AL KALAM WAMA YATA’ALLAFU BIHI
Disusun untuk memenuhi tugas Nahwu
Dosen pengampu : Mohammad Tisna, [Link]
Disusun Oleh :
1. Sayyidah Azzahro
2. Musyail
3. Ameliah
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIAH
AL-MARHALAH AL-ULYA BEKASI
TAHUN AJARAN 2024/2025
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul "Al Kalam
Wama Yata’allafu Bihi". Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi
Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang mengikuti
petunjuknya hingga akhir zaman.
Makalah ini disusun sebagai bagian dari upaya dalam memahami dasar-dasar ilmu
nahwu, khususnya mengenai kalam, yakni pembahasan tentang kata dan susunan
yang memiliki makna sempurna dalam bahasa Arab. Dalam makalah ini, kami
menguraikan pengertian kalam, syarat-syaratnya, serta contoh penerapannya dalam
pembelajaran bahasa Arab.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi kesempurnaan makalah ini di masa mendatang.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat dan menjadi sarana untuk lebih memahami ilmu nahwu, khususnya dalam
pembahasan tentang kalam.
Wassalamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bekasi, 27 Februari 2025
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 1
C. Tujuan.......................................................................................................... 1
BAB II ..................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN ..................................................................................................... 2
A. Definisi Kalam ............................................................................................ 2
B. Syarat-syarat Kalam .................................................................................... 2
C. Unsur-unsur Kalam ..................................................................................... 4
BAB III ................................................................................................................... 7
PENUTUP ............................................................................................................... 7
Kesimpulan .......................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 8
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang memiliki struktur tata
bahasa yang kompleks dan sistematis. Dalam mempelajarinya, ilmu nahwu
menjadi dasar utama yang harus dikuasai agar seseorang dapat memahami
dan menggunakan bahasa Arab dengan benar. Salah satu aspek penting dalam
ilmu nahwu adalah pembahasan tentang kalam ()الكالم, yaitu susunan kata
yang membentuk makna sempurna.
Pemahaman yang baik tentang kalam sangat penting karena merupakan
pondasi dalam menyusun kalimat yang benar sesuai dengan kaidah bahasa
Arab. Tanpa pemahaman yang kuat mengenai kalam, seseorang akan
kesulitan dalam membaca, menulis, atau menerjemahkan teks-teks bahasa
Arab, baik dalam konteks akademik maupun keagamaan.
Oleh karena itu, dalam makalah ini kami membahas secara mendalam tentang
pengertian kalam, syarat-syaratnya, serta unsur-unsur pembentuknya.
Dengan adanya pembahasan ini, diharapkan pembaca dapat memahami
konsep dasar dalam menyusun kalimat bahasa Arab secara tepat dan sesuai
dengan aturan nahwu.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi kalam?
2. Apa saja syarat-syarat kalam?
3. Apa saja unsur-unsur kalam?
4. Apa saja jenis-jenis kalam?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi kalam
2. Untuk mengetahui apa saja syarat-syarat kalam
3. Untuk mengidentifikasi apa saja unsur-unsur kalam
4. Untuk mengidentifikasi apa saja jenis-jenis kalam
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Kalam
Terdapat perbedaan terhadap penyebutan istilah “kata” dalam bahasa
Indonesia dan bahasa Arab. Jika dalam bahasa Indonesia disebut “kata”,
maka dalam bahasa Arab disebut “kalimah”. Kumpulan kata dalam bahasa
Indonesia disebut “kalimat”, sedangkan kumpulan kata dalam bahasa Arab
disebut “jumlah”.
Bahasa manusia terdiri dari tiga komponen dasar, yaitu:
a. Satuan bunyi disebut “huruf” atau “abjad”.
b. Susunan huruf yang memiliki arti tertentu yang dalam bahasa Indonesia
disebut “kata” dan dalam bahasa Arab disebut “kalimah”.
c. Rangkaian kata yang mengandung pikiran yang lengkap yang dalam
bahasa Indonesia disebut “kalimat” dan dalam bahasa Arab disebut
“jumlah”.1
Secara bahasa kalam berarti perkataan atau ucapan. Dalam kitab Matn al-
Jurumiyah disebutkan bahwasanya al-kalam adalah sebagai berikut :
الكالم هو اللفظ المركب المفيد بالوضع
Artinya : “Kalam adalah lafadz yang tersusun 2 kalimat atau lebih yang
berfaidah dan sengaja diucapkan dengan bahasa arab”.
Dari definisi ini, dapat disimpulkan bahwa Kalam harus memenuhi beberapa
syarat utama agar dapat dikategorikan sebagai kalimat yang benar dalam
bahasa Arab.2
B. Syarat-syarat Kalam
Dalam penyusunannya kalam mempunyai beberapa syarat yang harus
dipenuhi yaitu lafadz, murokkab, mufidz dan bil wadh’i. Apabila salah satu
1
Switri, Endang, and M. Pd. Tata Bahasa Arab (Buku Pendampingan Belajar Bahasa Arab Untuk
Pemula). Penerbit Qiara Media, 2022.
2
Muhammad Ibn Muhammad Ibn Ajurum Ash-Shanhaji, Matn Al-Ajurumiyyah (Surabaya:
Al-Haramain, t.t.), h. 1
2
syarat tersebut tidak dipenuhi maka tidak dapat disebut sebagai kalam.
Adapun syarat-syarat kalam adalah sebagai berikut:
1. Lafazh
Artinya suatu kalam harus ada lafazh, dan yang dimaksud lafazh adalah
suara yang mengandung huruf hijaiyah sehingga bisa ditulis dengan huruf
hijaiyah yang banyaknya ada 28 yaitu:
ابتثجحخدذرزسشصضطظعغفقكلمنوهي
Misal lafazh زَ ي َْدyang mengandung huruf ي د
ْ َ ز. Apabila ada suara tapi tidak
bisa ditulis dengan huruf hijaiyah, maka tidak bisa dikatakan sebagai lafazh.
Seperti suara kucing, lonceng, burung dan lain-lain.
2. Murokkab (Tersusun)
Artinya setelah ada lafazh, maka lafazh itu harus tersusun, minimal
َ َ( قZaid telah beridiri).
tersusun dari 2 kata seperti ام زَ يْد
3. Mufid (Memberi faidah)
Artinya lafazh yang mempunyai arti/ memberi faidah. Suatu ungkapan itu
akan dikatakan sebagai kalam apabila ungkapan itu bisa dipahami oleh kedua
belah pihak, baik yang berbicara maupun yang mendengarkan(tanpa bertanya
َ َ( قZaid telah berdiri). Apabila ada ungkapan yang
lagi). Misalnya ام زَ يْد
tersusun dari beberapa kata tetapi maksudnya tidak bisa dipahami oleh yang
َ َ( ا ِْن قjika
mendengar maka tidak bisa disebut sebagai kalam, misalnya ام زَ يْد
Zaid berdiri), dan itu akan menjadi kalam apabila disebutkan lanjutannya
َ َ( قMuhammad juga berdiri). Sehingga menjadi ام ُم َح ّمد
seperti ام ُم َح ّمد َ َام زَ يْد ق
َ َا ِْن ق
(jika Zaid berdiri, maka Muhammad juga berdiri). Demikian pula jika ucapan
kalam diucapkan dalam keadaan tidak sadar atau tidak dalam keadaan
disengaja, maka tidak bisa disebut sebagai kalam.
4. Bil Wadh’i (Sengaja diucapkan dan menggunakan Bahasa Arab)
Artinya lafadz harus diucapkan dengan sengaja dan dengan bahasa arab.
Jika tidak sengaja diucapkan dan tidak dengan bahasa arab maka itu tidak
disebut wada'. lafazh yang digunakan dalam pembicaraan berupa lafazh-
lafazh yang dipakai orang Arab untuk menunjukkan suatu makna. Dengan
3
demikian, ucapan orang ‘ajam tidak dapat disebut sebagai kalam.3 Demikian
pula jika ucapan kalam diucapkan dalam keadaan tidak sadar atau tidak dalam
keadaan disengaja, maka tidak bisa disebut sebagai kalam.
C. Unsur-unsur Kalam
Unsur-unsur Kalam dibagi menjadi tiga, yaitu:
a) Isim
Umumnya Isim dikenal dalam bahasa indonesia sebagai kata benda. Isim
secara bahasa artinya kata yang menunjukkan yang dinamai. Isim menurut
istilah ahli nahwu adalah kata yang menunjukkan suatu makna pada dirinya
dan tidak diasosiasikan dengan waktu apapun, contohnya ُم َح ّمد.4 Isim adalah
setiap kata yang menunjukkan kepada manusia, hewan, tumbuhan, benda
mati, tempat, waktu, sifat atau makna yang tidak berkaitan dengan waktu.
Tanda-tanda isim adalah sebagai berikut:
a. Terdapat tanwin di akhir kata, contohnya زيد, قَلَم,
b. Dapat dimasuki oleh الpada awal kata, contohnya
الكتاب
ُ
c. Dapat dimasuki oleh huruf nida’ (panggilan) pada sebelum kata,
contohnya
يَا ُم َح َّمد
d. Dapat dimajrurkan oleh huruf jar sebelum kata, contohnya فِ ْي بَيْت
َّ غ ْسنُ ال
e. Dapat di-idhofah-kan, contohnya ِش َج َر ة ُ
ُ ا َ ْل ِكت.5
f. Terdapat musnad ilaih, contohnya : َاب ُم ِفيْد
Adapun pembagian isim dalam ilmu nahwu adalah sebagai berikut:
1. Isim berdasarkan jumlah (Mufrad, Tasniyah, dan Jamak), contohnya مسلم،
مسلمين/ مسلمون،مسل َمي ِْن/مسلمان
2. Isim berdasarkan jenis (Mudzakkar dan Muannats), contoh nya مؤمنة،مؤمن
3
Abu Muhammad Agus Waluyo, “Panduan Praktis Belajar Bahasa Arab Akrab Nahwu,”
t.t., h. 3, [Link].
4
Abd al-Hamid, At-Tuhfah as-Saniyyah bi Syarh al-Muqaddimah al-Ajurumiyyah, h. 7.
5
6 Fu’ad Ni’mah, Mulakhkhash Qawa’id al-Lughah al-‘Arabiyyah (Surabaya: Al- Hidayah, t.t.),
h. 17-18.
4
3. Isim dari segi keumuman dan kekhususan (Ma’rifah dan Nakirah),
comtohnya المسجد،مسجد
4. Isim dari segi penerimaan tanwin (Musharif dan Ghairu Munsharif),
contohnya مسكين، ُمساكين
5. Isim ditinjau dari perubahan akhir kata (Mu’rab dan Mabniy), contohnya
مسلم،الّذي
b) Fi’il
Umumnya fi’il dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai kata kerja. Fi’il
secara bahasa adalah peristiwa. Adapun fi’il dalam istilah ahli nahwu adalah
kata yang menunjukkan suatu makna pada waktu tertentu dari tiga waktu.
Tiga waktu itu adalah:
َ َكت
1. Fi’il Madhi (lampau), contohnya : َب
ُ ُ يَ ْكت
2. Fi’il Mudhori’ (sedang atau akan datang), contohnya : ب
3. Fi’il Amar (perintah), contohnya : ْا ُ ْكتُب.6
Tanda-tanda Fi’il adalah sebagai berikut:
a. Dapat bersambung dengan ta’ fa’il, contohnya : َُكتَبْت
b. Diakhiri (fi’il madhi) dan diawali (fi’il mudhori’) dengan ta’ ta’nits,
ُ ُ تَ ْكت
ْ َ َكتَب- ب
contohnya : ت
ْ ا ُ ْش ُك ِر
c. Dapat bersambung dengan ya’ mukhatabah, contohnya : ي
d. Dapat bersambung dengan nun taukid, contohnya : لَيَ ْكتُب َُّن.7
e. Didahului huruf قَ ْد, contohnya : َقَ ْدا َ ْفلَ َح اْل ُمؤْ ِمنُ ْون
f. Didahului huruf س, contohnya : اس ُّ سيَقُ ْو ُل ال
ِ َّسفَها َ ُء ِمنَ الن َ
g. Didahului huruf ف َ , contohnya : َف تَ ْعلَ ُم ْون
َ س ْو َ ََّكال
َ س ْو
Pembagian fi’il adalah sebagai berikut:
1. Fi’il berdasarkan kebutuhan terhadap objek (Fi’il Lazim dan Fi’il
Muta’addiy), contohnya ع ْم ًرا
َ ب زَ يْد َ ،ُخ ًَر َج ْاْل ْست َاذ
َ ض َر
ِ ُ ن،ص َر
2. Fi’il aktif dan pasif (Fi’il Ma’lum dan Fi’il Majhul), contohnya ص َر َ َن
6
Abd al-Hamid, At-Tuhfah as-Saniyyah bi Syarh al-Muqaddimah al-Ajurumiyyah, h. 7-8
7
Ni’mah, Mulakhkhash Qawa’id al-Lughah al-‘Arabiyyah, h. 20
5
3. Fi’il berdasarkan huruf penyusun (Fi’il Shahih dan Fi’il Mu’tal).8
Contohnya َ َخلَق،َعد
َ َو
c) Huruf
Huruf adalah setiap kata yang tidak bermakna kecuali jika bersama
dengan kata yang lain.9 Huruf secara bahasa memiliki arti huruf seperti yang
kita kenal dalam bahasa Indonesia yang ada 26 huruf. Sedangkan dalam
bahasa Arab kita mengenal 28 huruf yang kita kenal dengan huruf hijaiyah.
Akan tetapi, huruf yang dimaksud disini bukan setiap huruf hijaiyah
melainkan huruf hijaiyah yang memiliki arti و,(seperti) ك,(akan) س:seperti
(dan), ( فmaka), ( بdengan), ( لuntuk).
Huruf yang dimaksud disini tidak berarti harus huruf yang disusun dari satu
huruf saja, tetapi juga yang disusun dari dua atau lebih huruf yang memiliki
makna, di dalam). Contoh) في,(di atas) علَى
َ ,(dari/tentang) عن,(ke) اِلَى,(dari)
من. Contoh huruf yaitu اس ِ ْمنَ ا.
ِ َّلجنَّ ِة َوالن ِ 10
8
azin dan Razin, Ilmu Nahwu Untuk Pemula, h. 12.
9
Muh. Haris Zubaidillah, Pengantar Ilmu Nahwu Belajar Bahasa Arab Sampai Bisa(Amuntai:
Hemat), h. 7.
10
Razin dan Razin, Ilmu Nahwu Untuk Pemula, h. 45.6
6
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Al-kalam adalah lafadz yang tersusun dan berfaidah (mempunyai
pengertian sempurna dengan disengaja) dalam bahasa Arab. Kalam dibagi
menjadi tiga, yang pertama adalah Isim, menurut istilah ahli nahwu adalah
kata yang menunjukkan suatu makna pada dirinya dan tidak diasosiasikan
dengan waktu [Link] kedua adalah Fi’il dalam bahasa Indonesia
dikenal dengan istilah kata kerja. Adapun fi’il dalam istilah ahli nahwu adalah
kata yang menunjukkan suatu makna pada waktu tertentu dari tiga waktu,
yaitu lampau (Madhi), sedang atau akan datang (Mudhori’), dan perintah
(Amar). Dan yang ketiga adalah Huruf adalah setiap kata yang tidak
bermakna kecuali jika bersama dengan kata yang lain.
7
DAFTAR PUSTAKA
Abd al-Hamid, At-Tuhfah as-Saniyyah bi Syarh al-Muqaddimah al-
Ajurumiyyah, h. 7.
Abu Muhammad Agus Waluyo, “Panduan Praktis Belajar Bahasa Arab Akrab
Nahwu,”
Al-Haramain, t.t.), h. 1
azin dan Razin, Ilmu Nahwu Untuk Pemula, h. 12.
Fu’ad Ni’mah, Mulakhkhash Qawa’id al-Lughah al-‘Arabiyyah (Surabaya: Al-
Hidayah, t.t.), h. 17-18.
Muh. Haris Zubaidillah, Pengantar Ilmu Nahwu Belajar Bahasa Arab Sampai Bisa
(Amuntai: Hemat), h. 7.
Muhammad Ibn Muhammad Ibn Ajurum Ash-Shanhaji, Matn Al-Ajurumiyyah
(Surabaya:
Razin dan Razin, Ilmu Nahwu Untuk Pemula, h. 45.6
Switri, Endang, and M. Pd. Tata Bahasa Arab (Buku Pendampingan Belajar
Bahasa Arab Untuk Pemula). Penerbit Qiara Media, 2022.
t.t., h. 3, [Link].