1.
Identifikasi disharmonisasi undang-undang nomor 23 tahun 2014 dengan undang-undang
nomor 3 tahun 2020
Dalam perubahannya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara, kewenangan terkait Izin Usaha Pertambangan (IUP) diatur dalam Pasal
4 ayat (2) yang mana dalam Pasal tersebut menjelaskan bahwa kewenangan terkait Izin Usaha
Pertambangan (IUP) ditarik kepada pemerintah pusat. Undang-Undang minerba terbaru juga
sekaligus menghapuskan ketentuan dalam matriks pembagian urusan pemerintahan konkuren
dalam bidang energi dan sumber daya mineral termasuk didalamnya urusan pemerintahan di
sektor pertambangan minerba, sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Sehingga, terjadi disharmonisasi norma hukum mengenai kewenangan penerbitan izin
usaha pertambangan (IUP). Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa sebelum
terbitnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020, terjadi pertentangan norma antara Undang-
Undang Nomor 4 Tahun 2009 dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 terkait
kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah
kabupaten/kota dalam hal penerbitan izin usaha pertambangan (IUP). Artinya melalui revisi
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020, pemerintah daerah baik pemerintah provinsi maupun
pemerintah kabupaten/kota tidak lagi memiliki kewenangan atributif untuk menerbitkan izin
usaha pertambangan (IUP).
Ketentuan Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah yang berbunyi “penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang
kehutanan, kelautan, serta energi dan sumber daya mineral menjadi urusan konkuren yang
merupakan pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah provinsi”, ketentuan
Pasal 14 ayat (1) mengatur izin usaha pertambangan (IUP) yang tidak lagi menjadi
kewenangan pemerintah kabupaten/kota lagi, namun menjadi kewenangan pemerintah daerah
provinsi dan pemerintah pusat. Pengalihan kewenangan penerbitan izin usaha pertambangan
(IUP), berdampak yuridis pada ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan hal tersebut
tentunya akan berubah, namun dalam pelaksanaannya ketentuan lama dipergunakan hingga
adanya ketentuan-ketentuan baru yang menyesuaikan dengan aturan tersebut. Hal ini
dikarenakan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menjadi
petunjuk teknis untuk menyusun peraturan mengenai perubahan kewenangan penerbitan izin
usaha pertambangan (IUP).
2. Memberikan analisis kriminologi dan faktor penyebab dari tugas kemarin
Kriminologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari kejahatan dari berbagai
aspek. Berikut ini beberapa kriminologi sesuai dengan kasus pada tugas kemari:
a. melakukan usaha penambangan tanpa Izin Usaha Pertambangan (IUP); Izin
Pertambangan Rakyat (IPR) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).
b. menyampaikan laporan yang tidak benar atau misrepresentation atau keterangan
palsu atau fraud.
c. Melakukan kerusakan lingkungan
Faktor penyebab terjadinya krimonoli tersebut ialah
a. Faktor ekonomi.
Sulitnya mendapatkan lapangan kerja dan kesempatan berusaha yang sesuai
dengan tingkat keahlian atau keterampilan masyarakat kalangan bawah.
b. Pelaku ingin menghindari kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan.
Salah satu faktor maraknya pertambangan tanpa izin/illegal mining adalah
karena pelaku ingin menghindari kewajibankewajiban yang telah ditentukan oleh
Dinas Pertambangan dan Energi serta pemerintah setempat, antara lain : pajak
produksi dan pajak pengangkutan (retribusi), LKMD, dll.
c. Sulitnya mendapatkan IUP (Izin Usaha Pertambangan).
Proses perizinan yang rumit dan memakan waktu yang lama ditengarai
merupakan faktor penyebab maraknya pertambangan tanpa izin/illegal mining
d. Minimnya sosialisasi mengenai peraturan perundangundangan.
Salah satu faktor maraknya kejahatan pertambangan tanpa izin/illegal mining
adalah minimnya sosialisasi yang dilakukan Dinas Pertambangan dan Energi
mengenai peraturan perundang-undangan, yang diatur dalam Undang-Undang
Nomor : 4 tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara sebagaimana
yang tertuang dalam Pasal 35, yang berbunyi bahwa : usaha pertambangan
dilaksanakan dalam bentuk IUP, IPR, dan IUPK.
e. Lemahnya penegakan hukum.
Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum terkesan memberi keleluasaan dan
tidak membuat jera pelaku pertambangan tanpa izin. Hal ini disebabkan karena
rendahnya angka penyelesaian perkara pertambangan tanpa izin/illegal mining.
3. Analisis penegak hukum kasus tambang illegal
a. Upaya Preventif
Dalam upaya preventif yang ditekankan adalah menghilangkan kesempatan untuk
dilakukannya kejahatan. Upaya preventif tersebut, yakni :
- Melakukan penyuluhan hukum tentang ketentuan pidana mengenai kejahatan
pertambangan tanpa izin/illegal mining.
- Melakukan sosialisasi mengenai Undang-Undang Nomor: 4 Tahun 2009 Tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara.
- Pemasangan spanduk/pamflet tiap kecamatan mengenai bahaya kegiatan
pertambangan tanpa izin/illegal mining.
- Melakukan pengawasan dan operasi rutin terhadap setiap kegiatan usaha
pertambangan di Kabupaten Gowa.
b. Upaya Represif
Upaya ini dilakukan pada saat telah terjadi kejahatan pertambangan tanpa izin di
Kabupaten Gowa yang tindakannya berupa penegakan hukum (law enforcement),
yakni :
- Menindak tegas pelaku kejahatan pertambangan tanpa izin dan memproses
sesuai dengan hukum yang berlaku.
- Menyita alat yang digunakan dalam melakukan kegiatan pertambangan tanpa
izin, baik pompa maupun alat berat seperti excavator dan lowder.