0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan121 halaman

Perawatan Luka pada Diabetes Tipe II

Dokumen ini membahas implementasi perawatan luka pada pasien diabetes melitus tipe II dengan gangguan integritas kulit di RSUD Lahat pada tahun 2022. Penelitian deskriptif ini melibatkan dua pasien dan menunjukkan bahwa perawatan luka dapat membantu mengurangi masalah integritas kulit. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi untuk pengembangan perawatan keperawatan lebih lanjut.

Diunggah oleh

Yusuf 18
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan121 halaman

Perawatan Luka pada Diabetes Tipe II

Dokumen ini membahas implementasi perawatan luka pada pasien diabetes melitus tipe II dengan gangguan integritas kulit di RSUD Lahat pada tahun 2022. Penelitian deskriptif ini melibatkan dua pasien dan menunjukkan bahwa perawatan luka dapat membantu mengurangi masalah integritas kulit. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi untuk pengembangan perawatan keperawatan lebih lanjut.

Diunggah oleh

Yusuf 18
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN PERAWATAN LUKA

PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DENGAN


MASALAH GANGGUAN INTEGRITAS
KULIT DI RSUD LAHAT
TAHUN 2022

KARYA TULIS ILMIAH

OLEH :

CICI WINDIANI
NIM: PO.[Link].041

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG


PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN LAHAT
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2022

i
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN PERAWATAN LUKA
PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DENGAN
MASALAH GANGGUAN INTEGRITAS
KULIT DI RSUD LAHAT
TAHUN 2022

Diajukan Kepada Poltekkes Palembang Untuk Memenuhi Salah Satu


Persyaratan Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan

OLEH:
CICI WINDIANI
NIM : PO.[Link].041

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG


PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN LAHAT
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2022

ii
LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah oleh Cici Windiani NIM : PO.[Link].041 dengan judul
“Implementasi Keperawatan Perawatan Luka Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe
II dengan Masalah Gangguan Integritas Kulit di RSUD Lahat Tahun 2022” telah

iii
diperiksa dan disetujui.

Lahat, Januari 2022

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

H. Sulaiman., [Link].,[Link] Kamesyworo, SST, M.M


NIP : 196305251989031005 NIP : 197304261997031006

iv
v
BIODATA PENULIS

A. Identitas Diri
Nama : Cici Windiani
Tempat/Tanggal Lahir : Lahat/16 Juni
2001 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Anak ke- : 1 dari 3 bersaudara
Email :ciciwindiani@[Link]

[Link]

Alamat : Desa Pagar Agung [Link] [Link]


Prodi/Jurusan : DIII Keperawatan Lahat
Tahun Masuk 2019
B. Identitas Orang Tua
Nama Ayah : Darwinsi jaya
Nama Ibu : Fitriani
C. Riwayat Pendidikan
2006-2007 : TK Karya Mulia Pseksu
2007-2013 : SD Negeri 7 Pseksu
2013-2016 : SMP Negeri 1 Lahat
2016-2019 : SMA Negeri 3 Lahat

vi
PERSEMBAHAN

Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT, Karya Tulis
Ilmiah ini kupersembahkan kepada:
1. Allah SWT yang telah melancarkan segala urusan perkuliahan di Poltekkes
Kemenkes Palembang
2. Diriku sendiri, Cici Windiani yang mampu bertahan hingga saat ini. Mari kita
lanjutkan perjuangan ini.
3. Orang tuaku tercinta (Darwinsi Jaya dan Fitriani) yang sangat aku hormati dan
aku sayangi yang telah memberikan dukungan moral, spiritual, materi serta doa
yang tiada hentinya demi keberhasilan penulis
Semoga selalu di beri kesehatan dan diberikan rezeki yang berlimpah, you’re
my everything mam pap, im proud of you
4. Adik perempuanku tersayang (Cica Vironika dan Cinta Mareta) yang telah
memberi banyak support dan doa demi keberhasilan penulis.
5. Untuk Kakak perempuanku (Elizah) dan Oomku (Andi Virgo) terimakasih
sudah mendukungku selama ini.
6. Dosen pembimbing Bapak H. Sulaiman., [Link]., [Link] dan Bapak Kamesyworo,
SST. M.M terimakasih sudah membimbing penulis dalam menyelesaikan Lta
ini
7. Untuk kamu (MGS) terimakasih sudah mewarnai hariku dan menjadi salah satu
support system terbaik selama ini.
8. Untuk kamu (Uwennn) terimakasih sudah mau direpotkan selama ini
9. Almamater ku tercinta, semoga ilmu yang saya peroleh bisa berguna bagi
banyak orang dan menjadi keberkahan di kehidupan kedepannya.

vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu
syarat untuk mencapai gelar Ahli Madya Keperawatan pada Jurusan Keperawatan
Poltekkes Kemenkes Palembang. Saya menyadari, tanpa bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak pada penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini sangatlah sulit bagi
saya untuk menyelesaikan laporan ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Muhamad Taswin.,[Link].,Apt.,[Link] selaku Direktur Politeknik Kesehatan
Kemenkes Palembang.
2. Hj. Devi Mediarti, [Link]., [Link], [Link] selaku ketua Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang.
3. H. A. Gani, [Link].,SKM.,[Link].,[Link] selaku ketua Prodi Keperawatan Lahat.
4. [Link].,[Link].,[Link] selaku dosen pembimbing 1 yang telah memberikan
arahan dan masukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
5. Kamesyworo, SST, M.M selaku dosen pembimbing 2 yang telah memberikan
arahan dan masukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
6. Ns. Rumentalia Sulistini, [Link]. [Link] selaku dosen penguji pertama Karya
Tulis Ilmiah.
7. H. A. Gani, [Link].,SKM.,[Link].,[Link] selaku dosen penguji kedua Karya
Tulis Ilmiah.
8. Kedua orang tua, adik-adik dan keluarga besar yang telah memberikan
semangat, motivasi dan doa dalam menyelesaikan Proposal Karya Tulis
Ilmiah ini.
9. Sri Hartati, SKM. M.M Selaku pembimbing Akademik yang telah member
motivasi, semangat, dan doa dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini
10. Seluruh staff, dosen, karyawan dan karyawati Politeknik Kesehatan Kemenkes
Palembang Jurusan Keperawatan Prodi D III Keperawatan Lahat yang telah
memberikan ilmu pengetahuan sehingga penulis mampu menyelesaikan
Karya Tulis Ilmiah ini.

viii
11. Teman-teman angkatan 2019 Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang
Prodi D III Keperawatan Lahat yang telah berjuang bersama dan saling
mendukung dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.

Semoga bantuan serta budi baik yang telah diberikan kepada penulis,
mendapat balasan dari Allah [Link] harapan penulis agar Proposal Karya
Tulis Ilmiah akhir ini dapat bermanfaat.

Lahat, Januari 2022

Penulis

ix
ABSTRAK

Windiani, cici. 2022. Implementasi Keperawatan perawatan luka pada


pasien Diabetes Mellitus Tipe II Dengan Masalah Gangguan
Integritas Jaringan Pada Pasien di Ruang Zaal Bedah RSUD
Lahat Tahun 2022. Program Diploma III Keperawatan Jurusan
Poltekkes Kemenkes Palembang. Pembimbing (1) : H.
Sulaiman, [Link]., [Link]. Pembimbing (2) : Kamesyworo, SST,
M.M

Latar Belakang: World Health Organitation (WHO) menyatakan tipe


diabetes yang paling sering terjadi adalah Diabetes Melitus tipe 2 dan
kejadiannya meningkat secara drastis di negara dengan pendapatan rendah.
Masalah yang dirasakan adalah gangguan integritas kulit dan implementasi
perawatan luka dapat mengurangi gangguan integritas kulit. Tujuan
penelitian ini untuk mengurangi gangguan integritas kulit pada pasien
diabetes mellitus tipe 2

Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif dalam bentuk studi kasus.
Subjek yang teliti berjumlah 2 orang dengan kasus dan masalah
keperawatan yang sama, yaitu pasien diabetes mellitus tipe II gangguan
integritas di Ruang Anggrek RSUD Lahat. Penelitian ini dilakukan pada
tanggal 14-16 Maret 2022 dan tanggal 20-22 Maret 2022.

Hasil: Setelah dilakukan implementasi keperawatan hasil perawatan luka


membantu mengurangi gangguan integritas kulit.

Kesimpulan: diharapkan dapat menerapkan implementasi keperawatan


perawatan luka pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan gangguan
integritas kulit serta dapat dikembangkan lagi dan menjadi pembelajaran
untuk penelitian selanjutnya

Kata kunci : Diabetes mellitus tipe II, Gangguan integritas kulit,


perawatan luka

x
ABSTRACT

Windiani, cici. 2022 Implementation of Nursing wound care in Patients with


Type II Diabetes Mellitus Patients With Tissue Integrity
Disorders In Patients in the Surgical Zaal Room of Lahat
Hospital in 2022. Diploma III Nursing Program of the
Department of Health Of The Ministry of Health Palembang.
Supervisor (1): H. Sulaiman, [Link]., [Link]. Supervisor (2):
Kamesyworo, SST, M.M
Background: World Health Organitation (WHO) states that the most common
type of diabetes is Type 2 Diabetes Mellitus and its incidence has increased
drastically in low-income countries. The perceived problem is the
deterioration of skin integrity and the implementation of wound care can
reduce the deterioration of skin integrity. The purpose of this study was to
reduce skin integrity disorders in patients with type 2 diabetes mellitus

Methods: The design of this study is descriptive in the form of a case study. The
subjects who were studied were 2 people with the same nursing cases and
problems, namely patients with type II diabetes mellitus with integrity
disorders in the Orchid Room of Lahat Hospital. This study was conducted
on March 14-16, 2022 and March 20-22, 2022.

Results: After the implementation of nursing the results of wound care help
reduce the integrity of the skin.

Conclusion: it is expected to be able to implement the implementation of wound


care nursing in type 2 diabetes mellitus patients with skin integrity disorders
and can be developed again and become a lesson for further research

Keywords : Diabetes mellitus type II, Skin integrity disorders, wound


care

xi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................i

HALAMAN SAMPUL....................................................................................ii

HALAMAN PERNYATAAN.........................................................................iii

HALAMAN PERSETUJUAN........................................................................iv

LEMBAR PENGESAHAN............................................................................v

KATA PENGANTAR.....................................................................................vi

DAFTAR ISI....................................................................................................viii

DAFTAR SKEMA..........................................................................................xi

DAFTAR TABEL............................................................................................xii

DAFTAR GAMBAR.......................................................................................xiii

DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................xiv

BAB 1 PENDAHULUAN...............................................................................1

1.1 Latar Belakang......................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................................3

1.3 Tujuan Penelitian...................................................................................3

Tujuan Umum.......................................................................................3

Tujuan Khusus......................................................................................3

1.4 Manfaat Penelitian.................................................................................4

Manfaat Bagi Pasien.............................................................................4

Manfaat Bagi Rumah Sakit...................................................................4

Manfaat Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan..................................4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA......................................................................5

2.1 Konsep Penyakit Diabetes Melitus.......................................................5

2.1.1 Definisi......................................................................................5

2.1.2 Anatomi Fisiologi......................................................................6


xii
DAFTAR ISI
[Link] Pankreas.........................................................................6

[Link] Kulit...............................................................................7

2.1.3 Etiologi......................................................................................8

2.1.4 Patofisilogi................................................................................9

2.1.5 Pathway.....................................................................................10

2.1.6 Klasifikasi..................................................................................11

2.1.7 Manifestasi Klinis.....................................................................12

2.1.8 Komplikasi................................................................................13

2.1.9 Pemeriksaan Penunjang..............................................................14

2.1.10 Pencegahan.................................................................................16

2.1.11 Penatalaksanaan..........................................................................17

2.1.12 Konsep dasar Gangguan Integritas kulit....................................19

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus...................................19

2.2.1. Pengkajian................................................................................19

2.2.2 Diagnosa Keperawatan..............................................................21

2.2.3 Intervensi Keperawatan..............................................................22

2.2.4 Implementasi Keperawatan.......................................................23

2.2.5 Evaluasi.....................................................................................24

2.3 Implementasi Keperawatan Luka Pada Pasien Diabetes Melitus.........24

2.3.1 Perawatan Luka.........................................................................24

2.3.2 Metode.......................................................................................24

2.3.3 SOP Perawatan Luka.................................................................25

BAB 3 Metode Studi Kasus............................................................................28

3.1 Rancangan Studi Kasus.........................................................................28

3.2 Kerangka Konsep..................................................................................28

3.3 Definisi istilah fokus studi kasus...........................................................29

3.4 Subyek studi kasus................................................................................29


xiii
DAFTAR ISI
3.5 Fokus studi kasus..................................................................................29

3.6 Tempat dan waktu studi kasus..............................................................30

3.7 Instrumen dan metode pengumpulan data.............................................30

3.8 Analisis dan penyajian data...................................................................31

3.9 Etika studi kasus....................................................................................31

BAB IV HASIL STUDI KASUS....................................................................37

4.1 Profil Rumah Sakit Umum Daerah Lahat..............................................37

4.1.1 Sejarah singkat.............................................................................37

4.1.2 Motto............................................................................................37

4.1.3 Visi dan Misi................................................................................37

4.1.4 Jajaran Direksi Rumah Sakit Umum Lahat..................................38

4.1.5 Fasilitas pelayanan kesehatan.......................................................38

4.2 Karakteristik subjek penelitian...............................................................39

4.3 Asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus tipe II.....................40

4.3.1 Pengkajian....................................................................................40

4.3.2 Analisa data..................................................................................48

4.3.3 Diagnosa keperawatan..................................................................51

4.3.4 Perencanaan keperawatan.............................................................52

4.3.5 Implementasi keperawatan...........................................................55

4.3.6 Evaluasi keperawatan...................................................................58

BAB V PEMBAHASAN.................................................................................66

5.1 Pembahasan hasil studi kasus.................................................................66

5.1.1 Pengkajian keperawatan...............................................................66

5.1.2 Diagnosa keperawatan..................................................................67

5.1.3 Intervensi keperawatan.................................................................68

5.1.4 Implementasi keperawatan...........................................................68

5.1.5 Evaluasi keperawatan...................................................................70


xiv
DAFTAR ISI
5.2 Keterbatasan studi kasus........................................................................71

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN.........................................................72

6.1 Kesimpulan.............................................................................................72

6.1.1 Implementasi keperawatan perawatan luka..................................72

6.1.2 Hasil analisis................................................................................73

6.2 Saran.......................................................................................................73

DAFTAR PUSTAKA

xv
DAFTAR SKEMA

2.1. 5 Patway DM Tipe 2


3.1 Kerangka Studi Kasus

xvi
DAFTAR TABEL

2.2.3 Perencanaan Keperawatan Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan


Masalah Gangguan Integritas kulit
2.3.3 Standar Operasional Prosedur Perawatan Luka
2.1.12 Data mayor dan minor
4.1 Identitas pasien 1 dan 2
4.2 Hasil analisis
4.3 Pola aktivitas sehari-hari
4.4 Hasil pemeriksaan fisik
4.5 Pemeriksaan penunjang
4.6 Terapi obat
4.7 Analisa data
4.8 Diagnosa keperawatan
4.9 Intervensi kasus 1
4.10 Intervensi kasus 2
4.11 Implementasi kasus 1
4.12 Implementasi kasus 2
4.13 Evaluasi kasus 1
4.14 Evaluasi kasus 2
4.15 Catatan perkembangan kasus 1 hari ke 1
4.16 Catatan perkembangan kasus 1 hari ke 2
4.17 Catatan perkembangan kasus 1 hari ke 3
4.18 Catatan perkembangan kasus 2 hari ke 1
4.19 Catatan perkembangan kasus 2 hari ke 2
4.20 Catatan perkembangan kasus ke 2 hari ke 3

xvii
DAFTAR GAMBAR

2.1.2 Anatomi Fisiologi Panktreas Dan Fisiologi Kulit

xviii
LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Judul Lampiran


2 Lembar Konsul Lampiran 3
Surat Izin Penelitian Lampiran 4
Surat Izin Penelitian Lampiran 5
Informent consent Lampiran 6
Informent Consent Lampiran 7
Lembar SOP Lampiran 8 Lembar
Lefleat
Lampiran 9 Lembar Observasi Gangguan Integritas Kulit

xix
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis serius yang terjadi
karena pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur
gula darah), atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin
yang dihasilkannya (Kementerian Kesehatan RI, 2019) Komplikasi jangka
lama diabetes termasuk penyakit kardiovaskular kegagalan kronis ginjal,
kerusakan retina yang dapat menyebabkan kebutaan, serta terjadinya
kerusakan saraf yang menyebabkan impotensi dan ganggren dengan resiko
amputasi (Sukriyadi et al, 2019)
World Health Organitation (WHO) (2019) menyatakan tipe diabetes
yang paling sering terjadi adalah Diabetes Melitus tipe 2 dan kejadiannya
meningkat secara drastis di negara dengan pendapatan rendah. Badan
Kesehatan Dunia memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang
Diabetes Melitus tipe 2 yang menjadi salah satu ancaman kesehatan global.,
International Diabetes Federation (IDF) memprediksi adanya kenaikan
jumlah penyandang Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia dari 9, 1 juta pada
tahun 2014 menjadi 14,1 juta pada tahun 2015 (Soelistijo et al., 2015). Angka
tersebut menunjukkan Indonesia menempati urutan ke6 didunia tahun 2-40,
atau naik satu peringkat dibandingkan data IDF pada tahun 2015 yang
menempati peringkat ke-7 di dunia (CDC, 2017) (Wardhani, 2020).
Diabetes melitus tipe 2 merupakan suatu kondisi hiperglikemia yang
terjadi karena kadar insulin yang dihasilkan dirusak oleh resistensi insulin di
jaringan perifer, hati memproduksi glukosa lebih dari normal, karbohidrat
dalam makanan
tidak dimetabolisme dengan baik dan akhirnya pancreas mengeluarkan
jumlah insulin yang kurang dari yang dibutuhkan (Lemone et al, 201[9)
Suyono mengemukakan bahwa jika membandingkan dengan orang
normal, maka penderita Diabetes Mellitus 5 kali lebih besar untuk timbul
gangren, 17 kali lebih besar untuk menderita kelainan ginjal dan 25 kali lebih
besar untuk terjadinya kebutaan. Prevalensi global komplikasi ulkus diabetes

1
2

bervariasi antara 3% di wilayah Oceania hingga 13% di utara Amerika,


dengan rata-rata global 6,4%. Prevalensi lebih tinggi pada pria dibandingkan
pada wanita. Begitu pula kejadian ulkus diabetes lebih tinggi di antara orang
dengan diabetes tipe 2, dibandingkan dengan meraka yang menderita diabetes
tipe 1 (IDF, 2019)
Luka diabetes sering kali disebut Diabetics Foot Ulcers, luka neuropati,
luka diabetik neuropath adalah luka yang terjadi pada kaki penderita diabetes,
dimana terdapat kelainan pada tungkai kaki bawah akibat diabetes melitus
yang tidak terkendali. Kelainan kaki diabetes melitus dapat disebabkan
adanya gangguan pembuluh darah, gangguan persyarafan, dan adanya
infeksi. Jika penderita diabetes yang kadar glukosanya tidak terkontrol maka
akan mengalami terjadinya penurunan pada respon imun. Sehingga penderita
lebih rentan terkena infeksi. Banyak hal yang membuat kaki penderita mudah
terkena infeksi seperti lecet akibat sepatu yang sesak. Jika dibiarkan begitu
saja maka akan terjadi infeksi yang akan mengakibatkan pembusukan pada
bagian luka karena tidak mendapat aliran darah (Ratna Devi & Parmin, 2019).
Menurut Data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan di provinsi
Sumatera Selatan, tercatat dari tahun 2016-2017 mengalami peningkatan.
Pada tahun 2016 sebesar 45% dan pada tahun 2017 sebesar 55%
(KEMENKES RI, 2018). Sedangkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit
Umum Daerah Lahat jumlah pasien DM Tipe II pada tahun 2019 sebannyak
262 kasus dan meningkat di tahun 2020 menjadi 400 kasus (Medical Record
Rumah Sakit Umum Daerah Lahat, 2021)
Masalah yang sering muncul adalah Gangguan Integritas Kulit.
Kerusakan integritas kulit adalah kerusakan kulit (dermis/epidermis) atau
jaringan membrane mukosa, kornea, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago,
kapsul, sendi, dan atau ligament (Budi, 2015)
Perencanaan keperawatan pada pasien diabetes mellitus dengan
kerusakan integritas kulit seperti perawatan luka secara aseptic dangan
menggunakan kasa steril dan cairan NaCL 0,9%, iodine povidine untuk
menghentikan nekrosis yang telah terjadi.
3

Peran perawat yang dapat dilakukan oleh seorang perawat adalah dalam
melakukan asuhan keperawatan dengan melakukan pengkajian tentang faktor
resiko dan keadaan luka, memberikan perawatan luka untuk mempertahankan
integritas kulit, mempertahankan nutrisi yang adekuat. Penyakit diabetes
melitus dapat dicegah dengan cara melakukan olahraga setiap hari seperti
jalan kaki, jogging, berenang dan bersepeda, mengurangi konsumsi makanan
yang banyak mengandung lemak dan karbohidrat, hindari minuman yang
beralkohol dan kurangi mengkonsumsi garam (Nurarif & Kusuma, 2015).
Dari data diatas penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini dalam
Studi Kasus dengan judul Implementasi keperawatan perawatan luka pada
pasien Diabetes Melitus dengan masalah Gangguan integritas kulit.

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimanakah Implementasi Keperawatan Perawatan Luka Dengan


Masalah gangguan integritas kulit Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Di
Rumah Sakit Umum Daerah Lahat Tahun 2021/2022

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan umum
Tujuan Umum Penelitian ini adalah untuk mendapatkan
gambaran implementasi keperawatan perawatan luka pada pasien
Diabetes Melitus tipe II dengan masalah Gangguan Integritas Kulit di
RSUD Lahat Tahun 2022
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mendiskripsikan Implementasi keperawatan perawatan luka pada
pasien Diabetes Melitus tipe II dengan masalah gangguan integritas
kulit di RSUD Lahat Tahun 2022
b. Menganalisis hasil implementasi keperawatan perawatan luka pada
pasien Diabetes Melitus tipe II dengan masalah gangguan integritas
kulit di RSUD Lahat Tahun 2022.
4

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Bagi Pasien
Memberikan gambaran kepada pasien Diabetes Melitus tipe II mengenai
pelaksanaan keperawatan pada pasien Diabetes Melitus tipe II untuk
meningkatkan kesembuhan
1.4.2 Manfaat Bagi Rumah Sakit
Hasil penulisan karya tulis ilmiah ini diharapakn dapat memberikan
informasi bagi rumah sakit dalam memberikan implementasi
keperawatan Gangguan integritas kulit pada pasien Diabetes Melitus
tipe II
1.4.3 Manfaat Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan
Hasil penulisan karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat menambah
informasi den pengembangan IPTEK dan sebagai referensi
mahasiswa/mahasiswi Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan
Keperawatan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya
keperawatan medical bedah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Penyakit Diabetes Melitus


2.1.1 Definisi
Diabetes melitus tipe II atau disebut NIDDM (Non-Insulin
Dependen Diabetes Melitus) adalah penyakit kronis yang disebabkan
oleh penggunaan insulin yang kurang efektif oleh tubuh. Insulin
merupakan hormon yang mengatur kadar gula dalam darah, jika kadar
gula darah tidak bisa terkontrol maka akan terjadi peningkatan
(Herlambang dkk, 2019).
Diabetes Melitus tipe II merupakan sebuah kondisi dimana gula
darah mengalami kenaikan yang disebabkan oleh sel beta pancreas
memproduksi insulin dalam jumlah sedikit dan juga adanya gangguan
pada fungsi insulin atau resistensi insulin. Diabetes mellitus tipe 2
terdiri dari serangkaian disfungsi yang ditandai dengan hiperglekemia
dan akibat kombinasi resistensi terhadap aksi insulin, sekresi insulin
yang tidak adekuat, dan sekresi glucagon yang berlebihan atau tidak
tepat.(Rudi Haryono & Brigita agu dwi susanti, 2019 hal :156)
Diabetes melitus tipe II merupakan suatu kondisi hiperglikemia
yang terjadi karena kadar insulin yang dihasilkan dirusak oleh
resistensi insulin di jaringan perifer, hati memproduksi glukosa lebih
dari normal, karbohidrat dalam makanan tidak dimetabolisme dengan
baik dan akhirnya pancreas mengeluarkan jumlah insulin yang kurang
dari yang dibutuhkan (Lemone et al, 2019)
Ada dua faktor risiko pada DM tipe II yaitu faktor risiko yang
tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat diubah. Dalam risiko
yang tidak dapat diubah meliputi usia dan genetik, sedangkan risiko
yang dapat diubah terdiri dari makanan yang salah, obesitas, merokok,
hipertensi, minimnya aktifitas fisik dan stress (Herlambang dkk, 2019)

5
6

2.1.2 Anatomi Fisiologi

Gambar 1.1 Anatomi fisiologi pankreas

[Link]. Pankreas
Pankreas terletak di belakang lambung dan di bagian
belakang perut. Panjang organ ini sekitar 15cm dan
berbentukseperti ikan atau tabung, serta memiliki kepala,
badan, dan ekor. (Kirnantoro & Maryana. 2021 hal :257)
Kepala dan organ meluas ke sisi kanan tubuh dan
terletak disamping duodenum, atau bagian pertama dari usus
kecil. Sementara ekornya menyempit ke kiri, dan tubuh
pancreas terletak diantara dua bagian ini, Ada kelompok sel
yang berbeda, disebut sebagai pulau langerhans, yang
menyusun pancreas, Kelompok sel tersebut temasuk sel-sel
beta, sel-sel gamma, sel-sel alfa, dan sel-sel delta. Masing-
masing ini memiliki fungsi dalam tubuh tertentu.
Sel alfa bertanggung jawab dalam memproduksi
glukagon, sedangkan sel beta penting dalam memproduksi
insulin. Glukagon mempertahankan jumlah glukosa diantara
waktu makan. Insulin memungkinkan glukosa yang akan
diambil oleh sel-sel yang berbeda didalam tubuh untuk
digunakan. Somatostatin, protein atau hormone yang
7

membantu mengatur system saraf dan system endokrin,


dilepaskan oleh sel-sel delta pancreas, serta oleh beberapa
sel-sel dari otak dan usus. Sel gamma berfungsi untuk
membantu dalam pengurangan nafsu makan.
[Link] Anatomi Fisiologi Kulit
Kulit merupakan pembungkus yang elastis yang
melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan kulit juga
merupakan alat tubuh yang terberat dan terluas ukurannya,
yaitu 15%dari berat tubuh dan luasnya 1,50-1,75 m2 . Rata-
rata tebal kulit 1-2 mm. paling tebal (6mm) terdapat di
telapak tangan dan kaki dan yang paling tipis (0,5mm)
terdapat di penis. Bagian-bagian kulit manusia sebagai
berikut :
a. Epidermis : Epidermis terbagi dalam empat bagian yaitu
lapisan basal atau stratum germinativium, lapisan malphigi
atau stratum spinosum, lapisan glanular atau stratum
gronulosum, lapisan tanduk atau stratum korneum.
Epidermis mengandung juga: kelenjar ekrin, kelenjar
apokrin, kelenjar sebaseus, rambut dan kuku. Kelenjar
keringat ada dua jenis, ekrin dan apokrin. Fungsinya
mengatur suhu, menyebabkan panas dilepaskan dengan
cara penguapan. Kelenjar ekrin terdapat disemua daerah
kulit, tetapi tidak terdapat diselaput lendir. Seluruhnya
berjulah antara 2 sampai 5 juta yang terbanyak ditelapak
tangan. Kelenjar apokrin adalah kelenjar keringat besar
yang bermuara ke folikel rambut, terdapat diketiak, daerah
anogenital. Puting susu dan areola. Kelenjar sebaseus
terdapat diseluruh tubuh, kecuali di telapak tangan, tapak
kaki dan punggung kaki. Terdapat banyak di kulit kepala,
muka, kening, dan dagu. Sekretnya berupa sebum dan
mengandung asam lemak, kolesterol dan zat lain.
8

b. Dermis : dermis atau korium merupakan lapisan bawah


epidermis dan diatas jaringan sukutan. Dermis terdiri dari
jaringan ikat yang dilapisan atas terjalin rapat (pars
papilaris), sedangkan dibagian bawah terjalin lebih
longgar (pars reticularis). Lapisan pars tetucularis
mengandung pembuluh darah, saraf, rambut, kelenjar
keringat dan kelenjar sebaseus.
c. Jaringan subkutan, merupakan lapisan yang langsung
dibawah dermis. Batas antara jaringan subkutan dan
dermis tidak tegas. Sel-sel yang terbanyak adalah limposit
yang menghasilkan banyak lemak. Jaringan sebkutan
mengandung saraf, pembuluh darah limfe. Kandungan
rambut dan di lapisan atas jaringan 9 subkutan terdapat
kelenjar keringan. Fungsi dari jaringan subkutan adalah
penyekat panas, bantalan terhadap trauma dan tempat
penumpukan energy.

Gambar 1. 2 Struktur Kulit Manusia


9

2.1.3 Etiologi
Menurut Nic Noc 2015 etiologi Diabetes Melitus dibagi menjadi 2 yaitu :
1. DM tipe 1
Diabetes yang tergantung insulin ditandai dengan penghancuran sel-
sel beta pancreas yang disebabkan oleh :
a. Faktor genetic penderita tidak mewarisi diabetes tipe itu sendiri,
tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetic
kearah terjadinya diabetes tipe 1.
b. Faktor imunologi (autoimun)
c. Faktor lingkungan : virus atau toksin tertentu dapat memicu proses
autoimun yang menimbulkan estruksi si beta.
2. DM tipe 2
Disebabkan oleh kegagalan relative sel beta dan resistensi insulin.
Faktor resiko yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes
tipe 2 :
a. usia
b. obesitas
c. riwayat dan keluarga
Hasil pemeriksaan glukosa darah 2 jam pasca pembedahan dibagi
menjadi 3 yaitu :
<140 mg/dl = normal
140-<200 mg/dl = toleransi glukosa terganggu
>200 mg/dl = diabetes

2.1.4 Patofisologi
Pasien diabetes mellitus mengalami resistensi insulin dan defisiensi
insulin relative, dan kemungkinan keduanya berkontribusi terhadap
diabetes tipe 2. Hiperglekemia dapat merusak fungsi sel-betapankreas
dan memperburuk resistensi insulin, mengarah disiklus hiperglekemia
yang menyebabkan keadaan metabolic yang memburuk. Diabetes tipe 2
sering disertai dengan kondisi lain, termasuk hipertensi, konsentrasi
kolesterol low-density lipoprotein (LDL) serum tinggi. Dan konsentrasi
10

kolesterol high-density lipoprotein (HDL) serum rendah, seperti


diabetes tipe 2 yang memningkatkan risiko kardiovaskuler. Konstelasi
kondisi klinis ini disebut sebagai sindrom metabolic. Hiperinsulinemia
yang terjadi sebagai respons terhadap resistensi insulin dapat menjadi
penyebab kelainan ini. Peningkatan kadar asam lemak bebas dan factor
oksidatif telah terlibat dalam pathogenesis sindrom metabolic, diabtes
tipe 2, dan komplikasi kardiovaskuler. (Ni Ketut Kardiyuni & Brigita
Ayu Dwi Susanti, 2018)
11

2.1.5 Pathway
Diabetes Melitus Tipe II

Umur

Penurunan Fungsi Indra Pengecap Penurunan Fungsi Ginjal

Konsumsi Makanan Manis Penurunan Kualitas


& Kuantitas
Berlebih insulin

Hiperglikemia

Kerusakan Vaskuler
Neuropati Perifer

ULKUS

Gangguan
Integritas Kulit

Pembedahan (Debridement)

Gangguan
Pengeluaran Histamin Adanya perlukaan pada kaki Mobilitas
Fisik
& Progestin
Luka Insisi tida terawat

Nyeri Akut
Peningkatan Leukosit
Sumber : (Muttaqin, 2008)
Resiko Infeksi
12

2.1.6 Klasifikasi
1. Klasifiksi klinis
2. Diabetes Militus
3. Tipe tergantung insulin (DM Tipe I) IDDM (insulin dependent
diabetes militus)
Disebabkan oleh distruksi sel beta pulau langerhans akibat proses autoimun.
 Tipe tidak tergantung pad insulin (DM Tipe II) NIDDM (non insulin
dependent diabetes militus)
Disebabkan oleh kegagalan sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin
adalah turunya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan
glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa
oleh hati (Kusuma, 2016)
 Diabetes Militus gastasional
Diabetes gastasional adalah Diabetes Militus yang terjadi pada kehamilan
dapat di diagnosa dengan menggunakan test toleran glukosa, terjadi
kira kir 24 minggu kehamilan, Diabetes Militus gastsional 25% akan
berkembang menjdi Diabetes Militus (Sudoyo, 2014)
 Klasifikasi Resiko Statistik
 Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa
 Berpotensi menderita kelainan glukosa (Kusuma, 2016)
 Klasifikasi kaki diabetik
Menurut Wagner Meggit klasifikasi gangren/kaki diabetik dibagi
menjadi enam tingkatan yaitu :
Derajat 0 : tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh kemungkinan
kelainan bentuk kaki seperti “claw, callus”
Derajat I : ulkus superfisial terbatas pada kulit
Derajat II : ulkum dalam menembus tendon tan tulang Derajat
III : abses dalam atau tanpa osteomielitis
Derajat IV : gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa
selulitis
13

Derajat V : gangren seluruh kaki.

Sedangkan Brand dan Ward membagi gangren kaki menjadi dua


golongan yaitu kaki diabetik akibat iskemia (KDI) yang disebabkan
penurunan aliran darah ke tungkai akibat adanya makroangiopati dari
pembuluh darah besar ditungkai dan kaki diabetik akibat neuropati
(KDN) yang terjadinya kerusakan syaraf somatikdan otonomik, tidak ada
gangguan dari sirkulasi. Klinis dijumpai kaki yang kering, hangat,
kesemutan, mati rasa dan odem kaki (Taqiyyah Bararah, 2013)

2.1.7 Manifestasi klinis


Menurut Rudi Haryono & Brigita Ayu dwi, 2019. Manifestasi
klinis yang sering kali dilaporkan pasien diabetes mellitus tipe 2 adalah
tanda-tanda dan gejala umum, dan kurang lebih memiliki manifestasi
klinis yang serupa dengan penderita diabetes mellitus tipe 1, yaitu :
a. Buang air kencing di malam hari dengan intensitas tinggi dalam
artian sering
b. Merasa haus dan lapar meski telah cukup minum dan makan
c. Merasa lelah meski sudah istirahat cukup
d. Gangguan penglihatan yang disebabkan oleh adanya perubahan
pada bentuk lensa di mata
e. Penurunan berat badan

Selain itu, ada beberapa gejala dan tanda-tanda lain yang sering
dilaporkan selain dari gejala tanda umum diatas, yaitu :

a) Luka yang sukar untuk sembuh


b) Tubuh mudah terserang infeksi
c) Merasa gatal-gatal
d) Perubahan pada mata seperti pandangan yang mulau kabur
e) Dan merasa kelelahan meski sudah memiliki waktu istirahat yang
cukup
14

Sementara ada beberapa kasus, dengan kadar gula darah yang


terus-menerus mengalami peningkatan hingga pasien mengalami
hiperglekimia, maka akan muncul tanda-tanda dan gejala lebih lanjut
seperti :
a) Mulut terasa kering
b) Selalu ingin minum meski merasa sudah cukup asupan cairannya
c) Kehilangan kesadaran atau pingsan
d) Hipotensi
e) Infeksi yang terus menerus kambuh, seperti ISK atau terserang
infeksi dimulut (sariawan)

2.1.8 Komplikasi
Meskipun komplikasi jangka panjang dari diabetes berkembang
secara bertahap, komplikasi bisa menyebabkan kecacatan permanen atau
bahkan mengancam jiwa. Beberapa komplikasi potensial diabetes
meliputi (Ni Ketut Kardiyudiani & Brigita Ayu Dwi Susanti 2018) :
1) Penyakit jantung dan pembuluh darah
2) Diabetes meningkatkan risiko berbagai masalah kardiovaskuler,
termasuk penyakit arteri koroner dengan nyeri dada (angina), serangan
jantung, stroke, penyempitan arteri (aterosklerosis), dan tekanan darah
tinggi.
3) Kerusakan saraf (neuropati)
4) Kelebihan gula dapat melukai dinding pembuluh darah kecil (kapiler)
terutama di kaki. Ini dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, rasa
trbakar atau rasa sakit yang biasanya dimulai diujung jari kaki dan
secara bertahap menyebar ketubuh bagian atas
5) Kerusakan ginjal (netropati). Ginjal mengandung jutaan kluster
pembuluh darah kecil yang menyaring limbah dari darah. Diabetes
dapat merusak system penyaringan tersebut.
6) Kerusakan mata. Diabetes dapat merusak pembuluh darah retina
(diabetic retinopathy), berpotensi menyebabkan kebutaan. Diabetes
juga meningkatkan risiko kondisi penglihatan serius lainnya seperti
katarak
15

7) Kerusakan kaki. Kerusakan saraf di kaki atau aliran darah yang buruk
ke kaki meningkatkan risiko berbagai komplikasi kaki. Jika tidak
diobati luka dan lecet bisa menjadi infeksi serius
8) Gangguan pendengaran. Masalah pendengaran lebih sering terjadi
pada penderita diabetes
9) Gangguan kulit. Diabetes dapat membuat seseorang lebih rentan
terhadap masalah kulit, termasuk infeksi bakteri dan jamur
10) Penyakit Alzheimer. Diabetes tipe 2 dapat meningkatkan reisiko
penyakit Alzheimer. Semakin buruk kendali gula darah, ssemakin
besar risikonya.

2.1.9 Pemeriksaan penunjang


Menurut Amin Huda Nuranif & Hardhi Kusuma (2015)
pemeriksaan penunjang pada pasien diabetes mellitus yaitu :
1. Kadar Glukosa Darah
Tabel : Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa dengan metode
enzimatik sebagai patokan penyaring Kadar Glukosa Darah Sewaktu
(mg/dl)
Kadar GlukosaDM Belum pati DM
Darah Sewaktu
Plasma Vena >200 100-200
Darah Kapiler >200 80-100

Kadar Glukosa Darah Puasa (mg/dl)

Kadar GlukosaDM Belum Pasti DM


Darah Puasa
Plasma Vena >120 110-120
Darah Kapiler >110 90-110
16

2. Kriteria diagnostic WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2


kali pemeriksaan :
a. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
b. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
c. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp)>200
mg/dl)
3. Tes laboratorium DM
Jenis tes pada pasien DM dapat berupa tes saring, tesdiagnostik, tes
pemantauan terapi dan tes untuk mendeteksikomplikasi.
4. Tes saring
Tes-tes saring pada DM adalah :
a. GDP, GDS
b. Tes Glukosa Urin:
a) Tes konvensional (metode reduksi/Benedict)
b) Tes carik celup (metode glucose oxidase/hexokinase
5. Tes diagnostic
Tes-tes diagnostic DM adalah : GDP, GDS, GD2PP (Glukosa Darah
2 jam post Prandial), Glukosa ke-2 TTGO
6. Tes monitoring terapi
Tes-tes monitoring terapi DM adalah :
a) GDP : plasma vena, darah pailer
b) GD2PP : plasma vena
c) A1c : darah vena, darah kapiler
7. Tes untuk mendeteksi komplikasi
Tes-tes untuk mendeteksi komplikasi adalah :
a) Mikroalbuminuria : urin
b) Ureum, Kreatinin, asam urat
c) Kolesterol total : plasma vena (puasa)
d) Kolesterol LDL : plasma vena (puasa)
e) Kolesterol HDL : plasma vena (puasa)
f) Trigliserida : plasma vena (puasa)
17

2.1.10 Pencegahan
Pencegahan pada penyakit DM dapat dibagi menjadi empat yaitu:
a. Pencegahan premordial
Adalah uapaya untuk memberikan kondisi pada masyarakat
yang memungkinkan penyakit tidak mendapat dukungan dari
kebiasaan, gaya hidup an faktor risiko lainnya. Pencegahan pada
penyakit DM ini misalnya menciptakan prakondisi dimana
masyarakat dapat merasa bahwa konsumsi makan kebarat-baratan itu
adalah pola makan yang kurang baik, pola hidup yang santai atau
kurang beraktifitas, dan obesitas adalah kurang baik bagi kesehatan.
b. Pencegahan primer
Upaya ini ditujukan pada orang yang termasuk risiko tinggi,
yaitu yang belum menderita DM tetapi berpotensi untuk menderita
DM diantaranya kelompok usia tua, kegemukan, hipertensi, riwayat
keluarga DM, riwayat kehamilan. Untuk pencegahan primer ini
mulai sejak dini harus telah ditanamkan pengertian tentang
pentingnya kegiatan jasamani teratur, pola dan jenis makanan yang
sehat, menjaga badan agar tidak terlalu gemuk dan risiko merokok
bagi kesehatan.
c. Pencegahan sekunder
Upaya ini mencegah dan menghambat timbulnya penyulit
dengan tindakan deteksi dini dan memberikan pengobatan sejak awal
penyakit. Pilar utama pengelolaan DM meliputi penyuluhan,
perencanaan makanan, latihan jasmani, obat berkhasiat
hipoglikemik.
d. Pencegahan tersier
Upaya untuk mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut dan
merehabilitasi pasien sedini mungkin sebelum kecacatan tersebut
terjadi. Pelayanan kesehatan yang holistik dan terintegrasi antar
disiplin terkait sangat diperlukan, terutama dirumah sakit rujukan
(Fatimah, 2015).
18

2.1.11 Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi Diabetes Melitus adalah mencobah
menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya
untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan
terapiutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa
darah normal. (Padila, 2012)
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan Diabetes :
a) Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari
penatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita
diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut :
1. Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin
dan mineral)
2. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
3. Memenuhi kebutuhan energy
4. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan
mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui
cara-cara yang aman dan praktis
5. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat
b) Latihan
Latihan dengan cara melawan tahanan dapat menambah laju
metabolism istirahat, dapat menurunkan BB, stress dan menyegarkan
tubuh. Latihan menghindari kemungkinan trauma pada ekstremitas
bawah, dan hindari latihan dalam udara yang sangat panas/dingin,
serta pada saat pengendalian metabolic buruk. Gunakan alas kaki
yang tepat pada periksa kaki setiap hari sesudah melakukan latihan
c) Pemantauan
Pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri
d) Terapi (jika diperlukan)
e) Pendidikan kesehatan
Pendidikan dalam diet makanan dan juga perawatan luka diabetic
(jika ada)
19

f) Obat hipoglekimia (OHO)


a) Sulfonilurea : obat golongan sulfonylurea bekerja dengan cara :
b) Menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan
c) Menurunkan ambang sekresi insulin.
d) Meningkatkan sekresi insulin. Sebagai akibat rangsangan glukosa
e) Biguanid : Menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai
dibawah norma
f) Inhibitor a glukosidase : Menghambat kerja enzim a glukosidase
didalam saluran cerna sehingga menurunkan penyerapan glukosa
dan menurunkan hiperglekemia pasca prandial
g) Insulin sensiting agent : Thoazahdine diones meningkatkan
sensitivitas insulin, sehingga bisa mengatasi masalah resistensi
insulin tanpa menyebabkan hipoglekemia, tetapi obat ini belum
beredar di Indonesia
h) Insulin :
Indikasi gangguan :
a. DM dengan berat badan menurun dengan cepat.
b. Ketoasidosis asidosis laktat dengan koma hiperosmolar
c. DM yang mengalami stress berat (infeksi sistemik, operasi berat
dll)
d. DM dengan kehamilan atau DM gastasional yang tidak
terkendali dalam pola makan
e. DM tidak berhasil dikelola dengan obat hipoglekemik oral
dengan dosis maksimal (kontradiksi dengan obat tersebut)
Insulin oral/suntikan dimulai dari dosis rendah, lalu dinaikkan
perlahan, sedikit demi sedikit sesuai dengan hasil pemeriksaan
gula darah pasien
20

2.1.12 Konsep dasar Gangguan Integritas Kulit pada pasien Diabetes


Melitus tipe 2
a. Pengertian gangguan integritas kulit
Kerusakan kulit (dermis dan/atau epidermis) atau jaringan
(membrane mukosa, kornea, fasta, otot, tendon, tulang kartilgo,
kapsul sendi dan/atau ligament) (SDKI, PPNI, 2017)
b. Data mayor dan minor Gangguan Integritas Kulit
Data mayor dan minor pada pasien dengan diagnose
keperawatan gangguan integritas kulitsesuai dengan standar
diagnose keperawatan Indonesia. (SDKI, 2017) adalah seperti table
berikutnya.
Tabel 2.1.12
Tanda Mayor Tanda Minor
Subjektif Subjektif
(Tidak Tersedia) (Tidak Tersedia)

Objektif Objektif
1. Kerusakan jaringan 1. Nyeri
dan atau lapisan 2. Perdarahan
kulit. 3. Kemerahan
4. Hematoma

c. Faktor Penyebab Gangguan Integritas Kulit


Menurut (SDKI,2017) Penyebab terjadinya gangguan
integritas kulit yaitu:
1. Perubahan sirkulasi
2. Perubahan status nutrisi (kelebihan atau kekurangan)
3. Kekurangan/kelebihan volume cairan
4. Bahan kimia iritatif
5. Penurunan mobilitas
6. Suhu lingkungan yang ekstrem
21

7. Fkator mekanis (mis. Penekanan pada tonjolan tulang, gesekan)


atau factor elektris (elektrodiatermi, energi listrik bertegangan
tinggi)
8. Efek samping terapi radiasi
9. Kelembaban
10. Proses penuaan
11. Neuropati perifer
12. Perubahan pigmentasi
13. Perubahan hotmonal
14. Kurang terpapar informasi tentang upaya mempertahankan /
melindungi integritas jaringan.
22

2.2. Konsep Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus


2.2.1 Asuhan keperawatan
[Link] Pengkajian
Menurut Rudi Haryono & Brigitta Ayu Dwi Susanti
(2019) Pengkajian merupakan tahapan dasar yang paling
utama, serta menjadi bagian awal dari sebuah proses
keperawatan. Dalam pengkajian dibutuhkan ketelitian dalam
bertanya dan mencatat datanya, sebab dengan mengumpulkan
data yang akurat, serta sistematis, akan sangat membantu untuk
menentukan status kesehatan. Pola pertahanan pasien dari
berbagai penyakit yang menderita dirinya juga akan semakin
terbaca.
Proses pengkajian ini juga dapat memetakan serta
mengantisipasi berbagai kekuatan, pertahanan serta kelemahan
yang ada pada pasien. Selain itu, pengkajian ini juga dapat
membantu dalam perawat menurumuska diagnosis
keperawatan yang sesuai. Pada pasien Diabetes Melitus tipe 2
pengkajian data dasar pasien meliputi :
a. Keluhan Utama
Pada bagian ini perawat meninjau kembali
kesehatan pasien. Perawat juga meninjau kembali berbagai
indicator yang dapat memungkinkan terjadinya penyakit
DM.
b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Tahap ini, perawat akan mengkaji riwayat penyakit
yang pernah dialami pasien di masa dulu, yang
memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Bagian pengkajian pengkajian riwayat keluarga juga
tidak kalah penting untuk dilakukannya pengkajian yang
akan mendukung riwayat kesehatan pasien karena tahap ini
23

masih sangat erat dengan kemungkinan adanya penyebab


diabetes mellitus tipe 2 adalah factor keturunan.
d. Pola Aktivitas
1. Gejala : lemah, letih, sulit bergerak, hingga sulit berjalan
serta terjadi kram otot, tonus menurun
2. Tanda : Takikardia dan takipnea ketika beraktivitas,
letargi/disorientasi, penurunan kekuatan otot
e. Pola Istirahat
1. Gejala : gangguan tidur/istirahat
2. Tanda : Takikardia dan takipnes pada keadaan istirahat
f. Pola Sirkulasi
1. Gejala : Adanya riwayat hipertensi, MCI, kesemutan
pada ekstremitas, ulkus pada kaki, dan penyembuhan
luka atau penyait yang lama
2. Tanda : Takikardia, hipertensi, nadi yang menurun, kulit
terasa panas, kering, dan kemerahan, bola mata cekung.
g. Pola Eliminasi
1. Gejala : perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia,
rasa nyeri/terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK,
baru/berulang, nyeri saat abdomen ditekan, diare
2. Tanda : Urine encer, pucat, kuning, poliuria (dapat
berkembang menjadi oliguria/anuria jika terjadi
hipovolemiaberat), urine berkabut dan berbau busuk
(terjadi infeksi), abdomen keras, adanya asites, bising
usus lemah dan menurun, hiperaktif (diare)
h. Pola Asupan Nutrisi dan Cairan
1. Gejala : nafsu makan hilang, mual muntah, tidak
mengikuti diet, peningkatan masukan
glukosa/karbohidrat, penurunan berat badan dari periode
beberapa hari/minggu, haus berlebihan, penggunaan
diuretic (tiazid)
24

2. Tanda : Kulit kering/bersisik, turgor terlihat jelek,


pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolic
dengan peningkatan gula darah), kekakuan/distensi
abdomen, munta, bau halitosis, bau buah (napas aseton)
i. Pernapasan
1. Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk
dengan/tanpasputum. Bisa karena adanya infeksi atau
tidak.
2. Tanda : Lapar udara, atau kekurangan udara, batuk
dengan/tanpa sputum purulen (infeksi), frekuensi
pernapasan yang tidak teratur

2.2.2 Diagnosa keperawatan


Diagnosis keperawatan merupakan suatu penilaian klinis
mengenai respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses
kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung actual maupun
potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi
respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang
berkaitan dengan kesehatan. (SDKI, PPNI, 2017)
1. Gangguan Integritas Kulit (D.0129)
2. Nyeri akut (D.0077)
3. Resiko Infeksi (D.0142)
4. Gangguan mobilitas fisik (D.0054)
25

2.2.3 Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi SIKI


keperawatan SLKI
1 Gangguan Setelah dilakukanPerawatan luka
Integritas tindakan keperawatan Observasi :
jaringan/kulit 3x24 jam diharapkan a) Monitor karakteristik
(D.0129) Integritas kulit luka (missal drainase,
meningkat dengan warna, ukuran, bau)
criteria hasil : b) Monitor tanda-tanda
a. Elastis Meningkat infeksi
b. Hidrasi meningkat
c. Perfusi jaringanTerapiutik
meningkat a) Lepaskan balutan dan
d. Nyeri menurun plester secara perlahan.
e. Perdarahan b) Cukur rambut di sekitar
menurun daerah luka, jika perlu
f. Kemerahan c) Bersihkan dengan cairan
menurun NaCl atau pembersih
g. Hematoma nontoksik, sesuai
menurun kebutuhan.
h. Pigmentasi d) Bersihkan jaringan
abnormal menurun nekrotik.
i. Jaringan parut e) Berikan salep yang
menurun sesuai ke kulit/lesi, jika
j. Nekrosis menurun perlu
k. Abrasi komea f) Pasang balutan sesuai
menurun jenis luka
l. Suhu kulit g) Pertahankan teknik steril
membaik saat melakukan
m. Sensasi membaik perawatan luka
n. Tekstur membaik h) Ganti balutan sesuai
26

o. Pertumbuhan jumlah eksudat dan


raambut membaik drainase
i) Jadwalkan perubahan
posisi setiap 2 jam atau
sesuai kondisi pasien
j) Berikan diet dengan
kalori 30-35 kkal/kg
BB/hari dan protein
1,25-1,5 g/kgBB/hari
k) Berikan suplemen
vitamin dan mineral
(mis. Vitamin A, vitamin
C, Zinc, asam amino),
sesuai indikasi
l) Berikan terapi TENS
(stimulasi saraf
transkutaneous), jika
perlu

Edukasi
a) Jelaskan tanda dan gejala
infeksi
b) Anjurkan mengkonsumsi
makanan tinggi kalori
dan protein
c) Ajarkan prosedur
perawatan luka secara
mandiri
d)
Kolaborasi
a) Kolaborasi prosedur
debridement (mis.
27

Enzimatik, biologis,
mekanis) jika perlu
b) Kolaborasi pemberian
antobiotik, jika perlu

2.2.4 Implementasi

Implementasi adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai


tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi
pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respons klien selama
dan sesudah pelaksanaan tindakan, serta menilali data yang baru.
Tindakan keperawatan mencakup tindakan mandiri (independen) dan
tindakan kolaborasi. Tindakan mandiri (independen) adalah aktivitas
perawat yang didasarkan pada kesimpulan atau keputusan sendiri dan
bukan merupakan petunjuk atau perintah dari petugas kesehatan lain
sedangkan tindakan kolaborasi adalah tindakan yang didasarkan hasil
keputusan bersama, seperti dokter dan petugas kesehatan lain (Rohmah
& Walid, 2016).
Implementasi (tindakan) keperawatan terdiri dari observasi,
teraupetik, edukasi dan kolaborasi (PPNI, 2018).

2.2.5 Evaluasi
Evaluasi adalah sebuah tahap akhir dalam melakukan proses
keperawatan untuk dapat menentukan keberhasilan dalam asuhan
keperawatan. Evaluasi pada dasarnya membandingkan status keadaan
kesehatan pasien dengan tujuan atau kriteria yang telah ditetapkan
(Tarwoto & Wartonah, 2015). Perawat harus mempunyai pengetahuan
dan kemampuan dalam melakukan dan memahami respon terhadap
intervensi keperawatan, kemampuan dalam menggambarkan tindakan
keperawatan pada kriteria hasil
28

2.3 Implementasi keparawatan luka pada pasien diabetes mellitus tipe 2


2.3.1 perawatan luka
Pengertian : Mengidentifikasi dan meningkatkan penyembuhan luka
serta mencegah terjadinya komplikasi luka (SIKI, PPNI, 2018)
Tujuan : a) Mencegah masuknya kuman dan kotoran ke dalam luka
b) Memberi pengobatan pada luka
c) Memberikan rasa aman dan nyaman pada pasien
d) Mengevalusi tingkat kesembuhan luka
2.3.2 Metode
Tindakan
Observasi :
a) Monitor karakteristik luka (missal, drainase, warna, ukuran, bau)
b) Monitor tanda-tanda
infeksi Terapiutik :
a) Lepaskan balutan dan plester secara perlahan
b) Bersihkan dengan cairan Nacl atau pembersih nontoksik, sesuai
kebutuhan
c) Bersihkan jaringan nekrotik
d) Pasang balutan sesuai jenis luka
e) Pertahankan teknik steril saat melakukan perawatan
luka Edukasi :
a) Jelaskan tanda dan gejala infeksi
b) Anjurkan mengkonsumsi makanan tinggi kalori dan protein
c) Ajarkan prosedur perawatan luka secara mandiri
29

2.3.3 SOP Perawatan Luka


STANDAR
OPERASIONAL PERAWATAN LUKA
PROSEDUR
Pengertian Mengidentifikasi dan meningkatkan penyembuhan
luka serta mencegagah terjadinya komplikasi luka
Tujuan a. Mencegah infeksi
b. Membantu penyembuhan luka
Indikasi Pasien yang luka baru maupun luka lama, luka post
oprasi, luka bersih dan luka kotor
Petugas Perawat
Peralatan a) Bak instrumen yang berisi
1) Pinset anatomis
2) Pinset chirugis
3) Gunting debridemand / gunting jaringan
4) Kassa steril
5) Kom kecil 3 buah
6) Peralatan lain terdiri dari :
1. Sarung tangan
2. Gunting plester
3. Plester
4. Alkohol 70% atau wash bensin
5. Desinfektan (Bethadin)
6. Cairan NaCl 0,9%
7. Bengkok
8. Perlak/ pengalas
9. Verband
10. Obat luka sesuai kebutuhan
a) Tahap Pra Interaksi
1) Cek catatan keperawatan
2) Mencuci tangan
3) Menempatkan alat di dekat pasien dengan
30

benar
b) Tahap orientasi
1) Berikan salam, panggil klien dengan
namanya
2) Jelaskan tujuan, prosedur dan lamanya
tindakan pada klien dan keluarga
3) Menanyakan kesiapan klien sebelum
dilakukan tindakan
c) Tahap Kerja
1) Dekatkan alat-alat dengan klien
2) Menjaga privacy pasien
3) Mengatur posisi pasien sesuai kebutuhan
4) Pasang perlak / pengalas di bawah daerah
luka
5) Membuka peralatan
6) Memakai sarung tangan
7) Basahi kasa dengan bethadin kemudian
dengan menggunakan pinset bersih area
sekitar luka bagian luar sampai bersih dari
kotoran
8) Basahi kasa dengan cairan NaCl 0,9%
kemudian dengan menggunakan pinset
bersihkan area luka bagian dalam. (gunakan
tehnik usapan dari atas ke bawah)
9) Keringkan daerah luka dan pastikan area
daerah luka bersih dari kotoran
10) Beri obat luka sesuai kebutuhan jika perlu
11) Pasang kasa steril pada area luka sampai
tepi luka
12) Fiksasi balutan menggunakan plester atau
balutan verband sesuai kebutuhan
13) Mengatur posisi pasien seperti semula
31

14) Alat-alat dibereskan


15) Buka sering tangan
d) Tahap Terminasi
1) Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan
2) Berpamitan dengan klien
3) Membereskan alat-alat
4) Mencuci tangan
5) Mencatat kegiatan dalam lembar/catatan
keperawatan
(Nurrukhmah wiakidah, n.d.)
BAB III
METODELOGI STUDI KASUS

3.1 Rancangan Studi Kasus


Desain studi kasus ini adalah deskriptif analitik dalam bentuk studi kasus
untuk mengeksplorasi masalah implementasi keperawatan pada pasien
diabetes mellitus dengan masalah gangguan integritas kulit. Pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian,
diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta
dokumentasi.

3.2 Kerangka Studi Kasus Hasil kajian yang


Menggambarkan Masalah
Pengkajian Keperawatan
Gangguan Integritas kulit

Diagnosis Keperawatan Pasien DM Tipe 2 dengan


gangguan integritas kulit

Melepaskan balutan plester


Rencana Keperawatan secara perlahan
Bersihkan dengan cairan NaCl
atau pembersih nentoksi, sesuai
kebutuhan
Bersihkan jaringan Nekrotik

Melepaskan balutan plaster


Pelaksanaan Keperawatan secara perlahan
Membersihkan dengan cairan
NaCl atau pembersih nontoksi,
sesuai kebutuhan
Mmebersihkan jaringan
nekrotik

32
33

Evaluasi Keperawatan Hasil Implementasi


Gangguan integritas kulit

Fokus Studi Kasus

3.3 Definisi Istilah


a) Diabetes tipe 2 adalah kondisi ketika kadar gula darah melebihi nilai
normal akibat resistensi insulin. Diabetes tipe II merupakan jenis diabetes
yang paling sering terjadi. Kondisi yang berlangsung dalam jangka panjang
ini lebih sering dialami oleh orang dewasa.
b) Gangguan integritas kulit adalah kerusakan kulit (dermis dan
atau/epidermis) atau jaringan (membrane mukosa, kornea, fasia, otot,
tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi dan/atau ligament)
c) Perawatan luka adalah Mengidentifikasi dan meningkatkan penyembuhan
luka serta mencegah terjadinya komplikasi luka

3.4 Subyek Studi Kasus


Subyek studi kasus pasien Diabetes Melitus Tipe II dengan masalah
Gangguan Integritas Kulit di RSUD Lahat
Adapun subyek studi kasus adalah berjumlah dua orang dengan kriteria
sebagai berikut :
1. Kriteria Inklusi .
a) Pasien DM dengan luka ganggren
b) Pada pasien DM usia Dewasa
2. Kriteria Eksklusi
a. Pasien yag memerlukan penanganan khusus dan tidak bersedia menjadi
responden
b. Pasien diabetes mellitus yang mempunyai komplikasi yang berat
c. Pasien diabetes mellitus dengan masalah gangguan integritas kulit yang
tidak bersedia menjadi responden
34

3.5 Fokus Studi Kasus

Fokus studi kasus ini adalah penerapan implementasi keperawatan


luka dengan masalah gangguan integritas kulit pada pasien yang memiliki
penyakit Diabetes Melitus tipe II

3.6 Tempat dan Waktu Studi Kasus

Studi kasus ini dilakukan diruang zaal Bedah RSUD Lahat Tahun
2022. Pada kasus 1 penelitian dilakukan pada tanggal 14-16 maret 2022,
da pada kasus 2 penelitian dilakukan pada tanggal 20-22 maret 2022.
Lama waktu penelitian yaitu minimal selama 3 hari.
3.7 Instrumen dan Metode Pengumpulan Data
3.7.1 Instrumen
Alat atau instrument pengumpulan data yang digunakan dalam
studi kasus ini adalah format pengkajian asuhan keperawatan, yang
meliputi pengkajian keperawatan, diagnose keperawatan, intervensi
keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan.
3.7.2 Metode pengumpulan data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data studi kasus ini adalah :
a) Observasi dan pemeriksaan fisik yaitu dengan pendekatan IPPA
(Inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
b) Wawancara yaitu pengumulan data menggunakan Format
Pengkajian (terlampir) berisi tentang identitas utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit
keluarga, sedangkan sumber data di dapatkan dari pasien, keluarga,
dan perawat di rumah sakit
c) Studi dokumentasi kesehatan pada pasien dan hasil dari pemeriksaan
diagnostic.
35

3.8 Analisis dan Penyajian data


3.8.1 Analisis Data
Analisis data adalah suatu metode atau cara untuk mengolah
sebuah data menjadi informasi sehingga karakteristikdata tersebut
mudah untuk dipahami. Dalam studi kasus ini terdapat dua jenis data
yakni data subjek dan data objektif. Data subjektif dianalisis
berdasarkan apa yang ditemukan peneliti pada klien. Sedangkan data
objektif dianalisis berdasarkan hasil pemeriksaan diagnostic kemudian
dibandingkan dengan nilai normal.
3.8.2 Penyajian data
Teknik penyajian data merupakan cara bagaimana untuk
menyajikan data sebaik-baiknya agar mudah dipahami oleh pembaca.
Untuk studi kasus ini data disajikan secara narasi yang disertai
dengan ungkapan verbal dari pasien sebagai data pendukungnya.
Kerahasiaan dari responden dimjamin dengan jalan mengaburkan
identitas dari responden.

3.9 Etika Studi Kasus


Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang sangat penting
dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan akan berhubungan
langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan
karena manusia mempuntai hak asasi dalam kegiatan penelitian. Masalah
etika yang perlu diperhatikan antara lain :
a. Informed consent
Diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan
lembar persetujuan. Persetujuan bahwa bersedia untuk menjadi
responden, tujuan informes consent adalah supaya subjek mengerti
maksud dan tujuan dari peneliti, dan untuk mengetahui dampaknya
b. Anonimity
Penulis memberikan jaminan tersebut diberikan dengan cara tidak
memberikan atau mencamtumkan nama, alamat (identitas diri) responden
pada lembar alat ukur dan asuhan keperawatan serta hanya menulis kode
36

pada lembar pengumpulan data atau haril penelitian yang telah disajikan
pleh penulis
c. Confidentiality
Semua data informasi yang telah dikumpulkan dijamin
kerahasiaanya oleh penulis hanya kelompok data tertentu saja yang akan
dilaporkan pada hasil riset penelitian serta memenuhi hak pasien yaitu
menjaga dan tidak menyebarluaskan privasi responden.
BAB IV
HASIL STUDI KASUS

4.1 Profil Rumah Sakit Umum Daerah Lahat


4.1.1 Sejarah Singkat
Rumah Sakit Umum Daerah Lahat didirikan pada Tahun 1919
oleh Belanda, berasal dari penyediaan barak P3K untuk tenaga kerja
yang membuat terowongan kereta api antara Kota Lahat dan Kota
Tebing Tinggi. Bangunanya masih berupa barak tersebut kemudian
berkembang setelah beberapa tenaga kesehatan Belanda dan orang
Indonesia turut membantu masalah kesehatan dan kecelakaan kerja
yang terjadi dalam masa pembuatan terowongan. Seluruh bangunan
barak tersebut sekarang ini sudah di renovasi untuk keperluan fasilitas
pelayanan terhadap masyarakat. Tahun 1919 sampai dengan Tahun
1992, RSUD Lahat masih berstatus kelas D, dan kemudian baru pada
Tahun 1993 RSUD Lahat ditingkatkan menjadi kelas C dengan luas
daerah Kabupaten Lahat mencapai 7.125.93 km2. Peran RSUD Lahat
dalam menanggulangi masalah kesehatan pada tahun tahun mendatang
akan lebih luas dan kompleks. Untuk itulah peningkatan kemampuan
kualitas dan pelayanan kesehatan dan kualitas pelayanan kesehatan di
RSUD Lahat saat menjadi perhatian dan prioritas kita bersama.
4.1.2 Motto
Anda sehat kami bangga. Ramahlah, satu langkah, satu
senyuman. Kreatiflah, satu langkah, satu ide langsung action.

4.1.3 Visi Dan Misi


a. Visi
Mampu memberikan pelayanan kesehatan terbaik, terpadu dan
berdaya saing tinggi bagi seluruh lapisan organisasi tersebut.
b. Misi
1. Mewujudkan RSUD Lahat sebagai pusat rujukan pelayanan
kesehatan di Kabupaten Lahat.

37
38

2. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang prima demi


terciptanya kepuyang prima demi terciptanya kepuasan
pelanggan.
3. Mewujudkan sumber daya manusia yang professional.
4. Mengembangkan sarana dan prasarana yang canggih sesuai
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
4.1.4 Jajaran Direksi Rumah Sakit Umum Daerah Lahat
a. Direktur : [Link]
4.1.5 Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Fasilitas dan pelayanan
1. Ambulans
2. Instalasi Gawat Darurat
3. Farmasi/Apotik
4. Bank Darah
5. Ruang Operasi
6. Instalasi Gizi
7. Bidan Dan Perawat
8. Dokter
Umum Penunjang
Medis
1. Laboratorium (patologik klinik)
2. Radiologi (Rontgen)
3. Ultrasonografi (USG)
4. Elektrokardiologram (EKG)
5. Fisioterapi
Rawat Jalan
Poliklinik umum dan poliklinik spesialis memberikan
pelayanan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Berikut ini
merupakan daftar layanan poli yang ada di RSUD Lahat :
1. Spesialis Penyakit Dalam
2. Spesialis Kebidanan Dan Kandungan
3. Spesialis Anak
4. Spesialis Bedah
39

5. Spesialis Jantung Dan Pembuluh Darah


6. Spesialis Mata
7. Spesialis THT
8. Spesialis Paru
9. Spesialis Saraf
10. Spesialis Penyakit Kulit Dan Kelamin
11. Klinik Gigi
Rawat Inap
Pasien
1) Perawat Khusus Dan Intensif
- ICU
- Ruang Isolasi
2. Perawatan Umum
1 Ruang Perawatan Kelas Super VIP
2 Ruang Perawatan Kelass VIP
3 Ruang Perawatan Kelas I
4 Ruang Perawatan Kelas II
5 Ruang Perawatan Kelas III

4.2 Karakteristik Subyek Penelitian


Pasien pertama yang menjadi responden penelitian adalah Ny S dengan
nomor rekam medis 190021 yang berjenis kelamin Perempuan dan lahir pada
tanggal 10 Juli 1972. Ny S tinggal bersama suami dan anaknya dan sekarang
bertempat tinggal di desa Tanjung Telang. Agama yang dianut Ny S adalah
agama islam. Ny S masuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Lahat pada tanggal
13 Maret 2022 20:00 WIB dengan diagnosa klinis Gangguan Integritas Kulit
Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Pengkajian pada Ny S dilakukan pada
tanggal 14 Maret 2022 di ruang anggrek.
Pasien kedua yang menjadi responden penelitian adalah Ny.A dengan
nomor rekam medis 155994 yang berjenis kelamin perempuan dan lahir pada
tanggal 07 Juli 1967. Ny.A tinggal bersama suaminya dan anaknya sekarang
bertempat tinggal di desa Suka Marga. Ny.A bekerja sebagai IRT. Agama
yang dianut Ny.A adalah agama islam. Ny.A masuk ke rumah sakit umum
daerah lahat pada tanggal 19 Maret 2022 17:00 WIB dengan diagnosa klinis
40

Gangguan integritas kulit pada pasien Diabetes Melitus tipe 2. Pengkajian


pada Ny.A dilakukan pada tanggal 20 Maret 2022 di ruang Flamboyan.

4.3 Asuhan Keperawaan Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II


4.3.1 Pengkajian
a. Identitas Pasien
Tabel 4.1 identitas pasien I dan pasien II
Identitas Kasus 1 Kasus 2
Pasien
Nama Ny. S Ny. A
Umur 50 tahun 55 tahun
Agama Islam Islam
Pendidikan SMA SMP
Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Ibu Rumah Tangga
Alamat Desa Tanjung telang Desa Suka marga

Suku/Bangsa Indonesia Indonesia


Tanggal MRS 13 Maret 2022 Pukul 19 Maret 2022
11.00 WIB Pukul 10.00 WIB

Tanggal 14 Maret 2022 Pukul 20 Maret 2022


Pengkajian 11.30 WIB Pukul 17.00 WIB
No. Registrasi 19-00-21 15-59-94
Diagnosa Medis DM Tipe II (Ganggren) DM Tipe II
(Ganggren)
Nama Suami Tn. G Tn. R
Umur 52 tahun 55 tahun
Agama Islam Islam

Pendidikan SMA SD
Pekerjaan Wirausaha Wirausaha
Alamat Desa Tanjung Telang Desa Suka Marga
Suku/Bangsa Indonesia Indonesia
41

b. Hasil Anamnesis

Tabel 4.2 Hasil anamnesis


No Hasil P1 P2
Pemeriks Ny S Ny A
aan
1 Keluhan Saat masuk rumah Saat masuk rumah
Utama sakit : sakit :
Ny S mengeluh luka Ny A Mengeluh luka
di kaki kanannya yang di kaki kiri yang tidak
tidak kunjung sembuh sembuh ± 14 hari,
±1 bulan luka juga terdapat pus
bengkak, dan terasa
nyeri, terdapat pus

Saat Pengkajian : Saat Pengkajian :


Ny S mengatakan Ny. A
memiliki luka di mengatakan luka di
bagian jari kaki yang kaki kirinya yang
tidak kunjung sembuh tidak sembuh-
di kaki kanan nya, sembuh dan badan
badan terasa lemas, terasa lemas, luka juga
nafsu makan terasa nyeri, luka
berkurang, luka terasa terlihat masih basah
nyeri, terdapat pus
sudah ada jaringan
nekrotik dan
kemerahan, luka
terlihat masih basah

2 Riwayat Riwayat Kesehatan Riwayat Kesehatan


Kesehata Dahulu : Dahulu :
n pasien memiliki pasien memiliki
penyakit DM sejak 5 penyakit DM sejak 2
tahun yang lalu tahun yang lalu
3 Riwayat Riwayat Psikososial: Riwayat psikososisal:
psikososi saat dilakukan saat dilakukan
al dan wawancara, pasien wawancara, pasien
spiritual tampak tertidur, dan keluarganya
keluarga pasien kooperatif. Pasien
kooperatif dapat berinteraksi
dengan keluarga,
perawat, dokter dan
lainnya.

Riwayat spiritual: Riwayat spiritual:


42

Ny S beragama islam,
islam, kegiatan ibadah
selama dirumah sakit
pasien sebelum sakit
umum daerah lahat Ny
adalah sholat dan
S hanya bisa berdoa di
berdoa dan selama di
tempat tidur saja. rumah sakit pasien
hanya berdoa di
tempat tidur
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui hasil dari anamnesa
pasien 1 dengan keluhan yang dirasakan sekarang yaitu nyeri, dan
bengkak di area luka. Pasien 1 mengatakan sebelum sakit memiliki
kebiasaan minum teh manis dan susu dan jarang minum air putih
sehingga kadar gula darah pasien meningkat.
Sedangkan hasil anamnesa pada pasien 2 sudah memiliki
riwayat penyakit Diabetes Mellitus tipe II sejak ±2 tahun yang lalu,
masuk ke RSUD Lahat dengan keluhan yang dirasakan nyeri, bengkak
area luka, karakteristik luka basah.

c. Pola aktivitas

Tabel 4.3 Pola Aktivitas Sehari-hari


No Pola Aktivitas Pasien 1 Pasien 2
1 Pola Nutrisi Sebelum sakit Sebelum sakit
makan 3x sehari makan 3x sehari
dengan lauk-pauk dengan lauk-pauk
habis 1 porsi dan habis 1 porsi dan
minum 5-6 gelas minum 3-5 gelas
sehari sehari
Selama sakit makan Selama sakit
3x sehari 3-4 makan 3x sehari 3
sendok,tidak habis sendok, tidak
dan minum 5-7 gelas habis dan minum
sehari 5-6 gelas sehari.
2 Pola Eliminasi Sebelum sakit BAK Sebelum sakit
6-7 kali sehari, BAK 5-6 kali
berwarna kuning sehari, berwarna
jernih dan BAB 1x kuning jernih dan
sehari, berbau khas, BAB 1x sehari,
konsistensi lunak berbau khas,
Selama sakit BAK konsistensi lunak
menggunakan Selama sakit
Pempers dan BAB BAK
1x sehari, berbau menggunakan
43

khas,konsistensi Pempers dan


lunak BAB 1x sehari,
berbau
khas,konsistensi
lunak
3 Pola Sebelum sakit tidur Sebelum sakit
Istirahat/Tidur siang 1 jam sehari tidak pernah tidur
dan tidur malam 5-7 siang dan tidur
jam sehari malam 6-7 jam
Selama sakit tidur sehari
siang 2-4 jam sehari Selama sakit
dan tidur malam 1-2 tidur siang 2-3
jam sehari jam sehari dan
tidur malam 2-4
jam sehari
4 Personal Sebelum sakit Sebelum sakit
Hygiene mandi 2x sehari, mandi 2x sehari,
Ganti Pakaian 2x Ganti Pakaian 2x
sehari dan Oral sehari dan Oral
Hyegiene 2x sehari Hyegiene 2x
Selama sakit mandi sehari
2x sehari hanya di Selama sakit
lap, Ganti pakain 2x mandi 2x sehari
sehari dan Oral hanya di lap,
Hygiene 1x sehari Ganti pakain 2x
sehari dan Oral
Hygiene 1x sehari
5 Aktivitas fisik
ADL dibantu ADL dibantu
keluarga keluarga
6 Komunikasi Verbal dan Verbal dan
Koopertif Kooperatif
Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui bahwa selama sakit aktivitas
P1 dan P2 dibantu oleh keluarga, setelah sakit terdapat perubahan
pada pola makan pasien, yaitu menurunya nafsu makan pasien
dimana ketika pasien sakit ia hanya menghabiskan 3-4 sendok dari
porsi makannya.
44

d. Pemeriksaan Fisik
Tabel 4.4 Hasil Pemeriksaan Fisik
No Jenis Pasien 1 Pasien 2
1 Keadaan Kesadaran: Kesadaran:
umum Composmentis Composmentis
KU: Lemah KU: Lemah
TD: 120/90 mmHg TD: 100/90 mmHg
S : 36ºC S : 36,ºC
N: 90x/menit N: 90x/menit
RR: 20x/menit RR: 22x/menit
2 Kepala Bentuk kepala bulat, Bentuk kepala bulat,
tidak ada lesi tidak ada lesi
3 Rambut Berwarna hitam, Berwarna hitam,
lurus, pendek, lurus, pendek,
kebersihan cukup kebersihan cukup
4 Mata Bentuk simetris, Bentuk simetris,
konjungtiva anemis, konjungtiva anemis,
fungsi penglihatan fungsi penglihatan
baik, pupil isokor baik, pupil isokor
5 Wajah Bentuk simetris, Bentuk simetris,
tidak ada lesi dan tidak ada lesi dan
tidak ada edema tidak ada edema
6 Hidung Bentuk simetris, Bentuk simetris,
penciuman baik, penciuman baik,
tidak ada secret tidak ada secret
7 Mulut Bentuk simetris, Bentuk simetris,
Kebersihan cukup Kebersihan cukup
9 Gigi Tidak memakai gigi Tidak memakai gigi
palsu, ada caries palsu, ada caries gigi,
gigi, kebersihan kebersihan cukup
cukup
10 Tenggoroka Tidak ada Tidak ada
n pembesaran pada pembesaran pada
tonsil, tidak sakit tonsil, tidak sakit saat
saat menelan menelan
11 Leher Simetris, tidak ada Simetris, tidak ada
pembesaran kelenjar pembesaran kelenjar
tiroid tiroid
12 Dada a. Paru a. Paru
Inspeksi : simetris Inspeksi
Palpasi : Nyeri : simetris
dada (-) Palpasi : Nyeri
Perkus : sonor dada (-)
Auskultasi : tidak Perkusi : sonor
ada ronchi Auskultasi : tidak
b. Jantung : HR : ada ronchi
90x/menit b. Jantung :
45

90x/menit
13 Integument Warna kulit sawo Warna kulit putih,
matang, kulit kulit keriput,
keriput, kebersihan kebersihan cukup.
cukup. Kulit sekitar Kulit sekitar luka
luka berwarna merah berwarna merah
kehitaman dan kehitaman dan
bengkak. Letak luka bengkak. Letak luka
berada di berada di ekstremitas
ekstremitas Kanan kiri bawah, panjang
bawah, panjang sekitar 5-6 cm,
sekitar 5-6 cm, tampak di perban
tampak di perban
Ukuran luka:
Panjang 3cm, lebar 2
cm, luas 6 cm2. Ada
nyeri tekan terdapat
pus.
14 Ekstremitas Akral hangat, Akral hangat,
bengkak Terdapat bengkak Terdapat
luka pada kaki luka pada kaki
sebelah kanan sebelah kiri
15 Genetalia Tidak ada masalah Tidak ada masalah
16 Persyarafan Kekuatan otot Kekuatan otot
Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui dapat diketahui bahwa
Keadaan umum Kedua Pasien lemah, Ny.S (Pasien 1) memiliki
tekanan darah yaitu 120/90 mmHg, frekuensi nadi 90x/menit,
frekuensi pernafasan 20x/menit.

Sedangkan Ny.N (Pasien 2) memiliki tekanan darah


100/90mmHg, frekuensi nadi 90x/menit, frekuensi pernafasan
22x/menit,. Pada pemeriksaan head to toe yang dikaji dari ke dua
pasien dapat disimpulkan bahwa pada umumnya kondisi kedua
pasien baik, hanya saja pada konjungtiva kedua pasien tampak
anemis, integument tampak merah dan bengkak.
46

e. Pemeriksaan penunjang
Tabel 4.5 Pemeriksaan penunjang
Pasien Jenis Konvensional Nilai
Pemeriksaan Rujukan/
Hasil Satuan Normal
Pasien HEMATOLOGI
1 Hemoglobin 14,1 g/dL 15-24
Hematokrit 37,8 % 44,0-70,0
Trombosit 249 ribu/ul 150-400
Leukosit 18,7 ribu/ul 9,1-34,0
Eosinofil 0,0 % 1-3
Basofil 0,2 % 0-1
Neutrifil 87,6 % 50-70
Limfosit 4,1 % 20-40
Monosit 8,1 % 2-8
Ratio N/L 21,4
KIMIA KLINIK
Gula darah 471 mg/dL 70-140
sewaktu <50
Ureum 62 mg/dL <1,2
Kreatinin 1,1 mg/dL 135-145
Natrium 127 mmol/L 3,5-5,0
Kalium 4,1 mmol/L
IMUNOLOGI
Antigen SARS-
CoV-2
Pasien HEMATOLOGI
2 Hemoglobin 10,4 g/dl 15-24
Hematokrit 30,9 % 44,0-70,0
Trombosit 284 ribu/ul 150-400
Leukosit 12,63 ribu/ul 9,1-34,0
Eosinifil 0,9 % 1-3
Basofil 0,3 % 0-1
Neotrifil 79,0 % 50-70
Limfosit 14,0 % 20-40
Monosit 5,8 % 2-8
Ratio N/L 5,6
KIMIA KLINIK
Gula darah 255 mg/dL 70-140
sewaktu <50
Ureum 25 mg/dL <1,2
Kreatinin 1,0 mg/dL 135-145
Natrium 133 mmol/L 3,5-5,0
Kalium 4,7 mmol/L
IMUNOLOGI
Antigen SARS-
CoV-2 Negatif
47

e. Terapi obat
Tabel 4.6 Terapi obat
No Pasien Jenis Obat Dosis Obat
1 P1 (Ny. S) Ceftriaxone 2x1 gr
IVFD NaCl 0,9% Gtt 20x/menit
Metformin 2x500 mg
Tablet Ranitidine 2x50mg
[Link] 2x1 amp
[Link] 3x8 ui
Inj. Ondansetron 3x4 amp
Metcovazin 1x 10 gr
GV 1x1/hari
2 P2 (Ny. A) Ceftriaxone 2x1 gr
IVFD NaCl 0,9% Gtt 20x/menit
Metformin Tablet 2x500 mg
Ranitidine 2x50mg
[Link] 2x1 amp
[Link] 3x8 ui
Metcovazin 1x10gr
GV 1x1/hari

Berdasarkan tabel 4.6 terapi obat yang di berikan pada P1


dan P2 berbeda pada pasien 1 injeksi yang diberikan adalah injeksi
lansoprazol, injeksi novorapid dan ada tambahan injeksi
ondansetron sementara pada pasien 2 diberikan injeksi lansoprazole
dan novorapid.
48

4.3.2 Analisis data

Tabel 4.7 Analisa data

Data Etiologi (Penyebab) Masalah


Pasien 1: Obesitas, gaya gidup, Gangguan
Data subjektif: usia Integritas
- Ny.S mengeluh nyeri Kulit
bagian luka pada kaki Hiperglikemia (D.0192)
kanannya
Data Objektif : Komplikasi
- Terdapat luka dikaki makrovaskuler
kanan
- Ukuran luka: Panjang Neuropati sensori
3cm, lebar 2 cm, luas 6 perifer
cm2.
- Kulit berwarna merah Sensetivitas menurun
kehitaman
- Masih diperban. Ganggren
- Skala nyeri 4
- terdapat pus Gangguan Integritas
-terdapat jaringan Jaringan/kulit
nekrosis
Pasien 1: Insulin tidak adekuat Intoleransi
Data Subjektif: Aktivitas
- Ny.S mengeluh Penurunan glukosa (D.0056)
badannya lemas dalam sel
- Klien mengatakan tidak
bisa beraktivitas seperti Produksi energy
biasanya menurun
Data Objektif:
- Klien tampak selalu Kelemahan
berbaring ditempat tidur
- TTV: Intoleransi
1. TD : 130/100
2. Nadi : 92x/m aktivitas
3. RR : 20x/menit
49

Pasien 1: Komplikasi Resiko


Data Subjektif : makrovaskuler Infeksi
- Ny.S mengatakan tidak (D.0142)
dapat merasakan jari kaki Neuropati sensori
kanan nya perifer
- Ny.S mengatakan nyeri
disekitar daerah luka Sensetivitas menurun
Data Objektif :
- Tampak luka Panjang Ganggren
3cm, lebar 2 cm,
luas 6 cm2. Ada nyeri Gangguan Integritas
tekan terdapat pus. Jaringan/kulit
- Pasien mendapat terapi
ceftriaxone 2x1 Resiko infeksi
- TTV:
1. TD : 130/100
2. Nadi : 90x/m
3. Suhu : 36ºC
4. RR : 20x/menit

Pasien 2 Kekebalan tubuh Kerusakan


Data subyektif: menurun Integritas
-Ny.S mengatakan luka Kulit
di kaki kirinya yang tidak Neuropati sensori (D.0192)
kunjung sembuh. perifer
Data obyektif:
-Terdapat luka pada kaki Gangrene
kiri nya
- luka tampak di perban, Kerusakan integritas
berwarna merah kulit
kehitaman, terdapat pus,
karakteristik basah
-TTV :
TD :
120/80mmHg S :
36ºC
Nadi : 90x/m
RR : 20x/m
50

Pasien 2 Kekebalan tubuh Resiko


Data subyektif menurun Infeksi
-Pasien mengatakan tidak (D.0142)
ada rasa di kaki kiri nya Neuropati sensori
-Pasien mengatakan perifer
nyeri didaerah sekitar
luka ganggren. Ganggren
Data obyektif:
-luka tampak di perban. Kerusakan Integritas
berawarna merah Kulit
kehitaman, terdapat pus,
karakteristik basah Resiko Infeksi
-TTV :
TD : 120//80 mmHg
Nadi : 90x/m
Suhu : 36°C
RR : 20x/m
51

4.3.3 Diagnosa Keperawatan


Tabel 4.8
Diagnosa keperawatan pada kasus 1 dan kasus 2 DM Tipe II
di Ruang Zaal Bedah RSUD Lahat
Kasus 1 Kasus 2
1. Gangguan Integritas kulit 1. Ganggguan integritas kulit
berhubungan dengan neuropati berhubungan dengan neuropati
perifer ditandai dengan adanya perifer ditandai dengan adanya
kerusakan lapisan kulit atau kerusakan lapisan kulit atau
jaringan jaringan
2. Intoleransi aktivitas 2. Resiko infeksi berhubungan
berhubungan dengan tirah dengan penyakit kronis
baring ditandai dengan klien (diabetes mellitus)
merasa badannya lemah ketidakadekuatan pertahanan
3. Resiko infeksi berhubungan tubuh perifer : kerusakan
dengan penyakit kronis ( integritas jaringan ditandai
diabetes mellitus), dengan adanya luka berwarna
ketidakadekuatan pertahanan merah kehitaman
tubuh perifer ; Kerusakan
integritas jaringan ditandai
dengan adanya luka berwarna
merah kehitaman.
52

4.3.4 Perencanaan Keperawatan


Kasus 1
Tabel 4.9
Perencanaan Keperawatan pada Kasus 1 DM Tipe II di Ruang Zaal
Bedah RSUD Lahat
Diagnosa Luaran Intervensi Rasional
Keperawatan
Ganggguan Setelah Perawatan Luka
dilakukan (I.14564)
integritas kulit
tindakan I. Observasi : I. Observasi
berhubungan keperawatan 1. Monitor 1) Untuk
3x 24 Jam karakteristik mengetahui
dengan
diharapkan luka (mis, kondisi luka
neuropati mendapatkan drainase,
kriteria hasil : warna, ukuran,
perifer ditandai
a. Perfusi bau)
dengan adanya jaringan II. Terapiutik : II. Terapiutik
meningkat 1. Lepaskan 1. Agar pasien
kerusakan
b. balutan dan merasa nyaman
lapisan kulit Penyembuhan plaster secara
luka perlahan
atau jaringan
meningkat 2. Bersihkan 2. Merangsang
c. Kerusakan dengan cairan penyebuhan
lapisan kulit NaCl atau luka lebih
menurun pembersih, cepat
d. Peradangan nontoksik
luka menurun sesuai
e. Nyeri kebutuhan
menurun 3. Bersihkan
f. Nekrosis jaringan 3. Mencegah
menurun nekrotik perluasan sel
g. Perdarahan 4. Pasang balutan yang mati
menurun sesuai jenis 4. Mencegah
h. Infeksi luka Infeksi
menurun. 5. Pertahankan
teknik steril 5. Menjaga agar
saat luka tetap steril
melakukan
perawatan
luka
6. Ganti balutan
sesuai jumlah 6. Agar luka tetap
eksudat dan bersih dan
drainase steril
III. Edukasi :

III. Edukasi
53

1. Jelaskan 1. Untuk
tanda dan memberikan
gejala informasi dan
infeksi tanda infeksi

Kasus 2
Tabel 4.10
Perencanaan Keperawatan pada Kasus 1 DM Tipe II di Ruang Zaal
Bedah RSUD Lahat
Diagnosa Luaran Intervensi Rasional
Keperawatan
Ganggguan Setelah Perawatan Luka
dilakukan (I.14564)
integritas kulit
tindakan I. Observasi : I. Observasi
berhubungan keperawatan 1. Monitor 1. Untuk
3x 24 Jam karakteristik mengetahui
dengan
diharapkan luka (mis, kondisi luka
neuropati mendapatkan drainase,
kriteria hasil : warna, ukuran,
perifer ditandai
a. Perfusi bau)
dengan adanya jaringan II. Terapiutik : II. Terapiutik
meningkat 1. Lepaskan 1. Agar pasien
kerusakan
b. balutan dan merasa nyaman
lapisan kulit Penyembuhan plaster secara
luka perlahan
atau jaringan
meningkat 2. Bersihkan 2. Merangsang
c. Kerusakan dengan cairan penyebuhan
lapisan kulit NaCl atau luka lebih
menurun pembersih, cepat
d. Peradangan nontoksik
luka menurun sesuai
e. Nyeri kebutuhan
menurun 3. Bersihkan 3. Mencegah
f. Nekrosis jaringan perluasan sel
menurun nekrotik yang mati
g. Perdarahan 4. Pasang balutan 4. Mencegah
menurun sesuai jenis Infeksi
h. Infeksi luka
menurun 5. Pertahankan 5. Menjaga agar
teknik steril luka tetap steril
saat
melakukan
perawatan
54

luka
6. Ganti balutan 6. Agar luka tetap
sesuai jumlah bersih dan steril
eksudat dan
drainase
III. Edukasi : III. Edukasi
1. Jelaskan tanda 1. Untuk
dan gejala memberikan
infeksi informasi dan
tanda infeksi
55

4.3.5 Implementasi Keperawatan

Tabel 4.11
Implementasi Keperawatan pada Kasus 2 DM Tipe II di
Ruang Zaal Bedah Rumah Sakit Umum Daerah lahat
Implementasi Keperawatan Implementasi Keperawatan
Implementasi Keperawatan hari 2
Diagnosa hari 1 hari 3
( 15/03/2022 )
Keperawatan ( 14/03/2022 ) ( 16/03/2022 )
Jam Implementasi Jam Implementasi Jam Implementasi
Ganggguan integritas 08.00 1. Memonitor 09.00 1. Memonitor 08:15 1. Memonitor
WIB karakteristik luka WIB karakteristik WIB karakteristik luka
kulit berhubungan
Respon : luka Respon : Respon :
dengan neuropati - Ukuran luka : panjang - Ukuran luka : - Ukuran luka : panjang 3
3 cm, lebar 2 cm, luas panjang 3 cm, lebar cm, lebar 2 cm, luas 6
perifer ditandai
6 cm2. Luka berbau 2 cm, luas 6 cm2. cm2. bau khas ganggren
dengan adanya khas ganggren, Luka berbau khas berkurang, pus berkurang,
terdapat pus, luka ganggren, terdapat bengkak luka sedikit
kerusakan lapisan
masih bengkak pus, bengkak luka berkurang
kulit atau jaringan sedikit berkurang
08:25 2. Melepaskan balutan dan
08:20 2. Melepaskan balutan 09.15 2. Melepaskan balutan WIB plater secara perlahan
WIB dan plater secara WIB dan plater secara Respon :
perlahan perlahan Balutan dilepas luka
Respon : Respon : tampak sudah mulai
Balutan dilepas Balutan dilepas mengering, rembesan
luka tampak luka tampak di balutan sudah
basah, dan basah, dan berkurang
terdapat rembesan terdapat rembesan
di balutan di balutan
56

3. Membersihkan 3. Membersihkan 3. Membersihkan dengan


dengan cairan NaCl dengan cairan NaCl cairan NaCl atau
atau pembersih atau pembersih pembersih nontoksik
nontoksik nontoksik Respon :
Respon : Respon : Luka tampak bersih,
Luka Luka tampak berwarna kemerahan,
tampak sedikit bersih, bau sedikit
kotor, masih bau sedikit menghilang
berbau menghilang

4. Membersihkan 4. Membersihkan
4. Membersihkan jaringan nekrotik jaringan nekrotik
jaringan nekrotik Respon : Respon :
Respon : Mengangkat kaki Mengangkat kaki kanan
Mengangkat kaki kanan pasien pasien dan pasien merasa
kanan pasien nyaman
5. Memasang balutan
5. Memasang balutan sesuai jenis luka 5. Memasang balutan sesuai
sesuai jenis luka Respon : jenis luka
Respon : Balutan dipasang Respon :
Balutan dipasang sesuai dengan Balutan dipasang sesuai
sesuai dengan panjang, lebar dan dengan panjang, lebar dan
panjang, lebar luas luka luas luka
dan luas luka
6. Mempertahan teknik 6. Mempertahan teknik steril
6. Mempertahan teknik steril saat melakukan saat melakukan perawatan
steril saat melakukan perawatan Respon :
perawatan Respon : Menggunakan hanscoon
Respon : Menggunakan steril selama tindakan
Menggunakan
57

hanscoon steril hanscoon steril dilakukan


selama tindakan selama tindakan
dilakukan dilakukan 7. Mengganti balutan sesuai
jumlah eksudat
7. Mengganti balutan 7. Mengganti balutan Respon :
sesuai jumlah sesuai jumlah pasien mulai merasa
eksudat Respon : eksudat Respon : nyaman saat
pasien mulai pasien mulai dilakukan perawatan
merasa nyaman saat merasa nyaman saat luka
dilakukan perawatan dilakukan perawatan
luka luka

09:10 8. Jelaskan tanda dan 10:00 8. Jelaskan tanda dan


WIB gejala infeksi WIB gejala infeksi 09:15
Respon : Respon : WIB 8. Jelaskan tanda dan
Pasien dan keluarga Pasien dan keluarga gejala infeksi
mendengarkan mendengarkan Respon :
penyuluhan dan penyuluhan dan Pasien dan keluarga
tampak mengerti tampak mengerti mendengarkan
penyuluhan dan tampak
mengerti
58

Tabel 4.12
Implementasi Keperawatan pada Kasus 2 DM Tipe II di
Ruang Zaal Bedah Rumah Sakit Umum Daerah lahat

Implementasi Keperawatan Implementasi Keperawatan


Implementasi Keperawatan hari 2
Diagnosa hari 1 hari 3
( 15/03/2022 )
Keperawatan ( 14/03/2022 ) ( 16/03/2022 )
Jam Implementasi Jam Implementasi Jam Implementasi
Ganggguan integritas 08.00 1. Memonitor 09.20 1. Memonitor 08:00 1. Memonitor
WIB karakteristik luka WIB karakteristik WIB karakteristik luka
kulit berhubungan
Respon : luka Respon : Respon :
dengan neuropati - Ukuran luka : panjang 3 - Ukuran luka : panjang - Ukuran luka : panjang 3
cm, lebar 2 cm, luas 6 3 cm, lebar 2 cm, luas cm, lebar 2 cm, luas 6
perifer ditandai cm2. Luka berbau khas cm2. bau khas ganggren
6 cm2. Luka berbau
dengan adanya ganggren, terdapat pus, khas ganggren, berkurang, pus berkurang
luka masih bengkak terdapat pus, bengkak Bengkak luka sedikit
kerusakan lapisan luka sedikit berkurang berkurang
kulit atau jaringan 08:25 2. Melepaskan balutan
WIB dan plater secara 09.25 2. Melepaskan balutan 08:25 2. Melepaskan balutan dan
perlahan WIB dan plater secara WIB plater secara perlahan
Respon : perlahan Respon :
Balutan dilepas Respon : Balutan dilepas luka
luka tampak Balutan dilepas tampak sudah mulai
basah, dan luka tampak mengering, rembesan
terdapat rembesan basah, dan di balutan sudah
di balutan terdapat rembesan berkurang
di balutan
59

3. Membersihkan 3. Membersihkan 3. Membersihkan dengan


dengan cairan NaCl dengan cairan NaCl cairan NaCl atau
atau pembersih atau pembersih pembersih nontoksik
nontoksik nontoksik Respon :
Respon : Respon : Luka tampak bersih,
Luka Luka tampak berwarna kemerahan,
tampak kotor, bau sedikit bau sedikit
kotor, masih menghilang menghilang
berbau

4. Membersihkan 4. Membersihkan
4. Membersihkan jaringan nekrotik jaringan nekrotik
jaringan nekrotik Respon : Respon :
Respon : Mengangkat kaki Mengangkat kaki kanan
Mengangkat kaki kiri pasien pasien
kiri pasien
5. Memasang balutan 5. Memasang balutan sesuai
5. Memasang balutan sesuai jenis luka jenis luka
sesuai jenis luka Respon : Respon :
Respon : Balutan dipasang Balutan dipasang sesuai
Balutan dipasang sesuai dengan dengan panjang, lebar dan
sesuai dengan panjang, lebar dan luas luka
panjang, lebar luas luka
dan luas luka 6. Mempertahan teknik steril
6. Mempertahan teknik saat melakukan perawatan
6. Mempertahan teknik steril saat melakukan Respon :
steril saat melakukan perawatan Menggunakan hanscoon
perawatan Respon : steril selama tindakan
Respon : Menggunakan dilakukan
Menggunakan hanscoon steril
hanscoon steril
60

selama tindakan selama tindakan 7. Mengganti balutan sesuai


dilakukan dilakukan jumlah eksudat
Respon :
7. Mengganti balutan 7. Mengganti balutan pasien mulai merasa
sesuai jumlah eksudat sesuai jumlah nyaman saat
Respon : eksudat Respon : dilakukan perawatan
pasien mulai pasien mulai luka
merasa nyaman saat merasa nyaman saat
dilakukan perawatan dilakukan perawatan 09:15
luka luka WIB 8. Jelaskan tanda dan
gejala infeksi
09:10 8. Jelaskan tanda dan 10:30 8. Jelaskan tanda dan Respon :
WIB gejala infeksi WIB gejala infeksi Pasien dan keluarga
Respon : Respon : mendengarkan
Pasien dan keluarga Pasien dan keluarga penyuluhan dan tampak
mendengarkan mendengarkan mengerti
penyuluhan dan penyuluhan dan
tampak mengerti tampak mengerti
61

A. Evaluasi Keperawatan
Tabel 4.13
Evaluasi Keperawatan pada Kasus 1 DM Tipe II di Ruang Zaal Bedah
Rumah Sakit Umum Daerah Lahat
Diagnosa Hari 1 Hari 2 Hari 3
Keperawatan ( 14/03/2022 ) ( 15/03/2022 ) ( 16/03/2022 )
Pukul 11.00 Pukul 11.30 Pukul 11.10 WIB
WIB WIB
Ganggguan S: S: S:
Ny S Ny S Ny S
integritas kulit
mengatakan mengatakan mengatakan
berhubungan merasa merasa nyaman
merasa nyaman
nyaman saat saat dilakukan
dengan saat dilakukan
dilakukan perawatan luka,
neuropati perifer perawatan dan perban perawatan luka
luka, dan diganti dan perban
ditandai dengan
perban diganti - Ny. S diganti
adanya - Ny. S mengatakan nyeri
mengatakan area sekitar luka - Ny. S
kerusakan mengatakan nyeri
merasa nyeri sedikit berkurang
lapisan kulit atau pada area O: berkurang
sekitar luka - Keadaan
jaringan O:
O: Umum: lemah
- Keadaan - Luka terlihat - Keadaan
Umum: Lemah masih basah, Umum :
- Luka terlihat bengkak sudah Baik
masih basah berkurang, - Luka terlihat
dan sedikit masih berbau masih basah,
bengkak, pekat dan masih bengkak sudah
masih berbau terdapat berkurang, dan
pekat dan PUS( nanah) PUS (nanah)
masih terdapat - Aktivitas klien berkurang, bau
PUS( nanah) tampak di bantu berkurang
- Aktivitas oleh keluarga - Aktivitas klien
klien tampak masih
tampak di bantu oleh
dibantu oleh keluarga
keluarga A: A:
A: - Masalah teratasi Masalah teratasi
Masalah belum sebagian sebagian
teratasi P:
P:
P: intervensi
intervensi dilanjutkan Intervensi
dilanjutkan dilanjutkan
62

Tabel 4.14
Evaluasi Keperawatan pada Kasus 2 DM Tipe II di Ruang Zaal Bedah
Rumah Sakit Umum Daerah Lahat
Diagnosa Hari 1 Hari 2 Hari 3
Keperawatan
( 20/03/2022 ) ( 21/03/2022 ) ( 22/03/2022 )

Pukul 11.00 WIB Pukul 11.30 Pukul 11.10 WIB


WIB
Ganggguan S: S: S:
integritas kulit Ny A Ny A Ny A mengatakan
berhubungan mengatakan mengatakan merasa nyaman
merasa nyaman merasa nyaman saat dilakukan
dengan saat dilakukan saat dilakukan perawatan luka
neuropati perawatan luka, perawatan luka, dan perban diganti
dan perban dan perban
perifer ditandai diganti diganti
- Ny. A
dengan adanya Ny. A - Ny. A
mengatakan nyeri
kerusakan mengatakan mengatakan nyeri
merasa nyeri pada area sekitar luka berkurang
lapisan kulit area sekitar luka sedikit berkurang
atau jaringan
O: O: O:
- Keadaan - Keadaan - Keadaan Umum
Umum: Lemah Umum: : Baik
lemah - Luka terlihat
- Luka terlihat masih basah,
masih basah - Luka terlihat bengkak
dan sedikit masih basah, berkurang, dan
bengkak, masih bengkak sudah PUS (nanah)
berbau pekat berkurang, berkurang, bau
dan masih masih berbau berkurang
terdapat PUS( pekat dan masih - Aktivitas klien
nanah) terdapat tampak masih di
PUS( nanah) bantu oleh
- Aktivitas keluarga
klien tampak - Aktivitas klien
dibantu oleh tampak di bantu A : Masalah
keluarga oleh keluarga
teratasi sebagian
A : Masalah A: - Masalah P : Intervensi
belum teratasi teratasi sebagian dilanjutkan
P : intervensi P : intervensi
dilanjutkan dilanjutkan
63

Perkembangan kasus 1

Tabel 4.15
Perkembangan Hari Pertama, Kedua, dan Ketiga pada Kasus 1
DM Tipe II di Ruang Zaal Bedah RSUD Lahat
Diagnosa Hari 1
Keperawatan 14/03/2022
Ganggguan Kriteria Hasil Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
integritas
Perfusi 1 2
kulit jaringan 3 4
5
berhubungan
dengan Kriteria hasil Meningkat Cukup Sedang Cukup menurun
meningkat menurun
neuropati
perifer Kerusakan
jaringan 1 2 3 4
ditandai 5
dengan Kerusakan 1 2 5
lapisan kulit 3 4
adanya Penyembuha 1 2 5
kerusakan n luka 3 4
lapisan kulit Nyeri 1 2 4 5
atau jaringan 3
Nekrosis 1 2 5
3 4

Perdarahan 1 2 3 4 5

Infeksi 1 2 3 4 5

Asesment : Masalah Gangguan integritas jaringan teratasi


Planning : Lanjutkan intervensi
64

Tabel 4.16
Diagnosa Hari 2
Keperawatan 15/03/2022
Ganggguan Kriteria Hasil Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
integritas
Perfusi 1 2
kulit jaringan 3 4
5
berhubungan
dengan Kriteria hasil Meningkat Cukup Sedang Cukup menurun
meningkat menurun
neuropati
perifer Kerusakan
jaringan 1 2 3 4
ditandai 5
dengan Kerusakan 1 2 5
lapisan kulit 3 4
adanya Penyembuha 1 2 5
kerusakan n luka 3 4
lapisan kulit Nyeri 1 2 4 5
atau jaringan 3
Nekrosis 1 2 5
3 4

Perdarahan 1 2 3 4 5

Infeksi 1 2 3 4 5

Asesment Masalah Gangguan integritas jaringan teratasi


Planning : Lanjutkan intervensi
65

Tabel 4.17
Diagnosa Hari 3
Keperawatan 16/03/2022
Ganggguan Kriteria Hasil Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
integritas
Perfusi 1 2
kulit jaringan 3 4
5
berhubungan
Kriteria hasil Meningkat Cukup Sedang Cukup menurun
dengan
meningkat menurun
neuropati
Kerusakan
perifer jaringan 1 2 3 4 5
ditandai
Kerusakan 1 2 5
dengan lapisan kulit 3 4
adanya Penyembuha 1 2
n luka 3 4 5
kerusakan
lapisan kulit Nyeri 1 2 4 5
3
atau jaringan Nekrosis 1 2
3 4 5

Perdarahan 1 2 3 4 5

Infeksi 1 2 3 4 5

Asesment Masalah Gangguan integritas jaringan teratasi


Planning : Lanjutkan intervensi
66

Perkembangan kasus 2
Tabel 4.18
Perkembangan Hari Pertama, Kedua, dan Ketiga pada Kasus 2
DM Tipe II di Ruang Zaal Bedah RSUD Lahat
Diagnosa Hari 1
Keperawatan 20/03/2022
Ganggguan Kriteria Hasil Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
integritas
Perfusi 1 2
kulit jaringan 3 4
5
berhubungan
dengan Kriteria hasil Meningkat Cukup Sedang Cukup menurun
meningkat menurun
neuropati
perifer Kerusakan
jaringan 1 2 3 4
ditandai 5
dengan Kerusakan 1 2 5
lapisan kulit 3 4
adanya Penyembuha 1 2 5
kerusakan n luka 3 4
lapisan kulit Nyeri 1 2 4 5
atau jaringan 3
Nekrosis 1 2 5
3 4

Perdarahan 1 2 3 4 5

Infeksi 1 2 3 4 5

Asesment : Masalah Gangguan integritas jaringan teratasi


Planning : Lanjutkan intervensi
67

Tabel 4.19
Diagnosa Hari 2
Keperawatan 15/03/2022
Ganggguan Kriteria Hasil Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
integritas
Perfusi 1 2
kulit jaringan 3 4
5
berhubungan
dengan Kriteria hasil Meningkat Cukup Sedang Cukup menurun
meningkat menurun
neuropati
perifer Kerusakan
jaringan 1 2 3 4
ditandai 5
dengan Kerusakan 1 2 5
lapisan kulit 3 4
adanya Penyembuha 1 2 5
kerusakan n luka 3 4
lapisan kulit Nyeri 1 2 4 5
atau jaringan 3
Nekrosis 1 2 5
3 4

Perdarahan 1 2 3 4 5

Infeksi 1 2 3 4 5

Asesment Masalah Gangguan integritas jaringan teratasi


Planning : Lanjutkan intervensi
68

Tabel 4.20
Diagnosa Hari 3
Keperawatan 16/03/2022
Ganggguan Kriteria Hasil Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
integritas
Perfusi 1 2
kulit jaringan 3 4
5
berhubungan
dengan Kriteria hasil Meningkat Cukup Sedang Cukup menurun
meningkat menurun
neuropati
perifer Kerusakan
jaringan 1 2 3 4 5
ditandai
dengan Kerusakan 1 2 5
lapisan kulit 3 4
adanya Penyembuha 1 2
kerusakan n luka 3 4 5
lapisan kulit Nyeri 1 2 4 5
atau jaringan 3
Nekrosis 1 2
3 4 5

Perdarahan 1 2 3 4 5

Infeksi 1 2 3 4 5

Asesment Masalah Gangguan integritas jaringan teratasi


Planning : Lanjutkan intervensi
BAB V
PEMBAHASAN

5.1. Pembahasan Hasil Studi Kasus


Dalam bab ini penulis akan membahas tentang adanya kesesuaian
maupun kesenjangan antara teori dan hasil asuhan keperawatan pada kasus 1
(Ny.S) dan kasus 2 (Ny.A) dengan diagnosa DM Tipe II dengan masalah
gangguan integritas kulit di ruang Zaal Bedah Rumah Sakit Umum Daerah
Lahat. Kegiatan yang dilakukan yaitu asuhan keperawatan meliputi
pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan,
implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan. Asuhan keperawatan
diberikan selama 3 hari yaitu pada kasus 1 (Ny.S) tanggal 14-16 Maret 2022
dan kasus 2 (Ny.A) tanggal 20-22 Maret 2022. Pada saat pelaksanaan studi
kasus penulis melakukan kontrak terlebih dahulu dengan kedua pasien agar
dapat siap dari segi fisik maupun psikologis dalam menerima asuhan
keperawatan.
Implementasi diberikan berdasarkan diagnosa yang diangkat dengan
berfokus pada prioritas masalah yaitu gangguan integritas kulit. Penulis
memberikan implementasi keperawatan perawatan luka yang terdiri dari
memonitor karakteristik luka, terapiutik membersihkan luka dengan cairan
NaCl, edukasi terhadap resiko infeksi.
5.1.1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan didalam studi kasus dengan masalah
gangguan integritas kulit didapatkan data subjektif dan data objektif.
Pada kasus 1 (Ny.S) didapatkan data subjektif meliputi pasien
mengeluh luka di kaki kanannya yang tak kunjung sembuh badan
terasa lemas, nafsu makan berkurang. Pada data objektif didapatkan
hasil pasien tampak lemah, luka terlihat masih basah, luka masih
berbau, dan masih terdapat pus (nanah) frekuensi nadi : 90

69
70

x/menit, tekanan darah : 120/90 mmhg, RR : 20x/menit.


Aktivitas selama dirumah sakit dibantu oleh keluarga
Pada kasus 2 (Ny.A) didapatkan data subjektif meliputi pasien
mengeluh Luka di kaki kirinya yang tak kunjung sembuh, badan
terasa lemas, nafsu makan berkurang, data objektif didapatkan pasien
tampak lemah, luka terlihat masih basah dan bengkak. frekuensi nadi
: 90 x/menit, tekanan darah : 120/90 mmhg, RR: 21x/menit. Aktivitas
selama dirumah sakit dibantu oleh keluarga

5.1.2. Diagnosa Keperawatan


Masalah keperawatan aktual atau potensial menurut Tim Pokja
SDKI DPP PPNI (2017) didalam teori terdapat 5 diagnosa
keperawatan yang muncul pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II yaitu
gangguan integritas kulit berhubungan dengan neuropati perifer
ditandai dengan adanya kerusakan jaringan atau lapisan kulit,
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring ditandai dengan
klien merasa badannya lemas, resiko infeksi berhubungan dengan
penyakit kronis (diabetes mellitus) ketidakadekuatan pertahanan tubuh
perifer. Berdasarkan hasil pengkajian dan analisa data yang didapat
pada tinjauan kasus, masalah keperawatan yang muncul dan sesuai
dengan teori pada kasus 1 (Ny.S) dan kasus 2 (Ny.A) yaitu Gangguan
integritas jaringan dan resiko infeksi. Masalah keperawatan yang
diangkat dan dijadikan sebagai diagnosa keperawatan prioritas yaitu
gangguan integritas kulit berhubungan dengan neuropati perifer
ditandai dengan adanya kerusakan jaringan atau lapisan kulit. karena
keluhan yang dirasakan kasus 1 (Ny.S) dan kasus 2 (Ny.A) pada saat
pengkajian harus segera ditangani agar tidak menimbulkan
ketidaknyamanan yang berlebih serta mengganggu aktivitas yang
dapat membuat rasa ketakutan dan cemas untuk melakukan
pergerakan pada pasien.
71

5.1.3. Intervensi Keperawatan


Menurut Tim Pokja SIKI DPP PPNI (2018), intervensi
keperawatan pada pasien Diabetes Melitus Tipe II dengan masalah
gangguan integritas kulit nyeri yaitu perawatan luka yang meliputi
(observasi, terapeutik, edukasi, dan). Pada tahap observasi intervensi
yang dilakukan yaitu observasi karakteristik luka, tahap terapeutik
yang dilakukan yaitu melepaskan balutan dan plester, bersihkan
dengan cairan NaCl sesuai kebutuhan, bersihkan jaringan nekrotik,
pasang balutan sesuai jenis luka, pertahankan teknik steril saat
melakukan perawatan luka, ganti balutan sesuai eksudat dan drainase,
tahap edukasi menjelaskan tentang tanda dan gejala.
Intervensi keperawatan perawatan luka tidak semua dilakukan
karena pada saat dilakukan implementasi keperawatan penulis
mengkaji kembali keluhan kasus 1 (Ny.S) dan kasus 2 (Ny.A)
sehingga intervensi keperawatan dimodifikasi kembali dengan
memilih sesuai dengan kebutuhan dan kriteria hasil yang diharapkan.
Pada intervensi keperawatan pada tinjauan kasus sesuai dengan teori
dan tidak ada kesenjangan antara teori dengan pelaksanaan
dilapangan.

5.1.4. Implementasi Keperawatan


a. Observasi karakteristik luka

Observasi yang dilakukan pada hari pertama kasus 1 (Ny S)


tanggal 14 Maret 2022 dan kasus 2 (Ny A) tanggal 20 Maret
2022 mengidentifikasi karakteristik luka. Saat dilakukan
observasi pada hari pertama kasus 1 (Ny. S) dan kasus 2 (Ny A)
sama-sama mengalami gangguan integritas kulit akibat luka DM
Tipe II yang dialami dan aktivitas masih dibantu oleh keluarga.
Pada hari kedua kasus 1 (Ny. S) tanggal 15 Maret 2022 dan kasus
2 (Ny A) tanggal 21 Maret 2022 yaitu pasien sama-sama mulai
merasa nyaman saat dilakukan perawatan luka dan untuk
72

aktivitas harian masih dibantu oleh keluarga. Dan pada hari


ketiga kasus 1 (Ny. S) tanggal 16 Maret 2022 dan kasus 2 (Ny A)
tanggal 22 Maret 2022 yaitu kedua pasien sudah nyaman saat
dilakukan perawatan luka, sedangkan aktivitas harian masih
dibantu oleh keluarganya.

Setelah dilakukan implementasi penulis tidak


menemukan perbedaan atau kesenjangan antara teori dan
tindakan di lapangan. Aktivitas kedua pasien masih dibantu oleh
keluarga dan gerakan terbatas.

b. Terapiutik
Implementasi yang dilakukan pada kasus 1 (Ny. S) dan
kasus 2 (Ny A) yaitu Perawatan luka meliputi: melepaskan balutan
dan plester secara perlahan, membersihkan dengan cairan NaCl,
membersihkan jaringan nekrotik, memasang balutan suseai jenis
luka, mempertahankan teknik steril saat melakukan perawatan luka,
mengganti balutan sesuai jumlah eksudat, jelaskan tanda dan gejala
infeksi.
Disini kedua keluarga pasien membantu pasien dalam
melakukan aktivitas harian (ADL) dan membantu pasien untuk
melepaskan balutan dan plester secara perlahan dan penulis tidak
menemuka perbedaan antara teori dan tindakan di lapangan.
c. Edukasi Kesehatan
Edukasi kesehatan dilakukan penulis pada tanggal 14 Maret
2022 pada kasus 1 (Ny. S) dan 20 Maret 2022 pada kasus 2 (Ny.
A) menggunakan media leaflet, pemberian edukasi kesehatan ini
dapat menambah pengetahuan pasien tentang perawatan luka untuk
mengatasai gangguan integritas jaringan.

5.1.5 Evaluasi Keperawatan


Implementasi keperawatan merupakan aktualisasi dari rencana
keperawatan melalui intervensi keperawatan. Menurut Tim Pokja SIKI
73

DPP PPNI (2018) implementasi mengacu pada pelaksanaan rencana


keperawatan yang sudah disusun. Implementasi keperawatan tetap
melibatkan pasien dan keluarga serta anggota tim kesehatan yang lain
sesuai kebutuhan klien. Hasil evaluasi keperawatan yang didapatkan
pada teori dengan diagnosa keperawatan gangguan integritas
kulit/jaringan berhubungan dengan neuropati perifer ditandai dengan
adanya kerusakan jaringan atau lapiran kulit setelah dilakukan 3 kali
tindakan keperawatan maka didapatkan tingkat gangguan integritas
kulit menurun dengan kriteria hasil keluhan kerusakan lapisan menurun,
nekrosis menurun, infeksi menurun, peradangan luka menurun, perfusi
jaringan meningkat

5.2 Keterbatasan Studi Kasus


Penulis memberikn implementasi keperawatan pada kedua paien DM
Tipe II selama 3 hari dan penulis memiliki sedikit hambatan yakni penulis
tidak dapat mengawasi pasien selama 24 jam karena keterbatsan waktu yang
dimiliki penulis. Untuk mengoptimalkan penulis mencoba untuk mencari tahu
tentang keadaan pasien dengan cara berkolaborasi dengan perawat diruang
perawat serta keluarga dan pasien
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan implementasi keperawatan yang telah penulis lakukan
kepada kasus 1 (Ny.S) dan kasus 2 (Ny.A) di Ruang Zaal Bedah RSUD Lahat
selama masing-masing 3 hari kasus 1 (Ny S) dari tanggal 14-16 Maret 2022
dan kasus 2 ( Ny A) dari tanggal 20-22 Maret 2022 dengan diagnosa
keperawatan prioritas Gangguan integritas kulit maka, penulis menyimpulkan
bahwa mampu mencapai tujuan khusus yaitu:
6.1.1. Implementasi Keperawatan Perawatan Luka
- Observasi
Pada kasus 1 (Ny.S) dan kasus 2 (Ny.A) didapatkan hasil Ku
pasien cukup membaik, Pasien tampak nyaman saat dilakukan
perawatan luka dan mengganti perban, bau khas ganggren
berkurang, nyeri menurun, bengkak berkurang, jaringan nekrotik
menurun
- Terapeutik
Implementasi keperawatan perawatan luka pada kasus 1 (Ny.S)
dan kasus 2 (Ny.A) didapatkan pasien dan keluarga sudah mengerti
tujuan dan prosedur, dan pasien nyaman saat dilakukan perawatan
luka. Pasien juga menyetujui tindakan yang akan dilakukan
- Edukasi
Pemberian edukasi dengan metode leaflet mengenai perawatan
luka untuk mengatasi gangguan integritas kulit kepada pasien
maupun keluarga telah penulis lakukan selama 1 hari dengan waktu
30 menit. Penulis menyimpulkan bahwa pengetahuan kedua pasien
dan keluarga meningkat.

74
75

6.1.2 Hasil Analisis


Penulis menyimpulkan bahwa implementasi keperawatan
perawatan luka menunjukkan adanya efektivitas peningkatan gangguan
integritas kulit pada kasus 1 (Ny S) dan kasus 2 (Ny A) DM Tipe II di
Ruang Zaal Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Lahat Tahun 2022.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis memberikan saran untuk
perbaikan dan peningkatan mutu asuhan keperawatan adalah :

6.2.1 Bagi pasien dan keluarga


Pasien dan keluarga menggunakan teknik pearawatan luka dalam
menangani masalah integritas kulit pada pasien DM Tipe II.
6.2.2 Bagi perkembangan ilmu pengetahuan
Hasil studi kasus ini dapat menjadi sumber informasi dan
referensi pembelajaran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi khususnya keperawatan Medikal Bedah mengenai
implementasi perawatan luka pada pasien DM Tipe II
6.2.3 Bagi pendidikan
Hasil studi kasus ini dapat menjadi sumber I nformasi dan
referensi tambahan bagi tenaga kesehatan dalam melaksanakan
implementasi perawatan luka pada pasien DM Tipe II.
Daftar Pustaka

Eka Milasari, H. (2021). STUDI LITERATURE: EFEKTIVITAS PERAWATAN


LUKA PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II DENGAN
MASALAH KEPERAWATAN RISIKO INFEKSI MENGGUNAKAN
METODE MODERN DRESSING (Doctoral dissertation, Universitas
Muhammadiyah Ponorogo).
IDF. (2019). IDF Diabetes Atlas Ninth. In International Diabetes Federation (9th
editio).
KEMENKES RI. (2018). InfoDATIN Pusat Data dan Informasi Kementerian
Kesehatan RI. Webside: [Link]. Diakses pada 22 November
2018..
Kirnantoro & Maryana (2021) Anatomi Fisiologi. Yogyakarta : Pustaka Baru
Press
Laowo, D. F., & Batubara, K. (2021). Pendidikan Kesehatan tentang Perawatan
Luka Kaki pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2. Jurnal Keperawatan
Profesional, 2(2), 68–73. [Link]
Ni Ketut K & Brigita A.D.S (2019). Keperawatan Medikal Bedah 1
Yogyakarta : PT. Pustaka Baru
Nurarif, A.H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan NANDA NIC NOC Jilid 1. Yogyakarta: Mediaction
Jogja. Ns. Andra S
Nurrukhmah wiakidah, 2016. (n.d.). SOP Perawatan luka. 10–12.

Padila (2012) Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah. Bengkulu :Nuha Medika
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan Indikator
Diagnostik. Jakarta : DPP PPNI
PPNI. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan Tindakan
Keperawatan. Jakarta : DPP PPNI
PPNI. (2019). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan Kriteria
Hasil Keperawatan. Jakarta : DPP PPNI.
Rudi Haryono & Brigita, A.D.S (2019) Buku Ajar : Asuhan Keperawatan Pada
Pasien Dengan Gangguan Sistem Endokrin. Yogyakarta : Pustaka Baru
Press
Santi Damayanti (2017) Diabetes Melitus & Penatalaksanaan Keperawatan.
Yogyakarta : Nuha Medika

Selviana, M. (2021). Implementasi Keperawatan dengan Masalah Gangguan


Integritas Jaringan pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di RSUD
Muhammadiyah Palembang Tahun 2021 (Vol. 4, Issue 1).
Sukriyadi et al. (2019). Pengaruh tingkat pengetahuan terhadap kejadian
komplikasi DM di RS Pelamonia Makassar. 10(01), 59–66.
Wardhani, N. S. S. (2020). NURSING CARE IN MELLITUS TYPE 2 DIABETES
WITH NETWORK INTEGRITY DISTURBANCE PROBLEMS ( Study In
The Melati Space General Hospital Bangil Pasuruhan Area )
Introduction diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by
high blood sugar levels ( hype. 1(1), 20–27.
LAMPIRAN
Dokumentasi pasien
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PERAWATAN LUKA

STANDAR
OPERASIONAL PERAWATAN LUKA
PROSEDUR
Pengertian Mengidentifikasi dan meningkatkan penyembuhan luka
serta mencegagah terjadinya komplikasi luka
Tujuan c. Mencegah infeksi
d. Membantu penyembuhan luka
Indikasi Pasien yang luka baru maupun luka lama, luka post
oprasi, luka bersih dan luka kotor
Petugas Perawat
Peralatan a) Bak instrumen yang berisi
1) Pinset anatomis
2) Pinset chirugis
3) Gunting debridemand / gunting jaringan
4) Kassa steril
5) Kom kecil 3 buah
6) Peralatan lain terdiri dari :
11. Sarung tangan
12. Gunting plester
13. Plester
14. Alkohol 70% atau wash bensin
15. Desinfektan (Bethadin)
16. Cairan NaCl 0,9%
17. Bengkok
18. Perlak/ pengalas
19. Verband
20. Obat luka sesuai kebutuhan
a) Tahap Pra Interaksi
1) Cek catatan keperawatan
2) Mencuci tangan
3) Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar
b) Tahap orientasi
1) Berikan salam, panggil klien dengan namanya
2) Jelaskan tujuan, prosedur dan lamanya tindakan
pada klien dan keluarga
3) Menanyakan kesiapan klien sebelum dilakukan
tindakan
c) Tahap Kerja
1) Dekatkan alat-alat dengan klien
2) Menjaga privacy pasien
3) Mengatur posisi pasien sesuai kebutuhan
4) Pasang perlak / pengalas di bawah daerah luka
5) Membuka peralatan
6) Memakai sarung tangan
7) Basahi kasa dengan bethadin kemudian dengan
menggunakan pinset bersih area sekitar luka
bagian luar sampai bersih dari kotoran
8) Basahi kasa dengan cairan NaCl 0,9% kemudian
dengan menggunakan pinset bersihkan area luka
bagian dalam. (gunakan tehnik usapan dari atas ke
bawah)
9) Keringkan daerah luka dan pastikan area daerah
luka bersih dari kotoran
10) Beri obat luka sesuai kebutuhan jika perlu
11) Pasang kasa steril pada area luka sampai tepi
luka
12) Fiksasi balutan menggunakan plester atau
balutan verband sesuai kebutuhan
13) Mengatur posisi pasien seperti semula
14) Alat-alat dibereskan
15) Buka sering tangan
d) Tahap Terminasi
1) Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan
2) Berpamitan dengan klien
3) Membereskan alat-alat
4) Mencuci tangan
5) Mencatat kegiatan dalam lembar/catatan
keperawatan
Cara cara Perawatan Luka Di Rumah
Perawatan Luka Pada A. Pengertian Perawatan Luka
Penderita Diabetes Perawatan luka adalah suatu teknik dalam
membersihkan luka yang di akibatkan oleh
Melitus penyakit diabetes mellitus ( kencing manis )
dengan tujun untuk mencegah infeksi luka,
melancarkan peredaran darah sekitar dan
mempercepat proses penyembuhan luka.

Persiapan Alat

1. Kapas
2. Kassa Steril
3. Cairan infuse NaCl 0.9 % atau garam
yang di larukan dengan air matan
yang sudah dingin
4. Kayu Putih
5. Gula atau madu
6. Plester
Cici Windiani
7. Gunting
Po.[Link].0 8. Kantong Plastik

41

B. Tujuan Perawatan Luka


Poltekkes Kemenkes Palembang 1. Mencegah terjadinya komplikasi
Prodi DIII Keperawatan Lahat 2. Melancarkan sirkulasi pembuluh darah
Tahun Akademik 2022 3. Mempercepat proses penyembuhan luka
Langkah langkah URUTAN TINDAKAN

1. Atur posis senyaman mungkin 1. Lakukan tindakan cuci tangan


2. Siapkan Alat yang di perlukan dan 2. Pasang perlak di daerah
dekatkan kepada pasien 3. Pakai sarung tangan Semoga
3. Keluarga yang akan melakukan ganti 4. Buka balutan dan buang balutan lama ke Cepat
baluttan sebelumnya mencuci tangan tempat sampah yang telah disediakan
Sembuh
terlebi dahulu dengan sabun 5. Bersihkan luka dengan kassa steril yang
4. Buka plaster/perban ( dengan telah dibasahi dengan Nacl, kemudian
menggukan kayuputih ) membuang bagian yang kotor atau Menjaga
5. Baluttan lama di buka dan di bung jaringan nekrotik/mati Kesehatan
ke kantong plastic 6. Bersihkan dengan arah kedalam dan
Lebih Baik
6. Bersihkan Luka : keluar
 Cuci luka terlebih dahulu 7. Kompres luka dengan obat yang Dari Pada
 Untuk luka yang masih basah, ditentukan dpkter, sampai tertutup
kompres luka dengan kassa yang semuanya
telah di basahi Nacl 0,9 % bila luka 8. Tutup luka dengan kassa steril kering
terjadi infeksi atau terdapat nanah 9. Balut luka dengan verban
maka luka diberi taburan gula atau 10. Cuci tangan
madu
 Tutup luka yang telah dikompres Gula Darah Normal : 70-100
SETeafafawgwe
kassa Nacl 0,9% dengan kassa kering Puasa : <140 mg/dl
DSVDVBSRGWER
 Plester balutan tersebut agar tidak 2 jam PP : <200 MG/DL
mudah lepas atau perban Sewaktu : <200 mg/dl
menggunakan perban gulung
7. Bereskan peralatan
8. Cuci tangan
Melakukan perawatan luka minimal 2 Terima
kali dalam sehari Kasih
LEMBAR OBSERVASI GANGGUAN INTEGRITAS KULIT

B. Identitas Responden
Nama :
Umur :
Alamat :
Jenis Kelamin :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama……x…….jam, diharapkan
Gangguan Integritas Kulit
KRITERIA HASIL
Gangguan Integritas 1 2 3 4 5
Kulit Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
Elastisitas
Hidrasi
Perfusi Jaringan

KRITERIA HASIL
Gangguan Integritas 1 2 3 4 5
Kulit Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun
Meningkat Menurun
Kerusakan Lapisan
Kulit
Nyeri
Perdarahan
Kemerahan
Hematomi
Pigmentasi abnormal
Jaringan Parut
Nekrosis
Abrasi Kornea

KRITERIA HASIL
Gangguan Integritas 1 2 3 4 5
Kulit Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik
Memburuk Membaik
Suhu Kulit
Sensasi
Tekstur
Pertumbuhan rambut
Format Pengkajian Asuhan Keperawatan Medikal Bedah

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PALEMBANG

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES

PALEMBANG

FORMAT PENGKAJIAN

Nama Mahasiswa : …………… Tempat Praktik : ……………..

NIM : …………… [Link] :……………...


I. Identitas klien
Nama (inisial) : ………………......
Tgl MRS : ……………...
TTL : …………………..
Sumber : ……………...
(kab/kota, umur) /………tahun Informasi
Jenis kelamin : Perempuan/Laki-laki
Alamat :
……………………………………………………… Status perkawinan
: Kawin Janda Duda Belum kawin
Agama : …………………...
Suku : …………………...
Pendidikan : SD SMP SMA PT
Pekerjaan : PNS ABRI / POLRI Pensiunan Wiraswasta Tani Buruh
Keluarga terdekat yang dapat dihubungi segera (orang tua/wali/suami/istri/dll)
Nama.................................................(lengkap/panggilan)
Pendidikan : SD SMP SMA PT
Pekerjaan : PNS ABRI / POLRI Pensiunan Wiraswasta Tani
Buruh Alamat : ……………………………………………………..
II. Status Kesehatan saat ini
1. Alasan kunjungan/ : ..............................................................
Keluhan utama :
2. Faktor pencetus : .............................................................................. ..
3. Lamanya keluhan : ..............................................................................
4. Timbulnya keluhan : Bertahap Mendadak
5. Faktor yang : ...................................................memperberat ...................
6. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya Sendiri : ............................
Orang lain : ..............................................................................
7. Diagnosis Medis : ..............................................................................
III. Riwayat Kesehatan yang lalu
1. Penyakit yang pernah dialami
a. Kanak-kanak : ..............................................................................
b. Kecelakaan
c. Pernah dirawat : Penyakit : ...... Waktu/lama: ........... /.......
d. Operasi : ..............................................................................
2. Alergi : ..............................................................................
3. Imunisasi : ................................... ...........................................
4. Kebiasaan : Merokok Kopi Alkohol
Lain-lain, sebutkan .......................................
5. Obat-obatan
Sendiri : Jenis :.............. , lamanya: ..........
Orang lain (resep) : Jenis :.............. , lamanya: ..........
6. Pola nutrisi
a. Frekuensi makan....................................x / hari
b. Berat Badan (BB)....................................kg
c. Tinggi Badan (TB)..................................cm
d. Jenis makanan : .............................................................................. ......
e. Nafsu makan : Baik
Sedang, alasan; mual/muntah/sariawan
Kurang, alasan; mual/muntah/sariawan
f. Perubahan BB : Tetap
3 bulan terakhir Bertambah.........kg
Berkurang..........kg
7. Pola Eliminasi
a. Buang Air Besar
Frekuensi : ......... x/hari Pengg. pencahar: Ya Tidak
Waktu : Pagi Sore Malam
Warna : Kuning Hitam Abu-abu Lain..........
Konsistensi : Keras Lunak LembekCair
b. Buang Air Kecil
Frekuensi.......................................x/hari
Warna : Kuning/jernih Coklat Coklat tua
Bau : Putih Merah Lain-lain, sebutkan............
8. Pola tidur dan istirahat
a. Waktu tidur (jam)..................................WIB
b. Lama tidur (jam)....................................jam
c. Kebiasaan pengantar : ...........................................
d. Kesulitan dalam : Menjelang tidur hal tidur
Sering/mudah terbangun
Merasa tidak puas setelah bangun tidur
9. Pola aktivitas dan Latihan
a. Kegiatan dalam : ..............................................................................
pekerjaan
b. Olahraga : Jenis, sebutkan ..................... frekuensi: ..........
c. Kegiatan dalam :
waktu luang .............................................................................. ..
d. Kesulitan/keluhan Pergerakan tubuh dalam hal :
Mandi mengenakan pakaian
Bersolek
Berhajat
Sesak napas setelah mengadakan aktivitas
Mudah merasa kelelahan
10. Pola Bekerja
a. Jenis pekerjaan : PNS ABRI/POLRI Pensiunan
Wiraswasta Tani Buruh Belum kerja
b. Jumlah jam kerja........................jam/24 jam
c. Jadual kerja : Reguler Shift
d. Lain-lain, sebutkan :
IV. Riwayat Keluarga
Genogram
V. Riwayat Lingkungan
1. Kebersihan : ..............................................................................
2. Bahaya
3. Polusi :
VI. Aspek Psikososial
1. Pola pikir dan persepsi
a. Alat bantu yang : Kaca mata
digunakan Alat bantu pendengaran
b. Kesulitan yang : Sering pusing dialami
Menurunnya sensitifitas terhadap sakit
Menurunnya sensitifitas terhadap panas/dingin
Membaca/menulis
2. Persepsi diri
a. Hal yang sangat : .........................................................................
b. Harapan setelah : ..............................................................................
menjalani perawatan
c. Perubahan yang :
dirasa setelah sakit
3. Suasana hati : ..............................................................................
Rentang perhatian :
4. Hubungan / Bahasa utama : ................................................
komunikasi Bahasa daerah : ................................................
a. Bicara : JelasRelevan
Mampu mengekspresikan
Mampu mengerti orang
lain
b. Tempat tinggal : Sendiri
Bersama orang lain, yaitu .................................
c. Kehidupan keluarga : Adat istiadat yang dianut: ....................................
Pembuatan keputusan dalam keluarga:................
Pola komunkasi : .................................................
Keuangan : Memadai Kurang
e. Kesulitan dalam : Hubungan orang tua
keluarga Hubungan sanak saudara
Hubungan perkawinan
5. Kebiasaan Seksual
a. Gangguan hubungan seksual disebabkan kondisi :
Fertilitas Libido Ereksi
Menstruasi Kehamilan Alat kontrasepsi
b. Pemahaman terhadap fungsi seksual : ................................................
6. Pertahanan Koping
a. Pengambilan : Sendiri
keputusan Dibantu orang lain, sebutkan ..........................
b. Yang disukai tentang diri sendiri
c. Yang ingin dirubah dari kehidupan
d. Yang dilakukan jika : Pemecahan masalah Stress Makan
Tidur Makan obat Cari pertolongan Lain-lain (misal. marah, diam, dll),
sebutkan .........................................................
e. Yang dilakukan perawat agar anda nyaman dan aman
7. Sistem Nilai – Kepercayaan
a. Siapa atau apa :................................................................................sumber
kekuatan ..............................................................................
b. Apakakah Tuhan, Agama, Ya
Kepercayaan Tidak
c. Kegiatan agama atau kepercayaan yang dilakukan (macam dan
frekuensi), sebutkan ....................................................................................
d. Kegiatan agama atau kepercayaan yang ingin dilakukan selama di
Rumah Sakit,
sebutkan ............................................................................................
8. Tingkat perkembangan : Usia Karakteristik
VII. Pengkajian Fisik
1. Kepala : Bentuk : ..............................................................
Keluhan yang berhubungan : Pusing
Sakit kepala Lain-lain, sebutkan ..............
2. Mata : Ukuran pupil..............mm Isokor Unisokor
Reaksi terhadap cahaya : .....................................
Akomodasi : ........................................................
Bentuk : ...............................................................
Konjungtiva : .......................................................
Fungsi penglihatan : Baik Kabur Tidak
jelas Dua bentuk Sakit
Tanda-tanda radang : ...........................................
Pemeriksaan mata terakhir : ................................
Operasi : ..............................................................
Kaca Mata : .........................................................
Lensa Kontak : ....................................................
3. Hidung : Reaksi alergi : ......................................................
Cara mengatasinya : ......................................
Pernah mengalami flu : ........................................
Bagaimana frekuensi per tahun : ..................
Perdarahan : .........................................................
4. Mulut dan Gigi Gigi : ....................................................................
Kesulitan/gg berbicara : .......................................
Kesulitan menelan : .............................................
Pemeriksaan gigi terakhir : ..................................
5. Pernapasan : Suara napas: Wheezing Ronchi basah
Ronchi kering Lain-lain, sebutkan..............
Frekuensi :.........................x/menit
Pola napas: ...........................................................
Batuk : Ya Tidak
Dispnea : Ya Tidak
Sputum :.............................Nyeri : Ya Tidak
Kemampuan melakukan aktivitas : ..................
Batuk darah : Ya Tidak
Sianosis : .........................
Rontgen Foto terakhir .....Hasil ..........
6. Kardiovaskuler dan : Nadi perifer : .........................
…………………….. Sirkulasi Capillary Refill (CR)
: .........
Distensi vena jugularis : ………………………..
Suara jantung :
…………………………………. Suara jantung
tambahan : ....................................
Irama jantung (monitor) : ....................................
Nyeri : ............................. Edema : ....................
Palpitasi : ......................... Baal : .........................
Perubahan warna (kulit, kuku, bibir, dll) : ..........
Clubbing : ...................................................
Keadaan ekstrimitas :..........................................
Synkop : ...............................................................
7. Nutrisi : Jenis diet : ............................................................
Napsu makan : Baik
Kurang Rasa mual : Ya
Tidak Muntah : Ya Tidak
Intake cairan, Jenis: ................. Jumlah: ............
8. Eliminasi

Buang Air Besar : Penggunaan laxantif : Ya


Tidak
Colostomy : .........................................................
Ileostomy : .........................................................
Konstipasi : ........................................................
Diare : ..................................................................
Buang Air Kecil : Inkontinensia : Ya Tidak
Infeksi : ...........................................................
Hamaturia : Ya Tidak
Kateter : Ya, sebutkan................Tidak
Urin – Output.........................................cc
9. Reproduksi : Kehamilan : .........................................................
Buah dada : ..........................................................
Perdarahan : .........................................................
Pemeriksaan pap smear terakhir.......... ................
Hasil ..............................................................
Keputihan ............................................................
Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) ..........
Prostat : ................................................................
Penggunaan kateter : ...........................................
10. Persafaran : Tingkat kesadaran : ......................... GCS : .......
Orientasi : ............................................................
Riwayat epilepsi / kejang / parkinson :
Ya Tidak
Reflek : ................................................................
Kekuatan menggenggam : ..................................
Pergerakan ekstrimitas : ......................................
11. Muskuloskletal : Nyeri : ..................................................................
Kekakuan : ...........................................................
Pola latihan gerak : ..............................................
12. Kulit : Warna : ................................................................
Integritas : ............................................................
Turgor : ................................................................
VIII. Data Laboratorium
Jenis Hasil Tanggal
IX. Pengobatan
Obat Dosis Tanggal
X. Hasil Pemeriksaan Penunjang
lainnya Jenis Hasil Tanggal
XI. Persepsi Klien terhadap
Penyakitnya at terhadap klien
XIII. Kesimpulan

Anda mungkin juga menyukai