BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Operasi
a. Definisi
Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan
pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau
menampilkan bagian tubuh. Pada umumnya dilakukan dengan
membuat sayatan, pada bagian tubuh yang akan ditangani, lalu
dilakukan tindakan perbaikan dan diakhiri dengan penutupan dan
penjahitan luka. (Syamsuhidajat, 2010).
Menurut Himpunan Kamar Bedah Indonesia (HIPKABI)
mendefinisikan tindakan operasi sebagai prosedur medis yang
bersifat invasif untuk diagnosis, pengobatan penyakit, trauma dan
deformitas (HIPKABI, 2014).
Pre operasi adalah tahap yang dimulai ketika ada keputusan
untuk dilakukan intervensi bedah dan diakhiri ketika klien dikirim
ke meja operasi. Keperawatan pre operatif merupakan tahapan
awal dari keperawatan perioperatif. Tahap ini merupakan awalan
yang menjadi kesuksesan tahap-tahap berikutnya. Kesalahan yang
dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap berikutnya
(HIPKABI, 2014).
9
Pembedahan dilakukan untuk mendiagnosa atau mengobati
suatu penyakit, cedera atau cacat, serta mengobati kondisi yang
sulit atau tidak mungkin disembuhkan hanya dengan obat-obatan
sederhana (Potter dan Perry, 2012).
Jadi Operasi atau pembedahan adalah suatu penanganan
medis secara invasif yang dilakukan untuk mendiagnosa atau
mengobati penyakit, injuri, atau deformitas tubuh yang akan
mencederai jaringan yang dapat menimbulkan perubahan fisiologis
tubuh dan mempengaruhi organ tubuh lainnya.
Ada 3 faktor penting yang terkait dalam pembedahan yaitu
penyakit pasien, jenis pembedahan dan pasien itu sendiri. Dari
ketiga faktor tersebut, tindakan pembedahan adalah hal yang
baik/benar. Bagi pasien sendiri, pembedahan adalah hal yang
paling mengerikan yang pernah mereka alami. Mengingat hal
tersebut di atas, sangatlah penting untuk melibatkan pasien dalam
setiap langkah langkah pre oiperatif (Baradero & Mary, 2009).
b. Indikasi
Tidakan pembedahan/operasi dilakukan dengan berbagai
indikasi diantaranya adalah :
1) Diagnostik : biopsi atau laparotomy eksploitasi
2) Kuratif : eksisi tumor atau pengangkatan apendiks yang
mengalami inflamasi
3) Reparatif : memperbaiki luka multipel
4) Rekontruksif/kosmetik : mammaoplasty, atau bedah platik
5) Palliatif : seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki
masalah, contoh : pemasangan selang gastrotomi yang dipasang
untuk mengkomponsasi terhadap ketidakmampuan menelan
makanan
c. Klasifikasi
1) Menurut urgensi dilakukan tindakan pembedahan, maka
tindakan pembedahan dapat diklasifikasikan menjadi 5
tingkatan, antara lain : (Effendy 2011)
a) Kedaruratan/Emergency : pasien membutuhkan perhatian
segera, gangguan mungkin mengancam jiwa. Indikasi
dilakukan pembedahan tanpa ditunda, misal : pendarahan
hebat, obstruksi kandung kemih atau usus, fraktur tulang
tengkorak, luka tembak atau tusuk, luka bakar sangat luas.
b) Urgen : pasien membutuhkan perhatian segera.
Pembedahan dapat dilakukan dalam 24-30 jam, misal :
infeksi kandung kemih akut, batu ginjal atau batu pada
uretra.
c) Diperlukan pasien harus menjalani pembedahan.
Pembedahan dapat diriencanakan dalam beberapa minggu
atau bulan, misal : Hyperplasia prostate tanpa obstruksi
kandung kemih. Gangguan tyroid, katarak.
d) Efektif : pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Indikasi
pembedahan, bila tidak dilakukan pembedahan maka tidak
terlalu membahayakan, misal : perbaikan sesar, hernia
sederhana, perbaikan vaginal.
e) Pilihan keputusan tentang dilakukannya pembedahan
diserahkan sepenuhnya kepada pasien. Indikasi
pembedahan merupakan pilihan pribadi dan biasanya
terkait dengan estetika, misal : bedah kosmetik.
2) Sedangkan menurut faktor resikonya, operasi dapat
diklasifikasikan sebagai besar atau kecil, tergantung pada
keseriusan dari penyakit, maka bagian tubuh yang terkena,
kerumitan pengoperasian, dan waktu pemulihan yang
diharapkan (Virginia, 2009).
a) Operasi kecil adalah operasi yang paling sering dilakukan
dirawat jalan, dan dapat pulang di hari yang sama. Operasi
ini sedikit menimbulkan komplikasi (Virginia, 2009).
b) Operasi besar adalah operasi yang penetrates dan exposes
semua rongga badan, termasuk tengkorak, termasuk
pembedahan tulang atau kerusakan signifikan dari anatomis
atau fungsi faal (guide, 2004). Operasi besar meliputi
pembedahan kepala, leher, dada dan perut. Pemulihan dapat
dalam waktu panjang dan dapat melibatkan perawatan
intensif dalam beberapa hari di rumah sakit. Pembedahan
ini memiliki resiko komplikasi yang lebih tinggi setelah
pembedahan (Virgina, 2009).
Operasi besar sering melibatkan salah satu badan utama di
perut-cavities (laparotomy), di dada (thoracotomy), atau
tengkorak (craniotomy) dan dapat juga pada organ vital.
Operasi yang biasanya dilakukan dengan menggunakan
anastesi umum di rumah sakit ruang operasi oleh tim
dokter. Setidaknya pasien menjalani perawatan satu malam
di rumah sakit setelah operasi. Operasi besar biasanya
membawa beberapa derajat resiko bagi pasien hidup, atau
potensi cacat parah jika terjadi suatu kesalahan dalam
operasi.
Menurut Oswari (2015) ada beberapa persiapan dan
perawatan yang harus dilakukan pasien sebelum operasi adalah
sebagai berikut :
1) Persiapan mental
Pasien yang akan dioperasi biasanya akan menjadi agak gelisah
dan takut. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak
tampak jelas. Tetapi kadang-kadang pula, kecemasan itu dapat
terlihat dalam bentuk lain. Pasien yang gelisah dan takut sering
bertanya terus–menerus dan berulang-ulang, walaupun
pertanyaannya telah dijawab. Ia tidak mau berbicara dan
memperhatikan keadaan sekitarnya, tetapi berusaha
mengalihkan perhatiannya dari buku. Atau sebaliknya, ia
bergerak terus-menerus dan tidak dapat tidur.
Pasien sebaiknya diberi tahu bahwa selama operasi ia tidak
akan merasa sakit karena ahli bius akan selalu menemaninya
dan berusaha agar selama operasi berlangsung, penderita tidak
merasakan apa-apa. Perlu dijelaskan kepada pasien bahwa
semua operasi besar memerlukan transfusi darah untuk
menggantikan darah yang hilang selama operasi dan transfusi
darah bukan berarti keadaan pasien sangat gawat.
Perlu juga dijelaskan mengenai mekanisme yang akan
dilakukan mulai dari dibawanya pasien ke kamar operasi dan
diletakkan di meja operasi, yang berada tepat di bawah lampu
yang sangat terang, agar dokter dapat melihat segala sesuatu
dengan jelas. Beri tahu juga bahwa sebelum operasi dimulai,
pasien akan dianastesi umum, lumbal, atau lokal.
2) Persiapan fisik
a) Makanan
Pasien yang akan dioperasi diberi makanan yang berkadar
lemak rendah, tetapi tinggi karbohidrat, protein, vitamin,
dan kalori. Pasien harus puasa 12-18 jam sebelum operasi
di mulai.
b) Lavemen/Klisma
Klisma dilakukan untuk mengosongkan usus besar agar
tidak mengeluarkan feses di meja operasi.
c) Kebersihan mulut
Mulut harus dibersihkan dan gigi di sikat untuk mencegah
terjadinya infeksi terutama bagi paru-paru dan kelenjar
ludah.
d) Mandi
Sebelum operasi pasien harus mandi atau dimandikan.
Kuku disikat dan cat kuku harus dibuang agar ahli bius
dapat melihat perubahan warna kuku dengan jelas.
e) Daerah yang akan dioperasi
Tempat dan luasnya daerah yang harus dicukur tergantung
dari jenis operasi yang akan dilakukan.
3) Sebelum masuk kamar bedah
Persiapan fisik pada hari operasi, seperti biasa harus diambil
catatan suhu, tensi, nadi, dan pernapasan. Operasi yang bukan
darurat, bila ada demam, penyakit tenggorokan atau sedang
haid, biasanya ditunda oleh ahli bedah atau ahli anastesi. Pasien
yang akan dioperasi harus dibawa ke tempat pada waktunya.
Jangan dibawa kamar tunggu teralu cepat, sebab teralu lama
menunggu tibanya waktu operasi akan menyebabkan pasien
gelisah dan takut.
d. Gambaran Pasien Pre operasi
Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial
maupun aktual pada integritas seseorang yang dapat
membangkitkan reaksi stres fisiologis maupun psikologis. Menurut
Long (2001), pasien preoperasi akan mengalami reaksi emosional
berupa kecemasan. Berbagai alasan yang dapat menyebabkan
ketakutan/kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan
antara lain :
1) Takut nyeri setelah pembedahan
2) Takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak
berfungsi normal (body image)
3) Takut keganasan (bila diagnosa yang ditegakkan belum pasti)
4) Takut/cemas mengalami kondisi yang sama dengan orang lain
yang mempunyai penyakit yang sama.
5) Takut/ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan
dan petugas.
6) Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi.
7) Takut operasi gagal.
Ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami pasien
dapat mempengaruhi respon fisiologis tubuh yang ditandai dengan
adanya perubahan-perubahan fisik seperti : meningkatnya
frekuensi nadi dan pernafasan, gerakan-gerakan tangan yang tidak
terkontrol, telapak tangan yang lembab, gelisah, menanyakan
pertanyaan yang sama berulang kali, sulit tidur, dan sering
berkemih. Persiapan yang baik selama periode operasi membantu
menurunkan resiko operasi dan meningkatkan pemulihan pasca
bedah. Tujuan tindakan keperawatan preoperasi menurut Luckman
dan Sorensen ( 1993 ), dimaksudkan untuk kebaikan bagi pasien
dan keluarganya yang meliputi :
1) Menunjukkan rasa takut dan cemasnya hilang atau berkurang
(baik ungkapan secara verbal maupun ekspresi muka)
2) Dapat menjelaskan dan mendemonstrasikan mobilisasi yang
dilakukan setelah tindakan operasi.
3) Terpelihara keseimbangan cairan, elektrolit dan nutrisi.
4) Tidak terjadi vomitus karena aspirasi selama pasien dalam
pengaruh anestesi.
5) Tidak ada atau berkurangnya kemungkinan terjadi infeksi
setelah tindakan operasi.
6) Mendapatkan istirahat yang cukup.
7) Menjelaskan tentang prosedur operasi , jadwal operasi serta
menanda tangani inform consent.
8) Kondisi fisiknya dapat dideteksi selama operasi berlangsung.
2. Kecemasan
a. Definisi
Kecemasan merupakan reaksi emosional terhadap penilaian
individu yang subjektif, yang dipengaruhi oleh alam bawah sadar
dan tidak diketahui secara khusus penyebabnya (Depkes, 2008).
Kecemasan adalah keadaan dimana individu atau kelompok
mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem saraf autonom
dalam merespon ancaman yang tidak jelas. Kecemasan akibat
terpejan pada peristiwa traumatik yang dialami individu yang
mengalami, menyaksikan atau menghadapi satu atau beberapa
peristiwa yang melibatkan kematian aktual atau ancaman kematian
atau cidera serius atau ancaman fisik diri sendiri (Dongoes, 2006).
b. Penyebab Kecemasan
Kuswati dan Hartono mengemukakan beberapa penyebab
kecemasan antara lain:
1) Faktor Predisposisi
a) Peristiwa traumatik
b) Konflik emosional
c) Gangguan konsep diri
d) Frustasi gangguan fisik
e) Pola mekanisme koping keluarga
f) Riwayat gangguan kecemasan
g) Medikasi
2) Faktor Presipitasi
a) Ancaman terhadap integritas fisik
b) Ancaman terhadap harga diri
c. Tahapan Kecemasan
Kecemasan diindentifikasikan menjadi 4 tingkat yaitu,
ringan, sedang, berat dan panik. Semakin tinggi tingkat kecemasan
individu maka akan mempengaruhi kondisi fisik dan psikis.
Kecemasan berbeda dengan rasa takut, yang merupakan penilaian
intelektual terhadap bahaya. Kecemasan merupakan masalah
psikiatri yang paling sering terjadi, tahapan tingkat kecemasan
akan dijelaskan sebagai berikut (Stuart, 2007) :
1) Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam
kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi
waspada dan meningkatkan persepsi.
2) Kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk
memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan
yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang
selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.
cemas sedang ditandai dengan peningkatan denyut nadi,
berkeringat dan gejala somatik ringan.
3) Kecemasan berat sangat mengurangi persepsi seseorang yang
cenderung memusatkan pada sesuatu yang terinci, spesifik, dan
tidak dapat berpikir tentang hal lain.
4) Tingkat panik (sangat berat) berhubungan dengan terperangah,
ketakutan dan teror. Karena mengalami kehilangan kendali,
orang yang mengalami panik tidak mempu melakukan sesuatu
walaupun dengan pengarahan.
d. Manifestasi Klinis Cemas Dalam Sistem Tubuh Manusia
Kecemasan dapat menimbulkan manifestasi klinis yang
akan tampak pada beberapa sistem organ, diantaranya adalah
(Stuart & Sundeen, 2007) :
1) Kardiovaskuler
Manifestasi klinis yang terjadi yaitu : jantung berdebar, tekanan
darah meningi, rasa mau pingsan, tekanan darah menurun,
denyut nadi menurun.
2) Pernafasan
Manifestasi klinis yang terjadi yaitu : nafas cepat, rasa tertekan
pada dada, nafas dangkal. Pembengkakan pada tenggorokan,
sensasi tercekik dan terengah-egah.
3) Neuromuskular
Seseorang akan merasakan refleksnya meningkat, gelisah,
wajah
terasa dan tampak tegang, kelemahan umum, kaki bergoyang-
goyang, tremor.
4) Gastrointestinal
Seseorang yang cemas akan kehilangan nafsu makan, rasa tidak
nyaman pada abdomen, mual dan diare.
5) Traktus urinarius
Manifestasi yang terjadi yaitu : tidak dapat menahan kencing
dan atau sering berkemih.
6) Kulit
Wajah kemerahan, berkeringat setempat (telapak tangan), gatal,
rasa panas dan dingin pada kulit, wajah pucat dan berkeringat
seluruh tubuh.
e. Manifestasi psikomotor berupa respon kognitif dan afektif
Menurut Stuart & Sundeen (2007) kecemasan dapat
menimbulkan manifestasi psikomotor yang dibagi menjadi :
1) Perilaku
Perilaku yang terjadi yaitu gelisah, ketegangan fisik, tremor,
gugup, bicara cepat, kurang koordinasi, cenderung
mendapatkan cidera, menarik diri dari lingkungan
interpersonal, melarikan diri dari masalah, menghindar.
2) Kognitif
Manifestasi yang dapat diamati yaitu perhatian terganggu,
konsentrasi buruk dan pelupa.
f. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan
Suliswati (2005) menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat kecemasan yaitu sebagai berikut:
1) Faktor predisposisi
Faktor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan
yang dapat timbulnya kecemasan. Ketegangan dalam selama
kehidupan tersebut dapat berupa:
a) Peristiwa traumatik yang dapat memicu terjadinya
kecemasan berkaitan dengan krisis yang dialami individu
baik krisis perkembangan atau situasional.
b) Konflik emosional yang dialami individu dan tidak
terselesaikan dengan baik. Konflik antara keinginan dan
kenyataan dapat menimbulkan kecemasan pada individu.
c) Konsep diri terganggu akan menimbulkan rasa
ketidakmampuan individu berpikir secara realitas
sehinggga akan menimbulkan kecemasan.
d) Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk
mengambil keputusan yang dampak terhadap ego.
e) Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena
merupakan ancaman terhadap integritas fisik yang dapat
mempengaruhi konsep diri individu.
f) Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga
menangani stress akan mempengaruhi individu dalam
berespons terhadap konflik yang dialami karena pola
mekanis koping individu banyak dipelajari dalam keluarga.
g) Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan
mempengaruhui respon individu dalam berespons terhadap
konflik dan mengatasi kecemasannya.
h) Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah
pengobatan yang mengandung benzodizepin, karena
benzopin dapat menekan neurotransmiter gamma amino
butyric acid (GABA) yang mengontrol aktivitas neuron di
otak yang bertanggung jawab menghasilkan kecemasan.
2) Faktor presipitasi
Faktor presipitasi adalah semua ketegangan dalam
kehidupan yang dapat mencetuskan timbulnya kecemasan.
Faktor presipitasi kecemasan dikelompokkan menjadi dua
bagian:
a) Ancaman terhadap integritas fisik ketegangan yang
mengancam integritas fisik yang meliputi :
(1) Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme
fisiologis, sistem imun, regulasi suhu tubuh, perubahan
biologis normal (misalnya: hamil)
(2) Sumber ekternal, meliputi paparan terhadap infeksi
virus dan bakteri, kekurangan nutrisi tidak adekuatnya
tempat tinggal.
b) Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan
eksternal.
(1) Sumber internal: kesulitan dalam hubungan
interpersonal di rumah dan di tempat kerja, penyesuaian
terhadap peran baru. Berbagai ancaman terhadap
integritas fisik juga dapat mengancam harga diri.
(2) Sumber ekternal: kehilangan orang yang dicintai,
perceraian, perubahan status pekerjaan, tekanan
kelompok, sosial budaya.
g. Alat Ukur Kecemasan
Tingkat kecemasan dapat diukur dengan menggunakan alat
ukur kecemasan yang disebut dengan Hamilton Anxiety Rating
Scale (HARS). Skala HARS pertama kali digunakan pada tahun
1959, yang diperkenalkan oleh Max Hamilton dan sekarang telah
menjadi standar dalam pengukuran kecemasan terutama pada
penelitian trial clinic.
Skala HARS telah dibuktikan memiliki validitas dan
realibilitas yang cukup tinggi untuk melakukan pengukuran
kecemasan yaitu 0,93 dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa
pengukuran kecemasan dengan menggunakan skala HARS akan
diperoleh hasil yang valid dan reliabel. Skala HARS merupakan
skala pengukuran kecemasan yang didasarkan pada munculnya
gejala / symptom pada individu yang mengalami kecemasan.
Terdapat 14 symptom yang nampak pada individu yang mengalami
kecemasan, setiap item yang diobservasi diberi skor 5 tingkatan,
skor antara 0 (tidak ada gejala sama sekali) sampai dengan 4
(gejala sangat berat) (Nursalam, 2008), yang artinya adalah :
Nilai 0 = tidak ada gejala / keluhan
Nilai 1 = gejala ringan / satu dari gejala yang ada
Nilai 2 = gejala sedang / separuh dari gejala yang ada
Nilai 3 = gejala berat / lebih dari separuh gejala yang ada
Nilai 4 = gejala sangat berat / semua dari gejala yang ada
Masing-masing nilai angka (skor) dari 14 kelompok gejala
tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat
diketahui derajat kecemasan seseorang.
Total nilai (skor):
< 14 = tidak ada kecemasan
14-20 = kecemasan ringan
21-27 = kecemasan sedang
28-41 = kecemasan berat
42-56 kecemasan sangat berat/panik
Adapun hal-hal yang dinilai dalam alat ukur HARS adalah
sebagai berikut :
1) Perasaan cemas, meliputi cemas, firasat buruk, takut akan
pikiran sendiri dan mudah [Link], meliputi
merasa tegang, lesu, tidak bisa istirahat dengan tenang, mudah
terkejut, mudah menangis, gemetar dan gelisah.
2) Ketakutan, meliputi ketakutan pada gelap,pada orang asing,
takut ditinggal sendiri, takut pada binatang besar, pada
keramaian lalu lintas dan pada kerumunan banyak orang.
3) Gangguan tidur, sukar memulai tidur, terbangun pada malam
hari, tidur tidak nyenyak, badan lesu, banyak mimpi-mimpi,
mimpi buruk dan menakutkan.
4) Gangguan kecerdasan meliputi, sukar konsentraasi, daya ingat
menurun dan daya ingat buruk, sering bingung.
5) Perasaan depresi (murung) meliputi hilangnya minat,
berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih dan perasaan
berubah-ubah sepanjang hari.
6) Gejala somatik atau fisik (otot), meliputi nyeri pada otot kaki,
kedutan otot, gigi gemerutuk dan suara tidak stabil.
7) Gejala somatik atau fisik (sensorik), meliputi tinitus/telinga
mendenging, penglihatan kabur, merasa lemas dan sensasi
ditusuk-tusuk.
8) Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), meliputi
takikardi, berdebar-debar, nyeri di dada, denyut nadi terasa
kuat dan keras, lemas seperti mau pingsan dan detak jantung
berhenti sebentar.
9) Gejala respiratori, meliputi rasa tertekan /sempit di dada, rasa
tercekik, sering menarik nafas, nafas pendek atau sesak.
10) Gejala gastrointestinal, meliputi sulit menelan, mual muntah,
berat badan menurun, konstipasi/sulit BAB, gangguan
pencernaan, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan,
perasaan panas di perut, rasa penuh/kembung.
11) Gejala urogenital, meliputi sering buang air kecil, tidak dapat
menahan kencing, tidak datang bulan /haid, darah haid
berlebihan/terlalu sedikit, masa haid berkepanjangan/sangat
pendek, frigid, ejakulasi dini, ereksi melemah dan impotensi.
12) Gejala autonum, meliputi mulut kering, muka kering, mudah
berkeringat, kepala pusing/ kepala terasa berat, dan bulu roma
berdiri.
13) Tingkah laku/sikap pada saat wawancara, meliputi gelisah,
tidak tenang, jari gemetar, kening berkerut, muka tegang, otot
tegang/mengeras, nafas pendek dan cepat, dan muka merah.
h. Penatalaksanaan kecemasan
1) Penatalaksanaan Farmakologi
Pengobatan untuk anti kecemasan terutama benzodiazepine,
obat ini digunakan untuk jangka pendek, dan tidak dianjurkan
untuk jangka panjang karena pengobatan ini menyebabkan
toleransi dan ketergantungan. Obat anti kecemasan
nonbenzodiazepine, seperti buspiron (Buspar) dan berbagai
antidepresan juga digunakan (Isaacs, 2005).
2) Penatalaksanaan non farmakologi
a) Distraksi
Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan
kecemasan dengan cara mengalihkan perhatian pada hal-hal
lain sehingga pasien akan lupa terhadap cemas yang
dialami. Stimulus sensori yang menyenangkan
menyebabkan pelepasan endorfin yang bisa menghambat
stimulus cemas yang mengakibatkan lebih sedikit stimuli
cemas yang ditransmisikan ke otak (Potter & Perry, 2005).
Salah satu distraksi yang paling efektif adalah dengan
mendengarkan musik. Musik bermanfaat untuk membuat
seseorang menjadi relaks, menimbulkan rasa aman dan
sejahtera, melepaskan rasa gembira dan sedih, menurunkan
tingkat kecemasan pasien pra operasi dan melepaskan rasa
sakit dan menurunkan tingkat stress (Musbikin 2009).
b) Relaksasi
Terapi relaksasi yang dilakukan dapat berupa relaksasi,
meditasi, relaksasi imajinasi dan visualisasi serta relaksasi
progresif (Isaacs, 2005).
3. Terapi Musik (Self-Selected Individual Music Therapy)
a. Pengertian Terapi Musik
Terapi musik adalah suatu proses yang menggabungkan
antara aspek penyembuhan musik itu sendiri dengan kondisi dan
situasi; fisik /tubuh, emosi, mental, spiritual, kognitif dan
kebutuhan sosial seseorang. Terapi musik adalah metode
penyembuhan dengan musik melalui energi yang dihasilkan dari
musik itu sendiri (Natalina, 2013).
Terapi musik adalah proses yang dapat mempengaruhi
kondisi seseorang baik fisik maupun mental. Musik memberikan
rangsangan pertumbuhan fungsi-fungsi otak seperti fungsi belajar,
ingatan, berbicara, mendengar dan fungsi kesadaran (Satiadarma,
2004).
Jadi terapi musik merupakan suatu bentuk pemberian
intervensi yang bertujuan untuk memberikan efek relaksasi kepada
subyek.
b. Jenis Terapi Musik
Menurut Natalina (2013), Terapi musik terdiri dari dua
jenis yaitu:
1) Aktif-Kreatif
Terapi musik diterapkan dengan melibatkan klien secara
langsung untuk ikut aktif dalam sebuah sesi terapi melalui cara:
menciptakan lagu (composing) yaitu klien diajak untuk
menciptakan lagu sederhana ataupun membuat lirik atau terapis
yang akan melengkapi secara harmoni; improvisasi yaitu klien
membuat musik secara spontan dengan menyanyi ataupun
bermain musik pada saat itu juga atau membuat improvisasi
dari musik yang diberikan oleh terapis. Improvisasi dapat juga
sebagai ungkapan perasaan klien akan suasana hatinya, situasi
yang dihadapi maupun perasaan terhadap seseorang; dan re-
creating musik yaitu klien menyanyi dan akan melatih
pernafasan, pengucapan kata-kata yang teratur, artikulasi dan
juga melatih lafal bicara dengan jelas. Lirik lagu yang sesuai
juga dapat menjadi bahan diskusi yang mengungkapakan
perasaan klien.
2) Pasif-Reseptif
Pada sesi reseptif : klien akan mendapatkan terapi dengan
mendengarkan musik. Terapi ini akan menekankan pada
physical, emotional intellectual, aesthetic or spiritual dari
musik itu sendiri sehingga klien akan merasakan ketenangan
atau relaksasi. Musik yang digunakan dapat bermacam jenis
dan gaya tergantung dengan kondisi yang dihadapi klien.
Menurut Aditya (2012), jenis terapi musik antara lain :
musik instrumental dan musik klasik.
1) Musik instrumental
Bermanfaat menjadikan badan, pikiran dan mental menjadi
lebih sehat.
2) Musik klasik
Bermanfaat untuk membuat seseorang menjadi relaks,
menimbulkan rasa aman dan sejahtera, melepaskan rasa
gembira dan sedih, menurunkan tingkat kecemasan pasien pra
operasi dan melepaskan rasa sakit dan menurunkan stress.
Musik klasik lahir sekitar tahun 500 Masehi sampai dengan
abad ke-21. Kata “klasik” sebenarnya berarti “mempunyai nilai
atau mutu yang diakui secara luas, dan menjadi tolak ukur
kesempurnaan yang tertinggi”. Namun demikian, sebagian
orang menganggap musik yang sulit dipahami adalah musik
klasik. Musik klasik dikelompokkan menurut zamannya, yaitu :
Medieval, Renaissance, Baroque, Classical, Romantic, dan
Modern atau Contemporary (Grimonia 2014).
c. Metode Terapi Musik
Menurut Natalina (2013), Penggunaan metode terapi musik
secara aktif-kreatif lebih efektif dalam proses penyembuhan.
Memberi dampak yang besar pada pasien karena terdapat faktor-
faktor yang mempengaruhi motorik, emosional, kognitif, sosial dan
pembentukan kepribadian.
1) Motorik, terapi musik aktif menggerakkan tubuh pasien, mulai
dari yang sederhana seperti menganggukkan kepala, bertepuk
tangan sampai menggerakkan seluruh tubuh atau menari
mengikuti irama musik. Hal ini terjadi proses perengangan otot
motorik klien yang mengaktifkan syaraf.
2) Emosional, terapi musik mempengaruhi perasaan klien yang
berakibat pada perubahan hormon.
3) Kognitif, agar bisa mengerti suatu lagu diperlukan pemahaman
akan lagu tersebut. Hal ini bisa dilihat dari lirik lagu dan irama
lagu. Secara tidak langsung akan dituntut memahami lagu
secara menyeluruh sehingga dapat mengungkapkan
perasaannya melalui lagu tersebut.
4) Sosial, terjadi hubungan saling percaya antara terapis dank lien
melalui komunikasi langsung maupun komunikasi lewat lagu.
d. Manfaat Terapi Musik
Menurut Natalina (2013) Terapi musik merupakan
pengobatan secara holistik yang langsung menuju pada simptom
penyakit. Terapi ini akan berhasil jika ada kerjasama antara klien
dengan terapisnya. Proses penyembuhan sepenuhnya tergantung
pada kondisi klien, apakah seseorang benar-benar siap menerima
proses secara keseluruhan. Terapi musik memiliki beberapa
manfaat, yaitu:
1) Musik pada kesehatan, yaitu : menurunkan tekanan darah
melalui ritmik musik yang stabil memberi irama teratur pada
sistem kerja jantung, menstimulasi kerja otak, mendengarkan
musik dengan harmoni yang baik akan menstimulasikan otak
untuk melakukan proses analisa terhadap lagu itu,
meningkatkan imunitas tubuh, suasana yang ditimbulkan oleh
musik akan mempengaruhi sistem kerja hormon manusia. Jika
mendengar musik yang baik atau positif maka hormon yang
meningkatkan imunitas tubuh juga akan berproduksi, memberi
keseimbangan pada detak jantung dan denyut nadi.
2) Musik meningkatkan kecerdasan, yaitu daya ingat yaitu
menyanyi dengan menghafalkan lirik lagu, akan melatih daya
ingat, konsentrasi pada saat terlibat dalam bermusik (menyanyi,
bermain instrument) akan menyebabkan otak bekerja secara
terfokus, emosional, musik mampu memberi pengaruh secara
emosional terhadap makhluk hidup, musik meningkatkan kerja
otot, mengaktifkan motorik kasar dan halus, musik
meningkatkan produktifitas, kreatifitas dan imajinasi, musik
menyeabkan tubuh menghasilkan hormon beta-endorfin. Ketika
mendengar suara kita sendiri yang indah maka homon
„kebahagiaan‟ (beta-endorfin) akan berproduksi, musia
membentuk sikap seseorang seperti meningkatkan suasana hati.
Karakter seseorang dapat terbentuk melalui musik, rangkaian
nada yang indah akan membangkitkan perasaan bahagia atau
semangat positif, musik mengembangkan kemampuan
berkomunikasi dan sosialisasi, bermusik akan menciptakan
sosialisasi karena dalam bermusik dibutuhkan komunikasi.
Terapi musik juga dapat membantu semua bentuk
pertumbuhan klien baik secara mental maupun fisik, membantu
membangun kemampuan sosial, dapat menciptakan harga diri yang
besar, menjadi kreatif dalam bidang artistik dapat memberikan efek
mendalam untuk meningkatkan ekspresi diri sendiri,
menstimulasikan gerakan dan mengembangkan kemampuan
koordinasi fisik serta pengendaliannya, dan dapat membantu
kesejahteraan emosional dan kesehatan (Sheppard, 2007).
Musik digunakan untuk menjaga atau meningkatkan tingkat
keadaan fisik, mental, spiritual serta fungsi sosial atau emosional
klien. Dengan menggunakan pendekatan yang terencana dan
sistematis terhadap penggunaan musik dan akitivitas musik,
penanganan dengan terapi musik untuk jiwa, tubuh dan roh
memungkinkan terjadinya seperti: Pengurangan kegelisahan dan
stress, pengendalian rasa sakit dan ketidaknyamanan dengan tanpa
obat, perubahan positif dalam perasaan dan keadaan emosional,
partisipasi aktif dan positif klien dalam perawatan,
mengembangkan keterampilan menangani masalah dan
berelaksasi, memenuhi kebutuhan fisik dan spiritual yang
kompleks dari mereka yang sekarat, relaksasi bagi seluruh
keluarga, meningkatkan makna watu yang digunakan bersama
secara positif dan kreatif (Young & Koopsen, 2007).
Warna dan musik memancarkan frekuensi energi murni.
Menggunakan unsur energi ini untuk penyembuhan serta
penumbuhan kesadaran spiritual. Selain itu, warna dan musik dapat
juga untuk menyingkirkan penghalang dalam diri seseorang, agar
energi alam leluasa melakukanpenyembuhan (Bassano, 2009).
e. Penerapan Terapi Musik
Menurut Natalina (2013), Dalam melakukan terapi musik
dilakukan langkah-langkah, yaitu : pengkajian – melakukan
observasi (pendataan klien) : dari usia klien, jenis kelamin, latar
belakang kondisi kesehatan klien, rancangan terapi : menentukan
jenis musik yang sesuai, membangun komunikasi antara terapis
dan klien, membangun kesadaran diri dan pemberdayaan,
implementasi dan tahap terakhir mengevaluasi klien. Bicara
tentang terapi musik, akses mendengarkan musik dapat melalui :
radio, kaset, video, televisi, pertunjukkan langsung, konser,
kelompok komunitas (Djohan, 2006).
f. Respon Fisiologis Terhadap Musik
Jenis musik yang dimainkan (seperti musik yang
menenangkan) dapat menentukan perubahan fisiologis. Musik
yang menenangkan dapat mengubah persepsi seseorang tentang
waktu dan dapat menghasilkan respon hipometabolis yang mirip
dengan respon relaksasi yang mengubah sistem autonimik,
kekebalan, endokrin (Young & Koopsen, 2007).
Dengan metabolisme yang baik, tubuh akan mampu
membangun sistem kekebalan tubuh yang baik, dengan sistem
kekebalan yang baik tubuh menjadi lebih tangguh terhadap
kemungkinan serangan penyakit. Musik dapat meningkatkan
serotinin dan pertumbuhan hormon yang sama baiknya dengan
menurunkan hormon Ardenal Corticotropin Hormon (ATCH).
Pemberian terapi musik membuat seseorang menjadi rileks,
menimbulkan rasa aman, sejahtera, melepaskan rasa gembira dan
sedih, menurunkan rasa sakit dan juga menurunkan tingkat stress.
Hal ini terjadi karena adanya penurunan ACTH yang merupakan
hormon stress (Satiadarma, 2007).
g. Self-Selected Individual Music Therapy (SeLIMuT)
1) Pengertian
SeLIMuT adalah prosedur pemberian terapi musik yang
mengkombinasikan antara mendengarkan musik pilihan pasien
dengan latihan nafas dalam dan berdo‟a dengan cara yang
mudah, murah, serta efektif dan pasien dapat memilih sendiri
jenis musik yang disukai.
SeLIMuT dapat diterapkan pada pasien yang memiliki
kesadaran penuh dan tidak dalam keadaan darurat. Pasien
mendengarkan musik menggunakan MP3, MP4, telepon
genggam ataupun ipod baik rekaman maupun langsung dan
headphone yang dipasang pada telingga pasien (Hertanti et al.,
2013).
Peneliti memodifikasi lama durasi terapi musik karena dari
hasil evaluasi penelitian Boothy dan Robbins (2011)
didapatkan pemberian terapi musik lebih dari 20 menit terasa
membosankan bagi pasien, sehingga pelaksanaan SeLIMuT
akan diberikan selama 15-20 menit. Selain itu, durasi terapi
musik yang efektif adalah kurang dari 30 menit karena akan
terjadi penurunan level hormon kortisol yang secara signifikan
lebih rendah dibanding mendengarkan musik selama 30 menit
(Boothy & Robbins, 2011). Pada penelitian yang dilakukan
Yates dan Silverman (2015) durasi terapi musik juga 20 menit
dan terbukti mampu menurunkan simtom depresi pada pasien
kanker post-operasi.
2) Jenis musik yang dapat dipilih
Elemen musik terdiri dari lima unsur yang penting, yaitu
pitch (frekuensi), intensity (volume), timbre (warna nada),
interval dan rhytm (tempo atau durasi) (American Music
Therapy Association, 2008). Pitch yang tinggi, dengan rhytm
yang cepat dan volume yang keras akan dapat meningkatkan
ketegangan otot atau menimbulkan perasaan tidak nyaman,
sebaliknya pada pitch yang rendah dengan rhytm yang lambat
dan volume yang rendah akan menimbulkan efek rileks
(Chiang, 2012). Musik dengan frekuensi 40-60 telah Hz
terbukti menurunkan kecemasan, ketegangan otot, mengurangi
nyeri dan menimbulkan efek tenang (Arslan et al, 2007).
Menurut Nilsson (2009) karakteristik musik yang bersifat
terapi adalah musik yang nondramatis, dinamikanya bisa
diprediksi, memiliki nada yang lembut, harmonis, dan tidak
berlirik, temponya 60-80 beat per menit, dan merupakan jenis
musik pilihan klien sendiri.
Jenis musik yang digunakan dalam SeLIMuT dapat
ditentukan oleh pasien sendiri, yaitu pop, klasik, keroncong,
campursari, religi, dangdut maupun jazz. Karakter musik
memiliki kriteria musik yang slow, dengan tempo stabil, level
suara yang rendah dan soft dynamic, tekstur yang konsisten,
tidak mengandung bunyi perkusi, gentle timbre (suara atau
warna nada), legato melodies, serta progressi chord dan
harmoni yang sederhana (Hertanti et al., 2013). Musik yang
dipilih harus memberikan ketenangan bagi dirinya misal
musik-musik yang berirama rohani agar pasien merasa dekat
dengan Tuhan sehingga mampu menurunkan gejala depresi.
Banyak studi telah menunjukkan bahwa musik untuk terapi
tidak harus musik klasik (Schou, 2008; Chiang, 2012).
Penelitian Good et al., (2001) menunjukkan bahwa jenis musik
yang menjadi pilihan pasien lebih efektif menimbulkan efek
terapi. Musik yang berdasarkan minat dari pasien merupakan
faktor penting dalam pemberian terapi musik (Lingham &
Theorell, 2009). Faktor yang mempengaruhi minat terhadap
jenis musik ini dikarenakan perbedaan usia, masa, budaya,
jenis kelamin dan kebiasaan (Hamel, 2001).
3) Prosedur SeLIMuT
Dalam melaksanakan SeLIMuT ada langkah-langkah yang
harus diikuti. Berikut merupakan prosedur yang harus diikuti
dalam pelaksanaan SeLIMuT: (Widiyono et al., 2019)
a) Peneliti menyiapkan sejumlah lagu dengan bermacam-
macam jenis musik yang sesuai dengan ketentuan
SeLIMuT menggunakan aplikasi Fl. Studio Versi 12.
b) Pasien memilih jenis musik dan lagu yang telah disediakan
dalam buku menu SeLIMuT. Pemilihan jenis musik dan
lagu tersebut sesuai kesukaan pasien sendiri.
c) Peneliti menyiapkan peralatan yang diperlukan. Peralatan
tersebut yaitu MP3 Player dan headphone. Penggunaan
Headphone lebih aman dan mudah digunakan daripada
earphone, sehingga pasien lebih fokus dalam
mendengarkan musik.
d) Pasien mencari lingkungan yang tenang dan mengambil
posisi yang nyaman. Hal ini mampu meningkatkan
konsentrasi pasien untuk menikmati musik nantinya.
e) Pasien melakukan nafas dalam dan berdo‟a selama 1 menit
dengan dipandu oleh peneliti sebelum kegiatan dimulai
dengan tujuan untuk lebih meningkatkan rasa tenang dan
nyaman.
f) Pasien menghidupkan MP3 player, mengatur volume suara
senyaman mungkin, memasang headphone di telingga dan
mendengarkan musik yang telah dipilih sekitar 15 menit.
g) Pasien mematikan MP3 player setelah 15 menit
mendengarkan musik, melepas headphone.
h) Kegiatan diakhiri dengan nafas dalam dan berdo‟a selama 1
menit.
B. Kerangka Teori
Pasien Pre Operasi
Faktor yang mempengaruhi
kecemasan Hamilton Anxiety
Kecemasan Rating Scale
[Link] predisposisi: (HARS)
a) Traumatik
b) Konflik emosional Penanganan Kecemasan:
c) Konsep diri
d) Frustasi [Link]:
e) Gangguan fisik [Link]
f) Pola mekanisme [Link]
koping keluarga [Link] Farmakologi:
g) Riwayat gangguan [Link]
kecemasan [Link] Musik
h) Medikasi
1) Self selected individual music
[Link] presipitasi therapy (SeLIMuT)
a) Ancaman terhadap 2) Musik Klasik
integritas fisik 3) Musik Instrumental
b) Ancaman terhadap
harga diri
Tingkat kecemasan:
1) Tidak ada kecemasan
2) Kecemasan ringan
3) Kecemasan sedang
4) Kecemasan berat
5) Kecemasan sangat berat
Skema 2.1 Kerangka Teori
Sumber: Long B. C., (2001); Isaacs., (2005); Suliswati.,(2005); Musbikin.,(2009)
Potter & Perry., (2007); Widiyono., Setiyarini, S., Effendy, C. (2019).
Keterangan :
: Area yang tidak diteliti
: Area yang diteliti
C. Kerangka Konsep
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, kerangka konsep dari pengaruh
pemberian Self-selected Individual Music Therapy (SeLIMuT) terhadap
tingkat kecemasan pasien pre operasi di Bangsal Bedah RSUD Agats,
Kabupaten Asmat diuraikan sebagai berikut :
Variabel bebas Variabel terikat
Self Selected Individual kecemasan
Music Therapy
Skema 2.2 Kerangka konsep
D. Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini yaitu terdapat pengaruh pemberian Self-
selected Individual Music Therapy (SeLIMuT) terhadap tingkat kecemasan
pasien pre operasi di Bangsal Bedah RSUD Agats, Kabupaten Asmat.