Nama : Junifa Sitiyani
Kelas : IX D
Mapel : Bahasa Indonesia
Cerita Rakyat Tentang Persahabatan : Pencuri Teman
Di sebuah desa, ada dua gadis yang bersahabat baik. Mereka adalah
gadis pertama dan gadis kedua.
Mereka selalu melakukan apa pun bersama-lama. Di desa itu pula, ada
satu gadis yang tak mempunyai teman.
Ia melakukan apa-apa sendirian.
Suatu hari, dua gadis yang bersahabat itu sedang mencuci baju di
sungai.
Mereka tampak sangat senang.
Sementara gadis yang tak memiliki teman, seorang diri mencuci baju
di tepi sungai yang lain.
“Wah, bahagianya jika memiliki teman. Mencuci bisa bersama-sama,
main bersama-sama. Pasti tidak kesepian.” ucap gadis yang tak
memiliki teman itu,
Berhari-hari gadis itu berpikir, bagaimana caranya agar ia memiliki
seorang teman.
“Aha! Aku rebut saja teman gadis itu. Pasti aku akan memiliki
teman,” gumam gadis itu.
Suatu ketika, dua gadis yang bersahabat itu sedang tidak bersama.
Muncullah ide di benak gadis yang tak memiliki teman.
Ia pun mendekati gadis pertama.
“Kamu tahu, sebenarnya temanmu itu tidak tulus. Ia hanya berpura-
pura baik kepadamu,” ucap gadis yang tak memiliki teman itu.
Gadis pertama awalnya tak percaya. Namun, gadis yang tak memiliki
teman itu terus menghasut gadis pertama.
Akhirnya, gadis pertama itu pun percaya.
Rupanya, gadis yang tak memiliki teman itu tidak hanya menghasut
gadis pertama.
Kepada gadis kedua pun, ia mengatakan hal serupa.
Awalnya, gadis kedua tak percaya. Tapi, lama-kelamaan, gadis kedua
percaya.
Seiring berjalannya waktu, gadis pertama dan gadis kedua tak pernah
lagi bertemu.
Mereka lebih suka melakukan semua hal sendiri-sendiri.
Mereka jadi lebih sering melakukan sesuatu bersama gadis yang tak
memiliki teman.
Gadis yang tak memiliki teman pun merasa bahagia. Ia tak lagi
sendirian, karena ia sudah mencuci teman. Namun, sebaik-baiknya
menyembunyikan bangkai, lama-kelamaan akan tercium juga baunya.
Gadis pertama dan gadis kedua tak sengaja bertemu di sungai.
Mereka bercerita banyak hal, termasuk tentang gadis yang tak
memiliki teman.
Mereka pun akhirnya tahu, bahwa putusnya tali persahabatan mereka
adalah ulah dari gadis yang tak memiliki teman.
Mengetahui kebenaran itu, gadis pertama dan gadis kedua kembali
menjadi sahabat.
Sedangkan gadis pencuri teman, dijauhi oleh teman itu kembali
menjadi gadis yang tak memiliki teman.
Nama : Putri Liyana
Kelas : IX D
Mapel : Bahasa Indonesia
KITA KAN SAHABAT
Sudah beberapa hari ini Muthia tidak bertemu dengan sahabat
karibnya, Aisyah.
“Mungkin Aisyah masih marah padaku,” pikir Muthia sedih.
Beberapa hari yang lalu Muthia meminjam sepeda Aisyah.
Sebelumnya Aisyah sudah berpesan agar Muthia tidak bermain
sampai ujung desa. Sebab di sana jalannya banyak yang berlubang.
Muthia kan belum pandai betul bermain sepeda. Namun karena
keasyikan, Muthia lupa pesan tersebut. Akibatnya ia terjatuh karena
tidak bisa menghindari lubang besar di depannya.
Muthia baik-baik saja. Hanya sedikit lecet di lutut dan kerudung biru
kesayangannya jadi robek. Namun sayangnya sepeda yang dinaikinya
jadi rusak. Stangnya miring dan roda depannya sedikit bengkok.
Muthia sangat menyesal karenanya. Ia takut Aisyah dimarahi
orangtuanya karena sepedanya rusak. Tetapi Muthia juga takut kalau
dia bicara kepada orangtuanya, dia akan dimarahi. Lagipula,
orangtuanya lagi banyak keperluan. Kemungkinan besar mereka tidak
punya uang untuk mengganti kerusakan sepeda tersebut. Oleh
karenanya Muthia merasa sangat bersalah.
Sore itu sembunyi-sembunyi Muthia mengamati rumah Aisyah.
Berharap bisa melihat keadaan sahabatnya itu. Tetapi rumah Aisyah
tampak sepi. Aisyah tidak nampak batang hidungnya. Padahal
biasanya mereka selalu bermain bersama setiap hari. Muthia tidak
bisa menemui Aisyah di sekolah, karena mereka beda sekolah.
“Aisyah mana, ya?” gumam Muthia. Ia ingin sekali bertemu Aisyah.
Namun ia juga takut.
Dengan lesu Muthia melangkahkan kakinya. Ia berjalan menuju
lapangan bola. Di sana biasanya anak-anak berkumpul untuk bermain.
Namun Muthia tidak bersemangat main apa pun.
Andaikan aku bisa mengganti sepeda Aisyah yang rusak, Muthia
membatin.
Muthia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menoleh dan
menemukan seorang anak dengan kerudung bunga-bunga sedang
melambai padanya.
“Aisyah!” seru Muthia tertahan. Dia sangat kaget. Lebih kaget lagi
ketika dilihatnya Aisyah berdiri di sebelah sepeda yang sebelumnya
sering Muthia pinjam.
“Muthia! Ke sini!” seru Aisyah.
Jantung Muthia jadi berdebar-debar. Ia akan berjanji pada Aisyah.
Kalau tabungannya sudah cukup, ia akan mengganti kerusakan sepeda
itu.
“Aisyah. Maafkan aku. Aku tidak akan meminjam sepedamu lagi.
Aku juga akan mengganti sepedamu, kalau uang tabunganku sudah
cukup,” kata Muthia dalam satu tarikan napas.
Aisyah sedikit memiringkan kepalanya. Ia tidak dapat langsung
mencerna perkataan Muthia karena sahabatnya itu bicara terlampau
cepat.
“Kamu tidak akan meminjam sepedaku lagi?” ulang Aisyah. Muthia
mengangguk. “Kenapa?” tanya Aisyah, tampak bingung. Muthia diam
saja. Ia merasa tidak enak.
“Apa karena kamu takut jatuh lagi?” tanya Aisyah. “Jangan khawatir.
Nanti aku bantuin,” kata Aisyah ceria. Muthia semakin merasa tidak
enak. Aisyah begitu baik dan manis. Takut-takut Muthia melirik
sepeda Aisyah. Sepeda itu tidak lagi bengkok. Nampaknya sudah
diperbaiki.
“Apa… apa kamu dimarahi karena sepedanya rusak?” tanya Muthia,
agak terbata.
Sambil tersenyum Aisyah berkata, “Jangan khawatir, Mut. Sewaktu
aku pulang membawa sepeda yang kemarin bengkok, Papa memang
sangat khawatir. Lalu Papa membelikanku helm. Supaya lebih aman
mengendarai sepeda. Kalau sepedanya tidak bengkok, belum tentu
aku dibelikan perlengkapan keamanan ini.”
“Maafkan aku, ya, Ais,” kata Muthia.
“Sudahlah. Jangan dipikirkan lagi,” kata Aisyah. Ia mengeluarkan
sesuatu dari kantung plastik di keranjang sepeda. “Ini, helm buat
kamu. Kemarin Papa beli dua. Jadi kita bisa sama-sama pakai helm
sambil boncengan,” kata Aisyah.
Muthia benar-benar terpana. Bukankah dirinya yang merusak sepeda
Aisyah? Tetapi kenapa malah ia juga dibelikan helm untuk
bersepeda?
“Aisyah, kamu baik hati sekali.”
“Kamu juga teman yang baik, Mut,” balas Aisyah.
“Jadi, kamu masih mau berteman denganku?” tanya Muthia.
“Ya, ampun, Muthia. Tentu saja! Masa cuma gara-gara sepeda kita
jadi tidak bersahabat lagi?” jawab Aisyah dengan mata terbelalak.
“Kita kan sahabat. Sahabat sejati!” sambungnya penuh semangat.
Muthia mengangguk paham.
“Terima kasih ya, Ais. Bilangin juga ke Papamu, terima kasih,” kata
Muthia tulus. Aisyah mengangguk.
“Eh, lihat! Ada kupu-kupu!” seru Aisyah.
“Di sana! Kupu-kupunya berkumpul di sana!” sahut Muthia, sambil
menunjuk seberang lapangan yang dipenuhi bunga kacapiring yang
tengah bermekaran.
“Yuk, ke sana!” ajak Aisyah bersemangat, mengambil posisi di sadel
sepedanya. Tak menunggu lama Muthia langsung duduk di
boncengan.
“Let’s go!”` seru keduanya serentak, lalu terkikik geli.
Nama : Rispia
Kelas : IX D
Mapel : Bahasa Indonesia
PERSAHABATAN YANG INDAH
Aku Virda, aku beruntung mempunyai sahabat yang selalu ada
untukku, kami melewati suka duka bersama. Suatu ketika aku dan
sahabatku bertengkar karena masalah yang kuanggap sepele, semua
itu baru kusadari bahwa sahabatku sangat penting bagiku.
Suatu hari aku pergi ke mall bersama sahabatku, aku menyuruhnya
membawa belanjaanku, dan ternyata belanjaanku yang dibawanya
tertinggal. Saat itu juga aku marahi dia dengan perkataan yang kasar
karena keegoisanku.
“Vir, tolong pegang belajaan ku ini ya, soalnya berat banget” Kataku.
“Iya sini aku bantu bawa belanjaannya, takut kamu keberatan”
Katanya.
“Siap, kamu memang sahabatku yang paling pengertian” Jawabku.
“Haha iyalah sesama sahabat memang seharusnya saling membantu”
Jawabnya sambil tersenyum. Sembari berpelukan.
“Kamu lapar ngga?” Tanyanya
“Lapar si, mulai keruyukan nih perut” Jawabku.
“Makan yuk! sekarang aku yang traktir, aku juga lapar” Sambil
menatapku dengan lemas.
“Hmm ya sudah ayoo” Jawabku.
Lalu sampailah kami di warung seberang mall.
“Kamu mau pesan apa vir?” Tanyanya.
“Aku ngikut kamu deh” Jawabku.
“Hmm oke deh” Jawabnya.
Beberapa menit kemudian kami selesai makan dan mulai berkendara
untuk pulang.
“Eh.. kayaknya ada yang ketinggalan deh, tapi apa ya?” Tanyanya
dengan muka yang heran.
“Hmm apa ya?” Aku membantu berpikir.
“Oh iya belanjaanku mana? Celetukku.
“Ya ampun.. oh iya aku lupa, ketinggalan di warung tempat kita
makan tadi” Jawabnya dengan rasa bersalah
“Apa? Ketinggalan? Yang bener aja, kita kan udah jauh dari warung
tempat kita makan tadi” Jawabku dengan kesal.
“Duh, maaf banget ya vir, aku benar-benar lupa” Jawabnya dengan
berkeringat.
“Apa? minta maaf? kamu pikir dengan minta maaf bisa membuat
barangku kembali dan masalah selesai? Enggak kan? Seenaknya aja
kamu minta maaf” Jawabku dengan kesal, lalu tanpa basa basi aku
pergi meninggalkannya.
Keesokan hari, dia datang membawa belanjaanku dan meminta maaf
karena kejadian kemarin, tetapi aku tetap menghiraukan nya. Maka
setelah beberapa lama lama, aku sadar bahwa hal yang aku lakukan
adalah sebuah kesalahan, dan aku tersadar betapa egoisnya diriku.
Akupun meminta maaf.