6.
5 Stabilisasi Tanah
Perkerasan tidak dapat dipisahakan dengan tanah, dan umumnya untuk mengatasi gerakan
yang tidak seragam, tidak lazim dilakukan dengan merancang perkerasan sangat tebal, guna
memberikan kekakuan yang tinggi. Dengan alasan ini, untuk meminimumkan gerakan
pengembanagan tanah, penanganan tanah-dasar (subgrade) dengan cara stabilisasi sering
dilakukan. Stabilisasi tanah-dasar yang sering dilakukan misalnya, pencampuran tanah
dengan kapur, semen atau abu terbang (fly ash), stabilisasi dengan pemberian bahan tambah,
injeksi larutan kapur atau semen, struktur penghalang kelembaban (moisture barrier) dan
pengendalian kepadatan dan kadar air dari material tanah-dasar, dan lain-lain. Penambahan
tebal perkerasan maupun lapis pondasi bawah (subbase) juga sering dilakukan.
Potensi pengembangan tanah ekspansif menjadi berkurang bila tanah dicampur denagn kapur.
Dalam penanganan dengan cara pencampuran tanah eksoansif dengan kapur, maka perlu
dipertimbanakan hal-hal berikut ini:
1) Umumnya digunakan kadar kapur 2-10% pada tanah yang reaktif.
2) Tanah harus diuji reaksinya terhadap kapur, dan persen yang dibutuhakan.
3) Pencampuran umumnya sampai kedalaman 0,25 – 0,45 m, tapi mesin traktor besar juga
dapat digunakan sampai kedalaman pencampuran 0,60 m.
4) Kapur dapat digunakan dalam kondisi kering maupun berupa larutan, tapi membutuhkan
air yang berlebihan.
5) Waktu penundaan antara pencampuran dan penghamparan final relative lama, sehingga
terdapat kemudahan dikerjakan dan pemadatan.
6) Tanah yang distabilisasi kapur harus dilindungi terhadap air permukaan dan air tanah.
Kapur dapat larut atau tercuci, dan tanah dapat kehilangan kekuatannya saat jenuh air.
7) Penyebaran kapur dari lubang bor umumnya tidak efektif, kecuali jika tanah mengandung
jaringan retakan.
8) Tegangan pembebasam dari lubang bor dapat merupakan factor yang mereduksi kenaikan
tanah.
9) Diameter lubang bor yang lebih kecil memberikan luas kontak area kecil pada larutan
kapur.
10) Penetrasi kapur yang diinjeksikan dibatasi oleh kecepatan penyebaran (difusi) kapur yang
lambat, jumlah retakan dalam tanah, dan ukuran pori yang kecil dalam lempung.
11) Injeksi kapur bertekanan berguna untuk merawat tanah lebh dalam dibandingkan dengan
teknik pencampuran di tempat.
Potensi pengembangan tanah juga berkurang, jika tanah dicampur dengan semen portland.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah:
1) Semen Portland sekitar 4 – 6% mereduksi perubahan volume tanah. Hasilnya mirip dengan
pencampuran tanah dengan kapur, tapi penyusutan tanah lebih sedikit pada semen.
2) Metoda pelaksanaan pencampuran di tempat mirip dengan pencampuran tanah dengan
kapur, tapi waktu penundaan antara pencampuran dan penghamparan final lebih pendek pada
semen.
3) Semen Portland tidak se-efektif kapur,bila digunakan untuk stabilisasi lempung plastisitas
tinggi.
4) Semen Portland dapat efektif dalam memperbaiki tanah yang tidak reaktif terhadap kapur.
5) Kenaikan kekuatan yang lebih tinggi diperoleh dari pencampuran tanah dengan semen.
6) Material yang distabilisasi semen mudah mengalami retak, dan harus dievaluasi sebelum
penggunaannya.