100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
141 tayangan45 halaman

Laporan RANJO di Apotek Siaga 21

Laporan ini menyajikan pelaksanaan Real On Job (RANJO) di Apotek Siaga 21 Purwokerto dari 09 Desember 2024 hingga 09 Maret 2025, sebagai syarat kelulusan siswa SMK Citra Bangsa Mandiri. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menghasilkan tenaga kerja yang profesional dan kompeten sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Laporan ini juga mencakup pengertian, tugas, dan fungsi apotek serta tinjauan umum mengenai Apotek Siaga 21.

Diunggah oleh

kolibrotong
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
141 tayangan45 halaman

Laporan RANJO di Apotek Siaga 21

Laporan ini menyajikan pelaksanaan Real On Job (RANJO) di Apotek Siaga 21 Purwokerto dari 09 Desember 2024 hingga 09 Maret 2025, sebagai syarat kelulusan siswa SMK Citra Bangsa Mandiri. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menghasilkan tenaga kerja yang profesional dan kompeten sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Laporan ini juga mencakup pengertian, tugas, dan fungsi apotek serta tinjauan umum mengenai Apotek Siaga 21.

Diunggah oleh

kolibrotong
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN

PELAKSANAAN REAL ON JOB

DI APOTEK SIAGA 21 PURWOKERTO

PADA TANGGAL 09 DESEMBER SAMPAI 09 MARET

Laporan disusun sebagai salah satu syarat untuk mengikuti


kerangkaian kelulusan

Disusun oleh:

Javas Tsaqif Riski/3200

Uliyana Syarifah/3217

Zinedine Cezaro Stijntje H./3221

KONSENTRASI KEAHLIAN LAYANAN PENUNJANG


KEFARMASIAN KLINIS DAN KOMUNITAS

SMK CITRA BANGSA MANDIRI PURWOKERTO

TAHUN AJARAN 2025/2026


LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Real On Job (RANJO) ini telah dilaksanakan dari tanggal 09

Desember 2024 sampai dengan 09 Maret 2025, dan disusun untuk memenuhi

tugas persyaratan mengikuti kelulusan, serta telah disahkan pada:

Hari :

Tanggal :

Pembimbing Kaproli farmasi

Apotek Siaga 21 Purwokerto

apt. Feliana Dwi Agustin,[Link] Siti Nurochmah, S. Farm.,

Apt SIPA. 19970818/SIPA.3302/2021/2756

NIK.[Link]

Mengetahui,

Kepala SMK

Citra Bangsa Mandiri Purwokerto

Prisillia Mutiara Sari, [Link].,Gr

NIK.[Link]

i
KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan syukur Alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT

yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan Laporan

Pelaksanaan Real On Job (RANJO) di Apotek Siaga 21 Purwokerto dapat

terselesaikan dengan baik.

Dalam penyelesaian dan penulisan laporan ini, penulis banyak

mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini

penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi kemudahan kepada penulis dalam

penulisan laporan ini.

2. Yth. Ibu Prisillia Mutiara Sari, [Link].,Gr, selaku kepala SMK Citra Bangsa

Mandiri Purwokerto.

3. Yth. Ibu Apt. Rina Mulyani, S. Farm, selaku Apoteker Penanggung Jawab

Apotek Siaga 21.

4. Yth. Ibu Apt. Feliana Dwi Agustin, [Link], selaku pembimbing lahan di

Apotek Siaga 21.

5. Yth. Ibu Siti Nurochmah, S. [Link], selaku kaproli SMK Citra Bangsa

Mandiri Purwokerto dan pembimbing sekolah.

6. Yth. Bapak/Ibu Guru dan Karyawan SMK Citra Bangsa Mandiri Purwokerto.

7. Yth. Karyawan/Pegawai Apotek Siaga 21, yang telah membimbing kami

dilahan PKL.

ii
8. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

membantu dalam proses penyusunan laporan ini.

Penyusunan laporan ini sebagai salah satu syarat untuk mengikuti

serangkaian kelulusan serta sebagai bukti bahwa telah melaksanakan Real On Job

(RANJO) .

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari kata

sempurna. Untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun demi

kesempurnaan laporan ini sangat penulis harapkan. Mudah – mudahan laporan ini

dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Purwokerto, Desember 2024

Penulis

…………………………….

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.....................................................................................................

LEMBAR PENGESAHAN..........................................................................................

KATA PENGANTAR...................................................................................................

DAFTAR ISI................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................

A. Latar Belakang...................................................................................................

B. Tujuan ...............................................................................................................

1. Tujuan Umum..............................................................................................

2. Tujuan Khusus.............................................................................................

C. Manfaat..............................................................................................................

1. Bagi Peserta RANJO....................................................................................

2. Bagi Sekolah................................................................................................

3. Bagi Instansi Pasangan................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................

A. Pengertian Apotek..............................................................................................

B. Tugas dan Fungsi Apotek...................................................................................

C. Peraturan Perundang – undangan ......................................................................

BAB III TINJAUAN UMUM......................................................................................

A. Sejarah Apotik Siaga 21.....................................................................................

iv
B. Profil Apotek Siaga 21 ............................................................................ 9

C. Struktur Organisasi Apotek...............................................................................

D. Pengelolaan Instalasi Pasangan.........................................................................

BAB IV PEMBAHASAN............................................................................................

A. Uraian Kegiatan................................................................................................

B. Permasalahan ...................................................................................................

C. Usulan Pemecahan Masalah.............................................................................

BAB V PENUTUP.......................................................................................................

A. Kesimpulan.......................................................................................................

B. Saran.................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................

LAMPIRAN ................................................................................................................

v
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sumber daya manusia yang berkualitas saat ini adalah sebuah keharusan,

bukan saja untuk menompang kesejahteraan dirinya, tetapi secara luas untuk

kepentingan pembangunan bangsa dan negara. Hal ini dirasa penting karena

persaingan yang semakin tajam akibat pesatnya perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi.

Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas yakni

Pendidikan yang secara nyata berperan dalam membentuk peserta didik yang

inovatif, produktif, dan berpenghasilan dengan tetap dilandasi iman dan

takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menyikapi kondisi ini perlu kiranya

dicermati keterpaduan antara sistem pendidikan yang ada dengan kondisi

objektif dunia usaha/industri agar diperoleh tamatan yang memiliki

kompetensi keahlian di bidangnya sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia

usaha/industri. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai salah satu satuan

pendidikan formal dengan model pendidikan sistem ganda diharapkan

mampu menghasilkan tamatan yang memiliki kemampuan akademik, kreatif,

dan yang terpenting adalah memiliki kompetensi keahlian di bidangnya untuk

memenuhi pasar tenaga kerja yang siap pakai sesuai dengan kebutuhan dunia

usaha/industri (demand-market-driven). Kegiatan itu diwujudkan dalam

1
bentuk Praktik Kerja Lapangan dan Industri (Prakerlin) SMK Citra Bangsa

Mandiri di lembaga – lembaga kesehatan.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

a. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian professional yaitu

tenaga kerja yang memiliki tingkat akademik dan kompetensi sesuai

dengan tuntutan lapangan kerja dan karakter kepribadian tenaga kesehatan.

b. Memperoleh Link dan Match antara sekolah dan dunia kerja.

c. Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang

berkualitas dan professional.

d. Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai

bagian dari proses pendidikan.

e. Pemenuhan kompetensi sesuai tuntutan kurikulum.

f. Penguasaan kompetensi dilakukan melalui pembelajaran di sekolah dan

dunia kerja mitra dengan rancangan pembelajaran oleh sekolah dan

industri.

g. Implementasi kompetensi ke dalam dunia usaha/industri.

h. Sarana aktualisasi bahwa apa yang dimiliki berguna bagi dirinya dan orang

lain.

i. Penumbuhan etos kerja/pengalaman kerja.

j. Memperkenalkan lebih dini lingkungan sosial yang berlaku di dunia

usaha/industri.

k. Menumbuhkan sikap kerja dan kepribadian yang utuh sebagai pekerja.

2
2. Tujuan Khusus

a. Mempersiapkan para siswa untuk bekerja secara mandiri dan mempunyai

daya saing tinggi dalam bekerja dilingkungan kerjanya dan

mengembangkan potensi dan kreatifitas sesuai minat dan bakat siswa.

b. Meningkatkan status dan kepribadian para siswa sehingga mampu

berinteraksi dan memiliki rasa tanggung jawab serta disiplin yang tinggi.

c. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menjadi tenaga kerja yang

terampil dan produktif sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

d. Mempersiapkan siswa agar cakap dalam melanjutkan dalam pendidikan

yang berkelanjutan.

e. Mempersiapkan siswa agar mampu berinteraksi dengan pihak lain dan

lingkungannya.

C. Manfaat

1. Bagi Peserta RANJO

Hasil belajar peserta RANJO akan lebih bermakna, karena setelah tamat

akan betul – betul memiliki keahlian professional sebagai bekal untuk

meningkatkan taraf hidupnya dan sebagai bekal untuk pengembangan dirinya

secara berkelanjutan.

Keahlian professional yang diperoleh dapat mengangkat harga diri dan

rasa percaya diri tamatan, yang selanjutnya akan mendorong mereka untuk

meningkatkan keahlian profesionalnya pada tingkat sekolah yang lebih tinggi.

3
2. Bagi Sekolah

Tujuan pendidikan untuk memberi keahlian profesionalnya bagi peserta

didik lebih terjamin pencapaiannya. Terdapat kesesuaian yang lebih pas

antara progam pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja. Sesuai dengan

prinsip Link and Match memberi kepuasan bagi penyelenggaraan pendidikan

sekolah karena tamatannya lebih terjamin memperoleh bekal yang

bermanfaat, baik untuk kepentingan tamatan, kepentingan dunia kerja, dan

kepentingan bangsa.

3. Bagi Institusi Pasangan

Penyelenggaraan RANJO memberi nyata bagi institusi pasangan antara lain:

a. Institusi pasangan dapat mengenal kualitas peserta RANJO yang belajar

dan bekerja di tempat RANJO.

b. Umumnya peserta RANJO telah ikut dalam proses pelayanan secara aktif

sehingga pada pengertian tertentu peserta RANJO adalah tenaga kerja yang

memberi keuntungan.

c. Institusi pasangan dapat memberi tugas kepada peserta RANJO untuk

kepentingan pelayanan sesuai kompetensi dan kemampuan yang dimiliki.

d. Selama proses pendidikan melalui kerja lapangan, peserta RANJO lebih

mudah diatur dalam hal disiplin berupa kepatuhan terhadap peraturan

institusi pasangan.

e. Memberi kepuasan bagi institusi pasangan karena diakui ikut serta

menentukan masa depan bangsa melalui RANJO.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Apotek

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9

Tahun 2017 tentang Apotek, definisi apotek adalah sarana pelayanan

kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Pemerintah

menerbitkan Permenkes No. 35 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan

Kefarmasian di Apotek untuk dijadikan sebagai pedoman praktik apoteker

dalam menjalankan tugas profesi guna melindungi masyarakat dari

Pelayanan, dan Evaluasi Mutu Pelayanan. (Prabandari, 2018)

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73

Tahun 2016 tentang Apotek, pengertian definisi ini menekankan bahwa

apotek bukan sekadar tempat penjualan obat, melainkan merupakan fasilitas

pelayanan kesehatan yang dikelola oleh apoteker untuk menjalankan praktik

kefarmasian. Praktik tersebut mencangkup pengelolaan sediaan farmasi, alat

Kesehatan, bahan medis habis pakai, serta pelayanan klinik yang bertanggung

jawab langsung kepada pasien.

B. Tugas dan Fungsi Apotek

Menurut Peraturan Pemerintah RI NO. 25 tahun 1980, apotek memiliki

tugas dan fungsi sebagai:

5
1. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan

sumpah atau janji.

2. Sarana farmasi yang melakukan peracikan, pengubahan bentuk,

pencampuran, serta penyerahan obat atau bahan obat.

3. Sarana penyalur perbekalan farmasi yang baru menyebarkan obat yang

diperlukan masyarakat secara meluas dan merata.

C. Peraturan Perundang – undangan

1. Bahwa Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993

tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik sebagaimana telah

diubah dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor

1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri

Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata

Cara Pemberian Izin Apotik perlu disesuaikan dengan perkembangan dan

kebutuhan hukum.

2. Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 3671)

3. Undang – Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 143, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 5062)

4. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 5063)

6
5. Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah

beberapa kali diubah terakhir dengan Undang – Undang Nomor 9 Tahun

2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang – Undang Nomor 23 Tahun

2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 5679)

6. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 298, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5607)

7. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan

Farmasi dan Alat Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

1998 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

3781)

8. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan

Kefarmasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor

124, Tambahan Lebaran Negara Republik Indonesia Nomor 5044)

9. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2010 tentang Prekursor (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 60, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 5126)

10. Perturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Undang –

Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Lembaran Negara

7
Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5419)

BAB III

TINJAUAN UMUM

A. Sejarah Apotik Siaga 21

Pada tahun 2010 Apotek Siaga 21 bernama Apotek Az – Zahra terletak di

Jl. Ks. Tubun No. 95B. Kemudian Apotek dan semua asetnya dijual pada akhir

desember 2013 kepada ibu Apt. Rina Mulyani, [Link]. Pada bulan Januari

2014 Apotek tersebut berpindah tempat yaitu di Jl. Ks. Tubun No. 98B dan

mulai di renovasi. Hingga pada tanggal 3 Juni 2014 Apotek tersebut baru

dibuka dengan nama Apotek Siaga 21 karena Apotek tersebut siap siaga

melayani pasien sampai pukul 21.00 WIB dan mempunyai slogan “Murah

Lengkap Berkualitas”. Apotek Siaga 21 dikelola oleh seorang Apoteker yang

bernama Apt. Rina Mulyani, S. Farm, sebagai Apoteker Pengelola Apotek dan

Apt. Feliana Dwi Agustin, S. Farm, sebagai Apoteker Pendamping.

Seiring berjalannya waktu, Apotek Siaga 21 memiliki cabang yang

bernama Apotek Persada. Apotek tersebut mulai beroperasi pada hari Senin,

18 September 2020 yang beralamat di Jl. Jend. Soedirman Barat No. 33/37 Rt.

01/Rw. 02, Bantarsoka, Purwokerto Barat. Apotek Persada memiliki slogan

yaitu “Sahabat Sehat Keluarga” dan “Gunakan Obat Secara Tepat, Baca

Informasi Dengan Cermat”. Apotek Persada dikelola oleh Apt. Veby Tri

Yulianti, S. Farm, sebagai Apoteker Pengelola Apotek dan Apt. Rifka Notiana

Habibah, S. Farm, sebagai Apoteker Pendamping.

8
B. Profil Apotek Siaga 21

Apotek Siaga 21 merupakan apotek dengan bentuk semi swalayan, karena

ada beberapa jenis barang yang dapat diambil sendiri oleh pasien, misalnya

dot bayi, skincare, madu, tisu, popok bayi, susu box, obat nyamuk, hot in

cream, pasta gigi, sikat gigi, sabun batang, sabun cair, shampo, permen,

minuman. Untuk obat keras, prekursor, suppositoria, antibiotik, obat bebas,

obat bebas terbatas, salep, pampers dan alat kesehatan yang harganya mahal

diletakan di bagian dalam.

Alat kesehatan yang di jual di Apotek Siaga 21 ada kasa potong, kasa

gulung, kasa steril, alkohol swab, alkohol 70%, rivanol, nacl, rl, cairan d5,

aquabidest, masker, sarung tangan latex, ultrafix, hypafix, hansaplast, kantong

kolostomi, urin bag, celana sunat, medicrape, tensocrape, pembalut siku, nasal

oksigen, inflo, infuset, micropore, kruk alat bantu jalan.

Di Apotek Siaga 21 menyediakan pelayanan obat bebas, obat bebas

terbatas, obat keras, prekursor, suppositoria, pelayanan resep, pelayanan

kesehatan seperti cek tensi, cek gula darah, cek kolesterol dan cek asam urat,

pelayanan peracikan salep sesuai dengan keluhan pasien.

Di Apotek Siaga 21 terdapat beberapa ruangan yang yang terdiri dari ruang

tunggu pasien, meja kerja apoteker, ruang penyimpanan obat, seperti obat

keras, salep dan tetes mata, obat fast moving, obat saluran pencernaan, gudang

obat generik, gudang obat bermerek, ruang meracik obat dan kamar mandi.

9
C. Struktur Organisasi Apotek Siaga 21

Owner
Bapak Sulardi
[Link]

APA APING
Apt. Rina Apt. Feliana Dwi
Mulyani A.

Bagian Keuangan Bagian Administrasi Bagian Marketing


Sofi Yuliarini Juni Maulidia A. Felina Astriani

Gambar 3.1 struktur organisasi Apotek Siaga 21

Berdasarkan Struktur Organisasi Apotek Siaga 21 pada gambar 1.1 maka

tugas dan tanggung jawab masing – masing jabatan adalah sebagai berikut:

1. Owner / Pemilik Usaha

 Menyusun strategi bisnis.

 Mengawasi perkembangan usaha.

 Membuat peraturan usaha.

 Memantau, mengevaluasi dan menyusun anggaran usaha.

2. Apoteker Pengelola Apotek (APA)

 Membuat strategi, tujuan, target pasar, program kerja dan undang –

undang apotik.

10
 Membuat visi misi apotek.

 Membuat atau menetapkan peraturan dan standar operasional prosedur

(SOP) pada setiap fungsi kegiatan apotek.

3. Apoteker Pendamping (APING)

 Melakukan analisa perkembangan apotek dan memberikan usulan-

usulan kepada Business Manager untuk peningkatan kegiatan dan

kemajuan apotek.

 Menyusun laporan rutin mengenai obat-obatan narkotika/psikotropika

kepada Balai/Badan POM.

 Mengawasi operasional apotek.

 Membantu Business Manager dalam kegiatan pemeriksaan dan

peracikan obat oleh Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK).

 Membantu Apoteker Pengelola Apotek (APA) dalam menyusun laporan

rutin mengenai narkotika/psikotropika kepada Balai/Badan POM.

 Bertanggung jawab atas ketepatan pembacaan resep dokter yang

diberikan oleh pasien.

 Bertanggung jawab atas penyampaian informasi mengenai obat kepada

pasien terutama yang berhubungan dengan resep dokter.

 Bertanggung jawab atas pelayanan/penjualan obat narkotika dan

psikotropika.

 Membuat dokumentasi Pelayanan Informasi Obat (PIO).

 Melakukan konseling obat kepada pasien kondisi khusus (pediatri,

geriatri, gangguan fungsi hati dan/atau ginjal, ibu hamil dan menyusui,

11
pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis, pasien yang

menggunakan obat dengan instruksi khusus, pasien yang menggunakan

obat denganindeks terapi sempit, pasien polifarmasi, pasien dengan

tingkat kepatuhan rendah).

 Mengelola dan mengembangkan sumber daya manusia cabang agar

diperoleh karyawan-karyawan yang inovatif dan produktivitasnya tinggi.

 Membuat dokumentasi Pelayanan Kefarmasian (Konseling obat,

Pelayanan Informasi Obat, danlainnya).

 Menjalankan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh atasan.

4. Bagian Keuangan

 Merekap faktur jatuh tempo.

 Mengarsipkan faktur lunas.

 Menghitung harga barang datang.

 Membayar faktur jatuh tempo.

 Membuat rencana anggaran program bulanan apotik.

5. Bagian Administrasi

 Mengarsip faktur (termasuk barang datang PBF dan non PBF)

 Menginput faktur barang datang.

 Input penjualan harian pada sistem.

 Cek stok obat/barang.

6. Bagian Marketing

 Mengelola media sosial apotek.

 Mempromosikan dan mengenalkan produk baru kepada konsumen.

12
 Memberikan pelayanan yang unggul.

 Mempromosikan produk yang ada di apotek.

D. Pengelolaan Instalasi Pasangan

Dalam sistem pengelolaan apotek, Apoteker Pengelola Apotek (APA)

mempunyai wewenang penuh untuk menentukan kebijakan terhadap jalannya

kegiatan farmasi ini, maka didalam pengelolaan APA dibantu oleh Apoteker

Pendamping (APING) dan tenaga kerja lainnya. Kegiatan administrasi hampir

sepenuhnya dilakukan pada setiap harinya meliputi administrasi barang,

keuangan, pasien, serta pelaporan obat di apotek Siaga 21 meliputi:

1. Perencanaan Perbekalan Farmasi

Perencanaan merupakan kegiatan untuk menentukan jumlah dan


periode pengadaan sediaan farmasi dan alat kesehatan sesuai dengan hasil
kegiatan pemilihan untuk menjamin terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat
jumlah, tepat waktu dan efisien. Tujuan dari dari perencanaan ialah untuk
menghindari kekosongan obat. Proses perencanaan dilakukan dengan cara
mempertimbangkan pola penyakit, pola konsumsi sediaan farmasi.
Perencanaan pengadaan barang di Apotek Siaga 21 dilakukan dengan
metode kombinasi yaitu metode konsumsi bulan lalu dan metode
epidemiologi. Metode konsumsi merupakan metode perencanaan
kebutuhan obat berdasarkan data penggunaan obat pada bulan lalu. Untuk
metode Epidemiologi dilakukan sesuai dengan pola penyakit atau
musiman, dilakukan untuk kebutuhan anggaran agar menghindari
kekosongan obat/barang yang ada di apotek.
2. Pengadaan
Pengadaan barang merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk
melaksanakan segala pemenuhan kebutuhan dan keinginan pasien. Tujuan
pengadaan adalah untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian
sehingga pengadaan sediaan farmasi harus melalui jalur resmi sesuai

13
ketentuan peraturan perundang – undangan. Dalam melaksanan kegiatan
pengadaan barang, hal – hal yang perlu diperhatikan sebelumnya,
meliputi :
a. Buku habis (buku defecta)
b. Rencana anggaran belanja (anggaran pembelian)
c. Pemilihan PBF yang sesuai, yaitu dengan pertimbangan.
Pengadaan perbekalan farmasi dapat berasal dari beberapa sumber, yaitu :
a. Pengadaan Rutin.
Merupakan cara pengadaan perbekalan farmasi yang paling utama.
Pembelian rutin adalah pembelian barang kepada distributor
perbekalan farmasi untuk obat – obat yang kosong berdasarkan data
dari buku defecta.
b. Pengadaan Mendesak (CITO)
Merupakan pengadaan yang dilakukan apabila barang yang
diminta tidak ada dalam persediaan serta menghindari penolakan
obat / resep. Biasanya dilakukan dengan pembelian ke apotek lain
terdekat sesuai dengan jumlah sediaan farmasi yang di butuhkan dan
dilebihkan untuk keperluan stok di apotek.
Dalam pemesanan obat kepada PBF atau distributor harus disertakan
dengan Surat Pesanan (SP) obat yang di tanda tangani oleh apoteker. Surat
Pesanan terdiri atas 5 jenis, yaitu : Surat Pesanan Reguler, Surat Pesanan
Prekursor, Surat Pesanan Obat – Obat Tertentu, Surat Pesanan
Psikotropika, Surat Pesanan Narkotika. Pemesanan barang di Apotek
Siaga 21 dilakukan setiap hari berdasarkan daftar barang habis atau barang
kosong yang tercacat di dalam buku defecta, dan ada juga pemesanan
barang yang dilakukan 2 kali dalam satu minggu yaitu setiap hari Senin
dan hari Kamis. Pemesanan biasanya kepada PBF atau Non PBF, dan
kemudian obat atau barang yang diperlukan dipesan menggunakan Surat
Pesanan (SP) yang ditujukan kepada distributor farmasi. Pemesanan ke
beberapa distributor dilakukan melalui sales dengan membuat surat
pesanan. Jika barang yang dipesan menggunakan SP reguler, terdiri dari 2

14
rangkap, rangkap pertama untuk distributor, rangkap kedua untuk arsip
apotek. Jika menggunakan SP OOT, terdiri dari 2 rangkap, rangkap
pertama untuk distributor, rangkap kedua untuk arsip apotek. Jika
menggunakan SP prekursor, terdiri dari 3 rangkap, rangkap pertama untuk
distributor, rangkap kedua dan ketiga untuk arsip apotek.
3. Penerimaan
Penerimaan barang di apotek adalah kegiatan menerima obat dan alat
Kesehatan yang telah dipesan. Tujuan penerimaan barang di apotek adalah
memastikan kesesuaian barang yang diterima dan barang yang dipesan.
Penerimaan dilakukan setelah dilakukan pemesanan, kemudian perbekalan
farmasi akan dikirim oleh PBF disertai fakturnya. Barang yang datang
akan diterima dan diperiksa oleh petugas bagian penerimaan barang.
Penerimaan barang Di Apotek Siaga 21 dilakukan oleh apoteker atau
Asisten Tenaga Teknis Kefarmasian (ATTK). Lalu apoteker atau ATTK
melakukan pengecekan barang apakah sudah sesuai dengan jumlah barang
yang dipesan, dan juga dilakukan pengecekan tanggal kadaluwarsa, nomor
batch, dan juga kondisi barang. Setelah itu apoteker akan menandatangani
faktur dengan menuliskan nama apoteker, nomor SIPA, tanda tangan
penerima barang dan juga diberi stampel apotek di setiap rangkap faktur.
Biasanya faktur dari PBF terdiri dari tiga rangkap untuk kertas warna
putih atau rangkap pertama, merupakan faktur asli yang akan diberikan
kepada apotek apabila sudah melakukan pelunasan, rangkap kedua akan
diberikan kepada PBF untuk dijadikan arsip, dan rangkap ketiga akan
diberikan kepada apotek untuk digunakan sebagai arsip apotek.
4. Penyimpanan Barang
Penyimpanan barang di apotek adalah kegiatan mengatur dan
memelihara obat agar terhindar dari kerusakan fisik dan kimia. Tujuan
utama dari penyimpanan adalah untuk menjaga kualitas obat, serta
memastikan barang tetap aman untuk digunakan oleh pasien. Barang yang
masuk kemudian diletakkan di gudang. Metode penyimpanan dapat
dilakukan berdasarkan kelas terapi, bentuk sediaan dan jenis sediaan

15
farmasi disusun secara alfabetis dengan menerapkan prinsip First Expired
First Out (FEFO) dan First In First Out (FIFO). Penyimpanan yang
penampilan dan penamaan yang mirip harus diberi penandaan khusus
LASA (Look Alike Sound Alike) untuk mencegah terjadinya kesalahan
pengambilan obat. Penyimpanan barang datang di Apotek Siaga 21
biasanya barang langsung masuk ke gudang dan ditempatkan sesuai jenis
obatnya, misalnya obat generik di susun di gudang generik penyusunannya
berdasarkan abjad, obat generik bermerek disusun digudang generik
bermerek penyusunannya berdasarkan efek farmakologi, dan ada juga
barang datang yang langsung didisplay karena barang sudah kosong atau
sudah limit. Apotek Siaga 21 menggunakan sistem First In First Out
(FIFO) atau barang yang datang lebih dulu maka akan dikeluarkan terlebih
dahulu.
Penyimpanan barang di Apotek Siaga 21 dibedakan berdasarkan
bentuk sediaan, berdasarkan efek farmakologi, dan juga berdasarkan
abjad. Di Apotek Siaga 21 obat bebas, obat bebas terbatas, disusun
kombinasi berdasarkan bentuk sediaan. Obat keras sediaan tablet disusun
berdasarkan abjad. Antibiotik tablet dan sirup disusun berdasarkan abjad
dan terpisah dari obat keras lainnya. Salep kulit, salep mata, tetes mata,
tetes telinga disusun berdasarkan abjad. Dan obat keras sediaan sirup
disusun berdasarkan efek farmakologi dan berdasarkan abjad.
5. Pemusnahan
Obat yang kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan
jenis dan bentuk sediaan nya. Pemusnahan juga dapat dilakukan terhadap
resep obat yang telah disimpan melebihi jangka waktu lima tahun.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan pemusnahan adalah :
a. Obat kadaluwarsa atau rusak harus dihancurkan sesuai dengan jenis
dan bentuk sediaan. Pemusnahan obat kadaluwarsa atau kerusakan
yang mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan oleh apoteker
dan disaksikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pemusnahan
obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan oleh apoteker dan

16
disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki surat izin
praktik atau surat izin kerja dan dibuktikan dengan Berita Acara
Pemusnahan
b. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu lima tahun dapat
dirusak. Pemusnahan resep dilakukan oleh apoteker yang disaksikan
oleh sekurangkurangnya petugas lain di apotek dengan cara dibakar
atau cara pemusnahan lain yang dibuktikan dengan Berita Acara
Pemusnahan Resep dan selanjutnya dilaporkan kepada dinas kesehatan
kabupaten/kota
c. Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar/ketentuan
peraturan perundang - undangan dilakukan oleh pemilik izin edar
berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau
berdasarkan inisiasi sukarela oleh pemilik izin edar (volunteer recall)
dengan tetap memberikan laporan kepada Kepala BPOM. Cara
memusnahkan obat di Apotek Siaga 21 selain obat psikotropika dan
narkotika adalah sebagai berikut:
1) Obat Sirup atau Sediaan Cair.
a) Kemasan digunting.
b) Tutup botol dibuka.
c) Cairannya dibuang ke wastafel.
2) Obat Tablet atau Sediaan Tablet.
a) Kemasan digunting.
b) Tablet dihancurkan (digerus atau di blender).
c) Lalu tanam ditanah.
6. Pencatatan, Pelaporan dan Pengarsipan
Di Apotek Siaga 21 daftar obat pesanan yang tertera pada faktur
disalin dalam buku penerimaan barang, di Apotek Siaga 21 memiliki 3
jenis buku penerimaan barang, yaitu buku plus (+) buku barang datang
PBF biasa pada faktur tetera Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) apotek,
menyertakan tanggal kadaluwarsa barang, buku minus (-), dan buku
konsinyasi. Pencatatan dan pelaporan di Apotek Siaga21 dilakukan

17
bertujuan untuk mengetahui data-data obat baik masuk maupun yang
keluar dalam jangka waktu tertentu, pelaporan merupakan sekumpulan
data-data yang telah dicatat sebagai pendataan administrasi yang
kemudian akan dilaporkan kepada pihak yang berkenan, di Apotek Siaga
21 terdapat 2 jenis laporan yaitu laporan internal dan eksternal, laporan
internal yaitu melakukan pelaporan penjualan dan pembelian kepada
owner apotek yang dilakukan setiap hari dan laporan eksternal yaitu
pelaporan obat Psikotropika dan Narkotika melalui aplikasi Sistem
Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP), dan pelaporan
pelayanan kefarmasian melalui aplikasi Sistem Informasi Monitoring dan
Pembinaan Fasilitas Pelayanan Kefarmasian (SIMONA) ke Menteri
Kesehatan yang dilakukan setiap bulan.
7. Pembayaran
Pembayaran yang dilakukan oleh Apotek Siaga 21 dilakukan dengan
menggunakan sistem tempo, yaitu akan dibayarkan jika sudah jatu tempo,
setiap distributor mempunyai jatuh tempo yang berbeda-beda, ada yang 14
hari, 21 hari, atau 30 hari, dan faktur akan dititipkan 1 minggu sebelum
tanggal jatuh tempo. Ada juga sebagian barang yang dibayarkan
menggunakan sistem Cash On Delivery (COD) atau langsung dibayarkan
pada saat barang sudah datang. Dan ada yang menggunakan sistem
konsinyasi yaitu akan dibayarkan pada saat barang yang dititipkan telah
terjual. Obat atau barang yang dibayarkan menggunakan sistem tempo
biasanya termasuk obat keras, obat bebas, vitamin, yang dibayarkan
dengan sistem COD bisanya minuman, pempers, dan pembalut. Dan untuk
barang yang dibayarkan secara konsinyasi biasanya merupakan produk-
produk herbal.
8. Pendistribusian
Di Apotek Siaga 21 melakukan pendistribusian obat dengan metode
swamedikasi dan menggunakan strategi cross selling dan up selling agar
dapat mendistribusikan barang kepada pasien dan untuk meningkatkan
omset Apotek Siaga 21.

18
Cross selling adalah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan
jumlah penjualan dengan menawarkan obat/barang tambahan kepada
pasien, misalnya pasien yang awalnya hanya ingin membeli kain kasa
namun ditawari untuk membeli rivanol, hansaplast, atau betadine sebagai
produk tambahan itu merupakan cross selling.
Sedangkan up selling adalah kegiatan yang dilakukan untuk
meningkatkan nilai transaksi dengan menawarkan produk yang lebih
mahal, misalnya pasien ingin membeli cetirizin namun apoteker
menawarkan produk prosix dengan kandungan cetirizin kepada pasien
dengan harga yang lebih mahal namun memiliki efek yang lebih cepat, itu
merupakan up selling.
9. Pengendalian
Pengendalian stok obat di Apotek Siaga 21 menggunakan kartu stok
yang memuat nama obat, tanggal kadaluwarsa, jumlah pemasukan, jumlah
pengeluaran, dan sisa persediaan yang ada di gudang, menggunakan kartu
stok digital pada sistem. Tujuan dari pengendalian stok adalah agar stok
obat di gudang tetap ada sehingga tidak terjadi kekurangan stok obat pada
setiap harinya, atau obat yang stoknya masih banyak di gudang tidak akan
dialakukan pemesanan obat untuk obat tersebut.

19
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Uraian Kegiatan

RANJO dilaksanakan di Apotek Siaga 21 pada periode waktu pelaksanaan

shift setiap harinya, yaitu:

 Shift Pagi : 07.00 – 14.00

 Shift Siang : 14.00 – 21.00

Selama pelaksanaan RANJO dari awal sampai akhir banyak rangkaian

kegiatan yang harus kami Jalani, diantaranya:

1. Kegiatan shift pagi yang pertama dilakukan adalah mengecek kebutuhan

obat yang mulai menipis di rak, kemudian mengambil persediaan obat –

obat yang menipis di gudang. Kegiatan lainnya, yaitu menerima barang

datang dari PBF lalu mengeceknya sesuai dengan faktur dan surat

pesanan atau tidak. Setelah itu menyimpan dan menyusun secara FIFO,

menurut bentuk sediaan, sesuai abjad dan sesuai farmakologinya. Lalu

copy faktur didokumentasikan dalam buku barang datang. Lalu juga

melakukan pelayanan obat bebas, bebas terbatas, prekursor dan obat

keras kepada pasien dengan arahan asisten apoteker.

2. Kegiatan shift siang hampir sama dengan kegiatan shift pagi, seperti

mengecek stok obat dan menerima barang datang dari PBF. Pada shift

siang lebih banyak melakukan pelayanan obat kepada pasien.

20
3. Perlengkapan di Apotek Siaga 21:

a. Perlengkapan Apotek

Dalam pelaksanaan pelayanan di Apotek memerlukan perlengkapan

yang dapat menunjang kelancaran pelayanan. Berikut perlengkapan

yang ada di Apotek siaga 21 :

1) Perlengkapan Administrasi

a) Surat Pesanan

Di apotek Siaga 21 terdapat 5 Surat Pesanan (SP) yang

digunakan untuk memesan barang kepada supplier. Berikut SP

yang ada di Apotek Siaga 21 :

1. Surat Pesanan Reguler

Di Apotek Siaga 21 surat pesanan ini digunakan untuk

untuk memesan obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras,

dan alat kesehatan. SP Reguler terdiri dari dua rangkap,

rangkap yang pertama untuk diberikan kepada PBF dan

untuk rangkap kedua digunakan untuk arsip apotek.

2. Surat Pesanan Obat-Obatan Tertentu (SP OOT)

Di Apotek Siaga 21 SP ini digunakan untuk memesan obat

yang mengandung obat-obatan tertentu, misalnya yang

mengandung Chlorpromazin, Detromethorphan. SP OOT

terdiri dari dua rangkap, rangkap yang pertama untuk

21
diberikan kepada PBF dan untuk rangkap kedua digunakan

untuk arsip apotek.

3. Surat Pesanan Prekursor

Di Apotek Siaga 21 SP ini digunakan untuk memesan obat

yang mengandung Prekursor, misalnya obat yang

mengandung Pseudoefedrin, Phenylpropanolamine,

Ephedrine. SP prekursor terdiri dari dua rangkap, rangkap

pertama untuk diberikan kepada PBF dan rankap kedua

untuk arsip apotek.

4. Surat Pesanan Psikotropika

Di Apotek Siaga 21 SP ini digunakan untuk memesan obat

yang mengandung Psikotropika. SP ini ditujukan ke PBF

yang mendistribusikan obat yang mengandung psikotropika.

SP ini terdiri dari empat rangkap.

5. Surat Pesanan Narkotika

Di Apotek Siaga 21 SP ini Digunanakn untuk memesan obat

yang mengandung narkotika, yaitu berada di Kimia Farma.

1 SP untuk satu item obat dan 1 kekuatan sediaan.

2) Buku-Buku Penunjang Kelengkapan Apotek

a. Buku pembelian (buku barang datang).

Di Apotek Siaga 21 terdapat 2 jenis buku barang datang

yaitu buku barang datang plus dan buku barang datang

minus. Buku barang datang plus untuk barang datang dari

22
PBF (Pedagang Besar Farmasi), Sedangkan buku barang

datang minus untuk barang datang dari non PBF seperti alkes

dan minuman.

Ciri-ciri barang datang plus atau minus dapat dilihat dari

faktur barang datang. Untuk faktur barang datang plus

biasanya terdapat Perseroan Terbatas (PT) Misalnya PT. Bina

San Prima, terdapat NPWP Apotek Siaga 21, dan biasanya

obat yang dipesan adalah obat keras, obat bebas, vitamin,

susu bayi, dan pada saat penitipan faktur 1 minggu sebelum

tanggal jatuh tempo melampirkan faktur pajak. Sedangkan

untuk faktur barang datang minus biasanya terdapat

Commanditaire Vennootschap (CV) Misalnya CV. Global

Sinar Medica, biasanya barang yang dipesan adalah alat

kesehatan, minyak kayu putih, minyak telon, dan biasanya

bukan berupa faktur tetapi struk atau nota biasa, dan tidak

melampirkan faktur pajak. Tetapi ada juga faktur minus yang

menggunakan PT. tetapi, masuk kedalam faktur barang

datang minus karena PT. tersebut tidak melampirkan faktur

pajak.

Fungsi dari buku barang datang plus dan buku barang

datang minus adalah untuk merekap pengeluaran selama 1

bulan di Apotek Siaga 21. Isi buku barang datang plus dan

minus adalah sebagai berikut :

23
1. Buku Barang Datang Plus PBF

Berisikan penulisan tanggal barang datang, nomor

urut barang datang, nama PBF, nomor batch, tanggal ED,

nama barang, harga barang, potongan harga barang,

jumlah barang dan terakhir jumlah tagihan barang.

2. Buku Barang Datang Minus non PBF

Berisikan penulisan tanggal barang datang, nama CV,

nama barang datang, harga barang, jumlah barang,

jumlah tagihan.

b. Kartu Stok.

Di Apotek Siaga 21 kartu stok berisikan nama obat atau

nama barang, kemasan, sumber obat, tanggal barang datang,

nama PBF, Nomor batch, tanggal kadaluarsa, keterangan,

jumalah masuk, keluar, dan sisa. Digunakan untuk

mengetahui apakah obat atau barang tersebut masih memiliki

stok atau stoknya sudah limit.

c. Buku Kwitansi.

Di Apotek Siaga 21 terdapat buku kwitansi yang berisikan

nama apotek, alamat apotek, nomor telepon apotek, jumlah

uang. Biasanya digunakan ketika pasien membutuhkan

24
kwitansi saat sedang bertransaksi di apotek, atau ketika

apotek melakukan transaksi kepada PBF atau toko obat.

d. Buku Penjualan.

Di Apotek Siaga 21 ketika melakukan penjualan

obat/barang akan ditulis terlebih dahulu pada buku penjualan

sebelum dimasukakn ke dalam sistem komputer. Buku

penjualan berisikan nomor, nama obat/barang yang dibeli,

jumlah barang yang dibeli, dan harga obat/barang. Karena

jika tidak ditulis ke buku penjualan terlebih dahulu

dikhawatirkan akan ada perbedaan barang yang ada pada

sistem dan barang yang masih tersedia di apotek.

e. Buku Defecta

Di Apotek Siaga 21 buku defecta digunakan untuk

mencatat obat atau barang yang stoknya limit, kosong. Buku

defecta berisikan nomor, nama obat/ barang, keterangan.

f. Buku Swamedikasi.

Di Apotek Siaga 21 buku ini digunakan untuk mencatat

obat yang dibeli oleh pasien agar saat pasien datang ke

apotek untuk membeli obat yang sama maka sudah ada

datanya. Buku swamedikasi berisikan tanggal, jenis kelamin

pasien, penyakit yang diderita, obat yang diberikan dan harga

obat.

25
g. Buku Resep.

Di Apotek Siaga 21 buku ini digunakan untuk menyalin

resep dokter yang dibawa oleh pasien untuk menebus obat.

Buku resep berisikan nomor, nama rumah sakit/dokter, nama

pasien, tanggal resep, dan R/ obat. Biasanya Resep dari

dokter akan direkap pada akhir bulan pada setiap bulannya.

h. Buku Pelayanan Informasi Obat (PIO).

Di Apotek Siaga 21 buku ini digunakan untuk mencatat

pelayanan informasi obat kepada pasien, biasanya digunakan

untuk pasien yang akan membeli salep racikan. Buku PIO

berisikan nomor, tanggal, nama dan alamat pasien, kombinasi

salep yang digunakan, dan juga [Link] obat/barang.

3) Buku Penunjang Kelengkapan Resep.

a. Informasi Spesialit Obat Indonesia (ISO).

b. Standar Kompetensi Farmasi Indonesia.

c. Farmakope Indonesia.

d. The Mondthly Index of Medical Speciallities (MIMS)

4) Perlengkapan Lain

a. Alat komunikasi handphone dan telephone.

b. Papan nama yang memuat nama apotek, Nomor SIPA, nomor

SIA.

c. Perlengkapan dan alat perbekalan farmasi di Apotek :

26
1. Di Apotek Siaga 21 terdapat 2 lemari pendingin/kulkas.

Lemari Pendingin pertama ada di depan yang digunakan

untuk menyimpan minuman-minuman dan lemari

pendingin kedua ada di belakang yang digunakan untuk

menyimpan obat-obatan seperti suppositoria.

2. Alat-alat cek kesehatan Apotek Siaga 21 memiliki alat cek

kesehatan yang digunakan untuk mengecek berbagai

macam kesehatan yaitu cek tensi, cek kadar gula darah,

cek kolesterol, dan cek asam urat.

3. Meja racik dan alat racik.

4. Wadah pengemas dan pembungkus.

5. Terdapat 8 CCTV di Apotek Siaga 21.

6. Terdapat 2 komputer yang digunakan untuk menginput

dan mencari informasi terkait obat-obatan).

b. Penataan Ruangan.

Penataan ruang di suatu apotek itu penting dan harus ditata sebaik

mungkin untuk memberi kenyamanan kepada pasien dan karyawan

sehingga dapat bekerja dengan baik. Berikut penataan ruang di Apotek

Siaga 21:

1) Ruang tunggu yang terdiri dari kursi panjang.

2) Etalase obat paten, obat generik, obat bebas, obat bebas terbatas,

obat prekursor, vitamin, dan alat kesehatan.

27
3) Rak yang berisi pampers, susu, tisu, kosmetik, peralatan bayi,

madu, dan obat herbal.

4) Terdapat meja racik dibagian dalam apotek bersama dengan

gudang obat.

5) Terdapat meja apoteker, alat cek kesehatan, serta buku penunjang

lainnya.

c. Pengelolaan Barang

1) Pengelolaan Barang

a) Kartu Stok

Kartu stok obat adalah dokumen yang digunakan untuk

mencatat keluar masuk obat yang ada di apotek, biasanya

dicatat di kertas maupun melalui aplikasi. Di Apotek Siaga 21

kartu stok hanya untuk obat-obatan yang mengandung

Antibiotik dan Psikotropik. Untuk item yang lain

menggunakan kartu stok digital pada sistem.

b) Stok Opname

Stok Opname adalah kegiatan mencocokkan stok barang

yang masih tersimpan di gudang dengan stok yang ada pada

komputer. Di Apotek Siaga 21 melakukan Stok Opname 6

bulan 1 kali. Tujuan Stok Opname:

1. Mencegah kerugian apotek karena kelalaian perhitungan.

2. Mengetahui jumlah barang yang ada di apotek.

3. Mengetahui kapan barang tersebut kadaluarsa.

28
4. Mengatur mutase barang dari dalam dan keluar apotek.

5. Pengendalian internal.

Apoteker membuat berita acara stok opname, hasil stok

opname akan disampaikan kepada owner Apotek Siaga 21.

2) Pengelolaan Administrasi.

Pengelolaan Administrasi di apotek meliputi, administrasi umum

dan administrasi pelayanan.

a. Administrasi Umum terdiri dari pencatatan, pengarsipan, dan

pelaporan yang sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang

berlaku.

b. Administrasi Pelayanan terdiri dari penyimpanan dan dokumen

resep, catatan pengobatan pasien, dan hasil monitoring

penggunaan obat.

B. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi Ketika RANJO di Apotek Siaga 21 adalah

sebagai berikut:

1. Terkadang kami masih tidak hafal tempat obat dan alat kesehatan di

Apotek.

2. Terkadang ada teman kita yang tidak berangkat tanpa keterangan.

3. Terkadang ada teman kita yang tidak mengerjakan tugas dari karyawan

Apotek.

29
4. Terkadang dari kami kurang aktif dalam bertanya.

5. Terkadang kami masih belum tau harga – harga obat dan alat kesehatan.

C. Usulan Pemecahan Masalah

Usulan pemecahan masalah yang di Apotek Siaga 21 adalah sebagai berikut:

1. Kami harus belajar untuk menghafal tempat – tempat obat dan alat

kesehatan.

2. Kami harus memberi dukungan kepada teman kita tersebut, agar rajin

berangkat kembali.

3. Kami harus membicarakan baik – baik kepada teman kita alasan tidak

mengerjakan tugas dan tetap memberinya dukungan untuk mengerjakan

tugasnya.

4. Kami harus lebih aktif kembali dalam bertanya dan saling mendukung

untuk aktif bersama.

5. Kami harus menghafal dan memahami harga – harga obat.

30
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pembelajaran didunia kerja bertujuan untuk mencetak tenaga kerja

professional yang memiliki kompetensi akademik, keterampilan sesuai kebutuhan

industri, serta karakter yang baik. Pendidikan dirancang agar sesuai dengan

kebutuhan dunia kerja melalui kolaborasi sekolah dan industri, pengakuan

terhadap pengalaman kerja, serta pengembangan etos kerja dan kepribadian yang

utuh.

Pembelajaran dunia kerja juga difokuskan pada siswa agar siap kerja,

mandiri, berdaya saing tinggi, dan mampu melanjutkan pendidikan. Siswa juga

diarahkan untuk memiliki tanggung jawab, disiplin, kemampuan berinteraksi

sosial, serta keterampilan yang relavan dengan tuntunan dunia kerja.

B. Saran

1. Bagi peserta didik

Bagi peserta didik sebaiknya lebih menghormati pembimbing dan

karyawan yang ada dilahan dan lebih meningkatkan kerja sama dengan

31
teman yang satu lahan, mengurangi rasa egois masing – masing. Saat ada

waktu kosong sebaiknya peserta didik lebih memanfaatkan waktunya

untuk belajar dengan pembimbing atau karyawan yang satu shift.

2. Bagi sekolah

Bagi sekolah sebaiknya lahan yang digunakan untuk siswa RANJO tidak

hanya di rumah sakit dan apotek saja akan tetapi ditambah industry obat

atau distributor obat agar siswa tidak hanya mengerti pengelolaan obat di

rumah sakit maupun apotek akan tetapi mengerti proses pembuatan

sediaan dan pendistribusiannya.

32
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Hj. Gemy Nastity Handayani [Link].,[Link].,Apt., 2022. Manajemen Farmasi,

Purbalingga. Eureka Media Aksara

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia., 2017. Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017 tentang Apotek. Jakarta. Kementerian

Kesehatan RI.

Peraturan Republik Indonesia., 1980. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun

1980 tentang Apotek. Jakarta. Pemerintah Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia., 2016. Peraturan Menteri Kesehatan

Nomor 73 Tahun 2016 tentang Apotek. Jakarta. Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia.

Buku Panduan Real On Job (RANJO) 2025/2026

33
LAMPIRAN

Gambar 1.1 Gambar 1.2

Membuat kapsul dengan alat Rak otc sirup dan suplemen vitamin

Gambar 1.3 Gambar 1.4

Rak alkes Obat yang disimpan di suhu 0 – 5 derajat

34
Gambar 1.5 Gambar 1.6

Rak obat sirup keras Rak gudang obat generic

Gambar 1.7 Gambar 1.8

Rak gudang obat otc Rak gudang obbat prekursor

Gambar 1.9 Gambar 1.10

Rak gudang obat paten Rak obat otc

35
Gambar 1.11 Gambar 1.12

Surat pesanan obat – obat tertentu Surat pesanan obat precursor

Gambar 1.13 Gambar 1.14

Surat pesanan regular Buku swamedikasi dan pio

36
Gambar 1.15 Gambar 1.16

Buku faktur PBF Buku faktur non PBF

Gambar 1.17 Gambar 1.18

Copy Resep Apotik Siaga 21 Gambar Rak Otc susu

37
Gambar 1.19 Gambar 1.20

Rak otc perlengkapan bayi Rak otc skincare

Gambar 1.21 Gambar 1.22

Rak otc obat tablet Rak otc sirup

38
Gambar 1.23 Gambar 1.24

Rak salep, tetes mata dan tetes telinga Rak keras obat tablet

39

Anda mungkin juga menyukai