0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan50 halaman

Strategi Kepala Madrasah Tingkatkan Kinerja Guru

Proposal penelitian ini berjudul 'Strategi Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional dan Kinerja Guru di MTS Negeri 1 Kendari' yang disusun oleh Yus’An. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kualitas guru, dengan fokus pada kompetensi profesional dan kinerja guru. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan dan manajemen pendidikan Islam.

Diunggah oleh

sucisaputri252
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan50 halaman

Strategi Kepala Madrasah Tingkatkan Kinerja Guru

Proposal penelitian ini berjudul 'Strategi Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional dan Kinerja Guru di MTS Negeri 1 Kendari' yang disusun oleh Yus’An. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kualitas guru, dengan fokus pada kompetensi profesional dan kinerja guru. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan dan manajemen pendidikan Islam.

Diunggah oleh

sucisaputri252
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STRATEGI KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN

KOMPETENSI PROFESIONAL DAN KINERJA GURU DI MTS NEGERI


1 KENDARI

PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Seminar Proposal Penelitian
Pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam

OLEH:

Yus’An
18010103010

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
KENDARI
2023

i
KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KENDARI
FAKULTAS MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
Jln. Sultan Qaimuddin No.17 Kelurahan Baruga – Kota Kendari Telp (0401) 3193710
Faksimili (041) 3193710 E-mai iainkendari@[Link]
Website: http//[Link]

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Proposal penelitian yang berjudul “STRATEGI KEPALA MADRASAH

DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL DAN

KINERJA GURU DI MTS NEGERI 1 KENDARI”,yang disusun oleh saudara

Yus’An, NIM.18010103010, Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan

Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Institut Agama Islam

Negeri (IAIN) Kendari, telah dikonsultasikan dan disetujui oleh pembimbing

dengan beberapa perbaikan, selanjutnya dapat melaksanakan ujian hasil.

Demikian persetujuan ini diberikan untuk proses selanjutnya.

Kendari,....................,2023

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL...................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING......................... ii

DAFTAR ISI................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang................................................................. 1


1.2 Fokus Penelitian............................................................... 6
1.3 Rumusan Masalah............................................................ 6
1.4 Tujuan Penelitian.............................................................. 7
1.5 Manfaat Penelitian........................................................... 7
1.6 Definisi Operasional......................................................... 8
1.7 Sistematika Pembahasan................................................. 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu yang Relavan.................................. 10


2.2 Landasan Teori................................................................. 14
2.2.1.................................................................................Str
ategi Kepala Madrasah............................................. 14
2.2.2.................................................................................Ko
mpetensi Profesional Guru........................................ 21
2.2.3.................................................................................Kin
erja Guru................................................................... 28
2.3 Kerangka Pikir.................................................................. 34

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian.................................................................... 36


3.2 Waktu dan Tempat Penelitian.......................................... 36
3.3 Data dan Sumber Data..................................................... 37
3.4 Teknik Pengumpulan Data.................................................................... 38
3.5 Teknik Analisis Data......................................................... 40
3.6 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data..................................................... 42

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 44

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Lembaga pendidikan merupakan salah satu lembaga yang harus ada di

dalam negeri dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Lembaga nonformal, informal,

dan formal adalah tempat dimana pengetahuan dan budaya ditransfer melalui

praktik pendidikan. Dalam transfer ilmu ataupun budaya yang menjadi salah

satu tolok ukur berhasilnya proses transfer (pembelajaran) tersebut adalah

kualitas dari seorang guru (Farikhah, 2015).

Guru merupakan salah satu penentu keberhasilan lembaga pendidikan

dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Kedudukan guru memegang

peranan penting dalam perkembangan pendidikan, khususnya pendidikan

formal di sekolah. Guru juga merupakan salah satu indikator kunci

keberhasilan siswa, terutama dalam pembelajaran (Jannah, 2017).

Selain seseorang pengajar, Kepala madrasah (sekolah) juga merupakan

seorang pengajar yg diberi tugas tambahan sebagi pemimpin yg sebagai

pengendali pada sebuah forum pendidikan. & adalah komponen pendidikan yg

paling berperan pada menaikkan kualitas pendidikan. Kiprah & fungsi kepala

madrasah dalam meningkatkan profesionalitas dan kinerja pengajar sangat

penting. Kepala madrasah merupakan kunci keberhasilan dalam melaksanakan

manajemen pendidikan (Ridho, 2022).

Kepala sekolah atau madrasah menjadi subjek utama yang sangat

berperan penting terhadap kemajuan sekolah atau madrasah. Apakah praktik

manajemen pendidikan itu disebut baik atau tidak, tergantung bagaimana

1
kepala sekolah atau madrasah dalam mengatasi masalah-masalah yang

dihadapi. Di dalam sekolah atau madrasah terdapat manajmen berbasis

sekolah yang dipimpin langsung oleh kepala sekolah atau madrasah (Ridho,

2022). Kepala sekolah atau madrasah adalah komponen utama dalam

meningkatkan kualitas pendidikan sebagaimana yang tercantum dalam

peraturan pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 Pasal 20 Ayat 1 bahwa “Kepala

sekolah atau madrasah sangat bertanggung jawab terhadap keberlangsungan

kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan terhadap guru dan

pemeliharaan sarana prasaran yang ada di sekolah atau madrasah”.

Sebagai pemimpin di sebuah lembaga, Kepala madrasah harus mampu

membawa lembaga tersebut ke arah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Ia harus melihat adanya perubahan serta mampu melihat dan merespon

tantangan masa depan ke arah yang lebih baik. Sehingga, Kepala madrasah

mampu memberdayakan Guru, Tenaga Kependidikan dan seluruh warga

sekolah untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas, lancar dan

Produktif (Rasyid, 2021).

Salah satu standarisasi kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala

madrasah adalah merencanakan program akademik, melaksanakan, dan

menindaklanjuti program akademik tersebut. Oleh karena itu, kepala madrasah

harus mampu menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai kepala

madrasah, meliputi: pendidik (educator), manajer, administrator, supervisor,

pemimpin (leader), inovator, dan motivator (Kompri, 2017).

Kepala madrasah harus serius membina tenaga pendidik atau guru

dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama. Kepala

2
madrasah dapat langsung membantu guru mengembangkan kemampuannya

mencapai tujuan pengajaran yang ditentukan bagi murid-murid dan juga

peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar serta memberikan

bimbingan bagi guru yang mengalami kesulitan atau kendala di lapangan.

Pembinaan yang baik, sabar dan terampil berkomunikasi, prilaku yang patut

untuk dicontoh, mampu mengambil tindakan yang bijaksana, menetapkan

pengamatan, memberi saran atau alternatif serta menindak lanjuti program

yang telah dicanangkan. Sehingga kepala madrasah selaku pemimpin memiliki

peranan sangat besar dalam meningkatkan kompetensi dan kinerja guru.

Guru sebagai tenaga pendidik dalam pendidikan memegang peranan

penting dalam mewujudkan keberhasilan tujuan lembaga pendidikan yang

berkualitas. Guru dituntut mampu melaksanakan program kegiatan

pembelajaran sekolah sesuai dengan kualifikasi profesinya. Oleh karena itu,

Guru adalah merupakan pendidik profesional yang tidak hanya memiliki tugas

mengajar, akan tetapi juga memiliki tugas untuk mendidik, membimbing,

mengarahkan dan melatih serta menilai dan mengevaluasi hasil proses

pembelajaran (Baharun, 2017).

Kinerja guru yang baik adalah hal yang sangat diharapkan baik oleh

lembaga maupun oleh peserta didik. Kinerja guru yang baik juga di pengaruhi

oleh kompetensi yang dimilikinya (Susanto, 2021). Maka dari itu disebutkan

dalam Undang-Undang No 14 Tahun 2005 Pasal 10 Ayat (1) tentang guru dan

dosen mengamanatkan bahwa guru harus memiliki kompetensi peadagogik,

kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

3
Keempat kompetensi tersebut bersifat holistik yang merupakan satu kesatuan

yang menjadi ciri guru profesional.

Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sudah pasti

membutuhkan persiapan-persiapan, waktu, biaya, sarana dan prasarana,

metode dan lain sebagainya. Berbagai hal yang telah dikeluarkan, untuk

kepentingan kegiatan pembelajaran tersebut tentu harus mendatangkan hasil

yang maksimal . Pendidik atau guru harus mampu memberikan pembelajaran

pada siswa yang mencakup; masukan mentah, artinya seorang guru harus

mampu merubah anak didiknya dari belum tahu menjadi tahu, proses belajar

mengajar, masukan-masukan (pendapat atau gagasan) dari lingkungan,

instrumen, dan hasil pembelajaran. Guru juga dituntut untuk memiliki

kompetensi pada bidang masing-masing serta keahlian yang dimilikinya.

Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah kompetensi

pedagogik, kepribadian, sosial, dan kompetensi profesional (Zubair et al.,

2017).

Selain itu, peran Kepala Sekolah yang efektif tentu akan

mempengaruhi kinerja guru, sehingga guru menjadi bersemangat dalam

menjalankan tugasnya. Hal ini disebabkan guru merasa mendapat perhatian,

rasa aman, dan pengakuan atas prestasi kinerjanya. Oleh karena itu Kepala

Sekolah harus mempunyai strategi- strategi dalam upaya meningkatkat kinerja

guru, contoh kecilnya yaitu kepala madrasah harus bisa berbuat kebenaran dan

berbuat adil terhadap guru maupun terhadap staf -stafnya.

Kepala madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk memotivasi

para guru dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Upaya ini dapat

4
dilakukan oleh kepala madrasah melalui pengaturan lingkungan yang

harmonis, Kepala madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk

memotivasi para guru dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Upaya

ini dapat dilakukan oleh kepala madrasah melalui pengaturan lingkungan yang

harmonis, suasana kerja yang kondusif, disiplin, penghargaan dan hukuman

secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar sehingga guru dapat

meningkatkan kompetensinya professional dan kinerjanya (Iskandar, 2013).

Upaya Pengembangan kompetensi guru telah banyak dilakukan,

namun pada kenyataan dan pelaksanaannya masih dihadapkan pada berbagai

kendala, baik di lingkungan Depdiknas misalnya, adanya gejala kurang

keseriusannya dalam menangani permasalahan pendidikan, seperti juga dalam

menangani masalah guru. Gejala tersebut antara lain adanya

ketidaksinambungan antara program peningkatan peningkatan kualitas

pendidikan dan kualitas guru yang ditangani oleh berbagai direktorat di

lingkungan depdiknas, minimnya fokus dalam peningkatan kualitas guru, serta

minimnya penanganan yang dilakukan oleh para ahli. Sehingga tidak

menghasilkan perbaikan kualitas yang berkesinambungan (continuous quality

improvement) (Baharun, 2017).

Setelah dilakukan prapenelitian oleh peneliti ditemukan fakta

bahwasanya dari hasil interview dengan 10 orang siswa mengenai proses

belajar mengajar di sekolah, dan dari data yang didapatkan bahwasanya

menurut 10 orang siswa di Mts Negeri 1 Kendari, masih banyak guru yang

monoton dalam proses pembelajaran sehingga membuat sebagian murid kuang

memperhatikan, sehingga proses belajar mengajar tidak efektif.

5
Berdasarkan fenomena dan realita pendidikan di atas, maka penulis

tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dalam proposal yang berjudul

“Strategi Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kompetensi

Profesional Dan Kinerja Guru Di Mts Negeri 1 Kendari” Penelitian ini

berusaha untuk mengkaji dan menganalisis secara komprehensif dan

mendalam tentang strategi yang dilakukan kepala madrasah dalam

meningkatkan kompetensi profesional dan kinerja guru-guru di Mts Negeri 1

Kendari.

1.2 Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian di Mts Negeri 1

Kendari., fokus penelitian diarahkan pada strategi yang digunakan oleh kepala

madrasah di Mts Negeri 1 Kendari dalam meningkatkan kualitas guru yang

meliputi peningkatan terhadap kompetensi professional guru dan kinerja guru

Mts Negeri 1 Kendari.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti menemukan masalah

yang dijadikan suatu acuan dalam perumusan masalah, antara lain sebagai

berikut:

1. Bagaimana strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kompetensi

profesional guru di Mts Negeri 1 Kendari ?

2. Bagaimana strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja

guru di Mts Negeri 1 Kendari ?

6
1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka

tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui strategi kepala madrasah dalam meningkatkan

kompetensi profesional guru di Mts Negeri 1 Kendari.

2. Untuk mengetahui strategi kepala madrasah dalam meningkatkan

kinerja guru di Mts Negeri 1 Kendari.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Praktis

1. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan akan menambah wawasan bagi seorang

peneliti terhadap bagaimana strategi kepala madrasah dalam

meningkatkan kompetensi profesional dan kinerja guru di di Mts Negeri

1 Kendari, untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat kepala

madrasah.

2. Bagi Lembaga

Diharapkan dengan adanya penelitian ini mampu memberikan

sedikit pemikiran untuk kemajuan dan perkembangan kompetensi

profesional dan kinerja guru. Serta dapat berkontribusi memberikan

referensi atau acuan untuk meningkatkan kualitas guru melalui

rancangan dalam menata serta mengelola kegiatan belajar mengajar

dalam sebuah sistem yang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah.

7
3. Bagi Prodi Manajemen Pendidikan Islam

Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat dijadikan sebagai

dokumentasi program studi Manajemen Pendidikan Islam khususnya

dalam membahas strategi kepala madrasah, kompetensi profesional

guru, dan kinerja guru.

1.5.2 Manfaat Teoritis

Dengan penelitian ini, diharapkan dapat menambah literatur dan sumber

informasi serta sebagai bahan rujukan untuk penelitian lebih lanjut mengenai

tentang bagaimana strategi peningkatan kompetensi profesional dan kinerja

guru terutama terhadap pendidikan formal.

1.6 Definisi Operasional

1. Strategi Kepala Madrasah

Menurut pengertian peneliti, strategi kepala madrasah yaitu cara

atau upaya yang dilakukan oleh seorang kepala madrasah yakni

pemimpin di lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan dari lembaga

yang dipimpinnya.

2. Kompetensi profesional guru

Menurut pengertian peneliti, Kompetensi profesional guru

kemampuan, keahlian dan kepercayaan pada seseorang yang memegang

dan memberikan mata pelajaran disekolah dalam menumbuhkan dan

mengembangkan potensi peserta didik sehingga peserta didik terdorong

untuk memahami dan menguasai materi pelajaran. Kompetensi

profesional tersebut meliputi kepribadian, menyusun perencanaan

pembelajaran, penguasaan bahan, mengelola kelas, penggunaan metode

8
dan mendia yang bervariasi, memberikan nilai yang obyektif,

memberikan hadiah bagi yang berprestasi, memberikan pujian bagi

yang berprilaku baik.

3. Kinerja guru

Menurut pengertian peneliti, kinerja guru adalah sebuah hasil

kerja atau prestasi kerja yang dihasilkan oleh seorang guru, akan tetapi

kinerja guru guru tidak hanya terpaku pada hasil kerja dan prestasi

kerja, melainkan juga pada proses kerja. Artinya, bagaimana seorang

guru dalam menekuni atau melaksanakan pekerjaannya.

1.7 Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan yang menjadi langkah-langkah dalam proses

penyusunan tugas akhir ini selanjutnya yaitu:

BAB I. PENDAHULUAN

BAB ini berisi tentang latar belakang, fokus penelitian, rumusan masalah,

tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional dan sistematika

Pembahasan.

BAB II. TINJUAN PUSTAKA

Pada bab ini memuat uraian tentang penelitian terdahulu yang relavan,

landasan teori dan kerangka pikir.

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

Memuat secara rinci jenis penelitian, waktu dan tempat penelitian, data dan

sumber data yang digunakan, teknik pengumpulan data, teknik analisis data,

dan teknik pemeriksaan keabsahan data.

1.8

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu yang Relavan

Penelitian terdahulu menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan

penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori atau literatur yang

digunakan dalam mengkaji penelitian yang akan dilakukan. Penulis

mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam memperkaya bahan

kajian pada penelitian penulis. Untuk menghindari anggapan kesamaan

dengan penelitian yang akan dilakukan saat ini, maka dengan ini peneliti

mencantumkan hasil-hasil penelitian terdahulu. Berikut merupakan penelitian

terdahulu berupa beberapa karya tulis ilmiah terkait dengan penelitian yang

dilakukan penulis:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Afief Ma’ruf Al Rasyid, dengan judul

“Strategi Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kinerja

Guru Di Era Pandemi Covid 19 (Studi Kasus Di MI Tarbiyatul Mustafid

Batu Rimpang Tahun Pelajaran 2020/2021)”. Penelitian ini menemukan

bahwa (1) strategi kepala madrsah dalam meningkatkan kinerja guru di era

pandemi covid 19 adalah mengadakan pelatihan kepada guru dalam

membuat perencanaan pembelajaran dan model pembelajaran di era

pandemi covid 19, menugaskan guru untuk menyampaikan materi esensial

dengan kondisi pada masa covid 19 sesuai kurikulum dan mengikutkan

guru dalam MGMP, kepala madrasah melakukan pengawasan berupa

monitoring dalam proses pembelajaran dan menugaskan kepada guru

untuk membuat teks penilaian, menugaskan kepada guru untuk menjaga

10
komunikasi dengan peserta didik dan orang tua wali dalam proses

pembelajaran serta bersikap terbuka dan menekankan kedisiplinan. (2)

kinerja guru di era pandemi covid 19 adalah guru kurang disiplin dalam

proses pembelajaran, tidak membuat sebuah perencanaan dalam proses

pembelajaran, guru tidak variatif dalam menggunakan alat bantu aplikasi

pembelajaran daring, guru kurang dalam pengelolaan kelas dan guru

kurang komunikasi dengan orang tua wali peserta didik. (3) faktor-faktor

penghambat strategi kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan

kinerja guru di era pandemi covid 19 adalah tidak semua kebutuhan dapat

difasilitasi karna kekurangan dalam pembiayaan dan kurangnya

kemamampuan guru dalam mengatasi masalah karna tidak semua

berfrofesi sesuai dengan jurusan, faktor internal guru yang terbawa

kesekolah, seringnya guru merasa dipaksa yang menimbulkan kejenuhan

sehingga merasakan kurangya kasih sayang dan merasakan terlalu banyak

dikontrol. Dari upaya atau strategi tersebut dapat meningkatkan kinerja

guru di era pandemi covid 19 di MI Tarbiyatul Mustafid Batu Rimpang

(Rasyid, 2021).

2. Penelitian yang dilakukan oleh Anggi Lutfiyana, dengan judul “Strategi

Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kinerja Tenaga

Kependidikan Di Mts. Muallimin Univa Medan”. Hasil penelitian

mengungkapkan bahwa: 1) Strategi kepemimpinan kepala madrasah di

MTs. Muallimin Univa Medan adalah strategi kekeluargaan, dan juga

melakukan strategi dengan cara musyawarah atau kepemimpinan yang

demokratis. 2) Kinerja tenaga kependidikan di MTs. Muallimin Univa

11
Medan bahwasanya selama ini sudah berjalan cukup baik, walaupun masih

banyaknya kekurangan. Kinerja yang menurun diakibatkan karena faktor

usia dan saling menutupi kekurangan satu sama lain. 3) Strategi

kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja tenaga

kependidikan di MTs. Muallimin Univa Medan dengan melakukan strategi

pelatihan-pelatihan terhadapat tenaga kependidikan juga menyediakan

fasilitas sarana dan prasarana yang memadai. Kepala madrasah juga

melakukan penghargaan untuk memotivasi tenaga kependidikan. 4)

Kendala yang terjadi dalam strategi kepemimpinan kepala madrasah dalam

meningkatkan kinerja tenaga kependidikan di MTs. Muallimin Univa

Medan yaitu kekurangan tenaga ahli dan juga beberapa hari terakhir

kedisiplinan tenaga kependidikan sedit berkurang dikarenakan kesibukan

masing-masing (Lutfiyana, 2020).

3. Penelitian yang dilakukan oleh Sahrul Autory, dengan judul “Strategi

Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Di

Ma Mathla’ul Anwar Gisting”. Hasil yang didapat dari wawancara dan

observasi, strategi kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi

profesional guru di bidang pelaksanaan penataran, kepala sekolah

mengadakan pelatihan-pelatihan untuk memperdayakan kompetensi yang

dimiliki guru seperti mengikut sertakan guru ke pelatihan PLPG dan

kepala sekolah mengadakan pelatihan pengembangan kurikulum, strategi

pengeololaan kelas, tujuan dilakukan pelatihan ini untuk meningkatkan

profesional guru sebagai prilaku perubahan pembelajaran yang dilakukan

didalam kelas. Sedangkan strategi kepala sekolah dalam meningkatkan

12
kompetensi profesional guru MA Mathla’ul Anwar dengan melaksanakan

supervisi akademik, seperti membimbing guru dalam menyusun silabus

tiap bidang pengembangan di sekolah atau mata pelajaran di sekolahan

berlandasan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar biasanya

dalam sebuah rapat sekolah, disitulah kepala sekolah membimbing para

guru, membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi

pembelajaran yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa, dan

memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk

pembelajaran (Autory, 2019).

4. Penelitian yang dilakukan oleh Subakir, dengan judul “Strategi Kepala

Madrasah Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru MA Nurul Ulum

Kotagajah Lampung Tengah”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1)

strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru

yakni dengan memberikan motivasi kepada guru untuk melanjutkan studi

kejenjang yang lebih tinggi, menghimbau kepada dewan guru untuk

memanfaatkan fasilitas pembelajaran, membantu menyusun perangkat

pembelajaran, mengikutsertakan guru mengikuti kegiatan peningkatan

kompetensi guru; (2) strategi kepala madrasah dalam meningkatkan

kompetensi kepribadian guru yaitu dengan pengajian, paguyuban, dan

memberikan keteladanan kepada guru; (3) strategi kepala madrasah dalam

meningkatkan kompetensi sosial guru melalui acara gotong-royong,

Perkumpulan dengan keluarga besar yayasan, silahturahmi antar keluarga

guru, pengajian tiap bulan, menjenguk yang sakit, berinteraksi dengan

masyarakat, mengucapkan salam dan berjabat tangan; (4) strategi kepala

13
madrasah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru melalui

pengembangan profesional seperti MGMP, seminar, diklat, penulisan

karya ilmiah dan memanfaatkan fasilitas internet (Subakir, 2017).

5. Penelitian yang dilakukan oleh Zainur Ridho, dengan judul “Strategi

Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Di Madrasah

Tsanawiyah (Mts) Nurul Yaqin Klungkung Sukorambi Jember”. Adapun

hasil dari penelitian ini diantaranya: 1) Strategi yang digunakan oleh

kepala madrasah MTs Nurul Yaqin klungkung dalam meningkatkan

kinerja guru yang ada disana yaitu menggunakan strategi kekeluargaan

yang mana strategi ini merupakan bagian dari strategi fasilitatif. Kepala

madrasah menjadikan guru-guru sebagai keluarga sendiri. Yang dilakukan

oleh kepala madrasah yaitu mengadakan evaluasi rutin, pembinaan

pendidik dengan cara diikutkan pelatihan, serta pengawasan langsung

terhadap kinerja guru. 2) Dalam meningkatkan kinerja guru di MTs Nurul

Yaqin ada beberapa kendala yang dialami oleh kepla madrasah yaitu, latar

belakang guru yang bukan dari pendidikan, sehingga berpengaruh terhadap

pemahaman akan materi yang akan disampaikan. Faktor usia guru yang

sudah tidak muda lagi sehingga kurang produktif untuk menghasilkan

inovasiinovasi baru dalam mengajarnya (Ridho, 2022).

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Teori Strategi Kepala Madrasah

[Link] Pengertian Strategi

Secara bahasa strategi atau “strategos atau strategia” berasal dari kata

Yunani (Greek) yang berarti “General or Generalship” atau diartikan juga

14
sebagai sesuatu yang berkaitan dengan top manajemen pada suatu organisasi

(Suci, 2015). Strategi merupakan suatu rencana yang dibuat atau dirancang

sebelumnya untuk mendapatkan tujuan serta hasil yang diinginkan melalui

proses-proses tertentu dengan menggunakan jasa sumber daya manusia atau

suatu organisasi untuk mewujudkan strategi yang sudah dirancang sedemikian

rupa.

Istilah strategi dapat dikatakan sebagai seni juga sesuatu yang bisa

dipelajari sehingga strategi juga sebagai ilmu (Kurniawan, 2013). Dalam

membuat suatu siasat untuk mencapai tujuan, dalam bidang pendidikan dan

pengajaran orang juga suka menggunakan istilah strategi. Dihubungkan

dengan proses pembelajaran, strategi bisa diartikan sebagai cara atau pola

umum kegiatan guru-peserta didik dalam perwujudan kegiatan pembelajaran

untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan secara efektif dan

efisien (Lufri et al., 2020).

Strategi adalah adalah sebagai suatu proses penentuan rencana para

pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi,

disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut

dapat dicapai. Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremenial

(senantiasa meningkat) dan terus menerus, serta dilakukan berdasarkna sudut

pandang tentang apa yang di harapkan oleh para pelanggan di masa depan.

Dengan demikian, strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi

dan bukan dimulai dari apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar

yang baru dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti (core

competition) (Umar, 2001).

15
[Link] Pengertian Kepala Madrasah

Kepala madrasah berasal dari dua kata yaitu kepala dan Madrasah kata

kepala dapat diartikan “ketua” atau “pemimpin” dalam suatu organisasi atau

suatu lembaga, sedangkan “Madrasah” dari segi bahasa adalah sekolah, dan

madrasah dari segi istilah yaitu suatu lembaga dimana menjadi tempat

menerima dan memberi pelajaran (Purwanti, 2016).

Secara sederhana kepala madrasah dapat di definisikan sebagai seorang

tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu madrasah

dimana diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat dimana terjadi

interaksi antara guru guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima

pelajaran (Nasrun, 2016).

Menurut Daryanto, kepala madrasah merupakan personil sekolah yang

brtanggung jawab terhadap seluruh kegiatan-kegiatan sekolah, ia mempunyai

wewenang dan tanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan seluruh

kegiatan pendidikan dalam lingkungan sekolah yang dipimpinnya (Daryanto,

2014).

Kepala madrasah merupakan salah satu komponen pendidikan yang

paling berperan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang

diungkapkan Supardi “bahwa erat hubungannya antara mutu kepala madrasah

dengan aspek kehidupan madrasah seperti disiplin sekolah. Iklim budaya

sekolah dan menurunnya perilaku peserta didik”. Dari pada itu kepala

madrasah bertanggung jawab atas manajemen pendidikan secara mikro, yang

secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran di madrasah.

Sebagaimana dikemukakan dalam pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1990 bahwa

16
“kepala madrasah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan

pendidikan, administrasi madrasah, pembina tenaga pendidikan lainnya dan

pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana” (Mulyasa, 2003).

[Link] Bentuk-Bentuk Strategi Kepala Madrasah

Keberhasilan suatu organisasi ditentukan oleh kemampuan pimpinan

organisasi. Dalam konteks lembaga pendidikan yang menjadi pimpinan adalah

seorang kepala sekolah. yang dimaksud dengan kemampuan pimpinan yaitu

kemampuan menetapkan strategi yang tepat dalam menjalankan organisasinya

dan memanfaatkan lingkungan dengan memilih pengorganisasian sumber

daya internal yang tepat, ketepatan strategi yang ditetapkan pimpinan suatu

organisasi didasarkan pada pemikiran strategi yang dimilikinya dengan

pengalaman pembelajarannya dalam situasi lingkungan yang terus berubah.

Proses yang dilakukan orang yang ahli strategi tersebut digunakan sebagai

pemikiran strategi formal untuk panduan dalam menetapkan keputusan

manajemen (Sofian, 2013).

Menurut Lashway dalam Jerry, untuk mencapai kerjasama dari para

rekan kerja atau para anggota dan mencapai tujuan organisasi, saat ini kepala

sekolah memiliki tiga strategi yaitu:

1. Strategi Hirarki Kepala madrasah yang menggunakan strategi hierarki

cenderung memberikan cara pandang yang luas memberikan janjidan

efisiensi,memberikan penerimaan yang luas dalam mengelola

organisasinya, juga melakukan pengawasan serta rutinitas yang

direncanakan. Kepemimpinan kepala madrasah adalah berkaitan erat

dengan kepala madrasah sebagai perencana, pengalokasi,

17
sumberdaya, koordinator, supervisor, penyebar informasi dan sebagai

analisis.

2. Strategi Transformasional Dalam penggunaan strategi

transformasional, strategi transformasional berjalan atas ajakan

dengan bujukan, khayalan, dan kekaguman dalam bidang

pengetahuan, motivasi pegawai/bawahan melalui membagi visi, nilai

dan simbol. Pemimpin yang menerapkan strategi transformasional

lebih cepat menerima tujuan kelompok, memperhatikan harapan

kinerja tinggi, menciptakan kekaguman intelektual, dan menampilkan

model yang sesuai dengan perilaku mereka. Strategi transformasional

lebih mengarah kepada memotivasi serta memberikan informasi

kepada bawahan khususnya bila organisasi dalam melakukan

perubahan utama.

3. Strategi Fasilitatif Penggunaan strategi fasilitatif, kepemimpinan

fasilitatif sebagai suatu perilaku dan kemampuan kebersamaan dari

sekolah untuk beradaptasi, pemecahan masalah, dan peningkatan

kerja. Strategi fasilitatif memberikan kepada rekan kerja dalam hal ini

guru sebagai teman dalam keseharian dalam membawa visi untuk

kehidupan. Tindakan kepala madrasah yang menggunakan strategi

fasilitatif biasa digunakan bila mana pemimpin mengahadapi

hambatan dalam sumberdaya, membangun tim kerja, memberikan

umpan balik koordinasi dan manajemen konflik, menciptakan

jaringan komunikasi, melakukan kerjasama politik, dan sebagai model

dalam visi lembaga (Makawimbang, 2012).

18
[Link] Tahap-Tahap Strategi

Dalam menerapkan manajemen strategi harus dengan beberapa tahapan

agar strategi yang akan digunakan tepat dan benar-benar sesuai dengan

kondisi yang ada. Terdapat beberapa tahapan dalam penerapan manajemen

strategi, yaitu sebagai berikut (Insiati & Giovanny, 2019):

1. Proses manajemen strategik

Proses manajemen strategik terdiri atas tiga tahap yakni,

formulasi strategi, implementasi strategik, dan evaluasi strategik.

Formulasi strategi sering juga disebut dengan perencanaan strategis.

formulasi strategi merupakan pengembangan perencanaan jangka

panjang untuk manajemen yang efektif melalui analisis lingkungan

(Supanto, 2019). Sebagai seorang pemimpin sangat perlu untuk

mengetahui lingkungan sekitar dari organisasi atau lembaga. Kepala

sekolah sebagai seorang pemimpin dalam lembaga pendidikan perlu

kiranya untuk mengetahui lingkungan sekitar supaya tujuan yang

akan ditetapkan dalam lembaga seuai dengan kebutuhan lingkungan

sekitar.

2. Implementasi Strategik

Implementasi strategi adalah sebuah proses yang mana strategi

dan kebijakan diarahkan kedalam tindakan melalui pengembangan

rpogram, anggaran, dan prosedur (Supanto, 2019). Mensyaratkan

dalam lembaga untuk menetapkan tujuan tahunan, membuat

kebijakan, memotivasi rekan kerja, dan mengalokasikan sumber daya

19
sehingga strategik yang telah diformulasikan (direncanakan)

sebelumnya dapat dijalankan (Nuraeni, & Permana, 2022).

Pada tahapan ini sering dikatakan sebagai tahapan yang paling

rumit. Karena, strategi yang sudah diformulasikan bagaiamana

caranya itu harus berjalan sesuai dengan harapan, bukan hanya berupa

angan-angan semata. Pada tahapan ini butuh kedisiplinan, komitmen

dan pengorbanan. Suksesnya tahapan ini terletak pada kemampuan

mengendalikan dan memotivasi rekan kerja sehingga lebih tepat

disebut sebagai seni daripada ilmu.

3. Evaluasi Strategi

Bagian yang terakhir dari tahapan manajemen strategi adalah

evaluasi strategi. Didalam literatur yang lain banyak yang ada yang

menggunakan istilah evaluasi dan pengendalian strategi. Sebagaimana

yang terdapat didalam bukunya Amirullah. Evaluasi merupakan

tahapan dimana manajer mencoba menjamin bahwa strategi yang

telah dipilih itu terlaksana dengan tepat dan mencapai tujuan yang

telah diharapkan (Amirullah, 2015).

Pengendalian strategi merupakan suatu jenis khusus dari

pengendalian organisasi yang berfokus pada pemantauan dan

pengimplementasikan proses manajemen strategi (Nazarudin, 2020).

Sementara Amirullah mengatakan bahwa pengendalian strategi

pengendalian yang mengikuti strategi yang sedang

diimplementasikan, mendeteksi masalah, atau perubahan yang terjadi

20
pada landasan pemikirannya, dan melakukan penyesuaian yang

diperlukan (Amirullah, 2015).

2.2.2 Teori Kompetensi Profesional Guru

[Link] Pengertian Kompetensi Profesional Guru

Makna penting kompetensi dalam dunia pendidikan didasarkan atas

pertimbanagan rasional bahwasannya proses pemebelajaran merupakan proses

yang rumit dan kompleks. Ada beragam aspek yang saling berkaitan dan

mempengaruhi berhasil atau gagalnya kegiatan pembelajaran. Banyak guru

yang telah bertahun-tahun mengajar, tetapi sebenarnya kegiatan yang

dilakukannya tidak banyak memberikan aspek perubahan positif dalam

kehidupan siswanya. Sebaliknya, ada juga guru yang relatif baru, namun telah

memberikan kontribusi konkret ke arah kemajuan dan perubahan positif dalam

diri para siswa. Mereka yang mampu memberi “pencerahan” pada siswanya

dapat dipastikan memiliki kompetensi sebagai seorang guru yang profesional

(Subakir, 2017).

Kata kompetensi secara harfiah dapat diartikan sebagai kemampuan.

Kata ini sekarang menjadi kunci dalam dunia pendidikan. Dalam kurikulum

misalnya, kita mengenal KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Dengan

memiliki kompetensi yang memadai, seseorang khususnya guru, dapat

melaksanakan tugasnya dengan baik. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya

dunia pendidikan jika para gurunya tidak memiliki kompetensi yang memadai

(Safitri & Sos, 2019).

Kompetensi menurut Kepmendiknas 04/U/2002 adalah seperangkat

tindakan cerdas, penuh tanggung jawab, yang dimiliki seseorang sebagai

21
syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-

tugas dibidang pekerjaan tertentu. Sedangkan profesional menurut Undang

Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah pekerjaan

atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber

penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau

kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta

memerlukan pendidikan profesi (KUNANDAR, 2011).

Kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam

melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.

Dengan gambaran pengertian tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa

kompetensi merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam

melaksanakan profesi keguruannya (Hamid, 2017).

Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi

pembelajaran secar luas dan mendalam, serta metode dan teknik mengajar

yang sesuai yang dapat dipahami oleh peserta didik, mudah ditangkap,

tidak menimbulkan kesulitan dan keraguan (Apriyulianti & Saiful, 2021).

Kompetensi profesional guru merupakan kemampuan guru dalam

menguasai mata pelajaran yang digunakan yang didalamnya terdapat

penguasaan terhadap rencana pembelajaran, keterkaitan dengan mata

pelajaran, dan bahan ajar. Seperti guru Pendidikan Agama Islam harus

menguasai materi segala yang berkaitan agama Islam.

Kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru

yang tampak sangat berarti. Kompetensi merupakan perilaku yang rasional

untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang

22
diharapkan. Keadaan berwenang atau memenuhi syarat menuntut ketentuan

hokum (Dudung, 2018).

Kata profesional menunjukkan bahwa guru adalah sebuah profesi, yang

bagi guru, seharusnya menjalankan profesinya dengan baik. Dengan demikian,

ia akan disebut sebagai guru yang profesional. Disini terlihat bahwa menjadi

guru yang profesional ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Seorang

pendidik dituntut untuk memiliki kompetensi yang dapat digunakan untuk

melaksanakan tugasnya (Naim, 2016).

Pemaparan di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan

kompetensi profesional guru adalah kemampuan seorang pendidik dalam

penguasaan materi secara luas dan mendalam, serta membimbing peserta didik

dengan memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan dalam standar

nasional pendidikan.

[Link] Karakteristik Kompetensi Profesional Guru

Guru profesional yang bekerja melaksanakan fungsi dan tujuan

madrasah harus memiliki kompetensi-kompetensi yang dituntut agar guru

mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Tanpa mengabaikan

kemungkinan adanya perbedaan lingkungan sosial kultural dari setiap institusi

madrasah sebagai indikator, maka guru yang dinilai kompetensi secara

profesional apabila: (1) Guru tersebut mampu mengembangkan tanggung

jawab dengan sebaik-baiknya; (2) Guru tersebut mampu melaksanakan

peranan-peranannya secara berhasil; (3) Guru tersebut mampu bekerja dalam

usaha mencapai tujuan pendidikan (tujuan instruksional) sekolah; (4) Guru

23
tersebut mampu melaksanakan peranannya dalam proses mengajar dan belajar

dalam kelas (Hamalik, 2002).

Ciri-ciri guru profesional, antara lain (1) guru mempunyai komitmen

pada peserta didik dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi

guru adalah kepada kepentingan peserta didiknya; (2) guru menguasai secara

mendalam bahan atau mata pelajaran yang diajarkannya serta cara

mengajarkannya kepada peserta didik. Bagi guru, hal ini merupakan dua hal

yang tidak dapat dipisahkan; (3) guru bertanggung jawab memantau hasil

belajar peserta didik melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan

dalam perilaku peserta didik sampai tes hasil belajar; (4) guru mampu berpikir

secara sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari

pengalamannya. Artinya harus selalu ada waktu untuk guru guna mengadakan

refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya; (5) guru

seyogianya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan

profesinya (Jamin, 2018).

[Link] Indikator Kompetensi Profesional Guru

Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi materi

kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi

materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya

(Naim, 2016). Setiap subskompetensi tersebut memiliki indikator essensial

sebagai berikut:

1. Sub kompetensi menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan

bidang studi memiliki indikator essensial: memahami materi ajar

yang ada dalam kurikulum sekolah, memahami struktur, konsep dan

24
metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar,

memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait, dan

menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Sub kompetensi menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki

indikator essensial menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian

kritis untuk memperdalam pengetahuan/materi bidang studi secara

profesional dalam konteks global. Kemampuan penguasaan materi

pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi:

a) Konsep, struktur, metode keilmuan, teknologi, dan seni yang

menaungi dengan materi ajar.

b) Materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah.

c) Hubungan konsep antar mata pelajaran terkait.

d) Penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-

hari.

e) Kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan

tetap melestarikan nilai dan budaya nasional (Aspari, 2022).

Beberapa indikator yang dapat dijandikan ukuran karakteristik guru

yang dinilai kompeten secara profesional yaitu:

a) Mampu mengembangkan tanggung jawab dengan baik.

b) Mampu melaksanakan peran dan fungsinya dengan tepat.

c) Mampu bekerja untuk mewujudkan tujuan pendidikan di

sekolah.

d) Mampu melaksanakan peran dan fungsinya dalam

pembelajaran di kelas (Suhana & Hanafiah, 2014).

25
[Link] Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kompetensi Profesioanal

Guru

Kompetensi profesional adalah guru yang memiliki kompetensi atau

keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga mampu melakukan tugas

dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Maka dapat

dipahami bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kompetensi

profesional guru antara lain adalah sebagai berikut (Fathurrahman, 2006):

1. Latar belakang pendidikan

Latar belakang pendidikan dan pengalaman belajar akan

mempengaruhi kompetensi guru dalam mengajar. Guru pemula dengan

latar belakang pendidikan, akan lebih mudah dan menyesuaikan diri

dengan lingkungan sekolahnya.

2. Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan adalah sesuatu yang dapat dari membaca

pengalaman untuk dapat mentransferkan ilmu pengetahuan kepada

peserta didiknya, seorang guru tentu saja harus memiliki dan menguasai

ilmu pengetahuan itu sendiri. Oleh karena itu sorang guru harus

memiliki pengetahuan agar mampu menambah wawasan pengetahuan

yang diberikan oleh guru tersebut.

3. Kemampuan (Ability)

Kemampuan adalah faktor yang penting dalam meningkatkan

produktifitas kerja, abilitas berhubungan dengan pengetahuan dan

keterampilan yang dimiliki individu. Kemampuan dalam artian

kecakapan guru yaitu berupa kecakapan profesional guru yang

26
menunjukan pada satu tindakan kependidikan yang berdampak positif

bagi proses pembelajaran dan perkembangan pribadi siswa. Bentuk

tindakan dalam pendidikan dapat berwujud keterampilan mengajar

(Teaching Skill) sebagai akumulasi dari pengetahuan (Knowledge) yang

diperoleh para guru pada saat menempuh pendidikan seperti SPG,

PGMI, PGRA, dan lain sebagainya (Rachmawati, 2013).

4. Kemampuan (Skill)

Keterampilan atau skill merupakan salah satu unsur kemampuan

yang terdapat pada unsur penerapannya. Keterampilan merupakan suatu

kepandaian atau keahlian istimewa dalam suatu pekerjaan yang

bermanfaat untuk jaka panjang. Guru diharapkan memiliki 8

keterampilan yaitu seperti: keterampilan bertanya (Questioning Skill),

keterampilan memberikan penguatan (Reirforsement Skill),

keterampilan menjelaskan (Eksplaning Skill), keterampilan

mengadakan variasi, keterampilan membuka dan menutup pelajaran

(Set Inductional and Closure Skill), keterampilan membimbing diskusi

kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, keterampilan

pembelajaran perseorangan.

5. Sikap (Attitude)

Sikap diri merupakan keprbadian seorang individu. Kepribadian

adalah bentuk sikap yang menyangkut keseluruhan aspek seseorang

baik fisik ataupun psikis, baik yang diperoleh sejak lahir ataupun

dieroleh dari pengalaman. Sikap diri yang sangat diperlukan dalam

pengembangan profesionalisme adalah disiplin yang tinggi. Percaya

27
diri yang positif, akrab dan ramah tamah (berwibawa) dan terampil

berkata yang sopan dan santun (Fathurrahman, 2006).

2.2.3 Teori Kinerja Guru

[Link] Pengertian Kinerja Guru

Setiap individu yang di beri tugas atau kepercayaan untuk bekerja pada

suatu organisasi tertentu diharapkan mampu menunjukan kineja yang

memuaskan dan memberikan konstibusi yang maksimal terhadap pencapaian

tujuan organisasi tesebut. Kinerja adalah tingkat keberhasilan seseorang atau

kelompok orang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta

kemampuan untuk mencapai tujuan dan standar yang telah ditetapkan

(Barkah, 2014).

Kinerja merupakan suatu konsep yang bersifat universal yang

merupakan efektifitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan

karyawannya berdasarkan standar dan kriteria yang telah ditetapkan

sebelumnya. Karena organisasi pada dasarnya dijalankan oleh manusia maka

kinerja sesungguhnya merupakan perilaku manusia dalam menjalankan

perannya dalam suatu organisasi untuk memenuhi standar perilaku yang telah

ditetapkan agar membuahkan tindakan serta hasil yang diinginkan (Zubair et

al., 2017).

Kinerja merupakan hasil dari fungsi pekerjaan atau kegiatan tertentu

yang di dalamnya terdiri dari tiga aspek yaitu kejelasan tugas atau pekeerjaan

yang menjadi tanggung jawabnya; kejelasan hasil yang diharapkan dari suatu

pekeerjaan atau fungsi; Kejelasan waktu yang tewujud (HARDJONO, 2013).

Berdasarkan beberapa penjelasan tentang pengertian kinerja di atas dapat

28
disimpulkan bahwa kineja guru adalah kemampuan yang ditunjukan oeh guru

dalam melaksanakan tugas atau pekerjaanya. Kinerja dapat dikatakan baik dan

memuaskan apabila tujuan yang di capai sesuai dengan standar yang telah di

tetapkan.

Sedangkan pengertian guru adalah seorang yang memberikan ilmu

pengetahuan kepada anak didiknya di depan kelas, disamping itu guru

merupakan orang yang memberikan bimbingan pengajaran yang berkenaan

dengan pengetahuan yang bersifat kognitif, afektif, dan pesikomotor. Hal ini

sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 yaitu

“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,

membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik

pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan

pendidikan menengah”.

Pendapat lain menyatakan bahwa guru adalah “salah satu komponen

manusiawi yang dalam proses mengajar ikut berperan dalam usaha

pembentukan sumber daya manusia (SDM) yang berpotensi di dalam

pembangunan (Sardiman, 2011).

Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kinerja guru adalah

kemampuan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran, untuk mendidik dan

memberikan dorongan kepada peserta didik agar lebih professional di dalam

menjalankan tugas dan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan yang ia

butuhkan.

[Link] Indikator Kinerja Guru

Kinerja merefleksikan kesusksesan suatu organisasi, maka di pandang

29
penting untuk mengukur karakteristik tenaga kerjanya. Kinerja guru

merupakan kulminasi dari tiga elemen yang saling berkaitan yakni

keterampilan, upaya sifat keadaan dan kondisi eksternal.

Kenerja guru sangat penting untuk diperhatikan dan dievaluasi karena

guru mengemban tugas profesionalnya artinya tugas-tugas hanya dapat

dikejakan dengan kompetensi khusus yang diperoleh melalui program

pendidikan. Guru memiliki tanggung jawab yang secara garis besar dapat

dikelompokkan yaitu: 1). Guru sebagai pengajar, 2). Guru sebagai

pembimbing, 3). Guru sebagai administrator kelas (Danim, 2016).

Indikator seorang guru memiliki kinerja yang baik dalam proses

pembelajaran menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut (Mahmudah,

2021):

1. Perencanaan pembelajaran, meliputi:

a. Perumusan tujuan pembelajaran

b. Pemilihan materi ajar

c. Pemilihan sumber media pembelajaran

d. Kejelasan scenario pembelajaran

e. Kesesuaian teknik pembelajaran

f. Kelengkapan insterument pembelajaran dengan tujuan

pembelajaran

2. Strategi pembelajaran, meliputi:

a. Kejelasan rumusan tujuan pembelajaran

b. Kesesuaian dengan kompetensi dasar

c. Kesesuaian materi ajar dengan tujuan pembelajaran

30
d. Kesesuaian tujuan dengan karakteristik peserta didik

e. Keruntutan dan sistematika materi ajar

f. Kesesuaian media atau alat pembelajaran dengan tujuan

pembelajaran

g. Kesesuaian media atau alat pembelajaran materi pembelajaran

3. Evaluasi pembelajaran, meliputi:

a. Kesesuaian antara teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran

b. Kejelasan prosedur penilaian

c. Kelengkapan instrument penilaian

d. Mengkomunikasikan kemajuan belajar siswa kepada orang tua

e. Refleksi pengajaran

f. Evaluasi untuk mengambil keputusan dalam pembelajaran

4. Lingkungan belajar, meliputi:

a. Menciptakan budaya belajar

b. Mengelola kelas secara efektif

5. Pengembangan professional, meliputi:

a. Peningkatan profesi

b. Bekerjasama dengan rekan sejawat

c. Mengembangkan profesionalisme secara berkelanjutan

6. Komunikasi, meliputi:

a. Komunikasi secara jelas kepada siswa

b. Komunikasi secara jelas kepada orangtua siswa

c. Komunikasi secara jelas kepada stakeholder

31
[Link] Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru

Guru merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan dan dianggap

sebagai orang yang berperan penting dalam pencapaian tujuan pendidikan

yang merupakan penceminan pendidikan. Keberadaan guru dalam

melaksanakan tugas dan kewajibanya tidak terlepas dari pengaruh faktor

internal maupun faktor eksternal yang membawa dampak pada perubahan

kinerja guru.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja guru yang dapat diungkap

tersebut antara lain:

1. Kepribadian dan dedikasi

Setiap guru memiliki pribadi masing-masing sesuai dengan ciri-

ciri pribadi yang mereka miliki, Ciri–ciri inilah yang membedakan

seorang guru dari guru lainya. Kepribadian adalah suatu masalah

abstrak, yang hanya dapat dilihat dari penampilan, tindakan, ucapan,

cara berpakaian dan dalam menghadapi setiap persoalan. Hal tesebut

sesuai dengan pendapat bahwa kepribadian yang sesungguhnya adalah

abstrak, sukar dilihat dan diketahui secara nyata, yang dapat diketahui

adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan aspek

kehidupan misalnya dalam tindakanya, ucapan, masalah, baik yang

ringan maupun yang berat (Djamarah & Zain, 2006).

Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari

unsur psikis dan fisik, artinya keseluruhan sikap dan perbuatan

seseorang merupakan suatau gambaran dari kepribadian orang itu,

dengan kata lain baik tidaknya citra seseorang ditentukan oleh

32
kepribadianya. Lebih lanjut (Djamarah & Zain, 2006) mengemukakan

bahwa faktor terpending bagi seorang guru adalah kepribadianya.

Kepribadian inilah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik

dan Pembina yang baik bagi anak didiknya ataukah akan menjadi

perusak bagi masadepan anak didik, terutama untuk anak didik yang

masih kecil dan mereka yang mengalami kegunjangan jiwa. Oleh

karena itu kepribadian merupakan faktor yang menentukan tinggi

rendahnya matabat guru.

2. Pengembangan Profesi

Profesi guru kian hari menjadi perhatian seiring dengan

perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menuntut kesiapan

agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Profesi ialah kegiatan yang

menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian,

tanggung jawab dan kesetiaan terhadap profesi (Saud, 2009). Tetapi

pekerjaan itu harus diterapkan kepada masyarakat untuk kepentingan

masyarakat umum, bukan untuk kepentingan individu, kelompok, atau

golongan tertentu.

Dalam melaksanakan pekerjaan itu haus memenuhi norma-norma

didalamnya, orang yang melakukan pekerjaan atau profesi haruslah

orang yang ahli (professional) atau orang yang sudah memiliki daya

piker, ilmu dan keterampilan yang tinggi. Disamping itu ia juga dituntut

dapat mempertanggung jawabkan segala tindakan dan hasil karyanya

yang menyangkut profesi itu.

3. Kemampuan Mengajar

33
Untuk melaksanakan tugas-tugas dengan baik, guru memerlukan

kemampuan. Kemampuan yang haus dimiliki seorang guru menurut

peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional

Pendidikan. Dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru di

kembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama yaitu: (1).

Kompetensi Pedagogik (2). Kepribadian (3). Sosial dan (4).

Professional keempat kompetensi tersebut terin-tegrasi dalam kinerja

guru.

2.3 Kerangka Pikir

Kerangka pikir adalah suatu diagram yang menjelaskan secara garis besar

alur logika berjalannya sebuah penelitian. Kerangka berfikir dibuat berdasarkan

pertanyaan penelitian (research question), dan merepresentasikan suatu himpunan

dari beberapa konsep serta hubungan diantara konsep-konsep tersebut.

(Romadhona & Wahyuningtyas, 2019) Dalam penelitian ini kerangka berfikir

bertujuan untuk menggambarkan konsep dasar mengenai masalah yang di angkat

terkait strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kompetensi profesional dan

kinerja guru di Mts Negeri 1 Kendari. Adapun kerangka pikir dalam penelitian ini,

secara ringkas dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

34
Gambar 2.1
Kerangka Pikir

Kepala Madrasah Mts


Negeri 1 Kendari

Strategi-Strategi

Guru Mts Negeri 1 Kendari

Kompetensi
Profesional Kinerja

35
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi

kasus. Seperti yang dikemukakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,

studi kasus ditujukan untuk menggali lebih dalam unitunit sosial tertentu

seperti individu, kelompok, institusi, dan komunitas (Hardani, 2020). jenis

penelitian ini adalah jenis penelitian yang menggunkan metode untuk

menghimpun dan menganalisis suatu kasus tertentu baik itu yang terjadi di

masyarakat secara umum atapun yang terjadi di suatu lembaga. Sehingga

peneliti nantinya akan mengumpulkan data di Mts Negeri 1 Kendari

sekaligus menghimpun dan menganalisisnya.

Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

pendekatan penelitian kualitatif. Tujuan pendekatan kualitatif adalah untuk

menggambarkan fenomena yang dialami oleh subjek penelitian, seperti

perilaku, persepsi, dan perilaku, dalam konteks alam yang khusus, dengan

menggunakan berbagai metode ilmiah, secara utuh, dan kemudian dalam

kata-kata dan bahasa. untuk memahami secara grafis dalam bentuk

(Kusumastuti et al., 2020).

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

3.2.1 Waktu Penelitian

Penelitian mengenai strategi kepala madrasah dalam meningkatkan

kompetensi profesional dan kinerja guru ini dilaksanakan selama kurang lebih

dua bulan.

36
3.2.2 Tempat Penelitian

Penelitian mengenai strategi kepala madrasah dalam meningkatkan

kompetensi profesional dan kinerja guru akan dilakukan di Mts Negeri 1

Kendari.

3.3 Data dan Sumber Data

Data dalam penelitian ini berarti informasi atau fakta yang diperoleh

melalui pengamatan atau penelitian di lapangan yang bisa dianalisis dalam

rangka memahami sebuah fenomena atau untuk mendukung sebuah teori.

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah berupa kata-kata, dan

tindakanselebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain (Hadi,

2016). Data hasil penelitian didapatkan melalui dua sumber data, yaitu:

3.3.1 Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara

yang diperoleh dari subjek yang relevan dan sebenarnya di lapangan. Data

primer merupakan data yang sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil dari

penelitian ini. Dalam penelitian kualitatif, istilah sampel diganti menjadi

subjek, informan, partisipan atau sasaran penelitian dalam hal ini kepala

madrasah, guru dan siswa/siswi di Mts Negeri 1 Kendari (Azwar et al., 2016).

3.3.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain tidak langsung

dari diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. sebagai data pendukung

seperti, konselor subjek, teman subjek, literatur, buku-buku catatan harian dan

dokumentasi subjek yang berkaitan dengan penelitian. Dalam penelitian ini,

37
data sekunder merupakan data pelengkap dari data primer agar penelitian ini

dapat menghasilkan data yang lebih akurat (Azwar et al., 2016).

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Ada beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif

antara lain wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hal ini bertujuan untuk

mendapatkan data yang akurat dan lengkap dalam suatu penelitian. Adapun

metode yang digunakan dalam penlitian ini, antara lainsebagai berikut:

3.4.1 Observasi

Menurut Satori & Komariah, 2014 dalam (Indrawati, 2013) Observasi

adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data

penelitian melalui pengamatan dan pengindraan. Penentunya tergantung pada

apa yang dikehendaki oleh peneliti untuk ambil bagian dari situasi yang

sedang dipelajarinya. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode

pengambilan data observasi dengan menggunakan Observasi partisipan dan

non partisipan yang dimana penentunya tergantung pada apa yang

dikehendaki oleh peneliti untuk ambil bagian dari situasi yang sedang

dipelajarinya.

Pada observasi ini, menggunakan metode observasi anecdotal record

karena mengamati dan mencatat perilaku yang muncul dan tingkah subjek.

Anecdotal record yaitu dengan membawa kertas kosong untuk mencatat

perilaku yang khas, unik, dan yang paling penting dilakukan subjek. Adapun

tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe interpretatif yaitu

melakukan interpretasi suatu perilaku berdasarkan kecenderungan atau

38
kemungkinan yang dapat dijadikan suatu alasan atau sebab akibat yang cukup

kuat (Herdiansyah et al., 2014).

3.4.2 Wawancara

Wawancara diartikan sebagai sebuah interaksi yang di dalamnya

terdapat pertukaran atau berbagai aturan tanggung jawab, perasaan,

kepercayaan, motif, dan [Link] penelitian ini penulis menggunakan

metode wawancara mendalam, wawancara mendalam adalah tanya-jawab

yang terbuka untuk memperoleh data tentang partisipan bagaimana

menggambarkan dunia mereka dan bagaimana mereka menjelaskan atau

menyatakan perasaaannya tentang kejadian penting dalam hidupnya

(Herdiansyah et al., 2014).

Pada penelitian ini, menggunakan wawancara semi terstruktur lebih

tepat dilakukan oleh peneliti kualitatif karena wawancara semi-terstruktur itu

pertanyaannya terbuka, namun ada batasan tema dan alur pembicaraan,

kecepatan wawancara dapat diprediksi, fleksibel tapi terkontrol, ada pedoman

wawancara yang disajikan patokan dalam alur, urutan dan penggunaan kata,

tujuan wawancara ini adalah untuk memahami suatu fenomena (Herdiansyah

et al., 2014).

3.4.3 Dokumentasi

Dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data kualitatif dengan

meihat dan menganlisis dokumendokumen yang dibuat sendiri oleh subjek

atau dibuat oleh orang lain tentang subjek. Dokumentasi merupakan salah

satu cara yang dapat dilakukan dalam penelitian kualitatif untuk mendapatkan

gambaran dari sudut pandang subjek melalui suatu media tertulis dan

39
dokumen lainnya yang ditulis dan dibuat langsung oleh subjek atau yang

bersangkutan (Herdiansyah et al., 2014).

Pengumpulan data dengan dokumentasi akan dilakukan peneliti sejak

peneliti berada dilapangan. Dalam penelitian ini dokumentasi yang dilakukan

adalah dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik

dokumen tertulis, gambar maupun elektronik.

3.5 Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan

penelitian. Setelah peneliti mengumpulkan data, langkah selanjutnya adalah

mengorganisasikan dan menganalisis data untuk mencapai tujuan penelitian

yang telah ditetapkan (Anggor, 2008).

Adapun metode analisis yang akan digunakan adalah metode deskriptif

kualitatif. Dimana metode kualitatif adalah metode yang digunakan sebagai

prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata

tertulis dan bukan angka dari orang-orang dan pelaku yang diamati (Moleong,

1995).

Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan

bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi

satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya mencari dan menemukan pola,

menemukan apa yang penting dan apa yang di pelajari dan memutuskan apa

yang dapat diceritakan kepada orang lain (Indrawati, 2013). Adapun teknik

analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

40
3.5.1 Pengumpulan Data

Pada saat melakukan pendekatan dan menjalin hubungan dengan subjek

penelitian, dan melakukan observasi, serta membuat catatan lapangan, bahkan

ketika peneliti berinteraksi dengan lingkungan subjek dan informan, itu

semua diolah. Untuk proses pengumpulan data dalam penelitian kualitatif

sepanjang penelitian berlangsung, sepanjang itulah proses pengumpulan data

dilakukan (Herdiansyah et al., 2014).

3.5.2 Reduksi Data

Data yang diperoleh ditulis dalam bentuk laporan atau data yang

terperinci. Laporan yang disusun berdasrakan data yang diperoleh direduksi,

dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting

(Indrawati, 2013).

3.5.3 Penyajian Data (Data Display)

Teknik penyajian data (data display) dalam penelitian kualitatif dapat

dilakukan dalam berbagai bentuk seperti table, grafik, dan sejenisnya. Lebih

dari itu data bisa disajikan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan

antar kategori, flowchart, dan [Link] demikian yang paling sering

digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan

teks naratif (Indrawati, 2013).

3.5.4 Conclusion Drawing/Verification

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan

akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung

pada tahap pengumpulan data berikutnnya. dengan demikian kesimpulan

dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang

41
dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti yang telah

dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian

kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti

berada dilapangan (Indrawati, 2013).

3.6 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif temuan atau data dapat dinyatakan valid

apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang

sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Kemudian arti reabilitas dalam

penelitian kualitatif adalah suatu realitas itu bersifat majemuk/ganda, dinamis

atau selalu berubah, sehingga tidak ada yang konsisten, dan berulang seperti

semula. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik valditas deskriptif.

Dalam penelitian ini validitas deskriptif mengacu pada keakuratan

informasi-informasi yang dilaporkan oleh peneliti. Informasi itu meliputi

seperti fenomena atau peristiwa, objek, perilaku orang, serta tempat dan

waktu. Apabila bervariasi sumber atau prosedur konsisten maka peneliti

dinilai telah memperoleh data atau kesimpulan yang sah.

Setiap peneliti membutuhkan uji keabsahan data untuk mengtetahui

validitas dan reliabilitas. Pengujian keabsahan data yang akan peneliti lakukan

adalah uji kredibilitas. Uji kredibilitas yang peneliti lakukan dalam penelitian

ini adalah trianggulasi dan member check, sebagai berikut:

3.6.1 Trianggulasi

Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain diluar untuk keperluan pengecekan atau

hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik. Peneliti perlu

42
melakukan trianggulasi yaitu pengecekan data dari berbagai sumber dengan

cara dan waktu (Indrawati, 2013). Dalam penelitian ini menggunaakan data

triangulation, yaitu penggunaan lebih dari satu metode pengumpulan data

dalam kasus tunggal. Metode pengumpulan data yang pada umumnya

dilakukan dalam penelitian kualitatif yaitu, wawancara, observasi,

dokumentasi, dsb.

3.6.2 Member Check

Member Check adalah proses-proses pengecekan data yang diperoleh

peneliti kepada informan. Tujuannya adalah untuk mengetahui kesesuaian

data yang diberikan oleh pemberi [Link] pemberi data sudah

menyepakati data yang diberikan berarti data tersebut valid, sehingga

semakin kredible (Indrawati, 2013).

43
DAFTAR ISI

Amirullah, A. (2015). Pengantar Manajemen. Fungsi–Proses–


Pengendalian. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Anggor, T. M (2008). Metode Penelitian. Jakarta: Universitas Terbuka, 38.

Apriyulianti, I., & Saiful, A. (2021). Jurnal manajer pendidikan. Jurnal Manajer
Pendidikan, 15(03), 1–9.
Aspari. (2022). Efektifitas Remedial Teaching dan Pengelolaan Kelas Dalam
Peningkatan Mutu Pendidikan Siswa. Akrab Juara, 7(3).
Autory, S. (2019). STRATEGI KEPALA SEKOLAH DALAM
MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DI MA
MATHLA’UL ANWAR GISTING. UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
RADEN INTAN LAMPUNG.
Azwar, A., Muljono, P., & Herawati, T. (2016). Persepsi dan Partisipasi Petani
dalam Pelaksanaan Rehabilitasi Tanaman Kakao di Kabupaten Sigi Provinsi
Sulawesi Tengah. Jurnal Penyuluhan, 12(2), 157.
[Link]
Baharun, H. (2017). Peningkatan kompetensi guru melalui sistem kepemimpinan
kepala madrasah. At-Tajdid: Jurnal Ilmu Tarbiyah, 6(1), 1-26.

Barkah, J. (2014). Meningkatkan Kinerja Guru Melalui Kemampuan Manajerial


Kepala Sekolah Dan Iklim Organisasi Di Madrasah.
[Link], 6(1), 30–40.
[Link]
Danim, S. (2016). Inovasi pendidikan: dalam upaya peningkatan profesionalisme
tenaga kependidikan.

Daryanto, M. (2014). Administrasi pendidikan.

Djamarah, S. B., & Zain, A. (2006). Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka
Cipta, 46.

Dudung, A. (2018). Kompetensi profesional guru. JKKP (Jurnal Kesejahteraan


Keluarga Dan Pendidikan), 5(1), 9-19.

Farikhah, S. (2015). Manajemen lembaga pendidikan.

Fathurrahman, P. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Karya Cipta, 63.

Hadi, S. (2016). Pemeriksaan Keabsahan Data Penelitian Kualitatif Pada Skripsi.


Jurnal Ilmu Pendidikan, 22(1), 76.

44
Hamalik, O. (2002). Pendidikan guru berdasarkan pendekatan kompetensi.
Bandung: Bumi Aksara.

Hamid, A. (2017). Guru Professional. Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman Dan


Kemasyarakatan, 17(32), 274–275.
[Link]
Hardani, D. Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif, ed. by Husnu
Abadi. Pertama (Yogyakarta: CV Pustaka Ilmu, 2020).

HARDJONO, T. (2013). Jurnal Tesis. In Analisis Pengaruh Motivasi, Disiplin


Kerja Dan Kemampuan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Negeri Sipil (pp.
1–57).
Herdiansyah, M. I., Kunang, S. O., & Akbar, M. (2014). It strategy alignment in
university using it balanced scorecard framework. Advanced Science Letters,
20(10–12), 2038–2041. [Link]
Indrawati, J. K. (2013). Analisis Faktor Kesulitan Guru Bidang Studi Ekonomi
Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum 2013. 1–8.
Insiati, F., & Giovanny, M. R. (2019). Manajemen Strategik: Intisari Konsep dan
Teori. Isniati, Fajriansyah, Yogyakarta, 12.

Iskandar, U. (2013). Kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kinerja


guru. Jurnal visi ilmu pendidikan, 10(1).

Jamin, H. (2018). Upaya Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru. At-Ta'dib:


Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam, 19-36.

Jannah, R. (2017). Upaya meningkatkan keberhasilan pembelajaran pendidikan


agama Islam. Madrosatuna: Journal of Islamic Elementary School, 1(1), 47-
58.

Kompri, M. P. I. (2017). Standardisasi Kompetensi Kepala Sekolah: Pendekatan


Teori untuk Praktik Profesional Edisi Pertama. Kencana.

KUNANDAR, K. (2011). Evaluasi Program Pengembangan Dan Implementasi


Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Ktsp). Jurnal Evaluasi Pendidikan,
2(2), 171. [Link]
Kurniawan, A. (2013). Pengaruh Strategi Co-Branding, Brand Equity Terhadap
Purchase Intention Melalui Brand Preference. Journal of Chemical
Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Kusumastuti, A., Khoiron, A. M., & Achmadi, T. A. (2020). Metode Penelitian
Kuantitatif. Deepublish.

45
Lufri, D., Yogica, R., Muttaqiin, A., & Fitri, R. (2020). Metodologi Pembelajaran:
Strategi. by Muhammad Arci Maulidan, 1st edn (Purwokerto: CV IRDH,
2020).

Lutfiyana, A. (2020). STRATEGI KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH


DALAM MENINGKATKAN KINERJA TENAGA KEPENDIDIKAN DI MTs.
MUALLIMIN UNIVA MEDAN SKRIPSI.
Mahmudah, M. (2021). Mengembangkan Profesionalisme Guru Pendidikan
Agama Islam (PAI) Melalui Model-Model Pembelajaran. Jurnal
Keislaman, 4(1), 19-31.

Makawimbang, J. H. (2012). Kepemimpinan pendidikan yang bermutu. Bandung:


Alfabeta, 22.

Moleong, L. J. (2006). (1995). Metodologi Penelitian. Kualitat1Y, Remaja Rosda


Karya, Bandung, 1–12.
[Link]
Mulyasa, E. (2003). Menjadi kepala sekolah profesional dalam konteks
menyukseskan MBS dan KBK.

Mulyasa, E. (2013). Manajemen & Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: PT.


Bumi Aksara, 18.

Naim, N. (2016). Menjadi guru inspiratif: memberdayakan dan mengubah jalan


hidup siswa.

Nasrun, N. (2016). Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Motivasi


Kerja dan Kinerja Guru. Ilmu Pendidikan: Jurnal Kajian Teori Dan Praktik
Kependidikan, 1(2), 63–70. [Link]
Nazarudin. (2020). Manajemen Startegik. In NoerFikri Offset.
Nuraeni, S., & Permana, H. (2022). Strategi Kepala Madrasah dalam
Meningkatkan Mutu Pembelajaran Sekolah melalui Kinerja Guru di Sekolah
Madrasah Tsanawiyah. Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), 4(6),
10987-10994.

Nomor, U. U. R. I. (14). tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Pendidikan, S. N. (2005). Badan Standar Nasional Pendidikan, Departemen


Pendidikan Nasional.

Purwanti, S. (2016). Peranan kepala madrasah terhadap kinerja guru. AL-


IDARAH: Jurnal Kependidikan Islam, 6(1).

46
Rachmawati, T. (2013). Penilaian Kinerja Profesi Guru dan Angka Kreditnya.
Yogyakarta: Gava, 138

Rasyid, A. M. Al. (2021). Strategi Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam


Meningkatkan Kinerja Guru Di Era Pandemi Covid 19 (Studi Kasus Di MI
Tarbiyatul Mustafid Batu Rimpang Tahun Pelajaran 2020/2021). 19.
Ridho, Z. (2022). DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI MADRASAH
TSANAWIYAH ( MTS ) NURUL YAQIN.
Romadhona, A. F., & Wahyuningtyas, R. (2019). KOMITMEN DAN BUDAYA
ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN BANK bjb
CABANG TAMANSARI. Jurnal Riset Bisnis Dan Manajemen, 12(1), 24.
[Link]
Safitri, D., & Sos, S. (2019). Menjadi guru profesional. PT. Indragiri Dot Com.

Sardiman, A. M. (2011). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar/Sardiman AM.

Saud, U. S. (2009). Pengembangan Profesi Guru, Bandung: CV.

Sofian, A. (2013). Strategi Management.

Subakir. (2017). STRATEGI KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN


KOMPETENSI GURU MA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
METRO.
Suci, R. P. (2015). Esensi manajemen strategi. Sidoarjo: Zifatama Publisher.

Suhana, C., & Hanafiah, N. (2014). Konsep strategi pembelajaran. Bandung: PT


Refika Aditama, 5(4), 3.

Supanto, F. (2019). Manajemen Strategi Organisasi Publik dan Privat.

Susanto, A. (2021). Manajemen peningkatan kinerja guru konsep, strategi, dan


implementasinya.

Umar, H. (2001). Strategic management in action. Gramedia Pustaka Utama.

Zubair, A., Sasongko, R. N., & Aliman, A. (2017). Manajemen Peningkatan


Kinerja Guru. Manajer Pendidikan, 11(4).

47

Anda mungkin juga menyukai