1.
Asal Mula Rawa Pening
Betapa terkejutnya Endang Sawitri ketika anak yang
dilahirkannya berupa cahaya yang kemudian menjelma
menjadi seekor naga raksasa.
Sang anak yang berwujud naga raksasa itu kemudian
bertanya kepada ibunya mengenai siapa ayahnya.
“Ayahmu adalah Ki Ageng Salokantara,” jawab Endang
Sawitri.
Sang naga kemudian menemui nama yang disebutkan
ibunya. Namun, Ki Ageng Salokantara menolak mengakui
naga tadi sebagai anaknya.
Ki Ageng Salokantara hanya mau mengakui sang naga
sebagai anaknya kalau wujudnya sudah berubah menjadi
manusia.
“Bagaimana cara agar aku bisa berwujud manusia?” tanya
sang naga yang saat itu diberi nama Baru Klinting.
“Bertapalah dengan melingkari Gunung Telomoyo. Saat
tubuhmu mampu melingkari Gunung Telomoyo. Saat itulah
kamu akan dapat berubah wujud menjadi manusia.”
Baru Klinting segera menuruti perintah Ki Ageng
Salokantara. Seiring berjalannya waktu tubuh Baru Klinting
semakin besar dan semakin memanjang.
Suatu hari ketika Baru Klinting sedang menjalankan
tapanya. Tiba-tiba ada seorang pemburu yang
menancapkan tombaknya secara tidak sengaja ke tubuh
Baru Klinting.
Sontak saja saat tombak itu diangkat darah segera
mengucur. Saat tahu bahwa tombaknya telah menancap
pada tubuh seekor ular raksasa. Sang Pemburu langsung
memotong-motong tubuh Baru Klinting.
Kabar mengenai pemburu yang berhasil menangkap ular
raksasa segera tersebar luas. Sehingga banyak penduduk
yang turut mengambil daging Baru Klinting.
Ajaibnya, setelah beberapa dagingnya diambil. Baru
Klinting berubah menjadi seorang anak kecil.
Setelah bertapa dalam waktu yang lumayan lama. Anak
kecil yang merupakan perubahan dari Baru Klinting merasa
sangat lapar.
Ia kemudian mendatangi penduduk yang telah mengambil
dagingnya untuk meminta makan. Sayangnya, hampir
semua penduduk tidak memberinya makan.
Untungnya ia bertemu dengan seorang nenek baik hati.
Nenek itu memberinya makan. Usai makan Baru Klinting
meminta agar nenek yang memberinya makan untuk naik
lesung.
Sebab, tidak lama lagi akan ada air bah yang akan
menenggelamkan kampung tesebut. Setelah itu Baru
Klinting berjalan menuju suatu lapangan.
Ia kemudian menancapkan satu batang lidi. Saat itu di
lapangan sedang banyak orang berpesta makan daging
ular.
Baru Klinting menantang semua orang yang ada di sana. Ia
berkata bahwa siapapun yang berhasil mencabut lidi
tersebut akan diberi daging ular dengan jumlah yang
sangat banyak,
Semua orang yang ada di tempat itu tergiur dengan
sayembara tersebut. Tetapi, tidak ada satu orang pun yang
berhasil mencabutnya.
Saat orang terakhir tidak mampu mencabut lidi yang
ditancapkan Baru Klinting. Ia meminta agar lidi tersebut
dicabut Baru Klinting.
Begitu lidi dicabut keluarlah air dari dalam tanah. Awalnya
hanya kecil tetapi seiring dengan berjalannya waktu. Air
semakin membesar hingga menenggelamkan kampung
tersebut.
Semua warga kecuali nenek yang baik hati tadi tenggelam
karena mereka lebih mementingkan harta yang dimilikinya
dibanding nyawanya sendiri.