0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan10 halaman

Pengelolaan Keuangan Desa yang Transparan

Dokumen ini membahas tentang Dana Desa (DD) dan pentingnya akuntansi dalam pengelolaan keuangan desa untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas. Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 memberikan kewenangan lebih kepada desa dalam pengelolaan dana dan pelayanan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian penerapan akuntansi Dana Desa di Desa Tanah Merah dengan peraturan yang berlaku.

Diunggah oleh

noufalalim75
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan10 halaman

Pengelolaan Keuangan Desa yang Transparan

Dokumen ini membahas tentang Dana Desa (DD) dan pentingnya akuntansi dalam pengelolaan keuangan desa untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas. Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 memberikan kewenangan lebih kepada desa dalam pengelolaan dana dan pelayanan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian penerapan akuntansi Dana Desa di Desa Tanah Merah dengan peraturan yang berlaku.

Diunggah oleh

noufalalim75
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dana Desa (DD) merupakan kewajiban pemerintah pusat untuk

mengalokasikan anggaran transfer Desa di dalam APBN sebagai wujud

pengakuan dan penghargaan Negara kepada Desa. Prioritas penggunaan DD

diatur melalui Peraturan Menteri Desa Pembangunan Daerah tertinggal, dan

Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 tentang prioritas

penggunaan Dana Desa Tahun 2017. Dalam UU Desa memberikan dampak bagi

aparat Desa untuk melaporkan pengelolaan keuangan Desa yang transparan

akuntabel dan parsitipatif. Oleh karena itu, diperlukan penatausahaan keuangan

Desa. Karena pencatatan keuangan dan pelaporan keuangan merupakan hal

krusial yang harus transparan dan terarah.

Maka dari itu Pemerintah mengeluarkan kebijakan dengan menggunakan

Akuntansi Desa agar dapat mengelola dana Desa agar berjalan dengan baik.

Akuntansi Desa adalah pencatatan dari proses transaksi yang terjadi di desa,

dibuktikan dengan nota-nota kemudian dilakukan pencatatan dan pelaporan

keuangan sehingga akan menghasilkan informasi dalam bentuk laporan keungan

yang digunakan pihak-pihak yang berhubungan dengan Desa. Desa sebagai unit

organisasi pemerintah yang berhadapan langsung dengan masyarakat dengan

segala latar belakang kepentingan dan kebutuhannya mempunyai peran yang

sangat strategis. Dikarenakan kemajuan dari sebuah Negara pada dasarnya sangat

1
2

ditentukan oleh kemajuan desa, karena tidak ada Negara yang maju tanpa

Provinsi yang maju, tidak aja Provinsi yang maju tanpa Kabupaten yang maju,

dan tidak badan Kabupaten yang maju tanpa Desa dan Kelurahan yang maju. Ini

berarti bahwa basis kemajuan sebuah Negara ditentukan oleh kemajuan

[Link] memiliki peran yang penting, khususnya dalam pelaksanaan tugas di

bidang pelayanan [Link] kewenangan-kewenangan yang lebih besar

disertai dengan pembiayaan dan bantuan sarana dan prasarana yang memadai

mutlak diperlukan guna penguatan otonomi desa menuju kemandirian Desa.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa mulai disahkan pada

tanggal 15 Januari 2014 setelah sebelumnya melalui pembahasan selama kurang

lebih 7 Tahun oleh anggota legislatif. Kelahiran UU tentang Desa ini

menggantikan peraturan tentang desa yang tertuang dalam UU No. 32 Tahun

2004tentang Pemerintahan Daerah dan PP No. 72 Tahun 2005 tentang

[Link] penggunaan DD diatur melalui Peraturan Menteri Desa

Pembangunan Daerah tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 22

Tahun 2016 tentang prioritas penggunaan Dana Desa Tahun 2017 Peraturan

perundangan tersebut merupakan political will dari pemerintah yang diharapkan

akan membawa perubahan-perubahan penting yang ditujukan untuk meningkatkan

pelayanan kepada masyarakat serta meningkatkan kesejahteraan dan keberdayaan

masyarakat desa. Dengan diterbitkannya UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa,

posisi Pemerintahan desa menjadi semakin [Link] Undang-Undang

tentang desa tersebut disamping merupakan penguatan status Desa sebagai

Pemerintahan masyarakat Desa.


3

Undang-undang No. 6 Tahun 2014 tentang desa tersebut, memberikan

perubahan secara signifikan dalam tata kelola pemerintahan desa, Alokasi Dana

Desa paling sedikit 10% dari dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota

dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah setelah dikurangi Dana Alokasi

Khusus. Penggunaan anngaran alokasi Dana Desa adalah sebesar 30% untuk

belanja aparatur dan operasional pemerintahan desa, sebesar 70% untuk biaya

pemberdayaan masayarakat. Dari sisi regulasi, desa tidak lagi menjadi bagian UU

No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Desa-desa di Indonesia akan

mengalami reposisi dan pendekatan baru dalam pelaksanaan pembangunan dan

tata kelola Pemerintahannya. Pada hakikatnya UU Desa memiliki visi dan

rekayasa yang memberikan kewenangan luas kepada desa di bidanagn

penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan penggunaan desa, pembinaan

kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa berdasarkan prakarsa

masyarakat, hak asal asul dan adat istiadat desa.

Kebijakan tata kelola desa yang dimuat dalam UU desa yang baru ini

dianggap sebagai kebijakan yang membawa harapan baru dalam upaya

meningkatkan kesejahteraan masyarakat [Link] kebijakan tersebut,

diantaranya adalah alokasi anggaran yang besar kepada desa yang dimaksudkan

untuk meningkatkan anggaran desa dalam pembangunan, pelayanan, pembinaan

dan pemberdayaan masyarakat desa. Kemudian adanya pemberian penghasilan

tetap dan tunjangannya kepada kepala desa beserta perangkatnya yang diharapkan

dapat meningkatkan pelayanan kepada seluruh masyarakat Desa.


4

Berdasarkan Permendagri No 37 Tahun 2007 tentang Pedoman

Pengelolaan Keuangan Desa diharapkan dapat menjadi pedoman dalam

pengelolaan keuangan desa karena didalamnya telah mencakup berbagai prosedur

pengelolaan keuangan desa mulai dari perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan,

pelaporan sampai dengan peranggungjawaban. Disamping itu Permendagri No

113 Tahun 2014 ini mengharuskan Desa menyusun Anggaran Pendapatan dan

Belanja Desa (APBDes), Laporan Pertanggungjawaban Penyelenggaraan

Pemerintah Desa (Keuangan) yang terdiri dari: buku kas umum, buku kas harian,

buku pembantu bank, buku pembantu pajak dan neraca Desa, serta Laporan

Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (LRADes). Selain itu

Permendagri juga mengharuskan pengelolaan keuangan desa dilakukan secara

Transparan, Akuntabel dan Partisipatif serta tertib dan disiplin anggaran.

Pengelolaan keuangan Desa merupakan keseluruhan kegiatan yang meliputi

perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban,

pembinaan dan pengawasan dan laporan keuangan [Link] dalam pembuatan

laporan keuangan desa adalah sebagai berikut: 1) Membuat perencanaan

berdasarkan visi misi yang dituangkan dalam penyusunan anggaran. 2) Anggaran

yang dibuat terdiri dari akun pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Setelah

anggaran disahkan maka perlu dilaksanakan. 3) Dalam pelaksanaan anggaran

timbul transaksi. Transaksi tersebut harus dilakukan pencatatan lengkap berupa

pembuatan buku kas umum, buku kas pembantu, buku bank, buku pajak, buku

inventaris dengan disertai pengumpulan bukti-bukti transaksi. 4) Untuk

memperoleh informasi posisi keuangan, kemudian berdasarkan transaksi yang


5

terjadi dapat dihasilkan sebuah neraca. Neraca ini fungsinya untuk mengetahui

kekayaan/posisi keuangan desa. 5) Selain menghasilkan neraca untuk

pertanggungjawaban pemakaian anggaran dibuatlah laporan realisasi anggaran

desa.

Sebelumnya penelitian tentang Akuntansi Dana Desa dilakukan oleh

Kadek Sutrawati (2016) di Desa Pudaria Jaya Kecamatan Moramo. Dengan

kesimpulan bahwa peran perangkat desa dalam akuntabilitas pengelolaan dana

desa dapat dikatakan sudah berperan dapat dilihat pada akuntabilitas pengelolaan

dana desa.

Sementara penelitian yang dilakukan oleh Siti ainul Wida (2016) dengan

mengenai Akuntansi Dana Desa di Desa Pada Desa Kecamatan Rogojampi

Kabupaten Banyuwangi”. Menyimpulkan bahwa pada tahap perencanaan dan

pelaksanaan telah sesuai dengan prosedur yang berlaku dan pengelolaannya telah

dilakukan secara akuntabel dan transparan. Untuk tahap pengawasan masih belum

berjalan dengan baik karena kurangnya transparansi terhadap masyarakat.

Sedangkan untuk tahap pertanggungjawaban juga belum berjalan dengan baik

dikarenakan Sumber Daya Manusia timpelaksana dalam membuat laporan

administrasi yang masih kurang, sehingga diperlukan adanya pembinaan dan

pengawasan lebih dari pemerintah daerah.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Elsa Dwi Wahyu Dewanti

(2015) mengenai Akuntansi Dana Desa Di Desa Boreng”. Dengan kesimpulan

bahwa analisis kesesuaian perencanaan keuangan desa di Desa Boreng dengan

perencanaan keuangan desa menurut Permendagri No. 37 Tahun 2007


6

menunjukkan bahwa masih banyak ketidaksesuaian antara perencanaan keuangan

desa di Desa Boreng dengan perencanaan keuangan desa menurut Permendagri

No. 37 Tahun 2007.

Desa Tanah Merah merupakan salah satu Desa yang ada di Kecamatan

Siak Hulu. Pada tahun 2016 Desa Tanah Merah menerima Dana Desa sebesar Rp.

686.212.000. Desa Tanah Merah ini membuat Proses perencanaan dan

penganggaran keuangan desa, karena merupakan bagian dari proses perencanaan

yang merupakan salah satu bagian dari kegiatan pengelolaan keuangan Desa.

Proses perencanaan terdiri dari penyusunan RPJM Desa (Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Desa) yaitu rencana kegiatan pembangunan Desa jangka waktu

6 Tahun. Dan RKP Desa (Rencana Kerja Pemerintah Desa) adalah penjabaran

dari RPJM Desa untuk jangka 1 Tahun. Proses penganggaran yaitu dilakukan

ketika melakukan penyusunan APBDesa. Anggaran pendapatan dan belanja Desa,

adalah rencana keuangan tahunan Pemerintah Desa. APBDesa disusun

berdasarkan RKP Desa. Pengeluaran desa yang mengakibatkan beban APBDesa

tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan desa tentang APBDesa

ditetapkan menjadi peraturan Desa.

Setelah menjalani proses perencanaan tersebut dan setelah anggaran di

sahkan dalam pelaksanaan anggaran timbul transaksi. Transaksi tersebut harus

dilakukan pencatatan lengkap, maka untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran

kas secara tunai Desa Tanah Merah menyajikan Buku Kas Umum-Tunai, dan

untuk penerimaan dan pengeluaran yang berhubungan dengan uang Bank, Desa

menyajikan Buku Bank Desa. Untuk melengkapi pencatatan agar lebih jelas dan
7

lebih terperinci maka Desa Tanah Merah menyajikan Buku Pembantu Rincian

Pendapatan, Buku Kas Pembantu Kegiatan, Buku Kas Pembantu Pajak, Register

surat Permintaan Pembayaran dan Register Kwitansi Pembayaran. Setelah

pencatatan dibuat dengan jelas dan lengkap kemudian Desa Tanah Merah

membuat Laporan Realisasi Anggaran Desa (LRADes) yang menyajikan

informasi realisasi pendapatan, belanja, transfer, surplus/deficit dan pembiayaan

yang masing-masing diperbandingkan anggarannya dalam satu periode, untuk

mengetahui sisa lebih/(kurang) perhitungan anggaran. Dan membuat Buku Daftar

Inventaris yang menyajikan daftar aset yang ada di Desa Tanah Merah. Semua

pencatatan yang dilakukan memakai dasar pencatatan Chas Basis, yaitu proses

pencatatan transaksi akuntansi dimana transaksi dicatat pada saat penerimaan kas

atau pada saat mengeluarkan kas. Dan biaya di catat pada saat mengeluarakan kas.

Setelah diteliti ada beberapa permasalahan yang ditemukan di dalamnya

yaitu dalam Buku Kas Umum-Tunai penerimaan dan pengeluaran Dana Desa

tidak dipisah dengan biaya yang tidak memakai dana desa, Sehingga sisa saldo

dalam Buku Kas Umum-Tunai sebesar Rp. 60.233.750,- tidak jelas. Dalam Buku

Kas Pembantu Pajak masih menggabungkan biaya pajak yang tidak bersangkutan

dengan Dana Desa. Dalam Buku Tersebut biaya untuk BUMDes tidak disajikan

perinciannya, sehingga biaya yang digunakan untuk BUMDes yang memakai

Dana Desa yang disebutkan dalam Laporan Perubahan Anggaran Biaya sebesar

Rp. 60.000.000,-. Dan Desa Tanah merah juga tidak menyusun Laporan Kekayaan

Milik Desa.
8

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis bermaksud untuk melakukan

penelitian dengan judul :“Analisis Penerapan Akuntansi dana Desa Pada Desa

tanah Merah Kecamatan Siak Hulu”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka

rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Bagaimanakah kesesuaian penerapan akuntansi Dana Desa yang di

terapkan di Desa Tanah Merah Kecamatan Siak Hulu dengan Peraturan Mentri

Dalam Negeri No 113 Tahun 2014.

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah yang telah

dikemukakan di atas,maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui kesesuaian

Akuntansi dana desa yang diterapkan pada Desa Tanah Merah dengan Peraturan

Mentri Dalam Negri No 113 Tahun 2014.

Sedangkan manfaat dalam penelitian ini adalah :

Sesuai dengan tujuan dilakukannya penelitian ini, maka manfaat yang

diharapkan dapat diperoleh adalah sebagai berikut:

1. Bagi Penulis

Dapat menambah wawasan dalam hal penerapan prinsip-prinsip akuntansi

desa dalam pengakuan, pengukuran, penilaian, dan penyajian laporan keuangan

Desa Tanah Merah.


9

2. Bagi Kantor Desa Tanah Merah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pengembangan

ilmu akuntansi keuangan di Desa Tanah Merah.

3. Bagi Peneliti Lanjutan

Sebagai bahan pertimbangan dan masukan untuk penelitian yang sejenis

yang dapat dijadikan sebagai pembanding bagi penelitian lebih lanjut terhadap

materi yang sama sehingga penelitian ini dapat di sempurnakan.

D. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini akan dibagi menjadi

enam bab yaitu :

BAB I : PENDAHULUAN

Pada Bab ini dijelaskan mengenai latar belakang

masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat

penelitian, serta sistematika penulisan.

BAB II : TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS

Bab ini menjelaskan telaah pustaka yang berhubungan

dengan penulisan dan hipotesis serta mengemukakan

konsep operasional penelitian.

BAB III : METODE PENELITIAN

Pada Bab ini dijelaskan tentang lokasi penelitian

operasional variable penelitian, populasi, jenis dan

sumber data, teknik pengumpulan data, serta analisis

data.
10

BAB IV : GAMBARAN UMUM

Dalam Bab ini dikemukakan tentang gambaran umum

Kantor Desa Tanah Merah.

BAB V : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan membahas dan menjelaskan mengenai

hasil penelitian dan pembahasan.

BAB VI : PENUTUP

Bab ini mencakup kesimpulan, dan kemudian di berikan

beberapa saran yang bermanfaat bagi Kantor Desa

maupun bagi penulis.

Anda mungkin juga menyukai