0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan17 halaman

Laporan Resiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai klien dengan masalah keperawatan jiwa yang berisiko bunuh diri. Laporan mencakup definisi bunuh diri, penyebab, tanda dan gejala, serta diagnosa keperawatan yang relevan. Selain itu, terdapat intervensi keperawatan yang dirancang untuk meningkatkan harga diri klien dan mengurangi risiko bunuh diri serta perilaku kekerasan.

Diunggah oleh

Jatmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan17 halaman

Laporan Resiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai klien dengan masalah keperawatan jiwa yang berisiko bunuh diri. Laporan mencakup definisi bunuh diri, penyebab, tanda dan gejala, serta diagnosa keperawatan yang relevan. Selain itu, terdapat intervensi keperawatan yang dirancang untuk meningkatkan harga diri klien dan mengurangi risiko bunuh diri serta perilaku kekerasan.

Diunggah oleh

Jatmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA KLIEN DENGAN MASALAH KEPERAWATAN JIWA


RESIKO BUNUH DIRI

Disusun oleh :
BINTANG RESTU DEWANGGA
SN241056

PROGRAM STUDI PROFESI NERS PROGRAM PROFESI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2025
LAPORAN PENDAHULUAN
PADA KLIEN DENGAN MASALAH KEPERAWATAN JIWA
RESIKO BUNUH DIRI

A. MASALAH UTAMA
Resiko Bunuh Diri

B. PROSES TERJADINYA MASALAH


1. Definisi
Secara umum, kata bunuh diri berasal dari bahasa Latin
“suicidium” yang berarti “membunuh diri sendiri”. Jika berhasil,
tindakan ini merupakan tindakan fatal yang menunjukkan keinginan
orang tersebut untuk mati. Schneidman mendefinisikan bunuh diri
sebagai sebuah perilaku oleh seorang individu yang memandang bunuh
diri sebagai solusi terbaik untuk penyelesaian pada masalah yang
dihadapi. Istilah bunuh diri dapat mengandung arti ancaman bunuh diri
(threatened suicide), ide bunuh diri (suicide ideation), percobaan
bunuh diri (attempted suicide), bunuh diri yang telah dilakukan
(committed suicide), depresi dengan niat bunuh diri dan melukai diri
sendiri (self destruction). Jadi secara umum definisi bunuh diri adalah
perilaku membunuh diri sendiri dengan intensi mati sebagai
penyelesaian suatu masalah. (Maramis, 2010).
Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan
perilku untuk mengakhiri kehidupannya. Perilaku bunuh diri
disebabkan karena stress yang tinggi dan berkepanjangan dimana
individu gagal dalam melakukan mekanisme koping yang digunakan
dalam mengatasi masalah (Rusdi, 2013).
Menurut Yosep (2010) mengklasifikasikan terdapat tiga jenis bunuh
diri, meliputi 3 yaitu :
1.) Bunuh diri anomik
Bunuh diri anomik merupakan suatu perilaku bunuh diri yang
didasari oleh faktor lingkungan yang penuh tekanan (stressor)
sehingga mendorong seseorang untuk bunuh diri.
2.) Bunuh diri altruistik
Bunuh diri altruistik yaitu suatu tindakan bunuh diri yang
berkaitan dengan kehormatan seseorang ketika gagal dalam
melaksanakan tugas-tugasnya.
3.) Bunuh diri egoistik
Bunuh diri egoistik merupakan suatu tindakan bunuh diri yang
diakibatkan faktor dalam diri seseorang seperti putus cinta atau
putus harapan.

2. Tanda dan Gelaja


a. Subyektif
1. Mengungkapkan tidak ada lagi yang peduli
2. Mengungkapkan tidak bisa apa-apa
3. Mengungkapkan dirinya tidak berguna
b. Obyektif
1. Sedih
2. Marah
3. Putus asa
4. Tidak berdaya

3. Penyebab Terjadinya Masalah


a.) Faktor predisposisi
Faktor predisposisi menurut Stuart (2013) menjelaskan bahwa yang
menunjang resiko bunuh diri antara lain :
1. Diagnostik lebih dari 90% orang dewasa yang mengkahiri
hidupnya dengan bunuh diri mempunyai hubungan dengan
penyakit gangguan jiwa antara lain yaitu gangguan afektif,
penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
2. Sifat kepribadian dengan besarnya resiko bunuh diri adalah
rasa bermusuhan, impulsive, dan depresi.
3. Lingkungan psikososial seseorang dengan pengalaman
kehilangan, kehilangan dukungan social, kejadian negative
dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan dan perceraian.
4. Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri
meruapakan faktor resiko penting untuk melakukan destruktif .
b.) Faktor presipitasi
Menurut Stuart (2013) menjelaskan pencetus dapat berupa kejadian
yang memalukan seperti masalah interpersonal, dipermalukan di
depan umum, kehilangan pekerjaan, atau ancaman pengurungan.
Faktor pencetus yang menyebabkan seseorang melakukan
percobaan bunuh diri adalah :
1. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan
interpersonal/gagal dalam melakukan hubungan yang berarti
2. Kegagalan dalam beradaptasi yang dapat menyebabkan stress
3. Perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan
hukuman pada diri sendiri, atau untuk cara mengakhiri
keputusan

4. Akibat Terjadinya Masalah


a. Keputusasaan
b. menyalahkan diri sendiri
c. perasaan gagal dan tidak berdaya dan tidak berharga
d. perasaan tertekan
e. insomnia yang tetap
f. penurunan berat badan
g. berbicara lamban, keletihan
C. POHON MASALAH

Resiko kekerasan

Core Problem
Resiko Bunuh Diri

Halusinasi
Gangguan isi pikir
Harga diri rendah waham

(Nita Fitria,2010)

D. MASALAH KEPERAWATAN
1. Resiko bunuh diri
- Data subjektif
Menyatakan ingin bunuh diri / ingin mati saja, tidak ada gunanya hidup
- Data objektif
Isyarat bunuh diri, ada ide bunuh diri, pernah mencoba bunuh diri
2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
- Data subjektif
Mengungkapkan ingin diakui jati dirinya, mengungkapkan tidak ada lagi
yang peduli dan mengkritik dirinya sendiri
- Data objektif
Merusak diri sendiri dan orang lain
3. Resiko perilaku kekerasan
- Data subjektif
Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, klien suka
membentak dan menyerang orang lain
- Data objektif
Klien mengamuk, merusak, dan melempar barang-barang melakukan
tindakan kekerasan pada orang disekitarnya.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Harga Diri Rendah Kronis (D.0086)
- Definisi
Evaluasi atau perasaan negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan
klien seperti tidak berarti, tidak berharga, tidak berdaya yang berlangsung
dalam waktu lama dan terus menerus.
- Gejala dan Tanda Mayor
DS :
 Menilai diri negatif
 Merasa malu/bersalah
 Merasa tidak mampu melakukan apapun
 Meremehkan kemampuan memgatasi masalah
 Merass tidak memiliki kelebihan atau kemampuan positif
 Melebih-lebihkan penilaian negatif tentang diri sendiri
 Menolak penilaian positif tentang diri sendiri
DO :
 Enggan mencoba hal baru
 Berjalan menunduk
 Postur tubuh menunduk
- Gejala dan Tanda MinoR
DS :
 Merasa sulit konsentrasi
 Sulit tidur
 Mengungkapkan keputusan
DO :
 Kontak mata kurang
 Lesu dan tidak bergairah
 Berbicara pelan dan lirih
 Pasif
 Perilaku tidak asertif
 Mencari penguatan secara berlebihan
 Bergantung pada pendapat orang lain
 Sulit membuat keputusan (SDKI, 2017)
2. Resiko Bunuh Diri (D.0135)
- Definisi
Beresiko melakukan upaya menyakiti diri sendiri untuk mengakhiri
kehidupan.
- Faktor Resiko
 Gangguan perilaku (mis. euforia mendadak setelah depresi, pelaku
mencari senjata bervahaya, memebeli obat dalam jumlah banyak,
membuat surat warisan)
 Demografi (mis. lansia, status perceraian, janda/duda, ekonomi
rendah, pengangguran)
 Gangguan fisik (mis. nyeri kronis, penyakit terminal)
 Masalah sosial (mis. berduka, tidak berdaya, putus asa, kesepian,
kehilangan hubungan yang penting, isolasi sosial)
 Gangguan psikologis ([Link] masa kanak – kanak, riwayat
penyakit psikiatrik, penyalahgunaan zat) (SDKI, 2017)

3. Resiko Perilaku Kekerasan (D. 0146)


- Definisi
Beresiko membahayakan secara fisik, emosi dan atau seksual pada diri
sendiri atau orang lain.
- Faktor Resiko
 Faktor resiko
 Pemikiran waham
 Curiga pada orang lan
 Halusinasi
 Berencana bunuh diri
 Disfungsi sistem keluarga
 Kerusakan kognitif
 Disorientasi atau konfusi
 Alam perasaan depresi
 Kelanan neurologis
 Lingkungan tidak teratur
 Impulsif
 Ilusi (SDKI, 2017).

G. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Harga Diri Rendah Kronis (D.0086)
- Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 Jam diharapakan
harga diri rendah kronis dapat (Meningkat) dengan kriteria hasil:
Harga Diri (L.09069)
 Penilaian diri positif meningkat dari skala 1 (menurun) menjadi
skala 5 (meningkat)
 Perasaan memiliki kelebihan atau kemampuan positif dari skala
1 (menurun) menajdi skala 5 (meningkat)
 Penerimaan penilaian positif terhadap diri sendiri dari skal 1
(menurun) menjadi skala 5 (meningkat)
 Minat mencoba hal baru dari skala 1 (menurun) menjadi skala 5
(meningkat)
 Perasaan malu dari skala 1 (meningkat) menjadi skal 5
(menurun)
 Perasaan bersalah dari skala 1 (meningkat) menjadi skala
5 (menurun)
 Perasaan tidak mampu melakukan apapun dari skal 1
(meningkat) menjadi skala 5 (menurun) (SLKI, 2019).
- Intervensi Keperawatan :
Manajemen perilaku (I.12463)
Observasi
 Identifikasi harapan untuk mengendalikan perilaku
Terapeutik
 Diskusikan tanggung jawab terhadap perilaku
 Jadwalkan kegiatan terstruktur
 Ciptakan dan pertahankan lingkungan dan kegiatan perawatan
konsistem setiap dinas
 Tingkatkam aktivitas fisik sesuai kemampuan
 Batasi jumlah pengunjung
 Bicara dengan nada rendah dan tenang
 Lakukan kegiatan pengalihan terhadap sumber agitasi
 Cegah perilaku pasif dan agresif
 Beri penguatan postif terhadap keberhasilan mengendalikan
perilaku
 Lakukan pengekangan fisik sesuai indikasi
 Hindari bersikap menyudutkan dan menghentikan pembicaraan
 Hindari sikap mengancam dan berdebat
 Hindari berdebat atau menawar batas perilaku yang telah di
tetapkan
Edukasi
 Informasikan keluarga bahwa keluarga sebagai dasar
pembentukan kognitif (SIKI, 2018).

2. Resiko Bunuh Diri (D.0135)


- Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 Jam diharapakan resiko
bunuh diri dapat (Meningkat) dengan kriteria hasil:
Kontrol Diri (L.09076) :
 Verbalisasi ancaman kepada orang lain dari skala 1 (meningkat)
menjadi skala 5 (menurun)
 Perilaku menyerang dari skala 1 (meningkat) menjadi skala 5
(menurun)
 Perilaku melukai diri sendiri/orang lain dari skala 1 (meningkat)
menjadi skala 5 (menurun)
 Perilaku merusak lingkungan dari skala 1 (meningkat) menjadi
skala 5 (menurun)
 Perilaku agresif/mengamuk dari skala 1 (meningkat) menjadi skala
5 (menurun) (SLKI, 2019).

- Intervensi Keperawatan
Pencegahan Bunuh Diri (I. 14538)
Observasi
 Identifikasi gejala bunuh diri
 Identifikasi keinginan dan pikiran rencana bunuh diri
 Monitor lingkungan bebas bahaya secara rutin
 Monitor adanya perubahan mood atau perilaku
 Terapeutik
 Libatkan dalam perencanaan perawatan diri
 Libatkan perencanaan perawatan mandiri
 Lakukan pendekatan langung dan tidak langsung
 Tingkatkan pengawasan pada kondisi tertentu
 Lakukan intervensi perlindungan
 Hindari diskusi berulang tentang bunuh diri
Edukasi
 Anjurkan mendiskusikan perasaan yang dialami kepada orang lain
 Anjurkan menggunakan sumber pendukung
 Latih pencegahan resiko bunuh diri
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian obat antiansietas
 Kolaborasi tindakan keselamatan kepada PPA
 Rujuk ke pelayanan kesehatan mental (SIKI, 2018).
3. Resiko Perilaku Kekerasan (D.0146)
- Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 Jam diharapakan resiko
perilaku kekerasan diri dapat (Meningkat) dengan kriteria hasil:

Kontrol Diri (L.09076)


 Verbalisasi ancaman kepada orang lain dari skala 1 (meningkat)
menjadi skala 5 (menurun)
 Perilaku menyerang dari skala 1 (meningkat) menjadi skala 5
(menurun)
 Perilaku melukai diri sendiri/orang lain dari skala 1 (meningkat)
menjadi skala 5 (menurun)
 Perilaku merusak lingkungan dari skala 1 (meningkat) menjadi
skala 5 (menurun)
 Perilaku agresif/mengamuk dari skala 1 (meningkat) menjadi
skala 5 (menurun) (SLKI, 2019).
- Intervensi Keperawatan :
Pencegahan perilaku kekerasan (I.14544)
Observasi
 Monitor adanya benda yang berpotensi membahayakan
 Monitor keamanan barang yang dibawa oleh pengunjung
 Monitor selama penggunaan barang yang dapat membahayakan
Terapeutik
 Pertahankan lingkungan bebas dari baya secara rutin
 Libatkan keluarga dalam perawatan
Edukasi
 Anjurkan pemgunjung dan keluarga untuk mendukung
keselamatan pasien
 Latih cara mengungkapkan perasaan secara asertif
 Latih mengurangi kemarahan secara verb dan nonverbal (SIKI,
2018).
TINDAKAN KEPERAWATAN/
STRATEGI PELAKSANAAN

A. RISIKO BUNUH DIRI/ RBD


Tindakan mandiri
1. Mengidentifikasi beratnya masalah risiko bunuh diri: isyarat, ancaman,
percobaan (jika percobaan segera rujuk)
2. Mengidentifikasi benda-benda berbahaya dan mengamankannya
(lingkungan aman untuk pasien )
3. Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat daftar
aspek positif diri sendiri, latihan afirmasi/berpikir aspek positif yang
dimiliki
4. Mendiskusikan harapan dan masa depan
5. Mendiskusikan cara mencapai harapan dan masa depan
6. Melatih cara-cara mencapai harapan dan masa depan secara bertahap
7. Melatih tahap kedua kegiatan mencapai masa depan
Edukasi pasien dan keluarga
1. Mendiskusikan masalah yg dirasakan dalam merawat pasien
2. Menjelaskan pengertian, tanda & gejala, dan proses terjadinya risiko
bunuh diri (gunakan booklet)
3. Menjelaskan cara merawat risiko bunuh diri
4. Melatih cara memberikan pujian hal positif pasien, memberi dukungan
pencapaian masa depan
5. Melatih cara memberi penghargaan pada pasien dan menciptakan
suasana positif dalam keluarga: tidak membicarakan keburukan anggota
keluarga
6. Bersama keluarga berdiskusi dengan pasien tentang harapan masa depan
serta langkah- langkah mencapainya
7. Bersama keluarga berdiskusi tentang langkah dan kegiatan untuk
mencapai harapan masa depan i.
8. Menjelaskan follow up ke RSJ/PKM, tanda kambuh, rujukan
Tindakan kolaborasi
1. Melakukan komunikasi dengan pendekatan ISBAR
2. Memberikan psikofarmaka sesuai advice
3. Kolaborasi pengawasan efek samping obat

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)


KLIEN DENGAN MASALAH WAHAM
(SP 1 PASIEN)

Masalah :
Hari / tanggal :
Jam :

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien

2. Tujuan
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
b. Klien dapat berorientasi kepada realita secara bertahap.
c. Klien dapat memenuhi kebutuhan dasar.
3. Tindakan Keperawatan
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
b. Membantu orientasi realitas.
c. Mendiskusikan kebutuhan psikologi / emosional yang tidak
terpenuhi sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut, dan marah.

B. STRATEGI KOMUNIKASI
1. ORIENTASI (PERKENALAN)
a. Salam Terapeutik
“ assalamualaikum, selamat pagi mbak, perkenalkan nama saya
Rizka Yunita, mbak dapat memanggil saya Rizka. Saya perawat di
ruang ini yang akan merawat mbak”. “Nama mbak siapa? Senang
dipanggil siapa?”
b. Evaluasi/Validasi
“Bagaimana kabar mbak hari ini?“ “Mbak sepertinya terlihat
bingung dan gelisah. Apakah mbak mau menceritakan pada
saya apa yang mbak rasakan?” “Saya dapat menjamin kerahasiaan
dari setiap informasi yang mbak ceritakan kepada saya”.
c. Kontrak Waktu
“Baik mbak, hari ini kita akan mendiskusikan tentang kondisi
kesehatan mbak. Bagaimana mbak, apakah mbak setuju dengan topik
kita kali ini? “
Waktu:
“Untuk pertemuan kita pertama kali ini, mbak bisa berdiskusi berapa
lama? Sesuai dengan permintaan mbak, kita berdiskusi mengenai
keadaan mbak selama 15 menit ya, jadi nanti kita akan selesai
berdiskusi pada pukul jam 09.45”.
Tempat:
“ Mbak ingin kita berdiskusi dimana? Baik mbak, mari kita
berdiskusi di ruangan ini ya”

KERJA
“Bagaimana perasaan mbak setelah peristiwa ini terjadi? Apakah
dengan adanya masalah ini, mbak merasa paling menderita di dunia ini?
Apakah mbak merasa kehilangan percaya diri? Apa merasa tidak
berharga?” “Apakah mbak merasa sulit untuk berkonsentrasi? Apakah
mbak, berniat untuk mencederai diri? Apa yang mbak rasakan?” (Jika
pasien menyampaikan keinginan bunuh diri,segera lakukan tindakan
keperawatan untuk melindungi pasien) “Saya akan memeriksa seluruh isi
kamar mbak ya, untuk memastikan tidak ada benda-benda yang
membahayakan diri mbak”. “Karena mbak, tampak memiliki keinginan
untuk mengakhiri hidup, maka saya tidak membiarkan mbak sendiri ya”.
“Apa yang mbak lakukan saat keinginan untuk bunuh diri muncul?
Kalau keinginan untuk bunuh diri muncul, mbak langsung minta
bantuan perawat di ruangan atau keluarga untuk menemani mbak
diruangan sehingga mbak tidak sendirian di ruangan. Jadi, mbak jangan
sendirian di kamar ya”.
2. TERMINASI
a. Evaluasi Subyektif
”Bagaimana perasaan Bapak setelah berbincang-bincang dengan
saya?
b. Evaluasi Obyektif
“Apa saja tadi yang telah kita bicarakan? Bagus.”
c. Rencana Tindak Lanjut
“Bagaimana kalau jadwal ini Bapak lakukan, setuju Pak?”
d. Kontrak
- Topik
“Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk berbincang?”
- Waktu
”Nanti 3 jam lagi saya akan datang kesini. Bagaimana, Bapak
mau kan?”
- Tempat
”Tempatnya disini saja ya Pak. Assalamualaikum.”
DAFTAR PUSTAKA

Dermawan, R., & Rusdi. (2013). Keperawatan Jiwa: Konsep dan Kerangka Kerja
Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Gosyen Publishing.

Maramis, Rusdi (2010). Buku Saku Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ III).
Jakarta: FK Unika
Atmajaya

Iyus, Yosep., 2010, Keperawatan Jiwa. Bandung : Refia Aditama

Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry. Behavior
Sciences/Clinical Psychiatry. 10th 2. Wagner KD, Brent DA. Depressive
Disorders and Suicide. In : Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s
Comprehensive Textbook of Psychiatry. 9 ed. Lippincott Williams &
Wilkins, 2007, p.527-30.

Ambarwati, Fitri Respati & Nasution, Nita (2012). Buku Pintar Asuhan
Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Cakrawala Ilmu.

Potter, Perry. (2010). Fundamental Of Nursing: Consep, Proses and Practice.


Edisi 7. Vol. 3. Jakarta : EGC

PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan Indikator


Diagnostik. Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI

PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan Tindakan


Keperawatan. Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI

PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan. Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI

Stuart, G.W., and Sundenen, S.J. (2013).Buku saku keperawatan jiwa.6 thediton.
St. Louis: Mosby Yeart Book.

Tarwoto dan Wartonah.,2015. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan


. Edisi :4 .Jakarta

Anda mungkin juga menyukai