---
Sore harinya, Aslan muncul di tiba-tiba lobi sekolah—dengan penuh gaya—, Langkahnya
terlihat bersemangat sambil menenteng sebuket bunga untuk Yura. Gak jelas bunga itu dari
mana asalnya, tapi yang pasti, bukan hasil nyomot dari taman belakang. Karena Aslan bukan
tipe cowok nekat macam Rio ataupun Mastur, yang berani macarin cewek tanpa modal apa-
apa.
“Eh, apaan tuh? Bawa bunga segala?”
Bisik-bisik langsung bermunculan dari sekeliling mereka. Tapi bukan dari geng Yura, karena
mereka sudah dapet bocoran tentang perjanjian kontrak antara Aslan dan Yura tadi siang.
“Kamu jadi pulang?” tanya Yura santai sambil menerima bunga itu, lalu mencium bunganya
dengan gerakan manis. Natural banget gesturenya, seolah mereka udah pacaran lama—
padahal baru beberapa jam lalu.
“Hmm, jadi dong. Kak Zean udah nunggu tuh. Yuk, anterin aku ke depan.”
Aslan senyum tipis, lalu menggandeng tangan Yura dengan percaya diri. Dan tanpa basa-
basi, mereka melenggang keluar lobi, cuek banget, gak peduli dengan tatapan heran dari para
siswa lain, yang mulai mempertanyakan kewarasan dunia. 'Kok bisa KETOS spek kulkas
macam Aslan, nekat macarin cewek, 'kutukan Seminggu?'
Begitu sampai di depan gerbang, mobil Blazer hitam sudah terparkir dengan elegan. Di balik
kemudi, duduklah Zean. Alumni yang pernah jadi ikon di sekolah ini, dan baru balik karena
lagi libur kuliah dari Paris.
Dan seperti yang Yura duga—ekspresi Zean waktu lihat mereka gandengan, udah kayak abis
nelen Es batu. Dingin Men. Mukanya gak berwarna.
Bikin Yura mikir kalau rencananya mulai berhasil.
“Kapan kamu balik?” tanya Yura, masih dalam mode akting total. “Aku gak bisa nunggu
lama. Papa juga sebentar lagi jemput.”
“Nggak bakal lama kok, Bibbu. Senin malam juga udah balik.”
Aslan jawab santai sambil... mengusap punggung tangan Yura, lalu mengecup ringan. Di
depan umum. Tanpa malu, dan tanpa aba-aba.
Diahara yang ikut menatap dari kejauhan langsung bersin keras, 'Hanyhing!!!' gak jelas
antara mau keget atau heran, waktu kata 'Bibbu' keluar dari mulutnya Aslan.
Sementara itu, rona wajah Zean yang tadinya hilang jadi merah lagi . Entah efek kaget
ataupun ingin muntah, Yura juga gak tau.
Dan begitulah... drama sore itu ditutup dengan satu babak baru di antara Aslan dan Yura.
Sebuah kisah cinta palsu, yang sengaja di garap khusus buat Zean.
---
Setelah mobil meninggalkan drop-off area di depan lobi, Zean langsung mendebat adik
kelasnya gak ada ampun.
“Dasar tukang cari kesempatan, norak, katrok, kambing,- and BWIBWBU!” ocehnya sambil
ketawa ngakak, meski tangan tetap kokoh menggenggam setir.
Zean gelik sendiri, —masih gak nyangka kata ‘Bibu’ barusan, bisa keluar dari mulut pelitnya
Aslan. Makanya, dia nyindir aja sekalian.
“Baru dikasih ati, udah minta empela. Pake acara cium tangan segala lagi,” lanjutnya lagi,
sudut bibirnya terangkat geli, tapi matanya tetap awas ke jalan.
Mobil melaju santai di jalan kompleks sekolah yang mulai sepi. Lampu jalan temaram, angin
Magrib bikin suasana jadi syahdu.
Zean sempat melirik ke sisi kiri. Natap Aslan yang lagi duduk nyender di kursi penumpang,
tangan menyilang di dada, kaki goyang pelan kayak lagi nyetel lagu Raja Balada. Anehnya,
Senyum tipisnya juniornya itu.. malah gak pergi-pergi semenjak tadi.
‘Sebahagia itu ya, dia?’ pikir Zean heran. Padahal, sejauh yang dia tahu, hubungan Aslan
dan Yura itu cuma kontrak dua minggu. Karena Aslan sudah mengabarinya tadi siang. Tapi
kenapa ya, ekspresi cowok ini kayak habis menang giveaway iPhone?
“Kenapa? Kakak heran?” Aslan nangkep lirikan itu.
“Salut, karena aku serius?”
"Gak!" Zean geleng pelan. “Cuma gak nyangka aja.”
Jujur, dia masih belum bisa mutusin—ini situasi lucu, gila, atau justru ngeri. Selama ini, imej
Aslan yang cuek dan dingin cuma jadi tameng. Aslinya? Bocah ini jauh lebih luwes ngebetot
gitar daripada ngobrol sama cewek.
Makanya, waktu Aslan nembak Yura… Zean ngerasa kayak dunia butuh di-restart.
“Tapi yang bikin kakak heran…” Zean masih tenang, fokus ke jalan, tapi suaranya ngandung
tanda tanya besar,
“…kenapa kamu harus bawa-bawa nama Kakak segala? Emangnya hubungannya apa sama
nyatain cinta ke Yura?”
Aslan ngangkat bahu, santai. “Gak kepikiran alasan lain, Kak. Lagian, abang tingkat yang
masih deket sama aku walau udah lulus, ya cuma Kakak.”
Penjelasannya terdengar tenang—terlalu tenang—dan itu bikin Zean tambah curiga.
“Masuk akal gimana maksudnya? Emangnya kamu bilang apa ke Yura?”
Aslan tetap tenang. “Aku bilang Kak Zean curiga karena aku gak pernah ngerespon cewek.
Jadi, Kak Zean nekat bilang suka ke aku. Nah, buat ngelindungin harkat, martabat, dan harga
diri, aku harus buktiin kalau aku juga bisa punya cewek. Dan karena aku cuma pernah deket
sama Yura, jadi aku minta kita buat jadian. Gimana menurut kakak? Masuk akal, kan?”
Aslan ngomong santai, panjang lebar gak pake rem.
Tapi efeknya?
Zean yang langsung refleks nginjek rem.
“CKITTT!”
Ban mobil mendecit tajam, tubuh mereka terdorong ke depan. Zean refleks injak rem dalam
satu tarikan napas. Degup jantungnya nyaris loncat ke tenggorokan.
Untung masih di jalan kompleks. Bukan jalan utama.
“ASTAGHFIRULLAHALADZIM, ASLAN!” Zean melotot.
“KAMU BILANG APA BARUSAN?!”
Dia gak salah denger, kan? Telinganya masih normal, kan?
Aslan ikut kaget. Tapi bukannya panik, dia malah nyengir canggung sambil garuk-garuk
tengkuk, gak jelas.
“Maaf, Kak. Aku panik waktu itu. Gak kepikiran alasan lain. Sumpah.” Jawabnya tenang.
Tenangnya Aslan sekarang kontras banget dengan kepanikan Zean.
Aslan sih gitu, paniknya dia cuma muncul pas nembak Yura doang, habis itu? Santai kayak
minum es jeruk di kursi pijat.
Zean tarik napas panjang, tangannya mengepal di setir. Habis itu, dia rebahkan badan ke
kursi, nutup wajah dengan satu tangan. Frustrasi. Berat.
“Bisa-bisanya kamu pakai alasan seabsurd itu cuma buat bikin drama pacaran. Gak mikirin
efeknya ke orang lain, apa? Nama, harkat, dan martabat Kakak yang bisa hancur, tau!” Zen
makin nge-gas.
Sebagai cowok tulen yang udah capek-capek bangun reputasi sebagai senior paling waras dan
stylish di Dominic Art School, Zean ngerasa dipermalukan habis-habisan. Dituduh suka sama
cowok, cuma gara-gara Aslan ngarang cerita—itu bukan soal gengsi bro, juga bukan soal
homofobia. Ini soal kehormatan dan image. Ketika dia merasa masih suka Opay, di situlah
dia merasa terhina.
“Sory for not to say sorry, Kak… walaupun ini salah. Tapi waktu itu, rasanya itu satu-satunya
cara biar Yura percaya.” Suara Aslan tetap datar, tenang. Sementara Zean makin mendidih.
“Anyritlah… dikira aku suka cowok juga…” Zean menggerutu pelan, lebih ke ngomel ke diri
sendiri. Tapi jelas nada sebalnya gak bisa ditutupin.
Aslan nyengir tipis, tapi diam.
“Kok bisa sih kamu pakai alasan kayak gitu, San?” suara Zean menurun, tapi nadanya berat.
“Gak nyangka aja. Segitunya kamu frustasi cuma buat ‘nyelametin’ Yura dari cowok
playboy. Eh, sekarang nama Kakak malah jadi tumbal.”
Zean geleng pelan. Tatapannya lurus ke jalan, tapi dari sudut mata, dia bisa lihat Aslan masih
aja santai. Cowok itu malah angkat bahu kecil, ekspresinya kayak gak punya beban.
“Kok dari muka kamu gak kelihatan merasa bersalah, ya?” Zean melirik tajam.
“Kalau gini caranya, tak rusak aja rencanamu sekalian. Tak bongkar semuanya ke Yura.”
Aslan cuma noleh sedikit. Senyumnya miring. Ekspresinya datar. Terlalu tenang.
Dan seperti yang Zean takutkan, dia bales.
“Ya bongkar aja, Kak. Semuanya sekalian. Tapi siap-siap aku bongkar juga rahasiamu.”
Zean langsung melotot.
“Biar semua tahu, Bang Zean yang katanya jenius dari Paris, ternyata masih sering minta
referensi dari adik kelas. Udah cumlaude, tapi tetap butuh Aslan buat nyari konsep final.”
“Atau mau versi gosipnya? ‘Bang Zean itu jadi ikon smart-leader cuma karena ngikutin
arahan Aslan. Aslinya mah… dia gak sejenius itu.’”
Zean langsung nahan napas. Muka auto pucat. Rasanya kayak deja vu tadi di lobi, sekarang
datang lagi.
Sekarang dia gak cuma mikirin reputasi, tapi takut kehilangan partner ide. Dan itu… lebih
horor dari sekadar dicap tukang halu.
“Eh, bercanda… bercanda.” Zean langsung nyengir lebar, berusaha ngeredam niatnya Aslan.
Tapi Aslan gak goyah.
Nyengir basi kayak gitu? Mana mempan.
Zean makin panik. Tangannya mulai mijit lengan Aslan—entah maksudnya ngancam, atau
mohon ampunan.
Aslan langsung nampel tangan bau itu pakai ekspresi jijik setengah ilfeel.
“Jadi gimana?” Aslan akhirnya buka suara.
“Masih mau bongkar? Atau bantuin aku? Kakak untung kok, kalau bantu beneran.”
Zean melotot.
“Masih perlu dibantu? Nama aku udah kamu rusak, harga diri diinjek di depan Yura. Apa itu
belum cukup?”
Zean nyesek. Sama Aslan. Sama hidupnya juga. Sama liburan yang tadinya damai.
“Dua minggu gak cukup, Kak. Aku butuh lebih lama. Jadi Kakak harus keliatan masih
ngawasi sekolah. Harus kayak punya ‘intel’ gitu. Yang kasih info soal aku.”
Zean bengong.
“Hah? Intel? Info soal kamu? Buat APA, ASLAN?!”
“Biar Yura percaya. Biar kelihatan kalau Kakak gak bisa nerima hubungan kita gitu aja. Biar
dramanya hidup.”
Kepala Zean langsung penuh tanda tanya. Tapi satu hal gak berubah sejak dulu:
Logika Aslan terlalu absurd untuk ditolak.
Dan masalahnya… selalu berhasil.
Zean akhirnya nyerah, walau masih setengah ikhlas.
“Berapa lama Kakak harus pura-pura?” ucapnya lelah.
“Selama liburan di Indo, Kakak harus sering ke sekolah. Say hello ke aku dan Yura. Jangan
lupa pasang ekspresi cemburu dikit.”
“Terus, pas Kakak balik ke Paris… ya, rutin video call. Update terus info soal aku. Jangan
sampe ketinggalan.”
Zean terdiam. Bayangan liburan tenangnya langsung buyar.
Yang kebayang cuma mimpi buruk berkepanjangan.
“YA ALLAH, ASLAN! Itu artinya… SELAMANYA! YANG BENER AJA DONG!”
Dan di situlah momen resmi:
Zean nyerah total.
Dari niat awal balas dendam karena namanya diseret ke drama absurd…
Sekarang, dia malah tenggelam dalam skema yang lebih gila lagi.
***
Sekarang kita loncat ke Senin pagi, Saint Dominic Art. Intern School itu kembali ramai oleh
para penghuninya. Baik di gedung sekolah maupun asramanya, suasana mendadak hidup
seperti taman bermain. Para siswa nampaknya memang lebih antusias dari biasanya. Wajar
aja—masa ujian sudah lewat. Dan itu artinya: waktunya untuk unjuk bakat, perang ekskul,
dan ajang adu keren antar klub.
Lucunya, setelah ujian berakhir, sebagian siswa justru enggan pulang ke rumah. Libur
dianggap bukan buat istirahat, tapi buat latihan. Biar bisa tampil maksimal di semua acara
pertunjukan.
Termasuk Yura.
Gadis itu nampaknya sibuk mendorong troli harpa pedal, yang ukurannya dua kali lebih besar
dari tubuhnya. Nafasnya ngos-ngosan, rambutnya lepek, dan urat kesalnya muncul—terutama
saat ada cewek gak jelas muncul dari arah berlawanan, dan menghalangi jalannya di tengah
koridor.
“Faya, minggir gak?!” teriak Yura setengah emosi.
Faya malah nyengir, nyelonong santai.
“Jangan ngamuk. Ntar galaknya ilang,” katanya, setengah nyindir, setengah nyinyir.
Sedikit latar: Faya ini kembaran identiknya Fayed. Tapi beda banget dari segi akal dan sikap.
Kalau Fayed itu tenang, kalem, dan punya arah hidup. Kalau Faya? Sering loncat-loncat
kayak Agam, dan gak jelas mau jadi apa.
‘Tring, Ding-ding-ding!’
Yura menceloskan senar harpanya ke samping lalu melipat tangan di dada. “Mau ngapain
lagi, sih, kamu? Jangan bilang mau bantuin, terus ujung-ujungnya minta nambah durasi
tampil di showcase. Atau mau kuasai frame Our, iya?” tuduhnya ketus.
Faya cengengesan. Dari saku celananya, dia mengeluarkan selembar kertas lecek, dilipat
empat, dan disodorin penuh gaya.
“Nih. Aku kasih kamu daftar penting,” katanya sok misterius.
“Judulnya: Perubahan Emosi Aslan dalam Tiga Hari Terakhir.”
Yura memelotot.
Lah, apaan lagi ini?
Dia sampai ngedip dua kali dan refleks celingak-celinguk, cari kamera tersembunyi.
“Kamu serius?” tanyanya ragu.
“Seriuslah. Ini hasil observasi mendalam. Aku udah ngamatin Aslan sejak hari dia ngajak
kamu jadian. Dan—ada yang aneh,” Faya mulai sok serius, lengkap dengan gaya Agam
banget yang doyan ngangguk sendiri. “Aku gak percaya alasan dia cuma karena Bang Zean
suka dia. Itu terlalu drama. Bahkan buat standar anak seni, itu… lebay.”
Yura melirik kertas itu, sok curiga. “Terus kamu mikirnya apa?”
“Jelas ada agenda lain,” jawab Faya mantap.
“Kamu lupa siapa Aslan? Cowok spek kulkas sejagat Saint Dominic. Sekilas cuek bebek, tapi
sekali gerak, dia pasti udah nyusun strategi sepuluh langkah ke depan. Dia tuh kayak pemain
catur—lawan belum gerak, dia udah menang. Bahkan guru-guru juga kadang takut sama
otaknya dia.”
Yura terdiam. Matanya masih menatap kertas itu.
“Kamu yakin ini penting?” gumamnya pelan.
Faya ngangkat dua alis. “Kalau kamu gak mau jadi pion dalam skema yang kamu sendiri gak
ngerti, ya… penting banget,” ucapnya yakin.
Sayangnya, efek dramanya langsung rontok karena jawaban Yura:
“Dasar Detektif KW,” dengus Yura, menggeleng pelan. “Kamu pikir aku gak pernah mikir
gitu? Udah telat, Say. Aku udah mikir gitu, dari sebelum kamu sempet mikir.”
Lalu dengan napas lelah, dia menarik kembali troli harpanya.
“Udah, deh. Gak usah aneh-aneh.”
Dalam hati, Yura tahu—apa yang Faya ucapkan persis dengan isi kepalanya beberapa hari
lalu. Tapi sayangnya, itu semua gak banyak membantu. Karena Aslan... nyaris tanpa cela.
Dan Yura gak pernah punya cukup peluang buat menyelidiki lebih jauh.
Makanya dia mutusin satu hal:
Tunggu.
Tunggu sampai Aslan sendiri yang buka suara. Atau tunggu sampai waktu yang sepenuhnya
berkata.
Kalau Aslan emang punya agenda, cepat atau lambat pasti bakal kelihatan.
***