LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN
MASALAH KEPERAWATAN RISIKO BUNUH DIRI
Oleh:
NOVITA SARI
PROGRAM PROFESI KEPERAWATAN NON REGULER
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUMBER WARAS
JAKARTA
TAHUN 2025
I. KASUS (MASALAH UTAMA)
Risiko Bunuh Diri
II. PROSES TERJADINYA MASALAH
A. Pengertian Risiko Bunuh Diri
Resiko bunuh diri merupakan tindakan melukai diri sendiri dengan sengaja
untuk mengakhiri hidupnya. Orang dengan gangguan jiwa memiliki resiko lebih
tinggi dalam percobaan bunuh diri karena individu lebih sering berperilaku impulsif
dan agresif dan dirinya sendiri (Yasa, 2022). Resiko bunuh diri merupakan suatu
tindakan beresiko yang ditimbulkan oleh klien itu sendiri, tindakan mengancam
jiwa. Tindakan ini di dukung oleh data subjektif : klien mengatakan ingin bunuh diri,
merasa tidak berguna dan bermanfaat sedangkan data objektif : adanya riwayat
keluarga yang melakukan bunuh diri, klien pernah melakukan percobaan bunuh diri,
klien berusaha bunuh diri dengan benda tajam atau racun (Purbaningsih, 2019).
Percobaan bunuh diri merupakan salah satu kegawatdaruratan psikiatri, kata
bunuh diri berasal dari dari kata suicidere merupakan bahasa latin, sui memiliki arti
diri dan caedere (membunuh) (Wuryaningsih et al, 2018). Bunuh diri adalah sebuah
tindakan yang dilakukan dengan sadar oleh seseorang untuk mengakhiri hidupnya,
ada beberapa tingkatan dalam bunuh diri yaitu (Wuryaningsih et al, 2018):
• Ide bunuh diri (suicidal ideation): suatu gagasan, pikiran, fantasi untuk
membunuh dirinya sendiri yang diberitahukan kepada orang lain secara verbal,
tulisan, atau pekerjaan seni.
• Niat bunuh diri (suicide intent): sebuah komitmen dan keinginan pasien untuk
meninggal dengan cara membunuh dirinya sendiri.
• Rencana bunuh diri (suicide plan): strategi, menetapkan waktu, sarana dan
prasarana untuk melaksanakan tindakan membunuh dirinya sendiri.
• Ancaman bunuh diri (suicide threats): sebuah ungkapan baik langsung maupun
tulisan untuk melakukan tindakan bunuh diri akan tetapi pada ahirnya tidak
melakukannya.
B. Rentang Respon Risiko Bunuh Diri
Respon Adaptif Respon Maladaptif
Peningkatan Berisiko Destruktif Pencederaan Bunuh
Diri Destruktif diri tidak Diri Diri
langsung
1. Peningkatan Diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar
terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri.
2. Beresiko Destruktif
Seseorang mememiliki kecendurungan atau berisiko mengalami perilaku
desktruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat
mempertahankan diri.
3. Destruktif Diri Tidak Langsung
Seseorang mengambil sikap kurang tepat atau maladaptive terhadap situasi yang
membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri
4. Pencederaan Diri
Resiko bunuh diri, melakukan percobaan bunuh diri akibat hilangnya harapan
terhadap situasi yang ada.
5. Bunuh Diri
Seseorang telah melakukan tindakan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang.
C. Faktor Predisposisi Dan Presipitasi
Faktor Predisposisi merupakan factor pendukung yang menunjang terjadinya
gangguan jiwa pada klien (Dewi & Erna, 2021).
Faktor Presipitasi adalah factor pencetus klien dalam melakukann bunuh diri atau
beresiko melakukan bunuh diri. Kedua factor ini meliputi psiko-bio-spiritual
(Dewi & Erna, 2021).
Adapun penjelasan terkait factor penyebab risiko bunuh diri menurut (Muhajir &
Damayanti, 2016) :
a) Faktor Predisposisi
1. Diagnosis Psikiatri
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh
diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat
membuat individu berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah
gangguan efektif, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
2. Sifat kepribadian
Tiga tipe keperibadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko bunuh
diri adalah antipati, impulsif, dan depresi.
3. Lingkungan psikososial
Pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian-kejadian
negatif dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan dan bahkan perceraian.
Kekuatan dukungan sosial sangat penting dalam menciptakan intervensi yang
terapeutik, dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab maslah, respon
seorang dalam menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
4. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor penting
yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri.
5. Faktor Biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi
peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak seperti serotonim,
adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat dilihat melalui
rekaman gelombang otak Electro Encephalo Graph (EEG).
b) Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stres yang berlebihan yang dialami
oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang memalukan.
Faktur lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau membaca melalui
medaia mengenai orang yang melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh
diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal tersebut menjadi sangat rentan.
D. Tanda Dan Gejala Risiko Bunuh Diri
1. Mempunyai ide untuk bunuh diri
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati
3. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
4. Impulsif
5. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).
6. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
7. Verbal terselubung : berbicara tentang kematian, menayakan tentang obat dosis
mematikan
8. Status emosional : harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah dan
mengasingkan diri
9. Kesehatan mental : secara klinis, klien terlihat sebagai orang depresi, psikosis
dan menyalagunakan narkoba.
10. Kesehatan fisik : biasanya pada klien dengan penyakit kronik atau terminal)
11. Konflik interpersonal
12. Latar belakang keluarga kurang harmonis menyebabkan klien depresi
13. Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil
E. Faktor Resiko Bunuh Diri
1. Perilaku
Membeli senjata, mengubah surat warisan, memberikan harta milik/
kepemilikan, riwayat upaya bunuh diri sebelumnya, impulsif, membuat surat
warisan, perubahan sikap yang nyata, perubahan perilaku yang nyata, perubahan
performa/ kinerja disekolah secara nyata, membeli obat dalam jumlah banyak,
pemulihan euforik yang tiba-tiba dari depresi mayor.
2. Demografi
Usia (misal, lansia, pria dewasa muda, remaja), perceraian, jenis kelamin, ras
(misal, orang kulit putih, suku asli amerika), janda/ duda.
3. Fisik Nyeri kronik, penyakit fisik, penyakit terminal
4. Psikologis
Penganiayaan masa kanak-kanak, riwayat bunuh diri dalam keluarga, rasa
bersalah, remaja homoseksual, gangguan psikiatrik, penyakit psikiatrik,
penyalahgunaan zat.
5. Situasional
Akses pada senjata, institusionalisasi, kehilangan autonomi, kehilangan
kemandirian, ketidakstabilan ekonomi, pensiun, relokasi, remaja yang tinggal di
tatanan non-tradisional (mis. pusat rehabilitasi anak, penjara, rumah singgah,
rumah grup/kelompok), tinggal sendiri
6. Social Berduka
Bunuh diri massal/berkelompok, gangguan kehidupan keluarga, isolasi sosial,
kehilangan hubungan yang penting, kesepian, kurang dukungan sosial, masalah
disiplin, masalah hukum, putus asa, tidak berdaya.
7. Verbal: Menyatakan keinginan bunuh diri dan mengancam bunuh diri
III. POHON MASALAH
effect
Percobaan Bunuh Diri
Core Risiko Bunuh Diri
problem
causa
Harga Diri Rendah
Data yang perlu dikaji :
1. Harga diri rendah
• DS:
Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
• DO :
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencederai diri atau ingin mengakhiri hidup.
2. Risiko Bunuh Diri
• DS :
Klien mengungkapkan keinginan untuk bunuh diri, keinginan untuk mati, klien
mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan, memiliki riwayat percobaan
bunuh diri, klien berbicara tentang kematian dan konflik yang tengah
dihadapinya, klien mengungkapkan ketidakberdayaan.
• DO :
Klien nampak gelisah, impulsive, klien dengan riwayat penyakit jiwa (depresi,
anxiety, penyalahgunaan obat-obatan dan alcohol), klien dengan kehidupan
penuh konflik, klien memiliki luka besas percobaan bunuh diri (self harm).
Hasil Suicidal Intention Rating Scale (SIRS) menunjukkan resiko tinggi bunh diri
Suicidal Intention Rating Scale (SIRS)
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
SP RISIKO BUNUH DIRI
Pertemuan 1 Keperawatan Jiwa
Tanggal
Pertemuan :
Hari/ Tanggal :
Nama Klien (Inisial) :
Ruangan :
A. Proses Keperawatan
a. Kondisi Klien :
DS :
- Klien mengatakan ada yang menyuruh bunuh diri
- Klien mengatakan lebih baik mati saja
- Klien mengatakan sudah bosan hidup DO :
- Ekspresi murung
- Tidak bergairah
b. Diagnosa Keperawatan : Risiko Bunuh Diri
c. Tujuan Khusus :
a Pasien dapat mengidentifikasi beratnya masalah risiko bunuh diri b Pasien dapat
mengidentifikasi benda-benda berbahaya dan mengamankannya c Pasien dapat
menyebutkan latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri d Pasien
dapat membuat daftar aspek positif diri sendiri
e Pasien dapat melakukan latihan afirmasi (berpikir aspek positif yang dimiliki) 5 kali
per hari
d. Tindakan Keperawatan :
a Identifikasi Beratnya Masalah Risiko Bunuh Diri (Isyarat Ancaman), Percobaan
Bunuh
Diri
b Identifikasi Benda-Benda Berbahaya Dan Mengamankannya (Lingkungan Aman
Untuk
Pasien)
c Dorong Klien Dengan Cara Latihan Mengendalikan Diri Dari Dorongan Bunuh Diri
d Dorong Klien Untuk Membuat Daftar Aspek Positif Diri Sendiri, Latihan Afirmasi/
Berpikir Aspek Positif Yang Dimiliki
e Dorong Klien Untuk Latihan Afirmasi Positif 5 Kali Per Hari
B. Strategi Komunikasi
a. Orientasi
a Salam terapeutik :
“ Assalamu’alaikum, selamat pagi Bapak. Perkenalkan nama saya perawat Nurul
Humayroh. Saya mahasiswi praktek dari Universitas Esa Unggul. Nama Bapak
siapa?
Senang dipanggil apa Pak? ”
b Evaluasi/validasi :
“ Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana dengan tidur Bapak semalam? ”
c Kontrak (topik, waktu dan tempat) :
“ Tujuan saya hari ini adalah kita akan berbincang-bincang tentang cara berpikir
positif tentang diri sendiri dan menghargai diri sebagai individu yang berharga.
Tujuannya agar Bapak lebih berpikir positif terhadap diri Bapak sendiri, dan Bapak
lebih menghargai diri sendiri. Bagaimana kalau kita berbincang-bincang di taman,
Apa Bapak mau?
Berapa lama kita akan berbicara? Bagaimana kalau 15 menit? Apakah Bapak setuju?
”
d Tujuan :
a. Mengidentifikasi beratnya masalah risiko bunuh diri (isyarat ancaman),
percobaan bunuh diri
b. Mengidentifikasi benda-benda berbahaya dan mengamankannya (lingkungan
aman untuk pasien)
c. Mendorong klien dengan cara latihan mengendalikan diri dari dorongan bunuh
diri
d. Mendorong klien untuk membuat daftar aspek positif diri sendiri, latihan
afirmasi/ berpikir aspek positif yang dimiliki
e. Mendorong klien untuk latihan afirmasi positif 5 kali per hari
b. Kerja (menjabarkan langkah-langkah tindakan keperawatan secara operasional)
“Apa yang Bapak tidak sukai dari anggota tubuh bapak? Bisa Bapak jelaskan alasan
Bapak tidak suka dengan bagian anggota tubuh tersebut? Jadi kalau Bapak merasa
anggota tubuh tersebut tidak Bapak sukai, cobalah dari sekarang Bapak mulai mencoba
menyukainya, contoh: Bapak bisa menulis dengan teknik yang berbeda, lihat Pak
seperti saya. Coba
Bapak lakukan seperti saya tadi, ya begitu Pak…..bagus….”
c. Terminasi
a Evaluasi (respon klien terhadap tindakan keperawatan) 1) Evaluasi Subyektif :
“ Bagaimana perasaan Bapak setelah apa yang kita bicarakan tadi? Saya senang
jika Bapak mulai sekarang mencoba menyukai anggota tubuh Bapak yang Bapak anggap tidak
suka ”
2) Evaluasi Obyektif :
“ Nah sekarang coba Bapak lakukan kembali apa yang sudah kita bicarakan tadi,
dan teknik cara menulis dan berpikir . Iya bagus Pak, Bapak luar biasa ”
b. Rencana tindak lanjut (yang perlu dilatih klien sesuai hasil tindakan yang dilakukan)
“ Bapak, selama kita tidak bertemu, Bapak bisa melakukan teknik menulis dan
berpikir aspek positif yang seperti saya ajarkan tadi ”
c. Kontrak yang akan datang (topik, waktu dan tempat)
“ Baiklah sekarang Bapak saya tinggal dulu, kapan bisa bertemu lagi Pak?
Bagaimana kalau besok? Baiklah besok kita akan membahas tentang berpikir positif
keluarga dan lingkungan dengan cara membuat daftar aspek positif keluarga dan
lingkungan, Mau dimana kita berbicara Pak? Bagaimana kalau di taman lagi Pak?
Mau jam berapa Pak? Bagaimana kalau jam 10.00 pagi Pak? Baik besok kita bertemu
lagi di taman jam 10.00 pagi ya Pak? Apakah Bapak setuju? Baiklah Pak selamat
beristirahat.
IV. Diagnosa Keperawatan
1. Harga Diri Rendah
2. Risiko Bunuh Diri
V. Rencana Keperawatan
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI
Nama Klien : Diagnosis Medis : Ruangan : No. RM :
Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi Rasional
TUM : 1. Setelah 1 kali interaksi klien Bina hubungan saling percaya dengan
1. Klien tidak akan menunjukkan tanda-tanda percaya menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
membahayakan kepada perawat : ▪ Sapa klien dengan ramah baik verbal
dirinya sendiri ▪ Ekspresi wajah bersahabat. dan non verbal.
secara fisik ▪ Menunjukkan rasa senang. ▪ Perkenalkan nama, nama panggilan dan
▪ Ada kontak mata. tujuan perawat berkenalan. ▪ Bila sudah terbina hubungan
TUK :
▪ Mau berjabat tangan. ▪ Tanyakan nama lengkap dan nama saling percaya diharapkan klien
1. Klien dapat membina
▪ Mau menyebutkan nama. panggilan yang disukai klien. dapat koopertif, sehingga
hubungan saling
▪ Mau menjawab salam. ▪ Buat kontrak yang jelas. pelaksanaan asuhan keperawatan
percaya.
▪ Mau duduk berdampingan ▪ Tunjukkan sikap jujur. dan menepati dapat berjalan dengan baik.
dengan perawat. janji setiap kali interaksi.
▪ Bersedia mengungkapkan ▪ Tunjukkan sikap empati dan menerima
apa adanya.
masalah yang dihadapi.
▪ Beri perhatian pada klien dan
perhatikan kebutuhan dasar klien.
▪ Tanyakan perasaan klien dan masalah
yang dihadapi klien.
▪ Dengarkan dengan penuh perhatian
ekspresi perasaan klien.
2. Klien tidak akan • Klien dapat mengurangi ancaman ▪ Observasi dengan ketat ▪ Prioritas tertinggi yang diberikan
melakukan aktivitas terhadap integritas fisik atau ▪ Pindahkan benda yang berbahaya pada aktivitas penyelamatan
sistem diri klien ▪ Siapkan lingkungan yang aman hidup pasien
▪ Berikan kebutuhan fisiologik dasar
Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi Rasional
yang mencederakan dalam sifat, jumlah, asal, atau ▪ Kontrak untuk keamanan jika tepat ▪ Perilaku pasien harus diawasi
dirinya waktu ▪ Pantau pengobatan sampai kendali diri memadai
untuk keamanan
3. Klien akan • Klien dapat menyebutkan ▪ Identifikasi kekuatan-kekuatan klien Ajak Perilaku bunuh diri mencerminkan
mengidentifikasikan aspek positif yg dimiliki klien, ▪ klien untuk berperan serta dalam aktivitas depresi yang mendasar dan terkait
aspek-aspek positif keluarga, lingkungan serta yag disukai dan dapt dengan harga diri rendah serta
yang ada pada dirinya kemampuan yang dimiliki dilakukannya kemarahan terhadap diri sendiri
klien ▪ Dukung kebersihan diri dan keinginan
untuk berhias
▪ Tingkatkan hubungan interpersonal yang
sehat
4. Klien akan • Klien dapat menyebutkan dan ▪ Permudah kesadaran, penamaan, dan Mekanisme koping maladaptif harus
mengimplementasikan mengimplementasikan dua ekspresi perasaan diganti dengan yang sehat untuk
dua respons protektif mekanisme koping adaptif ▪ Bantu pasien mengenal mekanisme mengatasi stres dan ansietas
diri yang adaptif yang efektif bagi diri sendiri koping yang tidak sehat
guna mencegah perilaku ▪ Identifikasi alternatif cara koping
mencederai diri sendiri secara ▪ Beri imbalan untuk perilaku koping yang
fisik sehat
5. Klien akan • Klien dapat menyebutkan dua ▪ Bantu orang terdekat untuk Isolasi sosial menyebabkan harga
mengidentifikasi dua sumber dukungan sosial yang berkomunkasi secara konstruktif dengan diri rendah dan depresi,
sumber dukungan bermanfaat guna mencegah klien mencetuskan perilaku destruktif
sosial yang perilaku mencederai diri ▪ Tingkatkan hubungan keluarga yang terhadap diri sendiri
bermanfaat sendiri sehat
▪ Identifikasi sumber komunitas yang
relevan
▪ Prakarsai rujukan untuk menggunakan
sumber komunitas
Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi Rasional
6. Klien akan mampu • Klien dapat menggunakan ▪ Libatkan klien dan orang terdekat dalam Pemahaman dan peran serta dalam
menguraikan rencana obat dengan benar baik perencanaan asuhan perencanaan pelayanan kesehatan
pengobatan dan jumlah, jenis, waktu dan ▪ Jelaskan karakteristik dari kebutuhan meningkatkan kepatuhan
rasionalnya dosis obat, serta manfaatnya pelayanan yang telah diidentifikasi,
• Obat diminum sesuai aturan. diagnosis medik, dan rekomendasi
tindakan dan medikasi
• Klien mengungkapkan
perasaanya selama minum ▪ Dapatkan respons terhadap rencana
asuhan keperawatan
obat.
▪ Modifikasi rencana berdasarkan umpa
balik pasien
DAFTAR PUSTAKA
Cahyani, E., & Fitriani, D. R. (2017). Analisis Praktek Klinik Keperawatan Jiwa pada
Klien Resiko Bunuh Diri dengan Intervensi Inovasi Terapi Kognitif terhadap
Perubahan Gejala Bunuh Diri di Ruang Tiung Rumah Sakit Jiwa Daerah Atma
Husada Mahakam Samarinda.
Dewi, I., & Erna, E. (2020). Asuhan Keperawatan Jiwa pada Klien Skizofrenia dengan
Risiko Bunuh Diri. Jurnal Keperawatan Jiwa, 8, 211-216.
Fitriani, D. R. (2017). Analisa Praktik Klinik Keperawatan Jiwa pada Klien Resiko
Bunuh Diri dengan Intervensi Inovasi Guided Imageryterhadap Gejala Resiko
Bunuh Diri di Ruang Punai RSJD Atma Husada Samarinda Tahun 2017.
Hakimah, N., Nurmaguphita, D., & Mamnu’ah, S. (2021). Intervensi Penanganan
Bunuh Diri pada Pasien Skizofrenia: Literature Review.
Muhajir, M., & Damayanti, M. (2016). Analisis Praktik Klinik Keperawatan Jiwa Pada
Pasien Resiko Bunuh Diri Dengan Pemberian Terapi Pendekatan Spritual terhadap
Penurunan Keinginan Bunuh Diri Di Ruang Elang Rsjd Atma Husada Mahakam
Samarinda.
Purbaningsih, E. S. (2019). Asuhan keperawatan pada pasien depresi dan resiko bunuh
diri. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 4(8), 60-68.
Wuryaningsih, Emi. Windarwati, Heni, Dewi, Erni, Deviantony, Fitrio. Kurniyawan
Enggal. (2018). Buku Ajar Keperawatan kesehatan jiwa 1. UNEJ PRESS. ISBN:
978-602-5617-89-8
Yasa, I. (2022). Asuhan Keperawatan Risiko Bunuh Diri Pada Pasien Skizofrenia Di
Wilayah Puskesmas 1 Denpasar Barat (Doctoral Dissertation, Poltekkes Kemenkes
Denpasar Jurusan Keperawatan 2022).