Tugas Besar Pondasi Dalam Teknik Sipil
Tugas Besar Pondasi Dalam Teknik Sipil
PONDASI DALAM
Dosen Pengampu
Ir. Arief Nugraha Pontoh, S.T., [Link]
NIP. 199006252020121002
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan anugerah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan laporan Tugas Besar Pondasi Dalam pada mata
kuliah Teknik Pondasi.
Laporan ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh untuk
kelulusan mata kuliah Teknik Pondasi di Program Studi Teknik Sipil, Jurusan
Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan.
Untuk itu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Ir. Arief Nugraha Pontoh, S.T., [Link]. selaku dosen pengampu pada
mata kuliah Teknik Pondasi yang telah memberikan ilmu dan wawasan
selama masa perkuliahan.
2. Teman-teman yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk
menyelesaikan laporan Tugas Besar Teknik Pondasi.
Penyusun
ii
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN TUGAS BESAR TEKNIK PONDASI
TEKNIK SIPIL
INSTITUT TEKNOLOGI KALIMANTAN
TAHUN 2023
Disusun oleh:
Dosen Asistensi
iii
DAFTAR ISI
iv
4.3 Kapasitas Tiang Kelompok..................................................................... 36
BAB V ................................................................................................................... 38
KESIMPULAN ..................................................................................................... 38
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 39
LAMPIRAN .......................................................................................................... 40
v
DAFTAR GAMBAR
vi
DAFTAR TABEL
vii
BAB I
PENDAHULUAN
Pondasi yang dijadikan alternatif adalah pondasi dalam, yaitu pondasi tiang
pancang beton spun pile dan pondasi bored pile. Metode perhitungan untuk
menganalisis daya dukung pondasi tiang pancang beton spun pile menggunakan
metode meyerhof dan o’neil & reese sedangkan untuk pondasi bored pile
menggunakan metode Meyerhof dan Schertmann, namun perlu dipertimbangkan
metode mana yang lebih memenuhi, untuk itu perlu dilakukan analisis daya dukung
dari beberapa metode berdasarkan data geoteknik dengan menggunakan data sondir
dan data N-SPT sehingga didapatkan hasil yang lebih realistis.
1
3. Bagaimana cara menggambar penampang pondasi dengan skala yang
sesuai?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari dibuatnya laporan Tugas Besar Teknik Pondasi
khususnya pada pondasi dalam ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui perencanaan dimensi dan kedalaman pondasi tiang tunggal dan
tiang kelompok
2. Mengetahui cara menghitung penurunan
3. Mengetahui cara menggambar penampang pondasi
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanah
Tanah adalah akumulasi partikel mineral yang tidak mempunyai atau lemah
ikatan antar partikelnya, yang terbentuk karena pelapukan dari batuan. Diantara
partikel-partikel tanah terdapat ruang kosong yang disebut pori-pori (void space)
yang berisi air dan udara. Ukuran dari partikel tanah adalah sangat beragam dengan
variasi yang cukup besar (Craig, 1989). Menurut Das 1995, tanah umumnya dapat
disebut sebagai kerikil (gravel), pasir (sand), lanau (slit), atau lempung (clay),
tergantung pada ukuran partikel yang paling dominan pada tanah tersebut (Das,
1995).
Suatu bangunan umumnya dibuat diatas dan dibawah permukaan tanah,
maka diperlukan suatu sistem pondasi yang akan menyalurkan beban dari bangunan
ke tanah. Dalam menentukan dan mengklasifikasikan tanah diperlukan suatu
pengamatan di lapangan. Tetapi dengan mengandalkan pengamatan di lapangan,
maka kesalahan – kesalahan yang disebabkan oleh perbedaan pengamatan
perorangan akan menjadi sangat besar.
Biasanya tanah itu secara sepintas dibagi dalam tanah berbutir kasar dan
berbutir halus untuk memperoleh hasil klasifikasi yang objektif berdasarkan suatu
hasil analisa mekanis. Kemudian tahap klasifikasi tanah berbutir halus diadakan
berdasarkan percobaan konsistensi (Sosrodarsono dan Nakazawa, 1990).
3
pondasi dangkal berdasarkan kedalamannya (Df) yang kemudian dibagi dengan
lebarnya (B). Pondasi dalam sumuran berukuran Df/B > 4. Pondasi dangkal
berukuran Df/B ≤ 1.
b. Pondasi tiang (pile foundation), merupakan pondasi yang digunakan saat kondisi
tanah pondasi pada kedalaman yang normal tidak mampu mendukung beban yang
bekerja dan tanah keras terletak sangat dalam. Diameter pondasi tiang umumnya
lebih kecil dan lebih panjangnya dibandingkan dengan pondasi sumuran.
c. Tiang tanpa perpindahan (non displacement pile) terdiri dari tiang yang
dipasang didalam tanah dengan cara menggali atau mengebor tanah. Yang
termasuk dalam tiang tanpa perpindahan yaitu tiang bor, yang merupakan
tiang dimana pengerjaannya langsung di dalam lubang hasil pengeboran
tanah (pipa baja diletakkan dalam lubang dan dicor beton).
a. Tiang pancang (driven pile), merupakan tiang yang dipasang dengan cara
membuat bahan berbentuk bulat atau bujur sangkar memanjang yang
dicetak lebih dulu dan kemudian dipancang atau ditekan kedalam tanah.
b. Tiang bor (drilled shaft), merupakan tiang yang dipasang dengan cara
mengebor tanah lebih dulu sampai kedalaman tertentu, setelah itu tulangan
baja dimasukkan dalam lubang bor dan kemudian diisi/ dicor dengan beton.
4
c. Kaison (caisson), merupakan suatu bentuk kotak atau silinder telah dicetak,
kemudian dimasukkan ke dalam tanah, pada kedalaman tertentu kemudian
diisi beton. Terkadang kaison atau yang juga dikenal dengan tiang bor
berdiameter/lebar besar, sehingga kadang-kadang membingungkan dalam
penyebutan.
a. Point bearing pile (and bearing pile) atau yang dieknal dengan tiang pancang
dengan tahanan ujung. Tiang ini meneruskan beban melalui tahanan ujung
ke lapisan tanah keras yang mampu memikul beban yang diterima oleh tiang
tersebut. Lapisan tanah keras itu dapat berupa lempung keras sampai pada
batuan yang sangat keras.
b. Friction pile (tiang pancang yang bertahan dengan perlekatan antara tiang
dengan tanah) dibagi dua yaitu sebagai berikut.
1. Friction pile pada tanah dengan butiran-butiran tanah kasar dan sangat
mudah melewati air. Tiang ini meneruskan beban ke tanah melalui
geseran kulit (skin friction). Proses pemancangan tiang-tiang ini
dilakukan dalam satu kelompok, menyebabkan tanah diantara tiang
menjadi padat karena itu dikategorikan “compaction pile”.
2. Friction pile pada tanah dengan butiran – butiran tanah halus dan sangat
sulit melewati air. Tiang ini juga meneruskan beban ke tanah melalui
(skin friction). Akan tetapi pada proses pemasangan tiang-tiang ini tidak
menyebabkan tanah diantara tiang menjadi padat, karena itu tiang-tiang
ini termasuk dalam kategori “floating pile foundation”.
5
a. Tiang kayu Tiang kayu (dibuat dari kayu), umumnya ber diameter 10-25 cm.
Biasanya tiang kayu cerucuk yang banyak dipakai di Indonesia untuk
perbaikan kapasitas dukung tanah lunak berdiameter 8-10 cm dan panjang
4 meter. Tiang pancang kayu ini penggunaannya lebih murah dan mudah
daripada tiang jenis lainnya. Suatu permukaan tiang dapat dilindungi
ataupun tidak tergantung pada kondisi tanah. Tiang kayu dapat mengalami
pembusukan atau rusak karena dimakan serangga dan lama-kelamaan akan
mengalami pelapukan. Cara menghindari kerusakan tersebut terutama pada
saat pemancangan yaitu dengan cara melindungi ujung tiang dengan sepatu
yang terbuat dari besi. Dan untuk beban maksimum yang dapat dipikul oleh
tiang kayu tunggal dapat berkisar antara 270-300 KN.
b. Tiang beton pracetak Tiang beton pracetak merupakan suatu tiang yang
terbuat dari beton kemudian dicetak di suatu tempat lalu diangkut ke lokasi
dimana bangunan akan dibangun. Tiang beton pada umumnya berbentuk
prisma atau bulat dan ukuran diameternya yang biasa dipakai untuk tiang
yang tidak berlubang diantara 20-60 cm. Sedangkan untuk tiang yang
berlubang diameternya dapat mencapai 140 cm dan panjang tiang beton
pracetak biasanya berkisar antara 20-40 meter untuk yang tidak berlubang.
Sedangkan tiang yang tidak berlubang bisa mencapai 60 meter. Beban
maksimum yang dapat dipikul untuk tiang ukuran kecil berkisar antara 300
– 800 kN.
6
4. Banyaknya tulangan dipengaruhi oleh tegangan yang terjadi pada waktu
pemancangan dan pengangkutan tiang.
5. Pemancangan menimbulkan gangguan suara, getaran dan deformasi tanah
yang dapat menimbulkan kerusakan bangunan disekitarnya.
d. Tiang bor Tiang bor dipasang kedalam tanah dengan cara mengebor tanah
terlebih dahulu, baru kemudian dimasukkan tulangan yang telah dirangkai
dan cor beton. Tiang ini bila dipakai pada tanah stabil dan kaku maka
dimungkinkan untuk membentuk lubang bor yang stabil dengan alat bor.
Jika tanah mengandung air pipa selubung dibutuhkan untuk menahan
dinding lubang dan pipa ini ditarik pada waktu pengecoran beton. Pada
tanah yang keras atau batuan lunak, dasar tiang dapat dibesarkan untuk
menambah tahanan dukung ujung tiang.
7
f. Tiang komposit
Beberapa kombinasi bahan tiang pancang atau tiang bor dengan tiang
pancang dapat digunakan untuk mengatasi masalah – masalah pada kondisi
tanah tertentu. Problem pembusukan tiang kayu diatas muka air tanah
misalnya, dapat diatasi dengan memancang tiang komposit yang terdiri dari
tiang beton di bagian atas yang disambung dengan tiang kayu dibagian
bawah zona muka air tanah.
a. Precast reinforced concrete pile adalah tiang pancang beton bertulang yang
dicetak dan dicor dalam acuan beton (bekisting) yang telah cukup keras lalu
diangkat dan dipancangkan. Karena tegangan tarik beton kecil dan praktis
dianggap sama dengan nol, sedangkan berat sendiri beton besar maka tiang
pancang beton ini harus diberi tulangan yang cukup kuat agar pada saat
pengangkatan dan pemancangan mampu memikul momen lentur. Pada jenis
tiang pancang beton ini dapat memikul beban lebih besar dari pada 50 ton
untuk masing – masing tiang, sedangkan penampangnya dapat berupa
lingkaran, segi empat, dan segi delapan.
c. Cast in place adalah tiang pancang yang dicor ditempat dengan jalan
membuat lubang ditanah terlebih dengan cara pengeboran. Pada Cast in
place dapat dibedakan dengan dua cara yaitu:
8
1. Dengan pipa baja yang dipancang kedalam tanah kemudian diisi dengan
beton dan di tumbuk sambil pipa baja ditarik keatas.
2. Dengan pipa baja yang dipancang kedalam tanah kemudian diisi dengan
beton sedangkan pipa baja tersebut tetap tinggal didalam tanah.
a. Tiang gesek (friction pile), bila tiang pancang pada tanah berbutir. Akibat
pemancangan tiang, tanah disekitar tiang menjadi padat. Porositas dan
kompresibilitas tanah akibat getaran pada waktu tiang dipancang menjadi
berkurang dan angka gesekan antara butir – butir tanah dan permukaan tiang pada
arah lateral menjadi bertambah.
b. Tiang lekat (cohesion pile), bila tiang dipancang pada tanah lunak (permeabilitas
rendah) atau tanah mempunyai kohesi yang tinggi.
c. Tiang mendukung di bagian ujung tiang (point/ end bearing pile), bila tiang
dipancang dengan ujung tiang mencapai tanah keras sehingga seluruh beban yang
dipikul oleh tiang diteruskan ke tanah keras melalui ujung tiang.
d. Tiang tekan, bila tiang telah menumpu pada tanah keras dan mendapatkan
tekanan vertikal dari beban mati maupun beban hidup.
e. Tiang tarik, bila tiang pancang pada tanah berbutir mendapat gaya yang bekerja
dari lendutan momen yang mengakibatkan tiang mengalami gaya tarik.
9
Daya dukung single pile adalah daya dukung persatu tiang pancang. Kuat
dukung tiang tungggal terdiri dari dua cara pendekaan yaitu:
10
Setelah mengetahui semua nilai yang dibutuhkan untuk melanjutkan
analisis perlu diketahui nilai tekanan overburden, nilai tekanan overburden
dapat dicari dengan menggunakan persamaan sebagai berikut.
Dimana:
Qb = Tahanan ujung ultimit (kN)
Ab = Luas penampang ujung tiang (m2 )
Pb’ = Tekanan overburden efektif (kN/m2 )
11
Gambar 2.3 Hubungan Nq dan φ
Setelah itu cek terhadap nilai batasan tahanan ujung satuan maksimum
dengan menggunakan persamaan:
fb = Qb Ab….……………….……………………… (2.4)
Dimana:
Qb = Tahanan ujung ultimit (kN)
Ab = Luas penampang ujung tiang (m2 )
As = d….……………….…………………………. (2.5)
Dimana:
As = Keliling tiang (m)
d = Diameter tiang (m)
Dimana:
Qs = Tahanan gesek ultimit (kN)
As = Keliling tiang (m)
Po’ = Tekanan overburden rata-rata (kN/m2 )
Setelah itu cek terhadap nilai batasan tahanan gesek satuan maksimum
dengan menggunakan persamaan:
12
fs = 𝐾𝑑tgδ 𝑃𝑜’ ….……………….…………………... (2.7)
Dimana:
fs = Tahanan gesek satuan (kN/m2 )
𝑃𝑜’ = Tekanan overburden (kN/m2 )
Dimana:
Wp = Berat tiang (kN)
d = Diameter tiang (m)
Qu = Qb + Qs −Wp….……………………………….…(2.9)
Dimana:
Qb = Tahanan ujung ultimit (kN)
Qs = Tahanan gesek ultimit (kN)
Wp = Berat tiang (kN)
13
Pada penerapannya di dalam perencanaan, nilai Cu tiap lapisan
didapatkan berdasarkan hasil pengujian laboratorium tanah sehingga
mendapatkan persamaan 2.10 dan persamaan 2.11 sebagai berikut.
Qp = qp × Ap….……………….……………………...(2.10)
qp = Nc ×Cu…..………………………………………(2.11)
Dengan:
Qp = Tahanan ujung (kN).
qp = daya dukung tanah (kN/𝑚2 ),
Nc = 9 diambil sama dengan (Skempton, 1959)
Cu = nilai kohesi dasar tiang rencana
14
3. Tahanan Ultimate (Qu)
Tahanan ultimit dapat dihitung berdasarkan Persamaan 2.14 berikut.
Qu = Qp + Qs….……………………………………... (2.14)
Dengan:
Qu = Tahanan ultimate (kN)
Qp = Tahanan ujung (kN),
Qs = Tahanan selimut (kN).
𝑄𝑏 = 𝐴𝑏 × 𝜎𝑟 ′ × 𝑁𝑞 ∗….……………………………...(2.16)
Dimana:
𝐴𝑏 = Luas penampang bored pile (𝑚2 )
𝜎𝑟 ′ = Tegangan vertikal efektif pada ujung tiang (kN/𝑚2 )
𝑁𝑞 ∗ = Faktor kuat dukung
Dimana:
𝑓𝑎𝑣 = Tahanan gesek rata- rata untuk keseluruhan tiang (kN/𝑚2 )
15
𝐾 = Koefisien tekanan tanah lateral
𝜎𝑟 ′ = Tekanan overburden efektif rata-rata (kN/𝑚2 )
𝛿 = Sudut gesek antar tiang dan tanah
Berdasarkan studi ini, perhitungan untuk nilai faktor kuat dukung (𝑁𝑞
∗) dikorelasikan dengan nisbah panjang tiang L/D. Gambar 1
memperlihatkan nilai-nilai (𝑁𝑞 ∗ ) untuk berbagai nisbah panjang tiang dan
sudut gesek tanah. Di sini (𝑁𝑞 ∗ ) secara perlahan akan meningkat dengan
L/D hingga mencapai suatu nilai maksimum tertentu dan akan menurun
sesudahnya.
Gambar 2.5 Variasi Nq* dengan L/D (Coyle dan Castello, 1981)
16
Gambar 2.6 Variasi K dengan L/D (Coyle dan Castello, 1981)
d. Metode Kulhaway
Perhitungan pada metode Kulwahy menggunakan rumus sebagai
berikut:
𝑄𝑏 = 𝑞𝑝 × 𝐴𝑝….………………………………………(2.19)
Tahanan ujung per satuan luas dapat diperoleh dengan persamaan
sebagai berikut:
1. Untuk tanah Kohesif
𝑄𝑝 = 9 × 𝐶𝑢….……………………………………..…(2.20)
𝑄𝑝 = 𝐴𝑠 × 𝑓𝑠….………………………………………(2.21)
Dengan,
𝑓𝑠 = 𝐾𝑜 × 𝜎′𝑟 × 𝑡𝑎𝑛𝜃….…………………………...…(2.22)
𝐴𝑠 = 𝜋 × 𝐷 × 𝐷𝑓….…………………………………...(2.23)
𝐾𝑜 = 1 − 𝑠𝑖𝑛𝜃….…………………………………...…(2.24)
Keterangan;
𝐾𝑜 = Koefisien tekanan tanah lateral
17
𝜎′𝑟 = Tekanan overburden efektif rata-rata pada tiang (kN/m2 )
𝛿 = Sudut geser antara tiang dan tanah
e. Metode β
Metode ini dikembangkan oleh Burland (1973). Pada metode ini
tahanan gesek (𝑓𝑠) untuk tiang dapat ditentukan dengan mengacu pada
parameter tegangan efektif lempung. Persamaan yang dipergunakan, yaitu
sebagai berikut:
𝑓𝑠 = 𝛽 × 𝜎𝑣….……………………………………….. (2.25)
Dimana:
𝛽 = nilai beta (gambar 2.7)
𝜎𝑣 = kuat geser lempung jenuh (ton/𝑚2 )
Qb = Ab × qb ….……………………………………...(2.27)
18
Keterangan:
Ab = Luas penampang bored pile (m 2 )
qb = Tahanan ujung per satuan luas (kN/m2 )
Qb = Kuat dukung ujung tiang (kN)
2. Tahanan ujung
Keterangan:
qb = Tahanan ujung per satuan luas (kN/m2 )
r ' = Tegangan efektif (overburden) (kN/m2 )
Nq * = Faktor kuat dukung
= Sudut geser dalam tanah
Qs = As × qs..….……………………………………(2.29)
Dengan
As = I × Li ….………………………………………(2.30)
Keterangan:
As = Luas selimut tiang (m2 )
qs = Nilai tahanan sisi tiang sepanjang Li dengan tanah setebal Li
adalah tahanan sisi persatuan luas sisi tiang (kN/m2 )
i = Keliling tiang pada selang Li (m)
Li = Panjang bagian tiang dengan keliling Θi (m)
Keterangan:
K = Koefisien tekanan tanah lateral pada sisi tiang yang ditinjau
r' = Tegangan efektif (overburden) (kN/m2 )
19
= Sudut geser antara tiang dengan tanah dengan nilai ½ Φ hingga
Φ
= Sudut geser dalam tanah
𝑊𝑟ℎ
Qu = 𝑠+2,5…….……………………………………….(2.32)
𝑊𝑟ℎ
Qu = 𝑠+0,25 ….……………………………………...…(2.33)
Dengan,
𝑄𝑢
Qa = ….……….……………………………………(2.34)
𝐹
20
Pada metode Janbu, Mansur dan Hunter, perhitungan menggunakan
rumus sebagai berikut:
𝑒ℎ 𝑊𝑟 ℎ
Qu = ……..……………………………………(2.35)
𝐾𝑢 𝑠
Dengan,
𝛾
Ku = Cd {1 + (1 + 𝑐𝑑)^1/2 } …………………………. (2.36)
c. Metode AASHTO
AASHTO memberikan persamaan untuk menghitung daya dukung
2 ℎ (𝑊𝑟+𝐴𝑟𝑃)
Qu = ….……………………………...…. (2.39)
𝑠+𝐶
Dengan :
C = 2.5 cm penggunaan satuan disesuaikan dengan konsisten. Untuk
pemukul aksi dobel,
Ar = luas tampang pemukul
p = tekanan uap, untuk aksi tunggal dan gravitasi
ArP = 0. Nilai s diambil pada penetrasi akhir (Hardiyatmo, 2011)
21
(Hardiyatmo, 2002). Dalam perhitungan poer dianggap atau dibuat kaku sempurna,
sehingga:
b. Gaya - gaya yang bekerja pada tiang berbaris lurus dengan penurunan tiang -
tiang tersebut
S ≥ 2,5 D
S≥3D
Dimana:
22
D = Diameter tiang
Biasanya jarak antara dua tiang dalam kelompok disyaratkan minimum 0,6
m dan maksimum 2 meter. Ketentuan ini berdasarkan pada pertimbangan -
pertimbangan sebagai berikut:
b. Bila S > 3D
Apabila S > 3D, maka tidak ekonomis karena akan memperbesar
ukuran atau dimensi dari poer (floating).
Pada perencanaan pondasi tiang pancang biasanya setelah jumlah
tiang pancang dan jarak antara tiang – tiang pancang yang diperlukan kita
tentukan, maka kita dapat menentukan luas poer yang diperlukan untuk
tiap – tiap kolom portal. Bila ternyata luas poer total yang diperlukan
lebih kecil dari pada setengah luas bangunan, maka digunakan pondasi
setempat dengan poer diatas tiang pancang. Akan tetapi jika luas poer
total diperlukan lebih besar dari pada setengah luas bangunan, maka
biasanya dipilih pondasi penuh (raft foundation) diatas tiang – tiang
pancang.
23
2.6 Penurunan Tiang
Pada tiang dibebani tiang akan mengalami pemendekan dan tanah
disekitarnya akan mengalami penurunan (Hardiyatmo, 2010). Selain dari kegagalan
kuat dukung tanah, pada setiap proses penggalian selalu dihubungkan dengan
perubahan keadaan tegangan didalam tanah. Perubahan tegangan paeti akan disertai
dengan perubahan bentuk. Pada umumnya hal ini menyebabkan penurunan pada
pondasi tiang pancang (Hardiyatmo, 1996).
Dimana:
𝑃.𝐼
S = 𝐸s.𝐷….……………………………………………. (2.42)
24
Dimana:
Dengan:
S = Penurunan untuk tiang tunggal (cm)
P = Beban yang bekerja (kg)
I0 = Faktor pengaruh penurunan untuk tiang yang tidak mudah mampat
Rk = Faktor koreksi kemudahmampatan tiang
Rh = Faktor koreksi untuk ketebalan lapisan yang terletak pada tanah keras
Rµ = Faktor koreksi angka poisson µ
Rb = Faktor koreksi kekakuan lapisan pendukung
h = Kedalaman total lapisan tanah dari ujung tiang kemuka tanah (m)
D = Lebar atau diameter tiang pancang (cm)
𝐸𝑝.𝑅𝐴
K= ….………………………………………….. (2.44)
𝐸𝑠
Dimana:
K = Faktor kekakuan tiang
Ep = Modulus elastisitas dari bahan tiang (kg/cm2 )
Es = Modulus elastisitas tanah disekitar tiang (kg/cm2 )
(4 B+3) 2
𝑆𝑔= 𝑠 ….…………………………………….. (2.45)
(B+4 ) 2
Dimana:
Sg = Penurunan kelompok tiang (mm)
B = Lebar kelompok tiang (mm)
25
S = Penurunan tiang tunggal (mm)
Jika penurunan yang terjadi pada suatu bangunan berjalan lambat dalam
frekuensi waktu yang lama, semakin besar kemungkinan struktur untuk
menyesuaikan diri terhadap penurunan yang terjadi tanpa adanya kerusakan
struktur oleh pengaruh rangkak (creep). Karena penurunan maksimum dapat
diprediksi dengan ketetapan yang memadai, umunya dapat diadakan hubungan
antara penurunan maksimum.
Dimana:
D = Lebar atau diameter tiang pancang (cm)
𝐿
Sizin = 250….………………………………………... (2.47)
Dimana:
L = Kedalaman tiang (cm) Penurunan yang dapat ditolerir untuk bangunan
(Bowles, 1992):
Smaks = 2 inchi….…………………………………....(2.48)
26
sedang tiang diam). Akibatnya, arah gaya gesek dinding tiang menjadi gaya
tambahan yang harus di dukung oleh tiang. Gaya gesek oleh tanah pada dinding
tiang yang bekerja ke bawah ini, disebut gaya gesek dinding negatif (negative skin
friction). Gaya ini merupakan tambahan beban bagi tiang yang harus ditambahkan
dengan beban stuktur. (Hardiyatmo, 2010:230)
Dimana:
𝐴𝑠 = Luas selimut dinding tiang yang dipengaruhi oleh gaya gesek dinding
negatif ( 𝑚2 )
𝑝𝑜′ = Tekanan overdurden efektif tanah rata–rata dengan memperhitungkan
pengaruh tambahan beban akibat timbunan (bila ada) (kN/𝑚2 )
Koefisien 𝐾𝑑 𝑡𝑎𝑛𝛿 tergantung pada tekanan tanah lateral pada tiang dan
pada kecepatan penurunan tanah. Pengaruh kecepatan pembebanan pada faktor 𝐾𝑑
𝑡𝑎𝑛𝛿 dapat diharapkan akan lebih besar pada lempung yang berplastisitas tinggi
dan yang mempunyai kuat geser rendah dari pada tanah berlanau atau lempung
terkonsolidasi normal (normally consolidation) dengan indek plastisitas (PI)
sedang. Nilai 𝐾𝑑 𝑡𝑎𝑛𝛿 yang disarankan oleh Brom (1976) jika penurunan kira –
kira 10 mm/tahun diperlihatkan dalam tabel. (Hardiyatmo, 2010:236).
27
Tabel 2.1 Koefisien 𝐾𝑑 𝑡𝑎𝑛
1
𝑄𝑛𝑒𝑔 = 𝑛 (2𝐷(𝐿 + 𝐵) × 𝐶𝑢 + 𝛾𝐿𝐵𝐷) ….……………... (2.50)
Dengan:
𝑄𝑛𝑒𝑔 = Gaya gesek negatif pada masing-masing tiang dalam kelompok tiang
(KN)
n = Jumlah tiang dalam kelompoknya
D = Kedalaman tiang sampai titik netral (m)
L = Panjang area kelompok tiang (m
28
B = Lebar area kelompok tiang (m)
𝐶𝑢 = Kohesi tak terdrainase rata-rata pada lapisan sedalam D(kN/ 𝑚2 )
𝛾 = Berat volume tanah sedalam D di sekitar kelompok tiang yang mengalami
gesekan negatif (kN/𝑚3 )
Pada kondisi ini gesekan negatif pada masing-masing tiang dihitung dengan
persamaan: (Haridyatmo, 2010: 238)
1
𝑄𝑛𝑒𝑔 = 𝑛 (2𝐷(𝐿 + 𝐵) × 𝐶𝑢 + 𝐵𝐿𝐻𝛾) ….………………(2.51)
𝑄𝑛𝑒𝑔 = Gaya gesek negatif pada masing-masing tiang dalam kelompok tiang
(KN)
n = Jumlah tiang dalam kelompoknya
D = Kedalaman tiang sampai titik netral (m)
L = Panjang area kelompok tiang (m)
B = Lebar area kelompok tiang (m)
𝐶𝑢 = Kohesi tak terdrainase rata-rata pada lapisan sedalam D(kN/ 𝑚2 )
H = Tinggi timbunan (m)
𝛾 = Berat volume tanah sedalam D di sekitar kelompok tiang yang mengalami
gesekan negatif (kN/𝑚3 )
Pada persamaan di atas terlihat bahwa terdapat beban tanah timbunan yang
harus didukung oleh masing-masing tiang. Menurut Terzhagi dan Peck (1948),
sedikit gerakan ke bawah tanah timbunan terhadap tiang, cukup untuk
menyebabkan berat tanah timbunan membebani masing masing tiang di dalam
kelompoknya. (Hardiyatmo, 2010: 240).
29
BAB III
METODE PERENCANAAN
3.1 Prosedur Perencanaan
Pada Perencanaan yang dilakukan untuk merencanakan atau mendesain
pondasi dalam dapat dilihat memalui flowchart berikut :
30
Data pada Tabel 3.1 diperoleh data untuk perhitungan pada Lapisan 1 (L1)
terdapat tebal lapisan 4 meter dari permukaan tanah dengan Berat isi basah (γb) =
1350 𝑘𝑔/𝑚3 , Berat isi jenuh (γsat) = 1560 kg/m3 , Kohesi tanah (c) = 288 𝑘𝑔/𝑚2
dengan Sudut Gesek (ϕ) = 0 derajat. Lalu pada Lapisan 2 (L2) diperoleh kedalaman
tanah 9 meter dari permukaan tanah dengan Berat isi basah (γb) = 1650 𝑘𝑔/𝑚3,
Berat isi jenuh (γsat) = 1766 𝑘𝑔/𝑚3 , Kohesi tanah (c) = 0 dengan Sudut Gesek (ϕ)
= 25 derajat, dan Lapisan 3 (L3) didapatkan kedalaman 14 meter dibawah
permukaan tanah dengan Berat isi basah (γb) = 1720 𝑘𝑔/𝑚3 Berat isi jenuh (γsat) =
1954 𝑘𝑔/𝑚3 , Kohesi tanah (c) = 0 dengan Sudut Gesek (ϕ) = 36 derajat, sampai
pada lapisan terkeras/batuan pada tanah.
31
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Qu = Qb + Qs – Wp…………………………….…..(4.52)
L = 27 m
b = 500 mm
= 0,5 m
h = 300 mm
= 0,3 m
Ab = 21564 mm2
= 0,021564 m2
Vb = 582228000 mm3
= 0,582228 m3
32
K = 2368 mm
= 2,368 m
Wp = 4570,4898 kg
= 4,5704898 ton
Nq = 105
Qb = Ab × pb’ × Nq
= 14217,037 kg
= 14,217 ton
As = 2,368 m2
Cu =28,8
= 0,271698113 t/ft2
c =1
Qs1 = As (c × Cu)
= 2,368 (1 × 28,8)
= 68,1984 kN
= 6,81984 ton
33
Lapisan 2 : Paulus dan Davis
As = 2,37 m2
[Link] δ =1
= 2,37 × 1 × 6279
= 74343,360 kg
= 74,343 ton
As = 2,37 m2
[Link] δ = 1,45
= 107797,872 kg
= 107,798 ton
= 188,961 ton
34
Gaya Gesek Negatif :
Ca = [Link]'.tg δ
[Link]δ = 0,3
Ca = 0,30 kg/m2
Qnegatif = As × Ca
= 4460,60 kg
= 4,46 ton
Sf = 2,5
Qu = Qb + Qs – Wp – Qnegatif
= 198,61 ton
𝑄𝑢
Qa = 𝑠𝑓
198,61
= 2,5
= 79,44 ton
Syarat Qa ≥ P
79,44 ≥ 20 OK
35
4.3 Kapasitas Tiang Kelompok
Adapun persamaan yang digunakan untuk menghitung kapasitas tiang
kelompok yaitu sebagai berikut
m =2
n’ =2
Eg = 0,625
Qu = 198,61 ton
Qa = 779,33 kN
Qg = Eg (n’ × m) Qa
= 0,625 (2 × 2) 779,33
= 1948,333779 kN
s =1
d = 0,5
s/d = 1/0,5
=2
D/d =54
Nc =9
B = 1,5
L = 2,5
Qg1 = 2 x 27 (B + L) L1 + 1,3 x L3 x Nc x L x B
36
= 2 x 27 (1,5 + 2,5) 4 + 1,3 x 14 x 9 x 2,5 x 1,5
= 62208 kg
Qg/sf = 62208/2,5
= 24883,2 kg
= 24,8832 ton
37
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan perencanaan dan perhitungan yang telah dilakukan
pada perencanaan pondasi dalam maka didapatkan beberapa
kesimpulan sebagai berikut
1. Diketahui dimensi serta kedalaman pondasi tiang tunggal dan
kelompok yaitu memiliki tebal 0,3 m, panjang 0,5 m, tinggi atau
kedalaman 27 m, sementara luas penampang 0,021 m2, keliling
penampang 2,36 m, volume 0,58 m3 dan berat tiang 4,57 ton.
2. Diketahui hasil perhitungan daya dukung tiang tunggal diperoleh
sebesar 79,44 ton dan pada tiang kelompok sebesar 24, 8 ton.
3. Diketahui gambar perencanaan atau penampang pada pondasi
dalam dan terdapat pada lampiran
38
DAFTAR PUSTAKA
Herawaty. 2021, “Analisis Potensi Likuifaksi Dengan Menggunakan Parameter
Kuat Geser Tanah Lempung’’ Universitas Sam Ratulangi manado, Manado.
Ronal Simbolon. 2022, “Jurnal Teknik Sipil” Universitas Islam Sumatera Utara,
Medan
39
LAMPIRAN
40
BIODATA PENYUSUN
41
Nama : Muhammad As’ad
NIM : 07211050
Program Studi : Teknik Sipil
Tempat, Tanggal Lahir : Matakali, 21 juni 2002
Email : 07211050@[Link]
42
4.0000
9.0000
Potongan
27.0000
Kelompok 3
14.0000
500 x 300
3.1 1
0.5
Tampak Atas
Kelompok 3
Tugas Mata Kuliah: Teknik Pondasi
PONDASI DALAM (TIANG)
A. Diketahui lapisan tanah dan data hasil pengujian sondir adalah sebagai berikut:
Ptunggal Pkelompok
L1 Lapisan Tanah 1
L2 Lapisan Tanah 2
L3 Lapisan Tanah 3
Paraf Asisten:
Catatan:
- Setiap asistensi wajib mencatat dan membawa lembar asistensi (klik untuk download)
- Setiap minggu/pertemuan di kelas, masing-masing kelompok wajib menyetorkan progres kemajuan pengerjaan
tugas melalui link berikut (klik)
LEMBAR ASISTENSI
TUGAS BESAR PONDASI DALAM
Kelompok 3
Dosen Asistensi : Ir. Arief Nugraha Pontoh, S.T., [Link]
Revisi TTD