Kanker Serviks: Risiko dan Penyebabnya
Kanker Serviks: Risiko dan Penyebabnya
TINJAUAN PUSTAKA
Kanker serviks adalah jenis kanker kedua yang paling sering menyerang
seluruh dunia dan paling banyak ditemukan di negara berkembang. Hasil data
GLOBOCAN (2012) menunjukkan bahwa pada tahun 2012 ada sekitar 528.000
kasus kanker serviks baru di dunia. Jumlah kematian yang diakibatkan oleh
kanker serviks ini pada tahun 2012 mencapai 266.000 orang dan sebagian besar
dengan prevalensi tertinggi di Indonesia pada tahun 2013 adalah kanker serviks
(0,8% dari keseluruhan jenis kanker) dan jumlah penderita terbanyaknya terdapat
pada Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hasil survei yang dilakukan oleh
Pusdatin menunjukkan bahwa dari tahun 2010- 2013 jumlah kasus baru maupun
jumlah kematian yang diakibatkan oleh kanker serviks terus meningkat (Pusdatin
2.1.1 Definisi
obstetri dan ginekologi, lebih tepatnya terjadi di percabangan antara sel epitel
kolumnar endoserviks dan sel epitel skuamosa ektoserviks atau pada zona
daerah yang menghubungkan rahim (uterus) dengan vagina. Hampir 99% kanker
6
7
kanker serviks adalah sel skuamosa) yang tumbuh secara terus-menerus yang
tidak terbatas, tidak terkoordinasi dan tidak berguna bagi tubuh, sehingga jaringan
disekitarnya tidak dapat berfungsi dengan baik. Rasjidi dalam Manalu (2011)
dari lapisan epidermal serviks tersebut disebut dengan displasia sel. Displasia
tersebut akan menunjukkan lesi lama yang disebut dengan Cervical Intra
2.1.2 Etiologi
Otto dalam Sari (2008), Bosch (2002), dan Sreedevi (2015) mengatakan
jenis protein 1 gen (E6 dan E7) yang terdapat pada HPV dapat menghambat kerja
protein pada manusia (Rb dan p53) yang berfungsi untuk mengatur pertumbuhan
dan pembelahan sel secara normal. HPV menyebabkan epitel pada serviks
bahwa wanita dengan kadar HPV yang tinggi berisiko 30x lebih besar untuk
terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita dengan HPV negatif. HPV
diduga juga memegang peranan penting dalam kejadian mutasi gen. Asam nukleat
virus DNA tersebut dapat bersatu ke dalam gen dan DNA sel orang tersebut.
menginfeksi sel permukaan kulit, alat genitalia, anus, mulut, dan tenggorokan,
8
tetapi HPV tidak dapat menginfeksi melalui darah dan organ dalam. Virus ini
ditularkan dari satu orang ke yang lainnya melalui kontak kulit (skin-to-skin) dan
2014). Jong dalam Syatriani (2011), Chichareon et al.,(1998), dan Sreedevi (2015)
antara lain faktor sosio demografi yang meliputi usia, status sosial ekonomi, usia
kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama lebih dari 4 tahun, asupan nutrisi, dan
lain sebagainya.
pada wanita:
1. Usia
pada umur 40- 49 (42,7%), 50- 59 tahun (34,1%), 30- 39 tahun (12,40%), umur
pada usia 55- 59 tahun (Sreedevi, 2015). Kesimpulan dari penelitian tersebut
9
menyatakan bahwa semakin muda umur penderita, maka survival nya semakin
2. Status ekonomi
pendapatan yang rendah berkaitan dengan terjadinya gizi dan gaya hidup sehat
yang buruk pada seseorang. Golongan dengan penghasilan yang rendah pada
umumnya memiliki kuantitas dan kualitas makanan yang kurang, sehingga dapat
pra kanker (pap smear). Penghasilan yang rendah juga dikaitkan dengan higiene,
mengaitkan faktor keadaan ekonomi keluarga atau seseorang dengan faktor resiko
sebelum berusia 20 tahun berisiko terkena kanker serviks karena organ seksual
belum siap untuk digunakan berhubungan seksual secara dini dan adanya
perubahan hormon estrogen yang tinggi pada masa pubertas. Perubahan hormon
sedang mengalami metaplasia akan rentan terinfeksi virus HPV, sehingga semakin
dini usia saat memulai hubungan seksual maka semakin cepat seseorang
mendapatkan resiko terpapar virus HPV (Plummer, 2012; Louie et al., 2009)
10
ditularkannya Infeksi Menular Seksual (IMS) yang didapat dari pasangan seksual
yang banyak. Sedangkan IMS merupakan salah satu faktor risiko terjadinya
kanker serviks pada wanita (Depkes, 2009). Hasil meta analisis Chang et al.,
(2015) mengatakan resiko wanita akan beresiko tertularnya HPV dengan jumlah
5. Paritas
Paritas yang tinggi adalah salah satu faktor risiko terjadinya kanker
serviks, dikarenakan pada tiap proses melahirkan akan selalu terjadinya trauma
pada serviks sehingga menyebabkan terjadinya perubahan sel abnormal dari epitel
pada serviks yang prognosisnya mengarah pada keganasan (Sukaca, 2009). Hasil
dari penelitian case control yang dilakukan di RSUD AW. Sjahranie Samarinda
Kalimantan Timur dari bulan Januari hingga Jui 2009, menunjukkan bahwa
wanita yang mempunyai 5-12 anak mempunyai resiko 2,6 kali lebih tinggi
6. Kebersihan genitalia
iritasi pada serviks sehingga dapat merangsang terjadinya perubahan pada sel
Wanita yang sering mencuci vagina dengan sabun yang kadar pH nya lebih
dari 4 dan atau dengan menggunakan detergen, dapat meningkatkan risiko terkena
11
atau pH yang tidak sesuai dengan pH vagina, dapat membunuh kuman Bacillus
pada tahun 2008 diperoleh hasil bahwa ada hubungan antara penggunaan sabun
7. Merokok
sangat berbahaya pada tubuh. Substansi berbahaya tersebut akan masuk ke dalam
tubuh melalui paru- paru dan akan diabsorbsi oleh darah dan mengalir ke seluruh
tubuh. Salah satu zat yang terdapat pada tembakau pernah ditemukan pada mukus
servik seorang wanita yang merokok secara aktif atau pun pasif. Substansi dari
rokok tersebut yang merusak DNA dari sel serviks, yang merupakan awal dari
berkembangnya kanker serviks. Merokok juga membuat sistem imun dalam tubuh
menurun, sehingga tubuh rentan terpapar virus HPV (American Cancer Society,
8. Riwayat penyakit
risiko yang lebih besar untuk terkena infeksi virus HPV. Fase pra-kanker
serviks akan lebih cepat berkembang menjadi kanker serviks yang invasif
b) Klamidiasis
trachomatis mempunyai risiko yang lebih besar untuk terkena infeksi HPV
infeksi menular seksual lain selain HPV, sehingga terjadi kesulitan saat
terkena keganasan sel skuamosa pada serviks 74-80% atau 2-3 kali lebih tinggi
pada wanita yang memiliki ibu dan atau saudara kandung yang sedang menderita
mengarah pada kesamaan kondisi host yang berkaitan dengan kondisi imunitas
serviks, terutama pada wanita yang sudah terjangkit HPV sebelumnya (Suheimi,
berkembangnya sel kanker serviks. Lama pemakaian OCs juga linear dengan
mengatakan bahwa wanita yang telah berhenti menggunakan OCs dalam kurun 10
tahun atau lebih, risikonya akan seperti pada wanita normal/ tanpa risiko. Wanita
dengan penggunaan kontrasepsi hormonal 1-4 tahun dan 5-25 tahun memiliki
peningkatan resiko terkena kanker serviks sebesar 2dan 4.5 kali lebih besar jika
Assurance Project, 2014; Cancer Research UK, 2014; Paramita et al., 2010 ).
Kehamilan aterm pada usia <17 tahun akan meningkatkan 2x lipat risiko
terkena keganasan pada serviks. Faktor risiko yang dipaparkan di atas dapat
menjadi pemicu terjadinya kanker serviks, namun banyak wanita yang juga
14
memiliki risiko tersebut tidak terkena kanker servik. Seseorang yang berada dalam
tahap pra kanker, tidak mungkin secara langsung dikatakan, bahwa salah satu
adalah bagian terendah dari portio uterus berbentuk silinder yang panjangnya 3- 4
cm dengan diameter 2,5 cm yang tersusun dari jaringan ikat fibrosa. Serviks
mempunyai ukuran yang bervariasi, karena dipengaruhi oleh usia, paritas, dan
kadar hormonal. Serviks terbagi menjadi dua bagian yaitu ektoserviks dan
endoserviks.
epithelium) yang secara histologi terdiri dari: superficial cell layer, intermediate
cell layer, parabasal layer, dan basal cell layer. Pada bagian ektoserviks, ukuran
sel- sel dari bagian basal hingga superficial layer semakin membesar, tetapi
ukuran intinya semakin kecil. Tingkat maturitas dari epitel skuamosa dipengaruhi
oleh kadar estrogen, sehingga semakin tinggi kadar estrogen maka semakin matur/
matang sel epitel skuamosa tersebut. Kadar estrogen yang rendah dapat terjadi
pada masa menopouse. Kadar estrogen yang rendah dapat menyebabkan jaringan
epitel tidak matur sehingga menjadi tipis dan atrofi, maka pada pemeriksaan
epithelium) yang merupakan single layer dengan bentuk selnya memanjang secara
vertikal. Ukuran dari endoserviks tersebut lebih pendek jika dibandingkan dengan
15
kolumnar akan digantikan oleh epitel skuamosa yang berasal dari cadangan epitel
metaplasia yang tinggi tersebut sering dijumpai pada masa pubertas. Akibat proses
metaplasia ini maka secara morfogenetik terdapat 2 SCJ, yaitu SCJ asli dan SCJ
baru yang menjadi tempat pertemuan antara epitel skuamosa baru dengan epitel
zone/ zona T). Squamocolumnar junction (SCJ) merupakan daerah peralihan yang
beda sesuai dengan fase wanita tersebut. Letak dari SCJ tersebut dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu: usia, status hormonal, trauma jalan lahir, kontrasepsi oral,
dan kehamilan. Pada wanita muda SCJ berada di ostium uteri eksternum,
sedangkan pada wanita berusia >35 tahun SCJ berada di dalam kanalis serviks.
Berikut gambaran peralihan letak SCJ dari tiap fase kehidupan wanita :
Gambar 2.1 Lokasi squamocolumnar juction (SCJ) dan zona transformasi. (a)
anak- anak; (b) pra pubertas; (c) wanita usia 30 -an; (d) premenopouse; (e)
monopouse.
17
Lesi pra kanker adalah kondisi serviks yang berpotensi menjadi kanker.
Pada kondisi ini sel- sel epitel pada serviks mengalami displasia (kelainan epitel).
sitologik dan histologik yang berbeda dengan epitel normal, tetapi displasia tidak
didasarkan pada tebal epitel yang mengalami kelainan dan berat ringannya
kelainan pada sel tersebut. Sedangkan karsinoma in- situ adalah gangguan
basalis masih utuh. Neoplasia Intraepitel Serviks (NIS) adalah istilah yang
tersebut antara lain: 1)NIS 1 (diplasia ringan); 2) NIS 2 (displasia sedang); 3)NIS
3 (displasia berat); dan karsinoma in- situ. Semua tingkatan NIS tersebut
belum tentu akan berkembang menjadi keganasan pada serviks, hal ini
Pasien dengan lesi pra kanker, 92% dari total pasien kanker serviks tidak
merasakan gejala. Gejala akan dirasakan ketika lesi prakanker sudah menjadi
kanker. Gejala tersbut antara lain: perdarahan abnormal (di luar siklus haid),
perdarahan post coitus yang banyak, dan cairan yang keluar dari vagina. Pada
kanker serviks lanjutan akan didapatkan gejala berupa keluarnya cairan yang
berbau tidak sedap, pelvic pain, nyeri lumbosakral dan gluteus, gangguan
berkemih, nyeri pada kandung kemih dan rektum. Keluhan akan sesuai dengan
organ yang menjadi dampak metastase kanker, apabila sel kanker sudah
Lesi pra kanker berwana putih akan ditemukan setelah dioles dengan asam
asetat. Pemeriksaan dalam (VT/ vaginal touch) akan memberi gambaran apakah
yang sudah meluas hingga ke luar panggul, akan mengakibatkan adanya gangguan
sentral, pembesaran kelenjar getah bening (KGB), pembesaran hati, terdapat masa
di dalam perut, pelvis, hidronefrosis, efusi pleura, dan atau tanda penyebaran ke
2.1.6 Diagnosis
pemeriksaan sitologi pap test, Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA), dan Inspeksi
Visual Lugoliodin (VILI). Pemeriksaan klinik yang bisa dilakukan pada fasilitas
thoraks dan tulang. Biopsi dan histologik dilakukan apabila dicuragi adanya
metastase sel kanker pada kandung kemih dan rektum, setelah itu dapat
dilakukan menentukan untuk rencana pengobatan pada pasien, tetapi tidak dapat
lain yang dapat dilakukan untuk rencana pengobatan namun bersifat opsional
Stadium
Kategori TNM
FIGO
Tumor primer tidak bisa digambarkan TX
Tidak ada bukti adanya tumor primer TO
0 Karsinoma in situ (preinvasive carcinoma) Tis
I Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus uteri TI
IA Karsinoma mikroinvasif TIa
IA1 Kedalaman invasi stroma tidak lebih dari 3 mm dan perluasan horizontal tidak TIaI
lebih dari 7 mm
IA2 Kedalaman invasi stroma lebih dari 3 mm dan tidak lebih dari 5 mm dan TIa2
perluasan horizontal 7 mm atau kurang
20
IB Secara klinis sudah diduga adanya tumor mikroskopik lebih dari IA2 atau TIb
TIa2
IBI Secara klinis lesi berukuran 4 cm atau kurang pada dimensi terbesar TIbI
IB2 Secara klinis lesi berukuran lebih dari 4 cm pada dimensi terbesar TIb2
II Tumor menyebar ke luar dari serviks, tetapi tidak sampai dinding panggul atau T2
sepertiga bawah vagina
IIA Tanpa invasi parametarium T2a
IIB Dengan invasi parametrium T2b
III Tumor menyebar ke dinding panggul dan/ atau sepertiga bawah vagina yang T3
menyebabkan hidronefrosis atau penurunan fungsi ginjal
IIIA Tumor menyebar sepertiga bawah vagina tetapi tidak sampai ke dinding T3a
panggul
IIIB Tumor menyebar ke dinding panggul menyebabkan penurunan fungsi ginjal T3b
IVA Tumor menginvasi mukosa buli- buli atau rekstum dan ke luar panggul T4
IVB Metastase jauh MI
Sumber: Rasjidi, 2009
2.1.8 Histopatologi
Histopatologi kanker serviks terdiri atas berbagai jenis. Dua bentuk yang
sering dijumpai adalah karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma. Sekitar 85%
Tabel 2.3 Klasifikasi histopatologi kanker serviks WHO 1975 & WHO 1994 :
WHO 1975 WHO 1994
Karsinoma sel skuamosa Karsinoma sel skuamosa
Dengan pertandukan Dengan pertandukan
Tipe sel besar tanpa pertandukan Tanpa pertandukan
Tipe sel kecil tanpa pertandukan Tipe verukosa
Tipe kondilomatosa
Tipe kapiler
Tipe limfoepitelioma
Adenokarsinoma Adenokarsinoma
Tipe endoserviks Tipe musinosa
Tipe endometrioid Tipe mesonerfik
Tipe clear cell
Tipe serosa
Tipe endometrioid
Karsinoadenoskuamosa (adenoepidermoi) Karsinoadenoskuamosa
Karsinoma adenoid kistik Karsinoma glassy cell
Adenokarsinoma mesonefroid Karsinoma sel kecil
Karsinoma adenoid basal
Tumor karsinoid
Karsinoma denoid kistik
Tumor mesenkhim Tumor mesenkhim
Karsinoma tidak berdiferensiasi Karsinoma tidak berdiferensiasi
Tumor metastasis
Sumber: Rasjidi, 2009
21
or undifferentiated)
Tabel 2.4 Terminologi yang digunakan untuk pelaporan sitologi dan histologi
penyakitnya. Lesi dengan displasia ringan sebagian besar lesi dapat sembuh
dengan sendirinya atau mengalami regresi secara spontan. Pada displasia sedang
dan berat dapat dilakukan beberapa alternatif pengobatan, antara lain sebagai
Procedure (LEEP), (3) Large Loop Excision of Transformation Zone (LEETZ), (4)
22
biopsi kerucut/ konisasi, (5) Histerektomi (dapat dilakukan pada pasien NIS III
dalam bukunya bahwa persiapan pengobatan pada pasien kanker serviks yang
perlu dilakukan yaitu pemeriksaan darah tepi lengkap, kimia darah, pembekuan
darah (jika direncanakan untuk operasi). Pemeriksaan lainnya yaitu petanda tumor
konisasi kalau fertilitas diperlukan. Atas pilihan pasien, dapat pula dilakukan
brakhiterapi. Pada stadium IA2 dan IB1 dapat dilakukan operasi dan radioterapi.
Operasi dapat dilakukan jika tanpa kontraindikasi. Operasi tersebut terdiri dari :
(1) histerektomi radikal atau modifikasi (tipe 2) dan limfadenektomi pelvis, (2)
histerekstomi ekstrafasial dan limfadenektomi pelvis bila tidak ada invasi limfo-
radioterapi eksterna dapat diberkan jika terdapat faktor resiko antara lain:
sayatan tidak bebas tumor/ close margin, paska radiasi eksterna dilanjutkan
Stadium IA2, IB1, IB2, IIA tidak dapat dilakukan operasi, apabila tumor
pada stadium > 4cm, Indeks obesitas >70%, umur >65 tahun, pasien menolak
dilakukan operasi, dan adanya kontraindikasi anastesi. Pada stadium tersebut juga
kemoterapi (cisplastin 40 mg/m2 setiap minggu selama radiasi luar. Bila KGB
iliaka komunis atau paraaorta (+) maka lapangan radiasi diperluas. Kemoterapi
yang diberikan antara lain cisplastinum, paclitaxel, doxetaxel. Jika ulkus dalam,
kuratif 4000 cGy. Bila respon positif maka lakukan radiasi eksterna dilanjutkan
terapi radiasi tersebut. Ekstentrasi dapat dipertimbangkan pada IVA bila tidak
meluas sampai dinding panggul, terutama bila ada fistel rektovaginal atau
veikovaginal. Pada stadium IVB maka lakukan radiasi paliatif. Terapi lokal dapat
dilakukan dengan radiasi dengan tujuan untuk mengurangi simptom seperti nyeri
karena metastasis tulang, pembesaran KGB para aorta dan supraklavikula, atau
positif
2. Massa yang besar, CLS (+) Adjuvan whole, pelvic IB/ A
dan invasi 1/3 luas stroma irradation
serviks
IB2 - IIA > 4cm [Link] kemoradiadsi IB/ A
[Link] histerektomi radikal III/ B
[Link] kemoterapi
diikuti radikal histerektomi III/ B
dan diseksi KGB pelvis
Keterlibatan CLS + invasi 1/3 Primer histerektomi + adjuvan IIIB
luar stroma serviks radiasi
IIB, III, Eksternal radiasi + intracaviter IB/ A
IVA brakiterapi + concurent
kemoterapi (terapi primer)
IVA Tidak metastase ke dinding Eksternal pelvis IV/ C
perlvis, terutama jika terdapa
fistula vesikovaginal atau
rektovaginal
IVB atau Rekuren lokal paska bedah 1. Radiasi IV/ C
rekuren 2. Kemoterapi konkuren III/ B
3. Eksentrasi pelvis
IV/ C
Rekuren lokal paska bedah Eksentrasi pelvis III/ B
Metastase dan rekuren Kemoterapi IB/ A
Metastase jauh Radiasi paliatif III/ B
Sumber: Rasjidi, 2009
Berikut beberapa gambar diagram alur tindak lanjut dan manajemen hasil tes
skrining :
Skrining tes
Tindak lanjut
Gambar 2.3 Diagram alur tindak lanjut dan manajemen pasien menurut hasil
25
Tes IVA
Cervical Smear
Hasil Biopsi
Normal
2.1.10 Prognosis
limfadenektomi pelvis tergantung pada beberapa faktor berikut, antara lain: status
suatu kegiatan atau aktivitas makhluk hidup, baik yang dapat diamati langsung
27
atau tidak. Perilaku individu dipengaruhi oleh adanya pengetahuan dan sikap yang
memiliki acuan pada sistem nilai dan norma yang dianutnya. Skinner (1938)
individu pada dasarya terbentuk karena 2 faktor utama yaitu stimulus dan respon.
Stimulus adalah faktor eksternal, sedangkan respon adalah faktor dari dalam diri
aktivitas atau kegiatan seseorang, baik yang dapat diamati atau tidak, yang
sakit atau memiliki masalah kesehatan. Perilaku orang yang sehat agar tetap sehat
adalah tempat atau fasilitas kesehatan, baik fasilitas kesehatan atau pelayanan
dengan sensasi. Sensasi adalah pengalaman yang segera yang tidak memerlukan
pernguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan berhubungan sekali dengan alat
indra. Sebagai contoh, di suatu desa dibangun puskesmas. Puskesmas pada semua
orang terjadi proses sensasi, bahwa bangunan itu adalah puskesmas, dan masing-
28
masing orang mempunyai presepsi yang berbeda. Setiap orang juga mempunyai
presepsi yang berbeda tentang penyakit, walaupun jenis penyakit tersebut sama.
konsep sehat-sakit antara penyedia layanan kesehatan dan masyarakat sering tidak
sejalan. Perbedaan konsep sehat-sakit disebabkan adanya presepsi sakit yang tidak
terletak pada penyakit (disease) dan rasa sakit (illness). Penyakit (disease)
didefinisikan sebagai suatu bentuk reaksi biologis terhadapa sesuatu benda asing
yang masuk ke dalam tubuh. Rasa sakit (illness) didefinisikan sebagai suatu
penilaian seseorang terhadap penyakit. Pengertian rasa sakit (ilness) bisa disebut
sakit tersebut bisa diringkas dalam bentuk tabel kombinasi alternatif antara
Area 1 :
Pasien mengatakan bahwa dirinya tidak sedang menderita penyakit dan tidak
merasa sakit, sehingga konsep sehat sakit antara provider dan pasien sama.
Area : 2 :
Pasien terkena suatu penyakit secara biologis, namun pasien tersebut tidak merasa
sedang sakit dan tetap menjalankan kegiatannya sehari- hari seperti orang sehat
29
lainnya. Konsep sehat-sakit masyarakat pada area ini dapat disimpulkan bahwa
orang yang tidak dapat melakukan kegiatan keseharian itulah yang disebut dengan
sakit, sedangkan orang yang sebenarnya sedang sakit secara biologis namun orang
tersebut masih dapat melakukan kegiatan keseharian, masih disebut dengan sehat.
Masyarakat baru mencari pengobatan setelah yakin tidak dapat berbuat apapun,
Area : 3
Seseorang pada area ini secara biologis tidak sedang terserang penyakit,
tetapi orang tersebut merasakan sakit. Dugaan penyebab dari hal tersebut lebih
Area : 4
Seseorang pada area ini sedang menderita penyakit dan juga merasakan
sakit, sehingga orang yang berada ada area ini adalah yang benar- benar disebut
sakit sehingga antara provider pelayanan kesehatan dan pasien akan lebih mudah
bertemu.
individu terhadap suatu situasi dan kemampuan individu dalam perihal melawan
sakit berat digunakan untuk menjelaskan mengapa seseorang dengan kondisi sakit
berat tersebut dapat mengatasinya, tetapi orang lain dengan kondisi yang lebih
(Notoatmodjo, 2014).
30
pokok dalam perilaku sakit, antara lain: (1) content (isi) yang menjelaskan tentang
tindakan apa saja yang dilakukan orang sakit itu, (2) sequence (tahapan) yang
ditempuh di saat sakit, (3) spacing (jarak) menjelaskan tentang rentang waktu
menjadi lima, yang digunakan untuk analisis perilaku, antara lain: (1) shoping
yang merupakan proses dalam mencari beberapa sumber yang berbeda dari
suatu proses menunda untuk mencari pengobatan. (4) Self medication adalah
usaha seseorang untuk mengobati diri sendiri. (5) Discontinuity adalah proses
Beberapa respon seeorang jika sedang sakit, yaitu: (1) tidak bertindak
terhadap penyakitnya. Hal ini dikarenakan sakit yang diderita tidak mengganggu
yang tidak terjangkau, petugas yang kurang ramah, tidak mempunyai biaya
berobat, dan sebagainya. (2) mengobati sendiri. Perilaku ini didasarkan pada
pengalaman masyarakat yang lalu yang mampu menyembuhkan diri sendiri tanpa
pengobatan ini lebih berorientasi pada sosial dan budaya masyarakat. (4)
lain: sosio ekonomi, jenis kelamin, umur, status sosial, jenis penyakit, akses ke
tersebut dapat dikategoikan menjadi dua jenis. Jenis pertama yaitu faktor
penghambat atau penentu antara lain faktor geografi, sosio ekonomi, budaya, dan
pencarian pelayanan kesehatan dari proses dan alurnya. Bedri (2001) dalam
juga muncul adanya keterlambatan pengobatan dan adanya sikap menolak dari
penyakit tertentu akan lebih memilih pengobatan tradisional. Ada beberapa bukti
lain yang menyatakan bahwa alasan pasien dalam memilih pengobatan tidak
tergantung pada tipe penyakitnya, namun lebih kepada faktor gender, sebagai
contoh yaitu wanita di Nepal lebih cenderung mencari pengobatan tradisional saat
pertama kali merasakan sakit jika dibandingkan dengan pria. Hal serupa juga
terjadi pada hasil penelitian Rahman (2000) yang menemukan bahwa 80% wanita
Informasi
Kepercayaan
Variabel demografi
Fasilitator
Inhibitor
Kecurigaan
Karakteristik psikologi Keparahan Aksi
Motivasi
Kebermanfaatan
Penghambat
Biaya
Pengalaman
masa lalu
medis menjadi dua kelompok, yaitu sistem medis non barat dan sistem medis
barat.
pribumi pada suatu masyarakat. Sistem medis ini sering disebut dengan
makhluk supranatural (hantu, roh leluhur, dan roh jahat). Naturalistik adalah suatu
penyakit yang muncul dari tidak seimbangnya cairan dalam tubuh. Paradigma
perbuatan yang melanggar aturan alam. Sakit dan penyakit memegang peran
penting dalam hal kontrol sosial dari suatu sistem nilai budaya yang diyakininya
Kelebihannya yaitu, banyaknya sumbangan racikan obat yang berasal dari ramuan
di dunia tidak hanya dapat menyembuhkan penyakit secara medis, namun selalu
seperti seorang penyembuh juga merupakan ahli pemecah masalah sosial yang
timbul di masyarakat. Kekurangan sistem medis non barat ini yaitu kurang adanya
alasan yang logis atau rasional yang dapat menjelaskan bagaimana suatu penyakit
dapat disembuhkan. Beberapa orang yang sangat percaya dan yakin akan tetap
Karakteristik tersebut yaitu terkait dengan ciri- ciri demografi (jenis kelamin dan
pelayanan kesehatan.
Tingkat pertama dan Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat pertama dan Fasilitas
dapat berupa puskesmas, praktik dokter, praktik dokter gigi, klinik pratama atau
yang setara, dan Rumah Sakit Kelas D pratama atau yang setara. Fasilitas
kesehatan rujukan tingkat lanjutan yaitu klinik utama atau yang setara, Rumah
pelayanan, yaitu fasilitas kesehatan tingkat primer, sekunder, dan tersier. Tingkat
primer yaitu dokter praktek mandiri, klinik pratama (dokter umum), dan
tipe A.
yang berdasarakan teori, kepercayaan dan pengalaman yang berbeda pada tiap
36
perbaikan dan perawatan penyakit yang menyerang fisik dan mental. Istilah obat
non-conventional medicine.
dipengaruhi oleh dua hal pokok yaitu faktor perilaku dan di luar perilaku. Perilaku
tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor utama yang sering disebut dengan akronim
merupakan fase diagnosis masalah dan termasuk arahan dalam menganalisis atau
(Notoatmodjo, 2014).
lingkungan fisik, sumber daya, dan tersedianya fasilitas dan sarana kesehatan.
Faktor pendorong (reinforcing factor) dapat berupa sikap dan perilaku petugas
kesehatan maupun petugas lain, teman, tokoh, yang semuanya bisa menjadi
Predisposising factors
Reinforcing factors
Keterangan:
B = Behaviour
RF = Reinforcing factors
PF = Predisposing factors
EF = Enabling factors
F = fungsi
Kesimpulan yang dapat diambil dari Precede model ini yaitu perilaku
sarana, dan prasarana, sikap, dan perilaku para petugas kesehatan juga akan
precede model ini yaitu, ketika seseorang ibu yang tidak mau mengimunisasikan
anaknya di posyandu dapat disebabkan karena ibu tersebut tidak atau belum
mengetahui manfaat imunisasi bagi anaknya (tidak ada faktor predisposisi). Ibu
rumah dengan posyandu atau puskesmas tidak dapat terjangkau atau jauh (tidak
ada faktor pemungkin). Alasan lain yang mungkin menyebabkan ibu tersebut
tidak mengimunisasikan anaknya yaitu tidak ada petugas kesehatan atau tokoh
Contoh lain yaitu seorang bapak sebagai kepala keluarga akan membangun
melakukan MCK (Mandi Cuci Kakus) di sungai dekat rumahnya, faktor yang
mempengaruhi yaitu: (1) pengetahuan dan sikap bapak terhadap perilaku keluarga
tersebut yang tidak sehat, yaitu MCK di sungai (predisposing factors), (2) bapak
tersebut mempunyai uang untuk membeli bahan untuk membuat kamar mandi dan
WC (enabling factors), dan (3) ada surat dari kepala camat setempat yang
1. Pengetahuan
P = Q / R X 100%
Keterangan :
P = Skor (persentase)
R = Skor maksimal
2. Kepercayaan/ Keyakinan
sesuatu itu benar atau salah dan bisa bersifat rasional dan irasional.
keterlambatan, yaitu:
lain:
(1) Penderita pada stadium dini pada umumnya merasa tidak sakit
penyakitnya.
selain itu juga takut jika terapi yang diberikan berupa tindakan
operatif.
onkologi.