BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kehamilan
1. Definisi kehamilan
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari
spertmatozoa dan ovum serta dilanjutkan dengan nidasi atau
implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahir bayi,
kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10
bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional (Walyani, 2015).
Kehamilan adalah suatu kondisi seorang wanita memiliki janin yang
tengah tumbuh dalam tubuhnya. Umunya janin tumbuh didalam
rahim. Waktu hamil pada manusia sekitar 40 minggu atau 9 bulan
(Romauli, 2011).
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan
didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan
ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung
dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan
berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan
menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester,
dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester
kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga
13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40) (Prawirohardjo, 2014).
Kehamilan adalah suatu keadaan di dalam rahim seorang wanita
terdapat hasil konsepsi (pertemuan ovum dan spermatozoa).
Kehamilan merupakan suatu proses yang alamiah dan fisiologis
(Yanti, 2015).
2. Fisiologi kehamilan
Proses kehamilan merupakan mata rantai yang
berkesinambungan yang terdiri dari : Pada saat ovulasi, ovum
dikeluarkan dari folikel de graff di dalam ovarium. Folikel yang
ruptur akan mengalami sejumlah perubahan sehingga terbuat korpus
luteum menstruasi yang menstruasi yang secara progresif akan
mengalami degenerasi dan regresi menyeluruh pada menstruasi
berikut. Apabila ovum telah di buahi maka korpus luteum akan di
pertahankan oleh produksi gonadotropin chorionic (HCG) yang
dihasilkan oleh sinsitio trofoblas disekeliling blastokis dan menjadi
korpus luteum kehamilan (Nuswantari, 2012).
Progesterone yang terus menerus diproduksi oleh korpus luteum
pada masa hamil akan mempertahankan lapisan uterus hingga siap
untuk implantasi, Plasenta mulai memproduksi sejumlah
progesterone yang cukup untuk mengambil alih fungsi korpus
luteum. Bila lapisan uterus tetap dapat dipertahankan, Maka
menstruasi tidak akan terjadi. Hal ini biasanya merupakan indikasi
pertama terjadinya kehamilan. Plasenta menghasilkan beberapa
hormon. Hormon ini mengakibatkan sejumlah perubahan fisiologis
yang dapat membantu menegakkan diagnosis kehamilan, HCG
merupakan data dasar pada tes-tes imunologi kehamilan
(Prawihardjo, 2014).
3. Tanda-tanda kehamilan
Terdapat dua tanda yang menunjukkan seorang wanita
mengalami suatu kehamilan, tanda pasti dan tanda tidak pasti. Tanda
tidak pasti dibagi menjadi dua, pertama tanda subjektif (presumtif)
yaitu dugaan atau perkiraan seorang wanita mengalami suatu
kehamilan, kedua tanda objektif (probability) atau kemungkinan
hamil.
a. Tanda pasti
1) Terdengar Denyut Jantung Janin (DJJ)
Denyut jantung janin dapat didengarkan dengan stetoskop
Laennec/ stetoskop Pinard pada minggu ke 17-18. Serta dapat
didengarkan dengan stetoskop ultrasonik (doppler) sekitar
minggu ke 12. Auskultasi pada janin dilakukan dengan
mengidentifikasi bunyi-bunyi lain yang meyertai seperti
bising tali pusat, bising uterus, dan nadi ibu (Kumalasari,
2015).
2) Melihat, meraba dan mendengar pergerakan anak saat
melakukan pemeriksaan,
3) Melihat rangka janin pada sinar rontgen atau dengan USG
(Sunarti, 2013).
b. Tanda-tanda tidak pasti
1) Tanda Subjektif (Presumtif/ Dugaan Hamil)
a) Aminorhea (Terlambat datang bulan)
Aminorhea adalah kondisi dimana wanita yang sudah
mampu hamil, mengalami terlambat haid/ datang bulan.
Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi
pembentukan folikel degraaf dan ovulasi. Pada wanita yang
terlambat haid dan diduga hamil, perlu ditanyakan hari
pertama haid terakhirnya (HPHT) supaya dapat ditaksir
umur kehamilan dan taksiran tanggal persalinan (TTP)
yang dihitung dengan menggunakan rumus Naegele yaitu
TTP : (hari pertama HT + 7), (bulan - 3) dan (tahun + 1)
(Kumalasari, 2015).
b) Mual (nausea) dan Muntah (vomiting)
Pengaruh estrogen dan progesteron menyebabkan
pengeluaran asam lambung yang berlebihan dan
menimbulkan mual muntah yang terjadi terutama pada pagi
hari yang disebut dengan morning sickness. Akibat mual
dan muntah ini nafsu makan menjadi berkurang. Dalam
batas yang fisiologis hal ini dapat diatasi Dalam batas
tertentu hal ini masih fisiologis Untuk mengatasinya ibu
dapat diberi makanan ringan yang mudah dicerna dan tidak
berbau menyengat (Kumalasari, 2015).
c) Mengidam
Wanita hamil sering makan makanan terntentu, keinginan
yang demikian disebut dengan mengidam, seringkali
keinginan makan dan minum ini sangat kuat pada bulan-
bulan pertama kehamilan. Namun hal ini akan berkurang
dengan sendirinya seiring bertambahnya usia kehamilan.
d) Syncope (pingsan)
Terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral)
menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan
menimbulkan syncope atau pingsan bila berada pada
tempa-tempat ramai yang sesak dan padat. Keadaan ini
akan hilang sesudah kehamilan 16 minggu (Kumalasari,
2015).
e) Perubahan Payudara
Akibat stimulasi prolaktin dan HPL, payudara mensekresi
kolostrum, biasanya setelah kehamilan lebih dari 16
minggu (Sartika, 2016). Pengaruh estrogen- progesteron
dan somatotropin menimbulkan deposit lemak, air dan
garam pada payudara. Payudara membesar dan tegang,
ujung saraf tertekan menyebabkan rasa sakit terutama pada
hamil pertama (Kumalasari, 2015). Selain itu, perubahan
lain seperti pigmentasi, puting susu, sekresi kolostrum dan
pembesaran vena yang semakin bertambah seiring
perkembangan kehamilan.
f) Sering miksi
Sering buang air kecil disebabkan karena kandung kemih
tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Gejala ini akan
hilang pada triwulan kedua kehamilan. Pada akhir
kehamilan, gejala ini kembali karena kandung kemih
ditekan oleh kepala janin (Prawirohardjo, 2014).
g) Konstipasi atau obstipasi
Pengaruh progesteron dapat menghambat peristaltik usus
(tonus otot menurun) sehingga kesulitan untuk BAB
(Sunarsih dkk., 2011).
h) Pigmentasi kulit
Pigmentasi terjadi pada usia kehamilan lebih dari 12
minggu. Terjadi akibat pengaruh hormon kortikosteroid
plasenta yang merangsang melanofor dan kulit. Pigmentasi
ini meliputi tempat-tempat berikut ini:
1. Daerah pipi: Cloasma gravidarum (penghitaman pada
daerah dahi, hidung, pipi, dan leher)
2. Daerah leher: Terlihat tampak lebih hitam
3. Dinding perut: Strie livide/ gravidarum yaitu tanda
yang dibentuk akibat serabut-serabut elastis lapisan
kulit terdalam terpisah dan putus/ merenggang,
bewarna kebiruan, kadang dapat menyebabkan rasa
gatal (pruritus), linea alba atau garis keputihan di perut
menjadi lebih hitam (linea nigra atau garis gelap
vertikal mengikuti garis perut (dari pusat simpisis)
(Sunarti, 2013).
4. Sekitar payudara: hiperpigmentasi areola mamae
sehingga terbentuk areola sekunder. Pigmentasi areola
ini berbeda pada tiap wanita, ada yang merah muda
pada wanita kulit putih, coklat tua pada wanita kulit
coklat, dan hitam pada wanita kulit hitam. Selain itu,
kelenjar montgomeri menonjol dan pembuluh darah
menifes sekitar payudara.
5. Sekitar pantat dan paha atas : terdapat striae akibat
pembesaran bagian tersebut.
i) Epulis
Hipertropi papilla ginggivae/ gusi, sering terjadi pada
trimester pertama.
j) Varises (penampakan pembuluh darah vena)
Pengaruh estrogen dan progesteron menyebabkan
pelebaran pembuluh darah terutama bagi wanita yang
mempunyai bakat. Varises dapat terjadi di sekitar genitalia
eksterna, kaki dan betis serta payudara. Penampakan
pembuluh darah ini dapat hilang setelah peralinan (Hani
dkk., 2011).
c. Tanda Obyektif (Probability/ Kemungkinan)
1) Pembesaran Rahim/ Perut
Rahim membesar dan bertambah besar terutama setelah
kehamilan 5 bulan, karena janin besar secara otomatis rahim
pun membesar dan bertempat di rongga perut. Tetapi perlu di
perhatikan pembesaran perut belum jadi tanda pasti
kehamilan, kemungkinan lain disebabkan oleh mioma, tumor,
atau kista ovarium.
2) Perubahan Bentuk dan Konsistensi Rahim
Perubahan dapat dirasakan pada pemeriksaan dalam,
rahim membesar dan makin bundar, terkadang tidak rata tetapi
pada daerah nidasi lebih cepat tumbuh atau biasa disebut
tanda Piscasek.
3) Perubahan Pada Bibir Rahim
Perubahan ini dapat dirasakan pada saat pemeriksaan
dalam, hasilnya akan teraba keras seperti meraba ujung
hidung, dan bibir rahim teraba lunak seperti meraba bibir atau
ujung bawah daun telinga (Sunarti, 2013).
4) Kontraksi Braxton Hicks
Kontraksi rahim yang tidak beraturan yang terjadi selama
kehamilan, kontraksi ini tidak terasa sakit, dan menjadi cukup
kuat menjelang akhir kehamilan. Pada waktu pemeriksaan
dalam, terlihat rahim yang lunak seakan menjadi keras karena
berkontraksi.
5) Adanya Ballotement
Ballotement adalah pantulan yang terjadi saat jari telunjuk
pemeriksa mengetuk janin yang mengapung dalam uterus, hal
ini menyebabkan janin berenang jauh dan kembali
keposisinya semula/ bergerak bebas. Pantulan dapat terjadi
sekitasr usia 4-5 bulan, tetapi ballotement tidak
dipertimbangkan sebagai tanda pasti kehamilan, karena
lentingan juga dapat terjadi pada tumor dalam kandungan ibu.
6) Tanda Hegar dan Goodells
Tanda hegar yaitu melunaknya isthmus uteri (daerah yang
mempertemukan leher rahim dan badan rahim) karena selama
masa hamil, dinding-dinding otot rahim menjadi kuat dan
elastis sehingga saat di lakukan pemeriksaan dalam akan
teraba lunak dan terjadi antara usia 6-8 minggu kehamilan dan
tanda goodells yaitu melunaknya serviks akibat pengaruh
hormon esterogen yang menyebabkan massa dan kandungan
air meningkat sehingga membuat serviks menjadi lebih lunak
(Kumalasari, 2015).
7) Tanda Chadwick
Tanda yang berwarna kebiru-biruan ini dapat terlihat saat
melakukan pemeriksaan, adanya perubahan dari vagina dan
vulva hingga minggu ke 8 karena peningkatan vaskularitas
dan pengaruh hormon esterogen pada vagina. Tanda ini tidak
dipertimbangkan sebagai tanda pasti, karena pada kelainan
rahim tanda ini dapat diindikasikan sebagai pertumbuhan
tumor.
8) Hyperpigmentasi Kulit
Bintik-bintik hitam (hyperpigmentasi) pada muka disebut
chloasma gravidarum. Hyperpigmentasi ini juga terdapat pada
areola mamae atau lingkaran hitam yang mengelilingi puting
susu, pada papilla mamae (puting susu) dan di perut. Pada
wanita yang tidak hamil hal ini dapat terjadi kemungkinan
disebabkan oleh faktor alergi makanan, kosmetik, obat-obatan
seperti pil KB (Sunarti, 2013).
Beberapa test yang dapat dilakukan untuk mengetahui ada
tidaknya suatu kehamilan yaitu :
a. Tes Urine
Tes urine dapat dilakukan dirumah atau dilaboratorium.
Test pack atau alat tes kehamilan yang banyak digunakan oleh
pasangan suami istri secara mandiri dengan mudah, meskipun
terdapat banyak macam jenis tes pack baik yang berbentuk strip
(sekali pakai), berbentuk pena, atau batangan kecil tetapi pada
prinsipnya cara kerja tes pack tersebut sama, yaitu untuk
mengetahui ada tidaknya peningkatan hormon kehamilan human
chorionic gonadotropin (HCG) di dalam tubuh. Jika memang
hamil, hormon ini terdapat di dalam urine dan darah.
Peningkatan HCG terjadi kurang lebih satu minggu
setelah ovulasi, sehingga disarankan agar melakukan tes minimal
tujuh hari supaya hasil yang diperoleh lebih akurat. Selain cara
mendapatkanya yang mudah, penggunaanya juga mudah yaitu
dengan cara mencelupkan atau menetesinya dengan urin
pengguna, tunggu selama beberapa menit hingga muncul tanda
positif negatif atau berapa jumlah strip yang muncul (sesuai
petunjuk penggunaan sebelum menggunakanya). Tes ini
sebaiknya dilakukan di pagi hari, karena saat pagi hari (bangun
tidur) urine dalam keadaan murni belum tercampur oleh zat-zat
makanan yang dikonsumsi (Manuaba, 2017).
b. Tes Darah
Prinsipnya sama dengan tes urine yaitu menguji adanya
HCG dalam tubuh. Bedanya, tes darah ini tidak dapat dilakukan
sendiri dirumah, melainkan dilakukan di laboratorium dengan
jalan mengambil contoh darah. Jika terdapat peningkatan HCG
didalam darah, maka dinyatakan positif hamil, demikian juga
seterusnya.
c. Tes Ultra Sonography (USG)
Tes ini di lakukan oleh seorang dokter dengan
memastikan kehamilan melalui USG yang dapat melihat bagian
dalam tubuh manusia. Dari gambaran yang ditampilkan alat
tersebut, dokter akn melihat didalam rahim terdapat embrio atau
tidak. Jika kehamilan sudah berjalan enam minggu, alat ini
sangat membantu dokter dalam menganalisis suatu kehamilan.
Selain melihat ada tidaknya embrio, penggunaan USG juga dapat
digunakan untuk amengetahui taksiran persalinan, perkiraan usia
kehamilan, serta perkiraan berat badan dan panjang janin
(Manuaba, 2017).
4. Usia Kehamilan
Usia kehamilan normal dan sehat selama 280 hari atau 40
minggu, dan dapat di bagi menjadi tiga trimester.
a. Trimester Pertama (I)
Kehamilan trimester pertama adalah keadaan
mengandung embrio atau fetus didalam tubuh 0-14 minggu.
Mual dan muntah adalah gejala yang wajar dan sering terjadi
pada kehamilan trimester pertama. Mual biasanya timbul pada
pagi hari tetapi dapat pula timbul setiap saat dan pada malam
hari. Gejala ini biasanya terjadi pada usia kehamilan 6 minggu
hingga 10 minggu (Walyani, 2015).
b. Trimester Kedua (II)
Kehamilan trimester kedua adalah mengandung embrio
atau fetus dalam tubuh 14- 28 minggu. Pada masa ini ibu hamil
akan merasa lebih tenang, tentram tanpa gangguan berarti. Pada
trimester kedua janin berkembang menuju maturasi, maka
pemberian obat- obatan harus dijaga agar jangan menganggu
pembentukan gigi geligi janin seperti antibiotika, tetrasiklin,
klindamisin (Walyani, 2015).
c. Trimester Ketiga (III)
Trimester ketiga adalah keadaan mengandung embrio atau
fetus di dalam tubuh pada 28-40 minggu. Pada trimester ketiga
rasa lelah, ketidaknyamanan, dan depresi ringan akan meningkat.
Tekanan darah ibu hamil biasanya meninggi, dan kembali normal
setelah melahirkan. Peningkatan hormon estrogen dan
progesteron memuncak pada trimester ini (Walyani, 2015).
5. Perubahan Anatomis dan Fisiologis dalam Masa Kehamilan
Banyak perubahan-perubahan yang terjadi setelah fertilisasi dan
berlanjut sepanjang kehamilan. Berikut beberapa perubahan anatomi
dan fisiologis yang terjadi pada wanita hamil, diantaranya :
a. Perubahan Sistem Reproduksi
1) Vagina dan Vulva
Vagina sampai minggu ke-8 terjadi peningkatan
vaskularisasi atau penumpukan pembuluh darah dan pengaruh
hormon esterogen yang menyebabkan warna kebiruan pada
vagina yang disebut dengan tanda Chadwick. Perubahan pada
dinding vagina meliputi peningkatan ketebalan mukosa
vagina, pelunakan jaringan penyambung, dan hipertrofi
(pertumbuhan abnormal jaringan) pada otot polos yang
merenggang, akibat perenggangan ini vagina menjadi lebih
lunak. Respon lain pengaruh hormonal adalah seksresi sel-sel
vagina meningkat, sekresi tersebut berwarna putih dan bersifat
sangat asam karena adanya peningkatan PH asam sekitar (5,2-
6). Keasaman ini berguna untuk mengontrol pertumbuhan
bakteri patogen/ bakteri penyebab penyakit (Kumalasari,
2015).
2) Uterus/ Rahim
Perubahan yang amat jelas terjadi pada uterus/ rahim
sebagai ruang untuk menyimpan calon bayi yang sedang
tumbuh. Perubahan ini disebabkan antara lain :
a) Peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah.
b) Hipertrofi dan hiperplasia (pertumbuhan dan
perkembangan jaringan abnormal) yang meyebabkan otot-
otot rahim menjadi lebih besar, lunak dan dapat mengikuti
pembesaran rahim karena pertumbuhan janin.
c) Perkembangan desidua atau sel-sel selaput lendir rahim
selama hamil. Ukuran uterus sebelum hamil sekitar 8 x 5 x
3 cm dengan berat 50 gram (Sunarti, 2013). Uterus
bertambah berat sekitar 70- 1.100 gram selama kehamilan
dengan ukuran uterus saat umur kehamilan aterm adalah 30
x 25 x 20 cm dengan kapasitas > 4.000 cc. Pada perubahan
posisi uterus di bulan pertama berbentuk seperti alpukat,
empat bulan berbentuk bulat, akhir kehamilan berbentuk
bujur telur. Pada rahim yang normal/ tidak hamil sebesar
telur ayam, umur dua bulan kehamilan sebesar telur bebek,
dan umur tiga bulan kehamilan sebesar telur angsa
(Kumalasari, 2015). Dinding-dinding rahim yang dapat
melunak dan elastis menyebabkan fundus uteri dapat
didefleksikan yang disebut dengan [Link], serta
bertambahnya lunak korpus uteri dan serviks di minggu
kedelapan usia kehamilan yang dikenal dengan tanda
Hegar. Perhitungan lain berdasarkan perubahan tinggi
fundus menurut Sartika (2016) dengan jalan mengukur
tinggi fundus uteri dari simfisis maka diperoleh, usia
kehamilan: 22-28 minggu : 24-26 cm, 28 minggu : 26,7
cm, 30 minggu : 29-30 cm, 32 minggu : 29,5-30 cm, 34
minggu : 30 cm, 36 minggu : 32 cm, 38 minggu : 33 cm,
40 minggu : 37,7 cm.
3) Serviks
Akibat pengaruh hormon esterogen menyebabkan massa
dan kandungan air meningkat sehingga serviks mengalami
penigkatan vaskularisasi dan oedem karena meningkatnya
suplai darah dan terjadi penumpukan pada pembuluh darah
menyebabkan serviks menjadi lunak tanda (Goodel) dan
berwarna kebiruan (Chadwick) perubahan ini dapat terjadi
pada tiga bulan pertama usia kehamilan.
4) Ovarium
Manuaba (2015) mengemukakan dengan adanya
kehamilan, indung telur yang mengandung korpus luteum
gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya
plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu. Pada kehamilan
ovulasi berhenti, corpus luteum terus tumbuh hingga
terbentuk plasenta yang mengambil alih pengeluaran hormon
estrogen dan progesterone.
5) Kulit
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan
hiperpigmentasi karena pengaruh melanocyte stimulating
hormone atau hormon yang mempengaruhi warna kulit pada
lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis
(kelenjar pengatur hormon adrenalin). Hiperpigmentasi ini
terjadi pada daerah perut (striae gravidarum), garis gelap
mengikuti garis diperut (linia nigra), areola mama, papilla
mamae, pipi (cloasma gravidarum). Setelah persalinan
hiperpigmentasi ini akan berkurang dan hilang.
6) Payudara
Perubahan ini pasti terjadi pada wanita hamil karena
dengan semakin dekatnya persalinan, payudara menyiapkan
diri untuk memproduksi makanan pokok untuk bayi baru
lahir. Perubahan yang terlihat diantaranya :
a) Payudara membesar, tegang dan sakit hal ini dikarenakan
karena adanya peningkatan pertumbuhan jaringan alveoli
dan suplai darah yang meningkat akibat oerubahan hormon
selama hamil.
b) Terjadi pelebaran pembuluh vena dibawah kulit payudara
yang membesar dan terlihat jelas.
c) Hiperpigmentasi pada areola mamae dan puting susu serta
muncul areola mamae sekunder atau warna tampak
kehitaman pada puting susu yang menonjol dan keras.
d) Kelenjar montgomery atau kelenjar lemak di daerah sekitar
puting payudara yang terletak di dalam areola mamame
membesar dan dapat terlihat dari luar. Kelenjar ini
mengeluarkan banyak cairan minyak agar puting susu
selalu lembab dan lemas sehingga tidak menjadi tempat
berkembang biak bakteri.
e) Payudara ibu mengeluarkan cairan apabila di pijat. Mulai
kehamilan 16 minggu, cairan yang dikeluarkan bewarna
jernih. Pada kehamilan 16 minggu sampai 32 minggu
warna cairan agak putih seperti air susu yang sangat encer.
Dari kehamilan 32 minggu sampai anak lahir, cairan yang
keluar lebih kental, berwarna kuning, dan banyak
mengandung lemak. Cairan ini di sebut kolostrum.
b. Sistem Sirkulasi Darah (Kardiovaskular)
Volume darah semakin meningkat karena jumlah serum
lebih besar daripada pertumbuhan sel darah sehingga terjadi
hemodelusi atau pengenceran darah. Volume darah ibu
meningkat sekitar 30%-50% pada kehamilan tunggal, dan 50%
pada kehamilan kembar, peningkatan ini dikarenakan adanya
retensi garam dan air yang disebabkan sekresi aldosteron dari
hormon adrenal oleh estrogen. Cardiac output atau curah jantung
meningkat sekitar 30%, pompa jantung meningkat 30% setelah
kehamilan tiga bulan dan kemudian melambat hingga umur 32
minggu. Setelah itu volume darah menjadi relatif stabil
(Kumalasari, 2015). Jumlah sel darah merah semakin meningkat,
hal ini untuk mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim,
tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan
volume darah sehingga terjadi hemodelusi yang disertai anemia
fisiologis. Dengan terjadinya hemodelusi, kepekatan darah
berkurang sehingga tekanan darah tidak udah tinggi meskipun
volume darah bertambah.
c. Perubahan Sistem Pernafasan (Respirasi)
Seiring bertambahnya usia kehamilan dan pembesaran
rahim, wanita hamil sering mengeluh sesak dan pendek napas,
hal ini disebabkan karena usus tertekan ke arah diafragma akibat
dorongan rahim yang membesar. Selain itu kerja jantung dan
paru juga bertambah berat karena selama hamil, jantung
memompa darah untuk dua orang yaitu ibu dan janin, dan paru-
paru menghisap zat asam (pertukaran oksigen dan
karbondioksida) untuk kebutuhan ibu dan janin.
d. Perubahan Sistem Perkemihan (Urinaria)
Selama kehamilan ginjal bekerja lebih berat karena
menyaring darah yang volumenya meningkat sampai 30-50%
atau lebih, serta pembesaran uterus yang menekan kandung
kemih menyebabkan sering berkemih (Sunarti, 2013). Selain itu
terjadinya hemodelusi menyebabkan metabolisme air makin
lancar sehingga pembentukan air seni pun bertambah. Faktor
penekanan dan meningkatnya pembentukan air seni inilah yang
menyebabkan meningkatnya frbeberapa hormon yang dihasilkan
yaitu hormoekuensi berkemih. Gejala ini akan menghilang pada
trimester 3 kehamilan dan diakhir kehamilan gangguan ini akan
muncul kembali karena turunya kepala janin ke rongga panggul
yang menekan kandung kemih.
e. Perubahan Sistem Endokrin
Plasenta sebagai sumber utama setelah terbentuk
menghasikan hormon human chorionic gonadotrophin (HCG)
hormon utama yang akan menstimulasi pembentukan esterogen
dan progesteron yang di sekresi oleh korpus luteum, berperan
mencegah terjadinya ovulasi dan membantu mempertahankan
ketebalan uterus. Hormon lain yang dihasilkan yaitu hormon
human placenta lactogen (HPL) atau hormon yang merangsang
produksi ASI, hormon human chorionic thyrotropin (HCT) atau
hormon penggatur aktivitas kelenjar tyroid, dan hormon
melanocyte stimulating hormon (MSH) atau hormon yang
mempengaruhi warna atau perubahan pada kulit.
f. Perubahan Sistem Gastrointestinal
Perubahan pada sistem gasrointestinal tidak lain adalah
pengaruh dari faktor hormonal selama kehamilan. Tingginya
kadar progesteron mengganggu keseimbangan cairan tubuh yang
dapat meningkatkan kolesterol darah dan melambatkan kontraksi
otot-otot polos, hal ini mengakibatkan gerakan usus (peristaltik)
berkurang dan bekerja lebih lama karena adanya desakan akibat
tekanan dari uterus yang membesar sehingga pada ibu hamil
terutama pada kehamilan trimester III sering mengeluh
konstipasi/sembelit. Selain itu adanya pengaruh esterogen yang
tinggi menyebabkan pengeluaran asam lambung meningkat dan
sekresi kelenjar air liur (saliva) juga meningkat karena menjadi
lebih asam dan lebih banyak. Menyebabkan daerah lambung
terasa panas bahkan hingga dada atau sering disebut heartburn
yaitu kondisi dimana makanan terlalu lama berada dilambung
karena relaksasi spingter ani di kerongkongan bawah yang
memungkinkan isi lambung kembali ke kerongkongan
(Kumalasari, 2015).
Keadaan lain menimbulkan rasa mual dan pusing /sakit
kepala pada ibu terutama di pagi hari (morning sickness) jika
disertai muntah yang berlebihan hingga mengganggu aktivitas
ibu sehari-hari disebut : Hyperemesis gravidarum (Sunarti.
2013).
6. Perubahan Psikologis dalam Masa Kehamilan
a. Trimester I
Kehamilan mengakibatkan banyak perubahan dan
adaptasi pada ibu hamil dan pasangan. Trimester pertama sering
dianggap sebagai periode penyesuaian, penyesuaian seorang ibu
hamil terhadap kenyataan bahwa dia sedang hamil. Fase ini
sebagian ibu hamil merasa sedih dan ambivalen. Ibu hamil
mengalami kekecewaan, penolakan, kecemasan, dan depresi
teruma hal itu serign kali terjadi pada ibu hamil dengan
kehamilan yang tidak direncanakan. Namun, berbeda dengan ibu
hamil yang hamil dengan direncanakan dia akan merasa senang
dengan kehamilannya. Masalah hasrat seksual ditrimester
pertama setiap wanita memiliki hasrat yang berbeda-beda, karena
banyak ibu hamil merasa kebutuhan kasih sayang besar dan cinta
tanpa seks.
b. Trimester II
Trimester kedua sering dikenal dengan periode kesehatan
yang baik, yakni ketika ibu hamil merasa nyaman dan bebas dari
segala ketidaknyamanan. Pada masa trimester kedua ini ibu hamil
akan mengalami dua fase, yaitu fase praquickening dan pasca-
quickening. Di masa fase praquickening ibu hamil akan
mengalami lagi dan mengevaluasi kembali semua aspek
hubungan yang dia alami dengan ibunya sendiri. Pada trimester
kedua sebagian ibu hamil akan mengalami kemajuan dalam
hubungan seksual. Hal itu disebabkan di trimester kedua relatif
terbebas dari segala ketidaknyamanan fisik, kecemasan,
kekhawatiran yang sebelumnya menimbulkan ambivalensi pada
ibu hamil kini mulai mereda dan menuntut kasih sayang dari
pasangan maupun daeudari keluarganya.
c. Trimester III
Kehamilan pada trimester ketiga sering disebut sebagai
fase penantian dengan penuh kewaspadaan. Pada periode ini ibu
hamil mulai menyadari kehadiran bayi sebagai mahluk yang
terpisah sehingga dia menjadi tidak sabar dengan kehadiran
seorang bayi. Ibu hamil kembali merasakan ketidaknyamanan
fisik karena merasa canggung, merasa dirinya tidak menarik lagi.
Sehingga dukungan dari pasangan sangat dibutuhkan.
Peningkatan hasrat seksual yang pada trimester kedua menjadi
menurun karena abdomen yang semakin membesar menjadi
halangan dalam berhubungan (Rustikayanti, 2016).
7. Kebutuhan Dasar Pada Ibu Hamil
Agar janin dapat berkembang secara optimal, maka dalam proses
pertumbuhan dan perkembanganya perlu dipenuhi oleh zat gizi yang
lengkap, baik berupa vitamin , mineral, kalsium, karbohidrat, lemak,
protein dan mineral. Oleh karena itu selama proses kehamilan
seorang ibu hamil perlu mengkonsumsi makanan dengan kualitas gizi
yang sehat dan seimbang, karena pada dasarnya selama kehamilan
berbagai zat gizi yang kita konsumsi akan berdampak langsung pada
kesehatan dan perkembangan janin ibu sendiri. Selain gizi yang
cukup, kebutuhan dasar selama ibu hamil juga harus diperhatikan,
karena hal ini sangat berpengaruh terhadap kondisi ibu baik fisik
maupun psikologisnya mengingat reaksi terhadap perubahan selama
masa kehamilan antara satu dengan ibu hamil lainya dalam
penerimaanya tidaklah sama. Menurut Romauli (2011) kebutuhan
dasar ibu hamil diantaranya :
a. Kebutuhan Ibu Hamil Trimester I
1) Diet dalam kehamilan
Ibu dianjurkan untuk makan makanan yang mudah
dicerna dan makan makanan yang bergizi untuk menghindari
adanya rasa mual dan muntah begitu pula nafsu makan yang
menurun. Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan
yang mengandung zat besi (150 mg besi sulfat, 300 mg besi
glukonat), asam folat (0,4-0,8 mg/hari), kalori ibu hamil umur
23-50 tahun perlu kalori (sekitar 2300 kkal), protein (74
gr/hari), vitamin dan garam mineral (kalsium, fosfor,
magnesium, seng, yodium). Makan dengan porsi sedikit
namun sering dengan frekuensi sedang. Ibu hamil juga harus
cukup minum 6-8 gelas sehari.
2) Pergerakan dan gerakan badan
Selain menyehatkan badan, dengan bergerak secara tidak
langsung hal ini meminimakan rasa malas pada ibu untuk
melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak terlalu berat bagi ibu
selama hamil, bergerak juga mendukung sistem kerja tubuh
ibu selama hamil sehingga ibu yang memiliki nafsu makan
yang tinggi dan berat badan yang lebih dapat terkontrol dan
meminimalkan terjadi nya obesitas/ kegemukan selama hamil.
Pergerakan badan ibu sebagai bentuk olahraga tubuh juga
bermanfaat melatih otot-otot dalam ibu menjadi lebih
fleksibel/ lentur sehingga memudahkan jalan untuk calon bayi
ibu saat memasuki proses persalinan.
3) Hygiene dalam kehamilan
Ibu hamil boleh mengerjakan pekerjaan sehari-hari akan
tetapi jangan terlalu lelah sehingga harus di selingi dengan
istirahat. Istirahat yang dibutuhkan ibu 8 jam pada malam hari
dan 1 jam pada siang hari. Ibu dianjurkan untuk menjaga
kebersihan badan untuk mengurangi kemungkinan infeksi,
setidaknya ibu mandi 2-3 kali perhari, kebersihan gigi juga
harus dijaga kebersihannya untuk menjamin perencanaan
yang sempurna.
4) Koitus
Pada umumnya koitus diperbolehkan pada masa
kehamilannya jika dilakukan dengan hati-hati. Pada akhir
kehamilan, sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan
perasaan sakit dan perdarahan. Pada ibu yang mempunyai
riwayat abortus, ibu dianjurkan untuk koitusnya di tunda
sampai dengan 16 minggu karena pada waktu itu plasenta
telah berbentuk. Pola seksual pada trimester III saat persalinan
semakin dekat, umumnya hasrat libido kembali menurun,
bahkan lebih drastis dibandingkan dengan saat trimester
pertama. Perut yang makin membuncit membatasi gerakan
dan posisi nyaman saat berhubungan intim. Pegal dipunggung
dan pinggul, tubuh bertambah berat dengan cepat, nafas lebih
sesak (karena besarnya janin mendesak dada dan lambung).
Selain hal fisik, turunnya libido juga berkaitan dengan
kecemasan dan kekhawatiran yang meningkat menjelang
persalinan. Sebenarnya tidak ada yang perlu dirisaukan jika
kehamilan tidak disertai faktor penyulit. Hubungan seks
sebaiknya lebih diutamakan menjaga kedekatan emosional
daripada rekreasi fisik karena pada trimester terakhir ini, dapat
terjadi kontraksi kuat pada wanita hamil yang diakibatkan
karena orgasme. Hal tersebut dapat berlangsung biasanya
sekitar 30 menit hingga terasa tidak nyaman. Jika kontraksi
berlangsung lebih lama, menyakitkan, menjadi lebih kuat,
atau ada indikasi lain yang menandakan bahwa proses
kelahiran akan mulai. Akan tetapi, jika tidak terjadi penurunan
libido pada trimester ketiga ini, hal itu normal saja. Ibu hamil
berhak mengetahui pola seksual karena dapat terjadi kontraksi
kuat pada wanita hamil yang diakibatkan karena orgasme.
5) Ibu diberi imnisasi TT1 dan TT2 (Sartika, 2016).
b. Kebutuhan ibu hamil trimester II
1) Pakaian
Selama kehamilan Ibu dianjurkan untuk mengenakan
pakaian yang nyaman digunakan dan yang berbahan katun
untuk mempermudah penyerapan keringat. Menganjurkan ibu
untuk tidak menggunakan sandal atau sepatu yang berhak
tinggi karena dapat menyebabkan nyeri pada pinggang.
2) Pola Makan
Nafsu makan meningkat dan pertumbuhan yang pesat
makan ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi protein, vitamin,
juga zat besi. saat hamil kebutuhan zat besi sangat meningkat.
Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi 90 tablet Fe selama
hamil. Besarnya angka kejadian anemia ibu hamil disebabkan
karena kurangnya mengkonsumsi tablet Fe. Efek samping
tablet Fe adalah kadang terjadi mual karena bau tablet
tersebut, muntah, perut tidak enak, susah buang air besar, tinja
berwarna hitam, namun hal ini tidak berbahaya. Waktu yang
dianjurkan minum tablet Fe adalah pada pada malam hari
menjelang tidur, hal ini untuk mengurangi rasa mual yang
timbul setelah ibu meminumnya.
3) Ibu diberi imunisasi TT3.
c. Kebutuhan ibu hamil trimester III
1) Nutrisi
Kecukupan gizi ibu hamil di ukur berdasarkan kenaikan
berat badan. Kalori ibu hamil 300-500 kalori lebih banyak
dari sebelumnya. Kenaikan berat badan juga bertambah pada
trimester ini antara 0,3-0,5 46 kg/minggu. Kebutuhan protein
juga 30 gram lebih banyak dari biasanya.
2) Seksual
Hubungan seksual pada trimester III tidak berbahaya
kecuali ada beberapa riwayat berikut yaitu :
a) Pernah mengalami arbotus sebelumnya,
b) Riwayat perdarahan pervaginam sebelumnya,
c) Terdapat tanda infeksi dengan adanya pengeluaran cairan
disertai rasa nyeri dan panas pada jalan lahir Walaupun ada
beberapa indikasi tentang bahaya jika melakukan hubungan
seksual pada trimester III bagi ibu hamil, namun faktor lain
yang lebih dominan yaitu turunnya rangsangan libido pada
trimester ini yang membuat kebanyakan ibu hamil tidak
tertarik untuk berhubungan intim dengan pasanganya, rasa
nyama yang sudah jauh berkurang disertai
ketidaknyamanan seperti pegal/ nyeri di daerah punggung
bahkan terkadang ada yang merasakan adanya kembali rasa
mual seperti sebelumnya, hal inilah yang mempengaruhi
psikologis ibu di trimester III.
3) Istirahat Cukup
Istirahat dan tidur yang teratur dapat meningkatkan
kesehatan jasmani, rohani, untuk kepentingan kesehatan ibu
sendiri dan tumbuh kembang janinya di dalam kandungan.
Kebutuhan tidur yang efektif yaitu 8 jam/ hari.
4) Kebersihan Diri (Personal Hygiene)
Penting bagi ibu menjaga kebersihan dirinya selama
hamil, hal ini dapat mempengaruhi fisik dan psikologis ibu.
kebersihan lain yang juga penting di jaga yaitu persiapan
laktasi, serta penggunaan bra yang longgar dan menyangga
membantu memberikan kenyamanan dan keamanan bagi ibu.
5) Mempersiapkan kelahiran dan kemingkinan darurat
Bekerja sama dengan ibu, keluarganya, serta masyarakat
untuk mempersiapkan rencana kelahiran, termasuk
mengindentifikasi penolong dan tempat persalinan, serta
perencanaan tabungan untuk mempersiapkan biaya persalinan.
Bekerja sama dengan ibu, keluarganya dan masyarakat untuk
mempersiapkan rencana jika terjadi komplikasi, termasuk:
mengidentifikasi kemana harus pergi dan transportasi untuk
mencapai tempat tersebut, mempersiapkan donor darah,
mengadakan persiapan finansial, mengidentifikasi pembuat
keputusan kedua jika pembuat keputusan pertama tidak ada
ditempat.
6) Memberikan konseling tentang tanda-tanda persalinan
Beberapa tanda persalinan yang harus diketahui :
a) Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering
dan teratur.
b) Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak
karena robekan-robekan kecil pada servik.
c) Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
d) Pada pemeriksaan dalam servik mendatar dan pembukaan
telah ada.
8. Tanda Bahaya Kehamilan
a. Pengertian Tanda Bahaya Kehamilan
Tanda bahaya kehamilan adalah tanda-tanda yang
mengindikasikan adanya bahaya yang bisa terjadi selama
kehamilan, jika tidak dilaporkan atau tidak segera terdeteksi
dapat menyebabkan kematian pada ibu (Manuaba, 2015). Tanda
bahaya kehamilan yang dapat muncul antara lain perdarahan
pervagina, edema pada wajah dan tangan, demam tinggi, ruftur
membran, penurunann pergerakan janin, dan muntah persistens
(Isdiaty, 2013). Tanda bahaya kehamilan, menurut Sartika (2016)
diantaranya terdapat perdarahan pervaginam, mengalami sakit
kepala yang berat, penglihatan mata kabur, terdapat bengkak di
wajar dan jari-jari tangan, keluarnya cairan pervaginam, gerakan
janin tidak terasa, dan nyeri abdomen yang hebat.
b. Macam-macam Tanda Bahaya Kehamilan
1) Tanda Bahaya Kehamilan Muda
a) Hyperemesis Gravidarum
Hyperemesis gravidarum adalah suatu keadaan yang
dikarakteristikan dengan rasa mual dan muntah yang
berlebihan, kehilangan berat badan dan gangguang
keseimbangan elektrolit, ibu terlihat lebih kurus, turgor
kulit berkurang dan mata terlihat cekung. Jika tidak
ditangani segera masalah yang timbul seperti peningkatan
asam lambung yang selanjutnya dapat menjadi gastristis.
Peningkatan asam lambung akan semakin memperparah
hyperemesis gravidarum (Rahma dan Tita, 2016). Menurut
Safari (2017), mual muntah yang timbul terjadi karena
adanya perubahan berbagai hormon dalam tubuh pada awal
kehamilan. Presentase hormon HCG akan meningkat
sesuai dengan pertumbuhan plasenta. Diperkirakan hormon
inilah yang mengakibatkan muntah melalui rangsangan
terhadap otot polos lambung. Sehingga semakin tinggi
hormon HCG, semakin cepat pula merangsang muntah
(Rahma dan Tita, 2016). Manuaba (2015), mengemukakan
dampak yang terjadi pada hyperemesis gravidarum yaitu
menimbulkan konsumsi O2 menurun, gangguan fungsi sel
liver hingga terjadi ikterus. Mual muntah yang
berkelanjutan dapat menimbulkan gangguan fungsi alat-
alat vital dan menimbulkan kematian (Rahma dan Tita,
2016). Hyperemesis gravidarum juga dikaitkan dengan
peningkatan resiko untuk bayi berat lahir rendah (BBLR),
kelahiran prematur, kecil usia kehamilan, serta kematian
pada perinatal. Klasifikasi hyperemesis gravidarum
menurut Manuaba (2015), yaitu :
1. Tingkat I
Hyperemesis gravidarum tingkat I ditandai dengan
muntah yang terus menerus disertai dengan penurunan
nafsu makan dan minum.
2. Tingkat II
Pada hyperemesis gravidarum tingkat II, pasien
memuntahkan semua yang dimakan dan diminum,
berat badan cepat menurun, dan ada rasa haus yang
hebat.
3. Tingkat III
Hyperemesis gravidarum tingkat III sangat jarang
terjadi. Keadaan ini sangat merupakan kelanjutan dari
hyperemesis tingkat II yang ditandai dengan muntah
yang berkurang atau bahkan berhenti, tetapi kesadaran
menurun (delirium dampai koma) hingga mengalami
ikterus, sianosis, nistagmus, gangguan jantung dan
dalam urin ditemukan billirubin dan protein (Rahma
dan Tita, 2016).
b) Perdarahan Pervaginam
Perdarahan yang terjadi pada masa awal kehamilan kurang
dari 22 minggu. Pada awal kehamilan, ibu mungkin akan
mengalami perdarahan yang sedikit (spotting) di sekitar
waktu pertama terlambat haidnya. Perdarahan ini adalah
perdarahan implantasi (penempelan hasil konsepsi pada
dinding rahim) yang dikenal dengan tanda Hartman dan ini
normal terjadi. Pada waktu yang lain dalam kehamilan,
perdarahan ringan mungkin terjadi pertanda servik yang
rapuh (erosi). Perdarahan dalam proses ini dapat dikatakan
normal namun dapat diindikasikan terdapat tanda-tanda
infeksi. Perdarahan pervaginam patologis dengan tanda-
tanda seperti darah yang keluar berwarna merah dengan
jumlah yang banyak, serta perdarahan dengan nyeri yang
hebat. Perdarahan ini dapat disebabkan karena abortus,
kehamilan ektopik atau mola hidatidosa. Abortus adalah
penghentian atau pengeluaran hasil konsepsi pada
kehamilan < 20 minggu dengan berat janin < 500 gram
atau sebelum plasenta selesai (Kusumawati, 2014). Jenis-
jenis abortus, diantaranya :
1. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara
alamiah tanpa interval luar (buatan) untuk mengakhiri
kehamilan tersebut.
2. Abortus provokatus (induced abortion) adalah bentuk
abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat–
obatan mau pun alat–alat.
3. Abortus medisinalis adalah abortus yang terjadi karena
indikasi medis seperti riwayat penyakit jantung,
hipertensi, dan kanker.
4. Abortus kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh
karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak
berdasarkan indikasi medis.
5. Abortus inkompletus (keguguran bersisa) adalah
bentuk abortus dimana hanya sebagian dari hasil
konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah
desidua atau plasenta. Perdarahan berlangsung banyak,
dan dapat membahayakan ibu.
6. Abortus imminens Abortus yang mengancam terjadi di
mana perdarahan kurang dari 20 minggu, dengan atau
tanpa kram perut bagian bawah tanpa dilatasi serviks.
7. Abortus insipiens adalah abortus yang sedang
berlangsung dimana ekspulsi hasil konsepsi belum
terjadi tetapi telah ada dilatasi serviks. Kondisi ini
ditandai pada wanita hamil dengan perdarahan banyak,
disertai nyeri kram peut bagian bawah.
8. Abortus tertunda (missed abortion). Menurut WHO,
missed abortion adalah kondisi dimana embrio atau
janin nonviable tetapi tidak dikeluarkan secara spontan
dari janin (kurun waktu sekitar 8 minggu).
c) Mola hidatidosa
Menurut Kemenkes RI (2012), mola hidatidosa adalah
bagian dari penyakit trofoblastik gestasional, yang
disebabkan oleh kelainan pada villi khoironok yang
disebabkan oleh poliferasi trofoblastik dan edem. Diagnosa
mola hidatidosa dapat ditegakkan melalui pemeriksaan
USG. Beberapa tanda gejala mola hidatidosa, yaitu :
1. Terdapat mual dan muntah yang menetap, terkadang
sering kali menjadi parah,
2. Terdapat perdarahan uterus pada minggu ke-12 disertai
bercak darah dan perdarahan hebat, namun biasanya
berupa rabas yang bercampur darah, dan cenderung
berwarna merah,
3. Tampak ukuran uterus yang membesar namun tidak
ada perkembangan/ aktivitas janin,
4. Terdapat nyeri tekan pada ovarium,
5. Tidak ada denyut jantung janin,
6. Saat palpasi, bagian-bagian janin tidak diteraba/ tidak
ditemukan,
7. Komplikasi hipertensi akibat kehamilan, preeklampsi/
eklampsi sebelum usia kehamilan 24 minggu.
d) Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik adalah kehamilan ketika implantasi dan
pertumbuhan hasil konsepsi berlangsung diluar
endometrium kavum uteri. Hampir 95% kehamilan ektopik
terjadi diberbagai segmen tuba fallopi, dan 5% sisanya
terdapat di ovarium, rongga peritoneum dan didalam
serviks. Jika terjadi ruptur disekitar lokasi implantasi
kehamilan, maka akan terjadi keadaan perdarahan pasif dan
nyeri abdomen akut yang disebut kehamilan ektopik
terganggu (RI, Kemenkes, 2013). Faktor-faktor
predisposisi kehamilan ektopik meliputi riwayat kehamilan
ektopik sebelumnya, riwayat operasi tubektomi,
penggunaan IUD, infertilitas, riwayat abortus dan riwayat
inseminasi buatan/ teknologi bantuan reproduktif (assisted
reproductive technology/ ART). Gejala awal yang
ditimbulkan yaitu perdarahan pervaginam dan bercak
darah, kadang disertai nyeri panggul. Diagnosa kehamilan
ektopik dapat ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan
USG.
e) Anemia
WHO menetapkan standar hemoglobin (Hb 11%) pada ibu
hamil, jika kurang dari standar maka dikatakan mengalami
anemia. Klasifikasi anemia pada ibu hamil berdasarkan
berat badannya dikategorikan sebagai anemia ringan dan
berat. Anemia ringan apabila kadar Hb dalam darah yaitu 8
gr% hingga kurang dari 11 gr%. Anemia berat apabila
kadar Hb dalam darah kurang dari 8 gr% (Nurhidayati,
2013). Komplikasi anemia pada ibu hamil dapat
menyebabkan terjadinya missed abortion, kelainan
kongenital, abortus/ keguguran serta dampak pada janin
menyebabkan berat lahir rendah. Macam-macam anemia
dalam kehamilan meliputi :
1. Anemia defisiensi zat besi.
Anemia yang ditandai dengan keluhan lemas, pucat dan
mudah pingsan, karena kekurangan zat besi dalam
darah dan kadar Hb < 11 gr%. Dapat ditanggulangi
dengan mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi
seperti sayur-sayuran dan daging.
2. Anemia megaloblastik.
Anemia yang terjadi karena kelainan proses
pembentukan DNA sel darah merah yang disebabkan
kekurangan (defisiensi) vitamin B12 dan asam folat.
3. Anemia hipoplastik.
Anemia yang terjadi karena kelainan sumsung tulang
yang kurang mampu membuat sel-sel darah baru.
4. Anemia hemolitik.
Anemia yang terjadi karena kerusakan sel darah merah
yang berlangsung lebih cepat dari pembuatannya.
f) Hipertensi Gravidarum
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan
sistolik dan distolik sampai atau melebihi 140/90 mmHg.
Ibu hamil yang mengalami kenaikan takanan sistolik
sebanyak 30 mmHg atu diastolik sebanyak 15 mmHg perlu
dipantau lebih lanjut (Lindarwati, 2012). Hipertensi
disebabkan oleh peningkatan tekanan darah yang
dipengaruhi oleh faktor perubahan curah jantung, sistem
saraf simpatis, autoregulasi, dan pengaturan hormon.
Hipertensi dalam kehamilan dibagi menjadi 5 yaitu:
hipertensi kronis, preeklamsi, superimposed, hipertensi
gestasional dan eklamsia. Hipertensi gestasional
ditegakkan pada wanita yang tekanan darahnya mencapai
140/90 mmHg atau lebih untuk pertama kali selama
kehamilan, tetapi belum mengalami proteinuria. Hipertensi
gestasional disebut hipertensi transien apabila tidak terjadi
preeklampsia dan tekanan darah kembali normal dalam 12
minggu postpartum. Hipertensi gestasional dapat
memperlihatkan tanda-tanda lain yang berkaitan dengan
preeklampsia, seperti nyeri kepala, nyeri epigastrium,
trombositipenia (Lindarwati, 2012).
2) Tanda Bahaya Kehamilan Lanjut
a) Perdarahan Pervaginam
Perdarahan pada masa kehamilan lanjut setelah 22 minggu
sampai sebelum persalinan. Perdarahan pervaginam
dikatakan tidak normal bila ada tanda-tanda seperti
keluarnya darah merah segar atau kehitaman dengan
bekuan, perdarahan kadang banyak kadang tidak terus
menerus, perdarahan disertai rasa nyeri. Perdarahan
semacam ini bisa berarti plasenta previa, solusio plasenta,
ruptur uteri, atau dicurigai adanya gangguan pembekuan
darah (Kusumawati, 2014).
1. Plasenta Previa
Plasenta previa didefinisikan sebagai plasenta yang
berimplantasi diatas atau mendekati ostium serviks
interna. Beberapa faktor predisposisi yang
menyebabkan terjadinya plasenta previa diantaranya
kehamilan ibu sudah usia lanjut (> 22 minggu),
multiparitas, serta mempunyai riwayat seksio caesaria
sebelumnya. Gejala umum yang terjadi pada kasus
plasenta previa seperti terjadi perdarahan tanpa rasa
nyeri secara tiba-tiba dan kapan saja, uterus tidak
berkontraksi dan bagian terendah janin tidak masuk
pintu atas panggul. Jenis-jenis plasenta previa
diantaranya :
a. Plasenta previa totalis yaitu posisi plasenta
menutupi ostium internal secara keseluruhan,
b. Plasenta previa parsialis yaitu posisi plasenta yang
menutupi ostium interna sebagian saja,
c. Plasenta previa marginalis yaitu posisi plasenta
yang berada di tepi ostium interna,
d. Plasenta previa letak rendah. yaitu posisi plasenta
yang berimplantasi di segmen bawah uterus.
2. Solusio Plasenta
Pada persalinan normal, plasenta akan lepas setelah
bayi lahir, namun karena keadaan abnormal plasenta
dapat lepas sebelum waktunya atau yang disebut
solusio plasenta. Beberapa faktor komplikasi sebagai
penyebab solusio plasenta yaitu hipertensi, adanya
trauma abdominal, kehamilan gemelli, kehamilan
dengan hidramnion, serta defisiensi zat besi. Tanda
gejala yang ditimbulkan seperti terjadinya perdarahan
dengan nyeri yang menetap, hilangnya denyut jantung
janin (gawat janin), uterus terus menegang dan kanin
naik, perdarahan yang keluar tidak sesuai dengan
beratnya syok.
3. Ruptur Uteri
Ruptur uteri adalah robeknya dinsing uterus pada saat
kehamilan/ persalinan, pada saat umur kehamilan lebih
dari 28 minggu. Klasifikasi ruptur uteri yaitu :
a. Menurut keadaan robekan
- Ruptur uteri inkomplit (subperitoneal), yaitu keadaan
ruptur yang hanya terjadi pada dinding uterus yang
robek sedangkan lapisan serosa (pritoneum) tetap utuh.
- Ruptur uteri komplit (transperitoneal), yaitu keadaan
ruptur selain pada dinding uterus yang robek, lapisan
serosa (pritoneum) juga robek sedingga dapat berada di
rongga perut.
Ruptur uteri pada waktu kehamilan (ruptur uteri
gravidarum) yang terjadi karena dinding uterus
lemah yang disebabkan oleh adanya bekas sectio
caesaria, bekas mioma uteri, bekas kuratase/
plasenta manual, sepsis post partum, atau terjadi
hipoplasia uteri/ uterus abnormal (Dewi, 2015).
b) Sakit kepala
Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah serius
adalah sakit kepala hebat, menetap dan tidak hilang dengan
beristirahat. Terkadang karena sakit kepala yang hebat
tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya
menjadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat
dalam kehamilan adalah gejala dari pre eklampsi.
Perubahan visual (penglihataan) secara tiba-tiba
(pandangan kabur) dapat berubah pada masa kehamilan
(Kusumawati, 2014). Nyeri kepala hebat pada masa
kehamilan dapat menjadi tanda gejala preeklamsi, dan jika
tidak diatasi dapat mnyebabkan komplikasi kejang
maternal, stroke, koagulapati hingga kematian. Sehingga
perlu dilakukan pemeriksaan lengkap baik oedem pada
tangan/ kaki, tekanan darah, dan protein urin ibu sejak dini.
c) Penglihatan Kabur
Akibat pengaruh hormonal, ketajaman penglihatan dapat
berubah selama masa kehamilan. Perubahan ringan (minor)
adalah perubahan yang normal. Jika masalah visual yang
mengindikasikan perubahan mendadak, misalnya
pandangan menjadi kabur dan berbayang disertai rasa sakit
kepala yang hebat, ini sudah menandakan gejala
preeklamsi. Penglihatan kabur dikarenakan sakit kepala
hebat, sehingga terjadi oedem pada otak dan meningkatkan
resistensi otak yang mempengaruhi sistem saraf pusat yang
dapat menimbulkan kelainan selebral, dan gangguan
penglihatan.
d) Nyeri Perut Hebat
Nyeri pada daerah abdomen yang tidak berhubungan
dengan persalinan normal adalah suatu kelainan. Nyeri
abdomen yang mengindikasikan mengancam jiwa adalah
nyeri perut yang hebat, menetap dan tidak hilang setelah
beristirahat, terkadang dapat disertai dengan perdarahan
lewat jalan lahir. Hal ini bisa berarti appendicitis (radang
usus buntu), kehamilan ektopik (kehamilan di luar
kandungan), aborstus (keguguran), penyakit radang
panggul, persalinan preterm, gastritis (maag), solutio
placenta, penyakit menular seksual, infeksi saluran kemih
atau infeksi lain (Kusumawati, 2014).
e) Bengkak Pada Muka dan Ekstremitas
Hampir separuh dari ibu-ibu hamil akan mengalami
bengkak yang normal pada kaki yang biasanya muncul
pada sore hari dan biasanya hilang setelah beristirahat atau
dengan meninggikan kaki lebih tinggi daripada kepala.
Bengkak yang menjadi masalah serius yaitu ditandai
dengan:
1. Muncul pembengkakan pada muka, tangan dan
ekstremitas lainya,
2. Bengkak tidak hilang setelah beristirahat,
3. Bengkak disertai dengan keluhan fisik lainnya. Hal ini
merupakan pertanda dari anemia, gangguan fungsi
ginjal, gagal jantung ataupun pre eklampsia. Gejala
anemia dapat muncul dalam bentuk oedema (bengkak)
karena dengan menurunnya kekentalan darah pada
penderita anemia, disebabkan oleh berkurangnya kadar
hemoglobin (Hb, sebagai pengangkut oksigen dalam
darah). Pada darah yang rendah kadar Hb-nya,
kandungan cairannya lebih tinggi dibandingkan dengan
sel-sel darah merahnya (Kusumawati, 2014).
f) Bayi kurang bergerak seperti biasa.
Ibu hamil mulai dapat merasakan gerakan bayinya pada
usia kehamilan 16-18 minggu (multigravida, sudah pernah
hamil dan melahirkan sebelumnya) dan 18-20 minggu
(primigravida, baru pertama kali hamil). Jika janin tidur,
gerakannya akan melemah. janin harus bergerak paling
sedikit 3 kali dalam periode 3 jam (10 gerakan dalam 12
jam). Gerakan janin akan lebih mudah terasa jika ibu 64
berbaring/beristirahat, makan dan minum. (Kusumawati,
2014). Jika ibu tidak merasakan gerakan janin sesudah usia
22 minggu/ memasuki persalinan, maka perlu diwaspadai
terjadinya gawat janin atau kematian janin dalam uterus.
g) Ketuban Pecah Sebelum Waktunya
Dinamakan ketuban pecah sebelum waktunya apabila
terjadi sebelum persalinan yang disebabkan karena
berkurangnya kekuatan membran/ peningkatan tekanan
uteri yang juga dapat disebabkan adanya infeksi yang dapat
berasal dari vagina dan serviks yang dapat dinilai dari
cairan ketuban di vagina. Pecahnya selaput ketuban dapat
terjadi pada kehamilan 37 minggu preterm maupun
kehamilan aterm.
h) Demam Tinggi
Jika suhu ibu hamil berada pada > 38°C dalam kehamilan,
ini menandakan ibu dalam masalah. Demam pada
kehamilan merupakan manifestasi tanda gejala infeksi
kehamlan. Penangannya dapat dengan memiringkan bada
ibu kerag kekiri, cukupi kebutuhan cairan ibu dan kompres
hangat guna menurunkan suhu ibu. komplikasi yag
ditimbulkan jika ibu mengalami demam tinggi yaitu sistitis
(infeksi kandung kencing) serta infeksi saluran kemih atas.
9. Program Asuhan Antenatal
a. Asuhan Antenatal
Asuhan antenatal adalah upaya promotif program
pelayanan kesehatan obstetrik untuk optimalisasi asuhan maternal
dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin
selama kehamilan (Prawirohardjo, 2014). Antenatal care (ANC)
adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan
dan fisik ibu hamil hingga mampu menghadapi persalinan, kala
nifas, persiapan pemberian ASI dan kembalinya kesehatan
reproduksi secara wajar. Pelayanan antenatal adalah semua ibu
hamil diharapkan mendapat perawatan kehamilan oleh tenaga
kesehatan (Manuaba, 2017).
b. Tujuan Asuhan Antenatal
Tujuan asuhan antenatal adalah menurunkan atau
mencegah kesakitan dan kematian maternal dan perinatal.
Adapun tujuan khususnya sebagai berikut :
1) Memonitor kemajuan kehamilan guna memastikan kesehatan
ibu dan perkembangan bayi yang normal.
2) Mengenali secara dini penyimpangan dari normal dan
memberikan penatalaksanaan yang diperlukan.
3) Membina hubungan saling percaya antara ibu dan bidan
dalam rangka mempersiapkan ibu dan keluarga secara fisik,
emosional, dan logis untuk menghadapi kelahiran serta
kemungkinan adanya komplikasi (Astuti, 2012).
c. Standar Pelayanan Minimal Antenatal
Pelayanan antenatal sesuai standar adalah pelayanan yang
diberikan kepada ibu hamil minimal 4 kali selama kehamilan
dengan jadwal satu kali pada trimester pertama, satu kali pada
trimester kedua dan dua kali pada trimester ketiga yang
dilakukan oleh bidan dan atau dokter dan atau dokter spesialis
kebidanan baik yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan
pemerintah maupun swasta yang memiliki Surat Tanda Register
(STR). Standar pelayanan antenatal adalah pelayanan yang
dilakukan kepada ibu hamil dengan memenuhi kriteria 10 T yaitu
1) Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
2) Ukur tekanan darah.
3) Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas/LILA).
4) Ukur tinggi puncak rahim (fundus uteri).
5) Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).
6) Skrining status imunisasi tetanus dan berikan imunisasi
tetanus toksoid (TT) bila diperlukan.
7) Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama
kehamilan.
8) Tes laboratorium, tes kehamilan, pemeriksaan hemoglobin
darah (Hb), pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah
dilakukan sebelumnya), pemeriksaan protein urin (bila ada
indikasi) yang pemberian pelayanannya disesuaikan dengan
trimester kehamilan.
9) Tatalaksana/penanganan kasus sesuai kewenangan.
10) Temu wicara (konseling)
d. Kunjungan Antenatal
1) Kunjungan Antenatal K1
Kunjungan Antenatal K1 adalah kunjungan ibu hamil
yang pertama kali pada masa kehamilan (Meilani dkk., 2013).
Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh
pelayanan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan
dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja
pada kurun waktu satu tahun. K1 murni adalah jumlah kontak
pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan pada umur
kehamilan ≤ 12 minggu, baik di dalam maupun luar gedung
puskesmas. K1 akses adalah akses jumlah kontak pertama ibu
hamil dengan tenaga kesehatan pada umur kehamilan >12
minggu, baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas
(Prawirohardjo, 2014).
2) Kunjungan Antenatal K4
Kunjungan Antenatal K4 adalah kontak ibu hamil dengan
tenaga kesehatan yang keempat (atau lebih) untuk
mendapatkan pelayanan sesuai standar yang ditetapkan
dengan syarat :
a) Minimal satu kali kontak pada trimester I
b) Minimal satu kali kontak pada trimester II
c) Minimal dua kali kontak pada trimester III (Meilani dkk.,
2013).
Cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil yang telah
memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling
sedikit empat kali sesuai jadwal dibandingkan jumlah sasaran
ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun.
e. Manfaat Antenatal
Asuhan antenatal memberikan manfaat yaitu dengan
menemukan berbagai kelainan yang menyertai hamil dini,
sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah
dalam penolong persalinannya. Diketahui bahwa janin dalam
rahim dan ibunya merupakan satu kesatuan yang saling
mempengaruhi, sehingga kesehatan ibu dan perkembangan janin
berkaitan (Manuaba, 2015).
B. Persalinan Normal
1. Pengertian Persalinan Normal
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan
plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan
melalui jalan lahir atau jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan
(kekuatan sendiri). Proses ini di mulai dengan adanya kontraksi
persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks secara
progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Sholichah dan
Lestari, 2017). Ahli lain, Varney mengemukakan persalinan adalah
rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil konsepsi
oleh ibu, di mulai dengan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai
oleh perubahan progresif pada serviks, dan diakhiri dengan pelahiran
plasenta (Fritasari, 2013).
Persalinan adalah suatu proses yang alami, peristiwa normal,
namun bila tidak dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi
abnormal. Setiap individu berhak untuk dilahirkan secara sehat, oleh
karena itu, setiap wanita usia subur (WUS), ibu hamil (bumil), ibu
bersalin (bulin), dan bayinya berhak mendapatkan pelayanan yang
berkualitas. Persalinan merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat di Indonesia dimana angka kematian ibu bersalin yang
masih cukup tinggi. Keadaan ini disertai dengan komplikasi yang
mungkin saja timbul selama persalinan, sehingga memerlukan
pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam bidang kesehatan,
dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menurunkan
angka kematian, kesakitan ibu dan perinatal (Purwandari, dkk, 2014).
Persalinan normal yaitu persalinan yang dimulai secara spontan
(dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir), beresiko
rendah pada awal persalinan dan presentasi belakang kepala pada
usia kehamilan antara 37-42 minggu setelah persalinan ibu maupun
bayi berada dalam kondisi baik (WHO). Definisi lain mengenai
persalinan dan kelahiran normal menurut Damayanti, dkk. (2014)
yaitu proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup
bulan (37-42), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang
berlangsung dalam 18 jam. Tanpa komplikasi baik pada ibu maupun
pada janin.
2. Jenis-Jenis Persalinan
a. Persalinan spontan, yaitu persalinan yang prosesnya berlangsung
dengan kekuatan ibunya sendiri (Oktarina, 2016).
b. Persalinan buatan, yaitu persalinan yang prosesnya berlangsung
dengan bantuan tenaga dari luar misalnya dengan forceps/
vakum, atau dilakukan operasi sectio caesarea.
c. Persalinan anjuran, yaitu persalinan yang dibantu dengan jalan
rangsangan misalnya pemberian pitocin atau prostaglandin.
Umunya persalinan terjadi bila bayi sudah cukup besar untuk
hidup diluar, namun tidak sedemikian besarnya sehingga
menimbulkan kesulitan dalam persalinan. Sama halnya pada
persalinan yang tidak segera dimulai dengan sendirinya namun
baru dapat berlangsung dengan dilakukan amniotomi/ pemecahan
ketuban (Damayanti dkk 2014).
3. Sebab-Sebab Terjadinya Persalinan
Bagaimana terjadinya persalianan belum diketahui dengan pasti,
sehingga menimbulkan beberapa teori
a. Faktor-Faktor Hormonal Yang Menyebabkan Persalinan
1) Rasio Estrogen Terhadap Progesteron
Progesteron menghambat kontraksi uterus selama
kehamilan, sehingga ekspulsi fetus tidak terjadi. Sedangkan
esterogen dapat meningkatkan kontraksi uterus karena
estrogen meningkatkan jumlah otot-otot saling berhubungan
satu sama lain (gap injection) antara sel-sel otot polos uterus
yang berdekatan saat permulaan inpartu. Dalam kehamilan
estrogen dan progesteron diekskresikan dalam jumlah yang
secara progresif terus meningkat dari bulan kebulan. Tetapi
mulai bulan ke-7 dan seterusnya estrogen terus meningkat
tetapi progesteron tetap konstan atau mungkin sedikit
menurun. Oleh karena itu diduga bahwa rasio estrogen dan
progesteron yang menyebabkan terjadinya persalinan.
2) Pengaruh Oksitosin Pada Uterus
Oksitosin adalah hormon yang dihasilkan oleh
neurohipofisis posterior yang dapat menyebabkan kontraksi
uterus. Yaitu dimana terjadi :
a) Otot-otot terus meningkatkan reseptor-reseptor oksitosin
dan meningkatkan responnya terhadap oksitosin.
b) Kecepatan sekresi oksitosin oleh neuro hipofisis meningkat
pada waktu persalinan.
c) Regangan serviks atau iritasi serviks pada waktu persalinan
dapat menyebabkan refleks neurogenik yang
mengakibatkan neurohipofifis meningkat sekresi
oksitosinnya.
3) Pengaruh Hormon Fetus pada Uterus
Kelenjar hipofisis pada fetus juga mensekresikan
oksitosin yang jumlahnya semakin meningkat seiring dengan
bertambahnya usia kehamilan. kelenjar adrenal fetus
menghasilkan hormon kortisol yang dapat menstimulasi
uterus. Membran fetus menghasilkan prostaglandin yang
tinggi pada waktu persalinan, prostaglandin dapat
meningkatkan intesitas kontraksi uterus (Damayanti, dkk.
2014).
b. Teori yang Berkaitan dengan Mulai Terjadinya Kekuatan His
Beberapa teori yang menyatakan kemungkinan proses
perasalinan (Damayanti, dkk. 2014) yaitu :
1) Teori Kerenggangan
a) Otot rahim mempunyai kemampuan merenggang dalam
batas tertentu.
b) Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga
persalinan dapat dimulai,
c) Contohnya pada hamil ganda sering terjadi kontraksi
setelah kerenggangan tertentu, sehingga menimbulkan
proses persalinan.
2) Teori Penurunan Progesteron
a) Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur kehamilan 28
minggu, dimana terjadi penimbunan jaringan ikat,
pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu.
b) Produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot
rahim lebih sensitif terhadap oksitosin,
c) Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai
tingkat penurunan progesteron tertentu. Dengan penurunan
hormon progesteron menjelang persalinan dapat terjadi
kontraksi. Kontraksi otot rahim ini menyebabkan :
- Turunnya kepala lalu masuk pintu atas panggul terutama
pada primigravida pada minggu ke- 36 dapat
menimbulkan sesak dibagian bawah, diatas simpisis
pubis dan sering ingin kencing atau susah kencing
karena kandung kemih tertekan kepala.
- Perut melebar karena fundus uteri turun,
- Terjadi perasaan sakit di daerah pinggang, hal ini
dikarenakan kontraksi ringan otot rahim dan tetekannya
pleksus Frankenhauser yang terletak disekitar serviks,
- Terjadi perlunakan serviks karena terdapat kontraksi
otot rahim,
- Terjadi pengeluaran lendir dimana lendir penutup
serviks dilepaskan.
3) Teori Oksitosin Internal
a) Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis past posterior,
b) Perubahan keseimbangan esterogen dan progesteron dapat
mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi
kontraksi Braxton Hicks.
c) Menurunya konsentrasi progesteron akibat tuanya aktivitas,
sehingga persalinan dapat dimulai,
4) Teori Prostaglandin
a) Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur hamil 15
minggu, yang dikeluarkan oleh desidua,
b) Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan
kontraksi otot rahim sehingga konsepsi dikeluarkan,
c) Prostaglandin dianggap sebagai pemicu terjadinya
persalinan.
5) Teori Hipotalamus Pituitari
a) Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anensefalus
sering terjadi keterlambatan persalinan karena tidak
terbentuk hipotalamus.
b) Pemberian kortikosteroid yang dapat menyebabkan
maturitas janin, induksi/ lulanya persalinan.
c) Dari hal diatas menunjukkan hubungan antara pituitari
dengan persalinan (Damayanti, dkk. 2014).
c. Permulaanya Persalinan
Tanda persalinan sudah dekat yaitu :
1) Adanya Lightening
Menjelang minggu ke-36 pada primigravida, terjadinya
penurunan fundus uterus karena kepala bayi sudah masuk ke
dalam panggul. Beberapa penyebabnya yaitu :
a) Adanya kontraksi Braxton Hick
b) Terjadi ketegangan dinding perut
c) Terjadi ketengan ligamentum rotumdum
d) Adanya gaya berat janin, kepala kearah bawah ut
Proses masuknya kepala janin ini juga dapat dirasakan oleh
wanita hamil dengan tanda-tanda diantaranya :
a) Terasa ringan dibagian atas dan rasa sesak berkurang,
b) Dibagian bawah terasa penuh dan mengganjal,
c) Kesulitan saat berjalan,
d) Serta merasa sering berkemih.
Faktor-faktor yang berperan dalam persalinan menurut
Manuaba (2017) yaitu :
a) Power : Kekuatan his adekuat dan tambahan kekuatan
mengejan,
b) Passage : Jalan lahir tulang, jalan lahir otot,
c) Passanger : Janin, plasenta dan selaput ketuban.
2) Terjadinya His Permulaan
Pada ibu hamil kontraksi Braxton Hicks sering dirasakan
sebagai keluhan karena rasa sakit yang ditimbulkannya.
Biasanya keluhan yang dirasakan berupa sakit pinggang yang
mengganggu. Adanya perubahan kadar hormon estrogen, dan
progesteron menyebabkan oksitosin semakin meningkat dan
dapat menjalankan fungsinya dengan efektif untuk
menimbulkan kontraksi/ his permulaan.
d. Faktor–Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan
Persalinan dapat berjalan normal apabila ketiga faktor
fisik 3 P yaitu power, passage dan passanger dapat bekerja sama
dengan baik. Selain itu terdapat 2 P yang merupakan faktor lain
yang secara tidak langsung dapat memengaruhi jalannya
persalinan, terdiri atas psikologi dan penolong.
1) Power (tenaga/kekuatan)
Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan adalah
his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma, dan aksi
dari ligamen. Kekuatan primer yang diperlukan dalam
persalinan adalah his, sedangkan sebagai kekuatan
sekundernya adalah tenaga meneran ibu.
2) Passage (jalan lahir)
Jalan lahir terdiri atas panggul ibu, yakin bagian tulang
yang padat, dasar panggul, vagina dan introitus. Janin harus
berhasil menyesuaikan dirinya terhadap jalan lahir yang relatif
kaku, oleh karena itu ukuran dan bentuk panggul harus
ditentukan sebelum persalinan dimulai. Jalan lahir dibagi atas:
a) Bagian keras: tulang–tulang panggul.
b) Bagian lunak: uterus, otot dasar panggul, dan perineum.
3) Passenger (janin dan plasenta)
Cara penumpang (passenger) atau janin bergerak
disepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa
faktor, yaitu ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan
posisi janin. Plasenta juga harus memulai jalan lahir sehingga
dapat juga dianggap sebegai penumpang yang menyertai
janin. Namun, plasenta jarang menghambat proses persalinan
pada kelahiran normal.
4) Psikis (psikologis)
Banyak wanita normal bisa merasakan kegairahan dan
kegembiraan saat merasa kesakitan diawal menjelang
kelahiran bayinya. Perasaan positif ini berupa kelegaan hati,
seolah-olah pada saat itulah benar-benar terjadi “kewanitaan
sejati”, yaitu munculnya rasa bangga bisa melahirkan atau
memproduksi anak. Faktor psikologis meliputi hal-hal sebagai
berikut :
a) Melibatkan psikologis ibu, emosi, dan persiapan
intelektual,
b) Pengalaman melahirkan bayi sebelumnya,
c) Kebiasaan adat.
d) Dukungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu.
5) Penolong
Peran dari penolong adalah mengantisipasi dan
menangani komplikasi yang mungkin terjadi dalam hal ini
tegantung dari kemampuan dan kesiapan penolong dalam
menghadapi proses persalinan (Rohani dkk., 2014).
e. Tanda-Tanda Persalinan
Tanda-tanda persalinan diantaranya :
1) Adanya Kontraksi Rahim
Tanda awal bahwa ibu hamil akan melahirkan adalah
mengejangnya rahim atau dikenal dengan istilah kontraksi.
Kontraksi tersebut berirama, teratur, dan involunter,
umumnya kontraksi bertujuan untuk menyiapkan mulut lahir
untuk membesar dan meningkatkan aliran darah di dalam
plasenta (Fritasari, 2013).
2) Keluarnya Lendir Bercampur Darah
Lendir di sekresi sebagai hasil poliferasi kelenjar lendir
serviks pada awal kehamilan. Lendir mulanya menyumbat
leher rahim, sumbatan yang tebal pada mulut rahim terlepas,
sehingga menyebabkan keluarnya lendir berwarna kemerahan
bercampur darah dan terdorong keluar oleh kontraksi yang
membuka mulut rahim yang menandakan bahwa mulut rahim
menjadi lunak dan membuka (Fritasari, 2013).
3) Keluarnya Air Ketuban
Proses penting menjelang persalinan adalah pecahnya air
ketuban. Selama sembilan bulan masa gestasi bayi aman
melayang dalam cairan amnion. Keluarnya air-air dan
jumlahnya cukup banyak, berasal dari ketuban yang pecah
akibat kontraksi yang makin sering terjadi (Fritasari, 2013).
4) Pembukaan Serviks
Membukanya leher rahim sebagai respon terhadap
kontraksi yang berkembang. Tanda ini dapat dirasakan oleh
pasien tetapi dapat diketahui dengan pemeriksaan dalam
(vagina toucher), petugas akan melakukan pemeriksaan untuk
menentukan pematangan, penipisan, dan pembukaan leher
rahim (Fritasari 2013).
Tanda-tanda persalinan menurut Kumalasari (2015),
diantaranya :
a) Rasa sakit karena adanya kontraksi uterus yang progresif,
teratur, yang meningkat kekuatan frekuensi dan durasi,
b) Rabas vagina yang mengandung darah (bloody show),
c) Kadang-kadang ketuban pecah spontan,
d) Pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar dan pembukaan
telah ada.
5) Tanda Persalinan Palsu
Tanda persalinan palsu ini terjadi pada trimester tiga dan
sering salah memperkirakan kontraksi Broxton Hicks yang
kuat sebagai kontraksi awal persalinan. Kontraksi Broxton
Hiks yang kuat disalah artikan sebagai tanda datangnya
persalinan. Dan ini di kenal dengan persalinan palsu.
Menghitung waktu awal kontraksi selama lebih dari satu jam
dan jika kontraksi tersebut terjadi berdekatan satu sama lain
dan berlangsung lama, mungkin persalinan (Fritasari, 2013).
f. Mekanisme Persalinan
Mekanisme persalinan mengacu pada serangkaian
perubahan posisi dan sikap yang diambil janin selama
perjalanannya melalui jalan lahir. Mekanisme persalinan yang
dijelaskan disini adalah untuk presentasi verteks dan panggul
ginekoid. Hubungan kepala dan tubuh janin dengan panggul ibu
berubah saat janin turun melalui panggul. Hal ini sangat penting
sehingga diameter optimal tengkorak ada pada setiap kala
penurunan. Tahapan mekanisme persalinan ini diantaranya :
1) Engagement
Kepala biasanya masuk ke panggul pada posisi
transversal/ pada posisi yang sedikit berbeda dari posisi ini
sehingga memanfaatkan diameter terluas panggul.
Engagement dikatakan terjadi ketika bagian terluas dari
bagian presentasi janin berhasil masuk ke pintu atas penggul.
Engegement terjadi pada sebagian besar wanita nulipara
sebelum persalinan, namun tidak terjadi pada sebagian besar
wanita multipara. Bilangan perlimaan kepala janin yang dapat
dipalpasi melalui abdomen sering digunakan untuk
menggambarkan apakah engagement telah terjadi. Jika lebih
dari 2/5 kepala janin dapat dipalpasi melalui abdomen, kepala
belum engaged.
2) Penurunan (Descent)
Selama kala I persalinan, kontraksi dan retraksi otot
uterus memberikan tekanan pada janin untuk turun. Proses ini
dipercepat dengan pecah ketuban dan upaya ibu untuk
mengejan.
3) Fleksi
Ketika kepala janin turun menuju rongga tengah panggul
yang lebih sempit, fleksi meningkat. Fleksi ini mungkin
merupakan gerakan pasif, sebagian karena struktur
disekitarnya, dan penting dalam meminimalkan diameter
presentasi kepala janin untuk memfasilitasi perjalanannya
melalui jalan lahir. Tekanan pada akses janin akan lebih cepat
disalurkan ke oksiput sehingga meningkatkan fleksi.
4) Rotasi Internal
Jika kepala fleksi dengan baik, oksiput akan menjadi titik
utama dan saat mencapai alur yang miring pada otot levator
ani, kepala akan didorong untuk berotasi secara anterior
sehingga sutura sagital kini terletak di diameter anterior
posterior pintu bawah panggul (diameter terluas panggul).
Resistensi adalah dinamika rotasi yang penting. Jika janin
mencapai engagement dalam posisi oksipito posterior, rotasi
internal (putar paksi dalam) dapat terjadi dari posisi
oksipitorposterior sampai posisi oksipitor anterior. Rotasi
internal yang lama ini, bersama dengan diameter presentasi
tengkorak janin yang lebih besar, menjelaskan peningkatan
durasi persalinan akibat kelainan posisi ini Posisi ini dikaitkan
dengan ekstensi kepala janin yang akan meningkatkan
diameter presentasi tengkorak janin pada pintu bawah
panggul. Posisi ini dapat menyebabkan obstruksi persalinan
dan memerlukan pelahiran dengan alat bantu atau bahkan
perlu dilakukan sectio caesaria.
5) Ekstensi
Setelah rotasi internal selesai, oksiput berada di bawah
simfisis pubis dan bregma berada dekat batas bawah sakrum.
Jaringan lunak perineum masih memberikan resistensi, dan
dapat mengalami trauma dalam proses ini. Kepala yang fleksi
sempurna kini mengalami ekstensi, dengan oksiput keluar dari
bawah simfisis pubis dan mulai mendistensi vulva. Hal ini
dikenal sebagai crowning kepala. Kepala mengalami ekstensi
lebih lanjut dan oksiput yang berada dibawah simfisis pubis
hanpir bertindak sebagai titik tumpu wajah, dan dagu tampak
secara berturut-turut pada lubang vagina posterior dan badan
perineum. Ekstensi dan gerakan ini meminimalkan trauma
jaringan lunak dengan menggunakan diameter terkecil kepala
janin untuk kelahiran.
6) Restitusi
Restitusi adalah lepasnya putaran kepala janin, yang
terjadi akibat rotasi internal. Restitusi adalah sedikit rotasi
oksiput melalui seperdelapan lingkaran. Saat kepala
dilahirkan, oksiput secara langsung berada dibagian depan.
Segera setelah kepala keluar dari vulva, kepala mensejajarkan
dirinya sendiri dengan bahu, yang memasuki panggul dalam
posisi oblik (miring).
7) Rotasi Eksternal
Agar dapat dilahirkan, bahu harus berotasi ke bidang
anterior-posterior, diameter terluas pada pintu bawah panggul.
Saat ini terjadi, oksiput berotasi melalui seperdelapan
lingkaran lebih lanjut ke posisi transversal. Ini disebut rotasi
eksternal.
8) Pelahiran Bahu dan Tubuh Janin
Ketika restitusi dan rotasi eksternal terjadi, bahu akan
berada dalam bidang anterior-posterior. Bahu anterior berada
di bawah simfisis pubis dan lahir pertama kali, dan bahu
posterior lahir berikutnya. Meskipun proses ini dapat terjadi
tanpa bantuan, seringkali “traksi lateral” ini dilakukan dengan
menarik kepala janin secara perlahan ke arah bawah untuk
membantu melepaskan bahu anterior dan bawah simfisis
pubis. Normalnya, sisa tubuh janin lahir dengan mudah
dengan bahu posterior dipandu ke atas, pada perineum dengan
melakukan traksi ke arah yang berlawanan sehingga
mengayun bayi ke arah abdomen ibu (Holmes & Philip,
2011).
f. Tahapan persalinan
1) Kala I (Pembukaan)
Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi
uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi dan
kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap (10 cm). Kala
satu persalinan terdiri atas dua fase, yaitu :
a) Fase Laten
Fase laten dimulai sejak awal berkontraksi yang
menimbulkam penipisan dan pembukaan serviks bertahap,
berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm
pada umumnya fase laten berlangsung hingga 8 jam.
b) Fase Aktif
Fase aktif adalah frekuensi dan lama kontraksi uterus akan
menigkat secara bertahap (kontraksi dianggap adekuat/
memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10
menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih, uterus
mengeras waktu kontraksi, serviks membuka. Dari
pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap
atau 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm/
jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 cm
hingga 2 cm pada multipara. Pada fase aktif kala II terjadi
penurunan bagian terendah janin tidak boleh berlangsung
lebih dari 6 jam. Fase aktif dibagi menjadi 3, yaitu :
1. Fase Akselerasi. Pada primigravida pembukaan serviks
bertambah dari 3 cm menjadi 4 cm dalam waktu
sekitar 2 jam.
2. Fase Dilatasi Maksimal. Pembukaan serviks
berlangsung lebih cepat, yaitu 4 cm menjadi 9 cm
dalam waktu 2 jam.
3. Fase Deselerasi. Pembukaan serviks melambat dari 9
cm menjadi lengkap (10 cm) dalam waktu 2 jam.
Lamanya untuk primigravida berlangsung 12-14 jam
sedangkan pada multigravida sekitar 6-8 jam
(Damayanti dkk., 2014).
2) Kala II (Pengeluaran Janin)
Persalinan kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah
lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Pada kala
pengeluaran janin his terkoordinasi, kuat, cepat dan lebih
lama, kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun
masuk keruang panggul, sehingga terjadilah tekanan pada
otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris atau otomatis
menimbulkan rasa mengejan. Ibu merasa seperti ingin buang
air besar karena tekanan pada rektum dengan tanda anus
terbuka. Pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva
membuka dan perineum merenggang. Dengan his mengejan
yang terpimpin maka akan lahirlah kepala, diikuti oleh seluruh
badan janin. Kala II pada primigravida berlangsung 1 ½ - 2
jam, pada multigravida ½- 1 jam (Kumalasari, 2015).
3) Kala III
Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran
plasenta. Proses ini berlangsung setelah kala II yang tidak
lebih dari 30 menit, kontraksi uterus berhenti sekitar 5-10
menit. Dengan lahirnya bayi dan proses retraksi uterus, maka
plasenta lepas dari lapisan nitabusch atau jaringan ikat
longgar yang melapisinya. Berikut beberapa tanda terlepasnya
plasenta, diantaranya :
a) Uterus menjadi berbentuk longgar
b) Uterus terdorong ke atas, karena plasenta terlepas ke
segmen bawah Rahim,
c) Tali pusat semakin memanjang,
d) Terjadinya perdarahan.
e) Melahirkan plasenta dilakukan dengan dorongan ringan
secara crede (pelepasan plasenta seperti memeras jeruk
dan dilakukan untuk melahirkan plasenta yang belum
lepas) pada fundus uterus (Damayanti dkk., 2014).
4) Kala IV (Observasi)
Kala IV persalinan adalah dimulai dari lahirnya plasenta
sampai dua jam pertama postpartum (Kumalasari, 2015).
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan pada kala IV
persalinan adalah :
a) Kontraksi uterus harus baik,
b) Tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genetalia
lain,
c) Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,
d) Kandung kencing harus kosong,
e) Luka-luka diperineum harus dirawat dan tidak ada
hematoma/ pembekuan darah,
f) Resume/ observasi keadaan umum ibu dan bayi
(Damayanti dkk., 2014).
g. Perubahan Fisiologis dan Psikilogis pada Persalinan
Beberapa perubahan yang terjadi pada ibu hamil selama
proses persalinan yaitu :
1) Tekanan Darah
Meningkatnya tekanan darah selama kontraksi desertai
peningkatan sistolik rata-rata 15 (10-20) mmHg dan diastolik
rata-rata (5-10) mmHg pada waktu-waktu kontraksi tekanan
darah kembali ketingkat sebelum persalinan. Dengan adanya
peningkatan tekanan darah tersebut dipastikan wanita yang
memang memilki resiko hipertensi kini resikonya meningkat
untuk mengalami komplikasi, seperti perdarahan otak.
Terdapat beberapa faktor yang dapat merubah tekanan darah
ibu diantaranya :
a) Aliran darah yang menurun pada arteri uterus akibat
kontraksi, kemudian diarahkan kembali ke pembuluh
darah perifer.
b) Timbul tahanan perifer, tekananan darah meningkat dan
frekuensi denyut nadi melambat.
c) Rasa sakit, takut dan cemas dapat meningkatkan tekanan
darah ibu.
2) Metabolisme jantung
Selama persalinan, metabolisme karbohidrat baik aerob
maupun anaerob meningkat dengan kecepatan tetap.
Peningkatan ini di sebabkan oleh ansietas (kondisi emosional
seperti cemas, takut/ khawatir) dan aktifitas otot rangka.
Peningkatan aktivitas metabolik terlihat dari peningkatan suhu
tubuh, denyut nadi, pernafasan, curah jantung, dan cairan
yang hilang.
3) Suhu
Karena terjadi peningkatan metabolisme, maka suhu
tubuh agak sedikit meningkat selama persalinan terutama
selama dan segera setelah persalinan. Peningkatan suhu yang
terjadi tidak boleh melebihi 0,5-1°C.
4) Denyut Nadi dan Detak Jantung
Frekuensi denyut nadi diantara kontraksi sedikit lebih
tinggi dibanding selama periode persalinan. Pada setiap
kontraksi 400 ml darah dikeluarkan dari uterus dan masuk
kedalam sistem vaskuler ibu. hal ini akan meningkatkan curah
jantung sekitar 10% hingga 15% pada tahap pertama
persalinan dan sekitar 30% hingga 50% pada tahap kedua
persalinan.
5) Perubahan pada ginjal
Poliuria atau gangguan berkemih berlebihan selama
persalinan dapat terjadi akibat adanya peningkatan cardiac
output, filtrasi dalam glomerulus, dan peningkatan aliran
plasma ginjal. Hal lain yang menyebabkan sulit berkemihnya
wanita yaitu: edema pada jaringan akibat tekanan bagian
presentasi, rasa tidak nyaman, sedasi, rasa malu, serta posisi
ibu saat bersalin terlentang.
6) Perubahan pada saluran cerna
Saat persalinan, mobilitas dan absorbsi lambung terhadap
makanan padat jauh berkurang, hal ini juga diperburuk oleh
penurunan lebih lanjut sekresi asam lambung selama
persalinan, sehingga saluran cerna bekerja dengan lambat
menjadi lebih lama.
7) Perubahan hematologic
Perubahan hematologi meningkat sampai 1,2 % selama
persalinan dan akan kembali pada tingkat sebelum persalinan
sehari setelah pasca salin kecuali perdarahan postpartum.
h. Asuhan Persalinan Normal
Asuhan persalinan normal merupakan asuhan yang bersih
dan aman selama persalinan dan setelah bayi lahir serta upaya
pencegahan komplikasi terutama perdarahan pasca persalinan,
hipotermia dan asfiksia bayi baru lahir. Tujuan asuhan persalinan
adalah menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat
kesehatan yang tinggi pada ibu dan bayinya, melalui upaya yang
terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi seminimal
mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat
tidur terjaga pada tingkat yang optimal (JNPK-KR, 2016).
C. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir
1. Pengertan Bayi Baru Lahir
Menurut Wahyuni dan Mawarni (2014) bayi baru lahir (BBL)
normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42
minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram.
Bayi baru lahir (neonatus) adalah suatu keadaan dimana bayi baru
lahir dengan umur kehamnilan 37-42 minggu, lahir melalui jalan
lahir dengan presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan,
menangis kuat, napas secara spontan dan teratur, berat badan antara
2.500-4.000 gram serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari
kehidupan intrauterine ke kehidupan ekstrauterin (Saifuddin, 2016).
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang baru lahir pada usia
kehamilan genap 37-41 minggu, dengan presentasi belakang kepala
atau letak sungsang yang melewati vagina tanpa memakai alat
(Saifuddin, 2016). Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir
cukup bulan, 38-42 minggu dengan berat badan sekitar 2500-3000
gram dan panjang badan sekitar 50-55 cm (Sondakh, 2017).
2. Ciri - Ciri Bayi Baru Lahir
Menurut Kumalasari (2015) ciri – ciri bayi baru lahir diantaranya :
a. Berat badan 2500-4000 gram,
b. Panjang badan lahir 48-52 cm,
c. Lingkar dada 30-38 cm,
d. Lingkar kepala 33-35 cm,
e. Frekuensi jantung 120-160 kali/ menit,
f. Pernapasan 40-60 kali/ menit,
g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan
cukup,
h. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah
sempurna,
i. Kuku agak panjang dan lemas,
j. Genetalia
Pada bayi perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora,
pada bayi laki-laki testis sudah turun, skrotum sudah ada,
k. Reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik,
l. Reflek moro/ gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik,
m. Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama,
mekonium berwarna hitam kecokelatan.
3. Klasifikasi Bayi Baru Lahir
Klasifikasi bayi baru lahir beradasarkan usia gestasi menurut,
yaitu
a. Bayi Pematur
Yaitu bayi yang lahir kurang 37 minggu lengkap (< 259 hari),
dengan berat badan antara 1000-2499 gram.
b. Bayi Matur
Yaitu bayi yang lahir mulai dari 37 minggu sampai kurang dari
42 minggu lengkap (259 hari sampai 293 hari), dengan berat
antara 2500-4000 gram.
c. Bayi Postmatur
Yaitu bayi yang lahir 42 minggu lengkap atau lebih (294 hari)
(Purnamasari, 2013).
4. Tahapan Bayi Baru Lahir
Beberapa tahapan yang terjadi pada bayi baru lahir yaitu :
a. Tahapan I
Tahapan ini terjadi segera setelah lahir, selama menit-menit
pertama kelahiran. Pada tahap ini digunakan sistem scoring apgar
intik pemeriksaan fisik dan scoring gray untuk interaksi ibu dan
bayi.
b. Tahapan II
Tahapan ini disebut tahap transisional reaktivitas. Pada tahap II
ini dilakukan pengkajian selama 24 jam pertama terhadap adanya
perubahan perilaku.
c. Tahapan III
Tahapan ini disebut tahap periodik. Pada tahap ini dilakukan
pengkajian setelah 24 jam pertama yang meliputi pemeriksaan
seluruh tubuh.
5. Kebutuhan Fisik BBL
a. Nutrisi
Marmi dan Rahardjo (2012) menganjurkan memberikan
ASI sesering mungkin sesuai keinginan ibu (jika payudara penuh)
dan tentu saja ini lebih berarti pada menyusui sesuai kehendak
bayi atau kebutuhan bayi setiap 2- 3 jam (paling sedikit setiap 4
jam), bergantian antara payudara kiri dan kanan. Pemberian ASI
saja cukup, pada periode usia 0-6 bulan, kebutuhan gizi bayi baik
kualitas maupun kuantitas terpenuhinya dari ASI saja, tanpa
harus diberikan makanan ataupun minuman lainnya. Para ahli
anak di seluruh dunia telah mengadakan penelitian terhadap
keunggulan ASI. Hasil penelitian menjelaskan keunggulan ASI
dibanding dengan susu sapi atau susu buatan lainnya adalah
sebagai berikut :
1) ASI mengandung hampir semua zat gizi yang diperlukan oleh
bayi dengan kosentrasi yang sesuai dengan kebutuhan bayi,
2) ASI mengandung kadar laktosa yang lebih tinggi, dimana
laktosa ini dalam usus akan mengalami peragian sehingga
membentuk asam laktat yang bermanfaat dalam usus bayi,
3) ASI mengandung antibody yang dapat melindungi bayi dari
berbagai penyakit infeksi,
4) ASI lebih aman dari kontaminasi, karena diberikan langsung,
sehingga kecil kemungkinan tercemar zat berbahaya,
5) Resiko alergi pada bayi kecil sekali karena tidak mengandung
betalatoglobulin,
6) ASI dapat sebagai perantara untuk menjalin hubungan kasih
sayang antara ibu dan bayi,
7) Tempertur ASI sama dengan temperature tubuh bayi,
8) ASI membantu pertumbuhan gigi lebih baik,
9) Kemungkinan tersedakpada waktu meneteki ASI kecil sekali,
10) ASI mengandung laktoferin untuk mengikat zat besi,
11) ASI lebih ekonomis, praktis tersedia setap waktu pada suhu
yang ideal dan dalm keadaan segar,
12) Dengan memberikan ASI kepada bayi berfungsi
menjarangkan kelahiran.
Berikut ini merupakan beberapa prosedur pemberian ASI yang
harus diperhatikan Marmi dan Rahardjo (2012) :
1) Tetekkan bayi segera atau selambatnya setengah jam setelah
bayi lahir,
2) Biasakan mencuci tangan dengan sabun setiap kali sebelum
menetekkan.
3) Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit kemudian
dioleskan pada puting susu dan aerola sekitarnya. Cara ini
mempunyai manfaat sebagai disinfektan dan menjaga
kelembaban puting susu,
4) Bayi diletakkan menghadap perut ibu,
b. Cairan dan Elektrolit
Menurut Marmi dan Rahardjo (2012) air merupakan
nutrien yang berfungsi menjadi medium untuk nutrien yang
lainnya. Air merupakan kebutuhan nutrisi yang sangat penting
mengingat kebutuhan air pada bayi relatif tinggi 75-80% dari
berat badan dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 55-
60%. Bayi baru lahir memenuhi kebutuhan cairannya melalui
ASI. Segala kebutuhan nutrisi dan cairan didapat dari ASI.
Kebutuhan cairan (Marmi dan Rahardjo, 2012) :
1) BB s/d 10 kg = BB x 100 cc
2) BB 10 – 20 kg = 1000 + (BB x 50) cc
3) BB > 20 kg = 1500 + (BB x 20) cc
c. Personal Hygiene
Prinsip Perawatan tali pusat menurut Purnamasari (2013) :
1) Jangan membungkus pusat atau mengoleskan bahan atau
ramuan apapun ke puntung tali pusat,
2) Mengoleskan alkohol atau povidon yodium masih
diperkenankan apabila terdapat tanda infeksi, tetapi tidak
dikompreskan karena menyebabkan tali pusat basah atau
lembap.,
3) Hal-hal yang perlu menjadi perhatian ibu dan keluarga yaitu :
a) Memperhatikan popok di area puntung tali pusat,
b) Jika puntung tali pusat kotor, cuci secara hati-hati dengan
air matang dan sabun. Keringkan secara seksama dengan
air bersih,
c) Jika pusat menjadi merah atau mengeluarkan nanah atau
darah; harus segera bawa bayi tersebut ke fasilitas
kesehatan. Ttali pusat biasanya lepas dalam 1 hari setelah
lahir, paling sering sekitar hari ke 10.
d. Kebutuhan Kesehatan Dasar
1) Pakaian
2) Sanitasi lingkungan
3) Perumahan
e. Kebutuhan psikososial
1) Kasih Sayang (Bounding Attachment)
Kontak dini antara ibu, ayah dan bayi disebut bounding
attachment melalui touch/sentuhan. Cara untuk melakukan
bounding attachment ada bermacam-macam antara lain
(Damayanti, dkk., 2014) :
a) Pemberian ASI Eksklusif.
b) Rawat gabung,
c) Kontak mata (eye to eye contact),
d) Suara (voice),
e) Aroma (odor),
f) Sentuhan (touch),
g) Entraiment,
Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan.
Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur
pembicaraan orang dewasa.
h) Bioritme
Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk
ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu
proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten
dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi
mengembangkan perilaku yang responsif.
2) Rasa aman
3) Harga diri
4) Rasa memiliki
6. Adaptasi Bayi Baru Lahir Terhadap Kehidupan diluar Uterus
Beberapa adaptasi fisiologis yang terjadi setelah bayi lahir
menurut Buda dan Endang (2011), yaitu :
a. Sistem Pernafasan
Pada saat didalam rahim janin mendapatkan O2 dan
melepaskan CO2 melalui plasenta. Paru-paru janin mengandung
cairan yang disebut surfaktan. Surfaktan berfungsi untuk
mengurangi tekanan permukaan alveoli dan menstabilkan
dinding alveoli sehingga tidak kolaps. Pada proses persalinan
pervaginam terjadi tekanan mekanik dalam dada yang
mengakibatkan pengempisan paru-paru dan tekanan negatif pada
intra toraks sehingga merangsang udara masuk. Ketika tali pusat
dipotong maka akan terjadi pengurangan O2 dan akumulasi CO2
dalam darah bayi, sehingga akan merangsang pusat pernafasan
untuk memulai pernafasan pertama. Pernafasan pertama bayi
berfungsi untuk mengeluarkan cairan dalam paru dan
mengembangkan jaringan alveoli paru-paru untuk pertama kali
sehingga merangsang udara masuk.
Ketika bernafas, udara memenuhi paru-paru dan sisa
surfaktan diserap oleh pembuluh darah dan limfe sehingga semua
alveoli terisi oleh udara pada saat ini maka terjadi peningkatan
tekanan O2 dalam alveolar sehingga pembuluh darah paru-paru
meningkat dan memperlancar pertukaran gas dalam alveoli
sehingga terjadi perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar
rahim. Pernafasan bayi baru lahir tidak teratur kedalaman,
kecepatan dan iramanya serta bervariasi 30-60 kali per menit,
sebagaimana kecepatan nadi, kecepatan pernafasan juga
dipengaruhi oleh menangis. Pernafasan mudah dilihat atau
diamati dengan melihat pergerakan abdomen karena pernafasan
neonatus sebagian besar dibantu oleh diafragma dan otot-otot
abdomen.
b. Sistem Sirkulasi Darah
Sistem kardiovaskuler mengalami perubahan yang
mencolok setelah bayi lahir. Foramen ovale, duktus arteriosus
dan duktus venosus menutup. Arteri umbilikus dan vena
umbilikalis dan arteri hepatika menjadi ligamen. Nafas pertama
yang dilakukan oleh bayi baru lahir membuat paruparu
berkembang dan menurunkan resistensi vaskuler pulmoner,
sehingga darah mengalir, tekanan arteri pulmoner menurun.
Rangkaian peristiwa merupakan mekanisme besar yang
menyebabkan tekanan atrium kanan menurun. Aliran darah
pulmoner kembali meningkat ke jantung dan masuk ke kanan
bagian kiri sehingga tekanan dalam atirum kiri meningkat.
Perubahan tekanan ini menyebabkan foramen ovale menutup.
Selama beberapa hari pertama kehidupan, tangisan dapat
mengembalikan aliran darah melalui foramen ovale sementara
dan mengakibatkan sianosis ringan. Frekuensi jantung bayi rata-
rata 140 x per menit saat lahir, dengan variasi berkisar antara
120-140 x per menit. Frekuensi saat bayi tidur berbeda dari
frekuensi saat bayi bangun. Pada saat usia satu minggu frekuensi
denyut jantung bayi rata-rata 128 x per menit dan 163 x per
menit saat bangun. Aritmia sinus (denyut jantung yang tidak
teratur pada usia ini dapat dipersepsikan sebagai suatu fenomena
fisiologis dan sebagai indikasi fungsi jantung yang baik).
Ketika dilahirkan bayi memiliki kadar haemoglobin yang
tinggi sekitar 17 gr/dl dan sebagian besar terdiri dari
haemoglobin fetal type (HbF). Jumlah HbF yang tinggi ketika
didalam rahim diperlukan untuk meningkatkan kapasitas
pengangkutan O2 dalam darah saat darah yang teroksigenasi dari
plasenta bercampur dengan darah dari bagian bawah janin.
Keadaan ini tidak berlangsung lama, ketika bayi lahir banyak sel
darah merah tidak diperlukan sehingga terjadi hemolisis sel
darah merah. Hal ini menyebabkan ikterus fisiologi pada bayi
baru lahir dalam 2-3 hari pertama kelahiran.
c. Sistem Pencernaan
Bayi baru lahir cukup bulan mampu menelan, mencerna,
memetabolisme dan mengabsorbsi protein dan karbohidrat
sederhana serta mengelmusi lemak. Mekonium merupakan
sanpah pencernaan yang disekresikan oleh bayi baru lahir.
Mekonium diakomulasikan dalam usus saat umur kehamilan 16
minggu. Warnanya hijau kehitam-hitaman dan lembut, terdiri
dari mucus, sel epitel, cairan amnion yang tertelan, asam lemak
dan pigmen empedu. Mekonium dikeluarkan seluruhnya sekitar
2-3 hari setelah bayi lahir. Mekonium pertama dikeluarkan dalam
waktu 24 jam setelah bayi lahir. Ketika bayi sudah mendapatkan
makanan faeces bayi berubah menjadi kuning kecoklatan,
mekonium yang dikeluarkan menandakan anus yang berfungsi
sedangkan faeces yang berubah warna menandakan seluruh
saluran gastrointestinal berfungsi. Dalam waktu 4 atau 5 hari
faeces akan menjadi kuning.
Bayi yang diberi ASI, faecesnya lembut, kuning terang
dan tidak bau. Sedangkan bayi yang diberi susu formula
berwarna pucat dan agak berbau. Bayi yang diberi ASI dapat
BAB sebanyak 5 kali atau lebih dalam sehari, ASI sudah mulai
banyak diproduksi pada hari ke 4 atau ke 5 persalinan. Walaupun
demikian setelah 3-4 minggu, bayi hanya BAB 1 kali setiap 2
hari. Sedangkan bayi yang diberi susu formula lebih sering BAB
tetapi lebih cenderung mengalami kontipasi. Kapasitas lambung
bayi baru lahir sekitar 15-30 ml dan meningkat dengan cepat
pada minggu pertama kehidupan. Pengosongan lambung pada
bayi baru lahir sekitar 2,5-3 jam.
Imaturitas hati yang fisiologis menghasilkan produksi
glukoronil transferase yang rendah untuk konjugasi bilirubin dan
juga tingginya jumlah sel darah merah yang mengalami
hemolisis mengakibatkan ikterus fisiologis yang dapat terlihat
pada hari ketiga atau kelima. Simpanan glikogen cepat berkurang
sehingga early feeding diperlukan untuk mempertahankan
glukosa darah normal. Early feeding diperlukan untuk
menstimulasi fungsi liver dan membantu pembentukan vitamin
K.
d. Sistem Pengaturan Suhu
Tubuh Bayi baru lahir memiliki pengaturan suhu tubuh
yang belum efisien dan masih lemah, sehingga penting untuk
mempertahankan suhu tubuh bayi agar tidak terjadi penurunan
dengan penatalaksanaan yang tepat misalnya dengan cara
mencegah hipotermi. Proses kehilangan panas dari kulit bayi
dapat melalui proses konveksi, evaporasi, konduksi dan radiasi.
Hal ini dapat dihindari jika bayi dilahirkan dalam lingkungan
yang hangat dengan suhu sekitar 21-24°C, dikeringkan dan
dibungkus dengan hangat. Bayi baru lahir tidak akan mengalami
kedinginan dan dapat meningkatkan produksi panas dengan cara
ini.
Simpanan lemak coklat sudah tersedia pada bayi saat
dilahirkan, tetapi suhu tubuh bayi menurun lebih banyak energi
yang digunakan untuk memproduksi panas ketika diperlukan
saja. Lemak coklat diproduksi dibawah bahu, dibelakang sternum
dileher disekitar ginjal dan kelenjar supra renal. Intake makanan
yang adekuat juga penting untuk memproduksi. Jika suhu tubuh
bayi menurun lebih banyak energi digunakan untuk
memproduksi panas daripada untuk pertumbuhan dan akan
terjadi peningkatan penggunaan O2.
Bayi baru lahir yang kedinginan akan terlihat tidak aktif
dan dia akan mempertahankan panas tubuhnya dengan posisi
fleksi dan meningkatkan pernafasannya serta menangis.
Sehingga terjadi peningkatan penggunaan kalori yang
mengakibatkan hipoglikemi yang akan ditimbulkan dari efek
hipotermi begitu juga hipoksia dan hyperbilirubinemia. Suhu
yang tidak stabil juga mengindikasikan terjadinya infeksi
sehingga setiap tindakan yang dilakukan harus menghindari
terjadinya kehilangan panas pada bayi baru lahir. Suhu tubuh
bayi yang normal sekitar 36,5-37,5°C.
e. Sistem Ginjal
Janin mengeluarkan urina dalam cairan amnion selama
kehamilan. Walaupun ginjal pada bayi sudah berfungsi, tapi
belum sempurna untuk menjalankan fungsinya. Kemampuan
filtrasi glomerular masih sangat rendah, maka kemampuan untuk
menyaring urine belum sempurna. Sehingga cairan dalam jumlah
yang banyak diperlukan untuk mengeluarkan zat padat. Jika bayi
mengalami dehidrasi ekskresi zat padat seperti urea dan sodium
klorida akan terganggu. Bayi baru lahir harus BAK dalam waktu
24 jam setelah lahir. Awalnya urine yang keluar sekitar 20-30
ml/ hari dan meningkat menjadi 100-200 ml/ hari pada akhir
minggu pertama ketika intake cairan meningkat.
f. Sistem Adaptasi Imunologi
Dalam rahim janin mendapatkan perlindungan infeksi
oleh kantong ketuban yang masih utuh dan barier plasenta,
walaupun demikian ada mikroorganisme tertentu yang dapat
melewati plasenta dan menginfeksi janin. Bayi baru lahir sangat
rentang terhadap infeksi terutama yang masuk melalui mukosa
yang berhubungan dengan sistem pernafasan dan gastrointestinal.
Bayi mempunyai beberapa imunoglobulin seperti IgG, IgA dan
IgM. Selama trimester akhir kehamilan terjadi transfer
transparental imonuglobulin IgG dari ibu ke janin. Hal ini
memberikan perlindungan pada janin untuk memberikan
pertahanan terhadap infeksi yang didapatkan dari antibody itu.
Antibody yang terbentuk memberikan kekebalan pasif
pada bayi sekitar 6 bulan, sedangkan IgM dan IgA tidak mampu
untuk melewati barier plasenta tetapi dapat dihasilkan oleh janin
beberapa hari setelah lahir. Tingkat imunoglobulin IgG bayi
sama atau kadang lebih tinggi dari ibunya, hal ini disebabkan
karena adanya kekebalan pasif selama bulan pertama kehidupan.
Sedangkan IgM dan IgA rata-rata 20% dari orang dewasa yang
dibutuhkan selama 2 tahun untuk sama dengan orang dewasa.
Tingkat IgM dan IgA yang relatif rendah dapat memudahkan
terjadinya atau masuknya infeksi. IgA dapat memberikan
perlindungan terhadap infeksi pada saluran pernafasan,
gastrointestinal, dan mata.
ASI terutama kolostrum dapat memberikan kekebalan
pasif pada bayi sebagai perlindungan terhadap infeksi dalam
bentuk lactobacillua bifidus, lactoferin, lysozym dan pengeluaran
IgA. Pemberian ASI juga membantu perkembangbiakan bakteri
tertentu dalam usus yang akan mengakibatkan suasana asam
yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Oleh
karena itu setiap tindakan pada bayi harus berprinsip untuk
mencegah terjadinya infeksi.
g. Sistem Reproduksi
Spermatogenesis pada bayi laki-laki belum terjadi sampai
mencapai pubertas, tetapi pada bayi perempuan sudah terbentuk
folikel primodial yang mengandung ovum pada saat lahir. Pada
kedua jenis kelamin ini pengambilan estrogen dari ibu untuk
pertumbuhan payudara yang kadang-kadang disertai secret pada
hari keempat atau kelima. Hal ini tidak membutuhkan perawatan
karena akan hilang dengan sendirinya. Pada bayi perempuan
kadang terjadi pseudomenstruasi dan labia mayora sudah
terbentuk menutupi labia minora. Pada laki-laki testis sudah
turun kedalam skrotum pada akhir 36 minggu kehamilan.
h. Sistem Rangka Tubuh
Pertumbuhan otot lebih banyak terjadi dengan hipertropi
dibandingkan dengan hiperplasia. Pemanjangan dan pengerasan
tulang yang belum sempurna dapat memfasilitasi pertumbuhan
episis. Tulang yang berada dibawah tengkorak tidak mengalami
pengerasan. Hal ini penting untuk pertumbuhan otak dan
memudahkan proses moulase pada waktu persalinan. Moulase
dapat hilang beberapa hari setelah kelahiran. Fontanela posterior
menutup setelah 6-8 minggu, sedangkan fontanela anterior
membuka sampai 18 bulan. Pengkajian terhadap hidrasi dan
tekanan intrakaranial dapat dilakukan dengan palpasi fontanel.
i. Sistem Syaraf
Jika dibandingkan dengan sistem tubuh lainnya, sistem
syaraf belum matang secara anatomi dan fisiologi. Hal ini
mengakibatkan kontrol yang minim oleh kortex serebri terhadap
sebagian besar batang otak dan aktivitas refleks tulang belakang
pada bulan pertama kehidupan walaupun sudah terjadi interaksi
sosial. Adanya beberapa aktivitas refleks yang terdapat pada bayi
baru lahir menandakan adanya kerjasama antara sistem syaraf
dan sistem muskuloskeretal. Refleks tersebut antara lain :
1) Reflek moro
Reflek dimana bayi akan mengembangkan tangan lebar-
lebar dan melebarkan jari-jari lalu mengembalikan dengan
tarikan yang cepat seakan-akan memeluk seseorang. Reflek
dapat diperoleh dengan memukul permukaan yang rata yang
ada didekatnya dimana dia terbaring dengan posisi terlentang.
Bayi seharusnya membentangkan dan menarik tangannya
secara sistematis. Jari-jari akan meregang dengan ibu jari dan
telunjuk membentuk huruf C, kemudian tangan terlipat
dengan Gerakan memeluk dan kembali pada posisi rileks.
Kaki juga dapat mengikuti gerakan serupa. Reflek Morro
biasanya ada pada saat lahir dan hilang setelah usia 3-4 bulan.
2) Reflek rooting
Reflek ini timbul karena adanya stimulasi taktil pada pipi
dan daerah mulut, bayi akan memutar kepala seakan-akan
mencari puting susu. Reflek Rooting ini berkaitan erat dengan
reflek menghisap dan dapat dilihat jika pipi atau sudut mulut
dengan pelan disentuh bayi, akan menengok secara spontan
kearah sentuhan, mulutnya akan terbuka dan mulai
menghisap. Reflek ini biasanya menghilang pada usia 7 bulan.
3) Reflek sucking
Reflek ini timbul bersama dengan reflek rooting untuk
menghisap puting susu dan menelan ASI.
4) Reflek Batuk dan Bersin
Reflek ini timbul untuk melindungi bayi dan obstruksi
pernafasan.
5) Reflek graps
Refleks yang timbul bila ibu jari diletakkan pada telapak
tangan bayi maka bayi akan menutup telapak tangannya.
Respon yang sama dapat diperoleh ketika telapak kaki digores
dekat ujung jari kaki, menyebabkan jari kaki menekuk. Ketika
jari-jari kaki diletakkan pada telapak tangan bayi, bayi akan
menggenggam erat jari-jari. Genggaman telapak tangan bayi
biasanya berlangsung sampai usia 3-4 bulan. Jari kaki akan
menekuk kebawah, reflek ini menurun pada usia 8 bulan, tapi
masih dapat dilihat sampai usia 1 tahun.
6) Reflek Walking dan Stapping
Reflek ini timbul bila bayi dalam posisi berdiri akan ada
gerakan spontan kaki melangkah kedepan walaupun bayi
tersebut belum bisa berjalan. Reflek ini kadangkadang sulit
diperoleh sebab tidak semua bayi kooperatif. Meskipun secara
terus menerus reflek ini dapat dilihat. Menginjak biasanya
berangsur-angsur menghilang pada usia 4 bulan.
7) Reflek Tonic Neck
Reflek jika bayi mengangkat leher dan menoleh kekanan
atau kekiri jika diposisikan tengkurap. Reflek ini tidak dapat
dilihat pada bayi yang berusia 1 hari, meskipun sekali reflek
ini kelihatan, reflek ini dapat diamati sampai bayi berusia 3-4
bulan.
8) Reflek Babinsky
Reflek bila ada rangsangan pada telapak kaki akan
bergerak keatas dan jari-jari lain membuka. Reflek ini
biasanya hilang setelah berusia 1 tahun.
9) Reflek Galant/ Membengkokkan Badan
Ketika bayi tengkurap goreskan pada punggung
menyebabkan pelvis membengkokkan kesamping. Jika
punggung digores dengan keras kira-kira 5 cm dari tulang
belakang dengan gerakan kebawah, bayi merespon dengan
membengkokkan badan kesisi yang digores. Refleks ini
berkurang pada usia 2-3 bulan.
10) Reflek Bauer/ Melangkah
Reflek ini terlihat pada bayi aterm dengan posisi
tengkurap, pemeriksa menekan telapak kaki. Bayi akan
merespon dengan membuat gerakan merangkak. Reflek ini
menghilang pada usia 6 minggu.
11) Intergumentary
Sistem Kulit bayi sangat sensitive terhadap infeksi oleh
karena itu penting untuk menjaga keutuhan kulit. Masuknya
mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi. Oleh karena itu
Ig A tidak ada pada saat lahir dan baru terbentuk sekitar 2
minggu setelah lahir, maka imunitas kulit dan usus berkurang.
Kelenjar keringat sudah ada pada saat lahir tapi kadang-
kadang belum berfungsi secara efisien. Verniks kaseosa yang
melindungi kulit bayi dan diproduksi oleh kelenjar sebasea
sedangkan bintik-bintik putih kecil yang dinamakan milia
sudah ada pada waktu lahir. Pengelupasan kulit hanya dimulai
beberapa hari setelah lahir, sedangkan jika kulit bayi sudah
mengelupas pada saat lahir hal ini mengidentifikasi bahwa
sudah terjadi serotinus, IUGR atau infeksi intra uterin seperti
sifilis.
7. Tanda-tanda bahaya yang harus diwaspadai pada bayi baru lahir
a. Pernafasan : sulit/ < 60 x /menit
b. Kehangatan : terlalu panas (> 38 0C atau terlalu dingin < 36 0C).
c. Warna : kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru/ pucat,
memar,
d. Pemberian makan: hisapan lemah, mengantuk berebihan, banyak
muntah.
e. Tali pusat : merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, berdarah.
f. Infeksi : suhu meningkat, merah, bengkak, keluar cairan nanah,
bau busuk, pernafasan sulit.
g. Tinja/ kemih : tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek,
sering, hijau tua, ada lender atau darah pada tinja.
h. Aktifitas : menggigil, atau tangis tidak bisa, sangat mudah
tersinggung, lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang, kejang
halus, tidak bisa tenang, menangis terus-menerus.
8. Jadwal Kunjungan Neonatus
Pelayanan kesehatan neonatus adalah pelayanan yang sesuai
dengan standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten
kepada neonatus sedikitnya 3 kali, selama periode 0-28 hari, baik di
fasilitas kesehatan maupun kunjungan rumah. Pelaksanaan
kunjungan diantaranya :
a. Kunjungan Neonatal ke-1 (KN 1) dilakukan pada kurun waktu 6-
48 jam setelah lahir,
b. Kunjungan Neonatal ke-2 (KN 2) dilakukan pada kurun waktu
hari ke-3 sampai dengan hari ke-7 setelah lahir,
c. Kunjungan Neonatal ke-3 (KN 3) dilakukan pada kurun waktu
hari ke-8 sampai dengan hari ke-28 setelah lahir (Sondakh,
2017).
9. Asuhan Bayi Baru Lahir Normal
Asuhan segera bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada
bayi baru lahir dimulai sejak proses persalinan hingga kelahiran bayi
(dalam satu jam pertama kehidupan). Dengan memegang prinsip
asuhan segera, aman, dan bersih untuk bayi baru lahir (Kumalasari,
2015). Asuhan segera yang dilakukan dengan memperhatikan aspek-
aspek berikut :
a. Selalu menjaga bayi tetap kering dan hangat
b. Usahakan kontak kulit ibu dengan bayi (skin to skin), segera
setelah melahirkan badan :
1) Secepat mungkin menilai pernafasan, serta bayi diletakkan
diatas perut ibu,
2) Dengan kain bersih dan kering membersihkan muka bayi dari
lendir dan darah untuk mencegah jalan udara terhalang.
3) Bayi sudah harus menangis/ bernafas secara spontan dalam
waktu 30 detik setelah lahir, jika bayi belum menangis
bernafas dalam waktu 30 detik, segera cari bantuan, lalu mulai
melakukan langkah-langkah resusitasi.
c. Jaga bayi tetap hangat (kontak skin to skin antara ibu dan bayi)
1) Jaga bayi tetap hangat (kontak skin to skin antara ibu dan
bayi),
2) Memastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi
tiap 15 menit :
a) Bila keadaan tubuh bayi dingin segera periksa suhu axilla
bayi,
b) Bila suhu < 36,5°C, segera untuk menghangatkannya,
d. Menilai pernafasan
Periksa pernafasan dan warna kulit bayi tiap 5 menit :
1) Bila bayi tidak segera bernafas, segera lakukan : resusitasi,
2) Bila bayi mengalami sianosis/ sukar bernafas (frekuensi nafas
< 30 atau > 60 x /menit) segera beri O2 kateter nasal.
e. Perawatan Mata
Pemberian obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1%
untuk mencegah penyakit mata kerena klamidia (penyakit
menular seksual yang dapat menginfeksi mata bayi), salep
diberikan pada jam pertama setelah kelahiran.
f. Asuhan Bayi Baru Lahir
Dalam waktu 24 jam, tindakan penanganan yang dilakukan yaitu:
1) Melanjutkan pengamatan pernafasan, warna kulit dan aktifitas
bayi,
2) Pertahankan suhu bayi tetap normal (36,5-37,5°C),
3) Hindari memandikan bayi hingga sedikitnya 6 jam,
4) Bungkus bayi dengan kain kering dan hangat, kepala tertutup.
Tabel 2.1
Penilaian APGAR score bayi baru lahir
Tanda SKOR
0 1 2
Appearance Biru, Pucat Tubuh Seluruh
(Warna Kulit) kemerahan, tubuh
Ekstremitas kemerahan
biru
Pulse (Deyut Tak ada Kurang dari Lebih dari
Jantung) 100 x/menit 100 x/menit
Grimace Tak ada Meringis Batuk, bersin
(Refleks
terhadap
rangsangan)
Activty ( Tonus Lemah Fleks pada Gerakan
otot ekstremitas aktif
Respiration Tak ada Tak teratur Menangis
(upaya Bak
bernafas)
Sumber : Arfiana dan Lusiana, 2016
Interpretasi :
Nilai 1-3 asfiksia berat,
Nilai 4-6 asfiksia sedang,
Nilai7-10 asfiksia ringan
Hasil nilai APGAR skor dinilai setiap variabel dinilai
dengan 0, 1, dan 2 nilai tertinggi adalah 10, selanjutnya dapat
ditentukan keadaan bayi sebagai berikut :
1) Nilai 7-10 menunjukkan bahwa bayi dalam keadaan baik,
2) Nilai 4-6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang dan
membutuhkan tindakan resusitasi,
3) Nilai 0-3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius dan
membutuhkan resusitasi segera sampai ventilasi (Arfiana dan
Lusiana, 2016).
g. Pemeriksaan fisik
1) Menggunakan tempat yang hangat dan bersih untuk
pemeriksaan,
2) Cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan, gunakan
sarung tangan dan bertindak lembut,
3) Melakukan inspeksi (lihat), auskultasi (dengar) dan palpasi
(raba/ rasakan tiap-tiap) daerah dari kepala sampai dengan
kaki, bila ada masalah segera cari bantuan dan rekam hasil
pemeriksaan.
h. Beri vitamin K
Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi
vitamin K pada bayi baru lahir. Bayi baru lahir normal dan cukup
bulan perlu diberikan vitamin K per oral 1 mg/ hari selama 3
hari. Bayi risiko tinggi diberi vitamin K parenteral dosis 0,5-1
mg IM.
i. Perawatan lain
1) Perawatan tali pusat, dengan memastikan tali pusat dalam
keadaan kering,
2) Dalam waktu 24 jam bila ibu dan bayi belum pulang, beri
imunisasi BCG, Polio dan Hepatitis B.
3) Ajarkan cara perawatan bayi, seperti :
a) Memberikan ASI sesuai kebutuhan tiap 2-3 jam (4 Jam),
sesring mungkin,
b) Pertahankan bayi tetap bersama ibu,
c) Jaga bayi agar tetap bersih, hangat dan kering,
d) Jaga tali pusat dalam keadaan bersih dan kering,
e) Pegang, sayangi dan nikmati kehidupan bersama bayi.
f) Pastikan bayi tetap hangat dan jangan mandikan bayi
hingga 24 jam setelah persalinan. Jaga kontak kulit antara
ibu dan bayi serta tutupi kepala bayi dengan topi.
4) Tanyakan pada ibu dan atau keluarga tentang masalah
kesehatan pada ibu :
a) Keluhan tentang bayinya
b) Penyakit ibu yang mungkin berdampak pada bayi (TBC,
demam saat persalinan, KPD > 18 jam, hepatitis B atau
C, siphilis, HIV/ AIDS, penggunaan obat).
c) Cara, waktu, tempat bersalin dan tindakan yang diberikan
pada bayi jika ada.
d) Warna air ketuban
e) Riwayat bayi buang air kecil dan besar
f) Frekuensi bayi menyusu dan kemampuan menghisap
5) Lakukan pemeriksaan fisik dengan prinsip sebagai berikut :
a) Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan bayi tenang (tidak
menangis),
b) Pemeriksaan tidak harus berurutan, dahulukan menilai
pernapasan dan tarikan dinding dada bawah, denyut
jantung serta perut.
D. Masa Nifas
1. Pengertian masa nifas
Nifas adalah darah yang keluar dari rahim yang disebabkan
melahirkan atau setelah melahirkan, selama masa nifas seorang
perempuan dilarang untuk shalat, puasa dan berhubungan intim
dengan suaminya. Masa nifas (puerperium) adalah masa yang
dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti semula (sebelum hamil). Masa nifas
berlangsung selama kira-kira 6 minggu. Selama masa pemulihan
tersebut berlangsung, ibu akan mengalami banyak perubahan, baik
secara fisik maupun psikologis (Satukhimalayah dan Indrawati,
2013).
Postpartum merupakan periode waktu atau masa dimana organ-
organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil membutuhkan
waktu sekitar 6 minggu (Kirana, 2015). Masa nifas /puerperium yaitu
masa sesudah persalinan, masa perubahan, pemulihan, penyembuhan,
dan pengembalian alat-alat kandungan/reproduksi, seperti sebelum
hamil yang lamanya 6 minggu atau 40 hari pasca persalinan
(Aprilianti, 2016). Periode post partum adalah periode yang dimulai
segera setelah kelahiran anak dan berlanjut selama sekitar 6- 8
minggu setelah melahirkan dimana ibu kembali kekeadaan semula
sebelum hamil (Alkinlabil, et al, 2013).
2. Tahapan Masa Nifas
Tahapan masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan yaitu :
a. Puerperium Dini
Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri
dan berjalan-jalan.
b. Puerperium Intermedial
Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi
selama kureang lebih enam minggu.
c. Remote Puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dalam
keadaan sempurna terutama bila ibu selama hamil atau waktu
persalinan mengalami komplikasi.
3. Perubahan Fisiologis Pada Masa Nifas
Beberapa perubahan fisiologis yang terjadi pada masa nifas
diantaranya :
a. Perubahan Sistem Reproduksi
1) Involusi uterus
Involusi atau pengerutan uterus merupakan suatu proses
yakni uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat
dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera
setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
(Kumalasari, 2015). Involusi uterus melibatkan reorganisasi
dan penanggalan desidua/ endometrium dan pengelupasan
lapisan pada tempat implantasi plasenta sebagai tanda
penurunan ukuran dan berat serta perubahan tempat uterus,
warna, dan jumlah lochia. Proses involusi uterus ini
diantaranya :
a) Iskemia Miometrium.
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus
menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta
sehingga membuat uterus menjadi relatif anemi dan
menyebabkan serat oto atrofi.
b) Atrofi Jaringan
Terjadi sebagai reaksi penghentian hormon
esterogen saat pelepasan plasenta.
c) Autolysis.
Proses penghancura diri sendiri yang terjadi
didalam otot uterus. Enzim proteolitik akan
memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga
panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5
kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan
Yang disebabkan karena penurunan hormon esterogen
dan progesteron.
d) Efek Oksitosin.
Menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi
otot uterus sehingga akan menekan pembuluh darah yang
mengakibatkan kerangnya suplai darah ke uterus. Proses
ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat
implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. Segera
setelah kelahiran, uterus harus berkontraksi secara baik
dengan fundus sekitar 4 cm dibawah umbilikus atau 12
cm diatas simfisis pubis. Dalam 2 minggu, uterus tidak
lagi dapat dipalpasi diatas simfisis (Holmes dan Philip,
2011).
Tabel 2.2
Perubahan Uterus pada Masa Nifas
No Waktu Tinggi Berat Uterus Diameter Palpasi
involusi Fundus Uterus Serviks
Uteri
1. Bayi lahir Setinggi 1000 12,5 Lunak
pusat gram cm
2. Plasenta 2 jari 750 12,5 Lunak
lahir dibawah gram cm
pusat
3. 1 minggu Pertengahan 500 7,5 2 cm
pusat sampai gram cm
simfisis
4. 2 minggu Tidak teraba 300 5 1 cm
diatas gram cm
simfisis
5. 6 minggu Bertambah 600 2,5 Menyempit
kecil gram cm
Sumber : (Kumalasari, 2015)
Involusi uterus dari luar dapat diamati dengan memeriksa
fundus uteri dengan cara sebagai berikut :
a) Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2 cm
dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1 cm diatas
pusat dan menurun kira-kira 1 cm setiap hari,
b) Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1
cm di bawah pusat. Pada hari ke- 3-4 tinggi fundus yteri 2
cm dibawah pusat,
c) Pada hari ke- 5-7 tinggi fundus uteri setengah pusat
simfisis. Pada hari ke-10 tinggi fundus uteri tidak teraba
(Kumalasari, 2015).
Bila uterus tidak mengalami atau terjadi kegagalan dalam
proses involusi disebut dengan subinvolusi. Subinvolusi
disebabkan oleh infeksi dan tertinggalnya sisa plasenta/
perdarahan lanjut (postpartum haemorrhage). Selain itu,
beberapa faktor lain yang menyebabkan kelambatan uetrus
berinvolusi diantaranya :
a) Kandung kemih penuh,
b) Rektum berisi,
c) Infeksi uterus,
d) Retensi hasil konsepsi,
e) Fibroid,
f) Hematoma ligamentum latum uteri (Holmes dan Philip,
2011).
2) Perubahan Ligamen
Ligamen-ligamen dan diagfragma pelvis serta fasia yang
merenggang sewaktu kehamilan dan partus, serta jalan lahir,
berangsur-angsur menciut kembali seperti sediakala.
Perubahan ligamen yang dapat terjadi pasca melahirkan
diantaranya: Ligamentum rotundum menjadi kendor yang
mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi sehingga
ligamen, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak
kendor.
3) Perubahan Serviks
Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek,
kendor, terkulai dan berbentuk seperti corong. Hal ini
disebabkan korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks tidak
berkontraksi, sehingga perbatasan antara korpus dan serviks
berbentuk seperti cincin. Warna serviks sendiri merah
kehitam-hitaman karena pembuluh darah. Konsistensinya
lunak, kadang-kadang terdapat laserasi/ perlukaan kecil. Oleh
karena robekan kecil yang terjadi di daerah ostium eksternum
selama dilatasi, serviks serviks tidak dapat kembali seperti
sebelum hamil. (Kumalasari, 2015).
4) Lokia (Lochea)
Akibat involusi uteri, lapisan luar desidua yang
mengelilingi situs plasenta akan menjadi nekrotik. Desidua
yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan.
Pencampuran antara darah dan desidua inilah yang dinamakan
lokia. Menurut Kemenkes RI (2013), definisi lochea adalah
ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea mengandung
darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam
uterus. Pemeriksaan lochea meliputi perubahan warna dan bau
kerana lochea memiliki ciri khas berbau amis atau khas darah
dan adanya bau busuk menandakan adanya infeksi. Jumlah
total pengeluaran seluruh periode lochea ratarata 240-270 ml.
Lochea dibagi menjadi 4 tahapan yaitu:
a) Lochea Rubra/ Merah (Cruenta
Lochea ini muncul pada hari ke-1 sampai hari ke-3
masa postpartum. Cairan yang keluar berwarna merah
karena berisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta,
dinding rahim, lemak bayi, lanugo, dan mekonium.
b) Lochea Sanguinolenta
Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan
dan berlendir. Berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-
7 postpartum.
c) Lochea Serosa
Lochea ini bewarna kuning kecoklatan karena
mengandung serum, leukosit, dan robekan/ laserasi
plasenta. Muncul pada hari ke-8 sampai hari ke-14
postpartum.
d) Lochea Alba/ Putih
Mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel,
selaput lendir servik, dan serabut jaringan yang mati.
Lochea alba bisa berlangsung selama 2 sampai 6 minggu
postpartum. Biasanya wanita mengeluarkan sedikit
lochea saat berbaring dan mengeluarkan darah lebih
banyak saat berdiri/ bangkit dari tempat tidur. Hal ini
terjadi akibat penggumpalan daran forniks vagina atau
saat wanita mengalami posisi rekumben.
Variasi dalam durasi aliran lochea sangat umum
terjadi, namun warna aliran lochea cenderung semakin
terang, yaitu berubah dari merah segar menjadi merah tua
kemudian cokelat, dan merah muda. Aliran lochea yang
tiba-tiba kembali berwarna merah segar bukan merupakan
temuan normal dan memerlukan evaluasi. Penyebabnya
meliputi aktifitas fisik berlebihan, bagian plasenta atau
selaput janin yang tertinggal dan atonia uterus.
Tabel 2.3
Perbedaan Lokia Pada Masa Nifas
No Lochea Waktu Warna Ciri-ciri
1. Rubra 1-3 hari Merah, Terdiri dari sel desidua,
kehitaman verniks caseosa,
rambut lanugo, sisa
mekonium, dan sisa
darah
2. Sanguilenta 3-7 hari Putih Sisa darah bercampur
bercampur lendir
merah
3. Serosa 7-14 Hari Kekuningan/ Lebih sedikit darah dan
kecoklatan lebih banyak serum,
juga terdiri dari
leukosit dan robekan
laserasi plasenta
4. Alba >14 Hari Putih Mengandung leukosit,
selaput lendir serviks
dan serabut jaringan
yang mati
Sumber: (Kumalasari, 2015)
5) Perubahan Vulva, Vagina dan Perineum
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan
yang sangat besar selama proses persalinan dan akan kembali
secara bertahap selama 6-8 minggu postpartum. Penurunan
hormon estrogen pada masa postpartum berperan dalam
penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Rugae akan
terlihat kembali pada sekitar minggu ke-4. Perineum setelah
persalinan, mengalami pengenduran karena teregang oleh
tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pulihnya tonus otot
perineum terjadi sekitar 5-6 mingu postpartum. Latihan senam
nifas baik untuk mempertahankan elastisitas otot perineum
dan organ-organ reproduksi lainnya. Luka episiotomi akan
sembuh dalam 7 hari postpartum. Bila teraji infeksi, luka
episiotomi akan terasa nyeri, panas, merah dan bengkak
(Aprilianti, 2016).
b. Perubahan Sistem Pencernaan
Pasca melahirkan, kadar progesteron menurun, namun
faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal,
sehingga hal ini akan mempengaruhi pola nafsu makan ibu.
Biasanya ibu akan mengalami obstipasi (konstipasi) pasca
persalinan. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat
pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan kolon menjadi
kosong, pengeluaran cairan pada waktu persalinan (dehidrasi),
hemoroid, dan laserasi jalan lahir.
c. Perubahan Sistem Perkemihan
Terkadang ibu mengalami sulit buang air kecil karena
tertekannya spingter uretra oleh kepala janin dan spasme (kejang
otot) oleh iritasi muskulus spingter ani selama proses persalinan,
atau karena edema kandung kemih selama persalinan. Saat hamil,
perubahan sistem hormonal yaitu kadar steroid mengalami
peningkatan. Namun setelah melahirkan kadarnya menurun
sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Umumnya urin
banyak dikeluarkan dalam waktu 12-36 jam pascapersalinan.
Fungsi ginjal ini akan kembali normal selang waktu satu bulan
pasca persalinan.
d. Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Perubahan ini terjadi pada saat umur kehamilan semakin
bertambah. Adaptasi muskuloskeletal mencakup peningkatan
berat badan, bergesernya pusat akibat pembesaran rahim,
relaksasi dan mobilitas. Namun, pada saat postpartum sistem
muskuloskeletal akan berangsur-angsur pulih dan normal
Kembali Ambulasi dini dilakukan segera pascapersalinan, untuk
membantu mencegah komplikasi dan mempercepat involusi
uteri.
e. Perubahan Sistem Endokrin
Hormon-hormon yang berperan terkait perubahan sistem
endokrin diantaranya:
a) Hormon Plasenta
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) mengalami
penurunan sejak plasenta lepas dari dinding uterus dan lahir,
dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7
postpartum. Hormon ini akan kembali normal setelah hari
ke7.
b) Hormon Pituitary
Hormon pituitary diantaranya: Prolaktin, FSH dan LH.
Hormon prolaktin berperan dalam pembesaran payudara
untuk merangsang produksi ASI. Pada wanita yang menyusui
bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi. FSH dan LH meningkat
pada minggu ke-3 (fase konsentrasi folikuler) dan LH akan
turun dan tetap rendah hingga menjelang ovulasi.
c) Hormon Oksitosin
Hormon oksitosin disekresi oleh kelenjar otak belakang
(Glandula Pituitary Posterior) yang bekerja terhadap otot
uterus dan jaringan payudara. Hormon ini berperan dalam
pelepasan plasenta, dan mempertahankan kontraksi untuk
mencegah perdarahan saat persalinan berlangsung. Selain itu,
isapan bayi saat menyusu pada ibunya juga dapat merangsang
produksi ASI lebih banyak dan sekresi oksitosin yang tinggi,
sehingga mempercepat proses involusi uteri.
d) Hipotalamik Pituitary Ovarium
Hormon ini mempengaruhi proses menstruasi pada wanita
yang menyusui ataupun tidak menyusui. Wanita yang
menyusui mendapatkan menstruasi pada 6 minggu pasca
melahirkan kisaran 16% dan 45% setelah 12 minggu pasca
melahirkan. Sedangkan wanita yang tidak menyusui,
mendapatkan menstruasi kisaran 40% setelah 6 minggu pasca
melahirkan dan 90% setelah 24 minggu.
e) Hormon Estrogen dan Progesteron
Estrogen yang tinggi akan memperbesar hormon anti
diuretik yang dapat meningkatkan volume darah. Sedangkan
progesteron akan mempengaruhi perangsangan dan
peningkatan pembuluh darah. Hal ini mempengaruhi saluran
kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum,
vulva dan vagina.
f. Perubahan Sistem Kardivaskuler
Cardiac Output meningkat selama persalinan dan
berlanjut setelah kala III saat besar volume darah dari uterus
terjepit di dalam sirkulasi. Namun mengalami penurunan setelah
hari pertama masa nifas dan normal kembali diakhir minggu ke-
3. Penurunan ini terjadi karena darah lebih banyak mengalir ke
payudara untuk persiapan laktasi. Hal ini membuat darah lebih
mampu melakukan koagulasi dengan peningkatan viskositas
yang dapat meningkatkan risiko thrombosis.
g. Perubahan Tanda-Tanda Vital Pada Masa Nifas
Perubahan tanda-tanda vital pada masa nifas diantanya:
1) Suhu.
Suhu badan pasca persalinan dapat naik lebih dari 0,5°C
dari keadaan normal, namun tidak lebih dari 39°C setelah 2
jam pertama melahirkan, umumnya suhu badan kembali
normal. Bila lebih dari 38°C waspadai ada infeksi.
2) Nadi
Umumnya nadi normal 60-80 denyut per menit dan segera
setelah partus dapat terjadi bradiikardi (penurunan denyut
nadi). Bila terdapat takikardi (peningkatan denyut jantung)
diatas 100 kali permenit perlu diwaspadai terjadi infeksi atau
perdarahan postpartum berlebihan.
3) Tekanan darah
Tekanan darah normalnya sistolik 90-12- mmHG dan
diastolik 60-80 mmHG. Tekanan darah biasanya tidak
berubah biasanya akan lebih rendah setelah melahirkan karena
ada perdarahan atau ayang lainnya. Tekanan darah akan tinggi
apabila terjadi pre-eklampsi.
4) Pernapasan.
Frekuensi normal pernapasan orang dewasa yaitu 16-24
kali per menit. Pada ibu postpartum umumnya lambat/ normal
dikarenakan masih dalam fase pemulihan. Keadaan
pernapasan selalu berhubungan dengan suhu dan denyut nadi.
Bila suhu dan nadi tidak normal, pernapasan juga akan
mengikutinya kecuali apabila ada gangguan khusus pada
saluran cerna.
h. Perubahan Hematologi
Pada awal postpartum, jumlah hemoglobin, hematokrit,
dan eritrosit bervariasi, hal ini dikarenakan tingkat volume darah
dan volume darah yang berubah-ubah. Penurunan volume dan
peningkatan sel darah merah pada kehamilan diasosiasikan
dengan peningkatan hematokrit dan hemaglobin pada hari ke-3
hingga ke-7 postpartum dan normal kembali pada minggu ke-4
hingga ke-5 postpartum. Jumlah kehilangan darah selama masa
persalinan kurang lebih 200-500 ml, minggu pertama postpartum
berkisar 500- 800 ml dan selama sisa masa nifas berkisar 500 ml.
4. Adaptasi Psikologis Ibu Masa Nifas
Tahapan adaptasi psokologis masa nifas yaitu:
a. Periode Taking In (hari ke 1-2 setelah melahirkan)
1) Ibu masih pasif dan tergantung dengan orang lain.
2) Perhatian ibu tertuju pada kekhawatiran perubahan tubuhnya.
3) Ibu akan mengulangi pengalaman-pengalaman waktu
melahirkan,
4) Memerlukan ketenangan dalam tidur untuk mengembalikan
keadaan. tubuh ke kondisi normal.
5) Nafsu makan ibu biasanya bertambah sehingga membutuhkan
peningkatan nutrisi. Kurangnya nafsu makan menandakan
proses pengembalian kondisi tubuh tidak berlangsung normal.
b. Periode Taking On/ Taking Hold (hari ke 2-4 setelah melahirkan)
1) Ibu memperhatikan kemampuan menjadi orang tua dan
meningkatkan tanggung jawab akan bayinya,
2) Ibu memfokuskan perhatian pada pengontrolan fungsi tubuh,
BAK, BAB, dan daya tahan tubuhnya,
3) Ibu berusaha untuk menguasai keterampilan merawat bayi
seperti menggendong, menyusui, memandikan, dan mengganti
popok,
4) Ibu cenderung terbuka menerima nasehat bidan.
5) Kemungkinan ibu mengalami depresi postpartum karena
merasa tidak mampu membesarkan bayinya.
c. Periode Letting Go (berlangsung 10 hari setelah melahirkan).
1) Terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan dipengaruhi oleh
dukungan serta perhatian keluarga.
2) Ibu sudah mengambil tanggung jawab dalam merawat bayi
dan memahami kebutuhan bayi sehingga akan mengurangi
hak ibu dalam kebebasan dan hubungan sosial.
3) Deprsei postpartum sering terjadi pada masa ini (Pitriani,
2014).
5. Kebutuhan dasar pada masa nifas
a. Nutrisi dan Cairan
Selama masa nifas, diet sehat sangat dianjurkan pada ibu
setelah melahirkan untuk mempercepat proses penyembuhan dan
peningkatan kualitas produksi ASI. Diet yang dilakukan tentunya
harus bermutu dengan nutrisi yang cukup, gizi seimbang,
terutama kebutuhan protein dan karbohidrat serta banyak
mengandung cairan dan serat untk mencegah konstipasi.
Beberapa asupan yang dibutuhkan ibu pada masa nifas
diantaranya:
1) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari (3-4 porsi setiap
hari).
2) Ibu dianjurkan minum sedikitnya 3 liter per hari, untuk
mencukupi kebutuhan cairan supaya tidak cepat dehidrasi.
3) Rutin mengkonsumsi pil zat besi setidaknya selama 40 hari
pascapersalinan.
4) Serta tidak dianjurkan mengkonsumsi makanan yang
mengandung kafein/ nikotin.
5) Minum kapsul vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali yaitu
satu kali setelah melahirkan dan yang kedua diberikan setelah
24 jam selang pemberian kapsul vitamin A pertama.
Pemberian kapsul vitamin A 2 kali dapat menambah
kandungan vitamin A dalam ASI sampai bayi berusia 6 bulan,
dibandingkan pemberian 1 kapsul hanya cukup meningkatkan
kandungan sampai 60 hari.
b. Ambulasi
Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan
agar secepat mungkin bidan membimbing ibu postpartum bangun
dari tempat tidurnya dan membimbing ibu untuk berjalan. Early
ambulation tidak diperbolehkan pada ibu postpartum dengan
penyulit misalnya anemia, penyakit jantung, paru-paru, demam,
dan sebagainya (Kemenkes RI, 2013). Pada ibu dengan
postpartum normal ambulasi dini dilakukan paling tidak 6-12 jam
postpartum, sedangkan pada ibu dengan partus sectio caesarea
ambulasi dini dilakukan paling tidak setelah 12 jam postpartum
setelah ibu sebelumnya beristirahat/ tidur.
Tahapan ambulasi ini dimulai dengan miring kiri/kanan
terlebih dahulu, kemudian duduk. Lalu apabila ibu sudah cukup
kuat berdiri maka ibu dianjurkan untuk berjalan). Beberapa
manfaat ambulasi dini diantaranya:
1) Membuat ibu merasa lebih baik, sehat dan lebih kuat.
2) Mempercepat proses pemulihan fungsi usus, sirkulasi,
jaringan otot, pembuluh vena, paru-paru dan sistem
perkemihan.
3) Mempermudah dalam mengajarkan ibu cara melakukan
perawatan pada bayinya,
4) Mencegah terjadinya trombosis akibat pembekuan darah.
c. Eliminasi
1) Buang Air Kecil (BAK)
Biasanya dalam waktu 6 jam postpartum ibu sudah dapat
melakukan BAK secara spontan. Miksi normal terjadi setiap
3-4 jam postpartum. Namun apabila dalam waktu 8 jam ibu
belum dapat berkemih sama sekali, maka kateterisasi dapat
dilakukan apabila kandung kemih penuh dan ibu sulit
berkemih. Kesulitan BAK antara lain disebabkan spingter
uretra yang tertekan oleh kepala janin dan kejang otot
(spasmus) oleh iritasi muskulo spingter ani selama persalinan,
atau adanya edema kandung kemih selama persalinan.
2) Buang Air Besar (BAB)
Ibu postpartum diharapkan sudah dapat buang air besar
setelah hari ke-2 postpartum. Jika pada hari ke-3 ibu belum
bisa BAB, maka penggunaan obat pencahar berbentuk
supositoria sebagai pelunak tinja dapat diaplikasikan melalui
per oral atau per rektal. Kesulitan BAB (konstipasi) pada ibu
antara lain disebabkan selain perineum yang sakit juga takut
luka jahitan perineum terbuka, adanya hemoroid atau
obatobatan analgesik selama proses persalinan. Kesulitan
BAB ini dapat diatasi dengan melakukan mobilisasi dini,
konsumsi makanan tinggi serat, mencukupi kebutuhan asupan
cairan dapat membantu memperlancar BAB ibu dengan baik.
d. Kebersihan Diri (Personal Hygiene)
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi
dan meningkatkan perasaan nyaman ibu. Beberapa langkah yang
dapat dilakukan ibu postpartum dalam menjaga kebersihan
dirinya antara lain:
1) Pastikan kebersihan tubuh ibu tetap terjaga dengan cara mandi
lebih sering (2 kali/ hari) dan menjaga kulit tetap kering untuk
mencegah infeksi dan alergi dan penyebarannya ke kulit bayi.
2) Membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air, yaitu
dari arah depan ke belakang, setelah itu anus. Mengganti
pembalut minimal 2 kali sehari. Menganjurkan ibu mencuci
tangan dengan sabun dan air setiap sebelum dan selesai
membersihkan daerah kemaluan. Jika ibu mempunyai luka
episiotomy, ibu dianjurkan untuk tidak menyentuh daerah
luka agar terhindar dari infeksi sekunder.
3) Melakukan perawatan payudara secara teratur, yaitu dimulai
1-2 hari setelah bayi dilahirkan dan rutin membersihkanya
setiap 2 kali sehari.
4) Mengganti pakaian dan alas tempat tidur. Ibu dianjurkan
memakai pakaian yang longgar dan mudah menyerap
keringat, sehingga daerah seperti payudara tidak terasa
tertekan dan kering. Serta pada daerah lipatan paha, dengan
penggunaan pakaian dalam yang longgar tidak menyebabkan
iritasi kulit disekitar selangkangan akibat lokia.
5) Jika ibu mengalami kerontokan rambut akibat adanya
perubahan hormon, ibu dianjurkan menggunakan pembersih
rambut/ kondisioner secukupnya, dan menyisir rambut dengan
sisir yang lembut.
e. Istirahat dan Tidur
Selama proses pemulihan kondisi fisik dan psikologis ibu
pada masa nifas kebutuhan istirahat ibu harus tercukupi. Ibu
dapat beristirahat dengan tidur siang selagi bayi tidur, atau
melakukan kegiatan kecil dirumah seperti menyapu dengan
perlahan-lahan. Jika ibu kurang istirahat maka dampak yang
terjadi seperti jumlah produksi ASI berkurang, memperlambat
proses involusi uteri, serta meyebabkan depresi dan
ketidakmampuan ibu dalam merawat bayinya.
f. Aktivitas Seksual
Ibu dapat melakukan aktvitas seksual dengan suami ibu
kapan saja, selama ibu sudah siap, secara fisik aman dan tidak
merasakan nyeri daerah genetalia.
g. Senam nifas
Senam nifas adalah senam yang dilakukan oleh ibu
setelah persalinan, setelah keadaan ibu normal (pulih kembali).
Senam nifas merupakan latihan yang tepat untuk memulihkan
kondisi tubuh ibu dan keadaan ibu secara fisiologis maupun
psikologis. Senam nifas dapat dilakukan saat ibu merasa benar-
benar pulih dan tidak ada komplikasi atau penyulit selama masa
nifas. Selain memulihkan kondisi tubuh ibu senam nifas dapat
mempercepat proses involusi uteri dan mengembalikan elastisitas
otot-otot dan jaringan yang merenggang waktu persalinan.
6. Tanda Bahaya Masa Nifas
Setelah ibu melahirkan, selanjutnya ibu memasuki tahap masa
nifas atau lazim disebut puerperium. Masa nifas dimulai 1 jam
setelah plasenta lahir hingga 6 minggu (42 hari) setelahnya. Asuhan
masa nifas sangat diperlukan karena masa nifas merupakan masa
kritis yang memungkinkan untuk terjadinya masalah-masalah yang
berakibat fatal karena dapat menyebabkan kematian ibu. Oleh karena
itu perhatian penuh dari bidan sangat diperlukan salah satunya
dengan memberikan asuhan kebidanan berkesinambungan yang
berkualitas secara optimal. Dampak yang terjadi jika cakupan
pelayanan yang diberikan rendah, dapat menyebabkan permasalahan
pada ibu nifas seperti perdarahan post partum, infeksi saat masa
nifas, dan masalah obstetri lainya pada masa nifas (Wahyuni dkk.,
2014). Tanda bahaya masa nifas yang perlu diwaspadai oleh ibu
diantaranya:
a. Perdarahan Pascasalin
Perdarahan pasca persalinan yaitu perdarahan pervaginam yang
melebihi 500 ml setelah bayi lahir. Perdarahan pascasalin
menurut Kemenkes RI (2013) dibagi menjadi 2, yaitu:
1) Perdarahan pascasalin primer (Early Postpartum
Haemorrhage), yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam
pertama paska persalinan segera. Penyebab perdarahan ini
diantaranya atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta yang
tertinggal, dan robekan jalan lahir.
2) Perdarahan pascasalin sekunder (Late Postpartum
Haemorrhage), yaitu perdarahan yang terjadi setelah 24 jam
pertama pasca persalinan. Penyebab utama perdarahan ini
diantaranya robekan jalan lahir, sisa plasenta yeng tertinggal
atau membran. Sakit kepala yang hebat. Pembengkakan di
wajah, tangan dan kaki. payudara yang berubah merah, panas
dan terasa sakit. Ibu yang dietnya buruk, kurang istirahat dan
anemia mudah mengalami infeksi.
b. Infeksi Masa Nifas
Bakteri dapat menjadi salah satu penyebab infeksi setelah
persalinan. Selain kurang menjaga kebersihan dan perawatan
masa nifas yang kurang tepat, faktor lain yang memicu seperti
adanya luka bekas pelepasan plasenta, laserasi pada saluran
genetalia termasuk episiotomi pada perineum ataupun dinding
vagina dan serviks. Gejala umum yang dapat terjadi:
1) Temperatur suhu meningkat > 38°C,
2) Ibu mengalami peningkatan pernapasan (takikardi) dan
penurunan pernapasan (bradikardi) secara drastis, serta
tekanan darah yang tidak teratur, 3) Ibu terlihat lemah,
gelisah, sakit kepala dan kondisi terburuknya ibu tidak sadar/
koma,
3) Proses involusi uteri terganggu,
4) Lokia yang keluar berbau dan bernanah.
c. Demam, Muntah dan Nyeri Saat Berkemih
Pada masa nifas ini ibu cenderung mengalami
peningkatan suhu badan dan nyeri saat berkemih. Nyeri ini
disebabkan oleh luka bekas episiotomi, atau laserasi periuretra
yang menyebabkan ketidaknyamanan pada ibu. Demam dengan
suhu > 38°C mengindikasikan adanya infeksi, serta terjadinya
diuresis dan overdistensi dapat menyebabkan infeksi pada
saluran kemih.
d. Kehilangan Nafsu Makan dalam Waktu yang Lama.
Selepas persalinan ibu akan mengalami kelelahan yang
amat berat, karena tenaga ibu banyak terkuras saat menjalani
proses persalinannya. Karena kelelahan ini akhirnya berdampak
pada nafsu makan ibu yang menurun. Pada masa ini dukungan
keluarga sangat diperlukan dalam membantu ibu untuk tetap
makan dan mencukupi kebutuhan nutrisinya dengan baik.
e. Payudara Berubah Kemerahan, Panas, dan Terasa Sakit
Jika ASI ibu tidak disusukan pada bayinya maka dapat
menyebabkan terjadi bendungan ASI, payudara memerah, panas,
dan terasa sakit yang berlanjut pada mastitis, atau terjadi radang
(peradangan pada payudara).
f. Pembengkakan pada Wajah dan Ekstremitas
Waspadai preeklamsi yang timbul dengan tanda-tanda:
1) Tekanan darah ibu tinggi,
2) Terdapat oedem/ pembengkkan di wajah dan ekstrem.
3) Pada pemeriksaan urine ditemukan protein urine.
7. Asuhan Ibu pada Masa Nifas Normal
Asuhan kebidanan masa nifas adalah pentalaksanaan asuhan yang
diberikan pada pasien mulai dari saat setelah lahirnya bayi sampai
dengan kembalinya tubuh dalam keadaan seperti sebelum hamil atau
mendekati sebelum hamil (Aprilianti, 2016). Asuhan masa nifas
sangat diperlukan pada periode ini karena merupakan masa kritis
baik ibu maupun bayinya. Sehingga diperkirakan bahwa 60%
kematian ibu akibat kehamilan yang yang terjadi setelah persalinan
dan 50% kematian masa nifas yang terjadi dalam 24 jam pertama
(Kumalasari, 2015).
Asuhan pelayanan masa nifas yang berkualitas mengacu pada
pelayanan sesuai standar kebidanan, sehingga permasalahan yang
terjadi pada masa ibu nifas dapat diminimalkan atau bahkan tidak
terjadi sama sekali. Asuhan masa nifas memiliki beberapa tujuan
diantaranya:
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun pikologinya.
b. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,
mengobati/ merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan
bayinya,
c. Memberikan pendidikan kesehatan, tentang perawatan kesehatan
diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi, dan perawatan
bayi sehat,
d. Serta memberikan pelayanan keluarga berencana (Kumalasari,
2015).
Kebijakan program nasional masa nifas yaitu paling sedikit
empat kali kunjungan pada nifas dalam rangka menilai status ibu dan
bayi baru lahir, mencegah, mendeteksi dan mengurangi masalah-
masalah yang terjadi pada masa nifas, diantaranya:
a. Kunjungan I (6 - 48 jam postpartum)
Asuhan yang diberikan antara lain:
1) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri,
2) Memantau keadaan umum ibu untuk memastikan tidak terjadi
tanda-tanda infeksi,
3) Melakukan hubungan antara bayi dan ibu (bounding
attachment),
4) Membimbing pemberian ASI lebih awal (ASI ekslusif).
b. Kunjungan II (4 hari - 28 hari)
Asuhan yang diberikan antara lain:
1) Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal, uterus
berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah
umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal,
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan
abnormal,
3) Memastikan ibu mendapat cukup makan, cairan dan istirahat.
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak
memperlihatkan tanda-tanda penyulit,
5) Memberikan konseling pada ibu, mengenal asuhan pada bayi,
tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan perawatan bayi
sehari-hari.
c. Kunjungan III (29 hari - 42 hari)
Asuhan yang diberikan antara lain:
1) Menanyakan kesulitan-kesulitan yang dialami ibu selama
masa nifas,
2) Memberikan konseling KB secara dini, imunisasi, senam
nifas, dan tanda-tanda bahaya yang dialami oleh ibu dan bayi
(Kumalasari, 2015).