STRATEGI KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN
KOMPETENSI PROFESIONAL DAN KINERJA GURU DI MTS NEGERI
1 KENDARI
PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Seminar Proposal Penelitian
Pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam
OLEH:
Yus’An
18010103010
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
KENDARI
2023
i
KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KENDARI
FAKULTAS MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
Jln. Sultan Qaimuddin No.17 Kelurahan Baruga – Kota Kendari Telp (0401) 3193710
Faksimili (041) 3193710 E-mai iainkendari@[Link]
Website: http//[Link]
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Proposal penelitian yang berjudul “STRATEGI KEPALA MADRASAH
DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL DAN
KINERJA GURU DI MTS NEGERI 1 KENDARI”,yang disusun oleh saudara
Yus’An, NIM.18010103010, Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan
Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Kendari, telah dikonsultasikan dan disetujui oleh pembimbing
dengan beberapa perbaikan, selanjutnya dapat melaksanakan ujian hasil.
Demikian persetujuan ini diberikan untuk proses selanjutnya.
Kendari,....................,2023
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL...................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING......................... ii
DAFTAR ISI................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................. 1
1.2 Fokus Penelitian............................................................... 6
1.3 Rumusan Masalah............................................................ 6
1.4 Tujuan Penelitian.............................................................. 7
1.5 Manfaat Penelitian........................................................... 7
1.6 Definisi Operasional......................................................... 8
1.7 Sistematika Pembahasan................................................. 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu yang Relavan.................................. 10
2.2 Landasan Teori................................................................. 14
2.2.1.................................................................................Str
ategi Kepala Madrasah............................................. 14
2.2.2.................................................................................Ko
mpetensi Profesional Guru........................................ 21
2.2.3.................................................................................Kin
erja Guru................................................................... 28
2.3 Kerangka Pikir.................................................................. 34
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian.................................................................... 36
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian.......................................... 36
3.3 Data dan Sumber Data..................................................... 37
3.4 Teknik Pengumpulan Data.................................................................... 38
3.5 Teknik Analisis Data......................................................... 40
3.6 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data..................................................... 42
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 44
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Lembaga pendidikan merupakan salah satu lembaga yang harus ada di
dalam negeri dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Lembaga nonformal, informal,
dan formal adalah tempat dimana pengetahuan dan budaya ditransfer melalui
praktik pendidikan. Dalam transfer ilmu ataupun budaya yang menjadi salah
satu tolok ukur berhasilnya proses transfer (pembelajaran) tersebut adalah
kualitas dari seorang guru (Farikhah, 2015).
Guru merupakan salah satu penentu keberhasilan lembaga pendidikan
dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Kedudukan guru memegang
peranan penting dalam perkembangan pendidikan, khususnya pendidikan
formal di sekolah. Guru juga merupakan salah satu indikator kunci
keberhasilan siswa, terutama dalam pembelajaran (Jannah, 2017).
Selain seseorang pengajar, Kepala madrasah (sekolah) juga merupakan
seorang pengajar yg diberi tugas tambahan sebagi pemimpin yg sebagai
pengendali pada sebuah forum pendidikan. & adalah komponen pendidikan yg
paling berperan pada menaikkan kualitas pendidikan. Kiprah & fungsi kepala
madrasah dalam meningkatkan profesionalitas dan kinerja pengajar sangat
penting. Kepala madrasah merupakan kunci keberhasilan dalam melaksanakan
manajemen pendidikan (Ridho, 2022).
Kepala sekolah atau madrasah menjadi subjek utama yang sangat
berperan penting terhadap kemajuan sekolah atau madrasah. Apakah praktik
manajemen pendidikan itu disebut baik atau tidak, tergantung bagaimana
1
kepala sekolah atau madrasah dalam mengatasi masalah-masalah yang
dihadapi. Di dalam sekolah atau madrasah terdapat manajmen berbasis
sekolah yang dipimpin langsung oleh kepala sekolah atau madrasah (Ridho,
2022). Kepala sekolah atau madrasah adalah komponen utama dalam
meningkatkan kualitas pendidikan sebagaimana yang tercantum dalam
peraturan pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 Pasal 20 Ayat 1 bahwa “Kepala
sekolah atau madrasah sangat bertanggung jawab terhadap keberlangsungan
kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan terhadap guru dan
pemeliharaan sarana prasaran yang ada di sekolah atau madrasah”.
Sebagai pemimpin di sebuah lembaga, Kepala madrasah harus mampu
membawa lembaga tersebut ke arah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
Ia harus melihat adanya perubahan serta mampu melihat dan merespon
tantangan masa depan ke arah yang lebih baik. Sehingga, Kepala madrasah
mampu memberdayakan Guru, Tenaga Kependidikan dan seluruh warga
sekolah untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas, lancar dan
Produktif (Rasyid, 2021).
Salah satu standarisasi kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala
madrasah adalah merencanakan program akademik, melaksanakan, dan
menindaklanjuti program akademik tersebut. Oleh karena itu, kepala madrasah
harus mampu menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai kepala
madrasah, meliputi: pendidik (educator), manajer, administrator, supervisor,
pemimpin (leader), inovator, dan motivator (Kompri, 2017).
Kepala madrasah harus serius membina tenaga pendidik atau guru
dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama. Kepala
2
madrasah dapat langsung membantu guru mengembangkan kemampuannya
mencapai tujuan pengajaran yang ditentukan bagi murid-murid dan juga
peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar serta memberikan
bimbingan bagi guru yang mengalami kesulitan atau kendala di lapangan.
Pembinaan yang baik, sabar dan terampil berkomunikasi, prilaku yang patut
untuk dicontoh, mampu mengambil tindakan yang bijaksana, menetapkan
pengamatan, memberi saran atau alternatif serta menindak lanjuti program
yang telah dicanangkan. Sehingga kepala madrasah selaku pemimpin memiliki
peranan sangat besar dalam meningkatkan kompetensi dan kinerja guru.
Guru sebagai tenaga pendidik dalam pendidikan memegang peranan
penting dalam mewujudkan keberhasilan tujuan lembaga pendidikan yang
berkualitas. Guru dituntut mampu melaksanakan program kegiatan
pembelajaran sekolah sesuai dengan kualifikasi profesinya. Oleh karena itu,
Guru adalah merupakan pendidik profesional yang tidak hanya memiliki tugas
mengajar, akan tetapi juga memiliki tugas untuk mendidik, membimbing,
mengarahkan dan melatih serta menilai dan mengevaluasi hasil proses
pembelajaran (Baharun, 2017).
Kinerja guru yang baik adalah hal yang sangat diharapkan baik oleh
lembaga maupun oleh peserta didik. Kinerja guru yang baik juga di pengaruhi
oleh kompetensi yang dimilikinya (Susanto, 2021). Maka dari itu disebutkan
dalam Undang-Undang No 14 Tahun 2005 Pasal 10 Ayat (1) tentang guru dan
dosen mengamanatkan bahwa guru harus memiliki kompetensi peadagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
3
Keempat kompetensi tersebut bersifat holistik yang merupakan satu kesatuan
yang menjadi ciri guru profesional.
Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sudah pasti
membutuhkan persiapan-persiapan, waktu, biaya, sarana dan prasarana,
metode dan lain sebagainya. Berbagai hal yang telah dikeluarkan, untuk
kepentingan kegiatan pembelajaran tersebut tentu harus mendatangkan hasil
yang maksimal . Pendidik atau guru harus mampu memberikan pembelajaran
pada siswa yang mencakup; masukan mentah, artinya seorang guru harus
mampu merubah anak didiknya dari belum tahu menjadi tahu, proses belajar
mengajar, masukan-masukan (pendapat atau gagasan) dari lingkungan,
instrumen, dan hasil pembelajaran. Guru juga dituntut untuk memiliki
kompetensi pada bidang masing-masing serta keahlian yang dimilikinya.
Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah kompetensi
pedagogik, kepribadian, sosial, dan kompetensi profesional (Zubair et al.,
2017).
Selain itu, peran Kepala Sekolah yang efektif tentu akan
mempengaruhi kinerja guru, sehingga guru menjadi bersemangat dalam
menjalankan tugasnya. Hal ini disebabkan guru merasa mendapat perhatian,
rasa aman, dan pengakuan atas prestasi kinerjanya. Oleh karena itu Kepala
Sekolah harus mempunyai strategi- strategi dalam upaya meningkatkat kinerja
guru, contoh kecilnya yaitu kepala madrasah harus bisa berbuat kebenaran dan
berbuat adil terhadap guru maupun terhadap staf -stafnya.
Kepala madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk memotivasi
para guru dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Upaya ini dapat
4
dilakukan oleh kepala madrasah melalui pengaturan lingkungan yang
harmonis, Kepala madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk
memotivasi para guru dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Upaya
ini dapat dilakukan oleh kepala madrasah melalui pengaturan lingkungan yang
harmonis, suasana kerja yang kondusif, disiplin, penghargaan dan hukuman
secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar sehingga guru dapat
meningkatkan kompetensinya professional dan kinerjanya (Iskandar, 2013).
Upaya Pengembangan kompetensi guru telah banyak dilakukan,
namun pada kenyataan dan pelaksanaannya masih dihadapkan pada berbagai
kendala, baik di lingkungan Depdiknas misalnya, adanya gejala kurang
keseriusannya dalam menangani permasalahan pendidikan, seperti juga dalam
menangani masalah guru. Gejala tersebut antara lain adanya
ketidaksinambungan antara program peningkatan peningkatan kualitas
pendidikan dan kualitas guru yang ditangani oleh berbagai direktorat di
lingkungan depdiknas, minimnya fokus dalam peningkatan kualitas guru, serta
minimnya penanganan yang dilakukan oleh para ahli. Sehingga tidak
menghasilkan perbaikan kualitas yang berkesinambungan (continuous quality
improvement) (Baharun, 2017).
Setelah dilakukan prapenelitian oleh peneliti ditemukan fakta
bahwasanya dari hasil interview dengan 10 orang siswa mengenai proses
belajar mengajar di sekolah, dan dari data yang didapatkan bahwasanya
menurut 10 orang siswa di Mts Negeri 1 Kendari, masih banyak guru yang
monoton dalam proses pembelajaran sehingga membuat sebagian murid kuang
memperhatikan, sehingga proses belajar mengajar tidak efektif.
5
Berdasarkan fenomena dan realita pendidikan di atas, maka penulis
tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dalam proposal yang berjudul
“Strategi Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kompetensi
Profesional Dan Kinerja Guru Di Mts Negeri 1 Kendari” Penelitian ini
berusaha untuk mengkaji dan menganalisis secara komprehensif dan
mendalam tentang strategi yang dilakukan kepala madrasah dalam
meningkatkan kompetensi profesional dan kinerja guru-guru di Mts Negeri 1
Kendari.
1.2 Fokus Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian di Mts Negeri 1
Kendari., fokus penelitian diarahkan pada strategi yang digunakan oleh kepala
madrasah di Mts Negeri 1 Kendari dalam meningkatkan kualitas guru yang
meliputi peningkatan terhadap kompetensi professional guru dan kinerja guru
Mts Negeri 1 Kendari.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti menemukan masalah
yang dijadikan suatu acuan dalam perumusan masalah, antara lain sebagai
berikut:
1. Bagaimana strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kompetensi
profesional guru di Mts Negeri 1 Kendari ?
2. Bagaimana strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja
guru di Mts Negeri 1 Kendari ?
6
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka
tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui strategi kepala madrasah dalam meningkatkan
kompetensi profesional guru di Mts Negeri 1 Kendari.
2. Untuk mengetahui strategi kepala madrasah dalam meningkatkan
kinerja guru di Mts Negeri 1 Kendari.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Praktis
1. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan akan menambah wawasan bagi seorang
peneliti terhadap bagaimana strategi kepala madrasah dalam
meningkatkan kompetensi profesional dan kinerja guru di di Mts Negeri
1 Kendari, untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat kepala
madrasah.
2. Bagi Lembaga
Diharapkan dengan adanya penelitian ini mampu memberikan
sedikit pemikiran untuk kemajuan dan perkembangan kompetensi
profesional dan kinerja guru. Serta dapat berkontribusi memberikan
referensi atau acuan untuk meningkatkan kualitas guru melalui
rancangan dalam menata serta mengelola kegiatan belajar mengajar
dalam sebuah sistem yang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah.
7
3. Bagi Prodi Manajemen Pendidikan Islam
Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat dijadikan sebagai
dokumentasi program studi Manajemen Pendidikan Islam khususnya
dalam membahas strategi kepala madrasah, kompetensi profesional
guru, dan kinerja guru.
1.5.2 Manfaat Teoritis
Dengan penelitian ini, diharapkan dapat menambah literatur dan sumber
informasi serta sebagai bahan rujukan untuk penelitian lebih lanjut mengenai
tentang bagaimana strategi peningkatan kompetensi profesional dan kinerja
guru terutama terhadap pendidikan formal.
1.6 Definisi Operasional
1. Strategi Kepala Madrasah
Menurut pengertian peneliti, strategi kepala madrasah yaitu cara
atau upaya yang dilakukan oleh seorang kepala madrasah yakni
pemimpin di lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan dari lembaga
yang dipimpinnya.
2. Kompetensi profesional guru
Menurut pengertian peneliti, Kompetensi profesional guru
kemampuan, keahlian dan kepercayaan pada seseorang yang memegang
dan memberikan mata pelajaran disekolah dalam menumbuhkan dan
mengembangkan potensi peserta didik sehingga peserta didik terdorong
untuk memahami dan menguasai materi pelajaran. Kompetensi
profesional tersebut meliputi kepribadian, menyusun perencanaan
pembelajaran, penguasaan bahan, mengelola kelas, penggunaan metode
8
dan mendia yang bervariasi, memberikan nilai yang obyektif,
memberikan hadiah bagi yang berprestasi, memberikan pujian bagi
yang berprilaku baik.
3. Kinerja guru
Menurut pengertian peneliti, kinerja guru adalah sebuah hasil
kerja atau prestasi kerja yang dihasilkan oleh seorang guru, akan tetapi
kinerja guru guru tidak hanya terpaku pada hasil kerja dan prestasi
kerja, melainkan juga pada proses kerja. Artinya, bagaimana seorang
guru dalam menekuni atau melaksanakan pekerjaannya.
1.7 Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan yang menjadi langkah-langkah dalam proses
penyusunan tugas akhir ini selanjutnya yaitu:
BAB I. PENDAHULUAN
BAB ini berisi tentang latar belakang, fokus penelitian, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional dan sistematika
Pembahasan.
BAB II. TINJUAN PUSTAKA
Pada bab ini memuat uraian tentang penelitian terdahulu yang relavan,
landasan teori dan kerangka pikir.
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
Memuat secara rinci jenis penelitian, waktu dan tempat penelitian, data dan
sumber data yang digunakan, teknik pengumpulan data, teknik analisis data,
dan teknik pemeriksaan keabsahan data.
1.8
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu yang Relavan
Penelitian terdahulu menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan
penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori atau literatur yang
digunakan dalam mengkaji penelitian yang akan dilakukan. Penulis
mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam memperkaya bahan
kajian pada penelitian penulis. Untuk menghindari anggapan kesamaan
dengan penelitian yang akan dilakukan saat ini, maka dengan ini peneliti
mencantumkan hasil-hasil penelitian terdahulu. Berikut merupakan penelitian
terdahulu berupa beberapa karya tulis ilmiah terkait dengan penelitian yang
dilakukan penulis:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Afief Ma’ruf Al Rasyid, dengan judul
“Strategi Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kinerja
Guru Di Era Pandemi Covid 19 (Studi Kasus Di MI Tarbiyatul Mustafid
Batu Rimpang Tahun Pelajaran 2020/2021)”. Penelitian ini menemukan
bahwa (1) strategi kepala madrsah dalam meningkatkan kinerja guru di era
pandemi covid 19 adalah mengadakan pelatihan kepada guru dalam
membuat perencanaan pembelajaran dan model pembelajaran di era
pandemi covid 19, menugaskan guru untuk menyampaikan materi esensial
dengan kondisi pada masa covid 19 sesuai kurikulum dan mengikutkan
guru dalam MGMP, kepala madrasah melakukan pengawasan berupa
monitoring dalam proses pembelajaran dan menugaskan kepada guru
untuk membuat teks penilaian, menugaskan kepada guru untuk menjaga
10
komunikasi dengan peserta didik dan orang tua wali dalam proses
pembelajaran serta bersikap terbuka dan menekankan kedisiplinan. (2)
kinerja guru di era pandemi covid 19 adalah guru kurang disiplin dalam
proses pembelajaran, tidak membuat sebuah perencanaan dalam proses
pembelajaran, guru tidak variatif dalam menggunakan alat bantu aplikasi
pembelajaran daring, guru kurang dalam pengelolaan kelas dan guru
kurang komunikasi dengan orang tua wali peserta didik. (3) faktor-faktor
penghambat strategi kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan
kinerja guru di era pandemi covid 19 adalah tidak semua kebutuhan dapat
difasilitasi karna kekurangan dalam pembiayaan dan kurangnya
kemamampuan guru dalam mengatasi masalah karna tidak semua
berfrofesi sesuai dengan jurusan, faktor internal guru yang terbawa
kesekolah, seringnya guru merasa dipaksa yang menimbulkan kejenuhan
sehingga merasakan kurangya kasih sayang dan merasakan terlalu banyak
dikontrol. Dari upaya atau strategi tersebut dapat meningkatkan kinerja
guru di era pandemi covid 19 di MI Tarbiyatul Mustafid Batu Rimpang
(Rasyid, 2021).
2. Penelitian yang dilakukan oleh Anggi Lutfiyana, dengan judul “Strategi
Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kinerja Tenaga
Kependidikan Di Mts. Muallimin Univa Medan”. Hasil penelitian
mengungkapkan bahwa: 1) Strategi kepemimpinan kepala madrasah di
MTs. Muallimin Univa Medan adalah strategi kekeluargaan, dan juga
melakukan strategi dengan cara musyawarah atau kepemimpinan yang
demokratis. 2) Kinerja tenaga kependidikan di MTs. Muallimin Univa
11
Medan bahwasanya selama ini sudah berjalan cukup baik, walaupun masih
banyaknya kekurangan. Kinerja yang menurun diakibatkan karena faktor
usia dan saling menutupi kekurangan satu sama lain. 3) Strategi
kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja tenaga
kependidikan di MTs. Muallimin Univa Medan dengan melakukan strategi
pelatihan-pelatihan terhadapat tenaga kependidikan juga menyediakan
fasilitas sarana dan prasarana yang memadai. Kepala madrasah juga
melakukan penghargaan untuk memotivasi tenaga kependidikan. 4)
Kendala yang terjadi dalam strategi kepemimpinan kepala madrasah dalam
meningkatkan kinerja tenaga kependidikan di MTs. Muallimin Univa
Medan yaitu kekurangan tenaga ahli dan juga beberapa hari terakhir
kedisiplinan tenaga kependidikan sedit berkurang dikarenakan kesibukan
masing-masing (Lutfiyana, 2020).
3. Penelitian yang dilakukan oleh Sahrul Autory, dengan judul “Strategi
Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Di
Ma Mathla’ul Anwar Gisting”. Hasil yang didapat dari wawancara dan
observasi, strategi kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi
profesional guru di bidang pelaksanaan penataran, kepala sekolah
mengadakan pelatihan-pelatihan untuk memperdayakan kompetensi yang
dimiliki guru seperti mengikut sertakan guru ke pelatihan PLPG dan
kepala sekolah mengadakan pelatihan pengembangan kurikulum, strategi
pengeololaan kelas, tujuan dilakukan pelatihan ini untuk meningkatkan
profesional guru sebagai prilaku perubahan pembelajaran yang dilakukan
didalam kelas. Sedangkan strategi kepala sekolah dalam meningkatkan
12
kompetensi profesional guru MA Mathla’ul Anwar dengan melaksanakan
supervisi akademik, seperti membimbing guru dalam menyusun silabus
tiap bidang pengembangan di sekolah atau mata pelajaran di sekolahan
berlandasan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar biasanya
dalam sebuah rapat sekolah, disitulah kepala sekolah membimbing para
guru, membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi
pembelajaran yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa, dan
memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk
pembelajaran (Autory, 2019).
4. Penelitian yang dilakukan oleh Subakir, dengan judul “Strategi Kepala
Madrasah Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru MA Nurul Ulum
Kotagajah Lampung Tengah”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1)
strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru
yakni dengan memberikan motivasi kepada guru untuk melanjutkan studi
kejenjang yang lebih tinggi, menghimbau kepada dewan guru untuk
memanfaatkan fasilitas pembelajaran, membantu menyusun perangkat
pembelajaran, mengikutsertakan guru mengikuti kegiatan peningkatan
kompetensi guru; (2) strategi kepala madrasah dalam meningkatkan
kompetensi kepribadian guru yaitu dengan pengajian, paguyuban, dan
memberikan keteladanan kepada guru; (3) strategi kepala madrasah dalam
meningkatkan kompetensi sosial guru melalui acara gotong-royong,
Perkumpulan dengan keluarga besar yayasan, silahturahmi antar keluarga
guru, pengajian tiap bulan, menjenguk yang sakit, berinteraksi dengan
masyarakat, mengucapkan salam dan berjabat tangan; (4) strategi kepala
13
madrasah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru melalui
pengembangan profesional seperti MGMP, seminar, diklat, penulisan
karya ilmiah dan memanfaatkan fasilitas internet (Subakir, 2017).
5. Penelitian yang dilakukan oleh Zainur Ridho, dengan judul “Strategi
Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Di Madrasah
Tsanawiyah (Mts) Nurul Yaqin Klungkung Sukorambi Jember”. Adapun
hasil dari penelitian ini diantaranya: 1) Strategi yang digunakan oleh
kepala madrasah MTs Nurul Yaqin klungkung dalam meningkatkan
kinerja guru yang ada disana yaitu menggunakan strategi kekeluargaan
yang mana strategi ini merupakan bagian dari strategi fasilitatif. Kepala
madrasah menjadikan guru-guru sebagai keluarga sendiri. Yang dilakukan
oleh kepala madrasah yaitu mengadakan evaluasi rutin, pembinaan
pendidik dengan cara diikutkan pelatihan, serta pengawasan langsung
terhadap kinerja guru. 2) Dalam meningkatkan kinerja guru di MTs Nurul
Yaqin ada beberapa kendala yang dialami oleh kepla madrasah yaitu, latar
belakang guru yang bukan dari pendidikan, sehingga berpengaruh terhadap
pemahaman akan materi yang akan disampaikan. Faktor usia guru yang
sudah tidak muda lagi sehingga kurang produktif untuk menghasilkan
inovasiinovasi baru dalam mengajarnya (Ridho, 2022).
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Teori Strategi Kepala Madrasah
[Link] Pengertian Strategi
Secara bahasa strategi atau “strategos atau strategia” berasal dari kata
Yunani (Greek) yang berarti “General or Generalship” atau diartikan juga
14
sebagai sesuatu yang berkaitan dengan top manajemen pada suatu organisasi
(Suci, 2015). Strategi merupakan suatu rencana yang dibuat atau dirancang
sebelumnya untuk mendapatkan tujuan serta hasil yang diinginkan melalui
proses-proses tertentu dengan menggunakan jasa sumber daya manusia atau
suatu organisasi untuk mewujudkan strategi yang sudah dirancang sedemikian
rupa.
Istilah strategi dapat dikatakan sebagai seni juga sesuatu yang bisa
dipelajari sehingga strategi juga sebagai ilmu (Kurniawan, 2013). Dalam
membuat suatu siasat untuk mencapai tujuan, dalam bidang pendidikan dan
pengajaran orang juga suka menggunakan istilah strategi. Dihubungkan
dengan proses pembelajaran, strategi bisa diartikan sebagai cara atau pola
umum kegiatan guru-peserta didik dalam perwujudan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan secara efektif dan
efisien (Lufri et al., 2020).
Strategi adalah adalah sebagai suatu proses penentuan rencana para
pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi,
disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut
dapat dicapai. Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremenial
(senantiasa meningkat) dan terus menerus, serta dilakukan berdasarkna sudut
pandang tentang apa yang di harapkan oleh para pelanggan di masa depan.
Dengan demikian, strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi
dan bukan dimulai dari apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar
yang baru dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti (core
competition) (Umar, 2001).
15
[Link] Pengertian Kepala Madrasah
Kepala madrasah berasal dari dua kata yaitu kepala dan Madrasah kata
kepala dapat diartikan “ketua” atau “pemimpin” dalam suatu organisasi atau
suatu lembaga, sedangkan “Madrasah” dari segi bahasa adalah sekolah, dan
madrasah dari segi istilah yaitu suatu lembaga dimana menjadi tempat
menerima dan memberi pelajaran (Purwanti, 2016).
Secara sederhana kepala madrasah dapat di definisikan sebagai seorang
tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu madrasah
dimana diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat dimana terjadi
interaksi antara guru guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima
pelajaran (Nasrun, 2016).
Menurut Daryanto, kepala madrasah merupakan personil sekolah yang
brtanggung jawab terhadap seluruh kegiatan-kegiatan sekolah, ia mempunyai
wewenang dan tanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan seluruh
kegiatan pendidikan dalam lingkungan sekolah yang dipimpinnya (Daryanto,
2014).
Kepala madrasah merupakan salah satu komponen pendidikan yang
paling berperan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang
diungkapkan Supardi “bahwa erat hubungannya antara mutu kepala madrasah
dengan aspek kehidupan madrasah seperti disiplin sekolah. Iklim budaya
sekolah dan menurunnya perilaku peserta didik”. Dari pada itu kepala
madrasah bertanggung jawab atas manajemen pendidikan secara mikro, yang
secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran di madrasah.
Sebagaimana dikemukakan dalam pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1990 bahwa
16
“kepala madrasah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan
pendidikan, administrasi madrasah, pembina tenaga pendidikan lainnya dan
pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana” (Mulyasa, 2003).
[Link] Bentuk-Bentuk Strategi Kepala Madrasah
Keberhasilan suatu organisasi ditentukan oleh kemampuan pimpinan
organisasi. Dalam konteks lembaga pendidikan yang menjadi pimpinan adalah
seorang kepala sekolah. yang dimaksud dengan kemampuan pimpinan yaitu
kemampuan menetapkan strategi yang tepat dalam menjalankan organisasinya
dan memanfaatkan lingkungan dengan memilih pengorganisasian sumber
daya internal yang tepat, ketepatan strategi yang ditetapkan pimpinan suatu
organisasi didasarkan pada pemikiran strategi yang dimilikinya dengan
pengalaman pembelajarannya dalam situasi lingkungan yang terus berubah.
Proses yang dilakukan orang yang ahli strategi tersebut digunakan sebagai
pemikiran strategi formal untuk panduan dalam menetapkan keputusan
manajemen (Sofian, 2013).
Menurut Lashway dalam Jerry, untuk mencapai kerjasama dari para
rekan kerja atau para anggota dan mencapai tujuan organisasi, saat ini kepala
sekolah memiliki tiga strategi yaitu:
1. Strategi Hirarki Kepala madrasah yang menggunakan strategi hierarki
cenderung memberikan cara pandang yang luas memberikan janjidan
efisiensi,memberikan penerimaan yang luas dalam mengelola
organisasinya, juga melakukan pengawasan serta rutinitas yang
direncanakan. Kepemimpinan kepala madrasah adalah berkaitan erat
dengan kepala madrasah sebagai perencana, pengalokasi,
17
sumberdaya, koordinator, supervisor, penyebar informasi dan sebagai
analisis.
2. Strategi Transformasional Dalam penggunaan strategi
transformasional, strategi transformasional berjalan atas ajakan
dengan bujukan, khayalan, dan kekaguman dalam bidang
pengetahuan, motivasi pegawai/bawahan melalui membagi visi, nilai
dan simbol. Pemimpin yang menerapkan strategi transformasional
lebih cepat menerima tujuan kelompok, memperhatikan harapan
kinerja tinggi, menciptakan kekaguman intelektual, dan menampilkan
model yang sesuai dengan perilaku mereka. Strategi transformasional
lebih mengarah kepada memotivasi serta memberikan informasi
kepada bawahan khususnya bila organisasi dalam melakukan
perubahan utama.
3. Strategi Fasilitatif Penggunaan strategi fasilitatif, kepemimpinan
fasilitatif sebagai suatu perilaku dan kemampuan kebersamaan dari
sekolah untuk beradaptasi, pemecahan masalah, dan peningkatan
kerja. Strategi fasilitatif memberikan kepada rekan kerja dalam hal ini
guru sebagai teman dalam keseharian dalam membawa visi untuk
kehidupan. Tindakan kepala madrasah yang menggunakan strategi
fasilitatif biasa digunakan bila mana pemimpin mengahadapi
hambatan dalam sumberdaya, membangun tim kerja, memberikan
umpan balik koordinasi dan manajemen konflik, menciptakan
jaringan komunikasi, melakukan kerjasama politik, dan sebagai model
dalam visi lembaga (Makawimbang, 2012).
18
[Link] Tahap-Tahap Strategi
Dalam menerapkan manajemen strategi harus dengan beberapa tahapan
agar strategi yang akan digunakan tepat dan benar-benar sesuai dengan
kondisi yang ada. Terdapat beberapa tahapan dalam penerapan manajemen
strategi, yaitu sebagai berikut (Insiati & Giovanny, 2019):
1. Proses manajemen strategik
Proses manajemen strategik terdiri atas tiga tahap yakni,
formulasi strategi, implementasi strategik, dan evaluasi strategik.
Formulasi strategi sering juga disebut dengan perencanaan strategis.
formulasi strategi merupakan pengembangan perencanaan jangka
panjang untuk manajemen yang efektif melalui analisis lingkungan
(Supanto, 2019). Sebagai seorang pemimpin sangat perlu untuk
mengetahui lingkungan sekitar dari organisasi atau lembaga. Kepala
sekolah sebagai seorang pemimpin dalam lembaga pendidikan perlu
kiranya untuk mengetahui lingkungan sekitar supaya tujuan yang
akan ditetapkan dalam lembaga seuai dengan kebutuhan lingkungan
sekitar.
2. Implementasi Strategik
Implementasi strategi adalah sebuah proses yang mana strategi
dan kebijakan diarahkan kedalam tindakan melalui pengembangan
rpogram, anggaran, dan prosedur (Supanto, 2019). Mensyaratkan
dalam lembaga untuk menetapkan tujuan tahunan, membuat
kebijakan, memotivasi rekan kerja, dan mengalokasikan sumber daya
19
sehingga strategik yang telah diformulasikan (direncanakan)
sebelumnya dapat dijalankan (Nuraeni, & Permana, 2022).
Pada tahapan ini sering dikatakan sebagai tahapan yang paling
rumit. Karena, strategi yang sudah diformulasikan bagaiamana
caranya itu harus berjalan sesuai dengan harapan, bukan hanya berupa
angan-angan semata. Pada tahapan ini butuh kedisiplinan, komitmen
dan pengorbanan. Suksesnya tahapan ini terletak pada kemampuan
mengendalikan dan memotivasi rekan kerja sehingga lebih tepat
disebut sebagai seni daripada ilmu.
3. Evaluasi Strategi
Bagian yang terakhir dari tahapan manajemen strategi adalah
evaluasi strategi. Didalam literatur yang lain banyak yang ada yang
menggunakan istilah evaluasi dan pengendalian strategi. Sebagaimana
yang terdapat didalam bukunya Amirullah. Evaluasi merupakan
tahapan dimana manajer mencoba menjamin bahwa strategi yang
telah dipilih itu terlaksana dengan tepat dan mencapai tujuan yang
telah diharapkan (Amirullah, 2015).
Pengendalian strategi merupakan suatu jenis khusus dari
pengendalian organisasi yang berfokus pada pemantauan dan
pengimplementasikan proses manajemen strategi (Nazarudin, 2020).
Sementara Amirullah mengatakan bahwa pengendalian strategi
pengendalian yang mengikuti strategi yang sedang
diimplementasikan, mendeteksi masalah, atau perubahan yang terjadi
20
pada landasan pemikirannya, dan melakukan penyesuaian yang
diperlukan (Amirullah, 2015).
2.2.2 Teori Kompetensi Profesional Guru
[Link] Pengertian Kompetensi Profesional Guru
Makna penting kompetensi dalam dunia pendidikan didasarkan atas
pertimbanagan rasional bahwasannya proses pemebelajaran merupakan proses
yang rumit dan kompleks. Ada beragam aspek yang saling berkaitan dan
mempengaruhi berhasil atau gagalnya kegiatan pembelajaran. Banyak guru
yang telah bertahun-tahun mengajar, tetapi sebenarnya kegiatan yang
dilakukannya tidak banyak memberikan aspek perubahan positif dalam
kehidupan siswanya. Sebaliknya, ada juga guru yang relatif baru, namun telah
memberikan kontribusi konkret ke arah kemajuan dan perubahan positif dalam
diri para siswa. Mereka yang mampu memberi “pencerahan” pada siswanya
dapat dipastikan memiliki kompetensi sebagai seorang guru yang profesional
(Subakir, 2017).
Kata kompetensi secara harfiah dapat diartikan sebagai kemampuan.
Kata ini sekarang menjadi kunci dalam dunia pendidikan. Dalam kurikulum
misalnya, kita mengenal KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Dengan
memiliki kompetensi yang memadai, seseorang khususnya guru, dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya
dunia pendidikan jika para gurunya tidak memiliki kompetensi yang memadai
(Safitri & Sos, 2019).
Kompetensi menurut Kepmendiknas 04/U/2002 adalah seperangkat
tindakan cerdas, penuh tanggung jawab, yang dimiliki seseorang sebagai
21
syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-
tugas dibidang pekerjaan tertentu. Sedangkan profesional menurut Undang
Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah pekerjaan
atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber
penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau
kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta
memerlukan pendidikan profesi (KUNANDAR, 2011).
Kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam
melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.
Dengan gambaran pengertian tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa
kompetensi merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam
melaksanakan profesi keguruannya (Hamid, 2017).
Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi
pembelajaran secar luas dan mendalam, serta metode dan teknik mengajar
yang sesuai yang dapat dipahami oleh peserta didik, mudah ditangkap,
tidak menimbulkan kesulitan dan keraguan (Apriyulianti & Saiful, 2021).
Kompetensi profesional guru merupakan kemampuan guru dalam
menguasai mata pelajaran yang digunakan yang didalamnya terdapat
penguasaan terhadap rencana pembelajaran, keterkaitan dengan mata
pelajaran, dan bahan ajar. Seperti guru Pendidikan Agama Islam harus
menguasai materi segala yang berkaitan agama Islam.
Kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru
yang tampak sangat berarti. Kompetensi merupakan perilaku yang rasional
untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang
22
diharapkan. Keadaan berwenang atau memenuhi syarat menuntut ketentuan
hokum (Dudung, 2018).
Kata profesional menunjukkan bahwa guru adalah sebuah profesi, yang
bagi guru, seharusnya menjalankan profesinya dengan baik. Dengan demikian,
ia akan disebut sebagai guru yang profesional. Disini terlihat bahwa menjadi
guru yang profesional ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Seorang
pendidik dituntut untuk memiliki kompetensi yang dapat digunakan untuk
melaksanakan tugasnya (Naim, 2016).
Pemaparan di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan
kompetensi profesional guru adalah kemampuan seorang pendidik dalam
penguasaan materi secara luas dan mendalam, serta membimbing peserta didik
dengan memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan dalam standar
nasional pendidikan.
[Link] Karakteristik Kompetensi Profesional Guru
Guru profesional yang bekerja melaksanakan fungsi dan tujuan
madrasah harus memiliki kompetensi-kompetensi yang dituntut agar guru
mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Tanpa mengabaikan
kemungkinan adanya perbedaan lingkungan sosial kultural dari setiap institusi
madrasah sebagai indikator, maka guru yang dinilai kompetensi secara
profesional apabila: (1) Guru tersebut mampu mengembangkan tanggung
jawab dengan sebaik-baiknya; (2) Guru tersebut mampu melaksanakan
peranan-peranannya secara berhasil; (3) Guru tersebut mampu bekerja dalam
usaha mencapai tujuan pendidikan (tujuan instruksional) sekolah; (4) Guru
23
tersebut mampu melaksanakan peranannya dalam proses mengajar dan belajar
dalam kelas (Hamalik, 2002).
Ciri-ciri guru profesional, antara lain (1) guru mempunyai komitmen
pada peserta didik dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi
guru adalah kepada kepentingan peserta didiknya; (2) guru menguasai secara
mendalam bahan atau mata pelajaran yang diajarkannya serta cara
mengajarkannya kepada peserta didik. Bagi guru, hal ini merupakan dua hal
yang tidak dapat dipisahkan; (3) guru bertanggung jawab memantau hasil
belajar peserta didik melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan
dalam perilaku peserta didik sampai tes hasil belajar; (4) guru mampu berpikir
secara sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari
pengalamannya. Artinya harus selalu ada waktu untuk guru guna mengadakan
refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya; (5) guru
seyogianya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan
profesinya (Jamin, 2018).
[Link] Indikator Kompetensi Profesional Guru
Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi materi
kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi
materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya
(Naim, 2016). Setiap subskompetensi tersebut memiliki indikator essensial
sebagai berikut:
1. Sub kompetensi menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan
bidang studi memiliki indikator essensial: memahami materi ajar
yang ada dalam kurikulum sekolah, memahami struktur, konsep dan
24
metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar,
memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait, dan
menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Sub kompetensi menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki
indikator essensial menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian
kritis untuk memperdalam pengetahuan/materi bidang studi secara
profesional dalam konteks global. Kemampuan penguasaan materi
pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi:
a) Konsep, struktur, metode keilmuan, teknologi, dan seni yang
menaungi dengan materi ajar.
b) Materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah.
c) Hubungan konsep antar mata pelajaran terkait.
d) Penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-
hari.
e) Kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan
tetap melestarikan nilai dan budaya nasional (Aspari, 2022).
Beberapa indikator yang dapat dijandikan ukuran karakteristik guru
yang dinilai kompeten secara profesional yaitu:
a) Mampu mengembangkan tanggung jawab dengan baik.
b) Mampu melaksanakan peran dan fungsinya dengan tepat.
c) Mampu bekerja untuk mewujudkan tujuan pendidikan di
sekolah.
d) Mampu melaksanakan peran dan fungsinya dalam
pembelajaran di kelas (Suhana & Hanafiah, 2014).
25
[Link] Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kompetensi Profesioanal
Guru
Kompetensi profesional adalah guru yang memiliki kompetensi atau
keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga mampu melakukan tugas
dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Maka dapat
dipahami bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kompetensi
profesional guru antara lain adalah sebagai berikut (Fathurrahman, 2006):
1. Latar belakang pendidikan
Latar belakang pendidikan dan pengalaman belajar akan
mempengaruhi kompetensi guru dalam mengajar. Guru pemula dengan
latar belakang pendidikan, akan lebih mudah dan menyesuaikan diri
dengan lingkungan sekolahnya.
2. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah sesuatu yang dapat dari membaca
pengalaman untuk dapat mentransferkan ilmu pengetahuan kepada
peserta didiknya, seorang guru tentu saja harus memiliki dan menguasai
ilmu pengetahuan itu sendiri. Oleh karena itu sorang guru harus
memiliki pengetahuan agar mampu menambah wawasan pengetahuan
yang diberikan oleh guru tersebut.
3. Kemampuan (Ability)
Kemampuan adalah faktor yang penting dalam meningkatkan
produktifitas kerja, abilitas berhubungan dengan pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki individu. Kemampuan dalam artian
kecakapan guru yaitu berupa kecakapan profesional guru yang
26
menunjukan pada satu tindakan kependidikan yang berdampak positif
bagi proses pembelajaran dan perkembangan pribadi siswa. Bentuk
tindakan dalam pendidikan dapat berwujud keterampilan mengajar
(Teaching Skill) sebagai akumulasi dari pengetahuan (Knowledge) yang
diperoleh para guru pada saat menempuh pendidikan seperti SPG,
PGMI, PGRA, dan lain sebagainya (Rachmawati, 2013).
4. Kemampuan (Skill)
Keterampilan atau skill merupakan salah satu unsur kemampuan
yang terdapat pada unsur penerapannya. Keterampilan merupakan suatu
kepandaian atau keahlian istimewa dalam suatu pekerjaan yang
bermanfaat untuk jaka panjang. Guru diharapkan memiliki 8
keterampilan yaitu seperti: keterampilan bertanya (Questioning Skill),
keterampilan memberikan penguatan (Reirforsement Skill),
keterampilan menjelaskan (Eksplaning Skill), keterampilan
mengadakan variasi, keterampilan membuka dan menutup pelajaran
(Set Inductional and Closure Skill), keterampilan membimbing diskusi
kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, keterampilan
pembelajaran perseorangan.
5. Sikap (Attitude)
Sikap diri merupakan keprbadian seorang individu. Kepribadian
adalah bentuk sikap yang menyangkut keseluruhan aspek seseorang
baik fisik ataupun psikis, baik yang diperoleh sejak lahir ataupun
dieroleh dari pengalaman. Sikap diri yang sangat diperlukan dalam
pengembangan profesionalisme adalah disiplin yang tinggi. Percaya
27
diri yang positif, akrab dan ramah tamah (berwibawa) dan terampil
berkata yang sopan dan santun (Fathurrahman, 2006).
2.2.3 Teori Kinerja Guru
[Link] Pengertian Kinerja Guru
Setiap individu yang di beri tugas atau kepercayaan untuk bekerja pada
suatu organisasi tertentu diharapkan mampu menunjukan kineja yang
memuaskan dan memberikan konstibusi yang maksimal terhadap pencapaian
tujuan organisasi tesebut. Kinerja adalah tingkat keberhasilan seseorang atau
kelompok orang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta
kemampuan untuk mencapai tujuan dan standar yang telah ditetapkan
(Barkah, 2014).
Kinerja merupakan suatu konsep yang bersifat universal yang
merupakan efektifitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan
karyawannya berdasarkan standar dan kriteria yang telah ditetapkan
sebelumnya. Karena organisasi pada dasarnya dijalankan oleh manusia maka
kinerja sesungguhnya merupakan perilaku manusia dalam menjalankan
perannya dalam suatu organisasi untuk memenuhi standar perilaku yang telah
ditetapkan agar membuahkan tindakan serta hasil yang diinginkan (Zubair et
al., 2017).
Kinerja merupakan hasil dari fungsi pekerjaan atau kegiatan tertentu
yang di dalamnya terdiri dari tiga aspek yaitu kejelasan tugas atau pekeerjaan
yang menjadi tanggung jawabnya; kejelasan hasil yang diharapkan dari suatu
pekeerjaan atau fungsi; Kejelasan waktu yang tewujud (HARDJONO, 2013).
Berdasarkan beberapa penjelasan tentang pengertian kinerja di atas dapat
28
disimpulkan bahwa kineja guru adalah kemampuan yang ditunjukan oeh guru
dalam melaksanakan tugas atau pekerjaanya. Kinerja dapat dikatakan baik dan
memuaskan apabila tujuan yang di capai sesuai dengan standar yang telah di
tetapkan.
Sedangkan pengertian guru adalah seorang yang memberikan ilmu
pengetahuan kepada anak didiknya di depan kelas, disamping itu guru
merupakan orang yang memberikan bimbingan pengajaran yang berkenaan
dengan pengetahuan yang bersifat kognitif, afektif, dan pesikomotor. Hal ini
sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 yaitu
“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan
pendidikan menengah”.
Pendapat lain menyatakan bahwa guru adalah “salah satu komponen
manusiawi yang dalam proses mengajar ikut berperan dalam usaha
pembentukan sumber daya manusia (SDM) yang berpotensi di dalam
pembangunan (Sardiman, 2011).
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kinerja guru adalah
kemampuan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran, untuk mendidik dan
memberikan dorongan kepada peserta didik agar lebih professional di dalam
menjalankan tugas dan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan yang ia
butuhkan.
[Link] Indikator Kinerja Guru
Kinerja merefleksikan kesusksesan suatu organisasi, maka di pandang
29
penting untuk mengukur karakteristik tenaga kerjanya. Kinerja guru
merupakan kulminasi dari tiga elemen yang saling berkaitan yakni
keterampilan, upaya sifat keadaan dan kondisi eksternal.
Kenerja guru sangat penting untuk diperhatikan dan dievaluasi karena
guru mengemban tugas profesionalnya artinya tugas-tugas hanya dapat
dikejakan dengan kompetensi khusus yang diperoleh melalui program
pendidikan. Guru memiliki tanggung jawab yang secara garis besar dapat
dikelompokkan yaitu: 1). Guru sebagai pengajar, 2). Guru sebagai
pembimbing, 3). Guru sebagai administrator kelas (Danim, 2016).
Indikator seorang guru memiliki kinerja yang baik dalam proses
pembelajaran menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut (Mahmudah,
2021):
1. Perencanaan pembelajaran, meliputi:
a. Perumusan tujuan pembelajaran
b. Pemilihan materi ajar
c. Pemilihan sumber media pembelajaran
d. Kejelasan scenario pembelajaran
e. Kesesuaian teknik pembelajaran
f. Kelengkapan insterument pembelajaran dengan tujuan
pembelajaran
2. Strategi pembelajaran, meliputi:
a. Kejelasan rumusan tujuan pembelajaran
b. Kesesuaian dengan kompetensi dasar
c. Kesesuaian materi ajar dengan tujuan pembelajaran
30
d. Kesesuaian tujuan dengan karakteristik peserta didik
e. Keruntutan dan sistematika materi ajar
f. Kesesuaian media atau alat pembelajaran dengan tujuan
pembelajaran
g. Kesesuaian media atau alat pembelajaran materi pembelajaran
3. Evaluasi pembelajaran, meliputi:
a. Kesesuaian antara teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran
b. Kejelasan prosedur penilaian
c. Kelengkapan instrument penilaian
d. Mengkomunikasikan kemajuan belajar siswa kepada orang tua
e. Refleksi pengajaran
f. Evaluasi untuk mengambil keputusan dalam pembelajaran
4. Lingkungan belajar, meliputi:
a. Menciptakan budaya belajar
b. Mengelola kelas secara efektif
5. Pengembangan professional, meliputi:
a. Peningkatan profesi
b. Bekerjasama dengan rekan sejawat
c. Mengembangkan profesionalisme secara berkelanjutan
6. Komunikasi, meliputi:
a. Komunikasi secara jelas kepada siswa
b. Komunikasi secara jelas kepada orangtua siswa
c. Komunikasi secara jelas kepada stakeholder
31
[Link] Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru
Guru merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan dan dianggap
sebagai orang yang berperan penting dalam pencapaian tujuan pendidikan
yang merupakan penceminan pendidikan. Keberadaan guru dalam
melaksanakan tugas dan kewajibanya tidak terlepas dari pengaruh faktor
internal maupun faktor eksternal yang membawa dampak pada perubahan
kinerja guru.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja guru yang dapat diungkap
tersebut antara lain:
1. Kepribadian dan dedikasi
Setiap guru memiliki pribadi masing-masing sesuai dengan ciri-
ciri pribadi yang mereka miliki, Ciri–ciri inilah yang membedakan
seorang guru dari guru lainya. Kepribadian adalah suatu masalah
abstrak, yang hanya dapat dilihat dari penampilan, tindakan, ucapan,
cara berpakaian dan dalam menghadapi setiap persoalan. Hal tesebut
sesuai dengan pendapat bahwa kepribadian yang sesungguhnya adalah
abstrak, sukar dilihat dan diketahui secara nyata, yang dapat diketahui
adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan aspek
kehidupan misalnya dalam tindakanya, ucapan, masalah, baik yang
ringan maupun yang berat (Djamarah & Zain, 2006).
Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari
unsur psikis dan fisik, artinya keseluruhan sikap dan perbuatan
seseorang merupakan suatau gambaran dari kepribadian orang itu,
dengan kata lain baik tidaknya citra seseorang ditentukan oleh
32
kepribadianya. Lebih lanjut (Djamarah & Zain, 2006) mengemukakan
bahwa faktor terpending bagi seorang guru adalah kepribadianya.
Kepribadian inilah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik
dan Pembina yang baik bagi anak didiknya ataukah akan menjadi
perusak bagi masadepan anak didik, terutama untuk anak didik yang
masih kecil dan mereka yang mengalami kegunjangan jiwa. Oleh
karena itu kepribadian merupakan faktor yang menentukan tinggi
rendahnya matabat guru.
2. Pengembangan Profesi
Profesi guru kian hari menjadi perhatian seiring dengan
perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menuntut kesiapan
agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Profesi ialah kegiatan yang
menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian,
tanggung jawab dan kesetiaan terhadap profesi (Saud, 2009). Tetapi
pekerjaan itu harus diterapkan kepada masyarakat untuk kepentingan
masyarakat umum, bukan untuk kepentingan individu, kelompok, atau
golongan tertentu.
Dalam melaksanakan pekerjaan itu haus memenuhi norma-norma
didalamnya, orang yang melakukan pekerjaan atau profesi haruslah
orang yang ahli (professional) atau orang yang sudah memiliki daya
piker, ilmu dan keterampilan yang tinggi. Disamping itu ia juga dituntut
dapat mempertanggung jawabkan segala tindakan dan hasil karyanya
yang menyangkut profesi itu.
3. Kemampuan Mengajar
33
Untuk melaksanakan tugas-tugas dengan baik, guru memerlukan
kemampuan. Kemampuan yang haus dimiliki seorang guru menurut
peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional
Pendidikan. Dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru di
kembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama yaitu: (1).
Kompetensi Pedagogik (2). Kepribadian (3). Sosial dan (4).
Professional keempat kompetensi tersebut terin-tegrasi dalam kinerja
guru.
2.3 Kerangka Pikir
Kerangka pikir adalah suatu diagram yang menjelaskan secara garis besar
alur logika berjalannya sebuah penelitian. Kerangka berfikir dibuat berdasarkan
pertanyaan penelitian (research question), dan merepresentasikan suatu himpunan
dari beberapa konsep serta hubungan diantara konsep-konsep tersebut.
(Romadhona & Wahyuningtyas, 2019) Dalam penelitian ini kerangka berfikir
bertujuan untuk menggambarkan konsep dasar mengenai masalah yang di angkat
terkait strategi kepala madrasah dalam meningkatkan kompetensi profesional dan
kinerja guru di Mts Negeri 1 Kendari. Adapun kerangka pikir dalam penelitian ini,
secara ringkas dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
34
Gambar 2.1
Kerangka Pikir
Kepala Madrasah Mts
Negeri 1 Kendari
Strategi-Strategi
Guru Mts Negeri 1 Kendari
Kompetensi
Profesional Kinerja
35
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi
kasus. Seperti yang dikemukakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
studi kasus ditujukan untuk menggali lebih dalam unitunit sosial tertentu
seperti individu, kelompok, institusi, dan komunitas (Hardani, 2020). jenis
penelitian ini adalah jenis penelitian yang menggunkan metode untuk
menghimpun dan menganalisis suatu kasus tertentu baik itu yang terjadi di
masyarakat secara umum atapun yang terjadi di suatu lembaga. Sehingga
peneliti nantinya akan mengumpulkan data di Mts Negeri 1 Kendari
sekaligus menghimpun dan menganalisisnya.
Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan penelitian kualitatif. Tujuan pendekatan kualitatif adalah untuk
menggambarkan fenomena yang dialami oleh subjek penelitian, seperti
perilaku, persepsi, dan perilaku, dalam konteks alam yang khusus, dengan
menggunakan berbagai metode ilmiah, secara utuh, dan kemudian dalam
kata-kata dan bahasa. untuk memahami secara grafis dalam bentuk
(Kusumastuti et al., 2020).
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
3.2.1 Waktu Penelitian
Penelitian mengenai strategi kepala madrasah dalam meningkatkan
kompetensi profesional dan kinerja guru ini dilaksanakan selama kurang lebih
dua bulan.
36
3.2.2 Tempat Penelitian
Penelitian mengenai strategi kepala madrasah dalam meningkatkan
kompetensi profesional dan kinerja guru akan dilakukan di Mts Negeri 1
Kendari.
3.3 Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini berarti informasi atau fakta yang diperoleh
melalui pengamatan atau penelitian di lapangan yang bisa dianalisis dalam
rangka memahami sebuah fenomena atau untuk mendukung sebuah teori.
Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah berupa kata-kata, dan
tindakanselebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain (Hadi,
2016). Data hasil penelitian didapatkan melalui dua sumber data, yaitu:
3.3.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara
yang diperoleh dari subjek yang relevan dan sebenarnya di lapangan. Data
primer merupakan data yang sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil dari
penelitian ini. Dalam penelitian kualitatif, istilah sampel diganti menjadi
subjek, informan, partisipan atau sasaran penelitian dalam hal ini kepala
madrasah, guru dan siswa/siswi di Mts Negeri 1 Kendari (Azwar et al., 2016).
3.3.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain tidak langsung
dari diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. sebagai data pendukung
seperti, konselor subjek, teman subjek, literatur, buku-buku catatan harian dan
dokumentasi subjek yang berkaitan dengan penelitian. Dalam penelitian ini,
37
data sekunder merupakan data pelengkap dari data primer agar penelitian ini
dapat menghasilkan data yang lebih akurat (Azwar et al., 2016).
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Ada beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif
antara lain wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hal ini bertujuan untuk
mendapatkan data yang akurat dan lengkap dalam suatu penelitian. Adapun
metode yang digunakan dalam penlitian ini, antara lainsebagai berikut:
3.4.1 Observasi
Menurut Satori & Komariah, 2014 dalam (Indrawati, 2013) Observasi
adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data
penelitian melalui pengamatan dan pengindraan. Penentunya tergantung pada
apa yang dikehendaki oleh peneliti untuk ambil bagian dari situasi yang
sedang dipelajarinya. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode
pengambilan data observasi dengan menggunakan Observasi partisipan dan
non partisipan yang dimana penentunya tergantung pada apa yang
dikehendaki oleh peneliti untuk ambil bagian dari situasi yang sedang
dipelajarinya.
Pada observasi ini, menggunakan metode observasi anecdotal record
karena mengamati dan mencatat perilaku yang muncul dan tingkah subjek.
Anecdotal record yaitu dengan membawa kertas kosong untuk mencatat
perilaku yang khas, unik, dan yang paling penting dilakukan subjek. Adapun
tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe interpretatif yaitu
melakukan interpretasi suatu perilaku berdasarkan kecenderungan atau
38
kemungkinan yang dapat dijadikan suatu alasan atau sebab akibat yang cukup
kuat (Herdiansyah et al., 2014).
3.4.2 Wawancara
Wawancara diartikan sebagai sebuah interaksi yang di dalamnya
terdapat pertukaran atau berbagai aturan tanggung jawab, perasaan,
kepercayaan, motif, dan [Link] penelitian ini penulis menggunakan
metode wawancara mendalam, wawancara mendalam adalah tanya-jawab
yang terbuka untuk memperoleh data tentang partisipan bagaimana
menggambarkan dunia mereka dan bagaimana mereka menjelaskan atau
menyatakan perasaaannya tentang kejadian penting dalam hidupnya
(Herdiansyah et al., 2014).
Pada penelitian ini, menggunakan wawancara semi terstruktur lebih
tepat dilakukan oleh peneliti kualitatif karena wawancara semi-terstruktur itu
pertanyaannya terbuka, namun ada batasan tema dan alur pembicaraan,
kecepatan wawancara dapat diprediksi, fleksibel tapi terkontrol, ada pedoman
wawancara yang disajikan patokan dalam alur, urutan dan penggunaan kata,
tujuan wawancara ini adalah untuk memahami suatu fenomena (Herdiansyah
et al., 2014).
3.4.3 Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data kualitatif dengan
meihat dan menganlisis dokumendokumen yang dibuat sendiri oleh subjek
atau dibuat oleh orang lain tentang subjek. Dokumentasi merupakan salah
satu cara yang dapat dilakukan dalam penelitian kualitatif untuk mendapatkan
gambaran dari sudut pandang subjek melalui suatu media tertulis dan
39
dokumen lainnya yang ditulis dan dibuat langsung oleh subjek atau yang
bersangkutan (Herdiansyah et al., 2014).
Pengumpulan data dengan dokumentasi akan dilakukan peneliti sejak
peneliti berada dilapangan. Dalam penelitian ini dokumentasi yang dilakukan
adalah dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik
dokumen tertulis, gambar maupun elektronik.
3.5 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan
penelitian. Setelah peneliti mengumpulkan data, langkah selanjutnya adalah
mengorganisasikan dan menganalisis data untuk mencapai tujuan penelitian
yang telah ditetapkan (Anggor, 2008).
Adapun metode analisis yang akan digunakan adalah metode deskriptif
kualitatif. Dimana metode kualitatif adalah metode yang digunakan sebagai
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata
tertulis dan bukan angka dari orang-orang dan pelaku yang diamati (Moleong,
1995).
Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan
bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi
satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya mencari dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting dan apa yang di pelajari dan memutuskan apa
yang dapat diceritakan kepada orang lain (Indrawati, 2013). Adapun teknik
analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
40
3.5.1 Pengumpulan Data
Pada saat melakukan pendekatan dan menjalin hubungan dengan subjek
penelitian, dan melakukan observasi, serta membuat catatan lapangan, bahkan
ketika peneliti berinteraksi dengan lingkungan subjek dan informan, itu
semua diolah. Untuk proses pengumpulan data dalam penelitian kualitatif
sepanjang penelitian berlangsung, sepanjang itulah proses pengumpulan data
dilakukan (Herdiansyah et al., 2014).
3.5.2 Reduksi Data
Data yang diperoleh ditulis dalam bentuk laporan atau data yang
terperinci. Laporan yang disusun berdasrakan data yang diperoleh direduksi,
dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting
(Indrawati, 2013).
3.5.3 Penyajian Data (Data Display)
Teknik penyajian data (data display) dalam penelitian kualitatif dapat
dilakukan dalam berbagai bentuk seperti table, grafik, dan sejenisnya. Lebih
dari itu data bisa disajikan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan
antar kategori, flowchart, dan [Link] demikian yang paling sering
digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan
teks naratif (Indrawati, 2013).
3.5.4 Conclusion Drawing/Verification
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan
akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung
pada tahap pengumpulan data berikutnnya. dengan demikian kesimpulan
dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang
41
dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti yang telah
dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian
kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti
berada dilapangan (Indrawati, 2013).
3.6 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif temuan atau data dapat dinyatakan valid
apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang
sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Kemudian arti reabilitas dalam
penelitian kualitatif adalah suatu realitas itu bersifat majemuk/ganda, dinamis
atau selalu berubah, sehingga tidak ada yang konsisten, dan berulang seperti
semula. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik valditas deskriptif.
Dalam penelitian ini validitas deskriptif mengacu pada keakuratan
informasi-informasi yang dilaporkan oleh peneliti. Informasi itu meliputi
seperti fenomena atau peristiwa, objek, perilaku orang, serta tempat dan
waktu. Apabila bervariasi sumber atau prosedur konsisten maka peneliti
dinilai telah memperoleh data atau kesimpulan yang sah.
Setiap peneliti membutuhkan uji keabsahan data untuk mengtetahui
validitas dan reliabilitas. Pengujian keabsahan data yang akan peneliti lakukan
adalah uji kredibilitas. Uji kredibilitas yang peneliti lakukan dalam penelitian
ini adalah trianggulasi dan member check, sebagai berikut:
3.6.1 Trianggulasi
Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain diluar untuk keperluan pengecekan atau
hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik. Peneliti perlu
42
melakukan trianggulasi yaitu pengecekan data dari berbagai sumber dengan
cara dan waktu (Indrawati, 2013). Dalam penelitian ini menggunaakan data
triangulation, yaitu penggunaan lebih dari satu metode pengumpulan data
dalam kasus tunggal. Metode pengumpulan data yang pada umumnya
dilakukan dalam penelitian kualitatif yaitu, wawancara, observasi,
dokumentasi, dsb.
3.6.2 Member Check
Member Check adalah proses-proses pengecekan data yang diperoleh
peneliti kepada informan. Tujuannya adalah untuk mengetahui kesesuaian
data yang diberikan oleh pemberi [Link] pemberi data sudah
menyepakati data yang diberikan berarti data tersebut valid, sehingga
semakin kredible (Indrawati, 2013).
43
DAFTAR ISI
Amirullah, A. (2015). Pengantar Manajemen. Fungsi–Proses–
Pengendalian. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Anggor, T. M (2008). Metode Penelitian. Jakarta: Universitas Terbuka, 38.
Apriyulianti, I., & Saiful, A. (2021). Jurnal manajer pendidikan. Jurnal Manajer
Pendidikan, 15(03), 1–9.
Aspari. (2022). Efektifitas Remedial Teaching dan Pengelolaan Kelas Dalam
Peningkatan Mutu Pendidikan Siswa. Akrab Juara, 7(3).
Autory, S. (2019). STRATEGI KEPALA SEKOLAH DALAM
MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DI MA
MATHLA’UL ANWAR GISTING. UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
RADEN INTAN LAMPUNG.
Azwar, A., Muljono, P., & Herawati, T. (2016). Persepsi dan Partisipasi Petani
dalam Pelaksanaan Rehabilitasi Tanaman Kakao di Kabupaten Sigi Provinsi
Sulawesi Tengah. Jurnal Penyuluhan, 12(2), 157.
[Link]
Baharun, H. (2017). Peningkatan kompetensi guru melalui sistem kepemimpinan
kepala madrasah. At-Tajdid: Jurnal Ilmu Tarbiyah, 6(1), 1-26.
Barkah, J. (2014). Meningkatkan Kinerja Guru Melalui Kemampuan Manajerial
Kepala Sekolah Dan Iklim Organisasi Di Madrasah.
[Link], 6(1), 30–40.
[Link]
Danim, S. (2016). Inovasi pendidikan: dalam upaya peningkatan profesionalisme
tenaga kependidikan.
Daryanto, M. (2014). Administrasi pendidikan.
Djamarah, S. B., & Zain, A. (2006). Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka
Cipta, 46.
Dudung, A. (2018). Kompetensi profesional guru. JKKP (Jurnal Kesejahteraan
Keluarga Dan Pendidikan), 5(1), 9-19.
Farikhah, S. (2015). Manajemen lembaga pendidikan.
Fathurrahman, P. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Karya Cipta, 63.
Hadi, S. (2016). Pemeriksaan Keabsahan Data Penelitian Kualitatif Pada Skripsi.
Jurnal Ilmu Pendidikan, 22(1), 76.
44
Hamalik, O. (2002). Pendidikan guru berdasarkan pendekatan kompetensi.
Bandung: Bumi Aksara.
Hamid, A. (2017). Guru Professional. Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman Dan
Kemasyarakatan, 17(32), 274–275.
[Link]
Hardani, D. Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif, ed. by Husnu
Abadi. Pertama (Yogyakarta: CV Pustaka Ilmu, 2020).
HARDJONO, T. (2013). Jurnal Tesis. In Analisis Pengaruh Motivasi, Disiplin
Kerja Dan Kemampuan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Negeri Sipil (pp.
1–57).
Herdiansyah, M. I., Kunang, S. O., & Akbar, M. (2014). It strategy alignment in
university using it balanced scorecard framework. Advanced Science Letters,
20(10–12), 2038–2041. [Link]
Indrawati, J. K. (2013). Analisis Faktor Kesulitan Guru Bidang Studi Ekonomi
Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum 2013. 1–8.
Insiati, F., & Giovanny, M. R. (2019). Manajemen Strategik: Intisari Konsep dan
Teori. Isniati, Fajriansyah, Yogyakarta, 12.
Iskandar, U. (2013). Kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kinerja
guru. Jurnal visi ilmu pendidikan, 10(1).
Jamin, H. (2018). Upaya Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru. At-Ta'dib:
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam, 19-36.
Jannah, R. (2017). Upaya meningkatkan keberhasilan pembelajaran pendidikan
agama Islam. Madrosatuna: Journal of Islamic Elementary School, 1(1), 47-
58.
Kompri, M. P. I. (2017). Standardisasi Kompetensi Kepala Sekolah: Pendekatan
Teori untuk Praktik Profesional Edisi Pertama. Kencana.
KUNANDAR, K. (2011). Evaluasi Program Pengembangan Dan Implementasi
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Ktsp). Jurnal Evaluasi Pendidikan,
2(2), 171. [Link]
Kurniawan, A. (2013). Pengaruh Strategi Co-Branding, Brand Equity Terhadap
Purchase Intention Melalui Brand Preference. Journal of Chemical
Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Kusumastuti, A., Khoiron, A. M., & Achmadi, T. A. (2020). Metode Penelitian
Kuantitatif. Deepublish.
45
Lufri, D., Yogica, R., Muttaqiin, A., & Fitri, R. (2020). Metodologi Pembelajaran:
Strategi. by Muhammad Arci Maulidan, 1st edn (Purwokerto: CV IRDH,
2020).
Lutfiyana, A. (2020). STRATEGI KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH
DALAM MENINGKATKAN KINERJA TENAGA KEPENDIDIKAN DI MTs.
MUALLIMIN UNIVA MEDAN SKRIPSI.
Mahmudah, M. (2021). Mengembangkan Profesionalisme Guru Pendidikan
Agama Islam (PAI) Melalui Model-Model Pembelajaran. Jurnal
Keislaman, 4(1), 19-31.
Makawimbang, J. H. (2012). Kepemimpinan pendidikan yang bermutu. Bandung:
Alfabeta, 22.
Moleong, L. J. (2006). (1995). Metodologi Penelitian. Kualitat1Y, Remaja Rosda
Karya, Bandung, 1–12.
[Link]
Mulyasa, E. (2003). Menjadi kepala sekolah profesional dalam konteks
menyukseskan MBS dan KBK.
Mulyasa, E. (2013). Manajemen & Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: PT.
Bumi Aksara, 18.
Naim, N. (2016). Menjadi guru inspiratif: memberdayakan dan mengubah jalan
hidup siswa.
Nasrun, N. (2016). Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Motivasi
Kerja dan Kinerja Guru. Ilmu Pendidikan: Jurnal Kajian Teori Dan Praktik
Kependidikan, 1(2), 63–70. [Link]
Nazarudin. (2020). Manajemen Startegik. In NoerFikri Offset.
Nuraeni, S., & Permana, H. (2022). Strategi Kepala Madrasah dalam
Meningkatkan Mutu Pembelajaran Sekolah melalui Kinerja Guru di Sekolah
Madrasah Tsanawiyah. Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), 4(6),
10987-10994.
Nomor, U. U. R. I. (14). tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Pendidikan, S. N. (2005). Badan Standar Nasional Pendidikan, Departemen
Pendidikan Nasional.
Purwanti, S. (2016). Peranan kepala madrasah terhadap kinerja guru. AL-
IDARAH: Jurnal Kependidikan Islam, 6(1).
46
Rachmawati, T. (2013). Penilaian Kinerja Profesi Guru dan Angka Kreditnya.
Yogyakarta: Gava, 138
Rasyid, A. M. Al. (2021). Strategi Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam
Meningkatkan Kinerja Guru Di Era Pandemi Covid 19 (Studi Kasus Di MI
Tarbiyatul Mustafid Batu Rimpang Tahun Pelajaran 2020/2021). 19.
Ridho, Z. (2022). DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI MADRASAH
TSANAWIYAH ( MTS ) NURUL YAQIN.
Romadhona, A. F., & Wahyuningtyas, R. (2019). KOMITMEN DAN BUDAYA
ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN BANK bjb
CABANG TAMANSARI. Jurnal Riset Bisnis Dan Manajemen, 12(1), 24.
[Link]
Safitri, D., & Sos, S. (2019). Menjadi guru profesional. PT. Indragiri Dot Com.
Sardiman, A. M. (2011). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar/Sardiman AM.
Saud, U. S. (2009). Pengembangan Profesi Guru, Bandung: CV.
Sofian, A. (2013). Strategi Management.
Subakir. (2017). STRATEGI KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN
KOMPETENSI GURU MA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
METRO.
Suci, R. P. (2015). Esensi manajemen strategi. Sidoarjo: Zifatama Publisher.
Suhana, C., & Hanafiah, N. (2014). Konsep strategi pembelajaran. Bandung: PT
Refika Aditama, 5(4), 3.
Supanto, F. (2019). Manajemen Strategi Organisasi Publik dan Privat.
Susanto, A. (2021). Manajemen peningkatan kinerja guru konsep, strategi, dan
implementasinya.
Umar, H. (2001). Strategic management in action. Gramedia Pustaka Utama.
Zubair, A., Sasongko, R. N., & Aliman, A. (2017). Manajemen Peningkatan
Kinerja Guru. Manajer Pendidikan, 11(4).
47