikan obat yang diperlukan
2. Penatalaksanaan Keperawatan
Menurut Surasmi (2003) penatalaksanan keperawatan terhadap RDS meliputi
tindakan pendukung yang sama dalam pengobatan pada bayi prematur dengan
tujuan mengoreksi ketidakseimbangan. Pemberian minum per oral tidak
diperbolehkan selama fase akut penyakit ini karena dapat menyebabkan
aspirasi. Pemberian minum dapat diberikan melalui perenteral.
DAFTAR PUSTAKA
Risma Agustina., Eni L, Hari G I., “HUBUNGAN FAKTOR IBU DAN FAKTOR
BAYI DENGAN KEJADIAN RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME PADA NEONATUS DI
RUANG NICU RS GRHA PERMATA IBU TAHUN” 1 No: 10, Desember (2024)
Cecily & Sowden (2009). Buku Saku Keperawatan Pedriatik. Edisi 5.
Jakarta: EGC
Surasmi,[Link] Bayi Resiko [Link]: EGC