Pengembangan Desa Wisata Klaster Bandung
Pengembangan Desa Wisata Klaster Bandung
Abstract. Bandung Regency has a fairly diverse village potential with its natural and cultural
wealth. This potential can be developed through the establishment of a tourist village. In this
study, data grouping from tourism components, namely Attraction, Accessibility, Amenities,
Ancillary Services, Activity, and Accommodation through the Two Step Cluster method was
carried out. The results show that the maximum number that can be formed in the first step is
8 due to the smallest BIC value compared to others and the second step, testing the most
significant value for the distance measurement ratio generated from clusters 2 and 6 with a
value of 1.431 (R2) and 1.46 ( R6). The ratio of R2/R6 is 0.98 which is less than 1.15. For this
reason, one of the distance ratios chosen is 1.46 so that the optimal number of clusters is 6. Of
the total villages in Bandung Regency as many as 280 villages, as many as 84 villages came
from cluster 1, 32 villages came from cluster 2, 38 villages came from cluster 3, 43 villages
come from cluster 4, 48 villages come from cluster 5, and 35 villages come from cluster 6.
Each cluster that is formed is made a strategy for the development of tourist villages.
Abstrak. Kabupaten Bandung mempunyai potensi desa yang cukup beragam dengan
kekayaan alam dan budayanya. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui pembentukan
desa wisata. Dalam penelitian ini dilakukan pengelompokkan data dari komponen-
komponen pariwisata yaitu Attraction, Accessbility, Amenities, Ancillary Services, Activity,
dan Accomodation melalui metode Two Step Cluster. Hasil penelitian memperlihatkan
bahwa jumlah maksimum yang bisa dibentuk pada langkah pertama adalah 8 dikarenakan
nilai BIC terkecil dibandingkan lainnya dan langkah kedua, pengujian nilai paling signifikan
untuk rasio pengukuran jarak yang dihasilkan dari klaster 2 dan 6 dengan nilai 1,431 (R2) dan
1,46 (R6). Rasio R2/R6 adalah 0,98 yang kurang dari 1,15. Untuk itu, salah satu rasio
ukuran jarak yang dipilih sebesar 1.46 sehingga jumlah optimal klaster adalah 6. Dari
keseluruhan desa yang berada di Kabupaten Bandung sebanyak 280 desa, sebanyak 84 desa
berasal dari klaster 1, 32 desa berasal dari klaster 2, 38 desa berasal dari klaster 3, 43 desa
berasal dari klaster 4, 48 desa berasal dari klaster 5, dan 35 desa berasal dari klaster 6.
Masing-masing klaster yang terbentuk disusun strategi untuk pengembangan desa wisata.
This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use,
distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. ©2021 by author.
Pendahuluan
Pariwisata adalah aset pemasukan yang lumayan signifikan untuk ,odal pembangunan di
Indonesia dan sumber pendapatan negara (Mariam & Susyanti, 2019). Namun, seiring pembangunan
yang kini sedang berlangsung, Indonesia dan negara-negara di dunia sedang mengalami pandemi Covid-
19 sehingga pembangunan menjadi terhambat. Larangan perjalanan diberlakukan, penutupan tempat yang
menjadi kerumunan orang banyak, penutupan tempat fasilitas umum (bandara, terminal, pelabuhan,
tempat wisata, dsb), serta pembatasan lainnya. Perjalanan menuju tempat-tempat wisata tidak luput
terkena pembatasan ini dan terhenti secara global terutama untuk memutus mata rantai penyebaran virus
Covid 19 (Chinazzi et [Link] et al., 2020). Pembatasan ini mengakibatkan krisis ekonomi global dan
52
Indonesian Journal of Economics, Entrepreneurship and Innovation Vol.2, No.2, September 2021
berdampak pada semua sector. Beberapa kegiatan pariwisata telah dibatalkan atau ditunda sementara.
Selain itu juga, bagian-bagian sektor pariwisata diantaranya pameran budaya, wisata alam dan bahari,
dan Ola raga menjadi perhatian khusus yaitu perencanaan yang matang untuk memulihkan kembali
potensi desa yang ada.
Menurut Cooper menyatakan bahwa untuk mengembangkan suatu daerah wisata tersebut harus
didukung oleh 4 (empat) komponen utama dalam pariwisata atau biasanya dikenal dengan istilah “4A”
yang harus dimiliki oleh sebuah daya tarik wisata, yaitu: Attraction, Accessbility, Amenities, dan
Ancillary (Suwena et al., 2010). Selain itu, menurut Hadiwijoyo (2012) komponen yang harus ada adalah
Attraction dan Accomodation. Buhalis menambahkan bahwa komponen Activity dapat ditambahkan
sebagai potensi desa wisatasehingga didapatkan 6 Komponen Pariwisata yaitu Attraction, Accomodation,
Amenities, Ancillary Services, Activity, dan Accessibility (Nugroho & Sugiarti, 2018).
Kabupaten Bandung mempunyai potensi desa yang cukup beragam di bidang pariwisata yaitu
berupa alam dan budayanya dengan sumber daya yang cukup beragam. Untuk itu, salah satu perencanaan
wisatanya adalah memetakan potensi wisata di berbagai wilayah pedesaan sebagai kegiatan pemanfaatan
daya tarik wisata. Pemetaan potensi desa wisata dapat menggunakan berbagai macam cara yaitu salah
satunya dengan menggunakan analisis klaster.
Analisis klaster adalah analisis statistika dengan metode multivariat yang bertujuan untuk
mengelompokkan n objek pada m klaster (m x n) berdasarkan karakteristiknya (Johnson & Wichern,
1982). Hal ini bertujuan untuk menemukan klaster asalnya dari sejumlah unit pengamatan dengan
harapan variasi unit-unit pengamatan pada klaster tertentu lebih homogen dibandingkan dengan
keragaman antar klasternya sehingga dapat diproses lebih lanjut (Chan, 2005). Penelitian ini
menggunakan metode Two Step Cluster untuk menganalisis komponen-komponen yang mendukung pada
pembentukan desa wisata. Metode Two Step Cluster merupakan salah satu teknik analisis data yang
memiliki kelebihan yaitu melihat hubungan antara beberapa variabel yang meliputi skala ukur data
kategorik maupun numerik.
Metode
Data yang digunakan sebagai studi kasus dalam metode pengklasteran ini adalah data Podes BPS
untuk wilayah Jawa Barat. dengan jumlah amatan sebanyak 280 desa. Data tersebut terdiri atas peubah-
peubah yang bertipe campuran (kategorik dan numerik). Peubah-peubah yang digunakan yaitu mengenai
profil tentang desa atau kelurahan, kependudukan, ekonomi, komunikasi dan informasi dan penggunaan
lahan. Keterangan rincinya dituliskan pada lampiran penelitian ini dan variabel yang menjadi syarat-
syarat desa menjadi desa wisata dapat dilihat pada Tabel 1.
wisatawan
Accessibility X6 Akses jalan kendaraan 1. Sepanjang tahun Kategorik
roda 4 2. Sepanjang tahun kecuali
saat tertentu
X7 Keberadaan angkutan 1. Ada Kategorik
umum 2. Tidak ada
Data dianalisis menggunakan SPSS for Windows 23.0. Langkah-langkah analisis data yang
dilakukan dalam penelitian ini adalah: (a) Melakukan pembakuan terhadap semua peubah numeric; (b)
Melakukan pengklasteran awal (pre-clustering) dengan membentuk Cluster Feature (CF) Tree secara
sekuensial sehingga terbentuk subcluster menggunakan formula jarak Log-Likelihood; (c) Mengklasterkan
hasil subcluster yang terbentuk pada tahap (b) menggunakan metode hirarki penggabungan; (d) Menghitung
jarak Log-Likelihood, nilai BIC, nilai perubahan BIC, rasio perubahan BIC dan rasio ukuran jarak pada
setiap tahap pengklasteran; (e) Menentukan jumlah klaster maksimum menggunakan rasio perubahan BIC
yang pertama kali bernilai kurang dari 0.04; (f) Menentukan jumlah klaster optimum dengan melihat nilai
BIC terkecil atau rasio dua perubahan jarak yang terbesar. Jika nilainya > 1.15, maka jumlah klaster
optimum adalah klaster dengan rasio jarak terbesar pertama. Jika nilainya ≤ 1.15 maka klaster optimum
adalah maksimum (k1 , k2).
Penentuan jumlah klaster menggunakan kriteria BIC. Ukuran jarak yang digunakan adalah jarak
Log-likelihood karena data yang digunakan campuran (kategorik dan numerik). Tabel 4.1 menunjukkan
bahwa jumlah maksimum yang dapat dibentuk pada Langkah pertama adalah 8 dikarenakan nilai BIC
terkecil dibandingkan lainnya. Pada langkah kedua, pengujian nilai paling signifikan untuk Rasio
Pengukuran Jarak yang berasal dari jumlah klaster 2 dan 6 dengan nilai 1,431 (R2) dan 1,46 (R6). Rasio
R2/R6 adalah 0,98 yang kurang dari 1,15. Untuk itu, salah satu Rasio Ukuran Jarak yang dipilih sebesar
1.46 sehingga jumlah optimal klaster adalah 6.
Sebaran klaster untuk anggota dari masing-masing klaster secara rinci dapat dilihat pada Tabel
4.2. Dari keseluruhan desa yang berada di Kabupaten Bandung sebanyak 280 desa, sebanyak 84 desa
berasal dari klaster 1, 32 desa berasal dari klaster 2, 38 desa berasal dari klaster 3, 43 desa berasal dari
klaster 4, 48 desa berasal dari klaster 5, dan 35 desa berasal dari klaster 6.
Klaster N %
1 84 30
2 32 11.4
3 38 13.6
4 43 15.4
5 48 17.1
6 35 12.5
Jumlah 280 100
Klaster
Variabel Kontinu
1 2 3 4 5 6
Penginapan Mean 0.44 0.41 0.13 2.05 0.06 0.29
(Y1) Std. Dev 1.492 0.756 0.414 7.118 0.245 0.667
Restoran/Rumah Mean 82.02 300.63 89.55 57.19 136.13 47
Makan (Y2) Std. Dev 59.762 114.260 64.889 56.648 131.305 33.495
Tempat Belanja Mean 163.58 447.28 169.79 156.95 204.42 108.14
(Retail) (Y3) Std. Dev 97.129 240.716 73.771 95.172 103.75 43.609
Lembaga Mean 0.26 4.41 0.63 0.37 0.79 0.29
Keuangan (Y4) Std. Dev 0.604 3.688 1.364 1.215 1.304 1.073
Fasilitas Mean 6.44 21.75 7.34 4.74 7.9 4.34
Kesehatan (Y5) Std. Dev 4.574 8.788 4.45 2.92 4.249 3.404
Berdasarkan Tabel 5 karakteristik desa-desa pada klaster satu berada di luar kawasan hutan dan
tidak memiliki situs cagar budaya, kearifan lokal berbasis wisata, dan program/kegiatan pembangunan.
Namun, pelaksanaan kegiatan yang ada di desa wisata, akses kendaraan, dan keberadaan angkutan umum
paling berpotensi untuk pengembangan desa wisata dibandingkan klaster lainnya. Sementara itu, klaster
dua sudah memiliki kualifikasi potensi yang sangat besar menjadi desa wisata apabila hal ini dilaksanakan
secara serius dan berkesinambungan dalam pengembangan desa wisata. Meskipun terdapat catatan
terutama akses jalan kendaraan masih perlu ditingkatkan bagi desa untuk menarik wisatawan datang ke
desa. Klaster tiga memiliki situs cagar budaya dan program/kegiatan pembangunan yang dominan
dibandingkan dengan klaster-klaster lainnya. Potensi ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan
pemerintah desa untuk membangun wisata berbasis kebudayaan. Sementara itu, klaster empat berada
pada tepi/sekitar kawasan hutan. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk dibangun wisata alam karena tidak
semua dearth memiliki keuntungan letak geografis seperti di hutan ini. Banyak desa yang telah berhasil
mengembangkan desa wisata berbasis alam ditambah cagar budaya dan kearifan lokal. Klaster lima dan
enam memiliki keunggulan dibandingkan klaster lainnya yaitu kegiatan di desa sepanjang tahun kecuali
saat tertentu dan kearifan lokal.
Klaster
Variabel Kategorik
1 2 3 4 5 6
Lokasi Desa Tepi/sekitar 0 1 2 43 3 21
Kawasan Hutan kawasan
hutan
Luar 84 31 36 0 45 14
kawasan
hutan
Situs Cagar Budaya Ada 0 3 35 12 11 9
Tidak 84 29 3 31 37 26
Kearifan Lokal Ada 0 0 1 0 3 35
Tidak 84 32 37 43 45 0
Program/kegiatan Ada 0 2 13 5 0 5
pembangunan
(Sarana prasarana
rekreasi dan wisata) Tidak 84 30 25 38 48 30
Kegiatan di desa Sepanjang 84 31 38 43 0 27
wisata tahun
Sepanjang 0 1 0 0 48 8
tahun kecuali
saat tertentu
Akses jalan Ada 83 32 38 41 48 35
kendaraan roda 4 Tidak 1 0 0 2 0 0
Keberadaan Ada 49 32 27 19 34 19
angkutan umum Tidak 35 0 11 24 14 16
Klaster pertama merupakan desa-desa yang memiliki geografis di wilayah luar kawasan hutan.
Dikarenakan sebagian besar wilayahnya berada di luar kawasan hutan, desa-desa yang ada di wilayah ini
memiliki keuntungan dari akses infrastruktur yang memadai berupa jalan dan kendaraan umum sehingga
membuka peluang besar untuk wisatawan berkunjung ke daerah ini. Banyak rekomendasi yang bisa
dikembangkan oleh desa yang berada di klaster satu ini, diantaranya: (1) Wisata pertanian dan
perkebunan (agrowisata); (2) Wisata budaya/kreatif; (3) Wisata kuliner.
Hal ini diperlukan partisipasi masyarakat bersama pemerintah desa dengan membuat rencana
pengembangan atraksi (daya tarik wisata) sebagai unsur utama dalam pengembangan desa wisata.
Keragaman dan ciri khas suatu desa akan menimbulkan ketertarikan dan keinginan wisatawan untuk
berkunjung. Pola wisata berupa live in (tinggal sementara mengikuti budaya/kehidupan desa) seperti
menanam padi, membajak sawah, membuat kerajinan, belajar kesenian/budaya tradisional, dsb.
Pengembangan desa wisata memiliki dampak positif bagi kehidupan masyarakat desa. Masyarakat yang
mayoritas berprofesi sebagai petani tidak perlu ganti profesi karena lahan pertanian yang ada
diintegrasikan sebagai objek wisata. Dampak lain dari pengembangan wisata yaitu penurunan urbanisasi
karena kegiatan wisata mendorong berbagai lapangan kerja bagi masyarakat setempat seperti pemandu
wisata, warung makan, toko oleh-oleh, dan lainnya. Selain itu, pengadaan lembaga keuangan seperti
bank, koperasi, BMT, pegadaian dan lainnya diperlukan untuk memudahkan wisatawan dan pengelola
wisata dalam bertransaksi.
Klaster dua memiliki fasilitas pendukung wisata (amenities) yang sangat memadai yaitu
restoran/tempat makan, tempat belanja (ritel), lembaga keuangan, dan fasilitas kesehatan. Keseluruhan
fasilitas menyangkut dengan kenyamanan dan keselamatan kepada wisatawan sehingga dapat tercipta
kepuasan wisatawan. Daya dukung akan lebih lengkap dengan adanya akomodasi berupa penginapan
yang memadai. Ketersediaan akomodasi/penginapan ini belum cukup optimal di klaster ini. Pengelola
wisata sudah menyediakan penginapan dengan kondisi yang baik namun jumlahnya masih sedikit
dibandingkan klaster lainnya. Jika ada lonjakan wisatawan dari luar daerah terutama di musim liburan,
pengunjung akan merasa kesulitan untuk mencari penginapan. Hal ini harus segera ditindaklanjuti oleh
pengelola wisata terutama pemerintah dan masyarakat desa setempat untuk menyediakan penginapan
dengan jumlah yang cukup dan fasilitas bersih dan terawat dengan baik.
Selain itu, akses wisata menuju tempat wisata mempengaruhi jumlah kunjungan. Ketersediaan
akses jalan terutama roda 4 perlu diadakan dalam pengembangan desa wisata. Kondisi jalan yang baik
akan membawa dampak yang baik bagi terlaksananya kegiatan di desa wisata sehingga memudahkan para
wisatawan mencapai tujuan tempat wisata. Pada umumnya jalan menuju desa-desa yang berpotensi besar
menjadi desa wisata sudah cukup baik. Namun, untuk akses jalan menuju beberapa tempat wisata masih
kurang baik dan sempit. Papan petunjuk arah jalan juga akan membantu wisatawan ke lokasi wisata.
Beberapa wilayah sudah ada, namun jumlahnya masih terbatas. Untuk itu, masalah akses jalan, papan
petunjuk, dan peta wisata juga perlu ada sehingga wisatawan mendapatkan gambaran objek wisata apa
saja yang bisa dinikmati. Bantuan teknologi akan mempermudah akses ke lokasi wisata.
Klaster tiga merupakan klaster yang memiliki potensi wisata budaya yang sangat besar karena
terdapat situs cagar budaya dan memiliki banyak program/kegiatan pembangunan untuk sarana prasarana
rekreasi dan wisata. Banyak desa yang telah berhasil di wilayahnya untuk mengembangkan potensi
budaya. Sekaligus potensi wisata budaya ini untuk melestarikan pola hidup yang turun temurun yang
semakin kesini tergerus oleh modernisasi. Melihat berbagai demografi desa-desa di Kabupaten Bandung,
industri kreatif bisa menjadi solusi untuk pengembangan desa wisata. Salah satu diantaranya wayang
golek dan lukisan, Selain itu, potensi budaya wisata ini sebenarnya bisa dibawa ke ranah pendidikan.
Misalnya, Kampung Inggris Pare Kediri di Jawa Timur yang mana dalam satu desa tersebut berbahasa
Inggris agar menjadi fasih. Hal yang sama pula dapat diterapkan di desa-desa pada klaster tiga ini.
Kabupaten Bandung memiliki kebudayaan Sunda yang beraneka ragam diantaranya angklung dan tarian
tradisional seperti Jaipong. Hal ini sangat menarik wisatawan apabila dibangun sanggar tari dan
karawitan sunda sebagai sarana edukasi dan pertunjukan. Selain itu, desa dapat dibuat sebagai wilayah
kmunitas untuk mempelajari suatu ilmu pendidikan formal untuk mata pelajaran lain selain Bahasa
Inggris, yaitu Kampung Matematika, Sains, dsb.
Sebagian besar desa-desa yang berada pada klaster empat berlokasi di tepi/sekitar kawasan hutan
sehingga tidak jarang banyak ditemui fasilitas penginapan. Fasilitas penginapan bervariasi disesuaikan
dengan kebutuhan wisatawan. Pengembangan desa wisata di klaster ini memiliki beberapa strategi sebagai
daya tarik wisatawan yaitu diantaranya seperti pemandian air panas, pemandangan alam untuk spot foto,
kegiatan outbond, dan sebagainya. Hal ini harus perlu diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat desa
karena memiliki nilai jual wisata yang sangat tinggi. Pengelolaan wisata yang baik akan meningkatkan
pendapatan asli desa. Kabupaten Bandung memiliki beberapa destinasi yang menyimpan potensi wisata
alamnya yang luar biasa yaitu, perkebunan teh, danau buatan/situ, kawah pegunungan, dan lainnya.
Namun, hal ini disadari juga bahwa tidak semua desa memiliki warisan wisata alam baik secara geografis
atau kontur wilayah.
Selain itu, hal yang perlu diperhatikan juga adalah keberadaan angkutan umum. Angkutan umum
dapat mempengaruhi jumlah wisatawan yang akan datang ke lokasi karena tidak semua lokasi wisata
memiliki akses kendaraan umum. Klaster empat masih belum optimal jumlah trayek angkutan umum ke
lokasi wisata dibandingkan klaster lainnya. Untuk itu, pemerintah desa diharapkan mengambil kebijakan
pengadaan angkutan umum secara bertahap.
Seperti yang dipaparkan sebelumnya, potensi wisata ditunjang oleh empat hal yaitu Attraction
(daya tarik), Accessibility (aksesibilitas/keterjangkauan), Amenity (fasilitas pendukung), dan Ancilliary
(organisasi/kelembagaan pendukung). Desa-desa di klaster lima ini belum cukup optimal terhadap fasilitas
akomodasi berupa penginapan. Dalam pengembangan desa wisata, klaster ini belum menjadi prioritas
dalam pembangunan sarana dan prasarana rekreasi dan wisata. Kemungkinan besar hal ini diakibatkan
tidak ada kegiatan yang dapat menjadi daya tarik wisatawan. Namun, melihat dari aksesibilitas, kondisi
desa di klaster lima ini memiliki akses jalan dan angkutan umum yang memadai. Hal ini sudah bisa
menjadi modal utama bagi pengembangan wisata. Tambah lagi, fasilitas pendukung di klaster ini sudah
optimal dikembangkan lebih lanjut. Kerjasama atau kolaborasi bisa menjadi salah satu alternatif
pengembangan desa wisata di klaster ini yaitu kolaborasi antar komunitas kreatif dan para pelaku usaha
UMKM. Banyak desa yang sudah berhasil membuktikan dengan kolaborasi ini hasilnya cukup signifikan
yaitu Ciburial, Nagreg, Pasirjambu, dan lainnya.
Klaster enam sangat kental dengan kearifan lokalnya karena masih sangat kental dengan
mempertahankan adat dan budaya khususnya Sunda. Isu kearifan lokal sangat menarik untuk
diimplementasikan dalam pengembangan desa wisata. Sama halnya dengan strategi klaster lima,
kolaborasi dan kerjasama berbagai pihak dengan para akademisi pemerintah daerah dan desa, pengusaha,
komunitas kreatif, media dan pihak lainnya adalah kunci mewujudkan desa wisata. Karena potensi
budaya sudah memadai dan menjadi daya tarik wisata, maka selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah
Accessibility (aksesibilitas/keterjangkauan), Amenity (fasilitas pendukung), dan Ancilliary
(organisasi/kelembagaan pendukung).
Daftar Pustaka
Chinazzi, M., Davis, J. T., Ajelli, M., Gioannini, C., Litvinova, M., Merler, S., y Piontti, A. P.,
Mu, K., Rossi, L., & Sun, K. (2020). The effect of travel restrictions on the spread of the
2019 novel coronavirus (COVID-19) outbreak. Science, 368(6489), 395–400.
Haque, T., Hossain, K. M., Bhuiyan, M. M. R., Ananna, S. A., Chowdhury, S. H., Islam, M.
R., Ahmed, A., & Rahman, M. M. (2020). Knowledge, attitude and practices (KAP) towards
COVID-19 and assessment of risks of infection by SARS-CoV-2 among the Bangladeshi population:
an online cross sectional survey.
Johnson, R. A., & Wichern, D. W. (1982). The multivariate normal distribution. Applied
Multivariate Statistical Analysis. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall Inc, 150–173.
Mariam, I., & Susyanti, D. W. (2019). Peningkatan Kemampuan Entrepreneurship Petani Ikan
Patin Berbasis Pemberdayaan Masyarakat. Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian
Masyarakat.
Nugroho, W., & Sugiarti, R. (2018). ANALISIS POTENSI WISATA KAMPUNG SAYUR
ORGANIK NGEMPLAK SUTAN MOJOSONGO BERDASARKAN KOMPONEN
PARIWISATA 6A. Cakra Wisata, 19(2).
Suwena, I. K., Widyatmaja, I. G. N., & Atmaja, M. J. (2010). Pengetahuan dasar ilmu pariwisata.
Udayana University Press.
Chan YH. 2005. Cluster analysis. Singapore Med J 2005; 46 supl 4: 153-159