0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan11 halaman

Program PONEK 24 Jam untuk Kesehatan Ibu dan Bayi

Dokumen ini menjelaskan program nasional pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, dengan fokus pada penurunan angka kematian ibu dan bayi, serta penanggulangan HIV/AIDS. Implementasi program memerlukan dukungan dari pimpinan rumah sakit dan penyediaan fasilitas yang memadai. Selain itu, terdapat standar dan langkah-langkah yang harus diikuti oleh rumah sakit dalam pelaksanaan program tersebut.

Diunggah oleh

jennyhau777
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan11 halaman

Program PONEK 24 Jam untuk Kesehatan Ibu dan Bayi

Dokumen ini menjelaskan program nasional pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, dengan fokus pada penurunan angka kematian ibu dan bayi, serta penanggulangan HIV/AIDS. Implementasi program memerlukan dukungan dari pimpinan rumah sakit dan penyediaan fasilitas yang memadai. Selain itu, terdapat standar dan langkah-langkah yang harus diikuti oleh rumah sakit dalam pelaksanaan program tersebut.

Diunggah oleh

jennyhau777
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM NASIONAL

(dr Petrus Maturbongs, MKes)


GAMBA Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia, pemerintah menetapkan beberapa program nasional yang
RAN menjadi prioritas meliputi:
UMUM a) Menurunkan angka kematian ibu dan bayi dan meningkatkan kesehatan ibu dan bayi
b) Menurunkan angka kesakitan HIV/AIDS
c) Menurunkan angka kesakitan tuberculosis
d) Pengendalian resistensi antibiotika
e) Pelayanan geriatric
Implementasi program ini di RS dapat berjalan baik apabila mendapat dukungan penuh dari pimpinan/Dir RS berupa penetapan
regulasi, pembentukan organisasi pengelola, penyediaan fasilitas, sarana dan dukungan financial guna mendukung pelaksanaan
program.
Standar RDW TELUSUR SKOR
OS

SASARAN 1: PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI SERTA PENINGKATAN KESEHATAN IBU DAN BAYI
M&T Mengingat kematian bayi mempunyai hubungan erat dengan mutu penanganan ibu hamil dan melahirkan, maka proses ANC, persalinan dan perawatan bayi harus dalam
system terpadu di tingkat nasional dan regional. Pelayanan obstetric dan neonatal reginal merupakan uapya penyediaan pelayanan bagi ibu dan bayi baru lahir secara terpadu
std 1, dalam bentuk PONEK di RS dan PONED di tingkat Puskesmas.
1.1, 1.2 RS PONEK 24 jam merupakan bagian dari system rujukan dalam pelayanan kedaruratan dalam maternal dan neonatal, yang sangat berperan dalam menurunkan angka kematian
ibu dan bayi baru lahir.
Kunci keberhasilan PONEK adalah ketersediaan tenaga2 kesehatan sesuai kompetensi, prasarana, sarana dan manajemen yang handal.
RS dalam melaksanakan program PONEK sesuai dengan pedoman PONEK yang berlaku, dengan langka2 pelaksanaan sbb:
a) Melaksanakan dan menerapkan standar pelayanan perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna
b) Mengembangkan kebijakan dan SPO pelayanan sesuai dengan standar (PNPK)
c) Meningkan kualitas pelayanan ibu dan bayi termasuk kepedulian pada ibu dan bayi
d) Meningkatkan kesiapan RS dalam melanksanakan fungsi pelayanan obstetric dan neonatal termasuk PONEK 24 jam.
e) Meningkan fungsi nRS sebagai model dan Pembina tknis dalam pelaksanaan IMD dan pemberian ASI eksklusif
f) Meningkatkan fungsi RS segai pusat rujukan pelayanan kes ibu dan bayi bagi saran pelayanan kes lainnya
g) Meningkatkan fungsi RS dalam perawatan metode kangguru (PMK) pada BBLR
h) Melaksanakan monev pelaksanaan program 10 langkah menyusui dan peningkatan kes ibu
i) Ada regulasi RS yang menjamin pelaksanaan PONEK 24 jam, meliputimpula pelaksanaan RS saying ibu dan bayi, pelayanan ASI eksklusif (IMD), PMK, dan SPO
pelayanan kedokteran untukpelayanan PONEK (lihat juga PAP 3.1)
j) Dalam RENSTRA dan RKA RS termasuk upaya peningkatan pelayanan PONRK 24 jam
k) Tersedia ruang pelayanan yang memenuhi persyaratan untuk PONEK a.l ruang rawat gabuung
l) Pemebentukan tim PONEK
m) Tim PONEK mempunyasi program kerja dan bukti pelaksanaannya
n) Terselenggara pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pelayanan PONEK 24 jam, termasuk stabilitas sebelum dipindahkan

[Link]@[Link]
o) Pelaksanaan rujukan sesuai peraturan perundangan
p) Pelaporan dan analisis meliputi:
 Angka keterlambatan operasi SC (SC > 30 menit)
 Angka keterlambatan penyediaan darah ( > 60 menit)
 Angka kematian ibu dan bayi
 Kejadian tidak dilakukannya IMD pada bayi baru
Standar Rumah sakit melaksanakan program PONEK 24 jam di rumah sakit beserta monitoring dan evaluasinya
1
EP 1 Apakah regulasi rumah sakit tentang pelaksanaan R 1) Regulasi ttg pelayanan PONEK 24 jam (kebijakan); 2) Program PONEK. 10 TL
PONEK 24 jam di rumah sakit dan ada rencana (rujukan: KMK 1051 2008 ttg Pedoman Penyelengaraan PONEK 24 iam - -
kegiatan PONEK dalam perencanaan rumah sakit? di RS) 0 TT
(R)
EP 2 Apakah ada bukti keterlibatan pimpinan rumah sakit di D Bukti rapat ttg penyusunan kegiatan PONEK yg melibatkan pimpinan RS 10 TL
dalam menyusun kegiatan PONEK? (D,W)  Direktur RS, Ka Bidang/divisi, Ka Unit pelayanan, PPA 5 TS
W 0 TT
EP 3 Apakah ada bukti upaya peningkatan kesiapan rumah D Bukti pelaksanaan peningkatan kesiapan RS PONEK 24 jam, a.l berupa: 10 TL
sakit dalam melaksanakan fungsi pelayanan obstetrik dan 1. Daftar jaga PPA di IGD 5 TS
neonatus termasuk pelayanan kegawat daruratan (PONEK 2) Daftar jaga staf di OK 3) Daftar jaga staf di VK 0 TT
24 Jam)? (D,W) W  Ketua/anggota tim PONE, Ka bidang/divisi, Ka unit Yan, PPA

EP 4 Apakah ada bukti pelaksanaan rujukan dalam rangka D 1) bukti laporan pelaksanaan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan 10 TL
PONEK ? (lihat juga ARK.5). (D,W) W 2) Bukti daftar pasien PONEK yg dirujuk 5 TS
3) Bukti kerjasama dengan fasilitas pelayanan kesehatan rujukan. 0 TT
 Ketua/anggota tim PONE, Ka unit Pelayanan
EP 5 Apakah ada bukti pelaksanaan sistem monitoring dan D Bukti pelaksanaan sistem monitoring dan evaluasi program rumah sakit 10 TL
evaluasi program rumah sakit sayang ibu dan bayi (RSSIB)? W sayang ibu dan bayi (RSSIB) meliputi: 5 TS
(D,W) 1) Instrumen penilaian 0 TT
2) Bukti pelaksanaan pengiisan instrumen penilaian
 Ketua/anggota tim PONE, Ka bidang/divisi
EP 6 Apakah ada bukti pelaporan dan analisis yang meliputi 1 D Bukti pelaporan dan analisis yang meliputi: 10 TL
sampai dengan 4 di maksud dan tujuan? (D,W) W 1) angka keterlambatan operasi SC (> 30 menit); 5 TS
2) angka keterlambatan pelayanan darah (> 60 menit); 0 TT
3) angka kematian ibu dan bayi:
4) angka tidak dilakukannya inisiasi menyusui dini (IMD) pada bayi baru
lahir.
 Ketua/anggota tim PONEK, Komite/tim PMKP Ka bidang/divisi,
Ka unit Pelayanan

[Link]@[Link]
Standar Rumah sakit menyiapkan sumber daya untuk penyelenggaraan pelayanan PONEK
1.1
EP 1 Apakah ada bukti terbentuknya tim PONEK dan program R 1) regulasi ttg penetapan tim PONEK dilengkapi dengan uraian tugas 10 TL
kerjanya? (R) 2) Program kerja tim PONEK - -
0 TT
EP 2 Apakah ada bukti pelatihan pelayanan PONEK? (D,W) D Bukti pelaksanaan pelatihan ttg pelayanan PONEK oleh narasumber yang 10 TL
kompeten 5 TS
W  Ketua/anggota tim PONEK, Kepala diklat 0 TT
EP 3 Apakah ada bukti pelaksanaan program tim PONEK? (D,W) D Laporan pelaksanaan program tim PONEK 10 TL
W  Ketua/anggota tim PONEK 5 TS
0 TT
EP 4 Apakah tersedia ruang pelayanan yang memenuhi D 1) denah ruangan 10 TL
persyaratan untuk PONEK? (D,O,W) 2) daftar inventaris, fasilitas dan sarana ruang pelayanan PONEK. 5 TS
O Lihat ruang pelayanan IGD, kamar bersalin, ruang nifas, ruang 0 TT
perinatologi, kamar oprrasi, ruang ante natal care (ANC)
W  Ketua/anggota tim PONEK, Kepala/staf unit pelayanan,
kepala/staf ruangan
Standar
1.2 Rumah sakit melaksanakan pelayanan rawat gabung, mendorong pemberian ASI ekslusif, melaksanakan edukasi dan perawatan metode kangguru pada
bayi berat badan lahir rendah (BBLR).
EP 1 Sudah terlaksanakah pelayanan rawat gabung? (O,W) O Lihat pelaksanaan rawat gabung ;mendorong pemberian ASI ekslusif, 10 TL
melaksanakan edukasi dan perawatan metode kangguru pada bayi berat 5 TS
badan lahir rendah (BBLR) 0 TT
W  Ketua/anggota tim PONEK, Kepala/staf unit pelayanan,
kepala/staf ruangan, Pasien dan klg
EP 2 Apakah ada bukti RS melaksanakan IMD dan mendorong O 1) Lihat pelaksanaan pelayanan IMD ; 10 TL
pemberian ASI Ekslusif? (O,W) W 2) Lihat pemberian edukasi ttg IMD dan edukasi ASI eksklusif dalam RM; 5 TS
3) Lihat ketersediaan materi edukasi ttg IMD dan ASI eksklusif 0 TT
 Kepala/staf unit pelayanan, kepala/staf ruangan, PPA/staf
klinis, Pasien dan klg
EP 3 Apakah ada bukti pelaksanaan edukasi dan perawatan D 1) Bukti pelaksanaan asuhan PMK di unit PMK/perinatologi 10 TL
metode kangguru (PMK) pada bayi berat badan lahir 2) Bukti pemberian edukasi tentang PMK dalam RM 5 TS
rendah (BBLR)? (D,O,W) 3) Materi edukasi PMK 0 TT
O  Lihat pelaksanaan pelayanan PMK di unit PMK/Perinatologi
 Lihat pemberian edukasi ttg PMK dalam RM
 Lihat ketersediaan materi edukasi ttg PMK
 Kepala/staf unit pelayanan, kepala/staf ruangan, PPA/staf
W klinis, Pasien dan klg

[Link]@[Link]
SASARAN II: PENURUNAN ANGKA KESAKITAN HIV/AIDS
Standar Rumah sakit melaksanakan penanggulangan HIV/AIDS sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
2
Maksud Dalam waktu yang singkat Human Imunodeficeincy Virus (HIV) telah mengubah keadaan social, moral, ekonomi dan kesehatan dunia. Saat ini HIV/AIDS
dan merupakan masalah kesehatan terbesar yang dihadapi komunitas global.
Saat ini pemerintan telah mengeluarkan kebijakan dengan melaksanakan peningkatan fungsi pelayanan kesehatan bagi ODHA. Kebijakan ini menekankan
Tujuan kemudahan akses bagi ODHA untuk mendapatkan pelayanan pencegahan, pengobatan, dukungan dan perawatan sehingga diharapkan lebih banyak ODHA
yang memperoleh pelayanan yang berkualitas.
RS dalam melaksanakan penanggulangan HIV/AIDS sesuai dengan standar pelayanan bagi rujukan ODHA dan satelitnya dengan langkah2 pelaksanaan sbb:
a) Meningkatkan fungsi pelayanan Voluntary Counseling and Testing (VCT)
b) Meningkatkan fungsi pelayanan Prevention Mother to Child Transmision (PMTCT)
c) Meningkatkan fungsi pelayanan Antiretroviral Therapi (ART) atau bekerja sam dengan RS yang ditunjuk
d) Meningkatkan fungsi pelayanan Infeksi Opotunistik (IO)
e) Meningkatkan fungsi pelayanan pada ODHA dengan factor risiko Injection Drug Use (IDU) dan
f) Meningkatkan fungsi pelayanan fungsi pelayanan penunjang, meliputi: pelayanan gizi, lab dan radiologi, pencatatan dan pelaporan.
EP 1 Apakah ada regulasi rumah sakit dan dukungan penuh R Regulasi tentang pelayanan penanggulangan HIV/AIDS 10 TL
manajemen dalam pelayanan penanggulangan (rujukan: PMK 21/2013 ttg penanggulangan HIV/AIDS, KMK 1507/2005 - -
HIV/AIDS? (R) ttg Pedoman Pelayanan Konseling Dan Testing HIV-AIDS Secar Sukarela 0 TT
(VCT)

EP 2 Apakah pimpinan rumah sakit berpartisipasi dalam D Bukti rapat tentang penyusunan program pelayanan penanggulangan 10 TL
menyusun rencana pelayanan penanggulangan HIV/AIDS yg melibatkan pimpinan RS 5 TS
HIV/AIDS? (D,W) W  Direktur RS, Ka bidang/divisi, Ka Unit Pelayanan, Ketua/anggota 0 TT
tim HIV/AIDS
EP 3 Apakah pmpinan rumah sakit berpartisipasi dalam D Bukti ketelibatan pimpinan RS dalam pelaksanaan program 10 TL
menetapkan keseluruhan proses/mekanisme dalam penanggulangan HIV/AIDS yg melibatkan pimpinan RS meliputi: 5 TS
pelayanan penanggulangan HIV/AIDS termasuk 1) ketersediaan anggaran program penanggulangan HIV/AIDS (pelatihan, 0 TT
pelaporannya? (D,W) fasilitas, APD)
2) Bukti laporan pelaksanaan program penanggulangan HIV/AIDS
W Direktur RS, Ka Unit Pelayanan, Ketua/anggota tim HIV/AIDS
EP 4 Apakah sudah telah terbentuk dan berfungsinya Tim D 1) bukti penetapan tim HIV/AIDS dilengkapi dengan uraian tugas 10 TL
HIV/AIDS rumah sakit? ( D,W ) 2) Program kerja tim HIV/AIDS 3) Bukti laporan pelaksanaan kegiatan tim 5 TS
HIV/AIDS 0 TT
W  Ketua/anggota tim HIV/AIDS
EP 5 Apakah sudah t erlaksana pelatihan untuk meningkatkan D Bukti pelaksanaan pelatihan pelayanan HIV/AIDS oleh narasumber yang 10 TL
kemampuan teknis Tim HIV/AIDS sesuai standar? (D,W) kompeten 5 TS
W  Ketua/anggota tim HIV/AIDS 0 TT
EP 6 Apakah sudah terlaksana fungsi rujukan HIV/AIDS pada D 1) Bukti laporan pelaksanaan rujukan ke fasyankes 10 TL
rumah sakit sesuai dengan kebijakan yang berlaku? (D) 2) Bukti daftar pasien HIV/AIDS yang dirujuk 5 TS
3) Bukti kerjasama dengan fasyankes rujukan 0 TT

[Link]@[Link]
EP 7 Apakah sudah erlaksana pelayanan VCT, ART, PMTCT, IO, D 1) Bukti laporan pelaksanaan pelayanan yang meliputi VCT, ART, PMTCT, 10 TL
ODHA dengan faktor risiko IDU, penunjang sesuai IO (Infeksi Oportunistik), ODHA dengan faktor risiko IDU (injection Drug 5 TS
dengan kebijakan ? (D) Use) , peningkatan fungsi pelayanan penunjang (pelayanan gizi, lab, 0 TT
radiologi).
SASARAN III: PENURUNAN ANKA KESAKITAN TUBERKULOSIS
Standar
3 Rumah sakit melaksanakan program penanggulangan tuberkulosis di rumah sakit beserta monitoring dan
evaluasinya melalui kegiatan: a)promosi kesehatan; b)surveilans tuberkulosis; c)pengendalian faktor risiko;
d)penemuan dan penanganan kasus tuberkulosis; e)pemberian kekebalan; dan f)pemberian obat pencegahan.
M & T 3, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan penanggulangan tuberculosis berupa upaya kesehatan yg mengutamakan upaya kesehatan promotif, preventif
3.1, 3.2, tanpa mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitative yang ditujukan untuk melindungi kesehatan masyarakat, menurunkan angka kesakitan, kecacatan atau
kematian, memutuskan rantai penularan, mencegah resistensi obat dan mengurangi dampak negative yang ditimbulkan akibat tuberculosis.
3.3 RS dalam melaksanakan penanggulangan tuberculosis melalui kegiatann yang meliputi:
a) Promosi kesehatan yang ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan yang benar dan komprehensif mengenai pencegahan penularan,
pengobatan, pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sehingga terjadi perubahan sikap dan perilaku yaitu pasien dan keluarga, pengunjung serta staf
RS
b) Surveilans tuberkulosis, merupakan kegiatan memperoleh data epidemiologis yang diperlukan dalam system informasi program penanggulangan
tuberculosis seperti pencatatan dan pelaporan tuberculosis sensitive obat, pencatatan dan pelaporan tuberculosis resistensi obat
c) Pengendalian factor risiko tuberculosis, ditujukan untuk mencegah, mengurangi penularan dan kejadian penyakit tuberculosis, yang
pelaksanaannya sesuai dengan pedoman PPI tuberculosis di RS
d) Penemuan dan penanganan kasus tuberculosis. Penemuan kasus tunerkulosis melalui pasien yang datang ke RS, setelah pemeriksaan, penegakan
diagnosis, penetapan klasifikasi dan tipe pasien tuberculosis. Sedangkan untuk penanganan kasus dilaksanakan sesuai tatalaksana pada PNPK
tuberculosis dan standar lainnya sesuai dengan peraturan per-U2-an
e) Pemberian kekebalan; dilakukan melalui pemberian imunisasi BCG terhadap bayi dalam upaya penurunan risiko tingkat pemahaman tuberculosis
sesuai peraturan per-U2-an
f) Pemberian obat pencegahan; selama 6 (enam) bulan yang ditujukan pada anak dibawah usia 5 (lima) tahun yang kontak dengan pasien
tuberculosis aktif, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang tidak terdiagnosa tuberculosis dan populasi lainnya sesuai peratuan per-U2-an yang
berlaku.,
EP 1 Apakah ada regulasi rumah sakit tentang pelaksanaan R 1) Regulasi rumah sakit tentang pelaksanaan penanggulangan 10 TL
penanggulangan tuberkulosis di rumah sakit dan ada tuberkulosis 2) Program penanggulangan tuberkulosis dengan strategi - -
rencana kegiatan penanggulangan tuberkulosis dengan DOTS (rujukan: PMK 67 2016 ttg Penanggulangan tuberculosis) 0 TT
strategi DOTS dalam perencanaan rumah sakit.? (R)
EP 2 Apakah pimpinan rumah sakit berpartisipasi dalam D Bukti keterlibartan pimpinan RS dalam pelaksanaan program pelayanan 10 TL
menetapkan keseluruhan proses/mekanisme dalam tuberkulosis yg melibatkan pimpinan RS a.l melipui: 5 TS
program pelayanan tuberkulosis termasuk 1) ketersediaan anggaran program pelayanan tuberkulosis 0 TT
pelaporannya? (D,W) (pelatihan, fasilitas, APS);
2) Bukti pelaksanaan laporan pelayanan tuberkulosis
W Direktur/Ka bidang/divisi, Ka Uni Pelayanan, Ketuan/anggota tim
Tuberkulosis

[Link]@[Link]
EP 3 Apakah ada bukti upaya pelaksanaan promosi D 1) Bukti laporan pelaksanaan edukasi upaya promosi kesehatan 10 TL
kesehatan tentang tuberculosis? (D,W) tentang tuberculosis; 5 TS
W 2) Bukti materi edukasi tentang upaya promosi kesehatan tentang 0 TT
tuberculosis
 Ketua/anggota tim DOTS TB, Ketua/staf PKRS
EP 4 Apakah ada bukti pelaksanaan surveilans tuberkulosis D 1) bukti pelaksanaan surveilans tuberkulosis dan 10 TL
dan pelaporannya.? (D,W) 2) bukti laporan data surveilens tuberkulosis sesuai dengan PPI 6. 5 TS
W  Ketua/anggota tim DOTS TB,, IPCN 0 TT
EP 5 Apakah ada bukti pelaksanaan upaya pencegahan D Bukti pelaksanaan upaya pencegahan tuberkulosis melalui pemberian 10 TL
tuberkulosis melalui pemberian kekebalan dengan kekebalan dengan vaksinasi atau obat pencegahan meliputi : 5 TS
vaksinasi atau obat pencegahan.?(D,W) W 1) daftar pasien yang diberi vaksinasi atau obat pencegahan 0 TT
tuberkulosis;
2) daftar vaksin atau obat pencegahan tuberkulosis yang sudah
digunakan.
Ketua/anggota tim DOTS TB,, Ka Unit Pelayanan
Standar
3.2 Rumah sakit menyediakan sarana dan prasarana pelayanan tuberkulosis sesuai peraturan perundang-undangan.
EP 1 Apakah tersedia ruang pelayanan rawat jalan yang O Lihat ruang pelayanan RJ tuberkulosis yang memenuhi prinsip PPI TB 10 TL
memenuhi Pedoman PPT TB? (O,W) W  Ketua/anggota tim DOTS TB,, Ka/staf Unit RJ, IPCN 5 TS
0 TT
EP 2 Apakah bila RS memebrikan pelayanan RI pada pasien TB O Lihat ruang pelayanan RI tuberkulosis yang memenuhi prinsip PPI TB (air 10 TL
paru dewasa maka RS harus memeliki ruang RI yang borne disease) 5 TS
memenuhi Pedoman PPI TB ? (O, W) W  Ketua/anggota tim DOTS TB,, Ka/staf Unit RJ, IPCN 0 TT
EP 3 Apakah tersedua ruang pengambilan sputum yang O Lihat ruang pengambilan spesimen sputum yang memenuhi prinsip PPI TB 10 TL
memenuhi Pedoman PPI TB? (O, W) W  Ketua/anggota tim DOTS TB,, Ka Lab, IPCN 5 TS
0 TT
EP 4 Apakah tersedia ruang Laboratorium yang memenuhi O Lihat ruang lab untuk pemeriksaan sputum BTA yang memenuhi prinsip 10 TL
Pedoman PPI TB? (O, W) PPI TB 5 TS
W  Ketua/anggota tim DOTS TB,, Ka Lab, IPCN 0 TT
Standar
RS telah melaksanakan pelayanan tuberkulosis dan upaya pengendalian faktor risiko tuberkulosis sesuai peraturan per-U2-an
3.3
EP 1 Apakah RS memiliki panduan praktik klinis tuberkulosis.? R PPK Tuberkulosis (acuan: KMK HK. 02.02/MENKES/305/2014 ttg pedoman 10 TL
(R) tata laksana tuberculosis, PMK 5 2014 ttg PPK bagi dokter di fasyankes - -
primer). 0 TT
EP 2 Apakah ada bukti kepatuhan staf medis terhadap D Bukti kepatuhan staf medis terhadap panduan praktik klinis tuberculosis 10 TL
panduan praktik klinis tuberculosis? (D,O,W) W  Ketua/anggota tim DOTS TB, Ketua/TI PMKP, KM, DPJPA, PPA 5 TS
lainnya, Pasien/keluarga 0 TT
EP 3 Adakah terlaksana proses skrining pasien tuberkulosis D 1) Bukti pelaksanaan skrining pasien tuberkulosis di bagian pendaftaran 10 TL
saat pendaftaran? (D,O,W) 2) Bukti form skrining 5 TS
O Lihat pelaksanaan proses skrining pasien TB di bagian pendaftaran 0 TT

[Link]@[Link]
W Petrugas pendaftaran/admisis, pasien/keluarga
EP 4 Apakah ada bukti staf mematuhi penggunaan alat O 1) Lihat kepatuhan staf dalam penggunaan APD di unit pelayanan 10 TL
pelindung diri (APD) saat kontak dengan pasien atau tuberkulosisn(RI) 5 TS
specimen? (O,W) 2) Lihat ketersediaan APD di unit pelayanan pasien tuberkulosis ( RJ, 0 TT
RI, IGD, Radiologi, lab)
W  PPA, staf klinis
EP 5 Apakah ada bukti pengunjung mematuhi penggunaan O 1) Lihat kepatuhan pengunjung dalam penggunaan APD di unit pelayanan 10 TL
alat pelindung diri (APD) saat kontak dengan pasien. pasien tuberkulosis (RI, RJ) 5 TS
(O,W) 2) Lihat ketersediaan APD di unit pelayanan pasien tuberkulosis (RI, RJ) 0 TT
W  Pasien/klg, Pengunjung RS, staf klinis

SASARAN IV: PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIMIKROBA


Gambaran Resistensi terhadap antimikrona (diringkas: resistensi mikroba), dalam bhs Inggris disebur antimicrobial resistence (AMR) telah menjadi masalah kesehatan
umum yang mendunia, dengan berbagai dampak merugikaan yang dapat menurunkan mutu dan meningkatkan risiko pelayanan kesehatan khususnya biaya dan
keselamaan pasien. Yang dimaksud dengan resistensi antimikroba adalah ketidakmampuan antimikroba membunuh atau menghambat pertumbuhan
mikroba sehingga penggunaannya sebagai terapi penyakit infeksi menjadi tidak efektif lagi.
Meningkatnya masalah resistensi antimikroba terjadi akibat penggunaan antimikroba yang tidak bijak dan bertanggungjawab dan penyebaran antimikroba
resisten dari pasien ke lingkungannya karena tidak dilaksanakannya praktek pengendalian dan pencegahan infeksi dengan baik.
Dalam rangka mengendalikan mikroba yang resisten di RS, perlu dikembangkan program pengendalian resistensi antimikroba di RS. Pengendalian
resistensi mikroba adalah aktivitas yang ditujukan untuk mencegah dan/atau menurunkan adanya kejadian mikroba resisten.
Dalam rangka pengendalikan resistensi antimikroba secara luas baik di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di komunitas, di tingkat nasional telah
dibentuk Komite Pengendalaian Resistensi Antimikroba yang selanjutnya disinkat KPRA oleh KEMKES RI. Disamping telah ditetapkan program aksi nasional
(National Plans on Antimicrobial Resistence (NAP AMR) yang didukung oleh WHO. PPRA merupakan upaya pengendalaian resistensi antimikroba secara
terpadu dan paripurna di fasilitas pelayanan kesehatan.
Implementasi program ini di RS dapat berjalan baik apabila mendapat dukungan penuh dari pimpinan/Dir RS berupa penetapan regulasi pengendaalian
resistensi antibiotika, pembentukan organisasi pengelola, penyediaan fasilitas, sarana dan dukungan financial untuk mendukung pelaksanaan PPRA.
Penggunaan antimikroba secara bijak adalah penggunaan antimikroba yang sesuai dengan penyakit infeksi dan penyebabnya dengan rejimen dosis
optimal, durasi pemberian optimal, efek samping dan dampak munculnya microba resisten yang minimal pada pasien.
Oleh sebab itu diagnosis dan pemberian antimikroba harus disertai dengan upaya menemukan penyebab infeksi dan kepekaan mikroba pathogen terhadap
antimikroba.
Penggunaan antimikroba secara bijak memerlukan regulasi dalam penerapan dan pengendaliannya. Pimpinan RS harus membentuk komite atau tim PPRA
sesuai peraturan per-U2-an sengga PPRA dapat dilakukan dengan baik.
Standar Rumah sakit menyelenggarakan pengendalian resistensi antimikroba sesuai peraturan perundang-undangan.
4
M&T Tersedia regulasi antimikroba di RS yang meliputi:
a. Pengendalian resistensi antibiotika
b. Panduan penggunaan antibiotic untuk terapi dan profilaksis pembedahan
c. Organisasi pelaksana, tim/Komite PPRA terdiri dan nakes yg kompeten dari unsure: staf medis, staf keperawatan, staf instalasi farmasi, staf lan
yang melaksanakan pelayanan mikrobiologi klinis, komite farmasi dan terapi, komite PPI.
Organisasi PPRA dipimpin oleh staf medis yang sudah mendapat sertifikat pelatihan PPRA. RS menyusun program pengendalian resistensi antimikroba di RS
tdd:

[Link]@[Link]
a. Peningkatan pemahaman dan kesadaran seluruh staf, pasien dan klg tentang masalah resistensi antimikrona;
b. Pengendalian penggunaan antibiotic di RS;
c. Surveilans pola penggunaan antibiotic di RS;
d. Surveilans pola resistensi antibiotic di RS;
e. Forum kajian penyakit infeksi terintegrasi.
EP 1 Apakah ada regulasi dan program tentang pengendalian R Regulasitentang pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit (PMK 10 TL
resistensi antimikroba di rumah sakit sesuai peraturan 8/2015 ttg Program tentang pengendalian resistensi antimikroba di - -
perundang-undangan? (R) rumah sakit) 0 TT
EP 2 Apakah ada bukti pimpinan rumah sakit terlibat dalam D 1) Bukti tentang rapat penyusunan program melibatkan pimpinan RS 10 TL
menyusun program? (D,W) 2) Bukti program PRA-RS yang sudah disetujui/di ttd Dir RS 5 TS
W  Dir RS, Ka bidang/divisi, Ka Unit Pelayanan, Ketua/Tim PPRA 0 TT
EP 3 Apakah ada bukti dukungan anggaran operasional, D Bukti tersedianya anggaran operasional PPRA. Lihat kantor sekretariat tim 10 TL
kesekretariatan, sarana prasarana untuk menunjang PPRA (sarana kantor, ATK) 5 TS
kegiatan fungsi, dan tugas organisasi PPRA? (D,O,W) O Lihat kantor kantor secretariat komite/tim PPRA yg dilengkapi sarana 0 TT
kantor dan ATK.
EP 4 Apakah ada bukti pelaksanaan pengendalian D Bukti dalam rekam medis tentang pelaksanaan penggunaan antibiotika 10 TL
penggunaan antibiotik terapi dan profilaksis sebagai terapi profilaksis pembedahan pada seluruh proses asuhan 5 TS
pembedahan pada seluruh proses asuhan pasien? pasien. 0 TT
(D,O,W) * Lihat pemberian antibiotika profilaksis saat di kamar operasi sesuai PPK
* Lihat pemebrian antibiotika empiris atau terapi definitif di ruangan
sesuai PPKK
W  DPJP, Perawat, Apoteker, Komite/tim PPRA
EP 5 Apakah Direktur melaporkan kegiatan PPRA secara D Bukti laporan tentang PPRA RS secara berkala minimal satu tahun sekali 10 TL
Resistensi terhadap antimikroba (resistensi kepada KPRA kemenkes 5 TS
antimikroba)berkala kepada KPRA. (D,W) W  Dir RS, komite/tim PPRA 0 TT

Standar Rumah sakit (Tim/Komite Pengendalian Resistensi Antibiotika= KPRA)) melaksanakan kegiatan pengendalian resistensi antimikroba
4.1
M&T RS (Tim/Komite PPRA) membuat laporan pelaksanaan program kegiatan PRA meliputi:
a. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan staf nakes ttg pengendalian resistensi antimikroba
b. Surveilans pola penggunaan antibiotic di RS (termasuk laporan pelaksanaan pengendalian antibiotic)
c. Surveilans pola resistensi antimikroba
d. Forum kajian penyakit infeksi terintegrasi
RS (Tim/Komite PPRA) menetapkan dan melaksanakan evaluasi analisis indicator mutu PPRA sesuai peraturan per-U2-an meliputi:
a. Perbaikan kuantitas penggunaan antibiotic
b. Perbaikan kualitas penggunaan antibiotic
c. Peningkatan mutu penanganan kasus inkeksi secara multidisiplian dan terintegrasi
d. Indikator mutu PPRA terintegrasi dengan indicator mutu PMKP
RS melaporkan perbaikan pola sensitifitas antibiotic dan penurunan mikroba resisten sesuai indicator bakteri multi-drug resistant organism (MDRO), a.l:
baklteri penghasil extended spectrum beta-lactamase(ESBL), meticilline resistant staphylococcus Aureus (MRSA), carbapenemase resistant
enterobacteriaceae (CRE) dan bakteri pan-resisten lainnya (lihat jua PPI 6).

[Link]@[Link]
EP 1 Apakah ada organisasi yang mengelola kegiatan R Bukti penetapan komite/tim PPRA dilengkapi uraian tugas, 10 TL
pengendalian resistensi antimikroba dan melaksanakan tanggungjawab dan wewenang. - -
program pengendalian resistensi antimikroba rumah 0 TT
sakit meliputi a) sampai dengan d) di maksud dan
tujuan. (R)
EP 2 Apakah aa bukti kegiatan organisasi yang meliputi a) D Bukti pelaksanaan kegiatan komite/tim PPRA, meliputi 10 TL
sampai dengan d) di maksud dan tujuan. (D,W) a) Sosialisasi program pada staf, pasien, keluarga 5 TS
b) Surveilans pola penggunaan antibiotika di RS 0 TT
c) Surveilans pola resistensi antimikroba di RS
d) Forum kajian penyakit infeksi terintegrasi
W  Komite/tim PPRA, PPA
EP 3 Apakah ada penetapan indikator mutu yang meliputi a) D Bukti penetapan indikator mutu (a s/d e): 10 TL
sampai dengan e) di maksud dan tujuan. (D,W) a. Perbaikan kuantitas penggunaan antibiotika 5 TS
b. Perbaikan kualitas penggunaan antibiotika 0 TT
c. Peningkatan mutu penanganan kasus infeksi secara
multidisiplin dan terintegrasi
d. Indikator mutu PPRA terintegrasin dengan indicator mutu
PMKP
W  Kimte/tim PPRA, komte/tim PMKP
EP 4 Apakah ada monitoring dan evaluasi terhadap program D Bukti hasil pencapaian indikator mutu 10 TL
pengendalian resistensi antimikroba yang mengacu W  Dir RS, Kimte/tim PPRA, komte/tim PMKP 5 TS
pada indikator pengendalian resistensi antimikroba ? 0 TT
(D,W)
EP 5 Apakah a da bukti pelaporan kegiatan PPRA secara D Bukti laporan ttg kegiatan komite/tim PPRA secara berkala kepada 10 TL
berkala dan meliputi butir a) sampai dengan e) di Direktur RS 5 TS
maksud dan tujuan ? (D, W) W  Dir RS, Kimte/tim PPRA, 0 TT

SASARAN IV: PELAYANAN GERIATRI


Standar
5 Rumah sakit menyediakan pelayanan geriatri rawat jalan, rawat inap akut dan rawat inap kronis
sesuai dengan tingkat jenis pelayanan.
M&T Pasien geriatri adalah pasien lanjut usia dengan multi penyakit/gangguan akibat penurunan fungsi organ, psikologi, social, ekonomi dan
std 5, lingkungannya yang membutuhkan pelayanan secara terpadu dengan pendekatan multidisiplin yang bekerja sama secara interdisiplin.
5.1 Dengan meningkatnya social ekonomi dan pelayanan kesehatan maka usia harapan hidup semakin meningkat, sehingga secara demografi
terjadi peningkatan populasi lanjut usia. Sehubungan dengan itu RS perlu menyelenggarakan pelayanan geriatri sesuai dengan tingkat jenis
pelayanan geriatri:
a. Tingkat sedehana
b. Tingkat lengkap
c. Tingkat sempurna

[Link]@[Link]
d. Tingkat paripurna
Tingkatan tersebutb ditetapkan berdasarkan:
a. jenis pelayanan;
b. sarana dan prasarana;
c. peralatan; dan
d. ketenagaan.
Jenis pelayanan tdd:
(1) Jenis pelayanan Geriatri tingkat sederhana paling sedikit terdiri atas rawat jalan dan kunjungan rumah (home care).
(2) Jenis pelayanan Geriatri tingkat lengkap paling sedikit terdiri atas rawat jalan, rawat inap akut, dan kunjungan rumah (home care).
(3) Jenis pelayanan Geriatri tingkat sempurna paling sedikit terdiri atas rawat jalan, rawat inap akut, kunjungan rumah (home care), dan
Klinik Asuhan Siang.
(4) Jenis pelayanan Geriatri tingkat paripurna terdiri atas rawat jalan, Klinik Asuhan Siang, rawat inap akut, rawat inap kronik, rawat inap
Psikogeriatri, penitipan Pasien Geriatri (respite care), kunjungan rumah (home care), dan Hospice.
Selain menyelenggarakan pelayanan Geriatri dimaksud, RS dengan pelayanan Geriatri tingkat sempurna dan tingkat paripurna,
melaksanakan pendidikan, pelatihan, dan penelitian serta kerjasama lintas program dan lintas sektor dalam rangka pengembangan
pelayanan Geriatri dan pemberdayaan masyarakat.
Pelayanan Kesehatan Warga Lanjut usia Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based Geriatric Service) : Pada layanan ini, pelayanan kesehatan
geriatri yang dilaksanakan di rumah sakit dilakukan secara terpadu. Rumah sakit menyediakan berbagai layanan bagi para lanjut usia, mulai
dari layanan sederhana berupa poliklinik lanjut usia, sampai pada layanan yang lebih maju, misalnya bangsal akut, klinik siang terpadu (day
hospital), bangsal kronis dan/atau panti rawat wredha (nursing home). Disamping itu, rumah sakit jiwa juga menyediakan layanan kesehatan
jiwa bagi pasien lanjut usia dengan pola yang sama. Pada tingkat ini, sebaiknya dilaksanakan suatu layanan terkait (con-joint care) antara
unit geriatri rumah sakit umum dengan unit psikogeriatri suatu rumah sakit jiwa, terutama untuk menangani penderita gangguan fisik
dengan komponen gangguan psikis berat atau sebaliknya.
Pelayanan Kesehatan Warga Lanjut usia di Masyarakat Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based Community Geriatric Service) : Pada
pelayanan ini, rumah sakit yang telah melakukan layanan geriatri bertugas membina warga lanjut usia yang berada di wilayahnya, baik
secara langsung atau tidak langsung melalui pembinaan pada Puskesmas yang berada di wilayah kerjanya. “Transfer of knowledge” berupa
lokakarya, simposium, ceramah-ceramah baik kepada tenaga kesehatan ataupun kepada awam perlu dilaksanakan. Di lain pihak, rumah
sakit harus selalu bersedia bertindak sebagai rujukan dari layanan kesehatan yang ada di masyarakat.
Pelayanan kesehatan geriatri oleh puskesmas (puskesmas based geriatric services), yaitu pelayanan kesehatan warga lanjut usia yang
diselenggarakan oleh puskesmas setempat. Puskesmas merupakan unit terdepan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan
bertindak sebagai konsultan terhadap pelayanan kesehatan warga lanjut usia di masyarakat, sehingga pasien lanjut usia yang sebelumnya
dirawat atau mendapat pelayanan di rumah sakit, setelah kembali ke masyarakat menjadi tanggung jawab puskesmas.
Kegiatan di puskesmas meliputi upaya promotif, preventif, dan kuratif sederhana sesuai dengan Pedoman Puskesmas Santun Lanjut usia
Bagi Petugas Kesehatan. Puskesmas adalah perpanjangan tangan rumah sakit sehingga diharapkan terdapat pembinaan dari institusi yang
lebih tinggi terhadap institusi yang lebih rendah di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan rujukan timbal balik.
EP 1 Apakah ada regulasi tentang penyelenggaraan pelayanan R Regulasi tentang penyelenggaraan pelayanan geriatri di RS sesuai dengan 10 TL
geriatri di rumah sakit sesuai dengan tingkat jenis tingkat jenis pelayanan - -
layanan? (R) (acuan: PMK 79/2014 ttg Penyelenggaraan Pelayanan Geriatri Di Rumah 0 TT

[Link]@[Link]
Sakit).
EP 2 Apakah terbentuk dan berfungsinya tim terpadu geriatri R 1) Regulasi ttg penetapan tim terpadu geriatri dan UT 10 TL
sesuai tingkat jenis layanan? (R,D,W) 2) Rencana kerja tim terpadu geriatri 5 TS
D Laporan pelaksanaan kegiatan tim terpadu geriatri 0 TT
W  Ketua/tim terpadu geriatric, ka bidang/divisi
EP 3 Apakah sudah terlaksana proses pemantauan dan D Bukti pelaksanaan monitoring evaluasi kegiatan pelayanan geriatri. 10 TL
evaluasi kegiatan? (D,O,W) O Lihat pelaksanaan monev kegiatan yan geriatric 5 TS
W  Ketua/tim terpadu geriatric 0 TT
EP 4 Apakah ada pelaporan penyelenggaraan pelayanan D Bukti laporan penyelenggaraan pelayanan geriatric 10 TL
geriatri di rumah sakit? (D,W) W  Ketua/tim terpadu geriatric, ka bidang/divisi, ka Unit Pelayanan 5 TS
0 TT
Standar Rumah Sakit melakukan promosi dan edukasi sebagai bagian dari Pelayanan Kesehatan Warga Lanjut usia di
5.1 Masyarakat Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based Community Geriatric Service).
/EP 1 Apakah ada regulasi tentang edukasi sebagai bagian dari R Regulasi tentang edukasi sebagai bagian dari Pelayanan Kesehatan 10 TL
Pelayanan Kesehatan Warga Lanjut usia di Masyarakat Warga Lanjut usia di Masyarakat Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based - -
Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based Community Community Geriatric Service). RS kerja sm dg 0 TT
Geriatric Service)? (R) Puskesmas atau masyarakat
EP 2 Apakah ada program PKRS terkait Pelayanan Kesehatan D Bukti penetapan program PKRS yang memuat kegiatan pelayanan 10 TL
Warga Lanjut usia di Masyarakat Berbasis Rumah Sakit Kesehatan warga lanjut usia di masyarakat berbasis RS ((Hospital Based 5 TS
(Hospital Based Community Geriatric Service)? (D,W) Community Geriatric Service) 0 TT
W  Ketua/anggota PKR, ketua/anggota tim terpadu Geriatri
EP 3 Apakah ada leaflet atau alat bantu kegiatan (brosur, D Bukti leaflet atau alat bantu edukasi memuat materi edukasi ttg 10 TL
leaflet dll).?(D,W) pelayanan kesehatan warga lanjut usia di masyarakat 5 TS
W  Ketua/staf TKRS, ketua/anggota tim terpadu Geriatri, 0 TT
padien/klg
EP 4 Apakah ada bukti pelaksanaan kegiatan? (D,O,W) D Bukti laporan pelaksanaan edukasi geriatri di masyarakat. 10 TL
O Lihat pelaksanaan edukasi untuk pelayanan di masyarakat. 5 TS
W  Ketua/staf TKRS, ketua/anggota tim terpadu Geriatri, PPA 0 TT
pelayanan geriatric
EP 5 Apakah ada evaluasi dan laporan kegiatan pelayanan.? D Bukti evaluasi dan laporan kegiatan meliputi: 10 TL
(D,W) 1) pencatatan kegiatan dengan indikator a.l: lama rawat inap, status 5 TS
fungsional, kualitas hidup, rehospitalisasi dan kepuasan pasien. 0 TT
2) Bukti pelaporan secara berkala kepada pimpinan RS.
W  PimpinanRS, ketua/anggota tim terpadu Geriatri

[Link]@[Link]

Anda mungkin juga menyukai