0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan49 halaman

Standar Pelayanan Medis THT RS Sentra Medika

Dokumen ini adalah Standar Pelayanan Medis untuk Telinga, Hidung, dan Tenggorok yang diterbitkan oleh Rumah Sakit Sentra Medika. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan medis melalui penerapan standar yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI. Buku ini mencakup berbagai diagnosis, kriteria, pemeriksaan, perawatan, dan terapi yang relevan untuk staf medis fungsional di rumah sakit tersebut.

Diunggah oleh

Joko Susanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan49 halaman

Standar Pelayanan Medis THT RS Sentra Medika

Dokumen ini adalah Standar Pelayanan Medis untuk Telinga, Hidung, dan Tenggorok yang diterbitkan oleh Rumah Sakit Sentra Medika. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan medis melalui penerapan standar yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI. Buku ini mencakup berbagai diagnosis, kriteria, pemeriksaan, perawatan, dan terapi yang relevan untuk staf medis fungsional di rumah sakit tersebut.

Diunggah oleh

Joko Susanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STANDAR PELAYANAN MEDIS

TELINGA, HIDUNG DAN


TENGGOROK

Diterbitkan oleh :
Rumah Sakit Sentra Medika
Jalan Raya Bogor Km. 33
Telp. 8743790 (Hunting), Fax. 8743230
Depok, 2006

1
2
SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RS. SENTRA MEDIKA
NOMOR : 33A/SK/DIR/RSSM/VI/06

Tentang

PENERAPAN STANDAR PELAYANAN RUMAH SAKIT,


STANDAR PELAYANAN MEDIS DEPKES RI DAN STANDAR PELAYANAN MEDIS
STAF MEDIS FUNGSIONAL RUMAH SAKIT SENTRA MEDIKA

Menimbang : a. Bahwa dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan medis di RS. Sentra
Medika dipandang perlu adanya Standar Pelayanan Medis bagi para Staf
Medis Fungsional RS. Sentra Medika.
b. Bahwa sehubungan dengan butir “a” diatas, maka perlu ditetapkan
pengesahan dan pemberlakuan Standar Pelayanan Medis bagi Para Staf
Medis Fungsional di RS. Sentra Medika melalui Surat Keputusan Direktur
RS. Sentra Medika.

Mengingat : 1. Undang – undang No. 23 Tahun 1992, tentang Pokok – pokok Kesehatan
2. Keputusan Direktur Utama Nomor : 09/DIR/I/06 tentang Struktur
Organisasi RS. Sentra Medika.
3. Keputusan Direktur RS. Sentra Medika Nomor : 30/SK/DIR/V/06 tentang
Pengangkatan Ketua Komite Medik Periode 2006 – 2009.
4. Keputusan Direktur Utama PT. Sentra Medika Sejahtera Nomor :
005/SK/[Link]/I/06 tentang Pengangkatan Direktur RS. Sentra Medika.

Memperhatikan : Standar Pelayanan Rumah Sakit, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik


Departemen Kesehatan RI, 1992
Standar Pelayanan Medis Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen
Kesehatan RI, 1993

Menetapkan :
MEMUTUSKAN

Pertama : Memberlakukan Standar Pelayanan Rumah Sakit, Standar Pelayanan Medis


Depkes RI dan Standar Pelayanan Medis Staf Medis Fungsional RS. Sentra
Medika.

Kedua : Ketentuan – ketentuan sebagaimana dimaksud dalam diktum pertama adalah


tentang Standar Pelayanan Medis Rumah Sakit, Standar Pelayanan Medis
Depkes RI dan Standar Pelayanan Medis Rumah Sakit Sentra Medika.

Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak ditetapkannya dengan ketentuan akan diadakan
perubahan sebagaimana mestinya, bila terdapat kekeliruan.

Ditetapkan di : Depok
Pada tanggal : 5 Juni 2006
Rumah Sakit Sentra Medika

Dr. Nurhayati Hadi, MARS


Direktur

3
KATA SAMBUTAN

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Y. M. E. Atas rahmat & ridho-Nya
dengan gembira saya ucapkan selamat atas tersusunnya Buku Standar Pelayanan
Medis THT RS. Sentra Medika.

Suatu langkah maju dari SMF THT yang telah terkait mewujudkan kesamaan
pandang didalam penanganan medis di RS. Sentra Medika dengan membuat sendiri
standar pelayanan medis.

Semakin tingginya tuntutan akan layanan profesional dari masyarakat pengguna jasa
serta arus globalisasi yang terjadi saat ini menuntut kesiapan kita untuk menciptakan
sistem layanan yang terstandar dan profesional. Hendaknya buku standar ini betul-
betul digunakan oleh seluruh anggota SMF THT dalam pelayanan medis baik di Unit
Rawat Jalan, Unit Rawat Inap maupun Unit Gawat Darurat.

Kami mengucapkan terima kasih atas jerih payah seluruh anggota SMF THT dalam
memberikan sumbangsih sehingga tersusunnya buku standar ini. Semoga kerjasama
yang baik ini bisa dipertahankan dan ditingkatkan demi peningkatan mutu pelayanan
di RS. Sentra Medika.

Depok, Juni 2006


RS. SENTRA MEDIKA

Dr. Nurhayati Hadi, MARS


Direktur

4
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadiran Tuhan Y.M.E dengan rahmat dan karunia-
nya Buku Standar Pelayanan Medik SMF THT RS. Sentra Medika bisa tersusun
tepat pada waktunya.

Langkah-langkah dan usulan-usulan yang disampaikan oleh seluruh anggota SMF


THT, betapapun kecilnya sangat bermanfaat dalam penyusunan buku standar ini.
Hal ini akan dapat menyempurnakan draf yang sudah ada serta dapat diterima dan
dipertanggung jawabkan oleh seluruh anggota SMF.

Buku standar ini tidak cukup hanya bersusun tapi perlu dipahami dan diikuti dengan
tindakan nyata dalam setiap pelayanan di RS. Sentra Medika, khususnya di SMF
THT. Buku ini belum sempurna adanya dan perlu diadakan revisi secara periodik
serta untuk mengikuti perkembangan jaman.

Bersama ini kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota SMF THT
yang telah ikut membantu penyusunan buku standar ini. Serta terima kasih kepada
Direksi dan staf secara moril dan material mendukung kelancaran penyusunnya.

Semoga bermanfaat bagi RS. Sentra Medika dan bagi masyarakat pengguna jasa
pelayanan Rumah Sakit pada umumnya.

Depok, Juni 2006


RS. Sentra Medika

TIM PENYUSUN

5
TIM PENYUSUN BUKU
STANDAR PELAYANAN MEDIK TELINGA, HIDUNG DAN
TENGGOROK

Ketua : dr. Hidayat Anwar, Sp. THT


Anggota : dr. Hatmansyah, Sp. THT
dr. Asnominanda, Sp. THT

6
DAFTAR ISI

SK PEMBERLAKUAN BUKU STANDAR PELAYANAN MEDIS................ i


KATA SAMBUTAN...................................................................................... ii
KATA PENGANTAR.................................................................................... iii
TIM PENYUSUN........................................................................................... iv
DAFTAR ISI.................................................................................................. v

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS......................................................... 1


OKLUSI TUBA EUSTACHIUS..................................................................... 3
OTITIS EKSTERNA (BENIGNA).................................................................. 6
CERUMEN SUMBAT (CERUMEN PLUG)................................................... 8
BENDA ASING TELINGA............................................................................ 10
SINUSITIS MAKSILA AKUT........................................................................ 12
SINUSITIS FRONTAL AKUT....................................................................... 14
SINUSITIS EDMOIDITIS AKUT................................................................... 16
SINUSITIS SPHENOID AKUT...................................................................... 18
RHINITIS VASOMOTOR.............................................................................. 20
RHINITIS KRONIK ALERGIK...................................................................... 22
RHINITIS KRONIK INFEKSIOSA (HIPERTROFI)....................................... 24
RHINITIS KRONIK INFEKSIOSA (ATROFI)................................................ 26
SINUSITIS KRONIS..................................................................................... 28
HEMATOMA/ ABSES SEPTUM.................................................................. 31
SEPTUM DEVIASI....................................................................................... 33
RINOLIT....................................................................................................... 35
TONSILITIS KRONIS................................................................................... 37
FARINGITIS KRONIS.................................................................................. 39
TUMOR GANAS NASOFARING.................................................................. 41

7
Nama Penyakit/ Diagnosis
OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Peradangan telinga tengah berulang dan berjalan lama dan tidak sembuh-
sembuh.
 Otere yang terus menerus lebih dari 2 bulan atau sering kambuh/ berulang
yang disertai keluhan gangguan pendengaran.

Pemeriksaan
Radang pada telinga tengah, yang disertai ketulian dalam beberapa tingkatan.

Diagnosis banding
 Otitis media akut
 Otitis eksterna
 Tumor telinga

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium darah + urin rutin
Foto rontgen mastoid bila perlu
Bakteri secret
Pemeriksaan audiometri
Cari faktor predisposisi (Rhinitis Alergi, Sinusitis, dll).

Konsultasi
 Dokter Spesialis Saraf
 Dokter Spesialis Bedah Saraf bila terdapat kecurigaan ke arah penyulit
intraktanial

Perawatan RS
Rawat inap, bila terjadi komplikasi

8
Terapi
 Konservatif / medikametosa
 Bila perlu operasi
 Pengobatan faktor predisposisi
Edukasi
- Jaga kebersihan telinga dari kotoran/ air (tidak boleh berenang, tidak boleh
mengorek telinga dengan benda kotor, dll).

Penyulit
 Mastoiditis
 Abses retroaurikuler
 Paresis/paralysis [Link]
 Labirinitis/Petrositis
 Komplikasi Intrakranial  Sepsis

Informed consent
Bila perlu tindakan.

Lama perawatan
Tergantung kebutuhan.

Masa pemulihan (-)

Ouput/ Luaran
Sembuh parsial dengan gangguan pendengaran.

PA
Bila perlu.

Otopsi/ Risalah rapat


Bila perlu.

9
Nama penyakit/diagnosis
OKLUSI TUBA EUSTACIUS

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Kurang pendengan (tuli hantar), telinga rasa penuh/tersumbat
 Otofoni (suara sendiri lebih keras terdengar), Otalgia (derajat ringan, sampai
berat).
 Kadang-kadang vertigo/dizziness
 Riwayat sering pilek atau menjalani penerbangan (kausal).

Pemeriksaan fisik
Refleks cahaya menurun sampai dengan menghilang, kadang retraksi membran
timpani.

Diagnosis banding
 Timpanosklerosis
 Atelaktasis membran timpani

Pemeriksaan penunjang
 Tes suara/ tes garpu tala
 Bila dimungkinkan audiometri, timpanometri

Konsultasi (-)

Perawatan RS
 Rawat jalan
 Rawat inap bila dilakukan tindakan operatif (niringotomi/ parasintesis).

10
Terapi
Terapi Kausal (predisposisi) :
 Akibat palatoskisis : operasi palatoplasti
 Akibat ISPA : pengobatan ISPAnya
 Akibat alergi : atasi alergi
 Akibat adenoiditis : adenoidektomi

Terapi Konservatif :
 Tes Valsava Pneumomassase
 Polisterisasi Menghilang obstruksi kavum nasi
 Kateterisasi Tampon hidung harus dilindungi antibiotika

Tindakan operatif
Kadang-kadang perlu parasentesis atau pemasangan “grommet”

Edukasi :
Bila sedang pilek tidak boleh melakukan penerbangan.

Penyulit
 Tuba kataral
 Hidrotimpanum
 Otitis media akut

Informed consent
Tertulis, bila diperlukan tindakan

Lama perawatan (-)

Masa pemulihan
Sangat bergantung pada penyebab nya.

Output/ Luaran
 Sembuh total
 Sering kambuh

11
PA
Tidak perlu

Autopsi/ Risalah rapat (-)

12
Nama penyakit/diagnosis
OTITIS EKSTERNA (BENIGNA)

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Sensasi radang di telinga luar (nyeri tekan, nyeri tarik).
 Sering timbul akibat : infeksi, usia tua, diabetes, iritasi (mekanis, termis,
kimiawi, radiasi).

Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda radang di liang telinga, kadang-kadang disertai secret dan tanda-tanda
infeksi jamur.

Diagnosis banding
 Otitis media.
 Radang sekitar telinga.

Konsultasi (-)

Perawatan RS
Rawat jalan.

Terapi
 Terapi konservatif (Medikamentosa).
 Lokal (obat tetes/ salep yang didahului dengan pembersihan liang telinga
dengan H2O2 3%.
 Sistemik.

Edukasi :
- Tidak boleh mengkorek – korek telinga.

Penyulit
 Karena perluasan penyakit  Otitis eksterna benigna
 Infeksi sistemik
 Perikondritis

13
Informed consent (-)

Lama perawatan (-)

Masa pemulihan (-)

Output/ Luaran
Sembuh total.
Bisa berulang (karena trauma atau karena jamur).

PA (-)

Otopsi/ Risalah rapat (-)

14
Nama penyakit/ diagnosis
SERUMEN SUMBAT (CERUMEN PLUG)

Kriteria diagnosis
Keluhan
Sumbatan pada telinga, terdapat gangguan pendengaran dan kadang – kadang nyeri
telinga.

Pemeriksaan
Sumbatan oleh serumen pada liang telinga luar.

Diagnosis banding
 Otitis eksterna
 Tumor jinak liang telinga
 Benda asing di liang telinga

Pemeriksaan penunjang (-)

Konsultasi (-)

Perawatan
Rawat jalan

Terapi
 Terapi konservatif
 Ekstaksi, irigasi
 Medikamentosa paska ekstraksi (lokal/ sistemis, bila perlu).

Edukasi :
- Dilakukan pemeriksaan telinga secara berkala (4 – 6 bulan) ke dokter THT.
- Jangan dibiasakan mengkorek telinga sendiri.

15
Penyulit
Karena penyakit :
- Otitis eksterna
- Otitis media

Informed consent (-)

Lama perawatan (-)

Masa pemulihan
Bila terdapat infeksi sekunder, dapat beristirahat 1-2 hari.

Ouput/ Luaran
Sembuh total

PA (-)

Otopsi/ Risalah rapat (-)

16
Nama penyakit/ diagnosis
BENDA ASING TELINGA

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Telinga kemasukan benda asing.
 Biasanya tidak menimbulkan gejala, kecuali bila benda asing bergerak (benda
asing hidup) atau bila telah terjadi reaksi radang.

Pemeriksaan
Tampak benda asing dalam liang telinga.

Diagnosis banding
 Serumen sumbat.
 Otitis eksterna.

Pemeriksaan penunjang (-)

Konsultasi (-)

Perawatan
Rawat jalan, kecuali bila memerlukan tindakan ekstraksi dalam anestesi umum.

Terapi
Ekstrasi benda asing

Edukasi :
Dilarang memasukkan benda apapun kedalam liang telinga.

Penyulit
 Otitis eksterna
 Perforasi membran timpani

Informed consent
Bila diperlukan ekstraksi dalam anestesi umum

17
Lama perawatan
 Rawat jalan
 Rawat Inap, hanya pada tindakan ekstraksi dengan anestesi umum.

Masa pemulihan (-).

Output/ Luaran
Sembuh total

PA (-)

Otopsi/ Risalah rapat (-)

18
Nama penyakit/ diagnosis
SINUSITIS MAKSILA AKUT

Kriteria Diagnosis
Keluhan
 Nyeri dan rasa tertekan di daerah maksial ipsilateral, sering menjalar ke gigi,
periorbita dan daerah temporal.
 Purulent rhinorrhoe, post nasal drip dengan bau tak sedap (seperti telor
busuk).
 Demam, malaise, hidung tersumbat.
 Nyeri bertambah pada posisi duduk atau sujud.
 Riwayat sakit gigi rahang atas bila infeksi gigi sebagai penyebab (dentogen).

Pemeriksaan
 Rinoskopi anterior, mukosa udem, hiperemi, sekret purulent di meatus
mediaus yang bertambah jelas setelah pemberian tampon yang mengandung
adrenalin.
 Rinoskopi posterior, post nasal drip (+).
 Pada kasus dentogen, bisa terdapat karies sampai dengan gangren.

Diagnosis banding
 Dental neuralgia
 Trigeminal neuralgia
 Migrain

Pemeriksaan penunjang
 Foto sinus paranasal
 CT-Scan
 Endoskopi hidung dan sinus paranasal
 Laboratorium : darah rutin

Konsultasi
Sesuai kebutuhan

19
Perawatan
 Rawat jalan
 Rawat inap bila disertai penyulit yang memerlukan rawat inap.

Terapi
 Antibiotik kurang lebih 2 minggu
 Dekongestan lokal, efedrin atau xyoloetazolin (otrivin) 3-5 hari
 Antihistamin
 Analgetik
 Pungsi dan irigasi sinus maksila, sebaiknya dilakukan setelah beberapa
hari pemberian antibiotik.
 Pengobatan/ perawatan gigi bila penyakit gigi sebagi kausal (dentogen).

Edukasi :
Bila sakit gigi, terutama rahang atas segera diobati.

Penyulit
Selulitis orbita.

Informed consent (-)

Lama perawatan (-)

Masa pemulihan (-)

Output/ Luaran
Baik.

PA (-)

Otopsi/ Risalah rapat (-)

20
Nama penyakit/ diagnosa
SINUSITIS FRONTAL AKUT

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Nyeri di daerah frontal, biasanya nyeri menetap 1-2 jam saat bangun pagi dan
hilang pada sore hari.
 Demam, malaise
 Riwayat sering pilek sebelumnya.

Pemeriksaan
 Pembengkakan di daerah pelpebra superior yang pada penekanan/ perkusi
menimbulkan nyari di frontal.
 Rinoskopi anterior.
 Mukosa membengkak, hiperemis, secret purulent.
 Setelah pemasangan tampon yang mengandung adrenalin, tampak pus
menetes di meatus medius.

Diagnosis banding
Migrain

Pemeriksaan penunjang
 Foto polos sinus paranasal.
 CT-Scan.
 Endoskopi hidung dan sinus paranasal.
 Laboratorium : Darah rutin.

Konsultasi
Sesuai kebutuhan

Perawatan
 Rawat jalan.
 Rawat inap hanya untuk kasus berat yang memerlukan tindakan bedah segera
atau kasus – kasus yang memerlukan pemberian obat antibiotika intra vena.

21
Terapi
 Antibiotik dekongestan lokal, antihistamin dan analgetika.
 Tindakan bedah untuk drainase :
Eksternal  insisi sedikit di bawah bagian medial kelopak mata.
Internal  dekompresi dengan endoskopi (FESS/ BSEF).

Edukasi :
Bila pilek segera berobat.

Penyulit
 Meningitis.
 Abses epidural.
 Empisema Subdural.
 Abses otak.
 Osteomielitis.
 Sinusitis frontalis kronis.

Informed consent
Untuk tindakan bedah

Lama perawatan
Tergantung keadaan

Masa pemulihan
Tanpa penyulit, 1-2 minggu

Output/ Luaran
Baik.

PA (-)

Otopsi/ Risalah rapat (-)

22
Nama penyakit/ diagnosis
SINUSITIS EDMOIDITIS AKUT

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Hidung tersumbat, ingus purulent.
 Nyeri didaerah glabela atau kantus medial.
 Bila disertai nyeri di daerah retroorbita, sinus edmoid posterior ikut kena.
 Nyeri berulang saat batuk atau menggerakkan kepala pada posisi tertentu dan
nyeri berkurang bila kepala dipertahankan pada posisi tegak.
 Nyeri juga dapat timbul saat bola mata digerakkan kearah lateral.
 Demam dan malaise.

Pemeriksaan
 Kemerahan/ bengkak didaerah fossa lakrimal.
 Rinoskopi anterior, mukosa rongga hidung membengkak, hiperemis sekret
purulent (+).
 Rinoskopi posterior, PND (+).

Diagnosis banding (-)

Pemeriksaan penunjang
 Foto polos sinus paranasal.
 CT-Scan.
 Endoskopi hidung dan sinus paranasal.
 Laboratorium : Darah rutin.

Konsultasi
Sesuai kebutuhan

Perawatan
 Rawat jalan
 Rawat inap hanya untuk tindakan bedah/ emergensi/ kasus dengan komplikasi.

23
Terapi
 Antibiotik, lokal dekongestan, antihistamin dan analgetika.
 Tindakan bedah pada kasus emergensi dapat berupa :
 Etmodektomi eksterna
 Etmodektomi interna (FESS/ BSEF).

Penyulit
 Selulitis orbita.
 Abses orbita.
 Penyulit operasi antara lain “CSF Lek”, cedera otot bola mata.
 Sinusitis Edmoidalis kronis.

Informed consent
Hanya untuk tindakan bedah.

Masa pemulihan
Tanpa penyulit, 1-2 minggu.

Output/ Luaran
Baik.

PA (-)

Otopsi/ Risalah rapat (-)

24
Nama Penyakit/ diagnosis
SINUSITIS SPHENOID AKUT

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Nyeri kepala sebelah/ ipsilateral, lebih sering terasa di satu lokasi, biasanya
frontotemporal atau retroorbital.
 Hiperestesi/ hipestesi daerah pipi (daerah V1, V2).
 Hidung tersumbat, purulent rhinorrho.

Pemeriksaan
 Rinoskopi anterior, mukosa udem, hiperemis secret purulent.
 Rinoskopi posterior, PND (+).

Diagnosis banding
Migrain

Pemeriksaan penunjang
 Foto sinus paranasal.
 CT-Scan
 Endoskopi hidung dan sinus paranasal.
 Laboratorium : Darah rutin.

Konsultasi
Sesuai kebutuhan.

Perawatan
Karena letak sinus sphenoid dekat dengan otak dan saraf kranial, sebaiknya setiap
sphenoiditis akut dirawat.

Terapi
 Antibiotik (sebaiknya intra vena).
 Lokal dekongestan, antihistamin dan analgetik.
 Tindakan bedah, intranasal dekompresi dengan endoskopi (FESS/ BSEF).

25
Penyulit
 Meningitis
 Abses intra kranial
 Trombosis sinus kavernosus
 Optik neuritis

Informed consent
Hanya untuk tindakan bedah.

Lama perawatan
Labih kurang satu minggu

Masa pemulihan
1-2 minggu

Output/ Luaran
Baik

PA (-)

Otopsi/ Risalah rapat (-)

26
Nama penyakit/ diagnosis
RHINITIS VASOMOTOR

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Hidung tersumbat (sisi yang tersumbat bergantian) dan excessive rhinore terjadi
bergantian.
 Hidung tersumbat berat saat bangun tidur dan berkurang/ menghilang setelah
siang.
 Rhonorroe dikaitkan dengan paroxymax sneezing.
 Lendir ke tenggorok, sakit kepala dan maiaise.

Pemeriksaan
 Gejala hidung tersumbat dominan, konka membesar, udem, warna pucat sampai
merah felap, permukaan licin sampai granuler.
 Gejala hidung berair dominan, ukuran konka normal, pucat, permukaan licin dan
banyak dijumpai secret.
 Pada rhinoskopi posterior, ujung inferior konka kadang – kadang membesar dan
pucat (dapat memberikan keluhan hidung tersumbat).

Diagnosis banding
 Rhinitis alergi.
 Sinusitis.

Pemeriksaan penunjang
 Foto sinus paranasal.
 CT-Scan sinus paranasal.
 Endoskopi hidung dan sinus paranasal.
 Tes alergi (skin prick test).

Konsultasi
Sesuai kebutuhan.

27
Perawatan
 Rawat jalan
 Rawat inap

Terapi
 Konservatif
 Antihistamin.
Dekongestan (oral / topikal).
 Topikal kortikosteroid, Beclomethsone propionat 2x sehari dengan dosis 100-
200 microgram/hari dan dapat dinaikkan sampai 400 microgram/hari.
Biasanya efek baru terlihat setelah 2 minggu.
 Operatif
 Sub mukosal diatermi.
 Turbinektomi.
 Vidian neurektomi.

Penyulit
 Sinusitis.
 Penyulit akibat tindakan/ operasi, rhinitis atrofi (CC, Turbektomi), diplopia,
penetrasi infraorbita dan palatum, gangguan lakrimasi, kebutaan, infraorbita
neuralgia (Vidian neurektomi).

Informed consent
Hanya untuk operasi.

Lama perawatan
2-5 hari (kasus operasi).

Masa pemulihan
Lebih kurang 2 minggu

Output/ Luaran
Rekuren/ kambuh tinggi.
PA (-)
Otopsi/ Risalah rapat (-)

28
Nama penyakit/diagnosis
RHINITIS KRONIK ALERGIK

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Empat gejala utama yaitu bersin, beringus, hidung tersumbat dan hidung gatal.
 Gejala-gejala tersebut bersifat menahun dan hilang timbul terkait dengan kontak
allergen, bertambah pada perubahan musim, suhu udara dan kelembaban.
 Tanda – tanda atopik yang lain.

Pemeriksaan
 Mukosa hidung dan konka edema, licin, pusat, livide dan basah.
 Kadang-kadang disertai polip.
 Ditemui tanda alergik salute dan suatu garis alergik disisi hidung (pipi).

Diagnisis banding
 Rhinitis vasomotor
 Rhinitis infeksi
 Rhinitis medikamentosa

Pemeriksaan penunjang
 IgE total serum (umumnya > 150)
 Kerokan mukosa konka. Secret hidung, umumnya eosinofilia.
 Foto polos sinus paranasal.
 Endoskopi hidung.
 Test alergi (skin prick test).

Konsultasi
Internis/ Klinik Alergi/ Asma

Perawatan
 Rawat jalan
 Rawat inap hanya bila terjadi penyulit, baik akibat penyakit atau pun akibat
pengobatan.

29
Terapi
 Konservatif (edukasi) :
 Hindari allergen
 Meningkatkan ketahanan tubuh.
 Obat, antagonis histamin.
 Bila perlu, steroid, elektrokauterisasi/ kemokauterisasi konka.
 Immunotherapi
 Operatif
 Konkotomi.
 Vidianneurektomi.

Penyulit
 Karena penyakit.
 Sinusitis.
 Otitis media.
 Polip hidung.
 Hip/ anosmia
 Karena tindakan bedah
Epistaksis/ anosmia.
 Karena immunoterapi
Reaksi sistemik ringan, bronkospasme sampai syok anafilaksis.

Informed consent
Tertulis, untuk tindakan bedah.

Masa pemulihan
 Paska tindakan bedah, lebih kurang tujuh hari.
 Rawat jalan, bila diperlukan 2-3 hari.

Output/ Luaran
 Umumnya sembuh parsial, dapat juga sembuh total
 Komplikasi penyulit dapat dijumpai seperti epistaksis, moon face.
PA : Khusus untuk tindakan bedah dan bersifat selektif.
Otopsi/ Risalah rapat (-).
Nama penyakit/ diagnosis

30
RHINITIS KRONIK INFEKSIOSA (HIPERTOFI)

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Gejala utama : ingus kental/ berwarna, hidung tersumbat, kadang – kadang
hidung terasa panas/ perih dan gatal.
 Gejala tambahan nyeri di pipi/ dahi, demam, sefalgia.
 Gejala – gejala tersebut diatas bersifat menahun dan hilang timbul.

Pemeriksaan
Mukosa hidung dan konka udem (hypertrophy) dengan permukaan tidak licin,
hiperemis, basah dan berlendir.

Diagnosis banding
 Rhinitis vasomotor.
 Rhinitis alergi.
 Rhinitis medikamentosa.

Pemeriksaan penunjang
 IgE total serum (umumnya < 100)
 Biakan mikroorganisme secret hidung dan tes sensitivitasnya
 Foto polos sinus paranasal
 Endoskopi hidung dan sinus paranasal
 Test alergi (skin prick test).

Konsultasi
Sesuai kebutuhan.

Perawatan
Rawat jalan, kecuali ada tindakan operatif.

Terapi
 Antibiotik, dekongestan dan mukolitik.
 Terapi bedah hanya bila diperlukan (konkotomi, dll).

31
Penyulit
 Karena penyakit
 Sinusitis
 Otitis media
 Polip hidung
 Hip/anosmia
 Meningitis
 Tonsilofaringitis kronis
 Penyakit sistemik lainnya
 Karena tindakan bedah
 Epistaksis
 Anosmia
 Sinekia

Informed consent
Hanya pada tindakan bedah

Lama perawatan
Pasien pasca bedah, lebih kurang 1 minggu.

Output/ Luaran
Umumnya sembuh total.

PA (-)

Otopsi/ Risalah rapat (-)

32
Nama penyakit/ diagnosis
RHINITIS KRONIK INFEKSIOSA (ATROFI)

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Hidung tersumbat.
 Epistaksis.
 Gangguan penciuman (tidak selalu).

Pemeriksaan
 Pada kavum nasi dijumpai krusta hijau kecoklatan, bila diangkat kadang – kadang
berdarah dan berbau.
 Atrofi konka.

Diagnosis banding
Nasal sifilis.

Pemeriksaan penunjang
 Foto polos sinus paranasal.
 Swab secret hidung untuk kultur dan resistensi
 Serologikal test (menyingkirkan sifilis).

Konsultasi (-).

Perawatan
Rawat jalan, kecuali bila dilakukan operasi.

Terapi
 Konservatif
 Cuci hidung 2x sehari dengan :
Sodium bicarbonat 28,4 g
Sodium biborat 28,4 g dilarutkan dalam 280 cc air hangat.
Sodium klorida 28,4 g
 Antibiotik disesuaikan dengan hasil kultur.
 Roborantia.

33
 Bedah
 Penutupan sementara dari lubang hidung (flap faringopalato)
 Implantasi berbagai material untuk mengurangi “abnormal turbulance air
flow” di fossa nasal.

Penyulit
Sinusitis

Informed consent
Hanya untuk kasus dengan tindakan bedah, 2-5 hari.

Masa pemulihan
Hanya untuk tindakan bedah, lebih kurang 1 minggu.

Output/ Luaran
Sulit sembuh total.

PA
Bila dicurigai ada keganasan.

Otopsi/ Risalah rapat (-).

34
Nama penyakit/ diagnosis
SINUSITIS KRONIS

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Pilek, secret kental, bau.
 Lendir ke tenggorok, rasa kering di tenggorok kadang – kadang batuk.
 Kadang – kadang nyeri di kepala.

Pemeriksaan
 Mukosa hidung hiperemis, konka udem, hipertrofi.
 Pus pada meatus medius.
 PND (+).
 Nyeri tekan pada pipi (sinusitis maksila), nyeri tekan pada kantus media (sinusitis
edmoid), nyeri tekan pada dahi (sinusitis frontal)
 Pada kasus dentogen, bisa terdapat karies sampai dengan ganggren pulpa.

Diagnosis banding
 Ozaena.
 Karsinoma hidung/ sinus paranasal.
 Benda asing di rongga hidung.

Pemeriksaan penunjang
 Transiluminasi.
 Foto polos sinus paranasal.
 CT-Scan sinus paranasal (bila memungkinkan).
 Endoskopi hidung dan sinus paranasal.

Konsultasi
Sesuai kebutuhan.

Perawatan
Untuk kasus yang memerlukan tindakan bedah.

Terapi

35
 Konservatif
 Antibiotik, dekongestan, antihistamin dan analgetik.
 Pungsi dan irigasi sinus (sinusitis maksila).
 Proetz Displacement (sinus etmoid)
 Diatermi hidung/ sinus paranasal.
 Operatif
 Etmoidektomi interna/ eksterna.
 Caldwell Luck.
 FESS.
 Tindakan/ terapi kausal seperti septoplasti, ekstraksi gigi.

Penyulit
 Karena penyakit
 Otitis media.
 Dakriosistitis.
 Faringitis, laryngitis dan trakeo bronchitis.
 Osteomielitis.
 Infeksi intra kranial.
 Karena operasi
 Perdarahan.
 Kebocoran LCS.
 Hematoma orbita.
 Kebutaan.
 Fistula oroantal.
 Parestesi pipi.

Informed consent
Hanya pada terapi operatif.

Lama perawatan
2-5 hari

Masa pemulihan
Lebih kurang satu minggu.

36
Output/ Luaran
Dapat sembuh total atau parsial.

PA
Bila terdapat kecurigaan pada keganasan.

Otopsi/ Risalah rapat (-)

Nama penyakit/ diagnosis


HEMATOMA/ ABSES SEPTUM

37
Kriteria diagnosis
Keluhan
Hidung tersumbat, biasanya disertai riwayat trauma hidung.

Pemeriksaan
Pembengkakan septum, dapat bilateral dan sering meluas sampai ke dinding.

Diagnosis banding
 Rhinitis akut.
 Sinisitis akut.

Pemeriksaan penunjang (-).

Konsultasi
Sesuai kebutuhan.

Perawatan
Rawat jalan.

Terapi
 Antibiotik (broad spectrum).
 Insisi dan drainase.

Penyulit
 Abses septum.
 Deformitas hidung.

Informed consent (-).

Lama perawatan (-).

Masa pemulihan
Lebih kurang satu minggu

38
Output/ Luaran
Bila terjadi komplikasi.

PA (-).

Otopsi/ Risalah rapat (-).

Nama penyakit/ diagnosis


SEPTUM DEVIASI

39
Kriteria diagnosis
Keluhan
 Hidung tersumbat, pada mulanya obstruksi hanya terjadi pada satu sisi (sisi
deviasi) tapi akhirnya menjadi dua sisi (hipertrofi konka kompensatorik)
 Sakit kepala.
 Gangguan penciuman (tidak selalu).

Pemeriksaan
 Septum deviasi (+).
 Hipertrofi konka kompensatorik (+).

Diagnosis banding
 Hematoma/ Abses septum.

Pemeriksaan penunjang
 Foto polos sinus paranasal.
 Endoskopi hidung dan sinus paranasal.

Konsultasi (-).

Perawatan
Untuk tindakan bedah.

Terapi
Operasi, setoplasti/ SMR

Penyulit
Sinusitis.

Informed consent
Untuk tindakan bedah.

Lama perawatan
Untuk tindakan bedah 2-5 hari.

40
Masa pemulihan
Pasca bedah lebih kurang 1 minggu.

Output/ Luaran
Dapat sembuh total.

PA (-).

Otopsi/ Risalah rapat (-).

Nama penyakit/ diagnosis


RINOLIT

41
Kriteria diagnosis
Keluhan
Awalnya tanpa gejala, tetapi dengan semakin membesarnya ukuran rinolit lambat
laun akan timbul keluhan hidung tersumbat.

Pemeriksaan
 Tampak massa berwarna coklat keabu – abuan, ireguler dan biasanya terletak
dekat dasar hidung.
 Pada palpasi, konsistensi keras seperti batu.

Diagnosis banding
 Corpus alineum di hidung.
 Tumor hidung.
 Nasal sifilis.

Pemeriksaan penunjang
 Foto polos sinus paranasal.
 Serologis (bila perlu).

Konsultasi (-).

Perawatan
 Rawat jalan.
 Rawat inap, bila ektraksi rinolit akan dilakukan dengan tindakan bedah dalam
anestesi umum.

Terapi
 Antibiotik dan terapi simptomatik.
 Ekstraksi rinolit
 Untuk kasus sulit, ekstraksi dapat dilakukan dengan tindakan bedah dalam
anestesi umum.

Penyulit
Sinusitis.

42
Informed consent
Bila perlu tindakan operatif.

Lama perawatan
Pasca tindakan bedah 2-5 hari

Masa pemulihan
Pasca tindakan bedah lebih kurang 1 minggu.

Output/ Luaran
Dapat sembuh total.

PA
Bila diperlukan.

Otopsi/ Risalah rapat (-).

Nama penyakit/diagnosis

43
TONSILITIS KRONIS

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Nyeri menelan, nyeri tenggorok.
 Rasa benda asing ditenggorok
 Mulut berbau
 Kadang-kadang disertai lesu, nafsu makan kurang dan sakit kepala.
 Sering batuk pilek.

Pemeriksaan
 Biasanya tonsil membesar, kripta melebar.
 Terdapat detritus pada penekanan
 Arkus Faring Anterior dan posterior hiperemis
 Kadang-kadang diikuti pembesaran kelenjar getah bening sub mandibula.

Diagnosis banding
 Radang tonsil oleh sebab lain
 Kelainan darah

Pemeriksaan penunjang
 Laboratorium rutin.
 Pemeriksaan serologis (ASTO).
 Pemeriksaan Bakteriologis.

Konsultasi (-).

Perawatan
Rawat jalan, kecuali bila memerlukan tindakan operatif

Terapi
 Konservatif

44
 Antibiotika
 Antiseptik lokal, analgetik (simptomatik).
 Tonsilektomi.

Informed consent
Bila perlu tindakan operatif.

Lama perawatan (-).

Masa pemulihan (-).

Output/ Luaran
 Sembuh total dengan terapi operatif.
 Parsial
 Menetap

PA
Bila terdapat kecurigaan terhadap keganasan.

Otopsi/ Risalah rapat (-)

45
Nama penyakit/diagnosis
FARINGITIS KRONIS

Kriteria diagnosis
Keluhan
 Nyeri atau rasa mengganjal ditenggorok.
 Lesu dan nafsu makan menurun.
 Sakit kepala.
 Gejala sinusitis, bila sekunder dari sinusitis kronis.

Pemeriksaan
Mukosa faring hiperemis, pada umumnya bergranuler, post nasal drip (PNA).

Diagnosis banding
Radang spesifik : TBC, jamur

Pemeriksaan penunjang
 Darah dan urin rutin
 Bakteriologi, apus tenggorok.
 Serologi/ ASTO (bila dianggap perlu).
 Biopsi (bila perlu)

Konsultasi (-).

Perawatan
Rawat jalan

Terapi
Konservatif
 Antibiotik (sesuai sensitivitas tes)
 Analgetik, antiseptik lokal (simptomatik)
 Kauter Faring, menggunakan zat kimia atau elektrokauter.
 Terapi kausal : sinusitis, dll.

46
Penyulit
Lokal, Fetor ex ore, Otitis media.
Sistemik, endokarditis bacterial, glomerulonefritis.
Infromed consent (-).

Lama perawatan (-).

Masa pemulihan (-).

Output/ Luaran
 Sembuh total
 Parsial
 Menetap

PA
Bila terdapat kecurigaan terhadap keganasan

Otopsi/ Risalah rapat (-).

47
Nama penyakit/ diagnosis
TUMOR GANAS NASOFARING

Kriteria diagnosis
 Keluhan dan kelainan fisik dini tidak jalas.
 Biasanya berupa hidung tersumbat, epistaksis, gangguan pendengaran, sakit
kepala, pembengkakan leher dan kelumpuhan salah satu saraf kranial.

Pemeriksaan Endoskopi Nasofaring


 Stadium dini, permukaan mukosa dapat tidak rata, palpasi agak mulai berdarah.
 Stadium selanjutnya, tampak tumor nasofaring.
 Kelumpuhan saraf kranial, tumor leher lateral, kadang – kadang hidung
tersumbat.
 Post Nasal Bleeding.

Diagnosis banding
 Tumor leher lain.
 Kelainan neurologik.
 Hipertrofi adenoid.

Pemeriksaan penunjang
 CT-Scan nasofaring
 Audiometri
 Biopsi

Konsultasi
 Dokter Spesialis Mata
 Dokter Spesialis Saraf
 Dokter Spesialis Radiologi/ Radioterapi

Perawatan
 Stadium dini : Rawat jalan
 Stadium lanjut : Rawat inap
 Sesuai kebutuhan.
Terapi

48
Radioterapi/ Khemoradiasi tergantung stadium.

Informed consent
Untuk tindakan biopsi.

49

Anda mungkin juga menyukai