DEVIL IT SELF
CHAPTER 2 : Peace Life Association
“Nyeheheheheheh!!! BUNUH!!! DARAH!!! Hyeaaaaahaaa!!!”
“Bewhenti!!!! Gyaaaaaarghhhh”
Yang kutahu saat itu hanyalah bunuh! bunuh! dan bunuh! saat itu, Aku tak mendengarkan yang lainnya...
hanya berfokus mencabik cabik monster itu dengan dua belah pedang yang tersambung oleh rantai yang
keluar dari tubuhku. Membabi buta sembari meminum darah yang keluar hingga tak memberi monster itu
kesempatan untuk menggerakan satu jari pun.
“Graaaarrrghhh Terpaksa aku harus... Abyssal Spirit : Demonic counter!” Seranganku yang tadinya
memojokkannya bisa dikembalikan kepadaku, membuat salah satu tanganku terlepas dari tempat asalnya.
“Huh.... Gyeahhaaaahahaa!!! Aku jadi tambah bersemangat mencincangmu!” SLASHH!!! Entah pengaruh apa
tapi wujudku yang sekarang tak bisa merasakan sakit dan perlahan lahan tangan yang tadi terlepas mengarah
kembali kepadaku yang seketika membuatku melanjutkan menghabisi mereka semua.
“D- Dia gila!!! Gyaaaaahhh buka gerbangnya!!!” Ucapnya dengan panik, berpikir aku akan segera menjadi
malaikat maut baginya.
“Tidak semudah itu kau akan pergi!!! Nyehahahahaha!!!” Tak membiarkannya lolos, kutebas iblis itu dengan
membabi buta, membuat tubuhnya mulai terpecah belah.
“Argghhhhgaaaaaaarrrrrrhhhhh!!!” SPLAT!!!
“Lagi!!! Berikan aku lagi!!!”
Aku tak langsung kembali ke wujud awal ku walau mereka sudah kubantai habis, dan mulai melirik kearah
manusia-manusia yang berada di TKP, sebelum akhirnya sekelompok berpakaian layaknya agen di film film
datang, yang dimana salah satunya, lelaki yang berjas panjang menghampiriku dengan pose pose tangan nya
yg terkesan seperti akan mengeluarkan jurus seperti di anime anime. Aku yang dalam wujud tak normal dan
dalam keadaan ‘Menggila’ tanpa pikir panjang menyerangnya, namun...
“Kau selanjutnya!!! Gyeahaahahaaaaa!!!”
“Fyuh.... hari normalku... Purgatory : Purify...” Asap rokoknya mengelilingiku setelah dia selesai dengan pose
tangannya itu. Dan seketika Asap itu menyerbuku hingga kehangatannya membuatku tak sadarkan diri.
“Evakuasi yang terluka! Persiapkan ritual penghapus ingatan! Dan bawa anak ini...” Perintah Pria itu.
“Eric...”
“Ya, ada apa?”
“Kenapa kita harus membawanya? Bukannya kau lihat sendiri dia sebrutal apa.”
“Apa boleh buat, ini perintah Ketua.”
“Huh! Si Tua itu... kau yang urus saja, aku malas heh...”
“Memangnya ada yg menyuruhmu mengurus semua ini... fyuhhhh Dante ya...”
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, disaat aku membuka mata... segerombolan orang-orang
mengelilingiku, Aku mencoba mengingat apa yang terjadi, Karena terakhir kalinya aku berada di Sekolah. Aku
hanya melihat ingatan samar-samar dimana adanya pembantaian yang terjadi yang aku pikir mungkin aku
habis membentur sesuatu.
“Dimana ini... apa yang barusan terjadi?...”
“Oy Eric! Apa kau ikut menghapus ingatan anak itu?”
“Aku hanya memerintahkannya, jadi aku tidak tahu kalau dia ikut terkena efeknya atau tidak.”
“Bagaimana bisa kau menyepelekan hal itu, dia kan target kita.”
“Ssst Yuri, Eric, harap tenang.”
Aku melirik kesana kemari memperhatikan orang-orang disekitarku sampai akhirnya aku terkejut akan
keberadaannya. Ya, Pak Riki... yang aku kira sedang diluar kota namun sekarang aku melihatnya bersama dua
anak seumuranku yang tidak kukenal, yang satu lelaki berjas panjang yang sedang merokok dan satunya lagi
seorang wanita berambut pendek.
“Jadi... dia Dante? Kenapa kau memilih untuk membawanya kemari daripada membunuhnya ditempat?!”
“Membunuh?...”
“Sebelumnya maafkan aku... dia anak muridku, dan aku tahu betul sifatnya... dan alasanku membawanya
kemari hanya untuk meminta izin agar dia dimasukkan ke P.L.A divisi 3 bagian Mistis di Tim ku tentunya,
potensinya akan menguntungkan kita.”
“Apa?! Bekerja sama dengannya maksudmu? Apa kau sudah gila? Dia iblis, akankah dia mau menghabisi
sesamanya?!”
“Eric menemukannya ketika dia selesai membantai kawanan Goons dan perlu kutegaskan aku Wali Kelasnya
dan aku paham betul kelakuannya, dia akan menjadi tanggung jawabku.”
“Dari tadi apa yang mereka debatkan... yang terpenting lagi, kenapa Pak Riki bisa ada disini... terlibat apa
dia dengan mereka ini?”
Aku tak memahami apa yang mereka bicarakan dan aku berniat melarikan diri, namun aku baru tersadar
tanganku diikat oleh sesuatu yang bersinar yang membuatku bertanya-tanya lagi apakah ini kabel RGB?. Aku
mulai mencoba melepaskan diri dan kampret keras banget nih tali, aku mencoba dan mencoba agar bisa
terlepas tanpa membuat kebisingan dan setelah lepas aku akan langsung sprint, toh pintunya hanya 10 meter
dariku.
“Ugh! Huh... akhirnya... sekarang saatnya...” Wushhhh!!! Brak!!!!
“Hah?! Tangkap dia!!! Cepat! Sudah dipastikan dia akan di eksekusi.”
“Jauhkan tanganmu darinya... Yuri, Eric susul dia!” Tak tau alasannya mengapa Pak Riki begitu melindungiku,
Dia menghadang para pasukan yang akan mengejarku dengan tatapannya yang mengerikan dan menyuruh dua
anak yang bersamanya mengejarku.
“Huh... aku lagi ya... ayo Yuri!”
“Iya aku dengar kok.”
“Huh.. huh.. mereka tak mengejarku? Syukurlah...”
Sejenak ketika Aku ingin menghela nafas lega, dua anak itu menghadangku dan nampaknya tidak semudah itu
mereka membiarkanku berhenti sejenak, dan bau bau kekerasan sudah mulai tercium.
“Ikut kami dan jangan mencoba melakukan hal yang bodoh!” Ucap wanita berambut pendek itu sambil
menghunuskan pedangnya yang hitam pekat.
“Aku tak kenal kalian dan apa mau kalian...” Jawabku.
“Sudahlah Yuri... percuma kau membujuknya, Purgatory : Straight.” Lagi dan lagi dia mengendalikan asap
rokoknya. kali ini dia berusaha mengikatku, bersamaan dengan itu aku mengingat serangkaian kejadian di
Sekolah dan menghindari serangan yang dia lancarkan.
“Heh... boleh juga... padahal masih wujud manusia.”
“Kau terlalu lembek Eric, Shadow Dance...” Wanita itu sudah mulai mengayunkan pedangnya dengan
gerakannya yang layaknya seorang penari, dengan cepat ia melakukannya sehingga terlihat seperti
menggandakan diri.
“Sial dia berniat membunuhku!”
“Oi, Yuri... kurasa After Dark terlalu berlebihan.” After Dark, nama pedang hitam yang wanita itu gunakan.
Wanita bernama Yuri itu terus berusaha menebasku dan yang aku lakukan jelas hanya menghindar sambil
memikirkan caranya kembali ke wujud ku yang tadi. Tentang Alicia yang terluka pun masih menghantui
pikiranku dan membuatku tak fokus dan tergores oleh pedangnya.
“Ggh... dia mengenaiku... ayolah berubah!”
“Purgatory : Stream.” Kini asapnya membentuk pusaran yang berpusat pada tubuhku yang membuat tubuhku
merasakan panasnya asap itu. Pusarannya terus berputar seperti kipas yang sedang digunakan untuk
memanaskan sesuatu
“Holy Dance : Fall! Kena kau!!!” BOOM!!!
Kupikir kali ini aku akan mati sungguhan namun takdir berkata lain, disaat terjadi bentrokan dari serangan itu
pandanganku tertutup oleh asap-asap yang mengelilingiku dan ketika asap itu hilang, tiba-tiba didepanku
sudah ada Pak Riki yang menjadi Tameng ku.
“Loh Pak Tua? Apa yang kau lakukan?” Ucap wanita yang bernama Yuri itu dengan heran dan terkejut.
“Tugas kalian selesai, biar Aku yang urus.” Jawab Pak Riki.
“Fyuh... Baiklah kalau begitu.” Sedangkan pria bernama Eric yang santai-santai saja menyerahkanku kepada
Pak Riki.
“Wah haha tapi, hebat juga ya Jaku, bisa bertahan melawan mereka... mungkin mereka terlalu cupu karena
kurang fokus latihan kikiki.”
“Jangan salah paham, aku hanya menahan diri karena ini perintah.” Bantah Yuri
“Bisa kau ikut kami Jaku Diavo?”
“Jika bapak menjelaskan semua ini maka jawabannya Iya.” Jawabku.
“Tenang saja, asal kau ikut kami dulu.”
Demi mengetahui apa yang terjadi akhirnya aku menuruti mereka.
To be continue