0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan12 halaman

Foot Massage untuk Turunkan Tekanan Darah

Penelitian ini mengevaluasi efektivitas foot massage dalam menurunkan tekanan darah pada dua pasien hipertensi di RSUD Kabupaten Karanganyar. Hasil menunjukkan bahwa foot massage berhasil menurunkan tekanan darah kedua pasien setelah tiga hari intervensi. Penurunan tekanan darah yang signifikan tercatat, dengan responden I mengalami penurunan 40/10 mmHg dan responden II 30/20 mmHg.

Diunggah oleh

rasyafatur955
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan12 halaman

Foot Massage untuk Turunkan Tekanan Darah

Penelitian ini mengevaluasi efektivitas foot massage dalam menurunkan tekanan darah pada dua pasien hipertensi di RSUD Kabupaten Karanganyar. Hasil menunjukkan bahwa foot massage berhasil menurunkan tekanan darah kedua pasien setelah tiga hari intervensi. Penurunan tekanan darah yang signifikan tercatat, dengan responden I mengalami penurunan 40/10 mmHg dan responden II 30/20 mmHg.

Diunggah oleh

rasyafatur955
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Ventilator: Jurnal riset ilmu kesehatan dan Keperawatan

Vol. 1, No. 3 September 2023


e-ISSN: 2986-7088; p-ISSN: 2986-786X, Hal 196-207
DOI : [Link]

Penerapan Foot Massage Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada


Penderita Hipertensi Di RSUD Kabupaten Karanganyar

Ervianda Ervianda
Universitas ‘Aisyiyah Surakarta

Hermawati Hermawati
Universitas ‘Aisyiyah Surakarta

Dwi Yuningsih
RSUD Kabupaten Karanganyar

Alamat: Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah: 57146


Email: erviandaanda@[Link]

Abstract. Background: Hypertension is a health problem in all parts of the world and one of the main risk factors
for cardiovascular disease. It is estimated that 1.28 billion adults aged 30-79 years worldwide suffer from
hypertension as well as the Karanganyar District Hospital where there have been 889 cases with hypertension
since the last 1 year. One of the non-pharmacological therapies that can be used for hypertension is foot massage.
Foot massage is one of the complementary therapies currently used for hypertension. Objective: To find out the
results of the implementation of giving foot massage to reducing blood pressure in 2 respondents with
hypertension at the Karanganyar Regency Hospital. Methods: Using a descriptive method with a case study
design approach, respondents used 2 hypertensive patients. Determination of respondents according to the
inclusion and exclusion criteria was carried out for 3 days. Foot massage and blood pressure measurement using
a sphygmomanometer Results: Providing foot massage was able to reduce blood pressure in 2 respondents at the
Karanganyar District Hospital Conclusion: There were changes in 2 respondents after foot massage was carried
out for 3 days at the Karanganyar District Hospital.

Keywords: Hypertension, Blood Pressure, Foot massage

Abstrak. Latar Belakang; Kejadian hipertensi menjadi masalah kesehatan di seluruh belahan dunia dan salah
satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Diperkirakan 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun di
seluruh dunia menderita hipertensi begitu pula RSUD Kabupaten Karanganyar terdapat 889 kasus dengan
hipertensi sejak 1 tahun terakhir. Salah satu terapi nonfarmakologis yang dapat dilakukanpada hipertensi adalah
foot masage. Foot massage menjadi salah satu terapi komplementer yang saat ini digunakan untuk hipertensi.
Tujuan : Mengetahui hasil implementasi pemberian foot massage terhadap penurunan tekanan darah pada 2
responden penderita hipertensi di RSUD Kabupaten Karanganyar. Metode : Menggunakan metode deskriptif
dengan pendekatan desain studi kasus, responden menggunakan 2 pasien hipertensi. Penentuan responden sesuai
dengan kriteria inklusi dan eklusi dilakukan selama 3 hari. Foot massage dan pengukuran tekanan darah
menggunakan sphygmomanometer Hasil : Pemberian foot massage mampu menurunkan tekanan darah pada 2
responden di RSUD Kabupaten Karanganyar Kesimpulan : Terdapat perubahan terhadap 2 responden setelah
dilakukan foot massage selama 3 hari di RSUD Kabupaten Karanganyar.

Kata Kunci : Foot massage, Hipertensi, Tekanan Darah

Received Juni 30, 2023; Revised Juli 30, 2023; Accepted Agustus 12, 2023
* Ervianda Ervianda, erviandaanda@[Link]
Penerapan Foot Massage Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi
Di RSUD Kabupaten Karanganyar

LATAR BELAKANG
Hipertensi merupakan penyakit atau masalah kesehatan di seluruh belahan dunia dan
salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Hipertensi biasanya di sebut sebagai
silent killer atau diam-diam yang dapat menyebabkan seseorang menjadi mati secara mendadak
akibat hipertensi. Hal ini terjadi karena hipertensi atau penyakit yang disebabkan oleh
hipertensi. Penyakit hipertensi juga merupakan the silent disease karena orang tidak
mengetahui dirinya terkena hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya
(Septianingsih, 2018).
Data yang dikeluarkan oleh World Health Organization (2021) menujukkan bahwa
Diperkirakan 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun di seluruh dunia menderita
hipertensi, sebagian besar (dua pertiga) tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Diperkirakan 46% orang dewasa dengan hipertensi tidak menyadari bahwa mereka memiliki
kondisi tersebut. Kurang dari separuh orang dewasa (42%) dengan hipertensi didiagnosis dan
diobati. Sekitar 1 dari 5 orang dewasa (21%) dengan hipertensi dapat mengendalikannya.
Prevalensi hipertensi bervariasi di seluruh wilayah dan kelompok negara. Wilayah Afrika
memiliki prevalensi hipertensi tertinggi (27%) sedangkan Wilayah Amerika memiliki
prevalensi hipertensi terendah (18%).
Prevalensi hipertensi di Jawa Tengah sebesar 37,57% dengan jumlah penduduk beresiko
kurang dari 15 tahun yang dilakukan pengukuran tekanan darah pada tahun 2019 tercatat
sebanyak 9.099.765 dari hasil pengukuran tekanan darah, sebanyak 1.377.356 orang
dinyatakan menderita hipertensi. Berdasarkan jenis kelamin, presentasi hipertensi pada
perempuan sebanyak 15.845 dan lebih tinggi dibanding pada laki-laki yaitu 14.155 (Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2019). Data rekam medis RSUD Kabupaten Karanganyar
kasus hipertensi yang menjalani rawat inap mencapai 889 sejak 2022.
Hipertensi dapat dijelaskan sebagai kondisi dimana tekanan darah tinggi dengan tekanan
sistole lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastole lebih dari 90 mmHg. Seseorang yang
mengalami tekanan darah tinggi akan bermasalah apabila tekanan tersebut bersifat persisten.
Menurut Tika (2021) Hipertensi atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat
menyebabkan berbagai komplikasi seperti pada jantung yaitu terjadi infark miokard, jantung
koroner, gagal jantung kongestif, bila mengenai otak terjadi stroke, dan bila mengenai ginjal
akan terjadi gagal ginjal kronis.

197 JURNAL VENTILATOR - VOLUME 1, NO. 3, SEPTEMBER 2023


e-ISSN: 2986-7088; p-ISSN: 2986-786X, Hal 196-207

Penatalaksanaan hipertensi meliputi terapi farmakologis dan non farmakologis. Terapi


farmakologis menggunakan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah seperti diuretik,
ACE Inhibitor, Beta blocker, calcium chanel blocker, dan Vasodilator (Zaura et al., 2023).
Selain terapi farmakologis terdapat juga terapi non farmakologis salah satuya adalah terapi
komplementer yaitu terapi foot masage. Foot massage adalah salah satu terapi komplementer
yang saat ini digunakan untuk hipertensi. Massage merupakan terapi paling efektif untuk
menurunkan tekanan darah pada hipertensi karena dapat menimbulkan efek relaksasi pada otot-
otot yang kaku sehingga terjadi vasodilatasi yang menyebabkan tekanan darah turun secara
stabil. (Ardiansyah & Huriah, 2019).
Salah satu terapi komplementer yang aman dan mudah diberikan dan mempunyai efek
meningkatkan sirkulasi, mengeluarkan sisa metabolisme, meningkatkan rentang gerak sendi,
mengurangi rasa sakit, merelaksasikan otot dan memberikan rasa nyaman pada pasien adalah
terapi fooot massage ( Alfianti et al., 2017). Foot massage bekerja dengan cara memanipulasi
jaringan lunak pada kaki secara umum dan tidak terpusat pada titik-titik tertentu pada telapak
kaki yang berhubungan dengan bagian lain pada tubuh (Abduliansyah, 2018). Foot massage
bertujuan untuk menurunkan tekanan darah, mengurangi kegiatan jantung dalam memompa,
dan mengurangi mengerutnya dinding-dinding pembuluh nadi halus sehingga tekanan pada
dinding-dinding pembuluh darah berkurang dan aliran darah menjadi lancar sehingga tekanan
darah akan menurun (Septianingsih, 2018).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Awaliah & Mochartini (2022) dengan
judul penelitiannya yaitu “Efektivitas Foot Massage Dan Tehnik Benson Terhadap Penurunan
Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di RS Bhayangkara Lemdiklat Polri” didapatkan
hasil Ada efektivitas foot massage dan Tehnik Benson Terhadap Penurunan Tekanan Darah
pada Penderita Hipertensi. Penelitian lain juga dilakukan oleh (Ainun et al., 2021) dengan hasil
setelah malaksanakan terapi foot massage 3 hari berturut turut selama 15 menit nyeri kepala
hilang, badan terasa ringan, rileks dan hasil tekanan darah systole menjadi stabil.
Studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 6 Juli 2023 di Bangsal cempaka 3 RSUD
Kabupaten Karanganyar didapatkan sebanyak 20 kasus hipertensi sejak bulan Juni 2023.
Berdasarkan hasil wawancara pada perawat di Bangsal cempaka 3 belum terdapat SOP terkait
foot massage dalam upaya menurunkan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi.
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penerapan mengenai
foot massage terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi di RSUD Kabupaten
Karanganyar.
Penerapan Foot Massage Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi
Di RSUD Kabupaten Karanganyar

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian dalam menyusun Karya Ilmiah ini adalah rancangan penelitian deskriptif
dalam bentuk case study (studi kasus). Penelitian secara deskriptif merupakan studi yang
meneliti sebuah kelompok, manusia, objek, kondisi, sistem pemikiran ataupun peristiwa yang
terjadi saat ini secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta yang diteliti. Penelitian
dilakukan dengan responden yang memenuhi kriteria inkusi dan ekslusi. Penerapan dilakukan
di bangsal cempaka 3 RSUD Kabupaten Karanganyar pada 12 Juli 2023 sampai dengan
tanggal 14 Juli 2023. Penerapan dilakukan selama 3 hari berturut-turut dengan waktu 20 menit.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Hasil penerapan pemberian terapi foot massage pada dua responden anak di bangsal
cempaka 3 RSUD Kabupaten Karanganyar pada 12 Juli 2023 sampai dengan tanggal 14 Juli
2023. Penerapan ini melibatkan 2 klien sebagai subjek penelitian sesuai dengan kriteria yang
telah ditentukan yaitu pasien I (Ny.K) dan pasien II (Ny.S) . Dengan hasil sebagai berikut
a. Tekanan darah pada pasien hipertensi sebelum diberikan terapi foot massage di RSUD
Kabupaten Karanganyar
Tabel 4.1 Tekanan darah pada pasien hipertensi sebelum diberikanterapi foot massage di RSUD
Kabupaten Karanganyar
No Hari Tekanan darah
Responden I Responden II
1. Hari ke 1 170/100 mmHg 160/100 mmHg
(Derajat 2) (Derajat 2)
2. Hari ke-2 160/100 mmHg 160/90 mmHg
(Derajat 2) (Derajat 2)
3. Hari ke-3 150/90 mmHg 140/80 mmHg
(Derajat 1) (Derajat 1)

Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah pasien hipertensi sebelum


diberikan terapi foot massage yang disajikan pada tabel 4.1 menunjukan perbedaan antara
tekanan darah pada kedua responden, dimana tekanan darah sebelum diberikan intervensi
selama 3 hari pada responden I (Ny.K) lebih tinggi dibandingkan responden II (Ny.S)

199 JURNAL VENTILATOR - VOLUME 1, NO. 3, SEPTEMBER 2023


e-ISSN: 2986-7088; p-ISSN: 2986-786X, Hal 196-207

b. Tekanan darah pada pasien hipertensi setelah diberikan terapi foot massage di RSUD
Kabupaten Karanganyar
Tabel 4.2 Tekanan darah pada pasien hipertensi setelah diberikanterapi foot massage di RSUD
Kabupaten Karanganyar
No Hari Tekanan darah
Responden I Responden II
1. Hari ke 1 160/90 mmHg 150/90 mmHg
(Derajat 2) (Derajat 2)
2. Hari ke-2 150/90 mmHg 140/90 mmHg
(Derajat 1) (Derajat 1)
3. Hari ke-3 130/90 mmHg 130/80 mmHg
(Normal-tinggi) (Normal-tinggi)

Berdasarkan tabel 4.2 hasil penerapan didapatkan hasil terdapat penurunan tekanan
darah pada kedua pasien pasien hipertensi setelah diberikan terapi foot massage yang
diberikan selama 3 hari secara berturut-turut.
c. Perkembangan penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi sebelum dan sesudah
diberikan terapi foot massage di RSUD Kabupaten Karanganyar
Tabel 4.3 Perkembangan penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi sebelum dan sesudah
diberikan terapi foot massage di RSUD Kabupaten Karanganyar

No Nama Hari 1 Hari ke 2 Hari ke 3


Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1 Responden 170/100 160/90 160/100 150/90 150/90 130/90
I (Derajat (Derajat (Derajat (Derajat (Derajat (Normal-
2) 2) 2) 1) 1) tinggi)
2 Responden 160/100 150/90 160/90 140/90 140/80 130/80
II (Derajat (Derajat (Derajat (Derajat (Derajat (Normal-
2) 1) 2) 1) 1) tinggi)

Berdasarkan tabel 4.3 perkembangan penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi
sebelum dan sesudah diberikan terapi foot massage selama 3 hari, didapatkan hasil
penurunan tekanan darah yang signifikan di setiap harinya.
d. Perbandingan hasil akhir 2 responden
Tabel 4.4 Perbandingan hasil akhir 2 responden

Nama Hari 1 Hari ke 2 Hari ke 3 Selisih


Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Resp 170/100 160/90 160/100 150/90 150/90 130/90 40/10
I (Derajat (Derajat (Derajat (Derajat (Derajat (Normal-
2) 2) 2) 1) 1) tinggi)
Resp 160/100 150/90 160/90 140/90 140/80 130/80 30/20
I (Derajat (Derajat (Derajat (Derajat (Derajat (Normal-
2) 1) 2) 1) 1) tinggi)
Presentase Sistole 40 mmHg 30 mmHg
Selisih Diastole 20 mmHg 20 mmHg
Penerapan Foot Massage Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi
Di RSUD Kabupaten Karanganyar

Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan perbedaan penurunan tekanan darah pada kedua
responden pasien hipertensi setelah diberikan terapi foot massage. Penurunan tekanan
darah lebih banyak pada responden I yaitu mengalami penurunan 40/10 mmHg.

PEMBAHASAN
1. Tekanan darah pada pasien hipertensi sebelum diberikan terapi foot massage di
RSUD Kabupaten Karanganyar
Hasil pengkajian tekanan darah sebelum diberikan terapi foot massage pada pasien
hipertensi di RSUD Kabupaten Karanganyar yang disajikan pada tabel 4.1 didapatkan
hasil bahwa tekanan darah antara kedua responden berbeda dimana tekanan darah pada
responden I (Ny.K) adalah 170/100 mmHg sedangkan pada tekanan darah pada responden
ke II (Ny.S) adalah 160/100.
Peningkatan tekanan darah dapat diakibatkan dari stimulus internal dan eksternal
serta tingkat adaptasi yang mempengaruhi mekanisme koping individu (homeostatis
terganggu) dan yang berperan pada sistem limbik sehingga mempengaruhi sistem saraf
otonom, dengan pemberian terapi relaksasi memberikan dampak yang sama yaitu
menstimulasi respons saraf otonom melalui pengeluaran neurotransmitter endorphin yang
berefek pada penurunan respons saraf simpatis dan peningkatan respons parasimpatis.
Stimulasi saraf simpatis meningkatkan aktivitas tubuh, sedangkan respons parasimpatis
lebih banyak menurunkan aktivitas tubuh sehingga dapat menurunkan aktivitas metabolik
yang berdampak pada fungsi jantung, tekanan darah dan pernafasan (Nazmi, 2018).
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi dibagi dalam dua
kelompok besar yaitu faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti jenis kelamin, umur,
genetik, ras dan faktor yang dapat dikendalikan seperti pola makan, kebiasaan olahraga,
konsumsi garam, kopi, alkohol dan stres. Faktor yang pertama adalah usia menurut
Fadlilah et al., (2020) menyatakan bahwa tekanan darah meningkat seiring bertambahnya
usia, puncaknya mencapai pada awal pubertas dan kemudian cenderung menurun. Pada
dewasa yang lebih tua, elastisitas arteri menurun, lebih kaku dan kurang menghasilkan
tekanan darah. Tekanan ini menghasilkan sistolik yang meningkat, karena dinding
pembuluh darah tidak lagi menarik secara fleksibel dengan tekanan yang berkerut,
tekanan diastolik juga mungkin tinggi. Responden pada penerapan ini berusia 66 tahun
dan 59 tahun, dimana usia tersebut merupakan usia lanjut usia (lanjut usia).

201 JURNAL VENTILATOR - VOLUME 1, NO. 3, SEPTEMBER 2023


e-ISSN: 2986-7088; p-ISSN: 2986-786X, Hal 196-207

Faktor selanjutnya adalah keturunan. Responden I mempunyai riwayat kesehatan


keluarga dengan hipertensi, sedangkan pada responden ke II tidka memiliki riwayat
keluarga dengan hipertensi, secara teori banyak gen turut berperan pada perkembangan
gangguan hipertensi. Seseorang yang mempunyai riwayat keluarga sebagai pembawa
(carier) hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk terkena hipertensi. Gen
simetrik memberi kode pada gen aldosteron sintase, sehingga menghasilkan produksi
ektopik aldosteron, mutasi gen Saluran natrium endotel mengakibatkan peningkatan
aktifitas aldosteron, penekanan aktifitas renin plasma dan hypokalemia, Kerusakan
menyebabkan sindrom kelebihan mineralokortikoid. Dengan meningkatnya aldosteron
menyebabkan meningkatnya retensi air, sehingga meingkatkan tekanann darah (Nuraeni,
2019).
2. Tekanan darah pada pasien hipertensi setelah diberikan terapi foot massage di
RSUD Kabupaten Karanganyar
Berdasarkan hasil penerapan foot massage pada pasien hipertensi di RSUD
Kabupaten Karanganyar didapatkan hasil penurunan tekanan darah pada kedua responden.
Responden I (Ny.K) mengalami penurunan tekanan darah menjadi 130/90 mmHg
sedangkan pada responden ke II (Ny.S) menjadi 130/80. Sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Monica, (2019) dengan hasil penelitianya yaitu didapatkan penurunan
tekanan darah sistole dan diastole pada pasien hipertensi setelah diberikan terapi foot
massage dengan nilai p value 0.000. Hasil penelitian yang sama juga didapatkan oleh
Patria (2019) tentang “Pengaruh Massage Kaki Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada
Kelompok Dewasa Yang Mengalami Hipertensi” yang menunjukkan hasil p-Value 0.000
untuk tekanan sistolik dan p-Value 0.001 dengan kesimpulan terdapatpengaruh massage
kaki terhadap penurunan tekanan darah.
Hipertensi merupakan penyakit yang apabila jika tidak segeraa ditangani akan
mengakibatkan dampak yang buruk bagi penderitanya. Salah satu terapi nonfarmakologis
untu menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi adalah foot massage. Massage
pada otot-otot besar pada kaki dapat memperlancar sirkulasi darah, merangsang jaringan
otot, menghilangkan toksin, merilekskan persendian, meningkatkan aliran oksigen,
mengendurkan ketegangan otot, sehingga membantu memperlancar aliran darah ke
jantung dan tekanan darah menjadi turun (Yanti et al., 2019).
Penerapan Foot Massage Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi
Di RSUD Kabupaten Karanganyar

Sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Violetha et al., (2021) yang
menyatakan foot massase dengan gerakan pijatan pada kulit, jaringan ikat, jaringan otot
dan periosteum yang akan menimbulkan rangsangan reseptor yang terletak di daerah
tersebut. Impuls tersebut dihantarkan oleh saraf aferen menuju susunan saraf pusat, dan
selanjutnya susunan saraf pusat memberikan umpan balik dengan melepaskan asetikolin
dan histamin melalui impuls saraf eferen untuk merangsang tubuh beraksi melalui
mekanisme reflek vasodilatasi pembuluh darah yaitu mengurangi aktivitas saraf simpatis
dan meningkatkan. aktivitas saraf parasimpatis. Peningkatan aktivitas saraf parasimpatis
menimbulkan penurunan denyut jantung (heart rate) dan denyut nadi (pulse rate) dan
mengakibatkan aktivasi respon relaksasi. Sedangkan penurunan aktivitas saraf simpatis
meningkatkan vasodilatasi arteriol dan vena, yang menyebabkan resistensi vaskular perifer
menurun sehingga menurunkan tekanan darah.
Hasil penerapan pada ke dua responden yang dilakukan selama 3 hari berturut-turut
didapatkan bahwa terdapat penurunan tekanan darah sesudah diberikan foot massage pada
pasien hipertensi di RSUD Kabupaten Karanganyar. Responden I bernama Ny.K jenis
kelamin perempuan, berusia 66 tahun didapatkan hasil pengkajian didapatkan bahwa
keluhan utama Ny.K adalah kepala pusing. Riwayat kesehatan sekarang pasien
mengatakan kepala pusing sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, keluhan di sertai
dengan nyeri di bagian ulu hati. Pasien mengatakan badanya terasa lemas dan sakit
kepalanya menjalar hingga ke leher.
Riwayat kesehatan terdahulu pasien mengatakan mempunyai riwayat hipertensi
sejak 1 tahun yang lalu. Pasien mengatakan di keluarganya mempunyai penyakit yang
sama sebelumnya yaitu tekanan darah tinggi. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV)
didapatkan TD : 160/90 mmHg, N : 77 kali/menit, Suhu tubuh : 36 C, Pernafasan : 23
kali/menit, SPO2 : 98%. Pasien terpasang infus RL 20 tpm ditangan kanan.
Responden II Ny.S berjenis kelamin perempuan, berusia 59 tahun, keluhan utama
nyeri kepala di bagianbelakang lebih tepat pada tengkuk dan badan pasien terasa lemas.
Pasien mengatakan keluhan disertai dengan mual muntah. Diagnosa medis saat masuk
adalah hipoglikemi. Riwayat penyakit terdahulu pasien mengatakan mempunyai riwayat
hipertensi sejak 5 tahun yang lalu. Hasil pemeriksaan keadaan umum pasien lemah,
kesadaran compos mentis. Hasil tanda-tanda vital (TTV) didapatkan TD : 150/100 mmHg,
Nadi : 88 kali/menit, Pernafasan : 24 kali/menit, Suhu : 36 C, SPO2 : 98%.

203 JURNAL VENTILATOR - VOLUME 1, NO. 3, SEPTEMBER 2023


e-ISSN: 2986-7088; p-ISSN: 2986-786X, Hal 196-207

Pada kasus diatas terdapat faktor – faktor yang mengakibatkan terjadinya


penurunan tekanan darah setelah diberikan footmassage meliputi jenis kelamin, dan
riwayat penyakit dahulu dan kepatuhan dalam kontrol tekanan darah. Ny.K dan Ny.S
sama-sama mempunyai riwayat hipertensi dan sama sama patuh menjalankan kontrol
tekanan darah secara rutin.
3. Perkembangan penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi sebelum dan
sesudah diberikan terapi foot massage di RSUD Kabupaten Karanganyar
Berdasarkan tabel 4.3 perkembangan penurunan tekanan darah pada pasien
hipertensi sebelum dan sesudah diberikan foot massage didapatkan hasil di setiap harinya
mengalami perkembangan penurnan tekanan darah antara sebelum dan sesudah diberikan
foot massage. Penerpan pada penelitian ini dilakukan selama 3 hari secara berturut-turut
di waktu yang sama di setiap harinya.
Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa salah
satu terapi non farmakologisuntuk menurunkan tekanan darah yaitu terapi pijat (massage).
Apabila terapi ini dilakukan secara teratur dapat menurunkan tekanan darah, menurunkan
kadar hormon kortisol, dan menurunkan kecemasan sehingga akan berdampak pada
perbaikan fungsi tubuh. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang menyebutkan
bahwa terapi pijat dapat merangsang jaringan otot, menghilangkan toksin, merilekskan
persendian, meningkatkan aliran oksigen, menghilangkan ketegangan otot sehingga
berdampak terhadap penurunan tekanan darah (Yuliana, 2018).
Hasil penerapan yang dilakukan oleh peneliti kepada 2 responden pasien dengan
hipertensi di RSUD Kabupaten Karanganyar menunjukan progress penurunan yang baik
dan signifikan di setiap harinya. Hal ini terjadi karena gerakan gerakan yang terdapat pada
foot massage ini sangat memberikan manfaat yang baik apabila diberikan secara rutin.
Sejalan dengan teori yang di ungkapkan oleh Wahyuni et al., (2017) dalam penelitianya
yang menyatakan bahwa gerakan mengusap (Effleurage) adalah gerakan berirama yang
khususnya dipakai untuk menurunkan pengeluaran hormon kortisol sehingga pengurangan
stres dapat terjadi karena adanya respon rileks. Selain itu, gerakan melingkar (friction)
dengan penekanan lebih menggunakan ibu jari bertujuan untuk penyembuhan ketegangan
otot dan akibat asam laktat yang berlebih. Apabila dilakukan gerakan ini asam laktat
akan berkurang, sehingga peredaran darah dalam pembuluh darah menjadi lebih lancar.
Penerapan Foot Massage Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi
Di RSUD Kabupaten Karanganyar

Pijat yang dilakukan pada penderita hipertensi adalah untuk memperlancar aliran
energi di dalam tubuh sehingga gangguan penyakit hipertensi dan komplikasinya dapat
diminimalisir. Ketika semua jalur energi terbuka dan aliran energi tidak terhalang lagi
oleh ketegangan ototdan hambatan lain maka risiko hipertensi dapat ditekan (Umamah
& Paraswati, 2019).
4. Perbandingan hasil akhir 2 responden
Berdasarkan hasil penerapan yang disajikan pada tabel 4.4 perbandingan hasil
akhir antara kedua responden, didapatkan hasil perbedaan penurunan tingkat tekanan darah
antara sebelum dan sesudah diberikan foot massage pada kedua responden. Responden I
mengalami penurunan tekanan darah sistole sebesar 40 sedangkan tekanan diastole
menurun sebesar 10, Pada responden ke II penurunan tekanan darah sistole menurun
sebesar 30 dan diastole menurun 20.
Hasil yang didapatkan menunjukan bahwa respondnen I mengalami penuruna
tekanan darah yang lebih banyak dibandingkan dengan responden ke II. Hasil gambaran
kasus menunjukan bahwa pada responden II juga mengalami hipoglikemia. Salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi penurunan tekanan darah adalah penyakit komplikasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Awaliah & Mochartini (2022) yang meneliti mengenai
hubungan antara kadar glukosa darah dengan tekanan darah pada pasien, dan didapatkan
hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kadar glukosa darah dengan
tekanan darah pasien.
Selisih hasil penelitian ini tidak menunjukan angkayang besar, dimana responden
1 mengalami penurunan 40/10 mmHg sedangkan responden ke 2 mengalami penurunan
30/20 mmHg.
Ketegangan otot pada pasien hipertensi dapat manghalangi jalur energi, maka saat
ketegangan otot tidak menghalangi jalur energi maka aliran energi berjalan lancar, hal
ini dapat menurunkan risiko peningkatan tekanan darah. Penatalaksanaan foot massage
juga dapat mengurangi kegiatan jantung untuk memompa, hal ini membuat tekanan
di dalam dinding pembuluh darah menurun, aliran darah lancar sehingga tekanan
darah menurun (Hartutik & Suratih, 2017). Foot massagedapat menjadi alternatif terapi
non farmakologi yang aman dan mudah untuk diberikan kepada pasien hipertensi (Afianti
& Mardhiyah, 2017).

205 JURNAL VENTILATOR - VOLUME 1, NO. 3, SEPTEMBER 2023


e-ISSN: 2986-7088; p-ISSN: 2986-786X, Hal 196-207

Waktu dan frekuensi perlakuan merupakan hal penting yang harus diperhatikan
agar memberikan hasil yang maksimal. Pemberian foot massagepada penelitian ini selama
20-25 menit dan dilakukan selama 3 hari secara berturut- turut. Penelitian ini kurang sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Iswati (2022) yang melakukan intervensi foot
massage selama 20 menit dilakukan tiap dua hari sekali pada pagi hari selama 7 kali dalam
2 minggu, kemudian diukur tekanan darahnya segera sebelum dan sesudah foot massage.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Kesimpulan dalam penerapan foot massage terhadap 2 rosponden dengan tingkat
hipertensi derajat 2, setelah diberiakn terapi foot massage pada Ny. K dan N. S mengalami
penurunan tekanan darah sistole/ iastole sebesar 40/10mmHg pada Ny. K sedangkan sedangkan
pada Ny.S sebesar 30/20 mmHg

Saran
Bagi Perawat dan Rumah Sakit : rumah sakit dapat mengaplikasikan terapi
nonfarmakologis dengan pemberian foot massage sebagai upaya menurunkan tekanan darah
pada pasien hipertensi. Bagi institusi pendidikan : institusi pendidikan dapat
mempertimbangkan kelebihan dan kelemahan dalam penelitian ini agar dapat melaksanakan
studi kasus selanjutnya, dan dapat sebagai masukan untuk materi perkuiliahan mengenai terapi
foot massage. Bagi Mahasiswa dan penelitian selanjutnya : penelitian lanjutan dapat meneliti
pengenai hubungan pemberian foot massage dengan menggunakan kombinasi seperti aroma
terapi, oil sebagai upaya untuk menurunkan tekanan darah pada pasien hipertesi dengan
responden yang lebih banyak
Penerapan Foot Massage Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi
Di RSUD Kabupaten Karanganyar

DAFTAR REFERENSI
Abduliansyah, M. R. (2018). Analisa Praktik Klinik Keperawatan Pada Pasien Hipertensi
Primer Dengan Intervensi Inovasi Terapi Kombinasi Foot Massage Dan Terapi
Murrotal Surah Ar- Rahman Terhadap Penurunan Tekanan Darah Di Ruang Instalasi
Gawat Darurat Rsud Abdul Wahab Sjahranie. Karya Ilmiah Akhir. Universitas
Muhammadiyah Kalimantan. Https://[Link]/10.32660/Jurnal.V5i1.334
Afianti, N., & Mardhiyah, A. (2017). Pengaruh Foot Massage Terhadap Kualitas Tidur Pasien
Di Ruang Icu. Jurnal Keperawatan Padjadjaran, 5(1), 86–97.
Https://[Link]/10.24198/Jkp.V5n1.10
Ainun, K., Kristina, K., & Leini, S. (2021). Terapi Foot Massage Untuk Menurunkan Dan
Menstabilkan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi. Abdimas Galuh, 3(2), 328.
Https://[Link]/10.25157/Ag.V3i2.5902eka
Ardiansyah. & Huriah, T. (2019). Metode Massage Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita
Hipertensi: A Literatur Review. Jurnal Penelitian Keperawatan, 5(1).
Https://[Link]/10.32660/Jurnal.V5i1.334
Awaliah, M., & Mochartini, T. (2022). Efektivitas Foot Massage Dan Tehnik Benson Terhadap
Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Rs Bhayangkara Lemdiklat
Polri. Malahayati Nursing Journal, 4(10), 2664–2686.
Https://[Link]/10.33024/Mnj.V4i10.7071
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. (2019). Profil Kesehatan Provinsi Jateng Tahun 2019.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 3511351(24).
Https://[Link]/V2018/Storage/2020/09/[Link]
Fadlilah, S., Hamdani Rahil, N., & Lanni, F. (2020). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi
Tekanan Darah Dan Saturasi Oksigen Perifer (Spo2). Jurnal Kesehatan Kusuma
Husada, Spo 2, 21–30. Https://[Link]/10.34035/Jk.V11i1.408
Hartutik, S., & Suratih, K. (2017). Pengaruh Terapi Pijat Refleksi Kaki Terhadap Tekanan
Darah Pada Penderita Hipertensi. Primer, 2.
manaIswati, I. (2022). Foot Massage Untuk Mengontrol Tekanan Darah Pada Lansia Dengan
Hipertensi. Adi Husada Nursing Journal, 8(1), 29.
Https://[Link]/10.37036/Ahnj.V8i1.222
Nuraeni, E. (2019). Correlation Of Age And Gender Risk With The Event Of Hypertension At
Clinic X, Tangerang City. Jurnal Jkft, 4(1), 1–6.
Patria, A. (2019). Pengaruh Masase Kaki Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Kelompok
Dewasa Yang Mengalami Hipertensi. Jurnal Kesehatan Panca Bhakti Lampung, 7(1),
48-56.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). (2013). Badan Penelitian Dan. Pengembangan Kesehatan
Kementerian Ri Tahun 2013. Diakses: 22 Maret 2022.
Http://[Link]/Resources/Download/Infoterkini/Materi_Rakorpop_20%0
a18/Hasil Riskesdas [Link]
Septianingsih, Dea Gita. (2018). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Pasien Hipertensi
Dengan Upaya Pengendalian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Samata.
Universitas Islam Negeri Alauddin, 8, 111.
Http://[Link]/[Link]/Menarailmu/Article/Download/877/788

207 JURNAL VENTILATOR - VOLUME 1, NO. 3, SEPTEMBER 2023

Anda mungkin juga menyukai