0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan33 halaman

Definisi dan Indikasi Pembedahan

Dokumen ini membahas tentang operasi atau pembedahan, termasuk definisi, indikasi, klasifikasi, dan persiapan yang diperlukan sebelum tindakan. Pembedahan dilakukan untuk diagnosis atau pengobatan penyakit, dengan berbagai jenis dan urgensi, serta memerlukan persiapan mental dan fisik dari pasien. Kecemasan pasien preoperatif juga dijelaskan, termasuk penyebab dan manifestasinya yang dapat mempengaruhi pemulihan pasca bedah.

Diunggah oleh

sugeng utomo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan33 halaman

Definisi dan Indikasi Pembedahan

Dokumen ini membahas tentang operasi atau pembedahan, termasuk definisi, indikasi, klasifikasi, dan persiapan yang diperlukan sebelum tindakan. Pembedahan dilakukan untuk diagnosis atau pengobatan penyakit, dengan berbagai jenis dan urgensi, serta memerlukan persiapan mental dan fisik dari pasien. Kecemasan pasien preoperatif juga dijelaskan, termasuk penyebab dan manifestasinya yang dapat mempengaruhi pemulihan pasca bedah.

Diunggah oleh

sugeng utomo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Operasi

a. Definisi

Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan

pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau

menampilkan bagian tubuh. Pada umumnya dilakukan dengan

membuat sayatan, pada bagian tubuh yang akan ditangani, lalu

dilakukan tindakan perbaikan dan diakhiri dengan penutupan dan

penjahitan luka. (Syamsuhidajat, 2010).

Menurut Himpunan Kamar Bedah Indonesia (HIPKABI)

mendefinisikan tindakan operasi sebagai prosedur medis yang

bersifat invasif untuk diagnosis, pengobatan penyakit, trauma dan

deformitas (HIPKABI, 2014).

Pre operasi adalah tahap yang dimulai ketika ada keputusan

untuk dilakukan intervensi bedah dan diakhiri ketika klien dikirim

ke meja operasi. Keperawatan pre operatif merupakan tahapan

awal dari keperawatan perioperatif. Tahap ini merupakan awalan

yang menjadi kesuksesan tahap-tahap berikutnya. Kesalahan yang

dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap berikutnya

(HIPKABI, 2014).

9
Pembedahan dilakukan untuk mendiagnosa atau mengobati

suatu penyakit, cedera atau cacat, serta mengobati kondisi yang

sulit atau tidak mungkin disembuhkan hanya dengan obat-obatan

sederhana (Potter dan Perry, 2012).

Jadi Operasi atau pembedahan adalah suatu penanganan

medis secara invasif yang dilakukan untuk mendiagnosa atau

mengobati penyakit, injuri, atau deformitas tubuh yang akan

mencederai jaringan yang dapat menimbulkan perubahan fisiologis

tubuh dan mempengaruhi organ tubuh lainnya.

Ada 3 faktor penting yang terkait dalam pembedahan yaitu

penyakit pasien, jenis pembedahan dan pasien itu sendiri. Dari

ketiga faktor tersebut, tindakan pembedahan adalah hal yang

baik/benar. Bagi pasien sendiri, pembedahan adalah hal yang

paling mengerikan yang pernah mereka alami. Mengingat hal

tersebut di atas, sangatlah penting untuk melibatkan pasien dalam

setiap langkah langkah pre oiperatif (Baradero & Mary, 2009).

b. Indikasi

Tidakan pembedahan/operasi dilakukan dengan berbagai

indikasi diantaranya adalah :

1) Diagnostik : biopsi atau laparotomy eksploitasi

2) Kuratif : eksisi tumor atau pengangkatan apendiks yang

mengalami inflamasi

3) Reparatif : memperbaiki luka multipel


4) Rekontruksif/kosmetik : mammaoplasty, atau bedah platik

5) Palliatif : seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki

masalah, contoh : pemasangan selang gastrotomi yang dipasang

untuk mengkomponsasi terhadap ketidakmampuan menelan

makanan

c. Klasifikasi

1) Menurut urgensi dilakukan tindakan pembedahan, maka

tindakan pembedahan dapat diklasifikasikan menjadi 5

tingkatan, antara lain : (Effendy 2011)

a) Kedaruratan/Emergency : pasien membutuhkan perhatian

segera, gangguan mungkin mengancam jiwa. Indikasi

dilakukan pembedahan tanpa ditunda, misal : pendarahan

hebat, obstruksi kandung kemih atau usus, fraktur tulang

tengkorak, luka tembak atau tusuk, luka bakar sangat luas.

b) Urgen : pasien membutuhkan perhatian segera.

Pembedahan dapat dilakukan dalam 24-30 jam, misal :

infeksi kandung kemih akut, batu ginjal atau batu pada

uretra.

c) Diperlukan pasien harus menjalani pembedahan.

Pembedahan dapat diriencanakan dalam beberapa minggu

atau bulan, misal : Hyperplasia prostate tanpa obstruksi

kandung kemih. Gangguan tyroid, katarak.


d) Efektif : pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Indikasi

pembedahan, bila tidak dilakukan pembedahan maka tidak

terlalu membahayakan, misal : perbaikan sesar, hernia

sederhana, perbaikan vaginal.

e) Pilihan keputusan tentang dilakukannya pembedahan

diserahkan sepenuhnya kepada pasien. Indikasi

pembedahan merupakan pilihan pribadi dan biasanya

terkait dengan estetika, misal : bedah kosmetik.

2) Sedangkan menurut faktor resikonya, operasi dapat

diklasifikasikan sebagai besar atau kecil, tergantung pada

keseriusan dari penyakit, maka bagian tubuh yang terkena,

kerumitan pengoperasian, dan waktu pemulihan yang

diharapkan (Virginia, 2009).

a) Operasi kecil adalah operasi yang paling sering dilakukan

dirawat jalan, dan dapat pulang di hari yang sama. Operasi

ini sedikit menimbulkan komplikasi (Virginia, 2009).

b) Operasi besar adalah operasi yang penetrates dan exposes

semua rongga badan, termasuk tengkorak, termasuk

pembedahan tulang atau kerusakan signifikan dari anatomis

atau fungsi faal (guide, 2004). Operasi besar meliputi

pembedahan kepala, leher, dada dan perut. Pemulihan dapat

dalam waktu panjang dan dapat melibatkan perawatan

intensif dalam beberapa hari di rumah sakit. Pembedahan


ini memiliki resiko komplikasi yang lebih tinggi setelah

pembedahan (Virgina, 2009).

Operasi besar sering melibatkan salah satu badan utama di

perut-cavities (laparotomy), di dada (thoracotomy), atau

tengkorak (craniotomy) dan dapat juga pada organ vital.

Operasi yang biasanya dilakukan dengan menggunakan

anastesi umum di rumah sakit ruang operasi oleh tim

dokter. Setidaknya pasien menjalani perawatan satu malam

di rumah sakit setelah operasi. Operasi besar biasanya

membawa beberapa derajat resiko bagi pasien hidup, atau

potensi cacat parah jika terjadi suatu kesalahan dalam

operasi.

Menurut Oswari (2015) ada beberapa persiapan dan

perawatan yang harus dilakukan pasien sebelum operasi adalah

sebagai berikut :

1) Persiapan mental

Pasien yang akan dioperasi biasanya akan menjadi agak gelisah

dan takut. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak

tampak jelas. Tetapi kadang-kadang pula, kecemasan itu dapat

terlihat dalam bentuk lain. Pasien yang gelisah dan takut sering

bertanya terus–menerus dan berulang-ulang, walaupun

pertanyaannya telah dijawab. Ia tidak mau berbicara dan

memperhatikan keadaan sekitarnya, tetapi berusaha


mengalihkan perhatiannya dari buku. Atau sebaliknya, ia

bergerak terus-menerus dan tidak dapat tidur.

Pasien sebaiknya diberi tahu bahwa selama operasi ia tidak

akan merasa sakit karena ahli bius akan selalu menemaninya

dan berusaha agar selama operasi berlangsung, penderita tidak

merasakan apa-apa. Perlu dijelaskan kepada pasien bahwa

semua operasi besar memerlukan transfusi darah untuk

menggantikan darah yang hilang selama operasi dan transfusi

darah bukan berarti keadaan pasien sangat gawat.

Perlu juga dijelaskan mengenai mekanisme yang akan

dilakukan mulai dari dibawanya pasien ke kamar operasi dan

diletakkan di meja operasi, yang berada tepat di bawah lampu

yang sangat terang, agar dokter dapat melihat segala sesuatu

dengan jelas. Beri tahu juga bahwa sebelum operasi dimulai,

pasien akan dianastesi umum, lumbal, atau lokal.

2) Persiapan fisik

a) Makanan

Pasien yang akan dioperasi diberi makanan yang berkadar

lemak rendah, tetapi tinggi karbohidrat, protein, vitamin,

dan kalori. Pasien harus puasa 12-18 jam sebelum operasi

di mulai.

b) Lavemen/Klisma
Klisma dilakukan untuk mengosongkan usus besar agar

tidak mengeluarkan feses di meja operasi.

c) Kebersihan mulut

Mulut harus dibersihkan dan gigi di sikat untuk mencegah

terjadinya infeksi terutama bagi paru-paru dan kelenjar

ludah.

d) Mandi

Sebelum operasi pasien harus mandi atau dimandikan.

Kuku disikat dan cat kuku harus dibuang agar ahli bius

dapat melihat perubahan warna kuku dengan jelas.

e) Daerah yang akan dioperasi

Tempat dan luasnya daerah yang harus dicukur tergantung

dari jenis operasi yang akan dilakukan.

3) Sebelum masuk kamar bedah

Persiapan fisik pada hari operasi, seperti biasa harus diambil

catatan suhu, tensi, nadi, dan pernapasan. Operasi yang bukan

darurat, bila ada demam, penyakit tenggorokan atau sedang

haid, biasanya ditunda oleh ahli bedah atau ahli anastesi. Pasien

yang akan dioperasi harus dibawa ke tempat pada waktunya.

Jangan dibawa kamar tunggu teralu cepat, sebab teralu lama

menunggu tibanya waktu operasi akan menyebabkan pasien

gelisah dan takut.

d. Gambaran Pasien Pre operasi


Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial

maupun aktual pada integritas seseorang yang dapat

membangkitkan reaksi stres fisiologis maupun psikologis. Menurut

Long (2001), pasien preoperasi akan mengalami reaksi emosional

berupa kecemasan. Berbagai alasan yang dapat menyebabkan

ketakutan/kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan

antara lain :

1) Takut nyeri setelah pembedahan

2) Takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak

berfungsi normal (body image)

3) Takut keganasan (bila diagnosa yang ditegakkan belum pasti)

4) Takut/cemas mengalami kondisi yang sama dengan orang lain

yang mempunyai penyakit yang sama.

5) Takut/ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan

dan petugas.

6) Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi.

7) Takut operasi gagal.

Ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami pasien

dapat mempengaruhi respon fisiologis tubuh yang ditandai dengan

adanya perubahan-perubahan fisik seperti : meningkatnya

frekuensi nadi dan pernafasan, gerakan-gerakan tangan yang tidak

terkontrol, telapak tangan yang lembab, gelisah, menanyakan

pertanyaan yang sama berulang kali, sulit tidur, dan sering


berkemih. Persiapan yang baik selama periode operasi membantu

menurunkan resiko operasi dan meningkatkan pemulihan pasca

bedah. Tujuan tindakan keperawatan preoperasi menurut Luckman

dan Sorensen ( 1993 ), dimaksudkan untuk kebaikan bagi pasien

dan keluarganya yang meliputi :

1) Menunjukkan rasa takut dan cemasnya hilang atau berkurang

(baik ungkapan secara verbal maupun ekspresi muka)

2) Dapat menjelaskan dan mendemonstrasikan mobilisasi yang

dilakukan setelah tindakan operasi.

3) Terpelihara keseimbangan cairan, elektrolit dan nutrisi.

4) Tidak terjadi vomitus karena aspirasi selama pasien dalam

pengaruh anestesi.

5) Tidak ada atau berkurangnya kemungkinan terjadi infeksi

setelah tindakan operasi.

6) Mendapatkan istirahat yang cukup.

7) Menjelaskan tentang prosedur operasi , jadwal operasi serta

menanda tangani inform consent.

8) Kondisi fisiknya dapat dideteksi selama operasi berlangsung.

2. Kecemasan

a. Definisi

Kecemasan merupakan reaksi emosional terhadap penilaian

individu yang subjektif, yang dipengaruhi oleh alam bawah sadar

dan tidak diketahui secara khusus penyebabnya (Depkes, 2008).


Kecemasan adalah keadaan dimana individu atau kelompok

mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem saraf autonom

dalam merespon ancaman yang tidak jelas. Kecemasan akibat

terpejan pada peristiwa traumatik yang dialami individu yang

mengalami, menyaksikan atau menghadapi satu atau beberapa

peristiwa yang melibatkan kematian aktual atau ancaman kematian

atau cidera serius atau ancaman fisik diri sendiri (Dongoes, 2006).

b. Penyebab Kecemasan

Kuswati dan Hartono mengemukakan beberapa penyebab

kecemasan antara lain:

1) Faktor Predisposisi

a) Peristiwa traumatik

b) Konflik emosional

c) Gangguan konsep diri

d) Frustasi gangguan fisik

e) Pola mekanisme koping keluarga

f) Riwayat gangguan kecemasan

g) Medikasi

2) Faktor Presipitasi

a) Ancaman terhadap integritas fisik

b) Ancaman terhadap harga diri

c. Tahapan Kecemasan
Kecemasan diindentifikasikan menjadi 4 tingkat yaitu,

ringan, sedang, berat dan panik. Semakin tinggi tingkat kecemasan

individu maka akan mempengaruhi kondisi fisik dan psikis.

Kecemasan berbeda dengan rasa takut, yang merupakan penilaian

intelektual terhadap bahaya. Kecemasan merupakan masalah

psikiatri yang paling sering terjadi, tahapan tingkat kecemasan

akan dijelaskan sebagai berikut (Stuart, 2007) :

1) Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam

kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi

waspada dan meningkatkan persepsi.

2) Kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk

memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan

yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang

selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.

cemas sedang ditandai dengan peningkatan denyut nadi,

berkeringat dan gejala somatik ringan.

3) Kecemasan berat sangat mengurangi persepsi seseorang yang

cenderung memusatkan pada sesuatu yang terinci, spesifik, dan

tidak dapat berpikir tentang hal lain.

4) Tingkat panik (sangat berat) berhubungan dengan terperangah,

ketakutan dan teror. Karena mengalami kehilangan kendali,

orang yang mengalami panik tidak mempu melakukan sesuatu

walaupun dengan pengarahan.


d. Manifestasi Klinis Cemas Dalam Sistem Tubuh Manusia

Kecemasan dapat menimbulkan manifestasi klinis yang

akan tampak pada beberapa sistem organ, diantaranya adalah

(Stuart & Sundeen, 2007) :

1) Kardiovaskuler

Manifestasi klinis yang terjadi yaitu : jantung berdebar, tekanan

darah meningi, rasa mau pingsan, tekanan darah menurun,

denyut nadi menurun.

2) Pernafasan

Manifestasi klinis yang terjadi yaitu : nafas cepat, rasa tertekan

pada dada, nafas dangkal. Pembengkakan pada tenggorokan,

sensasi tercekik dan terengah-egah.

3) Neuromuskular

Seseorang akan merasakan refleksnya meningkat, gelisah,

wajah

terasa dan tampak tegang, kelemahan umum, kaki bergoyang-

goyang, tremor.

4) Gastrointestinal

Seseorang yang cemas akan kehilangan nafsu makan, rasa tidak

nyaman pada abdomen, mual dan diare.

5) Traktus urinarius

Manifestasi yang terjadi yaitu : tidak dapat menahan kencing

dan atau sering berkemih.


6) Kulit

Wajah kemerahan, berkeringat setempat (telapak tangan), gatal,

rasa panas dan dingin pada kulit, wajah pucat dan berkeringat

seluruh tubuh.

e. Manifestasi psikomotor berupa respon kognitif dan afektif

Menurut Stuart & Sundeen (2007) kecemasan dapat

menimbulkan manifestasi psikomotor yang dibagi menjadi :

1) Perilaku

Perilaku yang terjadi yaitu gelisah, ketegangan fisik, tremor,

gugup, bicara cepat, kurang koordinasi, cenderung

mendapatkan cidera, menarik diri dari lingkungan

interpersonal, melarikan diri dari masalah, menghindar.

2) Kognitif

Manifestasi yang dapat diamati yaitu perhatian terganggu,

konsentrasi buruk dan pelupa.

f. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan

Suliswati (2005) menyatakan bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi tingkat kecemasan yaitu sebagai berikut:

1) Faktor predisposisi

Faktor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan

yang dapat timbulnya kecemasan. Ketegangan dalam selama

kehidupan tersebut dapat berupa:


a) Peristiwa traumatik yang dapat memicu terjadinya

kecemasan berkaitan dengan krisis yang dialami individu

baik krisis perkembangan atau situasional.

b) Konflik emosional yang dialami individu dan tidak

terselesaikan dengan baik. Konflik antara keinginan dan

kenyataan dapat menimbulkan kecemasan pada individu.

c) Konsep diri terganggu akan menimbulkan rasa

ketidakmampuan individu berpikir secara realitas

sehinggga akan menimbulkan kecemasan.

d) Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk

mengambil keputusan yang dampak terhadap ego.

e) Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena

merupakan ancaman terhadap integritas fisik yang dapat

mempengaruhi konsep diri individu.

f) Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga

menangani stress akan mempengaruhi individu dalam

berespons terhadap konflik yang dialami karena pola

mekanis koping individu banyak dipelajari dalam keluarga.

g) Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan

mempengaruhui respon individu dalam berespons terhadap

konflik dan mengatasi kecemasannya.

h) Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah

pengobatan yang mengandung benzodizepin, karena


benzopin dapat menekan neurotransmiter gamma amino

butyric acid (GABA) yang mengontrol aktivitas neuron di

otak yang bertanggung jawab menghasilkan kecemasan.

2) Faktor presipitasi

Faktor presipitasi adalah semua ketegangan dalam

kehidupan yang dapat mencetuskan timbulnya kecemasan.

Faktor presipitasi kecemasan dikelompokkan menjadi dua

bagian:

a) Ancaman terhadap integritas fisik ketegangan yang

mengancam integritas fisik yang meliputi :

(1) Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme

fisiologis, sistem imun, regulasi suhu tubuh, perubahan

biologis normal (misalnya: hamil)

(2) Sumber ekternal, meliputi paparan terhadap infeksi

virus dan bakteri, kekurangan nutrisi tidak adekuatnya

tempat tinggal.

b) Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan

eksternal.

(1) Sumber internal: kesulitan dalam hubungan

interpersonal di rumah dan di tempat kerja, penyesuaian

terhadap peran baru. Berbagai ancaman terhadap

integritas fisik juga dapat mengancam harga diri.


(2) Sumber ekternal: kehilangan orang yang dicintai,

perceraian, perubahan status pekerjaan, tekanan

kelompok, sosial budaya.

g. Alat Ukur Kecemasan

Tingkat kecemasan dapat diukur dengan menggunakan alat

ukur kecemasan yang disebut dengan Hamilton Anxiety Rating

Scale (HARS). Skala HARS pertama kali digunakan pada tahun

1959, yang diperkenalkan oleh Max Hamilton dan sekarang telah

menjadi standar dalam pengukuran kecemasan terutama pada

penelitian trial clinic.

Skala HARS telah dibuktikan memiliki validitas dan

realibilitas yang cukup tinggi untuk melakukan pengukuran

kecemasan yaitu 0,93 dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa

pengukuran kecemasan dengan menggunakan skala HARS akan

diperoleh hasil yang valid dan reliabel. Skala HARS merupakan

skala pengukuran kecemasan yang didasarkan pada munculnya

gejala / symptom pada individu yang mengalami kecemasan.

Terdapat 14 symptom yang nampak pada individu yang mengalami

kecemasan, setiap item yang diobservasi diberi skor 5 tingkatan,

skor antara 0 (tidak ada gejala sama sekali) sampai dengan 4

(gejala sangat berat) (Nursalam, 2008), yang artinya adalah :

Nilai 0 = tidak ada gejala / keluhan

Nilai 1 = gejala ringan / satu dari gejala yang ada


Nilai 2 = gejala sedang / separuh dari gejala yang ada

Nilai 3 = gejala berat / lebih dari separuh gejala yang ada

Nilai 4 = gejala sangat berat / semua dari gejala yang ada

Masing-masing nilai angka (skor) dari 14 kelompok gejala

tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat

diketahui derajat kecemasan seseorang.

Total nilai (skor):

< 14 = tidak ada kecemasan

14-20 = kecemasan ringan

21-27 = kecemasan sedang

28-41 = kecemasan berat

42-56 kecemasan sangat berat/panik

Adapun hal-hal yang dinilai dalam alat ukur HARS adalah

sebagai berikut :

1) Perasaan cemas, meliputi cemas, firasat buruk, takut akan

pikiran sendiri dan mudah [Link], meliputi

merasa tegang, lesu, tidak bisa istirahat dengan tenang, mudah

terkejut, mudah menangis, gemetar dan gelisah.

2) Ketakutan, meliputi ketakutan pada gelap,pada orang asing,

takut ditinggal sendiri, takut pada binatang besar, pada

keramaian lalu lintas dan pada kerumunan banyak orang.


3) Gangguan tidur, sukar memulai tidur, terbangun pada malam

hari, tidur tidak nyenyak, badan lesu, banyak mimpi-mimpi,

mimpi buruk dan menakutkan.

4) Gangguan kecerdasan meliputi, sukar konsentraasi, daya ingat

menurun dan daya ingat buruk, sering bingung.

5) Perasaan depresi (murung) meliputi hilangnya minat,

berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih dan perasaan

berubah-ubah sepanjang hari.

6) Gejala somatik atau fisik (otot), meliputi nyeri pada otot kaki,

kedutan otot, gigi gemerutuk dan suara tidak stabil.

7) Gejala somatik atau fisik (sensorik), meliputi tinitus/telinga

mendenging, penglihatan kabur, merasa lemas dan sensasi

ditusuk-tusuk.

8) Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), meliputi

takikardi, berdebar-debar, nyeri di dada, denyut nadi terasa

kuat dan keras, lemas seperti mau pingsan dan detak jantung

berhenti sebentar.

9) Gejala respiratori, meliputi rasa tertekan /sempit di dada, rasa

tercekik, sering menarik nafas, nafas pendek atau sesak.

10) Gejala gastrointestinal, meliputi sulit menelan, mual muntah,

berat badan menurun, konstipasi/sulit BAB, gangguan

pencernaan, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan,

perasaan panas di perut, rasa penuh/kembung.


11) Gejala urogenital, meliputi sering buang air kecil, tidak dapat

menahan kencing, tidak datang bulan /haid, darah haid

berlebihan/terlalu sedikit, masa haid berkepanjangan/sangat

pendek, frigid, ejakulasi dini, ereksi melemah dan impotensi.

12) Gejala autonum, meliputi mulut kering, muka kering, mudah

berkeringat, kepala pusing/ kepala terasa berat, dan bulu roma

berdiri.

13) Tingkah laku/sikap pada saat wawancara, meliputi gelisah,

tidak tenang, jari gemetar, kening berkerut, muka tegang, otot

tegang/mengeras, nafas pendek dan cepat, dan muka merah.

h. Penatalaksanaan kecemasan

1) Penatalaksanaan Farmakologi

Pengobatan untuk anti kecemasan terutama benzodiazepine,

obat ini digunakan untuk jangka pendek, dan tidak dianjurkan

untuk jangka panjang karena pengobatan ini menyebabkan

toleransi dan ketergantungan. Obat anti kecemasan

nonbenzodiazepine, seperti buspiron (Buspar) dan berbagai

antidepresan juga digunakan (Isaacs, 2005).

2) Penatalaksanaan non farmakologi

a) Distraksi

Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan

kecemasan dengan cara mengalihkan perhatian pada hal-hal

lain sehingga pasien akan lupa terhadap cemas yang


dialami. Stimulus sensori yang menyenangkan

menyebabkan pelepasan endorfin yang bisa menghambat

stimulus cemas yang mengakibatkan lebih sedikit stimuli

cemas yang ditransmisikan ke otak (Potter & Perry, 2005).

Salah satu distraksi yang paling efektif adalah dengan

mendengarkan musik. Musik bermanfaat untuk membuat

seseorang menjadi relaks, menimbulkan rasa aman dan

sejahtera, melepaskan rasa gembira dan sedih, menurunkan

tingkat kecemasan pasien pra operasi dan melepaskan rasa

sakit dan menurunkan tingkat stress (Musbikin 2009).

b) Relaksasi

Terapi relaksasi yang dilakukan dapat berupa relaksasi,

meditasi, relaksasi imajinasi dan visualisasi serta relaksasi

progresif (Isaacs, 2005).

3. Terapi Musik (Self-Selected Individual Music Therapy)

a. Pengertian Terapi Musik

Terapi musik adalah suatu proses yang menggabungkan

antara aspek penyembuhan musik itu sendiri dengan kondisi dan

situasi; fisik /tubuh, emosi, mental, spiritual, kognitif dan

kebutuhan sosial seseorang. Terapi musik adalah metode

penyembuhan dengan musik melalui energi yang dihasilkan dari

musik itu sendiri (Natalina, 2013).


Terapi musik adalah proses yang dapat mempengaruhi

kondisi seseorang baik fisik maupun mental. Musik memberikan

rangsangan pertumbuhan fungsi-fungsi otak seperti fungsi belajar,

ingatan, berbicara, mendengar dan fungsi kesadaran (Satiadarma,

2004).

Jadi terapi musik merupakan suatu bentuk pemberian

intervensi yang bertujuan untuk memberikan efek relaksasi kepada

subyek.

b. Jenis Terapi Musik

Menurut Natalina (2013), Terapi musik terdiri dari dua

jenis yaitu:

1) Aktif-Kreatif

Terapi musik diterapkan dengan melibatkan klien secara

langsung untuk ikut aktif dalam sebuah sesi terapi melalui cara:

menciptakan lagu (composing) yaitu klien diajak untuk

menciptakan lagu sederhana ataupun membuat lirik atau terapis

yang akan melengkapi secara harmoni; improvisasi yaitu klien

membuat musik secara spontan dengan menyanyi ataupun

bermain musik pada saat itu juga atau membuat improvisasi

dari musik yang diberikan oleh terapis. Improvisasi dapat juga

sebagai ungkapan perasaan klien akan suasana hatinya, situasi

yang dihadapi maupun perasaan terhadap seseorang; dan re-

creating musik yaitu klien menyanyi dan akan melatih


pernafasan, pengucapan kata-kata yang teratur, artikulasi dan

juga melatih lafal bicara dengan jelas. Lirik lagu yang sesuai

juga dapat menjadi bahan diskusi yang mengungkapakan

perasaan klien.

2) Pasif-Reseptif

Pada sesi reseptif : klien akan mendapatkan terapi dengan

mendengarkan musik. Terapi ini akan menekankan pada

physical, emotional intellectual, aesthetic or spiritual dari

musik itu sendiri sehingga klien akan merasakan ketenangan

atau relaksasi. Musik yang digunakan dapat bermacam jenis

dan gaya tergantung dengan kondisi yang dihadapi klien.

Menurut Aditya (2012), jenis terapi musik antara lain :

musik instrumental dan musik klasik.

1) Musik instrumental

Bermanfaat menjadikan badan, pikiran dan mental menjadi

lebih sehat.

2) Musik klasik

Bermanfaat untuk membuat seseorang menjadi relaks,

menimbulkan rasa aman dan sejahtera, melepaskan rasa

gembira dan sedih, menurunkan tingkat kecemasan pasien pra

operasi dan melepaskan rasa sakit dan menurunkan stress.

Musik klasik lahir sekitar tahun 500 Masehi sampai dengan

abad ke-21. Kata “klasik” sebenarnya berarti “mempunyai nilai


atau mutu yang diakui secara luas, dan menjadi tolak ukur

kesempurnaan yang tertinggi”. Namun demikian, sebagian

orang menganggap musik yang sulit dipahami adalah musik

klasik. Musik klasik dikelompokkan menurut zamannya, yaitu :

Medieval, Renaissance, Baroque, Classical, Romantic, dan

Modern atau Contemporary (Grimonia 2014).

c. Metode Terapi Musik

Menurut Natalina (2013), Penggunaan metode terapi musik

secara aktif-kreatif lebih efektif dalam proses penyembuhan.

Memberi dampak yang besar pada pasien karena terdapat faktor-

faktor yang mempengaruhi motorik, emosional, kognitif, sosial dan

pembentukan kepribadian.

1) Motorik, terapi musik aktif menggerakkan tubuh pasien, mulai

dari yang sederhana seperti menganggukkan kepala, bertepuk

tangan sampai menggerakkan seluruh tubuh atau menari

mengikuti irama musik. Hal ini terjadi proses perengangan otot

motorik klien yang mengaktifkan syaraf.

2) Emosional, terapi musik mempengaruhi perasaan klien yang

berakibat pada perubahan hormon.

3) Kognitif, agar bisa mengerti suatu lagu diperlukan pemahaman

akan lagu tersebut. Hal ini bisa dilihat dari lirik lagu dan irama

lagu. Secara tidak langsung akan dituntut memahami lagu


secara menyeluruh sehingga dapat mengungkapkan

perasaannya melalui lagu tersebut.

4) Sosial, terjadi hubungan saling percaya antara terapis dank lien

melalui komunikasi langsung maupun komunikasi lewat lagu.

d. Manfaat Terapi Musik

Menurut Natalina (2013) Terapi musik merupakan

pengobatan secara holistik yang langsung menuju pada simptom

penyakit. Terapi ini akan berhasil jika ada kerjasama antara klien

dengan terapisnya. Proses penyembuhan sepenuhnya tergantung

pada kondisi klien, apakah seseorang benar-benar siap menerima

proses secara keseluruhan. Terapi musik memiliki beberapa

manfaat, yaitu:

1) Musik pada kesehatan, yaitu : menurunkan tekanan darah

melalui ritmik musik yang stabil memberi irama teratur pada

sistem kerja jantung, menstimulasi kerja otak, mendengarkan

musik dengan harmoni yang baik akan menstimulasikan otak

untuk melakukan proses analisa terhadap lagu itu,

meningkatkan imunitas tubuh, suasana yang ditimbulkan oleh

musik akan mempengaruhi sistem kerja hormon manusia. Jika

mendengar musik yang baik atau positif maka hormon yang

meningkatkan imunitas tubuh juga akan berproduksi, memberi

keseimbangan pada detak jantung dan denyut nadi.


2) Musik meningkatkan kecerdasan, yaitu daya ingat yaitu

menyanyi dengan menghafalkan lirik lagu, akan melatih daya

ingat, konsentrasi pada saat terlibat dalam bermusik (menyanyi,

bermain instrument) akan menyebabkan otak bekerja secara

terfokus, emosional, musik mampu memberi pengaruh secara

emosional terhadap makhluk hidup, musik meningkatkan kerja

otot, mengaktifkan motorik kasar dan halus, musik

meningkatkan produktifitas, kreatifitas dan imajinasi, musik

menyeabkan tubuh menghasilkan hormon beta-endorfin. Ketika

mendengar suara kita sendiri yang indah maka homon

„kebahagiaan‟ (beta-endorfin) akan berproduksi, musia

membentuk sikap seseorang seperti meningkatkan suasana hati.

Karakter seseorang dapat terbentuk melalui musik, rangkaian

nada yang indah akan membangkitkan perasaan bahagia atau

semangat positif, musik mengembangkan kemampuan

berkomunikasi dan sosialisasi, bermusik akan menciptakan

sosialisasi karena dalam bermusik dibutuhkan komunikasi.

Terapi musik juga dapat membantu semua bentuk

pertumbuhan klien baik secara mental maupun fisik, membantu

membangun kemampuan sosial, dapat menciptakan harga diri yang

besar, menjadi kreatif dalam bidang artistik dapat memberikan efek

mendalam untuk meningkatkan ekspresi diri sendiri,

menstimulasikan gerakan dan mengembangkan kemampuan


koordinasi fisik serta pengendaliannya, dan dapat membantu

kesejahteraan emosional dan kesehatan (Sheppard, 2007).

Musik digunakan untuk menjaga atau meningkatkan tingkat

keadaan fisik, mental, spiritual serta fungsi sosial atau emosional

klien. Dengan menggunakan pendekatan yang terencana dan

sistematis terhadap penggunaan musik dan akitivitas musik,

penanganan dengan terapi musik untuk jiwa, tubuh dan roh

memungkinkan terjadinya seperti: Pengurangan kegelisahan dan

stress, pengendalian rasa sakit dan ketidaknyamanan dengan tanpa

obat, perubahan positif dalam perasaan dan keadaan emosional,

partisipasi aktif dan positif klien dalam perawatan,

mengembangkan keterampilan menangani masalah dan

berelaksasi, memenuhi kebutuhan fisik dan spiritual yang

kompleks dari mereka yang sekarat, relaksasi bagi seluruh

keluarga, meningkatkan makna watu yang digunakan bersama

secara positif dan kreatif (Young & Koopsen, 2007).

Warna dan musik memancarkan frekuensi energi murni.

Menggunakan unsur energi ini untuk penyembuhan serta

penumbuhan kesadaran spiritual. Selain itu, warna dan musik dapat

juga untuk menyingkirkan penghalang dalam diri seseorang, agar

energi alam leluasa melakukanpenyembuhan (Bassano, 2009).

e. Penerapan Terapi Musik


Menurut Natalina (2013), Dalam melakukan terapi musik

dilakukan langkah-langkah, yaitu : pengkajian – melakukan

observasi (pendataan klien) : dari usia klien, jenis kelamin, latar

belakang kondisi kesehatan klien, rancangan terapi : menentukan

jenis musik yang sesuai, membangun komunikasi antara terapis

dan klien, membangun kesadaran diri dan pemberdayaan,

implementasi dan tahap terakhir mengevaluasi klien. Bicara

tentang terapi musik, akses mendengarkan musik dapat melalui :

radio, kaset, video, televisi, pertunjukkan langsung, konser,

kelompok komunitas (Djohan, 2006).

f. Respon Fisiologis Terhadap Musik

Jenis musik yang dimainkan (seperti musik yang

menenangkan) dapat menentukan perubahan fisiologis. Musik

yang menenangkan dapat mengubah persepsi seseorang tentang

waktu dan dapat menghasilkan respon hipometabolis yang mirip

dengan respon relaksasi yang mengubah sistem autonimik,

kekebalan, endokrin (Young & Koopsen, 2007).

Dengan metabolisme yang baik, tubuh akan mampu

membangun sistem kekebalan tubuh yang baik, dengan sistem

kekebalan yang baik tubuh menjadi lebih tangguh terhadap

kemungkinan serangan penyakit. Musik dapat meningkatkan

serotinin dan pertumbuhan hormon yang sama baiknya dengan

menurunkan hormon Ardenal Corticotropin Hormon (ATCH).


Pemberian terapi musik membuat seseorang menjadi rileks,

menimbulkan rasa aman, sejahtera, melepaskan rasa gembira dan

sedih, menurunkan rasa sakit dan juga menurunkan tingkat stress.

Hal ini terjadi karena adanya penurunan ACTH yang merupakan

hormon stress (Satiadarma, 2007).

g. Self-Selected Individual Music Therapy (SeLIMuT)

1) Pengertian

SeLIMuT adalah prosedur pemberian terapi musik yang

mengkombinasikan antara mendengarkan musik pilihan pasien

dengan latihan nafas dalam dan berdo‟a dengan cara yang

mudah, murah, serta efektif dan pasien dapat memilih sendiri

jenis musik yang disukai.

SeLIMuT dapat diterapkan pada pasien yang memiliki

kesadaran penuh dan tidak dalam keadaan darurat. Pasien

mendengarkan musik menggunakan MP3, MP4, telepon

genggam ataupun ipod baik rekaman maupun langsung dan

headphone yang dipasang pada telingga pasien (Hertanti et al.,

2013).

Peneliti memodifikasi lama durasi terapi musik karena dari

hasil evaluasi penelitian Boothy dan Robbins (2011)

didapatkan pemberian terapi musik lebih dari 20 menit terasa

membosankan bagi pasien, sehingga pelaksanaan SeLIMuT

akan diberikan selama 15-20 menit. Selain itu, durasi terapi


musik yang efektif adalah kurang dari 30 menit karena akan

terjadi penurunan level hormon kortisol yang secara signifikan

lebih rendah dibanding mendengarkan musik selama 30 menit

(Boothy & Robbins, 2011). Pada penelitian yang dilakukan

Yates dan Silverman (2015) durasi terapi musik juga 20 menit

dan terbukti mampu menurunkan simtom depresi pada pasien

kanker post-operasi.

2) Jenis musik yang dapat dipilih

Elemen musik terdiri dari lima unsur yang penting, yaitu

pitch (frekuensi), intensity (volume), timbre (warna nada),

interval dan rhytm (tempo atau durasi) (American Music

Therapy Association, 2008). Pitch yang tinggi, dengan rhytm

yang cepat dan volume yang keras akan dapat meningkatkan

ketegangan otot atau menimbulkan perasaan tidak nyaman,

sebaliknya pada pitch yang rendah dengan rhytm yang lambat

dan volume yang rendah akan menimbulkan efek rileks

(Chiang, 2012). Musik dengan frekuensi 40-60 telah Hz

terbukti menurunkan kecemasan, ketegangan otot, mengurangi

nyeri dan menimbulkan efek tenang (Arslan et al, 2007).

Menurut Nilsson (2009) karakteristik musik yang bersifat

terapi adalah musik yang nondramatis, dinamikanya bisa

diprediksi, memiliki nada yang lembut, harmonis, dan tidak


berlirik, temponya 60-80 beat per menit, dan merupakan jenis

musik pilihan klien sendiri.

Jenis musik yang digunakan dalam SeLIMuT dapat

ditentukan oleh pasien sendiri, yaitu pop, klasik, keroncong,

campursari, religi, dangdut maupun jazz. Karakter musik

memiliki kriteria musik yang slow, dengan tempo stabil, level

suara yang rendah dan soft dynamic, tekstur yang konsisten,

tidak mengandung bunyi perkusi, gentle timbre (suara atau

warna nada), legato melodies, serta progressi chord dan

harmoni yang sederhana (Hertanti et al., 2013). Musik yang

dipilih harus memberikan ketenangan bagi dirinya misal

musik-musik yang berirama rohani agar pasien merasa dekat

dengan Tuhan sehingga mampu menurunkan gejala depresi.

Banyak studi telah menunjukkan bahwa musik untuk terapi

tidak harus musik klasik (Schou, 2008; Chiang, 2012).

Penelitian Good et al., (2001) menunjukkan bahwa jenis musik

yang menjadi pilihan pasien lebih efektif menimbulkan efek

terapi. Musik yang berdasarkan minat dari pasien merupakan

faktor penting dalam pemberian terapi musik (Lingham &

Theorell, 2009). Faktor yang mempengaruhi minat terhadap

jenis musik ini dikarenakan perbedaan usia, masa, budaya,

jenis kelamin dan kebiasaan (Hamel, 2001).

3) Prosedur SeLIMuT
Dalam melaksanakan SeLIMuT ada langkah-langkah yang

harus diikuti. Berikut merupakan prosedur yang harus diikuti

dalam pelaksanaan SeLIMuT: (Widiyono et al., 2019)

a) Peneliti menyiapkan sejumlah lagu dengan bermacam-

macam jenis musik yang sesuai dengan ketentuan

SeLIMuT menggunakan aplikasi Fl. Studio Versi 12.

b) Pasien memilih jenis musik dan lagu yang telah disediakan

dalam buku menu SeLIMuT. Pemilihan jenis musik dan

lagu tersebut sesuai kesukaan pasien sendiri.

c) Peneliti menyiapkan peralatan yang diperlukan. Peralatan

tersebut yaitu MP3 Player dan headphone. Penggunaan

Headphone lebih aman dan mudah digunakan daripada

earphone, sehingga pasien lebih fokus dalam

mendengarkan musik.

d) Pasien mencari lingkungan yang tenang dan mengambil

posisi yang nyaman. Hal ini mampu meningkatkan

konsentrasi pasien untuk menikmati musik nantinya.

e) Pasien melakukan nafas dalam dan berdo‟a selama 1 menit

dengan dipandu oleh peneliti sebelum kegiatan dimulai

dengan tujuan untuk lebih meningkatkan rasa tenang dan

nyaman.
f) Pasien menghidupkan MP3 player, mengatur volume suara

senyaman mungkin, memasang headphone di telingga dan

mendengarkan musik yang telah dipilih sekitar 15 menit.

g) Pasien mematikan MP3 player setelah 15 menit

mendengarkan musik, melepas headphone.

h) Kegiatan diakhiri dengan nafas dalam dan berdo‟a selama 1

menit.

B. Kerangka Teori

Pasien Pre Operasi

Faktor yang mempengaruhi


kecemasan Hamilton Anxiety
Kecemasan Rating Scale
[Link] predisposisi: (HARS)
a) Traumatik
b) Konflik emosional Penanganan Kecemasan:
c) Konsep diri
d) Frustasi [Link]:
e) Gangguan fisik [Link]
f) Pola mekanisme [Link]
koping keluarga [Link] Farmakologi:
g) Riwayat gangguan [Link]
kecemasan [Link] Musik
h) Medikasi
1) Self selected individual music
[Link] presipitasi therapy (SeLIMuT)
a) Ancaman terhadap 2) Musik Klasik
integritas fisik 3) Musik Instrumental
b) Ancaman terhadap
harga diri
Tingkat kecemasan:
1) Tidak ada kecemasan
2) Kecemasan ringan
3) Kecemasan sedang
4) Kecemasan berat
5) Kecemasan sangat berat
Skema 2.1 Kerangka Teori
Sumber: Long B. C., (2001); Isaacs., (2005); Suliswati.,(2005); Musbikin.,(2009)
Potter & Perry., (2007); Widiyono., Setiyarini, S., Effendy, C. (2019).

Keterangan :

: Area yang tidak diteliti


: Area yang diteliti

C. Kerangka Konsep

Berdasarkan tujuan penelitian diatas, kerangka konsep dari pengaruh

pemberian Self-selected Individual Music Therapy (SeLIMuT) terhadap

tingkat kecemasan pasien pre operasi di Bangsal Bedah RSUD Agats,

Kabupaten Asmat diuraikan sebagai berikut :

Variabel bebas Variabel terikat

Self Selected Individual kecemasan


Music Therapy

Skema 2.2 Kerangka konsep

D. Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini yaitu terdapat pengaruh pemberian Self-

selected Individual Music Therapy (SeLIMuT) terhadap tingkat kecemasan

pasien pre operasi di Bangsal Bedah RSUD Agats, Kabupaten Asmat.

Anda mungkin juga menyukai