BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Puff Pastry
1. Deskripsi umum pastry
Pastry adalah merupakan jenis dari produk bakery yang yang bertekstur kering
dan berlapis-lapis yang terbuat dari tepung terigu, lemak, gula, garam, air, dan
bahan lainnya. Adonan pastry dilapisi dengan lemak padat sehingga didapatkan
banyak lapisan adonan dan lemak (Stevens, 1995 dalam Wicaksono 2017). Pastry
dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu Short Crust Pastry, Puff Pastry, Croissant,
Choux Pastry dan Phyllo Pastry. Perbedaan yang mendasar antara pastry dengan
produk bakery lainnya adalah penggunaan lemak semi padat yang digunakan pada
proses pelipatan adonan dengan cara di roll dalam pembentukan adonan, contohnya
adalah Puff Pastry, Danish Pastry dan Croissant. Ketika adonan dipanggang,
kelembaban dalam lapisan adonan menghasilkan uap, dan udara terperangkap
bertambah, sehingga akan terpisah beberapa lapisan (Wicaksono 2017).
2. Definisi puff pastry
Puff Pastry merupakan salah satu produk pastry yang berasal dari negara
Perancis. Puff pastry merupakan pastry yang berasal dari adonan tanpa ragi dan
lemak roll in. Lapisan terbentuk oleh karena penggunaan lemak lipat atau atau yang
biasa disebut pastry margarine (korsvet) pada saat pelipatan, dan ketika dipanggang
akan mengembang karena air yang terjebak diantara lapisan pada adonan mulai
menguap dan mendorong adonan menjadi lapisan lapisan yang renyah (Hoesni
2011). Bentuk rongga berlapis-lapis diperoleh dari teknik pelipatan dan penggilasan
6
adonan yang berulang-ulang. Adonan puff pastry mengembang jika dipanggang,
tingginya akan meningkat hingga delapan kali dari tinggi semula ketika
dipanggang. Pastry mengembang sesuai dengan kombinasi dari bahan-bahan
adonan dan juga dengan uap air yang terbentuk di antara lapisan lapisan pastry (W
Gisslen 2005).
Gambar 1. Puff Pastry
Sumber: Pinterest
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan Puff pastry adalah Tepung
terigu, pastry margarine (korsvet), mentega (lemak nabati), Telur/kuning telur,
Gula, Garam dan Air. Puff pastry sering dihidangkan sebagai menu snack pagi
ditemani kopi atau teh. Jenis pastry yang dijuluki sebagai ratu pastry ini mudah
ditemukan di berbagai toko kue atau bakery. Adonan dasar puff pastry dapat dibuat
produk manis atau gurih dengan atau tanpa isi (filling) (Putra 2016).
3. Bahan puff pastry
a. Lemak
Lemak berperan penting dalam proses pembuatan pastry khususnya puff pastry
untuk memberikan tekstur dan rasa. Lemak berfungsi dalam proses shortening
7
effect (renyah) yaitu melapisi permukaan butiran tepung terigu sehingga jaringan
gluten tidak mudah terbentuk. Pada pembuatan puff pastry lemak digunakan untuk
membuat lapisan berongga (Hoesni 2011).
Sumber lemak berasal dari hewani dan nabati. Sumber lemak hewani
diantaranya berupa mentega (butter), lemak sapi (tallow) dan lemak babi (lard).
Sedangkan sumber lemak nabati dapat berupa margarin (table spread), shortening
(100% hydrogenated vegetable oil seperti mentega putih (Dapur Aliza 2012).
Lemak yang digunakan adalah korsvet/ mentega lipat yang disebut juga lemak
pelapis (roll-in fat). Lemak ini digunakan khusus untuk menghasilkan adonan yang
biasa dilipat menjadi lembaran-lembaran adonan Lembaran lembaran adonan ini
membentuk tekstur renyah dan rasa yang gurih setelah di panggang. Selain crosvet,
lemak yang digunakan dalam pembuatan puff pastry adalah mentega (butter)
sebagai pengempuk baik, terbuat dari lemak hewani, mengandung 83% lemak susu
dan 14% air, 3% garam (Ahmad 2013).
b. Tepung
Tepung yang digunakan dalam pembuatan pastry dihasilkan dari gandum yang
lunak (soft wheat) dan tidak mengandung serpihan kulit biji gandum (bran). Tepung
terigu merupakan tepung atau bubuk halus yang diperoleh dari biji gandum yang
digiling atau dihaluskan. Tepung terigu biasanya digunakan sebagai bahan dasar
pembuatan produk roti, kue, cake, atau mie sebagai pembentuk struktur. Tepung
terigu dibedakan atas 3 kategori berdasarkan kandungan protein yang dihasilkan. 3
kategori tersebut adalah protein tinggi (hard flour) 12%-14%, protein sedang
(medium flour) 9%-11%, dan protein rendah (soft flour) yaitu 7%-9%. Tepung
8
terigu yang digunakan dalam pembuatan puff pastry adalah jenis tepung terigu hard
flour (Hendrasty, H 2013).
Tepung terigu mengandung protein dalam bentuk gluten. Gluten mampu
membentuk kerangka kokoh dan berperan dalam menentukan kekenyalan produk
yang terbuat dari tepung terigu, karena memiliki sifat elastis (lentur) dan tidak dapat
larut dalam air. Menurut Buku Professional Baking 6th edition Gisslen, Wayne
(2013), tepung terigu mengandung sekitar 68-78% pati, protein, moisture
(kelembaban) antara 11-14%, gums (perekat yang terbentuk dari karbohidrat), 1%
fats (lemak), ash (debu), dan pigmen.
c. Gula
Gula merupakan suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan
komoditas perdagangan utama. Selain itu gula merupakan salah satu bahan pemanis
yang berfungsi memberikan rasa manis dalam pembuatan puff pastry. Gula yang
biasa digunakan untuk pembuatan puff pastry adalah gula pasir dan gula halus.
Pengguna gula halus lebih banyak dibandingkan gula pasir karena walaupun proses
pengocokan gula halus lebih cepat, tetapi rasa manisnya berkurang (Pratiwi 2019).
d. Garam
Garam atau sering disebut garam dapur merupakan kumpulan senyawa kimia
dengan komponen utamanya Natrium Klorida (NaCL). Garam sering digunakan
sebagai bumbu pada masakan. Fungsi garam dalam pembuatan puff pastry
memberikan ras, memperkuat tekstur, meningkatkan fleksibilitas, dan elastisitas
puff pastry serta mengikat air (Putra 2016).
e. Air
9
Air merupakan senyawa kimia dengan rumus kimia H2O yang sangat penting
bagi semua bentuk kehidupan. Air sebagai katalis yang berperan dalam melarutkan
bahan bahan lain sehingga dapat tercampur. Air dalam pembuatan puff pastry
berfungsi sebagai media gluten dengan karbohidrat, larutan garam dan membentuk
sifat kenyal gluten (Putra 2016). Air yang ditambahkan pada pembuatan puff pastry
membuat tekstur bahan lainnya lebih mudah dihaluskan. Sifat gluten yang terdapat
pada terigu terdehidrasi dan mengembang bila tepung terigu dicampur dengan air.
Air yang digunakan harus memenuhi syarat air minum yaitu terhindar dari
mikroorganisme yang dapat merugikan kesehatan (Wicaksono 2017).
f. Kriteria puff pastry
Karakteristik puff pastry mengacu pada komposisi dan metode produksi atau
pengolahannya. (Putra 2016). Kualitas puff pastry diukur dan dianalisa
menggunakan indera manusia. Kriteria puff pastry yang baik menurut (Sufiyah
2017) :
1) Volume Bentuk
Volume merupakan penilaian gagal tidaknya produk pastry ini. Adonan produk
puff pastry yang bagus dan baik adalah memiliki volume yang tinggi dan ringan
dikarenakan pembentukan rongga sudah sempurna. Volume adonan yang tidak
diharapkan adalah berat, padat atau bahkan tidak mengembang.
2) Warna
Warna yang dimaksud adalah warna keseluruhan dari puff pastry dari hasil
pemanggangan. Warna puff pastry yang diharapkan bagus dan menarik yaitu
berwarna emas kecoklatan atau golden brown. Warna coklat yang dimaksud adalah
10
warna coklat mengkilap di atas adonan akibat olesan egg wash sebelum
pemanggangan.
3) Rasa
Penilaian rasa setelah pemanggangan yang diharapkan adalah gurih, adonan
puff pastry biasanya kurang manis dari produk pastry lainnya. Rasa yang tidak
diharapkan adalah ketika adonan matang masih terasa terigu yang artinya
pengadonan belum sempurna.
4) Aroma
Aroma puff pastry yang baik memiliki aroma gurih sesuai dengan jenis lemak
yang digunakan dan tidak tengik. Bahan yang berkualitas menghasilkan produk
yang memiliki aroma yang harum khas pastry sementara penggunaan bahan yang
sudah tengik atau terkontaminasi menghasilkan produk yang berbau tengik.
5) Tekstur
Tekstur remah puff pastry adalah lembut di dalam akibat penggunaan lemak
lapis. Sedangkan tekstur kulit puff pastry yang baik adalah renyah, serta berlapis
lapis. Pada proses laminasi dihasilkan lapisan lapisan yang mengembang
menghasilkan tekstur berkarakteristik serpih/berlapis lapis, sehingga memberi
kerenyahan.
6) Kerataan pemanggangan
Kerataan pemanggangan merupakan tingkat kematangan seluruh permukaan
puff pastry. Puff pastry hendaknya dipanggang secara merata termasuk bagian
bawah sehingga tidak ada bagian yang mentah, masih basah, ataupun hangus.
11
B. Tanaman Kelor (Moringa Oleifera)
1. Klasifikasi kelor (moringa oleifera)
Klasifikasi tanaman kelor menurut (USDA, 2013):
Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta (vascular plants)
Superdivisi : Spermatophyta (seed plants)
Divisi : Magnoliophyta (flowering plants)
Class : Magnoliopsida (dicotyledons)
Subkelas : Dilleniidae
Ordo : Brassicales
Family : Moringaceae
Genur : Moringa
Species : Moringa oleifera Lamk
Gambar 2. Moringa oleifera
Sumber: Pinterest
2. Deskripsi tanaman kelor
Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman tropis yang mudah
tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia baik di dataran rendah atau dataran tinggi
(hingga 1.000 mdpl). Pohon kelor tumbuh subur hampir diseluruh wilayah
Indonesia, bahkan dapat tumbuh sendiri tanpa ditanam ataupun dirawat. Kelor
12
tumbuh baik di ketinggian 300-500 meter diatas permukaan laut dan memiliki
ketinggian pohon antara 7-11 meter. Tanaman ini tumbuh dalam bentuk pohon,
berumur panjang (perennial), batang berkayu (lignosus), berakar tunggang, dengan
daun majemuk yang berwarna hijau muda saat muda dan hijau tua setelah dewasa.
Bentuk helai daun bulat telur, Panjang dan lebar masing masing sekitar 1-2 cm,
tipis lemas, ujung dan pangkal tumpul (obtusus), susunan pertulangan menyirip
(pinnate) (Affandi 2019)
Tanaman kelor atau Moringa o
karena kaya akan nutrien atau zat gizi. Seluruh bagian tanaman, baik akar, daun,
maupun kulit hingga batang dapat dimanfaatkan sehingga disebut tanaman
multiguna. Tanaman kelor juga berpotensi mampu mengatasi masalah gizi atau
malnutrisi. Daun kelor merupakan pangan yang kaya akan nutrisi baik makro
maupun mikro (Fauziandar 2019).
Daun Kelor merupakan superfood (pangan super) yaitu pangan memiliki kadar
gizi dengan konsentrasi tinggi dan phytochemical (senyawa kimia alami) yang
dapat meningkatkan kesehatan dan mencegah berbagai penyakit. Setiap superfood
adalah pangan fungsional, tetapi tidak semua fungsional food adalah superfood.
Hingga saat ini terdapat delapan bahan pangan mega superfood yang telah
ditetapkan, yaitu chorella, moringa kelor, goji berry, spirulina, cacao, grass wheat,
camu camu, dan acai. Pangan yang termasuk superfood salah satunya kelor mampu
meningkatkan kesehatan dan kekebalan tubuh. Kandungan antioksidan daun kelor
berperan sebagai booster imunitas yang dapat membantu penyembuhan berbagai
penyakit secara cepat (heal faster) sekaligus menjaga fungsi imunitas secara alami
(Winarno 2018)
13
3. Kandungan daun kelor (moringa oleifera)
Kandungan pada daun kelor sangat menguntungkan bagi kesehatan tubuh.
Lebih dari 90 senyawa gizi dan 46 jenis antioksidan terkandung dalam daun kelor.
Terdapat 18 jenis asam amino yang terkandung dalam daun kelor, 8 diantaranya
asam amino essensial. Asam amino esensial diperoleh melalui asupan makanan dari
luar tubuh, karena tubuh tidak mampu mensintesis sendiri (Winarno 2018).
Menurut (Nucahyati 2014), kandungan dalam daun kelor segar setara dengan 7 kali
vitamin C yang terdapat pada jeruk segar, 4 kali vitamin A yang terdapat pada
wortel, 4 kali kalsium yang terdapat pada susu, 3 kali kalium yang terdapt pada
pisang, 2 kali protein yang terdapat pada yogurt dan ¾ kali zat besi yang terdapat
pada bayam. Sedangkan dalam daun kelor kering, kandungan daun kelor setara
dengan ½ kali vitamin C yang terdapat pada jeruk segar, 10 kali vitamin A yang
terdapat pada wortel, 17 kali kalsium yang terdapat pada susu, 15 kali kalium yang
terdapat pada pisang, 9 kali protein yang terdapat pada yogurt dan ¾ kali zat besi
yang terdapat pada bayam. Nilai gizi daun kelor dalam 100 gram disajikan pada
Tabel 1.
14
Tabel 1
Kandungan Gizi Dalam 100 Gram Daun Kelor
Daun kelor
Kalori (kkal) 92,00
Protein (g) 6,70
Lemak (g) 1,70
Karbohidrat (g) 13,40
Serat (g) 0,90
Ca (mg) 440,00
Mg (mg) 24,00
P (mg) 70,00
K (mg) 529,00
Cu (mg) 1,10
Fe (mg) 7,00
S (mg) 137,00
Vitamin A-B carotene (mg) 6,80
Vitamin B-choline (mg) 423,00
Vitamin B1-thiamin (mg) 0,21
Vitamin B2-riboflavin (mg) 0,05
Vitamin B3-nicotinic acid (mg) 0,80
Vitamin C-ascrobic acid (mg) 220,00
Vitamin E-tocopherol (mg) -
Sumber : (Winarti 2010)
4. Manfaat daun kelor
Manfaat Daun Kelor Menurut (Krisnadi 2015):
a. Penyeimbang gula darah
Daun kelor mengandung Beta Karoten yang terdapat di dalam vitamin A,
antioksidan untuk menangkal radikal bebas dan penyakit, vitamin C yang
15
membantu penormalan hormon insulin yaitu dalam sekresi insulin, serta vitamin E,
untuk mencegah terkena penyakit diabetes. Dalam penelitian yang dilakukan
Syamra (2018), pemberian air rebusan kelor efektif menurunkan kadar glukosa
darah pasien Diabetes Melitus (DM).
b. Menyeimbangkan tekanan darah tinggi
Menurut penelitian yang dilakukan (Yanti 2019) ekstrak daun kelor dapat
menurunkan hipertensi. Pada daun kelor terdapat kandungan asam amino arginine
yang dikenal untuk menyeimbangkan tekanan darah. Kelor mengandung seluruh
nutrisi yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan tekanan darah. Kalsium dalam
daun kelor dibutuhkan untuk relaksasi otot polos dan kontraksi, peningkatan
konsumsi kalsium dapat memiliki efek langsung pada pembuluh darah. Kelor juga
mengandung magnesium bersama dengan zinc dan vitamin E yang mengambil
bagian dalam mengurangi tekanan darah bersama dengan nutrisi lainnya
c. Tonik penguat jantung
Kelompok vitamin khusus yang sangat penting untuk kesehatan jantung adalah
vitamin B. Kelor kaya dengan vitamin B, khususnya asam folat, vitamin B 6 dan B
12. Beberapa penelitian membuktikan bahwa asam folat dan vitamin B lainnya
mengurangi risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Pada daun kelor terdapat
kandungan antioksidan seperti yang Selain itu vitamin B3 dalam kelor, dapat
mengurangi kolesterol dalam konsentrasi tinggi, vitamin E dan vitamin C dalam
kelor, bekerja sama untuk mencegah penyakit jantung dan penyakit lain melalui
kemampuan antioksidannya. Antioksidan yang terkandung dalam kelor seperti
-sitosterol dan flavonoid dapat menghambat reabsorbsi
16
kolesterol dari sumber endogen serta bermanfaat menurunkan kadar kolesterol
dengan menurunkan konsentrasi LDL dalam plasma (Tjong, Assa, and Purwanto
2021).
d. Meningkatkan ASI
Berdasarkan penelitian (Zakaria et al. 2016), yaitu pemberian ekstrak daun
kelor pada ibu bersalin mengalami peningkatan pada volume ASI sesudah
intervensi, serta terdapat peningkatan kadar zat besi dalam ASI. Daun Kelor
meningkatkan efek laktasi yang dibuktikan dengan peningkatan yang lebih besar
dalam kadar prolaktin serum ibu. Prolaktin merupakan hormon yang paling penting
dalam inisiasi laktasi. Serbuk daun Kelor adalah galactagogues yang efektif untuk
meningkatkan volume dan memperlancar ASI (Krisnadi 2015).
e. Anti Penuaan
Kelor mengandung sitokinin (hormon alami yang menginduksi pembelahan
sel, pertumbuhan, dan penundaan penuaan sel). Beberapa studi membuktikan
bahwa sitokinin menghasilkan sifat anti-penuaan pada manusia. Dengan adanya
sitokinin, siklus kulit manusia telah dirubah oleh fakta bahwa sel-sel kulit baru
tumbuh lebih cepat daripada sel-sel yang lebih tua mati. Hal ini mengakibatkan
pengurangan menakjubkan kerutan pada wajah dan bagian lain dari tubuh. Zeatin,
salah satu senyawa dalam sitokinin, yang dapat memperlambat proses penuaan
dengan membantu menggantikan sel-sel tubuh pada tingkat yang lebih cepat
daripada usia mereka, dan memberikan penampilan yang lebih muda pada kulit
(Krisnadi 2015).
f. Mencegah dan mengatasi anemia
17
Daun kelor mengandung zat besi, disimpan dalam hemoglobin (sel darah
merah). Berdasarkan penelitian, ekstrak kelor efektif dalam meningkatkan kadar
hemoglobin remaja putri. Zat besi membawa oksigen ke sel- sel tubuh dan
membawa karbondioksida keluar tubuh, mendukung fungsi otot, enzim, protein dan
metabolisme energi. Kebutuhan zat besi diperlukan khususnya bagi remaja putri
dan perempuan dewasa untuk membentuk hemoglobin yang mengalami
peningkatan dan mencegah anemia yang disebabkan karena kehilangan zat besi
selama menstruasi (Fauziandar 2019).
C. Zat Besi
Zat besi merupakan unsur yang melimpah di bumi dan merupakan komponen
penting secara biologis dari setiap organisme hidup. Zat mikronutrien esensial ini
dibutuhkan untuk sintesis protein transpor oksigen, khususnya hemoglobin dan
mioglobin, dan untuk pembentukan enzim heme dan enzim lain yang mengandung
zat besi yang terlibat dalam transfer elektron dan reduksi oksidasi. Bentuk bentuk
konjugasi Fe diantaranya hemoglobin, myoglobin, transferrin, ferritin, dan
hemosiderin. Hampir dua pertiga zat besi tubuh ditemukan dalam hemoglobin yang
ada dalam eritrosit yang bersirkulasi, 25% terkandung dalam penyimpanan zat besi
yang mudah dimobilisasi, dan 15% sisanya terikat pada mioglobin dalam jaringan
otot dan dalam berbagai enzim yang terlibat dalam metabolisme oksidatif dan
banyak lagi, fungsi sel lainnya (Abbaspour, [Link] 2014).
Ekskresi Fe dilakukan melalui kulit bagian dalam tubuh dan dilepaskan oleh
permukaan tubuh, jumlahnya sangat kecil sekitar 1 mg sehari. Fe banyak terbuang
dari badan dalam masa menstruasi pada wanita usia subur, sehingga kebutuhan Fe
18
pada wanita lebih tinggi dibanding laki laki. Ibu hamil juga memerlukan banyak
Fe karena bayi dalam kandungan memerlukan zat besi dan Fe dalam bentuk lacto
transferin terkandung dalam ASI (Sediaoetama 1987).
Defisiensi zat besi adalah yang paling umum dari kekurangan nutrisi ini,
mempengaruhi sekitar 2 miliar orang di seluruh dunia menurut WHO, termasuk 20-
30% wanita hamil dan keturunan mereka. Kekurangan zat besi terlihat dimana
kadar hemoglobin darah dibawah normal. Pada umumnya dapat menyebabkan
lemah, letih, lesu, sakit kepala, pucat, dingin di tangan dan kaki hingga kurang nafsu
makan (Susiloningtyas 2018)
Sumber pangan zat besi terdapat dalam bentuk heme dan non heme. Zat besi
dalam bentuk heme yang terdapat dalam hemoglobin dan mioglobin sumber
makanan hewani lebih mudah diserap dibandingkan non hem dalam makanan
sumber nabati. Tingkat penyerapan Fe sumber pangan nabati didalam tubuh
mencapai 1-2%, sedangkan sumber pangan hewani 10-2-%. Sumber zat besi
hewani diantaranya daging, ayam, dan ikan, sedangkan sumber zat besi nabati yaitu
serealia, sayuran hijau, kacang kacangan dan beberapa jenis buah (Almatsier
2011).
D. Antioksidan
Antioksidan merupakan molekul yang mampu mencegah atau memperlambat
proses oksidasi molekul lain. Oksidasi adalah reaksi kimia yang dapat
menghasilkan radikal bebas, sehingga dapat merusak sel yang dipicu oleh reaksi
berantai. Antioksidan juga diperlukan untuk mencegah stres oksidatif yaitu kondisi
ketidak seimbangan antara jumlah radikal bebas yang ada dengan jumlah
19
antioksidan di dalam tubuh. Stress oksidatif yang diinduksi oleh radikal
mempengaruhi terjadinya berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung
koroner, kanker, dan penuaan dini (Werdhasari 2014).
Dalam bahan pangan, antioksidan alami banyak terdapat dalam buah-buahan,
sayur sayuran, rempah - rempah, teh, coklat, biji-bijian maupun sumber pangan
hewani. Antioksidan alami banyak ditemukan pada makanan yang segar dan belum
diproses. Umumnya kandungan antioksidan dalam sumber pangan nabati lebih
tinggi dibandingkan sumber pangan hewani. Senyawa antioksidan yang umumnya
ditemukan dalam bahan pangan yaitu Vitamin C, Vitamin E, beta-karoten,
selenium, Superoksida Dismutase (SOD), dan flavonoid (Silvia et al. 2016).
E. Anemia
Anemia adalah keadaan tubuh dimana kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah
lebih rendah dibanding nilai normal. Hemoglobin adalah metalloprotein (protein
yang mengandung zat besi) di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai
pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Anemia sering disebut kurang
darah tepatnya adalah kekurangan / penurunan kadar sel darah merah (eritrosit)
yang beredar tidak dapat memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi
jaringan tubuh (Nurbadriyah 2019)
Penyebab utama terjadinya anemia di Indonesia adalah kekurangan zat besi.
Defisiensi Fe diartikan sebagai keadaan biokimia Fe yang abnormal disertai atau
tanpa keberadaan anemia (Lestari, et al., 2018). Menurut Bakta (2006), anemia
defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang disebabkan oleh kosongnya cadangan
besi sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang, yang pada akhirnya
20
mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang. Zat-zat gizi yang berperan
dalam pembentukan sel darah merah adalah protein, berbagai vitamin yaitu asam
folat dan vitamin C) serta mineral yaitu fe.
Parameter batasan kadar hemoglobin normal menurut WHO (1968):
Tabel 2
Parameter Kadar Hemoglobin Normal
Kelompok Umur Hemoglobin (gr/dl)
Anak 6 bulan 6 tahun 11
6 tahun 14 tahun 12
Dewasa Laki Laki 13
Wanita 12
Wanita Hamil 11
Berbagai faktor dapat mempengaruhi terjadinya anemia defisiensi besi antara
lain pola makan, pola haid, pengetahuan mengenai resiko terjadinya anemia
defisiensi besi, pengetahuan mengenai zat-zat pemicu terjadinya anemia atau
menghambat absorpsi besi, konsumsi obat- obatan tertentu seperti antibiotik,
aspirin, obat sulfonamide, obat malaria, pendarahan, luka bakar, dan gaya hidup
seperti merokok, minum minuman keras, dan kebiasaan sarapan pagi (Prasetya and
Wihandani 2019).
21