0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan16 halaman

Panduan Lengkap Puff Pastry dan Kelor

Dokumen ini membahas tentang puff pastry dan tanaman kelor (Moringa oleifera). Puff pastry adalah produk pastry berlapis yang terbuat dari tepung terigu dan lemak, sedangkan kelor dikenal sebagai superfood yang kaya nutrisi dan memiliki banyak manfaat kesehatan. Keduanya memiliki karakteristik dan komposisi yang penting dalam kuliner dan kesehatan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan16 halaman

Panduan Lengkap Puff Pastry dan Kelor

Dokumen ini membahas tentang puff pastry dan tanaman kelor (Moringa oleifera). Puff pastry adalah produk pastry berlapis yang terbuat dari tepung terigu dan lemak, sedangkan kelor dikenal sebagai superfood yang kaya nutrisi dan memiliki banyak manfaat kesehatan. Keduanya memiliki karakteristik dan komposisi yang penting dalam kuliner dan kesehatan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Puff Pastry

1. Deskripsi umum pastry

Pastry adalah merupakan jenis dari produk bakery yang yang bertekstur kering

dan berlapis-lapis yang terbuat dari tepung terigu, lemak, gula, garam, air, dan

bahan lainnya. Adonan pastry dilapisi dengan lemak padat sehingga didapatkan

banyak lapisan adonan dan lemak (Stevens, 1995 dalam Wicaksono 2017). Pastry

dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu Short Crust Pastry, Puff Pastry, Croissant,

Choux Pastry dan Phyllo Pastry. Perbedaan yang mendasar antara pastry dengan

produk bakery lainnya adalah penggunaan lemak semi padat yang digunakan pada

proses pelipatan adonan dengan cara di roll dalam pembentukan adonan, contohnya

adalah Puff Pastry, Danish Pastry dan Croissant. Ketika adonan dipanggang,

kelembaban dalam lapisan adonan menghasilkan uap, dan udara terperangkap

bertambah, sehingga akan terpisah beberapa lapisan (Wicaksono 2017).

2. Definisi puff pastry

Puff Pastry merupakan salah satu produk pastry yang berasal dari negara

Perancis. Puff pastry merupakan pastry yang berasal dari adonan tanpa ragi dan

lemak roll in. Lapisan terbentuk oleh karena penggunaan lemak lipat atau atau yang

biasa disebut pastry margarine (korsvet) pada saat pelipatan, dan ketika dipanggang

akan mengembang karena air yang terjebak diantara lapisan pada adonan mulai

menguap dan mendorong adonan menjadi lapisan lapisan yang renyah (Hoesni

2011). Bentuk rongga berlapis-lapis diperoleh dari teknik pelipatan dan penggilasan

6
adonan yang berulang-ulang. Adonan puff pastry mengembang jika dipanggang,

tingginya akan meningkat hingga delapan kali dari tinggi semula ketika

dipanggang. Pastry mengembang sesuai dengan kombinasi dari bahan-bahan

adonan dan juga dengan uap air yang terbentuk di antara lapisan lapisan pastry (W

Gisslen 2005).

Gambar 1. Puff Pastry


Sumber: Pinterest

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan Puff pastry adalah Tepung

terigu, pastry margarine (korsvet), mentega (lemak nabati), Telur/kuning telur,

Gula, Garam dan Air. Puff pastry sering dihidangkan sebagai menu snack pagi

ditemani kopi atau teh. Jenis pastry yang dijuluki sebagai ratu pastry ini mudah

ditemukan di berbagai toko kue atau bakery. Adonan dasar puff pastry dapat dibuat

produk manis atau gurih dengan atau tanpa isi (filling) (Putra 2016).

3. Bahan puff pastry

a. Lemak

Lemak berperan penting dalam proses pembuatan pastry khususnya puff pastry

untuk memberikan tekstur dan rasa. Lemak berfungsi dalam proses shortening

7
effect (renyah) yaitu melapisi permukaan butiran tepung terigu sehingga jaringan

gluten tidak mudah terbentuk. Pada pembuatan puff pastry lemak digunakan untuk

membuat lapisan berongga (Hoesni 2011).

Sumber lemak berasal dari hewani dan nabati. Sumber lemak hewani

diantaranya berupa mentega (butter), lemak sapi (tallow) dan lemak babi (lard).

Sedangkan sumber lemak nabati dapat berupa margarin (table spread), shortening

(100% hydrogenated vegetable oil seperti mentega putih (Dapur Aliza 2012).

Lemak yang digunakan adalah korsvet/ mentega lipat yang disebut juga lemak

pelapis (roll-in fat). Lemak ini digunakan khusus untuk menghasilkan adonan yang

biasa dilipat menjadi lembaran-lembaran adonan Lembaran lembaran adonan ini

membentuk tekstur renyah dan rasa yang gurih setelah di panggang. Selain crosvet,

lemak yang digunakan dalam pembuatan puff pastry adalah mentega (butter)

sebagai pengempuk baik, terbuat dari lemak hewani, mengandung 83% lemak susu

dan 14% air, 3% garam (Ahmad 2013).

b. Tepung

Tepung yang digunakan dalam pembuatan pastry dihasilkan dari gandum yang

lunak (soft wheat) dan tidak mengandung serpihan kulit biji gandum (bran). Tepung

terigu merupakan tepung atau bubuk halus yang diperoleh dari biji gandum yang

digiling atau dihaluskan. Tepung terigu biasanya digunakan sebagai bahan dasar

pembuatan produk roti, kue, cake, atau mie sebagai pembentuk struktur. Tepung

terigu dibedakan atas 3 kategori berdasarkan kandungan protein yang dihasilkan. 3

kategori tersebut adalah protein tinggi (hard flour) 12%-14%, protein sedang

(medium flour) 9%-11%, dan protein rendah (soft flour) yaitu 7%-9%. Tepung

8
terigu yang digunakan dalam pembuatan puff pastry adalah jenis tepung terigu hard

flour (Hendrasty, H 2013).

Tepung terigu mengandung protein dalam bentuk gluten. Gluten mampu

membentuk kerangka kokoh dan berperan dalam menentukan kekenyalan produk

yang terbuat dari tepung terigu, karena memiliki sifat elastis (lentur) dan tidak dapat

larut dalam air. Menurut Buku Professional Baking 6th edition Gisslen, Wayne

(2013), tepung terigu mengandung sekitar 68-78% pati, protein, moisture

(kelembaban) antara 11-14%, gums (perekat yang terbentuk dari karbohidrat), 1%

fats (lemak), ash (debu), dan pigmen.

c. Gula

Gula merupakan suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan

komoditas perdagangan utama. Selain itu gula merupakan salah satu bahan pemanis

yang berfungsi memberikan rasa manis dalam pembuatan puff pastry. Gula yang

biasa digunakan untuk pembuatan puff pastry adalah gula pasir dan gula halus.

Pengguna gula halus lebih banyak dibandingkan gula pasir karena walaupun proses

pengocokan gula halus lebih cepat, tetapi rasa manisnya berkurang (Pratiwi 2019).

d. Garam

Garam atau sering disebut garam dapur merupakan kumpulan senyawa kimia

dengan komponen utamanya Natrium Klorida (NaCL). Garam sering digunakan

sebagai bumbu pada masakan. Fungsi garam dalam pembuatan puff pastry

memberikan ras, memperkuat tekstur, meningkatkan fleksibilitas, dan elastisitas

puff pastry serta mengikat air (Putra 2016).

e. Air

9
Air merupakan senyawa kimia dengan rumus kimia H2O yang sangat penting

bagi semua bentuk kehidupan. Air sebagai katalis yang berperan dalam melarutkan

bahan bahan lain sehingga dapat tercampur. Air dalam pembuatan puff pastry

berfungsi sebagai media gluten dengan karbohidrat, larutan garam dan membentuk

sifat kenyal gluten (Putra 2016). Air yang ditambahkan pada pembuatan puff pastry

membuat tekstur bahan lainnya lebih mudah dihaluskan. Sifat gluten yang terdapat

pada terigu terdehidrasi dan mengembang bila tepung terigu dicampur dengan air.

Air yang digunakan harus memenuhi syarat air minum yaitu terhindar dari

mikroorganisme yang dapat merugikan kesehatan (Wicaksono 2017).

f. Kriteria puff pastry

Karakteristik puff pastry mengacu pada komposisi dan metode produksi atau

pengolahannya. (Putra 2016). Kualitas puff pastry diukur dan dianalisa

menggunakan indera manusia. Kriteria puff pastry yang baik menurut (Sufiyah

2017) :

1) Volume Bentuk

Volume merupakan penilaian gagal tidaknya produk pastry ini. Adonan produk

puff pastry yang bagus dan baik adalah memiliki volume yang tinggi dan ringan

dikarenakan pembentukan rongga sudah sempurna. Volume adonan yang tidak

diharapkan adalah berat, padat atau bahkan tidak mengembang.

2) Warna

Warna yang dimaksud adalah warna keseluruhan dari puff pastry dari hasil

pemanggangan. Warna puff pastry yang diharapkan bagus dan menarik yaitu

berwarna emas kecoklatan atau golden brown. Warna coklat yang dimaksud adalah

10
warna coklat mengkilap di atas adonan akibat olesan egg wash sebelum

pemanggangan.

3) Rasa

Penilaian rasa setelah pemanggangan yang diharapkan adalah gurih, adonan

puff pastry biasanya kurang manis dari produk pastry lainnya. Rasa yang tidak

diharapkan adalah ketika adonan matang masih terasa terigu yang artinya

pengadonan belum sempurna.

4) Aroma

Aroma puff pastry yang baik memiliki aroma gurih sesuai dengan jenis lemak

yang digunakan dan tidak tengik. Bahan yang berkualitas menghasilkan produk

yang memiliki aroma yang harum khas pastry sementara penggunaan bahan yang

sudah tengik atau terkontaminasi menghasilkan produk yang berbau tengik.

5) Tekstur

Tekstur remah puff pastry adalah lembut di dalam akibat penggunaan lemak

lapis. Sedangkan tekstur kulit puff pastry yang baik adalah renyah, serta berlapis

lapis. Pada proses laminasi dihasilkan lapisan lapisan yang mengembang

menghasilkan tekstur berkarakteristik serpih/berlapis lapis, sehingga memberi

kerenyahan.

6) Kerataan pemanggangan

Kerataan pemanggangan merupakan tingkat kematangan seluruh permukaan

puff pastry. Puff pastry hendaknya dipanggang secara merata termasuk bagian

bawah sehingga tidak ada bagian yang mentah, masih basah, ataupun hangus.

11
B. Tanaman Kelor (Moringa Oleifera)

1. Klasifikasi kelor (moringa oleifera)

Klasifikasi tanaman kelor menurut (USDA, 2013):

Kingdom : Plantae

Sub kingdom : Tracheobionta (vascular plants)

Superdivisi : Spermatophyta (seed plants)

Divisi : Magnoliophyta (flowering plants)

Class : Magnoliopsida (dicotyledons)

Subkelas : Dilleniidae

Ordo : Brassicales

Family : Moringaceae

Genur : Moringa

Species : Moringa oleifera Lamk

Gambar 2. Moringa oleifera


Sumber: Pinterest
2. Deskripsi tanaman kelor
Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman tropis yang mudah

tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia baik di dataran rendah atau dataran tinggi

(hingga 1.000 mdpl). Pohon kelor tumbuh subur hampir diseluruh wilayah

Indonesia, bahkan dapat tumbuh sendiri tanpa ditanam ataupun dirawat. Kelor

12
tumbuh baik di ketinggian 300-500 meter diatas permukaan laut dan memiliki

ketinggian pohon antara 7-11 meter. Tanaman ini tumbuh dalam bentuk pohon,

berumur panjang (perennial), batang berkayu (lignosus), berakar tunggang, dengan

daun majemuk yang berwarna hijau muda saat muda dan hijau tua setelah dewasa.

Bentuk helai daun bulat telur, Panjang dan lebar masing masing sekitar 1-2 cm,

tipis lemas, ujung dan pangkal tumpul (obtusus), susunan pertulangan menyirip

(pinnate) (Affandi 2019)

Tanaman kelor atau Moringa o

karena kaya akan nutrien atau zat gizi. Seluruh bagian tanaman, baik akar, daun,

maupun kulit hingga batang dapat dimanfaatkan sehingga disebut tanaman

multiguna. Tanaman kelor juga berpotensi mampu mengatasi masalah gizi atau

malnutrisi. Daun kelor merupakan pangan yang kaya akan nutrisi baik makro

maupun mikro (Fauziandar 2019).

Daun Kelor merupakan superfood (pangan super) yaitu pangan memiliki kadar

gizi dengan konsentrasi tinggi dan phytochemical (senyawa kimia alami) yang

dapat meningkatkan kesehatan dan mencegah berbagai penyakit. Setiap superfood

adalah pangan fungsional, tetapi tidak semua fungsional food adalah superfood.

Hingga saat ini terdapat delapan bahan pangan mega superfood yang telah

ditetapkan, yaitu chorella, moringa kelor, goji berry, spirulina, cacao, grass wheat,

camu camu, dan acai. Pangan yang termasuk superfood salah satunya kelor mampu

meningkatkan kesehatan dan kekebalan tubuh. Kandungan antioksidan daun kelor

berperan sebagai booster imunitas yang dapat membantu penyembuhan berbagai

penyakit secara cepat (heal faster) sekaligus menjaga fungsi imunitas secara alami

(Winarno 2018)

13
3. Kandungan daun kelor (moringa oleifera)

Kandungan pada daun kelor sangat menguntungkan bagi kesehatan tubuh.

Lebih dari 90 senyawa gizi dan 46 jenis antioksidan terkandung dalam daun kelor.

Terdapat 18 jenis asam amino yang terkandung dalam daun kelor, 8 diantaranya

asam amino essensial. Asam amino esensial diperoleh melalui asupan makanan dari

luar tubuh, karena tubuh tidak mampu mensintesis sendiri (Winarno 2018).

Menurut (Nucahyati 2014), kandungan dalam daun kelor segar setara dengan 7 kali

vitamin C yang terdapat pada jeruk segar, 4 kali vitamin A yang terdapat pada

wortel, 4 kali kalsium yang terdapat pada susu, 3 kali kalium yang terdapt pada

pisang, 2 kali protein yang terdapat pada yogurt dan ¾ kali zat besi yang terdapat

pada bayam. Sedangkan dalam daun kelor kering, kandungan daun kelor setara

dengan ½ kali vitamin C yang terdapat pada jeruk segar, 10 kali vitamin A yang

terdapat pada wortel, 17 kali kalsium yang terdapat pada susu, 15 kali kalium yang

terdapat pada pisang, 9 kali protein yang terdapat pada yogurt dan ¾ kali zat besi

yang terdapat pada bayam. Nilai gizi daun kelor dalam 100 gram disajikan pada

Tabel 1.

14
Tabel 1
Kandungan Gizi Dalam 100 Gram Daun Kelor

Daun kelor
Kalori (kkal) 92,00
Protein (g) 6,70
Lemak (g) 1,70
Karbohidrat (g) 13,40
Serat (g) 0,90
Ca (mg) 440,00
Mg (mg) 24,00
P (mg) 70,00
K (mg) 529,00
Cu (mg) 1,10
Fe (mg) 7,00
S (mg) 137,00
Vitamin A-B carotene (mg) 6,80
Vitamin B-choline (mg) 423,00
Vitamin B1-thiamin (mg) 0,21
Vitamin B2-riboflavin (mg) 0,05
Vitamin B3-nicotinic acid (mg) 0,80
Vitamin C-ascrobic acid (mg) 220,00
Vitamin E-tocopherol (mg) -
Sumber : (Winarti 2010)

4. Manfaat daun kelor

Manfaat Daun Kelor Menurut (Krisnadi 2015):

a. Penyeimbang gula darah

Daun kelor mengandung Beta Karoten yang terdapat di dalam vitamin A,

antioksidan untuk menangkal radikal bebas dan penyakit, vitamin C yang

15
membantu penormalan hormon insulin yaitu dalam sekresi insulin, serta vitamin E,

untuk mencegah terkena penyakit diabetes. Dalam penelitian yang dilakukan

Syamra (2018), pemberian air rebusan kelor efektif menurunkan kadar glukosa

darah pasien Diabetes Melitus (DM).

b. Menyeimbangkan tekanan darah tinggi

Menurut penelitian yang dilakukan (Yanti 2019) ekstrak daun kelor dapat

menurunkan hipertensi. Pada daun kelor terdapat kandungan asam amino arginine

yang dikenal untuk menyeimbangkan tekanan darah. Kelor mengandung seluruh

nutrisi yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan tekanan darah. Kalsium dalam

daun kelor dibutuhkan untuk relaksasi otot polos dan kontraksi, peningkatan

konsumsi kalsium dapat memiliki efek langsung pada pembuluh darah. Kelor juga

mengandung magnesium bersama dengan zinc dan vitamin E yang mengambil

bagian dalam mengurangi tekanan darah bersama dengan nutrisi lainnya

c. Tonik penguat jantung

Kelompok vitamin khusus yang sangat penting untuk kesehatan jantung adalah

vitamin B. Kelor kaya dengan vitamin B, khususnya asam folat, vitamin B 6 dan B

12. Beberapa penelitian membuktikan bahwa asam folat dan vitamin B lainnya

mengurangi risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Pada daun kelor terdapat

kandungan antioksidan seperti yang Selain itu vitamin B3 dalam kelor, dapat

mengurangi kolesterol dalam konsentrasi tinggi, vitamin E dan vitamin C dalam

kelor, bekerja sama untuk mencegah penyakit jantung dan penyakit lain melalui

kemampuan antioksidannya. Antioksidan yang terkandung dalam kelor seperti

-sitosterol dan flavonoid dapat menghambat reabsorbsi

16
kolesterol dari sumber endogen serta bermanfaat menurunkan kadar kolesterol

dengan menurunkan konsentrasi LDL dalam plasma (Tjong, Assa, and Purwanto

2021).

d. Meningkatkan ASI

Berdasarkan penelitian (Zakaria et al. 2016), yaitu pemberian ekstrak daun

kelor pada ibu bersalin mengalami peningkatan pada volume ASI sesudah

intervensi, serta terdapat peningkatan kadar zat besi dalam ASI. Daun Kelor

meningkatkan efek laktasi yang dibuktikan dengan peningkatan yang lebih besar

dalam kadar prolaktin serum ibu. Prolaktin merupakan hormon yang paling penting

dalam inisiasi laktasi. Serbuk daun Kelor adalah galactagogues yang efektif untuk

meningkatkan volume dan memperlancar ASI (Krisnadi 2015).

e. Anti Penuaan

Kelor mengandung sitokinin (hormon alami yang menginduksi pembelahan

sel, pertumbuhan, dan penundaan penuaan sel). Beberapa studi membuktikan

bahwa sitokinin menghasilkan sifat anti-penuaan pada manusia. Dengan adanya

sitokinin, siklus kulit manusia telah dirubah oleh fakta bahwa sel-sel kulit baru

tumbuh lebih cepat daripada sel-sel yang lebih tua mati. Hal ini mengakibatkan

pengurangan menakjubkan kerutan pada wajah dan bagian lain dari tubuh. Zeatin,

salah satu senyawa dalam sitokinin, yang dapat memperlambat proses penuaan

dengan membantu menggantikan sel-sel tubuh pada tingkat yang lebih cepat

daripada usia mereka, dan memberikan penampilan yang lebih muda pada kulit

(Krisnadi 2015).

f. Mencegah dan mengatasi anemia

17
Daun kelor mengandung zat besi, disimpan dalam hemoglobin (sel darah

merah). Berdasarkan penelitian, ekstrak kelor efektif dalam meningkatkan kadar

hemoglobin remaja putri. Zat besi membawa oksigen ke sel- sel tubuh dan

membawa karbondioksida keluar tubuh, mendukung fungsi otot, enzim, protein dan

metabolisme energi. Kebutuhan zat besi diperlukan khususnya bagi remaja putri

dan perempuan dewasa untuk membentuk hemoglobin yang mengalami

peningkatan dan mencegah anemia yang disebabkan karena kehilangan zat besi

selama menstruasi (Fauziandar 2019).

C. Zat Besi

Zat besi merupakan unsur yang melimpah di bumi dan merupakan komponen

penting secara biologis dari setiap organisme hidup. Zat mikronutrien esensial ini

dibutuhkan untuk sintesis protein transpor oksigen, khususnya hemoglobin dan

mioglobin, dan untuk pembentukan enzim heme dan enzim lain yang mengandung

zat besi yang terlibat dalam transfer elektron dan reduksi oksidasi. Bentuk bentuk

konjugasi Fe diantaranya hemoglobin, myoglobin, transferrin, ferritin, dan

hemosiderin. Hampir dua pertiga zat besi tubuh ditemukan dalam hemoglobin yang

ada dalam eritrosit yang bersirkulasi, 25% terkandung dalam penyimpanan zat besi

yang mudah dimobilisasi, dan 15% sisanya terikat pada mioglobin dalam jaringan

otot dan dalam berbagai enzim yang terlibat dalam metabolisme oksidatif dan

banyak lagi, fungsi sel lainnya (Abbaspour, [Link] 2014).

Ekskresi Fe dilakukan melalui kulit bagian dalam tubuh dan dilepaskan oleh

permukaan tubuh, jumlahnya sangat kecil sekitar 1 mg sehari. Fe banyak terbuang

dari badan dalam masa menstruasi pada wanita usia subur, sehingga kebutuhan Fe

18
pada wanita lebih tinggi dibanding laki laki. Ibu hamil juga memerlukan banyak

Fe karena bayi dalam kandungan memerlukan zat besi dan Fe dalam bentuk lacto

transferin terkandung dalam ASI (Sediaoetama 1987).

Defisiensi zat besi adalah yang paling umum dari kekurangan nutrisi ini,

mempengaruhi sekitar 2 miliar orang di seluruh dunia menurut WHO, termasuk 20-

30% wanita hamil dan keturunan mereka. Kekurangan zat besi terlihat dimana

kadar hemoglobin darah dibawah normal. Pada umumnya dapat menyebabkan

lemah, letih, lesu, sakit kepala, pucat, dingin di tangan dan kaki hingga kurang nafsu

makan (Susiloningtyas 2018)

Sumber pangan zat besi terdapat dalam bentuk heme dan non heme. Zat besi

dalam bentuk heme yang terdapat dalam hemoglobin dan mioglobin sumber

makanan hewani lebih mudah diserap dibandingkan non hem dalam makanan

sumber nabati. Tingkat penyerapan Fe sumber pangan nabati didalam tubuh

mencapai 1-2%, sedangkan sumber pangan hewani 10-2-%. Sumber zat besi

hewani diantaranya daging, ayam, dan ikan, sedangkan sumber zat besi nabati yaitu

serealia, sayuran hijau, kacang kacangan dan beberapa jenis buah (Almatsier

2011).

D. Antioksidan

Antioksidan merupakan molekul yang mampu mencegah atau memperlambat

proses oksidasi molekul lain. Oksidasi adalah reaksi kimia yang dapat

menghasilkan radikal bebas, sehingga dapat merusak sel yang dipicu oleh reaksi

berantai. Antioksidan juga diperlukan untuk mencegah stres oksidatif yaitu kondisi

ketidak seimbangan antara jumlah radikal bebas yang ada dengan jumlah

19
antioksidan di dalam tubuh. Stress oksidatif yang diinduksi oleh radikal

mempengaruhi terjadinya berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung

koroner, kanker, dan penuaan dini (Werdhasari 2014).

Dalam bahan pangan, antioksidan alami banyak terdapat dalam buah-buahan,

sayur sayuran, rempah - rempah, teh, coklat, biji-bijian maupun sumber pangan

hewani. Antioksidan alami banyak ditemukan pada makanan yang segar dan belum

diproses. Umumnya kandungan antioksidan dalam sumber pangan nabati lebih

tinggi dibandingkan sumber pangan hewani. Senyawa antioksidan yang umumnya

ditemukan dalam bahan pangan yaitu Vitamin C, Vitamin E, beta-karoten,

selenium, Superoksida Dismutase (SOD), dan flavonoid (Silvia et al. 2016).

E. Anemia

Anemia adalah keadaan tubuh dimana kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah

lebih rendah dibanding nilai normal. Hemoglobin adalah metalloprotein (protein

yang mengandung zat besi) di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai

pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Anemia sering disebut kurang

darah tepatnya adalah kekurangan / penurunan kadar sel darah merah (eritrosit)

yang beredar tidak dapat memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi

jaringan tubuh (Nurbadriyah 2019)

Penyebab utama terjadinya anemia di Indonesia adalah kekurangan zat besi.

Defisiensi Fe diartikan sebagai keadaan biokimia Fe yang abnormal disertai atau

tanpa keberadaan anemia (Lestari, et al., 2018). Menurut Bakta (2006), anemia

defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang disebabkan oleh kosongnya cadangan

besi sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang, yang pada akhirnya

20
mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang. Zat-zat gizi yang berperan

dalam pembentukan sel darah merah adalah protein, berbagai vitamin yaitu asam

folat dan vitamin C) serta mineral yaitu fe.

Parameter batasan kadar hemoglobin normal menurut WHO (1968):

Tabel 2
Parameter Kadar Hemoglobin Normal

Kelompok Umur Hemoglobin (gr/dl)


Anak 6 bulan 6 tahun 11
6 tahun 14 tahun 12
Dewasa Laki Laki 13
Wanita 12
Wanita Hamil 11

Berbagai faktor dapat mempengaruhi terjadinya anemia defisiensi besi antara

lain pola makan, pola haid, pengetahuan mengenai resiko terjadinya anemia

defisiensi besi, pengetahuan mengenai zat-zat pemicu terjadinya anemia atau

menghambat absorpsi besi, konsumsi obat- obatan tertentu seperti antibiotik,

aspirin, obat sulfonamide, obat malaria, pendarahan, luka bakar, dan gaya hidup

seperti merokok, minum minuman keras, dan kebiasaan sarapan pagi (Prasetya and

Wihandani 2019).

21

Anda mungkin juga menyukai