Rencana Keselamatan Konstruksi SDN 005
Rencana Keselamatan Konstruksi SDN 005
NAMA PAKET
DAFTAR ISI
A. Kepemimpinan dan partisipasi pekerja dalam keselamatan Konstruksi
C.2. Kompetensi
C.3. Kepedulian
C.4. Komunikasi
Kepemimpinan adalah suatu proses yang kompleksdi mana seorang mempengaruhi orang-
oranglain untuk mencapaisuatu misi,tugas,atau suatu sasaran,dan mengarahkan organisasi yang
membuatnya lebih kohesif dan lebih masuk [Link] pemimpin membuat orang memiliki kemauan
untuk mencapai tujuan dan sasaran yang tinggi, sedangkan seorang kepalamenyuruh orang untuk
mencapai suatutugasatausasaran Wirjana (2006).Kepemimpinan itu adalah aktivita suntuk
mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi Thoha (2007).
Partisipasi adalah Keterlibatan pekerja berperan secara aktif dalam proses atau alur tahapan
program pelaksanaan kegiatan.
Didalam pekerjaan konstruksi peran dan fungsi kepemimpinan sangatlah penting untuk
memastikan kelancaran operasional pekerjaaan selama pelaksanaan, baik dalam penerapan K3 maupun
manejerial kerja.
Menurut Leininger (1981) menyimpulkan bahwa “kepedulian” adalah perasaan yang ditujukan
kepada orang lain, dan itulah yang memotivasi dan memberikan kekuatan untuk bertindak atau beraksi,
dan mempengaruhi kehidupan secara konstruktif dan positif, dengan meningkatkan kedekatan dan self
actualization satu sama lain.
Elemen Dasar Kepemimpinan dalam SMK3 meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan
organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki
kelompok dan budayanya.
Didalam pekerjaan konstruksi kepedulian pimpinan sangatlah penting untuk merespon isu-isu yang
terjadi di lokasi kerja atau lingkungan proyek, baik yang bersifat eksternal maupuan [Link]
dan keselamatan kerja merupakan salah satu isu yang sangat penting untuk dilaksanakan sesuai dengan
Standar Operasional Prosedur agar kecelakaan kerja dapat menjadi Zero Accident dan Non Fatality.
Pekerjaan konstruksi merupakan salah satu pekerjaan yang mempunyai resiko tinggi terutama pada
tahap pelaksanaan konstruksi, tidak terkecuali dalam pekerjaan pelaksanaan konstruksi jalan dan
jembatan.
Mempertimbangkan hal tersebut maka diperlukan ketentuan atau Pedoman Pelaksanaan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) untuk Konstruksi Jalan dan Jembatan agar keselamatan dan kesehatan kerja
bagi para pekerja konstruksi lebih terjamin Selama masa pelaksanaan pekerjaan.
Kami, [Link] KAJIMA yang bergerak dalam bidang Jasa Konstruksi berkomitmen dan peduli terhadap
Keselamatan Konstruksi khusus dalam pencapaian penanganan isu keselamatan konstruksi dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
Nama : Ayuniawati
Jabatan : Direktur
AYUNIAWATI
Direktur
B. PERENCANAAN KESELAMATAN KONSTRUKSI
CV. CIPTA KAJIMA, yang komitmen dalam pelaksanaan K3 selalu konsisten dan berkesinambungan dalam penerapan K3 selama Periode
Konstruksi, dan kami sebagai perencanaan awal akan membuat Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Skala Prioritas, Pengendalian Risiko,
Penanggung Jawab untuk diserahkan, dibahas, dan disetujui PPK pada saat Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak sesuai lingkup pekerjaan yang
dilaksanakan. Penyusunan Identifikasi Bahaya, Penilaian Resiko K3, Skala Prioritas K3, Pengendalian Resiko K3, dan Penanggung Jawab K3
terdapat pada tabel berikut ini :
SASARAN PROGRAM
JENIS/TIPE
NO PENGENDALIAN RESIKO URAIAN SUMBER JADWAL BENTUK INDIKATOR PENANGGUNG
PEKERJAAN URAIAN TOLOK UKUR
KEGIATAN DAYA PELAKSANAAN MONITORING PENCAPAIAN JAWAB
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Fasad Bangunan 1) Diberikan penyuluhan bahaya Dilakukan inpeksi K3 dan Laporan Melakukan Bahan dan Sebelum dan Sesuai Cheklist Kecelakaan Kerja Pengawas
kecelakaan kerja sebelum penyuluhan Rutin kepada inpeksi K3 inpeksi K3 Materi Jadwal Pelaksanaan Menurun dan Zero lapangan /petugas
(Pemasangan rangka bekerja pekerja dan Tentang K3 Fatality K3
Atap dan Atap penyuluhan
Rutin kepada
pekerja
2) Pengaturan Lalu lintas & Tersedia nya rambu- Petugas Menyediakan Petugas Selama jadwal Cheklist Petugas mengatur Pengawas
Lokasi Kerja selama rambu lalu lintas/kerja pengatur lalu Petugas pengatur pelaksanaan lalulintas dan lapangan /petugas
pekerjaan berlangsung atau petunjuk di tempat lintas&rambu- Pengatur dan pekerjaan terpasangnya K3
kerja rambu kerja &rambu- Rambu- rambu-rambu
rambu rambu selama pekerjaan
kerja petunjuk
/petunjuk di
tempat kerja
3) Menggunakan perlengkapan Tersedianya APD (Safety Perlengkapan Menyediakan Perlengkpa Sesuai Jadwal Cheklist 100% sesuai SNI Pengawas
kerja yang standar dan Layak Tools) dilokasi kerja kerja APD APD (Safety n kerja Pelaksanaan lapangan
(Sepatu Boot, Helm, masker Tools) APD / /petugas K3
dilokasi kerja Safety
dan Kacamata)
Tools
4) Melaksanakan SOP pekerjaan Tersedia nya instrkusi Dokumen Menyediakan Dokumen Sesuai Jadwal Cheklist Tertib dan Quality
yang benar kerja dan SOP Standar instrkusi kerja SOP Pelaksanaan paham SOP Engineer
dilapangan Operasional dan SOP pekerjaan
Pekerjaan dilapangan
B.3. STANDARD DAN PERATURAN PERUNDANGAN
Daftar perundang-undangan dan persyaratan K3 yang diwajibkan dipunyai dan dipenuhi dalam
melaksanakanpekerjaaniniadalah:
- UUD1945
- UUNo.1/1970 Keselamatan Kerja
- UUNo.13/2003 Ketenaga Kerjaan
- PermenakerNo.1/1980Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada kegiatan Konstruksi
- Keputusan Bersama Menaker- MenPU No.174/MEN/1986 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
padakegiatan Konstruksi
- PermenakerNo.5/1996 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)
- PermenPUNo.09/2008 Pedoman Sistem Manajemen K3Konstruksi
- UUNo.14/1969 KetentuanPokokMengenaiTenagaKerja
- UUNo.23/1992 TentangKesehatan
- UUNo.3/1992 TentangJaminanSosisalTenagaKerja
- PERMEN NAKER No PER.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja.
- UUNo.18/1999 Tentang Jasa Konstruksi
- UUNo.28/2002 Tengang Bangunan Gedung
- UUNo.13/2003 Tentang Ketenagakerjaan
- Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang penerapan SMK3
- Peraturan Menteri PU Republik Indonesia No.05/PRT/2014 tentang Pedoman SISTEM
MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KONSTRUKSI BIDANG
PEKERJAAN UMUM
- PP 37 tahun 2017 tentang Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
- PerMen PUPR Nomor 21/PRT/M/2019 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan
Konstruksi.
[Link] DAYA
Sumber daya merupakan suatu kemampuan potensial yang dimiliki untuk suatu kegiatan atau pencapaian tujuan
kegiatan.
Dalam penerapan K3 pada pekerjaan konstruksi adapun sumber daya yang kami dimiliki adalah:
1. Sumber daya Manusia
Adalah ketersediaan dan kemampuan sumber daya manusia perusahaan untuk menerapkan dan
melaksanakan k3, seperti SDM: Manager K3, tenaga ahli K3 dan Petugas K3. Perusahaan kami sebagai
salah satu perusahaan yang sangat peduli dengan K3, mempunyai tenaga ahli k3 berpengalaman yang
telah bersertifikasi dan karyawan/personil yang telah dilatih dengan penerapan K3 secara berkelanjutan.
[Link]
Kompetensi adalah kewenangan dan kecakapan atau kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas atau
pekerjaan sesuai dengan jabatan yang disandangnya.
Didalam pekerjaan konstruksi kecakapan seseorang dalam bekerja sangatlah penting, karena sangat erat kaitannya
dengan mutu pekerjaan dan keselamatan pekerja itu sendiri selama bekerja. Memahami, mengerti dan peduli akan
keselamatan kerja merupakan sikap mental yang mendasar untuk mengurangi angka kecelakaan kerja.
Perusahaan kami yang bergerak di bidang kontruksi mempunyai tenaga-tenaga yang kompeten sesuai bidangnya
dan memiliki tenaga dan petugas K3 yang bersertifikasi yang handal.
Kami berkomitmen dalam penerapan pelaksanaan keselamatan kontruksi di lingkungan kerja dengan mentaati
ketentuan dan perundangan K3 termasuk memberikan program pelatihan dan peningkatan kinerja karyawan melalui
uji kompetensi terhadap seluruh tenaga kerja sesuai dengan keahlian bidang masing- masing.
[Link]
Memberikan panduan dalam kegiatan peningkatan kompetensi pegawai
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini dilaksanakan dalam lingkup kegiatan kompetensi pegawai pada perusahaan kami, meliputi : Usulan
program peningkatan kompetensi pegawai, Pembentukan Tim, Penentuan peserta, Pelaksanaan kegiatan
peningkatan Kompetensi Karyawan.
3. REFERENSI
a. Pedoman Mutu
b. Prosedur Penerimaan Karyawan
6. F O R M
a. Daftar peserta program peningkatan kompetensi pegawai
b. Daftar hadir peserta
c. Jadwal kegiatan
d. Form Evaluasi
7. INSTRUKSI KERJA
8. REKAMAN MUTU
a. Daftar peserta program peningkatan kompetensi pegawai
b. Daftar hadir peserta
c. Jadwal Kegiatan
d. Evaluasi pelaksanaan kegiatan
a. Daftar Personil
Memuat daftar personel yang ikut dalam Pengawasan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi.
b. Sertifikat Personil
Memuat sertifikat Personel yang ikut dalam Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi pada Tabel Daftar Personel
Pengawas Pelaksana Pekerjaan Konstruksi:
1. SKA Ahli Muda Teknik Bangunan Gedung
2. SKA K3 Konstruksi
[Link]
Didalam pekerjaan konstruksi, kepedulian seseorang dalam bekerja sangatlah penting, karena sangat erat
kaitannya rasa social antara satu sama lainnya. Kepedulian atasan terhadap pekerja berdampak motivasi kerja
yang besar bagi pekerja. Memahami, mengerti dan kepedulia akan keselamatan kerja merupakan sikap mental
yang mendasar untuk mengurangi angka kecelakaan kerja
[Link]
Untuk memperlancar proses pekerjaan peran komunikasi sangat penting antara pekerja dengan pekerja, atasan
dengan pekerja proyek. Komunikasi yang baik akan tersampaikan maksud dan tujuan dari pemberi informasi. Untuk
memastikan penerapan prinsip K3 dan keselamatan selama bekerja perlu komunikasi yang baik. Untuk mendukung
hala tersebut perusahaan kami melakukan BST ( Briefing Safety Tools) bagi setipa pekerja yang akan bekerja dan
secara kontinu menyampaikan pesan-pesan keselamatan bekerja dalam bentuk rambu-rambu keselamatan kerja.
1. TUJUAN
Memberikan pedoman untuk penyebarluasan atau mengkomunikasikan informasi- infomasi lingkungan
hidup, keselamatan
dan kesehatan kerja kepada pihak internal dan eksternal perusahaan secara efektif.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku untuk seluruh fasilitas operasi kami dan semua pihak yang bekerja di area tersebut.
Hal-hal yang diatur dalam prosedur ini adalah cara untuk menyebarluaskan informasi-informasi terkait
dengan lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan kepada pihak internal maupun eksternal
Perusahaan.
[Link] TERDOKUMENTASI
Setiap kegiatan yang mendukung program K3 akan disampaikan dan didokumentasikan dengan baik, sebagai
media tanda pendukung penerapan prinsip K3 selama pekerjaan konstruksi. Informasi yang terdokumentasi juga
sebagi pedoman bagi pimpinan pengambil kebijakan dalam mengambil action plan penerapan K3 yang efektif,
efisiendan ekonomis. Di lapangan dan Barak pekerja akan disediakan media papan informasi kegiatan K3.
Untuk menjamin kerahasiaan semua informasi yang berkaitan dengan K3, diatur dan mengikuti peraturan
perusahaan mengenai Non -Disclosure Agreement (Perjanjian/Kesepakatan Tidak Membocorkan Rahasia
Perusahaan) yang telah ditanda tangani oleh setiap karyawan Perusahan Kami.
URUTAN PENANGGUNG
IDENTIFIKASI PENGENDALIA
NO URAIAN KET LANGKAH JAWAB
BAHAYA N
PEKERJAAN
1 Helm/ Safety Helm Petugas K3/
V V V V
Pelaksana
2 Sepatu/ Safety Petugas K3/
V V V V
Shoes Pelaksana
3 Sarung Petugas K3/
Tangan/Safety V V V V Pelaksana
Gloves
4 Rompi Petugas K3/
Keselamatan/Safety V V V V Pelaksana
Vest
5 Masker Pernafasan, Petugas K3/
V V V V
dll Pelaksana
Penanggung
Urutan Langkah Pekerjaan Identifikasi Bahaya Pengendalian
Jawab
Fasad Bangunan (Pemasangan rangka Terjadi Insiden berupa pekerja Diberikan penyuluhan bahaya Petugas K3/
terkena peralatan kerja/Alat kecelakaan kerja sebelum
Atap dan Atap Berat sehingga terjadi Luka Pelaksana
bekerja,
Terjadi insiden berupa pekerja Pengaturan Lalu lintas & Lokasi
terjatuh ketika erection Kerja selama pekerjaan berlangsung
sehingga terjadi luka ringan dan Menggunakan perlengkapan
luka berat, kerja yang standar dan Layak
terjadi insiden berupa pekerja
kejatuhan material (Sepatu Boot, Helm, masker
dan Kacamata)
Melaksanakan SOP pekerjaan
dengan benar
Perencanaan operasional berupa prosedur kerja / petunjuk kerja, yang harus mencakup seluruh upaya
pengendalian, diantaranya :
1. Upaya pengendalian berdasarkan lingkup pekerjaan
2. Rencana penunjukan personil yang akan ditugaskan menjadi Penganggung Jawab Kegiatan SMK3
3. Prediksi dan rencana penanganan kondisi keadaan darurat tempat kerja
4. Rencana prosedur / petunjuk kerja yang perlu di siapkan
5. Rencana program pelatihan / soisalisasi sesuai pengendalian resiko
6. Sistem pertolongan pertama pada kecelakaan
7. Rambu Peringatan / Larangan / Anjuran
a. Penempatan Rambu-rambu peringatan/larangan/anjuran harus dipasang sesuai dengan kondisi di
tempat kerja
b. Rambu peringatan/larangan/anjuran harus mudah dilihat dan dapat dibaca
8. Alat Pelindung Diri
a. Alat pelindung diri diidentifikasi berdasarkan hasil penilaian risiko
b. Alat pelindung diri (APD) diberikan kepada pekerja sesuai dengan jenis pekerjaan
9. Tamu/pengunjung dan pihak luar
a. Pengendalian dan pembatasan akses masuk dan akses keluar tempat kerja
b. Persyaratan APD (Alat Pelindung Diri
c. Induksi K3
1. KETENTUAN PELAKSANAAN K3
Kewajiban umum disini dimaksudkan kewajiban umum bagi perusahaan Penyedia Jasa
Konstruksi yaitu :
Penyedia Jasa memberikan pekerjaan yang cocok untuk tenaga kerja sesuai
dengan
Keahlian, umur, jenis kelamin dan kondisi fisik / kesehatannya
Sebelum pekerjaan dimulai penyedia jasa menjamin bahwa semua tenaga kerja
telah diberi petunjuk terhadap bahaya dari pekerjaannya masin-masing dan usaha
pencegahannya, untuk itu penyedia jasa dapat memasang papan-papan
pengumuman
Papan-papan peringatan serta sarana-sarana pencegahan yang dipandang perlu.
Orang tersebut bertanggung jawab pula atas pemeriksaan berkala terhadap semua
tempat kerja, peralatan, sarana-sarana pencegahan kecelakaan, lingkungan kerja
Dan cara-cara pelaksanaan kerja yang aman.
Hal-hal yang menyangkut biaya yang timbul dalam rangka penyelenggaraan
keselamatan dan kesehatan kerja menjadi tanggung jawab penyedia jasa.
Penyedia jasa konstruksi harus menugaskan secara khusus ahli K3 dan tenaga K3 untuk
setiap proyek yang dilaksanakan. Tenaga K3 tersebut harus masuk dalam struktur organisasi
pelaksanaan konstruksi setiap proyek, dengan ketentuan sebagai berikut :
Petugas keselamatan dan kesehatan kerja harus bekerja secara penuh (Full-Time)
Untuk mengurus dan menyelenggarakan keelamatan dan kesehatan kerja.
Pengurus dan Penyedia Jasa yang mengelola pekerjaan dengan mempekerjakan
pekerja dengan jumlah minimal 100 orang atau kondisi dari sifat proyek memang
memerlukan, diwajibkan membentuk unit Pembina K3.
Panitia Pembina keselamatan dan kesehatan kerja tersebut ini merupakan unit
struktural dari organisasi penyedia jasa yang dikelola oleh pengurus atau penyedia jasa.
Petugas keselamatan dan kesehatan kerja tersebut bersama-sama dengan panitia
Pembina keselamatan kerja ini bekerja sebaik-baiknya, dibawah koordinasi pengurus
atau penyedia jasa, serta bertanggung jawab kepada pemimpin proyek.
Penyedia jasa harus melakukan hal-hal sebagai berikut :
Salah satu tugas pelaksana K3 adalah melakukan pencatatan atas kejadian yang terkait
dengan K3, dimana :
1) Setiap kejadian kecelakaan kerja atau kejadian yang berbahaya harus dilaporkan
kepada instansi yang terkait.
2) Laporan tersebut harus meliputi statistik yang akan menunjukan hal-hal sebagai
berikut :
a. Menunjukan catatan kecelakaan dari setiap kegiatan kerja, pekerja masing-masing.
b. Menunjukan gambaran kecelakaan-kecelakaan dan sebab-sebabnya.
Organisasi untuk keadaan darurat dan pertolongan pertama pada kecelakaan harus di buat
sebelumnya untuk setiap proyek yang meliputi seluruh pegawai/petugas pertolongan pertama
pada kecelakaan dan peralatan, alat-alat komunikasi dan alat-alat lain serta jalur tranportasi,
dimana :
b) Secara berkala, sesuai dengan resiko-resiko yang ada pada pekerjaan tersebut.
Tenaga kerja di bawah umur 18 tahun harus mendapat pengawasan kesehatan khusus,
meliputi pemeriksaan kembali atas kesehatannya secara teratur.
Data yang diperoleh dari pemeriksaan kesehatan harus di catat dan di simpan untuk
referensi
Pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan atau penyakit yang tiba-tiba, harus
dilakukan oleh dokter, juru rawat atau seorang yang terdidik dalam pertolongan pertama
pada kecelakaan (PPPK).
Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan yang memadai, harus disediakan di tempat kerja
dan di jaga agar tidak di kotori oleh debu, kelembaban udara dan lain-lain
Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan harus berisi paling sedikit dengan obat untuk
kompres, perban, antiseptic, plester, gunting dan perlengkapan gigitan ular.
Alat-alat PPPK dan kotak obat-obatan harus tidak berisi benda-benda lain selain alat-alat
PPPK yang diperlukan dalam keadaan darurat
Alat-alat dan kotak obat-obatan harus berisi keterangan-keterangan instruksi yang
mudah dan jelas sehingga mudah dimengerti
Isi dari kotak obat-obatan dan alat PPPK harus diperiksa secara teratur dan harus dijaga
supaya tetap berisi (tidak boleh kosong)
Kereta untuk mengangkat orang sakit (tandu) harus selalu tersedia
Jika tenaga kerja dipekerjakan di bawah tanah atau pada keadaan lain, alat penyelamat
harus selalu tersedia di dekat tempat mereka bekerja
Jika tenaga kerja dipekerjakan di tempa-tempat yang menyebabkan adanya resiko
tenggelam atau keracunan, alat-alat penyelamatan harus selalu tersedia di dekat tempat
mereka bekerja
Persiapan-persiapan harus dilakukan untuk memungkinkan mengangkut dengan cepat.
Jika diperlukan untuk petugas yang sakit atau mengalami kecelakaan ke rumah sakit
atau tempat berobat lainnya
Petunjuk/informasi harus diumumkan/ditempel di tempat yang baik dan strategis yang
memberitahukan antara lain :
a) Tempat yang terdekat dengan kotak obat-obatan, alat-alat PPPK, ruang PPPK,
ambulans, tandu untuk orang sakit, dan tempat dimana dapat dicari petugas K3
b) Tempat telepon terdekat untuk menelepon/memanggil ambulans, nomor telepon dan
nama orang yang bertugas dan lain-lain
c) Nama, alamat, nomor telepon Dokter rumah sakit dan tempat penolong yang dapat
segera dihubungi dalam keadaan darurat
Biaya operasional kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja harus sudah di antisipasi sejak
dini yaitu pada saat Pengguna Jasa mempersiapkan pembuatan desain dan perkiraan biaya
suatu proyek jalan dan [Link] pada saat pelelangan menjadi salah satu item
pekerjaan yang perlu menjadi bagian evaluasi dalam penetapan pemenang lelang.
Selanjutnya Penyedia Jasa harus melaksanakan prinsip-prinsip kegiatan kesehatan dan
keselamatan kerja termauk penyediaan prasarana, sumber daya manusia dan pembiayaan
untuk kegiatan tersebut dengan biaya yang wajar, oleh karena itu baik Penyedia Jasa dan
Pengguna Jasa perlu memahami prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja ini agar
dapat melakukan langkah persiapan, pelaksanaan dan pengawasannya.
Dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan K3 untuk konstruksi jalan dan jembatan,
Penyedia Jasa harus mengacu pada Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan
Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) atau Uapaya Pengelolaan Lingkungan (UPL) dan
Uapaya Pemantauan Lingkungan (UPL), bila dokumen tersebut tidak ada maka perencanaan
dan pelaksanaan K3 terutama terkait dengan aspek lingkungan harus mendapatkan
persetujuan dari direksi pekerjaan.
Untuk dapat mencegah terjadinya kebakaran pada suatu tempat atau proyek dapat dilakukan
pencegahan sebagai berikut :
1) Di tempat-tempat kerja dimana tenaga kerja dipekerjakan harus tersedia :
a. Alat-alat pemadam kebakaran
b. Saluran air yang cukup dengan tekanan yang besar
2) Pengawas dan sejumlah/beberapa tenaga kerja harus dilatih untuk menggunakan alat
pemadam kebakaran
3) Orang-orang yang terlatih dan tahu cara menggunakan alat pemadam kebakaran harus
selalu siap di tempat selama jam kerja
4) Alat pemadam kebakaran, harus diperiksa pada jangka waktu tertentu oleh orang yan
berwenang dan dipelihara sebagaimana mestinya
5) Alat pemadam kebakaran seperti pipa-pipa air, alat pemadam kebakaran yang dapat di
pindah-pindah (portable) dan jalan menuju ke tempat pemadam kebakaran harus selalu
di pelihara
6) Peralatan pemadam kebakaranharus diletakkan di tempat yang mudah di lihat dan
mudah di capai
7) Sekurang-kurangnya sebuah alat pemadam kebakaran harus tersedia di Base
Camp/Direksi Kit
Orang yang tidak berwenang tidak diizikan memasuki daerah [Link] jika disertai
oleh orang yang berwenang dan diperlengkapi dengan alat pelindung diri.
Berbagai jenis perlengkapan kerja standar unuk melindungi pekerja dalam melaksanakan
tugasnya antara lain sebagai berikut :
1) Safety hat, yang berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda keras selama
mengoperasikan atau memelihara AMP
2) Safety shoes, yang akan berguna untuk menghindarkan terpeleset karena licin atau
melindungi kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya
3) Kaca mata keselamatan, terutama dibutuhkan untuk melindungi mata pada lokasi
pekerjaan yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya
4) Masker, diperlukan pada medan yang berdebu
5) Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan
dengan bahan yang keras, misalnya membuka atau mengencangkan baut dan
sebagainya
Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian manajemen puncak untuk mengurangi biaya
karena kecelakaan kerja, antara lain :
1) Mengetahui catatan tentang keselamatan kerja dari semua manajer lapangan, informasi
ini digunakan untuk evaluasi terhadap program keselamatan kerja yang telah diterapkan
2) Kunjungan lapangan untuk mengadakan komunikasi tentang keselamatan kerja dengan
cara yang sama sebagaimana dilakukan pelaksanaan monitoring dan pengendalian
mengenai biaya dan rencana penjadwalan pekerjaan
3) Mengalokasikan biaya keselamatan kerja pada anggaran perusahaan dan
mengalokasikan biaya kecelakaan kerja pada proyek yang dilaksanakan
4) Mempersyaratkan perencanaan kerja yang terperinci sehingga dapat memberikan
jaminan bahwa peralatan atau material yang digunakan untuk melaksnakan pekerjaan
dalam kondisi aman
5) Para pekerja yang baru dipekerjakan menjalani latihan tentang keselamatan kerja dan
memanfaatkan secara efektif keahlian yang ada pada masing-masing divisi (bagian)
untuk program keselamatan kerja
Untuk para manajer dan pengawas, hal-hal berikut ini dapat diterapkan untuk mengurangi
kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan pekerjaan bidang konstruksi :
1) Manajer berkewajiban untuk melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja konstruksi
sehingga harus menerapkan berbagai aturan, standar untuk meningkatkan K3, juga
harus mendorong personil untuk memperbaiki sikap dan kesadaran terhadap K3 melalui
komunikasi yang baik, organisasi yang baik, persuasi dan pendidikan, menghargai
pekerja untuk tindakan-tindakan aman, serta menetapkan target yang realities untuk K3
2) Secara aktif mendukung kebijakan untuk keselamatan pada pekerja seperti dengan
memasukan masalah keselamatan kerja sebagai bagian dari perencanaan pekerjaan
dan memberikan dukungan yang positif
3) Manajer perlu memberikan perhatian secara khusus dan mengadakan hubungan yang
erat dengan para mandor dan pekerja sebagai upaya untuk menghindari terjadi
kecelakaan dan permasalahan dalam proyek konstruksi. Manajer dapat melakukannya
dengan cara :
a) Mengarahkan pekerja yang baru pada pekerjaannya dan mengusahakan agar
mereka berkenalan akrab dengan personil dari pekerjaan lainnya dan hendaknya
memberikan perhatian yang khusus terhadap pekerja yang baru, terutama pada
hari-harinya yang pertama
b) Melibatkan diri dalam perselisihan antara pekerja dengan mandor, karena dengan
mengerjakan hal itu, kita akan dapat memahami mengenai tentang sudut pandang
para pekerja. Cara ini bukanlah mempunyai maksud untok merusak (merongrong)
kewibawaan pihak mandor, tetapi lebih mengarah untuk memastikan bahwa pihak
pekerja itu telah diperlakukan secara adil (wajar)
c) Memperlihatkan sikap menghargai terhadap kemampuan para mandor tetapi juga
harus mengakui suatu fakta bahwa pihak mandor itu pun (sebagai nanusia) dapat
membuat kesalahan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara mengizinkan para
mandor untuk memilih para pekerjanya sendiri (tetapi tidak menyerahkan kekuasaan
yang tunggal untuk memberhentikan pekerja)
1.3.3. Pedoman Untuk Mandor
Pedoman yang dapat digunakan pekerja untuk mengurangi kecelakaan dan gangguan
kesehatan dalam pelaksanaan pekerjaan bidang konstruksi antara lain adalah :
1) Permasalahan pribadi dihilangkan pada saat masuk lingkungan kerja
2) Tidak rnelakukan pekerjaan bila kondisi kesehatan kurang mendukung
3) Taat pada peraturan yeng telah ditetapkan
4) Memahami program keselamatan den kesehatan kerja
5) Memahami lingkup kerja yang diberikan
2. UPAYA PENGENDALIAN BERDASARKAN BERDASARKAN LINGKUP PEKERJAAN
Upaya pengendalian Pelaksanaan Teknis K3: dilakukan pada kegiatan ini: (Hanya diuraikan secara garis besar
saja)
Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Fasilitas dan
Pelayanan Pengujian Logistik yaitu :
1) Harus tersedia pemadam kebakaran dan kebutuhan P3K yang memasai diseluruh
barak, kantor, gudang dan bengkel
2) Bahan dan peralatan yang digunakan harus memenuhi syarat
3) Pengangkutan bahan harus sesuai dengan beban lalu lintas pada jalan yang akan
dilewati
4) Bahan dan material berbahaya harus disimpan tersendiri dan terlindung dengan baik
5) Pembuangan bahan atau material harus pada tempat yang telah ditetapkan, aman
dan tidak mengganggu lalu lintas
1.5.2. Penyemprotan
Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada
Pekerjaan perkerasan Aspal yaitu :
1) Petugas penyemprot harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti, sepatu boot, sarung
tangan, helm dan lain-lain yang sesuai dengan standar
2) Pelaksanaan penyemprotan harus dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman di
bidangnya dan selalu menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi
penyemprotan ketika alat penyemprot aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada
agregat
3) Penyemprotan harus dilakukan sedemikian sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada pohon,
struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dan kerusakan
lainnya
4) Selalu menjaga jarak yang aman antara pekerja satu dengan lainnya
5) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari
kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan
pelaksanaan dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancer dengan cara
mengerjakan ½ bagian terlebih dahulu
1.5.3. Penghamparan
1.5.4. Pemadatan
1.5.5. Penyiraman
Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan perkerasan Aspal mempunyai potensi bahaya terhadap
tenaga kerja yaitu :
1) Terjadi iritasi pada mata, kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal
2) Terjadi Gangguan lalu Lintas kendaraan
3) Terluka oleh pengoperasian mesin water tanker
Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada
Pekerjaan perkerasan Aspal yaitu :
1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot, sarung tangan, kaca mata
dan masker) yang sesuai dengan standar
2) Operator mesin penyiram harus dilakukan oleh tenaga yang terampil dan berpengalaman di
budangnya dan menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat
penyiraman pada waktu mesin penyiram sedang bekerja
3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari
kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan
pelaksanaan dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancer dengan cara
mengerjakan ½ bagian terlebih dahulu
- Ketua
a) Menunjukkan kepemimpinan dan komitmennya dibidang K3.
b) Menjamin Sistem Manajemen K3 diterapkan secara efektif untuk mencapai
sasaran serta meninjau ulang secara berkala untuk menjamin efektifitas dan
peningkatan secara berkesinambungan.
c) Menyediakan sumberdaya dan motivasi yang mencukupi untuk mencapai tujuan
dan sasaran.
d) Melaksanakan dan memimpin rapat bulanan Panitia K3
- Sekretaris P2K3
a) Memberikan masukan kepada seluruh bagian berkaitan dengan
penerapan dan peraturan dibidang K3.
b) Membuat laporan Panitia K3 bulanan
c) Berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait mengenai penerapan dan pemenuhan
terhadap peratura nperundangan dan persyaratan K3.
- Bagian Operasional
a) Mengelola kegiatan inspeksi dan audit K3
secara berkala
b) Mengumpulkan dan menganalisa data K3
c) Mengelola Alat Pelindung Diri (APD)
d) Mengelola dan memantau tindakan perbaikan dan pencegahan
e) Mengelola dan memantau penyelidikan dan pelaporan kecelakaan
f) Mengelola pemantauan dan pengukuran K3
g) Memastikan peralatan untuk pertolongan Pertama
h) Memantau pengelolaan materialB3
i) Memantau kegiatan operasional baikdikantor maupun lapangan
- Bagian Administrasi
a) Mengendalikan dokumen dan rekaman baik soft maupun hardcopy
b) Kegiatan administratif P2K3 termasuk rapat bulanan ataupun tinjauan
manajemen
Struktur Organisasi K3
KETUA
SEKRETARIS
P2 K3
WAKIL
MANAJEMEN
SUB BIDANG
PEMADAM
SUB BIDANG
EVAKUASI
EVAKUASIEVAK
SUB BIDANG P3K
UASI
4. METODE KERJA
1. Prosedur
a. Rencana K3
[Link] Bahaya,Penilaian Resiko,dan Penetapan pengendalian
c. Pengelolaan Peraturan Perundangan K3 dan Persyaratan Lainnya
d. Komunikasi
e. KonsultasiK3
f. IjinKerja
[Link] dan Pengangkutan secara manual dan Mekanis
h. Penanganan Material B3
i. Alat Pelindung diri
j. Kesiagaan danTanggap Darurat
k. Pelaporan dan Penyelidikan Kecelakaan dan Insiden
l. Pemantauan dan pengukuran K3
2. IKA(InstruksiKerja)
a. Keadaan Darurat
b. Petunjuk Praktis K3
3. Form/CheckList
a. Identifikasi Bahaya dan Evaluasi Resiko
b. Ringkasan peraturan perundangan dan Peraturan Lain Catatan Konsultasi K3
d. Laporan dan penyelidikan kecelakaan dan insiden
4. RENCANA FASILITAS K3
1. Peralatan Kesehatan (Kotak P3K)
a. Pengadaan dan penempatan kotak P3K disesuaikan dengan Area yang beresiko kecelakaan
b. Kotak P3K minimal berisi:
Obat Merah,Yodium
Pembersih Luka
Alkohol
Kapas
Kain Kasa Steril
Plester
c. Obat-obat Generic dan obat –obat umum yang bersifat sementara hanya disediakan diruang OHSAS
2. Rambu-rambu Pengaman dan Peringatan
Penempatan rambu-rambu atau tanda-tanda peringatan ditempatkan sesuai dengan area atau daerah
atau lintasan-lintasan yang mempunyai resiko kecelakaan dataupun yang berpotensi akan terjadi
kecelakaan.
Adapun pembagian area tersebut meliputi:
a. Area Pemotongan dan Perakitan Besi adalah:
“DAERAH INI HARUS TETAP BERSIH DAN RAPIH”Jagalah kebersihan sebelum,selama dan
sesudah bekerja,Buanglah sampah pada tempatnya,Letakkan Peralatan SesuaiTempatnya
“AWASLISTRIK”dan pemasangan aliran listrik
“HATI-HATI BANYAK BENDA TAJAM DAN RUNCING”
Pemasangan Logo SarungTangan
b. AreaKerjaadalah:
“SELAIN YANG BERTUGAS DILARANG MASUK–DAERAH BERESIKO KECELAKAAN”
“HATI-HATI DAERAH LINTASAN KENDARAAN BERAT”
“HATI-HATI BANYAK BENDA TAJAM DAN RUNCING”
“DAERAH WAJIB HELM”dan Pemasangan Logo Helm
c. Area Workshop Adalah:
“DAERAH INI HARUS TETAP BERSIH DAN RAPIH”Jagalah kebersihan sebelum,selama dan
sesudah bekerja,Buanglah sampah pada tempatnya,Letakkan Peralatan SesuaiTempatnya
“DILARANG MEROKOK”
Pemasangan Logo Bahaya Api
d. Area Masuk Site
“DILARANG MASUK KECUALI YANG BERKEPENTINGAN,KARYAWAN PROYEK”
“DAERAH WAJIB HELM DAN SEPATU”
“SELAIN YANG BERTUGAS DILARANG MASUK–DAERAH BERESIKO KECELAKAAN”
“HATI-HATI DAERAH LINTASAN KENDARAAN BERAT”
Pemasangan Papan Himbauan“KETENTUAN BEKERJA DIPROYEK”
Pemasangan Rambu Dilarang Masuk
Pagar Sengdan Portal
Tahapan
Jika terdapat paku-paku yang menonjol keluar pada kayu yang masih akan dipakai, maka paku-paku tersebut
harus dicabut. Paku-paku yang menonjol keluar pada potongan kayu yang tidak akan dipakai lagi, maka paku-
paku harus dibengkokkan atau kayu dibuang ditempat pembuagan sampah.
Setiap luka koyak, luka lecet, atau luka tusuk memerlukan pengobatan segera dan harus dijaga agar tetap
bersih. Luka-luka tusuk merupakan tempat-tempat berbahaya bagi infeksi tetanus, karena itu jagalah agar tetap
bersih dan tertutup.
Cucilah selalu tangan-tangan anda sebelum merokok atau memegang makanan dan sesudah memegang
bahan-bahan beracun.
Angkatlah dengan santai pilihlah posisi yang dirasakan baik, dengan tidak membungkukkan tulang punggung.
Hindari usaha yang tak perlu, jangan tempatkan barang-barang yang mana kemudian harus diangkat kembali.
Hindari meliukkan badan yang tak perlu, putar kaki anda bukan pinggul atau pundak anda. Sisakan ruang yang
cukup guna menggeser kaki anda sehingga tidak harus meliukkan tubuh anda.
Hindari mengulurkan badan, kendalikan barang-barang yang berada di dekat badan. Hindari mengulur yang
panjang untuk mengankat suatu barang.
Hindari bobot yang berlebihan, jika muatan terlalu berat bantulah atau gunakan suatu alat mekanis jika alat itu
tersedia.
Angkat secara perlahan, lancar dan dengan tidak menghentakkannya.
Jangan angkat jika batuan mekanis memungkinkan.
Dalam persiapan penggunakan mesin gerinda, pastikan sirkulasi udara berjalan dengan baik.
Pastikan memakai masker untuk menghindari uap/debu dari sisa bor/gerinda dan kaca mata untuk menghindari
percikan/debu bor/gerinda.
Nyalakan/tekan tombol on pada mesin bor/gerinda.
Pegang dengan hati-hati dan benar object kerja yang akan dibor atau digerinda.
Bila memungkinkan gunakan ragum untuk memegang object kerja pada saat mengebor.
Pada saat benda kerja di bor/gerinda, konsentrasilah pada benda kerja.
Matikan/tekan tombol off pada mesin bor/gerinda.
Setelah bekerja segera bersihkan area kerja dan buang sampah bekas hasil bor/gerinda pada tempat yang
telah disediakan.
Pekerja wajib menggunakan alat pelidung diri dengan benar sesuai dengan kegiatan pekerjaannya.
Pekerja wajib memelihara alat pelindung diri sebaik-baiknya.
Sebelum dan sesudah pemakaian alat pelindung diri pekerja harus melakukan pengecheckan dan pembersihan
secara menyeluruh terhadap kondisi masing-masing alat pelindung diri.
Tidak boleh menyalahgunakan atau pelanggaran dalam penggunaan alat pelindung diri, diantaranya :
a. Kegagalan untuk memelihara alat pelindung diri yang disediakan.
b. Penolakan dengan sengaja untuk memakai alat pelindung diri yang dibutuhkan.
c. Mendapatkan kecelakaan karena kegagalan memakai alat pelindung diri.
Uraian Penjelasan
1. Aspek penting yang dikendalikan : APD : Alat pelindung diri, yaitu
alat yang digunakan untuk
Gangguan kesehatan karena aspek lingkungan debu, memberikan perlindungan dan
kebauan, kebisingan, limbah cair dan padat, percikan keselamatan personal pribadi.
api las, tumpahan bahan kimia.
2.
Alat pelindung diri yang digunakan : Adapun tujuan penggunaan alat
pelindung diri (APD) ini sebagai
Masker pengendalian dampak ling-
Ear plug, ear muff kungan yang terjadi pada
Sarung tangan kegiatan pekerjaan.
Kaca mata
Safety shoes
Langkah kerja :
3. a. Pastikan sebelum melakukan kegiatan pekerjaan
pergunakan alat pelindung diri (APD) sesuai
dengan aspek lingkungan yang terjadi di area
pekerjaan.
b. Pakaialah secara benar alat pelindung diri (APD)
tersebut, sehingga dalam upaya pencegahan
gangguan kesehatan dapat secara efektif.
c. Laporkan segera apabila alat pelindung diri (APD)
rusak atau tidak berfungsi dengan baik ke bagian
terkait untuk dimintakan penggan-tian.
d. Selesai.
SLOGAN K3
1. Mulailah keselamatan dan kesehatan kerja dari lingkungan terdekat.
2. Pikirkanlah keselamatan dan kesehatan kerja sebelum bekerja.
3. Kecerobohan dan kelalaian sebab utama kecelakaan kerja.
4. Pastikan pekerjaan anda benar.
5. Periksalah alat-alat sebelum digunakan.
WAJIB BACA
1. Pakailah alat pelindung diri.
2. Mulailah pekerjaan dengan semangat dan akhirilah dengan
selamat.
3. Selain petugas dilarang masuk area proyek.
4. Hindarilah kecelakaan dalam bekerja keluarga anda menunggu di
rumah.
5. Kecerobohan dan kelalaian sebab utama kecelakaan.
GUNAKAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) SESUAI DENGAN
KEGIATAN PEKERJAANNYA
Mengoperasikan dengan aman dan menjaga peralatan bergerak sesuai dengan perintah yang diberikan.
Segera melaporkan kepada Tim K3 keadaan dan pengoperasian yang tidak sesuai.
Segera melaporkan bila terjadi kecelakaan ataupun kejadian yang berhubungan dengan peralatan bergerak.
Pada setiap awal dan sesudah mengoperasikan peralatan bergerak operator mengechek kondisi.
Tujuan : Memberikan petunjuk untuk penggunaan alat pemadam api ringan (APAR).
Cakupan : Petunjuk ini berlaku untuk semua bagian dalam mengendalikan dan mencegah
dampak lingkungan dari bahaya kebakaran.
Uraian Penjelasan
1. Aspek penting yang dikendalikan: Apar adalah alat pemadam api berbentuk
tabung (berat maksimal 16 Kg) yang mudah
Bahaya kebakaran. dioperasikan oleh satu orang.
2. Langkah kerja :
Gambar 3 Gambar 4
5. PROGRAM PELATIHAN/SOSIALISASI
a. Umum
Suatu kecelakaan kerja dapat diminimalisir dengan upaya penggunaaan dan pemakaian
metoda kerja dan pekerja yang peduli dengan Keselamatan kerja.
Dari sisi peraturan keselamatan kerja, hal tersebut merupakan hak setiap tenaga kerja untuk
mendapatkan kondisi dan tempat kerja yang aman, sehat dan tentaram dan oleh sebab itu
pihak perusahaan di wajibkan melakukan upaya sosialisasi dan pelatihan yang sifatnya
kontinu kepada pekerja konstruksi dan operator untuk hal tersebut pihak perusahaan wajib
untuk memberikan pelatihan dan sosialisasi k3 kepada pekerjanya.
Disamping itu perlu ada suatu pelatihan khusus dalam menangani kecelakaan kerja tersebut,
sehingga pada saat terjadi kecelakaan telah dapat dilakukan pertolongan pertama dengan
benar dan baik
a. Umum
Suatu kecelakaan kerja dapat saja terjadi menimpa operator atau orang sekitarnya pada saat
pengoperasian peralatan dan tindakan pertama adalah memberikan pertolongan sesegera
mungkin sebelum penderita mendapat perawatan medis lebih lanjut dari ahlinya (rumah sakit,
poliklinik)
Dari sisi peraturan keselamatan kerja, hal tersebut merupakan hak setiap tenaga kerja untuk
mendapatkan pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan kerja dan oleh sebab itu pihak
perusahaan di wajibkan menyediakan obat-obatan untuk pertolongan pertama tersebut dalam
kotak P3K pada setiap alat
Disamping itu perlu ada suatu pelatihan khusus dalam menangani kecelakaan kerja tersebut,
sehingga pada saat terjadi kecelakaan telah dapat dilakukan pertolongan pertama dengan
benar dan baik
i. Menilai Situasi
d. Jenis Kecelakaan
1. Coma (Collapse)
1) Gejala-gejalanya :
a) Keluar keringat dingin
b) Pucat
c) Denyut nadi lemah
d) Telinga berdengking
e) Mual
f) Mata berkunang-kunang
g) Badan lemas
2) Cara pertolongannya :
a) Tidurkan penderita terlentang dengan kepala agak direndahkan
b) Longgarkan pakaian
c) Usahakan agar penderita dapat bernafas dengan udara segar
d) Kalau ada beri selimut agar badannya menjadi hangat
e) Selanjutnya kirimkan ke Dokter atau Rumah Sakit terdekat
2. Shock (Gugat)
Hal ini di sebabkan oleh suatu keadan yang timbul karena jumlah darah yang beredar
dalam pembuluh darah sangat berkurang yang dapat di sebabkan oleh : Pendarahan
keluar atau ke dalam dan luka bakar yang luas yang menyebabkan banyak cairan/serum
darah yang keluar
1) Tanda-tandanya :
a) Nadi berdenyut cepat, lebih 100 kali/menit kemudian melemah, lambat dan
menghilang
b) Pernafasan dangkal dan tidak teratur
c) Bila kedaan lebih lanjut penderita jadi pingsan
d) Penderita pucat dan dingin
e) Penderita merasa mual, lemas, mata berkunang
f) Pandangan hampa dan tidak bercahaya
2) Pertolongan :
a) Baringkan penderita di tempat yang udaranya segar dan kepala lebih rendah
dari kaki
b) Bersihkan mulut dan hidungnya dari sumbatan
c) Hentikan pendarahan bila ada
d) Longgarkan pakaian penderita
[Link]
1) Gejala:
a) Penderita tidak sadar, tidak ada reaksi terhadap rangsangan,
b) Penderita berbaring dan tidak bergerak,
c) Pernafasan dan denyut nadi dapat diraba.
2) Pertolongan:
a) Baringkan penderi tadi tempat teduh dan segar,
b) Apabila mukanya merah,kepalanya ditinggikan,dan apabila pucat baringkan tanpa alas kepala,
c) Pakaiannya dilonggarkan,
d) Penderita jangan ditinggalkan seorang diri dan perlu dijaga,
e) Tenangkan bila gelisah,
f) Kalau ada,berikan selimut agar badannya menjadi hangat,
g) Selanjutnya kirimkan ke Dokter atau rumah sakit terdekat.
4. Mati Suri
Yaitu keadaan pingsan dimana peredaran darah dan pernafasan tidak mencukupi [Link] ini sudah
merupakan keadaan yang gawat,karena penderita berada diantara pingsan dan mati.
1) Gejala:
a) Pernafasan tidak tampak dan nadi tidak teraba,
b) Pupil melebar dan tidak menyempit dengan penyinaran,
c) Mukapucat dankebiru-biruan.
2) Cara Pertolongan:
a) Baringkan terlentang dan longgarkan pakaian penderita,
b) Hilangkan semua barang yang dapat menyumbat pernafasan,
c) Berikan pernafasan buatan.
Pernafasan buatan adalah suatu usaha mencoba agar paru-paru penderita dapat bekerja kembali
dengan cara mengembang dan mengempiskan paru-paru [Link] di kirim ke Dokter atau rumah
sakit terdekat
Gambar [Link] kemulut
5. Pendarahan
2) Dilihat dari sudut macam nya pembuluh darah yang putus,pendarahanada 3 macam yaitu:
a) Pendarahan pembuluh nadi (arterial),
b) Pendarahan pembuluh balik(vena),
c) Pendarahan pembuluh rambut (capiler).
3) Untuk memberikan pertolongan terhadap penderita yang mengalami pendarahan dapat dilakukandenganber
macam- macam cara diantaranya:
a) Cara pertama:
Penderita didudukan atau ditidurkan tergantung dari hebatnya pendarahan,
Bagian tubuh yang mengalami luka ditinggikan,
Hentikan pendarahan dengan menekan anggota bagian diatas luka,
Bersihkan luka dari kotoran yang ada,
Letakkan diatas luka,sepotong kain kas asteril berlipat dan tekan sampai darah berhenti
keluar,kemudian pasang pembalut tekan (plester).
b) Untuk pendarahan yang hebat ditangan atau kaki dapat digunakan caratorniquet
(torniket, penarat darah).
Torni ketadalah balutan yang menjepit sehingga aliran daerah dibawahnya terhenti sama sekali.
Perhatikan bila menggunakan penarat darah:
Tiap 10 menit harus dikendorkan dengan memutar kayunya,
Memasang penarat darah antara luka dan jantung,
Penderita yang dikorniket harus segera dibawa kerumah sakit untuk pertolongan lebih lanjut dan
harus mendapat prioritas pertama,
Harus dicatat jam berapa penarat darah dipasang dan dibuka,
Cara torniket ini hanya dianjurkan bagi mereka yang sudah menguasai.
6. Luka-luka
Luka adalah ada nya jaringan kulit yang terputus atau rusak oleh suatu [Link] sebabnyadapatdikenal
bermacam- macam luka yaitu sebagai berikut :
● Luka memar kena pukul,
● Luka gores,
● Luka tusuk,
● Luka potong,
● Luka bacok,
● Luka robek,
● Luka tembak,
● Luka bakar.
1) Memberikan pertolongan kepada penderita yang mengalami luka pada dasar nya adalah:
a) Menghentikan pendarahan, b)
Mencegahinfeksi,
c) Mencegah kerusakan lebih lanjut,
d) Menggunakan cara yang memudahkan/ mempercepat penyembuhan.
2) Cara memberikan pertolongan pertama penderita yang mengalami luka adalah sebagai berikut :
a) Luka dikepala:
a) Luka bakar
Dilihat dari berat tidak nya,luka bakar dapat dibagi dalam beberapa tingkat :(1) Luka bakar
tingkat I (Erythema)
Warna luka kemerah-merahan,
Yang terbakar hanya lapisan atas dari kulit ari,
Penderita merasakan sakit,dan luka bengkak.
Cara memberikan pertolongan adalah seperti memberikan pertolongan pertama pada penderita
luka bakar tingkat II.
Cara memberikan pertolongan kepada penderita luka bakar tingkat IV sama seperti memberikan
pertolongan pada penderita luka bakar tingkat II atau tingkat III.
7. Patah tulang
Pertolongan pertama pada penderita yang mengalami patah tulang adalah merupakan salah satu pertolongan
yang sangat penting,karena dengan memberikan pertolongan pertama berarti berusaha untuk mencegah
penderita dari kehilangan salah satua nggota badan.
5) Cara–cara pembidaian :
a) Bidai haruskedua sendi dari tulang yang patah,
b) Tidak boleh terlalu keras atau terlalu kendor ikatannya,
c) Bidai dialasi agar jangan menambah perasaan sakit,
d) Ikatan harus cukup jumlahnya dimulai dari atas dan dari bawah bagian yang patah,
e) Sediakan dulu perlengkapan kapan secukupnya
E. EVALUASI KINERJA KESELAMATAN KONSTRUKSI
Kegiatan evaluasi kinerja K3 dilakukan mengacu pada kegiatan yang dilaksanakan pada Elemen Pengendalian dan
Operasi K3, berdasarkan upaya pengendalian pada Elemen Perencanaan K3
Setiap program yang dilalksanakan tentunya perlu dilakukan evaluasi guna mengukur seberapa jauh program
tersebut berhasil dan tercapai. Dalam proyek konstruksi tentunya perlu dilakukan evaluasi terhadap
keselamatan konstruksi seperti :
BULAN KE-
NO KEGIATAN PIC (Sesuai Masa Pelaksanaan)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Inspkeksi
Petugas K3/
1 Keselamatan
Pelaksana
Konstruksi
Patroli
Petugas K3/
2 Keselamatan
Pelaksana
Konstruksi
Petugas K3/
3 Audit Internal
Pelaksana
[Link] Manajemen
Tinjauan Manajemen fokus terhadap keseluruhan kinerja Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Kesesuaian Sistem Keselamatan Dan Kesehatan Kerja terhadap Operasioanl dan aktivitas Perusahaan
2. Kecukupan Pemenuhan penerapan Sitem Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terhadap
kebijikan K3 perusahaan
3. Keefektitvan penyelesaian tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan serta hasil-hasil lain yang
dicita-citakan.
Tinjauan Manajemen dilaksanakan oleh Pimpinan Perusahaan dan dilaksanakan secara berkala yang secara
umum dilaksanakan minimal 1 (satu) Bulan sekali untuk meninjau penerapan Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Perusahaan berjalan secara tepat.
Hal-hal yang dapat dijadikan acuan dalam melaksanakan Tinjauan Manajemen antara lain :
Peningkatan kinerja keselamatan konstruksi dilakukan dengan melakukan pemantauan, pengawasan, pelatihan dan
pembahasan rapat SMK3 secara periodik serta dengan melaksanakan audit secara menyeluruh dimulai pada tahap
pelaksanaan serta penyelesaian proyek.
Untuk meningkatkan kinerja keselamatan konstruksi perusahaan berupaya:
D. PENUTUP
Keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam sistem ketenagakerjaan
dan sumber daya manusia terutama dalam pekerjaan konstruksi.
Keselamatan dan kesehatan kerja tidak saja sangat penting dalam meningkatkan jaminan sosial dan kesejahteraan
para pekerjanya akan tetapi jauh dari itu keselamatan dan kesehatan kerja berdampak positif atas keberlanjutan
produktivitas kerjanya. Oleh sebab itu isu keselamatan dan kesehatan kerja pada saat ini bukan sekedar kewajiban
yang harus diperhatikan oleh para pekerja, tetapi juga harus dipenuhi oleh sebuah sistem pekerjaan. Dengan kata
lain pada saat ini keselamatan dan kesehatan kerja bukan semata sebagai kewajiban, akan tetapi sudah menjadi
kebutuhan bagi setiap para pekerja dan bagi setiap bentuk kegiatan pekerjaan. Pra rencana K3 Kontrak (Pra‐RKK)
ini sebagai acuan bagi penyelenggaraan sistem manajemen K3 Konstruksi bidang Pekerjaan Umum yang dapat
dilaksanakan secara sistematis, terencana, terpadu dan terkoordinasi (agar semua pemangku kepentingan
mengetahui dan memahami tugas dan kewajibannya dalam penyelenggaraan sistem manajemen K3 Konstruksi
bidang Pekerjaan Umum khususnya untuk pekerjaan ini sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja
konstruksi dan penyakit akibat kerja konstruksi serta menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman, yang
pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja.
Kami CV. CIPTA KAJIMA secara kontinu dan komitmen terhadap penerapan RKK dalam pelaksanaan pekerjaan
Konstruksi dengan target pencapaian dan program kami, yaitu:
1. ZERO ACCIDENT
i. Meninggal / Cacat Tetap (0%)
ii. Kehilangan Jam Kerja akibat Kecelakaan kerja maksimal 1 %
iii. Kehilangan jam kerja akibat sakit maksimal 5 %
PROGRAM K3
Demikian PRA RKK ini dibuat secara umum dan garis besarrya saja, sedangkan RKK yang lebih detail akan
dibuat pada saat awal pelaksanaan nanti dan akan diajukan kepada Pengguna Jasa jika ditetapkan sebagai
pemenang. Diharapkan pada perencanaan RKK nanti dapat lebih jelas dan mendetail dan dapat mencakup
seluruh pencapaian sasaran dan program K3.
Ayuniawati
Direktur