0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan22 halaman

Pengujian Ultrasonik Material Teknik

Laporan praktikum ini membahas tentang Ultrasonic Testing, sebuah metode Non-Destructive Testing (NDT) yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk mendeteksi cacat pada material. Praktikum bertujuan untuk memahami prosedur kalibrasi, mendeteksi cacat subsurface, dan menganalisis hasil inspeksi. Hasil pengujian menunjukkan adanya tiga kecacatan pada benda uji dengan koordinat tertentu.

Diunggah oleh

3331230137
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan22 halaman

Pengujian Ultrasonik Material Teknik

Laporan praktikum ini membahas tentang Ultrasonic Testing, sebuah metode Non-Destructive Testing (NDT) yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk mendeteksi cacat pada material. Praktikum bertujuan untuk memahami prosedur kalibrasi, mendeteksi cacat subsurface, dan menganalisis hasil inspeksi. Hasil pengujian menunjukkan adanya tiga kecacatan pada benda uji dengan koordinat tertentu.

Diunggah oleh

3331230137
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

MATERIAL TEKNIK

KELOMPOK 3
ULTRASONIC TESTING

Disusun Oleh :
Nama : Morello Danendra Satriani
NPM : 3331230137
Tanggal Praktikum : 30 April 2025
Tanggal Pengumpulan Laporan : 14 Mei 2025
Asisten : Jeremi Dean Napitupulu

LABORATORIUM MATERIAL TEKNIK


JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2025
PRAKTIKUM MATERIAL TEKNIK
No Tanggal Revisi Paraf Asisten

1 12/5/2025  “Ultrasonic testing” pada Abstrak


Italic
 kasih no halaman untuk semua
 setelah sub-bab langsung aja , tdk
pakai enter lagi
 “subsurface” diitalic
 tnr 12
 buat apa pakai link, diunderline
 setidaknya kalua ada referensi di
paraphrase, jangan asal copas!!!
 diagram alir diberi keterangan
gambar 3.
 Kapital diawal kata
 Prolog saja, deskripsi setelah gambar
 sub-sub-bab, bold
 dibaca lagi sumber jangan dari web
ABSTRAK

Ultrasonic testing adalah metode Non-Destructive Testing (NDT) yang


menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk mendeteksi cacat atau
ketidaksesuaian pada material tanpa merusaknya. Gelombang ultrasonik adalah
gelombang suara dengan frekuensi di atas 20 kHz, yang tidak dapat didengar
oleh telinga manusia. Pengujian ultrasonik termasuk dalam metode NDT, yaitu
metode pengujian yang tidak merusak atau mengubah material yang diuji
gelombang Ultrasonik adalah gelombang akustik yang mempunyai frekuensi di
atas 20 KHz. Pada percobaan ultrasonic testing memiliki 3 tujuan praktikum
yaitu Mengetahui prosedur kalibrasi dan inspeksi ultrasonic testing, Mendeteksi
cacat pada bagian subsurface dari benda uji, Menganalisis hasil inspeksi dan
kegagalan yang ditemukan. Pengujian ini dilakukan dengan metode pulse eco
dimana gelombanmg ultrasonic berdenyut merupakan sintesis gelombang
sinusoidal dan frekuensi dan amplitude yang berbeda metode ini menggunakan 2
jenis gelombang yaitu gelombang longintudinal dan gelombang transversal.
Proses pengujiannya pertama tama yaitu menyalakan alat nya terlebih dahalu,
lanjut mengkalibrasinya lalu memulai proses inspeksi pertama bersihkan
permukaan benda uji, lalu kuplan di aplikasikan pada benda uji, lalu probe
ditempelkan pada benda uji, lalu menginspeksi seluruh area benda uji hingga
cacat di temukan dan mencatan hasil pengujian, dan benda uji dirapihkan
Kembali. Setelah dilakukannya pengujian terdapat hasil yang didapatkan yaitu
terdapat 3 kecacatan benda kerja yang terletak dengan koordinatnya pertama X 27
mm Y 35 mm dan Z 22mm dan kecacatan kedua X 76 mm Y 30 mm dan Z 24
mm dan ketiga X 202 mm Y 25 mm dan 26 mm.

Kata Kunci : Non-Destructive Test, Pengujian, Ultrasonic testing.


PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ultrasonic testing adalah salah satu metode penguji material Non
Destructive Test (NDT). Non Destructive Test (NDT) adalah metode
pengujian yang digunakan untuk mengevaluasi suatu material atau hasil las
tanpa harus merusak material dari benda uji tersebut. Sedangkan Ultrasonic
test adalah metode Non Destructive Test (NDT) menggunakan energi suara
frekuensi tinggi (getaran ultrasonik) untuk melakukan proses pengujian atau
proses pengukuran. Besarnya frekuensi gelombang ultrasonik yang digunakan
untuk pengujian ini di atas 20 khz.
Pengaruh kuplan dalam pengujian ultrasonik (UT) adalah untuk memastikan
perambatan gelombang suara ultrasonik yang efektif dari probe ke benda uji.
Kuplan ini mengisi celah udara antara probe dan benda uji, sehingga
gelombang ultrasonik tidak terhambat atau dipantulkan kembali. Probe adalah
perangkat yang sangat penting dalam non destructive test (NDT). Probe
ini berfungsi untuk menghasilkan dan menerima gelombang ultrasonic yang
digunakan untuk memindai material dan mendeteksi cacat seperti retakan atau
ketidaksempurnaan lainnya. Efek piezoelektrik sangat penting pada ultrasonic
testing karena memungkinkan pengonversian energi listrik menjadi
gelombang ultrasonic ini dapat memungkinkan transduser ultrasonil untuk
memancarkan dan juga menerima gelombang ultrasonic, yang dipaia untuk
memeriksa material dan mendeteksi suatu kecacatan pada benda uji. Efek
magnetostriktif pada UST yaitu penggunaan material magnetic yang dapat
mengubah bentuknya sebagai respon terhadap suatu medan magnet untuk
menghasilkan gelombang ultrasonik Kecacatan benda sering kali terjadi pada
suatu produk maka dilakukannya ultrasonic testing untuk mengetahui apakah
suatu benda memiliki kecacatan atau tidak dan dimana letak kecacatan pada
benda tersebut dan berapa besar tingkat kecacatannya. Dilakukannya juga
percobaan ultrasonic testing ini supaya praktikan mengetahui salah satu
pengujian benda ini.

1.2 Tujuan Praktikum


A. Mengetahui prosedur kalibrasi dan inspeksi ultrasonic testing.
B. mendeteksi cacat pada bagian subsurface dari benda uji.
C. menganalisis hasil inspeksi dan kegagalan yang ditemukan.
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gelombang Ultrasonik


Gelombang Ultrasonik adalah gelombang akustik yang mempunyai
frekuensi di atas 20 KHz. Batas tertinggi, frekuensi gelombang ultrasonik ini
belum bisa ditentukan dengan jelas. Yang dapat diketahui adalah daerah-
daerah dengan frekuensi tertentu yang biasa dipakai dalam macam – macam
penggunaan. Gelombang ultrasonik termasuk jenis gelombang longitudinal,
yaitu gelombang yang arah getarnya searah dengan arah perambatannya, pada
gelombang longitudinal yang merambat adalah rapatan dan renggangan.
Perambatan rapatan dan renggangan dapat terjadi pada semua zat. Karena itu
gelombang longitudinal dapat terjadi dalam zat cair dan zat padat dan gas.
Gelombang ultrasonik juga termasuk jenis gelombang mekanik, yaitu
gelombang yang memerlukan medium perambatan. (Nurhasan, 2022)

2.2 Efek piezoelektrik


Pada tahun 1880, Jacques Curie dan Pierre Curie pada eksperimennya
menemukan fenomena yang tidak biasa pada beberapa kristal. Mereka
mendapati bahwasannya pada beberapa kristal seperti quartz, turnamalin,
topaz, cane sugar, Rochelle salt, dan beberapa lainnya bisa menghasilkan
potensi listrik pada saat mengalami tekanan (stress). Disebutkan bahwa kristal
quartz dan Rochelle salt memberikan potensial listrik yang lebih besar jika
dibandingkan dengan kristal jenis lainnya. Efek yang timbul pada kristal –
kristal tertentu tersebut dinamakan efek piezoelektrik (piezoelectric effect).
Istilah piezoelectric Berasal dari kata “piezo” atau “piezein” (Bahasa
Yunani) yang artinya tekanan. Nama ini pertama kali diusulkan oleh Hankel
pada tahun 1881, satu tahun setelah Curie bersaudara menemukan fenomena
itu. Atas penemuan Currie tersebut, selanjutnya Gabriel Lippman
mengemukakakn bahwa berdasarkan prinsip – prinsip dasar termofinamika,
seharusnya berlaku efek sebaliknya. Selanjutnya pada tahun itu juga Currie
bersaudara melakukan eksperimen sebagaimana usulan Lippman, dan Currie
mendapatkan bahwa efek sebaliknya memang muncul. Jika pada kedua
permukaan kristal piezoelektrik diberi medan listrik, kristal akan mengalami
perubahan bentuk yakni mwngwmbangkan atau menyusut, tergantung pada
polaritas yang diberikan. (Santoso, 2017)

2.3 Efek Magnetostriktif


Sejak ditemukan efek piezoelektrik ditemukan pada tahun 1880, banyak
sarjana mulai melaksanakan penelitian pada penggerak piezoelektrik. Actuator
piezoelektrik telah diketahui sebagai efek piezoelektrik terbalik dengan bahan
keramik sampai dapat menghasilkan Gerakan rotasi atau linear dengan
mengontrol deformasi mekaniknya. Uchino et al merangkum konstruksi,
prinsip kerja, bahan structural, dan pemulihan energi dari actuator piezo
elektrik yang menaruh dasar untuk penelitian tentang aktuatroe piezo elektrik.
Karena keunggulan actuator piezoelektrik, hasil penelitian mereka telah luas
diterapkan dalam motor ultrasonic, pompa piezoelektrik, dan atomisasi
piezoelektrik. (I Dewa Gede Agus Tri Putra, 2024)
2.4 Ultrasonic Testing
Ultrasonik adalah istilah untuk studi dan penerapan ultrasonik, yaitu suara
dengan nada yang terlalu tinggi untuk didengar oleh telinga manusia, yaitu
dengan frekuensi lebih besar dari sekitar 18kHz. Gelombang ultrasonik
mempunyai berbagai macam aplikasi pada rentang intensitas yang luas,
termasuk pemotongan, pembersihan, dan penghancuran jaringan pada
ekstremitas atas dan pengujian non-destruktif (NDT) pada ekstremitas bawah.
Pengujian non-destruktif adalah pengujian yang tidak merusak sifat dan
kinerja objek yang diperiksa dalam penggunaan di masa mendatang. Dengan
pengujian non-destruktif ultrasonik, yang secara efektif merupakan metode
mekanis, tegangan mekanis periodik diterapkan pada objek. Sangat penting
bahwa tidak ada perubahan dalam dimensi dan struktur objek saat pengujian
selesai. Ultrasonic testing pada dasarnya terdiri dari perambatan gelombang
amplitudo rendah melewati material untuk mengukur waktu tempuh dan
perubahan intensitas untuk jarak tertentu. Aplikasinya meliputi pengukuran
jarak, deteksi cacat, dan pengukuran parameter (seperti modulus elastis dan
ukuran butiran) yang terkait dengan struktur material. (J blitz, 1995)
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


Berikut ini merupakan alat dan bahan yang digunakan dalam
praktikum modul Ultrasonic Testing.

Gambar 3.1 Alat dan Bahan


(Sumber : Dokumen Pribadi)
A. Flow Diagram
Memiliki fungsi memperlihatkan kecacatan pada Produk dan
memperlihatkan grafik
B. Probe Normal
Untuk memeriksa ketebalan material atau mengidentifikasi cacat yang
terletak secara tegak lurus dengan permukaan material.
C. Majun
Untuk membersihkan benda uji dari kotoran dan debu agar mudah
pada saat
D. Penggaris
Berfungsi untuk mengukur benda uji dan mengukur letak kecacatannya
ada dimana untuk di data
E. Benda Uji
Sebagai benda atau produk yang dilihat tingkat kecacatannya dan
diukur ketebalannya .
F. Kuplan (oli atau greese)
Memudahkan merambatnya gelombang ultrasonik dari Probe kedalam
benda uji.
3.2 Diagram Alir Praktikum
Gambar
3.2 Mulai
Diagram
Alir
3.3 Menghidupkan alat dengan menekan tombol ON

Prosedur
A. Membersihkan benda uji menggunakan majun
Kalibrasi
Mengaplikasikan Kuplan pada benda uji

Mengatur Nilai mat. Vel ke 6320 m/s

Melakukan Inspeksi keseluruhan permukaan


benda uji hingga cacat ditemukan dan mencatat
nilai yang didapat kedalam FWI

Membersihkan benda uji dan peralatan pengujian


merapihkannya kembali

Data Literatur

Pembahasan

Kesimpulan

Selesai
1. Dihidupkan alat dengan menekan tombol ON
2. Dimasukan ke menu TOOLS dengan menekan tombol panah
3. Dimasukan ke menu CALIB untuk mengatur ketebalan blok standar
4. Dimasukan ke menu PRB/AVG
5. Dipilih menu CRYSTAL
6. Disesuaikan nilai F (frekuensi) sesuai dengan nilai pada probe
7. Disesuaikan nilai D (diameter) sesuai dengan nilai pada probe
8. Dipilih ANGLE lalu tekan off kan nilai sudut
9. Dimasukan ke menu GATES untuk mengatur GAIN pulsa gelombang
10. Disesuaikan posisi Gate 1 agar menyentuh pulsa
11. Ditekan tombol F1 untuk keluar
12. Dimasukan ke menu PARAM
13. Dimasukan ke nilai [Link] dan rubah nilainya menjadi 5920 atau
disesuaikan
14. Ditempelkan probe ke blok kalibrasi V1 dengan ketebalan 25 mm
15. Dimasukan ke 0 us lalu sesuaikan nilainya (8,74) hingga amplitude
(pulsa) berada pada posisi 25, 50, 75, dan 100 mm
B. Persiapan Pengujian
Dilakukan pengujian dengan menggunakan metode ultrasonik ada
beberapa hal yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu yaitu melakukan
kalibrasi pada alat ultrasonik dengan menggunakan blok kalibraasi V1
(K1=IIW Blok), V2 (K2), step wedge dan sebagainya. Apabila ultrasonik
sudah terkalibrasi maka ultrasonik siap digunakan.
C. Proses Inspeksi
1. Dibersihkan permukaan benda uji menggunakan cleaner dan majun
2. Diaplikasikan kuplan disepanjang benda uji
3. Diatur nilai [Link] ke 6320 m/s
4. Ditempelkan probe ke benda uji
5. Dilakukan inspeksi keseluruh permukaan benda uji hingga cacat
ditemukan dan catat nilai yang didapat kedalam FWI, baik nilai
kedalaman cacat maupun posisi cacat
6. Dibersihkan benda uji dan peralatan pengujian dirapihkan Kembali
ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Spresifikasi Benda Kerja


Berikut ini merupakan spesifikasi benda kerja yang digunakan pada praktikum
modul ultrasonic testing.

Gambar 4.1 Spesifikasi benda kerja


(sumber : Dokumen Pribadi)
Panjang dimensi benda uji yaitu panjang 298 mm lebar 50 mm dan tebal 10
mm.

4.2 Analisis Hasil Inspeksi dan kegagalan


Berikut ini merupakan Analisa hasil inspeksi pada percobaan kali ini.
Gambar 4.2 Hasil Inspeksi
(Sumber : Dokumen Pribadi)

Tabel 4.1 Spesifikasi Alat Uji Ultrasonik


Equipment Name Frequency (MHz) H/V Gain
DIO 567 4 14,0 dB

Tabel 4.2 Analisis Cacat Benda Kerja


Tipe Probe Probe Normal
Metode Pulse Eco
Surface Condition Ground
Koordinat Lokasi Cacat (mm)
Cacat
X Y Z
D1 27 mm 35 mm 22 mm
D2 76 mm 30 mm 24 mm
D3 202 mm 25 mm 26 mm

4.3 Analisis Inspeksi dan Kegagalan


Setelah dilakukannya percobaan ultrasonic testing pada benda uji terdapat
beberapa kecacatan pada benda kerja yaitu ada 3 cacat yang terdeteksi oleh
alat cacat pertama yaitu pada koordinat X 27 mm Y 35 mm Z 22 mm, Cacat
kedua yaitu X 76 mm Y 30 mm Z 24 mm, cacat yang terakhir yaitu X 202 mm
Y 25 mm Z 26 mm. Kecacatan yang terjadi bisa jadi dikarenakan pada proses
pengecoran benda kerjanya bisa jadi dikarenakan logam cair tidak menyatu
dengan baik mungkin dikarenakan suhu yang terlalu rendah atau alirannya
yang terlalu lambat, bisa jadi juga dikarenakan produk meyusut saat
pembekuan dan apabila jika logam cari tidak cukup untuk mengisi volumenya
yang menyusut akan menyebabkan kecacatan yang terbentuk rongga pada
benda uji yang digunakan itupun termasuk penyebab terjadinya kecacatan
pada suatu benda uji atau produk juga bisa terjadinya suatu kecacatan benda
uji dikarenakan jikalau misalnya pendinginan kuranag atau bahkan tidak
merata, menyebabkan logam hanya membeku sebajuan dan hingg
menyebabkan cairan yang tersisa tidak dapat mengalir menngisi Bagian lain
akibatnya memunculkan kekosongan itu bisa jadi faktor yang menyebabkan
suatu benda uji mengalami kecacatan padanya. Bisa juga kecacatan muncul
dikarekan adanya kesalahan yang dilakukan pada saat pemprosesan
pengelasan pada pengelasan apabila panas terlalu tinggi ataupun elektroda
yang kurang bahkan tidak stabil dapat menimbulkan gas yang bisa
terperangkap dan menimbulkan pori yang dapat menyebabkan suatu benda
memiliki kecacatan bisa juga terjadi kecacatan pada saat dilakukannya
pemprosesan penempaan logam yang tidak memiliki cukup plastis bisa
mengakibatkan meninggalkan rongga dibagian dalam yang dapat terdetaksi
oleh alat sehingga terligar adanya kecacatan pada benda uji. Bisa juga
kecacatan terjadi karena bahan baku yang buruk misalnya seperti kandungan
terlalu banyak karbon bisa menyebabkan suatu logam benda uji memiliki
kecacatan pada saat dilakukannya proses pengujian ultrasonic testing.
Pada percobaan ultrasonic testing bisa terjadi kesalahan – kesalahan yang
terjadi dikarenakan kekurang telitian alat ataupun fungsi alat yang sudah tidak
berfungsi tidak baik misalnya flow diagram yang sudah lama dan banyak
terjadi kesalahan kesalahan pengguna hingga mengakibatkan alat berkurang
baik fungsinya sehingga Ketika pengambilan data ini terjadinya kesulitan
pengambilan data misal alat sering mati dapat menghambat laju pengambilan
data yang dilakukan karena alat yang susah dioprasikan. Dan juga dikarenakan
alat flow diagram yang memiliki layer yang sudah rusak yaitu bergaris dapat
juga menyebabkan praktikan salah dalam mengambil data selain menghambat
laju praktikum tersebut. Bisa juga apabila alat uji Probe Normal sensornya
rusak atau telah lama digunakan dan perawatan kurang baik dapat memicu
kinerja system yang kurang baik yan tidak optimal seperti bacaan yang salah
memungkinkan pengiriman sinyal yang salah. Sehingga menyebabkan hasil
yang kurang atau tidak akurat.
Kesalahan yang terjadi pada saat pengambilan data bisa terjadi karena dari
kesalahan praktikan misal kurang tepatnya pada saat menentukan titik
kecacatan benda uji yaitu saat pengukuran titik koordinat dari kecacatannya
dengan menggunakan penggaris itu tidak bisa sangat akurat karena tidak bisa
menentukan letak kecacatan 100% benar karena saat menetukan dengan
bermodalkan perkiraan saja itu mungkin dapat membuat kekurang akuratan
pada menentukan titik kecacatan benda yang diuji. Dikarenakan kurangnya
kemahiran praktikan dalam proses pengambilan data saat menggunakan
alatnya sehingga membuat laju praktikum menjadi sedikit lambat karena
kesulitan pada saat mencari kecacatan pada benda yang diuji juga pada saat
melihat pada flow diagram bisa saja terjadi kesalahan pembacaan data
sehingga salah menentukan kedalaman kecacatan pada benda yang diuji yang
menimbulkan salahnya data yang didapatkan oleh praktikan. Adapun hal hal
yang harus diperhatikan untuk mengurangi persentase kesalahan yaitu
penggantian alat uji coba yang sudah rusak atau sudah kehilangan fungsi yang
baik lalu merawat alat uji coba ultrasonic testing dengan baik agar saat
penggunaan alatnya pada saat praktikum berlangsung alat tersebut bisa
berfungsi dengan baik dan juga dari segi praktikan seharusnya lebih sangat
memahami Kembali untuk mendeteksi kecacatannya agar lanju berjalannya
waktu pratikum tidak terhambat juga penggantian alat diharuskan apabila
terjadi kerusakan dan kekurang fungsian agar laju parktikum tidak terhambat
oleh alat yang sering error.
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Berikut ini merupakan kesimpulan yang menjawab tujuan praktikum
ultrasonic testing.
1. Yang harus dilakukan pada saat ingin melakukan kalibrasi dan proses
inspeksi pada percobaan ini pertama menghidupkan alatnya lalu ke menu
TOOLS lalu masuk kemenu CALIB untuk mengatur ketebala blok standar
lalu masuk ke menu PRB/AVG lalu pilih menu CRYSTAK dan sesuakan
nilai Frekuensi dan Diameter sesuai dengan nilai pada probe lalu pilih
ANGLE lalu tekan offkan nilai sudut lalu masuk ke menu GATES untuk
mengatur GAIN pulsa Gelombang lalu sesuaikan posisi gate 1 agar
menyentuh pulsa lalu tekan tombol F1 untuk keluar masuk kemenu
PARAM dan masuk ke nilai [Link] dan tubah nilai menjadi 5920 atau
sesuaikan lalu tempelkan probe ke blok kalibrasi VI dengan ketebalan 25
mm dan masukan ke 0 us lalu sesuaikan nilainya (8,74 hingga amplitude
(pulsa) berada pada posisi 25, 50, 75 dan 100 mm dan kalibrasi selesai
dilakukan lalu untuk proses inpeksi pertama permukaan benda uji
dibersihkan menggunakan cleaner dan majun lalu kuplan di aplikasikan
diseluruh area benda uji lalu nilai [Link] diatur ke 6320 m/s lalu probe
ditempelkan ke benda uji lalu inspeksi dilakukan keseluruh permukaan
benda uji hingga cacat ditemukan dan catat nilai yang didapat ke dalam
FWI baik nilai kedalaman cacat maupun posisi cacat dan benda uji
dibersihkan Kembali dan peralatan pengujian dirapihkan Kembali.
2. Pada benda kerja yang telah di uji terdapat 3 kecacatan benda kerja yang
terletak dengan koordinatnya pertama X 27 mm Y 35 mm dan Z 22mm
dan kecacatan kedua X 76 mm Y 30 mm dan Z 24 mm dan ketiga X 202
mm Y 25 mm dan 26 mm
3. Bisa dilihat dari benda uji yang telah diuji bahwasannya telah tedapat
kecacatan pada benda uji yang mengalami kerusakan didalam Bagian
dalam logamnya kecacatan tersebut bisa terjadi karena faktor – faktor
tertentu bisa saja terjadi karena kekurang telitiannya pengoprasi atau
pembuat benda atau produk tersebut sehingga dan faktor lainnya juga bisa
karena kekurang baikannya suatu alat yang digunakan untuk membuat
benda tersebut atau bisa jadi karena kerusakan benda atau bisa jadi karena
faktor lainnya yang tidak terduga.
5.2 Saran
Setelah melaksanakan praktikum pada modul Ultrasonic Testing Adapun
saran yang dapat praktikan berikan kepada asisten laboratorium dan
laboratorium itu sendiri.
A. Laboratorium
Berikut ini merupakan saram untuk laboratorium untuk kedepannya.
1. Disarankan untuk menganti alat monitor diagram ultrasonic testing
sudah mengalami kerusakan yaitu garis pada layar yang lumayan
banyak hal itu sebaiknya cepat diganti karena membuat kesulitan dan
menghambat laju praktikum dan juga kesulitan memahami cara kerja
alatnya yang mengakibatkan para praktikan kurang memahami modul
ini.
2. Disarankan untuk mengganti kabel kabel alat laboratorium supaya
tidak terjadinya mati tiba tiba pada saat praktikum berlangsung yang
menghambat laju alur praktikum
B. Asisten laboratorium
Berikut merupakan saran untuk asisten laboratorium
1. Sebaiknya asisten laboratorium bisa menjelaskan lebih detail tentang
fotur fitur yang terdapat pada alat.
2. Sebaiknya asisten laboratorium tidak keluar ruangan laboratorium
pada saat pelaksanaan praktikum berlangsung
Daftar Pustaka

1. I Dewa Gede Agus Tri Putra, W. N. (2024). Atomisasi Ultrasonik Prinsip-


prinsip dan Aplikasinya dalam Engineering. Sumedang: CV. Mega Press
Nusantara.
2. J blitz, G. S. (1995). Ultrasonic Methods of Non-destructive Testing. London:
Chapman & Hall.
3. Nurhasan. (2022). Gelombang Ultrasonik. Gelombang Ultrasonik, 5-6.
4. Santoso, D. R. (2017). Pengukuran Stress mekanik berbasis sensor
Piezoelektrik : Prinsip desain dan implementasi. Malang: UB Press.
LAMPIRAN
Lampiran A. FWI Modul Ultrasonic Testing
Lampiran B Benda Uji Hasil Analisis Inspeksi Solidworks
Lampiran C. Bukti Sosialisasi, Praktikum Teori, Praktikum Alat

Common questions

Didukung oleh AI

Inaccurate readings in ultrasonic testing could result from equipment malfunctions, such as sensor degradation or display errors, and human errors in data interpretation or handling equipment . Calibration errors, improper coupling, and environmental conditions (e.g., surface roughness affecting probe contact) also impact accuracy . To ensure accuracy, regular calibration with appropriate standards, proper training for operators, and maintenance of equipment are essential. Using correct coupling agents ensures adequate wave propagation, minimizing data distortion .

One primary challenge of detecting subsurface defects using ultrasonic testing is ensuring effective transmission of ultrasonic waves from the probe into the material being tested. Air gaps or inadequate contact can reflect the waves, making defect detection difficult . The use of coupling agents, known as kuplan, can address this issue by filling gaps between the probe and the test material, ensuring efficient wave propagation . Another challenge is accurately interpreting the data from the ultrasonic equipment, which can be hampered by equipment faults or user error. Regular calibration of the ultrasonic equipment and proper training for users can mitigate these problems .

Calibrating ultrasonic testing devices is crucial to ensure their accuracy in detecting defects. Calibration involves setting the device's parameters to match known standards, such as block thicknesses and sound velocity in materials, ensuring readings mirror reality . The process includes adjusting equipment to account for changes in temperature and probe wear. Without proper calibration, measurements may be inaccurate, leading to missed defects or false readings, which could compromise safety and quality assurance .

Common techniques in ultrasonic testing include the pulse-echo method and through-transmission testing. The pulse-echo method, which involves sending a pulse into the material and analyzing the reflections to detect defects, is highly effective for identifying location and size of subsurface anomalies . Through-transmission, where ultrasonic waves pass through the material and are received by a sensor on the opposite side, is effective for locating larger defects. Each technique's effectiveness depends on the material properties and defect characteristics; hence, tailored application and expertise are crucial for accurate defect detection .

Potential sources of error in ultrasonic testing include equipment malfunctions, such as sensor degradation, improper calibration, and operator errors during measurement and data interpretation. These errors can lead to inaccurate results, such as undetected defects or false indications of defects where none exist . Additional factors like environmental influences (e.g., temperature and surface conditions) and incorrect coupling can further distort readings. Errors can produce misleading test outcomes, impacting quality control and structural integrity assessments .

Coupling agents in ultrasonic testing, such as oil or grease, play a critical role by facilitating effective transmission of ultrasonic waves from the probe to the test material. They fill any gaps between the contact surfaces, eliminating air pockets that could reflect the waves back to the probe and cause inaccurate measurements . Proper application of the coupling agent ensures that the waves fully penetrate the material, enabling accurate detection of subsurface defects. Without coupling agents, the effectiveness of ultrasonic testing would be severely diminished due to signal loss and noise .

Understanding material properties, such as density, elasticity, and sound velocity, is crucial in ultrasonic testing as these factors affect wave propagation and defect detectability. The sound velocity in a material determines the timing of reflections used to calculate defect depth and size. Variability in these properties across different materials requires calibration to specific material standards for accuracy . Material composition, grain structure, and surface condition can influence the efficiency of wave coupling and reflection, directly impacting the test outcome. Thus, knowledge of material properties is essential for accurate analysis and results interpretation .

The properties of ultrasonic waves, such as frequency and amplitude, significantly impact defect detection and analysis. Higher frequency waves provide better resolution, allowing detection of smaller and subtler defects, but they may not penetrate as deeply into materials. Conversely, lower frequency waves penetrate deeper but with less resolution . Amplitude affects the energy of the wave, influencing the reflection strength from defects and, consequently, their detectability. Proper selection of wave properties is vital to balancing resolution and penetration depth, ensuring accurate defect mapping .

Ultrasonic testing (UT) offers several advantages such as deep penetration for subsurface defect detection, high sensitivity, and ability to provide detailed defect images. It is more effective for thick materials compared to radiographic testing, which is better for surface inspections. However, UT requires a skilled operator and optimal coupling conditions for accurate results. In comparison, methods like magnetic particle testing are limited to detecting surface flaws in ferromagnetic materials only, while eddy current testing is well-suited for conductive materials and surface cracks. Each method has specific applications where it excels, highlighting the need for careful selection based on material and defect nature .

The piezoelectric effect aids ultrasonic testing by converting electrical signals into mechanical vibrations (ultrasonic waves) and vice versa. When an alternating current is applied to piezoelectric crystals in the probe, it causes them to expand and contract, generating ultrasonic waves. These waves propagate through the test material. Reflections from any defects are converted back into electrical signals by the same crystals, which are then interpreted by the testing device to detect anomalies .

Anda mungkin juga menyukai