Argumentative Text / Teks Argumentasi Bahasa Inggris : Definisi, Struktur & Contoh
Teks argumentasi adalah jenis teks bahasa Inggris yang nampaknya hampir mirip dengan persuasive
text dan exposition text.
Namun sebenarnya, ketiga teks ini memiliki tujuan dan karakteristik yang berbeda-beda. Supaya tidak tertukar, ayo
pahami materinya melalui penjelasan berikut ini, guys.
Pengertian Teks Argumentasi (Argumentative Text Definition)
Argumentative text adalah teks yang membahas suatu topik atau pertanyaan dengan mengembangkan argumen
berdasarkan fakta, data, logika, dan contoh yang relevan dari sudut pandang penulis.
Tujuan utama dari argumentative text adalah untuk meyakinkan pembaca atau pendengar bahwa, pendapat penulis
tentang sebuah topik bersifat valid dan absah.
Perbedaan Teks Argumentasi dengan Exposition Teks dan Persuasive Text
Dalam exposition text, penulis bisa menuangkan suatu informasi dari sebuah topik, tanpa harus memengaruhi
pembaca.
Yang cukup mirip adalah teks argumentasi dan persuasif. Namun, yang membedakan keduanya adalah pendekatan
dan segi bahasa.
Dalam argumentative text, penulis mendukung argumen dengan logika dan bukti, dan fokus pada rational
persuasion.
Sementara itu, teks persuasi mengandalkan bahasa emosional dan motivasi untuk memengaruhi pembaca. Tulisan
di dalamnya akan membujuk pembaca secara emosional melalui retorika, cerita, atau imajinasi.
Jenis-Jenis Argumentative Text
Berdasarkan bentuknya, teks argumentasi bisa dimuat dalam berbagai konsep. Contohnya essay, opinion
article, political speech, dan juga debate.
Based on the function, teks argumentatif dibagi menjadi dua jenis. Pertama, ada argumentative text analytic, dan
ada teks argumentasi hortatorik.
Biasanya, kedua teks ini dapat dibedakan melalui paragraf kesimpulan. Dalam teks analitik, penulis hanya akan
memberikan analisis objektif suatu topik secara mendalam.
Sementara itu, argumentative hortatory text bertujuan untuk meyakinkan pembaca agar melakukan atau mengikuti
suatu tindakan tertentu.
Scroll ke bagian contoh teks untuk melihat perbedaanya ya, guys.
Fungsi Teks Argumentasi (Argumentative Text Purpose)
Ada beberapa fungsi dari argumentative text, yaitu:
Memengaruhi pembaca untuk membuat keputusan yang tepat mengenai topik yang dibahas.
Menegaskan posisi penulis dalam sebuah topik.
Membujuk pembaca untuk menerima posisi penulis.
Menyajikan argumen dan bukti secara terstruktur.
Mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan memberikan kontra-argumen.
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis pembaca.
Memfasilitasi diskusi dan debat tentang isu penting.
Mendukung pengambilan keputusan dengan informasi yang relevan.
Ciri-Ciri Argumentative Text
Karakteristik yang dapat dilihat dari teks argumentasi adalah sebagai berikut:
1. Mempertimbangkan dan Membahas Argumen yang Berseberangan
Tak hanya fokus pada argumen yang mendukung posisi penulis, teks argumentasi tak jarang mencantumkan
argumen yang bertentangan.
Di sini, kamu boleh mengidentifikasi argumen lawan, menyajikan pandangan tersebut dengan adil, dan
memberikan kontra-argumen untuk menunjukkan mengapa pandanganmu lebih valid atau kuat.
2. Dapat Menangani Berbagai Macam Topik
Ingin menulis isu tentang sosial, politik, ekonomi, atau topik lain yang berkaitan dengan akademik?
Penulis dipersilakan mengeksplorasi isu dari berbagai bidang dengan cara yang terstruktur dan logis.
3. Tesis yang Jelas
Pada praktiknya, tulisanmu harus memiliki tesis yang jelas. Beritahu pembaca atau pendengar mengenai
pernyataan utama yang menjadi pusat argumen.
4. Argumentasi yang Kuat
Sesuai jenisnya, di teks ini, kamu wajib mengemukakan bukti yang solid, seperti data, fakta, statistik, atau
hasil penelitian.
Argumentasi yang kuat juga harus menggunakan logika yang jelas dan analisis yang mendalam untuk
meyakinkan pembaca tentang validitas pandangan penulis.
5. Koherensi dan Kohesi
Koherensi mengacu pada keterhubungan dan konsistensi ide-ide dalam teks. Artinya, argumen-argumen yang
disajikan harus saling mendukung.
Di sisi lain, kohesi merujuk pada hubungan antara kalimat dan paragraf dalam teks. Dalam penulisannya,
gunakan elemen seperti transisi, kata penghubung, dan referensi yang jelas untuk memastikan bahwa teks
mengalir dengan baik dan mudah diikuti.
6. Objektivitas dan Subjektivitas
Meskipun teks argumen umumnya didasarkan pada data objektif, namun bisa juga mencerminkan point of
view subjektif penulis.
Objektivitas dicapai dengan menyajikan data dan bukti yang dapat diverifikasi, sedangkan subjektivitas
muncul dalam interpretasi atau penilaian penulis tentang informasi tersebut.
Maka, penting bagi penulis untuk menyeimbangkan kedua aspek ini agar argumen tetap kredibel dan
meyakinkan.
Struktur Teks Argumentasi (Argumentative Text Structure)
Pastikan kamu mengemas teks argumentatif ke dalam 3 struktur, yaitu introduction, body of the paragraph, and
conclusion. Cek penjelasannya di bawah ini!
1. Introduction and Thesis
a) Kamu bisa membuka teks argumentasi dengan introductory paragraph dan thesis. Ini merupakan paragraf
pengantar, di mana kamu perlu memberitahukan topik yang akan dibahas.
b) Pendahuluan dalam teks argumentasi harus singkat dan to-the-point. Tujuan utamanya adalah memberikan
gambaran umum tentang situasi saat ini tanpa memasuki detail yang terlalu mendalam.
c) Supaya lebih eyecatchee, coba cantumkan angka statistik, anekdot singkat, atau fakta mengejutkan yang
bisa menarik perhatian pembaca.
d) Lalu, berikan sedikit pemaparan, mengapa poin tersebut relevan atau penting untuk disimak lebih dalam
oleh pembaca.
e) Selanjutnya, tutup paragraf ini dengan pernyataan thesis. Apa itu? Pernyataan tesis adalah klaim yang
dapat diperdebatkan dalam inti pembahasan.
f) Tujuan dari pernyataan tesis adalah memperkenalkan pembaca pada klaim yang akan coba didukung oleh
penulis di seluruh bagian esai.
g) Catat, tesis bukanlah fakta atau sesuatu yang disetujui secara umum. Misalnya, ”Videogames are a form
of popular entertainment” bukanlah pernyataan tesis yang baik, karena fakta tersebut disetujui secara
umum.
h) Alih-alih yang tadi, kamu bisa mengungkapkan statement begini, “Videogames are harmful to the
younger generation”. Tentunya kalimat tersebut better. Yap, karena ada banyak orang yang mungkin
nggak setuju dengan pernyataan ini.
2. Body of The Paragraph
Tubuh atau inti teks bisa dibagi menjadi dua part, yaitu:
a. Paragraf Pertama: Isi
i. Di paragraf pertama, kamu dapat memaparkan argumen yang ingin ditanggapi. Tujuannya adalah
untuk mengemukakan ide-ide, memicu diskusi, serta mengembangkan argumen-mu sendiri.
ii. Untuk menyusun paragraf ini, gunakan konjungsi pertentangan, seperti “although” atau “even
though“.
iii. Kuncinya, urutkan setiap argumen dengan sistem skala prioritas, dan mulailah dari yang paling
utama.
iv. Again, pastikan semuanya saling terkait, dibahas secara mendalam, tapi tidak bertele-tele atau bahkan
keluar dari konteks pembahasan.
b) Paragraf Kedua dan Selanjutnya
i. Di paragraf kedua, mulailah untuk membantah argumen yang telah dipaparkan di paragraf pertama.
ii. Jika argumen atau ide yang kamu bahas terlalu panjang, maka cukup bagi ke dalam beberapa
paragraf. Di sini, kamu juga akan menuangkan berbagai data yang mendukung argumen-mu.
iii. Di setiap paragraf berikutnya, kamu tak perlu membandingkan argumen baru dengan argumen di
paragraf lain.
iv. Pastikan setiap paragraf baru dimulai dengan ide baru, dan dibahas sesuai alurnya.
3. Conclusion and Closing
a) Setiap teks akan selalu diakhiri dengan kesimpulan dan penutup. Sama seperti paragraf pembuka, kamu
perlu menulis sesuatu yang memberi dampak besar untuk pembaca.
b) Coba untuk sentuh sisi emosional pembaca, dan menyoroti poin-poin penting dari argumen yang sudah
kamu uraikan sebelumnya.
c) Ingat, jangan memasukkan ide-ide baru di sini. Nanti pembaca malah bingung, Jadi, sebaiknya tuliskan
poin-poin penting sebelumnya secara menonjol, sehingga berkesan bagi audience.
Language Features (Kaidah Kebahasaan) Argumentative Text
Setelah generic structure, kunci selanjutnya untuk membuat teks argumentasi yang ciamik adalah memahami
kaidah kebahasaan. Cek language features-nya di bawah ini:
1. Use Conjunction (Kata Penghubung)
Sesuai fungsinya, conjunction dapat menyambungkan ide atau argumen dalam teks, sehingga alurnya bisa
saling tersambung dan lebih mudah diikuti pembaca. Contoh conjunctionnya yaitu because, therefore,
however, dan although.
Contoh kalimat:
The policy was implemented because it addresses the root cause of the problem.
2. Use Emphatic Statements (Kalimat Penegasan)
Kalimat penegasan digunakan untuk menekankan poin penting dalam argumen. Tujuannya adalah untuk
memastikan bahwa pembaca memperhatikan dan mengingat poin-poin kunci yang disampaikan. Contohnya
seperti clearly, undoubtedly, certainly, obviously.
Contoh penerapannya dalam kalimat:
Clearly, the evidence supports the conclusion that immediate action is necessary.
3. Use Evaluative Language (Bahasa Evaluatif)
Jika kamu ingin mengevaluasi ide, argumen, atau bukti yang ada dalam teks, gunakanlah evaluative language.
Misalnya argue, claim, suggest, assert.
Contoh kalimatnya:
The author argues that the new law will significantly improve public safety.
4. Use Transition Words (Kata Transisi)
Selain konjungsi, sebuah teks bisa menjadi kohesif dan koheren dengan adanya transition words.
Kata transisi berfungsi untuk menghubungkan paragraf atau kalimat, supaya pembaca dapat mengikuti
perubahan ide atau argumen dengan mudah. Contohnya firstly, in addition, on the other hand, furthermore.
Contoh kalimat:
Firstly, we must consider the economic impact of the decision.
5. Use Persuasive Language (Gaya Bahasa Persuasif)
Supaya pembaca yakin dan setuju dengan argumen penulis, kamu perlu menyusun tulisan gaya bahasa
persuasif.
Dalam bahasa Inggris, contohnya adalah must, need to, it is essential that, should. Example:
We must take immediate action to prevent further damage to the environment.
6. Use Simple Present Tense
Kenapa harus simple present tense? Sebab, kamu perlu menyampaikan fakta atau argumen yang berlaku di
masa sekarang.
Hal ini membuat teks jadi terasa lebih relevan. Nah, kamu tentunya sudah tahu kalau ciri khas dari simple
present tense adalah selalu menggunakan verb 1, atau memakai verb are, is, do, does.
Berikut contoh kalimatnya:
The data clearly shows that regular exercise improves mental health.
Teks Argumentasi Tentang Jagung (Analitik)
Introduction
Despite being a staple crop with global importance, the extensive cultivation of corn is not without significant
controversies. While corn is celebrated for its versatility and economic contributions, it is also at the center of
heated debates regarding its sustainability and environmental impact. Recent data from the Food and Agriculture
Organization (FAO) reveals that corn accounts for nearly 40% of the world’s grain production, yet its farming
practices have raised concerns about long-term ecological damage and food security. This dichotomy between
corn’s economic benefits and its environmental costs presents a critical challenge that cannot be overlooked.
Body
Corn is a cornerstone of the global agricultural economy, particularly in countries like the United States, where it
represents the largest crop by acreage and production volume. In 2022, the U.S. produced over 14.4 billion
bushels of corn, according to the United States Department of Agriculture (USDA), making it a key player in the
global food and feed markets. Corn is essential not only as a direct food source but also as a primary feed for
livestock, an ingredient in biofuels like ethanol, and a raw material in various industrial products. This
widespread use underscores corn’s economic significance, with billions of dollars at stake in its production and
trade.
However, the intensive farming of corn comes with profound environmental consequences. The monoculture
system—where vast areas are dedicated to a single crop like corn—depletes soil nutrients, increases the reliance
on chemical fertilizers and pesticides, and leads to significant biodiversity loss. According to a study by the
Environmental Working Group (EWG), corn production in the U.S. is a major contributor to nitrogen runoff,
which has created hypoxic zones in water bodies such as the Gulf of Mexico. These “dead zones” are areas where
oxygen levels are so low that marine life cannot survive, posing a serious threat to aquatic ecosystems.
Additionally, the carbon footprint of corn production is considerable, with large amounts of greenhouse gases
emitted from both the cultivation process and the subsequent use of corn-based ethanol.
Addressing these environmental challenges requires a shift towards more sustainable farming practices.
Innovations such as precision agriculture and integrated pest management can reduce the ecological impact of
corn farming. Precision agriculture, for example, utilizes data and technology to optimize the use of resources like
water, fertilizers, and pesticides, minimizing waste and environmental harm. Moreover, research into crop
rotation and the development of more resilient corn varieties offers potential pathways to improve soil health and
reduce dependency on chemical inputs. According to the International Maize and Wheat Improvement Center
(CIMMYT), incorporating leguminous crops into corn rotation can significantly enhance soil fertility and reduce
the need for synthetic fertilizers. These strategies highlight the possibility of balancing corn’s economic benefits
with ecological sustainability.
Conclusion
In conclusion, while corn is undeniably a crucial crop with immense economic value, the environmental costs
associated with its large-scale production cannot be ignored. The current practices surrounding corn farming
pose significant risks to both the environment and long-term food security. However, by adopting sustainable
agricultural practices and innovative technologies, it is possible to mitigate these impacts and ensure that corn
remains a viable and beneficial crop for future generations. The challenge lies in reconciling the economic
importance of corn with the urgent need for environmental stewardship, a balance that is essential for the
continued prosperity of this vital crop.