Perawatan Luka pada Diabetes Tipe II
Perawatan Luka pada Diabetes Tipe II
OLEH :
CICI WINDIANI
NIM: PO.[Link].041
i
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN PERAWATAN LUKA
PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DENGAN
MASALAH GANGGUAN INTEGRITAS
KULIT DI RSUD LAHAT
TAHUN 2022
OLEH:
CICI WINDIANI
NIM : PO.[Link].041
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
Karya Tulis Ilmiah oleh Cici Windiani NIM : PO.[Link].041 dengan judul
“Implementasi Keperawatan Perawatan Luka Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe
II dengan Masalah Gangguan Integritas Kulit di RSUD Lahat Tahun 2022” telah
iii
diperiksa dan disetujui.
iv
v
BIODATA PENULIS
A. Identitas Diri
Nama : Cici Windiani
Tempat/Tanggal Lahir : Lahat/16 Juni
2001 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Anak ke- : 1 dari 3 bersaudara
Email :ciciwindiani@[Link]
[Link]
vi
PERSEMBAHAN
Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT, Karya Tulis
Ilmiah ini kupersembahkan kepada:
1. Allah SWT yang telah melancarkan segala urusan perkuliahan di Poltekkes
Kemenkes Palembang
2. Diriku sendiri, Cici Windiani yang mampu bertahan hingga saat ini. Mari kita
lanjutkan perjuangan ini.
3. Orang tuaku tercinta (Darwinsi Jaya dan Fitriani) yang sangat aku hormati dan
aku sayangi yang telah memberikan dukungan moral, spiritual, materi serta doa
yang tiada hentinya demi keberhasilan penulis
Semoga selalu di beri kesehatan dan diberikan rezeki yang berlimpah, you’re
my everything mam pap, im proud of you
4. Adik perempuanku tersayang (Cica Vironika dan Cinta Mareta) yang telah
memberi banyak support dan doa demi keberhasilan penulis.
5. Untuk Kakak perempuanku (Elizah) dan Oomku (Andi Virgo) terimakasih
sudah mendukungku selama ini.
6. Dosen pembimbing Bapak H. Sulaiman., [Link]., [Link] dan Bapak Kamesyworo,
SST. M.M terimakasih sudah membimbing penulis dalam menyelesaikan Lta
ini
7. Untuk kamu (MGS) terimakasih sudah mewarnai hariku dan menjadi salah satu
support system terbaik selama ini.
8. Untuk kamu (Uwennn) terimakasih sudah mau direpotkan selama ini
9. Almamater ku tercinta, semoga ilmu yang saya peroleh bisa berguna bagi
banyak orang dan menjadi keberkahan di kehidupan kedepannya.
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu
syarat untuk mencapai gelar Ahli Madya Keperawatan pada Jurusan Keperawatan
Poltekkes Kemenkes Palembang. Saya menyadari, tanpa bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak pada penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini sangatlah sulit bagi
saya untuk menyelesaikan laporan ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Muhamad Taswin.,[Link].,Apt.,[Link] selaku Direktur Politeknik Kesehatan
Kemenkes Palembang.
2. Hj. Devi Mediarti, [Link]., [Link], [Link] selaku ketua Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang.
3. H. A. Gani, [Link].,SKM.,[Link].,[Link] selaku ketua Prodi Keperawatan Lahat.
4. [Link].,[Link].,[Link] selaku dosen pembimbing 1 yang telah memberikan
arahan dan masukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
5. Kamesyworo, SST, M.M selaku dosen pembimbing 2 yang telah memberikan
arahan dan masukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
6. Ns. Rumentalia Sulistini, [Link]. [Link] selaku dosen penguji pertama Karya
Tulis Ilmiah.
7. H. A. Gani, [Link].,SKM.,[Link].,[Link] selaku dosen penguji kedua Karya
Tulis Ilmiah.
8. Kedua orang tua, adik-adik dan keluarga besar yang telah memberikan
semangat, motivasi dan doa dalam menyelesaikan Proposal Karya Tulis
Ilmiah ini.
9. Sri Hartati, SKM. M.M Selaku pembimbing Akademik yang telah member
motivasi, semangat, dan doa dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini
10. Seluruh staff, dosen, karyawan dan karyawati Politeknik Kesehatan Kemenkes
Palembang Jurusan Keperawatan Prodi D III Keperawatan Lahat yang telah
memberikan ilmu pengetahuan sehingga penulis mampu menyelesaikan
Karya Tulis Ilmiah ini.
viii
11. Teman-teman angkatan 2019 Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang
Prodi D III Keperawatan Lahat yang telah berjuang bersama dan saling
mendukung dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.
Semoga bantuan serta budi baik yang telah diberikan kepada penulis,
mendapat balasan dari Allah [Link] harapan penulis agar Proposal Karya
Tulis Ilmiah akhir ini dapat bermanfaat.
Penulis
ix
ABSTRAK
Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif dalam bentuk studi kasus.
Subjek yang teliti berjumlah 2 orang dengan kasus dan masalah
keperawatan yang sama, yaitu pasien diabetes mellitus tipe II gangguan
integritas di Ruang Anggrek RSUD Lahat. Penelitian ini dilakukan pada
tanggal 14-16 Maret 2022 dan tanggal 20-22 Maret 2022.
x
ABSTRACT
Methods: The design of this study is descriptive in the form of a case study. The
subjects who were studied were 2 people with the same nursing cases and
problems, namely patients with type II diabetes mellitus with integrity
disorders in the Orchid Room of Lahat Hospital. This study was conducted
on March 14-16, 2022 and March 20-22, 2022.
Results: After the implementation of nursing the results of wound care help
reduce the integrity of the skin.
xi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................i
HALAMAN SAMPUL....................................................................................ii
HALAMAN PERNYATAAN.........................................................................iii
HALAMAN PERSETUJUAN........................................................................iv
LEMBAR PENGESAHAN............................................................................v
KATA PENGANTAR.....................................................................................vi
DAFTAR ISI....................................................................................................viii
DAFTAR SKEMA..........................................................................................xi
DAFTAR TABEL............................................................................................xii
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................xiv
BAB 1 PENDAHULUAN...............................................................................1
Tujuan Umum.......................................................................................3
Tujuan Khusus......................................................................................3
2.1.1 Definisi......................................................................................5
[Link] Kulit...............................................................................7
2.1.3 Etiologi......................................................................................8
2.1.4 Patofisilogi................................................................................9
2.1.5 Pathway.....................................................................................10
2.1.6 Klasifikasi..................................................................................11
2.1.8 Komplikasi................................................................................13
2.1.10 Pencegahan.................................................................................16
2.1.11 Penatalaksanaan..........................................................................17
2.2.1. Pengkajian................................................................................19
2.2.5 Evaluasi.....................................................................................24
2.3.2 Metode.......................................................................................24
4.1.2 Motto............................................................................................37
4.3.1 Pengkajian....................................................................................40
BAB V PEMBAHASAN.................................................................................66
6.1 Kesimpulan.............................................................................................72
6.2 Saran.......................................................................................................73
DAFTAR PUSTAKA
xv
DAFTAR SKEMA
xvi
DAFTAR TABEL
xvii
DAFTAR GAMBAR
xviii
LAMPIRAN
xix
BAB I
PENDAHULUAN
1
2
Peran perawat yang dapat dilakukan oleh seorang perawat adalah dalam
melakukan asuhan keperawatan dengan melakukan pengkajian tentang faktor
resiko dan keadaan luka, memberikan perawatan luka untuk mempertahankan
integritas kulit, mempertahankan nutrisi yang adekuat. Penyakit diabetes
melitus dapat dicegah dengan cara melakukan olahraga setiap hari seperti
jalan kaki, jogging, berenang dan bersepeda, mengurangi konsumsi makanan
yang banyak mengandung lemak dan karbohidrat, hindari minuman yang
beralkohol dan kurangi mengkonsumsi garam (Nurarif & Kusuma, 2015).
Dari data diatas penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini dalam
Studi Kasus dengan judul Implementasi keperawatan perawatan luka pada
pasien Diabetes Melitus dengan masalah Gangguan integritas kulit.
5
6
[Link]. Pankreas
Pankreas terletak di belakang lambung dan di bagian
belakang perut. Panjang organ ini sekitar 15cm dan
berbentukseperti ikan atau tabung, serta memiliki kepala,
badan, dan ekor. (Kirnantoro & Maryana. 2021 hal :257)
Kepala dan organ meluas ke sisi kanan tubuh dan
terletak disamping duodenum, atau bagian pertama dari usus
kecil. Sementara ekornya menyempit ke kiri, dan tubuh
pancreas terletak diantara dua bagian ini, Ada kelompok sel
yang berbeda, disebut sebagai pulau langerhans, yang
menyusun pancreas, Kelompok sel tersebut temasuk sel-sel
beta, sel-sel gamma, sel-sel alfa, dan sel-sel delta. Masing-
masing ini memiliki fungsi dalam tubuh tertentu.
Sel alfa bertanggung jawab dalam memproduksi
glukagon, sedangkan sel beta penting dalam memproduksi
insulin. Glukagon mempertahankan jumlah glukosa diantara
waktu makan. Insulin memungkinkan glukosa yang akan
diambil oleh sel-sel yang berbeda didalam tubuh untuk
digunakan. Somatostatin, protein atau hormone yang
7
2.1.3 Etiologi
Menurut Nic Noc 2015 etiologi Diabetes Melitus dibagi menjadi 2 yaitu :
1. DM tipe 1
Diabetes yang tergantung insulin ditandai dengan penghancuran sel-
sel beta pancreas yang disebabkan oleh :
a. Faktor genetic penderita tidak mewarisi diabetes tipe itu sendiri,
tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetic
kearah terjadinya diabetes tipe 1.
b. Faktor imunologi (autoimun)
c. Faktor lingkungan : virus atau toksin tertentu dapat memicu proses
autoimun yang menimbulkan estruksi si beta.
2. DM tipe 2
Disebabkan oleh kegagalan relative sel beta dan resistensi insulin.
Faktor resiko yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes
tipe 2 :
a. usia
b. obesitas
c. riwayat dan keluarga
Hasil pemeriksaan glukosa darah 2 jam pasca pembedahan dibagi
menjadi 3 yaitu :
<140 mg/dl = normal
140-<200 mg/dl = toleransi glukosa terganggu
>200 mg/dl = diabetes
2.1.4 Patofisologi
Pasien diabetes mellitus mengalami resistensi insulin dan defisiensi
insulin relative, dan kemungkinan keduanya berkontribusi terhadap
diabetes tipe 2. Hiperglekemia dapat merusak fungsi sel-betapankreas
dan memperburuk resistensi insulin, mengarah disiklus hiperglekemia
yang menyebabkan keadaan metabolic yang memburuk. Diabetes tipe 2
sering disertai dengan kondisi lain, termasuk hipertensi, konsentrasi
kolesterol low-density lipoprotein (LDL) serum tinggi. Dan konsentrasi
10
2.1.5 Pathway
Diabetes Melitus Tipe II
Umur
Hiperglikemia
Kerusakan Vaskuler
Neuropati Perifer
ULKUS
Gangguan
Integritas Kulit
Pembedahan (Debridement)
Gangguan
Pengeluaran Histamin Adanya perlukaan pada kaki Mobilitas
Fisik
& Progestin
Luka Insisi tida terawat
Nyeri Akut
Peningkatan Leukosit
Sumber : (Muttaqin, 2008)
Resiko Infeksi
12
2.1.6 Klasifikasi
1. Klasifiksi klinis
2. Diabetes Militus
3. Tipe tergantung insulin (DM Tipe I) IDDM (insulin dependent
diabetes militus)
Disebabkan oleh distruksi sel beta pulau langerhans akibat proses autoimun.
Tipe tidak tergantung pad insulin (DM Tipe II) NIDDM (non insulin
dependent diabetes militus)
Disebabkan oleh kegagalan sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin
adalah turunya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan
glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa
oleh hati (Kusuma, 2016)
Diabetes Militus gastasional
Diabetes gastasional adalah Diabetes Militus yang terjadi pada kehamilan
dapat di diagnosa dengan menggunakan test toleran glukosa, terjadi
kira kir 24 minggu kehamilan, Diabetes Militus gastsional 25% akan
berkembang menjdi Diabetes Militus (Sudoyo, 2014)
Klasifikasi Resiko Statistik
Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa
Berpotensi menderita kelainan glukosa (Kusuma, 2016)
Klasifikasi kaki diabetik
Menurut Wagner Meggit klasifikasi gangren/kaki diabetik dibagi
menjadi enam tingkatan yaitu :
Derajat 0 : tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh kemungkinan
kelainan bentuk kaki seperti “claw, callus”
Derajat I : ulkus superfisial terbatas pada kulit
Derajat II : ulkum dalam menembus tendon tan tulang Derajat
III : abses dalam atau tanpa osteomielitis
Derajat IV : gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa
selulitis
13
Selain itu, ada beberapa gejala dan tanda-tanda lain yang sering
dilaporkan selain dari gejala tanda umum diatas, yaitu :
2.1.8 Komplikasi
Meskipun komplikasi jangka panjang dari diabetes berkembang
secara bertahap, komplikasi bisa menyebabkan kecacatan permanen atau
bahkan mengancam jiwa. Beberapa komplikasi potensial diabetes
meliputi (Ni Ketut Kardiyudiani & Brigita Ayu Dwi Susanti 2018) :
1) Penyakit jantung dan pembuluh darah
2) Diabetes meningkatkan risiko berbagai masalah kardiovaskuler,
termasuk penyakit arteri koroner dengan nyeri dada (angina), serangan
jantung, stroke, penyempitan arteri (aterosklerosis), dan tekanan darah
tinggi.
3) Kerusakan saraf (neuropati)
4) Kelebihan gula dapat melukai dinding pembuluh darah kecil (kapiler)
terutama di kaki. Ini dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, rasa
trbakar atau rasa sakit yang biasanya dimulai diujung jari kaki dan
secara bertahap menyebar ketubuh bagian atas
5) Kerusakan ginjal (netropati). Ginjal mengandung jutaan kluster
pembuluh darah kecil yang menyaring limbah dari darah. Diabetes
dapat merusak system penyaringan tersebut.
6) Kerusakan mata. Diabetes dapat merusak pembuluh darah retina
(diabetic retinopathy), berpotensi menyebabkan kebutaan. Diabetes
juga meningkatkan risiko kondisi penglihatan serius lainnya seperti
katarak
15
7) Kerusakan kaki. Kerusakan saraf di kaki atau aliran darah yang buruk
ke kaki meningkatkan risiko berbagai komplikasi kaki. Jika tidak
diobati luka dan lecet bisa menjadi infeksi serius
8) Gangguan pendengaran. Masalah pendengaran lebih sering terjadi
pada penderita diabetes
9) Gangguan kulit. Diabetes dapat membuat seseorang lebih rentan
terhadap masalah kulit, termasuk infeksi bakteri dan jamur
10) Penyakit Alzheimer. Diabetes tipe 2 dapat meningkatkan reisiko
penyakit Alzheimer. Semakin buruk kendali gula darah, ssemakin
besar risikonya.
2.1.10 Pencegahan
Pencegahan pada penyakit DM dapat dibagi menjadi empat yaitu:
a. Pencegahan premordial
Adalah uapaya untuk memberikan kondisi pada masyarakat
yang memungkinkan penyakit tidak mendapat dukungan dari
kebiasaan, gaya hidup an faktor risiko lainnya. Pencegahan pada
penyakit DM ini misalnya menciptakan prakondisi dimana
masyarakat dapat merasa bahwa konsumsi makan kebarat-baratan itu
adalah pola makan yang kurang baik, pola hidup yang santai atau
kurang beraktifitas, dan obesitas adalah kurang baik bagi kesehatan.
b. Pencegahan primer
Upaya ini ditujukan pada orang yang termasuk risiko tinggi,
yaitu yang belum menderita DM tetapi berpotensi untuk menderita
DM diantaranya kelompok usia tua, kegemukan, hipertensi, riwayat
keluarga DM, riwayat kehamilan. Untuk pencegahan primer ini
mulai sejak dini harus telah ditanamkan pengertian tentang
pentingnya kegiatan jasamani teratur, pola dan jenis makanan yang
sehat, menjaga badan agar tidak terlalu gemuk dan risiko merokok
bagi kesehatan.
c. Pencegahan sekunder
Upaya ini mencegah dan menghambat timbulnya penyulit
dengan tindakan deteksi dini dan memberikan pengobatan sejak awal
penyakit. Pilar utama pengelolaan DM meliputi penyuluhan,
perencanaan makanan, latihan jasmani, obat berkhasiat
hipoglikemik.
d. Pencegahan tersier
Upaya untuk mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut dan
merehabilitasi pasien sedini mungkin sebelum kecacatan tersebut
terjadi. Pelayanan kesehatan yang holistik dan terintegrasi antar
disiplin terkait sangat diperlukan, terutama dirumah sakit rujukan
(Fatimah, 2015).
18
2.1.11 Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi Diabetes Melitus adalah mencobah
menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya
untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan
terapiutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa
darah normal. (Padila, 2012)
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan Diabetes :
a) Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari
penatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita
diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut :
1. Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin
dan mineral)
2. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
3. Memenuhi kebutuhan energy
4. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan
mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui
cara-cara yang aman dan praktis
5. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat
b) Latihan
Latihan dengan cara melawan tahanan dapat menambah laju
metabolism istirahat, dapat menurunkan BB, stress dan menyegarkan
tubuh. Latihan menghindari kemungkinan trauma pada ekstremitas
bawah, dan hindari latihan dalam udara yang sangat panas/dingin,
serta pada saat pengendalian metabolic buruk. Gunakan alas kaki
yang tepat pada periksa kaki setiap hari sesudah melakukan latihan
c) Pemantauan
Pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri
d) Terapi (jika diperlukan)
e) Pendidikan kesehatan
Pendidikan dalam diet makanan dan juga perawatan luka diabetic
(jika ada)
19
Objektif Objektif
1. Kerusakan jaringan 1. Nyeri
dan atau lapisan 2. Perdarahan
kulit. 3. Kemerahan
4. Hematoma
Edukasi
a) Jelaskan tanda dan gejala
infeksi
b) Anjurkan mengkonsumsi
makanan tinggi kalori
dan protein
c) Ajarkan prosedur
perawatan luka secara
mandiri
d)
Kolaborasi
a) Kolaborasi prosedur
debridement (mis.
27
Enzimatik, biologis,
mekanis) jika perlu
b) Kolaborasi pemberian
antobiotik, jika perlu
2.2.4 Implementasi
2.2.5 Evaluasi
Evaluasi adalah sebuah tahap akhir dalam melakukan proses
keperawatan untuk dapat menentukan keberhasilan dalam asuhan
keperawatan. Evaluasi pada dasarnya membandingkan status keadaan
kesehatan pasien dengan tujuan atau kriteria yang telah ditetapkan
(Tarwoto & Wartonah, 2015). Perawat harus mempunyai pengetahuan
dan kemampuan dalam melakukan dan memahami respon terhadap
intervensi keperawatan, kemampuan dalam menggambarkan tindakan
keperawatan pada kriteria hasil
28
benar
b) Tahap orientasi
1) Berikan salam, panggil klien dengan
namanya
2) Jelaskan tujuan, prosedur dan lamanya
tindakan pada klien dan keluarga
3) Menanyakan kesiapan klien sebelum
dilakukan tindakan
c) Tahap Kerja
1) Dekatkan alat-alat dengan klien
2) Menjaga privacy pasien
3) Mengatur posisi pasien sesuai kebutuhan
4) Pasang perlak / pengalas di bawah daerah
luka
5) Membuka peralatan
6) Memakai sarung tangan
7) Basahi kasa dengan bethadin kemudian
dengan menggunakan pinset bersih area
sekitar luka bagian luar sampai bersih dari
kotoran
8) Basahi kasa dengan cairan NaCl 0,9%
kemudian dengan menggunakan pinset
bersihkan area luka bagian dalam. (gunakan
tehnik usapan dari atas ke bawah)
9) Keringkan daerah luka dan pastikan area
daerah luka bersih dari kotoran
10) Beri obat luka sesuai kebutuhan jika perlu
11) Pasang kasa steril pada area luka sampai
tepi luka
12) Fiksasi balutan menggunakan plester atau
balutan verband sesuai kebutuhan
13) Mengatur posisi pasien seperti semula
31
32
33
Studi kasus ini dilakukan diruang zaal Bedah RSUD Lahat Tahun
2022. Pada kasus 1 penelitian dilakukan pada tanggal 14-16 maret 2022,
da pada kasus 2 penelitian dilakukan pada tanggal 20-22 maret 2022.
Lama waktu penelitian yaitu minimal selama 3 hari.
3.7 Instrumen dan Metode Pengumpulan Data
3.7.1 Instrumen
Alat atau instrument pengumpulan data yang digunakan dalam
studi kasus ini adalah format pengkajian asuhan keperawatan, yang
meliputi pengkajian keperawatan, diagnose keperawatan, intervensi
keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan.
3.7.2 Metode pengumpulan data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data studi kasus ini adalah :
a) Observasi dan pemeriksaan fisik yaitu dengan pendekatan IPPA
(Inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
b) Wawancara yaitu pengumulan data menggunakan Format
Pengkajian (terlampir) berisi tentang identitas utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit
keluarga, sedangkan sumber data di dapatkan dari pasien, keluarga,
dan perawat di rumah sakit
c) Studi dokumentasi kesehatan pada pasien dan hasil dari pemeriksaan
diagnostic.
35
pada lembar pengumpulan data atau haril penelitian yang telah disajikan
pleh penulis
c. Confidentiality
Semua data informasi yang telah dikumpulkan dijamin
kerahasiaanya oleh penulis hanya kelompok data tertentu saja yang akan
dilaporkan pada hasil riset penelitian serta memenuhi hak pasien yaitu
menjaga dan tidak menyebarluaskan privasi responden.
BAB IV
HASIL STUDI KASUS
37
38
Pendidikan SMA SD
Pekerjaan Wirausaha Wirausaha
Alamat Desa Tanjung Telang Desa Suka Marga
Suku/Bangsa Indonesia Indonesia
41
b. Hasil Anamnesis
Ny S beragama islam,
islam, kegiatan ibadah
selama dirumah sakit
pasien sebelum sakit
umum daerah lahat Ny
adalah sholat dan
S hanya bisa berdoa di
berdoa dan selama di
tempat tidur saja. rumah sakit pasien
hanya berdoa di
tempat tidur
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui hasil dari anamnesa
pasien 1 dengan keluhan yang dirasakan sekarang yaitu nyeri, dan
bengkak di area luka. Pasien 1 mengatakan sebelum sakit memiliki
kebiasaan minum teh manis dan susu dan jarang minum air putih
sehingga kadar gula darah pasien meningkat.
Sedangkan hasil anamnesa pada pasien 2 sudah memiliki
riwayat penyakit Diabetes Mellitus tipe II sejak ±2 tahun yang lalu,
masuk ke RSUD Lahat dengan keluhan yang dirasakan nyeri, bengkak
area luka, karakteristik luka basah.
c. Pola aktivitas
d. Pemeriksaan Fisik
Tabel 4.4 Hasil Pemeriksaan Fisik
No Jenis Pasien 1 Pasien 2
1 Keadaan Kesadaran: Kesadaran:
umum Composmentis Composmentis
KU: Lemah KU: Lemah
TD: 120/90 mmHg TD: 100/90 mmHg
S : 36ºC S : 36,ºC
N: 90x/menit N: 90x/menit
RR: 20x/menit RR: 22x/menit
2 Kepala Bentuk kepala bulat, Bentuk kepala bulat,
tidak ada lesi tidak ada lesi
3 Rambut Berwarna hitam, Berwarna hitam,
lurus, pendek, lurus, pendek,
kebersihan cukup kebersihan cukup
4 Mata Bentuk simetris, Bentuk simetris,
konjungtiva anemis, konjungtiva anemis,
fungsi penglihatan fungsi penglihatan
baik, pupil isokor baik, pupil isokor
5 Wajah Bentuk simetris, Bentuk simetris,
tidak ada lesi dan tidak ada lesi dan
tidak ada edema tidak ada edema
6 Hidung Bentuk simetris, Bentuk simetris,
penciuman baik, penciuman baik,
tidak ada secret tidak ada secret
7 Mulut Bentuk simetris, Bentuk simetris,
Kebersihan cukup Kebersihan cukup
9 Gigi Tidak memakai gigi Tidak memakai gigi
palsu, ada caries palsu, ada caries gigi,
gigi, kebersihan kebersihan cukup
cukup
10 Tenggoroka Tidak ada Tidak ada
n pembesaran pada pembesaran pada
tonsil, tidak sakit tonsil, tidak sakit saat
saat menelan menelan
11 Leher Simetris, tidak ada Simetris, tidak ada
pembesaran kelenjar pembesaran kelenjar
tiroid tiroid
12 Dada a. Paru a. Paru
Inspeksi : simetris Inspeksi
Palpasi : Nyeri : simetris
dada (-) Palpasi : Nyeri
Perkus : sonor dada (-)
Auskultasi : tidak Perkusi : sonor
ada ronchi Auskultasi : tidak
b. Jantung : HR : ada ronchi
90x/menit b. Jantung :
45
90x/menit
13 Integument Warna kulit sawo Warna kulit putih,
matang, kulit kulit keriput,
keriput, kebersihan kebersihan cukup.
cukup. Kulit sekitar Kulit sekitar luka
luka berwarna merah berwarna merah
kehitaman dan kehitaman dan
bengkak. Letak luka bengkak. Letak luka
berada di berada di ekstremitas
ekstremitas Kanan kiri bawah, panjang
bawah, panjang sekitar 5-6 cm,
sekitar 5-6 cm, tampak di perban
tampak di perban
Ukuran luka:
Panjang 3cm, lebar 2
cm, luas 6 cm2. Ada
nyeri tekan terdapat
pus.
14 Ekstremitas Akral hangat, Akral hangat,
bengkak Terdapat bengkak Terdapat
luka pada kaki luka pada kaki
sebelah kanan sebelah kiri
15 Genetalia Tidak ada masalah Tidak ada masalah
16 Persyarafan Kekuatan otot Kekuatan otot
Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui dapat diketahui bahwa
Keadaan umum Kedua Pasien lemah, Ny.S (Pasien 1) memiliki
tekanan darah yaitu 120/90 mmHg, frekuensi nadi 90x/menit,
frekuensi pernafasan 20x/menit.
e. Pemeriksaan penunjang
Tabel 4.5 Pemeriksaan penunjang
Pasien Jenis Konvensional Nilai
Pemeriksaan Rujukan/
Hasil Satuan Normal
Pasien HEMATOLOGI
1 Hemoglobin 14,1 g/dL 15-24
Hematokrit 37,8 % 44,0-70,0
Trombosit 249 ribu/ul 150-400
Leukosit 18,7 ribu/ul 9,1-34,0
Eosinofil 0,0 % 1-3
Basofil 0,2 % 0-1
Neutrifil 87,6 % 50-70
Limfosit 4,1 % 20-40
Monosit 8,1 % 2-8
Ratio N/L 21,4
KIMIA KLINIK
Gula darah 471 mg/dL 70-140
sewaktu <50
Ureum 62 mg/dL <1,2
Kreatinin 1,1 mg/dL 135-145
Natrium 127 mmol/L 3,5-5,0
Kalium 4,1 mmol/L
IMUNOLOGI
Antigen SARS-
CoV-2
Pasien HEMATOLOGI
2 Hemoglobin 10,4 g/dl 15-24
Hematokrit 30,9 % 44,0-70,0
Trombosit 284 ribu/ul 150-400
Leukosit 12,63 ribu/ul 9,1-34,0
Eosinifil 0,9 % 1-3
Basofil 0,3 % 0-1
Neotrifil 79,0 % 50-70
Limfosit 14,0 % 20-40
Monosit 5,8 % 2-8
Ratio N/L 5,6
KIMIA KLINIK
Gula darah 255 mg/dL 70-140
sewaktu <50
Ureum 25 mg/dL <1,2
Kreatinin 1,0 mg/dL 135-145
Natrium 133 mmol/L 3,5-5,0
Kalium 4,7 mmol/L
IMUNOLOGI
Antigen SARS-
CoV-2 Negatif
47
e. Terapi obat
Tabel 4.6 Terapi obat
No Pasien Jenis Obat Dosis Obat
1 P1 (Ny. S) Ceftriaxone 2x1 gr
IVFD NaCl 0,9% Gtt 20x/menit
Metformin 2x500 mg
Tablet Ranitidine 2x50mg
[Link] 2x1 amp
[Link] 3x8 ui
Inj. Ondansetron 3x4 amp
Metcovazin 1x 10 gr
GV 1x1/hari
2 P2 (Ny. A) Ceftriaxone 2x1 gr
IVFD NaCl 0,9% Gtt 20x/menit
Metformin Tablet 2x500 mg
Ranitidine 2x50mg
[Link] 2x1 amp
[Link] 3x8 ui
Metcovazin 1x10gr
GV 1x1/hari
III. Edukasi
53
1. Jelaskan 1. Untuk
tanda dan memberikan
gejala informasi dan
infeksi tanda infeksi
Kasus 2
Tabel 4.10
Perencanaan Keperawatan pada Kasus 1 DM Tipe II di Ruang Zaal
Bedah RSUD Lahat
Diagnosa Luaran Intervensi Rasional
Keperawatan
Ganggguan Setelah Perawatan Luka
dilakukan (I.14564)
integritas kulit
tindakan I. Observasi : I. Observasi
berhubungan keperawatan 1. Monitor 1. Untuk
3x 24 Jam karakteristik mengetahui
dengan
diharapkan luka (mis, kondisi luka
neuropati mendapatkan drainase,
kriteria hasil : warna, ukuran,
perifer ditandai
a. Perfusi bau)
dengan adanya jaringan II. Terapiutik : II. Terapiutik
meningkat 1. Lepaskan 1. Agar pasien
kerusakan
b. balutan dan merasa nyaman
lapisan kulit Penyembuhan plaster secara
luka perlahan
atau jaringan
meningkat 2. Bersihkan 2. Merangsang
c. Kerusakan dengan cairan penyebuhan
lapisan kulit NaCl atau luka lebih
menurun pembersih, cepat
d. Peradangan nontoksik
luka menurun sesuai
e. Nyeri kebutuhan
menurun 3. Bersihkan 3. Mencegah
f. Nekrosis jaringan perluasan sel
menurun nekrotik yang mati
g. Perdarahan 4. Pasang balutan 4. Mencegah
menurun sesuai jenis Infeksi
h. Infeksi luka
menurun 5. Pertahankan 5. Menjaga agar
teknik steril luka tetap steril
saat
melakukan
perawatan
54
luka
6. Ganti balutan 6. Agar luka tetap
sesuai jumlah bersih dan steril
eksudat dan
drainase
III. Edukasi : III. Edukasi
1. Jelaskan tanda 1. Untuk
dan gejala memberikan
infeksi informasi dan
tanda infeksi
55
Tabel 4.11
Implementasi Keperawatan pada Kasus 2 DM Tipe II di
Ruang Zaal Bedah Rumah Sakit Umum Daerah lahat
Implementasi Keperawatan Implementasi Keperawatan
Implementasi Keperawatan hari 2
Diagnosa hari 1 hari 3
( 15/03/2022 )
Keperawatan ( 14/03/2022 ) ( 16/03/2022 )
Jam Implementasi Jam Implementasi Jam Implementasi
Ganggguan integritas 08.00 1. Memonitor 09.00 1. Memonitor 08:15 1. Memonitor
WIB karakteristik luka WIB karakteristik WIB karakteristik luka
kulit berhubungan
Respon : luka Respon : Respon :
dengan neuropati - Ukuran luka : panjang - Ukuran luka : - Ukuran luka : panjang 3
3 cm, lebar 2 cm, luas panjang 3 cm, lebar cm, lebar 2 cm, luas 6
perifer ditandai
6 cm2. Luka berbau 2 cm, luas 6 cm2. cm2. bau khas ganggren
dengan adanya khas ganggren, Luka berbau khas berkurang, pus berkurang,
terdapat pus, luka ganggren, terdapat bengkak luka sedikit
kerusakan lapisan
masih bengkak pus, bengkak luka berkurang
kulit atau jaringan sedikit berkurang
08:25 2. Melepaskan balutan dan
08:20 2. Melepaskan balutan 09.15 2. Melepaskan balutan WIB plater secara perlahan
WIB dan plater secara WIB dan plater secara Respon :
perlahan perlahan Balutan dilepas luka
Respon : Respon : tampak sudah mulai
Balutan dilepas Balutan dilepas mengering, rembesan
luka tampak luka tampak di balutan sudah
basah, dan basah, dan berkurang
terdapat rembesan terdapat rembesan
di balutan di balutan
56
4. Membersihkan 4. Membersihkan
4. Membersihkan jaringan nekrotik jaringan nekrotik
jaringan nekrotik Respon : Respon :
Respon : Mengangkat kaki Mengangkat kaki kanan
Mengangkat kaki kanan pasien pasien dan pasien merasa
kanan pasien nyaman
5. Memasang balutan
5. Memasang balutan sesuai jenis luka 5. Memasang balutan sesuai
sesuai jenis luka Respon : jenis luka
Respon : Balutan dipasang Respon :
Balutan dipasang sesuai dengan Balutan dipasang sesuai
sesuai dengan panjang, lebar dan dengan panjang, lebar dan
panjang, lebar luas luka luas luka
dan luas luka
6. Mempertahan teknik 6. Mempertahan teknik steril
6. Mempertahan teknik steril saat melakukan saat melakukan perawatan
steril saat melakukan perawatan Respon :
perawatan Respon : Menggunakan hanscoon
Respon : Menggunakan steril selama tindakan
Menggunakan
57
Tabel 4.12
Implementasi Keperawatan pada Kasus 2 DM Tipe II di
Ruang Zaal Bedah Rumah Sakit Umum Daerah lahat
4. Membersihkan 4. Membersihkan
4. Membersihkan jaringan nekrotik jaringan nekrotik
jaringan nekrotik Respon : Respon :
Respon : Mengangkat kaki Mengangkat kaki kanan
Mengangkat kaki kiri pasien pasien
kiri pasien
5. Memasang balutan 5. Memasang balutan sesuai
5. Memasang balutan sesuai jenis luka jenis luka
sesuai jenis luka Respon : Respon :
Respon : Balutan dipasang Balutan dipasang sesuai
Balutan dipasang sesuai dengan dengan panjang, lebar dan
sesuai dengan panjang, lebar dan luas luka
panjang, lebar luas luka
dan luas luka 6. Mempertahan teknik steril
6. Mempertahan teknik saat melakukan perawatan
6. Mempertahan teknik steril saat melakukan Respon :
steril saat melakukan perawatan Menggunakan hanscoon
perawatan Respon : steril selama tindakan
Respon : Menggunakan dilakukan
Menggunakan hanscoon steril
hanscoon steril
60
A. Evaluasi Keperawatan
Tabel 4.13
Evaluasi Keperawatan pada Kasus 1 DM Tipe II di Ruang Zaal Bedah
Rumah Sakit Umum Daerah Lahat
Diagnosa Hari 1 Hari 2 Hari 3
Keperawatan ( 14/03/2022 ) ( 15/03/2022 ) ( 16/03/2022 )
Pukul 11.00 Pukul 11.30 Pukul 11.10 WIB
WIB WIB
Ganggguan S: S: S:
Ny S Ny S Ny S
integritas kulit
mengatakan mengatakan mengatakan
berhubungan merasa merasa nyaman
merasa nyaman
nyaman saat saat dilakukan
dengan saat dilakukan
dilakukan perawatan luka,
neuropati perifer perawatan dan perban perawatan luka
luka, dan diganti dan perban
ditandai dengan
perban diganti - Ny. S diganti
adanya - Ny. S mengatakan nyeri
mengatakan area sekitar luka - Ny. S
kerusakan mengatakan nyeri
merasa nyeri sedikit berkurang
lapisan kulit atau pada area O: berkurang
sekitar luka - Keadaan
jaringan O:
O: Umum: lemah
- Keadaan - Luka terlihat - Keadaan
Umum: Lemah masih basah, Umum :
- Luka terlihat bengkak sudah Baik
masih basah berkurang, - Luka terlihat
dan sedikit masih berbau masih basah,
bengkak, pekat dan masih bengkak sudah
masih berbau terdapat berkurang, dan
pekat dan PUS( nanah) PUS (nanah)
masih terdapat - Aktivitas klien berkurang, bau
PUS( nanah) tampak di bantu berkurang
- Aktivitas oleh keluarga - Aktivitas klien
klien tampak masih
tampak di bantu oleh
dibantu oleh keluarga
keluarga A: A:
A: - Masalah teratasi Masalah teratasi
Masalah belum sebagian sebagian
teratasi P:
P:
P: intervensi
intervensi dilanjutkan Intervensi
dilanjutkan dilanjutkan
62
Tabel 4.14
Evaluasi Keperawatan pada Kasus 2 DM Tipe II di Ruang Zaal Bedah
Rumah Sakit Umum Daerah Lahat
Diagnosa Hari 1 Hari 2 Hari 3
Keperawatan
( 20/03/2022 ) ( 21/03/2022 ) ( 22/03/2022 )
Perkembangan kasus 1
Tabel 4.15
Perkembangan Hari Pertama, Kedua, dan Ketiga pada Kasus 1
DM Tipe II di Ruang Zaal Bedah RSUD Lahat
Diagnosa Hari 1
Keperawatan 14/03/2022
Ganggguan Kriteria Hasil Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
integritas
Perfusi 1 2
kulit jaringan 3 4
5
berhubungan
dengan Kriteria hasil Meningkat Cukup Sedang Cukup menurun
meningkat menurun
neuropati
perifer Kerusakan
jaringan 1 2 3 4
ditandai 5
dengan Kerusakan 1 2 5
lapisan kulit 3 4
adanya Penyembuha 1 2 5
kerusakan n luka 3 4
lapisan kulit Nyeri 1 2 4 5
atau jaringan 3
Nekrosis 1 2 5
3 4
Perdarahan 1 2 3 4 5
Infeksi 1 2 3 4 5
Tabel 4.16
Diagnosa Hari 2
Keperawatan 15/03/2022
Ganggguan Kriteria Hasil Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
integritas
Perfusi 1 2
kulit jaringan 3 4
5
berhubungan
dengan Kriteria hasil Meningkat Cukup Sedang Cukup menurun
meningkat menurun
neuropati
perifer Kerusakan
jaringan 1 2 3 4
ditandai 5
dengan Kerusakan 1 2 5
lapisan kulit 3 4
adanya Penyembuha 1 2 5
kerusakan n luka 3 4
lapisan kulit Nyeri 1 2 4 5
atau jaringan 3
Nekrosis 1 2 5
3 4
Perdarahan 1 2 3 4 5
Infeksi 1 2 3 4 5
Tabel 4.17
Diagnosa Hari 3
Keperawatan 16/03/2022
Ganggguan Kriteria Hasil Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
integritas
Perfusi 1 2
kulit jaringan 3 4
5
berhubungan
Kriteria hasil Meningkat Cukup Sedang Cukup menurun
dengan
meningkat menurun
neuropati
Kerusakan
perifer jaringan 1 2 3 4 5
ditandai
Kerusakan 1 2 5
dengan lapisan kulit 3 4
adanya Penyembuha 1 2
n luka 3 4 5
kerusakan
lapisan kulit Nyeri 1 2 4 5
3
atau jaringan Nekrosis 1 2
3 4 5
Perdarahan 1 2 3 4 5
Infeksi 1 2 3 4 5
Perkembangan kasus 2
Tabel 4.18
Perkembangan Hari Pertama, Kedua, dan Ketiga pada Kasus 2
DM Tipe II di Ruang Zaal Bedah RSUD Lahat
Diagnosa Hari 1
Keperawatan 20/03/2022
Ganggguan Kriteria Hasil Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
integritas
Perfusi 1 2
kulit jaringan 3 4
5
berhubungan
dengan Kriteria hasil Meningkat Cukup Sedang Cukup menurun
meningkat menurun
neuropati
perifer Kerusakan
jaringan 1 2 3 4
ditandai 5
dengan Kerusakan 1 2 5
lapisan kulit 3 4
adanya Penyembuha 1 2 5
kerusakan n luka 3 4
lapisan kulit Nyeri 1 2 4 5
atau jaringan 3
Nekrosis 1 2 5
3 4
Perdarahan 1 2 3 4 5
Infeksi 1 2 3 4 5
Tabel 4.19
Diagnosa Hari 2
Keperawatan 15/03/2022
Ganggguan Kriteria Hasil Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
integritas
Perfusi 1 2
kulit jaringan 3 4
5
berhubungan
dengan Kriteria hasil Meningkat Cukup Sedang Cukup menurun
meningkat menurun
neuropati
perifer Kerusakan
jaringan 1 2 3 4
ditandai 5
dengan Kerusakan 1 2 5
lapisan kulit 3 4
adanya Penyembuha 1 2 5
kerusakan n luka 3 4
lapisan kulit Nyeri 1 2 4 5
atau jaringan 3
Nekrosis 1 2 5
3 4
Perdarahan 1 2 3 4 5
Infeksi 1 2 3 4 5
Tabel 4.20
Diagnosa Hari 3
Keperawatan 16/03/2022
Ganggguan Kriteria Hasil Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
integritas
Perfusi 1 2
kulit jaringan 3 4
5
berhubungan
dengan Kriteria hasil Meningkat Cukup Sedang Cukup menurun
meningkat menurun
neuropati
perifer Kerusakan
jaringan 1 2 3 4 5
ditandai
dengan Kerusakan 1 2 5
lapisan kulit 3 4
adanya Penyembuha 1 2
kerusakan n luka 3 4 5
lapisan kulit Nyeri 1 2 4 5
atau jaringan 3
Nekrosis 1 2
3 4 5
Perdarahan 1 2 3 4 5
Infeksi 1 2 3 4 5
69
70
b. Terapiutik
Implementasi yang dilakukan pada kasus 1 (Ny. S) dan
kasus 2 (Ny A) yaitu Perawatan luka meliputi: melepaskan balutan
dan plester secara perlahan, membersihkan dengan cairan NaCl,
membersihkan jaringan nekrotik, memasang balutan suseai jenis
luka, mempertahankan teknik steril saat melakukan perawatan luka,
mengganti balutan sesuai jumlah eksudat, jelaskan tanda dan gejala
infeksi.
Disini kedua keluarga pasien membantu pasien dalam
melakukan aktivitas harian (ADL) dan membantu pasien untuk
melepaskan balutan dan plester secara perlahan dan penulis tidak
menemuka perbedaan antara teori dan tindakan di lapangan.
c. Edukasi Kesehatan
Edukasi kesehatan dilakukan penulis pada tanggal 14 Maret
2022 pada kasus 1 (Ny. S) dan 20 Maret 2022 pada kasus 2 (Ny.
A) menggunakan media leaflet, pemberian edukasi kesehatan ini
dapat menambah pengetahuan pasien tentang perawatan luka untuk
mengatasai gangguan integritas jaringan.
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan implementasi keperawatan yang telah penulis lakukan
kepada kasus 1 (Ny.S) dan kasus 2 (Ny.A) di Ruang Zaal Bedah RSUD Lahat
selama masing-masing 3 hari kasus 1 (Ny S) dari tanggal 14-16 Maret 2022
dan kasus 2 ( Ny A) dari tanggal 20-22 Maret 2022 dengan diagnosa
keperawatan prioritas Gangguan integritas kulit maka, penulis menyimpulkan
bahwa mampu mencapai tujuan khusus yaitu:
6.1.1. Implementasi Keperawatan Perawatan Luka
- Observasi
Pada kasus 1 (Ny.S) dan kasus 2 (Ny.A) didapatkan hasil Ku
pasien cukup membaik, Pasien tampak nyaman saat dilakukan
perawatan luka dan mengganti perban, bau khas ganggren
berkurang, nyeri menurun, bengkak berkurang, jaringan nekrotik
menurun
- Terapeutik
Implementasi keperawatan perawatan luka pada kasus 1 (Ny.S)
dan kasus 2 (Ny.A) didapatkan pasien dan keluarga sudah mengerti
tujuan dan prosedur, dan pasien nyaman saat dilakukan perawatan
luka. Pasien juga menyetujui tindakan yang akan dilakukan
- Edukasi
Pemberian edukasi dengan metode leaflet mengenai perawatan
luka untuk mengatasi gangguan integritas kulit kepada pasien
maupun keluarga telah penulis lakukan selama 1 hari dengan waktu
30 menit. Penulis menyimpulkan bahwa pengetahuan kedua pasien
dan keluarga meningkat.
74
75
Padila (2012) Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah. Bengkulu :Nuha Medika
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan Indikator
Diagnostik. Jakarta : DPP PPNI
PPNI. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan Tindakan
Keperawatan. Jakarta : DPP PPNI
PPNI. (2019). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan Kriteria
Hasil Keperawatan. Jakarta : DPP PPNI.
Rudi Haryono & Brigita, A.D.S (2019) Buku Ajar : Asuhan Keperawatan Pada
Pasien Dengan Gangguan Sistem Endokrin. Yogyakarta : Pustaka Baru
Press
Santi Damayanti (2017) Diabetes Melitus & Penatalaksanaan Keperawatan.
Yogyakarta : Nuha Medika
STANDAR
OPERASIONAL PERAWATAN LUKA
PROSEDUR
Pengertian Mengidentifikasi dan meningkatkan penyembuhan luka
serta mencegagah terjadinya komplikasi luka
Tujuan c. Mencegah infeksi
d. Membantu penyembuhan luka
Indikasi Pasien yang luka baru maupun luka lama, luka post
oprasi, luka bersih dan luka kotor
Petugas Perawat
Peralatan a) Bak instrumen yang berisi
1) Pinset anatomis
2) Pinset chirugis
3) Gunting debridemand / gunting jaringan
4) Kassa steril
5) Kom kecil 3 buah
6) Peralatan lain terdiri dari :
11. Sarung tangan
12. Gunting plester
13. Plester
14. Alkohol 70% atau wash bensin
15. Desinfektan (Bethadin)
16. Cairan NaCl 0,9%
17. Bengkok
18. Perlak/ pengalas
19. Verband
20. Obat luka sesuai kebutuhan
a) Tahap Pra Interaksi
1) Cek catatan keperawatan
2) Mencuci tangan
3) Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar
b) Tahap orientasi
1) Berikan salam, panggil klien dengan namanya
2) Jelaskan tujuan, prosedur dan lamanya tindakan
pada klien dan keluarga
3) Menanyakan kesiapan klien sebelum dilakukan
tindakan
c) Tahap Kerja
1) Dekatkan alat-alat dengan klien
2) Menjaga privacy pasien
3) Mengatur posisi pasien sesuai kebutuhan
4) Pasang perlak / pengalas di bawah daerah luka
5) Membuka peralatan
6) Memakai sarung tangan
7) Basahi kasa dengan bethadin kemudian dengan
menggunakan pinset bersih area sekitar luka
bagian luar sampai bersih dari kotoran
8) Basahi kasa dengan cairan NaCl 0,9% kemudian
dengan menggunakan pinset bersihkan area luka
bagian dalam. (gunakan tehnik usapan dari atas ke
bawah)
9) Keringkan daerah luka dan pastikan area daerah
luka bersih dari kotoran
10) Beri obat luka sesuai kebutuhan jika perlu
11) Pasang kasa steril pada area luka sampai tepi
luka
12) Fiksasi balutan menggunakan plester atau
balutan verband sesuai kebutuhan
13) Mengatur posisi pasien seperti semula
14) Alat-alat dibereskan
15) Buka sering tangan
d) Tahap Terminasi
1) Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan
2) Berpamitan dengan klien
3) Membereskan alat-alat
4) Mencuci tangan
5) Mencatat kegiatan dalam lembar/catatan
keperawatan
Cara cara Perawatan Luka Di Rumah
Perawatan Luka Pada A. Pengertian Perawatan Luka
Penderita Diabetes Perawatan luka adalah suatu teknik dalam
membersihkan luka yang di akibatkan oleh
Melitus penyakit diabetes mellitus ( kencing manis )
dengan tujun untuk mencegah infeksi luka,
melancarkan peredaran darah sekitar dan
mempercepat proses penyembuhan luka.
Persiapan Alat
1. Kapas
2. Kassa Steril
3. Cairan infuse NaCl 0.9 % atau garam
yang di larukan dengan air matan
yang sudah dingin
4. Kayu Putih
5. Gula atau madu
6. Plester
Cici Windiani
7. Gunting
Po.[Link].0 8. Kantong Plastik
41
B. Identitas Responden
Nama :
Umur :
Alamat :
Jenis Kelamin :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama……x…….jam, diharapkan
Gangguan Integritas Kulit
KRITERIA HASIL
Gangguan Integritas 1 2 3 4 5
Kulit Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
Elastisitas
Hidrasi
Perfusi Jaringan
KRITERIA HASIL
Gangguan Integritas 1 2 3 4 5
Kulit Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun
Meningkat Menurun
Kerusakan Lapisan
Kulit
Nyeri
Perdarahan
Kemerahan
Hematomi
Pigmentasi abnormal
Jaringan Parut
Nekrosis
Abrasi Kornea
KRITERIA HASIL
Gangguan Integritas 1 2 3 4 5
Kulit Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik
Memburuk Membaik
Suhu Kulit
Sensasi
Tekstur
Pertumbuhan rambut
Format Pengkajian Asuhan Keperawatan Medikal Bedah
PALEMBANG
FORMAT PENGKAJIAN