0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan13 halaman

Laporan Inspeksi PLTA Lau Gunung Unit 1

Laporan inspeksi PLTA Lau Gunung Unit 1 menunjukkan adanya kerusakan serius pada komponen seperti gap ring, runner, dan guide vane yang dapat mengakibatkan lonjakan suhu dan kebocoran air. Temuan ini mengindikasikan bahwa operasi unit harus dihentikan segera untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, dengan rekomendasi perbaikan dan penggantian komponen yang diperlukan. Tim merekomendasikan pengelolaan sedimentasi dan perbaikan pada shaft sleeve untuk meningkatkan kinerja sistem.

Diunggah oleh

iamnotfajar7
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan13 halaman

Laporan Inspeksi PLTA Lau Gunung Unit 1

Laporan inspeksi PLTA Lau Gunung Unit 1 menunjukkan adanya kerusakan serius pada komponen seperti gap ring, runner, dan guide vane yang dapat mengakibatkan lonjakan suhu dan kebocoran air. Temuan ini mengindikasikan bahwa operasi unit harus dihentikan segera untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, dengan rekomendasi perbaikan dan penggantian komponen yang diperlukan. Tim merekomendasikan pengelolaan sedimentasi dan perbaikan pada shaft sleeve untuk meningkatkan kinerja sistem.

Diunggah oleh

iamnotfajar7
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

INSPECTION REPORT

2x5MW FRANCIS TURBINE PLTA LAU GUNUNG

UNIT 1

I. PENDAHULUAN
Listrik merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan sehari-sehari. Sebagai contoh
PLTA Lau Gunung yang turut menyumbang distribusi Listrik untuk daerah Sumatera Utara.
Kegagalan atau kerusakan pada pembangkitan Listrik tentunya sangat menghambat dari sisi
produksi maupun distribusi Listrik. Dalam hal ini, tim Java mendapat kesempatan untuk
melakukan penggantian shaft seal unit 1 dan 2 PLTA Lau Gunung dikarenakan adanya temuan
kebocoran pada shaft seal serta terkontaminasinya oli dengan air. Namun pada saat proses
pembongkaran, ditemukan beberapa temuan yang dapat menghambat proses produksi
selanjutnya.
II. INSPECTION
Pada Tanggal 3 Februari tim menuju site Lau Gunung dan melakukan efektif kerja pada
tanggal 4 dengan proses pembongkaran sebagai berikut

Proses Dismantling Draft Tube


Proses Dismantling Intermediet Ring

Proses Dismantling Runner

Disela-sela proses dismantling, tim melakukan pengukuran gap pada downstream labyrinth
ditemukan beberapa temuan sebagai berikut
0 90 180 270
Sisi
2,25 2,65 2,85 2,25

Gap pada sisi downstream labyrinth menunjukan hasil yang cukup besar, hal ini akan
berpengaruh terhadap kenaikan temperature axial bearing dikarenakan memicu kenaikan
axial force. Selain hal tersebut, ditemukan adanya pengikisan yang cukup parah pada
upstream labyrinth terlampir pada dokumentasi dibawah ini.
Kondisi gap ring pada sisi upstream terkikis habis oleh sedimen. Hal ini juga dapat memicu
kenaikan temperature sisi axial bearing. Bushing guide vane mengalami kejadian yang sama,
terlihat kikisan terjadi pada area collar bushing guide vane.

Selain pada area guide vane, ditemukan terkikisnya bagian runner turbine pada area balancing
yang hampir lepas seperti yang terlihat seperti dibawah ini
Abrasif pada runner
III. ANALISIS
1. Kondisi Upstream Labyrinth
Kondisi terkikisnya material Gap Ring pada sisi upstream terbilang cukup parah
dikarenakan sudah mulai mengkikis base material. Terkikisnya area base metal pada head
cover dapat memicu besarnya volume air yang mengalir dan memicu lonjakan
temperature serta besarnya kebocoran air.

Kondisi seperti ini jika dilanjutkan, dapat memicu kerusakan pada gap ring, kebocoran tinggi,
kerusakan pada guide vane, serta besarnya axial force yang dapat memicu kerusakan pada
bearing pad terlihat seperti pada grafik berikut

Grafik Hubungan Temperature dengan Ouput Power


Bulan Januari 2025
80 8
70 7
Output Power (MW)

60 6
Temp (°C)

50 5
40 4
30 3
20 2
10 1
0 0
Sunday, December
Friday,29,
January
Wednesday,
2024 3, 2025
Monday,
January January
Saturday,
8, 2025 13,Thursday,
January
2025 18,January
Tuesday,
2025 23,January
Sunday,
2025 28,
February
2025 2, 2025
Bulan

Axial DE 1 Temp Axial DE 2 Temp Power Output


Terlihat pada grafik bahwa temperature rata-rata operasi pada unit 1 dimana pada operasi 3
hingga 4 MW temperature bearing telah mencapai batas kritis operasi. Hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor terutama besaran gap antar runner dan labyrinth yang terbilang sudah
cukup besar. Selain hal itu, pembesaran gap serta pengikisan material menimbulkan efek
bocoran seperti gambar dibawah ini.

Gambar diatas merupakan limpasan air yang masuk kedalam sistem oil yang berpotensi
masuk melalui celah bearing akibat besarnya kebocoran pada shaft seal.

Kondisi Gap Ring yang sudah habis


Dengan kondisi gapring tersebut, kami sudah tidak menyarankan untuk dilakukannya operasi
dikarenakan umur gap ring kemungkinan hanya bertahan kuranng lebih 2 minggu
2. Runner

Bagian diameter runner terkikis 1,5mm setelah beroperasi 4 tahun. Garis putus-putus
menunjukan area pengikisan yang terjadi pada runner existing jika dibandingkan dengan
runner desain. Selain pengikisan pada diameter, terjadi pengikisan abrasive di bagian ring,
cone, dan sudu ditunjukan oleh beberapa gambar berikut :

Pengikisan pada area bekas balancing


Pengikisan pada ring runner dan blade

Kavitasi pada blade runner

Kondisi abrasive pada runner terbilang cukup parah, estimasi umur runner dapat
bertahan adalah kurang lebih 6 bulan.

3. Guide Vane
Kondisi guide beserta bushing collar sudah terkikis parah. Hal ini dapat menyebabkan
patahnya as guide vane dalam waktu dekat, pengikisan dimensi sudah terjadi sangat parah.
Jika dilihat pada drawing O&M dari Pabrikan, bushing collar guide vane bertipe Flange
Bushing. Kondisi sekarang yang terpasang adalah bushing collar serta as guide vane telah
terkikis oleh sedimen.

Bushing Collar Guide Vane terkikis habis dan as guide vane telah menipis. Jika
dilanjutkan dengan kondisi ini kemungkinan guide vane hanya akan bertahan kurang lebih
3 bulan.

4. Shaft Seal
Setelah terinstallnya shaft seal yang baru masih terdapat indikasi tetesan air berdiameter
≤2.3mm dengan interval waktu kuurang lebih 1 detik. Dari hal ini menurut Analisa serta
data yang ditemukan dilapangan, didapati adanya pengurangan dimensi pada shaft sleeve
dudukan shaft seal yang dapat dilihat pada foto dibawah ini.

Dimana hal ini berpengaruh terhadap kesempurnaan shaft seal terpasang sekaligus
mengurangi performa shaft seal dalam bekerja. Terbukti adanya perbedaan Panjang
potongan pada shaft seal seperti terlampir pada gambar berikut :

Shaft Seal sisi DE terpotong 3mm Shaft Seal sisi NDE terpotong 13mm
Kebocoran ini juga dipicu tidak terpasangnya Gap Ring sisi upstream yang berpotensi menaikan
volume air mengalir kearah shaft seal. Meski secara historical tiidak ditemukan adanya
kebocoran saat running tanpa menggunakan gap ring, hal ini memungkinkan dikarenakan kondisi
shaft sleeve serta permukaan surface head cover. Setelah kerusakaan yang disebabkan karena tidak
terpasangnya gap ring ini, volume air yang masuk kearah shaft seal juga terhitung semakin banyak.
Menurut data dari AMS (American Meteorological Society) dengan ukuran tetesan air berdiameter
≤2.3mm memiiliki volume air terukur 0,05ml. Maka jika tetesan terjadi dalam interval 1 detik. Jumlah
air yang bocor selama 1 jam adalah.

𝑉𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝑉𝑎𝑖𝑟 𝑥 3600 = 0,05 𝑥 3600 = 180𝑚𝑙

Jika semula saat terpasang gap ring volume dan kecepatan air sempat tereduksi oleh gap antara gapring
upstream dan runner, pada saat ini kondisi volume air bertambah berkali kali lipat serta kecepatan air
keluaran ke shaft seal sama dengan kecepatan air yang masuk kedalam runner.
IV. KESIMPULAN
1. Gap antar Gap ring dan runner sudah cukup besar.
2. Terjadinya lonjakan temperature pada sisi thrust pad bearing axial 1
3. Kondisi Gap Ring yang sudah tidak layak pasang.
4. Kebocoran pada Sealing System yang cukup parah.
5. Kondisi terkikisnya bushing guide vane yang cukup parah.
6. Terkikisnya base metal headcover yang cukup parah.
7. Lonjakan temperature axial pad bearing yang signifikan.
8. Kondisi shaft sleeve area shaft seal didapati ketidakrataan permukaan

V. SARAN
1. Melakukan perbaikan atau penggantian gap ring dengan penyesuaian dimensi terhadap
runner existing untuk sementara.
2. Melakukan perbaikan atau penggantian gap ring dengan ukuran normal jika runner baru
sudah available
3. Melakukan perbaikan pada sisi head cover
4. Melakukan manajemen sedimentasi dengan optimal
5. Melakukan pengkajian material yang digunakan pada gap ring
6. Melakukan perbaikan pada guide vane untuk menghindari patahan yang kemungkinan
terburuk terjadi
7. Melakukan surface treatment pada runner.
8. Melakukan perbaikan pada shaft sleeve menggunakan belzona untuk sementara atau
melakukan penggantian.

Anda mungkin juga menyukai