LAPORAN PRAKTIKUM
MATERIAL TEKNIK
KELOMPOK 3
MAGNETIC PARTICLE INSPECTION
Disusun Oleh :
Nama : Morello Danendra Satriani
NPM : 3331230137
Tanggal Praktikum : 14 Mei 2025
Tanggal Pengumpulan Laporan :
Asisten : Farrel Janu Santika
LABORATORIUM MATERIAL TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2025
PRAKTIKUM MATERIAL TEKNIK
No Tanggal Revisi Paraf Asisten
ABSTRAK
Magnetic Particle Inspection yaitu suatu metode pengujian non destruktif yang
digunakan untuk mendeteksi cacat/defect surface dan subsurface pada bahan
feromagnetik. Magnetisasi merupakan suatu proses dimana suatu objek menjadi
magnet setelah diberi medan magnet dari luar atau eksternal. Pada percobaan
ini memiliki tujuan percobaan dilakukan yaitu untuk mendeteksi cacat pada
surface ataupun subsurface pada suatu benda kerja berbahan feromagnetik
dengan menggunakan metode magnetic particle inspection. Pada pengujian ini
menggunakan dua metode antara lain yaitu metode wet visible, dan dry visible.
Langkah – Langkah pengujian ini yaitu pertama persiapan pengujian pertama
menguji kekuatan yoke yaitu untuk arus AC yoke harus mampu mengangkat
beban seberat 4,5 kg, selanjutnya ke Langkah pengujian untuk wet visible
pertama membersihkan permukaan benda uji, lalu mengaplikasikan WCP – 2
secara merata, lalu menyalakan AC/DC yoke, lalu benda mulai dimagnetisasi,
lalu mengaplikasikan serbuk magnet merata, lalu meneliti bentu cacat yang
terdapat pada benda uji, lalu demagnetisasi pada benda uji untuk
menghilangkan sisa sifat magnet, lalu membersihkannya Kembali. Lanjut ke
metode dry visible, pertama membersihkannya, lalu menyalakan AC/DC yoke,
lalu benda mulai dimagnetisasi, lalu mengaplikasikan serbuk magnet, lalu
meneliti bentuk kecacatan yang terdapat pada benda uji, lalu melakukan
demagnetisasi untuk menghilangkan sisa sifat magnet pada benda uji, lalu
pembersihan ulang benda uji. Setelah dilakukannya pengujian terdapat 6
kecacatan pada benda uji, 3 kecacatan pada metode dry visible, dan 3 kecacatan
pada metode wet visible. titik titik kecacatannya yaitu pertama metode Dry
visible titik pertama Panjang 4 lebar 1 mm, titik kedua Panjang 2 lebar 1 mm
dan titik ketiga Panjang 4 lebar 5 mm. lalu metode wet wisible titik pertama
Panjang 12 mm lebar 1 mm, titik kedua Panjang 20 mm dan lebar 1 mm dan
titik ketiga Panjang 3 mm lebar 1,5 mm
Kata Kunci : Defect, Magnetisasi, Magnetic Particle Inspection.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada pengujian Magnetic Particel Inspection, yang mana pada pengujian
ini ialah salah satu metode pengujian non destructive testing (NDT), yang mana
pengujian tersebut dilakukan tanpa melakukan penghancuran atau merusak
suatu objek benda uji tujuan dilakukannya yaitu untuk mengetahui kecacatan.
MPI itu sendiri digunakan untuk mendeteksi caat pada permukaan suatu benda
berbahan feromagnetik yang dimana pada metode ini digunakan medan magnet
untuk mengetahui kecacatannya terutama mendeteksi kecacatan terhadap benda
pada proses pengelasan dengan cara dimagnetisasi. Magnet merupakan suatu
objek yang memiliki suatu medan magnet. Magnet juga bisa diartikan sebagai
suatu benda yang mempunyai gejala dan sifat yang bisa mempengaruhi bahan
– bahan tertentu yang berada disekitarnya. Setiap magnet mempunyai dua kutub
yaitu utara (N) dan sekalan (S). Suatu benda kerja termagnetisasi jika Sebagian
ataupun seluruh domain magnetnya mempunyai orientasi ke arah kutub utrara
dan utara. Suatu magnet mempunyai kemampuan untuk menarik atau menolak,
yang terpusat dalam daerah yang disebut kutub (poles). Non destructive test
(NDT) merupakan tes fisik suatu material atau benda uji untuk mencari
kecacatan pada suatu benda tanpa merusak atau mengnacurkannya. Tujuan dari
pengujian ini yaitu mendeteksi kecacatan dengan suatu prosedur tertentu dalam
suatu benda oleh seorang operator.
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan pada praktikum modul ini yaitu untuk mendeteksi cacat pada surface
ataupun subsurface pada suatu benda kerja berbahan feromagnetik dengan
menggunakan metode magnetic particle inspection.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Magnetic Particle Inspection
Magnetic Particle Inspection besi berasal dari h S.H. Saxby pada volume 5
jurnal Engineering di tahun 1868. Saxby menyampaikan laporan bahwa cacat
dalam laras meriam dan komponen besi lainnya bisa dideteksi jika
dimagnetisasi dan kompas magnetik dilewatkan di atasnya. Tak ada partikel
yang dipakai tetapi prinsip pencarian medan kebocoran dipakai. di tahun 1920-
an pemakaian partikel magnetik untuk deteksi dan diskontinuitas magnetik
lainnya yang ada di besi dan baja yang dimagnetisasi diakui. W.E. Hoke, yang
bekerja di Biro Standar Amerika, telah memperhatikan pola gerindaan logam
yang ada di bagian baja yang sedang dikerjakan saat dipegang pada chuck
magnetik. Saat menyelidiki pola-polanya lebih dekat, Hoke mendapatkan
bahwa pola-pola tersebut bertepatan dengan pola cacat yang terdapat pada
permukaan. Dalam 20 tahun berikutnya, fondasi metode Magnetic particle
inspection untuk pengujian non - destruktif. Sebagian orang di kedua sisi
Samudra Atlantik berkontribusi pada fondasi yang kokoh ini yang menjadi
dasar penerapan metode ini secara modern. Di Amerika, F.B. Doane, A.V. de
Forest, dan C.E. Betz merupakan contributor yang terkenal sementara di Eropa,
R. Berthold, H. Willhelm, F. Gottfeld, W. Schirp. A.G. Warren, dan para
insinyur serta ilmuwan yang tidak disebutkan namanya yang bekerja dengan
British Rolls-Royce, Metropolitan Vickers Electric Company, Hawker Siddely,
Bristol Aero Engines dan perusahaan lain mengembangkan teknik ini dengan
standar yang tinggi. Di Amerika, sebagian besar pekerjaan dikembangkan
memakai arus searah dari baterai penyimpanan sementara di Eropa
menggunakan arus bolak-balik dari pasokan listrik. (Lovejoy, 1993)
Salah satu kekuatan luar biasa dari metode Magnetic Particle Inspection
pada pengujian non-destruktif yaitu keberhasilannya meski ada variasi besar di
cara pengembangannya di berbagai belahan dunia. Karakter medan magnet
yang sangat berbeda, yang terkait dengan bentuk gelombang arus yang berbeda,
tingkat keberhasilan di metode yang tinggi di seluruh dunia sangat memberi
kesan. Praktik Amerika memakai arus bolak-balik dan arus rektifikasi
gelombang penuh aliran fluks atau aliran magnetik dipandang dengan sedikit
kecurigaan dan sebagian besar terbatas dalam aplikasi dengan elektromagnet
kuk genggam. Di Eropa arus bolak-balik dipakai secara meluas dan aliran fluks
(aliran magnetik) sangat banyak dipakai dengan bentuk arus rektifikasi dan arus
bolak-balik sebagai bentuk gelombang arus listrik yang digunakan untuk
mengaktifkan kumparan di Inggris arus rektifikasi setengah gelombang dipakai
secara luas sebagai tambahan di metode magnetisasi lain yang disukai di Eropa.
Setiap analisis keberhasilan metode memperlihatkan tingkat kinerja yang
memuaskan yang tinggi untuk banyak industri. di kedua benua. jikalau tidak
demikian, metode ini sudah lama tergantikan. (Lovejoy, 1993)
2.2 Magnet
Magnet yaitu objek yang memiliki suatu medan magnet. Magnet juga bisa
diberikan arti sebagai suatu benda yang mempunyai gejala dan sifat yang bisa
memberi pengaruh bahan – bahan tertentu yang ada disekitarnya. Setiap magnet
mempunyai dua kutub yaitu utara (N) dan selatan (S). kutub magnet yaitu
daerah yang berada pada ujung ujung magnet dengan kekuatan magnet yang
paling besar ada pada kutub – kutub tersebut. (Desita, 2018)
2.3 Magnetisasi
Suatu benda kerja termagnetisasi jikalau Sebagian ataupun seluruh domain
magnetnya mempunyai orientasi ke arah kutub utrara dan utara. Suatu magnet
mempunyai kemampuan untuk menarik atau menolak, yang terpusat di daerah
yang disebut kutub (poles). Daya Tarik dan daya tolak ini dalam pantauan oleh
kutub utara dan selatan. (Ayudya Gyani Santoso, 2024)
2.4 Demagnetisasi
Demagnetisasi yaitu proses menghilangkan magnet sisa. Prinsip
demagnetisasi yaitu membalik dan mengurangi besarnya medan magnet.
Material – material ferrous secara umumnya menahan magnet demagnetisasi
dibatasi untuk memberi pengurangan medan magnet sisa hingga ke tingkat yang
diberikan izin. (Ayudya Gyani Santoso, 2024)
2.5 Non Destructive Test (NDT)
Non destructive test (NDT) ialah tes fisik benda uji untuk mencari kecacatan
di suatu benda tanpa merusak atau menghacurkannya. Tujuannya ini yaitu
mendeteksi kecacatan dengan suatu prosedur tertentu di suatu benda oleh
seorang penguji. Hasil dari pengujian ini akan menentukan suatu Bagian akan
digantikan atau tidak, tergantung daripada jumlah cacat yang ada yang merujuk
ke suatu standar. Non destructive test (NDT) punya banyak metode untuk
memproses pengujiannya, dan diantara metode tersebut tak ada yang paling
baik dikarenakan dari banyak metode tersebut punya keunggulan masing –
masing yang tidak dipunya oleh metode yang lainnya. Dibawah ini yaitu
beberapa metode yang paling sering digunakan, diantaranya yaitu :
1) Metode visual inspection
2) Metode liquid penetrant
3) Metode magnetic particle
4) Metode ultrasonic
5) Metode Eddy Current
6) Metode radigraphy
Didasari tipe keberadaan crack di material NDT bisa dibedakan jadi 2
macam, yaitu inside crack dan surface crack. Untuk inside crack punya
beberapa metode yang bisa dipakai, seperti radigraphy dan ultrasonic. dan
untuk surface crack bisa dilaksanakan dengan menggunakan metode visual
inspection, liquid penetrant, magnetic particle, dan eddy current. (Tito
Endramawan, 2017 )
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat dan bahan
Berikut ini merupakan alat dan bahan yang digunakan pada saat pengujian
magnetic particle inspection sebagai berikut.
Gambar 3.1 Alat dan Bahan
A. Yoke
B. Senter
C. Sikat Kawat
D. Kuas
E. Hand Blower
F. Penggaris
G. Benda Uji
H. Lap
I. White Contrast Paint
J. Cleaner
K. Wet Particle
L. Dry Particle
4.1 Diagram Alir Praktikum
Berikut ini merupakan diagram alir praktikum modul magnetic particle
inspection.
Mulai
Menyiapkan alat dan bahan
Melakukan pengukuran benda uji
Menyalakan AC/DC Yoke
Mengkalibrasi Arus AC yoke
Tidak
Apakah mampu
mengangkat
beban seberat
4,5 kg
Metode Wet Visible Ya Metode Dry Visible
Melakukan pembersihan
pada benda uji
Mengaplikasikan WCP 2 Menyalakan AC/DC
secara merata yoke, lalu benda uji
mulai dimagnetisasi
Menyalakan AC/DC
yoke, lalu benda mulai
dimagnetisasi
x
x
x x
Mengaplikasikan serbuk Mengaplikasikan serbuk
magnet tipe basah magnet tipe kering
Meneliti bentuk cacat Meneliti bentuk cacat
yang terdapat pada benda yang terdapat pada benda
uji uji
Melakukan demagnetisasi
untuk menghilangkan sisa
sifat maget
Membersihkan benda uji
dari sisa – sisa pemberian
serbuk magnetik
Selesai
Gambar 3.2 Diagram Alir Praktikum
3.3 Prosedur
1. Persiapan pengujian
Digunakannya metode MPI sebelum pengujian ada ebrapa hal yang
harus dipersiapkan antara lain menguji kekuata yoke dahulu berdasarkan
ASME section V Article 6 (T-773,2), yaitu untuk arus AC yoke harus
mampu mengangkat bebna seberat 4,5 KG pada maximum pole spacing –
in nya. Jika yoke masih bisa mengangkat beban yang disyaratkan, maka
yoke tersebut masih layak untuk digunakan.
2. Langkah pengujian
A. Metode Wet Visible
1) Cleaning
Diperhatikan kondisi permukaan, permukaan harus kering dan
bersih dari segala macam kotoran yang kiranya bisa mengganggu proses
inspeksi seperti karat, oli/gemuk, debu dll.
2) Apply WCP-2
Dipastikan setelah permukaan bersih dan kering maka dilaksanakan
penyemprotan WCP 2 secara merata. Hal ini dilaksanakan untuk
memudahkan mendeteksi adanya cacat karena warna dari WCP 2 lebih
kontras dari pada serbuk ferromagnetic.
3) Apply AC/DC Yoke
Dinyalakan AC/DC yoke, lalu benda dimulai dimagnetisasi.
Magnetisasi benda uji dimaksudkan agar benda uji dapat menarik serbuk
dorromagnetik yang nantinya serbuk ferromagnetic tersebut akan
mendeteksi adanya cacat pada benda uji tersebut.
4) Aplikasi serbuk magnet
Diaplikasikan sebuk magnet disesuaikan pda permukaan benda uji.
Serbuk yang digunakan tipe basah.
5) Inspection
Dimaksudkan untuk meneliti bentuk cacat yang terdapat pada beda uji.
Selain itu juga dari hasil pengevaluasian kt akan bisa menentukan
apakah benda uji tersebut harus diperbaiki atau tidak.
6) Deamgnetisasi
Dilakukan demagnetisasi dengan maksud untuk menghilangkan sisa
sifat magnet yang terdapat pada benda uji supaya benda uji tersebut
tidak akan dapat menarik serbuk – serbuk besi yang nantinya akan
menyulitkan proses pembersihan. Demagnetisasi dapat dilakukan
dengan menggunakan arus AC atau DC. Apabila menggunakan arus
AC, benda uji dimasukkan ke salam koil yang dialiri arus AC kemuan
diturukan perlahan – lahan. Apabila menggunaka arus DC step down
bolak balik berulang.
7) Post Cleaning
Dimaksudkan post cleaning untuk membersihkan benda uji dari sisa –
sisa dari pemberian serbuk magnetic pada saat pengujian.
B. Metode Dry Visible
1) Cleaning
Diperhatikan kondisi permukaan, permukaan harus kering dan bersih
dari segala macam kotoran yang kiranya bisa menggangu proses
inspeksi seperti karat, oli/gemuk, debu, dll.
2) Apply AC/DC Yoke
Dinyalakan AC/DC yoke, lalu benda mulai dimagnetisasi. Magnetisasi
benda uji dimaksudkan supaya benda uji bisa menarik serbuk
ferromagnetic yang nantinya serbuk ferromagnetic tersebut akan
mendeteksi adanya cacat pada benda uji tersebut.
3) Aplikasi serbuk magnet
Diaplikasikan serbuk magnet sesuakan pada permukaan benda uji.
Serbuk yang digunakan tipe kering
4) Inspeksi
Dimaksudkan untuk meneliti bentuk cacat yang terdapat pada benda uji.
Selain itu benda itu dari hasil pengevaluasian kita dapat menentukan
apakah benda uji tersebut harus diperbaiki atau tidak.
5) Demagnetisasi
Dilakukan demagnetisasi dengan maksud untuk menghilangkan sisa
sifat magnet yang terdapat pada benda uji agar benda uji tersebut tidak
akan dapat menarik serbuk serbuk besi yang nantinya akan menyulitkan
proses pembersihan. Demagnetisasi dapat dilakukan dengan
menggunakan arus AC atau DC. Apabila menggunakan AC, benda uji
dimasukkan keadalam koil yang dialiri arus Ac dan kemudian diturukan
perlahan – lahan. Jika menggunakan srus DC steo down bolak balik
berulang.
6) Post cleaning
Dimaksudkan untuk membersihkan benda uji dari sisa – sisa dari
pemberian serbuk magnetic pada saat pengujian.
ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Spesifikasi Benda Kerja
Berikut ini merupakan spesifikasi benda kerja yang diuji dalam metode MPI
sebagai berikut.
Gambar 4.1 benda Kerja MPI
(Sumber : Dokumen Pribadi)
4.2 Analisa Inspeksi
Berikut ini merupakam amalisa hasil dari inspeksi yang telah dilaksanakan pada
modul MPI.
4.2.1 Analisa Hasil Kalibrasi
Analisa hasil kalibrasi pada pengujian magnetic particle inspection setelah
dilakukannya kalibrasi untuk mengetahui apakah yoke berfungsi normal dengan
cara mengkalibrasinya caranya yaitu arus AC yoke harus bisa mengangkat
beban seberat 4,5 kg (10lb) pada maximum pole spacing – nya. Apabila yoke
tidak mampu mengangkat beban percobaan digagalkan atau dihentikan karena
alat uji yoke tidak bekerja atau rusak, apabila mampu mengangkatnya maka
percobaan dilanjutkan ke tahap berikutnya. Hasilnya yoke mampu mengangkat
beban tersebut.
4.2.2 Analisis Hasil Inspeksi
Berikut ini merupakan Analisa hasil inspeksi pada modul magnetic particle
inspection
Gambar 4.2 Analisa Benda Kerja
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Benda Uji
Dimensi Indikasi
Metode
No. Non
Pengujian P L Relevan
Relevan
1. 4 1 •
2. Wet Visible 2 1 •
3. 4 5 •
4. 12 1 •
5. Dry Visible 20 1 •
6. 3 1,5 •
Dilihat dari hasil penelitian atau pengujian MPI metode wet visible dan dry
visible, ada 6 titik kecacatan masing masing metodenya memiliki jumlah ke
cacatan 3 sama dari data yang telah dibuat indikasi cacat pada benda kerja
yang berukuran Panjang 300 mm dan lebar 197 mm bisa dilihat bahwa
indikasi cacatnya yaitu relevan semua.
Tabel 4.2 Hasil Pengujian Magnetic Particle Inspection
Interpretasi Evaluasi
Gambar Keterangan
Indikasi Ukuran Accepted Rejected
Linear 4 mm • Crack
Rounded 2 mm •
Rounded 4 mm •
Linear 12 mm • Crack
Linear 20 mm • Crack
Linear 3 mm • Crack
Dari tabel Hasil Pengujian Magnetic Particle Inspection terdapat 4 linear
crack pada metode pengujian yang telah dilakukan dan terdapat 2 kecacatan
rounded pada metode Wet Visible. Semua cacat linear crack evaluasinya di
reject dan rounded di accept.
4.3 Analisa Kegagalan
Analisa kegagalan pada percobaan ini dimana kegagalan yang terjadi pada
praktikum atau percobaan ini bisa terjadi karena banyak faktor, pertama bisa
jadi karena peralatan dan bahannya misalkan lap yang digunakan itu dipakai
bukan khusus untuk percobaan MPI sehingga kurang bersihnya pada saat awal
pembersihan benda uji untuk nantinya benda uji tersebut diuji kurang bersih
dapat menyulitkan pada tahap pengambilan data atau pada saat inspeksi benda
uji karena objek uji tidak bersih maksimal, bisa juga karena kekurang mahiran
praktikan dalam proses pengujian terutama pada saat pengaplikasian bisa jadi
kurang merata atau berlebihan/kurangnya serbuk magnet pada saat
diaplikasikan pada benda uji hal tersebut bisa mengakibatkan kegagalan pada
proses pengambilan data bisa jadi juga karena pada saat penggunaskan atau
pengaplikasian AC/DC yoke terburu buru atau tidak mahir dalam
penggunaannya, juga pada saat penggunaan yoke tidak memakai sarung tangan
safety bisa membuat tangan kepanasan dan tidak melakukan pengujian dengan
baik maka bisa terjadinya kegagalan pada saat pengujian.
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berikut ini kesimpulan menjawab dari tujuan percobaan pada modul
Magnetic Particle Inspection yaitu setelah dilakukannya percobaan terdapat
cacat atau kecacatan pada benda uji setelah pengujian didaptkan hasilnya yaitu
benda uji memiliki 6 kecacatan diantaranya 3 dari metode Dry visible dan 3 dari
metode wet visible namun mungkin saja masih ada kecacatan yang terdapat
pada benda uji yang belum terdeteksi, Adapun ukuran dari benda uji nya yaitu
panjang 300 mm dan lebar 197 mm dan titik titik kecacatannya yaitu pertama
metode Dry visible titik pertama Panjang 4 lebar 1 mm, titik kedua Panjang 2
lebar 1 mm dan titik ketiga Panjang 4 lebar 5 mm. lalu metode wet wisible titik
pertama Panjang 12 mm lebar 1 mm, titik kedua Panjang 20 mm dan lebar 1
mm dan titik ketiga Panjang 3 mm lebar 1,5 mm
5.2 Saran
Berikut ini merupakan saran pada Praktikum Material Teknik modul
Magnetic Particle Inspection sebagai berikut
A. Laboratorium
Adapun saran yang diberikan untuk laboratorium material Teknik
antara lain :
1. Sebaiknya lap pembersih diganti dengan yang baru dan dibedakan
dengan modul lain supaya tidak mengganggu proses pembersihan dan
proses pembersihan bisa sangat bersih karena pembersih tnya tidak
kotor.
2. Sebaiknya wet particle untuk pengujian metode fluorescent diadakan
supaya praktikan mengetahui lebih banyak lagi metode metode yang
digunakan pada saat pengujian menggunakan MPI.
3. Sebaiknya penggaris disediakan oleh laboratorium supaya lebih praktis
dan bisa menambah inventaris laboratorium.
B. Asisten Laboratorium
Adapun saran untuk asisten laboratorium material Teknik modul MPI
1. Sebaiknya asisten laboratorium duduk di kursi tidak duduk diatas meja
pada saat praktikum berlangsung supaya terlihat lebih baik.
2. Sebaiknya asisten laboratorium merendahkan kecepatan penjelasan
tidak terburu buru bicaranya
3. Sebaiknya asisten merapihkan pakaian atau menyeletingkan jas/jaket
asisten laboratorium agar lebih terlihat rapih.
Daftar Pustaka
1. Ayudya Gyani Santoso, M. L. (2024). Rancang Bangun Alat Demagnetisasi
untuk Praktik Magnetic . Rancang Bangun Alat Demagnetisasi untuk Praktik
Magnetic , 2.
2. Desita, R. (2018). Revolusi Perkembangan Magnet Pada Sarana Transportasi
Kereta Api Dengan Menggunakan Teknologi Maglev (Magnetic Levitation).
Revolusi Perkembangan Magnet Pada Sarana Transportasi Kereta Api
Dengan Menggunakan Teknologi Maglev (Magnetic Levitation), 4-5.
3. Lovejoy, M. (1993). Magnetic Particle Inspection: A practical guide. Philip
Drive: Kluwer Academic Publisher.
4. Tito Endramawan, E. H. (2017 ). APLIKASI NON DESTRUCTIVE TEST
PENETRANT TESTING (NDT-PT) . Jurnal Teknologi Terapan , 2.
LAMPIRAN
Lampiran A. FWI Magnetic Particle Inspection
Lampiran B. Bukti praktikum teori, praktikum alat dan sosialisasi
Lampiran C. Dokumentasi Praktikum Alat