Informasi Umum
Nama Penyusun : AMRAN
Institusi : MAS GUPPI Gunung Jati
Tahun Penyusunan : 2024/2025
Jenjang Sekolah : Madrasah Aliyah
Kelas : X
Alokasi Waktu : 10 Jp (450 menit)
Komponen Inti
Fase :E
Elemen : Sejarah Kebudayaan Islam
Capaian Pembelajaran : Peserta didik mampu menganalisis kebudayaan masyarakat
Mekah dan Madinah sebelum Islam, substansi dan strategi
dakwah Rasulullah saw. periode Mekah dan Madinah,
peristiwa hijrah yang dilakukan Rasulullah saw. dan para
sahabat, substansi Piagam Madinah (Misaq al-Madinah), dan
faktor-faktor keberhasilan Fathumakah sebagai inspirasi
dalam menerapkan perilaku mulia Rasulullah saw. di
kehidupan masa kini dan masa depan
Tujuan Pembelajaran :
10.1. Peserta didik dapat menganalisis kebudayaan
masyarakat Mekah dan Madinah sebelum Islam,
10.2. Peserta didik dapat menganalisis substansi dan
strategi dakwah Rasulullah saw. periode Mekah dan
Madinah,
10.3. Peserta didik dapat menganalisis peristiwa hijrah
yang dilakukan Rasulullah saw. dan para sahabat,
10.4. Peserta didik dapat menganalisis substansi Piagam
Madinah (Misaq al-Madinah),
10.5. Peserta didik dapat mengidentifikasi faktor-faktor
keberhasilan Fathu Mekah sebagai inspirasi dalam
menerapkan perilaku mulia Rasulullah saw. di
kehidupan masa kini dan masa depan.
Kata Kunci : Tradisi masyarakat Mekah, Dakwah Nabi Muhammad
saw. Di Mekah dan Madinah, Substansi dan Strategi dakwah
Nabi Muhammad saw, Peristiwa Hijrah, Piagam Madinah,
Fathumakah
Pertanyaan inti :
1. Jelaskan kebiasaan positif dan negatif masyarakat
Mekah sebelum datangnya Islam.
2. Jelaskan tahapan dakwah Nabi Muhammad saw. Pada
masa permulaan.
3. Jelaskan substansi dakwah Nabi Muhammad saw.
Ketika di Mekah
4. Jelaskan Strategi dakwah Nabi Muhammad saw. Ketika
di Madinah
5. Sebutkan sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. Yang
termasuk Assabiqunalawwalun.
6. Jelaskan peristiwa yang melatarbelakangi Hijrah
Rasulullah saw. dan para sahabat.
7. Jelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam Piagam
Madinah.
8. Jelaskan faktor-faktor yang melatarbelakangi peristiwa
Fathu Mekah.
9. Sebutkan contoh-contoh perilaku mulia yang dapat
diteladani dari Nabi Muhammad saw.
Kompetensi Awal : Peserta didik telah memiliki kemampuan awal dalam
memahami kebudayaan masyarakat Arab sebelum Islam,
tahapan dakwah Nabi Muhammad saw. Di Mekah dan
Madinah, peristiwa hijrah, peristiwa Fathu Mekah, dan
perilaku mulia Nabi Muhammad saw.
Profil Pelajar Pancasila
Profil Pelajar Pancasila yang ingin dicapai adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mandiri, gotong royong,
bernalar mandiri, dan kritis.
Sarana dan Prasarana
Fasilitas pembelajaran yang diperlukan diantaranya LCD Projector, multimedia
pembelajaran interaktif, komputer/laptop, printer, alat pengeras suara/speaker aktif,
jaringan internet. Sarana dan prasarana ini bisa disesuaikan dengan kondisi di madrasah
masing-masing.
Target Peserta Didik
Kategori peserta didik dalam proses pembelajaran ini adalah peserta didik regular.
Jumlah Peserta Didik
Maksimum 32 peserta didik.
Ketersediaan Materi
Alternatif penjelasan, metode, atau aktivitas, untuk peserta didik yang sulit memahami
konsep.
Metode Pembelajaran
Tatap muka (Luring)
Materi Ajar, Alat dan Bahan
1. Materi atau sumber pembelajaran yang utama: Buku Teks Sejarah Kebudayaan
Islam kelas X (Kementerian Agama, 2020). Adapun sumber pembelajaran dari
internet diantaranya :
a. [Link]
b238296p/
b. [Link]
upan-sosial-dan-budaya-bangsa-arab-zaman-pra-islam
c. [Link]
dakwahnya-b238266p/
d. [Link]
b238030p/
e. [Link]
ancamannya-b238158p/
f. [Link]
madinah-b220257p/
g. [Link]
sahabatnya-b241478p/
h. [Link] -dan-madinah-dalam-
kitab-al-asybah-wa-nadzair-b238581p/
i. [Link] (kisah Nabi)
2. Alat dan bahan yang diperlukan : papan tulis, spidol/boardmarker, alat tulis
Kegiatan Pembelajaran Utama
Pengaturan peserta didik : Berkelompok 2 – 4
Metode : Inquiry Learning
Asesmen
1. Asesmen dilakukan melalui asesmen individu dan kelompok
2. Jenis asesmen:
a. Penilaian sikap (observasi)
b. Penilaian pengetahuan (tes tulis)
c. Penilaian keterampilan (produk)
Persiapan Pembelajaran : (5 menit)
1. Guru memeriksa dan memastikan semua sarana dan prasarana yang diperlukan
tersedia.
2. Memastikan bahwa ruang kelas sudah bersih, aman dan nyaman
3. Menyiapkan bahan tayang dan multimedia pembelajaran interaktif
Kegiatan pembelajaran
Pertemuan 1
Pendahuluan (10 menit )
1. Peserta didik berdoa secara bersama-sama, dipandu tawasul oleh guru dan
membaca Q.S. Al-Baqarah (2) 124 – 130 dengan tartil beserta terjemahnya.
2. Guru menyapa setiap peserta didik dengan kontak mata dan menanyakan
kondisi masing-masing dan menyampaikan apersepsi.
3. Guru memberikan motivasi dan mengajukan pertanyaan yang terkait dengan
materi pelajaran, menyampaikan cakupan materi, tujuan pembelajaran, dan
kegiatan yang akan dilakukan, serta lingkup dan teknik penilaian.
Kegiatan Pembelajaran Inti (70 menit)
4. Guru memberikan permasalahan terkait kebudayaan masyarakat Mekah dan
Madinah sebelum Islam.
5. Guru meminta peserta didik merumuskan masalah terkait kebudayaan
masyarakat Mekah dan Madinah sebelum Islam.
6. Peserta didik mendiskusikan jawaban atas rumusan masalah sesuai kelompok
masing-masing
7. Peserta didik melakukan aktivitas pengumpulan data dan informasi dari
literatur yang ada menggunakan metode information search untuk menjawab
rumusan masalah. Peserta didik dapat mengakses informasi dari buku digital
madrasah maupun sumber lain (direkomendasikan guru).
8. Peserta didik melakukan analisa perbandingan isi masing-masing literatur
tersebut.
9. Peserta didik mempresentasikan di depan kelas dan secara bersama-sama
menyimpulkan hasil temuan yang diperoleh.
Penutup Pembelajaran ( 10 menit )
10. Guru meminta salah satu peserta didik untuk mereview kegiatan pembelajaran
hari ini, sebagai bentuk refleksi akhir.
11. Guru menutup pembelajaran dengan berdoa dan membaca doa kafaratul majlis
bersama-sama.
Pertemuan 2
Pendahuluan (10 menit )
1. Peserta didik berdoa secara bersama-sama, dipandu tawasul oleh guru dan
membaca Q.S. Ali Imran (3) 144 – 145 dengan tartil beserta terjemahnya.
2. Guru menyapa setiap peserta didik dengan kontak mata dan menanyakan
kondisi masing-masing dan menyampaikan apersepsi.
3. Guru memberikan motivasi dan mengajukan pertanyaan yang terkait dengan
materi pelajaran, menyampaikan cakupan materi, tujuan pembelajaran, dan
kegiatan yang akan dilakukan, serta lingkup dan teknik penilaian.
Kegiatan Pembelajaran Inti (70 menit)
4. Guru mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan
dengan substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw. periode Mekah dan
Madinah, kemudian mencoba mengajak peserta didik untuk membuat hipotesis
atas masalah yang ditemukan tersebut..
5. Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-
banyaknya dari berbagai literatur teks/buku atau digital dan membagikan ide
mereka sendiri untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah tentang
substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw. periode Mekah dan Madinah.
6. Guru membantu dalam menganalisis data yang telah terkumpul pada tahap
sebelumnya, sesuaikan data dengan masalah yang telah dirumuskan, kemudian
dikelompokkan. Peserta didik memberi argumen terhadap jawaban pemecahan
masalah tiap kategori.
7. Guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang
telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya
Penutup Pembelajaran ( 10 menit )
8. Guru meminta salah satu peserta didik untuk mereview kegiatan pembelajaran
hari ini, sebagai bentuk refleksi akhir.
9. Guru menutup pembelajaran dengan berdoa dan membaca doa kafaratul majlis
bersama-sama.
Diferensiasi
1. Untuk peserta didik yang berminat belajar dan mengeksplorasi topik ini lebih jauh,
disarankan untuk membaca materi menganalisis kebudayaan masyarakat Mekah dan
Madinah sebelum Islam, substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw. periode
Mekah dan Madinah, peristiwa hijrah yang dilakukan Rasulullah saw. dan para
sahabat, substansi Piagam Madinah (Misaq al-Madinah), dan faktor-faktor
keberhasilan Fathumakah dari berbagai referensi dan literatur lain yang relevan.
2. Guru dapat menggunakan alternatif metode dan media pembelajaran sesuai dengan
kondisi masing-masing agar pelaksanaan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan
(joyfull learning) sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.
3. Untuk peserta didik yang kesulitan belajar topik ini, disarankan untuk belajar
kembali kebudayaan masyarakat Mekah dan Madinah sebelum Islam, substansi dan
strategi dakwah Rasulullah saw. periode Mekah dan Madinah, peristiwa hijrah yang
dilakukan Rasulullah saw. dan para sahabat, substansi Piagam Madinah (Misaq al-
Madinah), dan faktor-faktor keberhasilan Fathumakah dari berbagai referensi dan
literatur lain yang relevan. pada pembelajaran di dalam dan atau di luar kelas sesuai
kesepataan antara guru dengan peserta didik . Peserta didik juga disarankan untuk
belajar kepada teman sebaya.
Refleksi Guru
Pertanyaan kunci yang membantu guru untuk merefleksikan kegiatan pengajaran
di kelas, misalnya:
1. Apakah semua peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran?
2. Kesulitan apa yang dialami?
3. Apa langkah yang perlu dilakukan untuk memperbaiki proses belajar?
4. Apakah kegiatan pembelajaran dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis
pada diri peserta didik ?
5. Apakah kegiatan pembelajaran ini bisa membangun kesadaran peserta didik
tentang pentingnya akhlak terhadap sesama untuk saling menghargai dan
menghormati?
Asesmen
1. Asesmen Diagnostik (Sebelum Pembelajaran)
Untuk mengetahui kesiapan peserta didik dalam memasuki pembelajaran,
dengan pertanyaan:
Jawaban
Pertanyaan
ya tidak
1) Apakah pernah membaca buku terkait kebudayaan
masyarakat Mekah dan Madinah sebelum Islam,
substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw.
periode Mekah dan Madinah, peristiwa hijrah yang
dilakukan Rasulullah saw. dan para sahabat,
substansi Piagam Madinah (Misaq al-Madinah), dan
faktor-faktor keberhasilan Fathumakah ?
2) Apakah kalian ingin menguasai materi pelajaran
dengan baik?
3) Apakah kalian sudah siap melaksanakan pembelajaran
dengan metode point counter-point?
2. Asesmen Formatif (Selama Proses Pembelajaran)
Asesmen formatif dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran berlangsung,
khususnya saat peserta didik melakukan kegiatan diskusi, presentasi dan refleksi
tertulis.
a. Asesmen saat inquiry learning (ketika peserta didik melakukan kegiatan belajar
dengan metode inquiry learning)
Lembar kerja pengamatan kegiatan pembelajaran denga metode inquiry learning
Aspek yang diamati Skor
No Nama Peserta didik
Ide/gagasan Aktif Kerjasama 1 2 3 4
1 Afdal
2 Alpira
3 Asrapur Ridho
4 Barack Adnan Hass
5 Cinta
6 Dikarnila
7 Ezha Sahira
8 Hafisa Tul Khairat
9 Istiyana
10 Karmilah
11 Khaerah Ummah
12 Kherunnisa
13 Marpin
14 Muayyada
15 Muh. Alif Wahyudi
16 Naila
17 Nengsi
18 Nita Talia
19 Nurul Aifah
20 Nurul Indi
21 Nurul Mutmainna
22 Putri Azizah
23 Putri Ramadani
24 Sinar
25 Syamil Ashan
26 Tasya
27 Ummu Inaya
Nilai = skor x 25
3. Asesmen Sumatif
a. Asesmen Pengetahuan
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan jawaban yang benar!
1) Masa kehidupan Arab sebelum datangnya Islam dinamakan Jahiliah atau
masa kebodohan. Mengapa dinamakan jahiliah?
2) Keadaan masyarakat arab sebelum datangnya agama Islam merupakan
bangsa jahiliah , yang mempunyai kebiasaan-kebiasaan tidak baik. Bahkan,
kebiasaan itu tidak bisa diterima oleh akal sehat. Hal itu menjadi tantangan
yang sangat besar bagi Rasulullah saw. sebagai nabi yang diutus kepada
bangsa Arab pada awalnya, dan semua makhluk pada akhirnya.
Bagaimanakah sikap yang dilakukan Rasulullah saw dalam menghadapi
tantangan masyarakat jahiliah/kaum Kuraisy?
3) Rasulullah saw. merupakan orang yang paling utama kepribadiannya,
lemah lembut, jujur dalam setiap ucapan, terjaga jiwanya, paling baik
amalnya, menepati janji, dan amanah ketika memegang kepercayaan. Atas
kepribadian baik tersebut, Rasulullah saw. diberi gelar istimewa oleh
masyarakat Mekah, gelar tersebut adalah?
4) Dakwah Rasulullah saw. berlangsung dalam dua tahapan, yaitu dakwah
sirriyah dan jahriyah. Pada pediode dakwah sirriyah, hal ini dilakukan
terhadap para sahabat yang masuk Islam lebih awal, mereka disebut juga
sebagai Assabiqunalawwalun. Siapa sajakah sahabat-sahabat yang termasuk
golongan Assabiqunalawwalun?
5) Bagaimanakah sikap dan perlakuan penduduk Yasrib/Madinah atas
kedatangan Rasulullah saw dan para sahabat?
6) Keberhasilan dakwah Rasulullah saw. pada saat di Madinah tidak lepas
dari keinginan masyarakat Madinah untuk merubah sikap dan perilaku
mereka, bahkan bersedia menjadi pelindung Rasulullah saw. Hal tersebut
tercermin dari komitmen mereka terhadap Baiat Aqabah. Jelaskan makna
atau nilai-nilai yang terkandung dalam Baiat Aqabah ?
7) Selama periode dakwah Rasulullah saw., berapa kali kaum muslim
melaksanakan hijrah?
8) Sebutkan tempat tujuan hijrah dan perlakuan yang didapatkan oleh kaum
muslimin?
9) Jelaskan latarbelakang terjadinya peristiwa Fathumakah!
10) Jelaskan sikap Rasulullah saw. dan kaum muslim terhadap masyarakat
Mekah dalam peristiwa Fathumakah!
Pedoman Penskoran
No Kunci Jawaban Skor
1 1-4
2 1-4
3 1-4
4 1-4
5 1-4
dst
Skor maksimal 40
Nilai = skor yang diperoleh x 2,5
b. Asesmen keterampilan
1) Peserta didik membuat media pembelajaran (digital atau non digital)
tentang materi menganalisis kebudayaan masyarakat Mekah dan Madinah
sebelum Islam, substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw. periode Mekah dan
Madinah.
Kemudian mempresentasikannya di depan kelas.
Contoh Rubrik Penilaian Produk:
Nama kelompok : …………………………………..
Anggota : …………………………………..
Kelas : …………………………………..
Nama produk : …………………………………..
Skor
No Aspek
1 2 3 4
1. Perencanaan
a. persiapan
b. linimasa pembuatan
c. jenis produk
2. Proses pembuatan
a. penggunaan media, alat dan bahan
b. teknik pembuatan
c. kerjasama kelompok
3. Tahap akhir
a. kualitas produk
b. publikasi
c. kreatifitas
d. orisinalitas
Keterangan penilaian:
Perencanaan
Skor Keterangan
1 Tidak baik, ada kolaborasi dalam kelompok tetapi tidak ada
linimasa dan penentuan jenis produk sesuai tema
2 Cukup baik, ada kolaborasi dalam kelompok dan linimasa
pembuatan tetapi tidak diikuti semua anggota kelompok dan
ada penentuan jenis produk sesuai tema
3 Baik, ada kolaborasi tetapi tidak diikuti semua anggota
kelompok ada linimasa pembuatan dan ada penentuan jenis
produk sesuai tema
4 Sangat baik, ada kolaborasi antar semua anggota kelompok, ada
linimasa pembuatan dan ada penentuan jenis produk sesuai
tema
Proses pembuatan
Skor Keterangan
1 Tidak baik, ada media, alat dan bahan dan tidak mampu
menguasai teknik pembuatan dan tidak ada kerjasama
kelompok
2 Cukup baik, ada media, alat dan bahan dan mampu menguasai
teknik pembuatan dan tidak ada kerjasama kelompok
3 Baik, ada media, alat dan bahan dan tetapi mampu menguasai
teknik pembuatan dan ada beberapa kerjasama kelompok
4 Sangat baik, ada media, alat dan bahan dan mampu menguasai
teknik pembuatan dan ada kerjasama kelompok
Tahap akhir
Skor Keterangan
1 Tidak baik, ada produk tetapi belum selesai
2 Cukup baik, ada produk, bentuk publikasi kurang sesuai tema,
dan belum ada kreatifitas
3 Baik, ada produk, bentuk publikasi sesuai tema, belum ada
kreatifitas, dan orisinil
4 Sangat baik, ada produk, bentuk publikasi sesuai tema, ada
kreatifitas, dan orisinil
Petunjuk penskoran:
Penghitungan skor akhir menggunakan rumus:
Skor Perolehan x 10 = ….
Refleksi Untuk Peserta Didik
Nama Peserta didik : .........................................................
Kelas : .........................................................
Pertanyaan Refleksi Jawaban Refleksi
Bagian manakah yang menurutmu paling
sulit dari pelajaran ini?
Apa yang akan kamu lakukan untuk
memperbaiki hasil belajarmu?
Kepada siapa kamu akan meminta bantuan
untuk memahami pelajaran ini?
Jika kamu diminta untuk memberikan
bintang 1 sampai 5, berapa bintang akan
kamu berikan pada usaha yang telah kamu
lakukan?
Daftar Pustaka
Elfa Tsuroyya (2020), Sejarah Kebudayaan Islam, XI Madrasah Aliyah,
Kementerian Agama, Jakarta
Philip K. Haiti (2018), History Of Arabs, Zaman, Jakarta
Lembar Kerja Peserta Didik
Nama Peserta didik : .........................................................
Kelas : .........................................................
Kegiatan Peserta didik /
Tahapan Catatan Hasil Kegiatan
Pertanyaan
Stimulasi Peserta didik mengamati
tayangan tentang menganalisis
masyarakat Mekah dan Madinah
sebelum Islam, substansi dan
strategi dakwah Rasulullah saw.
periode Mekah dan Madinah.
Identifikasi 1. Jelaskan perilaku masyarakat
Masalah Arab sebelum datangnya Islam
2. Jelaskan nilai-nilai pokok dalam
ajaran dakwah Rasulullah saw.
Kegiatan Peserta didik /
Tahapan Catatan Hasil Kegiatan
Pertanyaan
3. Jelaskan tantangan dan
hambatan Rasulullah saw.
dalam melaksanakan dakwah
di Mekah
4. Jelaskan respons masyarakat
Yasrib (Madinah) terhadap
dakwah Rasulullah saw.
5. Bagaimana penerapan
keteladanan Rasulullah saw.
dalam kehidupan sehari-hari?
Mengumpulkan Kumpulkan informasi sebanyak
informasi mungkin terkait dengan materi
menganalisis kebudayaan
masyarakat Mekah dan Madinah
sebelum Islam, substansi dan
strategi dakwah Rasulullah saw.
periode Mekah dan Madinah
Mengolah Catat dan klasifikasikan informasi
informasi yang diperoleh untuk kemudian
dijadikan dasar menjawab
persoalan
Verifikasi dan Lakukan verifikasi hasil olah data,
presentasi hasil pastikan temuan kalian sudah benar
dan kemudian presentasikan
Generalisasi Buatlah kesimpulan dari
hasil kajiankelompok kalian.
Bahan Bacaan Peserta didik
1. [Link]
b238296p/
2. [Link]
b238030p/
3. [Link]
ancamannya-b238158p/
4. [Link]
sahabatnya-b241478p/
5. [Link]
di-madinah-b220257p/
Bahan Bacaan Guru:
1. [Link]
menuju-dakwahnya-b238266p/
2. [Link] -dan-madinah-
dalam-kitab-al-asybah-wa-nadzair-b238581p/
3. [Link]
kafir-Kuraisy-b216655p/
4. [Link]
nabi-pasca-hijrah-di-madinah-b237540p/
5. [Link]
yang-meninggal-b241210p/
6. [Link] n-al-buthi-dakwah-itu-butuh-cinta-
b243069p/
7. [Link]
begini-alasan-michael-h-hart-b240384p/
Materi Pengayaan dan Remedial:
Peserta didik yang memperoleh capaian tinggi akan diberikan pengayaan
berupa kegiatan tambahan terkait dengan kajian topik. Peserta didik mempelajari
kebudayaan masyarakat Mekah dan Madinah sebelum Islam, substansi dan strategi
dakwah Rasulullah saw. periode Mekah dan Madinah. di dalam referensi dan literatur
yang relevan.
Sedangkan peserta didik yang menemukan kesulitan akan memperoleh
pendampingan dari guru berupa bimbingan personal atau kelompok dengan langkah-
langkah kegiatan yang lebih sederhana. Peserta didik diminta mempelajari kembali
materi kebudayaan masyarakat Mekah dan Madinah sebelum Islam, substansi dan
strategi dakwah Rasulullah saw. periode Mekah dan Madinah.
Peta Konsep
Kebudayaan Masyarakat
Makkah sebelum Islam
Substansi dan Strategi
DAKWAH
Dakwah Periode Makkah
PERIODE MAKKAH
Peristiwa Penting dalam
Dakwah Periode Makkah
A. Kebudayaan Masyarakat Mekah Sebelum Islam
Gambar ka’bah masa Jahiliyah
Para ahli sejarah menyebut masa sebelum kehadiran Islam yang dibawa oleh
Rasulullah saw. sebagai masa jahiliah. Secara bahasa masa jahiliyah berasal dari kata jahil,
yang diturunkan dari kata dasar Arab jahala yang berarti bodoh.
Zaman jahiliah ini terdiri atas dua periode yaitu jahiliah periode pertama dan jahiliah
periode kedua. Jahiliah periode pertama meliputi masa yang sangat panjang, tetapi tidak
banyak yang bisa diketahui hal ihwalnya dan sudah lenyap sebagian masyarakat
pendukungnya. Adapun jahiliah periode kedua berlangsung kira-kira sekitar 150 tahun
sebelum Islam lahir. Jahiliah periode kedua inilah yang kita kenal hingga sekarang.
Bangsa Arab sebelum Islam sudah mengenal dasar-dasar beberapa cabang ilmu
pengetahuan, bahkan dalam hal seni sastra mereka telah mencapai tingkat kemajuan pesat.
Negeri Arab adalah sebuah semenanjung di ujung barat daya benua Asia. Di sebelah utara
berbatasan dengan Syam, Palestina, dan al-Jazirah. Di sebelah selatan berbatasan dengan
Teluk Aden dan Samudra India. Di sebelah timur berbatasan dengan Teluk Oman dan
Teluk Persia; dan di sebelah barat berbatasan dengan Selat Bab Al-Mandib, Laut Merah dan
Terusan Zues.
Keadaan Arab khususnya daerah Mekah terdiri atas gurun pasir yang panas dan
gersang. Hal ini mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat Mekah sehingga tercermin
dalam kehidupan sosial budaya mereka. Orang-orang Mekah dikenal sebagai bangsa
pengembara yang nomaden. Mereka sering berpindah pindah dengan mengandalkan
kendaraan yang berupa unta dan kuda.
Masyarakat Arab senang hidup berkelompok dan tergabung dalam kabilah atau suku
yang sangat banyak jumlahnya. Kekuatan, keperkasaan, keuletan dan keberanian
merupakan modal utama untuk dapat bertahan di alam gurun pasir. Mereka tidak
menyukai anak-anak wanita karena wanita dinilai makhluk lemah, dan tidak kuat
melakukan pekerjaan yang berat. Seakan suatu bencana besar dan sebagai aib jika tidak
mempunyai anak laki-laki. Namun, selain memiliki watak, perangai, dan perilaku keras,
penduduk arab mempunyai jiwa seni sastra yang tinggi, terutama dalam bentuk syair dan
sajak. Kepandaiannya dalam mengubah sajak atau syair merupakan kebanggaan orang
Arab. Para penyair kenamaan sangat dikagumi dan dihormati.
Dari segi keyakinan, bangsa Arab pada masa jahiliah terbagi menjadi beberapa
golongan:
1. Golongan yang mengingkari Sang Pencipta dan hari kebangkitan.
2. Golongan yang mengakui adanya Tuhan, tetapi walaupun mengakui adanya Tuhan,
namun mengingkari adanya hari kebangkitan.
3. Golongan yang menyembah berhala, biasanya masing-masing kabilah memiliki
berhala sendiri-sendiri. Kabilah Kalab di Daumatul Jandal misalnya, mereka
mempunyai berhala Wad, kabilah Huzdail mempunyai berhala Suwa, Kabilah Madzhaj
dan kabilah-kabilah di Yaman semuanya menyembah Yaghuts dan Ya’uq, Kabilah
Tsaqif di Thaif menyembah Latta, Kabilah Qurays di Kinanah menyembah Uzza.
Kabilah Aus dan Khazraj menyembah Manat, dan sebagai pemimpin dari semua
berhala adalah Hubal yang ditempatkan di samping sisi Kakbah
4. Golongan yang lain adalah golongan yang cenderung mengikuti ajaran Yahudi,
Nasrani, dan Shabiah, ada pula yang menyembah malaikat atau jin.
Label jahiliah yang diberikan kepada bangsa Arab pra Islam, bukan berarti tidak ada
kebaikan sama sekali dalam kehidupan mereka. Bangsa Arab masih memiliki akhlak-akhak
mulia dan budaya positif yang menyejukkan dan menakjubkan akal manusia, Di antara
perkembangan kebudayaan masyarakat Arab pra Islam:
1. Tradisi keilmuan. Bangsa Arab pra Islam telah mampu mengembangkan ilmu
pengetahuan, terbukti dengan dikembangkannya ilmu astronomi yang ditemukan oleh
orang-orang Babilonia. Selain astronomi mereka juga pandai dalam ilmu nasab, ilmu
rasi-rasi bintang, tanggal-tanggal kelahiran dan ta’bir mimpi.
2. Berdagang. Masyarakat Arab yang tinggal di perkotaan atau disebut ahlul-hadar, mereka
hidup dengan berdagang. Kehidupan sosial ekonominya sangat ditentukan oleh
keahlian mereka dalam berdagang. Mereka melakukan perjalanan dagang dalam dua
musim selama setahun, pada musim panas pergi ke Negeri Syam (Syiria) dan pada
musim dingin mereka pergi ke negeri Yaman. Pada masa itu sudah berdiri sebuah pasar
yang diberi nama pasar Ukaz. Pasar Ukaz dibuka pada bulan-bulan bertepatan dengan
waktu pelaksanaan ibadah haji, yaitu; bulan Dzulkaidah, Zulhijjah dan Muharam.
3. Bertani. Masyarakat Arab yang tinggal di pedalaman yaitu masyarakat Badui, mata
pencahariannya adalah dengan bertani dan beternak. Kehidupan mereka nomaden, hidup
mereka berpindah-pindah dari satu lembah ke lembah yang lain untuk mencari rumput
bagi hewan mereka. Masyarakat yang hidup di daerah yang subur, mereka bercocok
tanam dan hidup di sekitar oase seperti Thaif. Mereka menanam buah-buahan dan
sayur-sayuran.
4. Bersyair. Pasar Ukaz tidak hanya menyediakan barang dagangan berupa perniagaan dan
kebutuhan sehari-hari saja, tetapi juga pagelaran kesenian seperti qashidah-qashidah
gubahan sastrawan Arab. Syair menjadi salah satu budaya tingkat tinggi yang
berkembang pada masa Arab pra Islam. syair juga dapat menjadikan seseorang atau
kabilah tertentu menjadi kabilah terbelakang atau kabilah yang terhormat. Syair menjadi
masalah mafakhir (kebanggaan) mereka dalam kehidupan sosialnya.
5. Menghormati Tamu, Kehidupan sosial bangsa Arab pra Islam terkenal pemberani dalam
membela pendiriannya, mereka tidak mau mengubah pendirian yang sudah mengakar
dalam kehidupan mereka. Salah satunya adalah menghormati dan memulaiakan tamu,
menghormati tamu adalah bagian dari menjunjung tinggi sikap dermawan yang mereka
miliki, mereka berlomba-lomba untuk memuliakan tamu dengan segala harta benda
meraka.
6. Menepati Janji, Bagi orang Arab, janji adalah hutang yang harus mereka bayar.
Melanggar janji adalah aib bagi hidup mereka, bahkan dalam sebuah kisah Hani bin
Mas’ud bin Mas’ud asy-Syaibani hanya demi sebuah janji mereka rela membinasakan
keturunan mereka dan menghancurkan rumah demi memenuhi sebuah janji.
Berdagang
Berjudi
Menyembah Berhala Menghormati Tamu
Mabuk-mabukan Menepati Janji
Perbudakan Bersyair
Kolom Critical Thingking
Setelah membaca perkembangan kebudayaan Masyarakat
Makkah pra Islam, secara mandiri carilah satu contoh bentuk
kebudayaan negatif dan satu bentuk kebudayaan positif yang
ada pada zaman millenial sekarang ini.
Kemukakan alasanmu mengapa kebudayaan itu dianggap
negatif dan positif
B. Substansi dan Strategi Dakwah Rasulullah [Link]
Mekah
1. Dakwah Sembunyi-Sembunyi
Ketika Nabi Muhammad saw. telah sampai pada usia 40 tahun, Allah Swt.
menganugerahkan kepadanya kecenderungan berkhalwat atau menyendiri, agar ia
menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan jahiliah untuk bertahannus (beribadah) kepada
Allah Swt. Muhammad sering melakukan ‘Uzlah (mengasingkan diri) di Gua Hira
dengan beribadah menurut agama Nabi Ibrahim a.s.
Dalam keadaan bertahannus di Gua Hira, muncullah seseorang dan berkata
kepada Muhammad “bergembiralah hai Muhammad, aku adalah Jibril, dan engkau
adalah utusan Allah Swt untuk umat ini. Kejadian ini terjadi bertepatan pada tanggal
13 Ramadan tahun 13 sebelum Hijriyah atau bulan Juli tahun 610 Masehi. Malaikat
Jibril berkata kepada Muhammad “bacalah” lalu Muhammad menjawab “aku tidak
bisa membaca” demikian sampai tiga kali hingga malaikat jibril mendekap untuk
ketiga kalinya dan akhirnya Muhammad mengucapkan q.s al-‘alaq ayat 1-5
َ َﲅ-٤- ا ِ ي َ َﲅ ِ لْقَ َ ِﲅ-٣- ا ْق َر َو َرب َك ا ْ ْك َر ُم-٢- َ لَ َق ْاﻻ َس َان ِم ْن َلَ ٍق-١- ﰟ َرب ّ َِك ا ِ ي َ لَ َق ِ ْ ِ ا ْق َر
٥- ْاﻻ َس َان َما ل َ ْم ي َ ْع َ ْﲅ
Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha
pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-’Alaq [96]: 1-5)
Setelah kejadian di Gua Hira tersebut, Nabi Muhammad saw. bergegas pulang
menemui Khadijah istrinya dengan keadaan gemetar. Setelah menceritakan perihal
malaikat Jibril, Khadijah mengajak Muhammad menemui Waraqah bin Naufal yang
merupakan saudara sepupunya. Waraqah bin Naufal merupakan pemeluk Nasrani
yang taat dan sangat menguasai bahasa Ibrani juga mengetahui perihal rasul-rasul di
antara orang-orang yang telah melihat kitab-kitab zaman dahulu. Ia menceritakan
semua yang dialaminya ketika berada di Gua Hira kepada Waraqah bin Naufal.
Demi mendengar penuturan Nabi Muhammad saw., Waraqah mengatakah
bahwa ini adalah an-Namus (malaikat) yang pernah diturunkan kepada Nabi Musa as.
Waraqah mengetahui bahwa utusan Allah Swt. kepada para nabi-Nya tiada lain
hanyalah Malaikat Jibril. Maka yakinlah Nabi Muhammad saw bahwa dia adalah
manusia pilihan yang diutus Allah Swt. untuk menjadi rasul selanjutnya.
Setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad saw. merasakan gundah
gulana karena wahyu selanjutnya belum juga turun. Masa antara turunnya wahyu
pertama dengan wahyu kedua sering disebut dengan masa fatrah. Dalam masa fatrah
ini sekitar tiga puluh sampai empat puluh hari, ketika Nabi Muhammad [Link]
berjalan-jalan, tiba-tiba mendengar suara gemuruh dari langit.
Beliau melihat sosok malaikat Jibril sedang duduk diantara langit dan bumi.
Rasulullah [Link] ketakutan demi mengingat kejadian di Gua Hira. Bergegas
beliau pulang ke rumah dengan meminta istrinya untuk menyelimutinya, “selimutilah
diriku, selimutilah aku”. Kemudian Allah Swt menurunkan firman-Nya Q.S. Al-
Mudatsir ayat : 1-7.
-٦- َو َﻻ تَ ْم ُﲍ َ ْس َت ْك ِ ُﱶ-٥- َوالر ْج َز فَ ْاﳗ ُْر-٤- َوثِ َياب َ َك فَ َط ّه ِْر-٣- َو َرب َك فَ َك ِ ّ ْﱪ-٢- قُ ْم فَ ن ِذ ْر-١- َ ﳞَا الْ ُمد ِ ّ ُر
٧- َو ِل َرب ّ َِك فَ ْاﺻ ِ ْﱪ
Artinya : “Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan
agungkanlah Tuhanmu! Dan bersihkanlah pakaianmu, Dan tinggalkanlah segala
(perbuatan) yang keji, Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan
maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah)
Tuhanmu, bersabarlah”. (Q.S. Al-Mudatsir [74]: 1-2)
Kemudian Rasulullah saw. bangkit mengerjakan perintah Allah Swt yaitu
menyeru kaum yang berhati keras dan tidak beragama untuk menyembah Allah Swt.
Tugas ini merupakan perkara yang berat dan besar. Beliau harus berhadapan dengan
berbagai tantangan dan masalah, antara lain perombakan sistem kebudayaan, sosial,
kepercayaan penduduk Mekah dan meluruskan sistem sosial yang tidak adil.
Rasulullah saw. memulai dakwahnya secara sembunyi-sembunyi, menyeru
manusia untuk beriman kepada Allah Swt. menganut agama Tauhid dan mengenalkan
bahwa Tuhan itu satu, yaitu Allah Swt. Dakwah secara sembunyi-sembunyi ini
dilakukan untuk menghindari munculnya gejolak yang sangat mungkin terjadi di
kalangan masyarakat. Beliau memulai dakwah kepada keluarga dan karib kerabatnya.
Beliau mengetahui bahwa orang Kuraisy sangat terikat, fanatik, dan kuat
mempertahankan kepercayaan jahiliyyah. Dakwah secara sembunyi-sembunyi
berlangsung hampir empat tahun.
Empat tahun pertama merupakan masa Rasulullah saw. mempersiapkan diri,
menghimpun kekuatan dan mencari pengikut setia. Seiring dengan itu, wahyu yang
turun pada masa itu secara umum bersifat mendidik, membimbing, membina,
mengarahkan dan memantapkan hatin dalam rangka mewujudkan kesuksesan
dakwahnya. Rasulullah saw. dibekali dengan wahyu yang mengandung pengetahuan
dasar mengenai sifat Allah Swt. dan penjelasan mengenai dasar akhlak Islam. Selain
itu, wahyu saat itu sebagai bantahan secara umum tentang pandangan hidup
masyarakat jahiliyyah yang berkembang saat itu.
Orang pertama yang menyatakan keislamannya (Assabiqunalawwalun) adalah :
a. Khadijah (istrinya)
b. Ali bin Abi Thalib
c. Zaid bin Haritsah (anak angkatnya)
d. Abu Bakar (sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak)
e. Ummu Aiman (pengasuh beliau sejak masa kecil)
Melalui Abu Bakar, pengikut Rasulullah saw. bertambah, mereka adalah:
a. Abd Amar bin Auf (kemudian berganti nama menjadi Abdur Rahman bin Auf)
b. Abu Ubaidah bin Jarrah
c. Usman bin Affan
d. Zubair bin Awwam
e. Sa’ad bin Abi Waqqas
f. Arqam bin Abi Al Arqam
g. Fathimah bin Khattab
h. Talhah bin Ubaidillah dan sebagainya.
2. Dakwah Terang-terangan
Tiga tahun lamanya Rasulullah [Link] secara sembunyi-sembunyi di
rumah sahabat Arqam bin Abi Al Arqam. Penduduk Mekah banyak yang sudah
mengetahui dan mulai membicarakan agama baru yang beliau bawa. Mereka
menganggap agama itu sangat bertentangan dengan agama nenek moyang mereka.
Pada waktu itu turunlah wahyu yang memerintahkan kepada beliau untuk melakukan
dakwah secara terbuka dengan terang-terangan kepada seluruh masyarakat. Alah Swt
berfirman dalam Q.S. Al Hijr ayat 94.
ِ ْ فَ ْاﺻدَ ْع ِب َما ت ُْؤ َم ُر َو ْع ِر ْض َع ِن الْ ُم
٩٤- ﴩ ِك َﲔ
Artinya : “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan
(kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (Q.S. Al-Hijr : 94).
Dengan turunnya ayat tersebut, Rasulullah [Link] berdakwah secara terang-
terangan. Dakwah ini membuat seorang tokoh Bani Giffar yang tinggal di Barat Laut
Merah menyatakan diri masuk Islam. Ia adalah Abu Zar Al-Giffari. Atas perintah
Rasulullah [Link] Abu Zar Al-Giffari pulang untuk berdakwah di
kampungnya. Sejak itulah banyak orang yang masuk Islam berkat Abu Zar Al-Giffari.
Melalui cara itu pula, Bani Daus juga masuk Islam. Orang pertama Bani Daus yang
masuk Islam adalah Tufail bin Amr ad Dausi, seorang penyair terpandang di
kabilahnya. Dengan demikian, Islam mulai tersebar di luar Mekah .
Keberhasilan Rasulullah [Link] berdakwah mendorong kaum kafir Kuraisy
melancarkan tindakan kekerasan terhadap beliau dan pengikutnya. Di tengah
meningkatnya kekejaman pemimpin kafir Kuraisy, Hamzah bin Abdul Muthalib dan
Umar bin Khattab, dua orang kuat Kuraisy masuk Islam. Hal ini membuat kaum kafir
Kuraisy mengalami kesulitan untuk menghentikan dakwah Rasulullah Saw.
Suatu ketika, Rasulullah saw. melakukan dakwah secara terbuka di Bukit Shafa
dengan memanggil semua suku yang ada di sekitar Mekah . Untuk mengetahui apa
yang akan disampaikan Muhammad, semua suku mengirimkan utusannya. Bahkan
Abu Lahab, paman beliau pun hadir bersama istrinya (Ummu Jamil).
Rasulullah saw. berseru, ”Jika saya katakan kepada kamu bahwa di sebelah
bukit ada pasukan berkuda yang akan menyerangmu, apakah kalian percaya?”.
Mereka menjawab, ”Kami semua percaya, sebab kamu seorang yang jujur dan kami tidak
pernah menemui kamu berdusta”.
Rasulullah [Link] berseru kembali, ”Saya peringatkan kamu akan siksa di
hari kiamat. Allah Swt menyuruhku untuk mengajak kamu menyembah kepada Nya, yaitu
Tuhanku dan Tuhanmu juga, yang menciptakan alam semesta termasuk yang kamu sembah.
Maka tinggalkanlah Latta, Uzza, Manat, Hubal dan berhala-berhala lain sesembahanmu”.
Mendengar seruan tersebut Abu Lahab mencaci maki seraya berkata, ”Hari ini kamu
(Muhammad) celaka. Apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami semua?”.
Setelah peristiwa di Bukit Shafa tersebut, para pemimpin Qurays bereaksi
dengan melakukan sebagai berikut:
a. Mendatangi Abu Thalib, paman yang mengasuh Rasulullah saw. Mereka meminta
Abu Thalib untuk mencegah kegiatan dakwah yang dilakukan keponakannya,
tetapi tidak berhasil.
b. Kaum kafir Kuraisy mengutus Walid bin Mughirah dengan membawa seorang
pemuda untuk ditukarkan dengan Muhammad Saw.
Ancaman keras ini nampaknya berpengaruh pada diri Abu Thalib. Lalu ia
memanggil ponakannya untuk berhenti dari dakwahnya. Namun, Rasulullah saw.
tetap tegar dan menolak permintaan pamannya dengan berkata, “Demi Allah Swt,
biarpun matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan
menghentikan dakwah agama Allah Swt ini hingga agama ini menang atau aku binasa
karenanya”.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Rasulullah saw. meninggalkan Abu
Thalib seraya menangis. Abu Thalib memanggilnya kembali, seraya berkata, “Wahai
anak saudaraku! Pergilah dan katakanlah apa yang kamu kehendaki (dakwah). Demi
Allah Swt, aku tidak akan menyerahkanmu kepada mereka selamanya”.
Tekanan-tekanan ini ternyata tidak membuat Islam dijauhi. Sebaliknya, umat
Islam semakin bertambah. Hal ini membuat Abu Jahal menekan kepada semua
pemimpin Kuraisy untuk melakukan pemboikotan kepada Bani Hasyim dan Bani
Muthalib.
Isi surat pemboikotan itu adalah sebagai berikut :
a. Muhammad dan kaum keluarga serta pengikutnya tidak diperbolehkan menikah
dengan bangsa Arab Kuraisy lainnya, baik laki-laki maupun perempuan.
b. Muhammad dan kaum keluarga serta pengikutnya tidak boleh mengadakan
hubungan jual beli dengan kaum Kuraisy lainnya.
c. Muhammad dan kaum keluarga serta pengikutnya tidak boleh bergaul dengan
kaum Kuraisy lainnya.
d. Kaum Kuraisy tidak dibenarkan membantu dan menolong Muhammad, keluarga
ataupun pengikutnya.
Kolom Creative
Strategi dakwah Rasulullah Saw di Makkah dilakukan dengan
dua cara, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan.
Secara berkelompok buatlah form jadwal beserta target
pencapaian kegiatan keagaman kalian di masyarakat.
Kumpulkan form tersebut di akhir semester dilengkapi dengan
tanda tangan takmir atau penanggung jawab kegiatan.
3. Peristiwa-peristiwa Penting dalam Dakwah Rasulullah saw. Periode Mekah
a. Hijrah ke Habasyah
Tekanan terhadap kaum muslimin bermula pada tahun ke-4 kenabian.
Awalnya terlihat lunak, namun seiring berjalannya waktu, kaum kafir Qurays
semakin gencar melakukan penyiksaan dan memuncak hingga pada tahun ke-5
kenabian. Selain penyiksaan yang dialami kaum muslimin hingga berujung
perintah melaksakan hijrah, beberapa peristiwa penting juga terjadi selama
Rasulullah saw. berdakwah di Mekah .
Melihat berbagai macam siksaan dan derita yang dialami oleh kaum
muslimin, sementara beliau tidak bisa melindungi mereka, maka Rasulullah saw.
berkata “tidakkah sebaiknya kamu sekalian pergi ke Habasyah? Sesungguhnya disana ada
seorang raja yang tidak ada seorangpun teraniaya di sisinya. Tinggallah di negeri itu,
sehingga Allah Swt. memberi kemudahan dan jalan keluar dari apa yang kalian alami saat
ini”.
Pada tahun 615 M atau tahun ke 5 kenabian, berangkatlah kaum muslimin
menuju Habsy. Rombongan pertama dipimpin Usman bin Affan berjumlah 15
orang, yang terdiri dari 11 laki-laki dan 4 wanita. Kemudian, disusul rombongan
yang kedua dipimpin Ja’far bin Abi Thalib berjumlah hampir 100 orang.
Kedatangan kaum muslimin ke Habsy diterima oleh Raja Najasyi dengan
baik. Mereka mendapat perlindungan dan bantuan bahan makanan. Perlakuan
Raja Najasyi terhadap umat Islam tersebut membuat kaum kafir Kuraisy sakit hati.
Mereka mengutus Amru bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah untuk menghadap
Raja Najasyi.
Kedua utusan itu berkata kepada Raja Najasyi, ”Wahai Raja! Mereka telah
pergi dari negeriku dan datang ke negerimu. Mereka orang-orang yang bodoh.
Mereka telah melepaskan agama nenek moyang kami dan telah masuk agama baru
yang kami dan kamu tidak mengetahuinya. Maka kami diutus oleh pemimpin-
pemimpin kami untuk minta kepadamu agar mereka dikembalikan kepada kami”.
Raja Najasyi tidak mau memenuhi permintaan utusan itu sebelum
mendengar keterangan dari kaum muslimin. Lalu, Raja Najasyi bertanya kepada
umat Islam, ”Agama apakah yang menyebabkan kamu sekalian keluar dari agama
nenek moyangmu dan tidak mau masuk agamaku?”.
Kaum muslimin yang diwakili Ja’far bin Abi Thalib menjawab, ”Wahai
Raja! Kami dahulu orang Jahiliyyah, menyembah berhala, memakan bangkai,
berbuat jahat, memutuskan hubungan persaudaraan, dan orang-orang kami
memperbudak yang lemah. Lalu, datang utusan Allah Swt, yaitu seorang di
antara kami (kaum Kuraisy). Kami mengenal akhlaknya yang mulia, yaitu jujur,
menepati janji, dan pemaaf. Beliau mengajak kami untuk menyembah Allah Swt
Yang Esa, menyuruh kami berkata yang benar, bersikap jujur, adil, memenuhi
amanah, menyambung persaudaraan, serta berbuat baik kepada tetangga. Beliau
melarang kami berbuat jahat, berkata kotor, makan harta anak yatim dengan jalan
yang tidak halal, dan menyekutukan Allah Swt. Maka kami menerima ajakannya
untuk masuk Islam”.
Kaum muslim mempersiapkan rombongan untuk berhijrah ke Habasyah
dengan jumlah yang lebih banyak yaitu 83 orang laki-laki, 11 orang wanit Qurays
dan 7 orang wanita asing. Akan tetapi hijrah yang kedua ini lebih berat
tantangannya karena berbagai cara dilakukan oleh kaum kafir Qurays untuk
menggagalkannya.
b. Amul Huzni
Abu Thalib bin abdul Muthalib adalah orang yang paling gigih membela
dakwah Rasulullah Saw. Perlindungan dan bantuan dari Abu Thalib dalam
dakwah Rasulullah [Link] totalitas. Ia adalah benteng yang melindungi
dakwah Rasulullah Saw., meski ia tetap berpegang pada agama nenek
moyangnya. Namun begitu, tatkala sakit Abu Thalib semakin parah, ia memanggil
semua warga Bani Abdul Muthalib, lalu berpesan “sesungguhnya kamu sekalian akan
dalam keadan baik selagi kalian mendengan perkatan Muhammad dan mengikuti
perintahnya. Karena itu, ikutilah dia dan percayailah dia, niscaya kalian akan selamat”.
Seletah Abu Thalib meninggal, Rasulullah [Link], “semoga Allah Swt
merahmatimu dan mengampunimu. Aku akan memintakan ampun untukmu, sampai Allah
Swt. melarangku”.
Tidak berselang lama dari meninggalnya Abu Thalib, Siti Khadijah istri
tercinta Rasulullah saw. pun meninggal dunia. Khadijah wafat pada bulan
Ramadhan pada tahun ke 12 kenabian dalam usia 65 tahun.
Dengan meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah, musibah demi musibah
datang bertubi-tubi, karena keduanya adalah orang yang sangat gigih membela
dan melindungi beliau. Sejak saat itu kaum kafir Qurays semakin gencar
melancarkan gangguan kepada Rasulullah Saw. tahun meninggalnya Abu Thalib
dan Situ Khadijah disebut dengan Amul huzni atau tahun kesedihan.
c. Isra Mikraj
Peristiwa Isra Mikraj terjadi satu tahun sebelum hijrah, tepatnya pada
malam senin 27 rajab setelah Rasulullah pulang dari perjalanannya ke Tha’if. Isra
secara bahasa artinya perjalanan malam, adapun menurut istilah yaitu perjalanan
Rasulullah [Link] satu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa atau Baitul
Maqdis di Palestina. Mikraj merupakan perjalanan Rasulullah saw. dari Masjidil
Aqsha menuju ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah Swt.
Isra Mikraj merupakan pertolongan dari Allah Swt. sekaligus hiburan dari
Allah Swt atas kesedihan Rasulullah saw. karena ditinggal dua orang terkasihnya
yaitu Abu Thalib dan Siti Khadijah.
Dalam perjalanan Isra Mikraj ini malaikat mendatangi beliau dengan
membawa Buraq, kemudian Jibril menaikkan beliau keatas Buraq dan
mengajaknya melakukan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha
dan dinaikkan ke langit untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Dalam
perjalanan ke Sidratul Muntaha Rasulullah saw. dan Malaikat Jibril singgah di
tujuh lapis langit dan dipertemukan dengan para nabi:
1) Langit pertama bertemu dengan Nabi Abam a.s., bapak umat manusia.
Rasulullah [Link] salam dan Nabi Adam a.s menjawab salam
menyambut kedatangan beliau dan menyatakan pengakuan atas Nubuwat
beliau.
2) Langit kedua, bertemu dengan Nabi Yahya a.s dan Nabi Zakariya a.s.
3) Langit ketiga, bertemu dengan Nabi Yusuf a.s
4) Langit keempat, bertemu dengan Nabi Indris a.s
5) Langit kelima, bertemu dengan Nabi Harun a.s
6) Langit keenam, bertemu dengan Nabi Musa a.s Sebelum Rasulullah saw.
menuju langit ketujuh, Nabi Musa a.s. menangis dan menimbulkan Tanya
dalam diri Rasulullah saw. “apa yang membuatmu menangis”? Nabi Musa a.s.
menjawab “aku menangis karena ada seorang pemuda yang diutus sesudahku yang
masuk surga bersama umatnya dan lebih banyak jumlahnya daripada umatku yang
masuk surga”.
7) Langit ketujuh, bertemu dengan Nabi Ibrahim a.s dan dalam setiap
pertemuannya dengan para nabi terdahulu mereka selalu mengakui nubuwwat
Rasulullah Saw.
Lalu Rasulullah [Link] lagi menuju Baitul Ma’mur, yang setiap harinya
dimasuki 70.000 malaikat yang tidak keluar lagi darinya. Kemudian diangkat lagi
untuk menghadap Allah Swt. yang maha perkasa dan mendekat kepadanya. Lalu
Allah Swt. mewahyukan apa yang dikehendaki dan Allah Swt. mewajibkan salat
sebanyak 50 rakaat. Setelah Rasulullah [Link] dengan Nabi Musa a.s tentang
perintah salat 50 rakaat tersebut, Nabi Musa a.s berkata “ sesungguhnya umatmu
tidak akan sanggup melaksanakannya, sehingga pada akhirnya Allah Swt
memerintahkan kepada umat Rasulullah saw. untuk melaksanakan salat sebanyak
5 waktu. Sebenarnya Nabi Musa a.s meerintahkan kepara Rasulullah saw. untuk
kembali memintakeringanan kepada Allah Swt, namun Rasulullah saw. menjawab
“Aku sangat malu kepada Rabb-ku, aku sudah Ridha dan menerima perintah ini”
beberapa saat kemudian terdengar seruan “ Aku telah menetapkan kewajiban dan
telah kuringankan bagi hamba-Ku”.
d. Hijrah ke Yasrib
Setelah peristiwa Isra Mikraj ada satu perkembangan besar bagi kemajuan
kaum muslimin yang datang dari penduduk Yasrib. Mereka melaksanakan ibadah
haji ke Mekah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj. Pada musim haji
selanjutnya, terdiri dari dari orang-orang Yasrib berjumlah 73 orang, atas nama
penduduk Yasrib mereka meminta kepada Rasulullah saw. untuk berkenan
pindah ke Yasrib. Mereka berjanji akan membela Rasulullah [Link] segala
macam ancaman, dan kemudian Rasulullah [Link] baiat Aqabah dua
setelah pada tahun kesebelas kenabian menyetujui adanya Baiat Aqabah pertama.
e. Baiat Aqabah Pertama
Ketika musim haji tiba, Rasulullah saw. menggunakannya untuk
menyampaikan dakwah kepada jamaah haji yang datang dari seluruh penjuru
Arab. Di antara mereka terdapat orang-orang Yastrib dari suku Aus dan Khazraj.
Kedua suku ini sering mendengar berita dari orang-orang Yahudi bahwa Nabi
akhir zaman akan segera datang.
Pada musim haji tahun ke 11 kenabian, bertepatan dengan tahun 621 M, 12
orang dari suku Aus dan Khazraj berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah
haji. Mereka bertemu dengan Rasulullah [Link] Aqabah (Mina) dan menyatakan
baiat (sumpah setia). Baiat itu kemudian dikenal dengan sebutan Baiat Aqabah I
atau disebut Baiatun Nisa’, karena di antara yang ikut baiat ada seorang wanita, ia
bernama Afra binti Abid binti Sa’labah.
Ada 6 pokok persoalan penting yang menjadi sumpah setia dalam Baiat
Aqabah I adalah :
1) Mereka tidak akan menyekutukan Allah Swt dengan sesuatu apapun.
2) Mereka tidak akan mencuru.
3) Mereka tidak akan berzina.
4) Mereka tidak akan membunuh anak-anaknya.
5) Mereka tidak akan berbuat fitnah, dusta dan curang.
6) Mereka tidak akan mendurhakai Rasulullah Saw.
Ketika mereka pulang ke Yasrib (Madinah), Rasulullah [Link]
Mus’ab bin Umair menyertai mereka. Mus’ab bin Umair mendapat tugas
mengajarkan Islam kepada penduduk Yastrib. Dengan demikian, agama Islam
semakin bersinar di Yastrib. Penduduk berbondong-bondong masuk agama Islam,
sehingga jumlah kaum muslimin semakin bertambah.
f. Baiat Aqabah kedua
Pada tahun ke 12 kenabian, bertepatan tahun 622 M, serombongan kaum
muslimin dari Yastrib berangkat menuju Mekah untuk menunaikan ibadah Haji.
Mereka berjumlah 75 orang, terdiri atas 73 orang laki-laki dan 2 orang wanita.
Mereka segera menghadap Rasulullah saw. dan meminta diadakan pertemuan
pada hari Tasyrik di Mina. Pada malam yang telah ditentukan, mereka keluar
kemahnya secara sembunyi-sembunyi menuju Aqabah (tempat melempar jumrah).
Tidak lama kemudian, Rasulullah saw. datang disertai pamannya, Abbas bin
Abdul Muthalib yang waktu itu belum masuk Islam tetapi tidak pernah memusuhi
Islam. Adapun isi dari perjanjian Aqabah II adalah :
1) Penduduk Yastrib siap membela Islam dan Rasulullah.
2) Penduduk Yastrib ikut berjuang dalam membela Islam dengan harta dan jiwa.
3) Penduduk Yastrib ikut berusaha memajukan agama Islam dan menyiarkan
kepada sanak keluarga mereka.
4) Penduduk Yastrib siap menerima resiko dan segala tantangan.
Kolom Colaborative:
Hijrah pada zaman Rasulullah Saw berbeda
bentuknya dengan hijrah pada masa sekarang.
zaman milenial sekarang ini.
Sajikan hasil diskusi kalian dalam bentuk
apapun, bisa berupa karya tulis, power point
atau video. Apload kemudian kalian share
diakun medos