0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan36 halaman

Konsep Perencanaan Lingkungan Perumahan

Dokumen ini membahas konsep perencanaan situs dan unit lingkungan, termasuk ukuran lingkungan, superbok, perumahan merumpun, dan pengembangan unit terencana. Ditekankan pentingnya desain yang mempertimbangkan ruang terbuka, sirkulasi, dan interaksi sosial antar penghuni. Selain itu, prinsip perencanaan lingkungan menekankan pada integrasi fasilitas, batasan yang jelas, dan penyediaan layanan yang efisien.

Diunggah oleh

ade ridwan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan36 halaman

Konsep Perencanaan Lingkungan Perumahan

Dokumen ini membahas konsep perencanaan situs dan unit lingkungan, termasuk ukuran lingkungan, superbok, perumahan merumpun, dan pengembangan unit terencana. Ditekankan pentingnya desain yang mempertimbangkan ruang terbuka, sirkulasi, dan interaksi sosial antar penghuni. Selain itu, prinsip perencanaan lingkungan menekankan pada integrasi fasilitas, batasan yang jelas, dan penyediaan layanan yang efisien.

Diunggah oleh

ade ridwan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SITE & PROGRAM ANALISIS

SITE PLANNING CONCEPTS


(Rubenstein, 1980)

UKURAN LINGKUNGAN (NEIGBORHOOD SIZE)

• Telah dipelajari sejak konsep Kota Taman (Ebenezer Howard, 1898)


• Neighborhood = ukuran/luasan yang diperlukan untuk
menunjang 1 SD untuk sekitar 1200 -1500 keluarga.
• 2 N diperlukan untuk mendukung 1 SMP
• 4 N diperlukan untuk mendukung 1 SMA

Contoh:
Columbia, Maryland →8 N membentuk satu kelurahan, terdiri dari
3.000 –5.000 keluarga (12.000 –20.000 penduduk)
SITE PLANNING CONCEPTS
(Rubenstein, 1980)

SUPERBLOK

• Dipakai untuk menggantikan sistem grid/rectangular yang khas


• Unsur-unsur:
1. Pemisahan lalu lintas pejalan kaki dan kendaraan dengan
menyediakan jalur khusus, untuk cul-de-sac yang melayani
kelompok, unit-unit yang oleh karenanya mengurangi ‘through
traffic’
SITE PLANNING CONCEPTS
(Rubenstein, 1980)

SUPERBLOK

2. Rumah-rumah dengan
ruang duduk dan kamar
tidur menghadap ruang
terbuka dan taman/kebun
membentu ktaman di
tengah Superblok
3. Membatasi berbagai
ukuran jalan ke dalam
(menjadi) 1 penggunaan,
eg.: jalan kolektor atau
lokal.
SITE PLANNING CONCEPTS
(Rubenstein, 1980)

PERUMAHAN MERUMPUN (CLUSTER HOUSING)

• Rumah ditata dalam kelompok yang berdekatan.


• Memungkinkan kepadatan lebih tinggi di kawasan layak bangun
sekaligus melestarikan features alamiah tapak, seperti aliran air,
kemiringan yang curam, air permukaan, dan lain-lain.
• Biaya prasarana dan pemeliharaan lebih rendah.
• Persil dapat dikelompokkan sekitar cul-de-sac→sisa lahan bisa
untuk ruang terbuka/taman.
• Dapat juga menghindari (bebas dari) rumah deret dari rumah
tinggal yang standar.
• Juga dapat bebas dari arus menerus
SITE PLANNING CONCEPTS
(Rubenstein, 1980)

PENGEMBANGAN UNIT TERENCANA


(PUD, PLANNED UNIT DEVELOPMENT)

• Menggunakan konsep cluster


• Dapat menampung berbagai jenis rumah( tunggal, duplex, town
house, garden, multistorey, dan apartemen lantai banyak).
• Desain dapat luwes tanpa mengubah kepadatan
• Mendorong pendekatan kreatif dalam pengembangan lahan
hunian, komersil dan industri.
• Lebih efisien dan ekonomis untuk mengurangi jalan dan
prasarana.
• Tapak disediakan untuk taman, tempat rekreasi, lapangangolf.
• Neigborhood association dapat dibentuk untuk mengelola
rekreasi dan ruang terbuka
NEIGHBOURHOOD UNIT CONCEPTS

DEFINISI :
“the area within which residents may all share the common services,
social activities and a facilities required in the vicinity of the
dwelling”(Golany)

Tidak hanya teritori (fisik) tapi juga identitas sosial penghuni :


• “the people collectively who live in the vicinity ... the conditionof
standing in the relation of a neighbor ... a district considered with
reference to a given characteristic”.
• “local areas that have physical boundaries, social networks,
concentrated use of facilities and special emotional & symbolic
connotations for their inhabitants ...”
• “has definite social contacts and a recognizable physical
unity”(Gibberd1959)
NEIGHBOURHOOD UNIT CONCEPTS

SEJARAH PERKEMBANGAN UNIT LINGKUNGAN PERUMAHAN :

• Telah berkembang biak sejak zama mesopotamia → masih


nomaden, dalam bentuk pengelompokkan tenda
• Didasarkan pada communal sharing dan blood relationship
• Kota-kota yang mula-mula menerapkan → di Yunani
NEIGHBOURHOOD UNIT CONCEPTS

CIRI-CIRI NEIGHBORHOOD UNIT :

1. Social integrity→distinct, kebersamaan, rasa tempat, identity,


unity, sense of belonging.
2. Sharing system→dasar dari kesatuan(unity):
a) Tempat tinggal bersama(common residences)
b) Penggunaan pelayanan bersama
c) Perhatian terhadap kejadian di lingkungan dan mau membela
kepentingan bersama
d) Pelayanan lingkungan yang dioperasikan sendiri (self operated
neighborhood services), misalnya : sampah, siskamling, dll

Catatan: (NU untuk desentralisasi pelayanan+ pengurangan transport)


NEIGHBOURHOOD UNIT CONCEPTS

CIRI-CIRI NEIGHBORHOOD UNIT :

3. Bertetangga→berkembang dalam waktu yang lama melalui


tukar, pinjam, bantu, gosip, tukar info, persahabatan.
4. Pemerintahan→RT/RW.
5. Swasembada (self-containment)→ minimum pelayanan sehari-
hari dalam jarak dekat.
PRINCIPLE OF NEIGHBOURHOOD PLANNING
De Chiara & Callendar 1980)

❑ SIZE
• Cukup untuk penghuni yang didukung oleh 1 SD
• Tergantung kepadatan penduduk

❑ BOUNDARIES
• Dibatasi jalan arteri yang cukup lebar agar tidak masuk ke NU

❑ OPEN SPACES
• Disediakan taman kecil/rekreasi sesuai kebutuhan
PRINCIPLE OF NEIGHBOURHOOD PLANNING
De Chiara & Callendar 1980)

❑ INSTITUTION SITE
• Dikelompokkan di pusat + rekreasi

❑ LOCAL SHOPPING CENTER


• Ditempatkan di tepi jalan utama

❑ INTERNAL STREET SYSTEM


• Hirarki disesuaikan dengan beban lalu lintas
• Dirancang untuk melayani pergerakan internal dengan akses
yang baik ke jalan utama dan mencegah arus menerus
SPATIAL DIVISIONS in SITE CONCEPT
Rubenstein, Untermann

1. RUANG TERBUKA PUBLIK DAN PRIVAT (±20%)

• RUANG PUBLIK :
Digunakan oleh semua penduduk → parkir, jalan, trotoar,
taman, tempat bermain, fasilitas-fasilitas

• RUANG SEMI PUBLIK :


o Terbatas pada penduduk/pengunjung PUD atau kompleks
apartemen tertentu saja → kolam renang
o Ruang milik penghuni yang disisihkan untuk pemakaian
bersama di lingkungan
SPATIAL DIVISIONS in SITE CONCEPT
Rubenstein, Untermann
SPATIAL DIVISIONS in SITE CONCEPT
Rubenstein, Untermann

• RUANG PRIVATE
Ruang tertutup → beranda, halaman berpagar, serambi,
balkon, teras

• RUANG SEMI PUBLIK

• RUANG TRANSISI (ANTARA)


Antara ruang publik dan semi publik → trotoar yang diperlebar
Antara ruang semi publik dan private → tangga
SPATIAL DIVISIONS in SITE CONCEPT
Rubenstein, Untermann

KONSEP TAPAK :
• Berdasarkan urutan (hierarki) peristiwa penghuni/tamu dari
mulai masuk s/d unit yang dituju
• Publik → semi publik → (semi privat) → privat
(jalan lingkungan → parkir → garasi → rumah)

Publik Semi Publik Publik Komunal Privat


SPATIAL DIVISIONS in SITE CONCEPT
Rubenstein, Untermann

2. PERUMAHAN

❑ HUNIAN BERIMBANG :
• Serasi → berbagai profesi, tingkat ekonomi dan status sosial –
kekeluargaan, bersama, amrgin dari kerawanan sosial
• Sederhana ; 54-200 m2, biaya/m2 , rumah dinas C
• Menengah; 200-600 m2, biaya/m2 antara rumah dinas A-C
• Mewah ; 600-2000m2, biaya/m2 > rumah dinas A
SPATIAL DIVISIONS in SITE CONCEPT
Rubenstein, Untermann

3. SIRKULASI (± 30%)

• Melayani fungsi pergerakan penting antaral okasi kegiatan.


• Jika tidak terencana baik dapat mengganggu, bising dan
membahayakan
• Pada perumahan kepadatan menengah: →kebalikan dari yang
rendah
• Jarak menujur umah lebih pendek
• Halaman terbuka mahal → tidak dapat jadi buffer dari ganggunan
jalan.
• Parkir dikelompokkan (tidak on-street) sehingga jalan tidak perlu
lebar.
• Untuk lingkungan berkualitas→perlu pengurangan gangguan
kendaraan bermotor.
SPATIAL DIVISIONS in SITE CONCEPT
Rubenstein, Untermann

SARAN :

• Kendaraan boleh hanya dengan kecepatan rendah → karena


berdekatan
• Kendaraan yang dimiliki tidak perlu 2 atau 3 karena fasilitas dekat
hunian

HIRARKI JALAN :
• Berdasarkan kapasitas/volume pada kecepatan tertentu
• Kecepatan dan volume tinggi → kualitas lingkungan rendah, pejalan
kaki rendah rendah
• Kecepatan dan colume rendah → kualitas baik, jalan kaki dapat
ditingkatkan
SPATIAL DIVISIONS in SITE CONCEPT
Rubenstein, Untermann

SEBARAN TRANSPORTASI :

❑ Distribusi lalu lintas seragam → semua jalan menampung beban


yang sama dan lebar sama (pola grid)
❑ Hirarki jalur jalan → beda kapasitas dan lebar jalan
o Jalan utama : distribusi lalu lintas kendaraan yang efisien →
untuk mempersingkat waktu tempuh, sedikit persimpangan,
jalan akses tidak langsung ke jalan utama → grid/curvelinear
o Jalan lokal/kolektor : distribusi dalam jaringan menghubungkan
ke jalan utama
- Menampung kendaraan + jalan kaki
- Tersedia trotoar, boleh parkir
- Cukup lebar untuk pohon, keselamatan pejalan kaki,
kenyamanan+jumlah sepadan (damija 26m, badan jalan 8m-
bahu 5m,trotoar 5-6m)
SPATIAL DIVISIONS in SITE CONCEPT
Rubenstein, Untermann

o Jalan pencapaian (akses) :


- berhubungan dengan jalan lokal, akses ke hunian
- tidak pernah berhubungan langsung dengan jalan utama
- kecepatan rendah supaya aman (10-20 km/jam)
- cukup lebar (untuk 2 arah) dan tidak selalu perlu trotoar
PLANNING CONCEPT – STREET PATTERN
MODULE

Kelompok rumah yang tampil dan dianggap sebagai unit yang berbeda
• Ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan : size,tenure,cost
• Kelompok yang tidak terlalu besar → kepentingan bersama bisa
pudar
• Ikatan sosial lebih mudah terbentuk di antara kelompok dengan
kelas sosial ekonomi yang sama

Pola modul :
• Internal
• Hubungan ke luar

sosial ekonomi ekonomi


MODULE

❑ STREET FRONT PATTERN


• Akses dan orientasi mudah
• Monoton dihindari dengan lansekap, sempadan, kurva

❑ DISPOSED END ON THE STREET


• Street frontage/unit berkurang → cost turun
• Terhindar dari bising, bahaya dan kenyamanan
MODULE

❑ COURT ARRANGEMENT
• Menghadap ke dalam (pengikat sosial)+visual reasons

❑ CLUSTER
• Terkonsentrasi dan dikelilingi ruang terbuka
• Strong visual effect
• Hemat jalan dan prasarana
• Kepadatan ruang terbuka naik
SITE DESIGN TECHNIQUE

❑ PERTIMBANGAN
• Jumlah persil
• Luas untuk lahan komersial
• Luas untuk lahan fasilitas sosial dan fasilitas umum
• Prasarana dan kemudahan yang akan disediakan
• Batasan-batasan/aturan zoning yang akan diterapkan

❑ JENIS KONSTRUKSI JALAN DITENTUKAN OLEH :


• Kebiasaan lokal
• Iklim
• Kondisi tanah (soil)
SITE DESIGN TECHNIQUE

❑ BENTUK DAN UKURAN PERSIL BERGANTUNG :


• Penggunaan lahan
• Topografi (kontur,pohon,dahan,aliran)
• Harga jual/sewa yang diusulkan
• “readily saleable lots” lebih penting daripada jumlah maksimum
persil
• Penyediaan taman dan fasilitas rekreasi akan menambah daya
tarik tapak dan daya jual kapling
• Perlu disediakan juga tapak untuk fasilitas belanja, sekolah,
mesjid/gereja,dll (kadang-kadang danau, lapangan golf, rekreasi)
SITE DESIGN TECHNIQUE

❑ PERTIMBANGAN TEKNIS PERANCANGAN


TAPAK
• Lindungi tapak dari guna lahan sebelahnya yang tidak
sesuai/cocok (misal. Buffer zone)
• Lestarikan keadaan alam untuk menjaga tampilan dan fungsi
(drainase alam+pohon)
• Lindungi lingkungan tapak dengan mencegak erosi, menyediakan
sanitary seawers (saluran pembuangan yang layak)
• Sediakan taman dan fasilitas rekreasi lain (dapat jadi aset
lingkungan)
• Kembangkan fitur khusus seperti : jalan masuk, bicycle path dan
prasarana bawah tanah untuk menaikkan daya jual
SITE DESIGN TECHNIQUE

❑ PERTIMBANGAN TEKNIS PERANCANGAN


BLOK
• Rencanakan blok komersil sesuai kebutuhan
• Sediakan blok sekolah dan mesjid, terutama sebagai penyangga
antara komersil dan perumahan
• Hindari blok-blok pendek (tidak ekonomis) dan blok yang terlalu
panjang
SITE DESIGN TECHNIQUE

❑ PERTIMBANGAN TEKNIS PERANCANGAN


PERSIL
• Identifikasi adaptasi tapak bangunan terhadap garis persil untuk
melayani persil tersebut
• Hindari persil berbentuk panjang (dalam (boros)
• Lebar persil proporsional terhadap panjangnya (idealnya 2:3)
• Hindari persil dengan sudut tajam
• Persil sudut lebih luas (plus min. 30%)
• Buat garis persil tegak lurus jalan
• Persil menghadap pemandangan yang baik/indah
• Lindungi persil perumahan dari lalu lintas jalan lebar
SITE DESIGN TECHNIQUE

❑ PERTIMBANGAN TEKNIS PERANCANGAN


JARINGAN JALAN DAN SIRKULASI
• Faktor-faktor pertimbangan untuk perancangan sirkulasi :
a. Keselamatan → pejalan dan kendaraan
b. Efisiensi pelayanan → untuk semua pemakai
c. Kenyamanan (livability) dan kemudahan (amenities) →
terutaman yang dipengaruhi oleh unsur transport dalam
sistem sirkulasi
d. Ekonomi → penggunaan lahan, konstruksi, pemeliharaan
• Akses kendaraan dan orang harus melayani semua persil
• Perluasan jalan utama harus direncanakan di awal
• Sistem jalan lokal harus logis dan menyeluruh
• Minimumkan lalu lintas menerus (through traffic)
SITE DESIGN TECHNIQUE

❑ PERTIMBANGAN TEKNIS PERANCANGAN


JARINGAN JALAN DAN SIRKULASI
• Lalu lintas harus mengalir ke arah hirarki jalan yang lebih tinggi
(thoroughfares)
• Sistem jalan lokal dan pemanfaatan ruang jangan merusak
efisiensi jalan utama
• Pola jalan harus menimumkan lalu lintas padat (susun secara
hierarkis)
• Jalan sesuai dengan kontur alamiah
• Jalan kecil masuk ke jalan besar dengan sudut yang tepat
(sebaiknya tegak lurus atau >60o
• Hindari jalan buntu (court & cul de sac dengan ruang belok
memadai kadang-kadang diperlukan/diinginkan)
• Sediakan parkir yang memadai
SITE DESIGN TECHNIQUE

❑ PERTIMBANGAN TEKNIS PERANCANGAN


JARINGAN JALAN DAN SIRKULASI
• Penamaan jalan, penomoran harus sederhana, konsisten dan
mudah dipahami
• Efisiensi dan keselamatan lalu lintas jangan bergantung pada
peraturan lalu lintas, tapi pada rancangan jaringan jalan
• Tegaskan fungsi jaringan jalan lokal dari perencaan dan
konstruksinya
• Volume lalu lintas lokal harus diperhitungkan
• Rancang untuk volume lalu lintas rendah yang seragam
• Hambat (discourage) kecepatan tinggi di dalam tapak
• Kurangi konflik pejalan dan kendaraan
• Minimumkan lahan untuk jaringan jalan untuk menekan biaya
• Batasi jumlah persimpangan
SITE DESIGN TECHNIQUE

❑ PERTIMBANGAN TEKNIS PERANCANGAN


JARINGAN JALAN DAN SIRKULASI
• Penahan jalan lingkungan → mungkinkan pembangunan persil
dalam pola yang ekonomis, praktis dari pola, bentuk dan
ukuran kapling
• Sesuaikan dengan topografi dan ekonomi dan pemindahan
• Sediakan angkutan umum

PENETAPAN BATASAN/LARANGAN
• Peraturan pada Masterplan kadang kala tidak memadai,
sehingga perlu ditambah oleh pengembang
• Batasan/larangn bergantung pada zoning dan peraturan yang
diterapkan
• Peraturan tambahan dapat berupa pengendalian dan
pembatasan/larangan
SITE DESIGN TECHNIQUE

❑ PERTIMBANGAN TEKNIS PERANCANGAN


PENGENDALIAN DAPAT DILAKUKAN DENGAN MENETAPKAN
• Penggunaan lahan (boleh, bersyarat, dilarang)
• Ukuran persil
• Ukuran dan rancangan struktur bangunan
• Posisi struktur bangunan dalam persil
• Batasan kebisingan
• Interval/range harga
• KDB
• Faktor-faktor arsitektural
• Tingkat kemudahan (easements)
SITE DESIGN TECHNIQUE

❑ PERTIMBANGAN TEKNIS PERANCANGAN


BATASAN/LARANGAN YANG DAPAT DITERAPKAN
o Harus punya cukup kekuatan hukum
• Dicatat dalam catatan sipil (public land record)
• Sebagai persyaratan dalam KPR
o Dapat dikelola oleh “home association” (contoh BSD), pemilik
properti atau asosiasi pemeliharaan (maintenance association)
o Contoh tambahan :
• Sistem air bersih dan pembuangan : individu vs komunal
• Penerapan standar
• Perlindungan tapak fasilitas umum (misal : batasi taman
dengan jaringan jalan)
o Catatan : occupancy restriction tidak bisa diterapkan

Anda mungkin juga menyukai