Banyak bangunan di Kendari yang tampak kurang memperhatikan aspek lingkungan
sekitar, terutama dari segi iklim tropis pesisir yang lembap dan hangat. Pendekatan
desain arsitektur yang kontekstual, seperti mengadopsi ventilasi alami, material yang
tahan cuaca pesisir, dan penggunaan elemen arsitektur tradisional Sulawesi Tenggara,
dapat meningkatkan keberlanjutan dan kenyamanan bangunan.
Rekomendasi
Perencanaan Tata Ruang Terpadu – Mengadopsi pendekatan tata ruang yang lebih
terencana dan mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Pengembangan Ruang Terbuka Hijau – Menyediakan lebih banyak RTH yang
mengintegrasikan alam dengan perkotaan.
Peningkatan
2.
Kritik terhadap penataan kota Kendari terutama mencakup aspek tata ruang,
infrastruktur, dan koneksi antara lanskap alam serta desain arsitektur yang responsif
terhadap iklim pesisir tropis. Berikut adalah beberapa kritik utama yang dapat dijadikan
bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas penataan kota Kendari:
1. Penyebaran Kawasan yang Tidak Merata
Perkembangan Kota Kendari masih terpusat di wilayah-wilayah tertentu, menyebabkan
kesenjangan fasilitas dan pelayanan antar-kawasan. Daerah pusat seperti Mandonga dan
Wuawua mengalami kepadatan tinggi, sementara kawasan pinggiran relatif kurang
mendapat fasilitas umum yang memadai. Pembangunan kota sebaiknya direncanakan
lebih merata untuk mencegah kepadatan berlebihan di pusat kota dan meningkatkan
kualitas hidup di seluruh wilayah.
2. Minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Kota Kendari menghadapi keterbatasan Ruang Terbuka Hijau (RTH), yang penting bagi
kualitas udara, kenyamanan, dan interaksi sosial masyarakat. Walaupun terdapat taman
kota dan hutan lindung di beberapa area, tetapi kawasan hijau publik masih kurang
berkembang dan terintegrasi dengan baik. Memperluas RTH yang mudah diakses
masyarakat dan menatanya sebagai bagian penting dari tata ruang kota akan
meningkatkan daya tarik serta kualitas ekosistem kota.
3. Pengelolaan Lingkungan di Kawasan Teluk Kendari
Teluk Kendari adalah aset alam yang besar bagi kota, tetapi belum dimanfaatkan dengan
baik sebagai pusat rekreasi dan kegiatan masyarakat. Area teluk ini bisa menjadi ruang
publik yang menarik melalui revitalisasi dengan jalur pedestrian, taman tepi pantai, dan
fasilitas rekreasi lainnya. Namun, upaya ini perlu dibarengi dengan pengelolaan limbah
dan perawatan lingkungan untuk menghindari pencemaran yang sering menjadi masalah
di kawasan pesisir.
4. Sistem Transportasi yang Kurang Terintegrasi
Kendari menghadapi masalah kemacetan, terutama di kawasan-kawasan komersial
utama. Ketergantungan pada kendaraan pribadi masih tinggi karena kurangnya moda
transportasi umum yang efisien dan terjangkau. Penataan transportasi publik yang
modern, seperti jaringan bus yang terintegrasi, jalur sepeda, dan pedestrian yang aman,
akan membantu mengurangi kemacetan sekaligus mendukung keberlanjutan kota.
5. Bangunan dan Tata Kota Kurang Responsif Terhadap Iklim
Banyak bangunan di Kendari yang kurang memperhatikan desain yang sesuai dengan
iklim tropis pesisir yang panas dan lembap. Misalnya, ventilasi alami dan penggunaan
bahan yang tahan cuaca sering kali diabaikan. Pemilihan desain arsitektur yang lebih
kontekstual dan ramah lingkungan akan membantu menjaga kenyamanan termal
bangunan dan mengurangi ketergantungan pada AC, yang pada akhirnya menekan biaya
energi.
6. Kurangnya Identitas Arsitektur Lokal
Desain bangunan di Kendari kurang mencerminkan identitas budaya lokal Sulawesi
Tenggara. Padahal, mengintegrasikan elemen arsitektur tradisional dengan desain
modern dapat memperkuat karakter visual kota. Sebagai contoh, ornamen khas, bentuk
atap, dan bahan bangunan alami dapat diadaptasi dalam bangunan publik atau tempat
wisata untuk menciptakan identitas kota yang unik dan menarik.
Rekomendasi
1. Desentralisasi Pengembangan Kota - Mendorong pembangunan di area
pinggiran dan menyediakan fasilitas publik di luar pusat kota untuk mengurangi
kepadatan dan meningkatkan keseimbangan antar-kawasan.
2. Pengembangan dan Pemeliharaan Ruang Terbuka Hijau - Memperbanyak RTH
yang diintegrasikan dengan pusat-pusat aktivitas kota dan menghubungkannya
dengan jalur pedestrian yang nyaman.
3. Revitalisasi Teluk Kendari sebagai Ruang Publik - Membangun area publik di
sekitar Teluk Kendari dengan tetap menjaga kebersihan dan kelestarian
lingkungannya.
4. Peningkatan Infrastruktur Transportasi Publik - Mengembangkan transportasi
umum yang efisien dan terjangkau untuk mengurangi ketergantungan pada
kendaraan pribadi.
5. Penerapan Arsitektur Ramah Iklim - Mengadopsi desain yang adaptif terhadap
iklim pesisir tropis dan hemat energi.
6. Meningkatkan Identitas Lokal dalam Desain Kota - Memasukkan elemen
budaya lokal ke dalam desain bangunan dan ruang publik untuk memperkuat
karakter kota.
Dengan pendekatan yang terarah, Kendari dapat memaksimalkan potensi geografis dan
budayanya untuk menjadi kota pesisir yang nyaman, berkelanjutan, dan memiliki
identitas arsitektur yang kuat.
Kritik arsitektur mengenai penataan kota Kendari, Sulawesi Tenggara, menyoroti
beberapa aspek penting yang masih perlu ditingkatkan, seperti perencanaan tata ruang,
integrasi lingkungan, serta desain arsitektur yang sesuai dengan karakter pesisir dan iklim
tropis. Berikut beberapa poin utama kritik mengenai penataan kota Kendari:
1. Penyebaran dan Tata Ruang yang Tidak Merata
Kendari memiliki konsentrasi fasilitas publik dan komersial di beberapa titik tertentu,
seperti kawasan Mandonga dan Wuawua, sehingga beberapa area di pinggiran kota
kurang mendapatkan fasilitas memadai. Hal ini mengakibatkan kepadatan di pusat kota
dan ketidakseimbangan pembangunan di wilayah lain. Penting bagi Kendari untuk
mengembangkan perencanaan tata ruang yang merata dengan kawasan komersial,
perumahan, dan fasilitas publik yang tersebar agar dapat meningkatkan kualitas hidup
warga di semua wilayah.
2. Kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang Memadai
Kota Kendari memerlukan ruang terbuka hijau yang lebih luas dan terstruktur untuk
mendukung kualitas udara, mengurangi suhu, dan menyediakan tempat interaksi publik.
Beberapa taman kota yang ada masih belum cukup, sementara laju urbanisasi terus
meningkat. Kota ini dapat memanfaatkan ruang terbuka hijau sebagai elemen penting
dalam tata ruang dengan mengembangkan taman kota, jalur pedestrian yang rindang,
dan area hijau lainnya di dekat pusat kota dan permukiman.
3. Pengelolaan Kawasan Teluk Kendari yang Kurang Maksimal
Teluk Kendari adalah aset alam yang potensial bagi kota, tetapi belum dikelola dengan
optimal sebagai ruang publik. Pengembangan teluk sebagai kawasan rekreasi dan wisata
kota dapat meningkatkan nilai estetika dan ekonomi kota jika dirancang dengan
promenade, taman tepi laut, dan fasilitas rekreasi lainnya. Namun, penting pula untuk
menjaga kebersihan dan ekosistem alami teluk dari pencemaran limbah perkotaan yang
berpotensi merusak kualitas lingkungan.
4. Infrastruktur Transportasi yang Belum Memadai
Kendari menghadapi masalah kepadatan lalu lintas karena ketergantungan tinggi pada
kendaraan pribadi, sedangkan transportasi umum masih terbatas dan belum efisien.
Untuk mengatasi masalah ini, Kendari perlu mengembangkan infrastruktur transportasi
umum yang terintegrasi, seperti bus dan angkutan umum yang terjangkau dan
mencakup area yang lebih luas. Jalur sepeda, pedestrian yang nyaman, dan jaringan
transportasi yang efisien juga akan mendukung mobilitas warga serta menurunkan
kemacetan dan polusi udara.
5. Desain Arsitektur yang Kurang Responsif Terhadap Iklim
Kendari, yang memiliki iklim tropis pesisir, membutuhkan desain bangunan yang adaptif
terhadap iklim panas dan lembap. Namun, banyak bangunan modern di kota ini kurang
memperhatikan faktor-faktor seperti ventilasi alami, material tahan cuaca, dan orientasi
bangunan yang dapat mendukung sirkulasi udara. Desain arsitektur yang adaptif dapat
mengurangi ketergantungan pada pendingin udara dan lebih hemat energi, serta
memberikan kenyamanan termal bagi penghuninya.
6. Minimnya Identitas Arsitektur Lokal
Arsitektur Kendari cenderung mengikuti desain modern generik yang kurang
mengangkat kekhasan budaya lokal Sulawesi Tenggara. Padahal, elemen arsitektur
tradisional dapat diintegrasikan dengan desain modern untuk menciptakan karakter
visual kota yang khas. Penggunaan ornamen, bentuk atap khas, serta bahan-bahan alami
dalam desain bangunan publik dan tempat wisata dapat memperkuat identitas kota dan
menambah daya tarik pariwisata.
Rekomendasi
1. Perencanaan Tata Ruang yang Seimbang - Pengembangan infrastruktur dan
fasilitas di seluruh area kota, termasuk di wilayah pinggiran.
2. Penambahan dan Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau - Meningkatkan kualitas
dan kuantitas RTH sebagai bagian penting dari tata ruang dan ruang publik.
3. Revitalisasi Kawasan Teluk Kendari - Mengembangkan kawasan Teluk Kendari
sebagai ruang publik dan wisata yang tetap menjaga kelestarian lingkungan.
4. Pengembangan Transportasi Umum yang Efektif - Mengembangkan transportasi
umum yang menjangkau seluruh area kota, mengurangi penggunaan kendaraan
pribadi.
5. Desain Arsitektur Ramah Iklim - Mengadopsi desain yang sesuai dengan iklim
tropis pesisir untuk menciptakan kenyamanan dan efisiensi energi.
6. Mengintegrasikan Identitas Lokal dalam Desain - Meningkatkan kesan budaya
lokal dalam desain arsitektur agar menciptakan kota dengan karakter visual yang
kuat.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, Kendari memiliki potensi besar untuk
berkembang sebagai kota pesisir yang nyaman, berkelanjutan, dan beridentitas kuat.
"The Link" adalah desain gerbang penghubung antara Kota Kendari sebagai Pusat Bisnis
(CBD) dan kota-kota satelit di sekitarnya. Desain ini mengusung konsep keterbukaan
untuk merepresentasikan visi Kota Kendari yang visioner terhadap perubahan zaman dan
terhadap keberagaman.
Salah satu ciri khas utama dari desain ini adalah penggunaan bentukan rumah adat
"Laikambuu" yang di transfomasikan sebagai frame utama. Ini memberikan kesan yang
unik dan khas pada desain tersebut. Selain itu, desain ini juga memasukkan konsep
crafting yang merupakan tradisi turun-temurun di Indonesia, yang diimplementasikan
dalam pahatan pada massing gerbang dengan corak yang menarik.
Dengan kombinasi antara elemen-elemen tradisional dan konsep kontemporer, "The
Link" menciptakan sebuah desain yang mencerminkan kota Kendari yang modern namun
tetap menghargai warisan budaya dan keberagaman. Desain ini menggambarkan
semangat progresif dan harmoni dalam konteks perkembangan kota.