PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA
PADA MATERI PROGRAM LINIER KELAS XI SMA N 9 MALUKU
BARAT DAYA
PROPOSAL
DISUSUN OLEH:
STELAMARIS SAIRLONA
NIM: 202189001
UNIVERSITAS PATTIMURA PROGTRAM STUDI DILUAR KAMPUS
UTAMA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2024
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Sari, I. P. T. P. (2013) pendidikan merupakan suatu proses yang
dapat dilakukan untuk merubah tingkah laku atau sikap individu (siswa) maupun
kelompok. Menurut Rahman, K. (2014) melalui Pendidikan, manusia dapat termotivasi
dalam menmpelajari serta menggali berbagai macam sudut pandang disiplin ilmu.
Pendidikan menurut UU No 20 tahun 2003 merupakan suatu Upaya yang dilakukan
secara sadar dalam mewujudkan suasana belajar dan supaya siswa termotivasi dalam
belajar dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
Menurut Arifin, S. (2017). Pendidikan adalah Upaya sadar yang dilakukan
agar peserta didik dapat mencapai tujuan tertentu. Asmaroini, A. P. (2016) menyatakan
bahwa Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab. Menurut Asmaroini, A. P. (2016) Agar peserta didik dapat
mencapai tujuan Pendidikan, maka diperlukan wahana yang dapat digambarkan sebagai
kendaraan. Dengan demikian pembelajaran matematika adalah kegiatan Pendidikan
yang menggunakan matematika sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan.
Syamsi, N. (2022, January) matematika merupakan salah satu ilmu yang
dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan berargumentasi juga dapat memberikan
kontribusi guna menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja,
matematika juga dapat memb erikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
matematika merupakan salah satu mata Pelajaran yang wajib dipelajari di jenjang
Pendidikan mulai dari SD, SMP,SMA/SMK maupun sampai pada perguruan tinggi,
karena matematika di nilai sebagai mata Pelajaran yang dapat membantu menyelesaikan
permasalahan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia kerja.
Ariawan, R., & Nufus, H. (2017) menyatakan bahwa Pembelajaran
matematika bertujuan agar peserta didik dapat: (1) Memahami konsep matematika, (2)
mengembangkan komunikasi matematis, (3) mengembangkan penalaran matematis, (4)
mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, (5) mengembangkan sikap
menghargai matematika, (6) serta memiliki sikap dan perilaku sesuai dengan nilai
matematika.
Permatasari, K. G. (2021) menyatakan bahwa Peranan penting matematika dalam
kehidupan seharusnya membuat matematika menjadi mata Pelajaran yang disukai dan
menarik. Namun tingginya tuntutan untuk menguasai matematika tidak sesuai dengan
yang diharapkan. Ternyata banyak orang memandang memandang matematika sebagai
bidang studi yang paling sulit. Menurut Kholil, M., & Zulfiani, S. (2020), “ dari bidang
studi yang diajarkan disekolah, matematika merupakan bidang studi yang dianggap
paling sulit oleh peserta didik, bagi yang tidak berkesulitan belajar dan lebih-lebih bagi
siswa yang berkesulitan belajar”. Hal ini dapat dilihat rendahnya hasil belajar peserta
didik diindonesia karena peserta didik belum memiliki kompetensi dasar, sehingga
peserta didik mengalami kesulitan dalam pemebelajaran matematika, khususnya pada
kemampuan pemecahan masalah.
Pembelajaran matematika memuat proses pemecahan masalah sebagai unsur
utama dari setiap aktivitasnya. Herman, T. (2000) menyatakan bahwa pemecahan
masalah tidak bisa dilepaskan dari pembelajaran matematika. Gazali, R. Y. (2016)
menyebutkan bahwa dalam pembelajaran matematika, pemecahan masalah merupakan
kegiatan rutin untuk mengetahui cara kerja dari objek matematika. Pemb elajaran
matematika bertujuan untuk mengembangkan segala kemampuan matematis siswa
dalam memperoleh hasil belajar yang maksimal. Salah satu target penting dalam
mencapai hasil belajar tersebut adalah dengan memaksimalkan pembelajaran pada
kemampuan memecahkan masalah.
Menurut Zulfah, Z. (2017) pemecahan masalah merupakan proses pembelajaran
Dimana peserta didik dituntut dapat menerpakan pengetahuan untuk menyelesaikan
masalah yang diberikan dengan pengetahuan yang sudah diperoleh sebelumnya.
Aledya, V. (2019) menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah bagian terpenting
dalam proses pembelajaran matematika untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan peserta didik. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa peserta didik yang terlatih memecahkan masalah dalam kehidupan
sehari-hari, siswa itu akan mampu mengambil Keputusan terhadap suatu masalah sebab
dia peserta didik tersebut mempunyai keterampilan mengumpulkan informasi yang
relevan, menganalisis informasi, dan menyadari betapa perlunya meneliti Kembali hasil
yang telah didapatkan.
Menurut Sugesti, I. J., Simamora, R., & Yarmayani, A. (2018) Kemampuan
pemecahan masalah matematis merupakan kemampuan Dimana siswa berupaya
mencari jalan keluar yang dilakukan dalam mencapai tujuan, juga memerlukan
kesiapan, kerativitas, pengetahuan dan kemampuan serta aplikasinya dalam kehidupan
sehari-hari. Menurut Indriana, L., & Maryati, I. (2021) Kemampuan pemecahan
masalah matematis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki peserta didik,
karena pemecahan masalah memberikan manfaat yang besar kepada peserta didik dalam
melihat relevansi antara bidang studi matematika dengan bidang studi yang lain, Serta
dalam kehidupan nyata. Peserta didik dikatakan mampu memecahkan masalah
matematika jika mereka dapat memahami, memilih strategi yang tepat, kemudian
menerapkannya dalam menyelesaikan masalah.
Menurut Simangunsong, V. H., Dkk (2021) Rendahnya kemampuan pemecahan
masalah matematis adalah suatu hal yang wajar Dimana selama ini fakta dilapangan
menunjukan proses pembelajaran yang terjadi masih konvensional dan berpusat pada
guru dan siswa hanya pasif, guru hanya lebih sering memberikan rumus-rumus yang
siap pakai tanpa memahami makna daru rumus-rumus tersebut sehingga menghambat
pemahaman dan kreativitas matematis siswa. Menurut Sihombing, A. S., Dkk. (2023)
Pembelajaran yang berpusat pada guru menyebabkan Pendidikan hanya mampu
menghasilkan insan-insan yang kurang memiliki kesadaran diri, kurang berpikir kritis,
kurang kreatif, kurang mandiri, dan kurang komunikatif baik dalam lingkungan belajar
maupun lingkungan Masyarakat.
Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) dan
Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), kemampuan
matematika siswa Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara-
negara lain di dunia.
Hasil PISA:
Hasil PISA 2022 menunjukan penurunan kemampuan matematika siswa
Indonesia berada di skor 366 poin, turun disbanding hasil PISA tahun
2015-2018. Skor tersebut jauh dibawah skor rata-rata negara anggota
OECD yang kisarannya 465-475 poin
Hasil TIMSS
Tahun 2019: Indonesia berada di peringkat 42 dari 58 negara dengan skor
rata-rata 421, dibawah rata-rata skala internasional 500.
Siswa Indonesia mengalami rendahnya kemampuan pemecahan masalah
matematis disebabkan karena kurangnya pemahaman konsep konsep matematika.
Banyak siswa di Indonesia yang tidak memahami konsep matematika secara
mendalam, sehingga mereka kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal yang
membutuhkan penalaran serta kemampuan dalam memecahkan.
Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti di XI SMA N 9 MBD, kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa masih dinyatakan rendah. Peneliti memberikan
soal yang berkaitan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang mendukung
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas XI SMA N 9 MBD. Dari hasil
tes tersebut menunjukan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa
masih rendah. Dilihat dari indicator pemecahan masalah, siswa belum dapat
mengidentifikasi unsur yang diketahui hingga peneyelesaian masalah matematis, siswa
juga belum mampu memahami pemecahan masalah yang cocok untuk masalah yang
diberikan.
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di XI SMA N 9 MBD bahwa penyebab
rendahnya kemampuan pemecahan masalah dikarenankan siswa kurang memahami
konsep materi yang diajarkan dan dalam mengerjakan soal siswa terfokus pada jawaban
akhir dan cenderung mengesampingkan strategi utnuk pemecahan masalah tersebut.
Kegitan belajar mengajar yang berlangsung juga masih belum tepat, sehingga apa yang
diajarkan guru tidak di pahami oleh peserta didik.
Menurut Iskandar, S. M. (2016) Dalam Upaya meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah matematis hendaknya guru berusaha melatih dan membiasakan
peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran seperti memberikan soal-soal Latihan
untuk dikerjakan peserta didik dan juga memberikan tugas untuk meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Menurut Damanik, D. P. (2013)
Dalam meningkatkan kualitas Pendidikan, diperlukan berbagai terobosan, baik dalam
pengembangan kurukulum, inovasi pembelajaran, pemenuhan sarana dan prasarana
Pendidikan agar peserta didik tertantang untuk belajar dan menemukan hipotesis
sendiri. Peran aktif peserta didik sangat dibutuhkan untuk keberhasilan kemampuan
pemecahan masalah matematika Ariandi, Y. (2017). Oleh karena itu guru perlu
menggunakan suatu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik dalam
proses pembelajaran, karena model pembelajaran yang digunakan selama ini masih
kurang bervariasi dan bersifat konvensional. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang,
salah satunya agar proses belajar mengajar efektif dalam meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah, sebagai seorang guru, harus bisa memilih model pembelajaran
yang sesuai agar dapat mencapau tujuan pembelajaran.
Menurut Esminarto, E., Sukowati, Dkk (2016) Salah satu Upaya untuk mengatasi
permasalahan tersebut adalah penggunaan strategi mengajar, pemilihan model
pembelajaran yang menarik dan dapat memicu peserta didik untuk ikut serta secara aktif
dalam proses belajar mengajar yaitu model pembelajaran aktif. Pada dasarnya
pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk
belajar secara aktif dan dapat meningkatkan interaksi antara peserta didik dengan guru
dan peserta didik dengan peserta didik. Model pembelajaran yang digunakan adalah
model pembelajaran Problem Based Learning.
Janah, F. N. M., Dkk. (2019) menyatakan bahwa Model pembelajaran Poblem
Based Learning adalah model pembelajaran yang melatih dan mengembangkan
kemampuan dalam menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah autentik dari
kehidupan actual peserta didik untuk merangsang kemampuan berpikit Tingkat tinggi.
Menurut Situmorang, F. (2020) Problem Based Learning adalah model pembelajaran
yang mengorganisasi proses pembelajarannya disekitar aktivitas pemecahan masalah,
memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan ide, argument, Solusi
serta dapat berinteraksi penuh selama proses pembelajaran. Model ini juga dapat
memberikan motivasi serta rasa ingin tahu bagi peserta didik dalam berpikir kritis dan
keterampilan berpikir Tingkat tinggi. Model pembelajaran Problem Based Learning
didesain dalam bentuk pembelajaran yang diawali dengan struktur masalah real yang
berkaitan dengan konsep-konsep matematika yang akan diajarkan, siswa tidak hanya
sekedar menerimainformasi dari guru saja tetapi guru harus memotivasi dan
mengarahkan siswa agar terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based
Learning (PBL), maka diharapkan dapat mengatasi kesulitan peserta didik dalam
mempelajari matematika dan dapat menemukan sendiri penyelasaian masalah pada
materi yang harus diselesaikan. Sehingga siswa akan termotivasi untuk belajar
matematika dan dapat mengembangkan ide untuk menyelesaikan permasalahan dalam
permasalahan dalam materi maupun dapat dikaitan dalam kehidupan nyata. Berdasarkan
uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul
“pengaruh model Problem Based Learnig (PBL) Terhadap Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Siswa Pada Materi Program Linier di kelas XI SMA N 9 MBD
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas maka
dirumuskan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah: apakah terdapat
pengaruh yang signifikan dengan model Problem Based Learning terhadap
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas XI SMA N 9 MBD
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model Problem
Based Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis
siswa kelas XI SMA N 9 MBD pada materi program linier.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari pelaksanaan penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi:
1. Bagi peneliti
Penelitian ini bermanfaat sebagai pertimbangan dalam memilih model
pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan materi
pembelajaran program linier
2. Bagi Guru
Sebagai salah satu alternative untuk memaksimalkan pembelajaran
matematika
3. Bagi sekolah
Sebagai sarana dalam Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran
melalui model pembelajaran yang tepat
4. Bagi pembaca
Memberikan informasi tentang pengaruh model Problem Based
Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah di kelas XI SMA
N 9 MBD
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Model Pembelajaran
Menurut Nela, Y. (2024) model pembelajaran adalah Model
pembelajaran merupakan kerangka atau konsep dan prosedur yang secara
sistematis dalam mengelompokkan pengalaman belajar agar tercapai
tujuan dari suatu pembelajaran tertentu dan berfungsi sebagai pedoman
bagi guru dalam merancang pembelajaran dikelas. Dengan demikian maka
adanya suatu model pembelajaran ini agar kegiatan dalam mengajar
mengajar dapat tersusun secara sistematis dan dapat mancapai tujuan
pembelajaran yang maksimal.
Menurut Nikmawati, N. (2021) model pembelajaran merupakan suatu
perencanaan atau pola yang dapat digunakan sebagai pedoman atau
pegangan dalam merencanakan pembelajaran dikelas atau cara untuk
menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya
referensi lain yaitu, buku, computer, film, kurikulum dan lain sebagaimya.
Model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman atau sebagai
pegangan bagi para pengajar untuk mampu merancang pembelajaran pada
hal perencanaan atau pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
B. Model Pembelajaran Problem Based Learning
a. Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning
Menurut Al-ghifarie, A. M. (2022) Didalam kehidupan ini sangat identic
dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan
mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi
pada masalah autentik dari kehidupan actual siswa, untuk merangsang
kemampuan berfikir Tingkat tinggi. Menurut Hasibuan, F. D. (2023) Problem
based leaening atau pembelajaran berbasis masalah adalah model pengajaran
yang bercirikan adanya permasalahn nyata sebagai konteks untuk para peserta
didik belajar berfikir kritis dan berketrampilan untuk memecahkan suatu masalah
serta memperoleh pengetahuan.
Pattimura, S. C., Maimunah, Dkk. (2020) menyatakan bahwa problem
pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pengembangan kurikulum dan
system pengajaran yang dapat mengembangkan secara stimulant strategi
pemecahan masalah dan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan dengan
menepatkan para peserta didik dalam peran katif sevagai pemecah permasalahan
sehari-hari yang tidak terstruktur dengan baik.
Dari beberapa pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran Problem Based Learning menjadi sebuah pendekatan pembelajaran
yang berusaha menerapkan masalah yang sering terjadi dalam dunia nyata sebagai
sebuah konteks bagi para siswa dalam berlatih tentang bagaimana cara untuk
berfikir secara kritis dan mendapatkan keterampilan dalam pemecahan masalah,
serta tak terlupakan untuk mendapatkan pengetahuan sekaligus konsep yang
penting dari materi pembelajaran yang dibahas.
b. Karakteristik Model Problem Based Learning
Berdasarkan teori yang dikembangkan Barrow Ariandi, Y. (2017)
menjelaskan karakteristik dari PBM, yaitu:
1. Learning is student-centered
Proses pembelajaran dalam PBL lebih menitikberatkan kepada siswa
sebagai orang belajar. Oleh karena itu, PBL didukung juga oleh teori
konstruktivisme dimana siswa didorong untuk dapat mengembangkan
pengetahuannya sendiri.
2. Autenthic problems from the organizing focus for learning
Masalah yang disajikan kepada siswa adalah masalah yang autentik
sehingga siswa mampu dengan mudah memahami masalah tersebut serta
dapat menerapkannya dalam kehidupan profesionalnya nanti.
3. New information is acquired through self-directed learning
Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja belum mengetahui dan
memahami semua pengetahuan prasayaratnya sehingga siswa berusaha
untuk mencari sendiri melalui sumbernya, baik dari buku atau informasi
lainnya.
4. Learning occurs in small group
Agar terjadi interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam usaha
mengembangkan pengetahuan secara kolaboratif, PBM dilaksanakan dalam
kelompok kecil. Kelompok yang dibuat menuntut pembagian tugas yang jelas dan
penerapan tujuan yang jelas.
5. Teachers act as facilitators
Pada pelaksanaan PBM, guru hanya berperan sebagai fasilitator. Meskipun
begitu guru harus selalu memantau perkembangan aktivitas siswa dan mendorong
mereke agar mencapai target yang hendak dicapai.
c. ciri dari model pembelajaran Problem Based Learning
Menurut Purwati, S. W. (2022) ada beberapa ciri model pembelajaran
Problem Based Learning antara lain:
1. Kegiatan belajar mengajar dengan model Problem
Based Learning dimulai dengan pemberian sebuah
masalah.
2. Masalah yang disajikan berkaitan dengan kehidupan
nyata para siswa.
3. Mengorganisasikan pembahasan seputar disiplin ilmu.
4. Siswa diberikan tanggungjawab yang maksimal dalam
membentuk maupun menjalankan proses belajar secara
langsung.
5. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok kecil.
6. Siswa dituntut untuk mendemonstrasikan produk atau
kinerja yang telah mereka pelajari.
Berdasarkan uraian karakteristik di atas maka dapat disimpulkan bahwa,
pembelajaran dengan problem based learning dimulai oleh adanya sebuah
masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh siswa ataupun guru,
kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka ketahui
untuk memecahkan masalah tersebut.
Siswa dapat memilih masalah yang dianggap sangat menarik untuk dipecahkan
masalahnya sehingga mereka terdorong dalam berperan aktif untuk menimbulkan
semangat belajar dari dalam diri mereka.
d. Langkah-langkah Model Problem Based Learning
Maryati, I. (2018) menyatakan bahwa ada beberapa langkah-langkah
model pembelajaran problem based learning sebagai berikut:
1. Orientasi siswa pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang
dibutuhkan, dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas
pemecahan masalah.
2. Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa untuk mendifinisikan dan mengorganisasikan
tugas belajar yang berhubungan dengan masalah.
3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
mendorong siswa untuk mengummpulkan informasi yang sesuai,
melaksanakan eksperimen, dan mencari penjelasan serta Solusi.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang
sesuai seperti laporan, video pembelajaran, dan model, serta membantu mereka
untuk berbagi tugas dengan temannya.
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
e. Kelebihan Model Problem based Learning
Menurut Mardani, N. K. Dkk (2021) mengemukakan beberapa kelebihan
model pembelajaran Problem based Learning sebagai berikut:
1. Meningkatkan motivasi belajar siswa
Siswa menjadi lebih termotivasi untuk belajar karena mereka terlibat
langsung dalam memecahkan masalah nyata yang relevan dengan
kehidupan mereka.
2. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah
Siswa dilatih untuk mengembangkan keterampilan berfikir kritis dan
kreatif dalam memecahkan masalah.
3. Meningkatkan kemampuan berkolaborasi
Siswa belajar untuk bekerja sama dalam kelompok untuk mencari
Solusi dari masalah yang diberikan.
4. Meningkatkan kemampuan komunikasi
Siswa dilatih untuk mempresentasikan hasil pemecahan masalah mereka
dan berdiskusi dengan teman-teman.
5. Meningkatkan kemandirian belajar
Siswa didorong untuk mencari informasi dan sumber belajar sendiri
untuk memecahkan masalah.
6. Meningkatkan pemahaman konsep
Siswa dapat memahami konsep-konsep penting melalui proses
pemecahan masalah.
7. Meningkatkan kemampuan aplikasi pengetahuan
Siswa dapat menerapkan pengetahuan yang dimiliki untuk
memecahkan masalah dalam kehidupan nyata.
8. Meningkatkan motivasi belajar sepanjang hayat
Siswa terbiasa untuk terus belajar dan mencari informasi baru untuk
memecahkan masalah.
f. Kelemahan Model Pembelajaran Problem Based Learnig
Sumiantari, N. L. E., Dkk. (2019) mengemukakan bahwa ada
beberapa kelemahan model pembelajaran Problem Based Learnig
sebagai berikut:
1. Membutuhkan waktu yang lebih lama
Proses pemecahan masalah dalam PBL membutuhkan waktu yang
lebih lama dibandingkan dengan model pembelajaran tradisional
2. Membutuhkan sumber daya yang lebih banyak.
PBL membutuhkan sumber daya yang lebih banyak, seperti bahan
ajar, fasilitas, dan alat peraga untuk mendukung proses
pembelajaran.
3. Guru harus memiliki keterampilan yang baik dalam memfasilitasi
pembelajaran
Guru harus terampil dalam merancang masalah, membimbing siswa,
dan memfasilitasi diskusi agar pembelajaran berjalan efektif.
4. Tidak semua siswa terbiasa dengan pembelajaran mandiri
Beberapa siswa mungkin merasa kesulitan dengan pembelajaran
yang menuntut kemandirian dan tanggung jawab yang lebih besar.
5. Sulit untuk mengevaluasi hasill belajar
Proses pembelajaran PBL yang terbuka dan fleksibel dapat
menyulitkan guru dalam mengevaluasi hasil belajar siswa secara
objektif.
6. Membutuhkan persiapan yang lebih matang.
Guru harus memprsiapkan scenario maslaah, sumber belajar, dan
rencana pembelajaran yang lebih matang dibandingkan dengan
model pembelajaran tradisional.
7. Tidak semua materi Pelajaran sesuai dengan PBL
Tidak semua materi ppelajaran dapat disajikan dalam bentuk
masalah yang kompleks, sehingga PBL tidak dapat diterapkan untuk
semua mata Pelajaran.
g. Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis.
Dalam model pembelajaran Problem Based Learning, siswa
diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah dengan
menggunakan strategi pemecahan masalah karena Sebagian besar
siswa biasanya mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal
yang berkaitan dengan kehidupan nyata serta kurang terbiasa
berhadapan dengan masalah aplikasi materi terhadap Pelajaran.
Sehubungan dengan itu, dalam Upaya meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah siswa maka guru perlu menghadapkan
permasalahan matematika yang berkaitan dengan kehidupan nyata
diawal pembelajaran.
Salah satu model yang sesuai dengan ide proses pembelajaran
tersebut adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Model PBL adalah model pembelajaran yang menuntut siswa harus
berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang bermakna. Salah
satu keunggulan dengan menggunakan model PBL adalah
merupakan salah satu model yang memotivasi siswa lebih mudah
untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri serta siswa merasa
tertantang untuk menyelesaikan tantangan mereka.
Secara umum, model pembelajaran PBL merupakan
pembelajaran yang dialkukan dengan cara menyajikan permasalahan,
mengajukan pertanyaan yang dapat memfasilitasi penyelidikan, dan
membuka dialog atau diskusi tentang masalah sehari-hari yang
dialami siswa dalam kehidupan nyata.
A. Ruang Lingkup Materi
Program linier adalah suatu program atau metode untuk
menyelesaikan permasalahn atau penentuan nilai optimum dari
suatu persoalan linier yang Batasan-batasannya berbentuk
pertidaksamaan linier.
Berdasarkan kurikulum 2013 materi program linier ini dapat
diajarkan pada Tingkat sekolah menengah atas kelas XI semester
ganjil. Dengan kompetensi inti, kompetensi dasar, indicator
pencapaian kompetensi, dan materi pembelajaran yang terlihat
pada table berikut.
Table 2.1
a. Kompetensi Inti
Sikap 1. Menghargai dan menghayati ajaran
agama yang dianutnya.
2. Menghayati dan mengamalkan
perilaku jujur, disiplin, tanggung
jawab, peduli (gotong royong, kerja
sama, toleran, damai), santun,
responsif dan
pro-aktif dan menunjukkan sikap
sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta
dalam menempatkan diri sebagai
cerminan bangsa dalam pergaulan
dunia.
Pengetahuan 3. Memahami, menerapkan,
menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural, dan
metakognitif berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah
Keterampilan 4. Mengolah, menalar, dan menyaji
dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait pengembangan dari yang
dipelajarinya disekolah secara
mandiri, bertindak secara efektif, dan
kreatif serta mampu menggunakan
metode sesuai kaidah keilmuan.
b. Kompetensi Dasar dan Indicator
Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian
Kompetensi
Menjelaskan Menemukan (C4) fungsi tujuan
pertidaksamaan linier dua (fungsi objektif) suatu masalah
variable dan program linier
penyelesaiannya dengan
menggunakan masalah
kontekstual
Menyelesaikan masalah Membuat (C6) model
kontekstual yang berkaitan matematika dari suatu masalah
dengan program linier dua program linier.
variable
B. Penelitian Yang Relevan
Ada beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh (Ulva et al., 2020) dengan judul
“Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VII
SMPN Se-Kabupaten Kuantan Singingi Pada Materi Aritmatika
Sosial” dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan
menggunakan model Problem Based Learning (PBL)
kemampuan pemecahan masalah siswa lebih baik dari siswa
yang menggunakan model pembelajaran Konvensional.
Adapun perbedaan penelitian yang relevan dengan peneli
terletak pada variable terikatnya, penelitian yang relevan
menggunakan kemampuan pemecahan masalah sedangkan
peneliti menggunakan kemampuan berikir kritis, pada
populasinya penelitian yang relevan menggunakan dua sekolah
sedangkan peneliti hanya menggunakan satu sekolah, pada uji
hipotesis, penelitian yang relevan menggunakan uji t-test untuk
melihat pengaruh penerapan PBL sebaliknya peneliti
menggunakan analisis regresi sederhana. Adapun
persamaannya terletak pada variable bebasnya.
2. Penelitian yang dilakukan oleh (Meilinda et al., 2019) dengan
judul “Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelas
VIII SMP”. Kesimpulan dari penelitian ini adalah respon siswa
sangat positif terhadap model pembelajaran berbasis masalah
dilihat dari nilai rata-rata siswa 86,03. Adapun perbedaan
penelitian yang relevan dengan peneliti terletak pada samelnya
penelitian yang relevan menggunakan sampel kelas VIII SMP
sedangkan peneliti menggunakan kelas VII MTs, instrument
penelitian yang relevan menggunakan tes dan non tes
sedangkan peneliti menggunakan instrument tes, pada uji
normalitas penelitian yang relevan
menggunakan rumus Kolmogrov-Smirnov sedangkan peneliti
menggunakan lilipors, penelitian yang relevan menggunakan
uji homogenitas sedankan peneliti menggunakan uji linieritas.
Adapun persamaannya terletak pada variable bebasnya.
3. Penelitian yang dilakukan oleh (Nurlaeli et al., 2018), dengan
judul “Pengaruh Model Pembelajaran Promblem Based
Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis
Siswa Ditinjau Dari Adversity Quotient” kesimpulan penelitian
ini adalah model pembelajaran problem based learning
memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap kemampuan
berpikir kritis matematis siswa dibandingkan dengan
pembelajaran konvensional. Dilihat dari hasil penelitian thitung
> ttabel 3,917 > 2,037 maka HO ditolak sehingga dapat
diartikan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis
kelompok siswa yang diberi perlakuan model pembelajaran
PBL lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang
diberikan perlakuan konvensional. Adapun perbedaan
penelitian yang relevan dengan peneliti terletak pada variable
terikatnya penelitian yang relevan menggunakan kemampuan
berpikir kritis matematis siswa ditinjau dari adversity quotient
sedangkan peneliti menggunakan kemampuan berpikir kritis,
desainnya penelitian yang relevan mengguakan posttest-only
control design sedangkan peneliti menggunakan the Non-
equivalen control group design, pada populasinya penelitian
yang relevan menggunakan dua sekolah sedangkan peneliti
hanya menggunakan satu sekolah, pada uji hipotesisnya
penelitian yang relevan menggunakan anova dua arah dan uji-t
sedangkan peneliti menggunakan analisis regresi sederhana.
Adapun persamaannya terletak pada variable bebasnya.
4. Penelitian yang dilakukan oleh (Yulianti & Gunawan, 2019)
dengan judul “Model Pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) Efeknya Terhadap Pemahaman Konsep dan Berpikir
Kritis”. Kesimpulan dari penelitiannya adalah terdapat
pengaruh model pembelajaran problem based learning terhadap
pemahaman konsep dan berpikir kritis peserta didik, dilihat
dari nilai berpikir kritis kelas eksperimen sebesar 0,51 dan nilai
dari kelas control sebesar 0,31. Adapun perbedaan penelitian
yang relevan dengan peneliti terletak pada variable terikatnya
penelitian yang relevan menggunakan dua variable terikat
sedangkan peneliti hanya menggunakan satu variable terikat,
pada uji homogenitas penelitian yang relevan menggunakan uji
Lavenne’s test. Sedangkan peneliti menggunakan uji linieritas,
pada uji hipotesis penelitian yang relevan menggunakan uji
Manova sedangkan peneliti menggunakan analisis regresi
sederhana. Adapun persamaannya terletak pada variable
bebasnya.
Dari beberapa penelitian yang relevan diatas maka dapat
disimpulkan bahwa penelitian terdahulu yang akan
dilaksanakan yaitu terletak pada instrumennya.
C. Kerangka Pikir
Matematika adalah salah satu cabang dari ilmu pengetahuan
yang memegang peranan penting dalam kehidupan manusia di
dunia nyata. Didalam pembelajaran matematika dibahas tentang
aktivitas yang tanpa disadari yang sering dilakukan oleh manusia,
sehingga dalam proses pembelajaran matematika bukan hanya
penguasaan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep
serta symbol saja.
Kurikulum merupakan seperangkat atau rencana, tujuan dan isi
sebuah pembelajaran serta model yang digunakan sebagai
pedoman dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Kurikulum 2013 menuntut guru harus lebih kreatif
dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran agar siswa dapat
termotivasi untuk meningkatkan kemampuan pemecahan
masalahnya dalam menyelesaian masalah-masalah kontekstual.
D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teori dan kerangka piker yang telah
diuraikan diatas, maka rumusan hipotesis pada penelitian ini adalah
terdapat pengaruh yyang positifdan signifikan terhadap
kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI SMA N 9 MBD
dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based
Learning pada materi program linier.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Bentuk Penelitian
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (Quasi
eksperiment). Saharsa, U., Qaddafi, M., & Baharuddin, B. (2018).
Menyatakan bahwa eksperimen kuasi adalah penelitian dengan
menggunakan kelompok control tetapi tidak dapat berfungsi
sepenuhnya untuk mengontrol variable luar yang mempengaruhi
eksperimen. Pemilihan metode ini dikarenakan kelas yang
dijadikan objek penelitian sulit untuk dikontrol dari variable-
variable lain yang tidak diukur dalam penelitian.
2. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pre-experimental designs “Two-shot-case study” yaiitu eksperimen
yang dilaksanakan pada dua kelompok.
Table 3.1
Desain Penelitian
Kelas Pre-angket Perlakuan Post-angket
C O1 X O2
D 03 O4
Keterangan:
C : Kelas Kontrol
D : Kelas Eksperimen
X : Perlakuan
O1 dan O3 : Pre-angket (sebeleum diberi perlakuan)
O2 dan O4 : Post-angket (setelah diberi perlakuan)
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini berlokasi di SMA N 9 MBD
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun Pelajaran
2024/2025
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah kelas XI SMA N 9
MBD yang terdiri dari kelas XI MIA dan kelas XI IIS.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI MIA SMA N
9 MBD sebanyak 13 siswa. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah Non Probability Sampling dengan jenis
sampling jenuh. Sampel jenuh adalah cara pengambilan sampel
dari anggota populasi yang mana populasinya hanya tersedia 2
kelas.
Hal ini dilakukan apanila anggota populasi dianggap homogen
(sejenis).
D. Variable Penelitian
Dalam penelitian ini, terdapat dua variable penelitian yaitu:
variable bebas, dan variable terikat. Variable bebas (X) dalam
penelitian ini adalah model pembelajaran Problem Based Learning,
sedangkan variable terikat (Y) dalam penelitian ini adalah kemampuan
pemecahan masalah pada materi program linier.
E. Perangkat Pembelajaran.
Perangkat pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Alur Tujuan pembelajaran dan Modul Ajar.
1. Alur Tujuan Pembelajaran
Penelitian ini dilaksanakan 4 kali pertemuan, sehingga untuk kelas
eksperimen dan kelas control dibutuhkan masing-masing 4 Alur
Tujuan Pembelajaran (ATP).
2. Modul Ajar
Modul ajar yang digunakan pada penelitian ini adalah terdiri atas 8
modul ajar, yaitu 4 untuk kelas control dan 4 untuk kelas
eksperimen.
3. Lembar Kerja Peserta Didik
LKPD yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 8 LKPD,
yaitu 4 untuk kelas control dan 4 untuk kelas eksperimen. Berikut
ini adalah penyajian ATP, Modul ajar dan LKPD.
Table 3.2 Perangkat Pembelajaran
Pertemuan Kelas Materi
Control Eksperimen
1. ATP 01 ATP 01 Konsep dasar program
Modul Ajar 01 Modul Ajar 01 linier: fungsi kendala dan
LKPD 01 LKPD 01 fungsi tujuan
2. ATP 03 ATP 02 Konsep system persamaan
Modul Ajar 03 Modul ajar 02 dan pertidaksamaan linier
LKPD 03 LKPD 02 dua variable dan
menerapkan dalam
pemecahan masalah
program linier
3. ATP 02 ATP 04 Merancang dan mengajukan
Modul ajar 02 Modul ajar 04 masalah nyata berupa
LKPD 02 LKPD 04 masalah program linier
4. ATP 04 ATP 03 Penerapan konsep dan
Modul ajar 04 Bahan ajar 03 aturan pertidaksamaan linier
LKPD 04 LKPD 03 dan menentukan nilai
optimum dengan
menggunakan fungsi selidik
yang ditetapkan
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah
tes dan nontes
G. Instrument Penelitian
Pada penelitian ini, instrument yang digunakan adalah tes dan nontes.
1. Tes
Instrument tes yang diberikan berupa tes objektif pilihan ganda
yang terdiri dari lima (a,b,c,d dan d) untuk mengukur hasil belajar
siswa pada ranah kognitif. Tes dilakukan sebelum (pretest) dan
sesudah (posstest) diberikan perlakuan.
2. Nontes
Instrument Nontes yang digunakan berupa angket atau skala sikap
untuk mengetahui persepsi siswa mengenai Problem Based
Learning dalam pembelajaran matematika pada materi program
linier. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket
dengan skala likert. Menurut Ratumanan dan Laurens (2015: 151),
dalam penggunaan skala likert, responden diminta untuk membaca
pernyataan yang disajikan dan memberikan respons dengan cara
memilih salah satu kategori yang menurutnya paling sesuai.
H. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu: tahap persiapan,
tahap pelaksanaan, dan tahap akhir.
1. Tahap persiapan
Pada tahap awal ini peneliti mempersiapkan hal-hal yang
diperlukan pada saat penelitian yang dilakukan antara lain:
a. Peneliti mewawancarai guru dan siswa untuk mengetahui
kondisi awal terkait dengan model pembelajaran Problem
Based Learning.
b. Menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan
guru pada saat penelitian.
c. Menjelaskan pada guru Langkah-langkah pembelajaran yang
akan dibuat.
d. Melakukan pemilihan sampel penelitian dari 2 kelas yang
tersedia.
e. Meminta guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang
heterogony pada kelas eksperimen.
2. Tahap Pelaksanaan
Setelah melakukan persiapan, peneliti akan melakukan penelitian.
Adapun prosedur yang dilakukan pada tahap pelaksanaan sebagai
berikut:
a. Pemberian materi pada kelas eksperimen dengan menggunakan
model pembelajaran Problem Based Learning dan pada kelas
control menggunakan pembelajaran langsung.
b. Kegiatan pembelajaran selama 4 kali pertemuan sesuai
rancangan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
c. Setelah selesai kegiatan pembelajaran 1-4 setiap siswa pada
kelas control dan kelas eksperimen diberikan soal tes dan
angket untuk mengukur hasil belajar pada hari yang sama.
3. Tahap Akhir
Pada tahap akhir ini akan dilakukan pengumpulan data dan
pengolahan data hasil penelitian, serta melakukan penarikan
Kesimpulan.
I. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan setelah data dari seluruh responden atau
sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah
mengelompokkan data, mentabulasi data, menyajikan data tiap
variable yang diteliti, melakukan perhitugan untuk menjawab rumusan
masalah, melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah
diajukan.
1. Analisis Data Tes
Analisis data tes, dilakukan dengan dua tahapan yaitu: uji prasyarat
analisis dan uji hipotesis.
a. Uji prasyarat analis.
Uji prasyarat data analisis tes terdiri dari uji normalitas dan
uji homogenitas.
Adapun Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam
analisis data sebagai berikut:
1. Uji Normalitas
Uji normalitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah
sampel yang diteliti berasal dari populasi yang
terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang
digunakan dalam penelitian ini adalah uji Kolmogorov-
smirnov (uji K-s).
𝑋−𝑋̅
𝑍= 𝜎
Keterangan:
X= skor tiap sampel
𝑋̅ =rata-rata skor sampel
𝜎 = simpangan baku skor X
𝑥𝑖 − 𝑋̅
𝜎 = √∑
𝑛−1
Table 3.3 kategori uji normalitas
Rentang nilai 𝑥 2 Kategori
Terima 𝐻0 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑎1 𝑚𝑎𝑘𝑠 ≤ 𝐷𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 Distribusi data normal
Tolak 𝐻0 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑎1 𝑚𝑎𝑘𝑠 > 𝐷𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 Distribusi data tidak normal
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kesamaan
antara dua keadaan atau populasi yang akan diteliti. Uji
kesamaan kedua keadaan menguji apakah kedua data
tersebut homogeny yaitu dengan membandingkan
kedua keadaan atau kedua populasi. Uji homogenitas
yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah uji
fisher, yaitu:
𝑠12 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟
2𝐹 = =
𝑠22 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙
𝑛 ∑ 𝑥12−∑ 𝑥1
Dengan: 𝑠 2 = 𝑛(𝑛−1)
Keterangan:
𝑠1 =
𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑘𝑒𝑙𝑜𝑚𝑝𝑜𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎𝑖 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟
𝑠2 =
𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑘𝑒𝑙𝑜𝑚𝑝𝑜𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎𝑖 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙
Penentuan kategori uji homogenitas berdasarkan uji fisher
didasarkan pada table 2.1 berikut:
Table 3.4 kategori uji homogenitas
Rentang nilai F Kategori
𝐹 ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 ≥ 𝐹 𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 Distribusi data tidak homogenitas
𝐹 ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 ≤ 𝐹 𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 Distribusi data homogen
DAFTAR PUSTAKA
Aledya, V. (2019). Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Pada Siswa.
May, 0–7.
Al-ghifarie, A. M. (2022). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Passing Bawah
Bola Voli Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (Pbl) (Doctoral
dissertation, Universitas Siliwangi).
Ariandi, Y. (2017, February). Analisis kemampuan pemecahan masalah
berdasarkan aktivitas belajar pada model pembelajaran PBL. In PRISMA,
Prosiding Seminar Nasional Matematika (pp. 579-585).
Ariawan, R., & Nufus, H. (2017). Hubungan kemampuan pemecahan masalah
matematis dengan kemampuan komunikasi matematis siswa. Jurnal THEOREMS
(The Original Research of Mathematics), 1(2).
Arifin, S. (2017). Peran guru pendidikan jasmani dalam pembentukan pendidikan
karakter peserta didik. Multilateral: Jurnal Pendidikan Jasmani Dan Olahraga,
16(1).
Asmaroini, A. P. (2016). Implementasi nilai-nilai pancasila bagi siswa di era
globalisasi. Citizenship Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, 4(2), 440-450.
Damanik, D. P. (2013). Analisis kemampuan berpikir kritis dan sikap ilmiah pada
pembelajaran Fisika menggunakan model pembelajaran Inquiry Training (IT)
dan Direct Instruction (DI) (Doctoral dissertation, UNIMED).
Esminarto, E., Sukowati, S., Suryowati, N., & Anam, K. (2016). Implementasi
model STAD dalam meningkatkan hasil belajar siwa. BRILIANT: Jurnal Riset
dan Konseptual, 1(1), 16-23.
Gazali, R. Y. (2016). Pembelajaran matematika yang bermakna. Math Didactic:
Jurnal Pendidikan Matematika, 2(3), 181-190.
HASIBUAN, F. D. (2023). PENGARUH MODEL PROBLEM BASED
LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS
SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI KELAS
VIII SMPN 6 MEDAN (Doctoral dissertation, Fakultas Pendidikan Agama Islam,
Universitas Islam Sumatera Utara).
Herman, T. (2000). Strategi pemecahan masalah (problem solving) dalam
pembelajaran matematika. Makalah. Tidak Diterbitkan, 1-12.
Indriana, L., & Maryati, I. (2021). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Siswa SMP pada Materi Segiempat dan Segitiga di Kampung Sukagalih.
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika, 1(3), 541-552.
Iskandar, S. M. (2016). Pendekatan keterampilan metakognitif dalam
pembelajaran sains di kelas. Erudio Journal of Educational Innovation, 2(2), 13-
20.
Janah, F. N. M., Sulasmono, B. S., & Setyaningtyas, E. W. (2019). Peningkatan
hasil belajar matematika melalui model pembelajaran Problem Based Learning
berbantuan media video Siswa kelas IV SD. Jurnal Pendidikan Dasar, 7(1).
Kholil, M., & Zulfiani, S. (2020). Faktor-faktor kesulitan belajar matematika
siswa madrasah ibtidaiyah da’watul falah kecamatan Tegaldlimo Kabupaten
Banyuwangi. EDUCARE: Journal of Primary Education, 1(2), 151-168.
Mardani, N. K., Atmadja, N. B., & Suastika, I. N. (2021). Pengaruh Model
Pembelajaran Problem based learning (PBL) terhadap Motivasi dan hasil belajar
IPS. Jurnal Pendidikan IPS Indonesia, 5(1), 55-65.
Maryati, I. (2018). Penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada materi
pola bilangan di kelas vii sekolah menengah pertama. Mosharafa: Jurnal
Pendidikan Matematika, 7(1), 63-74.
NELA, Y. (2024). PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS
DESKRIPSI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CONCEPT SENTENCE
PADA SISWA KELAS VII A SMP NEGERI 1 MEMPAWAH HULU (Doctoral
dissertation, IKIP PGRI PONTIANAK).
Nikmawati, N. (2021). Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis
Project Di SMK Dr. Wahidin Sawahan Nganjuk (Doctoral dissertation, IAIN
Kediri).
Oktiani, I. (2017). Kreativitas guru dalam meningkatkan motivasi belajar peserta
didik. Jurnal kependidikan, 5(2), 216-232.
Pattimura, S. C., Maimunah, M., & Hutapea, N. M. (2020). Pengembangan
Perangkat Pembelajaran Matematika Menggunakan Pembelajaran Berbasis
Masalah Untuk Memfasilitasi Pemahaman Matematis Peserta Didik. Jurnal
Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 4(2), 800-812.
Permatasari, K. G. (2021). Problematika pembelajaran matematika di sekolah
dasar/madrasah ibtidaiyah. Jurnal Pedagogy, 14(2), 68-84.
Purwati, S. W. (2022). Metode Pembelajaran Problem Based Learning dalam
Meningkatkan Keterampilan Abad Ke-21 Siswa SMPN 1 Kedungpring
Lamongan. ASANKA: Journal of Social Science and Education, 3(2), 155-176.
Rahman, K. (2014). Pengembangan Kurikulum Terintegrasi DI
Sekolah/Madrasah. J-PAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(1).
Riswanto, A. (2016). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe team assisted
individualization terhadap motivasi belajar mahasiswa. Mosharafa: Jurnal
Pendidikan Matematika, 5(3), 293-304.
Saharsa, U., Qaddafi, M., & Baharuddin, B. (2018). Efektivitas penerapan model
pembelajaran problem based learning berbantuan video based laboratory terhadap
peningkatan pemahaman konsep fisika. JPF (Jurnal Pendidikan Fisika)
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 6(2), 57-64.
Salamah, W. (2020). Deskripsi penggunaan aplikasi google classroom dalam
proses pembelajaran. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan, 4(3),
533-538.
Saleh, M. (2013). Strategi pembelajaran fiqh dengan problem-based learning.
Jurnal ilmiah didaktika, 14(1).
Sari, I. P. T. P. (2013). Pendidikan kesehatan sekolah sebagai proses perubahan
perilaku siswa. Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia, 9(2).
Sihombing, A. S., Sidabutar, R., & Manurung, S. (2023). Pengaruh Model
Problem Based Learning (PBL) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa pada Materi Sistem Persamaan Linier Tiga Variabel di Kelas X.
Journal on Education, 5(4), 14454-14469.
Simangunsong, V. H., Simangunsong, M. I., & Parhusip, B. H. (2021). Efektivitas
pembelajaran web menggunakan google classroom terhadap hasil belajar siswa
pada materi sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) kelas X SMA. Jurnal
Dinamika Pendidikan, 14(1), 187-195.
Situmorang, F. (2020). Pengaruh Model Problem Based LearningTerhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta Didik Pada Materi Bilangan
Bulat Di Kelas VII SMPN 2 Sitiotio.
Sugesti, I. J., Simamora, R., & Yarmayani, A. (2018). Perbandingan Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematis Menggunakan Model Pembelajaran SAVI dan
Model Pembelajaran Langsung Siswa Kelas VIII SMPN 2 Kuala Tungkal. PHI:
Jurnal Pendidikan Matematika, 2(1), 14-22.
Sumiantari, N. L. E., Suardana, I. N., & Selamet, K. (2019). Pengaruh model
problem based learning terhadap kemampuan pemecahan masalah IPA siswa
kelas VIII SMP. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sains Indonesia (JPPSI),
2(1), 12-22.
Syamsi, N. (2022, January). Pengaruh Model Pembelajaran Realistic Mathematics
Education Terhdap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V Sdn 3 Tapa Bone
Bolango. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar.
Zulfah, Z. (2017). Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think
pair share dengan pendekatan heuristik terhadap kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa MTs negeri naumbai kecamatan kampar. Jurnal Cendekia:
Jurnal Pendidikan Matematika, 1(2), 1-12.