LAPORAN PRAKTIKUM
MATERIAL TEKNIK
KELOMPOK 3
PENETRANT TESTING
Disusun Oleh :
Nama : Morello Danendra Satriani
NPM : 3331230137
Tanggal Praktikum : 20 Mei 2025
Tanggal Pengumpulan Laporan : 5 Juni 2025
Asisten : Riski Kurniawan
LABORATORIUM MATERIAL TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2025
PRAKTIKUM MATERIAL TEKNIK
No Tanggal Revisi Paraf Asisten
ABSTRAK
Pengujian liquid penetrant merupakan cara untuk memahami cacat las di
permukaan benda kerja hasil pengelasan atau hasil proses produksi logam
dengan memakai sejenis cairan kimia yang bekerja yang didasari kapilaritas.
Penetrant Test merupakan salah satu metode pengujian non destructive testing.
Metode yang digunakan pada percobaan ini yaitu red visible penetrant yang
menggunakan solvent removeable. Tujuan dilakukannya percobaan ini tidak
lain untuk mendeteksi cacat pada Bagian surface. untuk tahahapan prosedur
pada percobaan ini pertama membersihkan permukaan benda uji, lalu melapisi
permukaan yang telah bersih dengan cairan penetran dengan cairan penetran
lalu tunggu 7 – 15 menit agar cairan penetran dapat masuk ke dalam celah, lalu
sisa cairan yang tidak masuk ke dalam celah dibersihkan, lalu permukaan
dilapisi developer untuk menyedot cairan penetrant yang berada dalam celah
agar menghasilkan indikasi cacat, lalu permukaan diinspeksi secara visual
untuk mendeteksi adanya indikasi cacat, terakhir benda uji dicuci dan
dibersihkan dari bekas sisa bahan yang dipergunakan dalam uji cairan penetran.
Setelah dilakukannya pengujian terdapat 5 cacat yang terletak pada 2 garis
lasan. Pada garis pertama, Cacat pada las 1 bisa dilihat cacat pertamanya yang
berukuran 8 mm cacat ini bertipe linear dan hasil yang didapatkan pada cacatnya
yaitu cacat tidak diterima oleh standar, Cacat pada las 1 bisa dilihat cacat kedua
yang berukuran 4 mm tipe cacatnya yaitu linear dan hasilnya cacat tidak
diterima oleh standar. Pada garis ke 2, Titik pertama berukuran 15 mm tipe dari
cacat ini rounded dan cacatnya tidak diterima karena tidak sesuai standar, Titik
kedua berukuran 10 mm tipe cacatnya yaitu linear dan cacat ini tidak diterima
atau ditolak karena tidak masuk standar. Titik ketiga cacatnya berukuran 18 mm
dengan tipe cacatnya linear dan hasilnya di tolak karena tidak sesuai standar.
Kata Kunci : liquid penetrant, non destructive testing, red visible penetrant.
iii
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pada kasus ini terdapat benda kerja yang digabungkan dengan proses
pengelasan, pada produk yang melalui proses pengelasan tak jarang produk
yang memiliki kualitas yang kurang baik dikarenakan ada kecacatan pada area
lasnya untuk mendeteksi dan mengetahui kecacatan yang ada pada produk yang
dilas maka dilakukannya proses uji cairan penetrant. Penetrant test adalah
metode non destructive testing yang bisa dikatakan paling sederhana dibanding
metode yang lain. Metode ini dipakai untuk menemukan cacat di permukaan
terbuka dari komponen yang solid, baik logam ataupun non logam, contohnya
yaitu keramik dan plastic fiber. Dari metode ini, cacat di material akan terlihat
lebih jelas. non destructive testing itu sendiri adalah metode pengujian yang
dilaksanakan untuk mengevaluasi suatu material tanpa menyebabkan kerusakan
pada benda uji. Pengujian ini sangat efektif untuk medeteksi kecacatan pada
suatu produk las dilihat dari tahapan pelaksanaan pengujiannya yang sangat
praktis yang membuat metode pengujian ini paling sering digunakan dan juga
waktu pengerjaannya tidak perlu waktu yang lama.
2. Tujuan Praktikum
Berikut ini merupakan tujuan dilakukannya percobaan metode Penetrant
testing yaitu untuk mendeteksi cacat
3. Ruang Lingkup Praktikum Penetrant Testing
Berikut ini merupakan ruang lingkup praktikum pada modul penetrant
Testing. Material benda uji yang dipakai adalah Besi Karbon dengan permukaan
kondisi las Welded metode yang dipakai adalah red visible penetrant dengan
pembersihan solvent removeable serta depelover bersifat wet, dan nonaqueous.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Liquid Penetrant
Pengujian liquid penetrant merupakan cara untuk memahami cacat las di
permukaan benda kerja hasil pengelasan atau hasil proses produksi logam
dengan memakai sejenis cairan kimia yang bekerja yang didasari kapilaritas.
Kapilaritas merupakan peristiwa naik atau turun nya suatu permukaan zat cair
di diskontinuitas. Mendeteksi diskontinuitas dengan menggukanakn pengujian
ini ttidak ada batasnya pada ukuran, bentuk arah diskontinuitas, struktur bahan
maupun komposisinya. Liquid penetrant bisa meresap kedalam celah
diskontinuitas yang sangat kecil. Pengujian ini banyak dipakai untuk
menyellidikan keretakan pada permukaan, kekerposan, lapisan – lapisan bahan,
dll. Pengujian ini bisa dilaksanakan di material yang menganfung besi atau
material yang tidak memiliki kandungan besi seperti kaca, keramik, dan plastik.
(Harahap, 2024)
Metode ini sederhana sekali, dimana cairan warna terang aplikasikan
dengan cara disemprot ke benda uji untuk memahami cacatnya. Tujuannya yaitu
memahami keretakan atau kerusakan pada material yang sikud. Dengan cara,
pertama – tama memakai cairan penetran yang mempunyai viskositas rendah
dan daya penetrasi tinggi, kemudian dibersihkan dengan cairan pembersih, lalu
diaplikaskan cairan developer tujuannya untuk memperlihatkan cairan
penetran. (Dwita Suastiyanti, 2020)
Metode liquid penetrant Test adalah metode NDT yang bisa dikatakan paling
sederhana dibanding metode yang lain. Metode ini dipakai untuk menemukan
cacat di permukaan terbuka dari komponen yang solid, baik logam ataupun non
logam, contohnya yaitu keramik dan plastic fiber. Dari metode ini, cacat di
material akan terlihat lebih jelas. (Tito Endramawan, 2007)
2. Non Destructive Test
Non Destructive Test merupakan proses pengujian suatu material untuk
memahami cacat , retakan, atau diskontinuitas lainnya yang ada [ada material
tanpa merusak yang diuji. Tes ini dilaksanakan untuk memberikan jaminan
bahwa material yang dipakai masih aman dan tidak melewati damage tolerance.
(Dwita Suastiyanti, 2020)
Pengujian tanpa merusak merupakan pengujian yang dilaksanakan tanpa
harus merusak material. Pengujian ini bisa digunakan untuk mencari kerusakan
pada struktur cacat, keretakan, lubang, dan kerusakan lainnya yang mungkin
bisa terjadi dimaterial. (Anggani, 2018)
Non destructive test (NDT) yaitu tes fisik suatu benda uji untuk mendeteksi
cacat di benda dengan tanpa merusak benda uji tersebut. Tujuannya yaitu
pengujian NDT yaitu untuk mencari cacat dengan prosedur tertebtu pada suatu
benda oleh penguji. Hasil dari pengujian akan menentukan suatu Bagian akan
diganti atau tidak fati jumlah cacat yang ada berpatokan pada suatu standar.
NDT memiliki banyak metode untuk proses pengujiannya, dan dari banyak
metode tersebut tidak ada yang paling baik dikarenakan dari banyak nya metode
itu memiliki keunggulan masing masing yang tak dimiliki oleh metode yang
lainnya. (Tito Endramawan, 2007)
4. Kapilaritas
Gejala kapilaritas adalah gejala naik turunnya zat cair pada pipa kapiler.
Yang disebabkan karena terjadinya kejadian ini adalah gaya tarik antara
molekul pada zat cair bisa dibedakan jadi Adhesi dan kohesi. Kohesi adalah
gaya tarik menariki antar molekul yang sejenis sedangkan adhesi merupakan
gaya tarik menarik antara molekul yang jenisnya beda. (Arum, 2017)
3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat dan bahan
Berikut ini merupakan alat dan bahan yang digunakan pada saat percobaan
penetrant testing dilaksanakan.
Gambar 3.1 Alat dan bahan
(Sumber : dokumen pribadi)
a. Cairan Penetrant
b. Developer
c. Cairan Cleaner
d. Majun
e. Penggaris
f. Spesimen Uji
4.1 Diagram Alir Praktikum
Berikut ini merupakan diagram alir praktikum pada pengujian penetrant
Testing.
Mulai
Menyiapkan alat dan bahan
Membersihkan permukaan yang akan diperiksa dari
kotoran yang menyumbat atau menutupi celah
Melapisi permukaan yang telah dibersihkan dengan
cairan waktu 7 – 15 menit agar cairan penetran dapat
masuk ke dalam celan
Membersihkan sisa cairan penetrant dipermukaan
yang tidak masuk kedalam celah
Melapisi permukaan dengan developer untuk
menyedot cairan penetrant yang berada dalam celah
agar menghasilkan indikasi cacat
Menginspeksi permukaan secara visual untuk
dideteksi adanya indikasi cacat
Menyuci benda uji dan membersihkan dari bekas
sisa bahan yang digunakan dalam uji cairan
penetrant
Literatur
Data
5
x
Pembahasan
Kesimpulan
Selesai
Gambar 3.2 Diagram Alir Praktikum
3.3 Prosedur
Berikut ini merupakan prosedur percobaan pada pengujian spesimen uji dengan
metode penetran test.
1. Dibersihkan permukaan yang akan diperiksa dari kotoran yang akan
menyumbat atau menutupi celah.
2. Dilapisi permukaan yang telah dibersihkan dengan cairan penetrant dalam
waktu 7 – 15 menit agar cairan penetrant dapat masuk ke dalam celah.
3. Dibersihkan sisa cairan penetrant dipermukaan yang tidak masuk ke dalam
celah.
4. Dilapisi developer permukaan untuk menyedot cairan penetrant yang berada
dalam celah agar menghasilkan indikasi cacat
5. Dicuci dan dibersihkan benda uji dari bekas sisa bahan yang dipergunakan
dalam uji cairan penetrant
6
ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Spesifikasi Benda Uji
Berikut ini merupakan spesifikasi benda uji pada metode pengujian
penetrant testing.
Gambar 4.1 benda kerja solidworks
4.2 Jenis Cacat Las
Berikut ini merupakan jenis cacat pada las an pada percobaan ini. Terdapat
dua tipe jenis cacat las yaitu linear dan rounded.
Gambar 4.2 Benda Uji Tanpa Penetran
(Sumber : Laboratorium Material Teknik)
Jika dilihat dari bentuk sambungannya tipe sambungan las yang digunakan
yaitu sambungan tumpul yaitu sambungan yang menggunakan cara menyatukan
ujung – ujung kedua bagian benda. Sambungan ini bisa dibilang merupakan
sambungan yang sangat sederhana.
4.3 Analisis Hasil Inspeksi
Berikut ini merupakan Analisa hasil inspeksi dari percobaan yang telah
dilakukan.
Gambar 4.3 Benda Uji dengan detail cacat
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Gambar 4.4 benda uji yang telah diberi cairan penetrant
(Sumber : laboratorium material Teknik)
8
Tabel 4.1 Cacat Las 1
Hasil
Ukuran Tipe
Accept Reject
8 Linear •
4 Linear •
1) Cacat pada las 1 bisa dilihat cacat pertamanya yang berukuran 8 mm cacat
ini bertipe linear dan hasil yang didapatkan pada cacatnya yaitu cacat tidak
diterima oleh standar
2) Cacat pada las 1 bisa dilihat cacat kedua yang berukuran 4 mm tipe cacatnya
yaitu linear dan hasilnya cacat tidak diterima oleh standar.
Tabel 4.2 Cacat Las 2
Hasil
Ukuran Tipe
Accept Reject
15 Rounded •
10 Linear •
18 Linear •
1) Titik pertama berukuran 15 mm tipe dari cacat ini rounded dan cacatnya
tidak diterima karena tidak sesuai standar
2) Titik kedua berukuran 10 mm tipe cacatnya yaitu linear dan cacat ini tidak
diterima atau ditolak karena tidak masuk standar
3) Titik ketiga cacatnya berukuran 18 mm dengan tipe cacatnya linear dan
hasilnya di tolak karena tidak sesuai standar.
4.4 Analisa Kegagalan
Berikut ini merupakan Analisa kegagalan pada percobaan NDT metode
penetrant testing.
1) Kemungkinan pertama bisa dikarenakan kurang bersih memungkinkan
terjadi kegagalan
9
2) Kemungkian berikutnya yaitu bisa jadi dikarenakan waktu pada saat setelah
pengaplikasian cairan developer terlalu lama saat menunggu yang harusnya
cukup 10 menit tetapi yang di lakukan 17 menit.
3) Bisa jadi dikarenakan waktu pada saat pemberian cairan penetran terlalu
lama itu bisa menyebabkan kegagalan jika tidak dilakukan sesuai waktu di
prosesdur.
4) Bisa jadi dikarenakan pada saat penghapusan atau pembersihan cairan
penetran yang dipermukaan kurang bersih dapat menyebabkan pengujian
terhambat.
5) Bisa jadi juga pada saat penggunaan cairan developer yang telalu banyak
atau kurang merata dapat menyebabkan hasil yang kurang jelas
6) Bisa juga kesalahan dari penguji yang kurang teliti atau asal menentukan
titik cacat.
10
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukannya percobaan metode penetran testing pada praktikum
material Teknik berikut ini merupakan kesimpulan yang menjawab tujuan
dilakukannya praktikum ini. Setelah dilakukannya pengujian terdapat 5 cacat
yang terletak pada 2 garis lasan. Pada garis pertama, Cacat pada las 1 bisa dilihat
cacat pertamanya yang berukuran 8 mm cacat ini bertipe linear dan hasil yang
didapatkan pada cacatnya yaitu cacat tidak diterima oleh standar, Cacat pada las
1 bisa dilihat cacat kedua yang berukuran 4 mm tipe cacatnya yaitu linear dan
hasilnya cacat tidak diterima oleh standar. Pada garis ke 2, Titik pertama
berukuran 15 mm tipe dari cacat ini rounded dan cacatnya tidak diterima karena
tidak sesuai standar, Titik kedua berukuran 10 mm tipe cacatnya yaitu linear
dan cacat ini tidak diterima atau ditolak karena tidak masuk standar. Titik ketiga
cacatnya berukuran 18 mm dengan tipe cacatnya linear dan hasilnya di tolak
karena tidak sesuai standar.
5.2 Saran
Setelah dilakukannya praktikum pada metode percobaan penetrant testing
dilaboratorium material Teknik ada beberapa saran untuk laboratorium dan
asisten laboratorium itu sendiri.
A. Laboratorium
Berikut ini merupakan saran untuk laboratorium yaitu sebaiknya
benda kerja atau benda uji lebih variatif .
B. Asisten Labratorium
Berikut ini merupakan sara untuk asisten laboratorium yaitu
sebaiknya asisten pada praktikum ini terkait peserta atau praktikan yang
telambat sesuai prosedur saja karena dapat membuang waktu pengujian.
Daftar Pustaka
Anggani, A. M. (2018). PENGARUH KELEMBABAN TERHADAP KUAT
TEKAN DAN KUAT TARIK . PENGARUH KELEMBABAN
TERHADAP KUAT TEKAN DAN KUAT TARIK , 1.
Arum, W. F. (2017). PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DOUBLE LOOP
. PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DOUBLE LOOP , 43.
Dwita Suastiyanti, Y. F. (2020). Analisis Kerusakan Tube Heat Exchanger
Menggunakan . Analisis Kerusakan Tube Heat Exchanger Menggunakan ,
76.
Harahap, A. H. (2024). ANALISIS PERBANDINGAN KEANDALAN
METODE PENETRAN. ANALISIS PERBANDINGAN KEANDALAN
METODE PENETRAN, 6.
Tito Endramawan, E. H. (2007). Analisa Hasil Pengelasan SMAW 3G Butt Joint
Menggunakan Non . Analisa Hasil Pengelasan SMAW 3G Butt Joint
Menggunakan Non , 9.
LAMPIRAN
Lampiran A. FWI
Lampiran B. Bukti mengikuti sosialisasi, praktikum teori, dan praktikum alat.
Lampiran C. benda kerja penetrant testing solidworks