2) Kondisi lingkungan yang menyokong perubahan kadar air tanah di lapangan.
Jika perkerasan jalan dibangun pada tanah-dasar (subgrade) ekspansif, maka kondisi
lingkungan yang akan mempengaruhi perubahan kadar air tanah-dasar tersebut harus
dievaluasi dan di interprestasikan terhadap kemungkinan pengaruhnya terhadap kembang
susut tanah. Pada tanah-dasar dari perkerasan jalan yang ekspansif, kenaikan kadar air akan
diikuti oleh gerakan perkerasan ke atas oleh pengembangan tanah.
Adapun sumber air yang dapat mempengaruhi fluktuasi kadar air tanah di bawah perkerasan
umumnya berasal dari:
1) Kenaikan muka air tanah.
2) Pecah atau bocornya saluran air bawah tanah. Bocoran sering sudah berlangsung lama
tanpa diketahui.
3) Air yang berasal dari air hujan, rembesan air saluran irigasi, penyiraman tanaman dan
sebagainya.
4) Migrasi uap air (kelembaban) akibat perbedaan suhu juga dapat mengakibatkan
pengembangan tanah .
Tanah ekspansif telah menimbulkan banyak masalah kerusakan pada perkerasan jalan raya.
Hal ini, karena perkerasan merupakan struktur yang ringan dan sifat bangunannya meluas.
Perkerasan yang terletak pada tanah-dasar ekspansif sering membutuhkan biaya pemeliharaan
dan rehabilitasi yang besar sebelum perkerasan mencapai umur rancangannya.
Kerusakan pada perkerasan yang terletak pada lempung ekspansif akan nampak dalam
bentuk-bentuk seperti berikut ini:
1) Ketidakrataan permukaan yang signifikan di sepanjang jalan, dengan atau tanpa retak atau
kerusakan lain yang dapat di lihat dengan nyata (Gambar 1)
2) Retak memanjang, sejajar dengan sumbu perkerasan jalan (Gambar 2).
3) Deformasi lokal yang signifikan, sebagai contoh di dekat gorong-gorong yang biasanya
diikuti dengan retak lateral.
4) Kegagalan lokal perkerasan yang diikuti dengan disintegrasi permukaannya.
Contoh kerusakan jalan di Purwodadi-Surakarta akibat pengembangan tanah-dasar
diperlihatkan dalam Gambar-gambar 1 dan 2. Di lokasi ini, akibat kembang-susut tanah-dasar
menimbulkan ketidakrataan permukaan dan retak-retak memanjang yang sangat parah,
sehingga menggaanggu kenyamanan lalu-lintas.
2. Mekanisme Pengembangan Lempung Ekspansif
Mekanisme pengembangan dalam lempeng ekspansif (expansive clay) sangat komplek dan
dipengaruhi oleh banyak faktor. Pengembangan tersebut adalah hasil dari perubahan sistem
air dalam tanah yang mengganggu keseimbangan tegangan internalnya. Akibat adanya
interaksi antara tanah lempung dengan air, maka tanah akan mengembang atau volumenya
bertambah.
Mineral lempung yang menarik air, adalah akibat dari aksi gaya-gaya intermolekuler
(elektrostatik, disperse, dan induksi) pada permukaan butiran padat dari butiran tanah dan
cairan, mengakibatkan pengurangan energi dipermukaan lempung. Oleh aksi gaya-gaya
tersebut, suatu lapisan hidrasi terbentuk di permukaan partikel-partikel. Lapisan hidrasi yang
terbentuk cenderung memindahkan partikel-partikel tanah. Pemisahan partikel-partikel di
pengaruhi oleh timbulnya “pengaruh desakan” dari lapisan film tipis dibidang kontak antara
partikel-partikel tanah. Jadi, pengembangan tanah terkait dengan pembentukan film hidrasi
disekitar partikel pemisahaan partikel-partikel dan pengembangan yang dihasilkannya adalah
akibat interaksi antara dua fase, yaitu fase padat dan cair. Pemisahan partikel-partikel adalah
akibat tekanan desakan yang berkembang saat pembentukan lapisan cairan di permukaan
partikel-partikel. Lapisan hidrasi yang terbentuk, bukan hanya oleh akibat aksi ion-ion bebas
mineral lempung, tapi juga oleh akibat kation-kation yang dapat bertukar, yang tersebar
diseluruh permukaan. Perkembangan yang di sebabkan oleh pembentukan lapisan air di
sekitar partikel atau agregat disebut “pengembangan interpartikel” (interparticle swelling)
(Sorochan, 1991).
Ketika tanah bertambah kadar airnya, fenomena osmotik dapat terjadi, yang menyebabkan
tertariknya molekul-molekul air kearah bahan yang larut. Penambahan volume air dalam
rongga pori tanah, diikuti oleh perpindahan partikel secara simultan, sehingga terjadilah
pengembangan. Partikel yang berada dipermukaan lempung dan kation-kation yang dapat
bertukar berperan dalan proses kejadian pada garis pembagi antara dua fase, dan mendorong
berkembangnya gaya-gaya tarik molekul-molekul air. Macam dari kaiton-kaiton yang dapat
bertukar, akan menentukan kekuatan ikatan antara kisi-kisi mineral dengan partikel-partikel
dasarnya. Substitusi ion sodium terhadap ion-ion yang dapat bertukar lainnya melemahkan
ikatan antara partikel-partikel. Oleh akibat hal ini, air dengan mudah terserap ke seluruh
permukaan partikel, dan memaksa partikel untuk menjau satu sama lain yang menyebabkan
tanah mengembang.
Ekspansi tanah yang terjadi selama berinteraksi dengan air (atau cairan lain) dipengaruhi oleh
fenomena primer dan sekunder (Sorachan,1991).