0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan31 halaman

Pendidikan Keluarga untuk Anak Optimal

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan keluarga sebagai dasar pendidikan anak, menekankan peran orang tua dalam membentuk kepribadian dan perilaku anak. Keluarga dianggap sebagai lingkungan pertama yang memberikan pendidikan awal melalui keteladanan dan pembiasaan nilai-nilai positif. Penelitian ini juga mengutip berbagai pendapat ahli tentang konsep pendidikan keluarga dan fungsinya dalam perkembangan anak.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan31 halaman

Pendidikan Keluarga untuk Anak Optimal

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan keluarga sebagai dasar pendidikan anak, menekankan peran orang tua dalam membentuk kepribadian dan perilaku anak. Keluarga dianggap sebagai lingkungan pertama yang memberikan pendidikan awal melalui keteladanan dan pembiasaan nilai-nilai positif. Penelitian ini juga mengutip berbagai pendapat ahli tentang konsep pendidikan keluarga dan fungsinya dalam perkembangan anak.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMA: Jurnal Pendidikan dan Pengabdian kepada Masyarakat P.

ISSN 2797-0833 |
[Link] 2776-9305
Vol. 1, No. 2 Tahun 2021 | Hal. 92-106
[Link]
hp/pema

PENDIDIKAN KELUARGA SEBAGAI BASIS PENDIDIKAN ANAK

Zubaidah Lubis1, Erli Ariani2, Sutan Muda Segala3, Wulan4

1,2,3Mahasiswa Tadris IPS FITK UIN SU Medan

1zubaidahzubaidah972@gamil.com1 ,bancikwlol@gmail.com2, sutan@gmail.com3

erlyariani846@gmail.com4
* Zubaidah Lubis

ABSTRAK

Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dialami seorang anak manusia ketika
dilahirkan ke dunia. Dalam perkembangan selanjutnya keluarga juga merupakan lingkungan
utama dalam pembentukan kepribadian seorang anak manusia. Masa-masa awal
pertumbuhannya lebih banyak dihabiskan di dalam lingkungan keluarga. Maka di dalam
keluargalah seorang anak manusia mengalami proses pendidikan yang pertama dan utama.
Segala bentuk perilaku keluarga, khususnya kedua orang tua, baik lisan maupun
perbuatan, baik yang bersif at pengajaran, keteladanan maupun kebiasaankebiasaan yang
diterapkan di dalam kehidupan sosial keluarga, akan mempengaruhi pola perkembangan
perilaku anak selanjutnya. Oleh karena itu, orang tua harus mampu menanamkan pendidikan
yang baik dan benar kepada anak sejak usia dini, agar perkembangan perilaku anak
selanjutnya dapat mencerminkan kepribadian yang luhur, yang bermanfaat bagi dirinya
sendiri, agama, keluarga juga masyarakat dan bangsanya.

Kata Kunci: Pendidikan Keluarga, Pendidikan


Anak

Copyright ©2021 Permapendis Provinsi Sumatera Utara,


All Right Reserved
PENDAHULUAN

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam
keadaan saling ketergantungan. Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga
terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang bergabung karena hubungan darah, hubungan
perkawinan, dihidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam
perannya masing-masing dan menciptakan serta nempertahankan suatu kebudayaan.

Dari pernyataan diatas, Keluarga juga satu-satunya lembaga sosial yang diberikan
tanggung jawab untuk mengubah satu organisme biologis
menjadi manusia, pada saat sebuah
lembaga mulai membentuk kepribadian seseorang dalam hal-hal penting keluarganya tentu
lebih banyak berperan dalam persoalan peruban itu, dengan mengajarkan berbagai kemampuan
dan menjalankan banyak fungsi-fungsi sosialnya. Keluarga merupakan madrasah pertama
yang bertugas mengasuh dan mendidik anak-anak laki- laki maupun perempuan.

Tugas utama keluarga merupakan memenuhi kebutuhan jasmani rohani dan sosial
anggota keluarganya yang mencakup pemeliharaan dan perawatan anak-anak, pembimbingan
perkembangan kepribadian anak- anaknya dan memenuhi emosional anggota keluarga yang
telah dewasa.

Lingkungan pertama yang punya peran merupakan lingkungan keluarga, disinilah anak
dilahirkan, dirawat, dan

PEMA: Jurnal Pendidikan dan Pengabdian kepada Masyarakat


Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

dibesarkan. Disinilah proses pendidikan berawal, orang tua merupakan guru pertama dan
utama bagi anak. Orang tua merupakan guru agama, bahasa dan sosial pertama bagi anak.

METODE
Penelitian ini menggunakan sitem atau metode penelitian studi literatur, karena
penelitian ini menggunkan sumber uama yaitu buku. Dan sumber lainnya seperti artikel,
jurnal, e-book, aplikasi belajar online, dsb. Studi literatur ini diartikan sebagai cara yang
dipakai untuk menghimpun data-data atau sumber yang berhubungan dengan topik yang
diangkat dalam satu penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Pendidikan Keluarga


Dalam banyak literatur, para ahli memberikan berbagai sudut pandang tentang pengertian
pendidikan keluarga, misalnya Mansur (2005 : 319) mendefiniskan pendidikan keluarga adalah
proses pemberian positif bagi tumbuh kembangnya anak sebagai pondasi pendidikan
selanjutnya. Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan Abdullah (2003:232) yang
memberi pengertian pendidikan keluarga adalah segala usaha yang dilakukan oleh orang tua
berupa pembiasaan dan improvisasi untuk membantu perkembangan pribadi anak. Pendapat
lain di kemukakan oleh An- Nahlawi (1989), Hasan Langgulung (1986) memberi batasan
tentang pengertian pendidikan keluarga adalah usaha yang dilakukan oleh ayah dan ibu

93
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
sebagai orang yang diberi tanggung jawab untuk memberikan nilai-nilai, akhlak, keteladanan
dan kefitrahan.

Selanjutnya, Ki-Hajar Dewantara (1961) salah seorang tokoh pendidikan Indonesia,


menyatakan bahwa alam keluarga bagi setiap orang (anak) adalah alam pendidikan permulaan.
Di situ untuk pertama kalinya orang tua (ayah maupun ibu) berkedudukan sebagai penuntun
(guru), sebagai pengajar, sebagai pendidik, pembimbing dan sebagai pendidik yang utama
diperoleh anak. Maka tidak berlebihan kiranya manakala merujuk pada pendapat para ahli di
atas konsep pendidikan keluarga tidak hanya sekedar tindakan (proses), tetapi ia hadir dalam
praktek dan implementasinya, terus dilaksanakan oleh para orang tua (ayah-ibu) akan nilai-
nilai pendidikan dalam keluarga. Meskipun terkadang secara teoritis harus diakui belum
sepenuhnya dipahami, bahkan dalam kebanyakan orang tua belum banyak tahu bagaimana
sebenarnya konsep pendidikan keluarga itu. Namun, tanpa disadari para orang tua (ayah-ibu)
dalam praktek-prakteknya keseharian, para orang tua telah menjalankan fungsi-fungsi
keluarga dalam pendidikan anak-anak, karena fungsi keluarga pada hakekatnya adalah sebagai
pendidikan budi pekerti, sosial, kewarganegaraan, pembentukan kebiasaan dan pendidikan
intelektual anak (Ali Syarifullah, 1994: 110-111)

Mollehnhaur (dalam Abdullah


2003:2037) membagi fungsi keluarga dalam pendidikan anak terbagi dua fungsi, yaitu: (a)
fungsi kuantitatif, yaitu menyediakan bagi pembentukan

94
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

perilaku dasar, artinya keluarga tidak hanya menyediakan kebutuhan dasar fisik anak berupa
pakaian, makan dan minum, tempat tinggal yang baik, tetapi juga keluarga (ayah-ibu) juga
dituntut untuk menyediakan dan memfasilitasi ketersediaan dasar-dasar kebaikan, berupa
perilaku, etika, sopan santun dan pembentukan karakter anak yang santun dan berakhlak baik
sebagai fitrah manusia yang hakiki. Seperti mengajarkan sejak dini perbuatanperbuatan yang
baik-baik, mencontohkan (keteladanan) hal-hal yang baik, mempraktekkan nilai-nilai positif
baik dalam perilaku keseharian anak maupun disaat-saat tertentu. (b) fungsi-fungsi selektif,
yaitu menyaring pengalaman anak dan ketidaksamaan posisi kemasyarakatan karena
lingkungan belajar. Artinya pendidikan keluarga berfungsi sekaligus memerankan diri sebagai
fungsi kontrol pengawasan terhadap diri anak akan berbagai informasi yang diterima anak,
mengingat anak, terutama usia 00 tahun
– 05 tahun belum memiliki pengetahuan
dan pengalaman yang mampu membedakan mana yang baik dan buruk, maka keluargalah
(ayah-ibu) yang berkewajiban memberikan informasi dan pengalaman yang bermakna
terutama, pengalaman-pengalaman belajar yang secara langsung maupun tidak langsung
diharapkan pengalaman belajar dan lingkungan belajar yang diterima mampu diserap dan
ditransformasi dalam diri anak. (c) fungsi paedagogik, yaitu mewariskan nilai-nilai dan norma-
norma. Artinya pendidikan keluarga berfungsi memberikan warisan nilai-nilai yang
berkaitan aspek-aspek

95
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
kepribadian anak. Tugas akhir pendidikan keluarga tercermin dari sikap, perilaku dan
kepribadian (personality) anak dalam kehidupan sehari-hari yang ditampilkan. Sementara
Berns (2007,89-90) mengemukakan fungsi keluarga, yaitu: (a) fungsi refroduksi, (b)
melaksanakan pendidikan dan sosialisasi dimasyarakat, (c) membangun aturan-aturan sosial,
(d) melakukan tindakan ekonomi dan (e) membangun dan mendukung proses perkembangn
emosi anak-anak.

Adapun Menurut para ahli pendidikan keluarga pada anak.

• Maria Montessori (1870-1952)

Ia dilahirkan di Italia (Roma) pada tahun 1870. Ia seorang dokter wanita dan
menghentikan praktek kedokterannya pada tahun 1900. Kemudian terjun ke dunia pendidikan
dengna mempelajari ilmu jiwa anak-anak (Kinder Psychologie).

Pada tahun 1907 Maria Montessori mendapat tawaran dari seorang pengusaha Roma
untuk mendirikan sekolah bagi kanakkanak. Oleh pengusaha kaya tersebut Montessori diberi
kebebasan dan keleluasaan untuk mengelola sekolah tersebutn dengan baik. Tawaran tersebut
diterimanya dan Maria Montessoripun akhirnya mendirikan “Casa Dei Bambini” yang berarti
“rumah untuk merawat anak- anak”.

Montessori, memandang perkembangan anak usia dini sebagai suatu proses yang
berkesinambungan. Pendidikan adalah sebagai aktifitas diri, dan mengarahkan anak
pada

96
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

pembentukan disiplin pribadi, kemandirian, dan pengarahan diri.

Tak kalah menarik dari konsep teori pendidikan Montessori adalah pendidikan
jasmani yang mengembangkan otot-otot, berkebun dan belajar tentang alam. Dengan
pendidikan tentang alam, berkebun dan mengembangkan otot-otot melalui olah raga
diharapkan anak-anak akan memiliki pengalaman-pengalaman kehidupan dan memiliki fisik
yang sehat dan kuat. Dengan demikian, anak akan dapat belajar dengan berbagai macam.
Montessori sangat percaya bahwa pada usia sejak dini 02 – 06 tahun adalah masa yang
dianggap sangat “sensitif” untuk belajar mengenal membaca, menghitung. (Soemiarti, 2003 :
9-10).

• Abu Hamid Muhammad Al-Gazali


(450H – 505H / 1058M – 1111M)

Al-Gazali dilahirkan di Kota Tos Khurasan (Persia). Sejak kecil al Gazali menggemari
ilmu pengetahuan, ia memiliki kecerdasan yang luar biasa. Sampai-sampai Imam Al-Juwaini
menjuluki dengan sebutan “Bahrun Mughriq” (lautan yang menenggelamkan).

Kelebihan lain dari Al-Gazali, adalah kemampuan ia terlibat dalam perdebatan (dialog)
dengan beberapa ahli fikir, ulama dan orang-orang yang dianggap memiliki kelebihan ilmu
darinya. Kemampuanya dalam berdebat ini telah menghantarkannya untuk diminta oleh
penguasa (raja) ketika itu untuk membantu dalam mendidik dan mengajarkan ilmu agama
kepada anak- anak Raja dan para prajuritnya Raja teruama di kota Bagdhad (Irak

97
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
sekarang), ini terjadi tahun 484 H/1091
M.

Keluasan dan kearifan Imam Al- Gazali dalam menata kehidupan di dunia ini telah pula
menghantarkannya ke jalan kehidupan sufiistik. Ini ditandai dengan ajaran-ajarannya yang
kemudian menjadi rujukan dan referensi bagi orang-orang yang ingin mendalami hakikat
melalui ajaran tasawuf. Buku yang pertama kali disusun untuk mengetahui kehidupannya,
beliau susun dalam “AlMunqidz Minad Dhalal”. Di dalam buku ini berisi dan memuat
gambaran kehidupan, terutama pada masa terjadi perubahan didalam pandangannya tentang
perihal hidup dan nilai-nilai. Di dalam buku ini juga Al- Gazali melukiskan proses internalisasi
Iman di dalam jiwa, bagaimana hakikat- hakikat ilahiah dapat tersingkap bagi manusia,
bagaimana manusia dapat mencapai ma’rifat dengan penuh keyakinan yang tidak melalui
proses berfikir dan berlogika, melainkan dengan jalan ilham dan pelacakan sufi. (Fathiyah
Hasan, 1986 : 19-22).

Anak usia dini menurut Al-Ghazali seyogyanya dikenalkan dengan agama. Karena
manusia dilahirkan telah membawa agama sebagaimana agama yang dibawa oleh kedua orang
tuanya (ayah-ibu). Oleh karena itu seorang anak akan mengikuti agama kedua orang tuanya-
serta guru. Konsep ini menjadikan kedua orang tua sebagai pendidik yang utama menjadi
kekuatan dalam diri anak, agar anak tumbuh- kembang ke arah pensucian jiwa, berakhlak yang
mulia bertaqwa dan diharapkan menyebarkan keutamaan ke

98
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

seluruh umat manusia. Pemikiran al Gazali tentang konsep pendidikan, beliau tuangkan dalam
kitabnya yang terkenal, yaitu “Ihya Ulumuddin”. Dan karangan beliau ini hari ini menjadi
rujukan dan landasan sebagian pemikir muslim yang mengangkat isu-isu pendidikan,
terutama pendidikan keluarga.

• Ki -Hajar Dewantara (1889 –


1959)

Salah seorang tokoh yang berpengaruh dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah Ki-
Hajar Dewantara. Beliau dilahirkan didaerah kauman Yogyakarta tanggal, 2 Mei 1889 dan
wafat tanggal,26 April 1959. Di Kota Pendidikan inilah sosok KiHajar Dewantara telah
mengilhami lahirnya perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta pada tanggal 3 Juli
1922. Tahun pertama berdirinya Taman Siswa ini dimulai dibukanya sekolah yang diberi nama
“Taman Lare” atau “Taman Anak”. Dalam perkembangan selanjutnya Perguruan Nasional
Taman Siswa, berdiri pula sekolah rendah dan sekolah lanjutan pertama. Untuk kesesuaian
dengan sifat-sifat jiwa anak-anak sesuai dengan umurnya, maka setiap jenjang pendidikan
diberi nama “Taman Anak” untuk kelas I sampai dengan kelas III untuk usia anak 7 – 9
tahun, “Taman Muda” untuk anakanak muda untuk anak kelas IV sampai dengan VI berumur
antara 10 – 13 tahun, untuk kelas masyarakat untuk kelas VII. Untuk sekolah lanjutan pertama
diperuntukkan bagi anak-anak dewasa diberi nama “Taman Dewasa”.

Konsep Ki-Hajar Dewantara tentang pendidikan beliau tuangkan

99
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
melalui “Tri Sentra Pendidikan” yang dikembangkan di Perguruan Taman Siswa, yaitu sentra
keluarga, sentra perguruan dan sentra masyarakat. Dalam konteks sentra keluarta, pendidikan
keluarga telah melahirkan konsep “among”, dimana konsep among ini menuntut para orang tua
untuk bersikap, yaitu: (a) ing ngarso sun tolodo, (b) ing madya mangun kasra, (c) tut wuri
handayani. Dalam konteks sentra keluarga, Ki-Hajar Dewantara sangat peduli dalam
memperhatikan, bahkan meminta para orang tua untuk mendidik anak-anak sejak usia
dini(alam keluarga). Alam keluarga itu adalah suatu tempat yang sebaik-baiknya untuk
melakukan pendidikan kesusilaan dan kesosialan, sehingga boleh dikatakan, bahwa keluarga
itu tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan wujudnya dari pada tempat-tempat
lainnya, guna untuk melangsungkan pendidikan ke arah kecerdasan budi pekerti
(pembentukan watak individual) dan sebagai persediaan hidup kemasyarakatan (Ki- Hajar
Dewantara,
1961 : 374).

Pentingnya pendidkan keluarga bagi pertumbuhan dan perkembangan anak di


kemukakan lebih lanjut oleh Ki- Hajar Dewantara (1961) bahwa alam keluarga, adalah: (a)
alam pendidikan yang permulaan, pendidikan pertama kalinya bersifat pendidikan dari orang
tua yang berkedudukan sebagai guru (penuntut), sebagai pengajar dan sebagai pemimpin, (b) di
dalam keluarga itu anak-anak saling mendidik, (c) di dalam keluarga anak-anak berkesempatan
mendidik diri sendiri, karena di dalam hidup keluarga itu mereka tidak berbeda

10
0
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

kedudukannya, (d) didalam keluarga orang tua sebagai guru dan penuntun, sebagai pengajar,
sebagai pemberi contoh dan teladan bagi anak-anak.

Fungsi Pendidikan Keluarga Sebagai


Basis Pendidikan Anak

Keluarga menurut Depkes (1988) dalam Setiawati (2008) adalah unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan
tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga
yang harmonis selalu berupaya untuk menjalankan fungsinya dengan semestinya. Fungsi ini
mengacu pada interaksi anggota keluarga terutama pada kualitas hubungan dan interaksi
mereka (Wong, 2009). Menurut Friedman (1998) ada 5 fungsi keluarga, yaitu fungsi
afektif (affective function), fungsi sosialisasi dan penempatan sosial (socialization and social
placement function), fungsi reproduksi (reproductive function), fungsi ekonomi (economic
function), fungsi perawatan dan pemeliharaan kesehatan (health care function).

Keluarga merupakan fokus umum dari pola lembaga sosial. Hampir dalam setiap
masyarakat keluarga merupakan pusat kehidupan secara individual, dimana di dalamnya
terdapat hubungan yang intim dalam derajat yang tinggi. Terlepas dari persoalan hubungan
yang inti ini, keluarga mempunyai sejumlah fungsi yang sesuai dengan harapan- harapan
masyarakat. Fungsi-fungsi dari keluarga tersebut meliputi :

a. Fungsi Reproduksi atau


Melanjutkan Keturunan

10
1
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
Keluarga merupakan lembaga yang salah satu fungsinya untuk mempertahankan
kelangsungan hidup manusia, melalui fungsi reproduksi. Dalam suatu masyarakat yang
beradab, keluarga merupakan satu-satunya wahana untuk maksud ini. Berlangsungnya fungsi
ini berkaitan erat dengan aktivitas seksual antara laki-laki (suami) dan wanita (istri). Hanya
melalui keluargalah aktivitas seksual manusia yang merupakan kunci terlaksananya fungsi
melanjutkan keturunan dapat terpenuhi secara tepat, wajar dan teratur dari segi moral, kultural,
sosial, maupun kesehatan dan tentunya sah berdasarkan hukum adat, hukum agama, dan
hukum negara. B. Fungsi Afeksi atau Kasih Sayang Setiap manusia membutuhkan kasih
sayang, karena kebutuhan ini menyangkut perasaan atau emosi seseorang. Keluarga
merupakan salah satu pranata yang dapat memenuhi kebutuhan para anggotanya akan kasih
sayang. Keluarga yang ideal adalah keluarga yang dipenuhi dengan hubungan kasih sayang di
antara anggotanya. Rasa cinta dan kasih sayang sangat berperan penting bagi perkembangan
pribadi setiap anggota keluarga, terutama anak-anak.

Anak, terutama pada saat masih kecil, berkomunikasi dengan lingkungan dan orang
tuanya dengan keseluruhan kepribadiannya. Pada saat anak masih kecil ini, fungsi afeksi atau
kasih sayang memegang peranan sangat penting. Ia dapat merasakan dan menangkap suasana
perasaan yang meliputi orang tuanya apda saat anak berkomunikasi dengan mereka. Dengan
kata lain, anak peka sekali dengan iklim emosional

10
2
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

(perasaan) aau afeksional yang meliputi keluarganya.

Anak membutuhkan kehangatan kasih sayang dari orang tuanya, namun tidak secara
berlebihan ataupun kekurangan. Oleh karena itu, orang tua terutama ibu, mesti melaksanakan
fungsi afeksi ini dengan baik agar jiwa anak tumbuh dengan sehat. Sebuah suasana keluarga
yang hangat, romantis, dan penuh kasih sayang akan menumbuhkan kepribadian yang baik
bagi anak dan dapat menghindarkan pengaruh psikologis yang tidak baik.

b. Fungsi Ekonomi.

Setiap keluarga harus dapat memenuhi kebutuhan ekonomi anggotanya, dapat bertahan
hidup. Untuk itu setiap anggota keluarga harus bekerja sama untuk menghasilkan sesuatu.
Misalnya: ayah sebagai kepala keluarga berkewajiban bekerja mencari nafkah untuk
memenuhi kebutuhan hidup anggota keluargaya. Sedangkan ibu bertugas untuk mengelola
keuangan keluarga. Namun saat ini, sudah banyak ibu atau isteri yang turut bekerja untuk
membantu keuangan keluarga.

Fungsi ekonomi keluarga sangat penting bagi kehidupan keluarga, karena merupakan
pendukung utama bagi kebutuhan dan kelangsungan keluarga. Fungsi ekonomi keluarga
meliputi pencarian nafkah, perencanaannya serta penggunaannya. Pelaksanaan fungsi ekonomi
keluarga oleh dan untuk semua anggota keluarga mempunyai kemungkinan menambah saling
pengertian, solidaritas, dan tanggung jawab bersama dalam keluarga itu. Pemenuhan fungsi
keluarga ini mesti

10
3
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
dilakukan secara wajar, artinya tidak kekurangan atau berlebihan karena dapat membawa
pengaruh negatif bagi anggota keluarga itu sendiri.

c. Fungsi Edukatif atau Pendidikan

Sebagai salah satu pusat pendidikan, keluarga mempunyai tugas yang


sangat fundamental dalam upaya mempersiapkan anak bagi peranannya pada
masa yang akan datang. Dalam lingkungan keluarga sudah mulai ditanamkan
dasar-dasar perilaku, sikap hidup dan kebiasaan
lainnya.

Dengan demikian perlu diciptakan lingkungan keluarga yang kondusif bagi


terbentuknya kepribadian anak. Di sini lah terlihat begitu banyak fungsi keluarga untuk
membentuk perkembangan kepribadian anak baik jasmani maupun rohani.

Fungsi edukatif atau fungsi pendidikan keluarga merupakan salah satu tanggung jawab
yang paling penting yang dipikul oleh orang tua. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan
yang pertama bagi anak. Yang berperan melaksanakan pendidikan tersebut adalah ayah dan
ibunya. Kehidupan keluarga sehari-hari pada saat-saat tertentu beralih menjadi situasi
pendidikan yang dihayati oleh anak- anaknya. Dalam lingkungan keluarga anak-anak dididik
mulai dari belajar, berjalan, sikapnya, perilaku keagamaannya, dan pengetahuan serta
kemampuan lainnya. Memang karena sekarang berbagai kemampuan yang harus dikuasai anak
begitu kompleksnya, maka tidak semua hal dapat diajarkan atau dididik dari orang tua,
sehingga

10
4
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

anak-anak meski dikirim ke sekolah. Namun demikian pendidikan di keluarga


tetap merupakan dasar atau landasan utama bagi anak (khususnya dalam pembinaan
kepribadian) untuk mengembangkan pendidikan selanjutnya.

Dengan demikian pendidikan dalam keluaga akan membimbing anak dalam


kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Karena dalam keluarga anak dididik
untuk berpikir kritis dengan cara selalu berdialog kepada anak untuk memecahkan
masalah dan dalam keluarga anak pun dididik untuk dapat menghargai dan menghormati
orang lain seperti ketika sedang berbicara anak dilarang untuk memotong pembicaraannya
dan ketika libur sekolah anak membantu pekerjaan nya di rumah.

d. Fungsi Sosialisasi

Fungsi sosialisasi mempunyai kaitan yan sangat erat dengan fungsi pendidikan, karena
dalam fungsi pendidikan terkandung upaya sosisalisasi, yang pertama di lingkungan
keluarganya. Orang tua mempersiapkan dia untuk menjadi anggota masyarakat yang baik.

Di lingkungan keluarganya anak dilatih untuk hidup bermasyarakat dibina dan


dikenalkan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakatnya, sehingga pada
masanya anak benar-benar siap terjun di tengah- tengah masyarakat. Dengan melaksanakan
fungsi sosialisasi ini dapat dikatakan bahwa keluarga menduduki kedudukan sebagai
penghubung anak dengan kehidupan sosial di masyarakat.

10
5
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
e. Fungsi Religius

Fungsi Religius atau Agama Keluarga mempunyai fungsi religius. Artinya keluarga
berkewajiban memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lainnya kepada
kehidupan beragama. Untuk melaksanakannya orang tua sebagai tokoh inti dalam keluarga itu
serta anggota lainnya terlebih dahulu haurs menciptakan iklim atau suasana religus dalam
keluarga itu.

Agama adalah kebutuhan dasar bagi setiap manusia yang ada sejak dalam kandungan.
Keluarga adalah tempat pertama seorang anak mengenal agama. Keluarga juga menanamkan
dan menumbuhkan serta mengembangkan nilainilai agama, sehingga anak menjadi manusia
yang berakhlak baik dan bertaqwa. Pembinaan rasa keagamaan anak lebih awal akan lebih
baik. Di lingkugan keluargalah pertamatama anak mesti dibiasakan dalam kehidupan
beragama tersebut. Anak akan mempunyai keyakinan agama dan landasan hidup yang kuat
jika keluarga mampu melaksanakan fungsi religius ini dengan baik.

f. Fungsi Protektif atau


Perlindungan Keluarga

mempunyai fungsi sebagai tempat berlindung bagi anggota keluarga. Dalam hal ini
dimaksudkan bahwa keluarga harus memberikan rasa aman, tenang dan tenteram bagi anggota
keluarganya.

Keluarga dapat menjalankan fungsi protektif atau fungsi memberikan perlindungan bagi
seluruh anggota keluarga. Di antara alasan seseorang

10
6
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

melangsungkan perkawinan dan membentuk keluarga adalah untuk mendapatkan rasa


keterjaminan dan keterlindungan hidupnya, baik secara fisik (jasmani) maupun psikologis
(rohani).

Misalnya seorang istri akan merasa hidupnya terjamin dan terlindungi serta tentram di
samping suaminya. Dalam keluarga anak-anak pun terasa terlindungi oleh kasih sayang kedua
orang tuanya. Pendidikan yang diterima anak pada dasarnya juga bersifat melindungi, yaitu
melindungi anak dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik dan dari hidup yang tersesat.
Sosialisasi yang diterima anak di lingkungan keluarga juga memberikan rasa aman untuk
mampu bergaul dalam lingkungan sosial masyarakatnya. Jadi fungsi perlindungan dari
keluarga terhadap anak meliputi perlindungan lahir dan batin.

g. Fungsi Rekreasi

Fungsi rekreasi ini ini tidak berarti bahwa keluarga seolah-olah harus berpesta pora atau
selalu berekreasi di luar rumah. Rekreasi itu dirasakan orang apabila ia menghayati suatu
suasana yang tenang dan damai, jauh dari ketegangan batin, segar dan santai serta kepada yang
bersangkutan memberikan perasaan bebas terlepas dari kesibukan sehari-hari.

Fungsi rekreasi sangat penting bagi anggota keluarga, karena dapat menjamin
keseimbangan kepribadian anggota-anggota keluarga, mengurangi ketegangan perasaan,
meningkatkan saling pengertian, memperkokoh kerukunan dan solidaritas keluarga,

100
100
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
meningkatkan rasa kasih sayang dan sebagainya.

h. Fungsi pengendalian.

Fungsi Pengendalian Sosial Secara umum pengendalian sosial dalam keluarga dilakukan
oleh orang tua terhadap anak, tetapi dapat juga terjadi sebaliknya, seorang anak dapat
melakukan pengendalian sosial terhadap orang tuanya, yang dinilai akan/telah melakukan
pelanggaran terhadap norma yang berlaku. Karena pada hakekatnya keluarga merupakan
kesatuan sosial yang tidak dapat dipisahkan antara anggota keluarga yang satu dengan yang
lain.

Pada dasarnya pengendalian sosial dilakukan untuk mengembalikan suatu


kondisi/keadaan di masyarakat ( keluarga ) agar kembali mengikuti kaidah-kaidah yang
[Link] bila tidak dilakukan pengendalian sosial keseimbangan sosial dapat mengalami
kegoyahan. Demikian pula di dalam keluarga bila tidak dilakukan upaya pengendalian sosial
maka dapat menimbulkan kegoyahan di dalam keluarga, seperti pertengkaran, percekcokan dan
bahkan dapat menimbulkan perceraian.

Keluarga dapat berperan sebagai agen pengendali sosial (social control) bagi anggota-
anggotanya, keluarga dapat melakukan upaya preventif (pencegahan) terhadap anggotanya
agar tidak melakukan perilaku menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
Keluarga juga dapat melakukan upaya kuratif, misalnya dengan mengingatkan, menyadarkan
ataupun menghukum anggota

101
101
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

keluarganya yang telah melakukan perilaku yang menyimpang atau melanggar nilai dan norma
keluarga maupun masyarakat.

Peranan Keluarga Dalam


Pendidikan Anak

Hidup tidak bisa dilepaskan dari pendidikan, karena manusia diciptakan bukan sekedar
untuk hidup, ada tujuan yang lebih mulia dari sekedar hidup yang semestinya diwujudkan
dan itu memerlukan ilmu yang diperoleh lewat pendidikan. Ini merupakan salah satu
perbedaan antara manusia dengan makhluk lainnya yang membuat lebih unggul dan lebih
mulia. Pendidikan dipandang sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan pokok dalam
membentuk generasi mendatang karena dengan pendidikan akan dapat menghasilkan
manusia-manusia yang berkualitas dan bertanggung jawab serta mampu mengantisipasi masa
depan.

Menurut undang-undang RI Nomor


20 tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat, bangsa dan
Negara. (Undang-undang RI Nomor 20 Tahun
2003; 2003;4) Sedangkan Pendidikan Agama Islam menurut Zakiah Darajat adalah usaha
berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya
dapat memahami dan mengamalkan ajaran

102
102
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (Zakiah Daradjat; 1996; 86)

Dengan demikian bisa dipahami bahwa Pendidikan Agama Islam adalah sebuah
upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk
mengenal, memahami, dan menghayati ajaran agama Islam, sehingga terjadi perubahan dalam
kehidupan seseorang dan dapat mengamalkan ajaran Islam serta menjadikan agama Islam
sebagai pandangan hidup.

Sedangkan kata akhlak berasal dari bahasa arab berupa jama atau bentuk ganda dari
kata khuluq yang secara etimologis berarti budi pekerti, perangai tingkah laku, atau
tabiat. Istilah akhlak mengandung arti persesuaian dengan kata khalq yang berarti pencipta,
dan makhluq yang berarti yang diciptakan. (Sudirman Tebba; 2005; 65)

Akhlak merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani,
pikiran, perasaan, bawaan, dan kebiasaan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindak
akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian. Dari kelakuan itu lahirlah perasaan
moral yang terdapat dalam diri manusia sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana
yang baik dan mana yang jahat, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak berguna
(Zakiah Daradjat; 1995;10)

Iman Ghazali mengemukakan bahwa akhlak itu ialah suatu istilah tentang bentuk batin
yang tertanam dalam jiwa seseorang yang mendorong

103
103
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

ia berbuat (bertingkah laku), bukan karena suatu pemikiran dan bukan pula karena suatu
pertimbangan. (Usman Said; 1981; 53)

Membicarakan tentang akhlak tidak akan lepas dengan kepribadian muslim yang
pembentukannya Iman, Islam dan Ihsan. Iman seseorang berkaitan dengan akhlaknya. Iman
sebagai konsep dasar sedang akhlak adalah aplikasi dari konsep dalam hubungannya dengan
sikap dan perilaku sehari-hari.

Pendidikan akhlak adalah dasar dari pembentukan watak dan kepribadian. Watak itu
terbentuk melalui proses pembentukan kebiasaan dan pengertian, serta merupakan perpaduan
yang meliputi bakat, pendidikan, pengalaman dan alam sekelilingnya, yang menyatakan diri
dalam segala rupa tingkah laku. Kepribadian adalah suatu kesatuan fungsianal antara fisik dan
psikis atau jiwa dan raga dalam diri individu yang membentuk karakteristik atau ciri khas
unik yang terwujud di dalam tingkah laku secara lahiriah maupun sikap batinnya sebagai
bentuk penyesuaian dengan lingkungan. Karena itu watak atau kepribadian itu adalah
pribadi jiwa yang telah terbentuk yang menyatakan diri dan bercorak sebagai pekerti atau
tingkah laku atau organisasai kepribadian melingkupi kerja rohani dan kerja ragawi
dalam kesatuan kepribadian.

Secara paedagogies keluarga diartikan sebagai lembaga pertama dan utama dengan
dialami seseorang dimana

104
104
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
proses belajar yang terjadi tidak berstruktur dan pelaksanaanya tidak terikat oleh waktu.
Pendidikan Anak

(Soelaiman Joesoef;
1992; 64)

Lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan pusat pendidikan, namun


diantara ketiganya, lingkungan keluarga menjadi yang paling kuat pengaruhnya terhadap
perkembangan anak.( Khatib Ahmad Salthut; 1998; 2) Penguatan mentalitas keberagamaan
berawal dari pendidikan yang dilakukan dalam lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga
menjadi institusi pendidikan pertama dalam memberikan pola asuh dan teladan dari orang
tua kepada anaknya, sebagai miniatur bagi pembentukan pribadi dan perkembangan anak.

Keluarga sebagai bagian integral dari masyarakat menjadi miniatur yang


merepresentasikan kondisi masyarakat. Komunitas keluarga menjadi pondasi penentu bagi
keberlangsungan entitas masyarakat. Masyarakat tersusun dari banyak keluarga dan
keluarga terdiri dari beberapa individu. Dalam suatu masyarakat biasanya terdapat
bermacam-macam lembaga, seperti lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, lembaga
ekonomi, lembaga perkawinan dan lain-lain. Pada dasarnya, baiknya suatu masyarakat
tergantung kepada baiknya keluarga- keluarga dan baiknya suatu keluarga tergantung kepada
baiknya individu- individu dalam keluarga, sedang baiknya individu tergantung kepada
pembawaan dan lingkungan yang baik. (Muhammad Asyhari; 2006; 246)

105
105
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

Dalam pandangan klasik, pendidikan pada umumnya disebut sebagai pranata yang dapat
dijalankan pada tiga fungsi sekaligus;

Pertama, menyiapkan generasi muda memegang peranan-peranan tertentu dalam


masyarakat di masa depan. Kedua, mentransfer dan memindahkan pengetahuan, sesuai dengan
peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan
dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup (survive) masyarakat dan
peradaban.( Hasan Langgulung; 1995; 92)

Para ahli pendidikan pada umumnya mengatakan pendidikan di dalam keluarga ini
merupakan pendidikan pertama dan utama. Dikatakan demikian karena di dalam keluarga
inilah anak mendapatkan pendidikan pertama kalinya. Di samping itu, pendidikan di dalam
keluarga mempunyai pengaruh yang dalam bagi kehidupan anak terutama bagi pertumbuhan
dan perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan religius pada diri anak. Pendidikan
dibutuhkan untuk menumbuhkan dasar yang merupakan anugerah dari Allah swt, potensi
dasar tidak akan banyak arti dalam kehidupan bila tidak dikembangkan lebih lanjut karena
akan tenggelam ke dasar jiwa bahkan akan mati dan tidak ada gunanya.

Pada dasarnya proses pendidikan dalam keluarga berlangsung sepanjang hayat (long
life education), selama anggota keluarga masih melakukan interaksi dan komunikasi sosial,
maka pendidikan dalam keluarga akan terus

106
106
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
bergulir. Pola hubungan antar anggota keluarga, pola asuh orang tua kepada anak,
perilaku dan keteladanan orang tua dan sebagainya menjadi aktivitas yang membentuk
jati diri anggota keluarga. Interaksi hubungan dalam keluarga merupakan bagian dari
pendidikan informal. Pola asah, asih dan asuh dalam keluarga memberikan nuansa bagi
transformasi pembelajaran dirumah. Keluarga adalah ruang pertama bagi berlangsungnya
edukasi dari orang tua kepada anaknya. Orang tua menjadi sentral dalam memberikan
pengasuhan, perhatian, dan pengalaman. Para orang tua disebut pendidik pertama dan
keluarga merupakan tempat (ruang) pertama dalam interaksi pendidikan. (Musmuallim; 2012;
27-28)

Pendidikan akhlak dalam keluarga adalah sebuah usaha bimbingan, pengarahan dan
latihan dengan membiasakan anak didik agar terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan
terpuji dan menjauhi perbuatanperbuatan tercela, yang diarahkan kepada pembentukan
kepribadian anak, sehingga anak memperoleh sikap dan pengetahuan dari
pengalamannya sehari-hari baik secara sadar atau tidak diperoleh dari keluarga.

Pendidikan dalam keluarga berjalan sepanjang masa, melalui proses interaksi dan
sosialisasi di dalam keluarga itu sendiri. Esensi pendidikannya tersirat dalam integritas
keluarga, baik di dalam komunikasi antara sesama anggota keluarga, dalam tingkah laku
keseharian orang tua dan

107
107
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

anggota keluarga lainnya juga dalam hal-hal lainnya yang berjalan dalam keluarga
semuanya merupakan sebuah proses pendidikan bagi anakanak. Leh karena itu, orang tua harus
selalu memberikan contoh tauladan yang baik kepada anak-anak mereka, karena apa pun
kebiasaan orang tua di rumah akan selalu dilihat dan dicerna oleh anak-anak.

Disamping itu bahwa proses pendidikan dalam keluarga berjalan secara alamiah
dan kultural. Interaksinya tidak memiliki kurikulum secara baku dan sistematis, namun
berjalan sesuai tuntunan dan ajaran (syariat) agama Islam, termasuk bagi pemberian
pendidikan bagi anggota keluarga, dalam kacamata Islam, pendidikan menempati hal yang
wajib (fardu) bagi keberlangsungan tatanan rumah tangga yang harmonis. Sehingga posisi
pendidikan dalam keluarga menjadi kebutuhan mendasar (basic needs) sebagai pondasi untuk
melanjutkan proses pendidikan selanjutnya diluar rumah. Ketika orang tua mengasuh dan
membimbing anak- anaknya dirumah, maka pola yang dilakukan harus memperhatikan ajaran
dan tuntunan agama Islam; memberikan kasih sayang, motivasi dan dukungan kepada
anaknya, seorang anak berbakti kepada orang tuanya, saling menghormati dan toleran antar
anggota keluarga, saling menghargai antara yang muda dan yang tua. Dinamisasi ini akan
terwujud ketika seluruh komponen dalam keluarga saling mendukung dan melengkapi.

108
108
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
Pendidikan akhlak merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan
agama. Sebab yang baik adalah yang dianggap baik oleh agama dan yang buruk adalah
yang dianggap buruk oleh agama. Sehingga nilainilai akhlak, keutamaan-keutamaan akhlak
dalam masyarakat Islam adalah akhlak dan keutamaan yang diajarkan oleh agama. Dan
seorang Muslim tidak sempurna agamanya sehingga akhlaknya menjadi baik. Para filosof
pendidikan Islam hampir semuanya sepakat bahwa pendidikan akhlak adalah jiwanya
pendidikan Islam, karena tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mendidik jiwa dan akhlak.

Keluarga memegang peranan penting sekali dalam pendidikan akhlak untuk anakanak
sebagai institusi yang pertama sekali berinteraksi dengannya. Oleh karena itu, keluarga
harus mengambil porsi yang banyak tentang pendidikan akhlak ini. Mengajar mereka akhlak
yang mulia yang diajarkan Islam, seperti kebenaran, kejujuran, keikhlasan, kesabaran, kasih
sayang, cinta kebaikan, pemurah, berani dan lain-lainnya. Orang tua juga harus mengajarkan
nilai dan faedah berpegang teguh pada akhlak di dalam hidup, dan membiasakan mereka
berpegang kepada akhlak sejak kecil.

Dalam keluarga sangat efektif untuk menjalankan pendidikan akhlak karena keluarga
adalah “umat kecil” yang memiliki pimpinan dan anggota, mempunyai pembagian tugas dan
kerja, serta hak dan kewajiban bagi masingmasing anggotanya. Hak dan kewajiban serta
lainnya itu lah yang menjadi perekat bagi bangunan

109
109
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

keluarga. Allah SWT menetapkan hal tersebut untuk menciptakan keharmonisan dalam hidup
berumah tangga yang pada akhirnya menciptakan suasana aman, bahagia dan sejahtera
bagi seluruh

Masyarakat bangsa. Karena dengan melaksanakan pendidikan akhlak dalam keluarga


akan mampu menciptakan kader-kader yang berkualitas yang mempunyai budi pekerti luhur,
mampu bertanggung jawab dan mempunyai dedikasi yang tinggi, sehingga akan
berpengaruh bagi kehidupan sebuah lembaga seperti Negara, disamping itu juga keluarga
adalah jiwa masyarakat dan tulang punggungnya. Kesejahteraan lahir dan batin yang
dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya, kebodohan dan keterbelakangannya adalah
cerminan dari keadaan keluarga keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut.

Pendidikan akhlak harus dilakukan sebelum kerangka watak dan kepribadian


seorang anak yang masih suci diwarnai oleh pengaruh lingkungan yang belum tentu paralel
dengan tuntunan agama.

Metode penanaman akhlak kepada anak dalam keluarga dapat menggunakan cara-cara
sebagai berikut:

a) Metode Keteladanan

Pendidikan dengan keteladanan berarti pendidikan dengan memberi contoh, baik berupa
tingkah laku, sifat, cara berfikir dan sebagainya.( Hery Noer Aly; 1999; 178) Keteladanan
merupakan metode yang paling baik dalam rangka bimbingan orang tua kepada anaknya,

110
110
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
karena setiap anak yang akan menjalani proses kehidupannya, mereka memerlukan
keteladanan yang baik dan saleh yang dapat diperoleh dari orang tuanya. (Ali Badawi; 2002;
13), Karena apabila seorang anak dibesarkan dengan bimbingan akhlak yang baik dari orang
tua serta lingkungan muslim yang baik, maka ia akan mendapatkan banyak contoh atau
keteladanan yang baik untuk perkembangan jiwanya. (Norma Tarazi;
2001; 165).
b) Metode Pembiasaan. Pembiasaan merupakan salah satu
metode dalam mendidik dan membimbing anak, yaitu dengan cara membiasakan anak untuk
melakukan perbuatan yang diajarkan dalam agama. Misalnya, membaca basmalah ketika akan
melakukan perbuatan yang baik dan mengucapkan hamdalah ketika selesai melakukan suatu
perbuatan yang baik supaya mendapatkan keridlaan dari Allah. Karena dengan membiasakan
anak-anak untuk berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari, maka akan berakibat baik pula
pada perilaku anak kelak jika sudah dewasa.

c) Metode Hukuman

Apabila keteladanan dan nasehat tidak mampu, maka waktu itu harus di adakan tindakan
tegas yang dapat meletakkan persoalan di tempat yang benar, tindakan tegas itu adalah
hukuman. Hukuman merupakan metode terburuk, tetapi dalam kondisi tertentu harus
digunakan, karena metode hukuman adalah cara yang paling akhir dilakukan.

KESIMPULAN

111
111
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak

Keluarga merupakan masyarakat kecil dan menjadi pilar bagi tegaknya masyarakat
makro yaitu umat. Sebuah keluarga dapat terbentuk karena adanya ikatan laki-laki dan
perempuan melalui sebuah pernikahan yang sah baik menurut hukum negara maupun syari’at
Islam.

Keluarga dalam Islam memegang peranan penting dalam membentuk pribadi anak,
karena keluarga merupakan institusi pertama yang yang secara langsung berinteraksi dengan
anak, sehingga apa pun yang terjadi dalam keluarga akan berdampak terhadap anak.

Pendidikan di dalam keluarga ini merupakan pendidikan pertama dan utama, karena di
dalam keluarga inilah anak mendapatkan pendidikan pertama kalinya. Di samping itu,
pendidikan di dalam keluarga mempunyai pengaruh yang besar bagi kehidupan anak terutama
bagi pertumbuhan dan perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan religius pada diri anak.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, pendidikan keluarga bagi anak, ( Cirebon : lektur ), 2003.


Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan
Islam ,…, hlm. 103
Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm.
98
[Link] Sebagai Basis Pendidikan Pertama Dan Utama. (Banda Aceh). Hal
36,250,253
M. Yusuf, Tafsir Tarbawi, …, hlm. 150

112
112
Zubaidah Lubis, dkk| Pendidikan Keluarga Sebagai Basis
Pendidikan Anak
[Link] dan Triyo Suprayitno, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta: Sukses Offset, 2007) hlm.
120
Moh. Rasyid, Pendidikan Seks, (Semarang: Syiar Media, 2007) hlm.
20
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Shafwat at- Tafaasir jil. 5, [Link], (Jakarta : Pustaka Al-
Kautsar, 2011), hlm. 95
Rahma, peranan keluarga dalam pendidikan anak, (vol.04 no.07: januari 2016).
Ridwan, mengembangkan kerakter anak yang islam ( Jakarta : bumi aksara ),
2016.
Soelaiman, konsep dasar pendidikan luar sekolah, ( Jakarta : bumi aksara ),
1992.
Syahran M..2005. Teori Pendidikan Keluarga dan Tanggung Jawab Orang Tua Dalam
Pendidikan Anak. Jambi. hal 100-101
Syaiful Bahri Djamarah, Pola Asuh Orang Tua dan Komunikasi dalam Keluarga, (Jakarta:
Rineka Cipta,
2014), hlm. 18
Tika. 2018. Peran Keluarga, Guru dan Masyarakat Dalam Pembentukan Karakter Anak Usia
Dini. Karawang. hal 77-85
Wiji Suwarno, Dasar-dasar Ilmu
Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2009), hlm. 19
Zakiah, pendidikan agama islam dalam keluarga, ( Jakarta : ruhama ), 1995.

113
113

Anda mungkin juga menyukai