0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan41 halaman

Rencana Keselamatan Konstruksi SDN 005

Dokumen ini adalah Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) untuk proyek rehabilitasi ruang kelas di SDN 005 Lubuk Baja, yang mencakup komitmen terhadap keselamatan kerja dan kesehatan (K3) serta perencanaan dan pengendalian risiko. CV. Cipta Kajima berkomitmen untuk mencapai Zero Accident dengan menerapkan standar K3 dan melibatkan partisipasi aktif pekerja. RKK ini juga mencantumkan peraturan perundang-undangan yang harus dipatuhi selama pelaksanaan proyek.

Diunggah oleh

ade kim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan41 halaman

Rencana Keselamatan Konstruksi SDN 005

Dokumen ini adalah Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) untuk proyek rehabilitasi ruang kelas di SDN 005 Lubuk Baja, yang mencakup komitmen terhadap keselamatan kerja dan kesehatan (K3) serta perencanaan dan pengendalian risiko. CV. Cipta Kajima berkomitmen untuk mencapai Zero Accident dengan menerapkan standar K3 dan melibatkan partisipasi aktif pekerja. RKK ini juga mencantumkan peraturan perundang-undangan yang harus dipatuhi selama pelaksanaan proyek.

Diunggah oleh

ade kim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RKK

KELOMPOK KERJA PEMILIHAN: POKJA 4


Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat Daerah Kota Batam

NAMA PAKET

Rehabilitasi ruang kelas dengan tingkat kerusakan minimal sedang


beserta perabotnya SDN 005 Lubuk Baja (DAK SD 2023)

TAHUN ANGGARAN 2023

RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)


PAKET PEKERJAAN : Rehabilitasi ruang kelas dengan tingkat kerusakan
minimal sedang beserta perabotnya SDN 005 Lubuk
Baja (DAK SD 2023)

DAFTAR ISI
A. Kepemimpinan dan partisipasi pekerja dalam keselamatan Konstruksi

A.1. Kepedulian pimpinan terhadap isu eksternal dan internal

A.2. Komitmen Keselamatan Konstruksi

B. Perencanaan Keselamatan Konstruksi

B.1. Identifikasi Bahaya, Penilaian Resiko, pengendalian dan peluang

B.2. Rencana tindakan (saran dan Program)

B.3. Standard dan peraturan Perundangan

C. Dukungan Keselamatan Konstruksi

C.1. Sumber Daya

C.2. Kompetensi

C.3. Kepedulian

C.4. Komunikasi

C.5. Informasi Terdokumentasi

D. Operasi Keselamatan Konstruksi

D.1. Perencanaan Operasi

E. Evaluasi Kinerja Keselamatan Konstruksi

E.1. Pemantauan dan Evaluasi

E.2. Tinjauan Manajemen

E.3. Peningkatan Kinerja Keselamatan Konstruksi

A. KEPEMIMPINAN DAN PARTISIPASI PEKERJA DALAM KESELAMATAN KONSTRUKSI


Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah suatu proses yang kompleksdi mana seorang mempengaruhi orang-
oranglain untuk mencapaisuatu misi,tugas,atau suatu sasaran,dan mengarahkan organisasi yang
membuatnya lebih kohesif dan lebih masuk [Link] pemimpin membuat orang memiliki kemauan
untuk mencapai tujuan dan sasaran yang tinggi, sedangkan seorang kepalamenyuruh orang untuk
mencapai suatutugasatausasaran Wirjana (2006).Kepemimpinan itu adalah aktivita suntuk
mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi Thoha (2007).

Partisipasi adalah Keterlibatan pekerja berperan secara aktif dalam proses atau alur tahapan
program pelaksanaan kegiatan.

Didalam pekerjaan konstruksi peran dan fungsi kepemimpinan sangatlah penting untuk
memastikan kelancaran operasional pekerjaaan selama pelaksanaan, baik dalam penerapan K3 maupun
manejerial kerja.

[Link] pimpinan terhadap isu eksternal dan internal

Menurut Leininger (1981) menyimpulkan bahwa “kepedulian” adalah perasaan yang ditujukan
kepada orang lain, dan itulah yang memotivasi dan memberikan kekuatan untuk bertindak atau beraksi,
dan mempengaruhi kehidupan secara konstruktif dan positif, dengan meningkatkan kedekatan dan self
actualization satu sama lain.

Elemen Dasar Kepemimpinan dalam SMK3 meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan
organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki
kelompok dan budayanya.

Cerminan kepemimpinan dalam organisasi, antara lain:


 Dikomunikasikan secara jelas, sederhana/simple, dan terdapat pembagian visi.
 Rencana yang ringkas, jelas untuk mencapai visi.
 Dapat dibayangkan dan secara aktif mendukung pencapaian program.
 Keamanan (safety) dapat di pertanggung jawabkan pada semua level di organisasi.
 Integrasi K3 ke dalam fungsi inti pengelolaan bisnis.
 Komitmen pada K3 sebagai prioritas.
 Fokus pada perbaikan berkelanjutan dari sistem manajemen K3.

Didalam pekerjaan konstruksi kepedulian pimpinan sangatlah penting untuk merespon isu-isu yang
terjadi di lokasi kerja atau lingkungan proyek, baik yang bersifat eksternal maupuan [Link]
dan keselamatan kerja merupakan salah satu isu yang sangat penting untuk dilaksanakan sesuai dengan
Standar Operasional Prosedur agar kecelakaan kerja dapat menjadi Zero Accident dan Non Fatality.

[Link] Keselamatan Konstruksi

Pekerjaan konstruksi merupakan salah satu pekerjaan yang mempunyai resiko tinggi terutama pada
tahap pelaksanaan konstruksi, tidak terkecuali dalam pekerjaan pelaksanaan konstruksi jalan dan
jembatan.
Mempertimbangkan hal tersebut maka diperlukan ketentuan atau Pedoman Pelaksanaan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) untuk Konstruksi Jalan dan Jembatan agar keselamatan dan kesehatan kerja
bagi para pekerja konstruksi lebih terjamin Selama masa pelaksanaan pekerjaan.

Kami, [Link] KAJIMA yang bergerak dalam bidang Jasa Konstruksi berkomitmen dan peduli terhadap
Keselamatan Konstruksi khusus dalam pencapaian penanganan isu keselamatan konstruksi dengan
langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mengupayakan target pekerjaan dengan Zero Accident


2. Memotivasi dan mendukung usaha pencegahan kecelakaan dan penyakit yang diakibatkan oleh
pekerjaan.
3. Aktif berperan dalam usaha pemenuhan peraturan perundang-undangan dan persyaratan lain
yang berorientasi pada keselamatan dan kesehatan kerja.
4. Mengkomunikasikan dan mensosialisasikan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja kepada
pihak terkait.
5. Menetapkan dan melaksanakan tinjauan secara berkala terhadap sasaran dan program
keselamatan dan kesehatan kerja serta melakukan perbaikan secara berkesinambungan.
PAKTA KOMITMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI

Saya yang bertandatangan dibawah ini:

Nama : Ayuniawati

Jabatan : Direktur

Bertindak untuk dan atas nama : CV. CIPTA KAJIMA

Dalam rangka Pekerjaan: Rehabilitasi ruang kelas dengan tingkat kerusakan


minimal sedang beserta perabotnya SDN 005 Lubuk Baja (DAK SD 2023),
Pada Pokja 4 Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat Daerah Kota
Batam, berkomitmen melaksanakan konstruksi berkeselamatan demi terciptanya Zero
Accident, dengan memastikan bahwa seluruh pelaksanaan konstruksi:

1. Memenuhi ketentuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


2. Menggunakan tenaga kerja kompeten bersertifikat
3. Menggunakan peralatan yang memenuhi standar kelaikan
4. Menggunakan material yang memenuhi standar mutu
5. Menggunakan teknologi yang memenuhi standar kelaikan ; dan
6. Melaksanakan Standar Operasi dan Prosedur (SOP)
7. Memenuhi 9 (sembilan) komponen biaya penerapan SMKK.

Batam, 23 Juni 2023


CV. CIPTA KAJIMA

AYUNIAWATI
Direktur
B. PERENCANAAN KESELAMATAN KONSTRUKSI

CV. CIPTA KAJIMA, yang komitmen dalam pelaksanaan K3 selalu konsisten dan berkesinambungan dalam penerapan K3 selama Periode
Konstruksi, dan kami sebagai perencanaan awal akan membuat Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Skala Prioritas, Pengendalian Risiko,
Penanggung Jawab untuk diserahkan, dibahas, dan disetujui PPK pada saat Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak sesuai lingkup pekerjaan yang
dilaksanakan. Penyusunan Identifikasi Bahaya, Penilaian Resiko K3, Skala Prioritas K3, Pengendalian Resiko K3, dan Penanggung Jawab K3
terdapat pada tabel berikut ini :

B.1. IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO,PENGENDALIAN DAN PELUANG

Nama Perusahaan : CV. CIPTA KAJIMA


Nama Paket Pekerjaan : Rehabilitasi ruang kelas dengan tingkat kerusakan minimal sedang beserta
perabotnya SDN 005 Lubuk Baja (DAK SD 2023)
DESKRIPSI RISIKO PENILAIAN TINGKAT RISIKO PENILAIAN SISA RISIKO
IDENTIFIKASI JENIS BAHAYA PERSYARATAN PENGENDALIAN PENGENDALIAN
TINGKAT NILAI KET.
NO JENIS BAHAYA (TIPE PEMENUHAN AWAL KEKERAPAN KEPARAHAN NILAI RISIKO LANJUTAN KEKERAPAN KEPARAHAN TINGKAT
JENIS PEKERJAAN RISIKO RISIKO
(SKENARIO KECELELAKAA (F) (A) (FxA) (F) (A) RISIKO
( TR ) (FxA)
BAHAYA) N)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16)
1 Fasad Bangunan  Terjadi Luka ringan, Sesuai Tabel 1. Diberikan 1 2 2 2 1. Memberikan N/A N/A N/A N/A
Insiden sedang, berat B3: Standar penyuluhan (Rendah) Briefing K3 kepada
(Pemasangan berupa /meninggal dan Peraturan bahaya kecelakaan pakerja sebelum
pekerja Perundang- kerja sebelum bekerja
rangka Atap dan terkena undangan bekerja, 2. Pengaturan dan
Atap peralatan
kerja/Alat 2. Pengaturan lalu pemasangan
Berat lintas & lokasi kerja barikade lalu lintas
sehingga selama pekerjaan dan rambu –
terjadi Luka berlansung, rambu peringatan
 Terjadi 3. Menggunakan 3. Menggunakan
insiden perlengkapan kerja perlengkapan
berupa
pekerja yang standar dan safety tools
terjatuh Layak (Sepatu selama berada
ketika Boot, Helm, dilokasi kerja.
erection masker dan 4. Melakukan
sehingga Kacamata) pelatihan kepada
terjadi luka 4. Melaksanakan pekerja
ringan dan SOP pekerjaan
luka berat,
 terjadi dengan benar
insiden
berupa
pekerja
kejatuhan
material
B.2 RENCANA TINDAKAN (SASARAN & PROGRAM)

SASARAN PROGRAM
JENIS/TIPE
NO PENGENDALIAN RESIKO URAIAN SUMBER JADWAL BENTUK INDIKATOR PENANGGUNG
PEKERJAAN URAIAN TOLOK UKUR
KEGIATAN DAYA PELAKSANAAN MONITORING PENCAPAIAN JAWAB
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Fasad Bangunan 1) Diberikan penyuluhan bahaya  Dilakukan inpeksi K3 dan  Laporan  Melakukan  Bahan dan  Sebelum dan Sesuai Cheklist  Kecelakaan Kerja Pengawas
kecelakaan kerja sebelum penyuluhan Rutin kepada inpeksi K3 inpeksi K3 Materi Jadwal Pelaksanaan Menurun dan Zero lapangan /petugas
(Pemasangan rangka bekerja pekerja dan Tentang K3 Fatality K3
Atap dan Atap penyuluhan
Rutin kepada
pekerja
2) Pengaturan Lalu lintas &  Tersedia nya rambu-  Petugas  Menyediakan  Petugas  Selama jadwal Cheklist  Petugas mengatur Pengawas
Lokasi Kerja selama rambu lalu lintas/kerja pengatur lalu Petugas pengatur pelaksanaan lalulintas dan lapangan /petugas
pekerjaan berlangsung atau petunjuk di tempat lintas&rambu- Pengatur dan pekerjaan terpasangnya K3
kerja rambu kerja &rambu- Rambu- rambu-rambu
rambu rambu selama pekerjaan
kerja petunjuk
/petunjuk di
tempat kerja
3) Menggunakan perlengkapan  Tersedianya APD (Safety  Perlengkapan  Menyediakan  Perlengkpa  Sesuai Jadwal Cheklist  100% sesuai SNI Pengawas
kerja yang standar dan Layak Tools) dilokasi kerja kerja APD APD (Safety n kerja Pelaksanaan lapangan
(Sepatu Boot, Helm, masker Tools) APD / /petugas K3
dilokasi kerja Safety
dan Kacamata)
Tools
4) Melaksanakan SOP pekerjaan  Tersedia nya instrkusi  Dokumen  Menyediakan  Dokumen  Sesuai Jadwal Cheklist  Tertib dan Quality
yang benar kerja dan SOP Standar instrkusi kerja SOP Pelaksanaan paham SOP Engineer
dilapangan Operasional dan SOP pekerjaan
Pekerjaan dilapangan
B.3. STANDARD DAN PERATURAN PERUNDANGAN

Daftar perundang-undangan dan persyaratan K3 yang diwajibkan dipunyai dan dipenuhi dalam
melaksanakanpekerjaaniniadalah:
- UUD1945
- UUNo.1/1970 Keselamatan Kerja
- UUNo.13/2003 Ketenaga Kerjaan
- PermenakerNo.1/1980Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada kegiatan Konstruksi
- Keputusan Bersama Menaker- MenPU No.174/MEN/1986 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
padakegiatan Konstruksi
- PermenakerNo.5/1996 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)
- PermenPUNo.09/2008 Pedoman Sistem Manajemen K3Konstruksi
- UUNo.14/1969 KetentuanPokokMengenaiTenagaKerja
- UUNo.23/1992 TentangKesehatan
- UUNo.3/1992 TentangJaminanSosisalTenagaKerja
- PERMEN NAKER No PER.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja.
- UUNo.18/1999 Tentang Jasa Konstruksi
- UUNo.28/2002 Tengang Bangunan Gedung
- UUNo.13/2003 Tentang Ketenagakerjaan
- Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang penerapan SMK3
- Peraturan Menteri PU Republik Indonesia No.05/PRT/2014 tentang Pedoman SISTEM
MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KONSTRUKSI BIDANG
PEKERJAAN UMUM
- PP 37 tahun 2017 tentang Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
- PerMen PUPR Nomor 21/PRT/M/2019 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan
Konstruksi.

C. DUKUNGAN KESELAMATAN KONSTRUKSI

Tabel : Jadwal Program Komunikasi

NO JENIS KOMUNIKASI PIC WAKTU PELAKSANAAN


1 Induksi Keselamatan Konstruksi (Safety
Petugas K3/Pelaksana DAILY
Induction)
2 Pertemuan Pagi Hari (Safety Morning) Petugas K3/Pelaksana DAILY
3 Pertemuan Kelompok Kerja (tool box Meeting) Petugas K3/Pelaksana WEEKLY
4 Rapat Keselamatan Konstruksi (Construction
Petugas K3/Pelaksana MONTHLY
Meeting)

[Link] DAYA

Sumber daya merupakan suatu kemampuan potensial yang dimiliki untuk suatu kegiatan atau pencapaian tujuan
kegiatan.

Dalam penerapan K3 pada pekerjaan konstruksi adapun sumber daya yang kami dimiliki adalah:
1. Sumber daya Manusia
Adalah ketersediaan dan kemampuan sumber daya manusia perusahaan untuk menerapkan dan
melaksanakan k3, seperti SDM: Manager K3, tenaga ahli K3 dan Petugas K3. Perusahaan kami sebagai
salah satu perusahaan yang sangat peduli dengan K3, mempunyai tenaga ahli k3 berpengalaman yang
telah bersertifikasi dan karyawan/personil yang telah dilatih dengan penerapan K3 secara berkelanjutan.

2. Perlengkapan K3 (Safety tools)


Untuk mendukung pelaksanaan k3 dilapangan perusahaan melengkapi dan menyediakan Safety tool bagi
semua pekerja dan personil yang terlibat dilapangan selama pekerjaaan [Link] kotak
P3K dan layanan mobilisasi ketika keadaan emergency.
3. Pembiayaan (Fund)
Untuk mendukung dan melaksanakan k3 dilapangan, perusahaan mengalokasi dana untuk pos
keselamatan kerja bagi semua pekerja dilapangan, terutama untuk penyediaan Safety tools atau dana
emergency dan pengendalian k3 dilapangan.
4. Jaminan kecelakaan kerja (Accident Insurance)
Untuk membuat rasa nyaman pekerja dilapangan tentunya jaminan atas kerugian akibat kecelakaan kerja
sangat [Link] mengikut sertakan seluruh pekerja pada program asuransi kecelakaan kerja di
ASTEK atau BPJS Ketenagakerjaan.

[Link]

Kompetensi adalah kewenangan dan kecakapan atau kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas atau
pekerjaan sesuai dengan jabatan yang disandangnya.

Didalam pekerjaan konstruksi kecakapan seseorang dalam bekerja sangatlah penting, karena sangat erat kaitannya
dengan mutu pekerjaan dan keselamatan pekerja itu sendiri selama bekerja. Memahami, mengerti dan peduli akan
keselamatan kerja merupakan sikap mental yang mendasar untuk mengurangi angka kecelakaan kerja.

Perusahaan kami yang bergerak di bidang kontruksi mempunyai tenaga-tenaga yang kompeten sesuai bidangnya
dan memiliki tenaga dan petugas K3 yang bersertifikasi yang handal.

Kami berkomitmen dalam penerapan pelaksanaan keselamatan kontruksi di lingkungan kerja dengan mentaati
ketentuan dan perundangan K3 termasuk memberikan program pelatihan dan peningkatan kinerja karyawan melalui
uji kompetensi terhadap seluruh tenaga kerja sesuai dengan keahlian bidang masing- masing.

[Link] KOMPETENSI KARYAWAN

[Link]
Memberikan panduan dalam kegiatan peningkatan kompetensi pegawai

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini dilaksanakan dalam lingkup kegiatan kompetensi pegawai pada perusahaan kami, meliputi : Usulan
program peningkatan kompetensi pegawai, Pembentukan Tim, Penentuan peserta, Pelaksanaan kegiatan
peningkatan Kompetensi Karyawan.

3. REFERENSI
a. Pedoman Mutu
b. Prosedur Penerimaan Karyawan

4. ISTILAH DAN DEFINISI


Istilah dan definisi yang dipakai dalam penulisan Pedoman Mutu, SOP, Instruksi Kerja serta dokumen lainnya
diuraikan secara rinci sesuai SMM ISO 9001:2008, diurutkan berdasarkan abjad dituangkan pada Lampiran Istilah
dan Definisi.
5. DIAGRAM ALIR, DOKUMEN DAN KETERANGAN KEGIATAN

6. F O R M
a. Daftar peserta program peningkatan kompetensi pegawai
b. Daftar hadir peserta
c. Jadwal kegiatan
d. Form Evaluasi

7. INSTRUKSI KERJA

8. REKAMAN MUTU
a. Daftar peserta program peningkatan kompetensi pegawai
b. Daftar hadir peserta
c. Jadwal Kegiatan
d. Evaluasi pelaksanaan kegiatan

II. KOMPETENSI PERSONIL PROYEK

a. Daftar Personil

Memuat daftar personel yang ikut dalam Pengawasan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi.

Tabel 5: Daftar Personel Pengawasan Pelaksana Pekerjaan Konstruksi

No Jabatan Jumlah Nama Personil Ket


1. Pelaksana Lapangan 1 Hurriyati Nurul Ajri
2. Petugas K3 1 Ringga Anderson

b. Sertifikat Personil

Memuat sertifikat Personel yang ikut dalam Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi pada Tabel Daftar Personel
Pengawas Pelaksana Pekerjaan Konstruksi:
1. SKA Ahli Muda Teknik Bangunan Gedung
2. SKA K3 Konstruksi
[Link]

Didalam pekerjaan konstruksi, kepedulian seseorang dalam bekerja sangatlah penting, karena sangat erat
kaitannya rasa social antara satu sama lainnya. Kepedulian atasan terhadap pekerja berdampak motivasi kerja
yang besar bagi pekerja. Memahami, mengerti dan kepedulia akan keselamatan kerja merupakan sikap mental
yang mendasar untuk mengurangi angka kecelakaan kerja

[Link]

Untuk memperlancar proses pekerjaan peran komunikasi sangat penting antara pekerja dengan pekerja, atasan
dengan pekerja proyek. Komunikasi yang baik akan tersampaikan maksud dan tujuan dari pemberi informasi. Untuk
memastikan penerapan prinsip K3 dan keselamatan selama bekerja perlu komunikasi yang baik. Untuk mendukung
hala tersebut perusahaan kami melakukan BST ( Briefing Safety Tools) bagi setipa pekerja yang akan bekerja dan
secara kontinu menyampaikan pesan-pesan keselamatan bekerja dalam bentuk rambu-rambu keselamatan kerja.

1. TUJUAN
Memberikan pedoman untuk penyebarluasan atau mengkomunikasikan informasi- infomasi lingkungan
hidup, keselamatan
dan kesehatan kerja kepada pihak internal dan eksternal perusahaan secara efektif.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku untuk seluruh fasilitas operasi kami dan semua pihak yang bekerja di area tersebut.
Hal-hal yang diatur dalam prosedur ini adalah cara untuk menyebarluaskan informasi-informasi terkait
dengan lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan kepada pihak internal maupun eksternal
Perusahaan.
[Link] TERDOKUMENTASI

Setiap kegiatan yang mendukung program K3 akan disampaikan dan didokumentasikan dengan baik, sebagai
media tanda pendukung penerapan prinsip K3 selama pekerjaan konstruksi. Informasi yang terdokumentasi juga
sebagi pedoman bagi pimpinan pengambil kebijakan dalam mengambil action plan penerapan K3 yang efektif,
efisiendan ekonomis. Di lapangan dan Barak pekerja akan disediakan media papan informasi kegiatan K3.

Untuk menjamin kerahasiaan semua informasi yang berkaitan dengan K3, diatur dan mengikuti peraturan
perusahaan mengenai Non -Disclosure Agreement (Perjanjian/Kesepakatan Tidak Membocorkan Rahasia
Perusahaan) yang telah ditanda tangani oleh setiap karyawan Perusahan Kami.

Alat dan Media Komunikasi


 Electronic mail ( e-mail )
 Meeting ( townhall, P2K3, dsb.)
 Briefing
 One to one personal contact
 Papan pengumuman
 Pelatihan atau kursus
 Banner, poster (Promosi)
 Distribusi dokumen ( Manual, standard procedure, supporting doc, record )
 Telepon, facsimile, internet
 TV Media
D. OPERASI KESELAMATAN KONSTRUKSI

Tabel Analisis Keselamatan Pekerjaan (Job Safety Analisis)


Nama Pekerja : .......... (Ringga Anderson) ............. (Ahli K3/ Petugas K3)Nama
Paket Pekerjaan : Rehabilitasi ruang kelas dengan tingkat
kerusakan minimal sedang beserta perabotnya SDN
005 Lubuk Baja (DAK SD 2023)
Tanggal Pekerjaan : ... s/d....
Alat Pelindung Diri yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan :

URUTAN PENANGGUNG
IDENTIFIKASI PENGENDALIA
NO URAIAN KET LANGKAH JAWAB
BAHAYA N
PEKERJAAN
1 Helm/ Safety Helm Petugas K3/
V V V V
Pelaksana
2 Sepatu/ Safety Petugas K3/
V V V V
Shoes Pelaksana
3 Sarung Petugas K3/
Tangan/Safety V V V V Pelaksana
Gloves
4 Rompi Petugas K3/
Keselamatan/Safety V V V V Pelaksana
Vest
5 Masker Pernafasan, Petugas K3/
V V V V
dll Pelaksana

Penanggung
Urutan Langkah Pekerjaan Identifikasi Bahaya Pengendalian
Jawab
Fasad Bangunan (Pemasangan rangka  Terjadi Insiden berupa pekerja  Diberikan penyuluhan bahaya Petugas K3/
terkena peralatan kerja/Alat kecelakaan kerja sebelum
Atap dan Atap Berat sehingga terjadi Luka Pelaksana
bekerja,
 Terjadi insiden berupa pekerja  Pengaturan Lalu lintas & Lokasi
terjatuh ketika erection Kerja selama pekerjaan berlangsung
sehingga terjadi luka ringan dan  Menggunakan perlengkapan
luka berat, kerja yang standar dan Layak
 terjadi insiden berupa pekerja
kejatuhan material (Sepatu Boot, Helm, masker
dan Kacamata)
 Melaksanakan SOP pekerjaan
dengan benar

D.1 Perencanaan Operasi

Perencanaan operasional berupa prosedur kerja / petunjuk kerja, yang harus mencakup seluruh upaya
pengendalian, diantaranya :
1. Upaya pengendalian berdasarkan lingkup pekerjaan
2. Rencana penunjukan personil yang akan ditugaskan menjadi Penganggung Jawab Kegiatan SMK3
3. Prediksi dan rencana penanganan kondisi keadaan darurat tempat kerja
4. Rencana prosedur / petunjuk kerja yang perlu di siapkan
5. Rencana program pelatihan / soisalisasi sesuai pengendalian resiko
6. Sistem pertolongan pertama pada kecelakaan
7. Rambu Peringatan / Larangan / Anjuran
a. Penempatan Rambu-rambu peringatan/larangan/anjuran harus dipasang sesuai dengan kondisi di
tempat kerja
b. Rambu peringatan/larangan/anjuran harus mudah dilihat dan dapat dibaca
8. Alat Pelindung Diri
a. Alat pelindung diri diidentifikasi berdasarkan hasil penilaian risiko
b. Alat pelindung diri (APD) diberikan kepada pekerja sesuai dengan jenis pekerjaan
9. Tamu/pengunjung dan pihak luar
a. Pengendalian dan pembatasan akses masuk dan akses keluar tempat kerja
b. Persyaratan APD (Alat Pelindung Diri
c. Induksi K3

D.2 Kesiapan dan Tanggapan Terhadap Kondisi Darurat


1. Identifikasi bahaya yang berpotensi menimbulkan keadaan darurat
2. Mengidentifikasi secara spesifik akan potensi bahaya berdasarkan tipe kegiatan.
3. Langkah pencegahan
4. Perencanaan tanggap darurat
5. Pelatihan dan uji coba
6. Evaluasi dan perbaikan

1. KETENTUAN PELAKSANAAN K3

1.1. Ketentuan Administrasi

1.1.1. Kewajiban Umum

Kewajiban umum disini dimaksudkan kewajiban umum bagi perusahaan Penyedia Jasa
Konstruksi yaitu :

 Penyedia jasa berkewajiban untuk mengusahakan agar tempat kerja, peralatan,


lingkungan kerja dan tata cara kerja diatur sedemikian rupa sehingga tenaga kerja
terlindungi dari resiko kecelakaan.

 Penyedia jasa menjamin bahwa mesin-mesin peralatan, kendaraan atau alat-alat


lain yang akan digunakan atau dibutuhkan sesuai dengan peraturan keselamatan
kerja, selanjutnya barang-barang tersebut harus dapat dipergunakan secara aman.

 Penyedia jasa turut mengadakan pengawasan terhadap tenaga kerja,agar tenaga


kerja tersebut dapat melakukan pekerjaan dalam keadaan selamat dan sehat.

 Penyedia jasa menunjukan petugas keselamatan kerja yang karena jabatannya di


dalam organisasi penyedia jasa, bertanggung jawab mengawasi koordinasi
pekerjaan yang dilakukan untuk menghindarkan resiko bahaya kecelakaan.

 Penyedia Jasa memberikan pekerjaan yang cocok untuk tenaga kerja sesuai
dengan
Keahlian, umur, jenis kelamin dan kondisi fisik / kesehatannya

 Sebelum pekerjaan dimulai penyedia jasa menjamin bahwa semua tenaga kerja
telah diberi petunjuk terhadap bahaya dari pekerjaannya masin-masing dan usaha
pencegahannya, untuk itu penyedia jasa dapat memasang papan-papan
pengumuman
Papan-papan peringatan serta sarana-sarana pencegahan yang dipandang perlu.

 Orang tersebut bertanggung jawab pula atas pemeriksaan berkala terhadap semua
tempat kerja, peralatan, sarana-sarana pencegahan kecelakaan, lingkungan kerja
Dan cara-cara pelaksanaan kerja yang aman.
 Hal-hal yang menyangkut biaya yang timbul dalam rangka penyelenggaraan
keselamatan dan kesehatan kerja menjadi tanggung jawab penyedia jasa.

1.1.2. Organisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Penyedia jasa konstruksi harus menugaskan secara khusus ahli K3 dan tenaga K3 untuk
setiap proyek yang dilaksanakan. Tenaga K3 tersebut harus masuk dalam struktur organisasi
pelaksanaan konstruksi setiap proyek, dengan ketentuan sebagai berikut :

 Petugas keselamatan dan kesehatan kerja harus bekerja secara penuh (Full-Time)
Untuk mengurus dan menyelenggarakan keelamatan dan kesehatan kerja.
 Pengurus dan Penyedia Jasa yang mengelola pekerjaan dengan mempekerjakan
pekerja dengan jumlah minimal 100 orang atau kondisi dari sifat proyek memang
memerlukan, diwajibkan membentuk unit Pembina K3.
 Panitia Pembina keselamatan dan kesehatan kerja tersebut ini merupakan unit
struktural dari organisasi penyedia jasa yang dikelola oleh pengurus atau penyedia jasa.
 Petugas keselamatan dan kesehatan kerja tersebut bersama-sama dengan panitia
Pembina keselamatan kerja ini bekerja sebaik-baiknya, dibawah koordinasi pengurus
atau penyedia jasa, serta bertanggung jawab kepada pemimpin proyek.
 Penyedia jasa harus melakukan hal-hal sebagai berikut :

a. Memberikan panitia Pembina keselamatan dan kesehatan kerja fasilitas-fasilitas


dalam melaksanakan tugas mereka.

b. Berkonsultasi dengan panitia Pembina keselamatan dan kesehatan kerja dalam


segala hal yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja dalam
proyek.

c. Mengambil langkah-langkah praktis untuk memberi efek pada rekomendasi dari


panitia keselamatan dan kesehatan kerja.
 Jika 2 (dua) atau lebih penyedia jasa bergabung dalam suatu proyek mereka harus
bekerjasama membentuk kegiatan-kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja.

1.1.3. Laporan Kecelakaan

Salah satu tugas pelaksana K3 adalah melakukan pencatatan atas kejadian yang terkait
dengan K3, dimana :

1) Setiap kejadian kecelakaan kerja atau kejadian yang berbahaya harus dilaporkan
kepada instansi yang terkait.
2) Laporan tersebut harus meliputi statistik yang akan menunjukan hal-hal sebagai
berikut :
a. Menunjukan catatan kecelakaan dari setiap kegiatan kerja, pekerja masing-masing.
b. Menunjukan gambaran kecelakaan-kecelakaan dan sebab-sebabnya.

1.1.4. Keselamatan Kerja dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan

Organisasi untuk keadaan darurat dan pertolongan pertama pada kecelakaan harus di buat
sebelumnya untuk setiap proyek yang meliputi seluruh pegawai/petugas pertolongan pertama
pada kecelakaan dan peralatan, alat-alat komunikasi dan alat-alat lain serta jalur tranportasi,
dimana :

 Tenaga Kerja Harus Diperiksa Kesehatannya.


a) Sebelum atau beberapa saat setelah memasuki masa kerja pertama kali
(pemeriksaan kesehatan sebelum masuk kerja dengan penekanan pada kesehatan
fisik dan kesehatan individu).

b) Secara berkala, sesuai dengan resiko-resiko yang ada pada pekerjaan tersebut.

 Tenaga kerja di bawah umur 18 tahun harus mendapat pengawasan kesehatan khusus,
meliputi pemeriksaan kembali atas kesehatannya secara teratur.
 Data yang diperoleh dari pemeriksaan kesehatan harus di catat dan di simpan untuk
referensi
 Pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan atau penyakit yang tiba-tiba, harus
dilakukan oleh dokter, juru rawat atau seorang yang terdidik dalam pertolongan pertama
pada kecelakaan (PPPK).
 Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan yang memadai, harus disediakan di tempat kerja
dan di jaga agar tidak di kotori oleh debu, kelembaban udara dan lain-lain
 Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan harus berisi paling sedikit dengan obat untuk
kompres, perban, antiseptic, plester, gunting dan perlengkapan gigitan ular.
 Alat-alat PPPK dan kotak obat-obatan harus tidak berisi benda-benda lain selain alat-alat
PPPK yang diperlukan dalam keadaan darurat
 Alat-alat dan kotak obat-obatan harus berisi keterangan-keterangan instruksi yang
mudah dan jelas sehingga mudah dimengerti
 Isi dari kotak obat-obatan dan alat PPPK harus diperiksa secara teratur dan harus dijaga
supaya tetap berisi (tidak boleh kosong)
 Kereta untuk mengangkat orang sakit (tandu) harus selalu tersedia
 Jika tenaga kerja dipekerjakan di bawah tanah atau pada keadaan lain, alat penyelamat
harus selalu tersedia di dekat tempat mereka bekerja
 Jika tenaga kerja dipekerjakan di tempa-tempat yang menyebabkan adanya resiko
tenggelam atau keracunan, alat-alat penyelamatan harus selalu tersedia di dekat tempat
mereka bekerja
 Persiapan-persiapan harus dilakukan untuk memungkinkan mengangkut dengan cepat.
Jika diperlukan untuk petugas yang sakit atau mengalami kecelakaan ke rumah sakit
atau tempat berobat lainnya
 Petunjuk/informasi harus diumumkan/ditempel di tempat yang baik dan strategis yang
memberitahukan antara lain :

a) Tempat yang terdekat dengan kotak obat-obatan, alat-alat PPPK, ruang PPPK,
ambulans, tandu untuk orang sakit, dan tempat dimana dapat dicari petugas K3
b) Tempat telepon terdekat untuk menelepon/memanggil ambulans, nomor telepon dan
nama orang yang bertugas dan lain-lain
c) Nama, alamat, nomor telepon Dokter rumah sakit dan tempat penolong yang dapat
segera dihubungi dalam keadaan darurat

1.1.5. Pembiayaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Biaya operasional kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja harus sudah di antisipasi sejak
dini yaitu pada saat Pengguna Jasa mempersiapkan pembuatan desain dan perkiraan biaya
suatu proyek jalan dan [Link] pada saat pelelangan menjadi salah satu item
pekerjaan yang perlu menjadi bagian evaluasi dalam penetapan pemenang lelang.
Selanjutnya Penyedia Jasa harus melaksanakan prinsip-prinsip kegiatan kesehatan dan
keselamatan kerja termauk penyediaan prasarana, sumber daya manusia dan pembiayaan
untuk kegiatan tersebut dengan biaya yang wajar, oleh karena itu baik Penyedia Jasa dan
Pengguna Jasa perlu memahami prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja ini agar
dapat melakukan langkah persiapan, pelaksanaan dan pengawasannya.

1.2. Ketentuan Tekinis


1.2.1. Aspek Lingkungan

Dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan K3 untuk konstruksi jalan dan jembatan,
Penyedia Jasa harus mengacu pada Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan
Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) atau Uapaya Pengelolaan Lingkungan (UPL) dan
Uapaya Pemantauan Lingkungan (UPL), bila dokumen tersebut tidak ada maka perencanaan
dan pelaksanaan K3 terutama terkait dengan aspek lingkungan harus mendapatkan
persetujuan dari direksi pekerjaan.

1.2.2. Tempat Kerja dan Peralatan

1) Pintu masuk dan keluar di Base Camp/Direksi Kit


2) Lampu / penerangan
3) Ventilasi yang cukup untuk Base Camp/Direksi Kit
4) Kebersihan di tempat kerja dan Base Camp/Direksi Kit meliputi :
a. Bahan-bahan yang tidak terpakai dan tidak diperlukan lagi harus dipindahkan ke
tempat yang aman
b. Semua paku yang menonjol harus disingkirkan atau dibengkokkan untuk mencegah
terjadinya kecelakaan
c. Peralatan dan benda-benda kecil tidak boleh dibiarkan karena benda-benda
tersebut dapat menyebabkan kecelakaan, misalnya membuat orang jatuh atau
tersandung (terantuk)
d. Sisa-sisa barang alat-alat dan sampah tidak boleh dibiarkan bertumpuk di tempat
kerja
e. Tempat-tempat kerja dan gang-gang yang licin karena oli atau sebab lain harus
dibersihkan atau disiram pasir, abu atau sejenisnya
f. Alat-alat yang mudah dipindah-pindahkan setelah dipakai harus dikembalikan pada
tempat penyimpanan semula

1.2.3. Pencegahan Terhadap Kebakaran dan Alat Pemadam Kebakaran

Untuk dapat mencegah terjadinya kebakaran pada suatu tempat atau proyek dapat dilakukan
pencegahan sebagai berikut :
1) Di tempat-tempat kerja dimana tenaga kerja dipekerjakan harus tersedia :
a. Alat-alat pemadam kebakaran
b. Saluran air yang cukup dengan tekanan yang besar
2) Pengawas dan sejumlah/beberapa tenaga kerja harus dilatih untuk menggunakan alat
pemadam kebakaran
3) Orang-orang yang terlatih dan tahu cara menggunakan alat pemadam kebakaran harus
selalu siap di tempat selama jam kerja
4) Alat pemadam kebakaran, harus diperiksa pada jangka waktu tertentu oleh orang yan
berwenang dan dipelihara sebagaimana mestinya
5) Alat pemadam kebakaran seperti pipa-pipa air, alat pemadam kebakaran yang dapat di
pindah-pindah (portable) dan jalan menuju ke tempat pemadam kebakaran harus selalu
di pelihara
6) Peralatan pemadam kebakaranharus diletakkan di tempat yang mudah di lihat dan
mudah di capai
7) Sekurang-kurangnya sebuah alat pemadam kebakaran harus tersedia di Base
Camp/Direksi Kit

1.2.4. Perlengkapan dan Peringatan


Perlengkapan dan peringatan utama yang harus ada di lokasi pekerjaan, Base Camp/Direksi
Kit antara lain sebagai berikut :
1) Papan pengumuman,dipasang pada tempat-tempat yang menarik perhatian, tempat
yang strategis yang menyatakan dimana kita dapat menemukan
2) Alarm kebakaran, harus ditempatkan pada tempat terdekat
3) Nomor telepon dan alat-alat dinas Pemadam Kebakaran yang terdekat harus ada dan
harus mudah dibaca.
1.2.5. Menghindari Terhadap Orang Yang Tidak Berwenang

Orang yang tidak berwenang tidak diizikan memasuki daerah [Link] jika disertai
oleh orang yang berwenang dan diperlengkapi dengan alat pelindung diri.

1.2.6. Perlengkapan Keselamatan Kerja

Berbagai jenis perlengkapan kerja standar unuk melindungi pekerja dalam melaksanakan
tugasnya antara lain sebagai berikut :
1) Safety hat, yang berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda keras selama
mengoperasikan atau memelihara AMP
2) Safety shoes, yang akan berguna untuk menghindarkan terpeleset karena licin atau
melindungi kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya
3) Kaca mata keselamatan, terutama dibutuhkan untuk melindungi mata pada lokasi
pekerjaan yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya
4) Masker, diperlukan pada medan yang berdebu
5) Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan
dengan bahan yang keras, misalnya membuka atau mengencangkan baut dan
sebagainya

1.3. Pedoman Untuk Pelaku Utama Konstruksi

1.3.1. Pedoman Untuk Manajemen Puncak

Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian manajemen puncak untuk mengurangi biaya
karena kecelakaan kerja, antara lain :
1) Mengetahui catatan tentang keselamatan kerja dari semua manajer lapangan, informasi
ini digunakan untuk evaluasi terhadap program keselamatan kerja yang telah diterapkan
2) Kunjungan lapangan untuk mengadakan komunikasi tentang keselamatan kerja dengan
cara yang sama sebagaimana dilakukan pelaksanaan monitoring dan pengendalian
mengenai biaya dan rencana penjadwalan pekerjaan
3) Mengalokasikan biaya keselamatan kerja pada anggaran perusahaan dan
mengalokasikan biaya kecelakaan kerja pada proyek yang dilaksanakan
4) Mempersyaratkan perencanaan kerja yang terperinci sehingga dapat memberikan
jaminan bahwa peralatan atau material yang digunakan untuk melaksnakan pekerjaan
dalam kondisi aman
5) Para pekerja yang baru dipekerjakan menjalani latihan tentang keselamatan kerja dan
memanfaatkan secara efektif keahlian yang ada pada masing-masing divisi (bagian)
untuk program keselamatan kerja

1.3.2. Pedoman Untuk Manajer dan Pengawas

Untuk para manajer dan pengawas, hal-hal berikut ini dapat diterapkan untuk mengurangi
kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan pekerjaan bidang konstruksi :
1) Manajer berkewajiban untuk melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja konstruksi
sehingga harus menerapkan berbagai aturan, standar untuk meningkatkan K3, juga
harus mendorong personil untuk memperbaiki sikap dan kesadaran terhadap K3 melalui
komunikasi yang baik, organisasi yang baik, persuasi dan pendidikan, menghargai
pekerja untuk tindakan-tindakan aman, serta menetapkan target yang realities untuk K3
2) Secara aktif mendukung kebijakan untuk keselamatan pada pekerja seperti dengan
memasukan masalah keselamatan kerja sebagai bagian dari perencanaan pekerjaan
dan memberikan dukungan yang positif
3) Manajer perlu memberikan perhatian secara khusus dan mengadakan hubungan yang
erat dengan para mandor dan pekerja sebagai upaya untuk menghindari terjadi
kecelakaan dan permasalahan dalam proyek konstruksi. Manajer dapat melakukannya
dengan cara :
a) Mengarahkan pekerja yang baru pada pekerjaannya dan mengusahakan agar
mereka berkenalan akrab dengan personil dari pekerjaan lainnya dan hendaknya
memberikan perhatian yang khusus terhadap pekerja yang baru, terutama pada
hari-harinya yang pertama
b) Melibatkan diri dalam perselisihan antara pekerja dengan mandor, karena dengan
mengerjakan hal itu, kita akan dapat memahami mengenai tentang sudut pandang
para pekerja. Cara ini bukanlah mempunyai maksud untok merusak (merongrong)
kewibawaan pihak mandor, tetapi lebih mengarah untuk memastikan bahwa pihak
pekerja itu telah diperlakukan secara adil (wajar)
c) Memperlihatkan sikap menghargai terhadap kemampuan para mandor tetapi juga
harus mengakui suatu fakta bahwa pihak mandor itu pun (sebagai nanusia) dapat
membuat kesalahan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara mengizinkan para
mandor untuk memilih para pekerjanya sendiri (tetapi tidak menyerahkan kekuasaan
yang tunggal untuk memberhentikan pekerja)
1.3.3. Pedoman Untuk Mandor

Mandor dalam mengurus kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan


pekerjaan bidang konstruksi dengan :
1) Memperlakukan pekerja yang baru dengan cara yang berbeda, misalnya dengan tidak
membiarkan pekerja yang baru ltu bekerja sendiri secara langsung atau tidak
menempatkannya bersama-sama dengan pekerja yang lama dan kemudian
membiarkannya begitu saja
2) Mengurangi tekanan terhadap pekerjanya, misalnya dengan tidak memberikan target
produktivitas yang tinggi tanpa memperhatikan keselamatan dan kesehatan pekerjanya.
Selanjutnya manajemen puncak dapat membantu para mandor untuk mengurangi
kecelakaan kerja dengan cara berikut ini :
 secara pribadi memberikan penekanan mengenai tingkat kepentingan dari
keselamatan kerja melalui hubungan mereka yang tidak formal maupun yang
formal dengan para mandor di lapangan.
 Memberikan penekanan rnengenai keselamatan kerja dalam rapat pada tataran
perusahaan

1.3.4. Pedoman Untuk Pekerja

Pedoman yang dapat digunakan pekerja untuk mengurangi kecelakaan dan gangguan
kesehatan dalam pelaksanaan pekerjaan bidang konstruksi antara lain adalah :
1) Permasalahan pribadi dihilangkan pada saat masuk lingkungan kerja
2) Tidak rnelakukan pekerjaan bila kondisi kesehatan kurang mendukung
3) Taat pada peraturan yeng telah ditetapkan
4) Memahami program keselamatan den kesehatan kerja
5) Memahami lingkup kerja yang diberikan
2. UPAYA PENGENDALIAN BERDASARKAN BERDASARKAN LINGKUP PEKERJAAN
Upaya pengendalian Pelaksanaan Teknis K3: dilakukan pada kegiatan ini: (Hanya diuraikan secara garis besar
saja)

1.4. Pekerjaan persiapan


1.4.1. Pekerjaan pembersihan lapangan dan perataan mengupas permukaan lahan dari humus dan
akar-akar pohon
[Link] Pemeriksaan Lapangan

Pekerjaan Pemeriksaan Lapangan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja


yaitu gangguan kesehatan akibat pekerja tidak memakai peralatan dan perlengkapan
kerja standar.
Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemeriksaan
Lapangan yaitu Pemakaian peralatan perlindungan kerja standar seperti helm, sepatu,
kacamata, masker dan sarung tangan.

[Link] Mobilisasi dan Demobilisasi

Pekerjaan Mobilisasi dan Demobilisasi mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga


kerja yaitu :
1) Kecelakaan dan gangguan kesehatan tenaga kerja akibat tempat kerja kurang atau
material kurang memenuhi syarat
2) Kecelakaan dan gangguan kesehatan pekerja akibat penyimpanan peralatan dan
bahan atau material kurang memenuhi syarat
3) Kecelakaan dan gangguan kesehatan pekerja akibat penyimpanan peralatandan
bahan atau material kurang memenuhi syarat kecelakaan atau gangguan kesehatan
akibat kegiatan pembongkaran tempat kerja, instalasi listrik, peralatan dan
perlengkapan, pembersihan dan pengembalian kondisi yang kurang baik

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Mobilisasi


dan Demobilisasi yaitu :
1) Menyediakan kantor lapangan dan tempat tinggal pekerja yang memenuhi syarat
2) Menyediakan lahan, gudang dan bengkel yang memenuhi syarat
3) Pelaksanaan pembongkaran bangunan, instalansi serta pembersihan tempat kerja
dan pengembalian kondisi harus memenuhi syarat

[Link] Kantor Lapangan dan Fasilitasnya

Pekerjaan Kantor Lapangan dan Fasilitasnya mempunyai potensi bahaya terhadap


tenaga kerja yaitu :
1) Bahaya akibat polusi yang dihasilkan oleh kegiatan pelaksanaan
2) Bahaya akibat bangunan kantor dan fasilitasnya lainnya roboh
3) Bahaya akibat terjadi genengan air dan pencurian pada bangunan kantor dan
fasilitas penunjang
4) Bahaya akibat kebakaran di kantor atau di bangunan gudang dan lainnya

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang di timbulkan akibat Pekerjaan Kantor


Lapangan dan Fasilitasnya yaitu :
1) Bangunan untuk kantor dan fasilitasnya ditempatkan sedemikian rupa sehingga
terbebas dari polusi yang dihasilkan oleh kegiatan pelaksanaan
2) Bangunan kantor dan fasilitas lainnya dibuat dengan kekuatan structural yang
memenuhi syarat
3) Bangunan kantor dan fasilitas harus dibuat pada elevasi yang lebih tinggi dari
daerah sekitarnya, diberi pagar keliling yang dilengkapi dengan jalan masuk dari
kerikil serta tempat parker
[Link] Fasilitas dan Pelayanan Pengujian Logistik

Pekerjaan Fasilitas dan Pelayanan Pengujian Logistik mempunyai potensi bahaya


terhadap tenaga kerja yaitu :
1) Bahaya akibat bahan dan peralatan yang digunakan tidak memenuhi syarat
2) Bahaya akibat cara pengangkutan bahan kurang memenuhi syarat
3) Bahaya akibat penyimpanan kurang memenuhi syarat
4) Bahaya akibat pembuangan bahan dan material tidak terpakai kurang memenuhi
syarat

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Fasilitas dan
Pelayanan Pengujian Logistik yaitu :
1) Harus tersedia pemadam kebakaran dan kebutuhan P3K yang memasai diseluruh
barak, kantor, gudang dan bengkel
2) Bahan dan peralatan yang digunakan harus memenuhi syarat
3) Pengangkutan bahan harus sesuai dengan beban lalu lintas pada jalan yang akan
dilewati
4) Bahan dan material berbahaya harus disimpan tersendiri dan terlindung dengan baik
5) Pembuangan bahan atau material harus pada tempat yang telah ditetapkan, aman
dan tidak mengganggu lalu lintas

1.5. Pekerjaan Perkerasaan Aspal

1.5.1. Pembersihan Permukaan Perkerasan

Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan pada Pekerjaan perkerasan Aspal mempunyai


potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :
1) Terjadi iritasi pada kulit, mata dan paru-paru akibat debu dari penyemprotan permukaan
perkerasan lama
2) Terluka oleh Compressor/sikat mekanis pada waktu membersihkan perkerasan lama. Terluka
akibat penggaruk baja saat membersihkan tonjolan/lubang yang disebabkan benda-benda asing
lainnya diatas permukaan perkerasan lama
3) Terjadi gangguan pendengaran dari alat yang dipakai
4) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan
5) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan


Permukaan Perkerasan pada Pekerjaan perkerasan Aspal yaitu :
1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu boot, sarung tangan, helm,dll) yang
memenuhi standar
2) Penggunaan alat-alat pembersih permukaan perkerasan dilakukan oleh orang yang ahli dan
berpengalaman di bidangnya
3) Pekerja harus menggunakan tutup telinga 116-160
4) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari
kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan
pelaksanaan
5) Selalu menjaga jarak yang aman antara pekerja satu dengan lainnya

1.5.2. Penyemprotan

Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan perkerasan Aspal mempunyai potensi bahaya


terhadap tenaga kerja yaitu :
1) Terjadi luka oleh percikan aspal panas dan terjadi iritasi pada mata, kulit dan paru-paru akibat
uap dan panas dari aspal
2) Terluka akibat pipa alat penyemprotan dalam kondisi panas. Kecelakaan atau terluka oleh mesin
pompa aspal serta tangki aspal
3) Terjadi kerusakan pada pohon, struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari
percikan aspal
4) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh jarak antar pekerja terlalu dekat
5) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada
Pekerjaan perkerasan Aspal yaitu :
1) Petugas penyemprot harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti, sepatu boot, sarung
tangan, helm dan lain-lain yang sesuai dengan standar
2) Pelaksanaan penyemprotan harus dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman di
bidangnya dan selalu menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi
penyemprotan ketika alat penyemprot aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada
agregat
3) Penyemprotan harus dilakukan sedemikian sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada pohon,
struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dan kerusakan
lainnya
4) Selalu menjaga jarak yang aman antara pekerja satu dengan lainnya
5) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari
kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan
pelaksanaan dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancer dengan cara
mengerjakan ½ bagian terlebih dahulu

1.5.3. Penghamparan

Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan perkerasan Aspal mempunyai potensi bahaya


terhadap tenaga kerja yaitu :
1) Terjadi iritasi pada mata, kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal
2) Terjadi Gangguan lalu Lintas kendaraan
3) Terluka oleh mesin penghampar aspal (finisher)
4) Kecelakaan akibat penempatan material di lokasi pekerjaan yang tidak segera di hampar
5) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat
6) Terluka oleh percikan aspal panas. Terluka oleh dump truck sewaktu menuangkan hotmix ke
dalam finisher
7) Terjadi Gangguan lalu lintas penduduk sekitar

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan


pada Pekerjaan perkerasan Aspal yaitu :
1) Petugas penyemprot harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot, sarung
tangan, kaca mata dan masker) yang sesuai dengan standar
2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari
kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan
pelaksanaan dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancer dengan cara
mengerjakan ½ bagian terlebih dahulu
3) Operator mesin penghampar aspal harus dilakukan oleh tenaga yang terampil dan
berpengalaman di budangnya dan menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain
berada di tempat penghamparan pada waktu mesin penghampar aspal (Finisher) bekerja
menghampar Hotmix
4) Penempatan material yang tidak segera di hampar harus di tempat yang aman
5) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya
6) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat dimana Dump Truck
sedang menuangkan Hotmix ke dalam Finisher di lokasi pekerjaan
7) Menyediakan jalan sementara bagi penduduk setempat

1.5.4. Pemadatan

Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan perkerasan Aspal mempunyaii potensi bahaya


terhadap tenaga kerja yaitu :
1) Terjadi iritasi pada mata, kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal
2) Terjadi Gangguan lalu Lintas kendaraan
3) Terluka oleh mesin penghampar aspal (finisher)
4) Kecelakaan akibat penempatan material di lokasi pekerjaan yang tidak segera di hampar
5) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat
6) Terluka oleh percikan aspal panas. Terluka oleh dump truck sewaktu menuangkan hotmix ke
dalam finisher
7) Terjadi Gangguan lalu lintas penduduk sekitar

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan


pada Pekerjaan perkerasan Aspal yaitu :
1) Petugas penyemprot harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot, sarung
tangan, kaca mata dan masker) yang sesuai dengan standar
2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari
kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan
pelaksanaan dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancer dengan cara
mengerjakan ½ bagian terlebih dahulu
3) Sebelum dilakukan pemadatan, harys dilakukan pemeriksaan stabilitas tanahnya terlebih dahulu
4) Pengoperasian mesin pemadat harus dilakukan oleh petugas terampil dan berpengalaman di
bidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja yang lain di tempat
pemadatan pada waktu mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan hotmix
5) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya
6) Menyediakan jalan sementara bagi penduduk setempat

1.5.5. Penyiraman

Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan perkerasan Aspal mempunyai potensi bahaya terhadap
tenaga kerja yaitu :
1) Terjadi iritasi pada mata, kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal
2) Terjadi Gangguan lalu Lintas kendaraan
3) Terluka oleh pengoperasian mesin water tanker

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada
Pekerjaan perkerasan Aspal yaitu :
1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot, sarung tangan, kaca mata
dan masker) yang sesuai dengan standar
2) Operator mesin penyiram harus dilakukan oleh tenaga yang terampil dan berpengalaman di
budangnya dan menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat
penyiraman pada waktu mesin penyiram sedang bekerja
3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari
kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan
pelaksanaan dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancer dengan cara
mengerjakan ½ bagian terlebih dahulu

3. RENCANA PENUNJUKAN PERSONIL DAN STRUKTUR ORGANISASI K3

Struktur Organisasi K3 (Panitia Pembina K3)


Pihak perusahaan juga telah membentuk organisasi Panitia Pembina Keselamatan dan
Kesehatan Kerja
atau P2K3 sebagai wadah kerja sama antara pengurus dengan tenaga kerja mengenai
masalah- masalah K3 ditempat kerja.

Perandan Tanggung Jawab K3 (Panitia Pembina K3)

- Ketua
a) Menunjukkan kepemimpinan dan komitmennya dibidang K3.
b) Menjamin Sistem Manajemen K3 diterapkan secara efektif untuk mencapai
sasaran serta meninjau ulang secara berkala untuk menjamin efektifitas dan
peningkatan secara berkesinambungan.
c) Menyediakan sumberdaya dan motivasi yang mencukupi untuk mencapai tujuan
dan sasaran.
d) Melaksanakan dan memimpin rapat bulanan Panitia K3

- Wakil Manajemen (MR)


a) Mengkoordinir seluruh aktivitas Panitia K3
b) Jika ketua berhalangan MR dapat melaksanakan dan memimpin rapat bulanan
Panitia Pembina K3
c) Meninjau ulang seluruh kegiatan yang sudah dilakukan
d) Meninjau ulang dan menentukan program kerja Panitia Pembina K3
e) Memantau dan mengevaluasi hasil dari program kerja Panitia Pembina K3

- Sekretaris P2K3
a) Memberikan masukan kepada seluruh bagian berkaitan dengan
penerapan dan peraturan dibidang K3.
b) Membuat laporan Panitia K3 bulanan
c) Berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait mengenai penerapan dan pemenuhan
terhadap peratura nperundangan dan persyaratan K3.

- Bagian Operasional
a) Mengelola kegiatan inspeksi dan audit K3
secara berkala
b) Mengumpulkan dan menganalisa data K3
c) Mengelola Alat Pelindung Diri (APD)
d) Mengelola dan memantau tindakan perbaikan dan pencegahan
e) Mengelola dan memantau penyelidikan dan pelaporan kecelakaan
f) Mengelola pemantauan dan pengukuran K3
g) Memastikan peralatan untuk pertolongan Pertama
h) Memantau pengelolaan materialB3
i) Memantau kegiatan operasional baikdikantor maupun lapangan

- Bagian Administrasi
a) Mengendalikan dokumen dan rekaman baik soft maupun hardcopy
b) Kegiatan administratif P2K3 termasuk rapat bulanan ataupun tinjauan
manajemen

Kesiagaandan Tanggap Darurat


a) Mengelola dan memantau kegiatan kesiagaan dan tanggap darurat
b) Berkoordinasi dan melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait pada saat
terjadi kondisi darurat.
- Sub Bidang Pemadam
Melakukan kegiatan pemadaman api atau penanganan kondisi darurat lainnya
1. Mencegah meluasnya kebakaran atau kondisi darurat lainnya
2. Memulihkan keadaan setelah terjadi keadaan darurat

- Sub Bidang Evakuasi


Mengarahkan seluruhkaryawan danpersonel lainnya kelokasi evakuasi yang telah
ditentukan
1. Melakukan penghitungan karyawan
2. Memastikan semua karyawan dan personel lain diperusahaan telah
dievakuasi dari lokasi keadaan darurat

- Sub Bidang P3K


1. Melakukan P3K kepada korban
2. Melakukan kerjasama dengan pihak luar(klinik atau rumah sakit) untuk
penyelamatan korban

Struktur Organisasi K3

KETUA

SEKRETARIS
P2 K3

WAKIL
MANAJEMEN

BAGIAN BAGIAN BAGIAN


OPERASIONAL ADMINISTRAS KESIAGAAN
I

SUB BIDANG
PEMADAM
SUB BIDANG
EVAKUASI
EVAKUASIEVAK
SUB BIDANG P3K
UASI
4. METODE KERJA
1. Prosedur
a. Rencana K3
[Link] Bahaya,Penilaian Resiko,dan Penetapan pengendalian
c. Pengelolaan Peraturan Perundangan K3 dan Persyaratan Lainnya
d. Komunikasi
e. KonsultasiK3
f. IjinKerja
[Link] dan Pengangkutan secara manual dan Mekanis
h. Penanganan Material B3
i. Alat Pelindung diri
j. Kesiagaan danTanggap Darurat
k. Pelaporan dan Penyelidikan Kecelakaan dan Insiden
l. Pemantauan dan pengukuran K3
2. IKA(InstruksiKerja)
a. Keadaan Darurat
b. Petunjuk Praktis K3
3. Form/CheckList
a. Identifikasi Bahaya dan Evaluasi Resiko
b. Ringkasan peraturan perundangan dan Peraturan Lain Catatan Konsultasi K3
d. Laporan dan penyelidikan kecelakaan dan insiden
4. RENCANA FASILITAS K3
1. Peralatan Kesehatan (Kotak P3K)
a. Pengadaan dan penempatan kotak P3K disesuaikan dengan Area yang beresiko kecelakaan
b. Kotak P3K minimal berisi:
 Obat Merah,Yodium
 Pembersih Luka
 Alkohol
 Kapas
 Kain Kasa Steril
 Plester
c. Obat-obat Generic dan obat –obat umum yang bersifat sementara hanya disediakan diruang OHSAS
2. Rambu-rambu Pengaman dan Peringatan
Penempatan rambu-rambu atau tanda-tanda peringatan ditempatkan sesuai dengan area atau daerah
atau lintasan-lintasan yang mempunyai resiko kecelakaan dataupun yang berpotensi akan terjadi
kecelakaan.
Adapun pembagian area tersebut meliputi:
a. Area Pemotongan dan Perakitan Besi adalah:
“DAERAH INI HARUS TETAP BERSIH DAN RAPIH”Jagalah kebersihan sebelum,selama dan
sesudah bekerja,Buanglah sampah pada tempatnya,Letakkan Peralatan SesuaiTempatnya
 “AWASLISTRIK”dan pemasangan aliran listrik
 “HATI-HATI BANYAK BENDA TAJAM DAN RUNCING”
 Pemasangan Logo SarungTangan
b. AreaKerjaadalah:
 “SELAIN YANG BERTUGAS DILARANG MASUK–DAERAH BERESIKO KECELAKAAN”
 “HATI-HATI DAERAH LINTASAN KENDARAAN BERAT”
 “HATI-HATI BANYAK BENDA TAJAM DAN RUNCING”
 “DAERAH WAJIB HELM”dan Pemasangan Logo Helm
c. Area Workshop Adalah:
“DAERAH INI HARUS TETAP BERSIH DAN RAPIH”Jagalah kebersihan sebelum,selama dan
sesudah bekerja,Buanglah sampah pada tempatnya,Letakkan Peralatan SesuaiTempatnya
 “DILARANG MEROKOK”
 Pemasangan Logo Bahaya Api
d. Area Masuk Site
 “DILARANG MASUK KECUALI YANG BERKEPENTINGAN,KARYAWAN PROYEK”
 “DAERAH WAJIB HELM DAN SEPATU”
 “SELAIN YANG BERTUGAS DILARANG MASUK–DAERAH BERESIKO KECELAKAAN”
 “HATI-HATI DAERAH LINTASAN KENDARAAN BERAT”
 Pemasangan Papan Himbauan“KETENTUAN BEKERJA DIPROYEK”
 Pemasangan Rambu Dilarang Masuk
 Pagar Sengdan Portal

e. Area Base Camp


 “DAERAH INI HARUS TETAP BERSIH DAN RAPIH”
f. Area Site
 “HATI-HATI ANDA BEKER JADI KETINGGIAN”

4. RENCANA PROSEDUR DAN INSTRUKSI KERJA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

A. KESEHATAN DALAM BEKERJA

Tahapan

 Buanglah sampah pada tempat-tempat yang sudah disediakan.


 Jagalah alat-alat, material-material dan peralatan tersimpan secara teratur pada tempat-tempat yang sudah
disediakan.

 Jika terdapat paku-paku yang menonjol keluar pada kayu yang masih akan dipakai, maka paku-paku tersebut
harus dicabut. Paku-paku yang menonjol keluar pada potongan kayu yang tidak akan dipakai lagi, maka paku-
paku harus dibengkokkan atau kayu dibuang ditempat pembuagan sampah.
 Setiap luka koyak, luka lecet, atau luka tusuk memerlukan pengobatan segera dan harus dijaga agar tetap
bersih. Luka-luka tusuk merupakan tempat-tempat berbahaya bagi infeksi tetanus, karena itu jagalah agar tetap
bersih dan tertutup.
 Cucilah selalu tangan-tangan anda sebelum merokok atau memegang makanan dan sesudah memegang
bahan-bahan beracun.

B. MENGANGKAT DENGAN AMAN

 Angkatlah dengan santai pilihlah posisi yang dirasakan baik, dengan tidak membungkukkan tulang punggung.
 Hindari usaha yang tak perlu, jangan tempatkan barang-barang yang mana kemudian harus diangkat kembali.
 Hindari meliukkan badan yang tak perlu, putar kaki anda bukan pinggul atau pundak anda. Sisakan ruang yang
cukup guna menggeser kaki anda sehingga tidak harus meliukkan tubuh anda.
 Hindari mengulurkan badan, kendalikan barang-barang yang berada di dekat badan. Hindari mengulur yang
panjang untuk mengankat suatu barang.
 Hindari bobot yang berlebihan, jika muatan terlalu berat bantulah atau gunakan suatu alat mekanis jika alat itu
tersedia.
 Angkat secara perlahan, lancar dan dengan tidak menghentakkannya.
 Jangan angkat jika batuan mekanis memungkinkan.

C. MENYALAKAN DAN MENGGUNAKAN MESIN BOR DAN GERINDA

 Dalam persiapan penggunakan mesin gerinda, pastikan sirkulasi udara berjalan dengan baik.
 Pastikan memakai masker untuk menghindari uap/debu dari sisa bor/gerinda dan kaca mata untuk menghindari
percikan/debu bor/gerinda.
 Nyalakan/tekan tombol on pada mesin bor/gerinda.
 Pegang dengan hati-hati dan benar object kerja yang akan dibor atau digerinda.
 Bila memungkinkan gunakan ragum untuk memegang object kerja pada saat mengebor.
 Pada saat benda kerja di bor/gerinda, konsentrasilah pada benda kerja.
 Matikan/tekan tombol off pada mesin bor/gerinda.
 Setelah bekerja segera bersihkan area kerja dan buang sampah bekas hasil bor/gerinda pada tempat yang
telah disediakan.

D. PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI

 Pekerja wajib menggunakan alat pelidung diri dengan benar sesuai dengan kegiatan pekerjaannya.
 Pekerja wajib memelihara alat pelindung diri sebaik-baiknya.
 Sebelum dan sesudah pemakaian alat pelindung diri pekerja harus melakukan pengecheckan dan pembersihan
secara menyeluruh terhadap kondisi masing-masing alat pelindung diri.
 Tidak boleh menyalahgunakan atau pelanggaran dalam penggunaan alat pelindung diri, diantaranya :
a. Kegagalan untuk memelihara alat pelindung diri yang disediakan.
b. Penolakan dengan sengaja untuk memakai alat pelindung diri yang dibutuhkan.
c. Mendapatkan kecelakaan karena kegagalan memakai alat pelindung diri.

Uraian Penjelasan
1. Aspek penting yang dikendalikan :  APD : Alat pelindung diri, yaitu
alat yang digunakan untuk
Gangguan kesehatan karena aspek lingkungan debu, memberikan perlindungan dan
kebauan, kebisingan, limbah cair dan padat, percikan keselamatan personal pribadi.
api las, tumpahan bahan kimia.
2.
Alat pelindung diri yang digunakan :  Adapun tujuan penggunaan alat
pelindung diri (APD) ini sebagai
 Masker pengendalian dampak ling-
 Ear plug, ear muff kungan yang terjadi pada
 Sarung tangan kegiatan pekerjaan.
 Kaca mata
 Safety shoes

Langkah kerja :
3. a. Pastikan sebelum melakukan kegiatan pekerjaan
pergunakan alat pelindung diri (APD) sesuai
dengan aspek lingkungan yang terjadi di area
pekerjaan.
b. Pakaialah secara benar alat pelindung diri (APD)
tersebut, sehingga dalam upaya pencegahan
gangguan kesehatan dapat secara efektif.
c. Laporkan segera apabila alat pelindung diri (APD)
rusak atau tidak berfungsi dengan baik ke bagian
terkait untuk dimintakan penggan-tian.
d. Selesai.

SLOGAN K3
1. Mulailah keselamatan dan kesehatan kerja dari lingkungan terdekat.
2. Pikirkanlah keselamatan dan kesehatan kerja sebelum bekerja.
3. Kecerobohan dan kelalaian sebab utama kecelakaan kerja.
4. Pastikan pekerjaan anda benar.
5. Periksalah alat-alat sebelum digunakan.

WAJIB BACA
1. Pakailah alat pelindung diri.
2. Mulailah pekerjaan dengan semangat dan akhirilah dengan
selamat.
3. Selain petugas dilarang masuk area proyek.
4. Hindarilah kecelakaan dalam bekerja keluarga anda menunggu di
rumah.
5. Kecerobohan dan kelalaian sebab utama kecelakaan.
GUNAKAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) SESUAI DENGAN
KEGIATAN PEKERJAANNYA

GUNAKAN GUNAKAN GUNAKAN


PELINDUNG PELINDUNG MATA MASKER
TANGAN PELINDUNG

GUNAKAN GUNAKAN HELM GUNAKAN


PELINDUNG KESELAMATAN PELINDUNG KAKI
TELINGA
E. PENGOPERASIAN PERALATAN BERGERAK (MOBILE EQUIPMENT)

 Mengoperasikan dengan aman dan menjaga peralatan bergerak sesuai dengan perintah yang diberikan.
 Segera melaporkan kepada Tim K3 keadaan dan pengoperasian yang tidak sesuai.
 Segera melaporkan bila terjadi kecelakaan ataupun kejadian yang berhubungan dengan peralatan bergerak.
 Pada setiap awal dan sesudah mengoperasikan peralatan bergerak operator mengechek kondisi.

F. PENGGUNAAN ALAT PEMADAM API RINGAN

Tujuan : Memberikan petunjuk untuk penggunaan alat pemadam api ringan (APAR).

Cakupan : Petunjuk ini berlaku untuk semua bagian dalam mengendalikan dan mencegah
dampak lingkungan dari bahaya kebakaran.

Uraian Penjelasan

1. Aspek penting yang dikendalikan: Apar adalah alat pemadam api berbentuk
tabung (berat maksimal 16 Kg) yang mudah
Bahaya kebakaran. dioperasikan oleh satu orang.

2. Langkah kerja :

a. Turunkan alat pemadam api ringan


(APAR) dari tempatnya (dinding
tembok atau bracket).
b. Cabut pen pengaman dan bebaskan
selang.
c. Uji di tempat dengan mengarahkan
semburan ke atas agar tidak
membahayakan orang lain. Langkah ini
tidak perlu dilakukan bila Anda sudah Gambar 2
Gambar 1
dekat sekali dengan lokasi kebakaran.
d. Menuju lokasi kebakaran. Ambil posisi
dengan jarak sekitar 3 meter dari api.
e. Sikap posisi kuda-kuda. Arahkan
nozzle pad pangkal api. Tekan tuas
penyemprot (handle), semprotkan alat
pemadam api ringan (APAR) dengan
cara dikibas-kibas sampai api bisa
dimatikan atau minimalisasi.
f. Selesai.

Gambar 3 Gambar 4

5. PROGRAM PELATIHAN/SOSIALISASI
a. Umum
Suatu kecelakaan kerja dapat diminimalisir dengan upaya penggunaaan dan pemakaian
metoda kerja dan pekerja yang peduli dengan Keselamatan kerja.

Dari sisi peraturan keselamatan kerja, hal tersebut merupakan hak setiap tenaga kerja untuk
mendapatkan kondisi dan tempat kerja yang aman, sehat dan tentaram dan oleh sebab itu
pihak perusahaan di wajibkan melakukan upaya sosialisasi dan pelatihan yang sifatnya
kontinu kepada pekerja konstruksi dan operator untuk hal tersebut pihak perusahaan wajib
untuk memberikan pelatihan dan sosialisasi k3 kepada pekerjanya.

Disamping itu perlu ada suatu pelatihan khusus dalam menangani kecelakaan kerja tersebut,
sehingga pada saat terjadi kecelakaan telah dapat dilakukan pertolongan pertama dengan
benar dan baik

b. Maksud dan Tujuan

Pelatihan dan sosialisasi K3 diselenggarakan untuk memberikan pemahaman dan pengertian


kepada pekerja konstruksi tentang pentingnya penerapan K3 dalam bekerja. Maksud dan
Tujuan meliputi :
1) Membiasakan penggunaan Kelengkapan K3 dalam bekerja untuk mengurangi resiko
kecelakaan
2) Memahami metoda dan prosedur kerja yang Safety dan aman
3) Mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya kematian, jika bahaya tersebut sudah ada,
seperti pada korban yang shock, terjadi pendarahaan yang kuar biasa atau korban
pingsan
4) Mencegah bahaya vavat, baik cacat rohani ataupun cacat jasmani
5) Mencegah infeksi, artinya berusaha supaya infeksi tidak bertambah parah yang
disebabkan perbuatan-perbuatan atau pertolongan yang salah
6) Meringankan rasa sakit

c. Jenis dan bentuk Pelatihan/ Sosialisasi K3


I. Pra Konstruksi
 Briefing medicine awal calon pekerja
 Sosialisasi/pelatihan awal terhadap calon pekerja konstruksi
 Pelatihan Operator alat berat bagi calon operator
 Pelatihan K3 dan DAMKAR
 Pelatihan Metoda Kerja Yang Benar
 Sosialisasi dan Pelatihan P3K

II. Tahap Konstruksi


 Pelatihan Berkala 1x Seminggu untuk pelaksana K3 dilapangan
 Briefing Safety Tools setiap Pagi untuk Pekerja Konstruksi
 Sosialisasi rutin penggunaan APD
 Pelatihan Emergency /Tanggap darurat dilapangan Minimal 1x 3 Bulan

6. PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN (P3K)

a. Umum

Suatu kecelakaan kerja dapat saja terjadi menimpa operator atau orang sekitarnya pada saat
pengoperasian peralatan dan tindakan pertama adalah memberikan pertolongan sesegera
mungkin sebelum penderita mendapat perawatan medis lebih lanjut dari ahlinya (rumah sakit,
poliklinik)

Dari sisi peraturan keselamatan kerja, hal tersebut merupakan hak setiap tenaga kerja untuk
mendapatkan pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan kerja dan oleh sebab itu pihak
perusahaan di wajibkan menyediakan obat-obatan untuk pertolongan pertama tersebut dalam
kotak P3K pada setiap alat

Disamping itu perlu ada suatu pelatihan khusus dalam menangani kecelakaan kerja tersebut,
sehingga pada saat terjadi kecelakaan telah dapat dilakukan pertolongan pertama dengan
benar dan baik

b. Maksud dan Tujuan

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK) diselenggarakan untuk memberikan


pertolongan permulaan yang diperlukan sebelum penderita dibawa ke Rumah Sakit/Poliklinik
terdekat. Pertolongan pertama ini memegang peranan yang penting karena tanpa
pertolongan pertama yang baik, korban mungkin tidak akan tertolong lagi kalo harus
menunggu pengangkutan ke rumah sakit. Maksud dan Tujuan meliputi :
1) Mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya kematian, jika bahaya tersebut sudah ada,
seperti pada korban yang shock, terjadi pendarahaan yang kuar biasa atau korban
pingsan
2) Mencegah bahaya vavat, baik cacat rohani ataupun cacat jasmani
3) Mencegah infeksi, artinya berusaha supaya infeksi tidak bertambah parah yang
disebabkan perbuatan-perbuatan atau pertolongan yang salah
4) Meringankan rasa sakit

c. Pedoman Umum untuk Penolong

i. Menilai Situasi

1) Memperhatikan apa yang terjadi secara cepat dan tenang :


a) Apakah korban pingsan, henti jantung atau henri nafas
b) Apakah korban mengalami pendarahan atau luka
c) Apakah korban mengalami patah tulang
d) Apakah korban mengalami rasa sangat sakit yang berlebihan
e) Apakah korban mengalami luka bakar
2) Memperhatikan apakah ada bahaya tambahan yang mengancam korban atau penolong
3) Harus selalu ingat jangan terlalu berani mengambil resiko, perhatikan keselamatan diri
penolong
ii. Mengamankan tempat kejadian dengan :

1) Melindungi korban dari bahaya


2) Jika perlu meminta orang lain untuk membantu atau laporkan kepada bagian terkait
(missal 118 atau Rescue Team Perusahaan)

iii. Memberi Pertolongan

1) Rencanakan dan lakukan pertolongan berdasarkan tujuan P3K sebagai berikut :


a) Menciptakan lingkungan yang aman
b) Mencegah kondisi korban bertambah buruk
c) Mempercepat kesembuhan
d) Melindungi korban yang tidak sadar
e) Menenangkan korban/penderita yang terluka
f) Mempertahankan daya tahan tubuh korban menunggu pertolongan yang lebih tepat
dapat diberikan
2) Jika pertolongan pertama telah dilakukan, maka segera angkut korban tapi jangan
terburu-buru serahkan pertolongan selanjutnya kepada yang lebih ahli atau bagian yang
bertugas menangani kecelakaan atau kirim ke Dokter atau Rumah Sakit terdekat.

d. Jenis Kecelakaan

iv. Kecelakaan Yang Dapat Membawa Maut

1. Coma (Collapse)

1) Gejala-gejalanya :
a) Keluar keringat dingin
b) Pucat
c) Denyut nadi lemah
d) Telinga berdengking
e) Mual
f) Mata berkunang-kunang
g) Badan lemas
2) Cara pertolongannya :
a) Tidurkan penderita terlentang dengan kepala agak direndahkan
b) Longgarkan pakaian
c) Usahakan agar penderita dapat bernafas dengan udara segar
d) Kalau ada beri selimut agar badannya menjadi hangat
e) Selanjutnya kirimkan ke Dokter atau Rumah Sakit terdekat

2. Shock (Gugat)

Hal ini di sebabkan oleh suatu keadan yang timbul karena jumlah darah yang beredar
dalam pembuluh darah sangat berkurang yang dapat di sebabkan oleh : Pendarahan
keluar atau ke dalam dan luka bakar yang luas yang menyebabkan banyak cairan/serum
darah yang keluar
1) Tanda-tandanya :
a) Nadi berdenyut cepat, lebih 100 kali/menit kemudian melemah, lambat dan
menghilang
b) Pernafasan dangkal dan tidak teratur
c) Bila kedaan lebih lanjut penderita jadi pingsan
d) Penderita pucat dan dingin
e) Penderita merasa mual, lemas, mata berkunang
f) Pandangan hampa dan tidak bercahaya

2) Pertolongan :
a) Baringkan penderita di tempat yang udaranya segar dan kepala lebih rendah
dari kaki
b) Bersihkan mulut dan hidungnya dari sumbatan
c) Hentikan pendarahan bila ada
d) Longgarkan pakaian penderita

[Link]

Fungsi otak terganggu sehingga penderita tidak sadar.

1) Gejala:
a) Penderita tidak sadar, tidak ada reaksi terhadap rangsangan,
b) Penderita berbaring dan tidak bergerak,
c) Pernafasan dan denyut nadi dapat diraba.

2) Pertolongan:
a) Baringkan penderi tadi tempat teduh dan segar,
b) Apabila mukanya merah,kepalanya ditinggikan,dan apabila pucat baringkan tanpa alas kepala,
c) Pakaiannya dilonggarkan,
d) Penderita jangan ditinggalkan seorang diri dan perlu dijaga,
e) Tenangkan bila gelisah,
f) Kalau ada,berikan selimut agar badannya menjadi hangat,
g) Selanjutnya kirimkan ke Dokter atau rumah sakit terdekat.

4. Mati Suri

Yaitu keadaan pingsan dimana peredaran darah dan pernafasan tidak mencukupi [Link] ini sudah
merupakan keadaan yang gawat,karena penderita berada diantara pingsan dan mati.

1) Gejala:
a) Pernafasan tidak tampak dan nadi tidak teraba,
b) Pupil melebar dan tidak menyempit dengan penyinaran,
c) Mukapucat dankebiru-biruan.

2) Cara Pertolongan:
a) Baringkan terlentang dan longgarkan pakaian penderita,
b) Hilangkan semua barang yang dapat menyumbat pernafasan,
c) Berikan pernafasan buatan.
Pernafasan buatan adalah suatu usaha mencoba agar paru-paru penderita dapat bekerja kembali
dengan cara mengembang dan mengempiskan paru-paru [Link] di kirim ke Dokter atau rumah
sakit terdekat
Gambar [Link] kemulut

5. Pendarahan

1) Dilihat dari sudut keluarnya darah,pendarahan ada 2 macam yaitu:


a) Pendarahan ke luar,
b) Pendarahan ke dalam.

2) Dilihat dari sudut macam nya pembuluh darah yang putus,pendarahanada 3 macam yaitu:
a) Pendarahan pembuluh nadi (arterial),
b) Pendarahan pembuluh balik(vena),
c) Pendarahan pembuluh rambut (capiler).

3) Untuk memberikan pertolongan terhadap penderita yang mengalami pendarahan dapat dilakukandenganber
macam- macam cara diantaranya:
a) Cara pertama:
Penderita didudukan atau ditidurkan tergantung dari hebatnya pendarahan,
Bagian tubuh yang mengalami luka ditinggikan,
Hentikan pendarahan dengan menekan anggota bagian diatas luka,
Bersihkan luka dari kotoran yang ada,
Letakkan diatas luka,sepotong kain kas asteril berlipat dan tekan sampai darah berhenti
keluar,kemudian pasang pembalut tekan (plester).

b) Untuk pendarahan yang hebat ditangan atau kaki dapat digunakan caratorniquet
(torniket, penarat darah).
Torni ketadalah balutan yang menjepit sehingga aliran daerah dibawahnya terhenti sama sekali.
Perhatikan bila menggunakan penarat darah:
 Tiap 10 menit harus dikendorkan dengan memutar kayunya,
 Memasang penarat darah antara luka dan jantung,
 Penderita yang dikorniket harus segera dibawa kerumah sakit untuk pertolongan lebih lanjut dan
harus mendapat prioritas pertama,
 Harus dicatat jam berapa penarat darah dipasang dan dibuka,
 Cara torniket ini hanya dianjurkan bagi mereka yang sudah menguasai.

6. Luka-luka

Luka adalah ada nya jaringan kulit yang terputus atau rusak oleh suatu [Link] sebabnyadapatdikenal
bermacam- macam luka yaitu sebagai berikut :
● Luka memar kena pukul,
● Luka gores,
● Luka tusuk,
● Luka potong,
● Luka bacok,
● Luka robek,
● Luka tembak,
● Luka bakar.

1) Memberikan pertolongan kepada penderita yang mengalami luka pada dasar nya adalah:
a) Menghentikan pendarahan, b)
Mencegahinfeksi,
c) Mencegah kerusakan lebih lanjut,
d) Menggunakan cara yang memudahkan/ mempercepat penyembuhan.

2) Cara memberikan pertolongan pertama penderita yang mengalami luka adalah sebagai berikut :
a) Luka dikepala:

 Tidurkan penderita terlentang tanpa alas kepala


jika disertai pingsan,
 Oleskan obat merah dengan lidi kapas,
 Tutup dengan kasa steril dan perban,
 Segera bawa penderitake Dokter atau rumah sakit
Gambar [Link]
terdekat.
memposisikan

b) Lukadi dada terbuka tembus paru-paru


 Tidurkan penderita setengah duduk,
 Rawat lukanya seperti merawat luka biasa,
 Berilah plesteratau pembalut penekan supaya
udara tidakmasuk,
 Segera bawa penderita ke Dokter atau rumah
Gambar [Link] sakit terdekat.
memposisikan

a) Luka bakar
Dilihat dari berat tidak nya,luka bakar dapat dibagi dalam beberapa tingkat :(1) Luka bakar
tingkat I (Erythema)
 Warna luka kemerah-merahan,
 Yang terbakar hanya lapisan atas dari kulit ari,
 Penderita merasakan sakit,dan luka bengkak.

Cara memberikan pertolongan:


 Hapus kan kekuatan dari bahan yang membakar,
 Berikan obat liver tranzalf atau bio-placentan/obat luka bakar,
 Tutup luka bakar dengan menggunakan kasasteril,
 Balut dengan cara longgar-longgar,
 Berikan banyak minum kepada penderita,
 Jaga agar penderita jangan sampai kedinginan.

(2) Luka bakar tingkat II (Bullosa)


Luka bakar tingkat II mempunyai tanda-tanda sebagai berikut :
 Kulit melepuh,
 Pembakaran sampai kulit ari,
 Terdapat gelembung-gelembung berisi cairan.

Cara memberikan pertolongan:


 Tutup luka dengan menggunakan kasas teril,
 Berikan banyak minum kepada penderita,
 Jaga agar penderita tidak sampai kedinginan,
 Bawa penderita kerumah sakit.
(3) Luka BakarTingkat III (Escarotica) :
Luka bakar tingkat III mempunyai tanda-tanda sebagai berikut :
 Pembakaran sampai pada kulit jangat,
 Warna lukahitam keputih-putihan.

Cara memberikan pertolongan adalah seperti memberikan pertolongan pertama pada penderita
luka bakar tingkat II.

(4) Luka bakar tingkat IV(Carnisasio)


Luka bakar tingkat IVmempunyai tanda-tanda sebagai berikut :
 Pembakaran sampai pada jaringan ikat atau lebih,
 Kulit ari dan kulit jangat telah terbakar.

Cara memberikan pertolongan kepada penderita luka bakar tingkat IV sama seperti memberikan
pertolongan pada penderita luka bakar tingkat II atau tingkat III.

7. Patah tulang

Pertolongan pertama pada penderita yang mengalami patah tulang adalah merupakan salah satu pertolongan
yang sangat penting,karena dengan memberikan pertolongan pertama berarti berusaha untuk mencegah
penderita dari kehilangan salah satua nggota badan.

Dilihat dari jenis nya patah tulang terdiri dari:


1) Patah tulang terbuka
Artinya:tulang yang patah menonjol keluar yang langsung berhubungan dengan udara
(ada luka diluar).

2) Patah tulang tertutup


Dalam hal ini artinya:tulang yang patah,ujungnya masih tertutup (tidak berhubungan dengan udara luar).

3) Gejala–gejala patah tulang:


a) Penderita tidak dapat menggerakan bagian badan yang patah,
b) Tempat tulang yang patah amat sakit dan akan terasa lebih sakit bila tempat yang patah tersentuh atau
bila di gerakkan,
c) Bentuk bagian badan itu ber lainan dari biasanya,
d) Disekitar tempat yang patah bengkak dan warnanya kebiru–biruan,
e) Pada patah tulang terbuka,kulit dan daging robek,dan ujung tulang yang patah menjorok keluar.

4) Cara memberikan pertolongan pada penderita yang mengalami patah tulang:


a) Pakaian yang menutupi patah tulang tertutup tidak perlu dibuka,sedangkan patah tulang terbuka,
pakaian harus dibuka (dirobekkan)agar dapat dibalut,
b) Luka ditutup dengan kasa steril,
c) Pada patah tulang terbuka hentikan pendarahan dengan pembalut,
d) Kerjakan pembalutan yang memenuhi syarat,
e) Anggota badan yang patah ditinggikan,
f) Segera bawa kerumah sakit.

5) Cara–cara pembidaian :
a) Bidai haruskedua sendi dari tulang yang patah,
b) Tidak boleh terlalu keras atau terlalu kendor ikatannya,
c) Bidai dialasi agar jangan menambah perasaan sakit,
d) Ikatan harus cukup jumlahnya dimulai dari atas dan dari bawah bagian yang patah,
e) Sediakan dulu perlengkapan kapan secukupnya
E. EVALUASI KINERJA KESELAMATAN KONSTRUKSI

Kegiatan evaluasi kinerja K3 dilakukan mengacu pada kegiatan yang dilaksanakan pada Elemen Pengendalian dan
Operasi K3, berdasarkan upaya pengendalian pada Elemen Perencanaan K3

E.1. Pemantauan dan Evaluasi

Setiap program yang dilalksanakan tentunya perlu dilakukan evaluasi guna mengukur seberapa jauh program
tersebut berhasil dan tercapai. Dalam proyek konstruksi tentunya perlu dilakukan evaluasi terhadap
keselamatan konstruksi seperti :

1. Evaluasi laporan mingguan, bulanan kecelakaan kerja


2. Evaluasi laporan Accident fatality
3. Evaluasi laporan penyakit menular dilapangan
4. Evaluasi [Link] perlengkapan APD
5. Evaluasi laporan penangan Medis dan Emergency
6. Evaluasi kunjungan lapangan/laporan inspeksi
Semua laporan tersebut akan dijadikan pedoman bagi puncak pimpinan untuk mengambil kebijakan
penerapan K3 dan evaluasi yang berkelanjutan.

Tabel E.1. Pemantauan Dan Evaluasi

BULAN KE-
NO KEGIATAN PIC (Sesuai Masa Pelaksanaan)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Inspkeksi
Petugas K3/
1 Keselamatan
Pelaksana
Konstruksi
Patroli
Petugas K3/
2 Keselamatan
Pelaksana
Konstruksi
Petugas K3/
3 Audit Internal
Pelaksana

[Link] Manajemen

Tinjauan Manajemen fokus terhadap keseluruhan kinerja Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Kesesuaian Sistem Keselamatan Dan Kesehatan Kerja terhadap Operasioanl dan aktivitas Perusahaan
2. Kecukupan Pemenuhan penerapan Sitem Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terhadap
kebijikan K3 perusahaan
3. Keefektitvan penyelesaian tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan serta hasil-hasil lain yang
dicita-citakan.

Tinjauan Manajemen dilaksanakan oleh Pimpinan Perusahaan dan dilaksanakan secara berkala yang secara
umum dilaksanakan minimal 1 (satu) Bulan sekali untuk meninjau penerapan Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Perusahaan berjalan secara tepat.
Hal-hal yang dapat dijadikan acuan dalam melaksanakan Tinjauan Manajemen antara lain :

1. Laporan keadaan darurat (termasuk kejadian serta pelatihan/simulasi/pengujian tanggap darurat).


2. Survey kepuasan tenaga kerja terhadap penerapan K3 di tempat kerja.
3. Statistik insiden kerja (termasuk kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja).
4. Hasil-hasil inspeksi.
5. Hasil dan rekomendasi pemantauan dan pengukuran kinerja K3 di tempat kerja.
6. Kinerja K3 kontraktor.
7. Kinerja K3 pemasok.
8. Informasi perubahan peraturan perundang-undangan dan persyaratan lain yang berkaitan dengan
penerapan K3 di tempat kerja.

E.3. Peningkatan Kinerja Keselamatan Konstruksi

Peningkatan kinerja keselamatan konstruksi dilakukan dengan melakukan pemantauan, pengawasan, pelatihan dan
pembahasan rapat SMK3 secara periodik serta dengan melaksanakan audit secara menyeluruh dimulai pada tahap
pelaksanaan serta penyelesaian proyek.
Untuk meningkatkan kinerja keselamatan konstruksi perusahaan berupaya:

[Link] lingkungan kerja yang kondusif


[Link] pendanaaan yang layak untuk penerapan K3
[Link] kepedulian yang tinggi antar pekerja
[Link] komunikasi yang konstruktif dalam proses penyelenggaraan k3
[Link] media K3
[Link] evaluasi berkala terhadap sistem k3 yang diterapkan perusahaan

D. PENUTUP

Keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam sistem ketenagakerjaan
dan sumber daya manusia terutama dalam pekerjaan konstruksi.

Keselamatan dan kesehatan kerja tidak saja sangat penting dalam meningkatkan jaminan sosial dan kesejahteraan
para pekerjanya akan tetapi jauh dari itu keselamatan dan kesehatan kerja berdampak positif atas keberlanjutan
produktivitas kerjanya. Oleh sebab itu isu keselamatan dan kesehatan kerja pada saat ini bukan sekedar kewajiban
yang harus diperhatikan oleh para pekerja, tetapi juga harus dipenuhi oleh sebuah sistem pekerjaan. Dengan kata
lain pada saat ini keselamatan dan kesehatan kerja bukan semata sebagai kewajiban, akan tetapi sudah menjadi
kebutuhan bagi setiap para pekerja dan bagi setiap bentuk kegiatan pekerjaan. Pra rencana K3 Kontrak (Pra‐RKK)
ini sebagai acuan bagi penyelenggaraan sistem manajemen K3 Konstruksi bidang Pekerjaan Umum yang dapat
dilaksanakan secara sistematis, terencana, terpadu dan terkoordinasi (agar semua pemangku kepentingan
mengetahui dan memahami tugas dan kewajibannya dalam penyelenggaraan sistem manajemen K3 Konstruksi
bidang Pekerjaan Umum khususnya untuk pekerjaan ini sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja
konstruksi dan penyakit akibat kerja konstruksi serta menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman, yang
pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja.

Kami CV. CIPTA KAJIMA secara kontinu dan komitmen terhadap penerapan RKK dalam pelaksanaan pekerjaan
Konstruksi dengan target pencapaian dan program kami, yaitu:
1. ZERO ACCIDENT
i. Meninggal / Cacat Tetap (0%)
ii. Kehilangan Jam Kerja akibat Kecelakaan kerja maksimal 1 %
iii. Kehilangan jam kerja akibat sakit maksimal 5 %

2. PEMENUHAN UNDANG-UNDANG DAN PERATURAN SMK3

3. PEMAHAMAN DAN KESADARAN K3 SELURUH KARYAWAN


i. Penggunaan APD 95 %
ii. Laporan kerja K3 minimal 1 kali dalam sebulan

PROGRAM K3

- Mengidentifikasi dan membuat analisa Bahaya dan Resiko setiap pekerjaan.


- Mengawasi setiap pekerjaan beresiko tinggi dengan dikeluarkannya Surat Ijin Kerja
- Melakukan Safety Briefing di setiap awal bekerja kepada seluruh pengawas dan pekerja.
- Melakukan Safety Patroli dan Inspeksi terhadap Lokasi Kerja, Metode dan PeralatanKerja.
- Membuat metode pengamanandan pengawasan terhadap alat selamabekerjakhususnya alat angkat, angkut
dan muat.
- Penyediaan alat dan pendukung keselamatan kerja (Rarnbu-rambu, APD, Pemadam kebakaran, P3K).
- Membatasi kerja lernbur
- Pemeriksaan kesehatan setiap pekerja beresiko tinggi ( secara periodik )
- Menyediakan Alat Pelindung Diri sesuai kebutuhan
- Meningkatkan kedisiplinan terhadap pernakaian APD melalui inspeksi danpunishment (bila diperlukan)
- Mensosialisasikan Perurundang-undangan dan Peraturan K3
- Memberikan training / pelatihan internal yang berhubungan dengan kesadaran K3

Demikian PRA RKK ini dibuat secara umum dan garis besarrya saja, sedangkan RKK yang lebih detail akan
dibuat pada saat awal pelaksanaan nanti dan akan diajukan kepada Pengguna Jasa jika ditetapkan sebagai
pemenang. Diharapkan pada perencanaan RKK nanti dapat lebih jelas dan mendetail dan dapat mencakup
seluruh pencapaian sasaran dan program K3.

Demikian terima kasih.

Batam, 23 Juni 2023


CV. CIPTA KAJIMA

Ayuniawati
Direktur

Anda mungkin juga menyukai