0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan120 halaman

Definisi dan Fisiologi Kehamilan

Dokumen ini membahas tentang kehamilan, termasuk definisi, fisiologi, dan tanda-tanda kehamilan. Kehamilan berlangsung sekitar 40 minggu dan dibagi menjadi tiga trimester, dengan berbagai perubahan fisiologis yang terjadi pada tubuh wanita. Tanda-tanda kehamilan dibedakan menjadi tanda pasti dan tidak pasti, serta metode untuk mendeteksi kehamilan seperti tes urine dan USG.

Diunggah oleh

Aassalehah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan120 halaman

Definisi dan Fisiologi Kehamilan

Dokumen ini membahas tentang kehamilan, termasuk definisi, fisiologi, dan tanda-tanda kehamilan. Kehamilan berlangsung sekitar 40 minggu dan dibagi menjadi tiga trimester, dengan berbagai perubahan fisiologis yang terjadi pada tubuh wanita. Tanda-tanda kehamilan dibedakan menjadi tanda pasti dan tidak pasti, serta metode untuk mendeteksi kehamilan seperti tes urine dan USG.

Diunggah oleh

Aassalehah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kehamilan

1. Definisi kehamilan

Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari

spertmatozoa dan ovum serta dilanjutkan dengan nidasi atau

implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahir bayi,

kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10

bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional (Walyani, 2015).

Kehamilan adalah suatu kondisi seorang wanita memiliki janin yang

tengah tumbuh dalam tubuhnya. Umunya janin tumbuh didalam

rahim. Waktu hamil pada manusia sekitar 40 minggu atau 9 bulan

(Romauli, 2011).

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan

didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan

ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung

dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan

berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan

menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester,

dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester

kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga

13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40) (Prawirohardjo, 2014).

Kehamilan adalah suatu keadaan di dalam rahim seorang wanita

terdapat hasil konsepsi (pertemuan ovum dan spermatozoa).


Kehamilan merupakan suatu proses yang alamiah dan fisiologis

(Yanti, 2015).

2. Fisiologi kehamilan

Proses kehamilan merupakan mata rantai yang

berkesinambungan yang terdiri dari : Pada saat ovulasi, ovum

dikeluarkan dari folikel de graff di dalam ovarium. Folikel yang

ruptur akan mengalami sejumlah perubahan sehingga terbuat korpus

luteum menstruasi yang menstruasi yang secara progresif akan

mengalami degenerasi dan regresi menyeluruh pada menstruasi

berikut. Apabila ovum telah di buahi maka korpus luteum akan di

pertahankan oleh produksi gonadotropin chorionic (HCG) yang

dihasilkan oleh sinsitio trofoblas disekeliling blastokis dan menjadi

korpus luteum kehamilan (Nuswantari, 2012).

Progesterone yang terus menerus diproduksi oleh korpus luteum

pada masa hamil akan mempertahankan lapisan uterus hingga siap

untuk implantasi, Plasenta mulai memproduksi sejumlah

progesterone yang cukup untuk mengambil alih fungsi korpus

luteum. Bila lapisan uterus tetap dapat dipertahankan, Maka

menstruasi tidak akan terjadi. Hal ini biasanya merupakan indikasi

pertama terjadinya kehamilan. Plasenta menghasilkan beberapa

hormon. Hormon ini mengakibatkan sejumlah perubahan fisiologis

yang dapat membantu menegakkan diagnosis kehamilan, HCG

merupakan data dasar pada tes-tes imunologi kehamilan

(Prawihardjo, 2014).
3. Tanda-tanda kehamilan

Terdapat dua tanda yang menunjukkan seorang wanita

mengalami suatu kehamilan, tanda pasti dan tanda tidak pasti. Tanda

tidak pasti dibagi menjadi dua, pertama tanda subjektif (presumtif)

yaitu dugaan atau perkiraan seorang wanita mengalami suatu

kehamilan, kedua tanda objektif (probability) atau kemungkinan

hamil.

a. Tanda pasti

1) Terdengar Denyut Jantung Janin (DJJ)

Denyut jantung janin dapat didengarkan dengan stetoskop

Laennec/ stetoskop Pinard pada minggu ke 17-18. Serta dapat

didengarkan dengan stetoskop ultrasonik (doppler) sekitar

minggu ke 12. Auskultasi pada janin dilakukan dengan

mengidentifikasi bunyi-bunyi lain yang meyertai seperti

bising tali pusat, bising uterus, dan nadi ibu (Kumalasari,

2015).

2) Melihat, meraba dan mendengar pergerakan anak saat

melakukan pemeriksaan,

3) Melihat rangka janin pada sinar rontgen atau dengan USG

(Sunarti, 2013).

b. Tanda-tanda tidak pasti

1) Tanda Subjektif (Presumtif/ Dugaan Hamil)


a) Aminorhea (Terlambat datang bulan)

Aminorhea adalah kondisi dimana wanita yang sudah

mampu hamil, mengalami terlambat haid/ datang bulan.

Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi

pembentukan folikel degraaf dan ovulasi. Pada wanita yang

terlambat haid dan diduga hamil, perlu ditanyakan hari

pertama haid terakhirnya (HPHT) supaya dapat ditaksir

umur kehamilan dan taksiran tanggal persalinan (TTP)

yang dihitung dengan menggunakan rumus Naegele yaitu

TTP : (hari pertama HT + 7), (bulan - 3) dan (tahun + 1)

(Kumalasari, 2015).

b) Mual (nausea) dan Muntah (vomiting)

Pengaruh estrogen dan progesteron menyebabkan

pengeluaran asam lambung yang berlebihan dan

menimbulkan mual muntah yang terjadi terutama pada pagi

hari yang disebut dengan morning sickness. Akibat mual

dan muntah ini nafsu makan menjadi berkurang. Dalam

batas yang fisiologis hal ini dapat diatasi Dalam batas

tertentu hal ini masih fisiologis Untuk mengatasinya ibu

dapat diberi makanan ringan yang mudah dicerna dan tidak

berbau menyengat (Kumalasari, 2015).

c) Mengidam

Wanita hamil sering makan makanan terntentu, keinginan

yang demikian disebut dengan mengidam, seringkali


keinginan makan dan minum ini sangat kuat pada bulan-

bulan pertama kehamilan. Namun hal ini akan berkurang

dengan sendirinya seiring bertambahnya usia kehamilan.

d) Syncope (pingsan)

Terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral)

menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan

menimbulkan syncope atau pingsan bila berada pada

tempa-tempat ramai yang sesak dan padat. Keadaan ini

akan hilang sesudah kehamilan 16 minggu (Kumalasari,

2015).

e) Perubahan Payudara

Akibat stimulasi prolaktin dan HPL, payudara mensekresi

kolostrum, biasanya setelah kehamilan lebih dari 16

minggu (Sartika, 2016). Pengaruh estrogen- progesteron

dan somatotropin menimbulkan deposit lemak, air dan

garam pada payudara. Payudara membesar dan tegang,

ujung saraf tertekan menyebabkan rasa sakit terutama pada

hamil pertama (Kumalasari, 2015). Selain itu, perubahan

lain seperti pigmentasi, puting susu, sekresi kolostrum dan

pembesaran vena yang semakin bertambah seiring

perkembangan kehamilan.

f) Sering miksi

Sering buang air kecil disebabkan karena kandung kemih

tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Gejala ini akan


hilang pada triwulan kedua kehamilan. Pada akhir

kehamilan, gejala ini kembali karena kandung kemih

ditekan oleh kepala janin (Prawirohardjo, 2014).

g) Konstipasi atau obstipasi

Pengaruh progesteron dapat menghambat peristaltik usus

(tonus otot menurun) sehingga kesulitan untuk BAB

(Sunarsih dkk., 2011).

h) Pigmentasi kulit

Pigmentasi terjadi pada usia kehamilan lebih dari 12

minggu. Terjadi akibat pengaruh hormon kortikosteroid

plasenta yang merangsang melanofor dan kulit. Pigmentasi

ini meliputi tempat-tempat berikut ini:

1. Daerah pipi: Cloasma gravidarum (penghitaman pada

daerah dahi, hidung, pipi, dan leher)

2. Daerah leher: Terlihat tampak lebih hitam

3. Dinding perut: Strie livide/ gravidarum yaitu tanda

yang dibentuk akibat serabut-serabut elastis lapisan

kulit terdalam terpisah dan putus/ merenggang,

bewarna kebiruan, kadang dapat menyebabkan rasa

gatal (pruritus), linea alba atau garis keputihan di perut

menjadi lebih hitam (linea nigra atau garis gelap

vertikal mengikuti garis perut (dari pusat simpisis)

(Sunarti, 2013).
4. Sekitar payudara: hiperpigmentasi areola mamae

sehingga terbentuk areola sekunder. Pigmentasi areola

ini berbeda pada tiap wanita, ada yang merah muda

pada wanita kulit putih, coklat tua pada wanita kulit

coklat, dan hitam pada wanita kulit hitam. Selain itu,

kelenjar montgomeri menonjol dan pembuluh darah

menifes sekitar payudara.

5. Sekitar pantat dan paha atas : terdapat striae akibat

pembesaran bagian tersebut.

i) Epulis

Hipertropi papilla ginggivae/ gusi, sering terjadi pada

trimester pertama.

j) Varises (penampakan pembuluh darah vena)

Pengaruh estrogen dan progesteron menyebabkan

pelebaran pembuluh darah terutama bagi wanita yang

mempunyai bakat. Varises dapat terjadi di sekitar genitalia

eksterna, kaki dan betis serta payudara. Penampakan

pembuluh darah ini dapat hilang setelah peralinan (Hani

dkk., 2011).

c. Tanda Obyektif (Probability/ Kemungkinan)

1) Pembesaran Rahim/ Perut

Rahim membesar dan bertambah besar terutama setelah

kehamilan 5 bulan, karena janin besar secara otomatis rahim

pun membesar dan bertempat di rongga perut. Tetapi perlu di


perhatikan pembesaran perut belum jadi tanda pasti

kehamilan, kemungkinan lain disebabkan oleh mioma, tumor,

atau kista ovarium.

2) Perubahan Bentuk dan Konsistensi Rahim

Perubahan dapat dirasakan pada pemeriksaan dalam,

rahim membesar dan makin bundar, terkadang tidak rata tetapi

pada daerah nidasi lebih cepat tumbuh atau biasa disebut

tanda Piscasek.

3) Perubahan Pada Bibir Rahim

Perubahan ini dapat dirasakan pada saat pemeriksaan

dalam, hasilnya akan teraba keras seperti meraba ujung

hidung, dan bibir rahim teraba lunak seperti meraba bibir atau

ujung bawah daun telinga (Sunarti, 2013).

4) Kontraksi Braxton Hicks

Kontraksi rahim yang tidak beraturan yang terjadi selama

kehamilan, kontraksi ini tidak terasa sakit, dan menjadi cukup

kuat menjelang akhir kehamilan. Pada waktu pemeriksaan

dalam, terlihat rahim yang lunak seakan menjadi keras karena

berkontraksi.

5) Adanya Ballotement

Ballotement adalah pantulan yang terjadi saat jari telunjuk

pemeriksa mengetuk janin yang mengapung dalam uterus, hal

ini menyebabkan janin berenang jauh dan kembali

keposisinya semula/ bergerak bebas. Pantulan dapat terjadi


sekitasr usia 4-5 bulan, tetapi ballotement tidak

dipertimbangkan sebagai tanda pasti kehamilan, karena

lentingan juga dapat terjadi pada tumor dalam kandungan ibu.

6) Tanda Hegar dan Goodells

Tanda hegar yaitu melunaknya isthmus uteri (daerah yang

mempertemukan leher rahim dan badan rahim) karena selama

masa hamil, dinding-dinding otot rahim menjadi kuat dan

elastis sehingga saat di lakukan pemeriksaan dalam akan

teraba lunak dan terjadi antara usia 6-8 minggu kehamilan dan

tanda goodells yaitu melunaknya serviks akibat pengaruh

hormon esterogen yang menyebabkan massa dan kandungan

air meningkat sehingga membuat serviks menjadi lebih lunak

(Kumalasari, 2015).

7) Tanda Chadwick

Tanda yang berwarna kebiru-biruan ini dapat terlihat saat

melakukan pemeriksaan, adanya perubahan dari vagina dan

vulva hingga minggu ke 8 karena peningkatan vaskularitas

dan pengaruh hormon esterogen pada vagina. Tanda ini tidak

dipertimbangkan sebagai tanda pasti, karena pada kelainan

rahim tanda ini dapat diindikasikan sebagai pertumbuhan

tumor.

8) Hyperpigmentasi Kulit

Bintik-bintik hitam (hyperpigmentasi) pada muka disebut

chloasma gravidarum. Hyperpigmentasi ini juga terdapat pada


areola mamae atau lingkaran hitam yang mengelilingi puting

susu, pada papilla mamae (puting susu) dan di perut. Pada

wanita yang tidak hamil hal ini dapat terjadi kemungkinan

disebabkan oleh faktor alergi makanan, kosmetik, obat-obatan

seperti pil KB (Sunarti, 2013).

Beberapa test yang dapat dilakukan untuk mengetahui ada

tidaknya suatu kehamilan yaitu :

a. Tes Urine

Tes urine dapat dilakukan dirumah atau dilaboratorium.

Test pack atau alat tes kehamilan yang banyak digunakan oleh

pasangan suami istri secara mandiri dengan mudah, meskipun

terdapat banyak macam jenis tes pack baik yang berbentuk strip

(sekali pakai), berbentuk pena, atau batangan kecil tetapi pada

prinsipnya cara kerja tes pack tersebut sama, yaitu untuk

mengetahui ada tidaknya peningkatan hormon kehamilan human

chorionic gonadotropin (HCG) di dalam tubuh. Jika memang

hamil, hormon ini terdapat di dalam urine dan darah.

Peningkatan HCG terjadi kurang lebih satu minggu

setelah ovulasi, sehingga disarankan agar melakukan tes minimal

tujuh hari supaya hasil yang diperoleh lebih akurat. Selain cara

mendapatkanya yang mudah, penggunaanya juga mudah yaitu

dengan cara mencelupkan atau menetesinya dengan urin

pengguna, tunggu selama beberapa menit hingga muncul tanda

positif negatif atau berapa jumlah strip yang muncul (sesuai


petunjuk penggunaan sebelum menggunakanya). Tes ini

sebaiknya dilakukan di pagi hari, karena saat pagi hari (bangun

tidur) urine dalam keadaan murni belum tercampur oleh zat-zat

makanan yang dikonsumsi (Manuaba, 2017).

b. Tes Darah

Prinsipnya sama dengan tes urine yaitu menguji adanya

HCG dalam tubuh. Bedanya, tes darah ini tidak dapat dilakukan

sendiri dirumah, melainkan dilakukan di laboratorium dengan

jalan mengambil contoh darah. Jika terdapat peningkatan HCG

didalam darah, maka dinyatakan positif hamil, demikian juga

seterusnya.

c. Tes Ultra Sonography (USG)

Tes ini di lakukan oleh seorang dokter dengan

memastikan kehamilan melalui USG yang dapat melihat bagian

dalam tubuh manusia. Dari gambaran yang ditampilkan alat

tersebut, dokter akn melihat didalam rahim terdapat embrio atau

tidak. Jika kehamilan sudah berjalan enam minggu, alat ini

sangat membantu dokter dalam menganalisis suatu kehamilan.

Selain melihat ada tidaknya embrio, penggunaan USG juga dapat

digunakan untuk amengetahui taksiran persalinan, perkiraan usia

kehamilan, serta perkiraan berat badan dan panjang janin

(Manuaba, 2017).

4. Usia Kehamilan
Usia kehamilan normal dan sehat selama 280 hari atau 40

minggu, dan dapat di bagi menjadi tiga trimester.

a. Trimester Pertama (I)

Kehamilan trimester pertama adalah keadaan

mengandung embrio atau fetus didalam tubuh 0-14 minggu.

Mual dan muntah adalah gejala yang wajar dan sering terjadi

pada kehamilan trimester pertama. Mual biasanya timbul pada

pagi hari tetapi dapat pula timbul setiap saat dan pada malam

hari. Gejala ini biasanya terjadi pada usia kehamilan 6 minggu

hingga 10 minggu (Walyani, 2015).

b. Trimester Kedua (II)

Kehamilan trimester kedua adalah mengandung embrio

atau fetus dalam tubuh 14- 28 minggu. Pada masa ini ibu hamil

akan merasa lebih tenang, tentram tanpa gangguan berarti. Pada

trimester kedua janin berkembang menuju maturasi, maka

pemberian obat- obatan harus dijaga agar jangan menganggu

pembentukan gigi geligi janin seperti antibiotika, tetrasiklin,

klindamisin (Walyani, 2015).

c. Trimester Ketiga (III)

Trimester ketiga adalah keadaan mengandung embrio atau

fetus di dalam tubuh pada 28-40 minggu. Pada trimester ketiga

rasa lelah, ketidaknyamanan, dan depresi ringan akan meningkat.

Tekanan darah ibu hamil biasanya meninggi, dan kembali normal


setelah melahirkan. Peningkatan hormon estrogen dan

progesteron memuncak pada trimester ini (Walyani, 2015).

5. Perubahan Anatomis dan Fisiologis dalam Masa Kehamilan

Banyak perubahan-perubahan yang terjadi setelah fertilisasi dan

berlanjut sepanjang kehamilan. Berikut beberapa perubahan anatomi

dan fisiologis yang terjadi pada wanita hamil, diantaranya :

a. Perubahan Sistem Reproduksi

1) Vagina dan Vulva

Vagina sampai minggu ke-8 terjadi peningkatan

vaskularisasi atau penumpukan pembuluh darah dan pengaruh

hormon esterogen yang menyebabkan warna kebiruan pada

vagina yang disebut dengan tanda Chadwick. Perubahan pada

dinding vagina meliputi peningkatan ketebalan mukosa

vagina, pelunakan jaringan penyambung, dan hipertrofi

(pertumbuhan abnormal jaringan) pada otot polos yang

merenggang, akibat perenggangan ini vagina menjadi lebih

lunak. Respon lain pengaruh hormonal adalah seksresi sel-sel

vagina meningkat, sekresi tersebut berwarna putih dan bersifat

sangat asam karena adanya peningkatan PH asam sekitar (5,2-

6). Keasaman ini berguna untuk mengontrol pertumbuhan

bakteri patogen/ bakteri penyebab penyakit (Kumalasari,

2015).

2) Uterus/ Rahim
Perubahan yang amat jelas terjadi pada uterus/ rahim

sebagai ruang untuk menyimpan calon bayi yang sedang

tumbuh. Perubahan ini disebabkan antara lain :

a) Peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah.

b) Hipertrofi dan hiperplasia (pertumbuhan dan

perkembangan jaringan abnormal) yang meyebabkan otot-

otot rahim menjadi lebih besar, lunak dan dapat mengikuti

pembesaran rahim karena pertumbuhan janin.

c) Perkembangan desidua atau sel-sel selaput lendir rahim

selama hamil. Ukuran uterus sebelum hamil sekitar 8 x 5 x

3 cm dengan berat 50 gram (Sunarti, 2013). Uterus

bertambah berat sekitar 70- 1.100 gram selama kehamilan

dengan ukuran uterus saat umur kehamilan aterm adalah 30

x 25 x 20 cm dengan kapasitas > 4.000 cc. Pada perubahan

posisi uterus di bulan pertama berbentuk seperti alpukat,

empat bulan berbentuk bulat, akhir kehamilan berbentuk

bujur telur. Pada rahim yang normal/ tidak hamil sebesar

telur ayam, umur dua bulan kehamilan sebesar telur bebek,

dan umur tiga bulan kehamilan sebesar telur angsa

(Kumalasari, 2015). Dinding-dinding rahim yang dapat

melunak dan elastis menyebabkan fundus uteri dapat

didefleksikan yang disebut dengan [Link], serta

bertambahnya lunak korpus uteri dan serviks di minggu

kedelapan usia kehamilan yang dikenal dengan tanda


Hegar. Perhitungan lain berdasarkan perubahan tinggi

fundus menurut Sartika (2016) dengan jalan mengukur

tinggi fundus uteri dari simfisis maka diperoleh, usia

kehamilan: 22-28 minggu : 24-26 cm, 28 minggu : 26,7

cm, 30 minggu : 29-30 cm, 32 minggu : 29,5-30 cm, 34

minggu : 30 cm, 36 minggu : 32 cm, 38 minggu : 33 cm,

40 minggu : 37,7 cm.

3) Serviks

Akibat pengaruh hormon esterogen menyebabkan massa

dan kandungan air meningkat sehingga serviks mengalami

penigkatan vaskularisasi dan oedem karena meningkatnya

suplai darah dan terjadi penumpukan pada pembuluh darah

menyebabkan serviks menjadi lunak tanda (Goodel) dan

berwarna kebiruan (Chadwick) perubahan ini dapat terjadi

pada tiga bulan pertama usia kehamilan.

4) Ovarium

Manuaba (2015) mengemukakan dengan adanya

kehamilan, indung telur yang mengandung korpus luteum

gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya

plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu. Pada kehamilan

ovulasi berhenti, corpus luteum terus tumbuh hingga

terbentuk plasenta yang mengambil alih pengeluaran hormon

estrogen dan progesterone.

5) Kulit
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan

hiperpigmentasi karena pengaruh melanocyte stimulating

hormone atau hormon yang mempengaruhi warna kulit pada

lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis

(kelenjar pengatur hormon adrenalin). Hiperpigmentasi ini

terjadi pada daerah perut (striae gravidarum), garis gelap

mengikuti garis diperut (linia nigra), areola mama, papilla

mamae, pipi (cloasma gravidarum). Setelah persalinan

hiperpigmentasi ini akan berkurang dan hilang.

6) Payudara

Perubahan ini pasti terjadi pada wanita hamil karena

dengan semakin dekatnya persalinan, payudara menyiapkan

diri untuk memproduksi makanan pokok untuk bayi baru

lahir. Perubahan yang terlihat diantaranya :

a) Payudara membesar, tegang dan sakit hal ini dikarenakan

karena adanya peningkatan pertumbuhan jaringan alveoli

dan suplai darah yang meningkat akibat oerubahan hormon

selama hamil.

b) Terjadi pelebaran pembuluh vena dibawah kulit payudara

yang membesar dan terlihat jelas.

c) Hiperpigmentasi pada areola mamae dan puting susu serta

muncul areola mamae sekunder atau warna tampak

kehitaman pada puting susu yang menonjol dan keras.


d) Kelenjar montgomery atau kelenjar lemak di daerah sekitar

puting payudara yang terletak di dalam areola mamame

membesar dan dapat terlihat dari luar. Kelenjar ini

mengeluarkan banyak cairan minyak agar puting susu

selalu lembab dan lemas sehingga tidak menjadi tempat

berkembang biak bakteri.

e) Payudara ibu mengeluarkan cairan apabila di pijat. Mulai

kehamilan 16 minggu, cairan yang dikeluarkan bewarna

jernih. Pada kehamilan 16 minggu sampai 32 minggu

warna cairan agak putih seperti air susu yang sangat encer.

Dari kehamilan 32 minggu sampai anak lahir, cairan yang

keluar lebih kental, berwarna kuning, dan banyak

mengandung lemak. Cairan ini di sebut kolostrum.

b. Sistem Sirkulasi Darah (Kardiovaskular)

Volume darah semakin meningkat karena jumlah serum

lebih besar daripada pertumbuhan sel darah sehingga terjadi

hemodelusi atau pengenceran darah. Volume darah ibu

meningkat sekitar 30%-50% pada kehamilan tunggal, dan 50%

pada kehamilan kembar, peningkatan ini dikarenakan adanya

retensi garam dan air yang disebabkan sekresi aldosteron dari

hormon adrenal oleh estrogen. Cardiac output atau curah jantung

meningkat sekitar 30%, pompa jantung meningkat 30% setelah

kehamilan tiga bulan dan kemudian melambat hingga umur 32

minggu. Setelah itu volume darah menjadi relatif stabil


(Kumalasari, 2015). Jumlah sel darah merah semakin meningkat,

hal ini untuk mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim,

tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan

volume darah sehingga terjadi hemodelusi yang disertai anemia

fisiologis. Dengan terjadinya hemodelusi, kepekatan darah

berkurang sehingga tekanan darah tidak udah tinggi meskipun

volume darah bertambah.

c. Perubahan Sistem Pernafasan (Respirasi)

Seiring bertambahnya usia kehamilan dan pembesaran

rahim, wanita hamil sering mengeluh sesak dan pendek napas,

hal ini disebabkan karena usus tertekan ke arah diafragma akibat

dorongan rahim yang membesar. Selain itu kerja jantung dan

paru juga bertambah berat karena selama hamil, jantung

memompa darah untuk dua orang yaitu ibu dan janin, dan paru-

paru menghisap zat asam (pertukaran oksigen dan

karbondioksida) untuk kebutuhan ibu dan janin.

d. Perubahan Sistem Perkemihan (Urinaria)

Selama kehamilan ginjal bekerja lebih berat karena

menyaring darah yang volumenya meningkat sampai 30-50%

atau lebih, serta pembesaran uterus yang menekan kandung

kemih menyebabkan sering berkemih (Sunarti, 2013). Selain itu

terjadinya hemodelusi menyebabkan metabolisme air makin

lancar sehingga pembentukan air seni pun bertambah. Faktor

penekanan dan meningkatnya pembentukan air seni inilah yang


menyebabkan meningkatnya frbeberapa hormon yang dihasilkan

yaitu hormoekuensi berkemih. Gejala ini akan menghilang pada

trimester 3 kehamilan dan diakhir kehamilan gangguan ini akan

muncul kembali karena turunya kepala janin ke rongga panggul

yang menekan kandung kemih.

e. Perubahan Sistem Endokrin

Plasenta sebagai sumber utama setelah terbentuk

menghasikan hormon human chorionic gonadotrophin (HCG)

hormon utama yang akan menstimulasi pembentukan esterogen

dan progesteron yang di sekresi oleh korpus luteum, berperan

mencegah terjadinya ovulasi dan membantu mempertahankan

ketebalan uterus. Hormon lain yang dihasilkan yaitu hormon

human placenta lactogen (HPL) atau hormon yang merangsang

produksi ASI, hormon human chorionic thyrotropin (HCT) atau

hormon penggatur aktivitas kelenjar tyroid, dan hormon

melanocyte stimulating hormon (MSH) atau hormon yang

mempengaruhi warna atau perubahan pada kulit.

f. Perubahan Sistem Gastrointestinal

Perubahan pada sistem gasrointestinal tidak lain adalah

pengaruh dari faktor hormonal selama kehamilan. Tingginya

kadar progesteron mengganggu keseimbangan cairan tubuh yang

dapat meningkatkan kolesterol darah dan melambatkan kontraksi

otot-otot polos, hal ini mengakibatkan gerakan usus (peristaltik)

berkurang dan bekerja lebih lama karena adanya desakan akibat


tekanan dari uterus yang membesar sehingga pada ibu hamil

terutama pada kehamilan trimester III sering mengeluh

konstipasi/sembelit. Selain itu adanya pengaruh esterogen yang

tinggi menyebabkan pengeluaran asam lambung meningkat dan

sekresi kelenjar air liur (saliva) juga meningkat karena menjadi

lebih asam dan lebih banyak. Menyebabkan daerah lambung

terasa panas bahkan hingga dada atau sering disebut heartburn

yaitu kondisi dimana makanan terlalu lama berada dilambung

karena relaksasi spingter ani di kerongkongan bawah yang

memungkinkan isi lambung kembali ke kerongkongan

(Kumalasari, 2015).

Keadaan lain menimbulkan rasa mual dan pusing /sakit

kepala pada ibu terutama di pagi hari (morning sickness) jika

disertai muntah yang berlebihan hingga mengganggu aktivitas

ibu sehari-hari disebut : Hyperemesis gravidarum (Sunarti.

2013).

6. Perubahan Psikologis dalam Masa Kehamilan

a. Trimester I

Kehamilan mengakibatkan banyak perubahan dan

adaptasi pada ibu hamil dan pasangan. Trimester pertama sering

dianggap sebagai periode penyesuaian, penyesuaian seorang ibu

hamil terhadap kenyataan bahwa dia sedang hamil. Fase ini

sebagian ibu hamil merasa sedih dan ambivalen. Ibu hamil

mengalami kekecewaan, penolakan, kecemasan, dan depresi


teruma hal itu serign kali terjadi pada ibu hamil dengan

kehamilan yang tidak direncanakan. Namun, berbeda dengan ibu

hamil yang hamil dengan direncanakan dia akan merasa senang

dengan kehamilannya. Masalah hasrat seksual ditrimester

pertama setiap wanita memiliki hasrat yang berbeda-beda, karena

banyak ibu hamil merasa kebutuhan kasih sayang besar dan cinta

tanpa seks.

b. Trimester II

Trimester kedua sering dikenal dengan periode kesehatan

yang baik, yakni ketika ibu hamil merasa nyaman dan bebas dari

segala ketidaknyamanan. Pada masa trimester kedua ini ibu hamil

akan mengalami dua fase, yaitu fase praquickening dan pasca-

quickening. Di masa fase praquickening ibu hamil akan

mengalami lagi dan mengevaluasi kembali semua aspek

hubungan yang dia alami dengan ibunya sendiri. Pada trimester

kedua sebagian ibu hamil akan mengalami kemajuan dalam

hubungan seksual. Hal itu disebabkan di trimester kedua relatif

terbebas dari segala ketidaknyamanan fisik, kecemasan,

kekhawatiran yang sebelumnya menimbulkan ambivalensi pada

ibu hamil kini mulai mereda dan menuntut kasih sayang dari

pasangan maupun daeudari keluarganya.

c. Trimester III

Kehamilan pada trimester ketiga sering disebut sebagai

fase penantian dengan penuh kewaspadaan. Pada periode ini ibu


hamil mulai menyadari kehadiran bayi sebagai mahluk yang

terpisah sehingga dia menjadi tidak sabar dengan kehadiran

seorang bayi. Ibu hamil kembali merasakan ketidaknyamanan

fisik karena merasa canggung, merasa dirinya tidak menarik lagi.

Sehingga dukungan dari pasangan sangat dibutuhkan.

Peningkatan hasrat seksual yang pada trimester kedua menjadi

menurun karena abdomen yang semakin membesar menjadi

halangan dalam berhubungan (Rustikayanti, 2016).

7. Kebutuhan Dasar Pada Ibu Hamil

Agar janin dapat berkembang secara optimal, maka dalam proses

pertumbuhan dan perkembanganya perlu dipenuhi oleh zat gizi yang

lengkap, baik berupa vitamin , mineral, kalsium, karbohidrat, lemak,

protein dan mineral. Oleh karena itu selama proses kehamilan

seorang ibu hamil perlu mengkonsumsi makanan dengan kualitas gizi

yang sehat dan seimbang, karena pada dasarnya selama kehamilan

berbagai zat gizi yang kita konsumsi akan berdampak langsung pada

kesehatan dan perkembangan janin ibu sendiri. Selain gizi yang

cukup, kebutuhan dasar selama ibu hamil juga harus diperhatikan,

karena hal ini sangat berpengaruh terhadap kondisi ibu baik fisik

maupun psikologisnya mengingat reaksi terhadap perubahan selama

masa kehamilan antara satu dengan ibu hamil lainya dalam

penerimaanya tidaklah sama. Menurut Romauli (2011) kebutuhan

dasar ibu hamil diantaranya :

a. Kebutuhan Ibu Hamil Trimester I


1) Diet dalam kehamilan

Ibu dianjurkan untuk makan makanan yang mudah

dicerna dan makan makanan yang bergizi untuk menghindari

adanya rasa mual dan muntah begitu pula nafsu makan yang

menurun. Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan

yang mengandung zat besi (150 mg besi sulfat, 300 mg besi

glukonat), asam folat (0,4-0,8 mg/hari), kalori ibu hamil umur

23-50 tahun perlu kalori (sekitar 2300 kkal), protein (74

gr/hari), vitamin dan garam mineral (kalsium, fosfor,

magnesium, seng, yodium). Makan dengan porsi sedikit

namun sering dengan frekuensi sedang. Ibu hamil juga harus

cukup minum 6-8 gelas sehari.

2) Pergerakan dan gerakan badan

Selain menyehatkan badan, dengan bergerak secara tidak

langsung hal ini meminimakan rasa malas pada ibu untuk

melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak terlalu berat bagi ibu

selama hamil, bergerak juga mendukung sistem kerja tubuh

ibu selama hamil sehingga ibu yang memiliki nafsu makan

yang tinggi dan berat badan yang lebih dapat terkontrol dan

meminimalkan terjadi nya obesitas/ kegemukan selama hamil.

Pergerakan badan ibu sebagai bentuk olahraga tubuh juga

bermanfaat melatih otot-otot dalam ibu menjadi lebih

fleksibel/ lentur sehingga memudahkan jalan untuk calon bayi

ibu saat memasuki proses persalinan.


3) Hygiene dalam kehamilan

Ibu hamil boleh mengerjakan pekerjaan sehari-hari akan

tetapi jangan terlalu lelah sehingga harus di selingi dengan

istirahat. Istirahat yang dibutuhkan ibu 8 jam pada malam hari

dan 1 jam pada siang hari. Ibu dianjurkan untuk menjaga

kebersihan badan untuk mengurangi kemungkinan infeksi,

setidaknya ibu mandi 2-3 kali perhari, kebersihan gigi juga

harus dijaga kebersihannya untuk menjamin perencanaan

yang sempurna.

4) Koitus

Pada umumnya koitus diperbolehkan pada masa

kehamilannya jika dilakukan dengan hati-hati. Pada akhir

kehamilan, sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan

perasaan sakit dan perdarahan. Pada ibu yang mempunyai

riwayat abortus, ibu dianjurkan untuk koitusnya di tunda

sampai dengan 16 minggu karena pada waktu itu plasenta

telah berbentuk. Pola seksual pada trimester III saat persalinan

semakin dekat, umumnya hasrat libido kembali menurun,

bahkan lebih drastis dibandingkan dengan saat trimester

pertama. Perut yang makin membuncit membatasi gerakan

dan posisi nyaman saat berhubungan intim. Pegal dipunggung

dan pinggul, tubuh bertambah berat dengan cepat, nafas lebih

sesak (karena besarnya janin mendesak dada dan lambung).


Selain hal fisik, turunnya libido juga berkaitan dengan

kecemasan dan kekhawatiran yang meningkat menjelang

persalinan. Sebenarnya tidak ada yang perlu dirisaukan jika

kehamilan tidak disertai faktor penyulit. Hubungan seks

sebaiknya lebih diutamakan menjaga kedekatan emosional

daripada rekreasi fisik karena pada trimester terakhir ini, dapat

terjadi kontraksi kuat pada wanita hamil yang diakibatkan

karena orgasme. Hal tersebut dapat berlangsung biasanya

sekitar 30 menit hingga terasa tidak nyaman. Jika kontraksi

berlangsung lebih lama, menyakitkan, menjadi lebih kuat,

atau ada indikasi lain yang menandakan bahwa proses

kelahiran akan mulai. Akan tetapi, jika tidak terjadi penurunan

libido pada trimester ketiga ini, hal itu normal saja. Ibu hamil

berhak mengetahui pola seksual karena dapat terjadi kontraksi

kuat pada wanita hamil yang diakibatkan karena orgasme.

5) Ibu diberi imnisasi TT1 dan TT2 (Sartika, 2016).

b. Kebutuhan ibu hamil trimester II

1) Pakaian

Selama kehamilan Ibu dianjurkan untuk mengenakan

pakaian yang nyaman digunakan dan yang berbahan katun

untuk mempermudah penyerapan keringat. Menganjurkan ibu

untuk tidak menggunakan sandal atau sepatu yang berhak

tinggi karena dapat menyebabkan nyeri pada pinggang.

2) Pola Makan
Nafsu makan meningkat dan pertumbuhan yang pesat

makan ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi protein, vitamin,

juga zat besi. saat hamil kebutuhan zat besi sangat meningkat.

Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi 90 tablet Fe selama

hamil. Besarnya angka kejadian anemia ibu hamil disebabkan

karena kurangnya mengkonsumsi tablet Fe. Efek samping

tablet Fe adalah kadang terjadi mual karena bau tablet

tersebut, muntah, perut tidak enak, susah buang air besar, tinja

berwarna hitam, namun hal ini tidak berbahaya. Waktu yang

dianjurkan minum tablet Fe adalah pada pada malam hari

menjelang tidur, hal ini untuk mengurangi rasa mual yang

timbul setelah ibu meminumnya.

3) Ibu diberi imunisasi TT3.

c. Kebutuhan ibu hamil trimester III

1) Nutrisi

Kecukupan gizi ibu hamil di ukur berdasarkan kenaikan

berat badan. Kalori ibu hamil 300-500 kalori lebih banyak

dari sebelumnya. Kenaikan berat badan juga bertambah pada

trimester ini antara 0,3-0,5 46 kg/minggu. Kebutuhan protein

juga 30 gram lebih banyak dari biasanya.

2) Seksual

Hubungan seksual pada trimester III tidak berbahaya

kecuali ada beberapa riwayat berikut yaitu :

a) Pernah mengalami arbotus sebelumnya,


b) Riwayat perdarahan pervaginam sebelumnya,

c) Terdapat tanda infeksi dengan adanya pengeluaran cairan

disertai rasa nyeri dan panas pada jalan lahir Walaupun ada

beberapa indikasi tentang bahaya jika melakukan hubungan

seksual pada trimester III bagi ibu hamil, namun faktor lain

yang lebih dominan yaitu turunnya rangsangan libido pada

trimester ini yang membuat kebanyakan ibu hamil tidak

tertarik untuk berhubungan intim dengan pasanganya, rasa

nyama yang sudah jauh berkurang disertai

ketidaknyamanan seperti pegal/ nyeri di daerah punggung

bahkan terkadang ada yang merasakan adanya kembali rasa

mual seperti sebelumnya, hal inilah yang mempengaruhi

psikologis ibu di trimester III.

3) Istirahat Cukup

Istirahat dan tidur yang teratur dapat meningkatkan

kesehatan jasmani, rohani, untuk kepentingan kesehatan ibu

sendiri dan tumbuh kembang janinya di dalam kandungan.

Kebutuhan tidur yang efektif yaitu 8 jam/ hari.

4) Kebersihan Diri (Personal Hygiene)

Penting bagi ibu menjaga kebersihan dirinya selama

hamil, hal ini dapat mempengaruhi fisik dan psikologis ibu.

kebersihan lain yang juga penting di jaga yaitu persiapan

laktasi, serta penggunaan bra yang longgar dan menyangga

membantu memberikan kenyamanan dan keamanan bagi ibu.


5) Mempersiapkan kelahiran dan kemingkinan darurat

Bekerja sama dengan ibu, keluarganya, serta masyarakat

untuk mempersiapkan rencana kelahiran, termasuk

mengindentifikasi penolong dan tempat persalinan, serta

perencanaan tabungan untuk mempersiapkan biaya persalinan.

Bekerja sama dengan ibu, keluarganya dan masyarakat untuk

mempersiapkan rencana jika terjadi komplikasi, termasuk:

mengidentifikasi kemana harus pergi dan transportasi untuk

mencapai tempat tersebut, mempersiapkan donor darah,

mengadakan persiapan finansial, mengidentifikasi pembuat

keputusan kedua jika pembuat keputusan pertama tidak ada

ditempat.

6) Memberikan konseling tentang tanda-tanda persalinan

Beberapa tanda persalinan yang harus diketahui :

a) Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering

dan teratur.

b) Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak

karena robekan-robekan kecil pada servik.

c) Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.

d) Pada pemeriksaan dalam servik mendatar dan pembukaan

telah ada.

8. Tanda Bahaya Kehamilan

a. Pengertian Tanda Bahaya Kehamilan


Tanda bahaya kehamilan adalah tanda-tanda yang

mengindikasikan adanya bahaya yang bisa terjadi selama

kehamilan, jika tidak dilaporkan atau tidak segera terdeteksi

dapat menyebabkan kematian pada ibu (Manuaba, 2015). Tanda

bahaya kehamilan yang dapat muncul antara lain perdarahan

pervagina, edema pada wajah dan tangan, demam tinggi, ruftur

membran, penurunann pergerakan janin, dan muntah persistens

(Isdiaty, 2013). Tanda bahaya kehamilan, menurut Sartika (2016)

diantaranya terdapat perdarahan pervaginam, mengalami sakit

kepala yang berat, penglihatan mata kabur, terdapat bengkak di

wajar dan jari-jari tangan, keluarnya cairan pervaginam, gerakan

janin tidak terasa, dan nyeri abdomen yang hebat.

b. Macam-macam Tanda Bahaya Kehamilan

1) Tanda Bahaya Kehamilan Muda

a) Hyperemesis Gravidarum

Hyperemesis gravidarum adalah suatu keadaan yang

dikarakteristikan dengan rasa mual dan muntah yang

berlebihan, kehilangan berat badan dan gangguang

keseimbangan elektrolit, ibu terlihat lebih kurus, turgor

kulit berkurang dan mata terlihat cekung. Jika tidak

ditangani segera masalah yang timbul seperti peningkatan

asam lambung yang selanjutnya dapat menjadi gastristis.

Peningkatan asam lambung akan semakin memperparah

hyperemesis gravidarum (Rahma dan Tita, 2016). Menurut


Safari (2017), mual muntah yang timbul terjadi karena

adanya perubahan berbagai hormon dalam tubuh pada awal

kehamilan. Presentase hormon HCG akan meningkat

sesuai dengan pertumbuhan plasenta. Diperkirakan hormon

inilah yang mengakibatkan muntah melalui rangsangan

terhadap otot polos lambung. Sehingga semakin tinggi

hormon HCG, semakin cepat pula merangsang muntah

(Rahma dan Tita, 2016). Manuaba (2015), mengemukakan

dampak yang terjadi pada hyperemesis gravidarum yaitu

menimbulkan konsumsi O2 menurun, gangguan fungsi sel

liver hingga terjadi ikterus. Mual muntah yang

berkelanjutan dapat menimbulkan gangguan fungsi alat-

alat vital dan menimbulkan kematian (Rahma dan Tita,

2016). Hyperemesis gravidarum juga dikaitkan dengan

peningkatan resiko untuk bayi berat lahir rendah (BBLR),

kelahiran prematur, kecil usia kehamilan, serta kematian

pada perinatal. Klasifikasi hyperemesis gravidarum

menurut Manuaba (2015), yaitu :

1. Tingkat I

Hyperemesis gravidarum tingkat I ditandai dengan

muntah yang terus menerus disertai dengan penurunan

nafsu makan dan minum.

2. Tingkat II
Pada hyperemesis gravidarum tingkat II, pasien

memuntahkan semua yang dimakan dan diminum,

berat badan cepat menurun, dan ada rasa haus yang

hebat.

3. Tingkat III

Hyperemesis gravidarum tingkat III sangat jarang

terjadi. Keadaan ini sangat merupakan kelanjutan dari

hyperemesis tingkat II yang ditandai dengan muntah

yang berkurang atau bahkan berhenti, tetapi kesadaran

menurun (delirium dampai koma) hingga mengalami

ikterus, sianosis, nistagmus, gangguan jantung dan

dalam urin ditemukan billirubin dan protein (Rahma

dan Tita, 2016).

b) Perdarahan Pervaginam

Perdarahan yang terjadi pada masa awal kehamilan kurang

dari 22 minggu. Pada awal kehamilan, ibu mungkin akan

mengalami perdarahan yang sedikit (spotting) di sekitar

waktu pertama terlambat haidnya. Perdarahan ini adalah

perdarahan implantasi (penempelan hasil konsepsi pada

dinding rahim) yang dikenal dengan tanda Hartman dan ini

normal terjadi. Pada waktu yang lain dalam kehamilan,

perdarahan ringan mungkin terjadi pertanda servik yang

rapuh (erosi). Perdarahan dalam proses ini dapat dikatakan

normal namun dapat diindikasikan terdapat tanda-tanda


infeksi. Perdarahan pervaginam patologis dengan tanda-

tanda seperti darah yang keluar berwarna merah dengan

jumlah yang banyak, serta perdarahan dengan nyeri yang

hebat. Perdarahan ini dapat disebabkan karena abortus,

kehamilan ektopik atau mola hidatidosa. Abortus adalah

penghentian atau pengeluaran hasil konsepsi pada

kehamilan < 20 minggu dengan berat janin < 500 gram

atau sebelum plasenta selesai (Kusumawati, 2014). Jenis-

jenis abortus, diantaranya :

1. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara

alamiah tanpa interval luar (buatan) untuk mengakhiri

kehamilan tersebut.

2. Abortus provokatus (induced abortion) adalah bentuk

abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat–

obatan mau pun alat–alat.

3. Abortus medisinalis adalah abortus yang terjadi karena

indikasi medis seperti riwayat penyakit jantung,

hipertensi, dan kanker.

4. Abortus kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh

karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak

berdasarkan indikasi medis.

5. Abortus inkompletus (keguguran bersisa) adalah

bentuk abortus dimana hanya sebagian dari hasil

konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah


desidua atau plasenta. Perdarahan berlangsung banyak,

dan dapat membahayakan ibu.

6. Abortus imminens Abortus yang mengancam terjadi di

mana perdarahan kurang dari 20 minggu, dengan atau

tanpa kram perut bagian bawah tanpa dilatasi serviks.

7. Abortus insipiens adalah abortus yang sedang

berlangsung dimana ekspulsi hasil konsepsi belum

terjadi tetapi telah ada dilatasi serviks. Kondisi ini

ditandai pada wanita hamil dengan perdarahan banyak,

disertai nyeri kram peut bagian bawah.

8. Abortus tertunda (missed abortion). Menurut WHO,

missed abortion adalah kondisi dimana embrio atau

janin nonviable tetapi tidak dikeluarkan secara spontan

dari janin (kurun waktu sekitar 8 minggu).

c) Mola hidatidosa

Menurut Kemenkes RI (2012), mola hidatidosa adalah

bagian dari penyakit trofoblastik gestasional, yang

disebabkan oleh kelainan pada villi khoironok yang

disebabkan oleh poliferasi trofoblastik dan edem. Diagnosa

mola hidatidosa dapat ditegakkan melalui pemeriksaan

USG. Beberapa tanda gejala mola hidatidosa, yaitu :

1. Terdapat mual dan muntah yang menetap, terkadang

sering kali menjadi parah,


2. Terdapat perdarahan uterus pada minggu ke-12 disertai

bercak darah dan perdarahan hebat, namun biasanya

berupa rabas yang bercampur darah, dan cenderung

berwarna merah,

3. Tampak ukuran uterus yang membesar namun tidak

ada perkembangan/ aktivitas janin,

4. Terdapat nyeri tekan pada ovarium,

5. Tidak ada denyut jantung janin,

6. Saat palpasi, bagian-bagian janin tidak diteraba/ tidak

ditemukan,

7. Komplikasi hipertensi akibat kehamilan, preeklampsi/

eklampsi sebelum usia kehamilan 24 minggu.

d) Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik adalah kehamilan ketika implantasi dan

pertumbuhan hasil konsepsi berlangsung diluar

endometrium kavum uteri. Hampir 95% kehamilan ektopik

terjadi diberbagai segmen tuba fallopi, dan 5% sisanya

terdapat di ovarium, rongga peritoneum dan didalam

serviks. Jika terjadi ruptur disekitar lokasi implantasi

kehamilan, maka akan terjadi keadaan perdarahan pasif dan

nyeri abdomen akut yang disebut kehamilan ektopik

terganggu (RI, Kemenkes, 2013). Faktor-faktor

predisposisi kehamilan ektopik meliputi riwayat kehamilan

ektopik sebelumnya, riwayat operasi tubektomi,


penggunaan IUD, infertilitas, riwayat abortus dan riwayat

inseminasi buatan/ teknologi bantuan reproduktif (assisted

reproductive technology/ ART). Gejala awal yang

ditimbulkan yaitu perdarahan pervaginam dan bercak

darah, kadang disertai nyeri panggul. Diagnosa kehamilan

ektopik dapat ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan

USG.

e) Anemia

WHO menetapkan standar hemoglobin (Hb 11%) pada ibu

hamil, jika kurang dari standar maka dikatakan mengalami

anemia. Klasifikasi anemia pada ibu hamil berdasarkan

berat badannya dikategorikan sebagai anemia ringan dan

berat. Anemia ringan apabila kadar Hb dalam darah yaitu 8

gr% hingga kurang dari 11 gr%. Anemia berat apabila

kadar Hb dalam darah kurang dari 8 gr% (Nurhidayati,

2013). Komplikasi anemia pada ibu hamil dapat

menyebabkan terjadinya missed abortion, kelainan

kongenital, abortus/ keguguran serta dampak pada janin

menyebabkan berat lahir rendah. Macam-macam anemia

dalam kehamilan meliputi :

1. Anemia defisiensi zat besi.

Anemia yang ditandai dengan keluhan lemas, pucat dan

mudah pingsan, karena kekurangan zat besi dalam

darah dan kadar Hb < 11 gr%. Dapat ditanggulangi


dengan mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi

seperti sayur-sayuran dan daging.

2. Anemia megaloblastik.

Anemia yang terjadi karena kelainan proses

pembentukan DNA sel darah merah yang disebabkan

kekurangan (defisiensi) vitamin B12 dan asam folat.

3. Anemia hipoplastik.

Anemia yang terjadi karena kelainan sumsung tulang

yang kurang mampu membuat sel-sel darah baru.

4. Anemia hemolitik.

Anemia yang terjadi karena kerusakan sel darah merah

yang berlangsung lebih cepat dari pembuatannya.

f) Hipertensi Gravidarum

Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan

sistolik dan distolik sampai atau melebihi 140/90 mmHg.

Ibu hamil yang mengalami kenaikan takanan sistolik

sebanyak 30 mmHg atu diastolik sebanyak 15 mmHg perlu

dipantau lebih lanjut (Lindarwati, 2012). Hipertensi

disebabkan oleh peningkatan tekanan darah yang

dipengaruhi oleh faktor perubahan curah jantung, sistem

saraf simpatis, autoregulasi, dan pengaturan hormon.

Hipertensi dalam kehamilan dibagi menjadi 5 yaitu:

hipertensi kronis, preeklamsi, superimposed, hipertensi

gestasional dan eklamsia. Hipertensi gestasional


ditegakkan pada wanita yang tekanan darahnya mencapai

140/90 mmHg atau lebih untuk pertama kali selama

kehamilan, tetapi belum mengalami proteinuria. Hipertensi

gestasional disebut hipertensi transien apabila tidak terjadi

preeklampsia dan tekanan darah kembali normal dalam 12

minggu postpartum. Hipertensi gestasional dapat

memperlihatkan tanda-tanda lain yang berkaitan dengan

preeklampsia, seperti nyeri kepala, nyeri epigastrium,

trombositipenia (Lindarwati, 2012).

2) Tanda Bahaya Kehamilan Lanjut

a) Perdarahan Pervaginam

Perdarahan pada masa kehamilan lanjut setelah 22 minggu

sampai sebelum persalinan. Perdarahan pervaginam

dikatakan tidak normal bila ada tanda-tanda seperti

keluarnya darah merah segar atau kehitaman dengan

bekuan, perdarahan kadang banyak kadang tidak terus

menerus, perdarahan disertai rasa nyeri. Perdarahan

semacam ini bisa berarti plasenta previa, solusio plasenta,

ruptur uteri, atau dicurigai adanya gangguan pembekuan

darah (Kusumawati, 2014).

1. Plasenta Previa

Plasenta previa didefinisikan sebagai plasenta yang

berimplantasi diatas atau mendekati ostium serviks

interna. Beberapa faktor predisposisi yang


menyebabkan terjadinya plasenta previa diantaranya

kehamilan ibu sudah usia lanjut (> 22 minggu),

multiparitas, serta mempunyai riwayat seksio caesaria

sebelumnya. Gejala umum yang terjadi pada kasus

plasenta previa seperti terjadi perdarahan tanpa rasa

nyeri secara tiba-tiba dan kapan saja, uterus tidak

berkontraksi dan bagian terendah janin tidak masuk

pintu atas panggul. Jenis-jenis plasenta previa

diantaranya :

a. Plasenta previa totalis yaitu posisi plasenta

menutupi ostium internal secara keseluruhan,

b. Plasenta previa parsialis yaitu posisi plasenta yang

menutupi ostium interna sebagian saja,

c. Plasenta previa marginalis yaitu posisi plasenta

yang berada di tepi ostium interna,

d. Plasenta previa letak rendah. yaitu posisi plasenta

yang berimplantasi di segmen bawah uterus.

2. Solusio Plasenta

Pada persalinan normal, plasenta akan lepas setelah

bayi lahir, namun karena keadaan abnormal plasenta

dapat lepas sebelum waktunya atau yang disebut

solusio plasenta. Beberapa faktor komplikasi sebagai

penyebab solusio plasenta yaitu hipertensi, adanya

trauma abdominal, kehamilan gemelli, kehamilan


dengan hidramnion, serta defisiensi zat besi. Tanda

gejala yang ditimbulkan seperti terjadinya perdarahan

dengan nyeri yang menetap, hilangnya denyut jantung

janin (gawat janin), uterus terus menegang dan kanin

naik, perdarahan yang keluar tidak sesuai dengan

beratnya syok.

3. Ruptur Uteri

Ruptur uteri adalah robeknya dinsing uterus pada saat

kehamilan/ persalinan, pada saat umur kehamilan lebih

dari 28 minggu. Klasifikasi ruptur uteri yaitu :

a. Menurut keadaan robekan

- Ruptur uteri inkomplit (subperitoneal), yaitu keadaan

ruptur yang hanya terjadi pada dinding uterus yang

robek sedangkan lapisan serosa (pritoneum) tetap utuh.

- Ruptur uteri komplit (transperitoneal), yaitu keadaan

ruptur selain pada dinding uterus yang robek, lapisan

serosa (pritoneum) juga robek sedingga dapat berada di

rongga perut.

Ruptur uteri pada waktu kehamilan (ruptur uteri

gravidarum) yang terjadi karena dinding uterus

lemah yang disebabkan oleh adanya bekas sectio

caesaria, bekas mioma uteri, bekas kuratase/

plasenta manual, sepsis post partum, atau terjadi

hipoplasia uteri/ uterus abnormal (Dewi, 2015).


b) Sakit kepala

Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah serius

adalah sakit kepala hebat, menetap dan tidak hilang dengan

beristirahat. Terkadang karena sakit kepala yang hebat

tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya

menjadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat

dalam kehamilan adalah gejala dari pre eklampsi.

Perubahan visual (penglihataan) secara tiba-tiba

(pandangan kabur) dapat berubah pada masa kehamilan

(Kusumawati, 2014). Nyeri kepala hebat pada masa

kehamilan dapat menjadi tanda gejala preeklamsi, dan jika

tidak diatasi dapat mnyebabkan komplikasi kejang

maternal, stroke, koagulapati hingga kematian. Sehingga

perlu dilakukan pemeriksaan lengkap baik oedem pada

tangan/ kaki, tekanan darah, dan protein urin ibu sejak dini.

c) Penglihatan Kabur

Akibat pengaruh hormonal, ketajaman penglihatan dapat

berubah selama masa kehamilan. Perubahan ringan (minor)

adalah perubahan yang normal. Jika masalah visual yang

mengindikasikan perubahan mendadak, misalnya

pandangan menjadi kabur dan berbayang disertai rasa sakit

kepala yang hebat, ini sudah menandakan gejala

preeklamsi. Penglihatan kabur dikarenakan sakit kepala

hebat, sehingga terjadi oedem pada otak dan meningkatkan


resistensi otak yang mempengaruhi sistem saraf pusat yang

dapat menimbulkan kelainan selebral, dan gangguan

penglihatan.

d) Nyeri Perut Hebat

Nyeri pada daerah abdomen yang tidak berhubungan

dengan persalinan normal adalah suatu kelainan. Nyeri

abdomen yang mengindikasikan mengancam jiwa adalah

nyeri perut yang hebat, menetap dan tidak hilang setelah

beristirahat, terkadang dapat disertai dengan perdarahan

lewat jalan lahir. Hal ini bisa berarti appendicitis (radang

usus buntu), kehamilan ektopik (kehamilan di luar

kandungan), aborstus (keguguran), penyakit radang

panggul, persalinan preterm, gastritis (maag), solutio

placenta, penyakit menular seksual, infeksi saluran kemih

atau infeksi lain (Kusumawati, 2014).

e) Bengkak Pada Muka dan Ekstremitas

Hampir separuh dari ibu-ibu hamil akan mengalami

bengkak yang normal pada kaki yang biasanya muncul

pada sore hari dan biasanya hilang setelah beristirahat atau

dengan meninggikan kaki lebih tinggi daripada kepala.

Bengkak yang menjadi masalah serius yaitu ditandai

dengan:

1. Muncul pembengkakan pada muka, tangan dan

ekstremitas lainya,
2. Bengkak tidak hilang setelah beristirahat,

3. Bengkak disertai dengan keluhan fisik lainnya. Hal ini

merupakan pertanda dari anemia, gangguan fungsi

ginjal, gagal jantung ataupun pre eklampsia. Gejala

anemia dapat muncul dalam bentuk oedema (bengkak)

karena dengan menurunnya kekentalan darah pada

penderita anemia, disebabkan oleh berkurangnya kadar

hemoglobin (Hb, sebagai pengangkut oksigen dalam

darah). Pada darah yang rendah kadar Hb-nya,

kandungan cairannya lebih tinggi dibandingkan dengan

sel-sel darah merahnya (Kusumawati, 2014).

f) Bayi kurang bergerak seperti biasa.

Ibu hamil mulai dapat merasakan gerakan bayinya pada

usia kehamilan 16-18 minggu (multigravida, sudah pernah

hamil dan melahirkan sebelumnya) dan 18-20 minggu

(primigravida, baru pertama kali hamil). Jika janin tidur,

gerakannya akan melemah. janin harus bergerak paling

sedikit 3 kali dalam periode 3 jam (10 gerakan dalam 12

jam). Gerakan janin akan lebih mudah terasa jika ibu 64

berbaring/beristirahat, makan dan minum. (Kusumawati,

2014). Jika ibu tidak merasakan gerakan janin sesudah usia

22 minggu/ memasuki persalinan, maka perlu diwaspadai

terjadinya gawat janin atau kematian janin dalam uterus.

g) Ketuban Pecah Sebelum Waktunya


Dinamakan ketuban pecah sebelum waktunya apabila

terjadi sebelum persalinan yang disebabkan karena

berkurangnya kekuatan membran/ peningkatan tekanan

uteri yang juga dapat disebabkan adanya infeksi yang dapat

berasal dari vagina dan serviks yang dapat dinilai dari

cairan ketuban di vagina. Pecahnya selaput ketuban dapat

terjadi pada kehamilan 37 minggu preterm maupun

kehamilan aterm.

h) Demam Tinggi

Jika suhu ibu hamil berada pada > 38°C dalam kehamilan,

ini menandakan ibu dalam masalah. Demam pada

kehamilan merupakan manifestasi tanda gejala infeksi

kehamlan. Penangannya dapat dengan memiringkan bada

ibu kerag kekiri, cukupi kebutuhan cairan ibu dan kompres

hangat guna menurunkan suhu ibu. komplikasi yag

ditimbulkan jika ibu mengalami demam tinggi yaitu sistitis

(infeksi kandung kencing) serta infeksi saluran kemih atas.

9. Program Asuhan Antenatal

a. Asuhan Antenatal

Asuhan antenatal adalah upaya promotif program

pelayanan kesehatan obstetrik untuk optimalisasi asuhan maternal

dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin

selama kehamilan (Prawirohardjo, 2014). Antenatal care (ANC)

adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan


dan fisik ibu hamil hingga mampu menghadapi persalinan, kala

nifas, persiapan pemberian ASI dan kembalinya kesehatan

reproduksi secara wajar. Pelayanan antenatal adalah semua ibu

hamil diharapkan mendapat perawatan kehamilan oleh tenaga

kesehatan (Manuaba, 2017).

b. Tujuan Asuhan Antenatal

Tujuan asuhan antenatal adalah menurunkan atau

mencegah kesakitan dan kematian maternal dan perinatal.

Adapun tujuan khususnya sebagai berikut :

1) Memonitor kemajuan kehamilan guna memastikan kesehatan

ibu dan perkembangan bayi yang normal.

2) Mengenali secara dini penyimpangan dari normal dan

memberikan penatalaksanaan yang diperlukan.

3) Membina hubungan saling percaya antara ibu dan bidan

dalam rangka mempersiapkan ibu dan keluarga secara fisik,

emosional, dan logis untuk menghadapi kelahiran serta

kemungkinan adanya komplikasi (Astuti, 2012).

c. Standar Pelayanan Minimal Antenatal

Pelayanan antenatal sesuai standar adalah pelayanan yang

diberikan kepada ibu hamil minimal 4 kali selama kehamilan

dengan jadwal satu kali pada trimester pertama, satu kali pada

trimester kedua dan dua kali pada trimester ketiga yang

dilakukan oleh bidan dan atau dokter dan atau dokter spesialis

kebidanan baik yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan


pemerintah maupun swasta yang memiliki Surat Tanda Register

(STR). Standar pelayanan antenatal adalah pelayanan yang

dilakukan kepada ibu hamil dengan memenuhi kriteria 10 T yaitu

1) Timbang berat badan dan ukur tinggi badan

2) Ukur tekanan darah.

3) Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas/LILA).

4) Ukur tinggi puncak rahim (fundus uteri).

5) Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).

6) Skrining status imunisasi tetanus dan berikan imunisasi

tetanus toksoid (TT) bila diperlukan.

7) Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama

kehamilan.

8) Tes laboratorium, tes kehamilan, pemeriksaan hemoglobin

darah (Hb), pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah

dilakukan sebelumnya), pemeriksaan protein urin (bila ada

indikasi) yang pemberian pelayanannya disesuaikan dengan

trimester kehamilan.

9) Tatalaksana/penanganan kasus sesuai kewenangan.

10) Temu wicara (konseling)

d. Kunjungan Antenatal

1) Kunjungan Antenatal K1

Kunjungan Antenatal K1 adalah kunjungan ibu hamil

yang pertama kali pada masa kehamilan (Meilani dkk., 2013).


Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh

pelayanan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan

dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja

pada kurun waktu satu tahun. K1 murni adalah jumlah kontak

pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan pada umur

kehamilan ≤ 12 minggu, baik di dalam maupun luar gedung

puskesmas. K1 akses adalah akses jumlah kontak pertama ibu

hamil dengan tenaga kesehatan pada umur kehamilan >12

minggu, baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas

(Prawirohardjo, 2014).

2) Kunjungan Antenatal K4

Kunjungan Antenatal K4 adalah kontak ibu hamil dengan

tenaga kesehatan yang keempat (atau lebih) untuk

mendapatkan pelayanan sesuai standar yang ditetapkan

dengan syarat :

a) Minimal satu kali kontak pada trimester I

b) Minimal satu kali kontak pada trimester II

c) Minimal dua kali kontak pada trimester III (Meilani dkk.,

2013).

Cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil yang telah

memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling

sedikit empat kali sesuai jadwal dibandingkan jumlah sasaran

ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun.

e. Manfaat Antenatal
Asuhan antenatal memberikan manfaat yaitu dengan

menemukan berbagai kelainan yang menyertai hamil dini,

sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah

dalam penolong persalinannya. Diketahui bahwa janin dalam

rahim dan ibunya merupakan satu kesatuan yang saling

mempengaruhi, sehingga kesehatan ibu dan perkembangan janin

berkaitan (Manuaba, 2015).

B. Persalinan Normal

1. Pengertian Persalinan Normal

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan

plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan

melalui jalan lahir atau jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan

(kekuatan sendiri). Proses ini di mulai dengan adanya kontraksi

persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks secara

progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Sholichah dan

Lestari, 2017). Ahli lain, Varney mengemukakan persalinan adalah

rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil konsepsi

oleh ibu, di mulai dengan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai

oleh perubahan progresif pada serviks, dan diakhiri dengan pelahiran

plasenta (Fritasari, 2013).

Persalinan adalah suatu proses yang alami, peristiwa normal,

namun bila tidak dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi

abnormal. Setiap individu berhak untuk dilahirkan secara sehat, oleh


karena itu, setiap wanita usia subur (WUS), ibu hamil (bumil), ibu

bersalin (bulin), dan bayinya berhak mendapatkan pelayanan yang

berkualitas. Persalinan merupakan salah satu masalah kesehatan

masyarakat di Indonesia dimana angka kematian ibu bersalin yang

masih cukup tinggi. Keadaan ini disertai dengan komplikasi yang

mungkin saja timbul selama persalinan, sehingga memerlukan

pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam bidang kesehatan,

dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menurunkan

angka kematian, kesakitan ibu dan perinatal (Purwandari, dkk, 2014).

Persalinan normal yaitu persalinan yang dimulai secara spontan

(dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir), beresiko

rendah pada awal persalinan dan presentasi belakang kepala pada

usia kehamilan antara 37-42 minggu setelah persalinan ibu maupun

bayi berada dalam kondisi baik (WHO). Definisi lain mengenai

persalinan dan kelahiran normal menurut Damayanti, dkk. (2014)

yaitu proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup

bulan (37-42), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang

berlangsung dalam 18 jam. Tanpa komplikasi baik pada ibu maupun

pada janin.

2. Jenis-Jenis Persalinan

a. Persalinan spontan, yaitu persalinan yang prosesnya berlangsung

dengan kekuatan ibunya sendiri (Oktarina, 2016).


b. Persalinan buatan, yaitu persalinan yang prosesnya berlangsung

dengan bantuan tenaga dari luar misalnya dengan forceps/

vakum, atau dilakukan operasi sectio caesarea.

c. Persalinan anjuran, yaitu persalinan yang dibantu dengan jalan

rangsangan misalnya pemberian pitocin atau prostaglandin.

Umunya persalinan terjadi bila bayi sudah cukup besar untuk

hidup diluar, namun tidak sedemikian besarnya sehingga

menimbulkan kesulitan dalam persalinan. Sama halnya pada

persalinan yang tidak segera dimulai dengan sendirinya namun

baru dapat berlangsung dengan dilakukan amniotomi/ pemecahan

ketuban (Damayanti dkk 2014).

3. Sebab-Sebab Terjadinya Persalinan

Bagaimana terjadinya persalianan belum diketahui dengan pasti,

sehingga menimbulkan beberapa teori

a. Faktor-Faktor Hormonal Yang Menyebabkan Persalinan

1) Rasio Estrogen Terhadap Progesteron

Progesteron menghambat kontraksi uterus selama

kehamilan, sehingga ekspulsi fetus tidak terjadi. Sedangkan

esterogen dapat meningkatkan kontraksi uterus karena

estrogen meningkatkan jumlah otot-otot saling berhubungan

satu sama lain (gap injection) antara sel-sel otot polos uterus

yang berdekatan saat permulaan inpartu. Dalam kehamilan

estrogen dan progesteron diekskresikan dalam jumlah yang

secara progresif terus meningkat dari bulan kebulan. Tetapi


mulai bulan ke-7 dan seterusnya estrogen terus meningkat

tetapi progesteron tetap konstan atau mungkin sedikit

menurun. Oleh karena itu diduga bahwa rasio estrogen dan

progesteron yang menyebabkan terjadinya persalinan.

2) Pengaruh Oksitosin Pada Uterus

Oksitosin adalah hormon yang dihasilkan oleh

neurohipofisis posterior yang dapat menyebabkan kontraksi

uterus. Yaitu dimana terjadi :

a) Otot-otot terus meningkatkan reseptor-reseptor oksitosin

dan meningkatkan responnya terhadap oksitosin.

b) Kecepatan sekresi oksitosin oleh neuro hipofisis meningkat

pada waktu persalinan.

c) Regangan serviks atau iritasi serviks pada waktu persalinan

dapat menyebabkan refleks neurogenik yang

mengakibatkan neurohipofifis meningkat sekresi

oksitosinnya.

3) Pengaruh Hormon Fetus pada Uterus

Kelenjar hipofisis pada fetus juga mensekresikan

oksitosin yang jumlahnya semakin meningkat seiring dengan

bertambahnya usia kehamilan. kelenjar adrenal fetus

menghasilkan hormon kortisol yang dapat menstimulasi

uterus. Membran fetus menghasilkan prostaglandin yang

tinggi pada waktu persalinan, prostaglandin dapat


meningkatkan intesitas kontraksi uterus (Damayanti, dkk.

2014).

b. Teori yang Berkaitan dengan Mulai Terjadinya Kekuatan His

Beberapa teori yang menyatakan kemungkinan proses

perasalinan (Damayanti, dkk. 2014) yaitu :

1) Teori Kerenggangan

a) Otot rahim mempunyai kemampuan merenggang dalam

batas tertentu.

b) Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga

persalinan dapat dimulai,

c) Contohnya pada hamil ganda sering terjadi kontraksi

setelah kerenggangan tertentu, sehingga menimbulkan

proses persalinan.

2) Teori Penurunan Progesteron

a) Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur kehamilan 28

minggu, dimana terjadi penimbunan jaringan ikat,

pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu.

b) Produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot

rahim lebih sensitif terhadap oksitosin,

c) Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai

tingkat penurunan progesteron tertentu. Dengan penurunan

hormon progesteron menjelang persalinan dapat terjadi

kontraksi. Kontraksi otot rahim ini menyebabkan :


- Turunnya kepala lalu masuk pintu atas panggul terutama

pada primigravida pada minggu ke- 36 dapat

menimbulkan sesak dibagian bawah, diatas simpisis

pubis dan sering ingin kencing atau susah kencing

karena kandung kemih tertekan kepala.

- Perut melebar karena fundus uteri turun,

- Terjadi perasaan sakit di daerah pinggang, hal ini

dikarenakan kontraksi ringan otot rahim dan tetekannya

pleksus Frankenhauser yang terletak disekitar serviks,

- Terjadi perlunakan serviks karena terdapat kontraksi

otot rahim,

- Terjadi pengeluaran lendir dimana lendir penutup

serviks dilepaskan.

3) Teori Oksitosin Internal

a) Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis past posterior,

b) Perubahan keseimbangan esterogen dan progesteron dapat

mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi

kontraksi Braxton Hicks.

c) Menurunya konsentrasi progesteron akibat tuanya aktivitas,

sehingga persalinan dapat dimulai,

4) Teori Prostaglandin

a) Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur hamil 15

minggu, yang dikeluarkan oleh desidua,


b) Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan

kontraksi otot rahim sehingga konsepsi dikeluarkan,

c) Prostaglandin dianggap sebagai pemicu terjadinya

persalinan.

5) Teori Hipotalamus Pituitari

a) Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anensefalus

sering terjadi keterlambatan persalinan karena tidak

terbentuk hipotalamus.

b) Pemberian kortikosteroid yang dapat menyebabkan

maturitas janin, induksi/ lulanya persalinan.

c) Dari hal diatas menunjukkan hubungan antara pituitari

dengan persalinan (Damayanti, dkk. 2014).

c. Permulaanya Persalinan

Tanda persalinan sudah dekat yaitu :

1) Adanya Lightening

Menjelang minggu ke-36 pada primigravida, terjadinya

penurunan fundus uterus karena kepala bayi sudah masuk ke

dalam panggul. Beberapa penyebabnya yaitu :

a) Adanya kontraksi Braxton Hick

b) Terjadi ketegangan dinding perut

c) Terjadi ketengan ligamentum rotumdum

d) Adanya gaya berat janin, kepala kearah bawah ut

Proses masuknya kepala janin ini juga dapat dirasakan oleh

wanita hamil dengan tanda-tanda diantaranya :


a) Terasa ringan dibagian atas dan rasa sesak berkurang,

b) Dibagian bawah terasa penuh dan mengganjal,

c) Kesulitan saat berjalan,

d) Serta merasa sering berkemih.

Faktor-faktor yang berperan dalam persalinan menurut

Manuaba (2017) yaitu :

a) Power : Kekuatan his adekuat dan tambahan kekuatan

mengejan,

b) Passage : Jalan lahir tulang, jalan lahir otot,

c) Passanger : Janin, plasenta dan selaput ketuban.

2) Terjadinya His Permulaan

Pada ibu hamil kontraksi Braxton Hicks sering dirasakan

sebagai keluhan karena rasa sakit yang ditimbulkannya.

Biasanya keluhan yang dirasakan berupa sakit pinggang yang

mengganggu. Adanya perubahan kadar hormon estrogen, dan

progesteron menyebabkan oksitosin semakin meningkat dan

dapat menjalankan fungsinya dengan efektif untuk

menimbulkan kontraksi/ his permulaan.

d. Faktor–Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan

Persalinan dapat berjalan normal apabila ketiga faktor

fisik 3 P yaitu power, passage dan passanger dapat bekerja sama

dengan baik. Selain itu terdapat 2 P yang merupakan faktor lain

yang secara tidak langsung dapat memengaruhi jalannya

persalinan, terdiri atas psikologi dan penolong.


1) Power (tenaga/kekuatan)

Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan adalah

his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma, dan aksi

dari ligamen. Kekuatan primer yang diperlukan dalam

persalinan adalah his, sedangkan sebagai kekuatan

sekundernya adalah tenaga meneran ibu.

2) Passage (jalan lahir)

Jalan lahir terdiri atas panggul ibu, yakin bagian tulang

yang padat, dasar panggul, vagina dan introitus. Janin harus

berhasil menyesuaikan dirinya terhadap jalan lahir yang relatif

kaku, oleh karena itu ukuran dan bentuk panggul harus

ditentukan sebelum persalinan dimulai. Jalan lahir dibagi atas:

a) Bagian keras: tulang–tulang panggul.

b) Bagian lunak: uterus, otot dasar panggul, dan perineum.

3) Passenger (janin dan plasenta)

Cara penumpang (passenger) atau janin bergerak

disepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa

faktor, yaitu ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan

posisi janin. Plasenta juga harus memulai jalan lahir sehingga

dapat juga dianggap sebegai penumpang yang menyertai

janin. Namun, plasenta jarang menghambat proses persalinan

pada kelahiran normal.


4) Psikis (psikologis)

Banyak wanita normal bisa merasakan kegairahan dan

kegembiraan saat merasa kesakitan diawal menjelang

kelahiran bayinya. Perasaan positif ini berupa kelegaan hati,

seolah-olah pada saat itulah benar-benar terjadi “kewanitaan

sejati”, yaitu munculnya rasa bangga bisa melahirkan atau

memproduksi anak. Faktor psikologis meliputi hal-hal sebagai

berikut :

a) Melibatkan psikologis ibu, emosi, dan persiapan

intelektual,

b) Pengalaman melahirkan bayi sebelumnya,

c) Kebiasaan adat.

d) Dukungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu.

5) Penolong

Peran dari penolong adalah mengantisipasi dan

menangani komplikasi yang mungkin terjadi dalam hal ini

tegantung dari kemampuan dan kesiapan penolong dalam

menghadapi proses persalinan (Rohani dkk., 2014).

e. Tanda-Tanda Persalinan

Tanda-tanda persalinan diantaranya :

1) Adanya Kontraksi Rahim

Tanda awal bahwa ibu hamil akan melahirkan adalah

mengejangnya rahim atau dikenal dengan istilah kontraksi.

Kontraksi tersebut berirama, teratur, dan involunter,


umumnya kontraksi bertujuan untuk menyiapkan mulut lahir

untuk membesar dan meningkatkan aliran darah di dalam

plasenta (Fritasari, 2013).

2) Keluarnya Lendir Bercampur Darah

Lendir di sekresi sebagai hasil poliferasi kelenjar lendir

serviks pada awal kehamilan. Lendir mulanya menyumbat

leher rahim, sumbatan yang tebal pada mulut rahim terlepas,

sehingga menyebabkan keluarnya lendir berwarna kemerahan

bercampur darah dan terdorong keluar oleh kontraksi yang

membuka mulut rahim yang menandakan bahwa mulut rahim

menjadi lunak dan membuka (Fritasari, 2013).

3) Keluarnya Air Ketuban

Proses penting menjelang persalinan adalah pecahnya air

ketuban. Selama sembilan bulan masa gestasi bayi aman

melayang dalam cairan amnion. Keluarnya air-air dan

jumlahnya cukup banyak, berasal dari ketuban yang pecah

akibat kontraksi yang makin sering terjadi (Fritasari, 2013).

4) Pembukaan Serviks

Membukanya leher rahim sebagai respon terhadap

kontraksi yang berkembang. Tanda ini dapat dirasakan oleh

pasien tetapi dapat diketahui dengan pemeriksaan dalam

(vagina toucher), petugas akan melakukan pemeriksaan untuk

menentukan pematangan, penipisan, dan pembukaan leher

rahim (Fritasari 2013).


Tanda-tanda persalinan menurut Kumalasari (2015),

diantaranya :

a) Rasa sakit karena adanya kontraksi uterus yang progresif,

teratur, yang meningkat kekuatan frekuensi dan durasi,

b) Rabas vagina yang mengandung darah (bloody show),

c) Kadang-kadang ketuban pecah spontan,

d) Pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar dan pembukaan

telah ada.

5) Tanda Persalinan Palsu

Tanda persalinan palsu ini terjadi pada trimester tiga dan

sering salah memperkirakan kontraksi Broxton Hicks yang

kuat sebagai kontraksi awal persalinan. Kontraksi Broxton

Hiks yang kuat disalah artikan sebagai tanda datangnya

persalinan. Dan ini di kenal dengan persalinan palsu.

Menghitung waktu awal kontraksi selama lebih dari satu jam

dan jika kontraksi tersebut terjadi berdekatan satu sama lain

dan berlangsung lama, mungkin persalinan (Fritasari, 2013).

f. Mekanisme Persalinan

Mekanisme persalinan mengacu pada serangkaian

perubahan posisi dan sikap yang diambil janin selama

perjalanannya melalui jalan lahir. Mekanisme persalinan yang

dijelaskan disini adalah untuk presentasi verteks dan panggul

ginekoid. Hubungan kepala dan tubuh janin dengan panggul ibu

berubah saat janin turun melalui panggul. Hal ini sangat penting
sehingga diameter optimal tengkorak ada pada setiap kala

penurunan. Tahapan mekanisme persalinan ini diantaranya :

1) Engagement

Kepala biasanya masuk ke panggul pada posisi

transversal/ pada posisi yang sedikit berbeda dari posisi ini

sehingga memanfaatkan diameter terluas panggul.

Engagement dikatakan terjadi ketika bagian terluas dari

bagian presentasi janin berhasil masuk ke pintu atas penggul.

Engegement terjadi pada sebagian besar wanita nulipara

sebelum persalinan, namun tidak terjadi pada sebagian besar

wanita multipara. Bilangan perlimaan kepala janin yang dapat

dipalpasi melalui abdomen sering digunakan untuk

menggambarkan apakah engagement telah terjadi. Jika lebih

dari 2/5 kepala janin dapat dipalpasi melalui abdomen, kepala

belum engaged.

2) Penurunan (Descent)

Selama kala I persalinan, kontraksi dan retraksi otot

uterus memberikan tekanan pada janin untuk turun. Proses ini

dipercepat dengan pecah ketuban dan upaya ibu untuk

mengejan.

3) Fleksi

Ketika kepala janin turun menuju rongga tengah panggul

yang lebih sempit, fleksi meningkat. Fleksi ini mungkin

merupakan gerakan pasif, sebagian karena struktur


disekitarnya, dan penting dalam meminimalkan diameter

presentasi kepala janin untuk memfasilitasi perjalanannya

melalui jalan lahir. Tekanan pada akses janin akan lebih cepat

disalurkan ke oksiput sehingga meningkatkan fleksi.

4) Rotasi Internal

Jika kepala fleksi dengan baik, oksiput akan menjadi titik

utama dan saat mencapai alur yang miring pada otot levator

ani, kepala akan didorong untuk berotasi secara anterior

sehingga sutura sagital kini terletak di diameter anterior

posterior pintu bawah panggul (diameter terluas panggul).

Resistensi adalah dinamika rotasi yang penting. Jika janin

mencapai engagement dalam posisi oksipito posterior, rotasi

internal (putar paksi dalam) dapat terjadi dari posisi

oksipitorposterior sampai posisi oksipitor anterior. Rotasi

internal yang lama ini, bersama dengan diameter presentasi

tengkorak janin yang lebih besar, menjelaskan peningkatan

durasi persalinan akibat kelainan posisi ini Posisi ini dikaitkan

dengan ekstensi kepala janin yang akan meningkatkan

diameter presentasi tengkorak janin pada pintu bawah

panggul. Posisi ini dapat menyebabkan obstruksi persalinan

dan memerlukan pelahiran dengan alat bantu atau bahkan

perlu dilakukan sectio caesaria.

5) Ekstensi
Setelah rotasi internal selesai, oksiput berada di bawah

simfisis pubis dan bregma berada dekat batas bawah sakrum.

Jaringan lunak perineum masih memberikan resistensi, dan

dapat mengalami trauma dalam proses ini. Kepala yang fleksi

sempurna kini mengalami ekstensi, dengan oksiput keluar dari

bawah simfisis pubis dan mulai mendistensi vulva. Hal ini

dikenal sebagai crowning kepala. Kepala mengalami ekstensi

lebih lanjut dan oksiput yang berada dibawah simfisis pubis

hanpir bertindak sebagai titik tumpu wajah, dan dagu tampak

secara berturut-turut pada lubang vagina posterior dan badan

perineum. Ekstensi dan gerakan ini meminimalkan trauma

jaringan lunak dengan menggunakan diameter terkecil kepala

janin untuk kelahiran.

6) Restitusi

Restitusi adalah lepasnya putaran kepala janin, yang

terjadi akibat rotasi internal. Restitusi adalah sedikit rotasi

oksiput melalui seperdelapan lingkaran. Saat kepala

dilahirkan, oksiput secara langsung berada dibagian depan.

Segera setelah kepala keluar dari vulva, kepala mensejajarkan

dirinya sendiri dengan bahu, yang memasuki panggul dalam

posisi oblik (miring).

7) Rotasi Eksternal

Agar dapat dilahirkan, bahu harus berotasi ke bidang

anterior-posterior, diameter terluas pada pintu bawah panggul.


Saat ini terjadi, oksiput berotasi melalui seperdelapan

lingkaran lebih lanjut ke posisi transversal. Ini disebut rotasi

eksternal.

8) Pelahiran Bahu dan Tubuh Janin

Ketika restitusi dan rotasi eksternal terjadi, bahu akan

berada dalam bidang anterior-posterior. Bahu anterior berada

di bawah simfisis pubis dan lahir pertama kali, dan bahu

posterior lahir berikutnya. Meskipun proses ini dapat terjadi

tanpa bantuan, seringkali “traksi lateral” ini dilakukan dengan

menarik kepala janin secara perlahan ke arah bawah untuk

membantu melepaskan bahu anterior dan bawah simfisis

pubis. Normalnya, sisa tubuh janin lahir dengan mudah

dengan bahu posterior dipandu ke atas, pada perineum dengan

melakukan traksi ke arah yang berlawanan sehingga

mengayun bayi ke arah abdomen ibu (Holmes & Philip,

2011).

f. Tahapan persalinan

1) Kala I (Pembukaan)

Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi

uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi dan

kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap (10 cm). Kala

satu persalinan terdiri atas dua fase, yaitu :

a) Fase Laten
Fase laten dimulai sejak awal berkontraksi yang

menimbulkam penipisan dan pembukaan serviks bertahap,

berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm

pada umumnya fase laten berlangsung hingga 8 jam.

b) Fase Aktif

Fase aktif adalah frekuensi dan lama kontraksi uterus akan

menigkat secara bertahap (kontraksi dianggap adekuat/

memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10

menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih, uterus

mengeras waktu kontraksi, serviks membuka. Dari

pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap

atau 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm/

jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 cm

hingga 2 cm pada multipara. Pada fase aktif kala II terjadi

penurunan bagian terendah janin tidak boleh berlangsung

lebih dari 6 jam. Fase aktif dibagi menjadi 3, yaitu :

1. Fase Akselerasi. Pada primigravida pembukaan serviks

bertambah dari 3 cm menjadi 4 cm dalam waktu

sekitar 2 jam.

2. Fase Dilatasi Maksimal. Pembukaan serviks

berlangsung lebih cepat, yaitu 4 cm menjadi 9 cm

dalam waktu 2 jam.


3. Fase Deselerasi. Pembukaan serviks melambat dari 9

cm menjadi lengkap (10 cm) dalam waktu 2 jam.

Lamanya untuk primigravida berlangsung 12-14 jam

sedangkan pada multigravida sekitar 6-8 jam

(Damayanti dkk., 2014).

2) Kala II (Pengeluaran Janin)

Persalinan kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah

lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Pada kala

pengeluaran janin his terkoordinasi, kuat, cepat dan lebih

lama, kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun

masuk keruang panggul, sehingga terjadilah tekanan pada

otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris atau otomatis

menimbulkan rasa mengejan. Ibu merasa seperti ingin buang

air besar karena tekanan pada rektum dengan tanda anus

terbuka. Pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva

membuka dan perineum merenggang. Dengan his mengejan

yang terpimpin maka akan lahirlah kepala, diikuti oleh seluruh

badan janin. Kala II pada primigravida berlangsung 1 ½ - 2

jam, pada multigravida ½- 1 jam (Kumalasari, 2015).

3) Kala III

Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran

plasenta. Proses ini berlangsung setelah kala II yang tidak

lebih dari 30 menit, kontraksi uterus berhenti sekitar 5-10


menit. Dengan lahirnya bayi dan proses retraksi uterus, maka

plasenta lepas dari lapisan nitabusch atau jaringan ikat

longgar yang melapisinya. Berikut beberapa tanda terlepasnya

plasenta, diantaranya :

a) Uterus menjadi berbentuk longgar

b) Uterus terdorong ke atas, karena plasenta terlepas ke

segmen bawah Rahim,

c) Tali pusat semakin memanjang,

d) Terjadinya perdarahan.

e) Melahirkan plasenta dilakukan dengan dorongan ringan

secara crede (pelepasan plasenta seperti memeras jeruk

dan dilakukan untuk melahirkan plasenta yang belum

lepas) pada fundus uterus (Damayanti dkk., 2014).

4) Kala IV (Observasi)

Kala IV persalinan adalah dimulai dari lahirnya plasenta

sampai dua jam pertama postpartum (Kumalasari, 2015).

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan pada kala IV

persalinan adalah :

a) Kontraksi uterus harus baik,

b) Tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genetalia

lain,

c) Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,

d) Kandung kencing harus kosong,


e) Luka-luka diperineum harus dirawat dan tidak ada

hematoma/ pembekuan darah,

f) Resume/ observasi keadaan umum ibu dan bayi

(Damayanti dkk., 2014).

g. Perubahan Fisiologis dan Psikilogis pada Persalinan

Beberapa perubahan yang terjadi pada ibu hamil selama

proses persalinan yaitu :

1) Tekanan Darah

Meningkatnya tekanan darah selama kontraksi desertai

peningkatan sistolik rata-rata 15 (10-20) mmHg dan diastolik

rata-rata (5-10) mmHg pada waktu-waktu kontraksi tekanan

darah kembali ketingkat sebelum persalinan. Dengan adanya

peningkatan tekanan darah tersebut dipastikan wanita yang

memang memilki resiko hipertensi kini resikonya meningkat

untuk mengalami komplikasi, seperti perdarahan otak.

Terdapat beberapa faktor yang dapat merubah tekanan darah

ibu diantaranya :

a) Aliran darah yang menurun pada arteri uterus akibat

kontraksi, kemudian diarahkan kembali ke pembuluh

darah perifer.

b) Timbul tahanan perifer, tekananan darah meningkat dan

frekuensi denyut nadi melambat.


c) Rasa sakit, takut dan cemas dapat meningkatkan tekanan

darah ibu.

2) Metabolisme jantung

Selama persalinan, metabolisme karbohidrat baik aerob

maupun anaerob meningkat dengan kecepatan tetap.

Peningkatan ini di sebabkan oleh ansietas (kondisi emosional

seperti cemas, takut/ khawatir) dan aktifitas otot rangka.

Peningkatan aktivitas metabolik terlihat dari peningkatan suhu

tubuh, denyut nadi, pernafasan, curah jantung, dan cairan

yang hilang.

3) Suhu

Karena terjadi peningkatan metabolisme, maka suhu

tubuh agak sedikit meningkat selama persalinan terutama

selama dan segera setelah persalinan. Peningkatan suhu yang

terjadi tidak boleh melebihi 0,5-1°C.

4) Denyut Nadi dan Detak Jantung

Frekuensi denyut nadi diantara kontraksi sedikit lebih

tinggi dibanding selama periode persalinan. Pada setiap

kontraksi 400 ml darah dikeluarkan dari uterus dan masuk

kedalam sistem vaskuler ibu. hal ini akan meningkatkan curah

jantung sekitar 10% hingga 15% pada tahap pertama

persalinan dan sekitar 30% hingga 50% pada tahap kedua

persalinan.

5) Perubahan pada ginjal


Poliuria atau gangguan berkemih berlebihan selama

persalinan dapat terjadi akibat adanya peningkatan cardiac

output, filtrasi dalam glomerulus, dan peningkatan aliran

plasma ginjal. Hal lain yang menyebabkan sulit berkemihnya

wanita yaitu: edema pada jaringan akibat tekanan bagian

presentasi, rasa tidak nyaman, sedasi, rasa malu, serta posisi

ibu saat bersalin terlentang.

6) Perubahan pada saluran cerna

Saat persalinan, mobilitas dan absorbsi lambung terhadap

makanan padat jauh berkurang, hal ini juga diperburuk oleh

penurunan lebih lanjut sekresi asam lambung selama

persalinan, sehingga saluran cerna bekerja dengan lambat

menjadi lebih lama.

7) Perubahan hematologic

Perubahan hematologi meningkat sampai 1,2 % selama

persalinan dan akan kembali pada tingkat sebelum persalinan

sehari setelah pasca salin kecuali perdarahan postpartum.

h. Asuhan Persalinan Normal

Asuhan persalinan normal merupakan asuhan yang bersih

dan aman selama persalinan dan setelah bayi lahir serta upaya

pencegahan komplikasi terutama perdarahan pasca persalinan,

hipotermia dan asfiksia bayi baru lahir. Tujuan asuhan persalinan

adalah menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat

kesehatan yang tinggi pada ibu dan bayinya, melalui upaya yang
terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi seminimal

mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat

tidur terjaga pada tingkat yang optimal (JNPK-KR, 2016).

C. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir

1. Pengertan Bayi Baru Lahir

Menurut Wahyuni dan Mawarni (2014) bayi baru lahir (BBL)

normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42

minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram.

Bayi baru lahir (neonatus) adalah suatu keadaan dimana bayi baru

lahir dengan umur kehamnilan 37-42 minggu, lahir melalui jalan

lahir dengan presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan,

menangis kuat, napas secara spontan dan teratur, berat badan antara

2.500-4.000 gram serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari

kehidupan intrauterine ke kehidupan ekstrauterin (Saifuddin, 2016).

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang baru lahir pada usia

kehamilan genap 37-41 minggu, dengan presentasi belakang kepala

atau letak sungsang yang melewati vagina tanpa memakai alat

(Saifuddin, 2016). Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir

cukup bulan, 38-42 minggu dengan berat badan sekitar 2500-3000

gram dan panjang badan sekitar 50-55 cm (Sondakh, 2017).


2. Ciri - Ciri Bayi Baru Lahir

Menurut Kumalasari (2015) ciri – ciri bayi baru lahir diantaranya :

a. Berat badan 2500-4000 gram,

b. Panjang badan lahir 48-52 cm,

c. Lingkar dada 30-38 cm,

d. Lingkar kepala 33-35 cm,

e. Frekuensi jantung 120-160 kali/ menit,

f. Pernapasan  40-60 kali/ menit,

g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan

cukup,

h. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah

sempurna,

i. Kuku agak panjang dan lemas,

j. Genetalia

Pada bayi perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora,

pada bayi laki-laki testis sudah turun, skrotum sudah ada,

k. Reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik,

l. Reflek moro/ gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik,

m. Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama,

mekonium berwarna hitam kecokelatan.

3. Klasifikasi Bayi Baru Lahir

Klasifikasi bayi baru lahir beradasarkan usia gestasi menurut,

yaitu

a. Bayi Pematur
Yaitu bayi yang lahir kurang 37 minggu lengkap (< 259 hari),

dengan berat badan antara 1000-2499 gram.

b. Bayi Matur

Yaitu bayi yang lahir mulai dari 37 minggu sampai kurang dari

42 minggu lengkap (259 hari sampai 293 hari), dengan berat

antara 2500-4000 gram.

c. Bayi Postmatur

Yaitu bayi yang lahir 42 minggu lengkap atau lebih (294 hari)

(Purnamasari, 2013).

4. Tahapan Bayi Baru Lahir

Beberapa tahapan yang terjadi pada bayi baru lahir yaitu :

a. Tahapan I

Tahapan ini terjadi segera setelah lahir, selama menit-menit

pertama kelahiran. Pada tahap ini digunakan sistem scoring apgar

intik pemeriksaan fisik dan scoring gray untuk interaksi ibu dan

bayi.

b. Tahapan II

Tahapan ini disebut tahap transisional reaktivitas. Pada tahap II

ini dilakukan pengkajian selama 24 jam pertama terhadap adanya

perubahan perilaku.

c. Tahapan III

Tahapan ini disebut tahap periodik. Pada tahap ini dilakukan

pengkajian setelah 24 jam pertama yang meliputi pemeriksaan

seluruh tubuh.
5. Kebutuhan Fisik BBL

a. Nutrisi

Marmi dan Rahardjo (2012) menganjurkan memberikan

ASI sesering mungkin sesuai keinginan ibu (jika payudara penuh)

dan tentu saja ini lebih berarti pada menyusui sesuai kehendak

bayi atau kebutuhan bayi setiap 2- 3 jam (paling sedikit setiap 4

jam), bergantian antara payudara kiri dan kanan. Pemberian ASI

saja cukup, pada periode usia 0-6 bulan, kebutuhan gizi bayi baik

kualitas maupun kuantitas terpenuhinya dari ASI saja, tanpa

harus diberikan makanan ataupun minuman lainnya. Para ahli

anak di seluruh dunia telah mengadakan penelitian terhadap

keunggulan ASI. Hasil penelitian menjelaskan keunggulan ASI

dibanding dengan susu sapi atau susu buatan lainnya adalah

sebagai berikut :

1) ASI mengandung hampir semua zat gizi yang diperlukan oleh

bayi dengan kosentrasi yang sesuai dengan kebutuhan bayi,

2) ASI mengandung kadar laktosa yang lebih tinggi, dimana

laktosa ini dalam usus akan mengalami peragian sehingga

membentuk asam laktat yang bermanfaat dalam usus bayi,

3) ASI mengandung antibody yang dapat melindungi bayi dari

berbagai penyakit infeksi,

4) ASI lebih aman dari kontaminasi, karena diberikan langsung,

sehingga kecil kemungkinan tercemar zat berbahaya,


5) Resiko alergi pada bayi kecil sekali karena tidak mengandung

betalatoglobulin,

6) ASI dapat sebagai perantara untuk menjalin hubungan kasih

sayang antara ibu dan bayi,

7) Tempertur ASI sama dengan temperature tubuh bayi,

8) ASI membantu pertumbuhan gigi lebih baik,

9) Kemungkinan tersedakpada waktu meneteki ASI kecil sekali,

10) ASI mengandung laktoferin untuk mengikat zat besi,

11) ASI lebih ekonomis, praktis tersedia setap waktu pada suhu

yang ideal dan dalm keadaan segar,

12) Dengan memberikan ASI kepada bayi berfungsi

menjarangkan kelahiran.

Berikut ini merupakan beberapa prosedur pemberian ASI yang

harus diperhatikan Marmi dan Rahardjo (2012) :

1) Tetekkan bayi segera atau selambatnya setengah jam setelah

bayi lahir,

2) Biasakan mencuci tangan dengan sabun setiap kali sebelum

menetekkan.

3) Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit kemudian

dioleskan pada puting susu dan aerola sekitarnya. Cara ini

mempunyai manfaat sebagai disinfektan dan menjaga

kelembaban puting susu,

4) Bayi diletakkan menghadap perut ibu,

b. Cairan dan Elektrolit


Menurut Marmi dan Rahardjo (2012) air merupakan

nutrien yang berfungsi menjadi medium untuk nutrien yang

lainnya. Air merupakan kebutuhan nutrisi yang sangat penting

mengingat kebutuhan air pada bayi relatif tinggi 75-80% dari

berat badan dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 55-

60%. Bayi baru lahir memenuhi kebutuhan cairannya melalui

ASI. Segala kebutuhan nutrisi dan cairan didapat dari ASI.

Kebutuhan cairan (Marmi dan Rahardjo, 2012) :

1) BB s/d 10 kg = BB x 100 cc

2) BB 10 – 20 kg = 1000 + (BB x 50) cc

3) BB > 20 kg = 1500 + (BB x 20) cc

c. Personal Hygiene

Prinsip Perawatan tali pusat menurut Purnamasari (2013) :

1) Jangan membungkus pusat atau mengoleskan bahan atau

ramuan apapun ke puntung tali pusat,

2) Mengoleskan alkohol atau povidon yodium masih

diperkenankan apabila terdapat tanda infeksi, tetapi tidak

dikompreskan karena menyebabkan tali pusat basah atau

lembap.,

3) Hal-hal yang perlu menjadi perhatian ibu dan keluarga yaitu :

a) Memperhatikan popok di area puntung tali pusat,

b) Jika puntung tali pusat kotor, cuci secara hati-hati dengan

air matang dan sabun. Keringkan secara seksama dengan

air bersih,
c) Jika pusat menjadi merah atau mengeluarkan nanah atau

darah; harus segera bawa bayi tersebut ke fasilitas

kesehatan. Ttali pusat biasanya lepas dalam 1 hari setelah

lahir, paling sering sekitar hari ke 10.

d. Kebutuhan Kesehatan Dasar

1) Pakaian

2) Sanitasi lingkungan

3) Perumahan

e. Kebutuhan psikososial

1) Kasih Sayang (Bounding Attachment)

Kontak dini antara ibu, ayah dan bayi disebut bounding

attachment melalui touch/sentuhan. Cara untuk melakukan

bounding attachment ada bermacam-macam antara lain

(Damayanti, dkk., 2014) :

a) Pemberian ASI Eksklusif.

b) Rawat gabung,

c) Kontak mata (eye to eye contact),

d) Suara (voice),

e) Aroma (odor),

f) Sentuhan (touch),

g) Entraiment,

Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan.

Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur

pembicaraan orang dewasa.


h) Bioritme

Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk

ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu

proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten

dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi

mengembangkan perilaku yang responsif.

2) Rasa aman

3) Harga diri

4) Rasa memiliki

6. Adaptasi Bayi Baru Lahir Terhadap Kehidupan diluar Uterus

Beberapa adaptasi fisiologis yang terjadi setelah bayi lahir

menurut Buda dan Endang (2011), yaitu :

a. Sistem Pernafasan

Pada saat didalam rahim janin mendapatkan O2 dan

melepaskan CO2 melalui plasenta. Paru-paru janin mengandung

cairan yang disebut surfaktan. Surfaktan berfungsi untuk

mengurangi tekanan permukaan alveoli dan menstabilkan

dinding alveoli sehingga tidak kolaps. Pada proses persalinan

pervaginam terjadi tekanan mekanik dalam dada yang

mengakibatkan pengempisan paru-paru dan tekanan negatif pada

intra toraks sehingga merangsang udara masuk. Ketika tali pusat

dipotong maka akan terjadi pengurangan O2 dan akumulasi CO2

dalam darah bayi, sehingga akan merangsang pusat pernafasan


untuk memulai pernafasan pertama. Pernafasan pertama bayi

berfungsi untuk mengeluarkan cairan dalam paru dan

mengembangkan jaringan alveoli paru-paru untuk pertama kali

sehingga merangsang udara masuk.

Ketika bernafas, udara memenuhi paru-paru dan sisa

surfaktan diserap oleh pembuluh darah dan limfe sehingga semua

alveoli terisi oleh udara pada saat ini maka terjadi peningkatan

tekanan O2 dalam alveolar sehingga pembuluh darah paru-paru

meningkat dan memperlancar pertukaran gas dalam alveoli

sehingga terjadi perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar

rahim. Pernafasan bayi baru lahir tidak teratur kedalaman,

kecepatan dan iramanya serta bervariasi 30-60 kali per menit,

sebagaimana kecepatan nadi, kecepatan pernafasan juga

dipengaruhi oleh menangis. Pernafasan mudah dilihat atau

diamati dengan melihat pergerakan abdomen karena pernafasan

neonatus sebagian besar dibantu oleh diafragma dan otot-otot

abdomen.

b. Sistem Sirkulasi Darah

Sistem kardiovaskuler mengalami perubahan yang

mencolok setelah bayi lahir. Foramen ovale, duktus arteriosus

dan duktus venosus menutup. Arteri umbilikus dan vena

umbilikalis dan arteri hepatika menjadi ligamen. Nafas pertama

yang dilakukan oleh bayi baru lahir membuat paruparu

berkembang dan menurunkan resistensi vaskuler pulmoner,


sehingga darah mengalir, tekanan arteri pulmoner menurun.

Rangkaian peristiwa merupakan mekanisme besar yang

menyebabkan tekanan atrium kanan menurun. Aliran darah

pulmoner kembali meningkat ke jantung dan masuk ke kanan

bagian kiri sehingga tekanan dalam atirum kiri meningkat.

Perubahan tekanan ini menyebabkan foramen ovale menutup.

Selama beberapa hari pertama kehidupan, tangisan dapat

mengembalikan aliran darah melalui foramen ovale sementara

dan mengakibatkan sianosis ringan. Frekuensi jantung bayi rata-

rata 140 x per menit saat lahir, dengan variasi berkisar antara

120-140 x per menit. Frekuensi saat bayi tidur berbeda dari

frekuensi saat bayi bangun. Pada saat usia satu minggu frekuensi

denyut jantung bayi rata-rata 128 x per menit dan 163 x per

menit saat bangun. Aritmia sinus (denyut jantung yang tidak

teratur pada usia ini dapat dipersepsikan sebagai suatu fenomena

fisiologis dan sebagai indikasi fungsi jantung yang baik).

Ketika dilahirkan bayi memiliki kadar haemoglobin yang

tinggi sekitar 17 gr/dl dan sebagian besar terdiri dari

haemoglobin fetal type (HbF). Jumlah HbF yang tinggi ketika

didalam rahim diperlukan untuk meningkatkan kapasitas

pengangkutan O2 dalam darah saat darah yang teroksigenasi dari

plasenta bercampur dengan darah dari bagian bawah janin.

Keadaan ini tidak berlangsung lama, ketika bayi lahir banyak sel

darah merah tidak diperlukan sehingga terjadi hemolisis sel


darah merah. Hal ini menyebabkan ikterus fisiologi pada bayi

baru lahir dalam 2-3 hari pertama kelahiran.

c. Sistem Pencernaan

Bayi baru lahir cukup bulan mampu menelan, mencerna,

memetabolisme dan mengabsorbsi protein dan karbohidrat

sederhana serta mengelmusi lemak. Mekonium merupakan

sanpah pencernaan yang disekresikan oleh bayi baru lahir.

Mekonium diakomulasikan dalam usus saat umur kehamilan 16

minggu. Warnanya hijau kehitam-hitaman dan lembut, terdiri

dari mucus, sel epitel, cairan amnion yang tertelan, asam lemak

dan pigmen empedu. Mekonium dikeluarkan seluruhnya sekitar

2-3 hari setelah bayi lahir. Mekonium pertama dikeluarkan dalam

waktu 24 jam setelah bayi lahir. Ketika bayi sudah mendapatkan

makanan faeces bayi berubah menjadi kuning kecoklatan,

mekonium yang dikeluarkan menandakan anus yang berfungsi

sedangkan faeces yang berubah warna menandakan seluruh

saluran gastrointestinal berfungsi. Dalam waktu 4 atau 5 hari

faeces akan menjadi kuning.

Bayi yang diberi ASI, faecesnya lembut, kuning terang

dan tidak bau. Sedangkan bayi yang diberi susu formula

berwarna pucat dan agak berbau. Bayi yang diberi ASI dapat

BAB sebanyak 5 kali atau lebih dalam sehari, ASI sudah mulai

banyak diproduksi pada hari ke 4 atau ke 5 persalinan. Walaupun

demikian setelah 3-4 minggu, bayi hanya BAB 1 kali setiap 2


hari. Sedangkan bayi yang diberi susu formula lebih sering BAB

tetapi lebih cenderung mengalami kontipasi. Kapasitas lambung

bayi baru lahir sekitar 15-30 ml dan meningkat dengan cepat

pada minggu pertama kehidupan. Pengosongan lambung pada

bayi baru lahir sekitar 2,5-3 jam.

Imaturitas hati yang fisiologis menghasilkan produksi

glukoronil transferase yang rendah untuk konjugasi bilirubin dan

juga tingginya jumlah sel darah merah yang mengalami

hemolisis mengakibatkan ikterus fisiologis yang dapat terlihat

pada hari ketiga atau kelima. Simpanan glikogen cepat berkurang

sehingga early feeding diperlukan untuk mempertahankan

glukosa darah normal. Early feeding diperlukan untuk

menstimulasi fungsi liver dan membantu pembentukan vitamin

K.

d. Sistem Pengaturan Suhu

Tubuh Bayi baru lahir memiliki pengaturan suhu tubuh

yang belum efisien dan masih lemah, sehingga penting untuk

mempertahankan suhu tubuh bayi agar tidak terjadi penurunan

dengan penatalaksanaan yang tepat misalnya dengan cara

mencegah hipotermi. Proses kehilangan panas dari kulit bayi

dapat melalui proses konveksi, evaporasi, konduksi dan radiasi.

Hal ini dapat dihindari jika bayi dilahirkan dalam lingkungan

yang hangat dengan suhu sekitar 21-24°C, dikeringkan dan

dibungkus dengan hangat. Bayi baru lahir tidak akan mengalami


kedinginan dan dapat meningkatkan produksi panas dengan cara

ini.

Simpanan lemak coklat sudah tersedia pada bayi saat

dilahirkan, tetapi suhu tubuh bayi menurun lebih banyak energi

yang digunakan untuk memproduksi panas ketika diperlukan

saja. Lemak coklat diproduksi dibawah bahu, dibelakang sternum

dileher disekitar ginjal dan kelenjar supra renal. Intake makanan

yang adekuat juga penting untuk memproduksi. Jika suhu tubuh

bayi menurun lebih banyak energi digunakan untuk

memproduksi panas daripada untuk pertumbuhan dan akan

terjadi peningkatan penggunaan O2.

Bayi baru lahir yang kedinginan akan terlihat tidak aktif

dan dia akan mempertahankan panas tubuhnya dengan posisi

fleksi dan meningkatkan pernafasannya serta menangis.

Sehingga terjadi peningkatan penggunaan kalori yang

mengakibatkan hipoglikemi yang akan ditimbulkan dari efek

hipotermi begitu juga hipoksia dan hyperbilirubinemia. Suhu

yang tidak stabil juga mengindikasikan terjadinya infeksi

sehingga setiap tindakan yang dilakukan harus menghindari

terjadinya kehilangan panas pada bayi baru lahir. Suhu tubuh

bayi yang normal sekitar 36,5-37,5°C.

e. Sistem Ginjal

Janin mengeluarkan urina dalam cairan amnion selama

kehamilan. Walaupun ginjal pada bayi sudah berfungsi, tapi


belum sempurna untuk menjalankan fungsinya. Kemampuan

filtrasi glomerular masih sangat rendah, maka kemampuan untuk

menyaring urine belum sempurna. Sehingga cairan dalam jumlah

yang banyak diperlukan untuk mengeluarkan zat padat. Jika bayi

mengalami dehidrasi ekskresi zat padat seperti urea dan sodium

klorida akan terganggu. Bayi baru lahir harus BAK dalam waktu

24 jam setelah lahir. Awalnya urine yang keluar sekitar 20-30

ml/ hari dan meningkat menjadi 100-200 ml/ hari pada akhir

minggu pertama ketika intake cairan meningkat.

f. Sistem Adaptasi Imunologi

Dalam rahim janin mendapatkan perlindungan infeksi

oleh kantong ketuban yang masih utuh dan barier plasenta,

walaupun demikian ada mikroorganisme tertentu yang dapat

melewati plasenta dan menginfeksi janin. Bayi baru lahir sangat

rentang terhadap infeksi terutama yang masuk melalui mukosa

yang berhubungan dengan sistem pernafasan dan gastrointestinal.

Bayi mempunyai beberapa imunoglobulin seperti IgG, IgA dan

IgM. Selama trimester akhir kehamilan terjadi transfer

transparental imonuglobulin IgG dari ibu ke janin. Hal ini

memberikan perlindungan pada janin untuk memberikan

pertahanan terhadap infeksi yang didapatkan dari antibody itu.

Antibody yang terbentuk memberikan kekebalan pasif

pada bayi sekitar 6 bulan, sedangkan IgM dan IgA tidak mampu

untuk melewati barier plasenta tetapi dapat dihasilkan oleh janin


beberapa hari setelah lahir. Tingkat imunoglobulin IgG bayi

sama atau kadang lebih tinggi dari ibunya, hal ini disebabkan

karena adanya kekebalan pasif selama bulan pertama kehidupan.

Sedangkan IgM dan IgA rata-rata 20% dari orang dewasa yang

dibutuhkan selama 2 tahun untuk sama dengan orang dewasa.

Tingkat IgM dan IgA yang relatif rendah dapat memudahkan

terjadinya atau masuknya infeksi. IgA dapat memberikan

perlindungan terhadap infeksi pada saluran pernafasan,

gastrointestinal, dan mata.

ASI terutama kolostrum dapat memberikan kekebalan

pasif pada bayi sebagai perlindungan terhadap infeksi dalam

bentuk lactobacillua bifidus, lactoferin, lysozym dan pengeluaran

IgA. Pemberian ASI juga membantu perkembangbiakan bakteri

tertentu dalam usus yang akan mengakibatkan suasana asam

yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Oleh

karena itu setiap tindakan pada bayi harus berprinsip untuk

mencegah terjadinya infeksi.

g. Sistem Reproduksi

Spermatogenesis pada bayi laki-laki belum terjadi sampai

mencapai pubertas, tetapi pada bayi perempuan sudah terbentuk

folikel primodial yang mengandung ovum pada saat lahir. Pada

kedua jenis kelamin ini pengambilan estrogen dari ibu untuk

pertumbuhan payudara yang kadang-kadang disertai secret pada

hari keempat atau kelima. Hal ini tidak membutuhkan perawatan


karena akan hilang dengan sendirinya. Pada bayi perempuan

kadang terjadi pseudomenstruasi dan labia mayora sudah

terbentuk menutupi labia minora. Pada laki-laki testis sudah

turun kedalam skrotum pada akhir 36 minggu kehamilan.

h. Sistem Rangka Tubuh

Pertumbuhan otot lebih banyak terjadi dengan hipertropi

dibandingkan dengan hiperplasia. Pemanjangan dan pengerasan

tulang yang belum sempurna dapat memfasilitasi pertumbuhan

episis. Tulang yang berada dibawah tengkorak tidak mengalami

pengerasan. Hal ini penting untuk pertumbuhan otak dan

memudahkan proses moulase pada waktu persalinan. Moulase

dapat hilang beberapa hari setelah kelahiran. Fontanela posterior

menutup setelah 6-8 minggu, sedangkan fontanela anterior

membuka sampai 18 bulan. Pengkajian terhadap hidrasi dan

tekanan intrakaranial dapat dilakukan dengan palpasi fontanel.

i. Sistem Syaraf

Jika dibandingkan dengan sistem tubuh lainnya, sistem

syaraf belum matang secara anatomi dan fisiologi. Hal ini

mengakibatkan kontrol yang minim oleh kortex serebri terhadap

sebagian besar batang otak dan aktivitas refleks tulang belakang

pada bulan pertama kehidupan walaupun sudah terjadi interaksi

sosial. Adanya beberapa aktivitas refleks yang terdapat pada bayi

baru lahir menandakan adanya kerjasama antara sistem syaraf

dan sistem muskuloskeretal. Refleks tersebut antara lain :


1) Reflek moro

Reflek dimana bayi akan mengembangkan tangan lebar-

lebar dan melebarkan jari-jari lalu mengembalikan dengan

tarikan yang cepat seakan-akan memeluk seseorang. Reflek

dapat diperoleh dengan memukul permukaan yang rata yang

ada didekatnya dimana dia terbaring dengan posisi terlentang.

Bayi seharusnya membentangkan dan menarik tangannya

secara sistematis. Jari-jari akan meregang dengan ibu jari dan

telunjuk membentuk huruf C, kemudian tangan terlipat

dengan Gerakan memeluk dan kembali pada posisi rileks.

Kaki juga dapat mengikuti gerakan serupa. Reflek Morro

biasanya ada pada saat lahir dan hilang setelah usia 3-4 bulan.

2) Reflek rooting

Reflek ini timbul karena adanya stimulasi taktil pada pipi

dan daerah mulut, bayi akan memutar kepala seakan-akan

mencari puting susu. Reflek Rooting ini berkaitan erat dengan

reflek menghisap dan dapat dilihat jika pipi atau sudut mulut

dengan pelan disentuh bayi, akan menengok secara spontan

kearah sentuhan, mulutnya akan terbuka dan mulai

menghisap. Reflek ini biasanya menghilang pada usia 7 bulan.

3) Reflek sucking

Reflek ini timbul bersama dengan reflek rooting untuk

menghisap puting susu dan menelan ASI.


4) Reflek Batuk dan Bersin

Reflek ini timbul untuk melindungi bayi dan obstruksi

pernafasan.

5) Reflek graps

Refleks yang timbul bila ibu jari diletakkan pada telapak

tangan bayi maka bayi akan menutup telapak tangannya.

Respon yang sama dapat diperoleh ketika telapak kaki digores

dekat ujung jari kaki, menyebabkan jari kaki menekuk. Ketika

jari-jari kaki diletakkan pada telapak tangan bayi, bayi akan

menggenggam erat jari-jari. Genggaman telapak tangan bayi

biasanya berlangsung sampai usia 3-4 bulan. Jari kaki akan

menekuk kebawah, reflek ini menurun pada usia 8 bulan, tapi

masih dapat dilihat sampai usia 1 tahun.

6) Reflek Walking dan Stapping

Reflek ini timbul bila bayi dalam posisi berdiri akan ada

gerakan spontan kaki melangkah kedepan walaupun bayi

tersebut belum bisa berjalan. Reflek ini kadangkadang sulit

diperoleh sebab tidak semua bayi kooperatif. Meskipun secara

terus menerus reflek ini dapat dilihat. Menginjak biasanya

berangsur-angsur menghilang pada usia 4 bulan.

7) Reflek Tonic Neck

Reflek jika bayi mengangkat leher dan menoleh kekanan

atau kekiri jika diposisikan tengkurap. Reflek ini tidak dapat

dilihat pada bayi yang berusia 1 hari, meskipun sekali reflek


ini kelihatan, reflek ini dapat diamati sampai bayi berusia 3-4

bulan.

8) Reflek Babinsky

Reflek bila ada rangsangan pada telapak kaki akan

bergerak keatas dan jari-jari lain membuka. Reflek ini

biasanya hilang setelah berusia 1 tahun.

9) Reflek Galant/ Membengkokkan Badan

Ketika bayi tengkurap goreskan pada punggung

menyebabkan pelvis membengkokkan kesamping. Jika

punggung digores dengan keras kira-kira 5 cm dari tulang

belakang dengan gerakan kebawah, bayi merespon dengan

membengkokkan badan kesisi yang digores. Refleks ini

berkurang pada usia 2-3 bulan.

10) Reflek Bauer/ Melangkah

Reflek ini terlihat pada bayi aterm dengan posisi

tengkurap, pemeriksa menekan telapak kaki. Bayi akan

merespon dengan membuat gerakan merangkak. Reflek ini

menghilang pada usia 6 minggu.

11) Intergumentary

Sistem Kulit bayi sangat sensitive terhadap infeksi oleh

karena itu penting untuk menjaga keutuhan kulit. Masuknya

mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi. Oleh karena itu

Ig A tidak ada pada saat lahir dan baru terbentuk sekitar 2

minggu setelah lahir, maka imunitas kulit dan usus berkurang.


Kelenjar keringat sudah ada pada saat lahir tapi kadang-

kadang belum berfungsi secara efisien. Verniks kaseosa yang

melindungi kulit bayi dan diproduksi oleh kelenjar sebasea

sedangkan bintik-bintik putih kecil yang dinamakan milia

sudah ada pada waktu lahir. Pengelupasan kulit hanya dimulai

beberapa hari setelah lahir, sedangkan jika kulit bayi sudah

mengelupas pada saat lahir hal ini mengidentifikasi bahwa

sudah terjadi serotinus, IUGR atau infeksi intra uterin seperti

sifilis.

7. Tanda-tanda bahaya yang harus diwaspadai pada bayi baru lahir

a. Pernafasan : sulit/ < 60 x /menit

b. Kehangatan : terlalu panas (> 38 0C atau terlalu dingin < 36 0C).

c. Warna : kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru/ pucat,

memar,

d. Pemberian makan: hisapan lemah, mengantuk berebihan, banyak

muntah.

e. Tali pusat : merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, berdarah.

f. Infeksi : suhu meningkat, merah, bengkak, keluar cairan nanah,

bau busuk, pernafasan sulit.

g. Tinja/ kemih : tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek,

sering, hijau tua, ada lender atau darah pada tinja.

h. Aktifitas : menggigil, atau tangis tidak bisa, sangat mudah

tersinggung, lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang, kejang

halus, tidak bisa tenang, menangis terus-menerus.


8. Jadwal Kunjungan Neonatus

Pelayanan kesehatan neonatus adalah pelayanan yang sesuai

dengan standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten

kepada neonatus sedikitnya 3 kali, selama periode 0-28 hari, baik di

fasilitas kesehatan maupun kunjungan rumah. Pelaksanaan

kunjungan diantaranya :

a. Kunjungan Neonatal ke-1 (KN 1) dilakukan pada kurun waktu 6-

48 jam setelah lahir,

b. Kunjungan Neonatal ke-2 (KN 2) dilakukan pada kurun waktu

hari ke-3 sampai dengan hari ke-7 setelah lahir,

c. Kunjungan Neonatal ke-3 (KN 3) dilakukan pada kurun waktu

hari ke-8 sampai dengan hari ke-28 setelah lahir (Sondakh,

2017).

9. Asuhan Bayi Baru Lahir Normal

Asuhan segera bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada

bayi baru lahir dimulai sejak proses persalinan hingga kelahiran bayi

(dalam satu jam pertama kehidupan). Dengan memegang prinsip

asuhan segera, aman, dan bersih untuk bayi baru lahir (Kumalasari,

2015). Asuhan segera yang dilakukan dengan memperhatikan aspek-

aspek berikut :

a. Selalu menjaga bayi tetap kering dan hangat

b. Usahakan kontak kulit ibu dengan bayi (skin to skin), segera

setelah melahirkan badan :


1) Secepat mungkin menilai pernafasan, serta bayi diletakkan

diatas perut ibu,

2) Dengan kain bersih dan kering membersihkan muka bayi dari

lendir dan darah untuk mencegah jalan udara terhalang.

3) Bayi sudah harus menangis/ bernafas secara spontan dalam

waktu 30 detik setelah lahir, jika bayi belum menangis

bernafas dalam waktu 30 detik, segera cari bantuan, lalu mulai

melakukan langkah-langkah resusitasi.

c. Jaga bayi tetap hangat (kontak skin to skin antara ibu dan bayi)

1) Jaga bayi tetap hangat (kontak skin to skin antara ibu dan

bayi),

2) Memastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi

tiap 15 menit :

a) Bila keadaan tubuh bayi dingin segera periksa suhu axilla

bayi,

b) Bila suhu < 36,5°C, segera untuk menghangatkannya,

d. Menilai pernafasan

Periksa pernafasan dan warna kulit bayi tiap 5 menit :

1) Bila bayi tidak segera bernafas, segera lakukan : resusitasi,

2) Bila bayi mengalami sianosis/ sukar bernafas (frekuensi nafas

< 30 atau > 60 x /menit) segera beri O2 kateter nasal.

e. Perawatan Mata

Pemberian obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1%

untuk mencegah penyakit mata kerena klamidia (penyakit


menular seksual yang dapat menginfeksi mata bayi), salep

diberikan pada jam pertama setelah kelahiran.

f. Asuhan Bayi Baru Lahir

Dalam waktu 24 jam, tindakan penanganan yang dilakukan yaitu:

1) Melanjutkan pengamatan pernafasan, warna kulit dan aktifitas

bayi,

2) Pertahankan suhu bayi tetap normal (36,5-37,5°C),

3) Hindari memandikan bayi hingga sedikitnya 6 jam,

4) Bungkus bayi dengan kain kering dan hangat, kepala tertutup.

Tabel 2.1
Penilaian APGAR score bayi baru lahir
Tanda SKOR
0 1 2
Appearance Biru, Pucat Tubuh Seluruh
(Warna Kulit) kemerahan, tubuh
Ekstremitas kemerahan
biru

Pulse (Deyut Tak ada Kurang dari Lebih dari


Jantung) 100 x/menit 100 x/menit

Grimace Tak ada Meringis Batuk, bersin


(Refleks
terhadap
rangsangan)

Activty ( Tonus Lemah Fleks pada Gerakan


otot ekstremitas aktif

Respiration Tak ada Tak teratur Menangis


(upaya Bak
bernafas)

Sumber : Arfiana dan Lusiana, 2016


Interpretasi :

Nilai 1-3 asfiksia berat,

Nilai 4-6 asfiksia sedang,

Nilai7-10 asfiksia ringan

Hasil nilai APGAR skor dinilai setiap variabel dinilai

dengan 0, 1, dan 2 nilai tertinggi adalah 10, selanjutnya dapat

ditentukan keadaan bayi sebagai berikut :

1) Nilai 7-10 menunjukkan bahwa bayi dalam keadaan baik,

2) Nilai 4-6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang dan

membutuhkan tindakan resusitasi,

3) Nilai 0-3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius dan

membutuhkan resusitasi segera sampai ventilasi (Arfiana dan

Lusiana, 2016).

g. Pemeriksaan fisik

1) Menggunakan tempat yang hangat dan bersih untuk

pemeriksaan,

2) Cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan, gunakan

sarung tangan dan bertindak lembut,


3) Melakukan inspeksi (lihat), auskultasi (dengar) dan palpasi

(raba/ rasakan tiap-tiap) daerah dari kepala sampai dengan

kaki, bila ada masalah segera cari bantuan dan rekam hasil

pemeriksaan.

h. Beri vitamin K

Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi

vitamin K pada bayi baru lahir. Bayi baru lahir normal dan cukup

bulan perlu diberikan vitamin K per oral 1 mg/ hari selama 3

hari. Bayi risiko tinggi diberi vitamin K parenteral dosis 0,5-1

mg IM.

i. Perawatan lain

1) Perawatan tali pusat, dengan memastikan tali pusat dalam

keadaan kering,

2) Dalam waktu 24 jam bila ibu dan bayi belum pulang, beri

imunisasi BCG, Polio dan Hepatitis B.

3) Ajarkan cara perawatan bayi, seperti :

a) Memberikan ASI sesuai kebutuhan tiap 2-3 jam (4 Jam),

sesring mungkin,

b) Pertahankan bayi tetap bersama ibu,

c) Jaga bayi agar tetap bersih, hangat dan kering,

d) Jaga tali pusat dalam keadaan bersih dan kering,

e) Pegang, sayangi dan nikmati kehidupan bersama bayi.


f) Pastikan bayi tetap hangat dan jangan mandikan bayi

hingga 24 jam setelah persalinan. Jaga kontak kulit antara

ibu dan bayi serta tutupi kepala bayi dengan topi.

4) Tanyakan pada ibu dan atau keluarga tentang masalah

kesehatan pada ibu :

a) Keluhan tentang bayinya

b) Penyakit ibu yang mungkin berdampak pada bayi (TBC,

demam saat persalinan, KPD > 18 jam, hepatitis B atau

C, siphilis, HIV/ AIDS, penggunaan obat).

c) Cara, waktu, tempat bersalin dan tindakan yang diberikan

pada bayi jika ada.

d) Warna air ketuban

e) Riwayat bayi buang air kecil dan besar

f) Frekuensi bayi menyusu dan kemampuan menghisap

5) Lakukan pemeriksaan fisik dengan prinsip sebagai berikut :

a) Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan bayi tenang (tidak

menangis),

b) Pemeriksaan tidak harus berurutan, dahulukan menilai

pernapasan dan tarikan dinding dada bawah, denyut

jantung serta perut.

D. Masa Nifas

1. Pengertian masa nifas


Nifas adalah darah yang keluar dari rahim yang disebabkan

melahirkan atau setelah melahirkan, selama masa nifas seorang

perempuan dilarang untuk shalat, puasa dan berhubungan intim

dengan suaminya. Masa nifas (puerperium) adalah masa yang

dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat

kandungan kembali seperti semula (sebelum hamil). Masa nifas

berlangsung selama kira-kira 6 minggu. Selama masa pemulihan

tersebut berlangsung, ibu akan mengalami banyak perubahan, baik

secara fisik maupun psikologis (Satukhimalayah dan Indrawati,

2013).

Postpartum merupakan periode waktu atau masa dimana organ-

organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil membutuhkan

waktu sekitar 6 minggu (Kirana, 2015). Masa nifas /puerperium yaitu

masa sesudah persalinan, masa perubahan, pemulihan, penyembuhan,

dan pengembalian alat-alat kandungan/reproduksi, seperti sebelum

hamil yang lamanya 6 minggu atau 40 hari pasca persalinan

(Aprilianti, 2016). Periode post partum adalah periode yang dimulai

segera setelah kelahiran anak dan berlanjut selama sekitar 6- 8

minggu setelah melahirkan dimana ibu kembali kekeadaan semula

sebelum hamil (Alkinlabil, et al, 2013).

2. Tahapan Masa Nifas

Tahapan masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan yaitu :

a. Puerperium Dini
Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri

dan berjalan-jalan.

b. Puerperium Intermedial

Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi

selama kureang lebih enam minggu.

c. Remote Puerperium

Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dalam

keadaan sempurna terutama bila ibu selama hamil atau waktu

persalinan mengalami komplikasi.

3. Perubahan Fisiologis Pada Masa Nifas

Beberapa perubahan fisiologis yang terjadi pada masa nifas

diantaranya :

a. Perubahan Sistem Reproduksi

1) Involusi uterus

Involusi atau pengerutan uterus merupakan suatu proses

yakni uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat

dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera

setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus.

(Kumalasari, 2015). Involusi uterus melibatkan reorganisasi

dan penanggalan desidua/ endometrium dan pengelupasan

lapisan pada tempat implantasi plasenta sebagai tanda

penurunan ukuran dan berat serta perubahan tempat uterus,

warna, dan jumlah lochia. Proses involusi uterus ini

diantaranya :
a) Iskemia Miometrium.

Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus

menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta

sehingga membuat uterus menjadi relatif anemi dan

menyebabkan serat oto atrofi.

b) Atrofi Jaringan

Terjadi sebagai reaksi penghentian hormon

esterogen saat pelepasan plasenta.

c) Autolysis.

Proses penghancura diri sendiri yang terjadi

didalam otot uterus. Enzim proteolitik akan

memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga

panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5

kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan

Yang disebabkan karena penurunan hormon esterogen

dan progesteron.

d) Efek Oksitosin.

Menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi

otot uterus sehingga akan menekan pembuluh darah yang

mengakibatkan kerangnya suplai darah ke uterus. Proses

ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat

implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. Segera

setelah kelahiran, uterus harus berkontraksi secara baik

dengan fundus sekitar 4 cm dibawah umbilikus atau 12


cm diatas simfisis pubis. Dalam 2 minggu, uterus tidak

lagi dapat dipalpasi diatas simfisis (Holmes dan Philip,

2011).

Tabel 2.2
Perubahan Uterus pada Masa Nifas
No Waktu Tinggi Berat Uterus Diameter Palpasi
involusi Fundus Uterus Serviks
Uteri

1. Bayi lahir Setinggi 1000 12,5 Lunak


pusat gram cm

2. Plasenta 2 jari 750 12,5 Lunak


lahir dibawah gram cm
pusat

3. 1 minggu Pertengahan 500 7,5 2 cm


pusat sampai gram cm
simfisis

4. 2 minggu Tidak teraba 300 5 1 cm


diatas gram cm
simfisis

5. 6 minggu Bertambah 600 2,5 Menyempit


kecil gram cm

Sumber : (Kumalasari, 2015)

Involusi uterus dari luar dapat diamati dengan memeriksa

fundus uteri dengan cara sebagai berikut :

a) Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2 cm

dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1 cm diatas

pusat dan menurun kira-kira 1 cm setiap hari,


b) Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1

cm di bawah pusat. Pada hari ke- 3-4 tinggi fundus yteri 2

cm dibawah pusat,

c) Pada hari ke- 5-7 tinggi fundus uteri setengah pusat

simfisis. Pada hari ke-10 tinggi fundus uteri tidak teraba

(Kumalasari, 2015).

Bila uterus tidak mengalami atau terjadi kegagalan dalam

proses involusi disebut dengan subinvolusi. Subinvolusi

disebabkan oleh infeksi dan tertinggalnya sisa plasenta/

perdarahan lanjut (postpartum haemorrhage). Selain itu,

beberapa faktor lain yang menyebabkan kelambatan uetrus

berinvolusi diantaranya :

a) Kandung kemih penuh,

b) Rektum berisi,

c) Infeksi uterus,

d) Retensi hasil konsepsi,

e) Fibroid,

f) Hematoma ligamentum latum uteri (Holmes dan Philip,

2011).

2) Perubahan Ligamen

Ligamen-ligamen dan diagfragma pelvis serta fasia yang

merenggang sewaktu kehamilan dan partus, serta jalan lahir,

berangsur-angsur menciut kembali seperti sediakala.

Perubahan ligamen yang dapat terjadi pasca melahirkan


diantaranya: Ligamentum rotundum menjadi kendor yang

mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi sehingga

ligamen, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak

kendor.

3) Perubahan Serviks

Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek,

kendor, terkulai dan berbentuk seperti corong. Hal ini

disebabkan korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks tidak

berkontraksi, sehingga perbatasan antara korpus dan serviks

berbentuk seperti cincin. Warna serviks sendiri merah

kehitam-hitaman karena pembuluh darah. Konsistensinya

lunak, kadang-kadang terdapat laserasi/ perlukaan kecil. Oleh

karena robekan kecil yang terjadi di daerah ostium eksternum

selama dilatasi, serviks serviks tidak dapat kembali seperti

sebelum hamil. (Kumalasari, 2015).

4) Lokia (Lochea)

Akibat involusi uteri, lapisan luar desidua yang

mengelilingi situs plasenta akan menjadi nekrotik. Desidua

yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan.

Pencampuran antara darah dan desidua inilah yang dinamakan

lokia. Menurut Kemenkes RI (2013), definisi lochea adalah

ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea mengandung

darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam

uterus. Pemeriksaan lochea meliputi perubahan warna dan bau


kerana lochea memiliki ciri khas berbau amis atau khas darah

dan adanya bau busuk menandakan adanya infeksi. Jumlah

total pengeluaran seluruh periode lochea ratarata 240-270 ml.

Lochea dibagi menjadi 4 tahapan yaitu:

a) Lochea Rubra/ Merah (Cruenta

Lochea ini muncul pada hari ke-1 sampai hari ke-3

masa postpartum. Cairan yang keluar berwarna merah

karena berisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta,

dinding rahim, lemak bayi, lanugo, dan mekonium.

b) Lochea Sanguinolenta

Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan

dan berlendir. Berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-

7 postpartum.

c) Lochea Serosa

Lochea ini bewarna kuning kecoklatan karena

mengandung serum, leukosit, dan robekan/ laserasi

plasenta. Muncul pada hari ke-8 sampai hari ke-14

postpartum.

d) Lochea Alba/ Putih

Mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel,

selaput lendir servik, dan serabut jaringan yang mati.

Lochea alba bisa berlangsung selama 2 sampai 6 minggu

postpartum. Biasanya wanita mengeluarkan sedikit

lochea saat berbaring dan mengeluarkan darah lebih


banyak saat berdiri/ bangkit dari tempat tidur. Hal ini

terjadi akibat penggumpalan daran forniks vagina atau

saat wanita mengalami posisi rekumben.

Variasi dalam durasi aliran lochea sangat umum

terjadi, namun warna aliran lochea cenderung semakin

terang, yaitu berubah dari merah segar menjadi merah tua

kemudian cokelat, dan merah muda. Aliran lochea yang

tiba-tiba kembali berwarna merah segar bukan merupakan

temuan normal dan memerlukan evaluasi. Penyebabnya

meliputi aktifitas fisik berlebihan, bagian plasenta atau

selaput janin yang tertinggal dan atonia uterus.

Tabel 2.3
Perbedaan Lokia Pada Masa Nifas

No Lochea Waktu Warna Ciri-ciri


1. Rubra 1-3 hari Merah, Terdiri dari sel desidua,
kehitaman verniks caseosa,
rambut lanugo, sisa
mekonium, dan sisa
darah

2. Sanguilenta 3-7 hari Putih Sisa darah bercampur


bercampur lendir
merah
3. Serosa 7-14 Hari Kekuningan/ Lebih sedikit darah dan
kecoklatan lebih banyak serum,
juga terdiri dari
leukosit dan robekan
laserasi plasenta
4. Alba >14 Hari Putih Mengandung leukosit,
selaput lendir serviks
dan serabut jaringan
yang mati
Sumber: (Kumalasari, 2015)

5) Perubahan Vulva, Vagina dan Perineum


Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan

yang sangat besar selama proses persalinan dan akan kembali

secara bertahap selama 6-8 minggu postpartum. Penurunan

hormon estrogen pada masa postpartum berperan dalam

penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Rugae akan

terlihat kembali pada sekitar minggu ke-4. Perineum setelah

persalinan, mengalami pengenduran karena teregang oleh

tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pulihnya tonus otot

perineum terjadi sekitar 5-6 mingu postpartum. Latihan senam

nifas baik untuk mempertahankan elastisitas otot perineum

dan organ-organ reproduksi lainnya. Luka episiotomi akan

sembuh dalam 7 hari postpartum. Bila teraji infeksi, luka

episiotomi akan terasa nyeri, panas, merah dan bengkak

(Aprilianti, 2016).

b. Perubahan Sistem Pencernaan

Pasca melahirkan, kadar progesteron menurun, namun

faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal,

sehingga hal ini akan mempengaruhi pola nafsu makan ibu.

Biasanya ibu akan mengalami obstipasi (konstipasi) pasca

persalinan. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat

pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan kolon menjadi

kosong, pengeluaran cairan pada waktu persalinan (dehidrasi),

hemoroid, dan laserasi jalan lahir.

c. Perubahan Sistem Perkemihan


Terkadang ibu mengalami sulit buang air kecil karena

tertekannya spingter uretra oleh kepala janin dan spasme (kejang

otot) oleh iritasi muskulus spingter ani selama proses persalinan,

atau karena edema kandung kemih selama persalinan. Saat hamil,

perubahan sistem hormonal yaitu kadar steroid mengalami

peningkatan. Namun setelah melahirkan kadarnya menurun

sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Umumnya urin

banyak dikeluarkan dalam waktu 12-36 jam pascapersalinan.

Fungsi ginjal ini akan kembali normal selang waktu satu bulan

pasca persalinan.

d. Perubahan Sistem Muskuloskeletal

Perubahan ini terjadi pada saat umur kehamilan semakin

bertambah. Adaptasi muskuloskeletal mencakup peningkatan

berat badan, bergesernya pusat akibat pembesaran rahim,

relaksasi dan mobilitas. Namun, pada saat postpartum sistem

muskuloskeletal akan berangsur-angsur pulih dan normal

Kembali Ambulasi dini dilakukan segera pascapersalinan, untuk

membantu mencegah komplikasi dan mempercepat involusi

uteri.

e. Perubahan Sistem Endokrin

Hormon-hormon yang berperan terkait perubahan sistem

endokrin diantaranya:

a) Hormon Plasenta
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) mengalami

penurunan sejak plasenta lepas dari dinding uterus dan lahir,

dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7

postpartum. Hormon ini akan kembali normal setelah hari

ke7.

b) Hormon Pituitary

Hormon pituitary diantaranya: Prolaktin, FSH dan LH.

Hormon prolaktin berperan dalam pembesaran payudara

untuk merangsang produksi ASI. Pada wanita yang menyusui

bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi. FSH dan LH meningkat

pada minggu ke-3 (fase konsentrasi folikuler) dan LH akan

turun dan tetap rendah hingga menjelang ovulasi.

c) Hormon Oksitosin

Hormon oksitosin disekresi oleh kelenjar otak belakang

(Glandula Pituitary Posterior) yang bekerja terhadap otot

uterus dan jaringan payudara. Hormon ini berperan dalam

pelepasan plasenta, dan mempertahankan kontraksi untuk

mencegah perdarahan saat persalinan berlangsung. Selain itu,

isapan bayi saat menyusu pada ibunya juga dapat merangsang

produksi ASI lebih banyak dan sekresi oksitosin yang tinggi,

sehingga mempercepat proses involusi uteri.

d) Hipotalamik Pituitary Ovarium

Hormon ini mempengaruhi proses menstruasi pada wanita

yang menyusui ataupun tidak menyusui. Wanita yang


menyusui mendapatkan menstruasi pada 6 minggu pasca

melahirkan kisaran 16% dan 45% setelah 12 minggu pasca

melahirkan. Sedangkan wanita yang tidak menyusui,

mendapatkan menstruasi kisaran 40% setelah 6 minggu pasca

melahirkan dan 90% setelah 24 minggu.

e) Hormon Estrogen dan Progesteron

Estrogen yang tinggi akan memperbesar hormon anti

diuretik yang dapat meningkatkan volume darah. Sedangkan

progesteron akan mempengaruhi perangsangan dan

peningkatan pembuluh darah. Hal ini mempengaruhi saluran

kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum,

vulva dan vagina.

f. Perubahan Sistem Kardivaskuler

Cardiac Output meningkat selama persalinan dan

berlanjut setelah kala III saat besar volume darah dari uterus

terjepit di dalam sirkulasi. Namun mengalami penurunan setelah

hari pertama masa nifas dan normal kembali diakhir minggu ke-

3. Penurunan ini terjadi karena darah lebih banyak mengalir ke

payudara untuk persiapan laktasi. Hal ini membuat darah lebih

mampu melakukan koagulasi dengan peningkatan viskositas

yang dapat meningkatkan risiko thrombosis.

g. Perubahan Tanda-Tanda Vital Pada Masa Nifas

Perubahan tanda-tanda vital pada masa nifas diantanya:

1) Suhu.
Suhu badan pasca persalinan dapat naik lebih dari 0,5°C

dari keadaan normal, namun tidak lebih dari 39°C setelah 2

jam pertama melahirkan, umumnya suhu badan kembali

normal. Bila lebih dari 38°C waspadai ada infeksi.

2) Nadi

Umumnya nadi normal 60-80 denyut per menit dan segera

setelah partus dapat terjadi bradiikardi (penurunan denyut

nadi). Bila terdapat takikardi (peningkatan denyut jantung)

diatas 100 kali permenit perlu diwaspadai terjadi infeksi atau

perdarahan postpartum berlebihan.

3) Tekanan darah

Tekanan darah normalnya sistolik 90-12- mmHG dan

diastolik 60-80 mmHG. Tekanan darah biasanya tidak

berubah biasanya akan lebih rendah setelah melahirkan karena

ada perdarahan atau ayang lainnya. Tekanan darah akan tinggi

apabila terjadi pre-eklampsi.

4) Pernapasan.

Frekuensi normal pernapasan orang dewasa yaitu 16-24

kali per menit. Pada ibu postpartum umumnya lambat/ normal

dikarenakan masih dalam fase pemulihan. Keadaan

pernapasan selalu berhubungan dengan suhu dan denyut nadi.

Bila suhu dan nadi tidak normal, pernapasan juga akan

mengikutinya kecuali apabila ada gangguan khusus pada

saluran cerna.
h. Perubahan Hematologi

Pada awal postpartum, jumlah hemoglobin, hematokrit,

dan eritrosit bervariasi, hal ini dikarenakan tingkat volume darah

dan volume darah yang berubah-ubah. Penurunan volume dan

peningkatan sel darah merah pada kehamilan diasosiasikan

dengan peningkatan hematokrit dan hemaglobin pada hari ke-3

hingga ke-7 postpartum dan normal kembali pada minggu ke-4

hingga ke-5 postpartum. Jumlah kehilangan darah selama masa

persalinan kurang lebih 200-500 ml, minggu pertama postpartum

berkisar 500- 800 ml dan selama sisa masa nifas berkisar 500 ml.

4. Adaptasi Psikologis Ibu Masa Nifas

Tahapan adaptasi psokologis masa nifas yaitu:

a. Periode Taking In (hari ke 1-2 setelah melahirkan)

1) Ibu masih pasif dan tergantung dengan orang lain.

2) Perhatian ibu tertuju pada kekhawatiran perubahan tubuhnya.

3) Ibu akan mengulangi pengalaman-pengalaman waktu

melahirkan,

4) Memerlukan ketenangan dalam tidur untuk mengembalikan

keadaan. tubuh ke kondisi normal.

5) Nafsu makan ibu biasanya bertambah sehingga membutuhkan

peningkatan nutrisi. Kurangnya nafsu makan menandakan

proses pengembalian kondisi tubuh tidak berlangsung normal.

b. Periode Taking On/ Taking Hold (hari ke 2-4 setelah melahirkan)


1) Ibu memperhatikan kemampuan menjadi orang tua dan

meningkatkan tanggung jawab akan bayinya,

2) Ibu memfokuskan perhatian pada pengontrolan fungsi tubuh,

BAK, BAB, dan daya tahan tubuhnya,

3) Ibu berusaha untuk menguasai keterampilan merawat bayi

seperti menggendong, menyusui, memandikan, dan mengganti

popok,

4) Ibu cenderung terbuka menerima nasehat bidan.

5) Kemungkinan ibu mengalami depresi postpartum karena

merasa tidak mampu membesarkan bayinya.

c. Periode Letting Go (berlangsung 10 hari setelah melahirkan).

1) Terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan dipengaruhi oleh

dukungan serta perhatian keluarga.

2) Ibu sudah mengambil tanggung jawab dalam merawat bayi

dan memahami kebutuhan bayi sehingga akan mengurangi

hak ibu dalam kebebasan dan hubungan sosial.

3) Deprsei postpartum sering terjadi pada masa ini (Pitriani,

2014).

5. Kebutuhan dasar pada masa nifas

a. Nutrisi dan Cairan

Selama masa nifas, diet sehat sangat dianjurkan pada ibu

setelah melahirkan untuk mempercepat proses penyembuhan dan

peningkatan kualitas produksi ASI. Diet yang dilakukan tentunya

harus bermutu dengan nutrisi yang cukup, gizi seimbang,


terutama kebutuhan protein dan karbohidrat serta banyak

mengandung cairan dan serat untk mencegah konstipasi.

Beberapa asupan yang dibutuhkan ibu pada masa nifas

diantaranya:

1) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari (3-4 porsi setiap

hari).

2) Ibu dianjurkan minum sedikitnya 3 liter per hari, untuk

mencukupi kebutuhan cairan supaya tidak cepat dehidrasi.

3) Rutin mengkonsumsi pil zat besi setidaknya selama 40 hari

pascapersalinan.

4) Serta tidak dianjurkan mengkonsumsi makanan yang

mengandung kafein/ nikotin.

5) Minum kapsul vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali yaitu

satu kali setelah melahirkan dan yang kedua diberikan setelah

24 jam selang pemberian kapsul vitamin A pertama.

Pemberian kapsul vitamin A 2 kali dapat menambah

kandungan vitamin A dalam ASI sampai bayi berusia 6 bulan,

dibandingkan pemberian 1 kapsul hanya cukup meningkatkan

kandungan sampai 60 hari.

b. Ambulasi

Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan

agar secepat mungkin bidan membimbing ibu postpartum bangun

dari tempat tidurnya dan membimbing ibu untuk berjalan. Early

ambulation tidak diperbolehkan pada ibu postpartum dengan


penyulit misalnya anemia, penyakit jantung, paru-paru, demam,

dan sebagainya (Kemenkes RI, 2013). Pada ibu dengan

postpartum normal ambulasi dini dilakukan paling tidak 6-12 jam

postpartum, sedangkan pada ibu dengan partus sectio caesarea

ambulasi dini dilakukan paling tidak setelah 12 jam postpartum

setelah ibu sebelumnya beristirahat/ tidur.

Tahapan ambulasi ini dimulai dengan miring kiri/kanan

terlebih dahulu, kemudian duduk. Lalu apabila ibu sudah cukup

kuat berdiri maka ibu dianjurkan untuk berjalan). Beberapa

manfaat ambulasi dini diantaranya:

1) Membuat ibu merasa lebih baik, sehat dan lebih kuat.

2) Mempercepat proses pemulihan fungsi usus, sirkulasi,

jaringan otot, pembuluh vena, paru-paru dan sistem

perkemihan.

3) Mempermudah dalam mengajarkan ibu cara melakukan

perawatan pada bayinya,

4) Mencegah terjadinya trombosis akibat pembekuan darah.

c. Eliminasi

1) Buang Air Kecil (BAK)

Biasanya dalam waktu 6 jam postpartum ibu sudah dapat

melakukan BAK secara spontan. Miksi normal terjadi setiap

3-4 jam postpartum. Namun apabila dalam waktu 8 jam ibu

belum dapat berkemih sama sekali, maka kateterisasi dapat

dilakukan apabila kandung kemih penuh dan ibu sulit


berkemih. Kesulitan BAK antara lain disebabkan spingter

uretra yang tertekan oleh kepala janin dan kejang otot

(spasmus) oleh iritasi muskulo spingter ani selama persalinan,

atau adanya edema kandung kemih selama persalinan.

2) Buang Air Besar (BAB)

Ibu postpartum diharapkan sudah dapat buang air besar

setelah hari ke-2 postpartum. Jika pada hari ke-3 ibu belum

bisa BAB, maka penggunaan obat pencahar berbentuk

supositoria sebagai pelunak tinja dapat diaplikasikan melalui

per oral atau per rektal. Kesulitan BAB (konstipasi) pada ibu

antara lain disebabkan selain perineum yang sakit juga takut

luka jahitan perineum terbuka, adanya hemoroid atau

obatobatan analgesik selama proses persalinan. Kesulitan

BAB ini dapat diatasi dengan melakukan mobilisasi dini,

konsumsi makanan tinggi serat, mencukupi kebutuhan asupan

cairan dapat membantu memperlancar BAB ibu dengan baik.

d. Kebersihan Diri (Personal Hygiene)

Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi

dan meningkatkan perasaan nyaman ibu. Beberapa langkah yang

dapat dilakukan ibu postpartum dalam menjaga kebersihan

dirinya antara lain:

1) Pastikan kebersihan tubuh ibu tetap terjaga dengan cara mandi

lebih sering (2 kali/ hari) dan menjaga kulit tetap kering untuk

mencegah infeksi dan alergi dan penyebarannya ke kulit bayi.


2) Membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air, yaitu

dari arah depan ke belakang, setelah itu anus. Mengganti

pembalut minimal 2 kali sehari. Menganjurkan ibu mencuci

tangan dengan sabun dan air setiap sebelum dan selesai

membersihkan daerah kemaluan. Jika ibu mempunyai luka

episiotomy, ibu dianjurkan untuk tidak menyentuh daerah

luka agar terhindar dari infeksi sekunder.

3) Melakukan perawatan payudara secara teratur, yaitu dimulai

1-2 hari setelah bayi dilahirkan dan rutin membersihkanya

setiap 2 kali sehari.

4) Mengganti pakaian dan alas tempat tidur. Ibu dianjurkan

memakai pakaian yang longgar dan mudah menyerap

keringat, sehingga daerah seperti payudara tidak terasa

tertekan dan kering. Serta pada daerah lipatan paha, dengan

penggunaan pakaian dalam yang longgar tidak menyebabkan

iritasi kulit disekitar selangkangan akibat lokia.

5) Jika ibu mengalami kerontokan rambut akibat adanya

perubahan hormon, ibu dianjurkan menggunakan pembersih

rambut/ kondisioner secukupnya, dan menyisir rambut dengan

sisir yang lembut.

e. Istirahat dan Tidur

Selama proses pemulihan kondisi fisik dan psikologis ibu

pada masa nifas kebutuhan istirahat ibu harus tercukupi. Ibu

dapat beristirahat dengan tidur siang selagi bayi tidur, atau


melakukan kegiatan kecil dirumah seperti menyapu dengan

perlahan-lahan. Jika ibu kurang istirahat maka dampak yang

terjadi seperti jumlah produksi ASI berkurang, memperlambat

proses involusi uteri, serta meyebabkan depresi dan

ketidakmampuan ibu dalam merawat bayinya.

f. Aktivitas Seksual

Ibu dapat melakukan aktvitas seksual dengan suami ibu

kapan saja, selama ibu sudah siap, secara fisik aman dan tidak

merasakan nyeri daerah genetalia.

g. Senam nifas

Senam nifas adalah senam yang dilakukan oleh ibu

setelah persalinan, setelah keadaan ibu normal (pulih kembali).

Senam nifas merupakan latihan yang tepat untuk memulihkan

kondisi tubuh ibu dan keadaan ibu secara fisiologis maupun

psikologis. Senam nifas dapat dilakukan saat ibu merasa benar-

benar pulih dan tidak ada komplikasi atau penyulit selama masa

nifas. Selain memulihkan kondisi tubuh ibu senam nifas dapat

mempercepat proses involusi uteri dan mengembalikan elastisitas

otot-otot dan jaringan yang merenggang waktu persalinan.

6. Tanda Bahaya Masa Nifas

Setelah ibu melahirkan, selanjutnya ibu memasuki tahap masa

nifas atau lazim disebut puerperium. Masa nifas dimulai 1 jam

setelah plasenta lahir hingga 6 minggu (42 hari) setelahnya. Asuhan

masa nifas sangat diperlukan karena masa nifas merupakan masa


kritis yang memungkinkan untuk terjadinya masalah-masalah yang

berakibat fatal karena dapat menyebabkan kematian ibu. Oleh karena

itu perhatian penuh dari bidan sangat diperlukan salah satunya

dengan memberikan asuhan kebidanan berkesinambungan yang

berkualitas secara optimal. Dampak yang terjadi jika cakupan

pelayanan yang diberikan rendah, dapat menyebabkan permasalahan

pada ibu nifas seperti perdarahan post partum, infeksi saat masa

nifas, dan masalah obstetri lainya pada masa nifas (Wahyuni dkk.,

2014). Tanda bahaya masa nifas yang perlu diwaspadai oleh ibu

diantaranya:

a. Perdarahan Pascasalin

Perdarahan pasca persalinan yaitu perdarahan pervaginam yang

melebihi 500 ml setelah bayi lahir. Perdarahan pascasalin

menurut Kemenkes RI (2013) dibagi menjadi 2, yaitu:

1) Perdarahan pascasalin primer (Early Postpartum

Haemorrhage), yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam

pertama paska persalinan segera. Penyebab perdarahan ini

diantaranya atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta yang

tertinggal, dan robekan jalan lahir.

2) Perdarahan pascasalin sekunder (Late Postpartum

Haemorrhage), yaitu perdarahan yang terjadi setelah 24 jam

pertama pasca persalinan. Penyebab utama perdarahan ini

diantaranya robekan jalan lahir, sisa plasenta yeng tertinggal

atau membran. Sakit kepala yang hebat. Pembengkakan di


wajah, tangan dan kaki. payudara yang berubah merah, panas

dan terasa sakit. Ibu yang dietnya buruk, kurang istirahat dan

anemia mudah mengalami infeksi.

b. Infeksi Masa Nifas

Bakteri dapat menjadi salah satu penyebab infeksi setelah

persalinan. Selain kurang menjaga kebersihan dan perawatan

masa nifas yang kurang tepat, faktor lain yang memicu seperti

adanya luka bekas pelepasan plasenta, laserasi pada saluran

genetalia termasuk episiotomi pada perineum ataupun dinding

vagina dan serviks. Gejala umum yang dapat terjadi:

1) Temperatur suhu meningkat > 38°C,

2) Ibu mengalami peningkatan pernapasan (takikardi) dan

penurunan pernapasan (bradikardi) secara drastis, serta

tekanan darah yang tidak teratur, 3) Ibu terlihat lemah,

gelisah, sakit kepala dan kondisi terburuknya ibu tidak sadar/

koma,

3) Proses involusi uteri terganggu,

4) Lokia yang keluar berbau dan bernanah.

c. Demam, Muntah dan Nyeri Saat Berkemih

Pada masa nifas ini ibu cenderung mengalami

peningkatan suhu badan dan nyeri saat berkemih. Nyeri ini

disebabkan oleh luka bekas episiotomi, atau laserasi periuretra

yang menyebabkan ketidaknyamanan pada ibu. Demam dengan

suhu > 38°C mengindikasikan adanya infeksi, serta terjadinya


diuresis dan overdistensi dapat menyebabkan infeksi pada

saluran kemih.

d. Kehilangan Nafsu Makan dalam Waktu yang Lama.

Selepas persalinan ibu akan mengalami kelelahan yang

amat berat, karena tenaga ibu banyak terkuras saat menjalani

proses persalinannya. Karena kelelahan ini akhirnya berdampak

pada nafsu makan ibu yang menurun. Pada masa ini dukungan

keluarga sangat diperlukan dalam membantu ibu untuk tetap

makan dan mencukupi kebutuhan nutrisinya dengan baik.

e. Payudara Berubah Kemerahan, Panas, dan Terasa Sakit

Jika ASI ibu tidak disusukan pada bayinya maka dapat

menyebabkan terjadi bendungan ASI, payudara memerah, panas,

dan terasa sakit yang berlanjut pada mastitis, atau terjadi radang

(peradangan pada payudara).

f. Pembengkakan pada Wajah dan Ekstremitas

Waspadai preeklamsi yang timbul dengan tanda-tanda:

1) Tekanan darah ibu tinggi,

2) Terdapat oedem/ pembengkkan di wajah dan ekstrem.

3) Pada pemeriksaan urine ditemukan protein urine.

7. Asuhan Ibu pada Masa Nifas Normal

Asuhan kebidanan masa nifas adalah pentalaksanaan asuhan yang

diberikan pada pasien mulai dari saat setelah lahirnya bayi sampai

dengan kembalinya tubuh dalam keadaan seperti sebelum hamil atau

mendekati sebelum hamil (Aprilianti, 2016). Asuhan masa nifas


sangat diperlukan pada periode ini karena merupakan masa kritis

baik ibu maupun bayinya. Sehingga diperkirakan bahwa 60%

kematian ibu akibat kehamilan yang yang terjadi setelah persalinan

dan 50% kematian masa nifas yang terjadi dalam 24 jam pertama

(Kumalasari, 2015).

Asuhan pelayanan masa nifas yang berkualitas mengacu pada

pelayanan sesuai standar kebidanan, sehingga permasalahan yang

terjadi pada masa ibu nifas dapat diminimalkan atau bahkan tidak

terjadi sama sekali. Asuhan masa nifas memiliki beberapa tujuan

diantaranya:

a. Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun pikologinya.

b. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,

mengobati/ merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan

bayinya,

c. Memberikan pendidikan kesehatan, tentang perawatan kesehatan

diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi, dan perawatan

bayi sehat,

d. Serta memberikan pelayanan keluarga berencana (Kumalasari,

2015).

Kebijakan program nasional masa nifas yaitu paling sedikit

empat kali kunjungan pada nifas dalam rangka menilai status ibu dan

bayi baru lahir, mencegah, mendeteksi dan mengurangi masalah-

masalah yang terjadi pada masa nifas, diantaranya:

a. Kunjungan I (6 - 48 jam postpartum)


Asuhan yang diberikan antara lain:

1) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri,

2) Memantau keadaan umum ibu untuk memastikan tidak terjadi

tanda-tanda infeksi,

3) Melakukan hubungan antara bayi dan ibu (bounding

attachment),

4) Membimbing pemberian ASI lebih awal (ASI ekslusif).

b. Kunjungan II (4 hari - 28 hari)

Asuhan yang diberikan antara lain:

1) Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal, uterus

berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah

umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal,

2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan

abnormal,

3) Memastikan ibu mendapat cukup makan, cairan dan istirahat.

4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak

memperlihatkan tanda-tanda penyulit,

5) Memberikan konseling pada ibu, mengenal asuhan pada bayi,

tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan perawatan bayi

sehari-hari.

c. Kunjungan III (29 hari - 42 hari)

Asuhan yang diberikan antara lain:

1) Menanyakan kesulitan-kesulitan yang dialami ibu selama

masa nifas,
2) Memberikan konseling KB secara dini, imunisasi, senam

nifas, dan tanda-tanda bahaya yang dialami oleh ibu dan bayi

(Kumalasari, 2015).

Anda mungkin juga menyukai