0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan83 halaman

Rencana Kerja Pembangunan Kesehatan

Dokumen ini adalah Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) untuk pembangunan Pusat Kesehatan Ibu dan Anak Tahap IV di RSUD ODSK Provinsi Sulawesi Utara. RKS mencakup syarat teknis, lingkup pekerjaan, ketentuan umum, serta syarat teknis pelaksanaan pekerjaan arsitektur dan MEP. Penyedia wajib mematuhi semua ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan untuk menjamin mutu dan kelancaran pelaksanaan proyek.

Diunggah oleh

rival
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan83 halaman

Rencana Kerja Pembangunan Kesehatan

Dokumen ini adalah Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) untuk pembangunan Pusat Kesehatan Ibu dan Anak Tahap IV di RSUD ODSK Provinsi Sulawesi Utara. RKS mencakup syarat teknis, lingkup pekerjaan, ketentuan umum, serta syarat teknis pelaksanaan pekerjaan arsitektur dan MEP. Penyedia wajib mematuhi semua ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan untuk menjamin mutu dan kelancaran pelaksanaan proyek.

Diunggah oleh

rival
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DAFTAR ISI

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)

BAB I SYARAT-SYARAT TEKNIS DAN BAHAN


Pasal 1 Situasi
Pasal 2 Lingkup Pekerjaan
Pasal 3 Pekerjaan Pelaksanaan
Pasal 4 Ukuran
Pasal 5 Pekerjaan Persiapan

BAB II KETENTUAN TEKNIS UMUM PEKERJAAN


Pasal 1 Rencana Pelaksanaan Pekerjaan
Pasal 2 Organisasi Pelaksana Lapangan
Pasal 3 Tenaga Kerja Lapangan
Pasal 4 Bahan dan Peralatan
Pasal 5 Mobilisasi
Pasal 6 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan
Pasal 7 Laporan Kemajuan Pekerjaan
Pasal 8 Foto-foto Proyek
Pasal 9 Perbedaan Ukuran
Pasal 10 Sarana Penunjang Proyek
Pasal 11 Papan Nama Proyek
Pasal 12 Perubahan Pekerjaan
Pasal 13 Kesehatan dan Keselamatan Kerja

BAB III SYARAT TEKNIS PELAKSANAAN PEKERJAAN ARSITEKTUR


Pasal 1 Pekerjaan Lantai
Pasal 2 Pekerjaan Waterproofing
Pasal 3 Pekerjaan Bata Ringan
Pasal 4 Pekerjaan Plesteran Dinding dan Acian
Pasal 5 Pekerjaan Kusen, Daun Pintu, dan Jendela Alumunium
Pasal 6 Pekerjaan Pintu Pabrikasi (Solid Engineering)
Pasal 7 Pekerjaan Pemasangan Kaca
Pasal 8 Pekerjaan Penggantung dan Pengunci
Pasal 9 Pekerjaan Penutup Plafond
BAB IV SYARAT TEKNIS PELAKSANAAN PEKERJAAN MEP
Pasal 1 Pekerjaan Elektrikal
Pasal 2 Pekerjaan Instalasi Penerangan dan Daya
Pasal 3 Pekerjaan Instalasi Data
Pasal 4 Pekerjaan Instalasi Kebakaran
Pasal 5 Pekerjaan Instalasi Telepon
Pasal 6 Pekerjaan Instalasi Tata Suara
Pasal 7 Pekerjaan Instalasi CCTV
Pasal 8 Pekerjaan Plumbing
Pasal 9 Pekerjaan Gas Medis
Pasal 10 Pekerjaan Tata Udara

BAB V PENUTUP
BAB I
SYARAT-SYARAT TEKNIS DAN BAHAN

Pasal 1
SITUASI

(1) PEMBANGUNAN PUSAT KESEHATAN IBU DAN ANAK TAHAP IV akan dilaksanakan
pada lokasi yang telah ditetapkan di RSUD ODSK PROVINSI SULAWESI UTARA.
(2) Calon penyedia wajib meneliti situasi medan, terutama kondisi tanah, sifat dan
luasnya pekerjaan dan hal-hal lain yang berpengaruh terhadap penawarannya,
disampingketentuan-ketentuan dalam RKS.
(3) Kelalaian dan kurang ketelitian dalam hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk
mengajukan claim dikemudian hari.

Pasal 2
LINGKUP
PEKERJAAN

Pekerjaan yang harus dilaksanakan pada lokasi tersebut di atas meliputi:


1. Pekerjaan Persiapan
2. Pekerjaan Keamanan dan Kesehatan Kerja Serta Keselamatan Konstruksi
3. Pekerjaan Arsitektur
4. Pekerjaan Elektrikal
5. Pekerjaan Plumbing
6. Pekerjaan Gas Medis
7. Pekerjaan Tata Suara
8. Pekerjaan Telepon
9. Pekerjaan MATV
10. Pekerjaan Data
11. Pekerjaan CCTV
12. Pekerjaan Pemadam Kebakaran
13. Pekerjaan Fire Alarm
14. Pekerjaan Tata Udara
15. Pekerjaan Lift
16. Pekerjaan Interior dan Meubeler

Pasal 3
PEKERJAAN
PELAKSANAAN

Untuk menjamin mutu dan kelancaran pekerjaan, Penyedia harus menyediakan :


(1) Pelaksana ahli yang mengerti gambar dan cara-cara pelaksanaan.
(2) Pelaksana yang trampil dalam bidang pekerjaan.
(3) Pompa air mesin pemadat tanah, alat-alat pengukur seperti waterpas, penyekat
tegak danalat-alat bantu lainnya, diperlukan untuk ketelitian, kerapihan ketepatan
pekerjaan.
(4) Bahan yang harus sudah ada ditempat menjelang waktu pengerjaan sehingga tidak
akanterjadi kelambatan pelaksanaan dari jadwal yang telah ditentukan.

Pasal 4
UKURAN
(1) Satuan Ukur
Semua ukuran tersebut dalam gambar kerja dinyatakan dalam ukuran matrik,
kecualiuntuk baut-baut dan sejenisnya dalam inch.
(2) Ukuran Penduga
Ukuran penduga adalah induk ukuran darimana semua ketinggian dan kedalaman
diambil,berupa balok sepanjang 200 cm berpenampang 5 x 5 cm dengan semua sisi
diketam rata dimeni 2 kali sepanjang tegak lurus pada tanah bangunan sedalam 100
cm.
Ukuran Penduga ini dinyatakan dengan huruf (P) dibuat oleh Penyedia dibawah
pengawasan Direksi dan dipelihara selama pelaksanaan.
(3) Ukuran pokok lebih kurang + 0.00 adalah tinggi lantai bangunan induk dalam hal
ini peil Selasar Lantai Dasar yang ditentukan +60 cm dari muka tanah yang telah
dimatangkan. Selanjutnya semua ukuran tinggi dalam gambar diambil dari tinggi
lantai + 0.00 ini.

Pasal 5
PEKERJAAN
PERSIAPAN

(1) Papan Nama Proyek


a. Kontraktor wajib membuat dan memasang papan nama proyek dengan ukuran
lebar
dan isi tulisan sesuai petunjuk direksi.
b. Dipasang pada bagian lokasi Proyek yang terlihat jelas.

(2) Papan Bangunan (Bouwplank)


a. Setelah Permukaan tanah yang akan dibangun, bangunan dibersihkan dari
kotoransampah maupun pohon, baru diizinkan membuat papan bangunan.
b. Papan bangunan dari kayu borneo tebal 2 cm dengan tiang kaso 5/10 jarak
tiang 1meter.
c. Papan bangunan permukaan atasnya ditempatkan setinggi lantai bangunan
induk(peil ± 0.00) dan minimal 2 m dari As Bangunan kearah luar.
d. Papan Bangunan boleh dibongkar sesudah mulai pekerjaan dinding bata.
e. Patok peil beton dibuat dari beton 15 x 15cm.

(3) Penyediaan Air Kerja


a. Penyedia Jasa harus menyediakan air kerja berdasarkan kebutuhan kerja.
b. Air kerja yang disediakan tersebut harus bersih dan tidak mengandung minyak,
asam alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahanlainnya yang dapat
merusak beton, baja tulangan atau jaringan kawat baja, serta mencukupi bagi
keperluan selama proyek berjalan.
c. Penyediaan air kerja oleh penyedia dapat didatangkan dari tempat lain atau
dengan cara membuat sumur/sumur bor sementara di lokasi proyek d e n g a n
menggunakan pompa mekanik.
d. Apabila air dilokasi tidak memenuhi persyaratan, maka kontraktor harus
mendapatkannya dengan membeli air yang memenuhi persyaratan.

5) Pembongkaran dan Pembersihan.


a. Semua penghalang dalam batas tanah bangunan yang menghalangi jalannya
pekerjaanharus dibongkar atau dibersihkan dan dipindah dari tanah bangunan,
kecuali hal-hal yang tercantum dalam gambar atau yang ditentukan oleh Pemberi
Tugas. Dilindungi agar tetap utuh. Pelaksanaan pembongkaran harus dilakukan
dengan sebaik-baiknya untuk menghindarkan harta/benda yang berdekatan dari
kerusakan.
b. Apabila terdapat pondasi bekas bangunan eksisting, pembongkaran sepenuhnya
menjasi tanggung jawab kontraktor pelaksana dan harap diperhitungkan dalam
schedule pelaksanaannya.
c. Kerusakan yang terjadi pada harta/benda intansi atau badan lain atau
perorangan di dalam atau di luar halaman karena alasan pekerjaan-pekerjaan
yang dilakukan harus diperbaiki tanpa penambahan biaya dari Pemberi Tugas.
d. Semua pohon semak, rumput dan tumbuh-tumbuhan lainnya yang ada di daerah
yang harus diurug, harus dihilangkan/dibersihkan yang sebelumnya harus
dikoordinasikan dengan pengawas teknis.

6) Perlindungan Pada Benda-benda yang berfaedah.


a. Semua saluran-saluran yang masih berfungsi, riol, air, listrik atau benda-benda
lainyang berfaedah, harus dilindungi agar tidak rusak, kecuali kalau dinyatakan
untukdihilangkan. Bila timbul kerusakan harus diperbaiki atau diganti Penyedia.
b. Daerah tapak bangunan yang letaknya lebih rendah dari pada tinggi tanah
sekelilingnya, harus dilindungi dari erosi yang terjadi, antara lain dengan cara
pembuatan tanggul-tanggul tanah dan selokan sementara.

BAB II
KETENTUAN TEKNIS UMUM PEKERJAAN

PASAL 1
RENCANA PELAKSANAAN PEKERJAAN

1. Rapat Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan


a. Sebelum Pelaksanaan Pekerjaan, Pengguna Barang/Jasa bersama-sama dengan
penyedia barang/jasa, perencana, pengawas teknis, suku dinas terkait dan
instansi terkait lainnya, terlebih dahulu menyusun rencana pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan surat perjanjian /kontrak.
b. Pengguna barang/jasa harus menyelenggarakan rapat persiapan pelaksanaan
kontrak selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sejak diterbitkan SPMK.
c. Beberapa hal yang dibahas dan disepakati dalam rapat persiapan pelaksanaan
pekerjaan adalah :
1) Organisai kerja.
2) Tata cara pengaturan pelaksanaan pekerjaan.
3) Jadwal pelaksanaan pekerjaan.
4) Jadwal pengadaan bahan, mobilisasi peralatan dan personil.
5) Penyusunan rencana dan pelaksanaan pemeriksaan lapangan.
6) Pendekatan kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat
mengenairencana kerja.
7) Penyusunan program mutu proyek.

2. Pengguna Program Mutu


a. Program mutu pengadaan barang/jasa harus disusun oleh penyedia barang/jasa
dan disepakati pengguna barang/jasa pada rapat persiapan pelaksanaan kontrak
dan dapatdirevisi sesuai dengan kondisi di lapangan.
b. Program mutu pengadaan barang/jasa paling tidak berisi :
1) Informasi pengadaan barang/jasa.
2) Organisasi proyek, pengguna barang/jasa dan penyedia barang/jasa.
3) Jadwal pelaksanaan.
4) Prosedur pelaksanaan pekerjaan.
5) Prosedur instruksi kerja.
6) Pelaksanaan kerja.
c. Persyaratan regulasi
Pekerjaan yang akan dikerjakan dalam Pembangunan Ruang Praktik Siswa (RPS)
ini harus dilaksanakan dengan mengikuti dan memenuhi persyaratan teknik yang
tertera dalam Persyaratan Normalisasi Indonesia (NI), Standar Industri Indonesia
(SSI) serta Pedoman Teknis Sarana dan Prasaran Rumah Sakit Kelas C maupun
peraturan-peratuaran yang relevan dan yang berlaku pada daerah tempat di
mana pekerjan tersebut dikerjakan. Adapun persyaratan regulalsi yang
dimaksudkan yaitu:
1) Peraturan Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI) 1982
2) Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBB) NI-3.1970
3) Peraturan Semen Portland Indonesia (PMI) NI-8
4) Bata Merah Sebagai Bahan Bangunan (NI-10) 1979
5) Pedoman Plumbing Indonesia (PPI)
6) Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 1977
7) Standar Industri Indonesia (SII)
8) Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) SK SNI T-15-1991
9) Peraturan Umum Instalasi Air (AVWI)
d. Pemeriksaan bersama
1) Tahap awal periode pada pelaksanaan pekerjaan, pengguna barang/jasa
bersama- sama dengan penyedia barang/jasa melakukan pemeriksaan
bersama.
2) Untuk pemeriksaan bersama ini, pengguna barang/jasa dapat membentuk
panitiapeneliti pelaksanaan kontrak.

PASAL 2
ORGANISASI PELAKSANAAN LAPANGAN

1. Untuk melaksanakan pekerjaan/proyek sesuai yang ditetapkan dalam surat


perjanjian/kontrak, penyedia barang / jasa harus membuat organisasi pelaksanaan
lapangan, dengan pembagian tugas, fungsi dan wewenang yang jelas tanggung
jawabnya masing-masing.
2. Penempatan personil harus proporsional dan sesuai dengan keahlian bidang tugasnya
masing-masing sedangkan untuk tenaga-tenaga ahlinya harus memenuhi ketentuan
peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, sesuai dengan golongan, bidang
dan kualifikasi perusahaan penyedia barang/jasa yang bersangkutan.
3. Untuk pelaksanaan pekerjaan/proyek penyedia barang/jasa menunjuk penanggung
jawab lapangan (Kepala Proyek), yang dalam penunjukannya terlebih dahulu harus
mendapatkan persetujuan Kuasa Pengguna Anggaran.
4. Penyedia barang/jasa tidak diperkenankan memberikan pekerjaan lain kepada wakil
ataupun para penanggungjawab lapangan, diluar pekerjaan/proyek yang
bersangkutan.
5. Selama jam-jam kerja tenaga ahli/wakilnya atau para penanggungjawab lapangan
harus berada dilapangan pekerjaan kecuali berhalangan / sakit dan penyedia
barang/jasa harus menunjuk / menempatkan penggantinya apabila yang
bersangkutan berhalangan.
6. Jika ternyata penanggung jawab teknis tersebut tidak memenuhi ketentunan yang
telah ditetapkan, maka Kuasa Pengguna Anggaran berhak memerintahkan penyedia
barang/jasa supaya segera mengganti dengan orang lain yang ahli dan
berpengalaman.

PASAL 3
TENAGA KERJA LAPANGAN
1. Penyedia barang/jasa wajib memperkerjakan tenaga kerja yang terampil dan
berpengalaman, sesuai keahliannya dalam jumlah yang cukup sesuai volume dan
kompleksitas pelaksanaan pekerjaan.
2. Penyedia barang/jasa harus melaksanakan ketertiban, kebersihan, kesehatan dan
keamanan lokasi / pekerjaan, dengan menyediakan fasilitas sarana dan prasarana
kerja memadai.
3. Penyedia barang/jasa harus menyediakan tempat tinggal yang memadai dan tidak
mengganggu lingkungan, untuk para tenaga kerja yang tinggal sementara dilokasi
pekerjaan
/ proyek.
4. Penyedia tenaga kerja harus dilaporkan kepada pengguna barang/jasa, dalam bentuk
tenaga kerja yang dilampiri identitas diri dan tanda pengenal setiap tenaga kerja.
PASAL 4
BAHAN DAN PERALATAN

1. Bahan Peralatan dan segala sesuatu yang diperlukan untuk melaksanakan peketjaan
sesuai dalam surat perjanjian/kontrak, adalah disediakan oleh penyedia barang/jasa.
2. Bahan material yang akan digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan, adalah :
a. Sesuai dengan ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia.
b. Memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan dalam surat /perjanjian/kontrak,
RKS, gambar dan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
c. Sebelum digunakan/dipasang harus diajukan contoh atau brosur setiap bahan
danperalatan tersebut untuk mendapat persetujuan dari pengguna barang/jasa.
d. Pengguna barang/jasa berhak melakukan pengujian dan menolak terhadap
bahan dan peralatan yang akan digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan apabila
ternyata tidak memenuhi ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan.
3. Bahan dan peralatan yang ditolak pengguna barang/jasa harus segera disingkirkan
dari lokasi / lapangan proyek, dalam waktu 2 (dua) hari kerja sejak tanggal penolakan
dilakukan.
4. Apabila terdapat bahan dan peralatan yang digunakan/dipasang belum atau telah
mendapat persetujuan, ternyata tidak memenuhi kualifikasi atau spesifikasi teknis
yang dipersyaratkan maka penyedia barang/jasa wajib mengganti/memperbaiki
dengan beban biaya sendiri dan tidak berhak menuntut ganti rugi.
5. Apabila bahan dan peralatan yang akan digunakan ternyata tidak ada lagi dipasaran,
maka penyedia barang/jasa segera mengajukan bahan dan peralatan pengganti yang
setara dan mendapatkan persetujuan tertulis dari pengguna barang/jasa. Prosedur
penggantian harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan dan perundang-
undangan yang berlaku.
6. Penggantian bahan dan peralatan yang dimaksud pada ayat 5 diatas tidak dapat
dijadikan alasan keterlambatan pekerjaan.
7. Penyediaan dan pengamanan bahan dan peralatan dilokasi / lapangan proyek, adalah
menjadi tanggung jawab penyedia barang/jasa termasuk tempat dan
penyimpanannya harus tertib dan tidak mengganggu mobilisasi kerja dilapangan.

PASAL 5
MOBILISASI

1. Mobilisasi meliputi :
a. Mendatangkan peralatan-peralatan terkait yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaan.
b. Mempersiapkan fasilitas seperti kantor, gudang dan sebagainya.
c. Mendatangkan personil dan tenaga kerja lapangan.
2. Mobilisasi peralatan terkait dan personil penyedia barang/jasa dapat dilakukan
secarabertahap sesuai dengan kebutuhan.
3. Mobilisasi paling lambat harus sudah dimulai dilaksanakan dalam waktu 30 (tiga
puluh) harikalender sejak diterbitkan SPMK.

PASAL 6
JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

1. Penyedia barang/jasa wajib membuat jadwal pelaksanaan pekerjaan secara rinci,


yang terdiri dari :
a. Time Schedule dalam bentuk bar-chart, dilengkapi dengan perhitungan
kemajuan bobot untuk setiap minggunya.
b. Pada Time Schedule dilengkapi pula dengan kurva “S” dan harus di tanda tangani
oleh pihak yang terkait .
2. Jangka waktu jadwal pelaksanaan sesuai dengan yang dinyatakan dalam surat
perjanjian/kontrak.
3. Jadwal pelaksanaan pekerjaan dibuat secara lengkap dan menyeluruh mencakup
seluruh jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan, yang dapat menggambarkan antara
rencana dan realisasi.
4. Jadwal pelaksanaan pekerjaan harus sudah dibuat selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari
kerja setelah penandatanganan surat perjanjian/kontrak, untuk diperiksa/disetujui
oleh pengawas teknis dan disahkan oleh pengguna barang/jasa.
5. Bila terjadi keterlambatan dalam pelaksanaan pekerjaan proyek melebihi ± 6 % dari
rencana awal maka perlu adanya perubahan schedule (Reschedule ) .
6. Jadwal pelaksanaan pekerjaan harus tetap berada di lokasi/lapangan selama masa
pelaksanaan pekerjaan dan salah satunya ditempel di ruangan rapat proyek.

PASAL 7
LAPORAN KEMAJUAN PEKERJAAN

1. Laporan Harian
a. Untuk kepentingan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan,
seluruh aktifitas kegiatan pekerjaan dilapangan dicatat didalam buku harian
lapangan (BHL) sebagai laporan harian pekerjaan berupa rencana dan realisasi
pekerjaan harian.
b. Buku Harian Lapangan (BHL) berisi :
– Kuantitas dan macam bahan yang berada dilapangan.
– Penempatan tenaga kerja untuk tiap dan macam tugasnya.
– Jumlah, jenis, dan kondisi peralatan.
– Kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan yang dilaksanakan.
– Keadaan cuaca termasuk hujan, banjir dan peristiwa alam lainnya yang
berpengaruhterhadap kelancaran pekerjaan.
– Catatan-catatan lain yang berkenaan dengan pelaksanaan.
c. Buku Harian Lapangan (BHL) disiapkan dan diisi oleh penyedia barang/jasa, dan
diperiksa oleh pengawas teknis dan dilengkapi catatan instruksi-instruksi dan
petunjuk pelaksanaan yang dianggap perlu dan disetujui oleh pengguna
barang/jasa.
d. Penyedia barang/jasa harus mentaati dan melaksanakan yang selaku pelaksana
proyek, terhadap instruksi, arahan dan petunjuk yang diberikan pengawas teknis
dalam Buku Harian Lapangan (BHL).
e. Jika penyedia barang/jasa tidak dapat menerima / menyetujui
pendapat/perintah pengawas harus mengajukan keberatan-keberatan secara
tertulis dalam jangka waktu3 x 24 jam.

f. Penyedia barang/jasa harus memperbaiki atas beban biaya sendiri terhadap


pekerjaan yang tidak memenuhi syarat, tidak sempurna dalam pelaksanaannya
atas kemauan inisiatif sendiri atau yang diperintah oleh pengawas teknis maupun
Kuasa Pengguna Anggaran.
2. Laporan mingguan dibuat setiap minggu yang terdiri dari rangkuman laporan harian
dan berisi hal kemajuan fisik pekerjaan dalam periode satu minggu, serta hal-hal yang
penting yang perlu dilaporkan.
3. Laporan bulanan dibuat setiap bulan yang terdiri dari rangkuman laporan mingguan
dan berisi hal kemajuan fisik pekerjaan dalam periode satu bulan, serta hal-hal yang
penting yang perlu dilaporkan.

PASAL 8
FOTO PROYEK

1. Untuk merekam kegiatan pelaksanaan proyek, Pengguna barang/jasa dengan


menugaskan kepada penyedia barang/jasa, membuat foto-foto dokumentasi untuk
tahapan-tahapanpelaksanaan pekerjaan di lapangan.
2. Foto proyek dibuat oleh penyedia barang/jasa sesuai petunjuk Pengawas Teknis,
disusun dalam 4 (empat) tahapan disesuaikan dengan tahapan pembayaran angsuran
tetapi tidak termasuk masa pemeliharaan, yaitu sebagai berikut:

Tahap I Bobot
0 % - 25 %
Tahap II Bobot
25 % - 50 %
Tahap III Bobot
50 % - 75 %
Tahap IV Bobot
75 % - 100 %

3. Foto proyek tiap tahapan tersebut diatas dibuat 3 (tiga) set dilampirkan pada saat
pengambilan angsuran sesuai dengan tahapan angsuran, yang masing-masing untuk:
Untuk proyek/pekerjaan yang diawasi oleh konsultan :
(1) Satu set untuk Kuasa Pengguna Anggaran.
(2) Satu set untuk Penyedia Barang/Jasa.
(3) Satu set untuk Konsultan selaku Pengawas Teknis.
4. Pengambilan titik pandang dari setiap pemotretan harus tetap/sama sesuai dengan
petunjuk Pengawas Teknis atau Kuasa Pengguna Anggaran.
5. Foto setiap tahapan ditempelkan pada album/map dengan keterangan singkat, dan
penempatan dalam album disahkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran, untuk teknis
penempelan/penempatan dalam album ditentukan oleh Pengawas Teknis.
6. Khusus untuk pemotretan pada kondisi keadaan kahar/memaksa force majeure
diambil 3 (tiga) kali.

PASAL 9
PERBEDAAN UKURAN

1. Jika terdapat perbedaan ukuran yang ditulis dengan angka dengan ukuran yang ditulis
dengan skala, maka ukuran yang dipakai adalah ukuran yang ditulis dengan angka.
2. Jika merasa ragu-ragu tentang ukuran harus segera meminta petunjuk Pengawas
Teknis atau Perencana.

PASAL 10
SARANA PENUNJANG PROYEK
1. Kepada penyedia barang/jasa diwajibkan membuat/mendirikan bangunan sementara
seperti los kerja bangsal/direksi keet yang cukup luas dan lain-lain yang diperlukan.
Penyedia barang/jasa juga harus menyediakan perlengkapan ruang kerja Pengguna
Anggaran dan Pengawas Teknis dengan jumlah sesuai kebutuhan.
2. Penempatan sarana bangunan sementara harus dibuatkan perencanaannya oleh
penyedia barang/jasa serta terlebih dahulu dan mendapatkan persetujuan Kuasa
Pengguna Anggaran.
3. Sarana Penunjang Direksi keet/gudang/bedeng sementara pagar pengaman dan
perlengkapannnya serta pompa kerja adalah merupakan sarana penunjang dalam
pelaksanaan proyek dan merupakan barang yang dipakai habis pada saat setelah
pekerjaan selesai.
4. Pada prinsipnya penyedia barang/jasa harus menyediakan peralatan kerja bantu
yaitu: air, aliran listrik, pompa air, beton molen, vibrator, alat-alat pemadam
kebakaran, dll.
5. Untuk segala kebutuhan/keperluan penyelesaian pelaksanaan pekerjaan, sekalipun
tidak disebut dan dinyatakan dalam peraturan dan syarat-syarat (RKS) maupun dalam
gambar tetap menjadi tanggung jawab penyedia barang/jasa.
6. Untuk penyelesaian pelaksanaan pekerjaan yang dimaksud, tanah dan halaman akan
diserahkan kepada penyedia barang/jasa dalam keadaan sedemikian rupa, dengan
ketentuan jika pelaksanaan pekerjaan telah selesai, segal kerusakan yang terjadi
diatas tanah/halaman akibat pelaksanaan seperti kerusakan saluran /got, tanaman
dan lain sebagainya harus diperbaiki kembali seperti keadaan semula atas tanggungan
penyedia barang/jasa yang bersangkutan.
7. Setelah penyedian barang/jasa mendapat bartas-batas daerah kerja sebagaimana
dimaksudpada ayat (5) pasal ini, maka penyedia barang/lasa harus bertanggung jawab
penuh atas segala sesuatu yang ada didaerahnya meliputi :
a. Kerusakan-kerusakan yang timbul akibat kelalaian/ kecerobohan yang
disengajamaupun tidak disengaja.
b. Penggunaan sesuatu yang salah/keliru.
c. Kehilangan-kehilangan.
8. Untuk mencegah kejadian-kejadian tersebut diatas penyedia barang/jasa diizinkan
untuk mengadakan pengamanan pelaksanaan proyek pembangunan setempat,
antara lainpenjagaan, penerangan pada malam hari dan sebagainya.
9. Penyedia barang/jasa harus mengerjakan pekerjaan pembersihan yaitu segala macam
kotoran bekas-bekas bongkaran dan alat-alat lainnya, harus segera diangkut atas
persetujuan Pengawas Teknis/ Kuasa Pengguna Anggaran.

PASAL 11
PAPAN NAMA PROYEK

1. Pemasangan papan nama proyek sebagaimana diatur pada pasal ini dipancang
dilokasiproyek pada tempat yang mudah dilihat umum.
2. Pemasangan papan nama proyek dilakukan pada saat dimulainya pelaksanaan
pekerjaan dan dicabut kembali setelah mendapat persetujuan Kuasa Pengguna
Anggaran.
3. Petunjuk bentuk papan nama proyek, ukuran, isi dan warnanya diseuaikan dengan
petunjuk direksi.

PASAL 12
PERUBAHAN PEKERJAAN

1) Pada dasarnya seluruh volume dan item pekerjaan yang tercantum dalam kontrak
harus dilaksanakan. Apabila karena sesuatu hal volume dan atau item pekerjaan tidak
dapat dikerjakan oleh rekanan dengan pertimbangan yang bisa dipertanggung
jawabkan, maka terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari Kepala Unit /
Satuan Kerja yang bersangkutan, Pengawas Teknis dan Perencana Teknik.
2) Persetujuan dimaksud dituangkan dalam Berita Acara Perubahan Pekerjaan yang
dibuat oleh Perencana yang didasarkan atas Berita Acara Peninjauan Lapangan yang
dibuat oleh Pengawas Teknis serta Perencana.
Adapun Berita Acara Perubahan tersebut ditanda tangani bersama rekanan, Unit /
Satuan Kerja, dan Pengawas Teknis serta Perencana.
3) Jika dimungkinkan item atau volume pekerjaan yang telah mendapat persetujuan
untuk tidak dilaksanakan dapat dilakukan pengalihan pekerjaan. Item dan volume
pekerjaan baru ditetapkan bersama dan dituangkan dalam Berita Acara tambah
Kurang dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatas.

PASAL 13
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)

Penerapan prinsip K3 di proyek sangat perlu diperhatikan dalam pekerjaan konstruksi.


Pelaksana konstruksi harus mengetahui dan menerapkan prinsip-prinsip kerja sesuai
ketentuan K3 di lingkungan proyek.
a. Kelengkapan Administrasi K3
Setiap pelaksanaan pekerjaan konstruksi wajib memenuhi kelengkapan
administrasi K3, yang bisa dilihat di pedoman peraturan K3.

b. Penyusunan Safety Plan


Safety plan adalah rencana pelaksanaan K3 untuk proyek yang bertujuan agar dalam
pelaksanaan nantinya proyek akan aman dari kecelakaan dan bahaya penyakit
sehingga menghasilkan produktivitas kerja yang tinggi.

c. Pelaksanakan Kegiatan K3 di Lapangan


Kegiatan K3 di lapangan berupa pelaksanaan safety plan, melalui kerja sama dengan
instansi yangterkait K3, yaitu depnaker, polisi dan rumah sakit.
Pengawasan pelaksanaan K3, meliputi kegiatan:
– Safety patrol
– Safety supervisor (pengawasan)
– Safety meeting (rapat pembahasan)
d. Perlengkapan dan Peralatan K3

• Selama waktu pelaksanaan pekerjaan, penyedia jasa berkewajiban untukmenjaga


dan menjamin keselamatan para personel yang bertugas di lokasi kerja.
• Penyedia jasa harus menjamin atas ketersediaan obat-obatan yang secara
dibutuhkan termasuk menyediakan obat-obatan yang digunakan untuk
pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK).
• Apabila terjadi kecelakaan kerja dan atau kecelakaan diluar jam kerja dan terjadi
pada area pekerjaan maka penyedia jasa harus melakukan tindakan PPPK. Jika
dalam tindakan PPPK tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kebaikan maka
penyedia harus mengupayakan untuk mendapatkan tindakan medis terdekat.
• Penyedia diharuskan menyediakan air bersih yang laik digunakan baik untuk
digukanan dalam kegiatan makan minun maupun untuk kegiatan mandi cuci kakus
(MCK) bagi pekerja selama masa pelakasanaan.
• Perlengkapan standart yang harus ada sebagai penunjang keselamatan pekerjaan,
antara lain:
– Safety boots
– Helm pelindung
– Safety Vest (rompi pekerja)
– Sarung tangan
– Penanda jalur evakuasi
BAB III
SYARAT TEKNIS PELAKSANAAN PEKERJAAN ARSITEKTUR

PASAL 1
PEKERJAAN LANTAI

1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga, kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu
lain untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan yang bermutu baik. Pasangan lantai keramik tiles
dan granit tiles ini dipasang pada seluruh detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar,
berikut plint dan nosing tangga.

2. ACUAN
1 SNI-03-6882- Spesifikasi mortar untuk pekerjaan
2002 pasangan
2 SNI-03-6883- Spessifikasi toleransi untuk konstruksi dan
2002 bahan beton
3 SNI-03-6891- Spesifikasi bahan graut untuk pekerjaan
2002 pasangan
4 SNI-03-0106- Ubin lantai keramik, mutu dan cara uji
1989

3. PERSYARATAN BAHAN
- Homogenous tile/granite tile lantai dan dinding, merk setara niro granite,ukuran
ditentukan kemudian
- Ubin yang dipakai harus dari kwalitas yang baik mempunyai ketebalan yang seragam,
sudut-sudut membentuk siku yang baik, rata / tidak bergelombang, bebas dari noda-
noda / cacat-cacat
- Warna tidak luntur, tahan terhadap asam & basa yang umum dipakai, tahan terhadap
cuaca dan perubahan suhu
- Ukuran : sesuai gambar
- Bahan dasar : kaolin
- Kekerasan : 6-8 skala Mohs
- Moisture expansion : 0,2 – 0,05 %
- Pengkaburan warna : tidak terjadi
- Daya tahan terhadap cuaca : tidak terpengaruh
- Daya tahan terhadap asam : Setelah dilakukan pencelupankedalam HCLselama2 hari
hanya terpengaruh sampai 3 %
- Thermal shock : pada pemanasan 250 derajat celcius, kemudian dicelupkan dalam
air dengan suhu ruangan tidak terjadi keretakan
- Daya tahan terhadap alkali: dicelupkan kedalam KOH selama 2 hari hanya
terpengaruh 3 %
- Warna : sesuai gambar (atau ditentukan oleh pengguna jasa )
- Bahan-Bahan yang digunakan sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan
contoh-contohnya kepada Konsultan Pengawas/ Pengawas Lapangan.

4. PENGERJAAN
- Sebelum dimulai pekerjaan Penyedia jasa diwajibkan membuat shop drawing
mengenai pola tegel
- Tegel yang terpasang harus dalam keadaan baik, tidak retak, cacat dan bernoda.
- Adukan pasangan/pengikat dengan aduk campuran 1 PC : 3 pasir pasang dan
ditambah bahan perekat seperti yang disyaratkan atau dapat pula digunakan acian
PC murni dan ditambah bahan perekat
- Bahan tegel sebelum dipasang harus direndam dalam air bersih (tidak mengandung
asam alkali) sampai jenuh
- Hasil pemasangan tegel lantai harus merupakan bidang permukaan yang benar-benar
rata, tidak bergelombang, dengan memperhatikan kemiringan didaerah basah dan
teras
- Pola, arah dan awal pemasangan tegel lantai harus sesuai gambar detail atau sesuai
petunjuk Perencana/ Konsultan Pengawas. Perhatikan lubang instalasi dan
drainage/bak kontrol sebelum pekerjaan dimulai
- Jarak antara unit-unit pemasangan tegel satu sama lain (siar-siar), harus sama
lebarnya, maksimum 3 mm, yang membentuk garis-garis sejajar dan lurus yang sama
lebar dan sama dalamnya, untuk siar-siar yang berpotongan harus membentuk sudut
siku yang saling berpotongan tegak lurus sesamanya
- Siar-siar diisi dengan bahan pengisi siar yang bermutu baik, dari bahan seperti yang
telah disyaratkan di atas
- Pemotongan unit-unit tegel harus menggunakan alat pemotong khusus sesuai
persvaratan dari pabrik
- Tegel yang sudah terpasang harus dibersihkan dari segala macam noda pada
permukaan keramik, hingga betul-betul bersih
- Tegel yang terpasang harus dihindarkan dari sentuhan/beban selama 3 x 24 jam dan
dilindungi dari kemungkinan cacat akibat dari pekerjaan lain
- Tegel plint terpasang siku terhadap lantai, dengan memperhatikan siar-siarnya
bertemu siku dengan siar lantai dan dengan ketebalan siar yang sama pula.

PASAL 2
PEKERJAAN WATERPROOFING

1. LINGKUP PEKERJAAN
Yang termasuk pekerjaan ini adalah penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan peralatan dan alat-
alat bantu lainnya termasuk pengangkutannya yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan
ini sesuai dengan yang dinyatakan dalam gambar, memenuhi uraian syarat-syarat dibawah ini
serta memenuhi spesifikasi dari pabrik yang bersangkutan. Bagian yang di waterproofing:
- Plat atap dan over stek
- Daerah km/wc mandi dan daerah basah lainnya (pada dinding km/wc setinggi 2m)
- Bagian-bagian lain yang dinyatakan dalam gambar.

2. ACUAN
Standar dari bahan dan produser yang ditentukan oleh pabrik dan standar-standar lainnya
seperti: SNI, ASTM 828, ASTME, TAPP I 803 dan 407. Penyedia jasa tidak dibenarkan merubah
standar dengan cara apapun tanpa ijin dari Konsultan Pengawas dan Perencana.

3. PERSYARATAN BAHAN
- Jaminan Pemeliharaan dan Tenaga Ahli
- Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh tenaga akhlinya yang ditunjuk penyalur dan
pekerjaan harus mendapat sertifikat jaminan pemeliharaan berupa Jaminan
ketepatan pamakaian bahan (Producer's Process Performance Warranty)
danJaminan ketepatan aplikasi (Aplicator's Workmanship Warranty).
- Waterproofing untuk Atap Beton
Bagian-bagian yang diberi waterproofing adalah pelat-pelat beton yang berfungsi
sebagai atap dan sebagai talang. Sebelum pemasangan dimulai, pemborong harus
memastikan bahwa kemiringan plat beton sudah cukup untuk mengalirkan air hujan
ke pipa-pipa pembuangan (kemiringan minimal 2%). Semua cara pemasangan, cara-
cara pelapisan sampai dengan perlindungan permukaan setelah pemasangan harus
mengikuti petunjuk-petunjuk yang dikeluarkan pabrik/produsen.
- Water proofing pada sparing pipa pembuangan air
Bahan terbuat dari dua komponen epoxy mortar A dan B, merk setara fosroc, Sika
Pada waktu pelaksanaan komponen A dan B diaduk menjadi satu bagian dan
kemudian dipasang pada setiap sparing pipa pembuangan air terutama areal
toilet/kamar mandi, roof drain. Pemasangan harus mengikuti petunjuk yang
dikeluarkan oleh pabrik/produsen.
- Pengujian
Penyedia jasa diwajibkan melakukan percobaan-percobaan dengan cara memberi air
di atas permukaan yang diberi lapisan kedap air dan pelaksanaan pekerjaan dapat
dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas.
- Pengiriman dan Penyimpanan Bahan
Bahan harus didatangkan ketempat pekerjaan dalam keadaan baik dan tidak
bercacat. Beberapa bahan tertentu harus masih tersegel dan berlabel pabriknya.
Bahan harus disimpan ditempat yang terlindung, tertutup, tidak lembab, kering dan
bersih sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. Tempat penyimpanan harus
cukup, bahan ditempatkan dan dilindungi sesuai dengan jenisnya. Penyedia jasa
bertanggung jawab atas kerusakan bahan-bahan yang disimpan, baik sebelum atau
selama pelaksanaan.

4. PENGERJAAN
- Semua bahan sebelum dikerjakan harus ditunjukkan kepada Konsultan Pengawas/
Pengawas Lapangan untuk mendapatkan persetujuan, lengkap dengan
ketentuan/persyaratan pabrik yang bersangkutan
- Sebelum pekerjaan ini dimulai permukaan bagian yang akan diberi lapisan ini harus
dibersihkan sampai keadaan yang dapat disetujui oleh Konsultan Pengawas/
Pengawas Lapangan. Peil dan ukuran harus sesuai gambar
- Cara-cara pelaksanaan pekerjaan harus mengikuti petunjuk dan ketentuan dari
pabrik yang bersangkutan, dan atas petunjuk Konsultan Pengawas/ Pengawas
Lapangan
- Bila ada perbedaan dalam hal apapun antar gambar, spesifikasi dan lainnya, Penyedia
jasa harus segera melaporkan kepada Konsultan Pengawas/ Pengawas Lapangan
sebelum pekerjaan dimulai. Penyedia jasa tidak dibenarkan memulai pekerjaan
disuatu tempat dalam hal ada kelainan/perbedaan ditempat itu, sebelum kelainan
tersebut diselesaikan
- Penyedia jasa wajib membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan)
berdasarkan pada gambar dokumen kontrak dan telah disesuaikan dengan keadaan
di lapangan
- Penyedia jasa wajib membuat shop drawing untuk detail-detail khusus yang belum
tercakup lengkap dalam gambar kerja/dokumen kontrak
- Dalam shop drawing harus jelas dicantumkan semua data yang diperlukan termasuk
keterangan produk, cara pemasangan atau persyaratan khusus yang belum tercakup
secara lengkap dalam gambar kerja/dokumen kontrak sesuai dengan spesifikasi
pabrik
- Shop drawing sebelum dilaksanakan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu
dari Konsultan Pengawas
- Penyedia jasa wajib mengajukan contoh dari semua bahan, brosur lengkap dan
jaminan dari pabrik
- Bilamana diinginkan, Penyedia jasa wajib membuat mock-up sebelum pekerjaan
dimulai
- Pelaksanaan pemasangan harus dikerjakan oleh ahli berpengalaman (ahli dari pihak
pemberi garansi pemasangan) dan terlebih dahulu harus mengajukan "metode
pelaksanaan" sesuai dengan spesifikasi pabrik untuk mendapat persetujuan dari
Konsultan Pengawas. Khusus untuk bahan waterproofing yang dipasang di tempat
yang berhubungan langsung dengan matahari tetapi tidak mempunyai lapis
pelindung terhadap ultra violet atau apabila disyaratkan dalam gambar pelaksanaan
atau spesifikasi arsitektur, maka dibagian lapisan atas dari lembar waterproofing
iniharus diberi lapisan pelindung sesuai gambar pelaksanaan, dimana lapisan ini
dapat berupa screed maupun material finishing
- Penyedia jasa wajib mengadakan perlindungan terhadap pemasangan yang telah
dilakukan, terhadap kemungkinan pergeseran, lecet permukaan atau kerusakan
lainnya
- Kalau terdapat kerusakan yang bukan disebabkan oleh tindakan Pemilik atau pemakai
pada waktu pekerjaan ini dilakukan/dilaksanakan maka Penyedia jasa harus
memperbaiki /mengganti sampai dinyatakan dapat diterima oleh MK. Biaya yang
timbul untuk pekerjaan ini adalah tanggung jawab penyedia jasa.
-
PASAL 3
PEKERJAAN BATA RINGAN

1. LINGKUP PEKERJAAN
Bagian ini meliputi hal-hal mengenai pengadaan bahan-bahan dan pemasangan semua
pekerjaan pasangan batu bata seperti yang tertera pada gambar-gambar. Pelaksanaan
pemasangan harus benar-benar mengikuti garis-garis ketinggian, bentuk-bentuk seperti yang
terlihat dalam gambar-gambar persyaratan.

2. ACUAN
Persyaratan-persyaratan standar mengenai pekerjaan ini tertera pada :
1 SNI-15- SEMEN PORTLAND
2049-2004
2 SNI-03- SPESIFIKASI MORTAR UNTUK PEKERJAAN
6882-2002 PASANGAN
3 SNI-03- SPESIFIKASI BAHAN GRAUT UNTUK PEKERJAAN
6891-2002 PASANGAN
4 SNI-15- BATA MERAH PEJAL UNTUK PASANGAN
2094-2000 DINDING

3. MATERIAL
Komponen Keterangan Spesifikasi Merk
Bata ringan 1. harus baru Uk.600cm x200cm x10 cm, [Link],Bricon,P
2. tidak banyak atau ukuran dari pabrikan owerblock
mengandung
retak/ keropos
3. Berbentuk
simetris/sike dan
rata
4. Mempunyai
kekuatan tekan
>30 kg/cm2
Spesi/ Seluruh Mortar instan [Link],Holcim,SI
adukan dinding, KA
kecuali
trasram

4. PENGERJAAN
- Sebelum dilakukan pemasangan dilapangan, Penyedia jasa harus menyerahkan
brosur/katalok dan atau contoh bahan kepada Konsultan Pengawas/Direksi
- Setelah disetujui, bahan diperkenankan masuk lokasi
- Pengambilan contoh atas bahan-bahan yang telah berada dilapangan akan dilakukan
sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan Konsultan PengawasDireksi guna
keperluan pengujian/[Link] yang tidak sesuai persyaratan, akan ditolak
dan harus segera disingkirkan dari lapangan dalam waktu 2x24 jam
- Bila terdapat bahan yang dipasang tidak sesuai dengan contoh yang diberikan dan
yang telah disetujui oleh Pengawas/Direksi, maka segala konsekuensi penolakan atas
bahan, dan pembongkaran/penggantian yang diharuskan merupakan tanggung
jawab Penyedia jasa tanpa penggantian kerugian dan tuntutan pekerjaan tambah
- Bahan untuk pekerjaan harus disimpan dengan cara-cara yang disetujui Konsultan
Pengawas untuk menghindarkan dari segala hal yang dapat mengakibatkan
kerusakan terhadap bahan tersebut
- Cara pemasangan bata dilakukan sesuai petunjuk pabrikan. Setiap pasangan bata
tidak boleh lebih tinggi dari 1 m, dan baru boleh dilanjutkan setelah pasangan
dibawahnya cukup keras. Selama pelaksanaan pekerjaan bata yang dikerjakan
diudara terbuka harus selalu terlindung dari hujan lebat
- Dalam hari yang sama setelah pemasangan, siar-siar batu bata yang telah selesai
dikerjakan dikeruk sedalam 1 cm agar plesteran dapat melekat dengan baik.
- Hubungan bata dengan kosen
Pada bagian samping kosen pintu tempat gantungan ( engsel ) atau bagian atas kosen
dengan bentang lebih dari 1 m, dibuat kolom / balok latei ( beton bertulang ) dengan
ukuran dan tulangan sesuai gambar. Pada setiap sisi vertikal dari kosen aluminium
diberi baut diameter 8 mm dengan jarak antara 75 cm.
- Hubungan bata dengan beton
Kolom-kolom beton yang mengapit pasangan bata harus diberi angker dari besi beton
diameter 12 mm setiap jarak 50 cm, dan setiap angker dicor pada pasangan bata.
Panjang angker minimal 30 cm ke dalam bata dan 30 cm ke dalam cor. Untuk
menghindari retak pada pertemuan dinding dan balok akibat penyusutan yang
berbeda antara balok dengan dinding bata dibawahnya, maka pada hubungan antara
balok dengan dinding dibawahnya sebelum diplester harus diberi anyaman kawat
setinggi 30 cm ( 15 cm dipaku ke arah balok dan 15 cm ke arah dinding. Pemasangan
batu bata harus rata, tegak dan lajur penaikannya diukur tepat dengan tiang lot dan
kecuali bila tidak diperlihatkan dalam gambar-gambar, maka setiap lajur naik,
pemasangan batu harus putus sambungannya dengan jalur dibawahnya. Sebelum
dipasang, bata harus direndam sampai gelembung airnya [Link] untuk sloof,
kolom praktis dan ringbalok dipasang untuk setiap luas dinding maksimal 12 m2
dengan pembesian sesuai dengan persyaratan penulangan kolom praktis.

PASAL 4
PEKERJAAN PLESTERAN DINDING DAN ACIAN

1. LINGKUP PEKERJAAN
Termasuk dalam pekerjaan plesteran dinding ini adalah penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan,
peralatan termasuk alat-alat bantu dan alat angkut yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan plesteran, sehingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang bermutu [Link]
plesteran dinding dikerjakan pada permukaan dinding bagian dalam dan luar serta seluruh
detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam qambar.

2. ACUAN
Seluruh pekerjaan dan bahan harus sesuai dengan persyaratan dalam:
1 SNI-15-2049-2004 SPESIFIKASI MORTAR UNTUK PEKERJAAN PASANGAN
2 SNI-03-6883-2002 SPESIFIKASI TOLERANSI UNTUK KONSTRUKSI DAN BAHAN BETON

3. MATERIAL
Penggunaan adukan plesteran:
Komponen Keterangan Spesifikasi Merk
Spesi/ Untuk plesteran Mortar [Link],Holcim,Sika,
adukan rapat air plester+waterproof
Spesi/ Untuk dinding Mortar plester [Link],Holcim,Sika,
adukan lainnya

4. PENGERJAAN
- Sebelum dilakukan pemasangan dilapangan, Penyedia jasa harus menyerahkan
brosur/katalog dan atau contoh bahan kepada Konsultan Pengawas/Direksi
- Setelah disetujui, bahan diperkenankan masuk lokasi.
- Pengambilan contoh atas bahan-bahan yang telah berada dilapangan akan dilakukan
sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan Konsultan PengawasDireksi guna keperluan
pengujian/[Link] yang tidak sesuai persyaratan, akan ditolak dan harus
segera disingkirkan dari lapangan dalam waktu 2x24 jam
- Bila terdapat bahan yang dipasang tidak sesuai dengan contoh yang diberikan dan yang
telah disetujui oleh Pengawas/Direksi, maka segala konsekuensi penolakan atas bahan,
dan pembongkaran/penggantian yang diharuskan merupakan tanggung jawab
Penyedia jasa tanpa penggantian kerugian dan tuntutan pekerjaan tambah
- Plesteran dilaksanakan sesuai standar spesifikasi dari bahan yang digunakan sesuai
dengan petunjuk dan persetujuan Perencana/ Konsultan Pengawas, dan persyaratan
tertulis dalam Uraian dan Syarat Pekerjaan ini
- Pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan bilamana pekerjaan bidang beton atau
pasangan dinding batu bata telah disetujui oleh Perencana/ Konsultan Pengawas,
sesuai Uraian dan Syarat Pekerjaan yang tertulis dalam buku ini
- Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk dalm gambar
Arsitektur terutama pada gambar detail dan gambar potongan mengenai ukuran tebal/
tinggi/peil dan bentuk profilnya
- Pekerjaan plesteran dinding hanya diperkenankan setelah selesai pemasangan instalasi
pipa listrik dan plumbing untuk seluruh bangunan
- Untuk beton sebelum diplester permukaannya harus dibersihkan dari sisa-sisa
bekisting dan kemudian diketrek (scrath) terlebih dahulu dan semua lubang-lubang
bekas pengikat bekisting atau form tie harus tertutup aduk plester
- Untuk bidang pasangan dinding batu bata dan beton bertulang yang akan difinish
dengan cat dipakai plesteran halus (acian di atas permukaan plesterannya)
- Untuk dinding tertanam didalam tanah harus diberapen dengan memakai spesi kedap
air
- Semua bidang yang akan menerima bahan (finishing) pada permukaannya diberi alur-
alur garis horizontal atau diketrek (scrath) untuk memberi ikatan yang lebih baik
terhadap bahan finishingnya, kecuali untuk yang menerima cat
- Pasangan kepala plesteran dibuat pada jarak 1 M, dipasang tegak dan menggunakan
keping-keping plywood setebal 9 mm untuk patokan kerataan bidang
- Ketebalan pelesteran harus mencapai ketebalan permukaan dinding/kolom yang
dinyatakan dalam gambar, atau sesuai peil-peil yang diminta gambar. Tebal plesteran
minimum 2,5 cm, jika ketebalan melebihi 2,5 cm harus diberi kawat ayam untuk
membantu dan memperkuat daya lekat dari plesterannva pada bagian pekerjaan yang
diizinkan Perencana/ Konsultan Pengawas
- Untuk setiap permukaan bahan yang berbeda jenisnya yang bertemu dalam satu
bidang datar, harus diberi naat (tali air) dengan ukuran lebar 0,7 cm dalamnya 0,5 cm,
kecuali bila ada petunjuk lain didalam gambar
- Untuk permukaan yang datar, harus mempunyai toleransi lengkung atau cembung
bidang tidak melebihi 5 mm untuk setiap jarak 2 m. Jika melebihi, Penyedia jasa
berkewajiban memperbaikinya dengan biaya atas tanggungan Penyedia jasa
- Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung wajar tidak
terlalu tiba-tiba, dengan membasahi permukaan plesteran setiap kali terlihat kering
dan melindungi dari terik panas matahari langsung dengan bahan penutup yang bisa
mencegah penguapan air secara cepat
- Jika terjadi keretakan sebagai akibat pengeringan yang tidak baik, plesteran harus
dibongkar kembali dan diperbaiki sampai dinyatakan dapat diterima oleh Perencana/
Konsultan Pengawas dengan biaya tanggungan Penyedia jasa. Selama 7 (tujuh) hari
setelah pengacian selesai Penyedia jasa harus selalu menyiram dengan air sampai jenuh
sekurang-kurangnya 2 kali setiap hari
- Selama pemasangan dinding batu bata/beton bertulang belum difinish, Penyedia jasa
wajib memelihara dan menjaganya terhadap kerusakan-kerusakan dan pengotoran
bahan lain. Setiap kerusakan yang terjadi menjadi tanggung jawab Penyedia jasa dan
waiib diperbaiki
- Tidak dibenarkan pekerjaan finishing permukaan dilakukan sebelum plesteran berumur
lebih dari 2 (dua) minggu.

PASAL 5
PEKERJAAN KUSEN, DAUN PINTU DAN JENDELA ALUMUNIUM

1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan kusen pintu dan jendela materialnya adalah aluminium dengan alat
perlengkapannya yang diperlukan sesuai penjelasan dalam gambar-gambar.

2. ACUAN
1 SNI-03-0573-1989 Jendela aluminium paduan, syarat umum
2 SNI-03-6361.3-2002 Spesifikasi bahan bangunan bagian C : bahan bangunan
dari logam bukan baja

3. BAHAN
- Material : aluminium alloy tipe [Link] kusen 4” dengan tebal minimal 0,8 mm
finish anodizing, ketebalan lapisan diseluruh permukaan aluminium adalah 10 mikron
- Hardware (Perlengkapan) : Lihat Daftar kunci
- Accessories : Lihat Daftar kunci
- Jaminan : harus diberikan jaminan tertulis dari tipe campuran (Alloy) dan
ketebalan “anodizing”
- Karet sealer sesuai ukuran dan bentuknya dengan pintu, jendela dan kaca yang
dimaksud dan harus dari mutu yang terbaik

4. PENGERJAAN
- Penyedia jasa diminta untuk mempersiapkan gambar kerja dengan ukuran-ukuran yang
disesuaikan dilapangan
- Penyedia jasa diminta untuk merencanakan system pemasangan dengan
memperhitungkan keamanan terhadap defleksi yang bisa terjadi akibat bentangan,
tekanan angina dan sebagainya, sesuai dengan rekomendasi pabrik dan peraturan-
peraturan muatan yang berlaku
- Pemasangan sambungan harus tepat tanpa cela sedikitpun
- Semua detail pertemuan harus runcing, halus dan rata, bersih dari goresan-goresan,
serta cacat-cacat yang mempengaruhi permukaan aluminium
- Pemasangan harus sesuai dengan gambar-gambar dan persyaratan teknis ini
- Setiap sambungan dengan dinding atau benda yang berlainan sifatnya harus diberi
sealant
- Tanda-tanda dan cacat akibat proses anodizing yaitu “Rack” atau “Gripper” yang timbul
dipermukaan aluminium harus dihilangkan
- Semua aluminium harus dilindungi dengan “Lacquer Film” atau bahan yang lain yang
disetujui oleh Konsultan Pengawas ketika dibawa ke lapangan
- Pelindung tersebut harus dibuka, dimana diperlukan ketika aluminium akan dikerjakan
- Tepi-tepi kusen harus dilindungi dengan plastic tape atau zinc chromte rpimer (pernis
transparan) ketika pekerjaan plester dilaksanakan. Bagina-bagian lain dapat tetap
dilindungi dengan “lacquer Film” sampai pekerjaan selesai
- Penggunaan pernis pada permukaan yang akan diberikan caulking atau sealant tidak
diperkenankan
- Pemasangan kusen harus dilengkapi dengan weather seal (backing strip) di dalam dan
diluar sebagai lapisan pengisi, sebelum sealant dipasang.

PASAL 6
PEKERJAAN PINTU PABRIKASI (SOLID ENGINEERING)

1. LINGKUP PEKERJAAN
Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya untuk
melaksanakan pekerjaan sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang baik dan
[Link] ini meliputi pemasangan pintu solid [Link] yang
dinyatakan/ditunjukkan dalam gambar.

2. BAHAN
Terbuat dari kombinasi kayu yang membentuk inti pintu dan dilaminasi dengan pvs shhet.

3. PENGERJAAN
- Sebelum melaksanakan pekerjaan, Penyedia jasa diwajibkan untuk meneliti gambar-
gambar yang ada kondisi dilapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk
mempelajari bentuk, pola, penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail-
detail sesuai gambar
- Sebelum pemasangan, penimbunan bahan pintu di tempat pekerjaan harus
ditempatkan pada ruang/tempat dengan sirkulasi udara yang baik, tidak terkena cuaca
langsung dan terlindung dari kerusakan dan kelembaban
- Harus diperhatikan semua pintu yang akan dipasang, tidak boleh ada cacat-
[Link] terdapat cacat, harus diperbaiki dulu sebelum [Link] saat
pemasangan menjaga kerapihan terutama untuk bidang-bidang tampak tidak boleh
ada lubang-lubang atau cacat bekas penyetelan
- Semua ukuran harus sesuai gambar dan merupakan ukuran jadi. Pemotongan dan
pembuatan profil kayu dilakukan dengan mesin diluar tempat pekerjaan/pemasangan.

PASAL 7
PEKERJAAN PEMASANGAN KACA

1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini termasuk semua tenaga kerja, material, peralatan dan perlengkapan yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan kaca dan pemasangannya sebagaimana
diindikasikan dalam gambar-gambar, termasuk, tetapi tidak terbatas pada hal berikut :
- Kaca bening/riben dengan ketebalan sesuai gambar dan skedul pintu jendela
- Kaca cermin dengan tebal 6 mm untuk cermin tanpa rangka
- Asesori untuk pemasangan kaca
- Kaca tempered bening/clear tebal 10 mm untuk pintu kaca frameless

2. ACUAN
1 SNI-15-0047-2005 Kaca lembaran

3. MATERIAL
- Sifat umum kaca yang dipakai :
Indeks bias : 1,49 – 1,55
Faktor refleksi : 4-8 (satu permukaan)
Panas spesifik (kal/goC) : 0,15-0,25
Titik lunak (OC) : 720-740
Daya hantar panas (w/(m.k) : 0,58-0,78
Koefisien muai panas linier (oC) : 8,5-10 – 10-6
Berat jenis(kg/m3) : 2450-2550
Kekerasan (skala moh’s) : 6-7
Kuat lentur (kg/cm2 : Minimum 350
Ketahanan cuaca/air : alkalinitas maksimum 16 ml H2SO4 0,02 N
- Sifat tampak kaca lembaran untuk cermin(M) sesuai pasal 5.2.1 SNI 15-0047-2005
- Sifat tampak kaca lembaran untuk bahan bangunan(G) sesuai pasal 5.2.3 SNI 15-
0047-2005
- Kaca jenis bening dan riben tebal 5 mm dipasang pada tempat-tempat sesuai
gambar pelaksanaan Kaca-kaca tersebut harus mempunyai toleransi ketebalan
maksimum 3. Kaca cermin dari kualitas utama tebal 5 mm dipasang pada tempat
sesuai gambar pelaksanaan. Untuk jendela menggunakan kaca rayban, tebal 8 mm
sekualitas produksi Asahimas atau setaraf untuk luas bidang > 500 cm2 dan 5 mm
untuk luas bidang < 500 cm2. Khusus untuk kaca pintu frameless harus memakai
kaca tempered ketebalan 12 mm. Tebal dan jenis kaca yang dipakai sesuai gambar
- Sealant Silikon : Satu bagian sealant silicon yang dicuring untuk. Gunakan ditempat
seal basah disyaratkan
- Gasket untuk Pemasangan Kaca : Material harus terdiri dari sedikitnya 50% dari
berat hidrokarbon karet dasar, dan harus tidak mengandung karet mentah atau
olahan. Juga harus homogen, bebas dari kerusakan dan harus dicampur dan dirawat
untuk memenuhi persyaratan yang dispesifikasikan ini
- Lembaran Perantara Pemasangan Kaca yang Kontinu : Material harus terdiri dari
sedikitnya 50% berat dari hidrokarbon karet dasar dan harus tidak mengandung
karet mentah atau olahan. Juga harus homogeny, bebas dari cacat/kerusakan, dan
harus difabrikasikan dari EPDM atau neoprene dengan kekerasan 50 “Shore A”
- Blok Pemasangan : Neoprene atau EPDM 70-90 kekerasan durometer, memiliki
kekuatan yang terbukti dengan sealant yang digunakan
- Blok Ujung atau perantara : Neoprene atau EPDM, 40-60 kekerasan durometer,
memiliki kekuatan yang terbukti dengan sealant yang digunakan
- Batangan Pengisi yang Dapat Ditekan : Batangan yang dilapisi/ditutup kedap air sel
tertutup dengan stok foam plastik atau karet sintetis, yang terbukti kuat dengan
sealant yang digunakan. Tidak boleh digunakan pada “Rabbet” pemasangan kaca
- Pembersih, Lapisan Primer dan Sealer : Tipe yang direkomendasikan oleh pabrikan
sealant atau gasket
- Assesori Cermin : Bahan Tambahan : “Mastik Cermin” dibuat oleh bahan tambahan
palmer dan Klip : No. 4 difinish dengan stainless steel.

4. PENGERJAAN
- Periksalah daerah dan kondisi dimana kace dan pemasangan kaca akan dipasang dan
memberitahukan Direksi Pengawas tentang kondisi yang mengganggu penyelesaian
pekerjaan yang tepat dan benar. Jangan memulai pekerjaan hingga kondisi yang
tidak memuaskan telah diperbaiki untuk memungkinkan pemasangan pekerjaan
yang tepat
- Ceklah pengukuran yang diambil pada lapangan semua dimensi yang berpengaruh
pada pekerjaan. Bawalah dimensi lapangan yang dapat bervariasi untuk perhatian
Direksi Pengawas. Buatlah keputusan yang berkaitan dengan pengukuran korektif
sebelum memulai pemasangan
- Pemasangan kedap air dan kedap udara setiap produk kaca yang disyaratkan,
kecuali dinyatakan lain. Setiap pemasangan harus dapat tahan perubahan
temperature normal. Beban angin, beban akibat pengaruh (untuk pengoperasian sas
dan pintu), tanpa kegagalan temasuk kehilangan atau pecahnya kaca, kegagalan
sealant atau gasket untuk menaan kedap air dan kedap udara, pemudaran material
kaca dan cacat/kerusakan lain dalam pekerjaan
- Memenuhi gabungan rekomendasi dan laporan teknis dari pabrikan kaca dan
produk pemasangan kaca yang digunakan dalam setiap kanal pemasangan kaca, dan
dengan rekomendasi Assosiasi Pemasangan Kaca Datar “Manual Pemasangan Kaca”,
kecuali jika persyaratan yang lebih berat dinyatakan
- Pindahkan penghentian dengan hati-hati agar tidak merusak finish, dan setelah
penyetelan kaca, gantikan dalam posisi aslinya dengan peralatan fastening yang
sama, dan/atau dilakukan ditempat
- Pasanglah unit kaca pada setiap serinya dengan pola yang seragam, bidang, tekukan
dan karekteristik yang serupa
- Aturlah sealant ke dalam kanal/alur untuk mengeliminasikan void dan untuk
menjamin “pembasahan” sepenuhnya dari ikatan atau sealant pada kaca dan
permukaan kanal/alur
- Bersihkan dan ratakan material pemasangan kaca dari kaca dan penghentiannya
atau rangkanya dengan segera setelah pemasangan, dan mengeleminasikan noda
atau pemudaran warna
- Gasket untuk Pemasangan Kaca : Potong miring dan kaitkan ujung-ujungnya pada
sudut-sudut dimana gasket digunakan untuk pemasangan kaca bentuk kanal/alur
sehingga gasket tidak dapat ditarik keluar dari sudutnya dan tidak menghasilkan
bidang kosong atau kebocoran dalam sistem pemasangan kaca
- Aplikasikan mastik pada bagian belakang cermin ulasan berjarak 4 ulasan/0.100 m2,
sesuaikan cermin sehingga posisinya tegak lurus dan ditempatkan untuk
menghindari distorsi dari imajinasi refleksi/pantulan. Sediakan jarak 3 mm antara
bagian belakang cermin dengan permukaan dinding
- Lindungi kaca eksterior dari kerusakan segera setelah pemasangan, dengan
menggunakan pita-pita silang yang ditempelkan pada perangkaan dan dijauhi dari
kaca. Jangan menggunakan tanda-tanda pada permukaan kaca. Buanglah label non-
permanen dan bersihkan permukaannya. Rawatlah sealant untuk kekuatan dan
ketahanan yang tinggi
- Buang dan pindahkan kaca yang pecah, terkikis, retak, tergores atau rusak dengan
cara lain selama periode/masa konstruksi, termasuk sebab-sebab alami, kecelakaan
dan kekerasan
- Cuci dan poleslah kaca pada kedua permukaannya tidak lebih dari 4 (empat) hari
sebelum tanggal yang diskedulkan untuk inspeksi/pemeriksaan yang dimaksudkan
untuk mengembangkan tanggal penyelesaian akhir pada setia daerah di proyek.
Memenuhi rekomendasi pabrikan produk kaca untuk pembersihan akhir.

PASAL 8
PEKERJAAN PENGGANTUNG DAN PENGUNCI

1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, perlengkapan daun pintu dan
jendela dan alat-alat bantu lainnya untuk melaksanakan pekerjaan hingga tercapainya hasil
pekerjaan yang baik dan sempurna. Pemasangan alat penggantung dan pengunci dilakukan
meliputi seluruh pemasangan pada daun pintu kayu, seperti yang ditujukan/disyaratkan
dalam detail gambar.

2. ACUAN
1 SNI-03-6861.2-2002 Spesifikasi bahan bangunan bagian B: bahan bangunan dari
besi/baja

3. MATERIAL
- Semua 'hardware' yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan yang tercantum
dalam buku Spesifikasi Teknis. Bila terjadi perubahan atau penggantian 'hardware'
akibat dari pemilihan merek. Penyedia jasa wajib melaporkan hal tersebut kepada
Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan
- Semua anak kunci harus dilengkapi dengan tanda pengenal dari pelat aluminium
berukuran 3 x 6 cm dengan tebal 1 mm. Tanda pengenal ini dihubungkan dengan
cincin nikel kesetiap anak kunci
- Harus disediakan lemari penyimpanan anak kunci dengan 'Backed Enamel Finish'
yang dilengkapi dengan kait-kaitan untuk anak kunci lengkap dengan nomor
pengenalnya. Lemari berukuran lebar x tinggi adalah 40 x 50 cm, dengan tebal 15
cm berdaun pintu tunggal memakai engsel piano dan handle aluminium
- Untuk pintu-pintu panel dan pintu kaca bingkai aluminium pada umumnya
menggunakan engsel pintu sesuai gambar, dipasang sekurang-kurangnya 2 buah
untuk setiap daun dengan menggunakan sekerup kembang dengan warna yang
sama dengan warna engsel. Jumlah engsel yang dipasang harus diperhitungkan
menurut beban berat daun pintu, tiap engsel memikul maksimal 20 Kg
- Untuk pintu-pintu kaca frmeless menggunakan engsel lantai (floor hinge) double
action, dipasang dengan baik pada lantai sehingga terjamin kekuatan dan
kerapihannya, dipasang sesuai dengan gambar untuk itu
- Untuk panel-panel listrik, pintu shaft dan lain-lain, kunci yang dipakai sesuai outline
spesifikasi material
- Untuk almari-almari built in dipakai kunci tanam silinder jenis kunci Furniture. Untuk
almari-almari selang dan tabung pemadam kebakaran dipakai Catch lock, begitu
pula untuk almari-almari yang tidak menggunakan kunci silinder
- Untuk daun jendela kaca dipakai handle pengunci dipakai sesuai outline spesifikasi
material
- Semua kunci-kunci tanam terpasang dengan kuat pada rangka daun pintu. Dipasang
setinggi 90 cm dari lantai, atau sesuai petunjuk Konsultan Pengawas
- Untuk pintu-pintu pagar besi dipergunakan gerendel besi dengan kunci gembok
setara merk CISA, KEND, DEKKSON
- Pegangan pintu masuk utama dipakai handle dipakai sesuai outline spesifikasi
material
- Untuk pintu-pintu panel pada umumnya menggunakan engsel pintu dipakai sesuai
outline spesifikasi material, dipasang sekurang-kurangnya 2 buah untuk setiap daun
dengan menggunakan sekerup kembang dengan warna yang sama dengan warna
engsel. Jumlah engsel yang dipasang harus diperhitungkan menurut beban berat
daun pintu, tiap engsel memikul maksimal 20 Kg
- Untuk pintu-pintu alumunium serta pintu panil menggunakan engsel lantai (floor
hinge) double action, dipakai sesuai outline spesifikasi material, dipasang dengan
baik pada lantai sehingga terjamin kekuatan dan kerapihannya, dipasang sesuai
dengan gambar untuk itu
- Untuk jendela digunakan engsel dipakai sesuai outline spesifikasi material
- Untuk pintu-pintu alumunium menggunakan engsel dipakai sesuai outline
spesifikasi material disetel pada posisi single action
- Untuk pintu-pintu besi dipakai engsel kupu dibuat khusus untuk keperluan masing-
masing pintu
- Untuk seluruh pintu kecuali yang berengsel lantai diberi door stoper merk dipakai
sesuai outline spesifikasi material atau [Link] stopper dipasang dengan baik
pada lantai dengan sekrup pintu kecuali pintu-pintu toilet, pintu masuk utama dan
pintu-pintu besi. Door holder dengan injakan karet dan spring pen release.

4. PENGERJAAN
- Engsel atas dipasang + 28 cm (as) dari permukaan atas pintu
- Engsel bawah dipasang + 32 cm (as) dari permukaan bawah pintu
- Engsel tengah dipasang ditengah-tengah antara kedua engsel tersebut
- Untuk pintu toilet, engsel atas dan bawah dipasang + 28 cm dari permukaan pintu,
engsel tengah dipasang di tengah-tengah antara kedua engsel tersebut
- Penarik pintu (door pull) dipasang 90 cm (as) dari permukaan lantai
- Pemasangan lockcase, handle dan backplate serta door closer harus rapi, lurus dan
sesuai dengan letak posisi yang telah ditentukan oleh Konsultan Pengawas. Apabila
hal tersebut tidak tercapai, Penyedia jasa wajib memperbaiki tanpa tambahan biaya
- Door stopper dipasang pada lantai, letaknya diatur agar daun pintu dan kunci tidak
membentur tembok pada saat pintu terbuka
- Door holder didasar daun pintu dipasang 6 cm dari tepi daun pintu. Pemasangan
harus baik sehingga pada saat ditekan ke bawah, karet holder akan menekan lantai
pada posisi yang dikehendaki. Door holder dipasang hanya pada pintu yang tidak
menggunakan door closer
- Seluruh perangkat kunci harus bekerja dengan baik, untuk itu harus dilakukan
pengujian secara kasar dan halus
- Tanda pengenal anak kunci harus dipasang sesuai dengan pintunya
- Penyedia jasa wajib membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan)
berdasarkan Gambar Dokumen Kontrak yang telah disesuaikan dengan keadaan di
lapangan. Di dalam shop drawing harus jelas di cantumkan semua data yang
diperlukan termasuk keterangan produk, cara pemasangan atau detail-detail khusus
yang belum tercakup secara lengkap di dalam Gambar Dokumen Kontrak, sesuai
dengan Standar Spesifikasi pabrik
- Shop drawing sebelum dilaksanakan harus disetujui dahulu oleh Konsultan
Pengawas.

PASAL 9
PEKERJAAN PENUTUP PLAFOND
1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu
yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang
[Link] ini termasuk rangka plafon dalam dan luar gedung.

2. ACUAN
1 SNI-03-6361.2-2002 SPESIFIKASI BAHAN BANGUNAN BAGIAN B (BAHAN
BANGUNAN DARI BESI/BAJA)

3. MATERIAL
Komponen Keterangan Spesifikasi Merk
Rangka langit- Metal furing, sesuai Jaya
langit/plafon/partisi sesuai produk pabrik board,
knauff,
Elephant
Penggantung rangka Hollow zincalum, Tebal min.0,5mm
atau Min.2 mm
Kawat

4. PENGERJAAN
- Sebelum dilakukan pemasangan dilapangan, Penyedia jasa harus menyerahkan
brosur/katalok dan atau contoh bahan kepada Konsultan Pengawas/Direksi
- Setelah disetujui, bahan diperkenankan masuk lokasi
- Pengambilan contoh atas bahan-bahan yang telah berada dilapangan akan dilakukan
sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan Konsultan PengawasDireksi guna
keperluan pengujian/[Link] yang tidak sesuai persyaratan, akan ditolak
dan harus segera disingkirkan dari lapangan dalam waktu 2x24 jam
- Bila terdapat bahan yang dipasang tidak sesuai dengan contoh yang diberikan dan
yang telah disetujui oleh Pengawas/Direksi, maka segala konsekuensi penolakan atas
bahan, dan pembongkaran/penggantian yang diharuskan merupakan tanggung
jawab Penyedia jasa tanpa penggantian kerugian dan tuntutan pekerjaan tambah
- Sebelum pemasangan rangka langit-langit dilaksanakan, perlu diperhatikan
pekerjaan lain yang erat hubungannya dengan pekerjaan ini. Pekerjaan lain yang
termasuk disini adalah Elektrikal – Penerangan, Air conditioning/exhaust Fan,
Perlengkapan Instalasi yang diperlukan
- Bila pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak tercantum pada Gambar Rencana Langit-
langit, harus diteliti dahulu pada Gambar Instalasi pekerjaan yang dimaksud
(elektrikal, mekanikal dengan Konsultan Pengawas /Perencana
- Pola pemasangan disesuaikan dengan Gambar Rencana yang ada
- Sudut-sudut pertemuan rangka harus membentuk sudut siku satu sama lain dengan
jarak as – as rangka 60 cm atau sesuai gambar. Bagian rangka yang menempel pada
dinding dan bagian yang menghadap ke arah penutup ( bawah) harus rata
- Cara pemasangan menurut ketentuan pabrik yang mengeluarkan produk yang akan
dipergunakan
- Pada waktu pemasangan rangka langit-langit harus diperhatikan ketinggian rencana
langi-tlangit sesuai dengan gambar
- Sebelum pemasangan, Penyedia jasa harus membuat shop drawing untuk
mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas
- Hasil akhir dari pemasangan harus rata, lurus dan tidak melampaui toleransi kerataan
(0,2 cm untuk setiap 2 m2)
- Sistem penggantung langit-langit adalah dengan menyediakan angker besi beton
dia.10 mm pada pelat beton pada jarak 1.20 x 1.20 m. Pola disesuaikan dengan pola
langit-langit dan persyaratan pabrik pembuat rangka langit-langit, kecuali dinyatakan
lain dalam gambar atau petunjuk Konsultan [Link] dipasang
penggantung ke rangka langit-langit berupa besi hollow atau kawat.
BAB IV
SYARAT TEKNIS PELAKSANAAN PEKERJAAN MEP

PASAL 1
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

1.1. Syarat Umum


1. Pekerjaan yang dimaksud disini adalah pekerjaan Pengadaan, Pemasangan (Instalasi) dan
Pengujian Sistem secara keseluruhan sesuai dengan gambar dan Rencana Kerja dan Syarat-
syarat sehingga dapat bekerja dan berfungsi dengan baik.
Adapun pekerjaan yang dimaksud diatas adalah sebagai berikut:
– Pekerjaan instalasi distribusi listrik Tegangan Rendah (220/380V) secara
menyeluruh sehingga instalasi berfungsi sesuai gambar rencana.
– Pekerjaan distribusi sistem Pengindera Kebakaran (Addressable sesuai dengan
sistem yang sedang berjalan) serta pengembangan sistem MCFA yang terpasang
sehingga kapasitas terpenuhi.
– Pekerjaan instalasi LAN berikut kelengkapannya sehingga sistem tersebut dapat
bekerja dengan baik.
– Pekerjaan pemasangan Rak Kabel sesuai gambar rencana.
– Pekerjaan pemasangan Penangkal Petir sesuai gambar rencana.
– Pekerjaan pemasangan Sistem Telepon sesuai gambar rencana.
– Pekerjaan pemasangan Sistem Public Address dan Tata Suara sesuai gambar
rencana.
– Pekerjaan pemasangan Sistem Close Circuit Television (CCTV) sesuai gambar
rencana.
– Pekerjaan pemasangan Panel Isolation Transformer di ruang operasi sesuai
gambar rencana.
– Pemasangan sistem pembumian secara lengkap dan benar sesuai gambar
perencanaan dan persyaratan-persyaratan yang berlaku.
2. Syarat-syarat Umum merupakan bagian dari Persyaratan Teknis. Apabila ada beberapa klausul
dari Syarat-syarat Umum yang dituliskan dalam Persyaratan Teknis, berarti menuntut
perhatian khusus pada klausul-klausul tersebut dan bukan berarti menghilangkan klausul-
klausul lainnya dari Syarat-syarat Umum. Klausul-klausul dari Syarat-syarat Umum hanya
dianggap tidak berlaku bila dinyatakan secara tegas dalam Persyaratan Teknis.
3. Persyaratan Teknis dimaksudkan untuk menjelaskan dan menegaskan segala pekerjaan,
bahan-bahan dan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk pemasangan, pengujian dan
penyetelan (adjusting) dari seluruh sistem, agar lengkap dan dapat bekerja dengan baik.
4. Persyaratan Teknis merupakan satu kesatuan dengan Gambar-Gambar Teknis yang
menyertainya. Bila ada suatu bagian pekerjaan yang hanya disebutkan di dalam salah satu dari
kedua dokumen tersebut, maka Pemborong wajib melaksanakannya dengan baik dan lengkap.
5. Yang menjadi dasar utama sehingga suatu pekerjaan berhasil dalam mencapai target, mutu,
waktu dan biaya, maka pelaksana lapangan harus menguasai
– Sistem pekerjaan secara menyeluruh.
– Gambar kerja yang akan dilaksanakan.
– Spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
– Standar dan peraturan yang berlaku.
– Petunjuk dan ketentuan pemasangan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat, baik untuk
peralatan maupun material.
– Koordinasi dengan pekerjaan terkait lainnya seperti struktur, arsitektur mekanikal dan
elektrikal sendiri.
6. Pemborong harus menggunakan tenaga-tenaga yang ahli dalam bidangnya, agar dapat
memberikan jaminan hasil kerja yang baik dan rapi, yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
– Mengerti dan menguasai lingkup pekerjaan yang akan dikerjakan.
– Mempunyai alat kerja yang memadai.
– Mudah diberi pengarahan.
– Dapat melakukan koordinasi dengan tenaga kerja lain.
– Terampil.
– Mempunyai sertifikat untuk tenaga kerja spesialis penyambungan kabel tegangan
menengah.
7. Pemborong bertanggung jawab dalam pengawasan yang ketat terhadap jadwal atau urutan
pekerjaan, sehingga tidak mengganggu penyelesaian proyek secara keseluruhan pada waktu
yang telah ditetapkan.
8. Pemborong harus menyatakan secara tertulis bahwa bahan-bahan dan peralatan-peralatan
yang diserahkan oleh Pemborong harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, dan
pelaksanaan pekerjaan dilakukan dengan cara yang wajar dan terbaik. Dan bahwa instalasi
yang dilakukan adalah lengkap dan dapat bekerja dengan baik dalam kondisi yang terjelek
sekalipun, tanpa mengurangi atau menghilangkan bahan-bahan/peralatan-peralatan yang
seharusnya disediakan, walaupun tidak disebutkan secara nyata dalam Persyaratan Teknis
ataupun tidak dinyatakan secara tegas dalam Gambar-Gambar Teknis.
9. Pemborong harus dapat menunjukkan surat pernyataan dari pihak pemasok
barang/komponen yang akan terpasang kepada Konsultan, bahwa barang tersebut
merupakan barang “original” dan bukan barang produksi tiruan dengan menggunakan merek
yang sama.
10. Semua peralatan dan bahan-bahan yang digunakan dan diserahkan untuk penyelesaian
pekerjaan harus dalam keadaan baru dan dari kualitas terbaik.
11. Pemborong harus mempelajari dan memahami kondisi tempat yang ada, agar dapat
mengetahui hal-hal yang akan mengganggu/mempengaruhi pekerjaan. Apabila timbul
persoalan, Pemborong wajib mengajukan saran penyelesaian kepada Konsultan, paling lambat
satu minggu sebelum bagian pekerjaan ini seharusnya dilaksanakan.
12. Pemborong harus memeriksa dengan teliti ruangan-ruangan dan syarat-syarat yang
diperlukan dengan Pemborong lainnya, sehingga peralatan-peralatan Elektrikal dapat
dipasang pada tempat dan ruang yang telah disediakan.
13. Sebelum memulai pekerjaan, Pemborong harus memeriksa dan memahami pekerjaan
pelaksanaan dari pihak lain yang ikut menyelesaikan proyek ini, apabila pekerjaan pelaksanaan
dari pihak lain tersebut dapat mempengaruhi kualitas pengerjaan Pemborong itu sendiri.
14. Sebelum memulai pekerjaan, Pemborong harus membuat Rencana Kerja dengan jadwal yang
disesuaikan dengan Pemborong yang lain. Apabila terjadi sesuatu perubahan, Pemborong
wajib memberitahukan secara tertulis kepada Konsultan dan mengajukan saran-saran
perubahan/perbaikan.
15. Pada waktu akan memulai pelaksanaan, Pemborong wajib menyerahkan Gambar-Gambar
Kerja (Shop Drawing) terlebih dahulu untuk memperoleh persetujuan dari Konsultan. Gambar-
gambar tersebut harus diserahkan kepada Konsultan minimal dalam waktu 2 (dua) minggu
sebelum instalasi dilaksanakan.
16. Pemasangan peralatan harus dilakukan sesuai dengan rekomendasi dari pabrik pembuat
peralatan tersebut. Untuk itu, Pemborong harus membuat dan menyerahkan gambar-gambar
rencana instalasi secara rinci sebelum melaksanakan pekerjaan.
17. Apabila terjadi sesuatu keadaan dimana Pemborong tidak mungkin menghasilkan kualitas
pengerjaan yang terbaik, maka Pemborong wajib memberitahukan secara tertulis kepada
Konsultan dan mengajukan saran-saran perubahan / perbaikan. Apabila hal ini tidak dilakukan,
Pemborong tetap bertanggung jawab atas kerugian-kerugian yang mungkin ditimbulkannya.
18. Selama pelaksanaan instalasi berlangsung, Pemborong harus memberi tanda-tanda (misalnya
dengan pensil atau tinta merah) pada dua set gambar pelaksanaan, atas segala perubahan
pada rancangan instalasi semula.

1.2. Standarisasi dan Aturan Yang Harus Diikuti


Seluruh pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor yang harus mengikuti segala aturan dan
standar yang berlaku dan dilengkapi dengan segala peralatan untuk kesempurnaan operasi,
kemudahan pengaturan dan perawatan, keamanan operasi sistem sesuai dengan salah satu atau
lebih dari peraturan-peraturan yang tertulis dibawah ini.
1. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) Edisi terbaru
2. Standar Nasional Indonesia ( SNI )
3. Standar Konnstruksi / Normalisasi PLN
4. Peraturan-peraturan PLN/Jawatan Keselamatan Kerja Setempat.
5. Memenuhi persyaratan DIN Standar
6. Memenuhi Standar yang dikeluarkan oleh International Electro-Technical Commision I.E.C.
7. SII, Standar Industri Indonesia
8. SKBI, Standar Kontruksi Bangunan Indonesia
9. Peraturan Depnaker tentang Keselamatan tenaga kerja
10. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
11. Peraturan dari Pemerintah Daerah
12. Data teknis dari produk dibidang Peralatan Tata Suara, Telepon, LAN (Line Area Network) dan
Fire Alarm yang dibuat oleh pabrik–pabrik di berbagai Negara.
13. Seluruh pekerjaan instalasi telepon harus dilaksanakan mengikuti standar dan peraturan dari
ITU-T atau PT. TELKOM.
14. Spesifikasi teknis juga harus memenuhi VDE Standar atau persyaratan internasional lain yang
ekifalen.
Kontraktor diwajibkan mentaati dan mengikuti tata cara pelaksanaan sesuai dengan yang tertulis
pada peraturan- peraturan tersebut dan disesuaikan dengan bahan, unit mesin atau peralatan
yang dipasangnya.
Bila terjadi kesimpang-siuran dalam hal standar yang harus diikuti, kontraktor harus melapor pada
Konsultan untuk mendapat kejelasan tentang hal tersebut.
Bila konsultan tidak dapat memutuskan hal tersebut maka pengambil keputusan akan diserahkan
kepada Instansi / Badan yang berwenang (local Authority Having Jurisdiction).
Penentuan standar :
a. Dalam penentuan dan persetujuan untuk standar yang diikuti atau standar yang disebut oleh
material, peralatan, unit mesin dan lainya, kontraktor harus dapat menunjukkan dan
menyerahkan copy dari standar yang dianut / disebut oleh material, peralatan, unit mesin dan
lainnya untuk diperiksa dan diteliti oleh konsultan sebelum dikeluarkan persetujuan.
b. Apabila standar yang diikuti ternyata memberikan persyaratan yang lebih ringan atau lebih
rendah maka standar tersebut dinyatakan sebagai standar yang tidak setaraf dengan standar
yang ditentukan oleh persyaratan teknis ini.
c. Segala sesuatu yang diperlukan untuk pembuktian dan pemeriksaan ini menjadi tanggung
jawab kontraktor yang bersangkutan.
d. Apabila perlu pengujian oleh lembaga lain diluar proyek, kontraktor harus menyelesaikan
segala sesuatu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil dari lembaga penguji tersebut dalam
waktu secepatnya sehingga tidak menghambat jadwal pelaksanaan proyek.

1.3. Jaringan Listrik Utama


Karakteristic catu daya adalah sebagai berikut:
a. Tegangan Rendah (Low Voltage)
400 volts-3 phase, 4 wire, 50 Hz plus earth protection short circuit capacity hingga 100 kA
untuk bus bar rating 3000A dan short circuit capacity setiap bagian harus dihitung
berdasarkan hirarki posisi di diagram sistem. Semua Short circuit capacity harus diajukan
terlebih dahulu oleh kontraktor untuk mendapat persetujuan Konsultan berdasarkan
kapasitas dari power transformer.
Voltage ± 5%.
Frequency ± 1%.

1.4. Polaritas
Polaritas dari semua peralatan pada pekerjaan ini diatur berdasarkan persyaratan teknis sebagai
berikut:
a. Untuk semua peralatan yang terdiri dari kutub “fasa/bertegangan” harus diposisikan
“diatas/disisi kiri” dan untuk kutub “netral/pembumian” diposisikan “dibawah/disisi kanan”.
Pada alat Kotak kontak dan soket untuk polaritasnya harus mengikuti standard dari IEC dan
VDE.
Tabel Pengenal inti/rel (PUIL 2000, tabel 7.2-1)
Pengenal
Inti atau Rel Dengan
Dengan Huruf Dengan lambang
warna
1 2 3 4

i. Instalasi arus bolak balik


1. Fase satu L1/R Merah
2. Fase dua L2/S Kuning
3. Fase tiga L3/T Hitam
4. netral N Biru

ii. Instalasi perlengkapan


listrik U/X Merah
1. Fase satu V/Y Kuning
2. Fase dua
W/Z Hitam
3. Fase tiga

iii. Instalasi arus searah


Tidak
L+
1. Positif ditetapkan
2. Negatif Tidak
L-
ditetapkan
3. Kawat tengah
M Biru
iv. Penghantar netral N Biru
Loreng
v. Penghantar
PE hijau-
pembumian
kuning

Urutan tata letak instalasi kabel pada peralatan listrik dilihat dari sisi muka peralatan. Semua kabel
yang terhubung mulai dari panel utama hingga panel penerangan, daya, kotak-kontak,
penerangan dan peralatan lainnya, urutan warna dari fungsi fasa harus sama hingga titik akhir.

1.5. Gambar - Gambar


1. Gambar-gambar desain dan persyaratan - persyaratan ini merupakan suatu kesatuan yang
melengkapi dan sama mengikatnya.
2. Gambar-gambar sistem ini menunjukan secara umum tata letak dari peralatannya, sedangkan
instalasinya harus dikerjakan dengan memperhatikan kondisi dari bangunan yang ada dan
mempertimbangkan juga kemudahan dalam perawatan dan maintance jika peralatan tersebut
sudah dioperasikan.
3. Gambar instalasi menunjukan secara teknis pekerjaan instalasi yang harus dilaksanakan
dimana dicantumkan ukuran dan bahan serta keterangan lain yang diperlukan.
4. Gambar-gambar Arsitektur dan Struktur Sipil, harus dipakai Referensi untuk pelaksanaan
maupun detail finishing dari instalasi.
5. Setiap pekerjaan yang disebutkan dalam spesifikasi ini, tetapi tidak ditunjukan dalam gambar
atau sebaliknya harus dipasang atas beban kontraktor, seperti halnya pekerjaan lain yang
disebut oleh spesifikasi dan ditunjukan dalam gambar.
6. Kontraktor pelaksana diwajibkan memeriksa gambar terhadap kemungkinan adanya
kesalahan atau ketidakcocokan dalam hal yang berhubungan dengan fabrikasi maupun
pelaksanaan pemasangan. Hal tersebut harus dibuat List Daftar Kesalahan /Ketidak-cocokan
dan diajukan sebelum pemasukan penawaran. Apabila hal tersebut tidak dilaksanakan, maka
kontraktor dianggap sudah memahami sistem secara keseluruhan. Bila dikemudian hari
diadakan penyesuaian oleh Konsultan yang mengakibatkan perubahan dalam pelaksanaan,
maka menjadi kewajiban untuk melaksanakannya tanpa adanya biaya tambahan.
7. Sebelum pekerjaan dimulai, Kontraktor Pelaksana harus mengajukan gambar kerja dan detail
kepada Konsultan untuk dapat diperiksa dan disetujui terlebih dahulu.
8. Gambar kerja harus termasuk catalog/literature data dari Pabrikan, data ukuran dimensi, data
pembuatan dan nama serta alamat dari perusahaan yang memberi pelayanan pemeliharaan
dan mempunyai jaminan ketersediaan suku cadangnya.
9. Kontraktor Pelaksana harus membuat gambar-gambar instalasi terpasang dengan disertai
dengan buku cara pengoperasian dan instruksi perawatan, serta harus diserahkan kepada
Konsultan.
10. Untuk pekerjaan Sistem Distribusi Listrik dan pekerjaan lainnya yang sifatnya memerlukan
persetujuan dari instansi terkait, Kontraktor wajib menyiapkan gambar sistem dan instalasi
yang diperlukan untuk diperiksa dan disahkan oleh Instansi terkait sesuai dengan peraturan
yang berlaku.
11. Data dari setiap sistem harus menunjukan pemasangan yang lengkap dari seluruh koordinasi
komponen untuk peninjauan keseluruhan system yang sebenarnya, penyerahan yang
sebagian-sebagian tidak akan diperhatikan. Gambar Shop Drawing harus dibuat sebanyak 3
(tiga) set.
12. Hal-hal yang menyangkut perubahan gambar pelaksanaan di lapangan baik ukuran/konstruksi
kontraktor wajib mengajukan pertanyaan dan alternative penyelesaian atau Shop Drawing
yang dikehendaki untuk mendapat persetujuan dari Konsultandan dilakukan setidaknya 2
(dua) minggu sebelum pelaksanaan sehingga tidak berakibat pada kesalahan dalam
pelaksanaan.
13. Kontraktor wajib membuat gambar pelaksanaan instalasi terpasang (As Built Drawing) yang
disetujui oleh Konsultan serta kelengkapan yang harus disertai kepada Konsultan pada saat
penyerahan pertama dalam bentuk Soft Copy (CD/ Cad Drawing) dan Hard Copy masing-
masing rangkap 3 (tiga) dijilid dan dilengkapi dengan daftar isi dan data notasi.

1.6. Bahan dan Contoh


1. Bahan/meterial/peralatan yang digunakan dan dipasang pada pekerjaan harus dalam keadaan
baru dan tanpa cacat.
2. Semua bahan yang dipergunakan diusahakan produksi dalam negeri, sejauh mana masih
memenuhi persyaratan teknis dan standar yang ditentukan.
3. Kelambatan pekerjaan dan segala akibatnya, yang terjadi akibat keterlambata pengajuan
maupun pengajuan ulang menjadi tanggung jawab dan beban kontraktor.
4. Kesalahan pemilihan ukuran dan kapasitas equipment menjadi tanggung jawab kontraktor.

1.7. Jaminan dan Garansi


1. Jaminan atas material/bahan peralatan dan unit mesin.
Material yang diserahkan oleh kontraktor harus bebas dari kerusakan baik atas kesalahan
pabrik, kerusakan akibat kesalahan bahan, kerusakan akibat kesalahan dalam pengiriman
mapun kerusakan selama jangka waktu 1 (satu) tahun kalender terhitung sejak material
tersebut dibeli.
2. Jaminan atas hasil pekerjaan dan masa pemeliharaan.
Kontraktor harus menjamin atas hasil pekerjaan dengan membuat surat jaminan secara
tertulis dengan uraian sebagai berikut :
a. Cara pelaksanaan dan pekerjaan dilakukan sesuai prosedur dan manual dari QMS (Quality
Management System)
b. Instalasi yang diserahkan dapat bekerja dengan baik tanpa mengurai atau menghilangkan
bahan - bahan atau peralatan - peralatan yang seharusnya disediakan walaupun tidak
disesuaikan secara nyata dalam buku ini atau tidak dinyatakan secara tegas dalam
gambar-gambar yang menyertai buku ini.
c. Jaminan Instalasi & Material Instalasi menjadi Tanggung Jawab Kontraktor.
d. Masa Pemeliharaan untuk seluruh pekerjaan instalasi ditetapkan selama 6 (enam) bulan
setelah barang diserahkan kepada Konsultan, yang meliputi :
▪ Performance sistem secara keseluruhan.
▪ Pelatihan secara Cuma-cuma terhadap User/Pengguna (Tenaga Teknik) terkait Cara
Pengoperasian Peralatan dan Maintenance Praktis sehingga menjadi operator yang
terampil.
e. Dalam masa pemeliharaan apabila ditemukan instalasi yang rusak atau berfungsi kurang
baik maka Pemborong harus segera memperbaiki atau mengganti peralatan tersebut
sampai dapat berfungsi dengan baik.
f. Selama masa pemeliharaan ini, Kontraktor diwajibkan mengatasi segala kerusakan yang
akan terjadi tanpa adanya biaya tambahan biaya.
g. Selama masa pemeliharaan ini, seluruh instalasi yang telah dilaksanakan masih
merupakan tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya.
h. Apabila selama masa pemeliharaan Kontraktor tidak melaksanakan teguran dari
Konsultanatas perbaikan/penggantian/penyetelan yang diperlukan, maka pihak
Konsultanberhak menyerahkan perihal tersebut kepada pihak lain atas biaya Kontraktor
pelaksana.
3. Klaim atau tuntutan.
a. Untuk segala macam pengadaan barang dan cara pemasangannya, Konsultan harus bebas
dari segala tuntutan/klaim atas hak-hak khusus seperti hak patent, lisensi dan sebagainya.
b. Bila ada hal - hal seperti tersebut diatas, kontraktor wajib mengurus dalam arti
menyelesaikan segala sesuatu perijinan/biaya/lisensi yang berhubungan dengan hal
tersebut diatas beban biaya ditanggung kontraktor.
4. Untuk pekerjaan/pengadaan barang Kontraktor harus dapat menunjukkan :
a. Sertifikat Keaslian Barang (Original)
b. Sertifikat Mutu dan Kualitas Barang (Quality)
c. Sertifikat Keamanan (Safety Inspector)
d. Sertifikat Welding Inspector
e. Garansi material, Service dan Sparepart serta Surat Dukungan dari Agen Tunggal di
Indonesia (bermeterai cukup)
5. Hal - hal yang berkaitan tersebut diatas harus disertakan bukti data (1 kopi dilampiri Data Asli)

1.8. Kelengkapan Yang Harus Diserahkan


Harus diserahkan sebelum dimulai pekerjaan, sebagai berikut :
1. Selambat - lambatnya 2 (dua) minggu sebelum dimulai pelaksanaan dalam arti pemesanan
barang atau pembuatan barang / instalasi atau pemasangan, kontraktor harus menyerahkan
barang-barang yang diuraikan, antara lain :
a. Katalog, Data teknis dan test Report untuk persetujuan material.
b. Instalasi Instruction (Buku Petunjuk manual Pengoperasian) untuk persetujuan terhadap
cara - cara pemasangan.
c. Shop drawing untuk persetujuan terhadap rencana instalasi dan cara - cara peasangan
yang akan dilakukan / dikerjakan / dilaksanakan.
d. Contoh - contoh bahan dan barang - barang untuk persetujuan terhadap bahan dan
barang-barang yang diperoleh / didapat secara lokal seperti misalnya armature lampu,
tabung lampu, starter, saklar, kabel, pipa, pompa dan lain sebagainya sesuai dengan
ketentuan dari Konsultan.
e. Yang selanjutnya kepada Konsultan untuk mendapat persetujuan.
2. Apabila tidak diperoleh persetujuan oleh suatu dan lain hal, maka kontraktor harus segera
mengganti barang-barang tersebut dan diserahkan kepada Konsultan untuk mendapat
persetujuan.

1.9. Sistem Koordinasi


1. Kontraktor harus mengkoordinasikan pekerjaannya dengan pekerjaan Kontraktor lain
(Struktur & Arsitektur) untuk menghindari pekerjaan pembongkaran / pekerjaan ulang dan
gangguan yang dapat memperlambat jalannya pekerjaan.
2. Untuk memudahkan komunikasi teknis, kontraktor harus menempatkan seorang atau lebih
pemimpin lapangan perpengalaman, dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan
baik dan benar, serta mewakili kontraktor, menerima perintah dan petunjuk Konsultan dan
segera melaksanakannya bila diperlukan.
3. Kontraktor diwajibkan membuat laporan berkala (harian/mingguan) yang memberikan
gambaran tentang kegiatan proyek. Misalnya :
a. Jadwal waktu pelaksanaan
b. Kegiatan pelaksanaan
c. Prestasi kegiatan fisik
d. Catatan perintah / petunjuk Konsultan yang disampaikan secara lisan maupun tertulis.
e. Dan kegiatan pekerjaan yang dianggap perlu.
4. Kontraktor juga harus membuat dokumentasi pekerjaan yang berupa foto-foto pelaksanaan
pekerjaan, dibuat berwarna, minimal ukuran postcard dan disusun dalam album. Foto-foto
yang menggambarkan kemajuan pelaksanaan pekerjaan hendaknya dibuat berdasarkan
petunjuk dari Konsultan dan minimal dilakukan sebanyak 4 (empat) kali setiap peristiwa
selama berlangsungnya pelaksanaan pekerjaan.
5. Kontraktor harus menempatkan seorang Penanggung jawab Pelaksanaan yang ahli dan
berpengalaman serta yang bertanggung jawab penuh dalam menerima segala instruksi yang
akan diberikan serta harus selalu berada di Site Proyek.
6. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan ini menghalangi pekerjaan lain, maka sesuai akibatnya
menjadi tanggung jawab kontraktor.

1.10. Pembobokan, Pengelasan dan Pengeboran


1. Pembobokan tembok, lantai, dinding dan sebagainya yang dilakukan dalam rangka
pemasangan Instalasi ini maupun pengembaliannya seperti keadaaan semula adalah termasuk
tanggung jawab pekerjaan Pemborong Instalasi ini.
2. Pembobokan hanya dapat dilaksanakan setelah mendapat ijin tertulis dari Konsultan.
3. Pengelasan, Pengeboran dan sebagainya pada Konstruksi Bangunan hanya dapat dilaksanakan
setelah memperoleh ijin / persetujuan tertulis dari Konsultan.

1.11. Pencapaian Peralatan Untuk Service


1. Semua peralatan utama ataupun bantu dalam prinsip pemasangannya harus mudah untuk
bisa diamati, termasuk juga accessories pipa dan duct seperti valve, clean out, damper, filter,
venting dll.
2. Untuk itu Kontraktor dalam pemasangannya wajib memperhatikan posisi yang terbaik dari
peralatan dan accessories yang berada dalam shaft atau ceiling yang memerlukannya, beserta
ukuran dan lokasi yang tepat.
3. Disamping itu kontraktor harus mengusulkan kepada Pihak Owner (bila ditunjukkan pada
gambar) pintu-pintu service (access panel) untuk setiap peralatan dan asessories yang berada
dalam shaft atau ceiling yang memerlukannya, beserta ukuran dan lokasi yang tepat.
4. Bila dalam gambar rencana sudah ditunjukkan ada access panel yang diperlukan, maka
penggeseran untuk posisi yang tepat dari access panel tersebut sehubungan dengan letak
peralatan / accessories dan kaitannya dengan arsitek interior, perlu dibicarakan dengan pihak
Owner untuk disetujui.

1.12. Proteksi
1. Semua bahan dan peralatan sebelum dan sesudah pemasangan harus dilakukan proteksi yang
baik terhadap cuaca dan harus diusahakan agar selalu dalam keadaan bersih.
2. Semua ujung-ujung pipa konduit dan bagian-bagian peralatan yang tidak dihubungkan harus
diberi pelindung, disumbat, atau ditutup dengan baik untuk mencegah masuknya kotoran.
3. Menjadi tanggung jawab dan keharusan bagi kontraktor untuk melindungi peralatan-
peralatan, bahan-bahan baik yang sudah, maupun belum terpasang bila diperkirakan bisa
rusak atau cacat karena tidak dilakukan perlindungan yang benar adalah merupakan bagian
instalasi yang tidak bisa diterima (serah terima belum 100%)
4. Sebelum penyerahan, instalasi dibersihkan atau ditest dan di adjust kembali untuk
membuktikan bahwa peralatan dan bahan beroperasi dengan baik. Peralatan dan bahan yang
rusak atau cacat karena tidak dilakukan perlindungan yang benar adalah merupakan bagian
instalasi yang tidak bisa diterima (serah terima belum 100%).

1.13. Pengecatan
1. Semua peralatan dan bahan yang dicat, yang menjadi lecet karena pengangkutan /
pengapalan atau pemasangan harus segera diperbaiki dan dicat dengan warna aslinya
sehingga nampak seperti baru kembali.
2. Semua bagian-bagian pekerjaan yng menyangkut carbon steel atau seng yang di galvanis harus
dicat dasar dan cat finish.
3. Sebelum pengecatan dilakukan, bagian-bagian harus bebas dari grease, minyak dan segala
kotoran yang melekat.
4. Urut-urutan pengecatan adalah cat dasar anti karat (zincromate) dan cat finish terdiri atas 2
lapis cat copolymer.
5. Untuk peralatan-peralatan yang cat pabriknya rusak/cacat dalam pengangkutan,
penyimpanan dan lain sebagainya harus dicat kembali sesuai aslinya atau sesuai dengan warna
yang ditentukan Pihak Owner.
6. Untuk jalur-jalur pipa, code warna disesuaikan dengan standart.

1.14. Sleeve, Peralatan Yang Tertanam di Dinding


1. Peralatan Bantu, Sleeve dan lain-lain yang diperlukan tertanam atau menembus concrete atau
tembok harus dipasang dan dilengkapi sesuai petunjuk dagang. Untuk itu ukuran, posisi yang
disiapkan untuk keperluan tersebut harus dikonsultasikan dengan Konsultan dan disertai
gambar detail.
2. Semua ducting atau pipa tembus dinding harus menggunakan sleeve dengan clearance 20 mm
(3/4”) jika duct atau pipa berisolasi, clearance tetap dibutuhkan 20 mm (3/4”) antara isolasi
dan sleeve. Sleeve yang menembus atap lantai.
3. Setelah pemasangan pipa atau duct clearance harus diisi dengan sealant tahan api.

1.15. Penomoran, Nama Peralatan / Assesories


Semua peralatan terpasang dan asesoriesnya harus diberi kode nama peralatan dan nomor, sesuai
seperti yang dicantumkan pada daftar peralatan atau data sheet atau sebagai tercantum pada
gambar rencana. Bila ada peralatan atau asesories yang belum mempunyai kode nama dan nomer,
kontraktor wajib mengusulkan kepada Konsultan dan ini semua sudah harus tercantum dalam as-
built drawing.

1.16. Penjagaan
1. Kontraktor wajib mengadakan penjagaan dengan baik serta terus menerus selama
berlangsungnya pekerjaan atas bahan peralatan, mesin dan alat-alat kerja yang disimpan di
tempat kerja (gudang lapangan).
2. Kehilangan yang diakibatkan oleh kelalaian penjagaan atas barang-barang tersebut diatas,
menjadi tanggung jawab pemborong.

1.17. Kebersihan, Ketertiban dan Keamanan


1. Pemborong harus selalu menjaga keadaan ruang kerja mereka dalam keadaan bersih dan baik
selama tahap konstruksi.
2. Semua sampah dan bahan yang tidak berguna lagi harus diangkut ke luar site.
3. Pada saat penyelesaian pekerjaan, Pemborong harus memeriksa seluruh pekerjaan,
meninggalkannya dalam keadaan rapih, bersih dan siap pakai.
4. Selama Pelaksanaan Pekerjaan berlangsung, Kantor, Gudang, los kerja dan tempat pekerjaan
sekitar bangunan, harus selalu dalam keadaan bersih.
5. Penimbunan / penyimpanan barang, bahan dan peralatan baik dalam gudang maupun di luar
(halaman), harus diatur sedemikian rupa agar memudahkan jalannya pemeriksaan dan tidak
mengganggu pekerjaan dari bagian lain.
6. Peraturan-peraturan yang lain tentang ketertiban akan dikeluarkan oleh Konsultan pada
waktu pelaksanaan.
7. Guna semua keamanan pekerjaan, peralatan dan bahan / material di proyek, Kontraktor harus
menempatkan petugas keamanan secukupnya disekitar proyek.
8. Penjagaan keamanan termasuk juga penanggulangan terhadap bahaya kebakaran yang
mungkin terjadi.
9. Kontraktor harus memperhatikan hubungan dengan lingkungan proyek, antara lain tidak akan
menyebabkan gangguan lalu lintas umum, tidak akan mengganggu ketenangan penduduk /
masyarakat disekitarnya dan tidak akan mengganggu pekerjaan dari Rekanan lain.
10. Selama peralatan dan material disimpan di lapangan, kontraktor harus:
a. Bertanggung jawab sepenuhnya terhadap semua peralatan dan material yang ada di site.
b. Memisahkan material yang mudah terbakar dengan material yang tidak mudah terbakar.
c. Menyediakan alat pemadam api ringan minimal 2 x 10 kg di Kit Konsultan dan Gudang
Penyimpanan.

1.18. Perbaikan dan Pembersihan


Kontraktor harus melakukan dan menyediakan tenaga kerja untuk pekerjaan perbaikan dan
pemberisihan, antara lain :
1. Perbaikan kembali akibat adanya pembobokan.
2. Pengangkutan bekas galian dan penimbunan kembali.
3. Melaksanakan pembersihan lapangan dan lain-lainya serta tempat pembuangannya akan
ditentukan oleh Konsultan.

1.19. Asuransi
Kontraktor harus mengasuransikan secara total semua peralatan dan material mulai dari pabrik
pembuatnya, pengiriman ke lapangan, selama di gudang penyimpanan, sampai peralatan
tersebut terpasang. Kontraktor juga harus mengasuransikan seluruh tenaga yang melaksanakan
pekerjaan di lapangan.

1.20. Penyimpangan di Lapangan


1. Pelaksanaan pekerjaan yang menyimpang dari rencana yang disesuaikan dengan kondisi
lapangan, harus mendapat persetujuan tertulis dahulu dari pihak Konsultan.
2. Kontraktor harus menyerahkan gambar setiap perubahan yang ada kepada pihak Konsultan.
3. Perubahan material dan lainnya harus diajukan kontraktor kepada Konsultan secara tertulis
dan akibat tersebut (pekerjaan tambah/kurang) harus disetujui oleh Konsultan secara tertulis.

1.21. Pengujian di Pabrik


Semua peralatan harus melalui pengujian di pabrik sebelum dikirim serta kontraktor harus
menyerahkan sertifikat pengujiannya kepada Konsultan sebanyak 3 (tiga) rangkap.

1.22. Kecelakaan dan Kotak PPPK


1. Jika terjadi kecelakaan yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan ini, maka Kontraktor
diwajibkan segera mengambil segala tindakan guna kepentingan si korban atau para korban,
serta melaporkan kejadian tersebut kepada Instansi dan Departemen yang bersangkutan /
berwenang (dalam hal ini Polisi dan Departemen Tenaga Kerja) dan mempertanggung
jawabkan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2. Kotak PPPK dengan isinya yang selalu lengkap, guna keperluan pertolongan pertama harus
selalu ada di tempat pekerjaan.

1.23. Testing & Comissioning


1. Petunjuk Umum
a. Prosedur Pengujian
▪ Kontraktor harus mengajukan rencana dan prosedur pengujian kepada Konsultan
untuk mendapat persetujuan.
▪ Metode pengetesan dan pengujian harus mengikuti standar teknis yang berlaku
▪ Sebelum Testing & Comissioning dilaksanakan, Kontraktor wajib mengajukan terlebih
dahulu Program (Jadwal) Testing & Comissioning.
▪ Kontraktor harus menentukan jadwal dan cara pengujian yang akan dilakukan 2 (dua)
minggu sebelum pelaksanaan pengujian, Pemborong menyerahkan jadwal dan cara
pengujian tersebut kepada Konsultan untuk disetujui.
b. Pencatatan
▪ Kontraktor harus melakukan pencatatan yang baik terhadap pengetesan dan
pengujian. Kontraktor harus menyerahkan hasil pengetesan dan pengujian kepada
Konsultan.
▪ Kontraktor harus melakukan semua pengujian dan pengukuran yang dianggap perlu
dan/atau yang dimintai oleh pihak Konsultanuntuk mengetahui apakah keseluruhan
instalasi dapat berfungsi dengan baik dan dapat memenuhi semua persyaratan yang
diminta.
c. Saksi dan Tenaga Ahli
▪ Semua pengetesan dan pengujian yang dilakukan oleh kontraktor harus disaksikan
oleh Konsultan.
▪ Jika diperlukan Testing & Comissioning harus dilakukan oleh Tenaga Ahli yang ditunjuk
oleh Pabrikan perangkat tersebut atau oleh tenaga ahli yang pernah mendapat
pendidikan dan sertifikat khusus untuk maksud tersebut maka pihak Konsultanberhak
menyerahkan perihal tersebut merupakan tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.
d. Peralatan, material dan Alat pengujian
▪ Kontraktor harus menyediakan semua alat ukur yang diperlukan untuk pengetesan
dan pengujian. Alat-alat tersebut harus sudah dikalibrasi oleh institusi yang
berwenang.
▪ Peralatan, material dan cara bekerjanya peralatan yang mengalami
kerusakan/cacat/salah harus diganti/diperbaiki dan testing comissioning diulangi
untuk operasi sesungguhnya secara tepat dari seluruh sistem.
▪ Semua bahan, perlengkapan dan instalasi lain yang diperlukan untuk mengadakan
Testing dan Commissioning tersebut merupakan tanggung jawab Kontraktor
Pelaksana.
▪ Semua bahan yang kurang baik atau pemasangan yang kurang sempurna yang
diketahui pada saat Pemeriksaan/Pengujian harus segera diganti dengan yang
baru/disempurnakan sampai dapat berfungsi dengan baik dan sesuai Standar Uji yang
ada.
e. Biaya
Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap semua biaya dan fasilitas yang diperlukan
untuk pengetesan dan pengujian.
f. Pengujian Ulang
Apabila terjadi kegagalan dalam pengujian, kontraktor harus memperbaiki bagian-bagian
yang rusak dan kekurangan-kekurangan yang ada, kemudian melakukan pengujian
berhasil dengan baik.
2. Pemborong harus menyerahkan laporan pengujian/sertifikat test untuk peralatan sistem
kepada Konsultan.
3. Pekerjaan akan dinyatakan selesai bila seluruh pengujian berhasil dengan baik dan dapat
diterima oleh Konsultan.
4. Untuk mengetahui bahwa semua pekerjaan yang telah dilaksanakan dapat berfungsi baik dan
telah sesuai dengan persyaratan teknis yang dimana, maka Kontraktor diwajibkan menguji
seluruh pekerjaannya dengan standrad uji masing-masing yang telah ditetapkan dalam
peraturan/Spesifikasi Peralatan.
5. Pengujian ini dilaksanakan dibawah Pengawasan Konsultan yang ditunjuk Jadwal Pelaksanan
Pengujian dapat diatur seminggu sebelumnya atau atas persetujuan bersama.

1.24. Masa Pemeliharaan


1. Semua pekerjaan elektrikal termasuk bahan dan peralatan harus dipelihara Kontraktor
Pelaksana selama masa pemeliharaan, sejak penyerahan pertama dari pekerjaan.
2. Selama masa pemeliharaan tersebut semua peralatan dan pekerjaan yang tidak baik harus
secepatnya diganti atau diperbaiki oleh Kontraktor Pelaksana atas biaya sendiri.
3. Selama masa pemeliharaan ini kontraktor pelaksana pekerjaan instalasi ini diwajibkan untuk
mengatasi segala kerusakan-kerusakan dari pada instalasi yang dipasangnya tanpa ada
tambahan biaya.
4. Selama masa pemeliharaan tersebut kontraktor pekerjaan instalasi ini masih harus
menyediakan tenaga-tenaga yang diperlukan. Dalam masa pemeliharaan kontraktor masih
bertanggung jawab penuh terhadap seluruh instalasi yang dilaksanakan.
5. Pekerjaan baru dapat diterima setelah dilengkapi dengan bukti-bukti hasil pemeriksaan baik
(good keuring) yang ditanda tangani bersama oleh instalatir yang melaksanakan pekerjaan
tersebut juga Konsultan serta perlu disyaratkan juga oleh jawatan keselamatan kerja.
6. Jika dalam masa pemeliharaan tersebut, kontraktor pekerjaan instalasi ini tidak melaksanakan
teguran-teguran atau perbaikan-perbaikan terhadap kekurangan selama masa pemeliharaan,
maka Konsultan berhak menyerahkan pekerjaan perbaikan/kekurangan tersebut kepada
pihak lain atas biaya kontraktor pekerjaan instalasi tersebut.
7. Selama masa pemeliharaan pekerjaan, kontraktor harus mendidik/melatih karyawan/petugas
dari Pengguna/User mengenai sistem instalasi dan dapat menjalankan serta melaksanakan
pemeliharaannya.
8. Pemeriksaan rutin selama masa pemeliharaan ini, dilaksanakan tidak kurang dari 2 (Dua)
minggu sekali.

1.25. Petunjuk Pengoperasian dan Perawatan & As Build Drawing


1. Sebelum melakukan serah terima pekerjaan instalasi, kontraktor harus membuat dan
menyerahkan dokumen secara detail dan lengkap. Petunjuk Pengoperasian dan Perawatan
(Operation & Manual / ‘OM’) dalam format bahasa Indonesia dan gambar terlaksana (As Build
Drawing), terdiri dari 1 (satu) set asli dan 3 (tiga) set copy dokumen tersebut harus diserahkan
kepada Konsultan sebelum tanggal serah terima pekerjaan instalasi.
2. Operation & Manual setidaknya harus berisi sebagai berikut :
a. Tulisan pada cover :
▪ Judul dokumen
▪ Nama Proyek
▪ Nama Paket Pekerjaan
▪ Nama dan alamat kontraktor.
b. Pada lembar pertama halaman dalam harus tertulis sama dengan tulisan pada cover
tetapi ditambahkan Nama ‘contact person’ dan nomor telepon yang mudah dihubungi
pada saat emergency.
c. Daftar Isi
d. Penjelasan ringkas instalasi
e. Daftar peralatan lengkap peralatan instalasi yang dipasang
f. Petunjuk pemakaian secara detail
g. Petunjuk perawatan dan pelacakan kerusakan secara detail untuk seluruh instalasi,
termasuk rekomendasi skedul periode perawatan
h. Hasil Test and Commissioning
i. Daftar peralatan lengkap dengan alamat, nomor telepon dan contact person supliernya.
j. Data data teknis peralatan dalam ukuran maksimum A-3 misalnya, gambar dan wiring
diagram, kurva karakteristik / performance dari peralatan dll.
k. Daftar gambar ‘as build drawing’.
3. Operation & Manual harus dibuat pada format kertas A-4 kecuali jika berupa gambar bisa
ukuran lain, mudah dibaca, susunan halaman dukumen harus konsisten terhadap urutan
daftar isi. Operation & Manual yang telah disetujui harus dijilid dengan ‘hard cover’ dengan
kualitas warna, tulisan dan tinta copy yang baik untuk disimpan dalam jangka panjang.
4. Untuk gambar terlaksana harus termasuk gambar gambar diagram. Gambar yang berukuran
diatas A-3 harus diserahkan dalam bentuk 3 (tiga) copy ukuran A-3 dan 1 (satu) set asli sesuai
ukuran. Untuk ukuran besar harus digulung didalam tabung gambar dan dilengkapi dengan
label gambar.
5. Digital file sebanyak 2 copy pada Compact Disk, dokumen yang berupa foto lengkap dengan
negative film / digital file nya harus termasuk yang harus disertakan pada Operation & Manual.

1.26. Penyerahan, Pemeliharaan, Pelatihan dan Jaminan


Penyerahan, Pemeliharaan, Jaminan dan Pelatihan harus dilakukan sebagaian dari rangkaian
penyelesaian pekerjaan.
1. Petunjuk Operasi, Pemeliharaan dan Pendidikan.
a. Pada saat penyerahan pekerjaan, Kontraktor harus:
Menyerahkan gambar-gambar jadi (as built drawing), dalam bentuk gambar cetak
sebanyak 3 (tiga) set dan dalam bentuk soft copy (dalam media Compack Disk/Cad
Drawing) kepada Konsultan dan 2 (dua) set gambar jadi, bila gambar dan data-data
tersebut belum lengkap diserahkan maka pekerjaan Kontraktor belum bisa diprestasikan
100 %.
b. Training
▪ Kontraktor harus memberikan training (teori dan praktek) mengenai cara
pengoperasian dan perawatan peralatan kepada minimal 3 orang petugas teknik yang
ditunjuk oleh pemilik sampai cakap menjalankan tugasnya.
▪ Kontraktor harus mengajukan rencana training tersebut terlebih dahulu kepada
Konsultan dan mengajukan rencana pendidikan/training ini kepada Konsultan
selambat-lambatnya 2 (dua) minggu sebelum waktu pelaksanaan.
▪ Kontraktor harus bertanggung jawab atas segala biaya yang diperlukan untuk training
tersebut.
c. Gambar Terpasang, Petunjuk Operasi dan Pemeliharaan serta Katalog Suku Cadang
▪ Kontraktor harus menyerahkan gambar terpasang kepada Konsultan sebagai berikut
:
- 1 (satu) set Kertas Kalkir dan 5 (lima) set Cetak Biru, ukuran A1
- 1 (satu) set soft copy
▪ Kontraktor harus menyerahkan 2 (dua) set buku petunjuk operasi dan perawatan
peralatan yang dibuat dalam bahasa Indonesia kepada Konsultan.
▪ Kontraktor harus pula memberikan 2 (dua) set buku petunjuk operasi dan
perawatan peralatan yang terpasang yang dibuat dalam bahasa Indonesia kepada
Konsultan, dan sebuah singkatan dari buku petunjuk harus dipasang dalam suatu kaca
berbingkai dan ditempatkan pada dinding dalam ruang mesin utama atau tempat lain
yang ditunjuk Konsultan.
d. Gambar Terpasang, Petunjuk Operasi dan Pemeliharaan serta Katalog Suku Cadang
▪ Kontraktor harus menyerahkan gambar terpasang kepada Konsultan sebagai berikut
:
- 1 (satu) set Kertas Kalkir dan 5 (lima) set Cetak Biru, ukuran A1
- 1 (satu) set soft copy
▪ Kontraktor harus menyerahkan 2 (dua) set buku petunjuk operasi dan perawatan
peralatan yang dibuat dalam bahasa Indonesia kepada Konsultan.
▪ Kontraktor harus menyerahkan 2 (dua) set buku catalog suku cadang dari peralatan
yang dipasang kepada Konsultan.
e. Pemeliharaan dan Garansi:
▪ Kontraktor harus menggaransi semua peralatan dan instalasi yang dipasang selama 1
(satu) tahun setelah serah terima pertama.
▪ Kontraktor harus bertanggung jawab atas seluruh peralatan yang rusak selama masa
garansi, termasuk penyediaan suku cadang. Segala biaya penggantian perawatan
selama masa garansi merupakan tanggung jawab Kontraktor.
▪ Memberikan garansi terhadap seluruh peralatan yang disupply dan juga terhadap
sistem, minimal selama 1 (satu) tahun sejak serah terima kedua.
▪ Pemilik dibebaskan dari segala bentuk pembayaran atas segala kerusakan untuk
selama 1 (satu) tahun sesudah serah terima.
▪ Kontraktor harus bertanggung jawab untuk tetap dapat melakukan garansi dengan
memperhitungkan kedalam harga satuan sebagai resiko keterlambatan dalam
menyelesaikan pembangunan.
▪ Kontraktor wajib mengganti atas biaya sendiri setiap kelompok barang-barang atau
sistem yang tidak sesuai dengan persyaratan spesifikasi, akibat kesalahan pabrik atau
pengerjaan yang salah selama jangka waktu 180 (seratus delepan puluh) hari setelah
proyek ini diserahkan terimakan.
▪ Kontraktor wajib menempatkan 2 (dua) orang pada setiap hari kerja selama masa
perawatan untuk mengoperasikan / merawat peralatan dan mendatangkan 1 (satu)
orang supervisor sekali seminggu untuk melakukan pemeriksaaan selama masa
pemeliharaan.
▪ Apabila terjadi gangguan dan atau kerusakan selama masa garansi, maka selambat-
lambatnya dalam waktu 2 x 24 jam Pemborong harus dapat mendatangkan tenaga
ahlinya untuk mengatasi gangguan tersebut setelah mendapatkan laporan /
konfirmasi dari Konsultan.
2. Perijinan.
a. Semua ijin-ijin dan persyaratan-persyaratan yang mungkin diperlukan untuk
melaksanakan instalasi ini harus dilakukan oleh Kontraktor atas tanggungan dan biaya
Kontraktor.
b. Kontraktor harus bertanggung jawab atas penggunaan alat-alat yang dipatenkan serta
kemungkinan tututan ganti rugi dan biaya-biaya yang diperlukan untuk ini. Untuk hal ini
Kontraktor wajib menyerahkan Surat Pernyataan mengenai hal tersebut diatas.
c. Kontraktor harus menyerahkan semua perijinan atau keterangan resmi yang diperoleh
mengenai instalasi proyek ini kepada Konsultan atau pihak ditunjuk, sebelum penyerahan
dilakukan.
d. Kontraktor harus memperoleh ijin terlebih dahulu dari Konsultan setiap akan memulai
suatu tahapan pekerjaan, demikian pula bila akan melaksanakan pekerjaan di luar jam
kerja (kerja lembur).
e. Kontraktor harus mendapatkan ijin-ijin yang berhubungan dengan pajak, pemerintahan
setempat, badan yang berwenang terhadap instalasi yang dikerjakan. Dalam hal ini, semua
biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan permintaan ijin tersebut.

PASAL 2
PEKERJAAN INSTALASI PENERANGAN DAN DAYA

2.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan instalasi listrik adalah pemasangan dan pengadaan termasuk testing dan comissioning
peralatan dan bahan, bahan-bahan utama, bahan-bahan pembantu dan lain-lainnya seperti yang
diterangkan dalam Bab terdahulu, sehingga diperoleh instalasi listrik yang lengkap dan baik serta
diuji dengan seksama siap untuk digunakan, baik instalasi tenaga maupun instalasi penerangan
pengadaan dan pemasangan yang terdiri dari :
1. Panel
a. Panel Tegangan Utama / Main Panel
b. Panel Penerangan (LP)
c. Panel Power (PP)
2. Kabel
a. Pemasangan kabel daya dari Panel Utama/Main Panel.
b. Kabel daya dari Genset ke Panel Utama/Main Panel.
c. Kabel daya dari Panel Utama ke seluruh Panel Pembagi (LP, CP & PP).
d. Kabel pembagi dari Panel Pembagi Lantai ke masing - masing jaringan instalasi.
e. Pemasangan kabel instalasi penerangan dan tenaga.
3. Pemasangan Kabel Rak ( Kabel Tray ).
4. Instalasi kabel & konduit dari sub panel ke titik-titik beban yang dilayaninya atau dari panel
penerangan titik lampu atau dan outlet - outlet penerangan (saklar) dan tenaga (stop kontak)
seperti yang tercantum pada gambar perencanaan.
5. Pemasangan titik lampu atau armature lampu (Lighting Fixtures) termasuk yang dilengkapi
emergency baterai dan outlet - outlet penerangan (saklar) serta tenaga (stop kontak) seperti
yang tercantum pada gambar perencanaan.
6. Perawatan dan peralatan dari panel kepemakaian .
7. Pengadaan dan pemasangan instalasi grounding instalasi listrik.
8. Pemasangan instalasi lain yang belum tercantum didalam spesifikasi ini tetapi ada di gambar
perencanaan.

2.2. Ijin Kerja Instalatir/Kontraktor


Instalatir/sub Kontraktor yang akan mengerjakan Pekerjaan ini diharuskan :
1. Mempunyai surat ijin kerja Instalatir Listrik (SIKA) tahun kerja yang berlaku dengan Pas.
Instalatir Kelas C. dari Instansi terkait.
2. Mempunyai Tanda Lulus Prakualifikasi (Tanda Daftar Rekanan) untuk tahun kerja yang berlaku,
sesuai dengan KEPPRES No.80 Tahun 2003.
3. Sudah berpengalaman dan dapat menunjukkan Surat Kemampuan Pengalaman Kerja dalam
mengerjakan pekerjaan yang sejenis.

2.3. Gambar–Gambar Instalasi


1. Gambar-gambar dan spesifikasi adalah merupakan bagian yang saling melengkapi dan sesuatu
yang tercantum dalam gambar dan spesifikasi bersifat mengikat.
2. Gambar- gambar instalasi menunjukkan secara teknis pekerjaan instalasi yang harus
dilaksanakan dimana dicantumkan ukuran bahan-bahan instalasi serta keterangan lain yang
diperlukan.
3. Pelaksanaan dilapangan selain yang tertera pada gambar disesuaikan dengan kondisi lapangan
atas petunjuk Konsultan secara tertulis/lisan.
4. Bila kontraktor menganggap perlu adanya perubahan ukuran/konstruksi dalam pelaksanaan,
kontraktor diwajibkan mengajukan alternatif atau Shop drawing yang dikehendaki dan
mendapat persetujuan dari Konsultan.
5. Segala perubahan yang disengaja dilakukan kontraktor tanpa ijin Konsultan adalah resiko
Kontraktor.
6. Bila nantinya tidak disetujui oleh Konsultan maka terpaksa harus dibongkar. Kontraktor hal ini
tidak diperkenankan menuntut ganti rugi.
7. Seluruh pola pemasangan armatur/fixture dan soket & outlet disesuaikan dengan gambar
desain arsitektur atau sesuai petunjuk Konsultan.

2.4. Pelaksanaan Pekerjaan


1. Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan baik oleh tenaga ahli yang sudah
berpengalaman.
2. Pelaksana yang dianggap tidak cukup ahli/perpengalaman oleh Konsultan, harus segera diganti
dengan orang lain setelah mendapat persetujuan Konsultan.
3. Kontraktor harus menempatkan seorang Supervisor yang ahli, berpengalaman dan profesional
untuk masing-masing bidang yang bertanggung jawab untuk menjadi supervisi, management
proyek.
4. Tenaga kerja harus berpengalaman dan ahli di bidangnya, bila tidak berpengalaman & ahli
harus diganti. Bila tidak dihiraukan Konsultan akan mengambil tindakan untuk mengatasi
permasalahan yang ada.
5. Segala sesuatu yang diperlukan guna kesempurnaan pekerjaan harus, dilengkapi sesuai
permintaan Konsultan dengan biaya dibebankan kepada Kontraktor.

2.5. Persyaratan Bahan


1. Kontraktor diwajibkan menyerahkan contoh bahan/barang yang disebut dalam lingkup
pekerjaan kepada Konsultan untuk mendapat persetujuan sebelum dipasang. Apabila hal
tersebut tidak memungkinkan, minimal brosur spesifikasi teknis harus ditunjukkan dan
disetujui oleh Konsultan.
2. Kontraktor harus membuat tempat penyimpanan bahan/material serta peralatan kerja
(gudang) agar rapi aman dan memudahkan pemeriksaan.
3. Jika bahan/material dan peralatan kerja tersebut harus melewati jalanan umum, Kontraktor
harus menjaga ketertiban dan kelancaran serta mengganggu lalu lintas.
4. Konsultan berhak menambah peralatan yang dipergunakan atau menolak peralatan yang tidak
memenuhi syarat.
5. Bila pelaksanaan pekerjaan telah selesai, maka kontraktor harus segera mengeluarkan atau
memindahkan peralatan tersebut, kerusakan akibat penggunaan peralatan kerja tersebut
harus diperbaiki kembali atas beban biaya Kontraktor.
6. Semua material yang terbuat dari besi (Armatur) dan pipa yang dipergunakan untuk
konstruksi, penyangga, penggantung dan lain-lain harus diproses sebagai berikut :
a. Disikat dengan sikat kawat / dibersihkan hingga mengkilat dan bebas dari karat.
b. Dicat dasar / meni anti karat (Zincromate) kualitas baik 2 kali.
c. Dicat akhir dengan cat berkualitas baik 2 kali dengan warna yang akan ditentukan
kemudian / sesuai dengan penggunaan.
d. Kecuali material yang terbuat dari plastik, Stainless stell dan alumunium tidak perlu dicat,
cukup dibersihkan saja.

2.6. Konstruksi Panel Listrik


1. Panel harus terbuat dari plat baja, dengan rangka yang terbuat dari besi siku atau besi plat
yang dibentuk dan diberi cat dasar dengan meni tahan karat serta difinish dengan cat bakar
powder coating warna abu-abu.
2. Ketebalan plat baja harus mengikuti ketentuan dibawah ini :
Panel Dinding Pintu
Panel Utama 2.0 mm 3.0
mm
Sub. Distribusi 1.6 mm 2.0
Panel mm
Panel Pembagi 1.6 mm 2.0
& Sub. Panel mm

3. Karakteristik panel :
a. Tegangan kerja : 220-415 Volt
b. Tegangan Uji : 3.000 Volt
c. Tegangan Uji impuls : 20 kV
d. Frekuensi : 50 Hz.
4. Panel harus dilengkapi dengan master key.
5. Setiap panel harus dilengkapi dengan label, yang memberi nama pada setiap panel, misalnya
Main Panel (Panel Utama Tegangan Rendah dan sebagainya).
6. Untuk Panel Distribusi harus dilengkapi dengan peralatan ukur dan meter ukur Type “Moving
Iron Type” dengan ukuran yang proporsional dan peralatan lain misalnya lampu Indikator dan
Minifuse.
7. Pada dinding panel bagian sisi kiri dan kanan, harus disediakan lubang ventilasi dengan
dibagian dalamnya diberi plat / lapisan pelindung, sehingga dapat dicegah kemungkinan
terjadinya tusukan secara langsung terhadap bagian-bagian dalam panel yang bertegangan.
8. Konstruksi dalam panel-panel serta tata letak komponen harus diatur sedemikian sehingga,
apabila perlu dilaksanakan perbaikan perbaikan, penyambungan kabel ke terminal CB dapat
dilakukan dengan mudah tanpa mengganggu komponen yang lain.
9. Pengaturan komponen panel, posisi dan ukuran ventilasi harus tidak menyebabkan
temperatur didalam panel 5 derajat lebih tinggi dari urara diluar panel.
10. Untuk pemasangan kabel incoming dan outgoing harus disediakan terminal penyambung yang
disusun rapi dan ditempatkan pada lokasi yang tepat dalam arti kata pada bagian panel dimana
kabel incoming itu datang dan kabel outgoing itu meninggalkan panel.
11. Panel jenis Free Standing dipasang pada lantai kerja dengan lokasi seperti pada gambar
perencanaan. Pemasangan panel harus menggunakan dudukan konstruksi baja dan harus
diperkuat dengan mur baut atai dinabolt sehingga tidak akan berubah posisi oleh gangguan
mekanis.
12. Panel jenis wall mounting dipasang flush mouting pada dinding tembok dengan lokasi sesuai
Gambar perencanaan. Pemasangan panel pada dinding harus diperkuat dengan baut tanah
(anchor bolt) sehingga tidak tidak akan rusak oleh gangguan mekanis.
13. Box panel dan semua material yang bersifat konduktif yang berada disekitar panel harus
dihubungkan ke sistem pengaman pentanahan gambar skema rangkaian listrik panel harus
dilengkapi dengan gambar-gambar skema rangkai listrik, lengkap dengan keterangan
mengenai bagian - bagian intalasi yang diatur oleh panel tersebut. Gambar skema rangkai
listrik dibuat dengan baik dan dilaminasi plastik. Ditempatkan pada panel bagian dalam.
14. Panel mempunyai tutup bagian dalam dan pintu luar yang dilengkapi dengan kunci dan handle
pintu. Handle itu dipasang baik untuk tutup bagian dalamnya panel maupun tutup bagian luar
(pintu) panel.
15. Pada bagian diatas panel (dari ambang atas sampai dengan 12 cm dibawah ambang atas panel)
harus disediakan tempat untuk pemasangan lampu, indikator, fuse dan alat-alat ukur. Bagian
tersebut merupakan bagan terpisah dari pintu panel dan kedudukannya menetap (fixed).
Ukuran panel tidak mengikat dan dapat disesuaikan dengan ukuran komponen yang dipilih
dan standard pabrik pembuat.
16. Pada bagian dalam pintu panel harus digambarkan diagram sistim instalasi panel tersebut
secara lengkap dan baik serta harus dilaminasi.
17. Ukuran panel disesuaikan dengan kebutuhan sirkit atau disesuaikan dengan lapangan.
18. Perletakan komponen didalam panel harus mudah dilihat, mudah dilepas dan dipasang pada
saat penggantian komponen. Setiap kabel harus dipasang tanda warna phasa (marking colour
end cup).
19. Pembuat panel harus memperhitungkan kemampuan panel menahan arus hubung singkat
berdasarkan level arus hubung singkat yang mungkin terjadi (short circuit prospective).
20. Setiap pintu panel harus disediakan tempat untuk menyimpan gambar/diagram panel.
Gambar diagram panel harus dibundel rapi dalam sampul plastik atau dilaminating.
21. Persyaratan Pemasangan :
a. Konstruksi, penempatan peralatan dan kabel harus rapi, kuat terpasang, aman dan mudah
diperbaiki.
b. Tiap–tiap panel harus ditanahkan dengan kawat BC / NYA dengan ukuran sesuai dengan
gambar perencanaan.
c. Panel-panel listrik baru adalah jenis In-door / outdoor type, terbuat dari plat baja.
d. Untuk type out-door ditambahkan konstruksi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga air
hujan tidak dapat masuk.
e. Panel dipasang pada dinding dengan menggunakan Dynabolt 8 mm, konstruksi ini
disesuaikan dengan perlatan/komponen yang terpasang.
f. Semua bagian perlatan yang bertegangan harus mempunyai jarak yang cukup dengan
bagian peralatan yang lain. Apabila perlu harus diberi tambahan Isolator untuk
menghindari adanya hubung singkat.
g. Panel di cat dengan cat dasar (meni) tahan karat 2 kali cat akhir dari jenis cat bakar 2 kali
yang tahan gores. Sebelum di cat, panel termasuk rangkanya harus dibersihkan dari karat,
bila perlu digunakan bahan kimia penghilang karat (RUST REMOVER).
h. Panel harus dilengkapi mur-baut untuk terminal pentanahan, baut terminal harus dilas
penuh pada rangka panel. Ukuran mur-baut 3/8”.
i. Pintu Panel harus dihubungkan dengan rangka panel menggunakan kawat tembaga
Flexible (NYMHY 1 x 6 mm²) untuk pentanahan pintu panel.
j. Untuk masuk dan keluarnya kabel ke dan dari panel menggunakan wartel mur sesuai
ukuran kabel.

2.7. Bus-Bar / Rel Tembaga


1. Dalam box panel harus disediakan sarana pendukung kabel yang diketanahkan (grounding)
dan busbar pengetanahan, yang berfungsi untuk dudukan ujung kabel pertanahan.
2. Busbar dan terminal penyambung panel harus sesuai untuk sistim 3 phase, 4 kawat dan
mempunyai 5 busbar dimana busbar pentanahan terpisah yang terdiri dari 3 busbar untuk
phase R-S-T, 1 busbar untuk Neutral, dan 1 busbar unbtuk grounding. Kapasitas busbar harus
mampu mengalirkan arus minimal sebesar 2 kali dari rating pengaman utama. Setiap busbar
harus diselubungi bahan isolatif dengan warna standar untuk identifiksi phasa.
3. Busbar dari bahan tembaga yang digalvanisasi dengan perak. Galvanisasi ini, termasuk pula
bagian yang menempel pada busbar, seperti sepatu kabel dan lain-lain.
4. Pemasangan kabel pada busbar dan terminal penyambung harus disusun dan dipegang oleh
isolator dengan baik, sehingga mampu menahan elektron mekanikal force akibat arus
hubungan singkat terbesar yang mungkin terjadi.
5. Penyusunan busbar diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam perawatan,
penambahan breaker dan kegiatan lainnya dimasa yang akan datang.
6. Busbar harus memiliki kemurnian tembaga diatas 95%, dan harus tidak menyebabkan
keretakan permukaan jika ditekuk 90°.
7. Bus-bar terbuat dari tembaga dengan kemurnian tinggi dengan kemampuan arus minimum
1,5 kali kapasitas / kemampuan pengaman utamanya, kecuali Bus-bar PE yang ukurannya lebih
kecil dan disesuaikan kawat tanahnya. Dimensi dan kemampuan rel dapat dilihat pada gambar.
8. Semua Bus-bar harus ditopang kokoh pada rangka Konstruksi dengan menggunakan
penyangga atai dijepit partinax pada beberapa tempat sehingga Konstruksi Bus-bar cukup kuat
dan tidak lentur / bergetar. Tahanan isolasi terhadap Body / rangka minimum 50 M Ohm.
9. Bus-bar untuk pertanahan/penghantar pembumian / di klem dengan baik ke rangka panel, cat
pada bagian rangka yang menempel Bus-bar pentanahan harus dihilangkan.

2.8. Circuit Breaker


1. Peralatan pengaman / Circuit Breaker (MCCB / MCB) / ELCB (Eath Leakage Circuir Breaker /
RCD (Residual Current Devices) yang dipasang pada Base Plate atau plat dasar yang terpasang
kuat pada rangka panel.
2. Untuk memudahkan pengenalan distribusi beban pada setiap MCCB / MCB /ELCB / RCD dan
peralatan penting yang lain harus diberi nama / nomor saluran yang dapat dibaca dengan jelas
/ mudah.
3. Circuit breaker yang digunakan dari type MCCB dan MCB yang dilengkapi dengan thermal
overcurrent release dan electromaghnetic overcurrent release yang rating ampere trip dapat
disetel (adjustable) untuk jenis MCCB. Komponen Panel produksi ex. ABB, Schneider, Siemens.
4. Circuit breaker harus mampu mengamankan beban apabila terjadi arus lebih, hubung singkat,
tegangan sangat rendah, tegangan sangat tinggi, hilang salah satu fasa. Circuit breaker harus
dilengkapi dengan kendali motor (motorized) seperti pada gambar perencanaan.
5. Setiap circuit breaker harus dilengkapi dengan proteksi arus lebih dan proteksi arus hubung
singkat. Untuk Panel penerangan dan daya kecil harus dapat bekerja pada sistem tegangan
230/400V, 3 fasa, 4 kawat, 50Hz serta dilengkapi dengan busbar untuk fasa, netral,
pembumian dan peralatan pengaman jaringan berupa MCB/ELCB/RCD/MCCB/FUSE dengan
kapasitas sesuai kebutuhan. Setiap panel harus dilengkapi dengan CB/MCCB utama 4 kutub
dan untuk circuit cabang mengunakan 2 kutub untuk satu fasa (MCB/ELCB/RCD) atau 4 pole
untuk 3 fasa (MCB), jumlah dan ukuran sesuai dengan kebutuhan. Circuit breaker cabang
harus dilengkapi dengan pengaman arus bocor dengan arus penala sebesar 30 mA dan
diindikasikan berupa code atau tulisan. Panel dapat dilengkapi dengan sikring pengaman
utama sesuai kebutuhan serta telah di test dan disetujui pabrik yang menyatakan test arus
pemutusan hingga 50 kA RMS.
6. Pada circuit breaker dan terminal penyambung harus diberi indikasi / label / sign plates
mengenai nama beban atau kelompok beban yang dicatat daya listriknya. Label itu harus harus
dibuat dari plat aluminium atau standar DIN 4070.
7. Sekering/Fuse (jika ada) harus tipe HRC/HHC dan mampu menahan arus hubung singkat diatas
100 kA. Fuse harus dilengkapi dengan dudukan dan rumah sekering (Safety Fuse Holder).
8. Magnetik Kontaktor harus memiliki kemampuan sesuai dengan daya beban dan tidak kurang
dari yang tercantum pada gambar perencanaan.
9. Magnetik kontaktor harus mampu menahan arus gangguan sebelum peralatan pengaman
gangguan bekerja.
10. Outgoing circuit breaker dari Main Distribution Switch Board harus dilengkapi dengan proteksi
kehilangan arus satu phase.
11. Cirkuit Breaker untuk proteksi motor - motor listrik harus menggunakan Cirkuit Breaker yang
dirancang khusus untuk pengamanan.
12. Breaking Capacity dan rating Cicuit Breaker yang digunakan harus sebesar yang tercantum
dalam gambar Perencanaan.
13. Semua Circuit Breker harus diidentifikasi dengan jelas. Identifikasi ini meliputi Breaking
Capacity-nya, Voltage Rating dan Ampera Trip-nya sesuai dengan dinyatakan dalam gambar
perencanaan.
14. Pemasangan MCB harus menggunakan omega rail sedangkan MCCB dan komponen-
komponen lain seperti relay contractor, time switch lain harus menggunakan dudukan plat.
15. Pemasangan komponen-komponen tersebut harus rapi dan kokoh sehingga tidak akan lepas
oleh gangguan mekanis dan thermis.
16. Jika dalam gambar perencanaan dinyatakan ada spare tersebut harus terpasang secara
lengkap. Semua CB harus diberi label / sign plate yang terbuat dari bahan yang sudah disetujui
oleh Konsultan.

2.9. Alat Ukur / Indikator


1. Panel Utama dilengkapi dengan alat – alat ukur seperti :
a. Volt meter
b. Ampere meter pada masing – masing phase
c. Frekuensi Meter
d. KW meter
e. Cos Phi Meter
f. RPR Meter
g. Selector switch
h. Trafo arus
i. Indicator lamp. & Fuse
2. Tidak semua panel dilengkapi peralatan diatas melainkan harus disesuaikan dengan gambar
perencanaan. Voltmeter dilengkapi dengan selector switch yang mempunyai mode 7 posisi.
a. 3 Kali phase terhadap netral
b. 3 Kali phase terhadap phase
c. Posisi Off
3. Alat ukur / metering yang digunakan adalah jenis ‘semi flush mounting’ didalam kotak tahan
getaran ukuran 96x96mm dengan ketelitian skala 1% dan bebas dari pengaruh induksi serta
memiliki sertifikat tera dari LMK / PLN (minimum satu buah untuk setiap jenis alat ukur).
4. Ukuran peralatan ukur adalah 9 cm, surface mounted dilengkapi dengan pengaman arus lebih
dan arus hubung singkat.
5. Ampere meter yang digunakan mempunyai range pengukur sesuai dengan ranting incoming
CBnya.
6. Lampu indikator yang digunakan adalah dari tipe LED :
a. Warna merah untuk phase R
b. Warna Kuning untuk phase S
c. Warna hijau untuk phase T
d. Lampu-lampu indikator harus diproteksi dengan menggunakan fuse jenis diazed.

2.10. Sistem Pentanahan


1. Penghantar Pengaman yang biasa digunakan adalah : kawat tembaga telanjang atau BC (Bare
Conductor).
2. Pembumian biasanya dilakukan pada :
- Titik pembumian sistem listrik pada generator atau transformator.
- Bagian konduktif terbuka perlengkapan (peralatan listrik) dan isolasi listrik.
3. Sistem pentanahan panel listrik yang digunakan pada Instalasi ini adalah sistem PNP
(Pentanahan Netral Pengaman), sesuai aturan yang digunakan pada PUIL 2000.
4. Elektroda pentanahan menggunakan “Elektroda Batang Tembaga” dengan ground rod 5/8”
yang ditanam sedalam minimal 6 (enam) meter hingga dicapai tahanan pentanahan minimal
1 Ohm. Apabila tidak tercapai keadaan 1 Ohm, maka harus diusahakan dengan memparalelkan
beberapa ground rod hingga tercapai keadaan yang diinginkan.
5. Bila perlu elektroda pentanahan untuk badan peralatan dan panel harus dipisahkan
penanamannya sejauh minimum 3 meter satu dengan yang lain.
6. Saluran pentanahan dari elektroda pentanahan sampai ketinggian manusia (minimal setinggi
+/- 2.500 mm) harus dilindungi dengan pipa PVC High Impact (HI) 20 mm.
7. Saluran ini tidak boleh ada sambungan hanya diperbolehkan pada terminal yang disediakan
dengan menggunakan sambungan mur baut dan sepatu kabel yang sesuai.
8. Penampang kawat pentanahan dari masing-masing panel dapat dilihat pada gambar masing-
masing panel.
9. Titik pentanahan panel ini harus dipisahkan dengan system pentanahan penangkal petir dan
peralatan lain (peralatan kontrol, MCFA, PABX, dll) minimal sejauh 10 meter.
10. Penyambungan dipanel harus pada rek pentanahan atau mur baut yang telah di las ke badan
panel.

2.11. Capasitor Bank


1. Capacitor Bank yang dipergunakan adalah type H-Range yang dapat dioperasikan secara
manual maupun otomatis.
2. Sebagai pemutus dipergunakan peralatan yang direkomendasi oleh pabrik untuk capacitor,
sedangkan contactor sebagai switching mempunyai rating 1,42 x arus nominal capacitor sesuai
dengan prinsip hitungan pabrik sehingga mampu mengkoreksi power faktor secara baik
(sampai didapat Cos µ sebesar minimum 0,95).

2.12. Kabel Instalasi


1. Persyaratan teknis ini berlaku untuk :
a. Kabel daya
− Yang dimaksud dengan kabel daya adalah kabel yang menghubungkan antara panel
satu dengan panel yang lainnya termasuk peralatan bantu dibutuhkannya.
− Setiap kabel daya ujungnya harus diberi end cup marking colour, untuk
mengidentifikasi warna phasa. Warna tanda harus tidak boleh berubah atau pudar
karena temperatur kabel.
− Setiap tarikan kabel / sirkit harus tidak diperbolehkan adanya sambungan kecuali
untuk kabel instalasi penerangan.
− Kabel Tegangan Rendah
1) Kabel Tegangan Rendah (0,6 / 1 KV) mulai digunakan dari Meter PLN ke Panel
Tegangan Utama Tegangan Rendah/Main Panel dan seterusnya hingga kesetiap
titik beban.
2) Kabel Tegangan Rendah ( 1 KV ) digunakan pada instalasi yang langsung
berhubungan dengan tanah.
3) Untuk kabel jenis NYFGBY, metal armournya harus digunakan sebagai grounding
body.
4) Kabel Tegangan Rendah (500 Volt) digunakan pada instalasi penerangan.
5) Kabel tahan api digunakan khusus untuk melayani beban-beban seperti : Lift,
Pemadam Kebakaran, Motor Pressurize Fan.
b. Instalasi penerangan
Yang dimaksud dengan instalasi penerangan adalah kabel-kabel menghubungkan antara
panel-panel penerangan dengan fixture penerangan. Dalam instalasi penerangan ini harus
termasuk juga peralatan-peralatan bantu instalasi seperti conduit, sparing, doos
penyambung, doos pemasangan dan lain-lain yang dibutuhkan untuk kesempurnaan
instalasi penerangan.
c. Instalasi tenaga
- Yang dimaksud dengan instalasi tenaga adalah kabel yang menghubungkan panel-
panel daya dengan beban-beban stop kontak, peralatan tata udara (exhaust fan, air
conditioning) pompa–pompa listrik (pompa air bersih, pompa bahan bakar), panel
control (CP-IN dan CP RAD) dan lain-lainnya sesuai dengan gambar perencanaan.
Dalam instalasi daya ini harus sudah termasuk outlet daya, conduit, sparing, doos
penyambung, doos pemasang, dan peralatan–peralatan bantu lainnya yang
dibutuhkan untuk kesempurnaan instalasi daya.
- Untuk pengabelan instalasi tenaga (Kabel Utama) :
a. Pemasangan kabel harus memenuhi persyaratan dari pabrik kabel dan
persyaratan umum yang berlaku.
b. Semua penarikan kabel harus menggunakan sistem roll untuk memudahkan
pekerjaan dan kabel tidak rusak karena tekukan dan puntiran.
c. Sebelum penarikan kabel dimulai, pemborong harus menunjukkan kepada
Konsultan alat roll tersebut serta alat-alat lainnya.
2. Kabel–kabel listrik yang digunakan harus sesuai dengan standard yang berlaku yang diakui di
negara Republik Indonesia. Ukuran kabel untuk instalasi listrik yang digunakan minimal harus
sesuai dengan gambar Perencanaan dan sudah direkomendasi oleh LMK produksi ex.
Supreme, Kabelindo, Kabelmetal
a. Inti Tembaga
b. Ukuran minimum 2.5 mm2 kecuali untuk kabel control
c. Kabel harus dalam keadaaan baru, tanpa cacat dan bila perlu harus ada surat keterangan
dari distributor/pabrik.
d. Semua kabel di kedua ujungnya harus diberi tanda dengan cable mark yang jelas dan
tidak mudah hilang untuk mengidentifikasi arah beban.
e. Ketentuan pemberian tanda harus mengacu pada SNI 04-0225-2000 pasal 7.2.
f. Penyambungan :
- Penyambungan kabel ke terminal panel/peralatan di semua bangunan adalah
tanggung jawab kontraktor.
- Sambungan harus dilaksanakan dengan baik, cukup kuat/erat sesuai dengan model
terminal peralatan yang terpasang.
- Penyambungan kabel kotak kontak atau kabel penerangan harus dilakukan didalam
kotak sambung. Kotak sambung harus terbuat dari bahan yang sama dengan conduit
dipasang tutup dengan skrup. Tutup kotak dengan cara clip tidak diijinkan. Setiap
sambungan harus memakai alat penyambung berupa las dop.
- Tidak diperkenankan melakukan penyambungan di dalam tanah ditengah perjalanan
kecuali apabila panjang kabel/saluran melebihi standard panjang yang telah
ditentukan oleh pabrik, kecuali memang ada pekerjaan penyambungan kabel.
- Apabila terpaksa dilakukan pernyambungan karena saluran lebih panjang dari
standar pangjang pabrik maka sistem/cara penyambungan harus dibicarakan dengan
Konsultan untuk mendapatkan persetujuan.
- Semua penyambungan kabel pada kotak sambung menggunakan sambungan puntir
dengan lasdop tidak boleh menggunakan isolasi.
g. Pada setiap jarak maksimum 25 meter dan setiap belokan sepanjang jalur penanaman
kabel harus di pasang patok beton dengan tulisan ‘TR/TM’.
h. Semua kabel yang dipasang menembus dinding harus dipasang sleeve pipa galvanized
minimum 2,5 kali penampang kabel.
3. Pemipaan (conduit)
a. Konduit digunakan untuk melindungi kabel yang ada didalamnya, yang umum digunakan
pada bangunan tinggi adalah “Isolasi PVC High Impact (HI)” yang khusus digunakan untuk
instalasi penerangan saja.
b. Pipa PVC HI yang dipergunakan produksi ex. CLIPSAL, EGA, Legrand yang sudah
direkomendasi oleh LMK, bila diperlukan kontraktor harus dapat menunjukkan bukti
rekomendasi tersebut.
c. Berhubung untuk instalasi penerangan hanya terdapat 1 (satu) kabel untuk 1 (satu)
konduit, maka sesuai Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000) berlaku faktor
pengisian maksimum = 50 %.
Luas penampang luar kabel
Faktor pengisian : --------------------------------------- x 100%
Luas penampang dalam konduit
d. Pasangan kabel dalam pipa PVC HI pada jarak maksimum 100 cm harus diberi klem.
e. Klem dibuat dari bahan plat logam digalvanis atau allumunium, pemasangan pada tembok
harus menggunakan vicher dan sekrup, pemasangan dengan menggunakan paku tidak
dibenarkan. Untuk kabel berpenampang 16 mm2 atau lebih harus dilengkapi dengan
sepatu kabel untuk terminasinya.
f. Pemasangan sepatu kabel untuk kabel berukuran 70 mm2 atau lebih harus menggunakan
hydraulic press kemudian di solder dengan timah pateri.
g. Sepatu kabel yang dipergunakan harus sesuai dengan besarnya kabel dan harus yang
berkualitas baik, standart produksi ex. GAE, 3M atau setara.
4. Tahanan Isolasi
a. Tahanan isolasi kabel yang dipersyaratkan sesuai pasal 213 sub pasal 213.B.2 PUIL 1987
adalah minimum 1000OHM per satu volt tegangan nominal.
b. Tahanan isolasi kabel yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga arus bocor yang
terjadi tidak melebihi 1 mA untuk setiap 100 m panjang kabel. Kecuali untuk instalasi yang
harus beroperasi pada keadaan darurat.
5. Kabel-kabel yang digunakan adalah kabel yang sesuai dengan fungsi dan lokasi
pemasangannya seperti table dibawah ini / sesuai dengan gambar Perencanaan :
Pemakaian Jenis
Kabel
Instalasi penerangan didalam NYA
bangunan
Instalasi penerangan diluar NYY,
bangunan NYFGbY
Instalasi kabel tenaga didalam NYA, NYY
bangunan
Instalasi kabel daya didalam NYY
bangunan
Instalasi kabel daya diluar NYFGbY
bangunan didalam tanah
Sebagai pengenal untuk inti kabel atau rel digunakan warna, lambang atau huruf seperti yang
terdapat dalam tabel Tabel PUIL 2000.
Pengenal
Pengganti Inti Dengan Dengan Dengan warna
Atau Rel huruf lamban
g
1 2 3 4
A. Instalasi arus bolak-balik :
Fase Satu L 1/R Merah
Fase Dua L 2/S Kuning
Fase Tiga L 3/T Hitam
Netral N Biru
B. Instalasi perlengkapan listrik :
Fase satu U/X Merah
Fase dua V/Y Kuning
Fase tiga W/Z Hitam
C. Instalasi arus searah :
Positif L+ + Tidak ditetapkan
Negatif L- - Tidak ditetapkan
Kawat tengah M Biru
D. Penghantar Pembumian HB Loreng hijau - kuning
Tabel Pengenal inti kabel atau rel
Warna kabel yang mengikat (harus ada) adalah biru (untuk netral) dan kuning / hijau (untuk
ground). Bila warna tersebut tidak ada maka pada ujung-ujung kabel harus diberi isolasi
dengan warna yang bersesuaian seperti butir di atas.
6. Pelaksanaan penanaman galian pada kondisi khusus dimana penanaman kabel tidak dapat
dilaksanakan dengan kedalaman  1,20 meter, maka pelaksanaannya sebagai berikut :
a. Minimum 0,80 meter di bawah permukaan tanah, pada jalan-jalan yang dilewati
kendaraan .
b. Minimum 0,60 meter di bawah permukaan tanah, pada jalan-jalan yang tidak dilewati
kendaraan (pedestrian) dan diberi pelindung pipa galvanized dengan penampang
minimum 2,5 kali penampang kabel.
c. Pada kondisi dimana terdapat kabel PLN tegangan menengah/tinggi dan kabel
telekomunikasi maka kabel tanah harus ditempatkan di atas kabel PLN dengan jarak
minimum 50 cm.
d. Pada persilangan antara kabel tanah dan kabel lainnya harus diambil salah satu tindakan
pengamanan, kecuali jika salah satu kabel tanah yang bersilangan itu terletak di dalam
saluran pasangan batu, beton atau semacam itu yang mempunyai tebal dinding sekurang-
kurangnya 6 cm.
▪ Di atas kabel tanah yang terletak di bawah, harus dipasang tutup pelindung dari
lempengan beton (concrete tile) atau pipa beton atau sekurang-kurangnya dari bahan
tahan lama atau yang sederajat.
▪ Di atas kabel yang terletak di atas, dipasang pelindung beton, pipa beton belah atau
dari bahan lain yang cukup kuat tanah lama dan tahan api. Pipa belah ini harus
dipasang menjorok keluar sekurang-kurangnya 0,5 meter dari kabel yang terletak di
bawah diukur kabel sisi luar.
e. Pada tempat persilangan dengan kabel tanah telekomunikasi, kabel tanah harus dilindungi
pada bagian atasnya dengan pipa belah, plat atau pipa dari bahan bangunan yang tidak
dapat terbakar.
▪ Jika kabel tanah menyilang di atas kabel tanah telekomunikasi dengan jarak lebih kecil
dari 0,3 meter maka pada bagian yang menghadap ke kabel tanah telekomunikasi
dipasang alat / pipa dari bahan bangunan yang tidak dapat terbakar. Perlindungan ini
harus menjorok keluar paling sedikit 0,5 meter dari kedua sisi persilangan.
▪ Pelindung kabel tanah tersebut baik pada kabel tanah tersebut maupun pada kabel
tanah telekomunikasi harus menjorok keluar paling sedikit 0,5 meter dari kedua
ujung tempat persilangan dan pendekatan itu.
▪ Kabel tanah telekomunikasi yang diletakkan di dalam jalur kabel dianggap telah
terlindung.
f. Kontraktor wajib mengembalikan galian tanah dalam keadaan semula dengan seluruh
biaya menjadi kewajiban kontraktor.
7. Rak Kabel
a. Rak kabel digunakan untuk menunjang kabel-kabel utama (feeder cable), atau kabel
lainnya yang berada dalam jumlah yang cukup banyak.
b. Rak kabel umumnya buatan pabrik yang telah digalvanized dan dalam pemasangannya
harus dibumikan.
c. Dimensi rak kabel harus mencukupi kebutuhan kabel yang akan dilayaninya. Seluruh kabel
yang ada diatas rak kabel harus diikat dengan pengikat kabel (cable ties).
d. Penyusunan kabel didalam rak harus secara rapi dan tidak saling menyilang.
8. Seluruh bahan metal tidak bertegangan (rak kabel, panel dll) harus ditanahkan secara
sempurna, pada sambungan rak kabel dimana sambungan tersebut tidak menggunakan las
maka kedua bagian rak harus ‘jumper’ dengan konduktor tembaga minimal berpenampang
2,5mm2.
9. Untuk galian kabel yang melalui jalur kabel existing/lama harus dikerjakan dengan extra hati-
hati. Bila terjadi kerusakan pada kabel existing karena terkena peralatan gali (pacul, ganco,
dsb), kontraktor harus mengganti kabel tersebut tanpa adanya tambahan biaya, termasuk
biaya perawatan pekerja yang mengalamai kecelakaan hingga sembuh benar.
10. Pengurusan Ijin Instalasi Listrik kepada Instansi yang berwenang (PLN) merupakan Pekerjaan
dan Tanggung Jawab dari Kontraktor.
11. Motor
a. Motor dengan kapasitas sama atau lebih kecil 5,5 Kw yang distart secara langsung atau
Direct On Line (DOL) starters.
b. Motor dengan kapasitas lebih besar 5.5 KW distart secara star delta (Y-) starters.
2.13. Armatur Lampu
1. Lampu dan armaturnya harus sesuai dengan yang dimaksudkan, seperti yang dilukiskan dalam
gambar-gambar detail Elektrikal.
a. Semua rumah lampu khususnya untuk kebutuhan penerangan general harus produksi di
pabrik yang berada di dalam negeri serta mempunyai jaringan distribusi penjualan atau
kantor cabang resmi yang berada disetiap wilayah kota di Indonesia.
b. Pabrikan rumah lampu bersedia memberi jaminan atas tersedianya barang dalam jangka
waktu minimal 5 tahun kedepan sehingga apabila ada beberapa produk membutuhkan
sperpat pengganti maka barang tersebut masih tersedia dan terjamin kontinuitasnya.
c. Pabrikan rumah lampu yang digunakan adalah pabrikan yang dapat memberikan garansi
atas produk yang dikeluarkanya minimal 1 tahun sejak barang terpasang di proyek.
d. Semua armatur lampu yang terbuat dari metal harus mempunyai terminal pentanahan
(grounding).
e. Semua lampu flourescent dan lampu discharge lainnya harus dikompensasi dengan
kapasitor yang cukup untuk mencapai faktor daya 90% - 95%.
f. Diffuser/reflector lampu-lampu harus terbuat dari bahan yang cukup kuat terhadap
kenaikan temperatur dan beban mekanis dari diffuser itu sendiri.
g. Reflektor harus mempunyai lapisan pemantul kualitas baik.
h. Box tempat ballast, kapasitor, dudukan starter dan terminal block harus cukup besar dan
dibuat sedemikian rupa sehingga panas yang ditimbulkan tidak mengganggu kelangsungan
kerja dan umur teknis komponen lampu. Ventilasi dalam box harus cukup.
i. Kabel-kabel dalam box harus diberikan saluran atau klem-klem tersendiri sehingga tidak
menempel pada ballast atau kapasitor.
j. Ballast harus mempunyai dudukan yang kuat dalam box lampu, tetapi mudah dibuka untuk
diperiksa atau diangkat.
2. Jenis dan tipe yang diperkenankan adalah sebagai berikut :
a. Armatur Lampu produksi ex. Phillips dan Panasonic.
b. Tipe lampu tabung LED TLD, PLC, Halogen, PAR & SON produksi ex. Philips Driver produksi
ex. Philips.
c. Kapasitor produksi ex. Phillips / Vosloh / Cambridge . Yang digunakan harus Kapasitor
yang dapat menghasilkan p.f. 0.95 (kapasitas + 3.25 s/d 4.5 micro farad).
d. Fitting/Lamp Holder dan starter holder ( sockets ) produksi ex. Vossloh atau setara.
Material dari white plastic polycarbonate dengan proteksi Uncorosive dan Touchproof.
Lamp holder dan starter holder anti vibrator contact.
3. Pemasangan Out-Bouw / Surface / Permukaan menempel plafond.
a. Armature terbuat dari plat baja putih dengan ketebalan minimal 0,6 mm atau ketebalan
total setelah finis sekitar +- 0,7 mm, pembuatan harus dengan mesin peralatan lampu
Built-in dan dengan proses melalui sistem Pre Treatment dengan penyempurnaan
finishing cat powder coating.
b. Konstruksi armature harus kuat dan kokoh serta dibuat sedemikian rupa agar dapat dibuka
/ dilepas untuk perbaikan / penggantian komponen yang berada di dalamnya. Armature
dan reflektor harus dilengkapi dengan sekrup, agar dapat dilepas pada waktu memerlukan
perbaikan. Seluruh armature harus lengkap dengan rangka dudukan / gantungan.
4. Persyaratan pemasangan titik lampu dan Peralatannya :
a. Seluruh instalasi pekerjaan lampu dan peralatan pada dasarnya dilaksanakan dengan
menggunakan kabel jenis NYA, dengan luas penampang penghantar sekurang-kurangnya
2.5 mm2 dan pipa conduit PVC HI dengan diameter sekurang-kurangnya 20 mm².
b. Kontraktor diwajibkan mengkoordinasikan rencana kerjanya dengan disiplin lainnya,
sehingga kemungkinan timbulnya persilangan lintasan antar instalasi yang berlebihan
dapat dihindarkan.
c. Pemasangan instalasi lampu dan peralatan tidak dibenarkan membebani kerangka ceilling
yang ada, melainkan harus dipasang pada cable tray yang tersedia atau dilekatkan
langsung pada bagian bawah dari plat dan, dengan menggunakan klem dan concrete
fastener yang sesuai, sekali-kali penggunaan paku sangat dilarang dalam pengerjaan ini.
d. Jarak pemasangan klem-klem pengikat pipa conduit tidak diperkenankan melebihi 100 cm.
e. Pekerjaan pencabangan, splicing dan lain sebagainya harus dilaksanakan dalam junction
boxes (Tdoos, Xdoos, dsb), yang terbuat dari bahan yang sejenis dengan pipa conduit yang
dipakai, dengan menggunakan sambungan puntir dengan lasdop, yang ukuran-ukuranya
sesuai dengan ukuran dan jumlah kabel yang ada. Penggunaan insulation tape sama sekali
tidak diperbolehkan.
f. Kabel penghantar yang menghubungkan fixtures lampu dengan instalasi yang ada, harus
dilindungi dengan menggunakan flexibel conduit yang terbuat dari bahan (dan memiliki
ukuran) yang sama dengan pipa conduit yang dipakai.
g. Untuk membedakan instalasi lampu dan peralatan dengan instalasi yang lain, pipa conduit
yang terpasang harus diberi tanda (label) berwarna pada setiap jarak 2 meter. (dapat
dengan menggunakan insulation tape). Warna tanda/label yang dipakai harus
dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Konsultan.
h. Untuk pemasangan armature lampu jenis (surface mounted), tidak dibenarkan dipasang
pada plafond secara langsung, harus dipasang pada rangka plafond yang diperkuat dengan
konstruksi tambahan (bisa terbuat dari kayu yang di cat meni 2 kali yang sesuai atau
dengan menggunakan hanger / penggantung.
i. Semua pekerjaan perbaikan bekas bobokan dilaksanakan oleh Kontraktor Bangunan yang
beban biayanya menkadi tanggung jawab dari Kontraktor Listrik.

2.14. Emergency Battery


1. Komponen lampu Emergency yang dilengkapi Battery charger harus dipasang pada rumah
lampu jenis TL dan PLC yang diletakan pada daerah yang membutukan penerangan atau area
evakuasi bila terjadi lampu mati atau kebakaran dan berfungsi sebagai penerangan darurat
serta berfungsi sebagai penunjuk jalan pada saat terjadi pemadaman listrik.
2. Lampu Emergency harus berfungsi menyala minimal 2 jam saat terjadi pemadaman listrik.
3. Tegangan input pada komponen Emergency adalah 220 V, n 10 % 50 Hz, phase, dilenkapi
dengan indicator LED dan peralatan push to Check battery.

2.15. Soket & Outlet


1. Saklar dan kotak-kotak.
a. Socket Outlet
Outlet daya dan plug yang digunakan Produksi ex. ABB, Clipsal/Schneider indonesia,
Legrand dan harus memenuhi standard SII dan PLN atau standart lain yang berlaku dan
diakui di Indonesia.
b. Outlet daya dan plug harus mempunyai spesifikasi minimal sebagai berikut :
Rated Voltage : 250 volt
Rated Cutled : 10 A, 13A, 16A
c. Switches / Saklar
Saklar yang digunakan Produksi ex. ABB, Clipsal/Schneider indonesia, Legrand dan
sesuai dengan standard PLN atau SII atau standard lain yang berlaku dan diakui di
Indonesia. Saklar harus mempunyai spesifikasi :
Rated Voltage : 250 volt
Rated Current : minimal 10 / 16 A
2. Persyaratan pemasangan saklar dan stop kontak :
a. Saklar dipasang setinggi 150 cm dari lantai dengan pasangan terpendam (In-Bow) rata
dengan permukaan plesteran dinding atau didalam partisi dengan konstruksi tersendiri /
khusus.
b. Kotak kontak yang dipergunakan adalah jenis in-bow / rata dengan permukaan plesteran
dinding atau didalam partisi dengan konstruksi tersendiri / khusus dengan menggunakan
In-Bow doos yang terbuat dari bahan yang sama dengan kotak kontaknya. Pemasangan
kotak kontak pada doosnya menggunakan sekrup.
c. Kotak kontak 1 phase dipasang setinggi 40 cm dari lantai / sesuai permintaan user
(disesuaikan dengan alat) dengan pasangan terpendam (In-Bouw) rata dengan permukaan
plester dinding atau didalam partisi dengan konstruksi khusus sesuai petunjuk dari
Konsultan.
d. Kotak kontak 1 phase Khusus untuk Televisi Posisi Atas dipasang setinggi 210 cm dari lantai
/ sesuai permintaan user (disesuaikan dengan alat) dengan pasangan terpendam (In-
Bouw) rata degnan permukaan plester dinding atau didalam partisi dengan konstruksi
khusus sesuai petunjuk dari Konsultan.
e. Kotak kontak 3 phase dipasang setinggi 40 cm dari lantai atau disesuaikan dengan kondisi
ruang dan perlatan terpasang dengan pasangan menempel dinding (out-bouw) dan harus
terpasang kuat, tidak boleh goyang/miring sesuai petunjuk Konsultan.
f. Kotak kontak 3 phase harus mempunyai terminal pentanahan (3 P + N + PE) tegangan 250
V.
g. Semua pemasangan out-bouw doos dan kotak kontak 3 phase pada dinding harus
menggunakan vischer dan sekrup, pemasangan pada kayu/meja harus menggunakan
sekrup. Penggunaan paku pada pekerjaan ini sangat dilarang.
h. Untuk kotak kontak yang dipasang untuk daerah basah harus memakai type tertutup
(Water Proof Type).
i. Kotak kontak 1 phase harus mempunyai terminal pentanahan (P + N + PE) tegangan 250
V.

2.16. Persetujuan Pabrik Pembuat


a. Component manufacturer : Schneider Indonesia, Siemens, ABB.
b. Component Motor control Manufacturer : Schneider Indonesia, Siemens.
c. Pembuat Panel : Sinar Metrindo Perkasa (Simetri) dan ABB
d. Lighting Fixture : Philips, Panasonic.
e. Panel control arus bocor : Bender (Pengsulindo)

PASAL 3
PEKERJAAN INSTALASI DATA/LAN

3.1. Spesifikasi Umum


a. Kontraktor menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang sudah dijelaskan dalam spesifikasi
dan Gambar Rencana, dengan bahan-bahan, peralatan dan pengerjaan yang sesuai dengan
yang tertera dalam spesifikasi ini. Bila ternyata terdapat perbedaan antara spesifikasi bahan
atau peralatan yang dipasang dengan spesifikasi yang disyaratkan dalam pasal ini, maka
Kontraktor wajib untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut sesuai ketentuan dengan
tanpa adanya tambahan biaya.
b. Perencanaan dan pemasangan untuk structured cabling ini harus dilakukan oleh kontraktor
spesialis yang mempunyai tenaga ahli bersertifikasi Network Design and Installer dari
pemegang merk (principle), copy sertifikat harus dilampirkan pada saat penawaran tender
dengan membawa aslinya untuk ditunjukkan

3.2. Lingkup Pekerjaan


a. Kontraktor wajib memberikan alternatif sistem yang simple dalam hal maitenance dan
mempunyai :
• Performance minimal 100 Mbps untuk jalur data horizontal.
• Performance mencapai 1000 Mbps untuk jalur data riser backbone.
b. Sebagaimana yang tertera pada Gambar Rencana, Kontraktor pekerjaan Jaringan Komputer
harus melakukan pengadaan, pemasangan dan pengujian sistem secara keseluruhan. Garis
besar lingkup pekerjaan Jaringan Komputer yang dimaksud adalah sebagai berikut :
c. Pengadaan, pemasangan dan pengujian perangkat Jaringan Komputer (network devices) yang
meliputi: Gigabit Ethernet Switch, Fast Ethernet Switch, Media transmisi, konektor dan
aksesoris tambahan lainnya.
d. Pengadaan, pemasangan dan pengujian jaringan kabel distribusi antar perangkat jaringan atau
perangkat jaringan ke konektor komputer di ruang-ruang yang ditentukan dengan
menggunakan Alat uji untuk UTP Cable Channel Link Category 6 (Microtest Omniscanner
dengan firmware minimal versi 6.10).
e. Pengesetan atau pemrograman perangkat Jaringan Komputer inti (Gigabit Ethernet Switch,
Fast Ethernet Switch) sesuai dengan feature-feature yang ditentukan.
f. Pemberian paket training kepada sekelompok Engineer/Teknisi pemilik dengan materi:
pengesetan, pemrograman serta trouble shooting sederhana dari Jaringan Komputer yang
dipasang.

3.3. Bahan dan Peralatan


Bahan dan peralatan yang akan dipakai harus memenuhi atau mendekati persyaratan teknis
sebagai berikut:
a. Semua peralatan dan instalasi yang dipasang haruslah baru sama sekali dan tidak terdapat
cacat sedikitpun. Terhadap ketidak-sempurnaan/kekurangan-baikan barang/peralatan yang
dikirim, Konsultan berhak untuk menolak dan Kontraktor harus mengganti dengan yang baru
sesuai persyaratan.
b. Untuk alasan kompatibilitas dan keseragaman dalam pengesetan, seluruh perangkat jaringan
inti (Gigabit Ethernet Core Switch dan Fast Ethernet Edge Switch) harus memiliki standarisasi
yang sama.
c. Perangkat jaringan inti beserta dengan pengkabelan, konektor dan asesoris lainnya yang
dibutuhkan haruslah kompatibel satu sama lainnya, sehingga dapat menghasilkan unjuk kerja
yang maksimum.
d. Kabel-kabel distribusi horizontaln Jaringan Komputer di dalam gedung menggunakan jenis UTP
Category-5e yang dijamin bekerja pada kecepatan sampai 100 MBPS. Kabel ditempatkan
dalam conduit dan diterminasi pada konektor Modular Jack yang dipasang secara inbow dan
patch-panel dalam rack 19”. Konektor Modular Jack yang digunakan harus memenuhi
spesifikasi Category -5e.
e. Konduit: Jenis konduit yang dipakai adalah PVC conduit dengan diameter dalam minimum
20mm high impact. Pipa, elbow, socket, junction box dan accessories lainnya haruslah sesuai
satu dengan lainnya.
f. Peralatan Active yaitu Active Switch dengan 12/24/48 port 10/100Base-TX dan 2 port
10/100/100 Base-T.
g. Perlengkapan lain yang belum disebutkan disini, namun merupakan kebutuhan pokok agar
sistem tersebut bisa beroperasi secara sempurna, harus dilengkapi oleh Kontraktor dan
diinformasikan kepada Konsultan.

3.4. Spesifikasi Teknis


a. Spesifikasi peralatan yang dipilih harus memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Untuk
peralatan jaringan inti (Gigabit Core Switch dan Fast Ethernet Edge Switch) ex. 3COM, Allied
Telesyn International.
b. Vendor Structure Cabling System :
• AMP Netconnect
• Belden IBDN
c. UTP Category 5e / 6:
• AMP Cat-5e / cat-6
• Belden IBDN Cat-5e or Cat-6
d. Patch panel, patch cord, modular outlet:
• AMP Cat-5e / Cat-6
• Belden IBDN Cat-5e / cat-6
e. Rack:
• ABBA Series Rack
• Fortuna Series Rack.
• V Series Rack.
f. Pemipaan ( Konduit )
• Konduit digunakan untuk melindungi kabel yang ada didalamnya, yang umum digunakan
pada bangunan tinggi adalah “Isolasi PVC High Impact (HI)” yang khusus digunakan untuk
instalasi penerangan saja.
• Pipa PVC HI yang dipergunakan produksi ex. CLIPSAL, EGA yang sudah direkomendasi oleh
LMK, bila diperlukan kontraktor harus dapat menunjukkan bukti rekomendasi tersebut.
• Berhubung untuk instalasi penerangan hanya terdapat 1 (satu) kabel untuk 1 (satu)
konduit, maka sesuai Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000) berlaku faktor
pengisian maksimum = 50 %.
Luas penampang luar kabel
Faktor pengisian : --------------------------------------- x 100%
Luas penampang dalam konduit
• Pasangan kabel dalam pipa PVC HI pada jarak maksimum 100 cm harus diberi klem.
• Klem dibuat dari bahan plat logam digalvanis atau allumunium, pemasangan pada tembok
harus menggunakan vicher dan sekrup, pemasangan dengan menggunakan paku tidak
[Link] kabel berpenampang 16 mm2 atau lebih harus dilengkapi dengan
sepatu kabel untuk terminasinya.

3.5. Pemasangan dan Pengetesan


a. Semua kabel yang dipergunakan harus ditempatkan dalam konduit PVC high impact dan
dipasang tertanam. Konduit harus diklem pada struktur bangunan dengan sadle klem. Bila
diperlukan (mis. pada lintasan melingkar) konduit PVC bisa dikombinasikan dengan pipa
fleksibel. Untuk setiap 3 titik menggunakan 1 pipa conduit ¾” Clipsal atau yang setara,
dilengkapi dengan klem untuk pipa lurus setiap 1 meter. Untuk sambungan sudut diberi pipa
flexibel Clipsal atau yang setara.
b. Semua peralatan Jaringan Komputer harus dipasang pada tempat-tempat yang sesuai seperti
ditunjukkan dalam Gambar Rencana, dimana koordinat yang tepat dapat dilihat lebih jelas
dalam Gambar rencana titik komputer. Bagi penempatan perangkat jaringan yang belum jelas
atau pada penempatannya mengakibatkan masalah dengan armature penerangan atau
peralatan yang terdapat di plafon lainnya, agar dibicarakan dengan Konsultan.
c. Pemasangan Fast Ethernet Edge Switch yang tersebar harus berdekatan dengan supply listrik
(koordinasi dengan pemasang jaringan listrik).

3.6. Testing & Commissioning


a. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan setelah instalasi kabel dan pemasangan peralatan utama telah
dilaksanakan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat dan memastikan bahwa pekerjaan
instalasi telepon telah dikerjakan sesuai spesifikasi dan peraturan yang berlaku. Hasil
pemeriksaan direkam pada format daftar simak (check list). Beberapa hal yang harus
dilakukan pemeriksaan meliputi :
• Pemasangan unit Server dan terminasi kabelnya.
• Pemasangan Patch Panel.
• Instalasi kabel data / LAN dan konduit.
• Instalasi rak kabel.
• Pemasangan outlet-outlet data / LAN pada dinding atau lantai.
b. Pengujian
• Setelah semua telah selesai terpasang, dengan persetujuan dan disaksikan oleh Konsultan
dilakukan pengujian dengan cara mencoba sistem yang telah diprogram pada Server
sampai ke setiap unit komputer yang dipakai.
• Pengujian yang berhasil dan dapat diterima oleh Konsultan yang bertindak mewakili
pemberi tugas (Owner), harus dilengkapi dengan berita acara yang telah ditanda tangani
oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Setelah ini dilanjutkan dengan pemberian buku
petunjuk pengoperasian dan pemeliharaan serta melaksanakan training kepada pengelola
gedung. Sesudah semua ini dilaksanakan maka dapat diadakan serah terima pertama dari
kontraktor ke Pemberi Tugas.
• Pengujian sistem harus dilakukan sekurang kurangnya sebagai berikut:
− Pengujian simulasi komunikasi data system.
− Integrasi jaringan komputer dengan sistem yang ada (existing network).
− Uji pengesetan feature-feature perangkat jaringan sesuai spesifikasi yang ditentukan,
misalkan: VLAN, dll.
− Uji koneksi pada tiap-tiap titik komputer : untuk cable UTP menggunakan Microtest
Omniscanner dengan Module Channel Link Category 6 dan minimum firmware versi
6.10.
− Uji aplikasi berbasis Netware, Windows Network, dan Internet
− Uji Network Management system untuk seluruh perangkat jaringan: (configuring,
monitoring dan traffic analysis).
− Pengujian harus dilakukan oleh spesialis vendor sebagai authorized dealer penjualan
peralatan tersebut dan harus menyiapkan sertifikat pemasangan yang baik dari
instansi yang berwenang.
c. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan dalam rangkap 3 (tiga) mengenai hal – hal
sebagai berikut :
• Hasil pengetesan kabel – kabel.
• Hasil pengetesan peralatan – peralatan.
• Hasil pengetesan semua persyaratan operasi dan instalasi
• Hasil pengukuran – pengukuran dan lain - lain
• Semua pengetesan dan atau pengukuran tersebut harus disaksikan oleh Konsultan.

PASAL 4
PEKERJAAN INSTALASI KEBAKARAN

4.1. Umum
Pekerjaan ini mencakup penyediaan, pemasangan sistem system fire alarm, pengujian dan
pemeliharaan peralatan sistem deteksi dan alarm kebakaran yaitu seluruh detector, Junction Box
Fire Alarm, Bell, Break Glass / Manual Call Point, Indicator Lamp dll.

4.2. Ketentuan Umum


1. Yang diinginkan dalam instalasi alarm kebakaran adalah sistim / rangkaian alarm kebakaran
yang menggunakan detector panas ( Rate of Rise and Fixed Temperature Heat Detector ),
detector asap ( Smoke Detector ) dan titik panggil secara manual (Break Glass) dan Alarm Bell
serta perlengkapan lainnya yang dipasang secara baik dan aman dan bekerja secara otomatis
mendeteksi pada saat awal kebakaraan dan lokasi kebakaran dapat langsung diketahui dari
Control Panel Fire Alarm.
2. Sistem yang dapat digunakan harus dapat diperluas misalnya secara otomatis dapat
memonitor pompa kebakaran , mematikan AC termasuk instalasi dry contact di panel listrik /
AC (Tripping System AC), mematikan supply fan.
3. Sistim yang ditawarkan harus modular dapat mengarah ke Zone expantion (pengembangan)
dan dengan Sistem Semi Addressable dan Full Addressable.

4.3. Lingkup Pekerjaan


1. Lingkup pekerjaan ini termasuk pengadaan semua material, peralatan dan lain-lain, pengiriman
ke site pemasangan, pengujian (comissioning) dan pemeliharaan seluruh Pekerjaan Fire Alarm
seperti disyaratkan sampai berfungsi dengan baik.
2. Pengadaan serta pemasangan unit pemberitahuan (annunciator unit).
3. Pengadaan dan pemasangan unit deteksi (detection unit), termasuk manual station yang
dipasang di hydrant box tiap lantai dan dekat pintu darurat.
4. Pengadaan serta pemasangan kabel terminal box.
5. Pengkabelan system Fire Alarm dari sentral Fire Alarm sampai unit deteksi.
6. Mengadakan pengujian menyeluruh sehingga system tersebut dapat berfungsi dengan baik
dan benar.
4.4. Kemampuan Operasi
1. Jenis fire alarm yang digunakan adalah presignal alarm yang diberikan hanya pada lantai
tersebut. Dengan system 4 (empat) kawat yang berguna untuk menambah keandalan kerja dari
alarm ini seandainya ada bagian yang terputus (Class A)
2. Kemampuan dari fire detector mempunyai daerah diteksi kurang lebih 36 m² sehingga untuk
bagian-bagian ruangan yang luas hanya dibutuhkan beberapa fire ditector.
3. Semua system instalasi, detector, annunciator, master control, dan lain-lain pada pekerjaan fire
alarm ini, harus ter-supervisi dengan system instalasi Class A.

4.5. Mutu Peralatan dan Bahan


1. Peralatan dan bahan yang diajukan haarus bermutu tinggi produksi ex. Nohmi, Notifier.
2. Peralatan dan bahan yang diajukan harus dalam keadaan baru 100%.
3. Barang – barang yang diajukan harus disertai dengan data teknis.

4.6. Daftar Bahan & Contoh


1. Sebelum pekerjaan ini dimulai kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan daftar bahan–
bahan yang dipakai dalam rangkap 4 (empat).
2. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan, contoh bahan–bahan yang akan dipakai dan
semua biaya berkenaan dengan penyerahan dan pengembalian contoh-contoh ini adalah
tanggungan kontraktor.
3. Kontraktor diwajibkan untuk mengadakan pemeriksaan kembali (recheck) atas segala ukuran–
ukuran / kapaistas peralatan (equipment) yang akan dipasang. Dalam hal terjadi keraguan–
keraguan harus menghubungi Konsultan.
4. Pengambilan ukuran atau pemilihan kapasitas equipment yang keliru akan menjadi tanggung
jawab kontraktor. Untuk itu pemilihan equipment dan material harus mendapat persetujuan
dari Konsultan.

4.7. Penjelasan & Persyaratan Sistem


1. Umum
a. Fire Alarm Sistem ini berfungsi untuk mengetahui adanya kebakaran pada tahap awal serta
menerima isyarat kebakaran
b. yang diberikan, baik secara otomatis yaitu melalui detector maupun secara manual yaitu
push button (break glass).
c. Jaringan sistem fire alarm ini direncanakan dengan menampung seluruh jaringan detector
dan manual push button, melalui TBFA kemudian diteruskan ke Control Panel. Control
Panel tersebut menerima isyarat otomatis maupun manual dan memberikan isyarat yang
dapat dilihat (visible) dan juaga isyarat yang dapat didengar (audible).
d. Pekerjaan instalasi Fire Alarm Sistem ini pada dasarnya harus memenuhi peraturan–
peraturan. Pekerjaan Instalasi Fire Alarm sistem ini harus dipasang oleh perusahaan yang
biasa mengerjakan pemasangan system ini. Suatu daftar referensi pemasangan harus
diajukan kepada Kosultan.
e. Untuk gedung ini diperlukan satu system dengan zone dan line. Detector yang
dipergunakan adalah type heat detector kombinasi rate of rise dan fixed temperatur dan
smoke detector. Pada tiap zone dipasang sebuah atau lebih alarm bell dan manual pull
station. Jika salah satu zone memberikan sinyal kebakaran, maka alarm bell pada zone
tersebut harus berbunyi, demikian pula alarm bell pada tempat control station. Sistim ini
dilengkapi dengan fasilitas tambahan untuk mengerjakan beberapa fungsi seperti
memberikan indikasi kebakaran main control panel fire alarm serta bekerja secara
interkoneksi dan otomatis dengan Fire Suppression Sistem Gedung.
f. Seluruh ruangan menggunakan fire detector sesuai dengan fungsi dan kebutuhan masing-
masing ruangan menurut peraturan dan standar yang berlaku. Diantaranya jenis heat
detector 135O Fahrenheit, smoke detector tipe foto electric.
g. Menggunakan Vibrating Bell kekuatan 90 db pada tiap zone.
h. Manual station dipasang pada setiap hydrant box yang dilengkapi dengan sebuah lampu
yang menyala terus.
2. Komponen-komponen
Seluruh ruangan menggunakan fire detector sesuai dengan fungsi dan kebutuhan masing-
masing ruangan menurut peraturan dan standar yang berlaku sesuai dengan gambar
perencanaan.
Komponen-komponen yang termasuk dalam deteksi unit adalah manual station serta fire
deteksi.
a. Jenis fire deteksinya adalah
− Fixed Heat Detector
− Smoke Detector
− ROR ( Rate Of Rise ) Heat Detector
Ketiga jenis ini mempunyai berbagai tipe yang dirancang sesuai dengan keperluan. Dipilih
detector yang sesuai untuk masing-masing ruangan tersebut yaitu untuk bagian
perkantoran digunakan heat detector dan untuk ruangan computer digunakan detector
yang lebih peka, misalnya smoke detector tipe photo electric.
b. Fixed Heat Detector
Harus dapat bekerja apabila ada temperatur ruangan naik sampai 135 Fahrenheit.
Combination rate of rise dan fixed temperature atau rate of rise temperature saja.
Dimana untuk fixed temperature akan memberikan sinyal-sinyal apabila temperature
disekitarnya mencapai 136 Fahrenheit.
c. Smoke Ditector
Ditektor ini harus dapat bekerja dengan adanya asap ataupun gas diruangan yang
didetecsi. Harus dapat bekerja apabila ada temperatur naik sampai 135O Fahrenheit. Atau
apabila timbul asap sebanyak 1-2% perfeet.
d. ROR ( Rate Of Rise ) Heat Detector
Rate of Rise Detector akan bekerja apabila ada temperatur ruangan naik dengan 5 F per
20 detik Combination rate of rise dn fixed temperature yaitu dengan sifat-sifat yang
merupakan kombinasi dari keduanya. Yang digunakan dalam bangunan ini adalah
combination tipe untuk heat detector.
e. Manual Station
− Memberikan sinyal secara otomatis jika tuas ditekan dan ditarik kebawah.
− Untuk mereset harus digunakam kunci.
− Bahan digunakan terbuat dari metal yang tahan api dan tahan karat.
− Dipasang dekat pintu masuk pada daerah yang dilindungi dan bersebelahan dengan
abort switch setinggi 150 cm dari lantai agar mudah terlihat dan dicapai.
− Manual Station dari type break glass dengan semi flush mounting, system kerja pull
down dan tetap berada dalam posisi on sebelum diriset kembali.
− General alarm switch hanya dapat dioperasikan oleh orang yang berhak dengan
menggunakan kunci khusus.
− Untuk tujuan testing, alarm dapat dibunyikan tanpa harus memecahkan glass.
− Semua panel station harus dilengkapi dengan glass rod cadangan. Untuk menjamin
operasi yang lama, alarm contact harus terbuat dari “gold plated”
f. Alarm Bell
− Multitone strobe dipasang didalam ruangan yang diproteksi, untuk memperingati
orang yang didalam ruangan.
− Alarm Bell harus type Vibrating, seluruh bell harus bekerja pada 24 V dc polarized
dengan 6 gong. Kecuali disebut lain dalam gambar. Pada saat 1 smoke detector bekerja
maka bunyi multi tone terputus pendek tapi bila 2 detector yang bekerja maka
multitone berubah menjadi terputus panjang.
− Pemasangan pada ketinggian 75 cm dibawah langit-langit dengan cara “semi flush”.
− Bekerja dengan 24VDC
− Diameter gong 6”
− Intensitas suara 90 dB pada jarak 1 meter / 10 ft per zone.
g. Multi Alert & Signal Strobe (Horn Strobe)
Sebagai indikasi alarm tahap kedua berfungsi sebagai indikasi evakuasi karena gas FIRE
SUPPRESSION segera discharge
h. Alarm Horn
Alarm horn harus cocok untuk dipakai di dalam gedung maupun diluar gedung. Semua
alarm horn bekerja pada 24 V dc polarized, level suara minimum adalah 95 db pada jarak
10 ft type pemasangan adalah semi flush mounted.
i. Warning Light
− Saat gas discharge, pressure switch pada system pipa distribusi akan bekerja dan
mengaktifkan DNE Light yang merupakan tanda larangan memasuki ruangan, karena
gas FIRE SUPPRESSION memenuhi ruangan / sedang bekerja.
− Harus berwarna merah dan bertuliskan “ Evacuate Area Immediately” untuk yang
dipasang didalam ruangan yang diproteksi FIRE SUPPRESSION dan “ Do Not Enter, Gas
Discharge” untuk yang dipasang diluar ruangan yang diproteksi.
− Bekerja dengan 24VDC
j. Abort Switch
− Abort switch terpisah dari Manual Pull Station.
− Pada saat abort switch ditekan maka akan menahan delay time pada saat gas FIRE
SUPPRESSION akan disemburkan.
− Tombol harus berwarna kuning untuk memudahkan penglihatan dan dilengkapi tulisan
yang cukup jelas.
− Dipasang dekat pintu masuk pada daerah yang dilindungi dan bersebelahan dengan
abort switch setinggi 150 cm dari lantai agar mudah terlihat dan dicapai.

k. Unit Control
− Unit ini terdiri dari panel control serta power supply dimana pad apanel control mudah
dilihat pada masing-masing daerah proteksi bagian mana yang mengalami gangguan
atau yang mendeteksi adanya kebakaran.
− Unit control dilengkapi dengan fasilitas telepon darurat yang dapat dihubungkan
dengan outlet telepon pada box hydrant. System ini hanya digunakan untuk hubungan
intern dalam gedung pada saat terjadi kebakaran, dan system ini terlepas dari system
telepon normal (PABX)
− Terdapat 3 macam warna lampu dengan kode.
▪ Hijau adalah AC pilot lamp (lampu power supply) yang menandakan power supply
ada, baik itu dari battery atau generator.
▪ Kuning adalah lampu gangguan, misalnya ada bagian dari system fire alarm ini yang
mengalami gangguan kabel putus dan sebagainya.
▪ Merah adalah lampu alarm (lampu kebakaran) yang menandakan terjadinya
kebakaran disuatu daerah perlindungannya (zone protection)
− Komponen-komponen harus dari semi konduktor (solid state) :
▪ Zone untuk detektor dan pressure switch
▪ Signal circuit untuk alarm bell
▪ Indikasi untuk kebakaran pada panel control alarm
▪ Tanda tiap zone detector ditampilkan di LCD display
▪ Tanda alarm bell setiap lantai ditampilkan di LCD display
▪ Indikasi untuk pada panel control alarm :
▪ Tanda untuk tiap zone dan tiap jenis gangguan ditampilkan di LCD display serta
tanda trouble bel / buzzer ditampilkan di LCD display
l. Panel Kontrol
− Terdapat 3 buah tombol yang masing-masing adalah :
▪ Tombol riset.
▪ Switch norma trouble atau silence.
▪ Tombol set.
− Pada panel Kontrol ini harus terdapat fasilitas :
▪ Penyambungan ke Dinas Pemadam Kebakaran setempat.
▪ Kontak starter pompa kebakaran, smoke fan pressurized fan, dll
▪ Terminal untuk pengambilan datastatus setiap zone untuk remote monitor (untuk
building automation / sound system)
m. Unit Annuncitor
Annunciator panel. Lampu indicator harus dapat bekerja agar petugas dapat mengetahui
dari mana dan dimana ada alarm atau adanya gangguna pada fire alarm. Jadi disini ada
pasangan-pasangan lampu merah dan lampu kuning, sesuai dengan keterangan diatas
maka system annunciator juga mengikuti system instalasi Class A.
n. Power Supply
Sistem fire alarm menggunakan 24 volt DC dan dapat dikombinasikan dengan alat-alat
dengan arus AC misalnya AC bell, dan harus mempunyai double power supply yaitu.
− Primer supply 220 volt Ac
− Sekunder supply 24 volt Ac
Untuk keadaan darurat harus stand-by minimum 20 jam dan terletak disuatu tempat
dengan control panel dan rechargeable.
o. Panel Cabang
Panel cabang ini harus dibuat dari plat besi setebal min. 1,2 mm dan max 2 mm warna
merah panel cabang ini harus di lengkapi dengan kabel gland sebanyak jumlah kabel
keluar/masuk.
p. Kabel Instalasi
− Kabel instalasi Fire Alarm yang dipakai adalah sebagai berikut :
▪ Untuk wiring dari MCFA ke terminal box (TBFA) tiap lantai digunakan kabel NYM
ukuran 1.5 mm2 untuk sistem conventional dan kabel dengan jenis Twisted
Shielded cable untuk Addressable.
▪ Kabel yang dipergunakn untuk dari TB-FA (masing-masing lantai) menuju MCFA
(Riser) menggunakan kabel dengan jenis Twisted Shielded cable.
▪ Kabel yang dipergunakan untuk instalasi dari TB-FA (masing-masing lantai) menuju
ke detector menggunakan kabel dengan jenis NYM 2x1,5mm² di dalam pipa PVC
conduit untuk sistem conventional dan kabel dengan jenis Twisted Shielded cable
untuk Addressable.
▪ Instalasi menggunakan standard NFPA 72 class A atau B
▪ Kabel power (riser) yang dipergunakan untuk menghubungkan catu daya pada
module adalah jenis NYM 3x2,5 mm². dan ditarik terpisah antara module untuk
detector dan module untuk bell & indicator lamp.
▪ Kabel yang dipergunakan untuk interkoneksi dengan system lain adalah NYM 2 x
1,5 mm².
− Konduit yang dipakai adalah conduit PVC High Impact dengan diameter dalam
minimum 1 1/2 kali ( 20 mm) diameter kabel.
q. Instalasi
− Pemasangan fire alarm harus dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman dibidang
pekjerjaan ini dan pengerjaannya harus teratur.
− Tidak diperkenankan adanya sambungan-sambungan pada tahanan, sambungan hanya
terdapat pada box terminalnya, pengawatan harus menggunakan conduit PVC hight
impact heavy gauge, ukurn disesuaikan dengan jumlah kawatnya.
− Dari hasil pengerjaannya harus diserahkan diagram pengawatan lengkap dengan
petunjuk-petunjuk lainnya.
− Untuk masing-masing iring diberi tanda untuk daerah mana kawat tersebur, supaya
memudahkan dalam perbaikannya apabila ada kerusakan.
− Didalam pengejaan Kontraktor juga harus memperhatikan kemungkinan pemasangan
fire alarm dibagian lain.
− Kontraktor harus dapat bekerja sama atau dapat dikoordinasikan dengan pekerjaan
lain sehingga apabila ada pekerjaan tambahan karena kurang koordinasi maka menjadi
tanggung jawab kontraktor.
− Gambar-gambar secara umum menunjukkan tata letak peralatan dan instalasinya.
Penyesuaian harus dilakukan di lapangan, karena keadaan sebenarnya dari lokasi, jarak
dan ketinggian ditentukan oleh kondisi lapangan.
− Pemborong harus melakukan pemasangan instalasi sistem deteksi dan alarm
kebakaran dengan seksama, sehingga penyambungan / integrasi dengan sistem
eksisiting harus dilakukan dengan tidak menyebabkan tergangunya operasional sistem
eksisting.
− Pemborong harus membuat catatan-catatan yang cermat dari pelaksanaan dan
penyesuaian di lapangan.
− Catatan tersebut harus dituangkan dalam satu set gambar lengkap (pada kertas kalkir)
sebagai gambar-gambar sesuai pelaksanaan (as built drawings).
− Untuk instalasi dipakai kabel produksi dalam negeri yang sudah mendapatkan sertikat
LMK / SPLN Produksi ex. Supreme, Kabelindo, Kabelmetal.
− Pemasangan instalasi dalam pipa pelindung 20 mm ex Clipsal, EGA atau setara.
− Sambungan kabel diatas langit langit hanya boleh dilakukan pada unit unit detector.

4.8. Spesifikasi Teknis


1. Power :
• Input : 220 VAC, 50/60HZ, 3.0 Amps
• Internal power : 24 VDC, 5.0 Amps
• Battery charger : 7 AH – 18 AH
• Battery backup : 2 x 12 VDC / 7 AH NiCad
2. Adressable Smoke Detector
a. Prinsip : Detector dengan optical sensing chamber
b. Sensitivitas : 3% /ft dan dapat diset secara otomatis untuk
sensitivitas pada siang & malam hari
c. Unique dual unipolar sensor:
- Provides exceptional stability.
- Factory preset at 1.9% nominal sensitivity.
- Stable operation up to 1,200 feet per minute (6 meters
per second) air velocities.
d. Ambient Temperature : 0 – 49° C
e. Ambient Humidity : 10% - 93% RH max
f. Sensitivity : 1.9 % Nominal
g. Operating Voltage : 8,5 - 35 Vdc max
h. Operating Current : 120 µA max
i. Device Check : Automatic device check
3. Addressable ROR & Fixed Heat Detector
a. Maks. Instalation Temperature : 100°F (38°C).
b. Alarm Temperature : 135°F (57°C)
c. Rate-of-rise threshold : 15°F (8.3°C) / minute
d. Operating humidity range : 5% to 95% RH noncondensing
e. Temperature rating : 135°F (57°C)
f. UL Protected Spacing, 10' (3.048 m) Ceiling50 (NFPA 72 ) for ROR 50 ft. x 50 ft. (15.24 m x
15.24 m)
g. UL Protected Spacing, 10' (3.048 m) Ceiling50 (NFPA 72 ) for Fixed 25 ft. x 25 ft. (7.62
mx7.62 m)
h. Electrical specification :
Operating Contact Ratings
Voltage
6-125 VAC (Resistive)
3.0 A
6-28VDC 1.0A
125 VDC 0.3 A
250 VDC 0.1 A

4. Alarm Bell untuk yang didalam gedung dipasang pada box hydrant atau di dinding Weather
proof, Semi flush mounted, Vibrating type dan Diameter Ø 6 “
a. Nominal voltage : 24 VDC.
b. Operating voltage range : 19.2 to 26.4 VDC.
c. Average current draw : 0.03 A.
d. Sound output : 85 dB.
e. Operating temp. range : -31 °F (-35°C) to +140°F
(+60°C).
f. Protection rating : IP65
g. Housing colur : Red
5. Indicator Lamp
a. Bulb type : Luminus Bulb 30 V/2W or LED
b. Material : Lamp cover glass or fire proof plastic
c. Color : Red
6. Adressable Control Module
a. Normal operating voltage : 15 to 32 VDC
b. Maximum current draw : 5.1 mA (LED on)
c. Average operating current : 390 uA (LED flashing)
d. External supply voltage (between Terminals T3 and T4): maximum 80 volts (RMS or DC).
e. Drain on external supply : 2 mA maximum (using
internal EOL relay).
f. EOL resistance : 47K ohms.
g. Temperature range : 32°F to 120°F (0°C to 49°C).
h. Humidity range : 10% to 93% non-condensing.
7. Horn Strobe
a. Operating temp. indoor : 32°F to 120°F (0°C to 49°C)
b. ULC Canadian models : -40°C to +66° C.
c. Maximum humidity : 95% as tested per UL 464
d. Voltages : 12 or 24 VDC
8. Break Glass
a. The microswitch has silver contacts
b. Maximum contact resistance 50 milliohms
c. Minimum recommended voltage 12 volts AC or DC
d. Maks. voltages and currents for resistive loads 5.0 amp, 30 VDC resistive. 3.0 amp, 30 VDC
inductive.
9. Kabel dan Pipa lnstalasi:
a. Kabel harus cocok dan sama dengan instalasi deteksi dan alarm kebakaran lainnya
(eksisting) di proyek ini. Jenis dan tipe kabel seperti tertera pada gambar elektrikal.
b. Pipa instalasi pelindung kabel harus Flame Retardant PVC conduits.
c. Pipa, elbow, socket, junction box dan accessories lainnya harus sesuai yang satu dengan
yang lainnya, yaitu tidak kurang dari 3/4" diameter.
d. Flame retardant flexible conduits harus dipasang untuk melindungi kabel antara junction
box dan detektor.
4.9. Testing & comissioning
1. Pemborong harus menentukan jadwal dan cara pengujian yang akan dilakukan 2 (dua) minggu
sebelum pelaksanaan pengujian, Pemborong menyerahkan jadwal dan cara pengujian
tersebut kepada Konsultan untuk disetujui. Seluruh biaya pengujian ditanggung oleh
Pemborong.
2. Pemborong harus menyerahkan laporan pengujian/sertifikat test untuk peralatan sistem
kepada Konsultan.
3. Pekerjaan akan dinyatakan selesai bila seluruh pengujian berhasil baik dan dapat diterima oleh
Konsultan dan Pemilik.
4. Pengujian sistem harus dilakukan sekurang kurangnya sebagai berikut:
a. Pemeriksaan Struktural.
Pada testing ini kondisi yang menyangkut bahan, konstruksi, finishing, dan kontrak harus
diperiksa dan disesuaikan dengan spesifikasi, (semua data harus sesuai dengan
spesifikasi).
b. Test Ketahanan Isolasi
Tahan isolasi antar kutub dan bagian yang hidup dan yang mati, harus dites dengan
tegangan tester bertegangan 500 volt DC, hasilnya harus menunjukkan 500 mega ohm
atau lebih.
c. Test Ketahanan Tegangan
Pada testing tahanan isolasi diatas harus dimasukkan sampai dengan 3000 volt.
d. Pengujian simulasi deteksi dan alarm kebakaran asap untuk Photoelectric smoke detector
e. Pengujian simulasi deteksi dan alarm kebakaran panas untuk Rate of rise heat detector
f. Pengujian simulasi Manual Call Point
g. Pengujian integrasi dengan sistem deteksi dan alarm kebakaran eksisting
h. Pengujian harus dilakukan oleh spesialis vendor sebagai authorized dealer penjualan
peralatan tersebut (menunjukkan Surat Penunjukan dari Principal) dan harus menyiapkan
sertifikat pemasangan yang baik dari instansi yang berwenang.
i. Seluruh pengujian kabel instalasi harus mengacu pada ketentuan pada PUIL terbitan
terakhir.
5. Semua testing, kalibrasi dan penyetelan peralatan-peralatan dan control yang tergabung
dalam sistem ini serta penyediaan semua instrument dan tenaga kerja harus dilaksanakan oleh
kontraktor.
6. Kontraktor harus menempatkan seorang ahli yang berkompeten dan berpengalaman untuk
melaksanakan pengetesan sesuai dengan keahliannya.
7. Harga-harga pengetesan harus dicatat dan harus dibuatkan berita acara pengetesan yang
hasilnya harus sesuai dengan standar-standar yang telah diuraikan diatas.
8. Kontraktor yang melakukan pekerjaan instalasi Fire alarm harus melakukan semua testing dan
pengukuran-pengukuran yang dianggap perlu untuk memeriksa/ mengetahui apakah seluruh
instalasi telah dapat berfungsi/bekerja dengan baik dan memenuhi persyaratan.
9. Semua tenaga, bahan dan perlengkapan yang diperlukan untuk testing tersebut merupakan
tanggung jawab kontraktor. Termasuk peralatan khusus yang dibutuhkan untuk melakukan
testing dari seluruh sistem ini, seperti dianjurkan oleh pabrik, harus disediakan kontraktor.
10. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan dalam rangkap 3 (tiga) mengenai hal – hal
sebagai berikut :
a. Hasil pengetesan kabel-kabel.
b. Hasil pengetesan peralatan-peralatan.
c. Hasil pengetesan semua persyaratan operasi dan instalasi
d. Hasil pengukuran-pengukuran dan lain-lain
11. Semua pengetesan dan atau pengukuran tersebut harus disaksikan oleh Konsultan.
PASAL 5
PEKERJAAN INSTALASI TELEPON

5.1 Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan instalasi telepon adalah pemasangan dan pengadaan termasuk testing dan comissioning
peralatan dan bahan, bahan-bahan utama, bahan-bahan pembantu dan lain-lainnya seperti yang
diterangkan dalam pasal terdahulu, sehingga diperoleh instalasi telepon yang lengkap dan baik serta
diuji dengan seksama siap untuk digunakan, yang terdiri dari :
1. Pemasangan Peralatan Key Telephone, material bantu, sistem yang dipasang harus mencakup
:
a) Operator console lengkap dengan handset din pilihan headset tambahan yang ada.
b) Features telephone set
c) Biaya pemasangan dan semua peralatan tambahan harus mencakup pula biaya
penyambungan dari MDF.
d) Sistem proteksi terhadap petir dan tegangan surja.
e) Backup battery.
2. Pengadaan dan pemasangan Kerangka Distribusi Utama/saluran (MDF), Kerangka Distribusi
Lanjutan (IDF) dan kotak terminal.
3. Pemasangan instalasi kabel telepon dari Terminal Box (TB) ke outlet-outlet telepon seperti yang
tercantum pada gambar perencanaan.
4. Instalasi kabel dari MDF kesetiap Terminal Box (TB) yang ada disetiap lantai.
5. Pemasangan outlet–outlet telepon seperti yang tercantum pada gambar perencanaan.
6. Perawatan dan peralatan dari panel kepemakaian .
7. Pemasangan dan pengadaan soket & outlet serta kelengkapannya.
8. Pengadaan dan pemasangan instalasi grounding instalasi telepon.
9. Melakukan pengurusan izin-izin/sertifikat dengan pihak PT. Telkom setempat sehubungan
dengan pekerjaan ini.
10. Pemasangan instalasi lain yang belum tercantum didalam spesifikasi ini tetapi ada di gambar
perencanaan.

5.2 Syarat Umum


1. Keseluruhan peralatan pada system ini harus dari merk yang sama
2. Kontraktor harus merupakan dealer produk atau perusahaan yang mendapatkan Surat
Dukungan dari Dealer. Yang dimaksud Dealer adalah Perusahaan yang mendapatkan Surat
Penunjukan dari Distributor serta mendapatkan Surat Dukungan dari Principal (Agen Tunggal
Pemegang Merk) di Indonesia.

5.3 Gambar–Gambar Instalasi


1. Gambar-gambar dan spesifikasi adalah merupakan bagian yang saling melengkapi dan sesuatu
yang tercantum dalam gambar dan spesifikasi bersifat mengikat.
2. Gambar- gambar instalasi menunjukkan secara teknis pekerjaan instalasi yang harus
dilaksanakan dimana dicantumkan ukuran bahan-bahan instalasi serta keterangan lain yang
diperlukan.
3. Pelaksanaan dilapangan selain yang tertera pada gambar disesuaikan dengan kondisi lapangan
atas petunjuk Konsultan secara tertulis / lisan.
4. Bila kontraktor menganggap perlu adanya perubahan ukuran / konstruksi dalam pelaksanaan,
kontraktor diwajibkan mengajukan alternatif atau Shop drawing yang dikehendaki dan
mendapat persetujuan dari Konsultan.
5. Segala perubahan yang disengaja dilakukan kontraktor tanpa ijin Konsultan adalah resiko
Kontraktor.
6. Bila nantinya tidak disetujui oleh Konsultan maka terpaksa harus dibongkar. Kontraktor hal ini
tidak diperkenankan menuntut ganti rugi

5.4 Pelaksanaan Pekerjaan


1. Sebelum melaksanakan pekerjaan, pelaksana harus memeriksa kondisi lahan untuk memastikan
pekerjaan instalasi dapat dikerjakan, misalnya :
a. Pekerjaan instalasi kabel dan konduit : area yang akan dipasang harus sudah bersih dari
puing-puing, kayu-kayu bekisting bekas pengecoran, scaffolding, atau material lain yang
dapat menghalangi pekerjaan.
b. Pekerjaan pemasangan panel MDF, pekerjaan finishing dan M/E lainya didalam ruang
kontrol untuk posisi panel-panel diatas sudah selesai dan pintu ruangan sudah dipasang
kunci. Hal ini untuk mengantisipasi rusak atau hilangnya peralatan yang telah dipasang
karena masih ada pekerjaan lain dan beberapa tenaga kerja yang bekerja diruangan
tersebut.
2. Menyiapkan tenaga kerja yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Mengerti dan menguasai lingkup pekerjaan instalasi telepon yang akan dikerjakan dengan
baik oleh tenaga ahli yang sudah berpengalaman.
b. Pelaksana yang dianggap tidak cukup ahli / perpengalaman oleh Konsultan, harus segera
diganti dengan orang lain setelah mendapat persetujuan Konsultan.
c. Kontraktor harus menempatkan seorang Supervisor yang ahli, berpengalaman dan
profesional untuk masing-masing bidang yang bertanggung jawab untuk menjadi supervisi,
management proyek.
d. Tenaga kerja harus berpengalaman dan ahli di bidangnya, bila tidak berpengalaman & ahli
harus diganti. Bila tidak dihiraukan Konsultan akan mengambil tindakan untuk mengatasi
permasalahan yang ada.
e. Segala sesuatu yang diperlukan guna kesempurnaan pekerjaan harus, dilengkapi sesuai
permintaan Konsultan dengan biaya dibebankan kepada Kontraktor.
f. Mempunyai alat kerja yang memadai.
g. Mudah diberi pengarahan.
h. Dapat melakukan koordinasi dengan tenaga kerja lain.
i. Terampil.

5.5 Persyaratan Bahan


1. Bahan yang dibutuhkan kwantitasnya dihitung (estimasi) sesuai jalur instalasi pada gambar
kerja. Bahan-bahan yang sudah dikirim kelapangan (on site) agar diperiksa kondisinya apakah
ada kerusakan pada saat pengangkatan, pengangkutan, atau kerusakan dari pabrik pembuat.
Bahan-bahan yang kondisinya baik dapat dipasang, sedangkan yang rusak atau cacat agar tidak
dipasang dan dikembalikan kepada pemasok / supplier.
2. Kontraktor diwajibkan menyerahkan contoh bahan / barang yang disebut dalam lingkup
pekerjaan kepada Konsultan untuk mendapat persetujuan sebelum dipasang. Apabila hal
tersebut tidak memungkinkan, minimal brosur spesifikasi teknis harus ditunjukkan dan disetujui
oleh Konsultan.
3. Kontraktor harus membuat tempat penyimpanan bahan / material serta peralatan kerja
(gudang) agar rapi aman dan memudahkan pemeriksaan.
4. Jika bahan / material dan peralatan kerja tersebut harus melewati jalanan umum, Kontraktor
harus menjaga ketertiban dan kelancaran serta mengganggu lalu lintas.
5. Konsultan berhak menambah peralatan yang dipergunakan atau menolak peralatan yang tidak
memenuhi syarat.
6. Bila pelaksanaan pekerjaan telah selesai, maka kontraktor harus segera mengeluarkan atau
memindahkan peralatan tersebut, kerusakan akibat penggunaan peralatan kerja tersebut harus
diperbaiki kembali atas beban biaya Kontraktor.

5.6 Instalasi
1. Kabel Instalasi
a. Kabel intalasi telepon yang digunakan harus sesuai dengan standard Indoor Telephone Cable
(ITC) (STEEL-K-011) yang berlaku yang diakui di negara Republik Indonesia.
b. Ukuran kabel untuk instalasi telepon yang digunakan harus sesuai dengan gambar
Perencanaan. Kabel telepon yang digunakan harus sudah direkomendasi oleh TELKOM
produksi ex. Supreme, Kabelindo.
c. Kabel harus dalam keadaaan baru, tanpa cacat dan bila perlu harus ada surat keterangan
dari distributor / pabrik.
d. Sistem penyambungan didalam main distribution frame dan junction box harus
mempergunakan sistem slip (solderless) dengan alat connection / disconnection produksi
ex. Krone atau setara.
e. Penyambungan kabel didalam junction box harus mempergunakan sistem slip solderless,
sesuai dengan persyaratan PT. Telkom. (Reference: Krone)
f. Kabel yang masuk keluar ke/dari MDF, junction box harus memakai kabel gland dan tanda
untuk mengindentifikasikan route kabel dan nomor pesawat dengan memakai "cable
marking" merk 3 M atau setara.
g. Semua kabel yang dipasang menembus dinding harus dipasang sleeve pipa galvanized
minimum 2,5 kali penampang kabel.
h. Penyambungan kabel ke terminal panel / peralatan di semua bangunan adalah tanggung
jawab kontraktor.
i. Sambungan harus dilaksanakan dengan baik, cukup kuat / erat sesuai dengan model
terminal peralatan yang terpasang.
j. Kabel yang dipergunakn untuk dari Terminal Box (TB) menuju MDF ( Feeder ) menggunakn
kabel dengan jenis ITC Cable Multi pairs antara 10 pairs sampai dengan 40 pairs atau sesuai
dengan gambar perencanaan.
k. Kabel yang dipergunakan untuk instalasi dari Terminal Box (TB) menuju ke Outlet Telepon
menggunakan kabel dengan jenis ITC Cable 2 pairs ( 2 x 2 x 0.6 mm² ) di dalam pipa conduit.
l. Kabel feeder yang digunakan adalah jenis indoor telephone cable, dengan kapasitas sesuai
gambar rencana.
m. Kabel distribusi dari junction box tiap-tiap outlet memakai indoor telephone cable sebanyak
2 pair diameter core 0,6 mm ( 1 pair dipakai untuk cadangar/spare), dan dimasukkan dalam
konduit.
n. Semua kabel yang dipasang diatas langit-langit harus diletakkan pada suatu
trunking kabel/Tray.
o. Semua kabel yang dipasang di shaft secara vertikal harus dipasang pada tangga kabel.
p. Semua kabel yang dipasang diatas trunking kabel harus didalam conduit.
q. Semua outlet kabel yang penempatan instalasinya hanya sampai diceiling saja, hanis
memiiiki spare panjang minimum 10m dari titik instalasi outlet pada gambar rencana.
r. Isolasi antara urat-urat kabel, dan isolasi antara urat kabel terhadap ground
minimum 20 M ohm.
s. Pemasangan kabel dalam
Semua kabel dalam akan dipasang dengan menggunakan saluran PVC High Impact
Conduit BS 6099 Fire Retardant dengan diameter dalam min 1.5 kali diameter kabel dan
minimum diameter dalam 19 mm. Untuk keperluan maintenance, wama PVC High
Impact conduit yang dipasang untuk instalasi telepon hanus berbeda dengan PVC High
Impact yang dipasang untuk instalasi listrik (wama putih atau hitam).
t. Pemasangan kabel luar.
− Secara umum pemasangan kabel luar hana sesuai dengan standar yang dapat
digunakan clan disetujui oleh engineer.
− Secara langsung kabel dikubur harus dilindungi dengan batu bata yang didesain
khusus untuk pemasangan kabel telepon bawah tanah.
− Batu bata diatas, wama merah plastik dengan ketebalan dan lebar yang sesuai harus
dipasang dengan tanda peringatan yang diperlihatkan pada pemasangan kabel
telepon di bawah.
− Tanda kabel harus juga dipasang sepanjang rute kabel, sebaiknya pada setiap
perubahan arah.

2. Pipa Konduit
a. Konduit yang digunakan biasanya dari type high impact conduit. Selain “high impact” dari
konduit ini harus memenuhi ketentuan dan syarat-syarat sebagai berikut :
1) Tidak mudah terbakar.
2) Tidak merambatkan api.
Bila terbakar tidak mengeluarkan gas beracun, dan api dapat padam dengan sendirinya.
Kabel yang biasa dilindungi oleh konduit ini adalah kabel dari Terminal Box (TB) ke outlet
telepon.
Ukuran diameter dalam konduit adalah :
DP   DK2 / 0,5
Dimana : DP = diameter dalam konduit (mm).
DK = Diameter luar kabel (mm)
b. Konduit yang dipakai adalah conduit PVC High Impact dengan diameter dalam minimum 1
1/2 kali diameter kabel, dipergunakan produksi ex. CLIPSAL, EGA yang sudah direkomendasi
oleh LMK, bila diperlukan kontraktor harus dapat menunjukkan bukti rekomendasi tersebut.
c. Pasangan kabel dalam pipa PVC HI pada jarak maksimum 100 cm harus diberi klem.
d. Klem dibuat dari bahan plat logam digalvanis atau allumunium, pemasangan pada tembok
harus menggunakan vicher dan sekrup, pemasangan dengan menggunakan paku tidak
dibenarkan.

5.7 Testing & Commissioning


1. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan setelah instalasi kabel dan pemasangan peralatan utama telah
dilaksanakan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat dan memastikan bahwa pekerjaan
instalasi telepon telah dikerjakan sesuai spesifikasi dan peraturan yang berlaku. Hasil
pemeriksaan direkam pada format daftar simak (check list). Beberapa hal yang harus
dilakukan pemeriksaan meliputi :
a. Pemasangan unit PABX dan terminasi kabelnya.
b. Pemasangan MDF dan terminal box.
c. Instalasi kabel telepon dan konduit.
d. Instalasi rak kabel.
e. Pemasangan outlet-outlet telepon pada dinding atau lantai.
f. Pemasangan pesawat telepon.
2. Pengujian
a. Setelah semua telah selesai terpasang, dengan persetujuan dan disaksikan oleh Konsultan
dilakukan pengujian dengan cara mencoba sistem yang telah diprogram pada PABX atau
Key Telephone sampai kesetiap pesawat telepon yang dipakai.
b. Pengujian yang berhasil dan dapat diterima oleh Konsultan yang bertindak mewakili
pemberi tugas (Owner), harus dilengkapi dengan berita acara yang telah ditanda tangani
oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Setelah ini dilanjutkan dengan pemberian buku
petunjuk pengoperasian dan pemeliharaan serta melaksanakan training kepada
pengelola gedung. Sesudah semua ini dilaksanakan maka dapat diadakan serah terima
pertama dari kontraktor ke Pemberi Tugas.
c. Pengujian sistem harus dilakukan sekurang kurangnya sebagai berikut:
− Pengujian simulasi telepon system.
− Pengujian harus dilakukan oleh spesialis vendor sebagai authorized dealer penjualan
peralatan tersebut dan harus menyiapkan sertifikat pemasangan yang baik dari
instansi yang berwenang.
3. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan dalam rangkap 3 (tiga) mengenai hal – hal
sebagai berikut :
a. Hasil pengetesan kabel – kabel.
b. Hasil pengetesan peralatan – peralatan.
c. Hasil pengetesan semua persyaratan operasi dan instalasi
d. Hasil pengukuran – pengukuran dan lain - lain
e. Semua pengetesan dan atau pengukuran tersebut harus disaksikan oleh Konsultan.
4. Pelatihan
a. Satu set dokumen jaminan garansi dari dealer yang ditunjuk resmi oleh distributor serta
mendapatkan surat dukungan dari Principal (ATPM) di Indonesia harus diberikan dan
diserahkan ke pihak owner.
b. Semua drawing, rancangan peralatan drawing tersebut, diagam, dan informasi yang
tercetak harus dilengkapi. Dokumen harus berisi penjelasan umum sistem itu. Penjelasan
umum ini harus memperkenalkan sistem dan harus termasuk konfigurasi sistem,
kemampuan sistem lainnya, dan spesifikasi teknis.
c. Kontraktor harus menunjukkan jumlah hari yang dipersiapkan untuk training
- Operator telepon
- Pemakai ekstension
- Pemakai ekstension features phone
- Semua pelatihan diatas harus dilakukan tanpa dipungut biaya.

PASAL 6
PEKERJAAN INSTALASI TATA SUARA (SOUND SYSTEM)

6.1. Umum
1. Keseluruhan peralatan utama yang membangun sound system ini harus dari merk yang sama.
Adapun merk yang boleh direferensikan adalah Philips, Toa, Bosch.
2. Kontraktor harus merupakan dealer produk atau perusahaan yang mendapatkan Surat
Dukungan dari Dealer. Yang dimaksud Dealer adalah Perusahaan yang mendapatkan Surat
Penunjukan dari Distributor serta mendapatkan Surat Dukungan dari Principal (Agen Tunggal
Pemegang Merk) di Indonesia.
3. Sistem tata suara harus memenuhi standard keselamatan evakuasi sebagaimana
dipersyaratkan pada IEC 60849 standard.

6.2. Lingkup Pekerjaan


1. Sebagaimana yang tertera dalam gambar rencana, Kontraktor pekerjaan Sistem Tata Suara ini
harus mengadakan dan memasang, serta nantinya menyerahkan seluruh hasil pekerjaan
dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan.
Garis besar lingkup pekerjaan instalasi sistem tata suara yang dimaksud adalah sebagai
berikut :
a. Pengadaan, pemasangan, dan pengujian kabel-kabel distribusi sistem tata suara antara
peralatan sentral dan sistem rak dengan kotak hubung bagi di setiap lantai.
b. Pengadaan, pemasangan, dan pengujian alat pengeras suara (loud speaker) sesuai dengan
gambar rencana.
c. Pengadaan, pemasangan, dan pengujian kabel-kabel pemakaian antara kotak hubung bagi
dengan alat-alat pengeras suara dan volume control di tempat yang ditunjuk.
d. Melaksanakan matching dan balancing atas semua speaker dan sistem secara
keseluruhan, sedemikian rupa hingga menghasilkan kualitas suara yang prima dan tingkat
tekanan bunyi yang merata di seluruh bagian lantai bangunan.
a. Ruang lingkup pekerjaan sound system meliputi pengembangan peralatan sistem tata
suara sehingga kapasitas memenuhi penambahan berikut pemasangannya.
2. Pemasangan unit sistem Tata Suara yang terdiri dari: Tata Suara dalam gedung dan Tata Suara
pemanggil kendaraan, peralatan tata suara lihat diagarm sistem Tata Suara sesuai
perencanaan.
3. Pekerjaan ini dimaksudkan untuk memperkuat dan meningkatkan Kualitas suara secara
merata ke seluruh area rumah sakit.
Kualitas suara tidak hanya diperkuat tetapi harus mempunyai derajat pengertian atau
kejelasan suara (intelegibility) yang tinggi, bebas dari gangguan listrik tegangan tinggi dan
sinyal pemancar pemancar baik yang ada didalam gedung itu sendiri maupun diluar gedung
seperti ORARI, KRAP dan sejenisnya.
6.3. Instalasi
Dalam pelaksanaan pekerjaan Public Address (Sound System) yang perlu diperhatikan antara lain
:
1. Kabel Speaker
a. Instalasi perkabelan ke semua speaker yang tersebar diseluruh gedung terdiri dari :
▪ Kabel jenis NYMHY 3 x 1,5 mm² digunakan dari sub-sentral sampai dengan Volume
Control
▪ Kabel jenis NYMHY 2 x 1.5 mm² digunakan dari Volume Control sampai dengan ceiling
speaker dan dari Mixing Amplifier ke ceiling speaker.
b. Penarikan kabel dari sentral ke seluruh volume control dan ceiling speaker harus dibuat
secara group tiap-tiap lantai (1 lantai dibuat 1 group), kecuali dari sentral ke coloumn
speaker, penarikan kabel dibuat secara langsung dari Mixing Amplifier ke beberapa
coloumn speaker secara parallel (dalam 1 group tersendiri) dan menggunakan kebal
NYMHY 2 x 2.5 mm².
2. Kabel Microphone
Instalasi kabel microphone terdiri dari:
Kabel Microphone Stereo (3 core kabel) dengan kualitas terbaik dan kabel telephone ITC
2x10x0.6 mm² (10 pairs) ditarik dari front office sampai dengan sentral.
3. Kabel Microphone Stereo (3 core kabel) dengan kualitas terbaik dan kabel telephone ITC
2x2x0.6mm² (4 pairs) ditarik dari front office tiap-tiap lantai sampai dengan sub sentral.

6.4. Persyaratan Teknis Pelaksanaan


1) Semua kabel yang keluar dari rak peralatan ini harus melalui kabel gland dan memakai flexible
conduit.
2) Kotak hubung bagi ditempatkan di tempat yang sesuai dengan gambar rencana di setiap lantai
pada ketinggian 150 cm di atas muka lantai dan diklem ke dinding dengan dynabolt 1/2" x 2"
sebanyak 4 buah. Semua kabel yang masuk/keluar kotak hubung ini harus melalui kabel gland.
3) Semua kabel yang digunakan harus ditempatkan dalam Conduit high impact, sedangkan
semua kabel distribusi harus diklem pada tangga kabel yang dipasang di shaft dengan
memakai dynabolt 1/2" x 2" sebanyak 4 buah pada setiap jarak 75 cm. Conduit harus diklem
pada struktur bangunan dengan saddle klem.
4) Semua alat pengeras suara (loudspeaker) harus dipasang pada tempat-tempat yang sesuai
seperti yang ditunjukkan dalam gambar rencana, di mana koordinat yang tepat akan dapat
ditentukan lebih lanjut dalam shop drawing oleh Kontraktor sesudah dipadukan dengan
perlengkapan lain yang ada. Bagi penempatan speaker yang belum jelas akan ditentukan
kemudian di lapangan.
5) Untuk semua pekerjaan yang bersifat elektrikal, Kontraktor terikat pada persyaratan dan
ketentuan sesuai dengan peraturan yang berlaku, yakni PUIL 2000.
6.5. Testing & Commissioning
1. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan setelah instalasi kabel dan pemasangan peralatan utama telah
dilaksanakan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat dan memastikan bahwa pekerjaan
instalasi sound sistem telah dikerjakan sesuai spesifikasi dan peraturan yang berlaku.
2. Pengujian
• Pengujian yang berhasil dan dapat diterima oleh Konsultan yang bertindak mewakili
pemberi tugas (Owner), harus dilengkapi dengan berita acara yang telah ditanda tangani
oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Setelah ini dilanjutkan dengan pemberian buku
petunjuk pengoperasian dan pemeliharaan serta melaksanakan training kepada pengelola
gedung. Sesudah semua ini dilaksanakan maka dapat diadakan serah terima pertama dari
kontraktor ke Pemberi Tugas.
• Pengujian sistem harus dilakukan sekurang kurangnya sebagai berikut:
- Semua peralatan dalam sistem tata suara ini harus diuji oleh perusahaan pemegang
keagenan peralatan tersebut dengan disaksikan oleh Konsultan.
- Sebelum melakukan pengujian, Kontraktor wajib memberitahu Konsultan terlebih
dahulu. Setiap pengujian yang dilakukan tanpa disaksikan oleh Konsultan akan
dinyatakan tidak sah dan harus diulang kembali.
- Pengujian dapat dilakukan perbagian pekerjaan, namun akhirnya tetap dilakukan
pengujian sekaligus secara keseluruhan.
- Semua biaya yang diperlukan untuk dapat dilakukannya pengujian, baik untuk daya
listrik dan peralatan bantu serta peralatan ukur, sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
- Apabila terdapat ketidaksempurnaan ataupun kegagalan dalam pengujian, maka
Kontraktor wajib memperbaikinya dengan biaya yang sepenuhnya menjadi
tanggungan Kontraktor.
- Apabila karena perbaikan yang dilakukan menyebabkan kerusakan pada bagian paket
pekerjaan Kontraktor lain, maka biaya perbaikannya tetap menjadi tanggung jawab
Kontraktor sistem tata suara.
- Pengujian harus dilakukan oleh spesialis vendor sebagai authorized dealer penjualan
peralatan tersebut dan harus menyiapkan sertifikat pemasangan yang baik dari
instansi yang berwenang.
3. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan dalam rangkap 3 (tiga) mengenai hal – hal
sebagai berikut :
a. Hasil pengetesan kabel – kabel.
b. Hasil pengetesan peralatan – peralatan.
c. Hasil pengetesan semua persyaratan operasi dan instalasi
d. Hasil pengukuran – pengukuran dan lain - lain
e. Semua pengetesan dan atau pengukuran tersebut harus disaksikan oleh Konsultan.

PASAL 7
PEKERJAAN INSTALASI CLOSE CIRCUIT TELEVISION (CCTV)

7.1. Umum
1. Kontraktor harus mendapatkan surat dukungan dari Principal dan dealer wilayah setempat
untuk menjamin peralatan dapat disuplai tepat waktu serta digunakan secara optimal.
2. Surat Jaminan Garansi dari Dealer wilayah setempat harus diserahkan pada waktu serah-
terima pekerjaan untuk menjamin kelangsungan layanan purna-jual.
3. Pengalaman minimum 10 [sepuluh] tahun dalam manufacture dan design Video Surveillance
Devices.
4. Minimum [5] tahun pengalaman instalasi Video Surveillance System

7.2. Lingkup Pekerjaan


Lingkup pekerjaan perlengkapan System CCTV ini meliputi pekerjaan pengadaan peralatan
berikut pemasangan dan instalasi kabel.

7.3. Penjelasan Sistem


1. Sistem closed circuit television, dipergunakan untuk membantu pengawasan dengan cara
mengamati kegiatan operasi suatu gedung melalui video camera. Hasil gambar dapat diamati
melalui TV monitor. Sistem CCTV ini terdiri dari Camera, Monitor, Digital Video Recorder
(DVR).
2. Seluruh peralatan yang membangun system CCTV ini harus memenuhi standard industri
Indonesia, dari satu merk atau lebih dan disaat serah terima harus dilampirkan surat garansi
1 (satu) tahun dari Authorized Dealer (agen tunggal) di Indonesia (bermaterai). Merk yang
digunakan adalah produksi [Link], Bosch, Sony, Phillips dan Huntec.
3. Standard manufaktur memenuhi I.S. /ISO 9001/EN 29001, QUALITY SYSTEM.
4. Garansi pabrikan 3 tahun tahun untuk replacement dan repair defective equipment, terkecuali
battery yang bergaransi 1 tahun.

7.4. Instalasi
Sistem cabling tiap – tiap kamera CCTV menggunakan system topologi star, artinya seluruh kabel
coaxial kamera CCTV dari tiap – tiap titik ditarik menuju masing – masing sentral CCTV. Demikian
juga untuk penarikan kabel power tiap – tiap kamera CCTV menuju ke Power Suplay yang berada
di Sentral. Masing – masing kabel power dan kabel coaxial yang ditarik dimasukkan dalam pipa
conduit PVC High Impact, yang harus diperhatikan disini adalah antara kabel power dan kabel
coaxial tidak diperbolehkan ditarik dalam satu pipa conduit dan bersilangan dengan kabel power
listrik lainnya. Hal ini untuk menghindari induksi power listrik terhadap signal video.
Adapun material kabel yang dipergunakan system ini adalah :
1. Kabel Video Coaxial Cabel type 7C – 2V isyarat video dan untuk keperluan kontrol
menggunakan awg 18 pair produksi ex. Belden, Pacific, Feeder RG 6/5C
2. Kabel Power NYM 3 x 2,5 mm produksi ex. Supreme, Kabelindo.
7.5. Spesifikasi Teknis
1. Fixed camera indoor
➢ Scanning System : 1/3 “ Sony superhad color day & night
➢ Power source : 12V DC ,1A
➢ Scanning Method : 2 : 1 interface
➢ Focal Length : 2,8-10mm Autoiris varifocal
➢ Resolution : 700 TVL
➢ Min Illumination : 0,3 lux @ F1,2 ( color)
0,002 lux@F1.2 (Sens-up)
➢ SSNR : Off/Low/Middle/High selectable ( noise control)
2. Fixed camera outdoor
➢ Scanning System : 1/3 “ sony superhad color day & night
➢ Power source : 12V DC
➢ Scanning Method : 2 : 1 interface
➢ Focal Length : 2,8-10mm Autoiris Varifocal
➢ Resolution : 600 TVL
➢ Min Illumination : 0,3 lux @ F1,2 ( color)
0,002 lux@F1.2 (Sens-up)
➢ SSNR : Removed noise & ghost image
➢ Day & night capability
3. Dome camera indoor ( Wide angle)
➢ Scanning System : 1/3 “ sony superhad color
➢ Power source : 12V DC
➢ Scanning Method : 2 : 1 interface
➢ Focal Length : 4-9mm varifocal autoiris
➢ Resolution : 600 TVL
➢ Min Illumination : 0,3 lux @ F1,2 ( color)
0,002 lux@F1.2 (Sens-up)
➢ SSNR : Off/Low/Middle/High selectable ( noise control)
➢ Day & night capability
4. Dome camera indoor
➢ Scanning System : 1/3 “ sony superhad color
➢ Power source : 12V DC
➢ Scanning Method : 2 : 1 interface
➢ Focal Length : 3,6 mm varifocal autoiris
➢ Resolution : 600 TVL
➢ Min Illumination : 0,3 lux @ F1,2 ( color)
0,002 lux@F1.2 (Sens-up)
➢ SSNR : Off/Low/Middle/High selectable (noise control)
➢ Day & night capability
5. Speed Dome camera indoor
➢ Scanning System : 1/4 “ sony superhad color
➢ Power source : 24V AC
➢ Scanning Method : 2 : 1 interface
➢ Focal Length : 27x optical zoom ( 3,84-88,4mm) 10x digital zoom
➢ Resolution : 600 TVL
➢ Min Illumination : 0,7 lux @ F1,6 ( color)
0,005 lux@F1.6 (Sens-up)
0,1 lux@F1.6 (b/w)
➢ Day & night with ICR ( Infrared cutfilter removal )
➢ Max 240/sec pan speed & 360 continous rotation
6. Speed Dome camera indoor
➢ Scanning System : 1/4 “ sony superhad color
➢ Power source : 24V AC
➢ Scanning Method : 2 : 1 interface
➢ Focal Length : 30x optical zoom ( 3,3-99mm) 8x digital zoom
➢ Resolution : 600 TVL
➢ Min Illumination : 0,4 lux @ F1,6 ( color)
0,003 lux@F1.6 (Sens-up)
0,08 lux@F1.6
➢ Day & night with ICR ( Infrared cutfilter removal )
➢ Max 240/sec pan speed & 360 continous rotation
7. Monitor
➢ Screen Size : LED 22”
➢ Resolution : SXGA
➢ Power Source : 12VDC, 50-75 Hz
➢ Built-in Speaker
➢ Power Consumption : Max 42W
➢ Video input : 2 BNC , 1VHS
➢ Video output : 2BNC
8. Digital Video Recorder ( DVR)
➢ Input : 16 Channel Camera Input 16 Looping
➢ Hardisk : 2000 Gb
➢ Feature : Digital Action Detection
➢ Synhronization : 625 Line, 50 Hz
➢ Digital Memory : 720 H x 567 V
➢ Display Speed : 480 FPS
➢ Recording Speed : 240 FPS
9. Controller Speed dome & DVR
➢ Power sources : 12VDC
➢ PTZ Control : Joy stick ( 3axis twist zoom )
➢ LCD Display : 20 x 4 Character LCD
➢ Multiprotocol support

7.6. Testing & Commissioning


1. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan setelah instalasi kabel dan pemasangan peralatan utama telah
dilaksanakan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat dan memastikan bahwa pekerjaan
instalasi sistem CCTV telah dikerjakan sesuai spesifikasi dan peraturan yang berlaku.
2. Pengujian
a. Pengujian yang berhasil dan dapat diterima oleh Direksi Lapangan yang bertindak
mewakili pemberi tugas (Owner), harus dilengkapi dengan berita acara yang telah ditanda
tangani oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Setelah ini dilanjutkan dengan pemberian
buku petunjuk pengoperasian dan pemeliharaan serta melaksanakan training kepada
pengelola gedung. Sesudah semua ini dilaksanakan maka dapat diadakan serah terima
pertama dari kontraktor ke Pemberi Tugas.
b. Pengujian sistem harus dilakukan sekurang kurangnya sebagai berikut:
- Pengujian simulasi CCTV terhadap system.
- Semua peralatan dalam sistem tata suara ini harus diuji oleh perusahaan pemegang
keagenan peralatan tersebut dengan disaksikan oleh MK/Direksi.
- Sebelum melakukan pengujian, Kontraktor wajib memberitahu MK/Direksi terlebih
dahulu. Setiap pengujian yang dilakukan tanpa disaksikan oleh MK/Direksi akan
dinyatakan tidak sah dan harus diulang kembali.
- Pengujian dapat dilakukan per bagian pekerjaan, namun akhirnya tetap dilakukan
pengujian sekaligus secara keseluruhan.
- Semua biaya yang diperlukan untuk dapat dilakukannya pengujian, baik untuk daya
listrik dan peralatan bantu serta peralatan ukur, sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
- Apabila terdapat ketidaksempurnaan ataupun kegagalan dalam pengujian, maka
Kontraktor wajib memperbaikinya dengan biaya yang sepenuhnya menjadi tanggungan
Kontraktor.
- Apabila karena perbaikan yang dilakukan menyebabkan kerusakan pada bagian paket
pekerjaan Kontraktor lain, maka biaya perbaikannya tetap menjadi tanggung jawab
Kontraktor sistem tata suara.
- Pengujian harus dilakukan oleh spesialis vendor sebagai authorized dealer penjualan
peralatan tersebut dan harus menyiapkan sertifikat pemasangan yang baik dari instansi
yang berwenang.
3. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan Pengawas dalam rangkap 3 (tiga) mengenai
hal-hal sebagai berikut :
a. Hasil pengetesan kabel-kabel.
b. Hasil pengetesan peralatan-peralatan.
c. Hasil pengetesan semua persyaratan operasi dan instalasi
d. Hasil pengukuran-pengukuran dan lain - lain
Semua pengetesan dan atau pengukuran tersebut harus disaksikan oleh Konsultan MK.

PASAL 8
PEKERJAAN PLUMBING

1. SYARAT-SYARAT UMUM
1.1. Syarat-syarat umum merupakan bagian dari persyaratan teknis ini. Apabila ada beberapa
klausul-klausul dari syarat umum yang dituliskan kembali dalam persyaratan teknis ini, berarti
menuntut perhatian khusus pada klausul-klausul lainnya dari syarat-syarat umum.
1.2. Klausul-klausul dari syarat umum hanya dianggap tidak berlaku apabila dinyatakan secara tegas
dalam persyaratan teknis ini.
1.3. Kontraktor harus mempelajari dan memahami kondisi tempat yang ada, agar dapat mengetahui
hal-hal yang akan mempengaruhi atau mengganggu pekerjaan Mekanikal.
1.4. Apabila timbul persoalan, Kontraktor wajib mengajukan saran penyelesaian paling lambat
seminggu sebelum bagian pekerjaan ini seharusnya dilaksanakan.
1.5. Pada waktu akan memulai pelaksanaan, Kontraktor harus menyerahkan gambar-gambar kerja
(shop drawing) terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan dari Konsultan MK/Konsultan
Perencana dan gambar-gambar tersebut harus diserahkan minimal 2 minggu sebelum
dilaksanakan.
1.6. Pemasangan instalasi, testing, dan desinfeksi pekerjaan plumbing mengikuti peraturan SNI 03-
6481-2000 sistem plambing 2000. dan SNI 03-7065-2005 Tata cara perencanaan sistem
plumbing.

2. PERATURAN, IZIN DAN STANDAR


2.1. Instalasi yang dinyatakan dalam persyaratan ini harus sesuai dengan peraturan-peraturan dan
undang-undang yang berlaku, serta tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dari
Departemen Tenaga Kerja (Depnakertrans).
2.2. Kontraktor harus mengurus izin-izin kepada instansi yang bersangkutan yang mungkin
diperlukan untuk menjalankan instalasi yang dinyatakan dalam spesifikasi ini atas tanggungan
sendiri.
2.3. Kontraktor harus memeriksa dengan teliti ruangan-ruangan agar peralatan-peralatan, saluran-
saluran (ducts), pipa-pipa dan lain-lain dapat dipasang pada tempat-tempat dan ruangan-
ruangan yang telah disediakan.
2.4. Kontraktor sebelumnya harus mengajukan contoh bahan-bahan dan peralatan-peralatan yang
akan digunakan. Cara pelaksanaan pengerjaan harus dilakukan dengan cara yang wajar dan
terbaik, dan bahwa instalasi yang diserahkannya adalah lengkap dan dapat bekerja dengan baik,
tanpa mengurangi atau menghilangkan bahan-bahan atau peralatan-peralatan yang sewajarnya
disediakan, walaupun tidak disebutkan secara nyata dalam persyaratan ini ataupun tidak
dinyatakan secara tegas dalam gambar-gambar yang menyertai persyaratan teknis ini.
2.5. Kontraktor harus menyediakan peralatan, alat-alat pengatur dan alat-alat pengaman tambahan
yang diwajibkan oleh ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia.
2.6. Gambar-gambar dan persyaratan teknis perencanaan ini merupakan suatu kesatuan dan tidak
dipisah-pisahkan. Apabila ada sesuatu bagian pekerjaan atau bahan atau peralatan yang
diperlukan agar instalasi ini dapat bekerja dengan baik, dan hanya dinyatakan dalam salah satu
gambar perencanaan atau persyaratan teknis perencanaan saja, Kontraktor harus tetap
melaksanakannya tanpa ada biaya tambahan.
2.7. Gambar-gambar perencanaan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan semua pipa, fitting,
katup-katup dan fixtures secara terperinci. Semua bagian-bagian tersebut diatas walaupun tidak
digambarkan atau disebutkan secara spesifik, namun apabila untuk berfungsinya sistem maka
harus disediakan dan dipasang oleh Kontraktor dengan baik dan sesuai dengan pelaksanaan
yang wajar dan berlaku untuk pekerjaan plambing pada umumnya.

3. LINGKUP PEKERJAAN
3.1. Pekerjaan yang dimaksud disini adalah pengadaan material, penyimpanan, pemasangan,
penyambungan, tenaga kerja, peralatan bantu agar seluruh instalasi penyediaan air bersih dan
pembuangan dapat dipasang, diuji, dibersihkan dan siap untuk digunakan dengan kualitas
bahan dan kualitas pengerjaan pemasangan yang terbaik sesuai dengan gambar-gambar dan
persyaratan yang ditentukan dalam perencanaan ini.
3.2. Persyaratan teknis ini dan gambar-gambar yang menyertai dimaksudkan untuk menjelaskan dan
menegaskan tentang segala pekerjaan, bahan-bahan, peralatan-peralatan yang diperlukan
untuk pemasangan, pengujian dan penyetelan dari seluruh sistim agar lengkap dan siap untuk
bekerja dan dapat digunakan dengan baik.
3.3. Secara umum bagian-bagian pekerjaan utama yang termasuk dalam Persyaratan Teknis dan
adalah sebagai berikut :
3.4. Pemasangan, uji tekan, pembersihan dan disinsfeksi pipa-pipa, elbow, fitting-fiting, pemasangan
support atau gantungan, clamp pipa, pemasangan sanitary fixtures dan semua pekerjaan
plambing yang diperlukan untuk berfungsinya system distribusi air bersih.
3.5. Pemasangan, pembersihan dan uji kebocoran pipa-pipa, elbow, fitting-fitting, penyangga atau
penahan pipa air buangan, penyetelan kemiringan atau elevasi pipa buangan dan semua
pekerjaan plambing yang diperlukan untuk berfungsinya system pipa pembuangan.
3.6. Pengadaan, pemasangan sanitary fixture seperti washtafel, closet, service sink, slop sink, kitchen
sink, shower, faucet, floor drain, stop valve dan lain lain, dengan kualitas pemasangan yang baik
dan benar dari segi teknis maupun artistik.
3.7. Pengadaan, pemasangan, penyambungan, pengujian pipa-pipa, vent cup, elbow dan fiting
pemipaan vent.

4. KETENTUAN DAN PERSETUJUAN BAHAN-BAHAN DAN ALAT-ALAT


Dalam waktu yang secepat mungkin setelah Kontraktor memperoleh kontrak pekerjaan, Kontraktor
harus mengajukan contoh-contoh bahan dan alat yang lengkap dengan brosur dari pabrik-pabrik atau
perusahaan-perusahaan yang membuat bahan-bahan dan alat-alat yang akan dipasang dalam instalasi
ini, untuk memperoleh persetujuan dari Konsultan MK/ Konsultan Perencana.
Setelah daftar tersebut diatas disetujui dan sebelum melakukan pembelian atas bahan-bahan dan alat-
alat, Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan daftar yang lengkap dari peralatan-peralatan
dan bahan-bahan yang akan digunakan dalam instalasi ini, lengkap dengan brosur dan atau gambar
kerja dari pabrik atau perusahaan yang membuat serta schedule pembelian, pengiriman dan
pemasangannya.
4.1. INSTALASI AIR BERSIH
a. Pipa-pipa air bersih dan fittings baik yang utama maupun pipa-pipa cabang sampai ke
fixture-fixture, ditegaskan pada standard ISO 3212, ISO7279 dan DIN 8070,DIN 8078, DIN
16962 berbahan dasar Polypropylene Random Type 3 (PPR), dengan tekanan nominal 10 Bar
(PN10).
b. Pemotongan pipa PPR tidak diperbolehkan menggunakan gergaji akan tetapi menggunakan
alat pemotong khusus untuk pipa jenis tersebut, penyambungan antara dua pipa harus
sentris (satu sumbu) apabila diperlukan menggunakan guider.
c. Material atau bahan-bahan yang belum digunakan atau di pasang seperti pipa, fitting dan
lain-lain harus disimpan ditempat yang terlindungi.
d. Fitting atau sambungan untuk sanitary fixtures yang menggunakan sambungan jenis ulir
“metal insert “ yang dilapisi dengan nickel-plated-brass, harus menggunakan teflon sealed
yang direkomendasikan pabrik.
e. Apabila ada keadaan lapangan memaksa dilakukannya pembengkokan dengan cara
pemanasan, maka tidak dibenarkan menggunakan api secara langsung, akan tetapi
menggunakan udara panas (hot blow air) dengan radius pembengkokan maksimum 8 kali
diameter pipa.
f. Stop Valve menggunakan setara produk KITAZAWA /TOYO.
g. Jarak penggantung pipa di sebutkan pada Pasal 4, 4.4 Sambungan, Gantungan dan Klem.
h. Hindari pengangkutan pipa PVC dengan menggusur untuk menghidari scratch pada pipa,
pengangkutan hanya di ijinkan dengan cara diangkat.
i. Sambungan dengan material lain harus menggunakan sambungan ulir atau flange. Jangan
menyambung menggunakan proses polyfusion dengan material yang berbeda jenis misalnya
PPR dengan PVC atau PE.
4.2. INSTALASI AIR BUANGAN, VENT, TALANG AIR HUJAN
a. Pipa-pipa dan fittings instalasi air buangan, vent dan talang air hujan menggunakan pipa
unplastisized Poly-Vinyl Chloride (uPVC) sesuai standar SNI 06-0084-1987. dengan tekanan
nominal 10 kg/cm².
b. Pipa-pipa dan fittings instalasi air buangan laboratorium menggunakan pipa jenis
polypropilene rubbering joint system chemical resistant setara Wavin AS.
c. Semua percabangan air buangan harus mengunakan “Y” large radius buatan pabrik dengan
standar produksi JIS K-6741/2 dengan tekanan nominal 10 kg/cm2.
d. Sebelum di timbun tanah dan dipadatkan, pipa air buangan bawah tanah harus dipasang
adukan pada tiap sambungan, belokan, bentang panjang yang memungkinkan terjadinya
lendutan dan dilapisi dengan pasir bagian atas dan bawah. Penentuan elevasi harus
menggunakan waterpas untuk mendapatkan kemiringan pipa sesuai yang di rencanakan.
e. Semua floor drain harus diberi "water trap" PVC.
f. Pada setiap belokan yang mendapat gaya sentrifugal harus dipasang penahan beton atau
support atau gantungan.
g. Instalasi pipa air buangan harus di rencanakan dan di koordinasikan dengan disiplin lain
sehingga tidak terdapat pipa yang menembus ducting, kolom, kabel tray dan lain-lain kecuali
yang di sebutkan khusus.
h. Jarak antar pengantung pipa disebutkan pada Pasal 4, 4.4 Sambungan,Gantungan dan Klem.
4.3. BAHAN-BAHAN SANITARY FIXTURES
a. Semua plambing fixture berikut fittings atau kran yang akan dipasang harus setaraf dengan
fixture-fixture buatan “TOTO”.
b. Lavatory setara produk TOTO type :
1. Counter lavatory (public toilet/nurse/doctor).
- Lavatory L 521V1A
- Soap dispenser TS 126AR (deck type)
- Faucet TX 109LD (cold) atau TX 108 LDN (hot/cold)
- Aksesoris pelengkap lainnya.
2. Wall fung lavatory (nurse/doctor room).
- Lavatory L 237V3
- Soap dispenser TS 125R (wall fung)
- Faucet TX 109LD (cold) atau TX 108 LDN (hot/cold).
- Aksesoris pelengkap lainnya.
3. Wall fung lavatory (patient toilet/staff toilet).
- Lavatory L 240
- Soap dispenser TS 125R (wall fung)
- Faucet TX 109LD (cold)
- Aksesoris pelengkap lainnya.
4. Counter lavatory (nurse/doctor).
c. Lavatory (wastafel type counter) stara produk TOTO type L 521V1A lengkap dengan soap
dispenser dan kran.
d. Urinal setara dengan buatan “TOTO” Type UW 447 JT.1M.
e. Kloset duduk type CW 420J /SW 420JP dan aksesoris pelengkap lainnya setara buatan
“TOTO”.
f. Kloset jongkok type CE 9 / TV150NWV12J dan aksesoris pelengkap lainnya setara buatan
“TOTO”.
g. Semua "floor drain" (FD) terbuat dari logam dilapisi nikkel chrome, dilengkapi dengan
"Water Trap" type TX 1 BN setara buatan TOTO.
h. Semua "Clean Out" (CO) terbuat dari pelat yang dilapisi chrome, dilengkapi dengan "slot",
seperti buatan SAN-EI atau setara.
i. Sink stainless steel minimal SUS 304 setara Kris/Royal dengan ukuran minimal 480 x 620 x
180 (dalam) lengkap dengan plug dan p-trap, untuk faucet pantry setara TOTO type T
30AR13V7N (cold) dan TX 607KES (hot/cold).
j. Sink keramik setara Bromo AMSTAD KAK 4AODXX kedalaman minimal 170 mm, dan faucet
setara San-ei type Y952.
k. Wall Faucet yang dipasang di dinding T23B13V7 setara produk TOTO type T 23B13V7.
l. Tissue holder dengan bahan stainless steel type TS 116 R TOTO atau setara.
m. Cermin wastafel dengan ketebalan 5 mm type TS 119 AS5 TOTO atau setara.
n. Shower spray type TB 19 CSNCR setara produk TOTO.
o. Head Shower setara produk TOTO type TX436, dengan stop valve setara TX 405SP (hot/cold).
p. Slop Sink type SK 33 setara produk TOTO.
q. Service Sink type SKW 322 B setara produk TOTO.
r. Faucet/slop sink/service sink type T30ARQ13N setara produk TOTO.
s. Towel Ring type TS 155 S setara produk TOTO.
t. Soap holder setara TOTO type S 156N.

4.4. SAMBUNGAN, GANTUNGAN DAN KLEM


a. Setiap percabang, belokan harus dipasang gantungan atau diklem yang dilengkapi dengan
dudukan klem dengan jarak tertentu dijelaskan pada pasal ini, dan kontraktor bertanggung
jawab atas penyediaan dan lokasi pemasangan yang tepat.
b. Pipa-pipa tidak boleh menembus kolom, kaki kolom, kepala kolom, ataupun balok, tanpa
mendapat izin tertulis dari Konsultan MK.
c. Apabila digunakan baut tembus (through bolt) harus dipasang pelat penahan pada sisi yang
lain dari dinding atau lantai tersebut.
d. Insert (tempat menyekrupkan) harus tertanam dengan baik dalam dinding atau lantai dan
rata dengan permukaan akhir (finish) dari dinding atau lantai tersebut, dan setelah alat-alat
tersebut terpasang, insert harus tidak kelihatan.
e. Semua baut, mur dan sekrup yang kelihatan (exposed) harus dibuat dengan lapisan
Chromium atau Nikkel, demikian pula cincin (washer) untuk pemasangannya.
f. Sambungan ulir harus dilapisi seal teflon (teflon sealed).
g. Klem dan gantungan yang digunakan untuk pipa tembaga (copper pipe) harus dilengkapi
dengan plastik atau karet supaya tidak terjadi kontak langsung antara dua material logam.
h. Semua pipa harus diikat atau ditetapkan dengan kuat dengan penggantung atau angker yang
cukup kokoh (rigid). Pipa-pipa tersebut ditumpu untuk menjaga agar tidak berubah
tempatnya, agar iklinasinya tetap, untuk mencegah timbulnya getaran dan harus
sedemikian sehingga masih memungkinkan konstruksi dan expansi oleh perubahan
temperature.
i. Semua gantungan harus bisa diatur (adjustable) dan dilapisi zinkchromat lalu dicat termasuk
klem dan dudukannya. Pipa atau penggantung tambahan harus disediakan pada perubahan-
perubahan arah, titik percabangan, beban-beban terpusat karena katup (valve), saringan,
meteran dan hal lain yang sejenis.
j. Semua gantungan dan penumpu harus dicat dengan cat dasar zinchromate sebelum
dipasang.
k. Pengapit pipa baja yang digalvanis harus disediakan untuk pipa tegak.
l. Perpipaan harus ditunjang atau digantung dengan hanger bracket atau sadel dengan tepat
dan sempurna agar memungkinkan gerakan-gerakan pemakaian atau perenggangan pada
jarak yang tidak boleh melebihi jarak yang diberikan dalam tabel berikut ini :
Jarak Maximum antar Gantungan
Jenis Pipa Ukuran Pipa (mm)
Interval Mendatar (cm) pada temp 20ºC
Sampai dengan 20 1,8
GSP 25 s/d 75 2,4
100 s/d 150 3,0

PPR -PN10 20 80
25 85
32 100
40 110
50 125
63 140
75 155
90 165
110 185
4.5. RESERVOIR AIR
a. Kontraktor harus melaksanakan pemasangan Storage Tank seperti yang diminta dalam
spesifikasi maupun BoQ sesuai lokasi yang tertera dalam gambar rencana.
b. Storage tank harus dilengkapi dengan inlets, outlets, pipa overflow, soket untuk floating
level switch. Lubang-lubang overflow dan vent harus dilengkapi dengan kawat anti nyamuk
yang terbuat dari bahan anti karat
c. Storage tank harus buatan pabrik dengan perbandingan rasio FRP 35% glass, 65% resin dan
resin merupakan dari jenis orthopthalic grade yang dilengkapi dengan UV protection.
Dimensi masing masing panel 1m x 1m dilengkapi dengan pipa penguat vertikal dan
horisontal dari pipa galvanized diameter 1.25 inch dan dilapisi dengan FRP, dilengkapi
dengan manhole untuk masing2 kompartement. Ukuran dan kapasitas lihat di gambar, plat
penghubung panel baja galvanis 200x200x5 mm lapis FRP. Skid base UNP-150 dicat polyester
resin. Celah antara panel atap harus di isi resin dilengkapi juga dengan tangga luar dan dalam
untuk tiap kompartement.
d. Kontraktor harus menyiapkan shop drawing dimana posisi dan outlet, inlet, manhole serta
posisi angkur sudah tepat.
e. Kontraktor harus melakukan test uji kebocoran (hydrostatic test) termasuk penyediaan air
untuk test kebocoran tanpa ada biaya tambahan.

4.6. PENGGANTIAN MATERIAL ATAU ALAT


a. Kontraktor bertanggung jawab atas pencegahan bahan atau peralatan untuk instalasi ini dari
pencurian dan kerusakan. Bahan dan peralatan yang hilang atau rusak harus diganti oleh
Kontraktor tanpa tambahan biaya.
b. Sesuatu bahan, peralatan yang akan digunakan dalam proyek dan tidak disebutkan dalam
persyaratan ini, hanya diperbolehkan apabila ada persetujuan secara tertulis dari Konsultan
MK dan biaya pengujian bahan atau peralatan tersebut menjadi tanggungan Kontraktor.
c. Apabila diperlukan pengujian atas bahan, peralatan, fixtures, harus dilakukan oleh bahan-
bahan atau lembaga yang ditentukan oleh Konsultan MK dengan cara pengujian standar
yang berlaku dan apabila cara-cara standar tidak ada, Konsultan MK berhak menentukan
prosedur pengujiannya.
d. Setiap bahan (satu panjang utuh), fitting, fixtures dan peralatan-peralatan yang akan
dipasang pada instalasi ini harus mempunyai tanda-tanda yang jelas dari pabrik
pembuatnya. Fitting dan fixtures yang tidak memiliki tanda-tanda tersebut harus diganti
atas tanggung jawab Kontraktor.
e. Kontraktor bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pembiayaan yang perlu karena
timbulnya perubahan-perubahan yang perlu sebagai akibat dari adanya bahan atau
peralatan lain atau pengganti yang disetujui tetapi berbeda dengan yang dinyatakan dalam
gambar atau persyaratan Konsultan Perencana.
f. Apabila peralatan dan instalasi plumbing tidak ada dipasaran dan ada usulan untuk diganti
dengan merek lain, maka harus ada keterangan tertulis dari supplier atau distributor bahwa
material dimaksud tidak diproduksi lagi.

5. TENAGA AHLI
Kontraktor harus menggunakan tenaga-tenaga yang ahli dalam bidangnya (skilled labour) agar dapat
memberikan jaminan hasil kerja yang terbaik dan rapih.

6. PEMASANGAN
6.1. Pemasangan hanya boleh dilakukan setelah ada izin tertulis dari Konsultan MK. Gambar-gambar
pemasangan instalasi secara mendetail harus dibuat oleh Kontraktor sambil melaksanakan
pembangunan struktur bangunan. Hal ini agar dapat diketahui dengan tepat letak atau ukuran
lubang-lubang pada dinding dan lantai yang diperlukan untuk lewatnya pipa-pipa.
6.2. Kontraktor bertanggung jawab atas ukuran (dimensi) dan lokasi lubang-lubang tersebut dan
apabila perlu harus melakukan pembobokan atau penambalan merupakan tanggungan
Kontraktor dan tanpa tambahan biaya.
6.3. Semua fixtures harus dipasang dengan baik dan harus bebas dari kotoran yang akan
mengganggu aliran atau kebersihan air.
6.4. Semua floor drain harus dilengkapi dengan u-trap.
6.5. Harus terpasang secara kokoh (tight) ditempatnya dengan tumpuan yang sesuai (bracket, cleat,
plate, anchor).
6.6. Kontraktor bertanggung jawab atas komponen-komponen yang perlu (misalnya: fixture fitting,
seal, elbow, cap) untuk melengkapi instalasi.
6.7. Semua sambungan yang menghubungkan pipa dengan luas penampang yang berbeda harus
digunakan "Reducer" atau "Increaser".
6.8. Sedapat mungkin harus digunakan belokan-belokan dengan "long radius". Belokan-belokan dari
jenis "short radius" hanya boleh digunakan apabila kondisi tempat tidak memungkinkan
menggunaan belokan jenis long radius, dan Kontraktor harus memberitahukan hal ini kepada
Konsultan MK.
6.9. Fittings atau alat-alat yang akan menimbulkan tahanan aliran-aliran yang tidak wajar, tidak
boleh digunakan.
6.10. Pipa-pipa tidak boleh menembus kolom, kaki kolom, kepala kolom, ataupun balok, tanpa
mendapat izin tertulis dari Konsultan Pengawas/MK.
7. PEMBERSIHAN DAN PENGECATAN
7.1. Pembersihan.
a. Semua bagian terlindung dinding harus bebas dari lemak dan kotoran-kotoran lain.
b. Semua bagian yang dilapisi Chromium atau Nikkel harus digosok bersih dan mengkilap
setelah selesai pemasangan instalasi. Semua bagian pipa, katup-katup alat-alat lainnya
harus dibersihkan dahulu dari lemak, lumpur dan kotoran-kotoran lainnya yang telah
terbawa masuk.
c. Apabila terjadi kemacetan, pengotoran atas bagian bangunan atau finishing arsitektural
atau timbulnya kerusakan lainnya yang semuanya atas kelalaian Kontraktor atau karena
tidak membersihkan sistim pemipaan dengan baik, maka semua perbaikan adalah menjadi
tanggung jawab Kontraktor.
d. Semua permukaan sanitary fixtures harus bebas dari kotoran-kotoran, lemak dan lain lain.
7.2. Pengecatan.
a. Penggantung atau penumpu pipa dan peralatan-peralatan terbuat dari logam lainnya yang
akan tertutup oleh tembok atau bagian bangunan lainnya harus dilapis dengan cat pencegah
karat.
b. Pada semua pipa baik air bersih air kotor atau vent yang tersusun di shaft diberi tanda
peruntukan dan arah aliran.

8. PENGUJIAN DAN DESINFEKSI


8.1. Pengujian Sistem Pembuangan (hydrostatic test)
a. Seluruh sistem pembuangan air harus mempunyai lubang-lubang yang dapat ditutup
(plugged) agar seluruh sistem tersebut dapat diisi dengan air sampai lubang "vent"
tertinggi.
b. Sistem tersebut harus dapat menahan air yang diisikan seperti tersebut diatas minimum
selama 30 menit tanpa ada kebocoran.
c. Apabila terdapat kebocoran baik di pipa, sambungan, belokan dan lain-lain maka Kontraktor
wajib untuk memperbaikinya dan dilakukan pengujian ulang.
d. Kerusakan yang ditimbulkan akibat pengujian ini menjadi tanggungan kontraktor dan tidak
ada penambahan biaya untuk hal ini.
e. Penyediaan air dan peralatan uji yang diperlukan untuk pengujian ini menjadi tanggungan
Kontraktor.
f. Pengujian ini dilakukan sebelum seluruh pipa ditimbun dan di tutup.
g. Apabila diperlukan pengujian lain disamping pengujian diatas yang diminta Konsultan MK,
Kontraktor harus melakukannya tanpa tambahan biaya.
8.2. Pengujian dan Desinfeksi Instalasi Air Bersih
a. Setelah penyambungan selesai dilakukan dan sebelum memasang "fixture" atau peralatan,
seluruh sistim distribusi air harus diuji dengan tekanan hidrostatik sebesar dua kali tekanan
kerjanya (working pressure), minimum 7 bar, tanpa mengalami kebocoran.
b. Penyediaan air dan peralatan uji yang diperlukan untuk pengujian ini menjadi tanggungan
kontraktor.
c. Apabila pada waktu pemeriksaan atau pengujian ternyata ada kerusakan atau kegagalan
dari sesuatu bagian dari instalasi atau suatu bahan dari instalasi, maka Kontraktor harus
mengganti bagian atau bahan yang rusak atau gagal tersebut dan pemeriksaan atau
pengujian dilakukan lagi sampai memuaskan Konsultan MK.
d. Penggantian atas bagian pipa atau bahan yang rusak atau gagal tersebut harus dengan pipa
atau bahan yang baru. Penambalan (caulking) dengan bahan apapun tidak diperkenankan.
e. Kontraktor harus melaksanakan pembilasan dan desinfeksi dari seluruh instalasi air sebelum
diserahkan kepada Konsultan MK.
f. Desinfeksi dilakukan dengan memasukkan larutan "Chlorine" kedalam sistem pipa, dengan
cara atau metoda yang disetujui Konsultan. Dosis chlorine adalah sebesar 50 mg/l.
g. Setelah 24 jam, seluruh sistem pipa tersebut harus dibilas dengan air bersih sehingga kadar
chlorine menjadi tidak lebih dari 0,2 mg/l.
h. Semua katup dalam sistem pipa yang sedang mengalami proses desinfeksi tersebut harus
dibuka dan ditutup beberapa kali selama jangka waktu 24 jam tersebut di atas.
i. Kontraktor harus memberikan garansi tertulis bahwa seluruh instalasi distribusi air bersih
dan instalasi pembuangan air kotor akan bekerja dengan memuaskan dan bahwa Kontraktor
akan menanggung semua biaya atas kerusakan penggantian yang perlu selama jangka waktu
1 (satu) tahun.

9. AS-BUILT DRAWINGS
9.1. Selama pelaksanaan pemasangan instalasi ini berjalan, Kontraktor harus memberikan tanda-
tanda dengan pensil atau tinta merah pada 2 set gambar plambing, atas segala perubahan,
penghapusan atau penambahan pada rencana instalasi atau dari gambar tersebut.
9.2. Kontraktor harus menyerahkan pada Konsultan MK gambar instalasi sesungguhnya
sebagaimana yang terpasang pada bangunan, memuat lengkap semua perubahan yang telah
dilakukan atau as-built drawing atau gambar terlaksana.
9.3. Ukuran kertas untuk as-built drawing adalah sesuai dengan ukuran kertas gambar rencana.
9.4. As-built drawing yang telah disetujui diserahkan lengkap dengan soft copynya dalam compact
disk (CD) atau DVD disk.

PASAL 9
PEKERJAAN SISTEM GAS MEDIS

1. PERATURAN, IZIN DAN STANDAR


1.1. Pekerjaan gas medik mengikuti segala peraturan dan standar yang berlaku di Indonesia dan
Health Technical Memorandum 2022 (HTM2022) tentang Medical gas pipeline system, Design,
Installation, Validation, and Verification serta NFPA 99.
1.2. Material dan ukuran pipa mengikuti standard ASTM B.819 tipe L dengan metoda pengerjaan
hard drawn.
1.3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1439/MENKES/SK/XI/2002 tentang penggunaan gas medis
pada sarana pelayanan kesehatan.

2. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan sistem gas medis ini meliputi :
2.1. Seluruh pengadaan, pengangkutan, pemasangan pipa-pipa sparing dan penyambungan instalasi
perpipaan, penyangga dan gantungan beserta peralatan penunjang lainnya, pengujian,
pembersihan desinfeksi dan pengecatan serta pemasangan label identitas pipa sesuai dengan
jenis gas medik yang akan digunakan.
2.2. Pengadaan, pemasangan medical gas outlet, bed head unit, , penyetelan dengan baik sesuai
dengan standar dan gambar yang ada.
2.3. Pemasangan zone valve termasuk box dan valve lengkap dengan alarm panel beserta
instalasinya.

3. KETENTUAN DAN PERSETUJUAN BAHAN


3.1. Pipa-pipa, sambungan-sambungan dan elbow untuk instalasi oksigen, Compressed Air dan
Vakum harus berupa pipa tembaga ASTM B.819 tipe L tanpa kelim yang dioksida fosfor dengan
working pressure 5 kg/cm2 dan test pressure 8-10 kg/cm2. Pipa harus memenuhi standard
medis (bebas pyrogen, bersih dan tidak mengandung minyak). Pada kedua ujung pipa tertutup
plastik dan bersertifikat dari pabrik pembuatnya (pada kedua ujung tertulis merk dan standar)
dengan kualitas pipa medical grade. Penyambungan pipa menggunakan metoda brazing dengan
tidak meninggalkan sisa lasan didalam pipa.
3.2. Semua pipa gas harus di tumpu pada tumpuan atau support yang terbuat dari logam yang dapat
di set atau adjustable, serta di beri lapisan pelindung antara tumpuan dan pipa serta setiap
penggantung harus dapat menampung minimal 4 buah pipa diameter 1,5 inch secara bersama
atau parallel, pipa gas medik tidak boleh menempel pada dinding, atau diletakkan diplafon atau
tray tanpa pelindung.
3.3. Standar warna yang digunakan untuk masing-masing instalasi pipa dan outlet gas medis adalah
sebagai berikut:
Oksigen (O) : Warna Putih
Vakum (V) : Warna Kuning
Compressedl Air (A) : Warna Hitam
Nirous oxide (N) : Warna Biru

3.4. Saluran Keluar Tipe Dinding (Wall Type Outlet)


Memiliki katup otomatis yang membuka apabila adaptor atau plug digunakan (operasional) dan
katup akan menutup kembali apabila adaptor atau plug dilepas dari terminal unit. Katup ini
dilengkapi dengan system pengaman dimana sebuah adaptor dapat digunakan hanya untuk gas
sejenis. Apabila outlet atau terminal unit dipasang secara bersamaan dengan beberapa jenis gas
yang berbeda pada satu tempat maka urutan jenis gasnya adalah Oksigen (O), Nitrous oxide (N)
Compressed Air (A) dan Vacuum (V). Standar yang digunakan adalah standard JIS apabila yang
akan dipasang dengan standard lain maka harus dilengkapi dengan connector agar kembali
dengan standard yang sama, connector menggunakan system bayonet (bukan ulir), outlet
merupakan asli pabrikan bukan modifikasi.
3.5. Katup shut off (Shut Off Valve)
Katup shut off utama dipasang disekitar manifold-manifold dan suplai utama, katup shut off
utama ini digunakan untuk menghentikan seluruh aliran gas dalam keadaan darurat. Dalam
setiap katup shut off ini di tempelkan pula identifikasi gas yang bersangkutan.
Katup shut off cabang, diletakkan di tempat-tempat strategis seperti tertera dalam gambar
perencanaan. Katup ini digunakan untuk menghentikan aliran gas di dalam saluran pipa tiap
zone dan digunakan dalam keadaan darurat.
Katup shut off ini di tempatkan pada sebuah kotak dengan jendela plastik kaku yang dapat
dipecahkan dan terdapat indikasi gas yang mengalir di dalamnya.
3.6. Sistem Alarm
Sistem alarm yang digunakan adalah suatu tanda yang mengeluarkan suara dan sebuah lampu
menyala apabila sisi suplai dari manipol-manipol tersebut menjadi kosong. Bel listrik berhenti
apabila tombol buzzer-stop ditekan, tetapi lampu tetap menyala hingga kondisi yang abnormal
[Link] alarm berada di daerah dekat suster perawat dimana alarm ini ditempatkan
pada suatu box control panel bersamaan dengan shut off box. Alarm system yang diminta adalah
untuk mendeteksi apabila terjadi perbedaan tekanan dalam pipa yang lebih rendah dari tekanan
gas yang di set, dan tekanan berlebih pada pipa yang dapat mengakibatkan ledakan. System ini
bekerja menggunakan listrik, dan original buatan pabrik bukan hasil modifikasi atau rakitan
sendiri.

4. PENGGANTIAN MATERIAL ATAU ALAT


4.1. Kontraktor bertanggung jawab atas pencegahan bahan atau peralatan untuk instalasi ini dari
pencurian dan kerusakan. Bahan dan peralatan yang hilang atau rusak harus diganti oleh
Kontraktor tanpa tambahan biaya.
4.2. Sesuatu bahan, peralatan yang akan digunakan dalam proyek dan tidak disebutkan dalam
persyaratan ini, hanya diperbolehkan digunakan apabila ada persetujuan secara tertulis oleh
Konsultan MK dan biaya pengujian bahan atau peralatan tersebut menjadi tanggungan
Kontraktor.
4.3. Apabila diperlukan pengujian atas bahan, peralatan, harus dilakukan oleh bahan-bahan atau
lembaga yang ditentukan oleh Konsultan MK dengan cara pengujian standar yang berlaku dan
apabila cara-cara standard tidak ada, Konsultan MK berhak menentukan prosedur pengujiannya.
4.4. Setiap bahan (satu panjang utuh), dan peralatan-peralatan yang akan dipasang pada instalasi ini
harus mempunyai tanda-tanda yang jelas dari pabrik pembuatnya apabila tidak memiliki tanda-
tanda tersebut harus diganti atas tanggung jawab Kontraktor.
4.5. Kontraktor bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pembiayaan yang perlu karena timbulnya
perubahan-perubahan yang perlu sebagai akibat dari adanya bahan atau peralatan lain atau
pengganti yang disetujui tetapi berbeda dengan yang dinyatakan dalam gambar atau
persyaratan perencana.
4.6. Apabila peralatan dan instalasi gas medis tidak ada dipasaran dan ada usulan untuk diganti
dengan merek lain, maka harus ada keterangan tertulis dari supplier atau distributor bahwa
material dimaksud tidak diproduksi lagi.

5. TENAGA AHLI
Pengerjaan pengelasan instalasi gas medis, pembersihan atau flushing dan pengujian kebocoran pipa
harus dikerjakan oleh tenaga ahli yang berpengalaman dan bersertifikat dalam mengerjakan pekerjaan
pemasangan instalasi gas medis dan menguasai standard-standard dan peraturan-peraturan yang
diminta.

6. PEMASANGAN
6.1. Pengelasan pipa tembaga harus menggunakan metoda las system brazing (brazing method)
dengan las asitilen.
6.2. Pipa tembaga tidak boleh kontak lansung antara pipa dan gantungannya melainkan harus
dilindungi dengan plastik atau karet sehingga tidak terjadi gesekan yang menimbulkan
kecacatan pada pipa.
6.3. Pemasangan pipa gas medis dilakukan sebelum tertutup dinding atau plafond, apabila terpaksa
dilakukan pembobokan dan pembuatan lubang maka harus ditutup dan dirapihkan kembali.
6.4. Pipa yang menembus dinding harus dilindungi dengan pipa PVC sehingga dimungkinkan untuk
terjadinya pergerakan apabila terjadi pemuaian atau penyusutan.
6.5. Pemasangan pipa gas medis diusahakan mempunyai jarak yang cukup terhadap sumber panas
dan dingin seperti pipa air panas, pipa air dingin sehingga mengurangi terjadinya perubahan
temperatur yang ekstem untuk menghindari pemuaian dan penyusutan.
6.6. Pipa yang tertanam di tembok harus menggunakan sparing PVC.

7. PENGUJIAN DAN STERILISASI


7.1. Pada semua Instalasi pipa harus dilakukan uji tekan dengan udara bertekanan 15 kg/cm2 dan
dipertahankan sekurang-kurangnya selama 4 jam tanpa mengalami penurunan tekanan dan
kebocoran-kebocoran yang nyata.
7.2. Apabila terdapat kebocoran baik di pipa, sambungan, belokan dan lain-lain maka Kontraktor
wajib untuk memperbaikinya dan dilakukan pengujian ulang.
7.3. Kerusakan yang ditimbulkan akibat pengujian ini menjadi tanggungan kontraktor dan tidak ada
penambahan biaya untuk hal ini.
7.4. Penyediaan peralatan uji yang diperlukan untuk pengujian menjadi tanggungan kontraktor.
7.5. Pada saat penyelesaian dan sebelum serah terima pekerjaan, kontraktor harus melakukan uji
operasional system sehingga dapat bekerja secara baik dan normal.
7.6. Kontraktor wajib memberikan buku prosedur standard operasi (Standard Operation Procedure
“SOP”), prosedur standard perawatan (Standard Maintenance Procedure”SMP”) dan prosedur
standard emergency procedure”SEP”) pada pihak rumah sakit (maintenance departement).
7.7. Sebelum dilakukan pengujian, kontraktor harus meminta ijin terlebih dahulu kepada konsultan
untuk melakukan pengujian.
7.8. Kontraktor harus menyiapkan laporan hasil uji yang memuat tempat atau lokasi pengujian,
tanggal uji, jam, jenis alat uji yang digunakan, catatan-catatan mengenai hasil uji dan kekurangan
yang di temukan. Laporan ini harus ditandatangani oleh Kontraktor, Konsultan MK dan
Konsultan Perencana.
7.9. Jika sebagian dari sistem atau sebagian peralatan tidak lulus dalam pengujian, maka Kontraktor
harus melakukan perbaikan-perbaikan dan pengujian harus di ulang hingga dicapai hasil yang
memuaskan, dan biaya perbaikan atau pengujian ulang tersebut dibebankan kepada Kontraktor.
7.10. Pengujian kualitas harus meliputi dan terdiri dari semua pemeriksaan, pengukuran, inspeksi
melalui cara-cara visual, mekanis, instrumental atau cara-cara lainnya sebagaimana yang
diperlukan untuk membuktikan pekerjaan benar-benar memenuhi semua standar kualitas.
Sekurang-kurangnya 2 (dua) buah alat ukur tekanan harus digunakan, dengan suatu tingkat
sekala total tidak melebihi 4/3 tekanan pengujian. Ketepatan tidak boleh kurang dari 1 persen.
7.11. Sterilisasi instalasi pipa gas medis harus sesuai dengan standar pengujian yang tercantum dalam
standard HTM 2022.

8. PEMBERSIHAN DAN PENGECATAN


8.1. Pipa gas medis harus bersih dari kotoran sisa pekerjaan, lemak dan kotoran-kotoran lain yang
akan mempengaruhi dan menggangu aliran dan kemurnian gas yang akan di alirkan.
8.2. Bagian luar pipa yang akan di cat dibersihkan dari kotoran lemak, sisa lasan dan kotoran lain
hingga bersih dan kemudian di cat sesuai warna yang dijinkan.
8.3. Pembersihan pipa bagian dalam dilakukan setelah instalasi terpasang dimana pembersihan
dilakukan sesuai dengan standar HTM 2022, pipa yang akan dibersihkan dialiri dengan nitrogen
cair dan dilakukan beberapa kali sehingga bersih.
8.4. Warna yang digunakan untuk pengecatan pipa gas medis disesuaikan dengan peruntukan pipa.
8.5. Untuk menghindari korosi, gantungan pipa di zinkchromate dan di cat.

9. AS-BUILT DRAWINGS
9.1. Selama pelaksanaan pemasangan instalasi ini berjalan, Kontraktor harus memberikan tanda-
tanda dengan pensil atau tinta merah pada 2 set gambar instalasi gas medis, atas segala
perubahan, penghapusan atau penambahan pada rencana instalasi atau dari gambar tersebut.
9.2. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan MK gambar instalasi sesungguhnya
sebagaimana yang terpasang pada bangunan, memuat lengkap semua perubahan yang telah
dilakukan atau as-built drawing atau gambar terlaksana.
9.3. Ukuran kertas untuk as-built drawing adalah sesuai dengan ukuran kertas gambar rencana.
9.4. As-built drawing yang telah disetujui diserahkan lengkap dengan soft copynya dalam compact
disk (CD) atau DVD disk.

PASAL 10
PEKERJAAN TATA UDARA
1. PERSYARATAN UMUM
1.1. Semua persyaratan umum maupun suplementer yang ada merupakan pula bagian dari
persyaratan sistem instalasi Tata Udara ini sejauh yang berlaku bagi pekerjaan ini. Apabila ada
beberapa hal dari persyaratan umum yang dituliskan kembali dalam spesifikasi ini, berarti hanya
menghilangkan hal-hal lainnya dari persyaratan umum maupun suplementer tidak berlaku lagi
untuk sistem instalasi ini.
1.2. Kontraktor atas bebannya harus melengkapi dan memasang seluruh peralatan yang dibutuhkan
untuk melengkapi pekerjaan sehingga sistem dapat bekerja dengan baik.
1.3. Gambar-gambar rencana menunjukkan tata letak secara umum dari peralatan dan instalasi
sistem. Lokasi yang ditunjuk adalah merupakan posisi-posisi perkiraan. Kontraktor atas
bebannya harus memodifikasi tata letak tersebut sebagaimana yang dibutuhkan untuk
mendapatkan pemasangan-pemasangan yang sempurna/baik dari peralatan-peralatan sistem.
1.4. Setiap pekerjaan yang disebutkan dalam spesifikasi ini, tetapi tidak ditunjuk dalam gambar, atas
beban Kontraktor seperti pekerjaan lain yang disebut oleh spesifikasi dan ditunjukkan oleh
Persyaratan umum dari sistem Tata Udara.

2. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan disini termasuk pengadaan, pemasangan, test, garansi, sertifikasi, service,
maintenance, mempersiapkan as-built drawings, operation and maintenance manual dan training
untuk para staff engineering rumah sakit .
Kontraktor bertanggung jawab atas semua persyaratan yang disebutkan dalam spesifikasi, termasuk
gambar-gambar, bills of quantity, standard dan peraturan yang terkait, instruksi dari pabrik pembuat,
peraturan lokal, kondisi lapangan untuk tujuan pengangkutan unit ke dalam ruangan atau lokasi dari
pemasangan dan pengarahan dari MK Lapangan selama berlangsungnya pekerjaan.
Semua claim yang tidak memenuhi hal di atas tidak akan diterima. Jika terdapat perbedaan antara
spesifikasi dari peralatan dan material yang terpasang dan spesifikasi yang diminta, Kontraktor
bertanggung jawab untuk mengganti semua peralatan dan material sesuai dengan spesifikasi yang
diminta tanpa biaya tambahan.

3. AIR COOLED PACKAGED (Split Duct DX System)


3.1. Umum
• Fan dan coil performance dari FCU Split Type harus sesuai dengan ARI Standard 441.
Spesifikasi teknis yang diuraikan dibawah adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.
Persyaratan spesifikasi dari unit performance dapat dilihat di gambar design “ Daftar
Peralatan” atau Daftar Peralatan & Bahan yang disetujui” yang merupakan lampiran
dokumen ini.
• FCU dan kelengkapannya harus di supply oleh pabrik pembuat yang ber kualifikasi dan
spesialis, yang secara rutin membuat produk ini, dimana produknya telah digunakan secara
memuaskan dalam bidang yang sama selama paling sedikit 5 (lima) tahun.
• FCU sebaiknya dari merk yang sama dengan outdoor unit
• Persetujuan FCU data harus lengkap dengan sound pressure level dalam dB atau dBA dengan
Re-10-12 Watt.
• Semua FCU dan kelengkapannya harus mempunyai low noise level, dan non-vibrating dalam
operasinya, dan dapat diterima dalam batas yang diijinkan sebagai standard terhadap noise
criteria yang ada.
• Pada dasarnya FCU yang di supply dan dipasang harus meliputi: Fan, cooling coil lengkap
dengan drain pan, driving motor, filter lengkap dengan panel, dan Diffuser, return grille.
• Memiliki effisiensi tinggi minimal KW/TR 1.2
3.2. Outdoor units
• Outdoor units yang dimaksud memiliki type, kapasitas pendinginan design tercantum dalam
gambar rencana dan rencana angaran dan biaya (RAB)
• Dudukan outdoor units merupakan bawaan pabrik dan bukan rakitan di site
• Compressor unit memiliki efisiensi tinggi dengan biaya operasional rendah
• Casing dari heavy gauge hot deep galvanised steel dengan ketebalan minimum 1.2mm dan
di cat dengan cat anti karat dan baked enamel, di isolasi di bagian dalam dengan elastomeric
rubber
• Cooling coil dari bahan copper tube, dengan aluminium fins yang secara mekanis melekat
dengan tube tanpa soldering atau tinning.
• Fan dari tipe centrifugal forward curved dan dirancang untuk quiet operation.
• Fan shaft menggunakan bearing yang dapat dengan mudah diberi lubrikasi dari bagian luar
3.3. Indoor units
• Indoor unit lengkap dengan :
- Remote control yang dapat mengatur temperatur, kecepatan alir dan arah udara,
pengatur waktu, kelembaban , dan lain-lain.
• Indoor unit merupakan pasangan (compatible) dengan outdoor
• Cooling coil dari bahan copper tube, dengan aluminium fins yang secara mekanis melekat
dengan tube tanpa soldering atau tinning.
• Fan dari tipe centrifugal forward curved dan dirancang untuk quiet operation.
• Fan shaft menggunakan bearing yang dapat dengan mudah diberi lubrikasi dari bagian luar
3.4. Refrigerant Pipe dan isolasi
• Pipa refrigeran yang digunakan adalah sesuai dengan standard ASTM B.88 type L lengakp
dengan isolasi
• Pipa refrigerant dari outdoor ke indoor tidak terdapat sambungan yang dapat
mempengaruhi aliran fluida.
3.5. Testing
Lihat pasal pekerjaan testing, adjusting & balancing
3.6. Referensi Produk
Peralatan dan bahan yang dgunakan harus sesuai dengan spesifikasi. Kontraktor diijinkan untuk
mengajukan alternatif lain yang serupa dan hanya boleh menggunakan alternatif ini setelah
mendapat persetujuan resmi dan tertulis dari Konsultan.

4. PEKERJAAN DUCTING
4.1. Spesifikasi Teknis
a. Umum
1. Kecuali disebutkan lain, pada umumnya ducting berarti pekerjaan ducting, fitting,
damper, support dan komponen atau asesoris lain yang diperlukan untuk
menyelesaikan instalasi.
2. Semua garis ducting yang ada dalam gambar rencana adalah gambar dasar yang
menunjukkan jalur dan ukuran ducting.
3. Kontraktor harus mempertimbangkan shop drawing dan jalur instalasi yang lain, lengkap
dengan gambar detail yang diperlukan dan mendapatkan persetujuan dari Konsultan
MK sebelum pelaksanaan.
4. Dimensi yang ada dalam gambar adalah dimensi bagian dalam dari aliran udara. Jika
diperlukan lining untuk ukuran ducting, maka diameter harus disesuaikan dengan tebal
dari lining.
b. Publikasi, standard yang digunakan
1. ASHRAE, the Guide and Data Book.
2. SMACNA (Sheet Metal and Air Conditioning Contractors National Association).
c. Konstruksi Ducting
1. Konstruksi adalah untuk low velocity (low pressure duct) dengan static pressure didalam
ducting sampai 75mm wg atau 3” wg.
2. Konstruksi ducting harus mengikuti standard SMACNA, kecuali disebutkan lain.
3. Semua sambungan melalui ducting untuk ukuran diatas 600mm harus menggunakan
flange connection dari besi siku, dengan tebal 2mm rubber packing.
4. Dimensi ducting dan sheet metal yang digunakan sbb:
Dimensi dari sisi terpanjang Galvanised sheet metal (BJLS):
- sampai 30” : BJLS 60
- 31” sampai 44” : BJLS 80
- 45” sampai 84” : BJLS 100
- diatas 85” : BJLS 120

5. Semua sambungan ducting (flange connection, slip joint, pittsburg lock seam, dll) harus
tidak bocor dengan menggunakan sealant untuk mencegah kebocoran udara.
6. Take off harus menggunakan spliter damper yang adjustable dan kokoh.
7. Reducer (transition), duct pitch tidak boleh lebih dari 14º.
8. Jika kedua ujung ducting mempunyai dimensi yang berbeda, ketebalan ducting (BJLS)
berdasarkan dimensi yang ujung.
Lobang untuk testing
Testing hole di main supply dan return duct harus disediakan untuk menguji suhu, static
dan velocity pressure, dan lobang harus ditutup kembali dengan plastic probe.
Duct Support
Semua permukaan ducting dengan ukuran lebih dari 20” harus dibuat cross broken
Duct hanger
Duct hanger harus kuat, seperti yang ditunjukkan dalam gambar detail
Semua harus mengikuti yang berikut ini:

Ukuran Ducting Hanger Steel angle trapeze Jarak


Sampai 12” iron rod25 x 25 x 3 2m 0-5/16”
13”-30” iron rod30 x 30 x 3 2m 0-3/8”
31”-54” iron rod40 x 40 x 5 1.5m 0-1/2”
55”-84” iron rod40 x 40 x 5 1.5m 0-5/8”
Diatas 85” iron rod40 x 40 x 5 1.5m 0-5/8”

Elbow, sesuai gambar spesifikasi atau gambar detail

Semua elbow harus tipe elbow dengan radius penuh, dimensi dalam (Rt) sama dengan
lebar ducting. Tuning vanes diperlukan jika menggunakan radius elbow yang pendek (
Rt lebih kecil dari lebar ducting).
Jumlah tuning vanes ditentukan oleh logarithm chart berdasarkan (RT)/(RH). Straight
elbow harus menggunakan guide vanes double thickness, seperti yang ada di gambar
detail.
Ramset / dynabolt digunakan untuk mengencangkan konstruksi hanger ke beton.
Flexible connection
- Kontraktor harus memasang flexible connection dari double sheet glass cloth,
dengan ketebalan 0.65mm atau lebih, fire resistant kedalam/keluar ducting dari
Fan, AHU atau FCU.
- Panjang dari flexible connection tidak boleh lebih dari 30mm dan tidak boleh ada
kebocoran dalam sambungan.
- Instalasi harus dilaksanakan dengan benar dan lurus.
d. Aluminium Flexible Round Duct
Aluminium flexible round duct dari 2 lapis aluminium laminated incapsulating dengan steel
spring helix dan wire spacing 2mm, tipe fire resistant. Maximum working pressure 5 inch
H2O dan lengkap dengan isolasi (spesifikasi sama dengan isolasi ducting). Flexible duct ke
peralatan menggunakan metal quick clamp.
e. Fire Resistant Duct
1. Semua pekerjaan ducting yang berhubungan dengan fire control, smoke (stairwell
pressurization, smoke dust, ducting melalui fire wall) harus fire rating untuk 2 (dua) jam.
2. Konstruksi duct adalah zinc coated sheet metal (BJLS 140 – tebal 1.37mm) dengan
sambungan las untuk sambungan horisontal dan gasket untuk sambungan cross.
3. Duct dihubungkan langsung dengan fan, tidak boleh ada canvass flexible joint.
f. Volume Dampers
Volume dampers dipasang sesuai spesifikasi dalam gambar. Volume dampers dari tipe single
/ multi blade. Blades 1.6mm plat besi, dan harus dapat beroperasi dengan baik. Konstruksi
harus kokoh, tanpa getaran yang disebabkan oleh aliran udara, dan dapat di pasang di
mounting yang diminta.
g. Fire Dampers
1. Fire dampers dipasang sesuai dengan gambar. Fire dampers terbuat dari tipe single/
multi blade. Fire dampers harus lengkap dengan fusible link bar dan fusible link frame,
dan blade terbuat dari plat baja 1.6mm. Fuse harus mempunyai 70ºC melting point.
Konstruksi dari blade sedemikian rupa sehingga dalam posisi horisontal, titik berat dari
blade akan otomatis jatuh dan menutup ketika fuse link diputus. Rangka dan blade
lengkap dengan angle stop, spring catch, dsb (Gambar konstruksi harus disetujui oleh
Konsultan MK sebelum dipasang).
2. Setiap fire damper harus lengkap dengan access duct dan access door pada ceiling untuk
maintenance.

h. Grille, Register, Diffuser, Louvers


1. Diffuser, grille, dan register harus terbuat dari aluminium anodized profile.
Diffuser/grille dipasang di ceiling menggunakan rubber sponge, tebal 6mm.
2. Diffuser, grille, dan register di cat dengan powder coating. Warna ditentukan oleh
Arsitek/Pemilik.
3. Supply air diffuser harus menggunakan volume damper.
4. Supply air diffuser untuk ruang operasi dan isolasi (OT dan Isolation) harus terbuat dari
stainless steel SS 304, perforated dengan panjang=600mm dan lebar=600mm, lengkap
dengan box dan HEPA filter. Ukuran HEPA filter : panjang=600mm, lebar=600mm, dan
tebal=150mm.
5. Supply air register harus mempunyai vertical dan horizontal blade dengan adjustable
deflections dan menggunakan volume damper.
6. Return air dan exhaust air grille mempunyai konstruksi yang sama seperti supply air
register, tapi tanpa volume damper.
7. Damper dari diffuser/register dari galvanized iron sheet BJLS 80, dengan tipe: Opposed
blade damper. Finishing: cat hitam. Konstruksi harus kuat, non vibration yang
disebabkan oleh aliran udara, dan duduk diatas mounting yang dibutuhkan. Tidak boleh
ada baut pada permukaan diffuser/grille/register.
8. Tipe diffuser adalah 1,2,3 dan 4 slot, bahan dari aluminium anodized dan di cat powder
coating dengan warna yang ditentukan oleh Arsitek/Pemilik.
9. Slot harus mempunyai deflector yang baik dalam konstruksinya sehingga pola aliran
mengikuti standard yang diminta dan tidak bergeser karena aliran udara.
10. Jika slot diffuser adalah continuous, maka sambungan diantaranya harus menggunakan
alignment strip.
11. Linear grille adalah tipe 1,2,3 dan 4 bar, bahan dari aluminium anodized dan di cat
dengan powder coating dengan warna yang ditentukan oleh Arsitek/Pemilik.
12. Jika linear grille adalah continuous, maka sambungan diantaranya harus menggunakan
alignment strip.
13. Linear grille harus mempunyai fixed flow direction dalam bentuk stretching BAR dalam
konstruksinya, sehingga aliran yang dihasilkan memenuhi standard yang diminta.
i. Louvers
Louvers dari galvanized atau aluminium seperti disebutkan dalam gambar atau seperti yang
diminta oleh Arsitek, dengan tebal 1mm. Setiap instalasi louver harus lengkap dengan bird
(insect) screen pada bagian dalam. Louvers effective area harus lebih besar dari 50% surface
area.

4.2. Instalasi
a. Umum
Semua peralatan dan kelengkapannya harus dipasang sesuai dengan instruksi instalasi yang
terdapat di brosur atau publikasi dari pabrik pembuat dan diterima secara teknis dan
praktikal.
b. Pondasi Peralatan
Semua fondasi untuk peralaan dan kelengkapannya harus sedemikian rupa sehingga semua
bagian dari peralatan berada didalam fondasi. Berat berarti berat operasi dari peralatan.
c. Platform
Untuk peralatan, ducting, piping, asesoris dan peralatan yang bergantung lainnya dan
terpasang pada suatu platform, maka platform harus diperkuat dengan rangka kanal baja,
di las atau di baut, atau melekat dengan kuat pada rangka, dan dijamin tidak ada getaran
selama operasi.

5. PEKERJAAN TESTING, ADJUSTING & BALANCING


5.1. Umum
Pekerjaan Testing, Adjusting dan Balancing (TAB) pada dasarnya mengikuti standard/instruksi
umum seperti NEBB, ASHRAE, dan SMACNA dengan menggunakan peralatan ukur yang sesuai
untuk pekerjaan TAB.
5.2. Peralatan Ukur
Kontraktor paling tidak harus mempunyai alat ukur sbb:
a. Pengukuran air flow velocity
- Pitot tube with inclined manometer
- Anemometer
- Hood untuk mengukur air flow di diffuser
b. Pengukuran temperatur udara
- Sling psychrometric
- Thermometer
c. Pengukuran rotasi (rpm)
- Tachometer atau sejenis
d. Pengukuran listrik
- Voltmeter
- Amperemeter
e. Pengukuran tekanan
- Barometer / pressure gauge
5.3. Pelaksanaan TAB
a. TAB harus dilaksanakan secara detail terhadap seluruh sistem dan bagiannya, sehingga
pengukuran seperti yang ada dalam rencana dapat tercapai atau mendekati.
b. Dalam pelaksanaan TAB, pengukuran dilakukan tidak hanya terhadap apa yang telah
disebutkan dalam rencana, tetapi juga terhadap apa yang dibutuhkan untuk menentukan
posisi dan kemampuan peralatan, dan yang diperlukan untk pemeliharaan dan operasi.
c. Semua pelaksanaan dan pengukuran terhadap hal yang tidak disebutkan dalam gambar
rencana harus dijelaskan dalam formulir, dimana formulir ini harus telah disetujui oleh
Konsultan MK sebelumnya.
d. Pelaksanaan TAB dilakukan oleh ahli yang berpengalaman dan mempunyai keahlian dalam
bidang masing-masing.
e. Konsultan MK harus hadir pada pelaksanaan TAB, dimana hasil pengukuran harus disaksikan
dan di tanda tangani oleh Konsultan MK.
f. Sebelum pelaksanaan TAB, Kontraktor harus mempersiapkan rencana kerja dari prosedur
pelaksanaan setiap pekerjaan, dan prosedur ini harus di diskusikan dan disetujui oleh
Konsultan MK.
g. Sebelum TAB, Kontraktor harus mempersiapkan semua hal yang akan diukur dalam sebuah
daftar.
5.4. Air Distribution Sistem Balancing
Prosedur Testing dan Balancing
a. Test dan setel blower rotation dengan design condition
b. Test dan catat motor full load ampere
c. Ukur dengan pitot tube (tube reverse) untuk mendapatkan cfm dari fan seperti rencana.
d. Test dan catat static pressure pada inlet dan outlet dari fan (blower).
e. Test dan setel cfm untuk sirkulasi udara.
f. Test dan setel dengan persyaratan diluar untuk setiap FCU atau Indoor unit.
g. Test dan catat temperatur dry bulb dan wet bulb dari udara yang masuk dan keluar dari coil.
h. Setel cfm yang diperlukan oleh semua main branch.
i. Setel kebutuhan cfm untuk setiap zone (ruangan).
j. Test dan setel setiap diffuser/grille dan lakukan re checking terhadap performance dari
diffuser/register/grille.
k. Identifikasi ukuran dan tipe dari setiap diffuser/register/grille dan lakukan re-checking
terhadap performance dari diffuser/register/grille.
5.5. Air Flow Sistem Balancing
Prosedur Testing dan Balancing
a. Tahap 1
• Buka semua valve fully open, termasuk valve dalam area cooling coil
• Buka dan bersihkan semua strainer
• Periksa apakah kondisi udara didalam sistem telah bersih dan treated.
• Periksa rotasi underneath
• Periksa apakah ada gelembung udara dalam expansion tank dan apakah air sudah penuh.
• Periksa apakah ada udara yang terperangkap dalam sistem untuk seluruh ventilasi udara
dalam circuit.
• Periksa apakah ada udara yang terperangkap dalam system circuit, jika ada, pasang air
vent.
• Setel semua temperature control sehingga cooling coil akan bekerja (control valve akan
fully open).
• Sebelum pelaksanaan air flow balancing system ini, yakinkan bahwa air flow sebelumnya
telah di balance dengan benar.
b. Tahap 2
• Chilled water flow sesuai design
• Setel chilled water flow yang melalui AHU/FCU.
• Lakukan balancing untuk mendapatkan jumlah aliran dalam coil.
• Jika hasil balancing sesuai design, buat marking pada setting dan catat semua data.
c. Tahap 3
Setelah Tahap 1 dan 2 selesai dikerjakan, lakukan hal berikut :
• Setelah semua adjustment pada cooling coil, periksa lagi setting di pompa. Adjust ulang
jika perlu.
• Periksa dan catat kondisi berikut pada setiap cooling coil:
- Entering dan leaving chilled water temperature.
- Entering dan leaving air temperature pada cooling coil.
- Pressure drop pada setiap coil.
- Tekanan pada suction dan discharge dari pompa dan final t.d.h.
- Rated dan running ampere dari pompa.

6. SPESIFIKASI TEKNIS
No Deskripsi Spesifikasi
1 Air Handling Unit
• Type DX System
• Frame Anodized Thermal Break Extruded Aluminum
• Finishing Precoated Galvanized/Polyester Powder Coating
• Panel Thickness 2" Double Skin Polyurethane (INJECTED) Insulated Panel
• Blower Centrifugal Backward Double Inlet/Plug Fan direct drive
(motor dan blower, dikopel secara langsung)
• Motor TEFC Motor (Belt Drive Inside Installatio)
2 Outdoor Unit
• Type Air Cooled Condensing Unit
• Compressor Hermetic Scroll Type/ M
• Fan Condensor Direct Driven Propeller
• Control System HPS, LPS, Thermal Overload, Phase Failure Protection
3 Supply Fan Centrifugal Cabinet
4 Exhaust Fan Centrifugal Cabinet
5 Variable Speed Drive Altivar 2.1 (HVAC Application)
6 Flow Measuring System Magnasense
7 Differential Pressure Gauge Magnehelic, 0 – 60 Pa for room, 0 – 500 Pa for filter
8 Indoor Unit VRF
9 Outdoor Unit Air Cooled Condensing Unit VRF
10 Pre Filter Washable, efisiensi 25 – 45 %, Alumunium Frame with guard
11 Medium filter Efisiensi 85 – 95%, disposable, plastic frame
HEPA Filter (Ceiling Type) Micro fibre media, efisiensi 99.99% DOP Test @ 0.3 micron
12
(H13). Alumunium frame, dove tail interlocking gasket
13 HEPA Filter Ceiling Module
• Body Material Zincalum 1.5 mm thickness powder coating finished
• Perforated Material Mild Steel, powder coating
• Insulation Material Laminated Foam with aluminum foil face
14 Pre/Medium Filter Housing
• Frame Anodized Thermal Break Extruded Aluminum
• Finishing Precoated Galvanized/Polyester Powder Coating
• Panel Thickness 2" Double Skin Polyurethane (INJECTED) Insulated Panel
15 Ducting
• Material Galvanized sheet
• Thickness 0.5 ~ 0.8 mm
16 Duct Insulation (Supply AC) PE Insulation 20 mm
Duct Insulation (Return &
17
Exhaust) PE Insulation 13 mm
18 Return Air Grille SS304 Area OT & Isolasi
Fresh Air Grille Alluminum Natural Anodized Corridor Clean&Corridor Semi
19
Clean
20 Volume Damper Alluminum Natural Anodized
21 Refrigerant Pipe Copper Tube (ASTM B280)
22 Refrigerant Pipe Insulation Closed-cell elastomeric
23 Drainage Pipe Poly Vinile Chloride
24 Drainage Pipe Insulation Elastomeric Nitrile Foam, 10 mm thickness
25 Filter Drier Hermetic Liquid Line Filter Drier
26 Sight glass Hermetic Moisture Indicator
27 Refrigerant Suitable
28 Power Panel Box Mild Steel Powder Coating (tekstur kulit jeruk)
29 Main Component MCB, MCCB, Contactor
30 Power Cable [Link]
31 Control Cable NYMHY/ Belden
32 Thermostat Digital
33 Kabel Leader Galvanil steel
7. GARANSI, PEMELIHARAAN DAN TRAINING OPERATOR
Kontraktor harus memberikan Garansi-garansi berupa: Sertifikat of origin, jaminan ketersediaan spare
part selama minimal 10 tahun, jaminan atau garansi pabrik pembuat peralatan utama selama 5 tahun
dan jaminan masa pemeliharaan selama 1 tahun dan kontaktor harus memberikan buku buku
panduan dan tata cara standard untuk mengoperasikan (Standards Operational Procedures, SOP),
tata cara standard pengoperasian pada keadaan-keadaan emergensi atau darurat (Standards
Emergency Procedures, SEP) dan tata cara standard untuk perawatan (Standards Maintenance
Procedures, SMP).

8. KONTRAKTOR
14.1. Kontraktor wajib mempelajari dan memahami semua undang-undang dan peraturan-peraturan,
persyaratan umum maupun suplementernya, persyaratan pabrik pembuat unit-unit Air
Conditioning, exhaust fan, ceiling fan, buku-buku dokumen pelelangan, bundel gambar-gambar
serta petunjuk-petunjuk tertulis yang telah dikeluarkan.
14.2. Kontraktor wajib mempelajari dan memeriksa juga pekerjaan pelaksanaan dari pihak-pihak
Kontraktor lain yang ikut mengerjakan proyek ini apabila pekerjaan pihak-pihak lain dapat
mempengaruhi kelancaran pekerjaannya. Bilamana sampai terjadi gangguan maka Kontraktor
wajib memberikan saran-saran perbaikan untuk segenap pihak.
14.3. Kontraktor harus memiliki sertifikasi iso untuk kualitas pekerjaan yang di laksanakan.

9. KOORDINASI DENGAN PIHAK LAIN


9.1. Kontraktor wajib berkoordinasi dengan pihak-pihak lainnya demi kelancaran pelaksanaan
pekerjaan proyek ini. Terutama koordinasi dengan pihak kontraktor sipil, elektrikal,
perlindungan terhadap kebakaran dan interior.
9.2. Kontraktor wajib konsultasi dengan pihak-pihak lainnya agar supaya sejauh mungkin
dipergunakan peralatan-peralatan yang seragam dan merek yang sama untuk seluruh bangunan
proyek ini agar mudah pemeliharaannya, kecuali ditentukan lain oleh Konsultan MK.
9.3. Untuk semua peralatan dan mesin yang disediakan atau diselesaikan oleh pihak lain atau yang
dibeli dari pahak lain yang termasuk dalam lingkup instalasi ini, Kontraktor bertanggung jawab
penuh atas segala peralatan dan pekerjaan ini.

[Link]
Pekerjaan Testing, Adjusting dan Balancing (TAB) pada dasarnya mengikuti standard/instruksi umum
seperti NEBB, ASHRAE, dan SMACNA dengan menggunakan peralatan ukur yang sesuai untuk
pekerjaan TAB.

11. AS-BUILT DRAWINGS


11.1. Selama pelaksanaan pemasangan instalasi ini berjalan, Kontraktor harus memberikan tanda-
tanda dengan pensil atau tinta merah pada 2 set gambar Air Conditioning system diantaranya
pemipaan Chilled water, ducting, electrical wire, BAS dan lainnya atas segala perubahan,
penghapusan atau penambahan pada rencana instalasi atau dari gambar tersebut.
11.2. Kontraktor harus menyerahkan pada Konsultan gambar instalasi sesungguhnya sebagaimana
yang terpasang pada bangunan, memuat lengkap semua perubahan yang telah dilakukan atau
as-built drawing atau gambar terlaksana.
11.3. Ukuran kertas untuk as-built drawing adalah sesuai dengan ukuran kertas gambar rencana.
11.4. As-built drawing yang telah disetujui diserahkan lengkap dengan soft copynya dalam compact
disk (CD) atau DVD disk.

12. PERSETUJUAN PABRIK PEMBUAT


Khusus Pekerjaan Air Conditioning

No Material
1 AC Sistem VRF/VRV Daikin, Setara
2 Air Handling Unit Daikin, Setara
3 Outdoor Unit Daikin, Setara
4 Pre Filter Lokal
5 Medium filter Lokal
6 HEPA Filter (Ceiling Type) Lokal
7 Pre/Medium Filter Housing Lokal
8 Ducting PU TDI, TD, First Duct
9 Duct Insulation (Supply AC) ARMAFLEX, SUPERLON, PROFLEX
Duct Insulation (Return &
10
Exhaust) ARMAFLEX, SUPERLON, PROFLEX
11 Return Air Grille CATURA, SARANA, LOCAL
12 Fresh Air Grille CATURA, SARANA, LOCAL
13 Volume Damper Lokal
14 Refrigerant Pipe KEMBLA, TRUST, DENJI
15 Refrigerant Pipe Insulation insulflex, aeroflex, thermaflex
16 Drainage Pipe Rucika
17 Drainage Pipe Insulation Superlon
18 Filter Drier Emerson Control
19 Sight glass Emerson Control
20 Refrigerant DUPONT CMOS R410a
21 Power Panel Box Local
22 Main Component Telemechanique/Schneider
23 Power Cable Supreme, Kabelindo, Kabelmetal
24 Control Cable BELDEN, TOYOKUDENSEN
25 Thermostat Carel Italy, digital, rail mounted atau setara
26 Kabel Leader Tri Abadi

13. AS-BUILT DRAWINGS


13.1. Selama pelaksanaan pemasangan instalasi ini berjalan, Kontraktor harus memberikan tanda-
tanda dengan pensil atau tinta merah pada 2 set gambar Air Conditioning system diantaranya
pemipaan Chilled water, ducting, electrical wire, BAS dan lainnya atas segala perubahan,
penghapusan atau penambahan pada rencana instalasi atau dari gambar tersebut.
13.2. Kontraktor harus menyerahkan pada Konsultan gambar instalasi sesungguhnya sebagaimana
yang terpasang pada bangunan, memuat lengkap semua perubahan yang telah dilakukan atau
as-built drawing atau gambar terlaksana.
13.3. Ukuran kertas untuk as-built drawing adalah sesuai dengan ukuran kertas gambar rencana.
13.4. As-built drawing yang telah disetujui diserahkan lengkap dengan soft copynya dalam compact
disk (CD) atau DVD disk.

[Link]
14.1. Kontraktor wajib mempelajari dan memahami semua undang-undang dan peraturan-peraturan,
persyaratan umum maupun suplementernya, persyaratan pabrik pembuat unit-unit Air
Conditioning, exhaust fan, ceiling fan, buku-buku dokumen pelelangan, bundel gambar-gambar
serta petunjuk-petunjuk tertulis yang telah dikeluarkan.
14.2. Kontraktor wajib mempelajari dan memeriksa juga pekerjaan pelaksanaan dari pihak-pihak
Kontraktor lain yang ikut mengerjakan proyek ini apabila pekerjaan pihak-pihak lain dapat
mempengaruhi kelancaran pekerjaannya. Bilamana sampai terjadi gangguan maka Kontraktor
wajib memberikan saran-saran perbaikan untuk segenap pihak.
14.3. Kontraktor harus memiliki sertifikasi iso untuk kualitas pekerjaan yang di laksanakan

[Link] DENGAN PIHAK LAIN


15.1. Kontraktor wajib berkoordinasi dengan pihak-pihak lainnya demi kelancaran pelaksanaan
pekerjaan proyek ini. Terutama koordinasi dengan pihak kontraktor sipil, elektrikal,
perlindungan terhadap kebakaran dan interior.

15.2. Kontraktor wajib konsultasi dengan pihak-pihak lainnya agar supaya sejauh mungkin
dipergunakan peralatan-peralatan yang seragam dan merek yang sama untuk seluruh bangunan
proyek ini agar mudah pemeliharaannya, kecuali ditentukan lain oleh Konsultan MK.
15.3. Untuk semua peralatan dan mesin yang disediakan atau diselesaikan oleh pihak lain atau yang
dibeli dari pahak lain yang termasuk dalam lingkup instalasi ini, Kontraktor bertanggung jawab
penuh atas segala peralatan dan pekerjaan ini.
[Link]
Pekerjaan Testing, Adjusting dan Balancing (TAB) pada dasarnya mengikuti standard / instruksi umum
seperti NEBB, ASHRAE, dan SMACNA dengan menggunakan peralatan ukur yang sesuai untuk
pekerjaan TAB.
BAB IV
PENUTUP

Pelaksana harus melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan pada Dokumen


Perencanaan PEMBANGUNAN PUSAT KESEHATAN IBU DAN ANAK TAHAP IV , yaitu rencana kerja
dan syarat-syarat ketentuan teknis, rencana anggaran biaya dan gambar perencanaan, yang saling
mendukung dan melengkapi. Kekurangan dan permasalahan- permasalahan pada dokumen
tersebut, baik yang terjadi didalamnya maupun ketidakcocokan antara dokumen atau dengan
peraturan-peraturan yang terkait, harus diselesaikan pada rapat monitoring yang dihadiri oleh
Pemberi Tugas, Perencana, Pengawas Teknis dan Pelaksana (Penyedia Fisik) yang bertempat di
Direksi Keet dengan saling mendukung untuk mendapatkan hasil yang terbaik sesuai dengan
Peraturan yang berlaku.

Anda mungkin juga menyukai