0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan17 halaman

Proposal TAK: Terapi Kekerasan Jiwa

Proposal ini membahas tentang Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) untuk mengatasi risiko perilaku kekerasan pada pasien keperawatan jiwa. Kegiatan ini direncanakan berlangsung pada 3 Juli 2025 dengan melibatkan tujuh klien dan dipimpin oleh kelompok mahasiswa keperawatan. Tujuan dari terapi ini adalah untuk membantu klien memahami dan mengontrol emosi serta menjelaskan perilaku kekerasan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan17 halaman

Proposal TAK: Terapi Kekerasan Jiwa

Proposal ini membahas tentang Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) untuk mengatasi risiko perilaku kekerasan pada pasien keperawatan jiwa. Kegiatan ini direncanakan berlangsung pada 3 Juli 2025 dengan melibatkan tujuh klien dan dipimpin oleh kelompok mahasiswa keperawatan. Tujuan dari terapi ini adalah untuk membantu klien memahami dan mengontrol emosi serta menjelaskan perilaku kekerasan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ( TAK )


KEPERAWATAN JIWA
“ RESIKO PERILAKU KEKERASAN ”

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 5

1. MUHAMMAD RAFI PRATAMA ( 20231014401036 )


2. MAYA COLISA PUTRI ( 20231014401032 )
3. YUSUF FAJAR JALIL ( 20231014401060 )
4. SELFIANA DWI UTAMI ( 20231014401051 )
5. YUNI SAPIRA ( 20231014401059 )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA INSANI SAKTI KOTA


SUNGAI PENUH
PRODI D-III KEPERAWATAN
TAHUN 2025 / 2026
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat tuhan yang maha esa, karena atas berkat rahmat dan hidayahnya kami
dapat menyelesaikan proposal TAK ini dengan baik.
Proposal TAK yang berjudul “ Halusinasi " disusun untuk memenuhi tugas mahasiswa mata
kuliah keperawatan jiwa 1.
Pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dosen mata kuliah keperawatan jiwa yang telah memberikan bimbingan dan
pengarahan dalam menyelesaikan proposal TAK ini.
2. Orang tua kami tercinta yang selalu memberikan do'a restu dan dukungan baik
moral maupun spiritual dalam proses pembelajaran kami di Prodi D-III
Keperawatan Stikes Bina Insani Sakti Kota Sungai Penuh.
3. Serta rekan-rekan dan semua pihak yang terkait dalam penyelesaian dan
penyusunan proposal TAK ini.

Kami menyadari bahwa Proposal ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu kritik
dan saran yang bersifat membangun sanagt kami harapkan demi kesempurnaan proposal TAK
ini kedepan.

Akhir kata, semoga proposal ini berguna dan bermanfaat bagi semua pihak yang
membaca, serta dapat dijadikan sebagai bahan untuk menambah pengetahuan para mahasiswa,
dan pembaca.

Jambi, 3 Juli 2025

Penyusun
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ( TAK )
RESIKO PERILAKU KEKERASAN

A. Waktu Pelaksanaan
1. Hari/ Tanggal : Kamis 3 Juli 2025
2. Waktu : 30 Menit
3. Alokasi Waktu : 10:00 – 10:30 WIB
4. Tempat : Diruangan pasien ( SHINTA )
5. Jumlah Klien : 7 Orang

B. Peserta Tak
1. Tn. Dio
2. Tn. Abu Nawan
3. Tn. Suaidi
4. Tn. Idris
5. Tn . Jumadi
6.. Tn. Hendro
7. Tn. Helfri

C. Tim Terapi
1. Leader : MAYA COLISA PUTRI
Uraian Tugas :
a. Mengkoordinasi seluruh kegiatan
b. Memimpin jalannya terapi kelompok
c. Memimpin diskusi
2. [Link] : YUNI SAPIRA
Uraian Tugas :
a. Membantu leader mengkoordinasi seluruh kegiatan
b. Mengingatkan leader jika ada kegiatan yang menyimpang
c. Membantu memimpin jalannya terapi kelompok
d. Menggantikan leader jika terhalang tugas
3. Observer : SELFIANA DWI UTAMI
Uraian Tugas :
a. Mengamati semua proses kegiatan yang berkaitan dengan
waktu, tempat dan jalannya acara
b. Melaporkan hasil pengamatan pada leader dan semua anggota
kelompok dengan eveluasi kelompok
4. Fasilitator : MUHAMMAD RAFI PRATAMA
YUSUF FAJAR JALIL

Uraian Tugas :
a. Memotivasi peserta dalam aktivitas kelompok
b. Memotivasi anggota dalam ekspresi perasaan setelah kegiatan
c. Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk
melaksanakan kegiatan
d. Membimbing kelompok-kelompok selama permainan diskusi
e. Membantu leader dalam melaksanakan kegiatan
f. Bertanggung jawab terhadap program antisipasi masalah

D. Metode
1. Diskusi
2. Ceramah
3. Tanya jawab

E. Media
1. Co card (tim)
2. Kursi
3. Buku Catatan dan pulpen

F. Kriteria Pasien
1. Klien dengan gangguan Resiko Perilaku Kekerasan
2. Klien yang mengikuti terapi aktivitas ini adalah tidak memiliki perilaku
agresif atau mengamuk serta dalam keadaan tenang
3. Klien yang mengikuti terapi aktivitas ini adalah klien yang tidak dalam
keadaan sakit, terinfus dan terpasang alat medis lainnya
4. Klien dapat di ajak kerja sama (Cooperative)
PROPOSAL TAK
RESIKO PERILAKU KEKERASAN

A. LATAR BELAKANG
Terapi aktivitas kelompok (TAK) : TAK adalah Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
adalah manual, rekreasi, dan teknik kreatif untuk memfasilitasi pengalaman klien serta
meningkatkan respon sosial dan harga diri. Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu
terapi yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai diagnosis
keperawatan yang sama. Terapi aktivitas kelompok dibagi sesuai dengan kebutuhan yaitu,
stimulasi persepsi, sensori, orientasi realita, sosialisasi dan penyaluran energi (Keliat &
Pawirowiyono, 2016).

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain..Perilaku kekerasan
merupakan salah satu gejala yang sering terjadi pada pasien gangguan jiwa (Skizofrenia). Pada
perilakukekerasan ditandai dengan melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik,
seperti mencederai diri sendiri,orang lain, dan lingkungan. Selain itu dalam psikologis,seseorang
yang mengalami gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan dapat diketahui dengan emosi yang
tinggi, marah danmudah tersinggung pada orang lain. beberapa ahli telah mendefininiskan perilaku
kekerasan diantaranya, Perilaku kekerasan adalah tindakan yang bertujuan untuk melukai/ mencederai
seseorang secara fisik atau psikologis (Berkowitz, 1993).
Ada juga yang mendefinisikan perilaku kekerasan sebagai respon perilaku seseorang yang
bersifatmerusak baik terhadap orang lain maupun terhadap sesuatu (Citrome & Volavka, 2002).
Perilaku kekerasan merupakan respon terhadap adanya ancaman fisik atau konsep diri
dapatberupa marah yang ekstrim atau ketakutan. Secara internal perasaan terancam bisa seperti
perasaan gagal di tempat kerja, perasaan tidak mendapkan kasih saying, dan ketakutan penyakit fisik.
Secara eksternal perasaan terancam dapat berupa penyerangan fisik, kehilangan orang berarti, dan
kritikan dari orang lain (Stuart & Laraia, 2005). Keliat (2011), mendefinisikan perilaku kekerasan
sebagai bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis

1. TUJUAN UMUM
Setelah dilakukan TAK diharapakan klien dapat menjelaskan cara selama ini
dilakukan untuk mengatasi Resiko Perilaku Kekerasan

2. TUJUAN KHUSUS
1. Klien dapat menyebutkan pengertian Perilaku Kekerasan
2. Klien dapat memahami cara mengontrol emosi dengan Tarik Nafas Dalam
3. Klien dapat memperagakan cara mengontrol emosi dengan Tarik Nafas Dalam
4. Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok

B. LANDASAN TEORI

1. Model terapi aktivitas kelompok


a. Model Psikoanalisa
Model Konseptual ini dikembangkan oleh Sigmund Freud. Psikoanalisa adalah suatu
sistem dalam psikologi yang berasal dari penemuan Freud dan menjadi dasar dalam
teori psikologi. Model ini berhubungan dengan perilaku manusia, kesehatan dan
gangguan jiwa. Psikoanalisa memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari
adanya dorongan yang menimbulkan konflik. Dorongan penimbul konflik pada diri
individu sebagian disadari dan sebagian besar lagi tidak disadari.

Peran perawat dalam model psikoanalisa adalah melakukan pengkajian keadaan


traumatic atau stressor yang di anggap bermakna pada masa lalu misanya (menjadi
korban perilaku kekerasan fisik, sosial, emosional maupun seksual) dengan
menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik.

b. Model interpersonal
Model ini dikembangkan oleh Harry Stack Sullivan dan Hildegard peplau. Teori
interpersonal meyakini bahwa perilaku berkembang dari hubungan interpersonal.
Teori ini menganggap perilaku merupakan hasil dari interaksi dengan orang lain atau
lingkungan sosial.
Penggunaan konsep model interpersonal sebagai suatu proses terapi, menggunakan
pendekatan dua komponen, yaitu:

1. Build Feeling Security (berupaya membangun rasa aman pada klien).

[Link] Relationship and interpersonal Satisfaction (menjalin hubungan yang saling


percaya dan kepuasan bergaul dengan orang lain).
Prinsip dari terapi ini adalah mengoreksi pengalaman interpersonal dengan menjalin
hubungan yang sehat, melalui pemberian edukasi. Proses terapi ini diharapkan klien belajar
membina hubungan interpersonal yang memuaskan, mengembangkan hubungan saling
percaya dan membina kepuasan dalam bergaul dengan orang lain sehinga klien merasa
berharga dan dihormati.

Peran perawat dalam terapi dengan pendekatan model konseptual ini adalah:
1) Share anxieties (berbagi pengalaman mengenai segala sesuatu yang dirasakan klien dan
apa yang menyebabkan kecemasan klien saat berhubungan dengan orang lain).
2) Therapist use empathy and relationship (Empati dan turut merasakan segala sesuatu yang
dirasakan oleh klien).

c. Model Sosial
Prinsip proses terapi dengan pendekatan model ini adalah modifikasi lingkungan dan
adanya support system. Proses terapi dilakukan dengan menggali support system yang
dimiliki klien seperti: suami/istri, keluarga atau teman sejawat. Selain itu terapis
berupaya menggali system sosial klien seperti suasana dirumah, di kantor, di sekolah,
di masyarakat atau tempat kerja. Pada model ini klien bebas memilih dirawat di
masyarakat atau dirawat di rumah sakit (Community based service).

d. Model eksistensial
Prinsip terapi dengan menggunakan pendekatan model konseptual eksistensial ini
adalah:
1. Mengupayakan individu agar memiliki pengalaman berinteraksi dengan orang yang
menjadi panutan atau sukses dengan memahami riwayat hidup atau karakteristik orang
tersebut

2. Memperluas kesadaran diri dengan cara introspeksi diri (self assessment), bergaul
dengan kelompok sosial dan kemanusiaan (conducted in group)

3. Mendorong untuk menerima dirinya sendiri dan menerima kritik atau feedback tentang
perilakunya dari orang lain (encouraged to accept self and control behavior)

[Link] proses terapI ini melalui kegiatan TerapiAktivitas Kelompok.


e. Model terapi suportif
Prinsip proses terapi dengan pendekatan model konseptual supportif adalah
menguatkan respon koping adaptif. Proses terapi ini, terapis membantu klien untuk:
1. Mengidentifikasi dan mengenal kekuatan atau kemampuan serta koping yang dimiliki
klien

2. Mengevaluasi kemampuan klien yang dapat digunakan untuk alternatif pemecahan


masalah

3. Menjalin hubungan yang hangat dan empatik dengan klien untuk membantu klien
menemukan koping klien yang adaptif.

f. Model medical
Model konseptual medikal meyakini bahwa penyimpangan perilaku merupakan
manifestasi gangguan sistem syaraf pusat (SSP). Individu yang mengalami depresi dan
schizophrenia dicurigai dipengaruhi oleh transmisi impuls neural, serta gangguan
synaptic, Sehingga focus penatalaksanaannya harus lengkap melalui
pemeriksaan diagnostik, terapi somatik, farmakologi, dan teknik interpersonal. Peran
perawat dalam model medikal ini adalah melakukan kolaborasi dengan tim medis
dalam melakukan prosedur diagnostik dan terapi jangka Panjang.

g. Model stress adaptasi


Model konseptual stress adaptasi dikembangkan oleh Calista Roy. Model konsep
adaptasi Roy adalah model yang memandang manusia sebagai suatu system adaptasi.
Asumsi dasar dari model ini menjelaskan bahwa individu adalah makhluk bio-psiko-
sosial yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Seseorang dikatakan sehat jika ia
mampu berfungsi untuk memenuhi kebutuhan biologis, psikologis, dan sosialnya.
2. Metode
a. Kelompok didaktik
b. Kelompok social terapeutik
c. Kelompok insipirasi represif
d. Psikodrama
e. Kelompok interaksi bebas
1. Tahap Terapi Aktivitas Kelompok
a. Fase Pra-Kelompok
Fase ini dimulai dengan membuat tujuan terapi,
menentukan leader, jumlah anggota, kriteria anggota, tempat dan
waktu kegiatan serta media yang digunakan. Ajumlah anggota
pada terapi kelompok biasanya 7-8 orang. Sedangkan jumlah
minimum 4 dan maksimum 10. Kriteria anggota yang dapat
mengikuti terapi aktivitas kelompok, adalah: sudah terdiagnosa
baik medis maupun keperawatan, tidak terlalu gelisah, tidak
agresif, serta tidak terdiagnosa dengan waham.

b. Fase Awal Kelompok


Fase ini ditandai dengan timbulnya ansietas karena
masuknya anggota kelompok, dan peran baru. Fase ini terbagi
atas 3 fase, yaitu orientasi, konflik dan kohesif.
1) Tahap Orientasi
Pada fase ini anggota mulai mencoba
mengembangkan sistem sosial masing-masing, leader
menunjukkan rencana terapi dan menyepakati kontrak dengan
anggota.
2) Tahap Konflik
Merupakan masalah sulit dalam proses kelompok.
Pemimpin perlu memfasilitasi ungkapan perasaan, baik
positif maupun negatif dan membantu kelompok menegnali
penyebab konflik, serta mencegah perilaku yang tidak
produktif.
3) Tahap Kohesif
Anggota kelompok merasa bebas membuka diri
tentang informasi dan lebih intim satu sama lain.
c. Fase Kerja Kelompok
Pada fase ini, kelompok sudah menjadi tim. Kelompok
menjadi stabil dan realitas. Pada akhir fase ini, anggota kelompok
menyadari produktivitas dan kemampuan yang bertambah disertai
percaya diri dan kemandirian.

d. Fase Terminasi
Fase ini ditandai oleh perasaan puas dan pengalaman
kelompok akan digunakan secara individual pada kehidupan
[Link] dapat bersifat sementara (temporer) atau
akhir.

G. Sesi yang digunakan


Dalam terapi aktivitas kelompok orientasi menggunakan sesi 1, yaitu
Sesi 1 : Mengontrol Emosi Dengan Tarik Nafas Dalam

H. Setting Tempat
Gambar Setting Tempat

Keterangan :
L : Leader
Co : Co. Leader
K : Klien
F : Fasilitator
O : Observer

I. Antisipasi Masalah
1. Penanganan terhadap klien yang tidak aktif dalam aktivitas
a. Memanggil klien
b. Memberi kesempatan pada klien untuk menjawab sapaan perawat atau klien lain
2. Bila klien meninggalkan kegiatan tanpa izin
a. Panggil nama klien
b. Tanyakan alasan klien meninggalkan kegiatan

1. Sesi 1 : Mengontrol Emosi Dengan Cara / Tekhnik Nafas


Dalam

Tujuan
a. Klien dapat mengenali pengertian Perilaku Kekerasan
b. Klien dapat mengetahui cara Mengontrol Emosi Dengan Tekhnik Tarik Nafas Dalam
c. Klien dapat Mempratekkan cara Mengontrol emosi dengan Tekhnik Tarik Nafas Dalam
Setting
a. Terapis dan klien duduk Bersama dalam lingkaran
b. Ruangan nyaman dan tenang
Alat
a. Buku catatan dan pulpen
b. Jadwal kegiatan klien
Metode
a. Dinamika kelompok
b. Diskusi dan tanya jawab
Langkah Kegiatan
a. Persiapan
1) Membuat kontrak dengan klien tentang TAK
2) Menyiapkan alat dan tempat bersama
b. Orientasi
1) Salam terapeutik:
a) Salam dari terapis kepada klien
2) Evaluasi atau validasi:

a) Menanyakan perasaan klien saat ini

b) Menanyakan masalah yg di rasakan

c) Menanyakan penerapan TAK yg lalu


3) Kontrak
a) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu cara tekhnik nafas dalam
b) Menjelaskan aturan berikut
 Jika ada klien yg ingin meninggalkan kelompok, harus
meminta izin kepada terapis
 Lama kegiatan 20 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai

c. Tahap Kerja
1. Perawat menjelaskan Pengertian Perilaku Kekerasan

2. Perawat menjelaskan cara mengontrol emosi dengan Tarik


nafas dalam

3. Setelah Perawat menjelsakan , perawat akan bertanya kepada


klien

4. Klien akan menjawab apa saja yang ditanyakan oleh perawat

5. Klien harus mampu mepratekkan cara mengontrol emosi


dengan tekhnik nafas dalam
d. Tahap Terminasi
1. Evaluasi
a) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
b) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.

2. Kontrak yang akan datang


a) Menyepakati kegiatan TAK yg akan dating
b) Menyepakati waktu dan tempat
SESI I TAK
Mengontrol Emosi Dengan Tekhnik Tarik Nafas Dalan

NAMA KLIEN
NO ASPEK YANG DINILAI

1 Klien Dapat Mengenali Pengertian


Perilaku Kekerasan

2 Klien Dapat Mengetahui Cara


Mengontrol Emosi Dengan
Tekhnik Nafas Dalam dan
Mempratekkan nya

3 Mengikuti kegiatan sampai selesai

Petunjuk :

a. Di bawah judul nama klien, tulis nama panggilan klien yg ikut TAK
b. Untuk tiap klien, semua aspek dinilai dengan memberi tanda (~) jika di temukan pada klien atau
(-) jika tidak di temu
DAFTAR PUSTAKA

AK, B. (2013). Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Elsevier.

Kusuma, M. D. (2024). Buku Ajar Keperawatan Psikiatri. Kota Jambi: Sonpedia Publishing
Indonesia.

MA, L. (2011). Keperawatan Jiwa Aplikasi Praktik Klinik. Jakarta: Graha Ilmu. Muhammad
Fatkhul Mubin, d. (2024). Buku Ajar Keperawatan Jiwa 1. Jakarta

Selatan: Mahakarya Citra Utama Group.

Ruswadi, I. (2021). KEPERAWATAN JIWA Panduan Praktis Untuk Mahasiswa Keperawatan.


Indramayu: Adab.

Anda mungkin juga menyukai