0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan32 halaman

Panduan Imunisasi Anak Lengkap

Dokumen ini membahas tentang imunisasi, termasuk definisi, manfaat, syarat pemberian, dan jenis-jenis vaksin yang diberikan kepada anak. Imunisasi bertujuan untuk melindungi tubuh dari infeksi penyakit berbahaya dan mengurangi angka morbiditas dan mortalitas. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan efek samping yang mungkin timbul serta penatalaksanaan setelah imunisasi.

Diunggah oleh

Fauzi Aulia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan32 halaman

Panduan Imunisasi Anak Lengkap

Dokumen ini membahas tentang imunisasi, termasuk definisi, manfaat, syarat pemberian, dan jenis-jenis vaksin yang diberikan kepada anak. Imunisasi bertujuan untuk melindungi tubuh dari infeksi penyakit berbahaya dan mengurangi angka morbiditas dan mortalitas. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan efek samping yang mungkin timbul serta penatalaksanaan setelah imunisasi.

Diunggah oleh

Fauzi Aulia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Imunisasi

2.1.1 Definisi Imunisasi

Imunisasi adalah suatu proses untuk membuat sistem pertahanan tubuh

kebal terhadap invasi mikroorganisme (bakteri dan virus) yang dapat

menyebabkan infeksi sebelum mikroorganisme tersebut memiliki kesempatan

untuk menyerang tubuh kita. Tubuh kita. Dengan imunisasi, tubuh kita akan

terlindungi dari infeksi begitu pula orang lain karena tidak tertular dari kita

(Marmi dan Rahardjo, 2012).

Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan

kekebalan seseorang secara efektif terhadap suatu penyakit, sehingga apabila

suatu saat terpajan suatu penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami

sakit ringan ( Nur Dian dkk, 2015).

Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit

tertentu, sedangkan yang dimaksud dengan vaksin adalah suatu obat yang

diberikan untuk membantu mencegah antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi

terhadap penyakit(Theophilus, 2007 dalam buku : Anik Maryunani, 2010).

2.1.2 Manfaat Imunisasi

Anak mudah terserang berbagai serangan penyakit yang berbahaya karena

tubuh anak masih belum sempurna kekebalan [Link] itulah diperlukan

imunisasi lengkap dan teratur pada anak agar terhindar dari berbagai macam

1
gangguan penyakit berbahaya dan fatal. Manfaat dalam pemberian imunisasi

menurut (Anik Maryunani, 2010), antara lain :

1. Melindungi dan mencegah penyakit - penyakit menular yang sangat

berbahaya bagi bayi dan anak sakit.

2. Diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga menurunkan

Angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat

penyakit tertentu.

3. Mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan

kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa

penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti campak, polio,

difteri tetanus, batuk rejan, hepatitis B, cacar , air, TBC, dan lain sebagainya.

2.1.3 Syarat Bayi Diberikan Imunisasi

Ada keadaan tertentu, ketika imunisasi boleh tidak diberikan atau ditunda

pemberian menurut (QorryÁina, 2015) :

1. Bayi tidak dalam kondisi sakit disertai demam tinggi.

2. Ada reaksi alergi berat atau reaksi anafilaktik pada suntikan pertama dari

imunisasi.

3. Bayi atau anak menderita gangguan sistem imun berat misal keganasan

( kanker), atau sedang menjalani terapi steroid jangka lama.

4. Jika ada riwayat alergi terhadap telur yang berat, hindari imunisasi.

5. Adanya gangguan immuno kompresi seperti orang yang mengalami

imunodefisiensi kongenital, leukimia, limfoma dan dll

2
Ketika imunodefisiensi itu terjadi akibat dari sistem imun yang kurang aktif,

sehingga dapat menimbulkan reaksi berulang. Jadi, pastikan bayi dalam keadaan

sehat ketika akan diimunisasi. Jika bayi dalam keadaan sakit, konsultasikan dulu

pada dokter dan tanyakan juga efek samping yang mungkin timbul dari vaksinasi

yang akan diberikan.

2.1.4 Jenis Imunisasi Dasar

Berikut ini akan diuraikan vaksin program imunisasi menurut Imunisasi

menurut depkes. 2017 menyatakan imunisasi terdiri sebagai berikut :

1. Vaksin Hepatitis B0 / Hb uniject

a. Pengertian

Imunisasi Hepatitis B adalah imunisasi yang diberikan untuk

mencegah penyakit hepatitis B,yaitu penyakit infeksi yang dapat merusak

hati (Anik, Maryumi, 2010).

b. Pemberian Imunisasi

Umumnya frekuensi pemberian imunisasi Hepatitis B 1 kali

c. Usia Pemberian Imunisasi

Pemberian imunisasi ini < 24jam, hal ini bertujuan untuk memberikan

perlindungan secepat mungkin dan meminimalisir anak akan mengalami

infeksi hepatitis B.

d. Dosis dan cara pemberian

Dosis yang diberikan imunisasi hepatitis B 0,5 ml dan cara pemberian

suntikan secara Intramuskular pada Anterolateral Paha.

3
e. Efek Samping

Setelah dilakukan imunisasi hepatitis b reaksi lokal yang muncul

seperti rasa sakit, kemerahan dan pembekakan di sekitar penyuntikan,

reaksi bersifat ringan dan hilang setelah 2 hari.

f. Penatalaksanaan

- Orang tua dianjurkan untuk memberi minum lebih banyak (ASI).

- Jika anak demam, berikan baju yang tipis

- Bekas suntikan yang nyeri dapat dilakukan kompres menggunakan air

hangat

- Jika demam melebihi suhu normal anjurkan untuk memeriksakan ke

pelayanan kesehatan terdekat ( bidan, puskesmas, klinik dan

sebagainya)

- Bayi boleh dilakukan seka dengan air hangat.

2. Vaksin BCG

a. Pengertian

Imunisasi BCG adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan

kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC), yaitu penyakit

paru-paru yang menular.

b. Pemberian Imunisasi

Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah satu kali dan tidak perlu

diulang (boster).Sebab, vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi

yang dihasilkannya tinggi terus. Berbeda dengan vaksin yang berisi

kuman mati, hingga memerlukan pengulangan.

4
c. Usia pemberian imunisasi

Imunisasi BCG sedini mungkin atau secepatnya, tetapi pada

umumnya 2 bulan. Jika diberikan setelah usia 2 bulan, tidak perlu

dilakukan tes Mantoux (tuberkulin) langsung diimunisasi BCG

selanjutnya (Septiani, 2019).

d. Dosis imunisasi dan Cara pemberian

Dosis pemberian 0,05 ml, sebanyak 1 kali, dan cara pemberian

imunisasi ini secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertio

musculus deltoideus) dengan menggunakan ADS( Auto Disable Syringe)

0,05 ml.

e. Efek Samping

1. Bila imunisasi BCG diberikan setelah usia 2 bulan. Disarankan

keluarga diberikan edukasi mengenai munculnya bisul kecil di area

bekas suntikan atau yang biasanya disebut dengan papula. Kemunculan

bisul ini wajib diperiksakan kepada petugas layanan kesehatan jika

munculnya < 7 hari pasca imunisasi. Hal ini bertujuan untuk

memastikan anak menderita TBC atau tidak. Perlu kita ketahui

bahwasannya imunisasi BCG sama dengan mantoux tes untuk

mendeteksi penyakit TBC pada bayi.

2. Apabila ditemukan papula pasca imunisasi > 1 bulan keluarga

diberikan edukasi bahwa kemunculan papula tersebut akan hilang

dengan sendirinya dan sembuh sehingga keluarga tidak perlu cemas

atau membawa bayi ke petugas kesehatan.

5
f. Penatalaksanaan

- Apabila terdapat papula > 7 hari anjurkan keluarga untuk membawa ke

petugas kesehatan terdekat.

- Berikan asi yang cukup pada bayi

- Berikan pakaian yang nyaman untuk bayi.

3. Vaksin Pentavalen (DPT-HB-Hib)

a. Pengertian

1. Difteri

Difteri adalah radang tenggorokan yang sangat berbahaya karena

menimbulkan tenggorokan tersumbat dan kerusakan jantung yang

menyebabkan kematian dalam beberapa hari saja.

2. Pertusis

Pertusis adalah batuk rejan atau batuk 100 hari yang terjadi pada radang

paru pernafasan. Gejala ini sangatlah khas yaitu batuk bertahap, diakhiri

dengan muntah, mata bengkak, atau penderita dapat meninggal karena

kesulitan nafas.

3. Tetanus

Tetanus adalah penyakit kejang yang terjadi pada otot diseluruh tubuh,

biasanya terjadi pada mulut yang akhirnya terkunci sehingga mulut tidak bisa

membuka maupun dibuka.

4. Hib (Hemofilus Influenza tipe b)

Vaksin ini diberikan untuk mencegah bakteri yang dapat menyebabkan

infeksi di beberapa organ, seperti meningitis, epiglotitis, pneumonia, artritis,

6
dan selulitis. Banyak menyerang anak di bawah usia 5 tahun, terutama pada

usia 6 bulan–1 tahun.

5. HB ( Hepatitis B)

Vaksin hepatitis B adalah vaksin yang digunakan untuk mencegah

infeksi hati, akibat virus hepatitis B.

b. Pemberian Imunisasi dan Usia pemberian imunisasi

Pemberian imunisasi dasar pentavalen pada usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4

bulan. Dengan interval minimal 1 bulan.

c. Dosis imunisasi dan Cara pemberian

Vaksin diberikan secara intramuskular pada anterolateral paha atas

dengan dosis anak 0,5 ml.

d. Efek Samping

Setelah dilakukan imunisasi ini biasanya terjadi reaksi lokal sementara,

seperti bengkak, nyeri dan kemerahan pada lokasi suntikan. Disertai demam

dalam sejumlah kasus besar. Kadang—kadang terjadi reaksi berat, seperti

demam tinggi, Iritabilitas atau bayi rewel dan menangis dengan nada tinggi

selama 24 jam setelah pemberian. Sementara itu bagi anak yang memiliki

riwayat kejang demam, kemungkinan bisa terjadi kejang namun pada kasus

ini sangat sedikit kejadiannya Depkes, (2017). Pada anak yang mempunyai

riwayat alergi, terutama alergi kulit, efek samping yang kadang muncul

ialah mengalami pembengkakan di bagian imunisasi beberapa lama

kemudian. Pembengkakan lokasi imunisasi setempat ini biasanya

menghilang sekitar 1-2 bulan (Maya dan Fida, 2012).

7
e. Penatalaksanaan

- Jika anak demam tinggi dan tidak kunjung reda setelah 2 hari, hendaknya

anak segera dibawa ke dokter.

- Orang tua dianjurkan untuk memberikan minum ASI lebih banyak

- Jika demam, berikan pakaian tipis.

- Bekas suntikan yang nyeri, dapat diberikan kompres air hangat

- Anak boleh diseka dengan air hangat

- Jika reaksi imunisasi demam tinggi, bayi rewel terus menerus, anjurkan

ibu untuk pergi ke dokter atau bidan terdekat.

5. Vaksin Polio

a. Pengertian

Imunisasi polio adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan

kekebalan terhadap penyakit poliomielitis, yaitu penyakit radang yang

menyerang saraf dan dapat mengakibatkan lumpuh kaki.

b. Pemberian Imunisasi dan Usia pemberian imunisasi

Vaksin polio diberikan empat kali, yakni saat 1 bulan, kemudian

dilanjutkan pada bulan ke 2, 3, dan 4. Dengan interval minimal 1 bulan.

c. Dosis imunisasi dan Cara pemberian

Pemberian imunisasi ini melalui oral dengan 1 dosis ( 2 tetes)

sebanyak 4 kali pemberian.

8
d. Efek Samping

Efek samping dari imunisasi ini biasanya jarang terjadi,setelah

mendapatkan vaksin polio lewat oral biasanya bayi seperti minum biasa.

Namun apabila bayi muntah selama 30 menit segera diberi vaksin ulang

e. Penatalaksanaan

- Apabila setelah diberikan vaksin polio dan bayi muntah maka ibu wajib

melaporkan ke petugas kesehatan terdekat.

- Jika anak diare dan disertai demam maka anjurkan orang tua untuk

membawa ke pelayanan kesehatan terdekat

5. Vaksin MR

a. Pengertian

Vaksin MR merupakan kombinasi vaksin campak

atau Measles (M) dan Rubella vaksin ini diberikan untuk

mencegahterjadinya penyakit yang disebabkan oleh virus campak dan

rubella. Seperti diketahui, campak dan rubella merupakan penyakit

infeksi menular yang disebabkan oleh virus. Penularan kedua penyakit

ini biasanya melalui saluran nafas, terutama dari kontak langsung dengan

penderita yang terinfeksi melalui batuk atau bersin (IDAI, 2017).

b. Pemberian Imunisasi

Imunisasi ini diberikan untuk mencegah penyakit campak dan rubella

9
c. Usia Pemberian Imunisasi

Imunisasi MR ini dilakukan pada usia anak 9 bulan dan

dianjurkan untuk melakukan imunisasi sesuai jadwal. Maksimal

pemberian imunisasi ini jika usia anak sampai < 12 bulan.

d. Dosis imunisasi dan Cara Pemberian

Dosis imunisasi campak 0,5 ml disuntikan secara subkutan pada

lengan kiri atas atau anterolateral paha, pada usia 9-12 bulan maksimal.

e. Efek Samping

Pada umumnya, imunisasi campak tidak memiliki efek samping dan relatif

aman diberikan. Meskipun demikian, pada beberapa anak vaksin campak bisa

menyebabkan demam ringan dan diare. Namun, kasusnya sangat kecil. Biasanya,

demam berlangsung sekitar 1 [Link] ada pula efek kemerahan mirip

campak selama 3 hari. Dalam beberapa kasus, efek samping campak diantaranya

adalah demam tinggi yang terjadi setelah 8-10 hari setelah vaksinasi dan

berlangsung selama 24-48 jam (insidens sekitar 2 %) dan ruam atau bercak-

bercak merah sekitar 12 hari (insidens sekitar 2 %). Efek samping lainnya yang

lebih berat ialah ensefalitis (Radang otak). Tetapi, kasus ini sangat jarang terjadi;

kurang dari 1 dari setiap 1-3 juta dosis yang diberikan (Fida dan Maya, 2012).

d. Penatalaksanaan

- Orang tua dianjurkan memberikan minum ASI lebih banyak.

- Jika demam kenakan pakaian tipis

- Jika demam dan suhu nya terus meningkatkan anjurkan orang tua

membawa ke pelayanan kesehatan

10
- Jika anak diare dan disertai demam maka anjurkan orang tua untuk

membawa ke pelayanan kesehatan terdekat.

6. Vaksin IPV

a. Pengertian

Imunisasi polio suntik atau inactivated polio vaccine (IPV) yang

menggunakan poliovirus yang sudah dinonaktifkan, kemudian diberikan

melalui suntikan.

b. Pemberian Imunisasi dan Usia Pemberian Imunisasi

Imunisasi ini diberikan untuk mencegah penyakit polio dan pemberian

imunisasi ini pada usia 4 bulan

c. Dosis imunisasi dan Cara Pemberian

Dosis pemberian imunisasi IPV polio: 0,5 ml vaksin polio suntikan

intramuskular

d. Efek Samping

- Sedikit bengkak dan kemerahan di tempat suntikan.

- Pengerasan kulit pada tempat suntikan, yang biasanya cepat hilang.

- Kadang-kadang terjadi peningkatan suhu (demam) beberapa jam

setelah injeksi.

e. Penatalaksanaan

- Orang tua dianjurkan memberikan minum ASI lebih banyak.

- Kompres jika mengalami demam

- Kompres hangat di area penyuntikan jika timbul kemerahan

11
- Jika anak diare dan disertai demam maka anjurkan orang tua untuk

membawa ke pelayanan kesehatan terdekat

2.1.5 Penyakit- Penyakit Yang Dapat Dicegah Imunisasi

1. Tuberkulosis

Gambar 2.1 Anak dengan penyakit TBC ([Link], 2016)

Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular langsung yang

disebabkan oleh kuman TB (MycobacteriumTuberculosis). Penyakit TBC ini

dapat menyerang semua golongan umur dan diperkirakan 90 % penderita TBC

berada di Negara Berkembang

2. Difteri

Gambar 2.2 Dengan Penyakit Difteri ([Link], 2016)

Difteri adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium

diphteriae, yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta

12
dapat mempengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi

serius yang berpotensi mengancam jiwa. Penyebaran difteri sendiri bisa

melalui partikel di udara, benda pribadi, peralatan rumah tangga yang

terkontaminasi, serta menyentuh luka yang terinfeksi kuman difteri.

3. Pertusis

Pertusis (atau batuk rejan) merupakan penyakit yang disebabkan oleh

bakteri Bordetella [Link] saluran pernafasan yang dapat menimbulkan

kematian karena komplikasi yang serius, seperti peradangan paru-paru

sehingga dapat mengakibatkan kerusakan pada paru-paru bisa juga terjadi

pendarahan pada organ tertentu termasuk otak.

4. Tetanus

Gambar 2.3 Dengan Penyakit Tetanus ([Link], 2010)

Penyakit tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman bakteri

Clostridium Tetani. Kuman tetanus ini menghasilkan racun yang

mempengaruhi sistem jaringan syaraf yang menyebabkan rasa nyeri. Umumnya

otot rahang dan sekitar leher yang diserangnya.

13
5. Poliomielitis

Gambar 2.4 Dengan Penyakit Poliomielitis (Ahza [Link], 2016)

Poliomyelitis (polio) adalah penyakit yang sangat menular yang

disebabkan oleh virus [Link] menyerang sistem saraf, dan dapat

menyebabkan kelumpuhan atau bahkan kematian.

6. Campak

Gambar 2.5 Dengan Penyakit Campak ([Link], 2013)

Campak atau meales adalah merupakan penyakit yang disebabkan oleh

virus campak dan termasuk penyakit akut dan sangat menular. Virus ini

menyerang hampir semua anak kecil, penyebaran virus ini melalui saluran

pernafasan yang keluar saat penderita bernafas, batuk dan bersin (droplet).

14
7. Hepatitis B

Penyakit hepatitis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus

hepatitis B. Prioritas pencegahan terhadap penyakit ini yaitu melalui pemberian

imunisasi hepatitis pada bayi dan anak-anak.

Ga

ar

2.6

De

ngan Penyakit Hepatitis ([Link], 2016)

8. Flu

Flu adalah penyakit menular umum yang disebabkan oleh virus, juga

dikenal sebagai influenza. Flu sering salah dianggap seperti pilek biasa karena

mempunyai gejala – gejala yang sama. Namun, virus yang menyebabkan flu

berbeda dari pilek dan flu cenderung lebih serius. Bahkan, flu parah dapat

membahayakan nyawa.

9. Pneumonia

Pneumonia atau dikenal juga dengan istilah paru-paru basah adalah

infeksi yang mengakibatkan peradangan pada kantong-kantong udara di salah

satu atau kedua paru-paru. Pada penderita pneumonia, sekumpulan kantong-

kantong udara kecil di ujung saluran pernapasan dalam paru-paru (alveoli) akan

15
meradang dan dipenuhi cairan atau nanah. Akibatnya, penderita mengalami

sesak napas, batuk berdahak, demam, atau menggigil.

10. Diare

Diare adalah penyakit yang membuat penderitanya menjadi sering buang

air besar, dengan kondisi tinja yang encer. Pada umumnya, diare terjadi

akibat makanan dan minuman yang terpapar virus, bakteri, atau parasit.

2.1.6 Jadwal Imunisasi Dasar Lengkap

Tabel 2.1 Jadwal Imunisasi Dasar Lengkap

(Menurut Buku KIA, 2018 )


Sumber : [Link].

UMUR 18 24
(BULAN)
Vaksin Tanggal Pemberian Imunisasi
***DPT-HB-
Hib Lanjutan
***MR
Lanjutan

2.2 Konsep Ibu

2.2.1 Definisi Ibu

16
Menurut Suprajitno (2014) ibu adalah orang tua dan tempat pertama

dimana anak mendapatkan pengasuh dan pendidikan. Apabila ibu memahami

dan ingin melaksanakan tugas serta tanggung jawab dalam mendidik dan

menjaga anak dengan baik, maka lahirlahgenerasi yang baik, generasi yang

unggulan dan tumbuh menjadi seseorang yang berbudi luhur, bertanggung

jawab, dan berbakti pada orang tua.

Ibu adalah orang tua yang paling memiliki ikatan batin yang erat dengan

anak, karena sejak dalam kandungan hingga menjadi seorang anak yang dewasa

ibu yang merawat dan membesarkan anak, ibu yang sering bertemu dengan

anak, perilaku anak dapat ditentukan oleh sikap dan pola asuh ibu dalam

lingkungan keluarga

2.2.2 Peran Ibu Dalam Kesehatan Keluarga

Ibu sebagai anggota keluarga, juga sebagai istri dan ibu dari anak-

anaknya. Ibu mempunyai tugas dalam kesehatan keluarga, menurut Bailon dan

Maglaya (1998) dalam buku Ferry & Makhfudli (2013) yang diantaranya

yaitu :

1. Mengenal masalah kesehatan

2. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat

3. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit

4. Memodifikasi lingkungan atau menciptakan suasana rumah yang sehat

5. Merujuk pada fasilitas kesehatan masyarakat

2.2.3 Peran Ibu Terhadap Anak

17
Menurut Singgih Gunarsa (2012), Peran ibu terhadap anak dibagi

menjadi 5 peran diantaranya adalah peran ibu sebagai pengasuh, peran sebagai

pendidik, peran sebagai teladan, peran sebagai manajer, dan peran sebagai

pemberi rangsangan/pelajaran.

1. Peran ibu sebagai pengasuh.

2. Peran Ibu sebagai pendidik

3. Peran ibu sebagai contoh dan teladan.

2.3 Konsep Perilaku

2.3.1 Definisi Perilaku

Perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk

hidup) yang bersangkutan, oleh sebab itu dari sudut pandang biologis semua

makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai manusia itu

berperilaku, karena mempunyai aktivitas masing-masing. Pada hakikatnya

perilaku manusia adalah tindakan atau aktivitas dari manusia yang mempunyai

bentangan sangat luas antara lain berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja,

kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat diketahui

bahwa perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat

diamati langsung, maupun tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo,

2012).

2.3.2 Bentuk Perilaku


Menurut Notoatmodjo (2012), dilihat dari bentuk respons terhadap

stimulus, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

1. Perilaku tertutup (covert behavior)

18
Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih

belum bisa diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon seseorang masih

terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, dan sikap terhadap stimulus

yang bersangkutan.

2. Perilaku Terbuka (Overt behaviour)

Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau

terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan

atau praktik yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.

2.3.3 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku


Menurut Notoatmodjo (2012), faktor yang mempengaruhi perilaku adalah :

a. Umur

Semakin bertambahnya umur, pengalaman hidupnya juga semakin

banyak, maka diharapkan dengan pengalaman yang dimiliki perilaku

orang tersebut juga positif.

b. Intelegensi

Seseorang yang memiliki intelegensi tinggi akan lebih cepat menerima

informasi.

c. Tingkat Emosional

Seseorang yang sedang dalam keadaan emosi cenderung tidak terkontrol

sehingga akan mempengaruhi perilakunya.

d. Lingkungan

Seseorang yang bergaul dengan lingkungan orang-orang yang

mempunyai pengetahuan tinggi maka akan secara langsung atau tidak

langsung pengetahuan yang dimiliki akan bertambah, dan perilakunya

19
akan lebih baik. Orang yang bertempat tinggal di lingkungan yang keras

tentu akan berpengaruh terhadap perilaku kesehatan keseharian.

e. Pendidikan
Seseorang yang memiliki pendidikan yang tinggi cenderung memiliki
perilaku yang otomatis positif karena sebelum melakukan sesuatu orang
tersebut pasti akan berpikir secara matang dan dapat tahu apa akibat yang
akan ditimbulkan.
f. Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang.
g. Kebudayaan
Kebudayaan merupakan suatu hasil berinteraksi antar manusia dalam
wilayah tertentu. Sehingga orang tinggal di wilayah itu perilakunya
sedikit demi sedikit akan menyesuaikan sesuai dengan kebudayaan di
wilayah tersebut.

Menurut Notoatmodjo (2012), perilaku adalah bentuk respons atau reaksi

terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme, namun dalam memberikan

respons sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang

yang bersangkutan. Faktor-faktor yang membedakan respons terhadap stimulus

yang berbeda disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dibedakan

menjadi dua, yaitu:

1. Determinan atau faktor internal, yaitu karakteristik orang yang bersangkutan

bersifat given atau bawaan. Contoh dari faktor internal adalah tingkat

kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.

2. Determinan atau faktor eksternal, yaitu lingkungan fisik, sosial budaya,

ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan eksternal merupakan

faktor yang dominan mewarnai perilaku seseorang.

20
Dari uraian diatas dapat dirumuskan perilaku adalah totalitas

penghayatan atau aktivitas seseorang yang merupakan hasil dari berbagai faktor,

baik faktor internal maupun faktor [Link] manusia sangat kompleks

dan mempunyai bentangan sangat luas.

Benyamin Bloom pada tahun 1908, membagi perilaku manusia ke dalam

3 (tiga) domain, ranah atau kawasan yakni : 1) kognitif (cognitive), 2) afektif

(affective), 3) psikomotor (psychomotor). Dalam perkembangannya, teori ini

dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan, yaitu (Notoatmodjo,

2012):

1. Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2012) bahwa pengetahuan merupakan hasil

tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap

suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera,

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar

pengetahuan merupakan hal yangsangat utuh terbentuknya tindakan

seseorang (overt behavior) karena dalam penelitian ternyata perilaku

yang didasari oleh pengetahuan akan langgeng daripada perilaku yang

tidak didasari oleh [Link] yang tercakup dalam

domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu:

a. Tahu (know)

21
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari [Link] ke dalam pengetahuan tingkat

ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang

spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang

paling rendah. Contoh: dapat menyebutkan manfaat dari

pemeriksaan kehamilan.

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan

secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang

telah paham terhadap objek atau materi tersebut harus dapat

menjelaskan, menyebutkan, contoh: menyimpulkan,

meramalkan dan sebagaimana terhadap objek yang dipelajari.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya.

Aplikasi ini dapat diartikan atau penggunaan hukum-hukum,

rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau

situasi yang lain.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di

dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya

22
satu sama lain. Kemampuan analisi ini dapat menggambarkan,

membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu

bentuk yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu

kemampuan untuk menyusun formulasi baru dan formulasi-

formulasi yang ada.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau

[Link]-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang

ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah

[Link], dapat membandingkan antara anak yang cukup

gizi dengan anak yang kekurangan gizi, dapat menanggapi

terjadinya diare di suatu tempat, dapat menafsirkan sebab-sebab

mengapa ibu-ibu tidak mau ikut KB dan sebagainya.

2. Sikap

Sikap adalah bagaimana pendapat atau penilaian orang atau responden

terhadap hal yang terkait dengan kesehatan, sehat sakit dan faktorrisiko

kesehatan. Sikap merupakan suatu sindrom atau kumpulan gejala

dalammerespons stimulus atau objek sehingga sikap itu melibatkan

23
pikiran, perasaan, perhatian dan gejala kejiwaan yang lain (Notoatmodjo,

2012).

Menurut Allport pada tahun 1954 menjelaskan bahwa sikap

mempunyai tiga komponen pokok, yaitu:

1. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.

2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap objek.

3. Kecenderungan untuk bertindak.

Ketiga komponen itu secara bersama-sama membentuk suatu

sikap yang utuh (total attitude) dan dipengaruhi oleh pengetahuan,

pikiran, keyakinan dan emosi. Sikap mempunyai beberapa tingkatan,

diantaranya :

a. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa individu mau memperhatikan stimulus

yang diberikan berupa objek atau informasi tertentu.

b. Merespon (responding)

Pada tingkat ini individu akan memberikan jawaban apabila

ditanya mengenai objek tertentu dan menyelesaikan tugas yang

diberikan. Usaha individu untuk menjawab dan menyelesaikan

tugas yang diberikan merupakan indikator bahwa individu

tersebut telah menerima ide tersebut terlepas dari benar atau salah

usaha yang dilakukan oleh individu tersebut.

c. Menghargai (valuing)

Pada tingkat ini individu sudah mampu untuk mengajak orang

24
lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah,

berarti individu sudahmempunyai sikap positif terhadap suatu

objek tertentu.

d. Bertanggung jawab (responsible)

Pada tingkat ini individu mampu bertanggung jawab dan siap

menerima resiko dari sesuatu yang telah [Link] ini

merupakan sikap tertinggi dalam tingkatan sikap seseorang untuk

menerima suatu objek atau ide baru.

3. Praktik atau tindakan

Suatu sikap belum semuanya terwujud dalam suatu tindakan

(overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan

nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang

memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Sesudah seseorang

mengetahui sebuah stimulus atau objek kesehatan, kemudian

mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses

selanjutnya diharapkan akan melaksanakan atau mempraktekkan apa

yang diketahui atau disukainya yang disebut praktik (practice)

kesehatan.

2.3.5 Pengukuran Perilaku

Alat ukur adalah cara pengumpulan data, dalam penelitian ini peneliti

mengumpulkan data menggunakan kuesioner. Menurut Setiadi (2013), kuesioner

adalah suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengedarkan

suatu daftar pertanyaan yang berupa formulir. Menurut Nursalam (2015),

25
kuesioner adalah pengumpulan data secara formal kepada subjek untuk

menjawab pertanyaan secara tertulis. Pertanyaan yang diajukan dapat juga

dibedakan menjadi pertanyaan terstruktur, subjek hanya menjawab sesuai

dengan pedoman yang sudah ditetapkan dan tidakterstruktur, yaitu subjek

menjawab secara bebas tentang sejumlah pertanyaan yang diajukan secara

terbuka oleh peneliti.

1. Data pengetahuan

Menurut Nursalam (2015), kuesioner pengumpulan data pengetahuan

menggunakan cara dichotomy question yaitu hanya terdapat dua pilihan

jawaban. Kuesioner yang telah terkumpul kemudian dilakukan pengelolaan

data dengan memberikan skor dan penilaian. Data pengetahuan setiap satu

item pertanyaan positif diberi nilai 1 jika benar dan 0 jika salah. Data

pengetahuan setiap satu item pertanyaan Negatif diberi nilai 0 jika benar dan

1 jika salah.

Menurut Setiadi (2013), hasil perolehan skor pengetahuan kemudian

dipresentasikan dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

P : Presentase

F : Jumlah jawaban yang

benar N : Jumlah skor

maksimal

Menurut Nursalam (2015), hasil prosentase tingkat pengetahuan

dikategorikan ke dalam klasifikasi berikut ini:

Tingkat pengetahuan Ibu baik : 76%-100%

26
Tingkat pengetahuan Ibu cukup : 56%-75%

Tingkat pengetahuan Ibu kurang : <56%

2. Data sikap

Menurut Nursalam (2015), kuesioner pengumpulan data sikap ini

menggunakan cara multiple choice yaitu terdapat jawaban lebih dari dua.

Menurut Setiadi (2013), skala pengukuran data sikap ini menggunakan Likert

skala yang terdiri dari lima jawaban, yaitu:

Pertanyaan positif :

- Sangat setuju : nilai 4

- Setuju : nilai 3

- Ragu-ragu : nilai 2

- Kurang setuju: nilai 1

- Tidak setuju : nilai

0 Pertanyaan negatif :

- Sangat setuju : nilai 0

- Setuju : nilai 1

- Ragu-ragu : nilai 2

- Kurang setuju: nilai 3

- Tidak setuju : nilai 4

Kemudian diperhitungkan dengan rumus sebagai berikut :

Rumus : T = 50 + 10 [ ]
Keterangan :
x = Skor responden

27
x = Mean skor kelompok

s = Deviasi standar skor kelompok


Kemudian hasil tersebut dilakukan perhitungan jika :
1. Sikap dikatakan positif jika skor T > mean nilai skor responden

2. Sikap dikatakan negatif jika skor T mean < nilai skor responden

3. Data tindakan

Cara mengukur tindakan dengan menggunakan kuesioner. Kategori

respon terdiri dari “ya” atau” tidak” untuk item pertanyaan. Pada item

pertanyaan positif nilainya 1 bila jawaban “ya” dan 0 jika jawaban “tidak”. Pada

item pertanyaan negatif nilainya 0 bila jawaban “ya” dan 1 jika jawaban “tidak”.

Pengukuran tingkat tindakan dapat dikategorikan menggunakan skala

pengukuran ordinal dengan kategori baik (76-100%), Cukup (56-75%), dan

kurang (<56%).

2.4 Konsep Pendidikan Kesehatan

2.4.1 Definisi Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan adalah merupakan komponen program kesehatan

(kedokteran) yang isinya perencanaan untuk perubahan perilaku individu,

kelompok dan masyarakat sehubungan dengan pencegahan penyakit, penyembuhan

penyakit dan pemulihan kesehatan (Steuart : 1968 dalam Buku Sinta Fitriani, 2011).

2.4.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan

Jika dilihat dari pengertian diatas, tujuan dari pemberian pendidikan

kesehatan menurut Sinta Fitriani, (2011) :

28
1. Berdasarkan WHO tujuan pendidikan kesehatan untuk mengubah perilaku

orang atau masyarakat dari perilaku yang tidak sehat atau belum sehat

menjadi sehat.

2. Mengubah perilaku yang kaitannya dengan budaya. Sikap dan perilaku

merupakan bagian dari budaya. Kebudayaan adalah kebiasaan, adat istiadat,

tata nilai atau norma

2.4.3 Sasaran Pendidikan Kesehatan

Sasaran pendidikan kesehatan di Indonesia, berdasarkan kepada program

pembangunan Indonesia, adalah :

1. Masyarakat Umum dengan berorientasi pada masyarakat pedesaan.

2. Masyarakat dalam kelompok tertentu, seperti wanita, pemuda dan

3. remaja. Termasuk dalam kelompok khusus ini adalah kelompok lembaga

pendidikan kesehatan mulai dari TK sampai perguruan tinggi, sekolah swasta

maupun negeri

4. Sasaran individu dengan teknik pendidikan kesehatan individual.

2.4.4 Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan

Menurut Sinta Fitriani (2011) ruang lingkup Pendidikan kesehatan dapat dari

berbagai dimensi yaitu

1. Dimensi menurut sasaran

Dimensi sasaran masih dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

a. Pendidikan kesehatan individual dengan individu

b. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok.

c. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat yang luas

29
2. Dimensi menurut tempat pelaksanaanya

Pendidikan kesehatan menurut tempat pelaksanaanya terdapat di

berbagai tempat dengan sasaran juga berbeda pula yaitu :

a. Pendidikan kesehatan disekolah dengan sasaran murid

b. Pendidikan kesehatan di rumah sakit atau puskesmas dengan sasaran

pasien dan keluarga pasien.

c. Pendidikan kesehatan di tempat kerja dengan sasaran karyawan atau

buruh yang bersangkutan

3. Dimensi menurut tingkat pelayanan kesehatan

Dimensi pendidikan kesehatan menurut tingkat pelayanannya

dilakukan berdasarkan 5 tingkat pencegahan dari Leavel dan Clark

a. Promosi kesehatan

b. Perlindungan khusus

c. Diagnosis dini dan pengobatan segera

d. Pembatasan kecacatan

e. Rehabilitasi

2.4.5 Media Dalam Pendidikan Kesehatan

Menurut Sinta Fitriani (2011), media dalam pendidikan kesehatan pada

hakekatnya adalah alat bantu pendidikan (AVA), media menjadi 3 bagian yaitu :

a. Media Cetak

30
1. Booklet : Suatu media untuk menyimpan pesan-pesan kesehatan dalam

bentuk buku, baik tulisan maupun gambar.

2. Leaflet : Bentuk penyampaian informasi atau pesan-pesan kesehatan

melalui lembaran yang dilipat. Isi informasi dapat dalam bentuk kalimat

maupun gambar.

3. Flip Chart : Media penyampaian pesan atau informasi kesehatan dalam

bentuk lembar balik. Biasanya dalam bentuk buku dimana tiap

lembaran berisi gambar peragaan dan dibaliknya diisi kalimat sebagai

pesan.

4. Poster : Bentuk media cetak berisi pesan / informasi kesehatan yang

biasanya ditempel di tembok-tembok,ditempat umum, atau di

kendaraan umum.

5. Rubrik atau tulisan –tulisan kesehatan atau majalahmengenai bahasan

suatu masalah kesehatan atau hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.

6. Flyer (selembaran): Seperti leaflet namun dalam bentuk lipatan.

b. Media Elektronik

1. Televisi

Penyampaian pesan atau informasi-informasi kesehatan melalui

media televisi dapat dalam bentuk sandiwara, sinetron, forum diskusi

atau tanya jawab seputar masalah kesehatn, pidato, TV spot, quiz, dan

sebagainya.

31
2. Radio

Penyampaian informasi atau pesan kesehatan melalui radio juga

dapat berbentuk macam-macam antara lain obrolan ( tanya-jawab),

ceramah, radio spot dan sebagainya.

3. Vidio

Penyampaian informasi atau pesan kesehatan yang biasanya

berbentuk slideshare atau film strip

c. Media Papan (Billboard)

Papan billboard yang dipasang ditempat-tempat umum dapat dipakai dan

diisi dengan pesan-pesan atau informasi kesehatan. Media papan disini juga

mencakup pesan-pesan yang ditulis di lembaran yang ditempel pada

kendaraan umum misalnya bus atau taksi dan sebagainya

32

Anda mungkin juga menyukai