0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan11 halaman

Faktor Perilaku Keselamatan Berkendara Pelajar

Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku keselamatan berkendara di kalangan pelajar SMAN 1 Kotamobagu. Hasil menunjukkan bahwa sikap, persepsi, dan peran teman sebaya memiliki hubungan signifikan dengan perilaku keselamatan berkendara. Diharapkan siswa mengikuti penyuluhan mengenai keselamatan berkendara untuk mengurangi kecelakaan lalu lintas.

Diunggah oleh

M Daffa Kurniawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan11 halaman

Faktor Perilaku Keselamatan Berkendara Pelajar

Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku keselamatan berkendara di kalangan pelajar SMAN 1 Kotamobagu. Hasil menunjukkan bahwa sikap, persepsi, dan peran teman sebaya memiliki hubungan signifikan dengan perilaku keselamatan berkendara. Diharapkan siswa mengikuti penyuluhan mengenai keselamatan berkendara untuk mengurangi kecelakaan lalu lintas.

Diunggah oleh

M Daffa Kurniawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Window of Public Health Journal, Vol. 3 No.

3 (Juni, 2022) : 516-526

ARTIKEL RISET
URL artikel: [Link]

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU KESELAMATAN


BERKENDARA PADA PELAJAR SMAN 1 KOTAMOBAGU

K
Salsabilah Mokoginta1, Ulfa Sulaeman2, A. Rizki Amelia3
1,2
Peminatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia
3
Peminatan Administrasi Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia
Email Penulis Korespondensi/penulis pertama (K): salsabilah389@[Link]
salsabilah389@yahoo.com1, ulfachen@gmail.com2, [Link]@[Link].id3
(+6282187241626)

ABSTRAK

Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu masalah di Indonesia yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai
pihak terkait. Safety riding merupakan salah satu program untuk mencegah angka kecelakaan lalu lintas dengan cara
memberikan pemahaman pada pengendara bahwasannya berlalu lintas adalah kegiatan yang melibatkan banyak aspek
sehingga harus memperhatikan faktor keselamatan dan keamanan individu ataupun orang lain. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku keselamatan berkendara pada pelajar SMAN 1
Kotamobagu. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 1 Kotamobagu yang mampu mengendarai sepeda motor,
yakni berjumlah 218 siswa. Teknik pengambilan sampel yaitu menggunkan Simple Random Sampling dengan jumlah
sampel sebanyak 98 Responden. Metode analisis data menggunakan Univariat dan Bivariat dengan uji Chi-Square
pada tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian diperoleh bahwa variabel yang berhubungan dengan
perilaku keselamatan berkendara (safety riding) adalah sikap (p=0,000), persepsi (p=0,000) dan peran teman sebaya
(p=0,017). Diharapkan siswa dapat mengikuti penyuluhan atau pelatiha mengenai keselamatan berkendara (safety
riding) yang diselenggarakan oleh pihak sekolah, ataupun dari pihak kepolisian dan lembaga terkait.

Kata kunci : Keselamatan Berkendara, Sikap, Persepsi, Peran Teman Sebaya

Article history :
PUBLISHED BY :
Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Received : 13 Januari 2022
Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI Received in revised form : 25 Januari 2022
Address : Accepted : 18 Juni 2022
Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) Available online : 30 Juni 2022
Makassar, Sulawesi Selatan. licensedbyCreativeCommonsAttribution-ShareAlike4.0InternationalLicense.
Email :
[Link]@[Link]
Phone :
+62 853 9504 1141

Penerbit : Pusat Kajian Dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 516
Window of Public Health Journal, Vol. 3 No. 3 (Juni, 2022) : 516-526 E-ISSN 2721-2920

ABSTRACT

Traffic accidents are one of the problems in Indonesia that require serious attention from various related parties 1.
Safety riding is a program to prevent the number of traffic accidents by providing an understanding to motorists that
traffic is an activity that involves many aspects so that the safety and security of individuals and others must be
considered. This study aims to determine the factors associated with driving safety behavior in students of SMAN 1
Kotamobagu. This type of research is a quantitative research using a cross sectional approach. The population in this
study were all students of SMAN 1 Kotamobagu who were able to ride a motorcycle, which amounted to 218 students.
The sampling technique used is Simple Random Sampling with a total sample of 98 respondents. Data analysis method
used Univariate and Bivariate with Chi-Square test at 95% confidence level (α=0.05). The results showed that the
variables related to safety riding behavior were attitude (p=0.000), perception (p=0.000) and the role of peers
(p=0.017). It is hoped that further researchers will analyze other variables regarding safety riding (safety riding).

Keywords : Safety Riding, Attitude, Perception, Role of Peers

PENDAHULUAN
Kecelakaan lalu lintas masih menjadi masalah global sampai saat ini. Berdasarkan Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, kecelakaan lalu lintas diartikan sebagai
suatu peristiwa di jalan yang tidak terduga dan tidak disengaja yang melibatkan kendaraan dengan atau
tanpa pengguna jalan lain yang dapat mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda.
Dampak akibat kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan korban manusia dapat berupa luka ringan, luka
berat bahkan hingga kematian.
Global Status Report on Road Safety disebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas jalan mengakibatkan
korban jiwa sekitar 1,35 juta orang di seluruh dunia setiap tahun dan menyebabkan 20 hingga 50 juta cedera
non fatal. Tingkat kematian antar wilayah dan negara sesuai dengan perbedaan jenis pengguna jalan. Pada
pejalan kaki dan pengendara sepeda mewakili 26% dari semua kematian, pengguna roda dua dan tiga
sebanyak 28%. Sementara pengguna mobil sebanyak 29% dan kendaraan lain termasuk bus sebanyak 17%.1
Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) mencatat angka kecelakaan lalu lintas periode 24
desember 2021 – 2 januari 2022 naik. Kenaikan jumlah kecelakaan terjadi hingga 31% jika dibandingkan
dengan satu tahun sebelumnya, ada 722 kecelakaan lalu lintas pada 2021 sedangkan pada 2020 hanya 529
kasus. Angka kecelakaan meningkat namun angka kematian karena kecelakaan mengalami penurunan
sebesar 19%. Pada tahun 2020 angka meninggal dunia tercatat sebanyak 88 orang sedangkan pada tahun
2021 angka meninggal dunia ada 74 orang.2
Sulawesi Utara selama tahun 2021, Polda Sulut mencatat ada kenaikan kecelakan lalu lintas sebesar
207 kasus atau 13% dari tahun sebelumnya. Tahun 2020, kejadian kecelakaan lalu lintas sebanyak 1.376
kasus. Sementara itu di tahun 2021, jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas sebanyak 1.583 kasus.3
Angka kecelakaan lalu lintas di Kota Kotamobagu pada tahun 2019 sebanyak 394 kasus dan tahun
2018 sebanyak 583 kasus. Jumlah yang meninggal dunia sebanyak 76 orang, luka berat sebanyak 58 orang
dan luka ringan sebanyak 355 kasus.4 Satlantas Polres Kotamobagu mengatakan korban anak dalam kasus
kecelakaan berkendara di Kota Kotamobagu masih tergolong tinggi. Kasus kecelakaan yang terjadi hingga
akhir Oktober 2019, korbannya adalah anak. Dari angka kasus kecelakaan tersebut, kebanyakan terjadi
karena kelalaian pribadi atau kecelakaan tunggal.5

Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 517
Window of Public Health Journal, Vol. 3 No. 3 (Juni, 2022) : 516-526 E-ISSN 2721-2920

SMAN 1 Kotamobagu memiliki 218 siswa yang dapat mengendarai sepeda motor. Banyak siswa
memilih mengendarai sepeda motor untuk efesiensi waktu dalam menempuh perjalanan. Kasus kecelakaan
lalu lintas pada siswa SMAN 1 Kotamobagu dalam 2 tahun terakhir ada sebanyak 98 kasus, dengan angka
meninggal dunia tercatat sebanyak 7 orang, hal ini terjadi karena banyak siswa yang belum menerapkan
perilaku keselamatan berkendara.
METODE
Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan
menggunakan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 1
Kotamobagu yang mampu mengendarai sepeda motor, yakni berjumlah 218 siswa. Cara pengambilan
sampel dalam penelitian ini adalah Simple Random Sampling. Metode analisis yang digunakan
menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan chi square.

HASIL
Karakteristik Responden
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pelajar
SMAN 1 Kotamobagu
Jenis Kelamin n %
Laki-laki 51 52
Perempuan 47 48
Total 98 100

Berdasarkan tabel 1 menunjukan bahwa dari 98 siswa yang diteliti, persentasi responden yang
tertinggi adalah pada jenis kelamin laki-laki sebesar 52% sedangkan terendah berjenis kelamin perempuan
sebesar 48%.
Tabel 2. Distribusi Reponden Berdasarkan Usia Pelajar
SMAN 1 Kotamobagu
Usia n %
< 17 Tahun 56 57.1
≥ 17 Tahun 42 42.9
Total 98 100

Berdasarkan tabel 2 menunjukan bahwa dari 98 siswa yang diteliti, persentasi responden yang
tertinggi berusia <17 tahun sebesar 57.1% dan sedangkan yang terendah berusia ≥17 tahun sebesar 42.9%.
Analisis Univariat
Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Pernyataan Hasil Pengetahuan Pelajar
SMAN 1 Kotamobagu
Pengetahuan n %
Redah 89 90.8
Tinggi 9 9.2
Total 98 100

Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa pernyataan responden dari 98 orang yang diteliti,
persentasi responden yang memiliki pengetahuan rendah sebesar 9,2% sedangkan yang memiliki
pengetahuan tinggi sebesar 90,8%.
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 518
Window of Public Health Journal, Vol. 3 No. 3 (Juni, 2022) : 516-526 E-ISSN 2721-2920

Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Pernyataan Hasil Sikap Pelajar


SMAN 1 Kotamobagu
Sikap n %
Kurang Baik 65 66.3
Baik 33 33.7
Total 98 100

Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa dari 98 orang yang diteliti, persentasi responden yang
memiliki sikap kurang baik sebesar 66.3% sedangkan yang memiliki sikap baik sebesar 33.7%.

Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Pernyataan Hasil Persepsi Pelajar SMAN 1 Kotamobagu

Persepsi n %
Negatif 73 74.5
Positif 25 25.5
Total 98 100

Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa dari 98 orang yang diteliti, memiliki persepsi negatif
sebesar 74.5% sedangkan yang memiliki persepsi positif sebesar 25.5%.

Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Pengalaman Berkendara Pelajar SMAN 1 Kotamobagu

Pengalaman
n %
Berkendara
1-3 Tahun 60 61.2
4-6 Tahun 38 38.8
Total 98 100

Berdasarkan tabel 6 menunjukkan bahwa dari 98 orang yang diteliti, memiliki pengalaman
berkendara 1-3 tahun sebesar 61.2% dan yang memiliki pengalaman berkendara 4-6 tahun sebesar 38.8%.

Tabel 7. Distribusi Responden Berdasarkan Kepemilikan SIM Pelajar SMAN 1 Kotamobagu


Kepemilikan
n %
SIM
Tidak Memiliki 86 87.8
Memiliki 12 12.2
Total 98 100

Berdasarkan tabel 7 menunjukkan bahwa dari 98 orang yang diteliti, tidak memiliki SIM sebesar
87.8% sedangkan yang memiliki SIM sebesar 12.2%.

Tabel 8. Distribusi Responden Berdasarkan Pernyataan Hasil Peran Teman Sebaya Pelajar SMAN 1
Kotamobagu

Peran Teman n %
Tidak
33 33.7
Mendukung
Mendukung 65 66.3
Total 98 100

Berdasarkan table 8 menunjukkan bahwa dari 98 orang, peran temannya tidak mendukung sebesar
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 519
Window of Public Health Journal, Vol. 3 No. 3 (Juni, 2022) : 516-526 E-ISSN 2721-2920

33.7% sedangkan peran temannya mendukung sebesar 66.3%.


Tabel 9. Distribusi Responden Berdasarkan Pernyataan Hasil Perilaku Pelajar SMAN 1 Kotamobagu

Perilaku n %
Tidak Aman 61 62.2
Aman 37 37.8
Total 98 100

Berdasarkan tabel 9 menunjukkan bahwa dari 98 orang, memiliki perilaku tidak aman sebesar
62.2% dan memiliki perilaku aman sebesar 37.8%.

Analisis Bivariat
Tabel 10. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Keselamatan Berkendara (Safety Riding) Pelajar
SMAN 1 Kotamobagu

Perilaku
Pengetahuan Tidak Aman Aman Total
p-value
n % n % N %
Rendah 4 4 4.4 5 55.6 9 100
Tinggi 57 6 4.0 32 36.0 89 100 0.292
Total 61 6 2.2 37 37.8 98 100

Berdasarkan tabel 10 menunjukkan bahwa dari 98 orang, memiliki pengetahuan rendah dengan
kategori perilaku tidak aman sebesar 44.4% dan yang memiliki pengetahuan rendah dengan kategori aman
sebesar 55.6%. kemudian yang memiliki pengetahuan tinggi dengan kategori tidak aman sebesar 64%
sedangkan pada pengetahuan tinggi dengan kategori perilaku aman sebesar 36%.

Tabel 11. Hubungan Sikap dengan Perilaku Keselamatan Berkendara (Safety Riding) Pelajar
SMAN 1 Kotamobagu

Perilaku
Sikap Tidak Aman Aman Total
p-value
n % n % N %
Kurang Baik 52 80.0 13 20.0 65 100
Baik 9 27.3 24 72.7 33 100 0.000
Total 61 62.2 37 37.8 98 100

Berdasarkan tabel 11 menunjukkan bahwa dari 98 orang yang diteliti, yang memiliki sikap kurang
baik dengan kategori perilaku tidak aman sebesar 80% dan memiliki sikap kurang baik dengan kategori
perilaku aman sebesar 20% kemudian memiliki sikap baik dengan kategori perilaku tidak aman sebesar
27.3% sedangkan yang memiliki sikap baik dengan kategori perilaku aman sebesar 72.7%.

Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 520
Window of Public Health Journal, Vol. 3 No. 3 (Juni, 2022) : 516-526 E-ISSN 2721-2920

Tabel 12. Hubungan Persepsi dengan Perilaku Keselamatan Berkendara (Safety Riding) Pelajar
SMAN 1 Kotamobagu

Perilaku
Persepsi Tidak Aman Aman Total
p-value
n % n % N %
Negatif 56 76.7 17 23.3 73 100
Positif 5 20.0 20 80.0 25 100 0.000
Total 61 62.2 37 37.8 98 100

Berdasarkan tabel 12 menunjukan bahwa dari 98 orang yang memiliki persepsi negatif dengan
perilaku tidak aman sebesar 76.7% dan yang memiliki persepsi negatif dengan kategori perilaku aman
sebesar 23.3% kemudian yang memiliki persepsi positif dengan kategori perilaku tidak aman sebesar 20%
dan yang memiliki persepsi positif dengan kategori perilaku aman sebesar 80%.

Tabel 13. Hubungan Peran Teman Sebaya dengan Perilaku Keselamatan Berkendara (Safety Riding)
Pelajar SMAN 1 Kotamobagu

Perilaku
Peran
Tidak Aman Aman Total
Teman p-value
n % n % N %
Tidak
15 45.5 18 54.5 33 100
Mendukung
0.017
Mendukung 46 70.0 19 29.2 65 100
Total 61 62.2 37 37.8 98 100

Berdasarkan tabel 13 menunjukkan bahwa dari 98 orang yang peran temannya tidak mendukung
dengan kategori tidak aman sebesar 45.5% dan peran temannya tidakmendukung dengan kategori aman
sebesar 54.5% kemudian peran temannya mendukung dengan kategori tidak aman sebesar 70.8%
sedangkan yang peran temannya mendukung dengan kategori perilaku aman sebesar 29.2%.

Tabel 14. Hubungan Kepemilikan SIM dengan Perilaku Keselamatan Berkendara (Safety Riding) Pelajar
SMAN 1 Kotamobagu

Perilaku
Kepemilikan
Tidak Aman Aman Total
SIM p-value
n % n % N %
Tidak Memiliki 55 64.0 31 36.0 86 100
Memiliki 46 50.0 6 50.0 12 100 0.361
Total 61 62.2 37 37.8 98 100

Berdasarkan tabel 14 menunjukkan bahwa dari 98 orang yang tidak memiliki SIM dengan kategori
tidak aman sebesar 64% sedangkan yang tidak memiliki SIM dengan kategori perilaku aman sebesar 36%
kemudian memiliki SIM dengan perilaku tidak aman sebesar 50% sedangkan orang yang mempunyai SIM
dengan perilaku aman sebesar 50%.

Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 521
Window of Public Health Journal, Vol. 3 No. 3 (Juni, 2022) : 516-526 E-ISSN 2721-2920

Tabel 15. Hubungan Pengalaman Berkendara dengan Perilaku Keselamatan Berkendara (Safety
Riding) Pelajar SMAN 1 Kotamobagu

Perilaku
Pengalaman Tidak
Aman Total
Berkendara Aman p-value
n % n % N %
1-3 Tahun 21 35.0 39 65.0 60 100
4-6 Tahun 16 42.1 22 57.9 38 100 0.525
Total 37 37.8 61 62.2 98 100

Berdasarkan tabel 15 menunjukkan bahwa dari 98 orang yang pengalaman berkendaranya 1-3
tahun dengan kategori perilaku aman sebesar 35.0%, sedangkan pengalaman berkendaranya 1-3 tahun
dengan kategori tidak aman sebesar 65.0%, kemudian pengalaman berkendaranya 4-6 tahun dengan
kategori aman sebesar 42.1% dan yang pengalaman berkendaranya 4-6 tahun dengan kategori tidak aman
sebesar 57.9%.

PEMBAHASAN
Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Keselamatan Berkendara (Safety Riding)
Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mendasari seseorang untuk berperilaku lebih baik
dan berhati-hati. Pengetahuan pengendara tentang peraturan lalu lintas dapat menghindarkan pengendara
untuk berperilaku tidak aman dengan mematuhi peraturan lalu lintas.6
Dari hasil analisis bivariat menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan
perilaku keselamatan berkendara (safety riding) pada pelajar SMAN 1 Kotamobagu. Hal ini terbukti dengan
hasil penelitian yang menunjukkan bahwa yang memiliki frekuensi pengetahuan tertinggi pada kategori
tidak aman sebesar 64.0% sedangkan frekuensi pengetahuan terendah dengan kategori tidak aman sebesar
44.4%.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Manurang dkk, 2019)
menunjukkan hasil tidak sejalan karena tidak adanya hubungan antara pengetahuan dengan perilaku
keselamatan berkendara (safety riding) pada pengendara Ojek Online di Kota Medan.7
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian oleh (Prima dkk, 2017) yang menunjukan bahwa
tidak ada hubungan antara pengetahuan safety riding terhadap perilaku keselamatan berkendara (safety
riding).8
Berbeda dengan penelitian ini, penelitian (Ridman, 2021) menunjukan bahwa terdapat hubungan
pengetahuan keselamatan berkendara (safety riding) dengan sikap keselamatan berkendara (safety riding)
siswa jurusan teknik otomotif.9
Tidak semua pengemudi kendaraan paham dan mengetahui peraturan-peraturan lalu lintas. Arti
dari marka dan rambu-rambu lalu lintas belum sepenuhnya dipahami oleh pengemudi di jalan raya.
Penyebabnya adalah kurangnya kesadaran untuk mencari tahu arti dari marka dan rambu-rambu lalu lintas.
Berdasarkan teori pengetahuan memang merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang, namun tidak selalu berpengaruh terhadap tindakan seseorang. Hal ini

Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 522
Window of Public Health Journal, Vol. 3 No. 3 (Juni, 2022) : 516-526 E-ISSN 2721-2920

sesuai dengan penelitian yang dilakukan di SMAN 1 Kotamobagu dimana tidak ada hubungan antara
pengetahuan dengan tindakan tidak aman dikarenakan pengetahuan siswa terhadap perilaku keselamatan
berkendara (safety riding) sudah termasuk tinggi.
Hubungan Sikap dengan Perilaku Keselamatan Berkendara (Safety Riding)
Sikap adalah sesuatu yang dilakukan dalam membawa dirinya menanggapi hal yang terjadi sesuai
dengan cara berfikir serta keinginan bertindak. Pengendara yang memiliki sikap yang baik dalam
berkendara lebih cenderung berperilaku/bertindak aman dalam berkendara dibandingkan dengan yang
memiliki sikap yang kurang baik.10
Berdasarkan hasil analisis bivariat menggunakan uji chi square menunjukan bahwa ada hubungan
antara sikap dengan perilaku keselamatan berkendara (safety riding) pada pelajar SMAN 1 Kotamobagu.
Dimana yang memiliki sikap kurang baik dengan kategori perilaku tidak aman sebesar 80.0%.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh (Kaisun, 2020) terdapat hubungan antara sikap
dengan perilaku keselamatan berkendara pada siswa/siswi MAN 1 Medan. Hasil uji statistik menggunakan
chi square diperoleh nilai p-value = 0,003, maka ha diterima dan h 0 ditolak, dapat disimpulkan bahwa ada
hubungan antara sikap terhadap perilaku keselamatan berkendara pada siswa/siswi MAN 1 Medan.11
Hasil penelitian ini sejalan dengan (Hendrawan, 2019), menyatakan bahwa ada hubungan antara
variabel sikap responden dengan perilaku safety riding pada siswa SMA dikota Surakarta dengan dengan
nilai (p-value 0.03) ) sehingga dapat di simpulkan bahwa sikap merupakan komponen penting untuk
merubah perilaku safety riding.12
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang, belum merupakan suatu
tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan kesiapan utnuk bereaksi terhadap objek di lingkungan
tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
Seorang siswa tentunya seseorang yang berpendidikan, namun disisi lain sebagian besar siswa tidak
bersikap disiplin dalam berlalu lintas. Seperti memegang handphone ketika berkendara, membawa
penumpang lebih dari satu orang serta tidak menggunakan helm karena tidak nyaman dan jarak tempuh
yang dekat.
Hubungan Persepi dengan Perilaku Keselamatan Berkendara (Safety Riding)
Persepsi merupakan interpretasi tentang sesuatu yang diinderakan seorang individu. Selain itu
persepsi merupakan pengalaman indera sadar dari manusia. Persepsi merupakan kunci berpikir,
mempengaruhi perilaku dan merupakan langkah awal seseorang bertindak.13
Berdasarkan hasil analisis bivariat menggunakan uji chi square menunjukan bahwa ada hubungan
antara persepsi dengan perilaku keselamatan berkendara (safety riding). Dimana yang memiliki persepsi
positif dengan kategori perilaku aman sebesar 80%, sedangkan memiliki persepsi positif dengan kategori
perilaku tidak aman sebesar 20%, kemudian memiliki persepsi negatif dengan kategori perilaku aman
sebesar 23.3% dan yang memiliki persepsi negatif dengan perilaku tidak aman sebesar 76.7%.
Hasil penelitian ini sejalan dengan (Wiranatha dkk, 2020), Hipotesis pertama memprediksi adanya
pengaruh persepsi risiko terhadap perilaku keselamatan berkendara. Berdasarkan hasil perhitungan
Structural Equation Model (SEM) menunjukkan bahwa persepsi risiko memiliki hubungan yang positif
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 523
Window of Public Health Journal, Vol. 3 No. 3 (Juni, 2022) : 516-526 E-ISSN 2721-2920

dengan tingkat signifikansi sehingga hipotesis dapat diterima.14


Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Salihat dan Kurniawidjaja, 2017),
ada hubungan yang signifikan antara persepsi risiko keselamatan berkendara dengan perilaku penggunaan
sabuk keselamatan.15
Berdasarkan teori Green dalam (Notoadmojo, 2012) persepsi juga mempengaruhi seseorang untuk
berperilaku, dimana pada penelitian ini terdapat hubungan antara persepsi dengan tindakan tidak aman.
Hubungan Peran Teman Sebaya dengan Perilaku Keselamatan Berkendara (Safety Riding)
Teman sebaya adalah orang dengan tingkat umur dan kedewasaan yang kira-kira sama. Teman
merupakan salah satu orang terdekat khususnya pada remaja, disamping orangtua. Apabila kebanyakan
diantara kumpulan pertemanan ini sudah sadar akan resiko keselamatan berkendara, bisanya anggota lain
dalam kumpulan yang sama akan terpengaruh untuk ikut sadar akan risko keselamatan berkendara.
Hasil analisis bivariat menggunakan uji chi square menunjukan bahwa ada hubungan antara peran
teman sebaya dengan perilaku keselamatan berkendara. Penelitian tersebut sejalan dengan8, menyatakan
bahwa ada hubungan antara peran teman sebaya dengan perilaku safety riding mahasiswa Fakultas X
Universitas Diponegoro.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan (Azizah, 2017) yang menunjukan bahwa ada hubungan
antara peran teman sebaya dengan perilaku keselamatan berkendara (safety riding) pada mahasiswa FMIPA
UNNES10.
Pada penelitian ini terdapat hubungan antara peran teman sebaya terhadap perilaku keselamatan
berkendara, dilihat dari jawaban responden diketahui bahwa mayoritas siswa tidak pernah menanyakan
aktifitas berkendara dalam sehari-hari, mengingatkan mengecek kondisi kendaraaan sebelum digunakan,
membiarkan saja temannya ketika melakukan kesalahan dalam berkendara. Hal ini memberikan gambaran
bahwa peran teman sebaya disini belum sepenuhnya berkontribusi pada siswa untuk menerapkan perilaku
keselamatan berkendara.
Perilaku dan perasaan seseorang berkaitan erat, selain itu pengaruh kelompok terasa kuat dalam
mengubah perilaku individu. Dengan kata lain kelompok atau dalam hal ini adalah peran teman sebaya
seseorang sangat berpengaruh untuk mengubah perilaku seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya semakin
baik perilaku yang ditularkan pada teman sebayanya maka semakin baik pula teman sebaya tersebut
menerima masukan sehingga akan terjadi perubahan perilaku yang positef pada seseorang.
Hubungan Kepemilikan SIM dengan Perilaku Keselamatan Berkendara (Safety Riding)
Kepemilikan surat izin mengemudi adalah hal yang sangat penting dan diwajibkan bagi pengendara
kendaraan sepeda motor. hal tersebut telah diatur dalam undang-undang bahwa tahun no 22 tahun 2009
mengenai kepemilikan SIM bagi pengendara kendaraan bermotor. Surat izin mengemudi (SIM) merupakan
surat yang sangatlah penting bagi pengendara sepeda motor sebagai identitas bahwa pengendara telah
diijinkan untuk mengendarai kendaraan bermotor sesuai dengan umur dan telah dinyatakan lulus tes SIM
yang diberikan oleh kepolisian.
Hasil penelitian berdasarkan hasil uji statistik chi-square diperoleh tidak ada hubungan antara
kepemilikan SIM dengan perilaku. Hasil ini sejalan dengan penelitian17, menunjukkan hubungan SIM pada
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 524
Window of Public Health Journal, Vol. 3 No. 3 (Juni, 2022) : 516-526 E-ISSN 2721-2920

responden dengan perilaku keselamatan berkendara (Safety Riding) sehingga dapat disimpulkan bahwa
tidak ada hubungan antara Kepemilikan SIM dengan perilaku keselamatan berkendara (Safety Riding).
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Salmawati dan Puspita, 2020) yang
menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kepemilikan SIM (Surat Izin Mengemudi) dengan perilaku
keselamatan berkendara (safety riding) pada siswa SMA Negeri 5 Palu.6
Berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa tidak adanya hubungan antara kepemilikan SIM
dengan tindakan tidak aman dikarenakan meskipun mayoritas dari responden belum memiliki sim akan
tetapi siswa merasa sudah mahir dalam mengendarai sepeda motor tanpa harus melakukan tes kepemilikan
Surat Izin Mengemudi (SIM).
Hubungan Pengalaman Berkendara dengan Perilaku Keselamatan Berkendara (Safety Riding)
Pengalaman secara umum dapat diartikan sesuatu yang pernah dialamai (dijalani, dirasai,
ditanggung). Pengalaman yang didapat seseorang di jalana, ketika berkendara ataupun menjadi penumpang
dapat mempengaruhi perilaku keselamatannya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji statistik chi-square diperoleh tidak
ada hubungan antara pengalaman berkendara dengan perilaku. Hasil penelitian ini sejalan dengan (Kaisun,
2020), menyebutkan bahwasanya tidak ada hubungan yang signifikan antara pengalaman berkendara
dengan prilaku keselamatan berkendara pada Siswa/I MAN 1 Medan.11
Hasil penelitian ini sejalan dengan (Khakim, 2017), di peroleh bahwasanya tidak di temukannya
hubungan antara masa berkendara dengan perilaku keselamatan berkendara (safety riding).
Berdasarkan penelitian ini tidak di temukan hubungan dengan variabel ini dikarenakan kala
seseorang memiliki pengalaman berkendara yang lama namun masih melakukan tindakan yang tidak aman
dikala berkendara, bisa jadi telah terbiasa dengan mengendarai secara tidak aman dan faktor lainnya seperti
lingkungan yang mengakibatkan perilaku pengendara tidak aman, sehingga walaupun telah mempunyai
pengalaman yang baik maupun sudah lama mengendarai sepeda motor, tetapi tetap saja masih melakukan
perilaku tidak aman dikala berkendara.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai faktor yang berhubungan dengan keselamatanberkendara
(safety riding) pada pelajar SMAN 1 Kotamobagu Tahun 2022 dapat disipulakan bahwa variabel yang
memiliki hubungan terhadap perilaku keselamatan berkendara adalah sikap, persepsi dan peran teman
sebaya. Diharapkan siswa dapat mengikuti penyuluhan atau pelatihan mengenai keselamatan berkendara
(safety riding) yang diselenggarakan oleh pihak sekolah, ataupun dari pihak kepolisian dan lembaga terkait.
Serta diharapkan siswa dapat mempraktekan perilaku keselamatan berkendara (safety riding) yang baik dan
benar baik ketika perjalanan dekat maupun jauh untuk meminimalisir atau mencegah terjadinya kecelakaan
lalu lintas.

Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 525
Window of Public Health Journal, Vol. 3 No. 3 (Juni, 2022) : 516-526 E-ISSN 2721-2920

DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. (2018). Global Status Report on Road. World Health Organization, 20.
[Link]

2. Nanda, A. M. (2022, Januari 3). Angka Kecelakaan Naik 31 Persen. Retrieved from Kompas:
[Link]

3. Sumirat, C. (2021, Desember 30). Kecelakaan Lalu Lintas di Sulut Naik 13 Persen, 316 Orang Tewas
selama 2021. Retrieved from Sulut iNews: [Link]

4. Kairupan, C., Pinontoan, R. O., & Sumampouw, O. J. (2020). Perilaku Safety Riding pada Pengendara
Becak Motor (Bentor). 1, 7–8

5. Martinus, A. (2019, November 3). 20 Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Terjadi di Kotamobagu .
Retrieved from Tribun Kotamobagu: [Link]

6. Salmawati, L., & Puspita, S. W. (2020). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku
Keselamatan Berkendara ( Safety Riding ) Pada Siswa Sma Negeri 5 Palu. 11, 137

7. Manurang, J., Sitorus, M. E., & Rinaldi. (2019). Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Safety
Riding Pengemudi Ojek Online (GoJek) di Kota Medan Sumatera Utara. stikes sitihajar, 1, 94.

8. Prima, D. W., Kurniawan, B., & Ekawati. (2017). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Terhadap
Perilaku Safety Riding Pada Mahasiswa Fakultas X Universitas Diponegoro. Jurnal Kesehatan
Masyarakat, 3(3), 370–381.

9. Ridman, R. (2021). Hubungan antara Pengetahuan Safety Riding dengan Sikap Safety Riding Jurusan
Teknik Otomotif SMK Negeri di Kota Makassar. unm, 7(2), 11.

10. Azizah, M. H. (2017). Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Keselamatann Berkendara ( Safety
Riding ) Pada Mahasiswa ( Studi pada Mahasiswa FMIPA UNNES Angkatan 2008-2015 ). kesehatan
masyarakat UNNES, 3(2), 23–24.

11. Kaisun, F. (2020). Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Keselamatan Berkendara Pada
Siswa/I Man 1 Medan. In repository UIN Sumatera Utara (Nomor 9).

12. Hendrawan, R. (2019). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Terhadap Perilaku Safety Riding Pada
Siswa Sma Di Kota Surakarta. Kesehatan Masyarakat, 1q.

13. Agustian, R. B. (2017). Hubungan persepsi tentang keselamatan berkendara dengan intensitas
penggunaan helm pada mahasiswa naskah publikasi. 4.

14. Wiranatha, A., Riani, D., & Salonten. (2020). Hubungan Persepsi Risiko dan Perilaku Keselamatan
Berkendara Terhadap Risiko Kecelakaan pada Pengendara Sepeda Motor di Kota Palangka Raya.
19(September), 106.

15. Salihat, I. K., & Kurniawidjaja, L. M. (2017). Persepsi Risiko Berkendara dan Perilaku Penggunaan
Sabuk Keselamatan di Kampus Universitas Indonesia, Depok. Kesmas: National Public Health
Journal, 4(6), 275.

Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 526

Anda mungkin juga menyukai