PENERAPAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN BERMAIN RECORDER PADA MATA PELAJARAN
SBdP SISWA KELAS VB SD INPRES MINASA UPA 1 KECAMATAN
RAPPOCINI KOTA MAKASSAR
Sri Rahayu Anwar
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP UNM
Email: srirahayuanwar44@[Link]
Abstrak: Permasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya keterampilan bermain
alat music khususnya Recorder pada mata pelajaran SBdP. Rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah bagaimanakah penerapan metode demonstrasi untuk
meningkatkan keterampilan bermain recorder pada mata pelajaran SBdP siswa kelas
VB SD Inpres Minasa Upa 1 Kecamatan Rappocini Kota Makassar. Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode demonstrasi untuk meingkatkan
keterampilan bermain recorder pada mata pelajaran SBdP siswa kelas VB SD Inpres
Minasa Upa 1 Kecamatan Rappocini Kota Makassar. Pendekatakan yang digunakan
adalah kuantitatif deskriptif dan jensi penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) yang dilaksanakan sebanyak dua siklus dan setiap siklus dilaksanakan dua kali
pertemuan. Setiap siklus melalui 4 tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan,
tahap observasi, tahap reflexi. Fokus penelitian ini adalah penerapan metode
demonstrasi untuk meingkatkan keterampilan bermain recorder pada mata pelajaran
SBdP siswa kelas VB SD Inpres Minasa Upa 1 kecamatan rappocini kota makassar.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VB SD Inpres Minasa Upa 1 sebanyak 29
orang terdiri dari 14 murid laki-laki dan 15 murid perempuan. Dalam penelitian ini
peneliti bertindak sebagai observer dan guru sebagai pengajar. Teknik analisis data
adalah kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menujukkan bahwa hasil belajar
siswa pada mata pelajaran SBdP dengan ketuntasan siklus I 65,51% sedangkan
siklus II pencapaian ketuntasan keterampilan 100% pada kategori baik (B).
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa penerapan metode demonstrasi dapat
meningkatkan keterampilan bermain recorder pada mata pelajaran SBdP siswa kelas
VB SD Inpres Minasa Upa 1 Kecamatan Rappocini Kota Makassar.
Kata Kunci: keterampilan bermain recorder, pembelajaran SBdP, demonstrasi
Abstract: The problem in this study is the low skills of playing musical instruments,
especially the Recorder in SBdP subjects. The formulation of the problem in this
study is how to apply the demonstration method to improve the skill of playing the
recorder in the SBdP class of VB class students of SD Inpres Minasa Upa 1,
Rappocini District, Makassar City. This study aims to describe the application of the
demonstration method to improve the skill of playing the recorder in the VB class VB
subjects of SD Inpres Minasa Upa 1, Rappocini District, Makassar City. The
approach used is descriptive quantitative and the essence of this research is
Classroom Action Research (CAR) which is carried out in two cycles and each cycle
is carried out two meetings. Each cycle goes through 4 stages, namely the planning
stage, the implementation stage, the observation stage, the reflexion stage. The focus
of this research is the application of the demonstration method to improve the skills
of playing the recorder in the SBdP subjects of the VB grade students of SD Inpres
Minasa Upa 1, Rappocini district, Makassar city. The subjects of this study were 29
students of class VB SD Inpres Minasa Upa 1 consisting of 14 boys and 15 girls. In
this study, researchers acted as observers and teachers as teachers. The data analysis
techniques are qualitative and quantitative. The results showed that student learning
outcomes in SBdP subjects with completeness cycle I 65.51% while cycle II
achievement of 100% skill completeness in good category (B). The conclusion in this
study is that the application of the demonstration method can improve the skills to
play the recorder in the SBdP class of VB class students of SD Inpres Minasa Upa 1,
Rappocini District, Makassar City.
Keywords: recorder playing skills, SBdP learning, demonstration
seni musik harus dimulai dari jenjang pendidikan dasar yang tertuai dalam Pelajaran
SBDP atau Seni Budaya dan Prakarya. Agar peserta didik mulai mengenal dasar –
dasar dari Seni. Pada dasarnya tidak semua pelajaran seni musik di sekolah
diwujudkan dalam bentuk mata pelajaran atau yang termasuk dalam kurikulum
pendidikan, bisa juga terdapat pada kegiatan ekstrakurikuler sekolah tersebut. Maka
dari itu, konsep pembelajaran tematik terintegrasi yang diusung kurikulum 2013
sangatlah tepat untuk membelajarkan secara lebih bermakna muatan Deni Budaya
dan Prakarya (SBdP) tersebut, sebab antar muatan pembelajaran dalam kurikulum
Upaya yang dapat dilakukan antara lain menggunakan Metode Pembelajaran
Demonstrasi agar siswa lebih fokus dalam proses pembelajaran karena dapat melihat
langsung pada saat guru mengajarkan atau mendemonstrasikan. Menurut peneliti
kelebihan pada metode ini tepat digunakan dalam meningkatkan keterampilan
bermaian alat musik recorder pada mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP)
karena melibatkan siswa secara langsung untuk mengamati dan melakukan aktivitas
pembelajaran bukan hanya teori saja.
Proses pembelajaran yang dilakukan dengan cara siswa melihat guru yang
sedang mendemonstrasikan cara memegang, menutup lubang-lubang recorder dan
memainkan recorder dengan benar. Setelah itu guru dan peneliti akan membimbing
siswa pada saat proses pembelajaran. Dan bagi siswa yang sudah paham dapat saling
membantu, saling memberikan masukan kepada temannya yang belum mengerti, agar
dapat meningkatkan keterampilan siswa memainkan alat musik recorder tersebut.
Sehubung dengan hal ini, maka calon peneliti bersama guru bermaksud untuk
mengatasi permasalahan tersebut dengan mengadakan suatu Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) dengan judul “Penerapan Metode Demonstrasi untuk meningkan
keterampilan Bermain Recorder pada mata pelajaran SBdP Siswa Kelas VB SD
Inpres Minasa Upa 1 Kecamatan Rappocini Kota Makassar.
Salah satu unsur penting dalam proses pembelajaran adalah metode
pembelajaran. Penerapan metode yang terarah akan mendapatkan hasil pembelajaran
yang optimal. Metode secara harfiah berasal dari bahasa Yunani methodos, yang
artinya jalan/cara. Menurut Suprihatinigrum Jamil (2017; 281) “Metode
pembelajaran diartikan sebagai cara berisi prosedur baku untuk melaksanaan kegiatan
pembelajaran, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa”. Metode
dalam mengajar berperan sebagai alat untuk menciptakan proses pembelajaran antara
siswa dengan guru dalam proses pembelajaran.
Metode demonstrasi dilakukan dengan cara memeragakan kejadian, cara kerja
alat, atau urutan kegiatan baik secara langsung atau dibantu media pembelajaran yang
sesuai dengan materi pembelajaran.” Menurut Suprihatiningrum Jamil (2017; 290).
Sedangkan menurut Mukrimaa Syifa (2014; 84) “mengatakan metode demonstrasi
yang digunakan untuk membelajarkan peserta dengan cara menceritakan dan
memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu”. Sedangkan Menurut
Nana Sudjana (2010; 121), “metode demonstrasi adalah suatu metode mengajar
memperhatikan bagaimana jalannya suatu proses terjadinya sesuatu”. Menurut
Mukrimaa (2014; 84) “metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk
membelajarkan peserta dengan cara menceritakan dan memperagakan sesuatu
langkah-langkah pengerjaan sesuatu.
Demontrasi merupakan praktek yang diperagakan, karena itu demonstrasi
dapat dibagi menjadi dua tujuan: demonstrasi proses untuk memahami langkah demi
langkah; dan demonstrasi hasil untuk memperlihatkan atau memeragakan hasil dari
sebuah proses. Biasanya, setelah demonstrasi dilanjutkan dengan praktek oleh peserta
sendiri. Sebagai hasil peserta akan memperoleh pengalaman belajar langsung setelah
melihat, melakukan dan merasakan sendiri. Tujuan dari demonstrasi yang
dikombinasikan dengan praktek adalah membuat perubahan pada rana keterampilan.
Hanifiah dan Suhana (2012), juga berpendapat tentang langkah-langkah
metode demonstrasi yakni: Guru menjelaskan indicator pembelajaran yang
diharapkan, 2) Guru menyajikan sekilas materi yang akan di sampaikan,3) Guru
menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan, 4) Guru mendemontrasikan sesuai
scenario yang telah disiapkan, 5) Seluruh peserta didik memerhatikan demonstrasi, 6)
guru meminta siswa bertanya mengenai hal yang belum dipahami, 7) Setiap peserta
didik atau kelompok bergantian untuk mendemosntrasikan.
Adapun kelebihan yaitu a) Demonstrasi dapat mendorong motivasi belajar
peserta didik, b) Demonstrasi dapat menghidupkan pelajaran karena peserta didik
hanya mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi, c) Demonstrasi dapat
mengaitkan teori dengan peristiwa alam lingkungan sekitar .dengan demikian peserta
didik dapat lebih meyakini kebenaran materi pelajaran, d) Demonstrasi apabila
dilakukan dengan tepat dapat terlihat hasilnya, e) Demonstrasi seringkali mudah
teringat daripada bahasa dalam buku pegangan atau penjelasan pendidikan, f) Melalui
demonstrasi peserta didik terhindar dari verbalisme karena langsung memperhatikan
bahan pengajaran yang dijelaskan.
Adapun kelemahan yaitu a) Peserta didik kadang sukar melihat dengan jelas
benda yang akan di pertunjukkan, b) Tidak semua benda dapat didemonstrasikan, c)
Sukar dimengerti apabila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa
yang didemonstrasikan, d) Demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang,
sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat
menyebabkan model ini tidak efektif lagi, e) Demontrasi memerlukan peralatan,
bahan-bahan dan tempat yang memadai berarti penggunaan metode ini lebih mahal
jika dibandingkan dengan ceramah, f) Demonstrasi memerlukan kemampuan dan
keterampilan guru yang khusus sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih
professional.
Menurut Siahaan (2017) keterampilan merupakan kemampuan untuk
mengerjakan/melaksanakan sesuatu dengan baik. Keterampilan yaitu kemampuan
untuk menggunakan akal, fikiran, ide dan kreatifitas dalam mengerjakan, mengubah
ataupun membuat sesuatu menjadi lebih bermakna sehingga menghasilkan sebuah
nilai dari hasil pekerjaan tersebut (Sudarto, 2016). Secara umum keterampilan adalah
suatu kemampuan dalam mempergunakan akal, ide serta kreatifitas dalam
mengerjakan, membuat apapun ataupun mengubah sesuatu menjadi yang lebih
bermakna sehingga dapat menghasilkan sebuah nilai tambah dari hasil yang
dikerjakan tersebut.
Keterampilan juga dapat diartikan sebagai suatu kemampuan dan kapasitas
yang dipoles melalui usaha yang sistematis dan berkelanjutan secara lancar dan
adaptif dalam melaksanakan aktivits-aktivitas yang kompleks atau fungsi pekerjaan
yang meklibatkan ide-ide atau keterampilan kognitif, hal-hal atau keterampilan
teknikal dan orang-orang atau keterampilan interporsal
Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) pada sekolah dasar sangat kontekstual dan
diajarkan secara konkret, utuh, serta menyeluruh serta terintegrasi pada satu tema
yang dikaitkan dengan mata pelajaran lain. Pada konteks ini, kedudukan guru sekolah
dasar harus memiliki wawasan yang baik tentang eksistensi seni budaya yang hidup
dalam konteks lingkungan sehari-hari di mana siswa tinggal, sehingga guru dapat
melakukan proses enkulturasi maupun pengenalan budaya lokal, agar peserta didik
mengenal, menyenangi dan mempelajari budaya daerahnya.
Recorder adalah alat music yang sering digunakan di sekolah dasar. (Usman,
2015: 20). Menurut Hanggayuh (2014: 6), recorder adalah instrument atau alat musik
tiup yang bergolong alat musik melodis. Alat musik ini sangat sederhana dan cukup
mudah dimainkan. Wilayah nada recorder dapat mencapai lebih dari dua oktaf.
Pengetahuan bermain recorder sangat berguna apabila seseorang ingin mempelajari
alat tiup lainnya. Karena secara teknis, bila seseorang sudah dapat memainkan
recorder maka lebih mudah baginya untuk mempelajari alat musik tiup lainnya.
Teknik bermain recorder menurut Wahyu (2010: 73) adalah posisi recorder
diarahkan kedepan dengan sudut 30°- 45°. Teknik yang paling pokok dalam
memainkan alat musik recorder yaitu teknik pernapasan, teknik penjarian, dan teknik
peniupan (produksi nada). Teknik pernapasan yang digunakan dalam meniup alat
musik recorder adalah dengan teknik pernapasan perut/diafragma, seperti pada teknik
[Link] teknik penjarian yang baik adalah menutup lubang-lubang recorder
dengan jari bagian atas dari ruas yang paling ujung sedangkan teknik peniupan agar
produksi nada yang tepat, dilakukan teknik pembentukan nada-nada tinggi dan
rendah.
METODE
Pendekatan yang dipilih dalam pelaksanaan penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif deskriptif. “Pendekatan kualitatif merupakan suatu prses penelitian dan pemahaman
yang berdasarkan metodologi yang menyelidiki fenomena social da masalah manusia”. Noor
(2012: 33) Pendekatan ini dipilih karena dalam penerapannya peneliti melakukan observasi
untuk melihat gambaran seluruh aktivitas guru dan siswa dalam pelaksanaan tindakan
pembelajaran dengan metode demontrasi selama proses pembelajaran berlangsung.
Jenis penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
karena relevan dengan upaya pemecahan masalah pembelajaran. Pelaksanaan
penelitian ini terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan
refleksi. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan secara daring/virtual untuk
memperbaiki kualitas pembelajaran serta membantu memberdayakan guru dalam
memecahkan masalah dalam pembelajaran di kelas, khususnya pada keterampilan
bermain recorder.
Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan alat
peraga, model, atau prosedur percobaan, kejadian, aturan, dan urutan melalukan suatu
kegiatan, baik secara langsung maupun melalui media pengajaran yang relevan
dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan dan diterapkan secara
daring/virtual menggunakan aplikasi Zoom.
Keterampilan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat psikomotorik
siswa dalam memainkan recorder, serta mengetahui teknik-teknik dasar dari recorder
tersebut. Keterampilan di kelas VB yang dinilai yaitu setelah tes dengan menerapkan
metode demontrasi.
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas VB SD Inpres Minasa Upa 1
Kecamatan Rappocini Kota Makassar Pelaksanaan penelitian direncanakan pada
semester genap tahun pelajaran 2019/2020. Alasan peneliti memilih sekolah tersebut
karena peneliti menemukan permasalahan berdasarkan pertimbangan (1) Di kelas
tersebut tidak pernah diajarkan mengenai rekorder (2) Adanya dukungan dari wali
kelas terhadap pelaksanaan penelitian ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 11 Agustus 2020 dan 18 Agustus
2020. Meliputi pengumpulan data dan pelaksaan tindakan. Surat izin meneliti selesai
tanggal 13 maret 2020 dan pada hari itu juga peneliti membawa surat ke kepala
sekolah tetapi pada tanggal 14 Maret 2020 diterapkan PSBB karena pandemic
Covid19. Pelaksanaan penelitian akan dibahas secara rinci pada paparan data
penelitian yang mencakup dua hal yaitu, paparan data sebelum tindakan dan paparan
data tindakan (siklus I dan siklus II).
Penelitian ini dilaksanakan selama dua siklus setiap siklus terdiri dari dua
pertemuan. Sebelum pelaksanaan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan
komunikasi bersama guru kelas VB mengenai bagaimanakah pembelajaran SBdP
dikelas ini dan gurunya mengatakan pada pembelajaran SBdP guru belum pernah
mengajarkan mengenai alat music sederhana yaitu recorder . Hal ini menunjukkan
perlu adanya suatu tindakan dalam pembelajaran SBdP sehingga dapat meningkatkan
keterampilan siswa bermain recorder di kelas VB SD Inpres Minasa Upa 1 dengan
menerapkan metode demonstrasi.
Hasil dari keterampilan bermain recorder siswa setelah dilaksanakan siklus I
dalam pembelajaran SBdP bermain alat music sederhana dengan menggunakan
metode demonstrasi. Analisis deskriptif hasil belajar siswa diperoleh nilai rata-rata
siswa secara keseluruhan pada siklus I adalah 53,96 di peroleh dari jumlah nilai
keseluruhan siswa kelas VB. Analisis data juga menujukkan hasil keterampilan
bermain recorder dari 29 siswa, hanya 19 siswa yang mencapai standar KKM dengan
presentase 65,51% sedangkan siswa yang tidak mencapai standar KKM sebanyak 10
siswa dengan presentase sebesar 34,49% Adapun Kriteria Ketuntasan Minimum
(KKM) yang harus dicapai adalah 75.
Pada proses pembelajaran di siklus I sudah menunjukkan perubahan namun
masih kurang. Hal ini karena kekurangan-kekurangan yang terjadi ditiap tahap
kegiatan pembelajaran baik yang terjadi pada aspek guru dalam hal ini guru kelas VB
dan juga dari aspek siswa. Kekurangan yang terjadi dari aspek guru ini dapat dilihat
pada lembar observasi yang sudah dijelaskan sebelumnya. Hasil belajar siswa pada
siklus I berada pada kategori cukup, disebabkan karena penerapan langkah-langkah
metode pembelajaran yang digunakan belum berjalan sebagaimana mestinya. Pada
penyajian materi juga belum maksimal sehingga proses pembelajaran tidak tercapai
sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal tersebut mengakibatkan hasil belajar siswa
pada mata pelajaran SBdP masih tergolong rendah, karena siswa belum mengerti
memainkan recorder dengan baik dan benar. Melihat hasil belajar siswa pada siklus I
yang belum mencapai KKM, maka disinilah ada tuntutan agar diadakannya siklus II
sebagai tindak lanjut dari siklus I.
Dilakukan tindakan selanjutnya yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja guru dan
siswa yang belum tercapai saat proses pembelajaran berlangsung. Maksud dari
kinerja yang diperbaiki, yaitu: aktivitas mengajar guru, aktivitas belajar siswa, dan
hasil belajar siswa. Oleh karena itu, pada siklus II guru memberikan pemahaman
secara rinci dan jelas kepada siswa tentang cara memainkan recorder dengan baik dan
benar dengan menggunakan metode demonstrasi dan siswa juga diminta lebih fokus
dan memperhatikan penjelasan guru.
Hasil yang diperoleh pada siklus II jauh lebih baik dari pada siklus I. Maka dari itu,
dapat dikatakan siklus II merupakan siklus dimana guru berhasil menerapkan metode
demonstrasi pada mata pelajaran SBdP di kelas VB SD Inpres Minasa Upa 1.
Hal ini dibuktikan dari perolehan hasil belajar siswa yang mampu mencapai kategori
baik sekali. Analisis deskriptif hasil belajar siswa diperoleh nilai rata-rata siswa
secara keseluruhan pada siklus II adalah 86,89 diperoleh dari jumlah nilai
keseluruhan siswa 2520 dibagi jumlah siswa kelas VB. Analisis data juga
menunjukkan bahwa hasil tes siklus II ysitu sebanyak 29 siswa dinyatakan lulus
dengan presentase sebesar 100%. Adapun kriteria ketuntasan minimum KKM
adalah75. Hasil belajar siswa berdasarkan perolehan dari tes siklus II mengalami
peningkatan yang sangat baik, yaitu dari hasil tes siklus I nilai rata-rata siswa adalah
53,96 menjadi meningkat di siklus II dengan nilai rata-rata keseluruhan siswa adalah
86,89
Dari uraian pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tindakan penelitian
yang dilakukan pada siklus I dan siklus II, hasil belajar siswa mengalami
peningkatan. Dengan demikian, dari hasil yang diperoleh siklus II, maka penelitian
penerapan metode demonstrasi untuk meningkatkan keterampilan bermain recorder
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, diperoleh
peningkatakan baik dari segi proses pembelajaran maupun keterampilan bermain
recorder siswa. Ditinjau proses pelaksanaan penerapan metode demonstrasi, proses
pembelajaran melalui pelaksanaan langkah atau skenario yang telah disusun sesuai
dengan alat atau bahan yang akan didemonstrasikan dikategorikan baik dalam proses
penerapannya. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas guru dan aktivitas
belajar siswa pada siklus I dikategorikan cukup (C) serta pada siklus II dikategorikan
baik (B) dengan mencapai taraf keberhasilan.
Dimensi hasil pembelajaran melalui penerapan metode pembelajaran
demonstrasi menunjukkan adanya peningkatan keterampilan siswa yang merupakan
dampak dari efektifitas pelaksanaan penerapan metode demonstrasi oleh guru yang
ditunjukkan dengan nilai hasil tes evaluasi yang dilakukan setiap akhir siklus yang
mengalami peningkatan yaitu pada siklus I dikategorikan Sangat Rendah. Kemudian
berlanjut pada siklus II yang dikategorikan Tinggi dan telah tuntas secara klasikal.
Peneliti menyimpulkan bahwa hasil pembelajaran dengan menerapkan metode
pembelajaran demonstrasi dapat meningkatkan keterampilan bermain recorder siswa
pada mata pelajaran SBdP kelas VB SD Inpres Minasa Upa 1 kota Makassar.
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian, diajukan beberapa saran
yang perlu dipertimbangkan:
1. Bagi Lembaga dinas dan penyuluhan pendidikan sebaiknya lebih mengadakan
pengajaran dan bimbingan bagi tenaga pendidik tentang pembelajaran yang
inovatif sehingga akan terjadi peningkatan kualitas pembelajaran.
2. Bagi guru, diharapkan selalu mengikuti perkembangan yang berhubungan
dengan inovasi dalam pembelajaran sehingga metode pembelajaran yang
konvensional dan membosankan bagi siswa bisa diatasi dengan menerapkan
metode pembelajaran yang lebih inovatif agar kemudian pembelajaran dapat
menjadi lebih menarik bagi siswa dan tujuan pembelajaran bisa tercapai. Dan
dengan adanya skripsi ini, diharapkan dapat menerapkan metode
pembelajaran demonstrasi pada proses belajar mengajar di kelas.
3. Bagi siswa, hendaknya benar-benar mengikuti pembelajaran dengan baik dan
tertib agar tujuan dari pembelajaran bisa tercapai secara efektif karena
pembelajaran ini sangat bermanfaat bagi siswa yaitu untuk meningkatkan
keterampilan bermain recorder.
4. Bagi calon peneliti yang berminat, hendaknya dalam melaksanakan penelitian
dengan menerapkan metode pembelajaran ini, mencoba materi atau pelajaran
yang lain agar metode demonstrasi ini memiliki manfaat untuk meningkatkan
keterampilan siswa.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. (2015). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Banoe, P.
(2013). Metode Kelas Musik. Jakarta: P\T. Indeks.
Cristian Albert. (2016). Upaya peningkatan Keterampilan Bermain Recorder siswa
kelas VIII D Melalui Penggunaan Media Video Di SMP Negeri 2 Sukarta. Skripsi.
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Cintang Nyai. (2016). Pendidikan Seni Budaya dan Prakarya Sebagai sarana
Pembentukan Karakter Pada Kurikulum 2013. Jurnal (Online). ISBN : 978- 602-
[Link]://[Link]/index
Durotul. 2017. Landasan Pendidikan. Jakarta: CV ALUMGADAN MANDIR.
Djohan , S. (2015). Psikologi Musik. Jakarta: Galang Press.
Fathurrohman, S. (2014). Strategi belajar Mengajar . Bandung: Refika Aditama.
Hanafiah , N. (2012). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.
Hanggayuh, G. (2014). PAnduan Bermain Pianika dan Recorder. Yogyakarta:
Cakrawala.
Huda, M. (2015). Model - Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Iru, A. (2012). Pendekatan, Metode, Strategi dan Model - odel Pembelajaran .
Bantul: Presindo.
Kamus Besar, B. (n.d.). [Link]. Retrieved Januari Rabu, 2020, from
[Link] web site: [Link]/entri.
Maolani , R. (2016). Metodologi Penelitian . Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Mukrimaa, S. (2014). 53 Metode Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Sliwangi.
Nana, S. (2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Noor, J. (2012). Metodelogi Penelitian . Jakarta: Kencana Pernada Media.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 27 tahun
2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar. Jakarta.